A. BLITAR DALAM SEJARAH INDONESIA.

Letak Geografis yang subur Blitar, baik kota maupun kabupaten, terletak di kaki Gunung Kelud, Jawa Timur. Daerah Blitar selalu terkena lahar Gunung Kelud yang sudah meletus puluhan kali terhitung sejak tahun 1331. Keadaan tanah di daerah Blitar yang kebanyakan berupa tanah vulkanik, dimanfaatkan untuk menanam padi, tebu, tembakau, dan sayur mayur. Selain hijaunya persawahan yang kini mendominasi pemandangan alam di daerah Kabupaten Blitar, ditanam pula tanaman tembakau di daerah ini. Tembakau ini mulai ditanam sejak Belanda berhasil menguasai daerah ini sekitar abad ke-17. Bahkan, kemajuan ekonomi Blitar pernah ditentukan dengan keberhasilan atau kegagalan produksi tembakau.

Sungai Brantas yang mengalir dari timur ke barat membagi Kabupaten Blitar menjadi dua, yaitu bagian utara dan selatan. Bagian selatan Kabupaten Blitar (sering disebut Blitar Selatan) kebanyakan dimanfaatkan untuk menanam ketela pohon, jagung, dan jati. Sungai Brantas merupakan sungai terpanjang kedua di Jawa Timur setelah Bengawan Solo (sebagian mengalir di wilayah Jawa Tengah). Sungai ini memegang peranan penting dalam sejarah politik maupun sosial Jawa Timur. Pada zaman dulu (namun masih bertahan hingga sekarang), daerah Blitar merupakan daerah lintasan antara Dhoho (Kediri) dengan Tumapel (Malang) yang paling cepat dan mudah. Di sinilah peranan penting yang dimiliki Blitar, yaitu daerah yang menguasai jalur transportasi antara dua daerah yang saling bersaing (Panjalu dan Jenggala serta Dhoho dan Singosari). Meski di Blitar sendiri sebenarnya tidak pernah berdiri sebuah pemerintahan kerajaan. Akan tetapi, keberadaan belasan prasasti dan candi menunjukkan Blitar memiliki posisi geopolitik yang penting. Kendati kerajaan di sekitar Blitar lahir dan runtuh silih berganti, Blitar selalu menjadi kawasan penting. Tidak mengherankan jika di Blitar terdapat setidaknya 12 buah candi. Keberadaan Gunung Kelud yang sejak zaman purba rutin memuntahkan abu vulkanik dan aliran Sungai Brantas yang melintasi Blitar dari timur ke Barat seperti menjadi berkah alam yang membuat Blitar sudah amat lama memiliki masyarakat dengan kebudayaan dan peradaban yang cukup tinggi. Salah satu bukti menunjukkan Blitar sudah muncul sejak abad 10. Bukti itu berbentuk prasasti yang terpahat di belakang arca Ganesha. Prasasti itu menyebutkan bahwa Kepala Desa Kinwu telah diberi anugerah oleh Raja Balitung, yang bergelar Sri Iswara Kesawasamarot tungga,

beserta mahamantrinya yang bernama Daksa, sebidang tanah sawah. Prasasti itu kira-kira dibuat pada tahun 829 Saka atau 907 Masehi. Menurut Kitab Negarakertagama, Blitar merupakan daerah perbatasan antara Dhoho dengan Tumapel. Blitar, merupakan batas dilintasi oleh air kendi dari Mpu Bharada pada saat membagi Jenggal dan Panjalu atas perintah Prabu Airlangga. Pendapat ini diperkuat lagi dengan peta buatan abad ke-17 (digambar ulang oleh De Jonge). Oleh karena letaknya yang strategis, Blitar penting artinya bagi kegiatan keagamaan, terutama Hindu, di masa lalu. Lebih dari 12 candi tersebar di seantero Blitar. Adapun candi yang paling terkenal di daerah ini adalah Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok. Menurut riwayatnya, Candi Penataran dahulu merupakan candi negara atau candi utama kerajaan. Pembangunan Candi Penataran dimulai ketika Raja Kertajaya mempersembahkan sima untuk memuja sira paduka bhatara palah yang berangka tahun Saka 1119 (1197 Masehi). Nama Penataran ini kemungkinan besar bukan nama candinya, melainkan nama statusnya sebagai candi utama kerajaan. Pada tahun 1316 dan 1317 Kerajaan Majapahit carut marut karena terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Kuti dan Semi. Kondisi itu memaksa Raja Jayanegara untuk menyelamatkan diri ke desa Bedander—diyakini disekitar Blitar, dengan pengawalan pasukan Bhayangkara dibawah pimpinan Gajah Mada. Berkat siasat Gajah Mada, Jayanegara berhasil kembali naik tahta dengan selamat. Adapun Kuti dan Semi berhasil diringkus dan kemudian dihukum mati. Oleh karena sambutan hangat dan perlindungan ketat yang diberikan penduduk Desa Bedander, maka Jayanegara pun memberikan hadiah berupa prasasti kepada para penduduk desa tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa pemberian prasasti ini merupakan peristiwa penting karena menjadikan Blitar sebagai daerah swatantra di bawah naungan Kerajaan Majapahit. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada hari Minggu Pahing bulan Srawana tahun Saka 1246 atau 5 Agustus 1324 Masehi, sesuai dengan tanggal yang tercantum pada prasasti. Tanggal itulah yang akhirnya diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Blitar setiap tahunnya. Betapa pentingnya daerah Blitar kala itu, dicerminkan dari Raja Hayam Wuruk yang tidak segan untuk melakukan dua kali kunjungan istimewa dengan tujuan yang berbeda ke daerah ini. Pada bulan Waisaka tahun Saka 1283 atau 1361 Masehi, Raja Hayam Wuruk beserta para pengiringnya menyempatkan diri singgah di Blitar untuk mengadakan upacara pemujaan di Candi Penataran. Rombongan itu tidak hanya singgah di Candi Penataran, tetapi juga ke tempat-tempat lain yang dianggap suci, yaitu Sawentar (Lwangwentar) di Kanigoro, Jimbe, Lodoyo, Simping (Sumberjati) di Kademangan, dan Mleri (Weleri) di Srengat. Pada tahun 1357 Masehi (1279 Saka) Hayam Wuruk berkunjung kembali ke Blitar untuk meninjau daerah pantai selatan dan menginap selama beberapa hari di Lodoyo. Pada masa kemunculan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, wilayah Blitar relatif tidak banyak disentuh. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa (dimulai dari Demak hingga era Kasunanan Surakarta atau Kesultanan Yogyakarta) kebanyakan memang berada di wilayah Jawa Tengah. Setelah pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai membangun kota-kota menyusul doktrin Pax Neerlandica yang dilansir van Heutzs, Blitar juga ikut dikembangkan sebagai kota modern yang memungkinkan untuk dihuni
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

2

oleh orang-orang Eropa. Pada 1 April 1906, pemerintah melansir beleid yang menetapkan Blitar sebagai gemeente (kotamadya). Pada 1928, status Blitar bahkan ditingkatkan sebagai Kota Karesidenan Blitar berdasar StaatbladNomor 497. Semasa pendudukan Jepang, status Blitar kembali berubah. Istilah "Gemeente Blitar" akhirnya diganti menjadi "Blitar Shi". Sehingga pada Tanggal 1 April itulah yang akhirnya diperingati sebagai hari jadi Kota Blitar setiap tahunnya. Pada tanggal 14 Februari 1945, pasukan Peta di Blitar di bawah pimpinan Supriadi melakukan pemberontakan yang dikenal dengan nama "Pemberontakan Peta Blitar". Pemberontakan ini berhasil dipadamkan dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan Peta sendiri maupun Heiho. Pimpinan pasukan pemberontak, Supriadi, hilang dalam peristiwa ini. Akan tetapi, pimpinan lapangan dari pemberontakan ini, yang selama ini dilupakan sejarah, Muradi, tetap bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir. Mereka semua pada akhirnya, setelah disiksa selama penahanan oleh KENPEITAI (PM), diadili dan dihukum mati di pantai Ancol pada tanggal 16 Mei 1945. Mungkin masyarakat kita masih ingat akan "Operasi Trisula", yakni sebuah operasi penumpasan sisa-sisa G 30 S/PKI, di daerah Blitar Selatan. Operasi itu memakai nama "Operasi Trisula" karena kesatuan inti yang digerakkan dalam operasi tersebut, berasal dari Brigif Linud 18/Trisula, di bawah pimpinan Kol Inf Witarmin. B. TOKOH-TOKOH DARI BLITAR. Bung Karno, merupakan tokoh nasional yang lahir dan dimakamkan di Blitar tentu masyarakat telah maklum. Demikian pula Boediono, dibesarkan di Kota Blitar, publik pun telah mengetahui. Tetapi, ketika tokoh penerbangan seperti Anthony Herman Gerard Fokker ataupun Wiweko Soepono, ternyata orang Blitar, tentu tidak semua orang mengenal. Dan ternyata, cukup banyak tokoh-tokoh yang mewarnai sejarah bangsa Indonesia dilahirkan di Blitar. Pertama, Anthony Herman Gerard Fokker (lahir di Blitar, 6 April 1890 – meninggal di New York City, 23 Desember 1939 pada umur 49 tahun) adalah seorang insinyur Belanda. Fokker memproduksi sekitar 40 jenis pesawat di Jerman pada masa Perang Dunia I. Ialah yang mengorganisasi produksinya. Sebagian besar dibuat oleh staf konstruksi. Yang paling mencolok adalah mekanisme terminasi yang memungkinkan pilot menembakkan senapan dengan baling-baling pemutar. Fokker mendapat bantuan dari seseorang yang mengalahkan Morane (buatan Perancis) dengan peralatan primitif dari jenis yang sama (ditemukan oleh Raymond Saulnier). Ketika digabungkan ke Fokker Eindecker yang terkenal, penggunaan mesin kendali tangkai dorong itu menuju pada fase superioritas udara Jerman yang dikenal sebagai Fokker Scourge.Setelah perang Fokker mendirikan N.V. Koninklijke Nederlandse Vlietuigenfabriek Fokker di Amsterdam pada tahun 1919. Kedua, Ir. Soekarno (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 - 1966. Bayi Sukarno lahir menjelang matahari merekah. Karenanya, dia disebut pula sebagai Putra Sang Fajar. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Ketiga, Wiweko Soepono (lahir di Blitar, Jawa Timur, 18 Januari 1923 – meninggal di Jakarta, 8 September 2000 pada umur 77 tahun) dikenal sebagai seorang direktur utama Garuda Indonesia pada periode 1968-1984. Pada Masa perjuangan bangsa, Wiweko pernah ditugasi Presiden Soekarno untuk membeli pesawat DC-3 Dakota untuk kepentingan perjuangan Republik Indonesiadari sumbangan masyarakat Aceh. Dalam sejarah, bersama awak pesawat DC-3 Dakota RI-001 "Seulawah" Indonesian Airways, Wiweko berhasil dua kali menembus blokade udara Belanda, menyelundupkan senjata, peralatan komunikasi dan obat-obatan dari
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

3

Birma ke Pangkalan Udara Lhok Nga dan Pangkalan Udara Blang Bintang (Bandar Udara Iskandar Muda), Aceh. Wiweko adalah bapak dari pesawat two-man cockpit yang diterapkan pabrik Airbus Industrie. Wiweko dikenal sebagai perintis industri dunia penerbangan Indonesia bersama-sama dengan R.J. Salatun dan Nurtanio Pringgoadisuryo yang dikenal sebagai tiga serangkai. Keempat, Sukarni (lahir di Blitar, Jawa Timur, 14 Juli 1916 – meninggal di Jakarta, 7 Mei 1971 pada umur 54 tahun), yang nama lengkapnya adalah Sukarni Kartodiwirjo, adalah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Tahun 1943, bersama Chairul Saleh, dia memimpin Asrama Pemuda di Menteng 31 dan melahirkan tokoh Angkatan 45. Sukarni juga bersama kelompok pemuda dengan kelompok bawah tanah dibawah pimpinan Sutan Syahrir, menculik Soekarno-Hatta dalam peristiwa praproklamasi yang terkenal dengan Peristiwa Rengasdengklok. Kelima, Johannes Baptista Sumarlin (lahir di Nglegok, Blitar, Jawa Timur, 7 Desember 1932; umur 77 tahun) adalah salah seorang ekonom Indonesia yang pernah memegang berbagai jabatan pemerintahan penting di bidang ekonomi. Ia adalah lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1958. Jabatan yang pernah dipegangnya antara lain Ketua BPK, Menteri Keuangan, Ketua Bappenas dan Menag PAN. Pria berperawakan kecil dan selalu memberikan senyuman menyejukkan, ini memainkan peran dan pengabdian sentral pada masa pemerintahan Orde Baru (Orba), khususnya di bidang perekonomian. Sejak 1970 hingga 1998, dia berperan dalam pusat kebijakan ekonomi dan keuangan. Dia salah seorang arsitek ekonomi Indonesia yang ‘dibesarkan’ Widjojo dan ‘diandalkan’ Pak Harto. Keenam, Boediono (lahir di Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943; umur 67 tahun) adalah Wakil Presiden Indonesia yang menjabat sejak 20 Oktober 2009. Ia terpilih dalam Pilpres 2009 bersama pasangannya, presiden yang sedang menjabat, Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, dan Direktur Bank Indonesia (sekarang setara Deputi Gubernur). Saat ini ia juga mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada sebagai Guru Besar.[1] Oleh relasi dan orang-orang yang seringkali berinteraksi dengannya ia dijuluki The man to get the job done. Tangan dingin Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada dan Doktor Ekonomi Bisnis lulusan Wharton School University of Pennsylvania, AS 1979, ini terbukti selama menjabat Menteri Keuangan pada pemerintahan Megawati, Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu (resuffle Senin (5/12/2005), maupun sebagai Gubernur Bank Indonesia. Tentu masih banyak lagi tokoh-tokoh nasional yang lahir dan besar dari Blitar, seperti Imam Munandar (lahir di Blitar, Jawa Timur, 15 Juni 1927 – meninggal di Pekanbaru, Riau, 21 Juni 1988 pada umur 61 tahun) adalah Gubernur Riau periode 1980 - 1988; Dr. H. Soenarjo, M.Si (lahir Blitar, 19 Januari 1945; usia 64 tahun) adalah Wakil Gubernur Jawa Timur pada periode 2003-2008; Masjchun Sofwan (lahir di Blitar, Jawa Timur, 7 September 1927; umur 82 tahun) adalah Gubernur Jambi periode 1979 - 1989; Laksamana Madya TNI Agus Suhartono (lahir di Blitar, Jawa
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

4

Timur, 25 Agustus 1955; umur 54 tahun) adalah Kepala Staf TNI Angkatan Laut; Putri Raemawasti (lahir di Blitar, Jawa Timur, 5 Desember 1986; umur 23 tahun) adalah Puteri Indonesia 2007; Hardi (lahir di Blitar, Jawa Timur, 26 Mei 1951; umur 58 tahun) adalah seorang seniman pelukis dan budayawan Indonesia dan salah satu pelukis aliran ekspresionis yang terkenal dan aktivis lintas seni dan kebudayaan di Indonesia yang sekarang bermukim di Jakarta; dan, Anas Urbaningrum (kelahiran Blitar, 15 Juli 1969), tercatat sebagai Ketua Bidang Politik Partai Demokrat, mahasiswa teladan dan lulusan terbaik Universitas Airlangga. alumni Madrasah Tsanawiyah Negeri Kunir, Blitar, dan Ketua Umum PB HMI periode 1997 1999, dan Anggota KPU hingga 2005. C. SITUS WISATA DI BLITAR. Beberapa situs wisata yang sering menjadi kunjungan masyarakat Kota Blitar dan sekitarnya antara lain :

Makam Bung Karno, disinilah salah satu Proklamator yang juga Presiden RI pertama dimakamkan. Terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, sekitar 2 km ke utara dari pusat kota, dapat dicapai dengan satu kali naik angkutan perkotaan. Tak heran jika para petinggi negeri ini selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke Kota Blitar dalam rangka berziarah ke makam Bung Karno. Perpustakaan dan Museum Bung Karno. Perpustakaan ini selain berisi segala bentuk memorabilia Bung Karno, juga dikembangkan sebagai pusat studi terpadu. Beberapa koleksi yang ada saat ini adalah lukisan hidup Bung Karno yang dapat berdetak tepat pada bagian jantungnya, uang Bung Karno yang dapat menggulung sendiri, dan koleksi sumbangan dari Yayasan Idayu. Tempat ini menjadi kunjungan murid murid sekolah yang ingin mengetahui sejarah pendiri negeri dan mengenang jasa jasa Ir Sukarno dalam meletakan pondasi Republik Indonesia. Istana Gebang. Istana Gebang atau lebih dikenal dengan sebutan Ndalem Gebang, merupakan rumah tempat tinggal orang tua Bung Karno. Istana ini bertempat di Jl. Sultan Agung 69, Blitar. Di rumah ini pada setiap bulan Juni ramai didatangi pengunjung, baik dalam rangka Haul Bung Karno maupun karena adanya kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Pemkot Blitar, seperti Grebeg Pancasila. Petilasan Arya Blitar. Merupakan makam Adipati Arya Blitar yang terletak di Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo. Makam ini ramai dikunjungi pada bulan Sura (Muharram) dan juga setiap malam Jumat legi oleh masyarakat yang mempercayai akan mendapat berkah dari sang Adipati. Monumen Supriyadi. Pada tahun 1945, Kota Blitar menjadi pusat perlawanan tentara PETA yang dipimpin oleh Sodancho Supriyadi, melawan tentara Jepang. Untuk mengenang jasa beliau, dibangunlah sebuah monumen yang terletak di depan bekas markas PETA (depan TMP Raden Wijaya). Selain di sana, juga dibangun sebuah patung setengah dada Supriyadi yang terletak di depan Pendapa Kabupaten Blitar. Hal ini mengingatkan kepada rakyat Indonesia bahwa dari kota kecil dipesisir selatan Jawa pernah lahir seorang pahlawan yang dengan gagah berani melawan keganasan tentara Dai Nippon. Dan sampai saat ini kisah kisah penuh mitos dan legenda masih melingkupi riwayat kehidupan Sodancho Supriyadi. Kebon Rojo yaitu taman hiburan dan rekreasi keluarga yang berada di belakang kompleks rumah dinas Walikota Blitar yang disediakan untuk masyarakat umum secara cuma-cuma. Di taman tersebut terdapat beberapa jenis hewan peliharaan, fasilitas bermain anak, tempat bersantai, panggung apresiasi seniman, air mancur, dan juga berbagai jenis tanaman langka yang berfungsi sebagai paru-paru kota.

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

5

Taman Air Sumberudel yang diresmikan kembali oleh Walikota Blitar pada tanggal 10 Oktober 2007 setelah direnovasi selama kurang lebih satu setengah tahun adalah taman air paling megah se-eks Karesidenan Kediri. Taman air ini mempunyai fasilitas yang lengkap bila dibandingkan dengan taman-taman air lain di Jawa Timur. Pada hari libur dan masa liburan sekolah, Taman air Sumberudel menjadi tujuan wisata masyarakat dan murid murid sekolah melepas penat dan menikmati pemandangan yang masih asri dan menghijau. Pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan (PIPP) yaitu pusat layanan informasi bagi para pelaku ekonomi, khususnya pelaku perdagangan, selain sebagai pusat layanan informasi tentang pariwisata. Pembangunan pusat informasi ini adalah bentuk realisasi kebijakan pembangunan sarana-prasarana ekonomi pada umumnya, serta sarana-prasarana perdagangan dan pariwisata pada khususnya. Ini adalah penjabaran dari pembangunan sistem perdagangan barang dan jasa unggulan sebagaimana yang tersurat dalam rumusan visi Kota Blitar.

Dengan beberapa situs wisata yang ada, semakin mengukuhkan Kota Blitar sebagai kota pariwisata yang akan memberi dampak pada tingkat perekonomian penduduk sekitar lokasi. Secara politik, Kota Blitar dapat diibaratkan sebagai ruh negeri ini. Hal ini mengingat Presiden pertama RI, Ir Sukarno lahir dan dimakamkan disini. Dan Presiden yang saat ini sedang memegang tampuk pemerintahan Republik Indonesia beserta wakilnya, Susilo Bambang Yudoyono dan Budiono juga lahir dan dibesarkan di kota kecil ini. Tak heran jika Kota Blitar meski bukan ibukota provinsi, selalu menjadi kunjungan para petinggi negeri.

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

6

A.

PEMBENTUKAN KPPN BLITAR. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Blitar yang melayani dua kabupaten (Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung) serta satu kota (Kota Blitar) merupakan pengembangan dari KPPN Kediri. Beberapa alasan dibentuknya KPPN Blitar antara lain sebagai berikut : 1. KPPN Kediri dirasa terlalu besar dan luas daerah pelayanannya sehingga perlu dipecah lagi agar satker yang jauh daya jangkaunya ke Kota Kediri dapat dilayani di kantor yang lebih dekat 2. Kota Blitar sebagai kota yang sedang mengalami perkembangan pesat, dimungkinkan untuk didirikan satu unit kantor pelayanan vertikal Ditjen Perbendaharaan yang akan melaksanakan tugas pelayanan bagi satker di Kota Blitar dan sekitarnya. 3. Pemerintah pusat sedang melaksanakan pembangunan waduk Wonorejo yang berlokasi di wilayah barat Kabupaten Tulungagung yang nantinya akan menjadi pemasok listrik bagi Kabupaten Tulungagung dan sekitarnya, maka untuk lebih mendekatkan kepada kantor bayar sehingga memperlancar proses pencairan dana tagihan pihak ketiga yang melaksanakan pekerjaan pembangunan Waduk Wonorejo 4. Ditjen Perbendaharaan dengan KPPN sebagai kantor vertikalnya merupakan salah satu ujung tombak Departemen Keuangan RI dalam melaksanakan tugas tugas di bidang Keuangan, sehingga untuk meningkatkan kinerja Departemen Keuangan pada umumnya dan Ditjen Perbendaharaan pada khususnya kebutuhan akan adanya satu lagi unit kantor pelayanan yang lebih dekat ke masyarakat Blitar dan sekitarnya perlu dan mendesak.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Anggaran Nomor KEP-34/A/2001 tanggal 02 Agustus 2001 dibentuklah Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara Blitar Type B. Dengan adanya reorganisasi Ditjen Anggaran, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 303/KMK.01/2004 tanggal 23 Juni 2004, KPKN Blitar berubah menjadi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Blitar, yang merupakan instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan di bawah Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur. Awal detasering KPPN Blitar masih menempati gedung pinjaman dari Kantor Sospol Kota Blitar di Jalan Mastrip no.71 dan dipimpin oleh Bapak Hendar Putranto (saat ini memimpin KPPN Madiun) yang membawahi 50 pegawai dengan mengambil beberapa pegawai dari KPPN Kediri dan KPPN Malang.
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

7

Seiring berjalannya waktu tingkat pelayanan yang semakin tinggi, berkas arsip membutuhkan tempat yang memadai juga agar proses pelayanan kepada semua satker lebih efektif dan efisien, kebutuhan akan kepemilikan gedung sendiri semakin urgen dan mendesak. Meski beberapa kali ditawari lokasi yang lebih masuk ke dalam kota dan lebih dekat ke pusat pemerintahan Kota Blitar, namun demi kenyamanan, ketentraman dan keamanan para pegawai dalam melaksanakan tugas pelayanan, diajukan sebuah tempat di Jalan Raya Garum KM.4 dan pada 21 Oktober 2003 diresmikan Gedung Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Blitar oleh Direktur Perbendaharaan dan Kas Negara Bapak Arsjad Soekendro. Saat perpindahan dari gedung kantor lama yang berstatus pinjaman dari Kantor Dinas Sospol Kota Blitar ke gedung milik sendiri, KPPN Blitar dipimpin oleh Bapak Suyitno (telah memasuki masa purna tugas) dengan 50 pegawai yang melaksanakan tugas pelayanan kepada 171 Satker. Pada 11 Januari 2007, saat dipimpin oleh Ibu Sri Handajani Djapan, dengan ditandatanganinya batu prasasti oleh Bapak Tri Buwono Tunggal, Kepala Kanwil XV Ditjen Perbendaharaan Surabaya, KPPN Blitar telah resmi memiliki Gudang dan Aula untuk pertemuan sebagai kelanjutan pembangunan gedung tahap II. Lantai I Gedung tahap II ini digunakan sebagai Gudang penyimpanan berkas arsip, dengan pembagian arsip Subag Umum, Seksi Perbendaharaan, Seksi Bank dan arsip Seksi Verifikasi dan Akuntansi yang telah ditata dengan rapi dan sesuai pembagian perdepartemental, sehingga memudahkan para pegawai dalam mencari berkas aktif yang membutuhkan kejelasan urutan pelaksanaan pembayarannya. Arsip aktif dibagi atas arsip tahun berjalan, arsip tahun yang lalu. Pada arsip aktif tahun berjalan, meliputi pertinggal SPM dan SP2D beserta lampirannya ditata sedemikian rupa dapat memudahkan para pegawai dalam mengambil dan mencari jika sewaktu waktu dibutuhkan. B. WILAYAH KERJA. Dalam Keputusan Menteri Keuangan No 303/KMK.01/2004 tanggal 23 Juni 2004 tentang Organisasi dan Tata Laksana Direktorat Jenderal Perbendaharaan, wilayah pembayaran KPPN Blitar meliputi Kota Blitar, Kab. Blitar dan Kab. Tulungagung. KOTA BLITAR Kota Blitar yang merupakan pengembangan Kotamadya sejak jaman pendudukan Belanda, terletak di pesisir selatan Provinsi Jawa Timur, dimana dapat dikatakan sebagai kota perlintasan para komuter dari Kota Malang menuju ke wilayah barat Provinsi Jawa Timur, baik ke Tulungagung, Trenggalek maupun Ponorogo dan juga sebaliknya, Kota Blitar memiliki kedudukan yang sangat strategis. Kota Blitar terletak di tengah-tengah wilayah Kabupaten Blitar dan merupakan kota terkecil ketiga di Provinsi Jawa Timur, setelah Kota Batu dan Kota Mojokerto. Luas wilayah Kota Blitar 32,58 yang terbagi atas 3 kecamatan dan 21 kelurahan, dengan jumlah penduduk 132.107 jiwa. Kondisi perekomian Kota Blitar, dengan APBD sebesar Rp 299,029 Miliar dan PDRB sebesar Rp 645, 54 Miliar dengan laju pertumbuhan sebesar 6,12 persen.

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

8

Dengan status sebagai kota wisata, yang mengutamakan pendapatan dari sektor pariwisata, Kota Blitar sesungguhnya dapat dimaksimalkan dengan menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang ada. Baik yang berhubungan langsung dengan daerah wisata maupun yang mendukung ke arah lokasi. Juga yang menghubungkan dengan Kab Blitar, karena Kota Blitar terletak di tengah tengah Kab Blitar. Hal ini juga sangat menguntungkan bila dilihat dari sisi strategis letak lokasi dan wilayah yang berarti diapit oleh dua kabupaten besar, Kab Blitar dan Kab Tulungagung. Potensi yang sangat menjanjikan dengan adanya lokasi wisata akan dapat menarik, baik wisatawan lokal maupun luar daerah bahkan jika memungkinkan wisatawan mancanegara, seharusnya semakin memacu pihak pemerintah kota dalam memaksimalkan penyediaan sarana dan prasarana yang lebih baik. Sehingga harapan meraih pendapatan lewat sektor pariwisata benar-benar dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan yang semakin baik. Jika menilik penerimaan pendapatan yang menjadi laporan bank persepsi di wilayah kota Blitar menunjukan tingginya penerimaan yang ada membuktikan bahwa potensi di kota Blitar dapat dikatakan besar. Selain sektor wisata Kota Blitar juga dapat dikatakan sebagai kota pendidikan, dengan adanya beberapa perguruan tinggi swasta yang telah terakreditasi dengan baik, antara lain Universitas Islam Balitar dan STKIP PGRI Blitar juga Universitas Negeri Malang Kampus III dimana lulusannya dapat memberikan tenaga tenaga terdidik bagi Kota Blitar dan sekitarnya. Juga sekolah tingkat menengah yang telah berstatus sebagai sekolah bertaraf internasional yakni SMA Negeri 1 Blitar dan SMP Negeri 1 Blitar. KABUPATEN BLITAR Kabupaten Blitar terletak di 111°40'-112°10' BT dan 7°09' LS dimana secara administrasi terdiri dari 22 kecamatan dengan 220 desa dan 28 kelurahan, 720 dusun/lingkungan dengan batas wilayah sebelah timur Kabupaten Malang, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Kediri, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang serta wilayah selatan bertemu langsung dengan Samudera Indonesia yang terkenal ombaknya yang ganas namun memberikan hasil ikan yang sangat besar. Kabupaten Blitar memiliki luas wilayah 1.588,79 km2 yang terdiri dari 22 kecamatan, 280 desa dan 28 kelurahan dengan jumlah penduduk 1.258.100 jiwa. Berdasarkan statistik tahun 2008, volume APBD Kabupaten Blitar sebesar Rp 817, 43 Miliar untuk mendongkrak perekonomian dengan PDRB sebesar Rp 5,03 Miliar dan PDRB per kapita Rp 4,2 juta.

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

9

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi tingkat kesuburan tanah di kawasan Blitar Utara adalah adanya Gunung Kelud yang masih aktif serta banyaknya aliran sungai yang melewatinya. Gunung berapi dan sungai yang lebar berfungsi sebagai sarana penyebaran zat-zat hara yang terkandung dalam material hasil letusan gunung berapi. Dengan luas wilayah 1.588,79 Km2 terdiri dari 31.656 Ha sawah, 12.467 Ha perkebunan dan 35.058 Ha hutan serta sisanya tambak, tegal dan lain lain, memberikan potensi yang sangat besar bagi tumbuhnya perekonomian rakyat. Dari luasnya tanah pertanian dan hutan yang dimiliki Kab Blitar dapat dimaklumi jika penyumbang terbesar produk domestik regional bruto adalah dari hasil pertanian dan hasil hutan. Selain hasil pertanian dan hasil hutan, sektor perikanan juga memberikan sumbangan yang sangat signifikan terhadap peningkatan PDRB Kab Blitar. Ikan hias jenis Koi dari Kab Blitar telah diakui secara nasional sebagai salah satu ikan Koi berkualitas yang mampu berbicara di pasar ikan hias di Indonesia. Sektor perindustrian, meski baru sekadar industri rumah tangga juga memberikan sumbangsih yang besar dalam memberikan pengaruh pada tingkat kenaikan perekonomian Kab Blitar. Sentra industri rumah tangga yang masih terbatas di wilayah kecamatan Wonodadi (Desa Wonodadi) dan Kecamatan Nglegok (Desa Jiwut) dengan hasil kerajinan yang terbuat dari bahan kelapa (sabut, tempurung) pemasarannya telah merambah hingga ke luar daerah bahkan hingga ke luar Jawa. Sektor Pertambangan, meski baru skala kecil dan menengah juga mampu memberikan sumbangsih yang menggembirakan terhadap nilai tambah penghasilan masyarakat Kab Blitar. Hasil tambang yang utama adalah emas di kec Wates, perak di Kali saman Kec Binangun, besi laterit di Kec Bakung, Kec Wates dan Kec Panggungrejo. Sumber daya alam Kab Blitar yang jika dioptimalkan pengelolaannya dapat memberikan sumbangan penghasilan yang besar adalah sektor pariwisata, karena di Kab Blitar masih banyak kita jumpai lokasi dan situs pariwisata yang belum dikelola dengan baik. Terdapat dua situs wisata sejarah yang ramai dikunjungi masyarakat baik sekitar Kab dan Kota Blitar maupun dari wilayah luar, yakni :  Wisata Candi Penataran di Desa Penataran Kec Nglegok  Wisata Pencucian Pusaka Gong Mbah Pradah di Desa Sutojayan Kec Sutojayan Sedangkan wisata alam yang ramai dikunjungi masyarakat antara lain :  Pantai Tambakrejo di Desa Tambakrejo Kec Wonotirto  Pantai Serang di Desa Serang Kec Panggungrejo  Pantai Jolosutro di Desa Ringinrejo Kec Wates  Pantai Pasur di Desa Bululawang Kec Bakung  Pantai Pangi di Desa Tumpakkepuh Kec Bakung  Gua Embultuk di Desa Desa Tumpakkepuh Kec Bakung
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

10

 Air terjun Cuban Wilis di Desa Semen Kec Gandusari  Gunung Kelud di Desa Tulungrejo Kec Gandusari  Petilasan Rambut Monte di Desa Krisik Kec Gandusari KABUPATEN TULUNGAGUNG Terletak di posisi bintang 111,43°-112,07° BT dan 7,51°-8,08° LS merupakan daerah pesisir selatan Pulau Jawa bagian timur, dengan batas wilayah sebelah timur Kab Blitar, utara bertemu dengan Kab Kediri, di sebelah barat dengan Kab Trenggalek dan selatan bersentuhan langsung dengan Samudera Indonesia. Luas wilayah Kabupaten Tulungagung 1.150 km2 dengan memiliki 19 kecamatan, 257 desa dan 14 kelurahan serta jumlah penduduk 1.020.217 jiwa. Dari statistik ekonomi tahun 2008, APBD Kabupaten Tulungagung sebesar Rp 764, 40 Miliar sebagai stimulus terhadap PDRB sebesar Rp 11,18 Miliar dan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,75 persen. Selain merupakan penghasil batu marmer baik untuk bangunan maupun untuk dibuat kerajinan sebagai hiasan, Kab Tulungagung juga memiliki sentra industri kerajinan batik di daerah Kalangbret juga sentra industri peralatan rumah tangga di Kec Kedungwaru. Untuk pengrajin batu marmer banyak terdapat di Desa Besole Kec Campurdarat yang hasilnya telah dipasarkan hingga ke luar daerah. Bahkan Majid Istiqlal dan Tugu Monas di Ibukota Jakarta, bahan batu marmernya juga berasal dari marmer Tulungagung. Selain ketiga industri diatas, mata pencaharian penduduk juga tersebar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan jasa. Sektor pertanian selain menghasilkan bahan pangan baik padi maupun jagung, juga memberikan hasil sayuran dan buah. Di Kec Pagerwojo terdapat sentra peternak sapi penghasil susu, dimana hasilnya dipasok untuk pabrik Nestle di Pasuruan juga untuk konsumsi masyarakat sekitar. Di pesisir selatan dimana berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, masyarakatnya kebanyakan berprofesi sebagai nelayan. Hasil ikan dari laut selatan, dimana mitos Nyi Roro Kidul sebagai penguasa Laut selatan masih kental dan menjadi legenda di masyarakat, telah mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir. Selain nelayan juga ada yang membuat kerajinan dari hasil laut seperti kerang untuk konsumsi para wisatawan. Desa Plosokandang Kec Boyolangu sentra industri kerajinan yang berasal dari sabut kelapa yang dibuat menjadi keset, sapu dan lain lain memberikan kontribusi yang menggembirakan bagi masyarakat, karena hasil kerajinan tersebut telah di pasarkan hingga ke luar daerah. Di Kec Ngunut, dimana industri peralatan TNI baik sabuk, pakaian maupun tas yang produknya dipakai oleh para prajurit TNI, mampu menambah tinggi tingkat penghasilan penduduk. Industri rokok yang juga tersebar hampir di seluruh penjuru Kab Tulungagung, baik yang dalam skala pabrikan besar (saat ini dikuasai oleh PR Cempaka, sebelumnya ada PR Retjo Penthoeng yang telah gulung tikar) maupun dalam skala industri rumah tangga, mampu memberikan kontribusi sumbangan terhadap peningkatan penerimaan cukai di Kab Tulungagung.
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

11

Selain industri-industri tersebut diatas, sektor lain yang memberikan dampak bagi kenaikan PDRB Kab Tulungagung diantaranya adalah sektor pariwisata. Dimana terdapat berbagai macam situs wisata baik wisata budaya maupun wisata alam. Wisata budaya yang menjadi andalan Kab Tulungagung diantaranya : • Jaranan sentherewe • Reog Kendang • Tiban • Jedor • Kentrung • Manten kucing • Langen Beksan Wisata sejarah juga dimiliki Kab Tulungagung, karena pada jaman Majapahit sempat dikunjungi oleh penguasa kerajaan Majapahit :  Candi Gayatri di Kec Boyolangu, merupakan perwujudan putri Gayatri istri ke-4 Raden Wijaya (pendiri Kerajaan Majapahit)  Candi Dadi di atas pegunungan selatan juga termasuk peninggalan kerajaan Majapahit  Gua Selomangleng di Kec Boyolangu menurut legenda yang ada merupakan petilasan Sentot Prawiradirja seorang panglima pada perang Diponegoro Sedangkan wisata alam yang ada di Kab Tulungagung antara lain :  Pantai Popoh di Kec Campurdarat terkenal dengan luat lepasnya yang langsung menuju Samudera Indonesia  Pantai Sidem  Pantai Brumbun, terletak di teluk yang memiliki pemandangan yang menakjubkan  Pantai Sine  Pantai Molang  Pantai Klatak  Pantai Gerangan  Pantai Dlodo  Air terjun Lawean di Kec Sendang  Coban Alam di Kec Campurdarat  Goa Pasir di Kec Sumbergempol  Pesanggrahan Argo Wilis di kaki Gunung Wilis  Perkebunan Teh Penampean  Bendungan Wonorejo Dari beberapa wisata alam yang tersebar di berbagai kecamatan tersebut, baru pantai Popoh dan Bendungan Wonorejo yang telah dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah Kab Tulungagung. Bahkan bendungan wonorejo telah masuk dalam satu situs kunjungan wisata secara nasional, namun untuk lokasi wisata yang lainnya masih membutuhkan penanganan yang lebih optimal, baik sarana maupun prasarananya. Jika menilik dari beragamnya dan tersebarnya daerah wisata yang ada, hal ini dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan penghasilan dan kesejahteraan penduduk Kab Tulungagung. C. PROFIL ORGANISASI. Organisasi KPPN Blitar merupakan bagian dari organisasi instansi vertikal Ditjen Perbendaharaan, Departemen Keuangan. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) selaku Kuasa Bendahara Umum Negara di daerah, mempunyai peran yang penting karena selain memberikan pelayanan langsung kepada satker-satker di lingkungan kementerian negara/ lembaga dalam pencairan dana, juga memposisikan
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

12

diri sebagai mitra/guru bagi satker pada kementerian negara/lembaga dalam rangka pelaksanaan APBN. Seiring dengan implementasi reformasi keuangan negara dalam fungsi treasury, seluruh jajaran Ditjen Perbendaharaan dituntut untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan reformasi tersebut. Dalam fungsi treasury, Ditjen Perbendaharaan bertindak sebagai Bendahara Umum Negara, yang secara pokok memiliki lingkup tugas dalam budget execution, cash management dan government financial accounting and reporting.

STRUKT
Fungsi pelaksanaan anggaran dilaksanakan oleh Seksi Perbendaharaan. Dalam melaksanakan tugasnya Seksi Perbendaharaan melakukan pengujian SPM dan penerbitan SP2D sesuai SOP KPPN Percontohan. Selain itu Seksi Perbendaharaan melakukan pembinaan dan bimbingan teknis pelaksanaan anggaran terhadap satuan kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran. Sedangkan Seksi Bendahara Umum Negara melaksanakan fungsi manajemen kas dan penatausahaan penerimaan. Pelaksanaan tugas Seksi Bendahara Umum meliputi pembebanan rekening kas Negara atas penerbitan SP2D, melakukan permintaan dan pengiriman uang, menatausahakan penerimaan, baik perpajakan maupun PNBP, dan menyusun Laporan Kas Posisi. Seksi Verifikasi dan Akuntansi, merupakan ujung tombak penyusunan laporan keuangan pemerintah. Seksi Verifikasi dan Akuntansi mencatat dan memverifikasi transaksi keuangan internal KPPN, dan merekonsiliasinya dengan akuntansi di tingkat Kuasa Pengguna Anggaran. Produk akhir Seksi Verifikasi dan Akuntansi adalah Laporan Keuangan Tingkat Kuasa BUN di Daerah, berupa Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Arus Kas (LAK), dan Neraca, serta Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK). Sub Bagian Umum, merupakan unit supporting KPPN Blitar. Sub Bagian Umum melaksanakan tugas-tugas kerumahtanggan, keuangan, dan kepegawaian. Selain itu, pada Sub Bagian Umum terdapat pengelolaan data base KPPN yang dillakukan oleh seorang Supervisor. Stuktur sumber daya manusia KPPN Blitar dapat dikatakan mencukupi dimana formasi pegawai meliputi lulusan S2, S1, D3 maupun SMA sesuai dengan kebutuhan organisasi. Pada awal 2010 terjadi mutasi eselon IV lingkup Ditjen Perbendaharaan, KPPN Blitar mendapatkan kepala seksi yang baru dan seksi Perbendaharaan telah diisi, sehingga komposisi pegawai per akhir bulan Januari 2010 adalah sebagai berikut :

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

13

NO.
1

NIP
2

NAMA
3

GOL RUANG
4

JABATAN
5

TANGGAL LAHIR
6

JENIS KELAMIN
7

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

06008082 2 06009295 8 06007070 4 06005119 1 06009041 4 06007257 1 06007331 2 06004355 1 06005910 0 06007463 6 06007256 9 06007387 0 06007359 0 06007594 8 06007303 3 06007410 6 06007331 7 06007507 0 06007256 6 06007331 9 06007256 7 06007240 3 06009707 1

Didyk Choiroel Achmad Tausan P. Danar Widanarko Kemas Amry R.E Bagong Iswanto Alfiah Anwar Lilis Kustanti Iskandar Endang Kusumaningsih Mardianto Sujud Mulyo Sugiono Rr. Aty Pudji Walujati Hari Mujiwahono Sri Suwarti Dyah Utaminingsih Misjan Suwanto Suroso Kholiq Bambang Siswanto Wahyu Agung Purwanto Kusdimianto Heru Supriyanto

III/c III/c III/c III/c III/b III/c III/c III/b III/b III/b III/b III/b III/b III/b III/a III/a III/a III/a III/a III/a III/a III/a II/c

Kepala Kantor Kasubag Umum Kasi Perbend. Kasi Bendum Kasi Verak Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana

16-041971 04-081968 28-101962 01-041955 07-031974 19-121963 10-121964 17-091954 21-101956 07-061963 20-031965 05-041965 20-051965 19-091965 11-011962 06-051962 03-041963 20-101963 19-121963 10-111965 18-091960 19-111962 10-041979

Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Perempua n Perempua n Laki-laki Perempua n Laki-laki Laki-laki Perempua n Laki-laki Perempua n Perempua n Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

14

24 25 26

06010103 4 06010265 6 06008078 4

M. Nurhidayat Gunanto Yudi Santoso

II/c II/b III/b

Pelaksana Pelaksana Pelaksana

08-011982 29-041983 04-071971

Laki-laki Laki-laki Laki laki

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

15

“Reformasi Manajemen Keuangan Pemerintah” adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah untuk mewujudkan good governance dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Landasan hukum pelaksanaan reformasi tersebut adalah Paket Undang-Undang Bidang Keuangan Negara yang terdiri dari UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pertanggung jawaban Keuangan Negara. Terdapat 4 (empat) prinsip dasar pengelolaan keuangan negara yang telah dirumuskan dalam Paket UU Bidang Keuangan Negara tersebut, yaitu: • • • • Akuntabilitas berdasarkan hasil atau kinerja; Keterbukaan dalam setiap transaksi pemerintah; Pemberdayaan manajer profesional; Adanya lembaga pemeriksa eksternal yang kuat, profesional dan mandiri serta dihindarinya duplikasi dalam pelaksanaan pemeriksaaan.

A.

PENGERTIAN MANAJEMEN KEUANGAN PEMERINTAH Manajemen keuangan pemerintah adalah salah satu sub bidang dari manajemen Keuangan Negara atau Keuangan Sektor Publik. Sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1 Angka 1 UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yang dimaksud dengan Keuangan Negara adalah: “Semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan perusahaan negara atau badan lain dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.”

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

Fungsi Fungsi

16

Ruang lingkup Keuangan Negara sesuai dengan pengertian tersebut diuraikan dalam Pasal 2 UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara meliputi: • hak negara untuk memungut pajak, mencetak dan mengedarkan uang serta melakukan pinjaman negara; • kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan dan membayar tagihan pihak ketiga; • penerimaan dan pengeluaran badan/lembaga yang sebagian atau seluruhnya menggunakan kekayaan negara; • kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan perusahaan negara dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara; • lain; kekayaan negara yang dikelola sendiri atau yang dikelola oleh pihak

• kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan dan atau kepentingan umum; • kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah; • hak, kewajiban, kebijakan dan kegiatan lainnya dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan perusahaan negara. Bidang pengelolaan Keuangan Negara yang demikian luas secara ringkas dapat dikelompokkan dalam sub bidang pengelolaan fiskal, sub bidang pengelolaan moneter dan sub bidang pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan. Sub bidang pengelolaan fiskal meliputi enam fungsi sebagai berikut: • • • • • • fungsi pengelolaan kebijakan ekonomi makro dan fiskal; fungsi penganggaran; fungsi administrasi perpajakan; fungsi administrasi kepabeanan; fungsi perbendaharaan; fungsi pengawasan keuangan.

Fungsi pengelolaan kebijakan ekonomi makro dan fiskal meliputi penyusunan Nota Keuangan dan RAPBN, serta perkembangan dan perubahannya, analisis kebijakan, evaluasi dan perkiraan perkembangan ekonomi makro, pendapatan negara, belanja negara, pembiayaan, analisis kebijakan, evaluasi dan perkiraan perkembangan fiskal dalam rangka kerjasama internasional dan regional, penyusunan rencana pendapatan negara, hibah, belanja negara dan pembiayaan jangka menengah, penyusunan statistik, penelitian dan rekomendasi kebijakan di bidang fiskal, keuangan dan ekonomi. Sementara itu fungsi penganggaran meliputi penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, serta perumusan standar, norma, pedoman, kriteria, prosedur dan pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang APBN. Sedangkan fungsi perbendaharaan meliputi perumusan kebijakan, standar, sistem dan prosedur di bidang pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara, pengadaan barang dan jasa instansi pemerintah serta akuntansi pemerintah pusat dan daerah, pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara, pengelolaan kas negara dan perencanaan penerimaan dan pengeluaran, pengelolaan utang dalam negeri dan luar negeri, pengelolaan piutang, pengelolaan BM/KN, penyelenggaraan
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

17

akuntansi, pelaporan keuangan dan sistem informasi manajemen keuangan pemerintah. Sesuai dengan uraian tersebut di atas, manajemen keuangan pemerintah meliputi penyelenggaraan keenam fungsi pengelolaan fiskal yang menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah, baik Pemerintah Pusat, maupun Pemerintah Daerah. Sebagian dari fungsi-fungsi pengelolaan fiskal tersebut, yaitu fungsi-fungsi pengelolaan kebijakan ekonomi makro, penganggaran, perbendaharaan dan pengawasan keuangan, dalam literatur Keuangan Negara lazim disebut public expenditure management (PEM) dan merupakan suatu bidang kajian tersendiri.

Silus Mana
B.
LATAR BELAKANG REFORMASI MANAJEMEN KEUANGAN PEMERINTAH Sebagaimana pengelolaan keuangan di sektor privat, pengelolaan keuangan di sektor publik memerlukan sentuhan profesionalisme yang bertumpu pada prinsipprinsip good governance. Upaya-upaya untuk mewujudkan good governance dalam pengelolaan keuangan pemerintah telah dilakukan di berbagai negara mulai awal paruh kedua Abad XX. Sebelum terjadinya Perang Dunia II tujuan negara pada umumnya lebih diorientasikan pada pemberian perlindungan kepada rakyat (etat gendarme/police state). Munculnya krisis ekonomi di berbagai negara setelah Perang Dunia II, melahirkan gagasan untuk meningkatkan rasionalitas pembiayaan kegiatan negara agar dapat tercapai efisiensi, efektifitas, dan keekonomisan pengeluaran negara. Dipelopori oleh Amerika Serikat pada tahun 1946 melalui Hoover Commission, lahir metode penganggaran berbasis kinerja yang di kemudian hari terkenal dengan nama Planning Programming and Budgeting System (PPBS). Sejak itu, berbagai pemikiran untuk menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan perusahaan ke dalam pengelolaan keuangan negara mulai dikembangkan. Dalam rangka pengelolaan fiskal, mulai disadari pentingnya fungsi pengelolaan kebijakan ekonomi makro dan fiskal dan fungsi penganggaran dalam menetapkan prioritas dan memadukan rencana kegiatan dengan potensi sumber daya yang tersedia dalam tahun fiskal yang bersangkutan. Setiap kegiatan pemerintah
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

Dalam Sistem P

18

dianalisis benefit and cost-nya, dan setiap instansi pengguna anggaran wajib melaporkan kinerjanya. Demikian pula semakin dirasakan pentingya fungsi perbendaharaan untuk membantu manajemen mengelola sumber daya yang terbatas secara efisien: merencanakan aliran kas yang baik, menjaga agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan, mencari sumber pembiayaan yang paling murah dan memanfaatkan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan. Bahkan standar dan sistem akuntansi keuangan, demikian pula sistem auditing yang lazim digunakan di perusahaan mulai diterapkan di sektor publik. Upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip manajemen keuangan yang selama ini lebih banyak dilaksanakan di sektor privat dalam pengelolaan keuangan pemerintah, tidaklah dimaksudkan untuk menyamakan pengelolaan keuangan di kedua sektor tersebut. Bentuk dan peran negara yang demikian unik sebagai suatu entitas dibandingkan dengan perusahaan menjadikan pengelolaan keuangan negara tidak tepat untuk disamakan dengan pengelolaan keuangan perusahaan. Pada hakekatnya, negara adalah suatu lembaga politik. Dalam kedudukannya yang demikian, negara tunduk pada tatanan hukum publik. Lembaga legislatif, sebagai representasi rakyat, merupakan penentu arah dan kebijakan negara, di bidang politik, ekonomi, sosial, di bidang lainnya. Melalui kegiatan berbagai lembaga pemerintah, negara berusaha memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyat (welfare state). Selama ini pengelolaan keuangan sektor publik yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan superioritas negara telah membuat aparatur pemerintah yang bergerak dalam kegiatan pengelolaan keuangan sektor publik tidak lagi dianggap berada dalam kelompok profesi manajemen oleh para profesional. Pengelolaan keuangan sektor publik dianggap sebagai suatu profesi yang memiliki karakter berbeda dibandingkan dengan profesi manajemen pada umumnya. Oleh karena itu sudah saatnya perlu dibangun kembali kesadaran bahwa pada hakekatnya pengelolaan keuangan sektor publik bukanlah merupakan hal baru dalam profesi manajemen. Untuk itu agenda reformasi dalam bidang pengelolaan keuangan sektor publik perlu memperoleh dukungan semua pihak.

C.

POKOK-POKOK REFORMASI MANAJEMEN KEUANGAN PEMERINTAH Pokok-pokok reformasi manajemen keuangan pemerintah telah dituangkan dalam suatu Buku Putih yang berjudul “Reform of Public Financial Management in Indonesia: Principles and Strategy” yang disusun oleh Komite Penyempurnaan Manajemen Keuangan yang dibentuk oleh Menteri Keuangan pada tahun 2001. Di dalam Buku Putih tersebut dijelaskan latar belakang reformasi dan kerangka institusional manajemen keuangan pemerintah, sistem manajemen keuangan pemerintah saat ini, pokok-pokok reformasi di bidang-bidang perencanaan dan penganggaran, perbendaharaan, dan auditing, peran Pemerintah Pusat dalam reformasi manajemen keuangan daerah dan strategi pelaksanaan reformasi. Reformasi pelaksanaan fungsi pengelolaan kebijakan ekonomi makro dan fiskal dan fungsi penganggaran Pokok-pokok reformasi dalam pengelolaan kebijakan ekonomi makro dan fiskal meliputi pelurusan tujuan dan fungsi penganggaran pemerintah, penegasan peran lembaga legislatif dan pemerintah dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran, pengintegrasian sistem akuntabilitas kinerja dalam sistem penganggaran, penyempurnaan klasifikasi anggaran, penyatuan anggaran dan

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

19

penggunaan anggaran.

kerangka

pengeluaran

jangka

menengah

dalam

penyusunan

Anggaran adalah alat akuntabilitas, manajemen dan kebijakan ekonomi. Sebagai instrumen kebijakan ekonomi anggaran berfungsi untuk mewujudkan pertumbuhan, stabilisasi dan pemerataan. Pengetahuan mengenai tujuan dan fungsi anggaran pemerintah tersebut bukanlah suatu hal yang baru. Uraian mengenai hal tersebut telah sejak lama ditulis oleh para ahli dalam literatur Keuangan Negara. Upaya untuk mempraktekkan hal tersebut bahkan secara sistematis telah dilakukan semasa Orde Baru, walaupun ternyata kurang berhasil, karena tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Program reformasi dalam hal ini adalah upaya untuk meluruskan kembali tujuan dan fungsi anggaran tersebut dengan melakukan secara sungguh-sungguh proses penganggaran dimaksud dan meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan pada setiap tahapan pengelolaan anggaran. Dalam hubungan ini sangat penting dilakukan pengaturan secara jelas peran lembaga legislatif dan pemerintah dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran sebagai penjabaran aturan pokok yang telah ditetapkan dalam UndangUndang Dasar 1945.

INTE P

Masalah lain yang tidak kalah pentingnya dalam upaya memperbaiki proses penganggaran di sektor publik adalah penerapan anggaran berbasis kinerja. Berdasarkan Instruksi Presiden No. 7 Tahun 1999 setiap instansi diwajibkan untuk menyusun visi dan misi sesuai dengan tugas pokok masing-masing serta melaporkan pencapaian visi dan misi tersebut. Sementara itu, dalam rangka penyusunan Rancangan APBN, setiap instansi wajib menyusun Daftar Usulan Kegiatan/Proyek yang pada umumnya belum memuat informasi yang mencukupi untuk mengukur kinerja unit pengguna anggaran. Mengingat bahwa sistem anggaran berbasis kinerja/hasil memerlukan kriteria pengendalian kinerja dan evaluasi serta untuk menghindari duplikasi dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran instansi, perlu dilakukan penyatuan sistem akuntabilitas kinerja dalam sistem penganggaran dengan memperkenalkan sistem penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Instansi sebagaimana yang selama ini dikenal di dalam perencanaan dan penganggaran perusahaan. Dengan penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

Keb Dis

20

Instansi tersebut dapat terpenuhi sekaligus kebutuhan akan anggaran berbasis kinerja dan pengukuran akuntabilitas instansi yang bersangkutan.

Kerangk
Sejalan dengan upaya untuk menerapkan secara penuh anggaran berbasis kinerja di sektor publik, perlu pula dilakukan perubahan klasifikasi anggaran untuk menyesuaikan dengan Government Finance Statistics (GFS). Manfaat utama penerapan GFS dalam pengelompokan transaksi-transaksi pemerintah adalah memudahkan pelaksanaan anggaran berbasis kinerja, memberikan gambaran yang obyektif dan proporsional mengenai kegiatan pemerintah, menjaga konsistensi dengan standar akuntansi sektor publik serta memudahkan penyajian dan meningkatkan kredibilitas statistik keuangan pemerintah. Pada saat anggaran belanja pemerintah dikelompokkan atas anggaran belanja rutin dan anggaran belanja pembangunan, penyusunan anggaran belanja pembangunan mengacu kepada Undang-undang tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas). Pengelompokan dalam anggaran belanja rutin dan anggaran belanja pembangunan yang semula bertujuan untuk memberikan penekanan pada arti pentingnya pembangunan ini dalam pelaksanaannya telah menimbulkan peluang terjadinya duplikasi, penumpukan, dan penyimpangan anggaran. Sementara itu penuangan rencana pembangunan dalam suatu dokumen perencanaan nasional yang bersifat substantif dan berlaku selama lima tahun, apalagi yang ditetapkan dengan undang-undang dirasakan tidak realistis dan semakin tidak sesuai dengan dinamika kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dalam era globalisasi. Perkembangan dinamis dalam penyelenggaraan pemerintahan membutuhkan sistem perencanaan fiskal yang terdiri dari sistem penyusunan anggaran tahunan yang dilaksanakan sesuai dengan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term Expenditure Framework disingkat MTEF) sebagaimana dilaksanakan di kebanyakan negara-negara anggota OECD.

P n t p nS e ea a
P m t k ir nD t e ua h a aa E o o i &F k l k n m is a
21

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

PEMBAGIAN
Fiscal Research

Walaupun anggaran dapat disusun dengan baik, namun jika proses penetapannya terlambat akan berpotensi menimbulkan masalah dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, penetapan anggaran yang dilakukan dengan undang-undang sebaiknya tidak terlalu rinci, karena semakin rinci undang-undang penetapan anggaran, akan semakin teknis dan rumit proses penetapan anggaran tersebut. Sehubungan dengan itu, perlu pengaturan secara jelas mekanisme pembahasan anggaran tersebut di lembaga legislatif, termasuk pembagian tugas antara Panitia Anggaran dan komisi-komisi pasangan kerja departemen/lembaga di Dewan Perwakilan Rakyat. C. REFORMASI PELAKSANAAN ANGGARAN. Pemisahan Kewenangan dalam Pelaksanaan Anggaran. Reformasi aspek perbendaharaan berdasarkan implementasi Paket UndangUndang Bidang Keuangan dan pelaksanaan fungsi perbendaharaan yang mengacu pada best practice internasional mengajurkan hendaknya fungsi menteri teknis selaku Pengguna Anggaran dengan fungsi Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Dalam kaitan ini, Paket RUU Bidang Keuangan Negara telah memperjelas posisi departemen teknis sebagai instansi pengguna anggaran dan pelaksana program. Sementara itu menteri Keuangan diposisikan sebagai Bendahara Umum Negara yang memfungsikan KPPN-KPPN sebagai kuasanya. Dengan demikian, fungsi perbendaharaan akan dipusatkan di Departemen Keuangan.

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

Pengkajian kebijakan ekonomi, keuangan dan fiskal
22

S UK TR T P NGE OL E L A
. Dalam sistem perbendaharaan, proses pelaksanaan anggaran berawal dari komitmen (seperti kontrak jual beli, surat perintah kerja, dll) yang dibuat oleh instansi pengguna anggaran. Penyiapan tagihan didasarkan atas komitmen dimaksud dengan dilengkapi dokumen-dokumen yang benar dan mencukupi, selanjutnya instansi pengguna anggaran menyampaikan perintah pembayaran kepada Kuasa Bendahara Umum Negara.

DALAMPEL
Pemisahan kewenangan ordonansi dengan komptabel, memungkinkan mekanisme check and balance dapat terbangun melalui (a) taat terhadap ketentuan hukum, (b) pengamanan dini melalui pemeriksaan dan persetujuan sesuai ketentuan yang berlaku, (c) sesuai dengan spesifikasi teknis, dan (d) menghindari pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan dan memberikan keyakinan bahwa uang negara dikelola dengan benar. Prosedur ini secara formal telah di terapkan pada sistem di negara Perancis, dimana pembayaran yang dilakukan oleh Bendahara Umum Negara sebelumnya
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

23

didahului dengan penyelesaian pengendalian pengeluaran dalam tiga tahap yang dilakukan secara resmi oleh pemegang kekuasaan ordonansi di departemen teknis yang bersangkutan. Ketiganya adalah (a) komitmen pembebanan, yang dibuat dalam batas anggaran yang tersedia, dilanjutkan dengan (b) pemeriksaan dokumen-dokumen yang membuktikan bahwa pekerjaan telah dilaksanakan dan kebenaran jumlah tagihan, dan (c) penerbitan perintah untuk melakukan pembayaran kepada Bendahara Umum Negara, dimana setelah dilakukan pemeriksaan, selanjutnya diterbitkan pembayaran dalam bentuk kontan atau cek.

PENG
Sedangkan untuk menyelesaikan proses pembayaran yang bernilai kecil dengan cepat, harus dibentuk kas kecil unit pengguna anggaran, pemegang kas kecil harus bertanggung jawab mengelola dana yang jumlahnya lebih dibatasi dari apa yang sekarang dikenal sebagai Bendahara Cash Management dan Financial Planning Praktek cash management yang ada saat ini tidak memadai, dalam pengertian, tidak adanya pengaturan atau penanganan yang baik dalam perencanaan kas, penjadwalan penerimaan dan pengeluaran negara, pengelolaan kekurangan atau kelebihan kas, serta upaya menghasilkah pendapatan tambahan dari dana yang belum digunakan/ menganggur. Kurangnya perhatian terhadap hal ini di masa lalu, mengingat pengalaman (fakta) yang menunjukkan tidak pernah terjadinya kekurangan dana secara signifikan, membuat ikatan hubungan antara Pemerintah dengan bank sentral (Bank Indonesia) begitu dekat (tanpa batasan-batasan etis tertentu). Akan tetapi (kini) kondisi lingkungan keuangan mengalami perubahan besar, karenanya tuntutan terhadap penyelenggaraan manajemen kas yang lebih baik sungguh sangat penting dan mendesak. Oleh karena itu, sejalan dengan pemindahan kewenangan penerbitan SPM kepada menteri teknis, jadwal penerimaan dan pengeluaran kas secara periodik harus diselenggarakan sesuai dengan jadwal yang disampaikan unit penerima dan unit pengguna kas. Untuk itu, Direktorat Jenderal Perbendaharaan harus melakukan antisipasi secara lebih baik terhadap kemungkinan kekurangan kas dan melakukan rencana untuk menghasilkan pendapatan tambahan dari pemanfaatan kesempatan melakukan investasi dari kas yang belum digunakan dalam periode jangka pendek. Dengan demikian, disarankan, agar Pemerintah mengembangkan dan menerapkan sepenuhnya sistem manajemen kas pemerintah agar dapat terselenggara secara
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

Selaku Pengg Tahapan A
24

Menteri

memadai manajemen perbendaharaan dengan baik sesuai praktek yang diterima umum.

Untuk memperbaiki sistem manajemen kas, pemerintah perlu mempertimbangkan penerapannya secara sepenuhnya sistem Kas Tunggal Perbendaharaan (Treasury Single Account) untuk membantu terlaksananya mekanisme pengawasan secara lebih baik terhadap saldo rekening dan untuk membantu mengoptimalkan penggunaan dana-dana yang tersedia. Sistem Kas Tunggal Perbendaharaan harus dipersiapkan untuk menciptakan kaitan langsung antara masing-masing rekening bank dengan rekening bank pusat yang dikelola Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Dalam hubungan ini, diperlukan sistem yang dapat secara otomatis menihilkan saldo rekening-rekening pada Bank Operasional ke Rekening Kas Umum Negara. Usul penyempurnaan ini diharapkan dapat memperlancar informasi mengenai posisi likuiditas pemerintah, informasi mengenai tersedianya sumber-sumber dana murah yang semakin terbatas.

Investasi Pemerintah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara mengamanatkan pemerintah untuk melakukan investasi jangka panjang dengan tujuan untuk memberikan manfaat ekonomi, manfaat sosial, dan manfaat lainnya. Investasi jangka panjang tersebut merupakan wujud dari peran pemerintah dalam rangka memajukan kesejahteraan umum. Ruang lingkup investasi jangka panjang terdiri dari investasi dengan cara pembelian saham, surat utang, dan investasi langsung. Investasi langsung dapat berupa investasi jangka panjang yang bersifat permanen dan investasi jangka panjang yang bersifat non permanen. Kedua bentuk investasi pemerintah tersebut memiliki jangka waktu lebih dari satu tahun. Inveatsi langsung jangka panjang yang bersifat non permanen dilakukan dengan cara pola kerja sama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur dan non infrastruktur. Sedangkan investasi langsung jangka panjang yang bersifat permanen dengan cara penyertaan modal kepada BUMN/BUMD, dan perseroan terbatas. Pada prinsipnya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara berwenang menempatkan uang negara dan mengelola/menatausahakan investasi. Sebagai konsekuensi dari prinsip tersebut di atas, maka kewenangan pengelolaan
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

Spending Unit
Payme Payme Reque Reque

25

investasi pemerintah pusat dilaksanakan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Kewenangan pengelolaan investasi pemerintah meliputi kewenangan regulasi, supervisi, dan operasional. Dalam pengelolaan investasi pemerintah, Menteri Keuangan mempunyai kewenangan supervisi dan pelaksanaan kewenangan tersebut dibantu oleh komite investasi pemerintah. Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara membuka koridor baru bagi penerapan basis kinerja ini di lingkungan pemerintah. Dengan Pasal 68 dan Pasal 69 dari undang-undang tersebut, instansi pemerintah yang tugas pokok dan fungsinya memberi pelayanan kepada masyarakat dapat menerapkan pola pengelolaan keuangan yang fleksibel dengan menonjolkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas. Instansi demikian, dengan sebutan umum sebagai Badan Layanan Umum (BLU), diharapkan menjadi contoh konkrit yang menonjol dari penerapan manajemen keuangan berbasis pada hasil kerja (kinerja). Peluang ini secara khusus disediakan kesempatannya bagi satuan-satuan kerja pemerintah yang melaksanakan tugas operasional pelayanan publik (seperti layanan kesehatan, pendidikan, pengelolaan kawasan, dan lisensi), untuk membedakannya dari fungsi pemerintah sebagai regulator dan penentu kebijakan. Praktik ini telah berkembang luas di manca negara berupa upaya pengagenan (agencification) aktivitas yang tidak harus dilakukan oleh lembaga birokrasi murni, tetapi diselenggarakan oleh instansi yang dikelola ala bisnis (business like) sehingga pemberian layanan kepada masyarakat menjadi lebih efisien dan efektif.

Public Goods
Dilingkungan pemerintahan di Indonesia, terdapat banyak satuan kegiatan yang berpotensi untuk dikelola lebih efektif melalui pola Badan Layanan Umum. Di antara mereka ada yang memperoleh imbalan dari masyarakat dalam proporsi signifikan sehubungan dengan layanan yang diberikan, dan ada pula yang bergantung sebagian besar pada dana yang disediakan oleh APBN/APBD. Kepada mereka, terutama yang selama ini mendapatkan hasil pendapatan dari layanan dalam porsi signifikan, dapat diberikan keleluasaan dalam mengelola sumber daya untuk meningkatkan pelayanan yang diberikan.
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

BUREAU
26

Dengan pola pengelolaan keuangan BLU, fleksibilitas diberikan dalam rangka pelaksanaan anggaran termasuk pengelolaan pendapatan dan belanja, pengelolaan kas, dan pengadaan barang/jasa. Kepada BLU juga diberikan kesempatan untuk mempekerjakan tenaga profesional non PNS serta kesempatan pemberian imbalan jasa kepada pegawai sesuai dengan kontribusinya. Tetapi sebagai pengimbang, BLU dikendalikan secara ketat dalam perencanaan dan penganggarannya, serta dalam pertanggungjawabannya. Dengan sifat-sifat tersebut, BLU tetap menjadi instansi pemerintah yang tidak dipisahkan. Dan karenanya, seluruh pendapatan yang diperolehnya dari non APBN dilaporkan dan dikonsolidasikan dalam pertanggungjawaban APBN. Sehubungan dengan privilese yang diberikan dan tuntutan khusus yang diharapkan dari BLU, keberadaannya harus diseleksi dengan tata kelola khusus. Untuk itu, menteri/pimpinan lembaga diberi kewajiban untuk membina aspek teknis BLU, sementara Menteri Keuangan berfungsi sebagai pembina di bidang pengelolaan keuangan. Pola BLU tersedia untuk diterapkan oleh setiap instansi pemerintah yang secara fungsional menyelenggarakan kegiatan yang bersifat operasional. Instansi dimaksud dapat berasal dari dan berkedudukan pada berbagai jenjang eselon atau non eselon. Sehubungan dengan itu, organisasi dan struktur instansi pemerintah yang berkehendak menerapkan PPK-BLU kemungkinan memerlukan penyesuaian dengan memperhatikan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. Dengan demikian, BLU diharapkan tidak sekedar sebagai format baru dalam pengelolaan APBN, tetapi BLU diharapkan untuk menyuburkan pewadahan baru bagi pembaharuan manajemen keuangan sektor publik, demi meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Akuntansi dan Pelaporan Laporan-laporan pertanggungjawaban keuangan hendaknya menerapkan sistem akuntansi yang komprehansif, yaitu sistem yang menghasilkan laporan-laporan dengan menyajikan informasi secara memadai mengenai posisi keuangan, arus kas, dan kinerja keuangan pemerintah. Dalam upaya untuk menghasilkan informasi keuangan yang menyeluruh untuk keperluan analisa ekonomi makro dan fiskal pemerintah secara luas, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus menggunakan standar akuntansi pemerintahan. Sehubungan dengan pendekatan anggaran berbasis kinerja (performancebased budget), diperlukan Bagan perkiraan standar yang mencerminkan tingkatan kinerja dari para pengguna anggaran dan berdasarkan klasifikasi perkiraan sebagaimana ditentukan oleh Government Finance Statistics (GFS), sehingga dapat digunakan sebagai pembanding dengan bagan perkiraan negara-negara lain sebagaimana yang berlaku di tingkat internasional.

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

27

SISTEM AKUNTANSI DAN PELAPORAN
Laporan Re asi alis Ang g.

Me ri nte Te knis

Sis m te Akuntans i Instansi

Ne raca
Ca tatan a tas LRA & Ne ca ra

Lapo ran RA

Ne raca
Laporan ArusKas
Catatan atas Lapo ran Ke an an u g

Dipe a riks ole hBPK

Be ndahara Um um Ne ara g

Sis m te Akuntans i KasUm um Ne ara g

Lapo ran ArusKas
Catatanatas Laporan Arus Kas

D. REFORMASI BIROKRASI. Departemen Keuangan tengah berupaya untuk meningkatkan kinerja pegawai dan institusi kelembagaannya. Sebagai langkah awal dari tekad tersebut, telah dilakukan perubahan kelembagaan yang dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan produktifitas kinerja birokrasi dalam menyusun kebijakan dan memberikan pelayanan kepada publik. Untuk itu, sejak tahun 2002 telah dilakukan langkah penataan organisasi yang dimulai dari pemisahan tugas dan fungsi penganggaran, formulasi kebijakan, perbendahaan, pengelolaan utang, serta tugas dan fungsi pengelolaan aset negara. Sebagai tindak lanjut atas pemisahan dan penajaman tugas dan fungsi tersebut, secara struktur Departemen Keuangan saat ini terdiri dari: Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal Anggaran, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Inspektorat Jenderal, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Badan Kebijakan Fiskal, dan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Untuk memperkuat langkah tersebut, Menteri Keuangan melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.01/2007 telah mencanangkan dilaksanakannya Reformasi Birokrasi yang meliputi berbagai program prioritas di bidang: (i) penataan organisasi, (ii) penyempurnaan business process, dan (iii) peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Di bidang penataan organisasi, langkah yang ditempuh berupa penajaman tugas dan fungsi Sekretariat Jenderal, Inspektorat Jenderal, Ditjen Anggaran, Ditjen Perbendaharaan, Ditjen Perimbangan Keuangan, dan Badan Kebijakan Fiskal, serta pembentukan beberapa kantor pelayanan modern di Ditjen Pajak (3 Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar, 28 Kantor Pelayanan Pajak Madya, dan 171 Kantor Pelayanan Pajak Pratama), Ditjen Bea dan Cukai (2 Kantor Pelayanan Utama, yaitu KPU Tipe A Tanjung Priok dan KPU Tipe B Batam), dan Ditjen Perbendaharaan (terget 30 dan yang sudah siap 17 Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara percontohan untuk layanan prima). Disamping itu telah pula dilakukan pemisahan dan
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

28

penajaman fungsi organisasi yang diharapkan menghasilkan struktur organisasi yang mampu menghasilkan kebijakan yang lebih berkualitas, sekaligus mampu memberikan pelayanan terbaik kepada publik. Di bidang penyempurnaan business process, langkah yang ditempuh berupa penyusunan analisis dan evaluasi jabatan yang telah menghasilkan uraian jabatan sebanyak 5.225 jabatan, penyusunan standard operating procedures (SOP) sebanyak 6.475 SOP, dan penyusunan analisa beban kerja. Sementara itu, di bidang peningkatan manajemen sumber daya manusia (SDM) beberapa langkah telah dan sedang disiapkan berupa pembentukan assessment center, penyusunan pola mutasi, penyusunan pedoman rekrutmen, pembangunan Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian, dan peningkatan disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Layanan Unggulan dalam Reformasi Birokrasi Reformasi birokrasi yang dilaksanakan di Departemen Keuangan pada dasarnya diarahkan untuk memberikan peningkatan pelayanan kepada publik. Upaya peningkatan pelayanan tersebut dilakukan melalui berbagai langkah prioritas, sehingga diharapkan perbaikan pelayanan tersebut dapat diwujudkan dalam jangka menengah dan jangka panjang, namun dengan tetap memperhatikan layanan yang lebih baik dalam jangka pendek. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, berbagai upaya perbaikan proses bisnis yang dilakukan dalam reformasi birokrasi dalam jangka pendek difokuskan pada tujuan peningkatan pelayanan prima yang secara langsung menyentuh kepentingan masyarakat umum. Sasaran utama yang diharapkan dapat diperoleh dari Layanan Unggulan ini antara lain sebagai berikut: Pertama, Layanan Unggulan diharapkan mampu meningkatkan transparansi sekaligus memotong jalur birokrasi yang tidak perlu atas proses bisnis di lingkungan Departemen Keuangan. Di dalam Layanan Unggulan masyarakat akan dilayani
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

29

dengan SOP yang baku, jelas, dan tertulis guna menjamin kepastian dalam memperoleh layanan. Di dalam Layanan Unggulan juga secara jelas dicantumkan janji layanan waktu, dan biaya yang harus dikeluarkan. Upaya meningkatkan transparansi juga dilakukan melalui pencantuman persyaratan administratif untuk setiap jenis layanan. Dengan demikian masyarakat tidak direpotkan oleh lambatnya layanan yang disebabkan karena persyaratan yang tak lengkap. Kedua, Layanan Unggulan dirancang untuk menyederhanakan proses bisnis di lingkungan Departemen Keuangan. Di dalam Layanan Unggulan, proses layanan yang dituangkan dalam SOP telah disederhanakan dengan menghilangkan proses yang tidak perlu. Dengan demikian bukan saja tahapan proses yang lebih pendek dan efisien, namun penyelesaian waktu juga menjadi lebih cepat. Namun perlu pula disadari bahwa dalam beberapa jenis layanan, prosesnya telah diatur dengan tegas sesuai dengan aturan yang berlaku. Untuk jenis layanan yang demikian, tahapan proses layanan (red tape) memang tetap harus sebagaimana aturan, namun janji layanan waktu yang dipersingkat. Ketiga, Layanan Unggulan dirancang untuk menghindari sejauh mungkin penyalahgunaan wewenang (a buse of power) dari aparat. Dengan dibuatnya SOP yang mencantumkan prosedur dan alur layanan, jangka waktu layanan, persyaratan administrasi yang diperlukan, serta besarnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat, maka pencari layanan akan mengerti dengan jelas hak dan kewajibannya. Kondisi ini akan kian memberikan perlindungan yang lebih baik kepada masyarakat pengguna layanan. Keempat, Layanan Unggulan memberikan layanan yang didukung oleh aparat yang semakin profesional dan kompeten. Disamping petugas yang semakin profesional, maka pada kantor-kantor modern telah dilengkapi dengan teknologi yang mendukung proses bisnis lebih efisien. Dengan demikian masyarakat akan mendapatkan layanan yang lebih baik dengan dukungan aparatur yang profesional dan infrastruktur modern. Kelima, Layanan Unggulan dirancang untuk menghindari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Jelasnya janji layanan, waktu penyelesaian, persyaratan administratif yang diperlukan, serta biaya yang dikeluarkan akan makin melindungi kepentingan masyarakat. Sementara itu, reformasi birokrasi Departemen Keuangan telah meletakkan landasan yang kuat untuk penegakan disiplin dan penindakan pelanggaran yang dilakukan aparatnya, memberikan sanksi yang berat kepada yang melanggar dan memberikan penghargaan kepada yang berprestasi dan memiliki kinerja yang baik. Disamping itu, pada setiap unit Eselon I juga telah memiliki Kode Etik Pegawai (code of conduct) yang baru, serta dilengkapi dengan Majelis Kode Etik yang akan melakukan penegakan pelaksanaan dan penyelesaian pelanggaran kode etik yang dilakukan pegawai. Selain itu, masyarakat dapat melaporkan setiap pelanggaran termasuk perbuatan yang tidak terpuji yang dilakukan oleh pegawai kepada atasan pegawai atau Kepala Kantor setempat, serta selanjutnya ditindaklanjuti dan diproses sesuai dengan tingkat pelanggarannya. Sementara itu, apabila terjadi pelanggaran terhadap ketentuan hukum perdata atau hukum pidana, akan diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

30

A. Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan Revisi Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DIPA) DIPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) merupakan dokumen yang menjadi acuan bagi Satker dalam melaksanakan kegiatan yang sumber dananya berasal dari APBN. Secara garis besar ada tiga tahap yang harus dilalui untuk menjadikan suatu DIPA secara hukum sah sebagai dasar pembayaran/pencairan dana atas beban APBN. Tiga tahap itu yaitu penyusunan konsep DIPA oleh Pengguna Anggaran (PA) / Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), penelaahan konsep DIPA di Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan pengesahan DIPA oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. a. Penyusunan Konsep DIPA Penyusunan konsep DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan dilakukan oleh PA/KPA dengan mengacu pada: (I) Undangundang APBN, (II) Peraturan Presiden (Perpres) tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (RABPP) / Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) untuk konsep DIPA yang ditelaah didaerah, (III) RKA-KL yang telah disetujui DPR dan ditelaah oleh DJA serta (IV) Bagan Akun Standar.

Pokok
b. Penelaahan Konsep DIPA Penelaahan atas konsep DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.02/2008 dilakukan bersama-sama antara petugas dari kementrian/lembaga yang bersangkutan dengan petugas dari Ditjen Perbendaharaan cq. Direktorat Pelaksanaan Anggaran /Kanwil Ditjen Perbendaharaan. Penelaahan konsep DIPA yang dilakukan Direktorat Pelaksanaan Anggaran meliputi DIPA Satker Pusat dan DIPA Tugas Pembantuan. Sedangkan penelaahan konsep DIPA yang dilakukan di Kanwil Ditjen Perbendaharaan meliputi DIPA Satker vertikal Kementrian/Lembaga di daerah dan DIPA Dana Dekonsentrasi.
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

31

PENELA
Penelaahan atas konsep DIPA dilakukan dengan aktivitas sebagai berikut : 1) Penilaian kesesuaian pencantuman dan penuangan anggaran (Konsep DIPA halaman I A. Umum) dengan rincian pada Perpres mengenai RABPP/SRAA, meliputi : a) Kesesuaian pencantuman uraian organisasi dan satuan kerja. b) Kesesuaian pencantuman uraian dan pagu anggaran pada fungsi, subfungsi, program, kegiatan, sub kegiatan, dan kelompok pengeluaran. c) Kesesuaian pencantuman sasaran dan indikator keluaran. 2) Penilaian kesesuaian pencantuman rincian penggunaan anggaran (Konsep DIPA halaman I B. Umum) dengan prinsip pembayaran dalam mekanisme APBN, meliputi : a) Kesesuaian pencantuman kode bayar. b) Kesesuaian pencantuman sumber dana. c) Kesesuaian pencantuman nomor registrasi pinjaman/hibah luar negeri. d) Kesesuaian pencantuman tata cara penarikan dana. 3) Penilaian kesesuaian pencantuman rincian penggunaan anggaran (Konsep DIPA halaman II. Rincian Pengeluaran) dengan kaidah akuntansi pemerintah, meliputi : a) Kesesuaian penempatan jenis belanja. b) Kesesuaian pencantuman akun pengeluaran. 4) Penilaian terhadap rencana penarikan dana tiap bulan (Konsep DIPA halaman III. Rencana Penarikan dana dan Perkiraan Penerimaan), meliputi pencantuman rencana penarikan dana tiap bulan sesuai pagu per kegiatan dan per jenis belanja. 5) Penilaian terhadap perkiraan penerimaan tiap bulan (Konsep DIPA halaman III. Rencana Penarikan dana dan Perkiraan Penerimaan), meliputi pencantuman perkiraan penerimaan perpajakan dan PNBP tiap bulan. Atas konsep DIPA yang telah dilakukan penelaahan dan telah memenuhi ketentuan dibuatkan Catatan Penelaahan (halaman IV) yang
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

- Organisasi dan s - pagu anggaran - sasaran dan kel

- kantor bayar

32

berfungsi sebagai surat pengantar untuk menyusun Surat Pengesahan DIPA. Catatan Penelaahan memuat identitas DIPA (Bagian Anggaran, unit organisasi dan satuan kerja), pagu anggaran per jenis belanja, catatan atas penelaahan DIPA, pihak-pihak yang melakukan penelaahan, dan persetujuan penelaahan. c. Pengesahan DIPA Pengesahan DIPA sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.02/2008 merupakan penetapan oleh Bendahara Umum Negara atas konsep DIPA yang telah dilakukan penelaahan dan memuat pernyataan bahwa DIPA berkenaan tersedia dananya dalam APBN dan dapat menjadi dasar pembayaran/pencairan dana atas beban APBN. Pengesahan DIPA dilakukan dengan menerbitkan Surat Pengesahan DIPA yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk DIPA Satker Pusat dan DIPA Tugas Pembantuan, dan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk DIPA Satker vertikal dan DIPA Dana Dekonsentrasi. Surat Pengesahan DIPA memuat identitas DIPA (Bagian Anggaran, unit organisasi dan satuan kerja), pagu anggaran DIPA, rincian sumber dana DIPA, Kantor Bayar dan pernyataan dari BUN bahwa perhitungan biaya dalam DIPA merupakan tanggung jawab PA/KPA. Dalam hal kementerian/lembaga tidak menyampaikan konsep DIPA sampai dengan tanggal yang telah ditetapkan, maka diterbitkan DIPA sementara oleh Direktorat Pelaksana Anggaran / Kanwil Ditjen Perbendaharaan dengan berdasar kepada Perpres mengenai RABPP / SRAA. Dana yang dapat dicairkan dibatasi untuk pembayaran gaji pegawai, pengeluaran keperluan sehari-hari perkantoran, daya dan jasa, dan lauk pauk/bahan makanan. Sedangkan dana untuk jenis pengeluaran lainnya harus diblokir.

d. Revisi DIPA Revisi DIPA diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan. Revisi DIPA adalah perubahan dan/atau pergeseran rincian anggaran dalam DIPA. Revisi DIPA dibuat oleh PA/KPA dan diajukan kepada Direktorat Jenderal

O

Kem

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

33

Perbendaharaan/Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk mendapat pengesahan. Revisi DIPA dilaksanakan berdasarkan perubahan SAPSK atau tanpa perubahan SAPSK. Sepanjang tidak mengakibatkan pengurangan terhadap (I) alokasi kegiatan 0001 kecuali untuk memenuhi alokasi gaji dan tunjangan pada Satker lain, (II) alokasi kegiatan 0002 kecuali untuk memenuhi alokasi kegiatan 0002 pada Satker lain untuk akun yang sama, (III) alokasi kegiatan 0002 kecuali untuk memenuhi alokasi gaji dan tunjangan pada Satker yang bersangkutan, (IV) alokasi dana untuk pembayaran berbagai tunggakan, (V) rupiah murni pendamping PHLN, (VI) alokasi dana kegiatan yang bersifat multi years, dan (VII) alokasi dana pada rincian kelompok pengeluaran/subkegiatan/kegiatan yang telah dikontrakkan dan/atau direalisasikan dananya sehingga menjadi minus. Pengesahan revisi DIPA untuk DIPA Satker Pusat yang berlokasi di DKI Jakarta, disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan. Sedangkan revisi DIPA untuk DIPA Satker Pusat yang berlokasi di daerah (diluar DKI Jakarta), DIPA Satker vertikal, DIPA Dekonsentrasi dan DIPA Tugas Pembantuan baik untuk DIPA yang awalnya disahkan di pusat maupun daerah, disahkan oleh Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

D PR-D

P re c n e na
B. PEMBUATAN KOMITMEN. Komitmen merupakan kewajiban yang akan menimbulkan pembayaran di masa yang akan datang berdasarkan pemenuhan kondisi atau kriteria tertentu. Secara umum terdapat dua jenis komitmen. Komitmen khusus (specific commitment) adalah komitmen yang menimbulkan kewajiban pembayaran atau serangkaian pembayaran dalam jangka waktu tertentu. Termasuk dalam komitmen khusus adalah penerbitan persetujuan kontrak pengadaan barang dan jasa. Sedangkan komitmen yang berkelanjutan (continuing commitment) merupakan komitmen yang pembayarannya bersifat berkelanjutan, tidak dibatasi oleh jangka waktu tertentu dan tidak didasarkan pada adanya kontrak tersendiri. Pembayaran untuk gaji, tunjangan dan sejenisnya termasuk dalam continuing commitment. Dalam peraturan perundangan yang ada telah terdapat beberapa pasal yang secara implisit mengatur tentang manajemen komitmen. Dalam pasal 3 ayat 3 UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara disebutkan bahwa tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban APBN/APBD hanya dapat dilakukan
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

A

Bg n a ia
34

jika tersedia cukup anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut. Selanjutnya dalam pasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa ikatan/perjanjian dalam rangka pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh pengguna anggaran atau kuasanya dengan pihak lain hanya dapat dilakukan dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. Patut diperhatikan bahwa seiring dengan semangat let the managers manage dan peran menteri/pimpinan lembaga sebagai Chief Operational Officer, kewenangan administratif dalam pengelolaan keuangan negara ada pada kementerian negara/lembaga. Kewenangan administratif tersebut diantaranya meliputi kewenangan untuk melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara dan melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementrian/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut (Penjelasan UU Perbendaharaan).

Dalam hal manajemen komitmen, existing koneksitas proses bisnis di Satker dengan proses bisnis perbendaharaan di Ditjen Perbendaharaan justru terjadi pada saat pencairan dana, di mana informasi yang terkait dengan kontrak pengadaan dan jasa disampaikan ke KPPN dalam bentuk resume kontrak sebagai salah satu lampiran SPM (Perdirjen 66/PB/2005). Kelengkapan SPP adalah sebagai berikut: 1) Kelengkapan SPP-UP (Uang Persediaan) :  Surat Pernyataan dari KPA atau Pejabat yang ditunjuk, menyatakan tidak untuk membiayai pengeluaran yang harus dengan LS.  Daftar Nominatif pemilik tanah yg ditandatangani KPA untuk Pengadaan tanah yang luas nya kurang dari 1 hektar.  Daftar Nominatif pemilik tanah dan besaran harga tanah yang ditanda tangani KPA dan diketahui Oleh Panitia Pengadaan Tanah (PPT) untuk Pengadaan Tanah yg luasnya lebih dari 1 hektar dilakukan dengan bantuan PPT setempat.  Pengadaan Tanah yang pembayarannya Melalui UP/TUP harus terlebih dahulu mendapat ijin dari Kantor Pusat Ditjen PBN / Kanwil Ditjen PBN sedangkan besaran uangnya harus mendapat dispensasi UP/TUP sesuai ketentuan yang berlaku.  UP/TUP untuk PNBP diajukan terpisah dari UP/TUP Lainnya.

A

(da

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

35

2) Kelengkapan SPP-TUP (Tambahan Uang Persediaan) :  Rincian pengunaan dana dari Kuasa Pengguna Anggaran atau Pejabat yang ditunjuk, bahwa dana untuk kebutuhan yang mendesak.  Surat Dispensasi :  Dari Kepala KPPN untuk TUP s/d Rp. 200 Juta  Dari Kepala Kanwil Ditjen PBN untuk TUP diatas Rp. 200 Juta  Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau Pejabat yang ditunjuk;  Dana akan habis digunakan dalam 1 bulan sejak terbit SP2D  Tidak untuk pengeluaran dengan LS  Sisa setelah 1 bulan akan disetor ke rekening Kas Negara  Rekening Koran yang menunjukan saldo terakhir.  Kelengkapan SPP-GU (Penggantian Uang Persediaan)  SPTB (Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja)  Kuitansi  SSP yang telah dilegalisir oleh KPA atau pejabat yang ditunjuk. 3) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk pembayaran Gaji Induk/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/ Gaji terusan/Uang Duka Wafat/Tewas:  Daftar gaji  Surat Keputusan (SK)  Surat Pernyataan  Daftar Keluarga (Kp4)  Copy surat nikah  Copy akte lahir  SKPP (Surat Keterangan Penghentian Pembayaran)  Daftar Potongan sewa rumah dinas  Keterangan Sekolah/kuliah  Surat kematian  SSP Pph 21 sesuai peruntukan. 4) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk lembur:  Daftar lembur  surat perintah kerja lembur  SSP Pph 21 5) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Honor/Vakasi:  Daftar honor/vakasi  Surat Keputusan (SK)  SSP Pph 21 6) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk pembayaran Gaji Induk/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/ Gaji terusan/Uang Duka Wafat/Tewas:  Daftar gaji  Surat Keputusan (SK)  Surat Pernyataan  Daftar Keluarga (Kp4)  Copy surat nikah  Copy akte lahir  SKPP (Surat Keterangan Penghentian Pembayaran)  Daftar Potongan sewa rumah dinas  Keterangan Sekolah/kuliah
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

36

 Surat kematian  SSP Pph 21 sesuai peruntukan. 7) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran Langsung) untuk Pengadaan barang dan jasa:  Kontrak/SPK yang mencantumkan nomor rekening rekanan;  Surat Pernyataan Kuasa PA mengenai penetapan rekanan;  BA Penyelesaian Pekerjaan, Serah Terima Pekerjaan, dan Pembayaran;  Kuitansi yang disetujui oleh Kuasa PA atau pejabat yg ditunjuk;  Faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani Wajib Pajak;  Jaminan Bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non bank;  Dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrak-kontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman/ hibah luar negeri  Ringkasan Kontrak  Berita Acara sekurang-kurangnya dalam rangkap 5 disampaikan kepada : Asli dan satu tembusan untuk penerbit SPM; Masingmasing satu tembusan untuk para pihak yang membuat kontrak; Satu tembusan untuk pejabat pelaksana pemeriksaan pekerjaan. 8) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Pengadaan Tanah:  Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari 1 hektar;  Foto copy kepemilikan Tanah;  Kuitansi;  SPPT PBB tahun transaksi;  Surat Persetujuan Harga;  Pernyataan dari penjual bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam agunan;  Pelepasan /Penyerahan hak atas tanah/ akta jual beli di hadapan PPAT;  SSP PPh Final atas Pelepasan Hak;  Surat Pelepasan Hak adat ( Bila diperlukan). 9) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk langganan daya dan jasa:  Bukti tagihan  Nomor rekening pihak ke tiga (PLN, Telkom, PDAM) 10) Kelengkapan SPP-LS (Pembayaran langsung) untuk Perjalanan dinas:  Surat Tugas  SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas)  Kuitansi  Daftar nominatif 11) Kelengkapan SPP untuk PNBP  UP dapat diberikan kepada satker pengguna sebesar 20 % dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp. 500.000.000,(lima ratus juta rupiah), dengan melampirkan Daftar Realisasi Pendapatan dan Penggunaan Dana DIPA (PNBP) tahun anggaran sebelumnya. Apabila UP tidak mencukupi dapat mengajukan TUP sebesar kebutuhan riil satu bulan dengan memperhatikan maksimum pencairan (MP).  SSBP (Surat Setoran Bukan Pajak).
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

37

Dalam pengajuan SPM-TUP/ GUP/ LS PNBP ke KPPN, satker pengguna harus melampirkan Daftar Perhitungan Jumlah MP. B. PEMBAYARAN. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-66/PB/2005 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005, jenis pembayaran terdiri dari: Pembayaran Dengan Uang Persediaan. Uang persediaan adalah Uang Muka Kerja yang diberikan kepada bendahara pengeluaran, bersifat daur ulang (revolving) untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari perkantoran yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. Adapun jumlah uang persediaan yang dapat dimintakan adalah sebagai berikut: • 1/12 dari pagu maksimal Rp. 50 Juta untuk pagu sampai dengan Rp.900 Juta • 1/18 dari pagu maksimal Rp. 100 Juta untuk pagu diatas Rp. 900 Juta sampai dengan Rp. 2,4 Miliar • 1/24 dari pagu maksimal Rp. 200 Juta untuk pagu diatas Rp. 2,4 Miliar • 20 % dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp. 500 Juta Penggantian UP dapat dilakukan setelah UP digunakan sekurangkurangnya 75% dari UP yang diterima. Sisa UP pada akhir tahun anggaran harus disetor ke rekening Kas Negara paling lambat tanggal 31 Desember. Dalam hal Penggunaan UP belum mencapai 75% sedangkan satker memerlukan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia dapat dimintakan Tambahan Uang Persediaan (TUP). Pembayaran dengan uang persediaan memiliki kriteria sebagai berikut: Untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran. Pembayaran tidak boleh melebihi Rp 10 juta kepada satu rekanan. Tetap memperhatikan ketentuan perpajakan. 2. Pembayaran Langsung. Pembayaran langsung merupakan jenis pembayaran yang utama. Dimana pembayaran dilakukan langsung ke rekening yang berhak/rekanan/pihak ketiga atau untuk keperluan tertentu melalui Bendahara Pengeluaran. Proses penerbitan SPM diawali dari dibuatnya SPP oleh pejabat yg bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan (PPK) selaku pemberi kerja untuk diteruskan ke pejabat penandatangan SPM. Pejabat penandatangan SPM melakukan pengujian terhadap kelengkapan dan ketepatan pembebanan dalam SPP. Pejabat penandatangan SPM melakukan pengujian atas SPP sebagai berikut: 1) Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. 3) Memeriksa kesesuaian rencana kerja dan/atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran. 4) Memeriksa kebenaran atas hak tagih 5) Memeriksa pencapaian tujuan dan/atau sasaran kegiatan sesuai dengan indikator keluaran yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan/atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak.
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

1.

  

38

6) Setelah dilakukan pengujian terhadap SPP-UP/SPPTUP/SPPGUP/SPP-LS, Pejabat penandatangan SPM menerbitkan SPMUP/SPM-TUP/SPM-GUP/SPM-LS dalam rangkap 3 (tiga) untuk disampaikan kepada KPPN (lembar pertama dan kedua) dan sebagai pertinggal pada satker yang bersangkutan (lembar ketiga). C. PENCAIRAN DANA. KPPN hanya dapat melakukan pencairan dana setelah menerima dokumendokumen sebagai berikut: a. Dokumen Penyediaan Dana (DIPA/Dokumen Lain yang disamakan), yang memuat alokasi dana yang dibebankan pada SPM yang disampaikan. b. Tembusan SK Pengangkatan Pengelola Anggaran dari Menteri/Pimpinan Lembaga / Pejabat yang ditunjuk dan spesimen tandatangan yaitu :  Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).  Pejabat Pembuat Komitmen/Penanggung jawab kegiatan (PPK).  Pejabat Penanda tangan SPM/penguji SPP.  Bendahara Pengeluaran. c. Surat Perintah Membayar (SPM), beserta lampirannya sesuai ketentuan dan jenis pembayaran. Prosedur penerbitan SP2D dilakukan ketika SPM disampaikan kepada KPPN, dengan langkah-langkah sebagai berikut (Perdirjen 66 tahun 2005 dan Kep297/PB/2007) : a. Pengguna Anggaran/Kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy (disket) melalui loket Penerimaan SPM pada KPPN atau melalui Kantor Pos, kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak perlu ADK. b. SPM Gaji Induk harus sudah diterima KPPN paling lambat tanggal 15 sebelum bulan pembayaran. c. Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM (front office) memeriksa kelengkapan SPM, mengisi check list kelengkapan berkas SPM, mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM, meneliti kelengkapan SPM dan lampirannya. Kelengkapan SPM dimaksud meliputi:  Untuk keperluan UP : Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk, menyatakan bahwa Uang Persediaan tersebut tidak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS.  Untuk keperluan pembayaran TUP :  Rincian rencana penggunaan dana;  Surat dispensasi Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan untuk TUP diatas RP 200.000.000 (dua ratus juta rupiah);  Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa dana Tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D, apabila terdapat sisa dana TUP harus disetorkan ke Rekening Kas Negara, dan tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung.  untuk keperluan pembayaran GUP :  SPTB;  Faktur Pajak dan SSP (surat setoran pajak);  untuk keperluan pembayaran langsung (LS) belanja pegawai :
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

39

 Daftar Gaji/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/Lembur/Honor dan Vakasi yang ditanda tangani oleh KPA atau pejabat yang ditunjuk dan Bendahara Pengeluaran;  Surat-surat Keputusan Kepegawaian dalam hal terjadi perubahan pada daftar gaji;  Surat Keputusan Pemberian honor/vakasi dan SPK lembur;  Surat Setoran Pajak (SSP).  untuk keperluan pembayaran langsung (LS) non belanja pegawai :  Resume Kontrak/SPK atau Daftar Nominatif Perjalanan Dinas;  SPTB;  Faktur Pajak dan SSP (surat setoran pajak); Bukti asli lampiran SPP merupakan arsip yang disimpan oleh PA/KPA. Pengujian SPM dilaksanakan oleh KPPN mencakup pengujian yang bersifat substansif dan formal.  Pengujian substantif dilakukan untuk:  menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM;  menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut;  menguji dokumen sebagai dasar penagihan (Ringkasan Kontrak/SPK, Surat Keputusan, Daftar Nominatif Perjalanan Dinas);  menguji surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran;  menguji faktur pajak beserta SSPnya;  Pengujian formal dilakukan untuk:  mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM dengan spesimen tandatangan;  memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf;  memeriksa kebenaran dalam penulisan, termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan. Keputusan hasil pengujian ditindak lanjuti dengan :  Penerbitan SP2D bilamana SPM yang diajukan memenuhi syarat yang ditentukan;  Pengembalian SPM kepada penerbit SPM, apabila tidak memenuhi syarat untuk diterbitkan SP2D.  Pengembalian SPM sebagaimana diatur sebagai berikut:  SPM Belanja Pegawai Non Gaji Induk dikembalikan paling lambat tiga hari kerja setelah SPM diterima;  SPM UP/TUP/GUP dan LS dikembalikan paling lambat satu hari kerja setelah SPM diterima.  Pengesahan Surat Perintah Membayar Penggantian UP (SPM-GUP) Nihil atas TUP dilaksanakan KPPN dengan membubuhkan Cap pada SPM GU Nihil dan ditandatangani oleh Kepala Seksi Perbendaharaan.  Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut:  SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat tanggal 25 sebelum bulan pembayaran.  SP2D Gaji lainnya paling lambat 5 hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap.  SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap.
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

40

 SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu jam setelah diterima SPM secara lengkap. Penerbitan SP2D oleh KPPN dilakukan dengan cara:  SP2D diterbitkan dalam rangkap 3 (tiga). Ditandatangani oleh Kepala Seksi Perbendaharaan untuk kemudian disalurkan ke Satker yang bersangkutan SP2D lembar ke-2 dan SPM lembar ke-2, disalurkan ke Seksi Verifikasi dan Akuntansi SP2D lembar ke-3 dan SPM lembar ke-1. Sedangkan untuk SP2D lembar-1 disalurkan ke Seksi Bank/Giro Pos.  SP2D lembar-1 ditandatangani oleh Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum dan dibubuhi stempel timbul yang nantinya disampaikan kepada Bank Operasional.  Daftar Penguji dibuat dalam rangkap 3 (tiga) sebagai pengantar SP2D dengan ketentuan:  Ditandatangani oleh Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum dan diketahui oleh Kepala KPPN serta dibubuhi stempel timbul kepala KPPN.  Lembar kesatu dan lembar kedua dilampiri asli SP2D dikirimkan melalui petugas kurir KPPN ke BI/Bank Operasional /Sentral Giro.  Daftar penguji lembar kedua setelah ditandatangani oleh BI/ Bank Operasional/ Sentral Giro dikembalikan kepada KPPN melalui petugas kurir yang sama.  Daftar penguji lembar ketiga sebagai pertinggal di KPPN.

BAGAN A
PEMBUAT KOMITMEN
D. MANAJEMEN KAS. Manajemen kas di sektor pemerintahan merupakan suatu strategi dan proses yang terkait dengan pengelolaan secara cost-effective saldo dan aliran kas jangka pendek pemerintah (Williams, 2004). Perencanaan kas juga sebagai kegiatan memperkirakan penerimaan dan pengeluaran kas dalam jangka waktu tertentu sehingga negara memiliki saldo kas cukup untuk membiayai kewajiban negara dalam waktu tertentu dalam rangka pelaksanaan APBN. Manajemen kas dengan demikian melibatkan baik unit di dalam pemerintah itu sendiri (antara central

P

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

41

treasury dengan spending agencies, misalnya) dan antara pemerintah dengan sektor lain (misalnya adalah sektor keuangan). Pelaksanaan manajemen kas secara efektif pada sektor pemerintahan memiliki beberapa tujuan (Williams, 2004), yaitu : 1) Minimalisasi jumlah idle cash balance pemerintah terutama yang terdapat pada perbankan, berikut biaya yang terkait dengan idle cash tersebut; 2) Mengurangi risiko, yaitu risiko operasional terkait pembayaran tagihan pemerintah dan penerimaan negara secara tepat waktu; 3) Melalui berbagai instrumen pemerintah (seperti Treasury Bills dan pinjaman pemerintah jangka pendek) memberikan beberapa opsi kepada Pemerintah terkait pengelolaan kebutuhan pembiayaan pemerintah sehingga dapat menghindari risiko pembiayaan berbiaya tinggi. Dalam peraturan perundangan terdapat beberapa pasal terkait manajemen kas yang dapat dijadikan sebagai landasan untuk pengembangan manajemen kas di sektor pemerintahan. Penjelasan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa fungsi perbendaharaan meliputi, terutama, perencanaan kas yang baik, pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan, pencarian sumber pembiayaan yang paling murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah, Pasal 32 ayat (1) menyebutkan bahwa Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara pusat bertanggung jawab untuk membuat perencanaan kas dan menetapkan saldo kas minimal. Kemudian ayat (2) menyebutkan bahwa, berdasarkan perencanaan arus kas dan saldo kas minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara pusat menentukan strategi manajemen kas untuk mengatasi kekurangan kas maupun untuk menggunakan kelebihan kas. Selanjutnya pada ayat (4) disebutkan bahwa dalam rangka penyusunan perencanaan kas, Kementerian Negara/Lembaga dan pihak-pihak lain yang terkait dengan penerimaan dan pengeluaran APBN wajib menyampaikan proyeksi penerimaan dan pengeluaran secara periodik kepada Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara. E. PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN. Dalam rangka penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN, disusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang terdiri dari Neraca, Arus kas, Laporan Realisasi APBN (LRA) dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK). LKPP tersebut dihasilkan dari Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP), yang terdiri dari Sistem Akuntansi-Bendahara Umum Negara (SA-BUN) dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI). Salah satu sub sistem dari SA-BUN adalah Sistem Akuntansi Pusat (SiAP), yang terdiri dari Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SA-KUN) dan Sistem Akuntansi Umum (SAU). Sedangkan, SAI terdiri dari beberapa sub-sistem akuntansi yaitu Sistem Akuntansi Keuangan (SAK), Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN), dan Sistem Akuntansi-Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (SA-BAPP). Dalam rangka pelaksanaan sistem akuntansi tersebut, Kementerian/Lembaga selaku Pengguna Anggaran (PA) dan Ditjen Perbendaharaan selaku BUN membentuk unit-unit akuntansi. Untuk kajian proses bisnis pengelolaan keuangan negara di Satker dan koneksitasnya dengan proses bisnis kuasa BUN, maka pembahasan akan difokuskan pada proses bisnis dan koneksitas yang berkaitan dengan SAK di tingkat Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) dan SiAP di tingkat Unit Akuntansi Kuasa Bendahara Umum Negara (UAKBUN) Daerah-KPPN.
Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

42

Setiap UAKPA wajib memroses dokumen sumber unuk menghasilkan laporan berupa LRA, Neraca dan Catatan ataS Laporan Keuangan Satuan Kerja. Dokumen sumber dalam pelaksanaan SAI untuk menyusun laporan keuangan di tingkat Satker berupa: a. Dokumen penerimaan yang terdiri dari :  Estimasi Pendapatan yang dialokasikan: (Pajak, PNBP dan Hibah pada DIPA dan dokumen lain yang dipersamakan dengan DIPA);  Realisasi Pendapatan: Bukti Penerimaan Negara (BPN) disertai dokumen pendukung SSBP, SSPB, SSP, SSBC, dan dokumen lain yang dipersamakan. b. Dokumen pengeluaran yang terdiri dari :  Alokasi Anggaran DIPA, SKO, dan dokumen lain yang dipersamakan;  Realisasi Pengeluaran : SPM beserta SP2D, dan dokumen lain yang dipersamakan. Prosedur dan tahapan sejak perekaman dokumen sumber sampai dengan pelaporan dalam rangka penyusunan laporan keuangan Kementrian Negara/Lembaga di tingkat UAKPA adalah sebagai berikut:  Menerima dan memverifikasi dokumen sumber transaksi keuangan  Merekam dokumen sumber.  Mencetak dan memverifikasi RTH dengan dokumen sumber.  Mencetak dan memverifikasi buku besar.  Mencetak dan mengirim laporan keuangan beserta ADK ke KPPN setiap bulan.  Melakukan rekonsiliasi data dengan KPPN dan menandatangani Berita Acara Rekonsiliasi dan melakukan perbaikan data jika terdapat kesalahan pada data UAKPA.  Mencetak Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, dan menyampaikannya UAPPA-W/UAPPA-E1 beserta ADK setiap bulan.  Menyusun Catatan atas Laporan Keuangan dan menyampaikan ke UAPPA-W/UAPPA-E1 setiap semester.  Melakukan back up data

Resonansi Reformasi Perbendaharaan Negara dari KPPN Blitar

43

A. VISI, MISI DAN RENCANA STRATEGIK.
Secara ringkas, tugas pokok KPPN dapat dikelompokkan ke dalam tiga hal, yaitu : pencairan dana melalui penerbitan SP2D, penatausahaan penerimaan dan pengeluaran negara melalui penyusunan laporan kas posisi, dan pencatatan dan pelaporan keuangan melalui penyusunan Laporan Keuangan tingkat Kuasa BUN. Pelaksanaan tugas tersebut, apabila dikaitkan dengan fungsi treasury maka dapat diperdalam sebagai berikut : penerbitan SP2D terkait dengan fungsi budget execution; penyusunan kas posisi terkait dengan fungsi cash management; dan, penyusunan LKPP terkait dengan fungsi government financial accounting and reporting.

Sebagai implementasi fungsi budget execution, tugas penerbitan SP2D tidak lagi hanya diinterpretasikan sebagai pengujian formal dan substansial semata. Namun, pencairan dana dapat diurai lebih komprehensif dalam peran pelaksanaan anggaran pada siklus manajemen keuangan pemerintah. Pencairan dana menjadi bagian dari fungsi kebijakan fiskal APBN yang mempengaruhi perekonomian dan pencapaian rencana kerja Pemerintah. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan tugas pencairan dana, untuk kelancaran penggunaan anggaran satuan kerja, KPPN dituntut cepat, transparan, dan akuntabel. Untuk optimalisasi pencapaian tujuan kebijakan fiskal, KPPN dituntut dapat melakukan analisa, monitoring dan evaluasi atas realisasi anggaran pada wilayah kerjanya. Serta, untuk kepentingan Bendahara Umum Negara, KPPN dituntut mampu memprediksi kebutuhan kas negara untuk membiayai pengeluaran negara. Dalam kaitannya dengan implementasi fungsi cash management, tugas dalam penatausahaan penerimaan dan pengeluaran negara, tidak hanya dilakukan untuk penyusunan Kas Posisi semata, namun dapat diperdalam sebagai analisis atas cashflow Pemerintah. Dari pendalaman tersebut, sistem

penyetoran penerimaan dapat terus dievaluasi dan sistem prediksi atas pengeluaran negara (cash disbursement forecasting) dapat disempurnakan, untuk menjamin ketersediaan uang negara dan optimalisasi manajemen kas pemerintah. Rumusan strategi organisasi sebenarnya merupakan artikulasi dari strategi organisasi Ditjen Perbendaharaan dan interpretasi terhadap visi dan misi fungsi perbendaharaan tersebut di atas.

Dalam rumusan strategi, sasaran yang akan dicapai oleh KPPN Blitar adalah : pelayanan prima sesuai bisnis proses KPPN Percontohan; berjalannya fungsi treasury; dan, kelancaran operasional perkantoran. Dalam mencapai sasaran pelayanan prima, output yang dihasilkan adalah pelayanan pencairan dana yang bersih, transparan, akuntabel dan profesional. Untuk menghasilkan output tersebut, kegiatan yang dilakukan adalah penataan uraian tugas dengan input ketersediaan sarana dan prasarana. Untuk mencapai sasaran berjalannya fungsi treasury, output yang dihasilkan adalah kelancaran pencairan dana, monitoring arus kas, dan penyusunan LKPP yang tertib dan akurat. Aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan output tersebut dilakukan melalui sosialisasi, monitoring dan evaluasi realisasi penerimaan dan pengeluaran, serta koordinasi dan rekonsiliasi dengan mitra kerja. Input yang digunakan dalam aktivitas tersebut adalah data DIPA dan realisasi, data LKP dan Tim-Tim kegiatan fungsional.

Pelayanan Prim a Sesuai SOP KPPN Percontohan

yan

Berjalannya Fungsi

P

No
Sedangkan dalam rangka pencapaian sasaran kelancaran operasional perkantoran, output yang dihasilkan adalah tersedianya SDM yang disiplin, berintegritas dan professional dan tersedianya sarana prasarana. Output tersebut dihasilkan melalui kegiatan pembinaan SDM, evaluasi peringkat jabatan dan pengadaan barang dan jasa. Input dari aktivitas tersebut adalah pegawai KPPN, sistem penggajian dan remunerasi, serta anggaran pada DIPA tahun 2009. Rencana dan strategi yang disusun berdasarkan pemahaman yang diupayakan lebih komprehensif selanjutnya menjadi dasar penyusunan rencana kerja yang menjadi guideline dalam aktivitas organisasi dan penggunaan anggaran pada DIPA.

Ren

I.

B. PELAKSANAAN STANDAR OPERATING PROCEDURE (SOP) KPPN
PERCONTOHAN.

Sejak 30 Juli 2007 Ditjen Perbendaharaan telah meluncurkan KPPN Percontohan, dan pada tahun anggaran 2009 dari 178 unit KPPN di seluruh Indonesia 37 diantaranya adalah KPPN Percontohan. Perubahan sistem pelayanan pada KPPN percontohan terutama dengan menerapkan one stop service dan adanya front office sebagai satu-satunya pihak yang melayani customer, serta menyediakan customer services pada front office. Dengan model pelayanan tersebut, pihak customer cukup bertemu dengan petugas front office untuk berurusan dengan KPPN hingga SP2D—sebagai produk layanan--, diselesaikan. Selain itu, KPPN juga menyediakan layanan rekonsiliasi data pelaksanaan anggaran dalam rangka penyusunan laporan keuangan. KPPN Blitar pada tahun anggaran 2009 telah melaksanakan prinsip prinsip KPPN Percontohan, dimana pengajuan SPM dari satker untuk di proses menjadi SP2D hanya melewati satu pintu layanan yakni pada petugas front office, sehingga pihak satker dapat dengan mudah terlayani. Saat datang di KPPN Blitar cukup dengan mengambil nomor antrian dan menunggu pada satu meja petugas front office, maka semua keperluan satker dapat terselesaikan di situ.

Sub Bagian Umu 1. Penetapan SK Pengadaan da 2. Lelang , kontra office dan salu 3. Pengadaan pe

II.

Seksi Perbendaha 1. Penataan arsi 2. Sosialisasi/koord 3. Evaluasi pelak

Prima
FRONT OFFICE

Hal ini sangat memudahkan dan meringankan beban satker yang dimungkinkan jarak yang sangat jauh dan satker membutuhkan pelayanan yang cepat dan akurat. KPPN Blitar masih terus berbenah dalam melaksanakan dan mengimplementasikan SOP KPPN Percontohan, tak jarang terdapat kendala kendala namun dapat diatasi dengan jalan pendekatan dan proses pemahaman yang baik dari semua pihak terkait, baik pihak KPPN Blitar sendiri maupun pihak satker dalam proses pengajuan SPM menjadi SP2D. SOP KPPN Percontohan yang lebih simpel dan lebih hemat dari segi waktu membuat proses pencairan dana dari SPM hingga menjadi SP2D dan disampaikan ke Bank (BOI) semakin cepat dan tepat dengan dukungan teknologi informasi yang selalu terupdate secara real time.

SATKER

1

FFICE

BO Satker

Dalam prosedur penerbitan SP2D, saat petugas Front Office menerima SPM dari satker sebanyak rangkap dua, yang perlu diperhatikan antara lain : • ADK • Scanning KIPS yang merupakan keotentikan data pembawa SPM • Kelengkapan dokumen, yang meliputi SPM dan SPTB untuk SPM GUP juga resume kontrak untuk SPM LS • Scanning virus atas ADK sekaligus penayangan ADK untuk pencocokan dengan hard copy SPM • Penayangan data pagu, kontrak, spesimen tanda tangan pejabat pengelola keuangan juga data UP dan TUP • Pengujian secara substantif dan formal terhadap kebenaran dan kelengkapan SPM beserta lampirannya (apabila SPM GUP minimal sejumlah 75% dari nilai UP) Apabila sampai pada tahap ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan dokumen yang diperlukan, SPM dikembalikan ke satker yang bersangkutan dan menyarankan untuk menghubungi petugas customer service untuk mendapatkan penjelasan lebih detil, namun jika telah benar dan memenuhi persyaratan maka petugas FO dapat melanjutkan proses selanjutnya, yakni :

• Mentransfer ADK ke dalam sistem

aplikasi SP2D • mencetak dan menyampaikan tanda terima (berisi data pengantar SPM dan data petugas front office) kepada Satker • Meneruskan SPM dan dokumen pendukungnya beserta lembar ke-2 tanda terima kepada Pelaksana Seksi Pencairan Dana.(Middlle Office)

Selanjutnya petugas Middle Office setelah menerima SPM dan kelengkapannya dari petugas FO melakukan langkah langkah sebagai berikut : • Meneliti kembali SPM beserta lampirannya, bila terdapat kesalahan segera dikembalikan kepada satker yang bersangkutan • Meneliti data setoran UP/TUP (terutama untuk SPM GUP Nihil) • Mencetak kartu pengawasan satker • Mencetak dan meneliti kembali konsep serta net SP2D • Menyampaikan kepada Kepala Seksi Pencairan Dana Kepala Seksi Pencairan Dana setelah meneriman SPM dan lampirannya, konsep dan Net SP2D segera melakukan penelitian dan pengecekan terutama masalah pagu dana. Jika semua telah memenuhi persyaratan dan kelengkapan dapat memaraf Konsep SP2D dan Kartu Pengawasan sekaligus menandatangani Net SP2D dan menyampaikan kembali kepada petugas di middle office untuk pemilahan dan meneruskan ke Seksi Bendum. Di Seksi Bendum sebagai petugas Back Office melakukan langkah sebagai berikut : • Menerima SP2D lembar ke-1 berikut bukti potongan/SSP; • Mencetak Daftar Penguji/Pengantar;

• Meneliti dan mencocokkan lembar ke-1 SP2D dengan Daftar Penguji/Pengantar, dan meneruskan kepada Kepala Seksi Bank/Giro Pos Kepala Seksi Bank/Giro mengecek ketersediaan dana dan sekali lagi melakukan penelitian atas SP2D lembar 1 dan menandatangani Advist List menyampaikan kepada Kepala Kantor untuk ditandatangani. Kepala Kantor begitu menerima berkas SP2D meneliti dan menandatangani advist list serta mengembalikan kepada pelaksana di Seksi Bank. Selanjutnya di pelaksana back office membubuhkan stempel timbul pada advist list dan meneruskan ke Subag Umum. Pelaksana pada Subag umum mengirimkan lembar 1 SP2D lembar 1, 2 Advist List ke Bank Indonesia/BO/ Giro Pos melalui petugas yang telah ditunjuk serta menerima kembali lembar 2 advist list sebagai tanda terima dari bank dan menyampaikan kepada Seksi Bank untuk pertinggal. Untuk lembar 2 dan 3 SP2D yang diterima dari seksi Pencairan Dana, Subag umum akan mendistribusikan lembar 2 SP2D kepada satker yang bersangkutan sedangkan lembar 3 diteruskan ke seksi Vera. Apabila satkernya menunggu, lembar 2 SP2D dari subag umum disampaikan kembali ke petugas di front office yang akan melakukan serah terima lembar 2 dan lampirannya kepada satker, dengan mengecek kembali KIPS dan tanda terima SP2D. Apabila semuanya telah menunjukkan kecocokan petugas front office menyerahkan SP2D lembar 2 dan satu eksemplar SPM kepada satker yang bersangkutan. C. PELAKSANAAN FUNGSI SEBAGAI GURU DAN PELAYAN Sesuai arahan dari Direktur Jenderal Perbendaharaan, Bapak Herry Purnomo, jajaran pegawai lingkup Ditjen Perbendaharaan adalah pelayan sekaligus guru, baik bagi diri sendiri maupun bagi pihak luar, mitra kerja, dan stakeholder yang membutuhkan pelayanan dari KPPN sebagai ujung tombak Ditjen Perbendaharaan. Sebagai pelayan KPPN Blitar telah mengaplikasikannya dalam tugas dan kegiatan sehari-hari, dimana untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada semua satker, semua pegawai KPPN Blitar siap dan sedia kapanpun dan dimanapun. Maka tidak mengherankan jika hubungan pegawai KPPN Blitar dengan para satker telah terjalin dengan baik, bukan lagi antara engkau dan aku, namun telah menjadi satu keluarga yang sama sama menginginkan kebaikan dalam mengawal proses reformasi birokrasi dan perwujudan good governance di semua lini pemerintahan. Sebagai guru, tentunya KPPN Blitar berharap dan berusaha agar dapat mempedomani tiga prinsip yang telah di deklarasikan Ki Hajar Dewantara di awal pendirian Taman Siswa, yakni : 1. Ing ngarso sung tulodo, dengan berdiri di depan dan memberi contoh serta tauladan baik bagi satker maupun diri sendiri, KPPN Blitar senantiasa berbenah dan mengupdate diri agar tidak ketinggal informasi dan segala kemajuan yang berhubungan dengan keuangan dan Ditjen Perbendaharaan. Sebelum melakukan harapan dan permohonan agar satker juga mereformasi birokrasinya masing masing, KPPN Blitar telah terlebih dulu mereformasi diri sendiri sehingga ketika terlihat hasilnya, tanpa diminta dan tanpa dikomando pihak satker telah ikut dengan sendirinya. Memberi contoh dengan tindakan dan perbuatan, sedikit bicara banyak kerja, talk less do more. 2. Ing madyo mangun karso, berdiri di tengah tengah semua satker, memberikan semangat dan dorongan untuk membangun kehendak, berkarya dan berbuat yang terbaik dan lebih baik lagi bagi negeri ini. KPPN Blitar sebagai guru saat melihat murid (satker) mulai mandiri, menjalankan segala sesuatunya dengan benar, mereka harus diberi dorongan, dipompa semangatnya. Hal ini merupakan wujud kepedulian

KPPN Blitar kepada semua satker agar dengan senang hati melaksanakan semua tugas dan kewajibannya. 3. Tut wuri handayani, mengikuti dari belakang semua proses pelaksanaan pengelolaan anggaran satker, sehingga jika di tengah jalan ada sesuatu yang mengganjal dan terdapat kendala dengan cepat dan tepat dapat diatasi, tentunya setelah melalui pemikiran dan pertemuan antara satker dan KPPN Blitar. Pada saatnya nanti satker sebagai murid akan memiliki kepercayaan diri sehingga mampu berjalan tanpa bimbingan dari gurunya (KPPN), maka kewajiban KPPN Blitar untuk selalu mengikuti dari belakang perkembangan semua murid (satker) yang tentunya juga akan mengalami mutasi, rolling dan sebagainya sehingga proses belajar mengajar ini akan berlangsung terus tiada hentinya. Beberapa kali KPPN Blitar telah melaksanakan kegiatan yang bersifat mendukung proses belajar mengajar, antara menjadi pelayan dan guru bagi satker dilakukan melalui berbagai kegiatan sosialisasi, rapat koordinasi, bimbingan teknis, dan workshop. Sosialisasi merupakan forum penyempaian informasi dan kebijakan organisasi Ditjen Perbendaharaan kepada para stakeholders. Selama tahun 2009, KPPN Blitar telah menyelenggarakan sebanyak empat kali sosialisasi, yaitu : sosialisasi pelaksanaan anggaran di Blitar, sosialisasi dan evaluasi pelaksanaan anggaran di Tulungagung, sosialisasi Treasury Single Account satu kali, sosialisasi langkah-langkah dalam menghadapi akhir tahun anggaran sekali. Sedangkan rapat koordinasi dengan pihak eksternal dilakukan oleh KPPN Blitar secara berkala. Koordinasi dilakukan sesuai dengan isu permasalahan yang mengemuka saat itu. Rapat koordinasi yang telah dilaksanakan yaitu : rapat koordinasi pelaksanaan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan; rapat koordinasi penggunaan anggaran KPU dan PNPM Mandiri; rapat koordinasi pelaksanaan tugas Bank Persepsi dan Bank Operasional; rapat koordinasi penatausahaan dan pembagian hasil penerimaan PBB/BPHTB; rapat koordinasi pelaksanaan anggaran situmulus fiscal tahun 2009; dan rapat koordinasi evaluasi penyerapan anggaran triwulanan dan semesteran. Bimbingan teknis merupakan implementasi nyata fungsi guru pada KPPN. Dalam rangka meningkatkan pemahaman satuan kerja terhadap pengelolaan keuangan, KPPN Blitar melakukan bimbingan teknis. Bimbingan teknis dilakukan atas permintaan satuan kerja dan berdasarkan penugasan dari KPPN. Bimbingan teknis dilakukan beberapa kali dengan para satuan kerja Departemen Agama. Selain itu, KPPN Blitar bekerja sama dengan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno telah menyelenggarakan bimbingan teknis komprehensif tentang pengelolaan keuangan di Malang. Workshop dilakukan oleh KPPN Blitar dalam rangka mengahsilkan out put yang terukur. Workshop yang telah dilakukan adalah workshop penyusunan LPJ Bendahara dan Workshop Penyusunan Laporan Keuangan Berbasis Akrual pada pada tanggal 18 Januari 2010. Workshop tersebut berhasil menghasilkan LPJ Bendahara Bulan desember 2009, dan penyajian informasi berbasis akrual pada LKPP Tahun 2009.

Selanjutnya workshop yang paling spektakuler adalah workshop Manajemen Pelaksanaan Anggaran bertajuk “Together for Better” yang dilaksanakan pada tanggal 5-7 Februari 2010 bertempat di Hotel Royal Orchid Garden -Batu Malang. Dengan diikuti oleh 182 peserta yang merupakan perwakilan dari 89 satker dari Kota Blitar, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung, ditambah seluruh pegawai KPPN Blitar sebanyak 26 orang, acara berlangsung dengan serius namun santai, padat dan berlangsung sampai larut malam tidak menyurutkan antusias peserta untuk terus mengikuti sampai akhir, hingga memberikan kesan mendalam kepada semua satker yang hadir. Dengan konsep retreat dan mengambil tema meningkatkan kinerja pelayanan juga fungsi sebagai guru, acara dibuka oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur Bapak S Bambang Suroso berpesan kesempatan seperti ini sangat baik untuk para satker meningkatkan pemahaman dalam pengelolaan keuangan, dan penting bagi KPPN Blitar untuk pencitraannya. Pembagian acara menjadi tiga bagian membuat pelaksanaannya hingga larut malam. Pada sesi pertama dengan dipandu Kepala KPPN Blitar dan mengambil tema DIPA & POK serta Prinsip SOP Percontohan disampaikan oleh A Nizar dari Dit Pelaksanaan Anggaran. Sesi kedua dengan pendampingan oleh seluruh pegawai KPPN Blitar acara bimbingan teknis aplikasi mulai dari install update hingga uji coba aplikasi KPPN 2010. Hari kedua merupakan waktu pelaksanaan sesi ketiga yang bersifat outdoor event dengan tema motivation challenge, terlihat kebersamaan dan suasana kekeluargaan yang menghapus sekat sekat birokrasi menjadi satu keluarga untuk berbuat lebih baik dalam mengelola uang negara. Selain menghadiahkan KPPN Award yang diberikan untuk kategori satker dengan rencana pencairan paling akurat, satker dengan rekon paling tepat waktu dan satker dengan penyerapan dana paling optimal, acara ditutup juga dengan memberikan hadiah untuk peserta yang memperoleh nilai tinggi dalam pretest dan post test. Selanjutnya untuk lebih mendekatkan hubungan antar pegawai baik secara vertikal maupun horizontal, serta meningkatkan motivasi kerja, KPPN Blitar beberapa kali mengadakan kegiatan yang bersifat outdoor event, antara lain : Outbond ke Bendungan Wonorejo, Tulungagung, dengan dipandu oleh tenaga outbond professional, mengetengahkan permainan permainan yang membutuhkan kerja sama dan tim yang solid agar dapat melalui semua rintangan yang ada. Selain semakin

mendekatkan hubungan antar pegawai, kegiatan ini juga membuktikan bahwa KPPN Blitar memiliki tim yang solid baik diluar maupun di dalam kantor; lawatan pertandingan Volley Ball dengan KPPN Kediri, KPPN Malang dan KPPN Madiun, dilaksanakan di Kediri, merupakan pertandingan persahabatan, mengedepankan fair play bukan lagi persoalan menang dan kalah. Kesan yang didapat oleh semua peserta yang ikut semakin mengukuhkan bahwa kita adalah satu keluarga besar Ditjen Perbendaharaan; Peringatan 17 Agustus 2009, dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, diadakan kegiatan lomba agustusan yang telah menjadi lomba kerkayatan, seperti lomba balap karung, naik klompen bersama, lomba makan kerupuk, lomba membawa kelereng diatas sendok bertempat di lapangan futsal KPPN Blitar yang berlokasi di belakang perumahan dinas KPPN Blitar; dan, Halal bihalal Hari Raya Idul Fitri pada tanggal 28 September 2009, setelah dalam keseharian berkutat dalam tugas yang menumpuk, untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa juga dalam rangka mengeratkan tali silaturrahim seluruh pegawai, KPPN Blitar mengadakan halal bihalal, saling bermaafan dan juga memaafkan mengingat selama satu tahun bekerja bersama tak akan dapat melepaskan diri dari salah dan khilaf baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Acara yang dibuka oleh Kepala KPPN Blitar ini juga dihadiri oleh beberapa kepala satker di kota Blitar diisi dengan hiburan iringan gamelan dan penyanyi sehingga terasa lebih membumi dan mendamaikan hati dan jiwa. Selain itu, pada penghujung tahun 2009, KPPN Blitar melakukan study trip ke Jawa Tengah dan Jogjakarta. Kegiatan yang diikuti oleh segenap karyawan dan karyawati KPPN Blitar ini merupakan sebuah perjalanan yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kebersamaan dan menjalin kesatuan korps.

C. MEMBANGUN CITRA BERSIH, PROFESIONAL DAN AKUNTABEL. Beberapa tahun belakangan ini, sejak dicanangkan reformasi birokrasi citra dan image KPPN secara umum yang dahulunya negatif telah mulai baik dan memberikan dampak yang positif, baik bagi para mitra kerja maupun bagi para pegawai KPPN. KPPN Blitar sebagai bagian dari instansi vertikal Ditjen Perbendaharaan di daerah merasakan secara langsung dampak tersebut. Upaya menghadirkan pelayanan prima yang telah dicanangkan oleh Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan juga mendorong KPPN Blitar bertekad untuk membangun image dan citra KPPN ke arah yang positif. Dalam rangka reformasi birokrasi, KPPN Blitar memiliki tekad kuat untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada semua satker di lingkup pembayaran KPPN Blitar.

Dengan tujuan menghilangkan dan menghindari semua prototip jelek yang hinggap di KPPN, maka KPPN Blitar dengan segenap potensi dan kemampuan yang ada bertekad untuk ikut dalam barisan terdepan sehingga kesan dan citra bersih profesional dan akuntabel dapat tersemat di dada KPPN, baik sebagai institusi maupun personil personilnya. Membangun Image Organisasi Yang Kuat. Langkah pertama membangun image KPPN yang kuat ini dilakukan dengan merumuskan kredo KPPN Blitar yang Bersih, Profesional dan Akuntabel. Uraian kredo atau motto KPPN Blitar tersebut adalah: 1) Bersih • pelayanan kami tidak dipungut biaya sepeserpun dan dalam bentuk apapun, dengan menghilangkan segala pungutan dan kutipan liar, KPPN Blitar berharap akan terwujud institusi Ditjen Perbendaharaan yang bersih dari bawah hingga keatas • petugas KPPN tidak menerima imbalan dalam bentuk apapun, baik uang, barang maupun benda lainnya, tidak diperkenankan lagi satker memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih kepada KPPN Blitar sehingga hubungan yang terjalin antara KPPN Blitar dan mitra kerja benar benar merupakan hubungan yang sehat berdasarkan hubungan kerja yang baik saling menghormati dan menghargai hingga pada akhirnya akan menjadi semacam sahabat yang nantinya dapat bertukar nasihat dan pendapat dengan baik. 2) Profesional • pelayanan kami berdasarkan ketentuan perundangan dan prosedur standar operasi (SOP) yang telah di putuskan oleh kantor pusat Ditjen Perbendaharaan sehingga pelaksanaan SOP tersebut dapat berjalan dengan baik dengan tidak meninggalkan keluwesan dan menghindari kekakuan dalam melayani satker, karena segala sesuatu yang berhubungan dengan organisasi akan selalu berkembang dan dapat menerima segala masukan dan pendapat demi kemajuan dan perkembangan ke arah yang lebih baik • petugas KPPN melaksanakan tugas sesuai dengan kapasitas, kompetensi dan kewenangannya bukan masanya lagi untuk bertindak tanpa perhitungan dan perencanaan yang matang. Setiap permasalahan yang dihadapi oleh pegawai KPPN Blitar akan diputuskan penyelesaiannya oleh pejabat yang berwenang dalam mencari dan memutuskan sebuah solusi atas sebuah problem dan persoalan yang ada. Tanpa adanya jenjang kewenangan yang jelas, setiap orang akan dapat mengambil keputusan masing masing, meskipun pada dasarnya keputusan tersebut boleh dan mampu dilaksanakan namun demi menjaga hirarki tugas dan wewenang serta menyatukan kata diantara semua pegawai yang ada, maka tetap harus di tentukan oleh pejabat yang memegang kendali atas berlakunya keputusan tersebut. Sehingga kapasitas kompetensi dan kewenangan dapat terjaga dengan baik di setiap lini dan tingkat. 3) Akuntabel • Pelayanan kami dapat dipertanggungjawabkan terhadap organisasi dan pimpinan, masing masing pegawai KPPN Blitar diharuskan untuk bertindak dan bekerja sesuai dengan alur yang ada sehingga saat ada sesuatu yang sedikit melemah dan melenceng, pimpinan dapat segera mengambil tindakan dan kebijakan yang akan meluruskan segala sesuatunya, dengan harapan semua keputusan yang diambil dalam hal pelaksanaan pekerjaan telah sesuai dengan aturan yang berlaku. Pegawai dan pimpinan dapat bekerja sama dengan baik

dan saling mendukung untuk kesuksesan tugas dan keberlangsungan institusi yang membawa nama Ditjen Perbendaharaan. Tidak ada lagi saling melempar tanggungjawab dan kesalahan tanpa satupun yang berkehendak untuk menyelesaikan masalah yang ada. • petugas KPPN melaksanakan tugasnya sesuai dengan beban tanggung jawabnya, dengan melaksanakan tugas sesuai prosedur dan aturan yang ada pegawai KPPN Blitar diharapkan untuk dapat mengerti dan mempunyai rasa memiliki terhadap keberadaan kantor, sehingga tugas dan tanggungjawab bukan lagi dirasakan sebagai beban namun telah menjadi kebutuhan demi organisasi Ditjen Perbendaharaan dan Kementerian Keuangan. Pada saatnya nanti segala dampak dan akibat atas keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab akan kembali ke masing masing individu pegawai KPPN Blitar.

Menanamkan Image ke Internal dan Eksternal. Dalam rangka lebih mengenalkan konsep KPPN yang baru, KPPN Blitar telah melaksanakan berbagai kegiatan pengenalan kepada semua satker yang berada di lingkup wilayah kerja KPPN Blitar, sehingga citra bersih profesional dan akuntabel tidak hanya menjadi pemanis di bibir saja, namun benar benar tercermin dari sikap dan perilaku sehari hari personil pegawai KPPN Blitar. Dengan sosialisasi yang sekaligus sebagai sarana promosi atas konsep KPPN Blitar baru yang telah menginduksi prinsip prinsip SOP KPPN percontohan, diharapkan banyak satker dan instansi lain yang akan meniru langkah KPPN Blitar dalam menerapkan konsep clean government. Pelayanan yang mengutamakan kecepatan dan ketepatan yang berujung pada tingkat kepuasan masyarakat yang dilayani. Beberapa perkembangan yang telah dilakukan KPPN Blitar dalam mendukung reformasi birokrasi di lingkungan Ditjen Perbendaharaan yakni mendeklarasikan prinsip prinsip reformasi birokrasi yang meliputi profesional, transparan dan akuntabel. Dalam hal ini pegawai KPPN Blitar telah melaksanakan SOP KPPN Percontohan, dimana jika sebelumnya belum ada pembagian antara front office middle dan back office, maka dengan adanya pembagian tugas tersebut selain semakin memudahkan pegawai KPPN Blitar sendiri juga meringankan beban satker yang mesti mengantri dalam mengajukan SPM. Sehingga setiap person diharapkan dapat mengetahui bahwa KPPN Blitar telah

berubah dan mengembangkan diri ke arah yang lebih baik. Mengingat citra KPPN pada umumnya dengan pola lama masih belum dapat terhapus dari bayangan para satker. Stigma bahwa KPPN adalah kantor yang penuh dengan kolusi dan korupsi sedikit demi sedikit mulai terhapus dengan diberlakukannya SOP KPPN Percontohan pada KPPN Blitar. Tak ada lagi satker yang merasa dianakemaskan ataupun dianaktirikan berkat imbalan tertentu, karena semua telah berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Tidak ada yang istimewa, semua satker diberlakukan dengan perlakuan yang sama. Apabila ada SPM dan berkas yang masih kurang maka pihak satker diwajibkan untuk memperbaiki dan melengkapinya. Demikian juga dengan proses SPM menjadi SP2D yang telah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku, maka tak ada lagi alasan dan kendala yang dicari cari dan dibuat buat oleh pihak KPPN untuk menahan penyelesaiannya. Setiap SPM yang telah memenuhi persyaratan sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku harus diselesaikan pada waktu yang telah ditetapkan.

Menyebarluaskan Informasi dalam rangka Transparansi Organisasi. Dalam mendukung konsep transparansi ini, KPPN Blitar telah membangun sebuah halaman web www.kppnblitar.net yang berisi informasi tentang : • Jumlah pagu masing masing satker dan seluruh satker yang berada dalam wilayah pembayaran KPPN Blitar yang meliputi Kota Blitar, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung. Sehingga setiap anggota masyarakat yang membutuhkan data ini dapat langsung mengakses dan melihat secara langsung. Sebagai misal, ada satu kontraktor yang ingin mengetahui satker satker mana sajakah yang pada tahun ini akan melaksanakan pembangunan dan pengembangan kantor, dapat dengan mudah mengetahuinya hanya dengan membuka www.kppnblitar.net

• Jumlah realisasi per-Departemen, per-Satker, per BKPK, dan per Jenis belanja yang tentunya memudahkan bagi satker untuk memantau sisa dana DIPA yang menjadi tanggung jawabnya masing masing • Jumlah sisa dana untuk masing masing satker dan seluruh satker, memberikan data kepada satker untuk menyusun rencana dan menyesuaikan dengan sisa dana yang ada, masih adakah kegiatan kegiatan yang belum terlaksana dan terealisasi • Informasi tentang peraturan perundang undangan yang berkaitan dengan Kementrian Keuangan dan proses pengajuan SPM, sehingga memudahkan satker yang masih dalam tahap belajar untuk mencari tahu dasar dasar dan pedoman mana saja yang mesti dipegangnya dalam melaksanakan pengelolaan anggaran (DIPA) masing masing • Informasi tentang perkembangan aplikasi penyusunan anggaran, pencairan anggaran dan pelaporan anggaran. Sehingga satker yang jaraknya jauh dapat dengan mudah mengakses dan mendownload semua aplikasi tersebut dan langsung menerapkannya untuk kelancaran pengelolaan keuangan kantor masing masing • Sebagai media komunikasi antara satker dan KPPN Blitar yang merupakan satu bentuk pelayanan KPPN Blitar dalam menerapkan visi dan misinya, pelayanan tiada henti • Sebagai media rekonsiliasi, memberikan kemudahan kepada satker dalam menyusun laporan keuangan tiap bulannya tanpa harus datang langsung ke lokasi kantor KPPN Blitar, tentunya memberikan kesan tersendiri bagi satker yang terpisah oleh jarak yang jauh untuk datang ke KPPN Blitar. • Dengan memiliki user id dan password, yang telah diberikan oleh petugas KPPN Blitar, satker dapat mengakses datanya secara detil bahkan sampai rincian pembayaran dan uraian yang sama seperti tertera dalam SPM

Menyempurnakan Sarana dan Prasarana yang Merefleksikan Citra Prima KPPN. Dalam rangka mendemontrasikan standar pelayanan yang prima, KPPN Blitar menyempurnakan lay out kantor. Dimana dengan pengembangan dan penataan lay out yang telah dimulai pada tahun anggaran 2009 semua seksi di tempatkan pada satu

gedung utama dengan pembagian ruangan yang mencerminkan aliran data dan proses bisnis penyelesaian SPM dan SP2D serta alur kerja fungsi treasury. Hal ini membuat aktifitas sehari hari pegawai KPPN Blitar dapat lebih terbuka dan transparan serta ruangan yang semula sempit terasa lebih lapang dan luas. Pihak satkerpun saat datang ke KPPN Blitar merasakan perubahan tersebut menjadi lebih nyaman dan lebih mendekatkan hubungan dengan seluruh pegawai KPPN Blitar. Dengan konsep lay out yang terbuka, semua orang mudah mengakses setiap ruangan dan personil dari ruangan yang satu ke ruangan yang lainnya. Namun demikian hal ini masih dirasa kurang oleh pimpinan KPPN Blitar. Gedung belakang dua lantai, yang pada saat ini dipergunakan sebagai gudang (lantai I) dan ruang pertemuan (lantai II) masih belum berfungsi secara maksimal. Diharapkan ke depannya penataan lay out kantor dapat lebih mendukung dan memfasilitasi semua kegiatan dan proses kerja yang dilakukan oleh KPPN Blitar. Mulai dari proses penerimaan SPM hingga menjadi SP2D, juga proses pelaksanaan kegiatan intern KPPN Blitar sehari harinya yang tentunya akan berpengaruh dan berdampak terhadap proses reformasi birokrasi di KPPN Blitar yang merupakan bagian dari reformasi birokrasi Ditjen Perbendaharaan.

Memasuki era transparansi dan keterbukaan dalam pelayanan, KPPN Blitar juga bertekad untuk turut berpartisipasi di dalamnya, yakni dengan meluncurkan web site resmi KPPN Blitar dengan alamat www.kppnblitar.net yang dapat diakses oleh siapa saja kapan saja dan dimana saja. Satker dapat melihat dan mengecek jumlah realisasi dana dalam DIPA masing masing, sehingga tanpa datang ke lokasi KPPN Blitar, semua satker segera mengetahui apakah pengajuan SPMnya telah cair ataukah masih terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki. Dan ketika masih ada data yang perlu diperbaiki, pihak satker dapat menggunakan fasilitas email dalam mengirim data perbaikan berkas yang diperlukan baik dalam pengajuan SPM maupun dalam proses rekonsiliasi. Sehingga selain menghemat waktu, satker yang lokasi kantor terhalang oleh jarak yang jauh, dapat menghemat pengeluaran dan dana dalam DIPAnya. Ini membantu satker dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengelolaan anggaran dalam DIPA.

Pada saat ini penggunaan teknologi informasi (komputer) telah meluas dan merata di semua lini kehidupan. KPPN Blitar sebagai salah satu ujung tombak Ditjen Perbendaharaan penggunaan aplikasi komputer dalam melayani satker dengan adalah sebuah keniscayaan. Semua pegawai KPPN Blitar diharapkan dan diharuskan untuk menguasai setiap aplikasi komputer yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya, sehingga tidak ada lagi seorang pegawai yang buta akan komputer. Komputer sebagai sarana yang memudahkan dan meringankan pelaksanaan tugas sehari hari pegawai di KPPN Blitar, tentunya membutuhkan tangan tangan trampil yang juga berpengaruh pada kemauan dan keinginan para pegawai untuk mengetahui dan menempa diri sehingga dapat membantu dan mempercepat proses pelaksanaan tugas pelayanan kepada semua satker. KPPN Blitar sedapat mungkin menghindari penggunaan sarana manual dan lebih cenderung kepada pemakaian sarana komputer, sehingga diharapkan proses pelayanan yang cepat tepat dan akuntabel dapat terbantu dan tercapai.

Pegawai KPPN Blitar yang berhadapan dan langsung melayani satker bertindak sesua kapasitas, kompetensi dan kewenangannya. Sehingga pegawai pada lini bawah tidak dapat memutuskan begitu saja permasalahan yang seharusnya menjadi kebijakan atasannya. Dengan demikian semua pegawai mengetahui bahwa permasalahan yang bersifat urgen, sensitif dan mendesak hanya boleh ditetapkan oleh Kepala Seksi, Kepala Kantor ataupun dimajukan ke tingkat Kanwil, masing masing telah memiliki kewenangannya sendiri. Dan bagi pegawai pribadi diharapkan untuk tidak membawa permasalahan dan persoalan yang berasal dari luar kantor sehingga tidak mengganggu dan menghalangi kewajiban dan pelaksanaan pekerjaan. Sistem, prosedur, sarana dan prasaran telah terpenuhi dengan baik, maka diharapkan semua pegawai dapat mengerjakan semua tugasnya secara cepat, tepat dan transparan. Tidak ada lagi dan diharamkan bagi pegawai KPPN Blitar untuk menerima pemberian dari pihak lain baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk

barang lainnya. Birokrasi dan pelayanan yang bersih dan tanpa imbalan apapun telah menjadi komitmen seluruh pegawai di KPPN Blitar. Setiap pihak ketiga, baik satker dan siapapun yang ingin mendapatkan pelayanan dari KPPN Blitar tidak diperkenankan dan dilarang keras memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih kepada pegawai KPPN Blitar. Karena hal ini telah menjadi tekad kita bersama sebagai bagian dari Ditjen Perbendaharaan yang telah memulai reformasi birokrasi sebagai salah satu ujung tombak Departemen Keuangan yang bersih dan bebas dari biaya apapun.

Namun demikian pihak satker juga diberikan akses untuk melaporkan, mengajukan, menyampaikan segala keluhan baik tentang perlakuan pegawai maupun tingkat pelayanan di KPPN Blitar. Lewat email maupun langsung per telephon kepada atasan juga kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Surabaya. Dan akses untuk penyampaian tersebut telah tersosialisasi dengan baik, dengan dipasangnya banner dan pengumuman di pintu masuk KPPN Blitar. Setiap person dari luar KPPN Blitar dapat mengetahui dimana dan kemana mesti mengadu, sehingga pengawasan intern dan pengawasan ekstern berjalan dengan sangat baik di KPPN Blitar. Pelaksanaan pengawasan ini mencerminkan, KPPN Blitar bersungguh sungguh dalam mengawal dan melaksanakan proses reformasi birokrasi di lingkungan Ditjen Perbendaharaan. Hal ini menjadikan KPPN Blitar untuk terus berkomitmen dalam mengusung pelayanan yang bersih. Mempresentasikan Inovasi dan Citra KPPN kepada Pimpinan Ditjen Perbendaharaan. Upaya membangun organisasi, sarana dan prasarana serta citra prima KPPN Blitar menemukan momentum terbaiknya pada saat Pimpinan Ditjen Perbendaharaan menyaksikan langsung hasil kerja keras para pegawa KPPN Blitar.

Pada bulan Oktober 2009, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jawa Timur, S. Bambang Suroso, berkenan mengunjungi KPPN Blitar. Kunjungan Kepala Kanwil menjadi momen yang tepat untuk menyampaikan segala upaya yang dilakukan oleh KPPN Blitar dalam mendukung pencapaian visi dan misi Ditjen Perbendaharaan. Kedatangan Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jawa Timur juga memberikan dorongan motivasi kepada para pegawai KPPN Blitar untuk bekerja lebih baik.

Namun demikian, tiada momentum yang lebih indah sepanjang berdirinya KPPN Blitar, selain kunjungan Direktur Jenderal Perbendaharaan, Herry Purnomo, pada Nopember 2009. Kunjungan Pak Herry, merupakan yang pertama kalinya bagi KPPN Blitar ditengok oleh Pimpinan Tertinggi Ditjen Perbendaharaan. Dan kunjungan Pak Dirjen tersebut ternyata memberikan kesan yang sangat mendalam dan tidak terlupakan bagi para pegawai KPPN Blitar. Arahan, pesan dan penghargaan dari Pak Dirjen terhadap peningkatan pelayanan dan pelaksanaan tugas KPPN Blitar, sampai saat ini menjadi motivasi yang tiada henti untuk berkarya. Dari kesan terhadap kedua kesempatan kunjungan Pimpinan Ditjen Perbendaharaan tersebut, ternyata upaya KPPN Blitar untuk bekerja keras mencitrakan dirinya dan berinovasi tidak menjadi sia-sia. Oleh karena itu, segenap pimpinan dan pegawai KPPN Blitar telah berkomitmen untuk terus dan terus membuat terobosan-terobasan dan inovasi dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Menjadi Tuan Rumah Workshop Future State Vision Ditjen Perbendaharaan. Dalam rangka pencitraan, KPPN Blitar patut berbangga diri bertindak selaku tuan rumah Workshop Future State Vision pada tanggal 7 s.d. 10 Oktober 2009. KPPN Blitar mendapat kehormatan menjadi tuan rumah pembahasan Future State Vision yang merupakan komponen penyempurnaan proses bisnis pada Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). Dengan mengambil lokasi pelaksanaan kegiatan di Gedung Perpustakaan Bung Karno dan Aula Hotel Tugu Blitar, workshop yang pesertanya terdiri dari 54 pejabat eselon III (Kasubdit/Kabid/Kepala KPPN) di lingkungan Ditjen Perbendaharaan dihadiri oleh Direktur Transformasi Perbendaharaan Bapak Paruli Lubis dan Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Timur Bapak S Bambang Suroso.

Direktur Transformasi Perbendaharaan sangat appreciate atas penyelenggaraan acara berskala nasional namun mampu dilaksanakan di kota kecil Blitar. Pada hari pertama bertempat di Gedung Perpustakaan Bung Karno, terdiri dua sesi workshop yang mengambil tema Manajemen Komitmen dan Manajemen Pembayaran disampaikan oleh Adi Setiawan dari Dit Transformasi Perbendaharaan. Sesi kedua disampaikan oleh Saiful Islam dari Dit Transformasi Perbendaharaan

dan Didyk Choiroel dari KPPN Blitar mengambil tema Proses Bisnis Manajemen Pembayaran. Hari kedua bertempat di Aula Hotel Tugu Kota Blitar, mengambil tema Korelasi antara SPAN dan Laporan Kinerja, Kuantitas Laporan yang dihasilkan KPPN, Relasi antar laporan, Pembangunan Database Tunggal sebelum implementasi SPAN dipaparkan oleh Slamet Mulyono dari Dit Transformasi Perbendaharaan dan Catur A Widodo dari Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Riau.

Sedangkan sesi kedua mengambil tema Proses Bisnis General Ledger dan Bagan Akun Standar di sampaikan oleh Ingelia Puspita dan Kabul Wijayanto dari KPPN Saumlaki. Acara workshop juga dimanfaatkan para peserta untuk berziarah ke makam Bung Karno dan mengunjungi Museum Bung Karno yang menyimpan benda benda dan barang peninggalan proklamator RI.

Penyerahan DIPA Tahun Anggaran 2010 Pada tanggal 6 Januari 2010 bertempat di Aphiteater Perpustakaan Bung Karno, KPPN Blitar melaksanakan kegiatan penyerahan DIPA Tahun Anggaran 2010 kepada satker yang menjadi mitra kerjanya. Acara penyerahan DIPA tersebut juga menjadi acara yang spektakuler bagi KPPN Blitar. Untuk pertama kalinya, KPPN Blitar dapat mengumpulkan 89 Pimpinan Satuan Kerja/KPA dari Blitar dan Tulungagung dalam satu acara. Dan untuk pertama kalinya pula, Tiga Sekretaris Daerah (Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung dan Kota Blitar) hadir bersama untuk mengikuti acara penyerahan DIPA. DIPA Tahun Anggaran 2010 diserahkan kepada para Kepala Satuan Kerja oleh Kepala KPPN Blitar melalui para Sekretaris Daerah. Penyerahan DIPA tersebut menandai dimulainya pelaksanaan anggaran tahun 2010. Acara penyerahan DIPA juga menjadi ajang KPPN Blitar untuk mendeklarasikan penerapan SOP KPPN Percontohan, dan penandatangan Pakta Integritas antara Kepala KPPN Blitar dengan para Kuasa Pengguna Anggaran. Pakta Integritas yang memuat pernyataan untuk berinteraksi secara bersih, dan profesional itu dikuatkan dengan saksi Ketua Pengadilan Negeri dan Kepala Kejaksaan Negeri.

A. ALOKASI ANGGARAN.
Alokasi Anggaran Menurut Jenis Belanja dan Kewenangan. Pada Tahun Anggaran 2009 KPPN Blitar melaksanakan tugas pelayanan kepada satker di wilayah Kota Blitar, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung dengan perbandingan pagu DIPA sebagai berikut :

PAGU DIPA PER JENIS BELANJA TAHUN 2009 NO 1 2 3 4 5 JENIS BELANJA BELANJA PEGAWAI BELANJA BARANG BELANJA MODAL BELANJA BANTUAN SOSIAL BELANJA LAIN-LAIN JUMLAH JUMLAH %

220,447,207,000 40.01 138,481,432,000 25.13 30,157,756,000 5.47

84,322,845,000 15.30 77,595,105,000 14.08 551,004,345,000 100.00

Dari seluruh pagu DIPA Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp 551.004.345.000,terlihat sebagian besar (40,01%) terserap untuk belanja pegawai, dan belanja barang yang meliputi pengadaan barang dan jasa untuk menunjang kegiatan sehari hari perkantoran (25,13%), dibanding belanja modal yang dapat memiliki efek langsung terhadap pembentukan modal (5,47%). Meski demikian dengan adanya Belanja Sosial yang langsung disalurkan kepada masyarakat sebesar Rp 84.322.845.000 (15,30%) menunjukkan alokasi program Pusat untuk masyarakat di daerah. Pada Tahun Anggaran 2010 dapat dilihat terjadi peningkatan jumlah pagu yang signifikan menjadi sebesar Rp 556.012.796.000 meski peningkatan tersebut masih terserap sebagian besar untuk belanja pegawai. Hilangnya Belanja Lain-Lain yang di Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp 77.595.105.000 memberikan kenaikan pada pagu Belanja Modal dan Belanja Bantuan Sosial. Pagu Belanja Bantuan Sosial yang pada Tahun Anggaran 2009 hanya mengambil porsi sebesar 15,30% pada Tahun Anggaran 2010 mengalami kenaikan hampir 100% sehingga pagu DIPA per jenis belanja pada Tahun Anggaran 2010 Belanja Bantuan Sosial mengambil porsi terbesar kedua setelah Belanja Pegawai sebesar Rp 132.566.250.000 (23,84%)

PAGU DIPA PER JENIS BELANJA TAHUN 2010 NO JENIS BELANJA JUMLAH 282,131,556,000 106,836,674,000 34,478,316,000 132,566,250,000 0 % 50.74 19.21 6.20 23.84 0.00

1 BELANJA PEGAWAI 2 BELANJA BARANG 3 BELANJA MODAL 4 BELANJA BANTUAN SOSIAL 5 BELANJA LAIN-LAIN JUMLAH

556,012,796,000 100.00

Dari data diatas dapat diambil kesimpulan tentang keseriusan pemerintah pada Tahun Anggaran 2010 ini dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya, mengingat Bantuan Sosial merupakan pengeluaran yang diberikan kepada masyarakat secara langsung, sehingga dampaknyapun dapat dirasakan bagi kehidupan rakyat banyak, dan yang tidak boleh dilupakan ini adalah komitmen kita bersama dengan jalan memberikan pelayanan yang semakin baik, meningkat dari hari ke hari. PAGU DIPA PER JENIS KEWENANGAN TAHUN 2009 NO JENIS KEWENANGAN JUMLAH 105,795,105,000 388,594,652,000 56,614,588,000 % 19.20 70.52 10.27

1 KANTOR PUSAT 2 KANTOR DAERAH 3 TUGAS PEMBANTUAN JUMLAH

551,004,345,000 100.00

Dengan proporsi jumlah pagu DIPA yang terbesar dengan kewenangan Kantor Daerah (70,54%) menunjukan sebagian besar dana DIPA digunakan untuk keperluan operasional kantor vertikal kementerian negara/lembaga di daerah. PAGU DIPA MENURUT WILAYAH KPPN TAHUN 2009 NO WILAYAH JUMLAH 244,713,931,500 207,225,327,500 % 44.41 37.61

1 KAB. TULUNGAGUNG 2 KAB. BLITAR 3 KOTA BLITAR JUMLAH

99,065,086,000 17.98 551,004,345,000 100.00

Dari data diatas Kabupaten Tulungagung memperoleh alokasi pagu yang terbesar dibanding Kota Blitar dan Kabupaten Blitar, hal ini bukan berarti Kabupaten Tulungagung memperoleh konsesi yang lebih dibanding kedua daerah lainnya. Namun karena Blitar terbagi menjadi Kota dan Kabupaten sehingga porsi pagu DIPA yang ada terlihat lebih kecil. Data tersebut pada dasarnya menunjukkan alokasi dana yang dikelola satuan kerja yang memiliki wilayah kerja secara geografis di Blitar dan Tulungagung. Kota Blitar dengan pagu DIPA keseluruhan sebesar Rp 99.065.086.000 (17.98%), Kab Blitar memperoleh alokasi sebesar Rp 207.225.327.500 (37.61%) dan Kab Tulungagung mendapatkan dana Rp 244.713.931.500 (44.41%), menunjukkan konsumsi fiskal pemerintah yang bersumber dari Belanja Pemerintah Pusat. Alokasi Anggaran Menurut Fungsi dan Program. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah tahun 2004-2009 telah ditetapkan tiga agenda yang ingin dicapai oleh pemerintah, yaitu :  Agenda aman dan damai telah mencapai banyak kemajuan, Aceh yang telah dilanda konflik selama bertahun tahun dapat tercapai kesepakatan damai antara pemerintah dan GAM  Agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat belum menunjukan hasil yang optimal, masih banyak rakyat miskin dan terbelakang yang belum tersentuh oleh kue pembangunan  Agenda adil dan demokratis Indonesia menjadi salah satu negara demokratis di dunia yang dibuktikan dengan pelaksanaan pemilihan legislatif dan calon presiden tahun 2004 serta pada tahun 2009 kembali Indonesia dapat melaksanakan pemilu yang aman damai adil dan demokratis ALOKASI DANA DAN REALISASI MENURUT FUNGSI TAHUN 2009
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 FUNGSI PELAYANAN UMUM (01) KETERTIBAN & KEAMANAN (03) EKONOMI (04) LINGKUNGAN HIDUP (05) PERUMAHAN & FASILITAS UMUM (06) PARIWISATA & BUDAYA (08) AGAMA (09) PENDIDIKAN (10) JUMLAH ALOKASI 246.406.928.000 28.946.896.000 80.279.859.000 7.096.731.000 64.587.465.000 1.300.000.000 2.686.211.000 119.700.255.000 551.004.345.000 REALISASI 241.793.519.473 25.284.257.971 79.227.284.820 3.409.276.033 64.539.765.000 844.030.665 2.360.245.000 123.522.654.011 540.981.032.973 % 98,13% 87,35% 98,69% 48,04% 99,93% 64,93% 87,87% 103,19% 98,18%

Terkait dengan agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat yang belum tercapai secara optimal pemerintah menetapkan teman pembangunan pada tahun 2009 yakni

Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pengurangan Kemiskinan, dan untuk itu ditetapkan prioritas program sebagai berikut :  Peningkatan pelayanan dasar dan pembangunan perdesaan  Percepatan pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian, infrastruktur dan energi Peningkatan upaya anti korupsi, reformasi birokrasi, serta pemantapan demokrasi, pertahanan dan keamanan dalam negeri. Berdasarkan data pelaksanaan anggaran berdasarkan fungsi tersebut di atas, ternyata Fungsi Pelayanan Umum dan Fungsi Pendidikan menjadi alokasi dana APBN terbesar di wilayah KPPN Blitar. Kondisi ini menunjukkan bahwa Pemerintah Pusat memberikan kontribusi yang signifikan pada belanja organisasinya di daerah untuk mendukung pelayanan dasar kepada masayarakat. ALOKASI DANA DAN REALISASI MENURUT PROGRAM TAHUN 2009
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 PROGRAM PROG. PENYEMPURNAAN & PENGUATAN KELEMBAGAAN DEMOKRASI (01.01.01) PROG. PERBAIKAN PROSES POLITIK (01.01.03) PROG. PENERAPAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (01.01.09) PROG. PENINGKATAN PENGAWASAN & AKUNTABILITAS APARATUR NEGARA (01.01.10) PROG. PENGELOLAAN SDM APARATUR (01.01.13) PROG. PENINGKATAN SARANA & PRASARANA APARATUR NEGARA (01.01.17) PROG. PENINGKATAN PENERIMAAN & PENGAWASAN KEUANGAN NEGARA (01.01.20) PROG. PENINGKATAN EFEKTIVITAS PENGELUARAN NEGARA (01.01.21) PROG. PENYEMPURNAAN & PENGEMBANGAN STATISTIK (01.01.27) PROG. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (01.03.03) PROG. PEMBIAYAAN LAIN-LAIN (01.90.02) PROG. PENGEMBANGAN SARANA & PRASARANA KEPOLISIAN (03.01.02) PROG. PENGEMBANGAN STRATEGI KEAMANAN & KETERTIBAN (03.01.03) PROG. PEMBERDAYAAN POTENSI KEAMANAN (03.01.04) PROG. PEMELIHARAAN KAMTIBMAS (03.01.05) PROG. PENYELIDIKAN & PENYIDIKAN TINDAK PIDANA (03.01.10) PROG. PENINGKATAN KESADARAN HUKUM & HAM (03.03.03) PROG. PENINGKATAN PELAYANAN & BANTUAN HUKUM (03.03.04) PROG. PENINGKATAN KINERJA LEMBAGA PERADILAN & LEMBAGA PENEGAK HUKUM LAINNYA (03.03.05) PROG. PENEGAK HUKUM & HAM (03.03.06) PROG. PENINGKATAN KUALITAS & PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA (04.02.01) PROG. PERLUASAN & PENGEMBANGAN KESEMPATAN KERJA (04.02.04) PROG. PENGEMBANGAN AGRIBISNIS (04.03.03) PROG. PENINGKATAN KETAHAN PANGAN (04.03.04) PROG. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA PERIKANAN (04.03.06) PROG. PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI (04.03.08) PROG. PENGEMBANGAN & PENGELOLAAN JARINGAN IRIGASI, RAWA & JARINGAN PENGAIRAN LAINNYA (04.04.03) ALOKASI 310.971.000 91.194.000 163.847.444.000 76.077.000 57.864.000 265.000.000 1.141.896.000 635.496.000 2.385.881.000 461.659.000 77.133.446.000 24.624.000 103.500.000 954.000.000 13.706.051.000 3.520.393.000 32.000.000 961.711.000 4.022.360.000 5.622.257.000 500.000.000 629.932.000 230.000.000 8.909.913.000 428.380.000 5.726.262.000 3.822.636.000 REALISASI 41.245.500 1.125.00 0 168.437.707.34 7 21.757.00 0 27.749.00 0 223.902.73 0 1.072.042.15 0 632.540.00 0 2.349.991.10 0 424.209.00 0 68.561.250.64 6 22.624.00 0 103.500.00 0 951.109.50 0 12.328.770.40 0 3.487.285.55 0 28.500.00 0 544.776.06 3 3.951.254.60 0 3.866.437.85 8 494.144.00 0 612.895.26 0 182.500.00 0 8.716.894.58 8 422.097.00 0 5.449.298.81 2 3.414.316.98 0 % 13,26% 1,23% 102,80% 28,60% 47,96% 84,49% 93,88% 99,53% 98,50% 91,89% 88,89% 91,88% 100,00% 99,70% 89,95% 99,06% 89,06% 56,65% 98,23% 68,77% 98,83% 97,30% 79,35% 97,83% 98,53% 95,16% 89,32%

ALOKASI DANA DAN REALISASI MENURUT PROGRAM TAHUN 2009
29 30 31 32 33 34 35 36 37 PROG. REHABILITASI/PEMELIHARAAN JALAN & JEMBATAN (04.08.01) PROG. PENGAWASAN SERTA PENGEMBANGAN APLIKASI & TEKNOLOGI INFORMASI & KOMUNIKASI (04.09.03) PROG. PENGELOLAAN PERTANAHAN (05.05.03) PROG. PEMBERDAYAAN KOMUNITAS PERUMAHAN (06.02.02) PROG. PENINGKATAN PRASARANA & SARANA PEDESAAN (06.90.07) PROG. PENINGKATAN KEBERDAYAAN MASY. PEDESAAN (06.90.09) PROG. PENGEMBANGAN NILAI BUDAYA (08.01.01) PROG. PENINGKATAN PELAYANAN KEHIDUPAN BERAGAMA (09.01.01) PROG. PENINGKATAN PEMAHAMAN, PENGHAYATAN, PENGAMALAN & PENGEMBANGAN NILAI-NILAI BERAGAMA (09.01.02) PROG. WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN DASAR SEMBILAN TAHUN (10.02.01) PROG. PENDIDIKAN MENENGAH (10.03.01) PROG. PENDIDIKAN TINGGI (10.06.01) PROG. PENINGKATAN MUTU PENDIDIK & TENAGA KEPENDIDIKAN (10.07.01) PROG. PENGEMBANGAN BUDAYA BACA & PEMBERDAYAAN PERPUSTAKAAN (10.07.02) PROG. MANAJEMEN PELAYANAN PENDIDIKAN (10.07.03) PROG. PENINGKATAN PENDIDIKAN AGAMA & PENDIDIKAN KEAGAMAAN (10.08.01) JUMLAH 60.000.000.000 32.736.000 7.096.731.000 14.720.000.000 13.500.000.000 36.367.465.000 1.300.000.000 2.142.611.000 543.600.000 59.933.125.18 0 2.013.00 0 3.409.276.03 3 14.695.000.00 0 13.500.000.00 0 36.344.765.00 0 844.030.66 5 1.817.690.00 0 542.555.00 0 16.936.583.84 3 5.995.901.61 7 14.436.727.99 3 184.875.00 0 1.155.032.78 3 84.050.420.70 0 763.112.07 5 540.981.032.973 99,89% 6,15% 48,04% 99,83% 100,00% 99,94% 64,93% 84,84% 99,81%

38 39 40 41 42 43 44

17.394.798.000 6.142.152.000 15.853.125.000 195.000.000 1.551.875.000 77.663.305.000 900.000.000 551.004.345.000

97,37% 97,62% 91,07% 94,81% 74,43% 108,22% 84,79% 98,18%

Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan. Dari ke-44 program diatas, hampir 70 persennya termasuk program peningkatan pelayanan dasar dan pembangunan perdesaan. Dimana peningkatan pelayanan dasar meliputi pendidikan, kesehatan, keamanan mendapatkan porsi alokasi dana yang besar. Dengan demikian terlihat jelas bahwa pemerintah memiliki tekad dan kemauan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dasar serta memeratakan pembangunan di seluruh perdesaan. Sasaran yang ingin dicapai pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan adalah :  Meningkatnya kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat miskin, sehingga diharapkan angka kemiskinan dapat turun  Terlaksananya program penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat, PNPM Mandiri yang mencakup seluruh kecamatan baik di perdesaan maupun di perkotaan dan meningkatnya harmonisasi program PNPM Penguatan ke dalam PNPM mandiri  Meningkatnya perlindungan sosial bagi masyarakat miskin  Tersedianya subsidi beras bagi masyarakat miskin (raskin)  Tersedianya bantuan langsung tunai (BLT) Sedangkan prioritas pembangunan pendidikan digunakan untuk melaksanakan 3 fokus kegiatan :  Pemantapan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yang berkualitas khususnya bagi daerah yang kinerja pendidikannya masih tertinggal  Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan menengah, tinggi dan nonformal  Peningkatan kualitas dan kesejahteraan pendidik

Banyak hal yang dapat dijadikan rujukan atas keseriusan pelaksanaan program tersebut antara lain :  Beragam kualitas dan bertambah kuantitas alokasi dana atas sektor pendidikan, dapat diambil satu contoh Program manajemen pelayanan pendidikan mendapatkan alokasi dana sebesar Rp 77.663.305.000 jika kita bagi secara merata atas dua kabupaten dan satu kota minimal masing masing mendapatkan alokasi sekitar 25 milyar. Dengan dana sebesar ini setiap daerah dapat melaksanakan kegiatan yang akan memperbaiki kualitas manajemen pelayanan pendidikan, sehingga tingkat kualitas pelayanan pendidikan di sekolah sekolah semakin meningkat ke arah yang lebih baik. Realisasi sebesar Rp 84.050.420.700 (108.22%) ada peningkatan dari nilai pagu yang sebesar 77,6 Milyar yang berarti ada pagu yang direvisi dari program lainnya, hal ini semakin menunjukkan program manajemen pelayanan pendidikan memberi pengaruh yang besar bagi peningkatan kualitas pendidikan di tiga wilayah tersebut.  Tidak hanya lewat jalur formal dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pengetahuan, jalur informal pun ditempuh oleh pemerintah lewat program Pengembangan Budaya Baca & Pemberdayaan Perpustakaan dengan nilai alokasi dana sebesar Rp 1.551.875.000 dan pada akhir tahun terealisasi sebesar Rp 1.155.032.783 (74.43%) Untuk wilayah dengan lingkup kota dan kabupaten yang tidak luas, dengan dana sebesar itu akan dapat dibangun secara merata taman bacaan taman bacaan yang tentunya diisi dengan buku buku memadai sehingga kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya membaca mulai dari anak anak sampai orang tua tersebar merata dan dapat memberikan dampak bagi kesadaran, keterbukaan serta kefahaman terhadap pengatahuan dan kebudayaan.  Sebaran tempat yang semakin merata hingga menyentuh daerah daerah pelosok desa. Jika melihat lokasi dan wilayah yang menjadi sasaran program hingga sampai ke perdesaan memberikan bukti keseriusan pemerintah dalam memeratakan hasil hasil pembangunan dan partisipasi masyarakat agar ikut serta dalam mengawal dan mengawasi proses pembangunan. Dana sebesar Rp 36.367.465.000 yang terangkum dalam program peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan dengan realisasi mencapai Rp 36.344.765.000 (99.94%) merupakan indikasi bahwa pembangunan harus merata dan menyeluruh hingga ke sudut sudut kota dan desa. Percepatan pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat daya tahan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian, infrastruktur dan energi. Dalam rangka meningkatkan kekuatan sektor pertanian agar kembali tercapai swasembada pangan, pemerintah telah meluncurkan program pembangunan yang bertumpu pada pembangunan pertanian. Hal ini terlihat pada beberapa program antara lain, program pengembangan agribisnis memperoleh alokasi dana sebesar Rp 230.000.000 dan telah diluncurkan sebesar Rp 182.500.000 (79.35%) meski tergolong kecil namun program pengembangan agribisnis ini akan mendorong petani untuk lebih mengembangkan jenis hasil pertaniannya. Program Peningkatan Ketahanan Pangan dengan alokasi dana sebesar Rp 8.909.913.000 terealisasi sebesar Rp 8.716.894.588.000 (97.83%) juga Program Peningkatan Kesejahteraan Petani sebesar Rp 5.726.262.000 dan terealisasikan sebesar Rp 5.449.298.812 (95.16%) ketiga program tersebut langsung bersentuhan dengan kehidupan para petani di perdesaan. Meski tiga program tersebut yang memperoleh alokasi dana tergolong besar, masih terdapat program lain seperti Program Pengembangan Sumber Daya Perikanan dengan alokasi dana sebesar Rp 428.380.000 dan realisasinya sebesar Rp 422.097.000

(98.53%) Daerah Kab Blitar dan Kab Tulungagung merupakan wilayah yang berpantai sehingga masih banyak terdapat penduduk sekitar pantai yang bermata pencaharian sebagai nelayan, dimana selain perikanan laut juga banyak terdapat sentra pengembangan perikanan air tawar. Sehingga meski nilai besaran program ini relatif kecil namun sangat membantu petani ikan dalam meningkatkan hasil produksinya. Infrastruktur yang merupakan sarana penunjang dalam meningkatkan kualitas kehidupan para petani dan masyarakat pada umumnya, juga mendapatkan porsi yang sangat besar. Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi Rawa dan Jaringan Pengairan Lainnya memperoleh alokasi dana sebesar Rp 3.822.636.000 sedangkan realisasi yang telah dicairkan lewat instansi terkait sebesar Rp 3.414.316.980 (89.32%). Program lain yang terkait langsung dengan penyediaan sarana dan prasarana adalah Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan/Jembatan sebesar Rp 60.000.000.000 jumlah yang sungguh besar untuk penyediaan sarana jalan dan jembatan dan realisasinya mencapai Rp 59.933.125.180 (99.89%) sungguh menggembirakan melihat hasil yang telah dicapai oleh instansi pengelola program tersebut. Satu program lagi yang secara langsung dengan tegas menyatakan untuk kepentingan penduduk perdesaan yakni Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Perdesaan sebesar Rp 13.500.000.000 dan realisasi tepat mencapai 100% sebesar Rp 13.500.000.000. Jalan yang lancar, membuat transportasi juga lancar sehingga mobilitas para petani dari desa ke kota dalam memasarkan hasil panennya menjadi lebih cepat dan mudah. Sehingga tidak ditemui lagi petani yang membuang hasil panennya karena terlambat memasarkan akibat sarana jalan yang kurang mendukung. Peningkatan upaya anti korupsi, reformasi birokrasi, serta pemantapan demokrasi, pertahanan dan keamanan dalam negeri Dalam peningkatan upaya anti korupsi, pemerintah mengalokasikan anggaran yang ada digunakan untuk melaksanakan kegiatan :  Penindakan dan pencegahan tindak pidana korupsi yakni program penyelidikan dan penyidikan tindak pidana dengan alokasi dana sebesar Rp 3.520.393.000 dan realisasi sebesar Rp 3.407.285.550 (99.06%)  Peningkatan partispasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi yaitu program peningkatan kesadaran hukum dan ham sebesar Rp 32.000.000 dengan realisasi sebesar Rp 28.500.000 (89.05%)  Penyempurnaan undang undang mendorong upaya pemeberantasan korupsi merupakan program yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat sehingga daerah tetap fokus pada upaya pemberantasan korupsi Upaya pemerintah untuk program reformasi birokrasi dengan melaksanakan kegiatan :  Peningkatan kualitas pelayanan publik melalui program peningkatan sarana dan prasarana aparatur negara sebesar Rp 265.000.000 dengan realisasi sebesar Rp 223.902.730 (84.49%) mengindikasikan kemauan pemerintah agar benar benar dalam melayani masyarakat dilandasi oleh kemauan tulus tanpa didasari maksud maksud yang lain  Program pengelolaan SDM aparatur sebesar Rp 57.864.000 dengan realisasi Rp 27.749.000 (47.96%) dengan harapan dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan kepada masyarakat banyak.  Peningkatan kinerja dan kesejahteraan PNS, program penerapan kepemerintahan yang baik dengan alokasi dana sebesar Rp 163.847.444.000 dan realisasi yang dicapai sebesar Rp 168.437.707.347 (102.80%) ada peningkatan jumlah pagu di tengah pelaksanaan kegiatan tersebut, sehingga realisasi yang dicapai lebih dari seratus prosen dari alokasi dana yang ada. Hal ini semakin

menguatkan kemauan pemerintah dengan peningkatan kesejahteraan pegawai negeri sipil maka diharapkan tingkat kualitas dan kuantitas kinerja aparatur pemerintah dapat seiring sejalan sehingga masyarakat yang membutuhkan pelayanan dari pemerintah dapat terpuaskan.  Penataan kelembagaan ,ketatalaksanaan dan pengawasan aparatur negara dalam Program penerapan kepemerintahan yang baik dimana alokasi dana yang ada sebesar Rp 163.847.444.000 maka di dalamnya telah terdapat alokasi dana untuk penataan kelembagaan sehingga dapat tercapai waktu dan dana yang efektif dan efisien. Program peningkatan pengawasan akuntabilitas aparatur dengan dana sebesar Rp 76.077.000 dan realisasi sebesar Rp 21.757.000 (28.60%) persentase yang tidak mencapai 50% hal ini bukan berarti program tersebut tidak jalan namun dapat berarti masing masing instansi telah menjalankan sistem pengawasan intern sehingga aparatur pengawas cukup memberikan metode metode yang akan membuat masing masing instansi merasa terawasi.  Program peningkatan penerimaan dan pengawasan keuangan negara sebesar Rp 1.141.896.000 dan realisasi yang ada mencapai Rp 1.072.042.150 (93.88%) hasil yang hampir mencapai 100% tersebut memberikan kita satu gambaran bahwa pemerintah sangat serius dalam hal pengawasan atas penerimaan keuangan negara sehingga harapan untuk memperkecil dan semakin mengurangi tingkat kebocoran yang ada dapat dilaksanakan semaksimal mungkin. Alokasi anggaran untuk pemantapan demokrasi, pertahanan dan keamanan dalam negeri akan digunakan untuk melaksanakan 3 kegiatan yakni : • Penguatan lembaga penyelenggaraan pemilu dan peningkatan partisipasi aktif masyarakat dalam pemilu 2009 kegiatan ini tercermin dalam Program penyempurnaan dan penguatan kelembagaan demokrasi dengan alokasi dana sebesar Rp 310.971.000 dan telah terealisasi sebesar Rp 41.245.500 (13.26%) seharusnya dana ini dapat dimaksimalkan penggunaannya sehingga pada laporan semester pertama tahun anggaran 2009, saat penyelenggaraan pemilu telah berlangsung dengan aman tertib dan damai, dapat tercapai realisasi yang mendekati 100%. Kecilnya penyerapan dana program penyempurnaan dan penguatan kelembagaan demokrasi dimungkinkan adanya partisipasi aktif dari unsur unsur masyarakat lewat LSM yang tersebar di banyak tempat sehingga pihak pemerintah tinggal mengikuti dan mengawasi pelaksanaan kegiatan LSM tersebut • Peningkatan efektifitas pelaksanaan pemilu 2009, kegiatan ini telah terangkum dalam program diatas karena instansi penyelenggara yang telah dibawah satu atap • Pemantapan pertahanan dan keamanan dalam negeri, program pengembangan sarana dan prasarana kepolisian memperoleh alokasi dana sebesar Rp 24.624.000 dengan realisasi mencapai Rp 22.624.000 (91.88%). • Program pengembangan strategi keamanan dan ketertiban dengan alokasi dana sebesar Rp 103.500.000 dan terealisasi 100%. Program pemberdayaan potensi keamanan memperoleh alokasi dana hampir satu milyar yakni sebesar Rp 954.000.000 dan realisasi yang dicapai sebesar Rp 951.109.500 (99.70%) jika hal ini benar benar terlaksana dengan baik maka jaminan atas keamanan dan ketertiban di tiga wilayah pembayaran KPPN Blitar dapat dikatakan aman dan terkendali. • Program pemeliharaan Kamtibmas mendapatkan alokasi dana yang besar yakni sejumlah Rp 13.706.051.000 dan dapat terealisasi sebesar Rp 12.328.770.400 (89.95%) dari hasil ini dapat dikatakan bahwa keamanan dan ketertiban Kota Blitar, Kab Blitar dan Kab Tulungagung benar benar dapat dipertanggungjawabkan baik

kualias keamanan maupun partisipasi aktif unsur unsur masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan kemanan dan ketertiban, sehingga sebagai daerah wisata dan penghasil pertanian akan dapat menarik para pendatang yang ingin membelanjakan sebagian penghasilannya ataupun menanamkan modal untuk berinvestasi di tiga wilayah ini. Dari alokasi dana untuk pemantapan demokrasi, pertahanan dan keamanan dalam negeri pemerintah ingin mencapai sasaran : • Menurunnya tindak pidana korupsi yang terbukti dengan : tumbuhnya iklim takut korupsi; meningkatnya indeks persepsi korupsi, menjadi indikator meningkatnya kualitas pelayanan publik; meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi; meningkatnya kinerja lembaga peradilan dan lembaga penegakan hukum serta lembaga pemberantasan korupsi • Makin meningkatnya kinerja birokrasi untuk mendukung keberhasilan pembangunan nasional di berbagai bidang, ditandai dengan : meningkatnya kualitas pelayanan publik yang tidak diskriminatif, cepat, murah dan manusiawi, diterapkannya standar pelayanan minimal, adanya dukungan kompetensi SDM aparatur di bidang pelayanan dan penegakan hukum, penerapan teknologi informasi dan komunikasi dilakukannya upaya peningkatan kinerja instansi pemerintah, kinerja unit kerja dan kinerja individu/pegawai; dilakukannya perbaikan kesejahteraan aparatur negara yang adil, layak dan berbasis kinerja; dilakukan perbaikan dan penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan yang menunjang fungsi kepemerintahan, ditingkatkannya efektifitas pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan untuk mendukung kinerja instansi pemerintah dan pembangunan. • Terlaksananya pemilu 2009 secara demokratis, jujur, adil dan aman yang telah terbukti dengan baik. 2. REALISASI ANGGARAN. Seluruh kebijakan dan regulasi yang mengatur mengenai pelaksanaan anggaran, baik sejak penyusunan dan pengesahan DIPA hingga tata cara pembayaran dan pencairan dana, ditujukan agar penggunaan anggaran berjalan lancar. Kelancaran pelaksanaan anggaran dicerminkan dari pelaksanaan kegiatan satuan kerja yang tepat waktu sesuai rencana kerja. Berjalannya kegiatan satuan kerja dibuktikan dengan realisasi atas anggaran pada DIPA. Dalam manajemen keuangan pemerintah modern, realisasi anggaran dari berjalannya kegiatan satuan kerja berpengaruh positif terhadap pelayanan publik dan pergerakan perekonomian. Oleh karena itu, setelah DIPA disahkan, realisasi atas penyerapan anggaran harus senantiasa dievaluasi dan dimonitor.

TR EN
Menilik data realisasi per bulan pada Tahun Anggaran 2009, di awal tahun realisasi sebesar 2,76% menunjukan satker belum ada kegiatan yang berarti, hanya sekadar membayar gaji dan honor para pegawai. Belum memperlihatkan pengeluaran yang bersifat mendukung secara langsung proses pelaksanaan kegiatan satker. Setelah melewati satu semester, terlihat kenaikan pengeluaran satker secara signifikan, sehingga pada bulan Juli 2009 prosentase pengeluaran secara keseluruhan lebih dari 50% dan pada puncaknya, bulan Desember 2009, pengajuan SPM ke KPPN Blitar membuat dana DIPA Tahun Anggaran 2009 terealisasi sebesar Rp 540.981.032.973 (98,18%). Dan jika melihat data penerbitan SP2D Tahun 2009 juga mengalami kenaikan yang tinggi pada bulan Desember 2009. Ada indikasi satker ingin menghabiskan dana anggaran yang dikelolanya sehingga pada akhir tahun anggaran mereka beramai ramai mengajukan aplikasi pembayaran. Namun perlu diingat juga bahwa pada umumnya pengadaan barang dan jasa yang dikontrakan waktu penyelesaiannya berakhir di bulan desember tahun anggaran yang bersangkutan, sehingga tidak mengherankan jika pada akhir bulan di bulan desember jumlah pencairan dana atas kontrak kontrak tersebut meningkat tajam. Jika dilihat tingkat pengeluaran per jenis belanja akan nampak bahwa dari bulan ke bulan yang mengalami kenaikan yang tajam yakni belanja barang, dimana pada awal tahun, bulan Januari 2009 masih belum terlihat adanya realisasi yang berarti. Namun pada bulan berikutnya, bulan Februari 2009, satker telah memulai kegiatannya sehingga belanja barang mengalami kenaikan, meski tidak besar tetapi menunjukan adanya gerakan yang menandai bahwa satker telah mengawali pelaksanaan tugasnya. Belanja barang, yang tentunya merupakan komponen pendukung dalam pelaksanaan tugas sehari hari perkantoran, pada bulan bulan berakhirnya tahun anggaran 2009 menunjukan tingkat kenaikan yang tajam.

90 80 70 60

s n o l i B

T R
Milia R r p 4 0

Dimulai pada bulan September 2009, peningkatan realisasi sebesar dua kali lipat dari bulan sebelumnya mengindikasikan bahwa ada kegiatan yang memerlukan dana yang besar. Meski pada umumnya dibulan bulan akhir tahun anggaran pihak satker seperti diingatkan bahwa mereka memilki anggaran yang mesti dihabiskan, namun hal ini perlu dimaklumi karena tingkat penyelesaian pekerjaan pada bulan bulan tersebut telah mendekati 100%, sehingga realisasi penggunaan dana juga mengalami peningktan yang tinggi. Bahkan di bulan desember 2009 jumlah realisasi belanja barang mencapai Rp 34.465.570.121 dua kali lipat dari bulan November 2009 sebesar Rp 17.208.590.449. Untuk belanja pegawai tidak mengalami fluktuasi kenaikan dan penurunan yang berarti, hal ini dimungkinkan adanya beberapa pegawai yang mendapatkan kenaikan pangkat, kenaikan gaji berkala, mutasi ataupun memasuki masa pension. Sehingga kenaikan dan penurunan realisasi belanja pegawai tidak menunjukan perbedaan yang berarti. Belanja modal, dari bulan ke bulan juga tidak menunjukan tingkat fluktuasi yang berarti, hanya mengindikasikan bahwa di satker terdapat kegiatan yang menambah aset tetap mereka yang nantinya mesti dilaporkan dalam laporan SABMN. Mengingat bahwa SABMN merupakan aset tetap yang merupakan bagian dari perhitungan di dalam neraca masing masing satker, maka jumlah realisasi belanja modal menjadi sangat penting, terutama bermanfaat bagi Ditjen Kekayaan Negara dalam menghitung nilai aset yang dikuasai oleh satker di daerah sehingga secara akumulasi dapat dihitung jumlah aset tetap nasional. Pada akhirnya di bulan Desember 2009 jumlah kekayaan Negara bertambah sebesar Rp 28.404.900.159. Yang sangat urgen adalah belanja bantuan sosial, karena dampaknya yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat yang menerimanya. Pada bulan Januari 2009 belanja bantuan sosial hanya sebesar Rp 240.000.000 dan terus mengalami kenaikan pada bulan bulan berikutnya. Puncak kenaikan belanja bantuan sosial terjadi pada bulan November 2009 sebesar Rp 24.420.951.800 dan menurun lagi pada akhir tahun 2009. Jumlah dana yang telah tersalurkan ke masyarakat pada tahun anggaran 2009 sebesar Rp 84.094.470.450 dengan implikasi dampak yang langsung dapat dirasakan oleh masyarakat banyak, membuat alokasi untuk belanja bantuan sosial selalu menjadi sorotan.

3 5

3 0

2 5

2 0

Yang terasa sedikit mengalami anomali adalah belanja lain lain, dimana pada bulan Januari masih belum terdapat realisasi, namun pada bulan Februari 2009 secara mengejutkan belanja lain lain memberikan realisasi sebesar Rp 312.400.000 dan pada bulan berikutnya, Maret 2009 meningkat hampir 30 kali lipat dibanding bulan sebelumnya yakni sebesar Rp 10.679.290.909.
STATISTIK REALISASI PENCAIRAN DANA PER JENIS BELANJA PER SATUAN KERJA TAHUN 2009 BELANJA BELANJA MODAL BANTUAN SOSIAL BARANG JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % 1 02 54 16 93 9 1 TRIWULAN II < 25% 25% s.d. 50% > 50% s.d. 75% > 75% TRIWULAN III < 25% 25% s.d. 50% > 50% s.d. 75% > 75% TRIWULAN IV < 25% 25% s.d. 50% > 50% s.d. 75% > 75% 02 35 56 11 1 02 12 25 56 9 1 02 4 8 90 0,00% 3,92% 7,84% 88,24% 54 5 3 3 43 9,26% 5,56% 5,56% 79,63% 16 16 0,00% 0,00% 0,00% 100,00% 11,76% 24,51% 54,90% 8,82% 54 16 11 9 18 29,63% 20,37% 16,67% 33,33% 16 6 3 2 5 37,50% 18,75% 12,50% 31,25% 34,31% 54,90% 10,78% 0,00% 54 42 8 1 3 77,78% 14,81% 1,85% 5,56% 16 11 1 1 3 68,75% 6,25% 6,25% 18,75% 91,18% 8,82% 0,00% 0,00% 51 1 1 1 94,44% 1,85% 1,85% 1,85% 16 100,00% 0,00% 0,00% 0,00%

REALISASI BELANJA BARANG TRIWULAN I < 25% 25% s.d. 50% > 50% s.d. 75% > 75%

Pada bulan April 2009, merupakan bulan puncak dimana jumlah realisasi Belanja Lain-Lain mencapai titik tertinggi sebesar Rp 14.028.155.613 dan menurun terus hingga pada bulan Desember 2009 realisasi belanja lain lain hanya sebesar Rp 2.010.461.670,-. Secara keseluruhan tingkat realisasi seluruh pagu DIPA yang menjadi pengelolaan KPPN Blitar mencapai Rp 540.981.032.973 dari pagu sebesar Rp 551.004.345.000 sehingga secara prosentase realisasi DIPA menunjukan tingkat yang tinggi yakni sebesar 98,18% meski belum 100% namun ini merupakan angka yang sangat menggembirakan. 3. PELAKSANAAN ANGGARAN PROGRAM STRATEGIS PROGRAM PNPM MANDIRI Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri yang disebut PNPM Mandiri merupakan program nasional dalam wujud kerangka kebijakan sebagai dasar dan acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan melalui harmonisasi dan pengembangan sistem serta mekanisme dan prosedur program, penyediaan pendampingan dan pendanaan stimulan untuk mendorong prakarsa dan inovasi masyarakat dalam upaya penanggulangan kemiskinan yang berkelanjutan di kelurahan

25

s n o l i B

20 15 10 5 PNPM KAB. TULUNGAGUNG PNPM KAB. BLITAR

Kab Tulungagung mendapatkan alokasi dana PNPM Mandiri tahun 2009 sebesar Rp 12.770.585.000. pada bulan Januari 2009 masih belum terdapat realisasi, namun pada bulan Februari 2009 realisasi mencapai Rp 1.675.000.000 sekitar 10% dari nilai pagu yang ada. Kembali pada bulan maret tidak terdapat kegiatan yang berarti sehingga realisasi yang adapun nihil. Pada bulan April 2009 setelah kosong selama satu bulan Setda Kab Tulungagung sebagai satker pengelola dana PNPM Mandiri merealisasikan dana sebesar Rp 173.160.000. Selanjutnya pada bulan bulan berikutnya PNPM Mandiri Setda Kab Tulungagung secara periodik mengajukan pencairan dananya dengan fluktuasi naik turun yang tidak terlalu tajam. Kenaikan yang sangat signifikan terjadi pada bulan September 2009, dimana pada bulan sebelumnya (Agustus 2009) realisasi dana PNPM Mandiri Kab Tulungagung sebesar Rp 88.760.450 dan naik hampir 20 kali lipatnya pada bulan September 2009 sebesar Rp 2.616.342.000. realisasi pada bulan

berikutnya Oktober 2009 naik sebesar Rp 3.978.177.300 suatu jumlah yang sangat menggembirakan bila dilihat dari nilai nilai sebelumnya. Setelah melewati kenaikan pada bulan Oktober, di bulan berikutnya yakni November 2009 realisasi kembali menurun sebesar Rp 2.755.813.300 yang pada akhirnya di bulan Desember 2009 Setda Kab Tulungagung berhasil menyelesaikan program PNPM Mandiri dengan realisasi sebesar Rp 1.238.131.300 sehingga secara keseluruhan jumlah realisasi dana yang telah dicairkan oleh Setda Kab Tulungagung sebesar Rp 12.754.647.500 (99.88% dari pagu awal) hampir mencapai 100 prosen, dengan demikian dapat dikatakan berhasil. Kabupaten Blitar dipercaya untuk mengelola dana PNPM Mandiri dengan pagu sebesar Rp 23.596.880.000 (hampir dua kali lipat dari Kab Tulungagung) namun pada triwulan pertama hanya terdapat pencairan dana sebesar Rp 1.650.000.000 di bulan Maret 2009. Pada triwulan kedua tidak terdapat realisasi yang berarti. Pada triwulan ketiga pencairan dana PNPM Mandiri mulai menampakkan hasil yang stabil, dimulai pada bulan Juli terdapat realisasi sebesar Rp 596.570.000 selanjutnya pada bulan Agustus sebesar Rp 21.465.000 (mengalami penurunan yang tajam) namun pada bulan September 2009 kembali naik sebesar Rp 199.165.000. Pada triwulan keempat Setda Kab Blitar mulai mengejar ketertinggalannya dengan mengajukan pencairan dana secara besar besaran. Dimulai pada bulan Oktober 2009 dana sebesar Rp 7.734.576.500 berhasil cair dan pada bulan November 2009 sebesar Rp 10.148.198.500 kenaikan yang sangat tinggi mengingat pada tiga triwulan sebelumnya pencairan dana hanya dalam hitungan puluhan dan ratusan juta. Dan di akhir bulan Desember 2009 dana sebesar Rp 3.240.142.500 menutup pencairan dana PNPM Mandiri yang dikelola Setda Kab Blitar tahun anggaran 2009. Secara keseluruhan jumlah dana yang telah dicairkan sebesar Rp 23.590.117.500 kurang 0,03 % mencapai 100%

TRENDREAL AS PENCAIRAN IS I D ANAPNPM MANDIRI PERDES AAN
12.000

s n o l i M

10.000 8.000 6.000 4.000 2.000 -

SETDA KAB. TULUNGAGUNG

SETDA KAB. BLITAR

Dari grafik diatas dapat kita lihat data realisasi program PNPM Mandiri yang dikelola oleh Sekretariat Daerah (Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung) mengalami kenaikan yang sangat tajam pada triwulan keempat atau pada bulan bulan September, Oktober, November dan Desember 2009. Jika kita lihat bulan per bulannya

terdapat bulan bulan kosong dimana pihak satker tidak mengajukan realisasi pembayaran ke KPPN Blitar, sehingga seolah olah ada kesan bahwa satker tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Namun perlu diingat bahwa program PNPM Mandiri tersebut kemungkinan besar terdapat kendala di lapangan yang membuat satker belum dapat mengajukan realisasi pembayaran, sehingga dalam data realisasi per bulannya masih terdapat data kosong (nol) PROGRAM STIMULUS FISKAL Pada tahun anggaran 2009 pemerintah meluncurkan program stimulus fiskal dengan harapan dapat merangsang tumbuhnya tingkat perekonomian masyarakat di daerah daerah, sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran dan juga meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat. Ada lima satker yang mendapatkan alokasi dana stimulus fiskal dari pemerintah pusat yang dapat dikatakan merupakan satker strategis karena berhubungan langsung dengan sarana dan prasarana yang menguasai hajat hidup orang banyak. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab Tulungagung mendapatkan alokasi dana sebesar Rp 159.435.000 dimana dana sebesar ini hanya dilakukan satu kali penagihan ke KPPN Blitar pada bulan Desember 2009 sebesar Rp 159.285.000 sehingga realisasi dana stimulus fiskal yang dikelola oleh Disnakertrans Kab Tulungagung mencapai 99.9%.
DINAS NAKERTRANS KAB. TULUNGAGUNG; 159.435.000

DINAS NAKER KOTA BLITAR; 159.435.000

DINAS PU DAERAH KOTA BLITAR; 20.000.000.000

DINAS PU BINA MARGA & CIPTA KARYA KOTA BLITAR; 20.000.000.000

DINAS PU BINA MARGA & PENGAIRAN KAB. BLITAR; 20.000.000.000

Satker kedua yang mendapatkan alokasi dana stimulus fiskal adalah Dinas Tenaga Kerja Kota Blitar dengan alokasi yang sama besarnya dengan Disnakertrans Kab Tulungagung, namun pada kenyataannya realisasi yang diajukan oleh Disnaker Kota Blitar hanya sebesar Rp 152.023.360 (95.3%) dan itupun dalam sekali penagihan pada bulan Desember 2009. Dinas PU Bina Marga & Cipta Karya Kota Blitar, Dinas PU Bina Marga & Pengairan Kab. Blitar, Dinas PU Daerah Kota Blitar masing masing memperoleh alokasi dana sebesar Rp 20.000.000.000. Pada bulan Januari s.d. Juli 2009 belum ada realisasi untuk ketiga satker tersebut. Baru pada bulan Agustus 2009 mulai terlihat pengajuan pencairan dana stimulus fiskal oleh Dinas PU Bina marga & Cipta Karya Kota Blitar sebesar Rp 113.875.000 juga Dinas PU Bina Marga & Pengairan Kab. Blitar sebesar Rp

2.672.840.000. Sedangkan Dinas PU daerah Kota Blitar sebesar Rp 1.868.932.600 baru terealisasi pada bulan Oktober 2009. Kedua satker tersebut secara stabil merealisasikan penggunaan dana stimulus fiskal dari bulan ke bulan hingga pada bulan Desember 2009 jumlah realisasi secara keseluruhan untuk satker Dinas PU Bina Marga & Cipta Karya Kota Blitar sebesar Rp 19.999.973.000 (99.99%) dan Dinas PU Bina Marga & Pengairan Kab. Blitar sebesar Rp 19.980.098.000 (99.90%). Sedangkan Dinas PU Daerah Kota Blitar yang baru mulai pada bulan Oktober 2009 hingga waktu yang tersisa 2 bulan dimanfaatkan sebaik baiknya. Pada bulan November 2009 dana stimulus fiscal yang telah dicairkan sebesar Rp 2.654.190.280 dan pada bulan Desember 2009 sebesar Rp 15.429.931.300 dapat tersalurkan, hingga secara keseluruhan Dinas PU Daerah Kota Blitar mampu merealisasikan dana sebesar Rp 19.953.054.180 (99.77%). Meski terdapat kesan terburu buru dan hendak menghabiskan alokasi dana yang ada, namun semua dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

PE E AP D NY R AN ANAS IMU U F K T L S IS AL
16 14

s n o l i B

12 10 8 6 4 2 AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER

DINAS NAK TR ER ANS K . TUL AB UNG UNG AG DINAS PU B INA MAR A & C G IPTA KAR K YA OTA B ITAR L DINAS PU DAER KO B ITAR AH TA L

DINAS NAK K ER OTA B ITAR L DINAS PU B INA MAR & PENGAIR K . B ITAR GA AN AB L

Realisasi yang tidak mencapai 100% bukan merupakan indikasi ketidakberhasilan program stimulus fiskal, namun secara kasar dapat dikatakan hal ini menunjukan tingkat kesungguhan dari semua satker yang mendapat kepercayaan mengelola alokasi dana stimulus fiskal yang pada galibnya akan berpengaruh terhadap kesejahteraan dan terciptanya lapangan kerja yang luas dan merata di masyarakat. 4. PENCAIRAN DANA. Proses pencairan dana yang dapat diajukan ke KPPN melalui mekanisme pengajuan SPM oleh satker untuk diproses menjadi SP2D. Dilihat dari jenis belanjanya, SPM dibagi menjadi dua :

• SPM belanja pegawai diajukan ke KPPN untuk membayar gaji pegawai satker yang bersangkutan, masuk dalam kelompok belanja 51. Gaji pegawai terdiri dari gaji induk bulanan, gaji susulan, gaji terusan • SPM non belanja pegawai untuk membiayai kegiatan yang menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi sakter tersebut. Juga terbagi menjadi SPM UP/TUP, SPM GUP dan SPM LS Pada awal tahun anggaran satker menerima DIPA dimana di dalam DIPA tersebut tercantum batasan batasan dana yang dapat diajukan oleh satker ke KPPN untuk membiayai kegiatannya. Sebelumnya satker telah merencanakan dalam satu tahun ke depan akan melaksanakan kegiatan apa saja dan jumlah dana yang dibutuhkan untuk membiayai kegiatan tersebut. Dalam menentukan pencairan dana atas kegiatan tersebut, satker telah memperkirakan kegiatan mana saja yang dapat dibiayai lewat dana UP juga kegiatan yang mesti didanai lewat pengajuan SPM LS, sehingga satker dapat merencanakan waktu dalam pengajuan SPM SPM tersebut ke KPPN. SPM UP akan terkait dengan SPM GUP sebagai wujud pertanggungjawaban satker atas dana UP yang telah diterimanya sebagai pegangan dalam membiayai kegiatan sehari hari yang tentunya tidak boleh melebihi dari batas yang telah ditentukan peraturan (PER-66/PB/2005) yakni maksimal sebesar Rp 10 jt. Untuk SPM LS non belanja pegawai yang pada umumnya untuk membiayai kegiatan belanja modal, satker juga harus memprhitungkan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan, dimana hal ini terkait juga dengan keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, denda dan lain sebagainya. Sehingga dengan perencanaan yang matang perihal jadwal pengajuan SPM ke KPPN diharapkan satker tidak mengalami kendala dan kesulitan pada waktu tahun anggaran akan berakhir. Pada awal bulan Januari 2009 SPM yang masuk dan terproses menjadi SP2D sebanyak 209 buah, hal ini mengindikasikan porsi terbanyak diambil oleh SPM gaji pegawai, sehingga sisanya untuk SPM UP. Meski DIPA Tahun Anggaran 2009 telah diserahkan pada awal bulan, seharusnya pada bulan ini juga satker telah mengajukan SPM UP masing masing. Namun pada kenyataannya baru sebagian satker saja yang telah siap dengan SPM UPnya sehingga hanya sebagian yang mengajukan SPMUP pada bulan Januari 2009. Pada bulan April 2009 jumlah SPM yang dapat diproses menjadi SP2D menduduki peringkat tertinggi dalam empat bulan terakhir yakni sebanyak 919 buah, yang berarti satker telah mulai dapat mengatur dan mengukur kesiapannya untuk bulan berikutnya. Dan antara bulan November dan Desember 2009 kenaikan penerimaan SPM dari satker mengalami tingkat yang menggembirakan dan memberikan kontribusi

yang besar kepada KPPN Blitar untuk memanfaatkan waktu kerja lembur. Sebanyak 2.291 buah SPM yang terproses menjadi SP2D menutup tahun Anggaran 2009. Jika menilik lebih awal lagi, sebenarnya pengajuan SPM ke KPPN tergantung masing masing satker dalam mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pengajuan SPM ke KPPN, seperti SK pejabat pengelola keuangan, program dan perencanaan dalam satu tahun ke depan, juga kesiapan personilnya dalam menyajikan bahan bahannya. Secara keseluruhan pengajuan SPM di awal JUMLAH SP2D tahun anggaran dapat NO BULAN SATUAN NOMINAL dijadikan indikasi akan kesiapan satker dalam 1 JANUARI 209 16.695.914.062 melaksanakan pengelolaan 2 PEBRUARI 590 23.704.829.068 anggaran masing masing. 3 MARET 779 36.037.602.610 Satker yang telah 4 APRIL 919 45.434.790.612 mempersiapkan diri jauh 5 MEI 860 34.731.097.739 hari sebelumnya tentunya 6 JUNI 969 51.998.959.755 akan lebih tahu dan sigap 7 JULI 860 39.648.315.202 dalam menghadapi segala 8 AGUSTUS 919 40.233.943.764 permasalahan yang akan 9 SEPTEMBER 1.140 53.007.246.512 dihadapi di tahun anggaran 10 OKTOBER 1.293 65.294.537.155 yang baru, sehingga satker 11 NOPEMBER 1.371 66.109.111.171 dengan kondisi demikian 12 DESEMBER 2.291 82.928.847.833 memberikan nilai lebih JUMLAH 12.200 555.825.195.483 tersendiri baik kedalam maupun keluar kantornya. Selama Tahun Anggaran 2009, KPPN Blitar telah memproses SP2D sebanyak 12.200 buah dengan nilai pencairan sebesar Rp 555.825.195.213. Di bulan Januari 2009 terdapat pengajuan sebanyak 209 buah SPM yang telah diproses menjadi SP2D dengan nilai sebesar Rp 16.695.914.062 yang terdiri dari 49 SPM UP, 11 SPM GUP dan 149 SPM LS. Dapat dikatakan hal ini belum mencerminkan tingkat kesiapan satker dalam pengelolaan anggarannya masing masing. 11 SPM GUP di awal bulan Januari dapat dipastikan bahwa ini adalah SPM GUP Nihil yang merupakan pertanggungjawaban satker atas pelaksanaan pencairan dana di tahun anggaran 2008. Sedangkan jumlah 149 SPM LS hanya merupakan SPM gaji yang tentunya telah di ajukan di bulan Desember 2008. Sehingga satker yang benar benar telah siap dalam pengelolaan anggarannya hanya sebanyak 49 unit dengan telah mengajukan SPM UP sebagai cerminan bahwa satker berkeinginan menyegerakan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, sehingga pelayanan terhadap masyarakat dapat secepat mungkin terealisasi. Pada bulan Februari 2009 dari 590 SPM yang diajukan ke KPPN Blitar terdapat 3 buah SPM TUP, 42 SPM UP, 243 SPM GUP dan 302 SPM LS. Keadaan ini mengindikasikan satker telah memulai persiapan pelaksanaan kegiatannya, bahkan terdapat 3 unit satker yang mengajukan SPM TUP dimana kemungkinan besar satker tersebut memiliki kegiatan yang mendesak namun dana UP yang ada tidak mencukupi untuk membiayai pelaksanaannya.
JUMLAH TRANSAKSI PENGELUARAN (SP2D) TA. 2009

HANDLING JUMLAH PENCAIRAN DANA PER JENIS SPM-SP2D PER BULAN TAHUN 2009 SPMGUP 11 243 374 402 431 461 375 418 389 446 540 911 5.001 SPMTUP 3 4 4 7 4 6 9 8 12 12 31 100 SPMLS 149 302 381 508 415 500 477 488 740 830 815 1.342 6.947

BULAN JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JUMLAH

SPM-UP 49 42 20 5 7 4 2 4 3 5 4 7 152

JUMLAH 209 590 779 919 860 969 860 919 1 .140 1 .293 1 .371 2 .291 12 .200

Pada dasarnya setiap kegiatan mendesak yang membutuhkan dana dalam jumlah yang besar dapat mengajukan SPM TUP, dari 3 buah SPM TUP yang diajukan satker pada bulan Februari 2009 menggambarkan satker tersebut telah memiliki perencanaan yang baik terhadap pelaksanaan kegiatannya. Sehingga dari nilai dana UP yang tidak mencukupi satker tersebut mengajukan SPM TUP untuk dipertanggungjawabkan pada periode satu bulan berikutnya. Untuk SPM GUP sebanyak 243 buah, merupakan pertanggungjawaban atas 49 SPM UP yang telah diajukan pada bulan Januari 2009. Sehingga dapat dirata ratakan satu buah SPM UP pada pelaksanaannya menjadi 4 hingga 5 buah SPM GUP yang dialokasikan untuk lima macam BKPK, 5211, 5212, 5221, 5231 dan 5241. Dari bulan Februari 2009 ke bulan selanjutnya terjadi kenaikan penarikan dana yang sangat signifikan terutama untuk SPM GUP dan SPM LS, sedangkan SPM UP dan TUP sebatas hitungan jumlah jari tangan. Pada periode satu semester jumlah kenaikan SPM GUP mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak terlalu tajam hanya sebatas hitungan satuan, berbeda dengan SPM GUP, SPM LS mengalami kenaikan yang tajam bahkan pada dari bulan Maret ke bulan April selisih kenaikan SPM LS mencapai 127 buah dimana pada bulan Maret jumlah SPM LS yang diproses menjadi SP2D LS sebanyak 381 buah dan pada bulan April meningkat sebanyak 508 buah.

KLASIFIKASI PENCAIRAN DANA PER JENIS SPM-SP2D PER BULAN TAHUN 2009

BULAN JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JUMLAH

SPM-UP 1.470.443.00 0 1.409.188.65 0 591.320.00 0 30.900.00 0 93.470.50 0 190.744.50 0 118.714.00 0 142.500.00 0 15.657.50 0 83.912.20 0 80.755.00 0 254.925.50 0 4.482.530.850

SPM-GUP 243.344.344 2.292.609.714 3.874.310.939 3.604.923.168 4.287.783.826 4.346.573.131 3.823.677.138 4.777.397.400 4.115.797.106 4.871.498.945 5.637.256.929 9.319.040.307 51.194.212.947

SPM-TUP 864.736.00 0 433.160.00 0 773.034.00 0 311.828.50 0 261.166.07 9 472.202.00 0 648.245.32 5 456.227.10 0 828.787.70 0 1.556.326.00 0 2.676.903.32 6 9.282.616.030

SPM-LS 14.982.126.718 19.138.294.704 31.138.811.671 41.025.933.474 30.038.014.613 47.200.476.045 35.233.722.064 34.665.801.039 48.416.368.806 59.523.557.093 58.834.773.242 70.667.955.917 490.865.835.386

JUMLAH 16.695.914.062 23.704.829.068 36.037.602.610 45.434.790.642 34.731.097.439 51.998.959.755 39.648.315.202 40.233.943.764 53.004.050.512 65.307.755.938 66.109.111.171 82.918.825.050 555.825.195.213

Yang sedikit mengalami anomali pada penerimaan SPM di KPPN Blitar terjadi pada triwulan keempat tahun anggaran 2009, dimana pada bulan Oktober, November dan Desember masih terdapat satker yang mengajukan SPM UP. Pada bulan Oktober terdapat 5 buah SPM UP yang diproses menjadi SP2D dengan nilai sebesar Rp 83.912.200 sehingga rata rata per SPM UP sebesar Rp 15jt-an. Bulan November 2009 juga terdapat pengajuan SPM UP sebanyak 4 buah dengan nilai sebesar Rp 80.755.000 sehingga rata ratanya meningkat dari periode bulan sebelumnya menjadi sekitar Rp 20 jt-an. Bahkan di bulan Desember 2009 yang merupakan bulan akhir dalam tahun anggaran 2009 masih terdapat 7 satker yang mengajukan SPM UP, meningkat hampir dua kali lipat dari bulan sebelumnya. Nilai yang ditagihkanpun mengalami kenaikan yang tajam, sebesar Rp 254.925.500 meningkat hampir tiga kali lipat dari tagihan SPM UP bulan November 2009, sehingga rata rata satu unit satker mengajukan dana sekitar Rp 30 jt-an. Ini merupakan fenomena yang menarik dan sedikit menyimpang dari kebiasaan dan alam fikiran sewajarnya, karena beberapa alasan sebagai berikut : • Bulan Desember adalah bulan terakhir pada periode tahun anggaran yang berlaku di Indonesia, sehingga SPM UP yang seharusnya diajukan pada awal tahun anggaran berjalan untuk membiayai kegiatan operasional sehari hari perkantoran namun diajukan pada bulan terakhir periode tahun anggaran. Selama 11 bulan

sebelumnya satker tersebut mendapatkan dana dari mana, padahal pelaksanaan kegiatan tetap harus berjalan sebagaimana mestinya. • Besaran jumlah dana yang dimintakan juga memberikan alasan tersendiri, dengan rata rata sebesar Rp 30 jt-an menimbulkan satu pertanyaan mendasar, jika selama 11 bulan tidak mengajukan pencaian dana UP, bagaimana dalam waktu yang sangat pendek satker dapat mempertanggungjawabkan penggunaan dananya • Pertanyaan selanjutnya atas fenomena ini, selama 11 bulan kebelakang satker tersebut melaksanakan kegiatan apa saja sehingga dana yang telah dialokasikan untuk membiayai kegiatan tersebut baru diajukan pencairannya pada bulan menjelang akhir tahun anggaran berjalan.

PROPO
Dari beberapa ganjalan tersebut diatas terdapat beberapa kemungkinan yang menjadi latar belakang terjadinya anomali tersebut : • Satker baru menerima DIPA pada bulan menjelang tahun anggaran berakhir, sehingga pengajuan SPM GU juga mengalami kelambatan. Namun hal ini sangat kecil kemungkinannya mengingat pada awal tahun anggaran DIPA telah dibagikan dan disampaikan ke semua satker • Nilai dalam DIPA satker yang bersangkutan mendapatkan tambahan dana untuk kegiatan operasional perkantoran, sehingga besaran UP yang telah diajukan juga mengalami kenaikan dan baru dimintakan pada bulan Desember 2009 • Terbentuknya satker baru akibat adanya reorganisasi di pemerintah daerah lingkup wilayah pembayaran KPPN Blitar, mengingat institusi baru juga membutuhkan dana operasional sendiri • Terdapat satker yang memiliki dana yang berasal dari Pinjaman/Hibah Luar Negeri, sehingga pengajuan SPM UP-nya juga dipisahkan antara beban Rupiah Murni dan beban Rekening Khusus, yang salah satunya baru dimintakan pencairan dana UP-nya pada bulan Desember 2009

600

p R r a l i M

Namun demikian yang perlu menjadi perhatian kita (KPPN Blitar) dimana fungsi sebagai pelayan dan guru adalah selalu memberikan dan menyampaikan pengertian dan pemahaman kepada semua satker agar dalam prose pengajuan aplikasi pencairan dananya tidak terkesan terburu buru dan seakan hanya ingin menghabiskan dana yang ada. Perencanaan tetap memegang peranan yang penting dalam pelaksanaan pengelolaan anggaran. Sehingga pelaksanaan pekerjaan yang menjadi tugas pokok satker dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Dalam Tahun Anggaran 2009, KPPN Blitar melayani pembayaran 124 unit satker yang tersebar di Kota Blitar, Kab Blitar dan Kab Tulungagung, sedangkan jumlah SPM UP yang terproses menjadi SP2D sampai dengan bulan Desember 2009 sebanyak 152 buah. Dapat disimpulkan ada sekitar 28 satker yang mengajukan SPM UP sebanyak dua buah, hal ini berarti satker satker tersebut memiliki dua sumber alokasi dana dalam DIPA yakni dari Rupiah Murni dan Pinjaman/Hibah Luar Negeri.

PROPORS S I PM T UN2009 AH
SPM-UP 1,25% SPM-GUP 40,99%

SPM-LS 56,94%

SPM-TUP 0,82%

Fenomena lain yang menarik untuk di simak adalah pengajuan SPM TUP di triwulan IV tahun anggaran 2009. Pada bulan Oktober 2009 terdapat 12 satker yang mengajukan SPM TUP dengan nilai pencairan dana sebesar Rp 828.787.700 sehingga nilai rata rata per SPM TUP adalah Rp 26.735.087 suatu jumlah yang relatif memadai untuk membiayai kegiatan selama satu bulan pada satker yang terdapat di lokasi wilayah pembayaran KPPN Blitar. Di bulan November 2009 satker yang mengajukan SPM TUP masih sebanyak 12 unit, namun dengan nilai lebih besar dua kali dari permintaan bulan Oktober 2009 yakni Rp 1.556.326.000 sehingga rata rata per satker mencairkan dana TUP sebesar Rp 50.204.065. Untuk skala kota Blitar maupun Kab Blitar dan Kab Tulungagung dana sebesar ini sangat memadai jika akan digunakan membiayai kegiatan sehari hari perkantoran selama satu bulan. Secara hitungan kasar satker dapat mengadakan satu kegiatan yang pada akhirnya memberi nilai lebih tingkat manfaat dan kegunaannya. Dan pada bulan Desember 2009 di puncak akhir tahun anggaran 2009, masih ada 31 satker yang mengajukan SPM TUP dengan total nilai mencapai Rp 2.676.903.326 hampir dua kali nilai SPM TUP pada bulan sebelumnya. Rata rata per satker pun meningkat sebesar Rp 86.351.720 sebuah jumlah yang sangat besar jika dilihat dari rata rata dana UP yang diajukan satker selama tahun anggaran 2009. (Dari jumlah dana UP yang telah cair

sebesar Rp 4.482.530.850 dengan permintaan sebanyak 152 SPM UP, maka rata rata nilai UP satu kali pencairan sebesar Rp 29.490.335). Besarnya permintaan dana TUP di akhir tahun anggaran membuat satker yang bersangkutan harus memberikan tenaga ekstra saat batas waktu pertanggungjawaban telah tiba, karena jika satker tidak dapat mempertanggungjawabkan semua pengeluaran dan pembayaran yang dilakukan atas dana TUP tersebut, sisa dana yang ada harus disetorkan kembali ke kas negara. Saat satker tidak mampu menyelesaikan dana TUP yang tersisa, maka sejumlah itu pula akan terus muncul dalam laporan keuangan satker yang bersangkutan hingga dapat mengurangi jatah penerimaan UP tahun anggaran berikutnya, namun pertanggungjawaban tetap menjadi kewajiban satker yang harus dituntaskan hingga tidak bersisa satu rupiahpun.
DATA REALISASI PENCAIRAN DANA GAJI PEGAWAI PER BULAN TAHUN 2009 JUMLAH PEGAWAI 5.104 5.182 5.184 5.228 5.168 5.157 5.155 5.138 5.117 5.172 4.391 5.510 61.506 JUMLAH SATKER 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 936

BULAN JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JUMLAH

NILAI UANG 14.044.523.680 13.953.162.602 14.241.789.779 15.753.970.682 15.717.930.244 15.616.022.222 15.668.582.266 15.619.232.098 15.474.050.081 15.673.102.707 12.482.579.796 16.291.021.206 180.535.967.363

Untuk SPM GUP dan LS tidak ada keadaan yang membutuhkan perhatian lebih hanya kejadian biasa seperti yang sering terjadi pada KPPN KPPN lainnya. Namun demikian ada sesuatu hal yang dapat kita cermati bersama yakni : • Pengajuan SPM GUP terjadi kenaikan yang tajam pada periode bulan Januari ke bulan Februari dimana nilai realisasi pencairan dana lewat SPM GUP sebesar Rp 243.344.344 meningkat menjadi sebesar Rp 2.292.609.714, sepuluh kali dari bulan Januari 2009. Juga di periode bulan November ke bulan Desember 2009 terjadi peningkatan hampir dua kali, dimana pada bulan November nilai SPM GUP yang diajukan ke KPPN Blitar sebesar Rp 5.637.256.929 dengan handling sebanyak 540 buah SPM, dan di bulan Desember 2009 jumlah handling sebanyak 911 buah SPM dengan nilai sebesar Rp 9.319.040.307. pada bulan Januari 2009 kemungkinan besar satker mengajukannya sebagai pertanggungjawaban atas UP tahun anggaran 2008. Sehingga baru pada bulan Februari 2009 SPM GUP yang diajukan ke KPPN Blitar benar benar pertanggungjawaban atas SPM UP yang diajukan pada bulan Januari 2009.

• SPM LS yang diajukan ke KPPN Blitar mengalami kenaikan yang signifikan pada

bulan Februari ke bulan Maret 2009 juga pada bulan November ke bulan Desember 2009, termasuk didalamnya SPM LS gaji dan non gaji. Pada bulan Februari 2009 dengan jumlah handling sebanyak 302 nilai dana yang dicairkan sebanyak Rp 19.138.294.704 dan pada bulan Maret jumlah handling naik menjadi 381 dengan nilai sebesar Rp 31.138.811.671. jumlah handling mengalami kenaikan sebanyak 79 buah namun nilainya mengalami kenaikan hampir dua kali lipat. Dari sini tercermin adanya kenaikan penarikan dana non gaji sebesar Rp 11 M. Kenaikan penarikan dana juga terjadi pada bulan November ke bulan Desember 2009. Pada bulan November 2009 jumlah handling SPM LS yang diproses menjadi SP2D sebanyak 815 dengan nilai sebesar Rp 58.834.773.242 dan di bulan Desember jumlah handling SPM LS yang diajukan satker sebanyak 1.342 dengan nilai sebesar Rp 70.667.955.917. Kenaikan jumlah handling SPM LS sebanyak 527 (80% dari bulan sebelumnya) memberikan kontribusi yang besar bagi jumlah realisasi pencairan dana yang juga mengalami kenaikan sebesar Rp 11.833.182.675
DATA PENERBITAN SKPP PER BULAN TAHUN 2009 JUMLAH PEGAWAI 40 22 27 55 34 41 50 55 35 51 48 26 484

BULAN JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JUMLAH

JUMLAH SKPP 40 22 27 55 34 41 50 55 35 51 48 26 484

Dari 124 satker yang menjadi mitra kerja KPPN Blitar sebanyak 78 satker mengajukan pencairan dana gaji pegawai. Pada bulan Januari 2009 jumlah pegawai yang tercakup dalam 78 satker sebanyak 5.104 jiwa dengan total penarikan dana sebesar Rp 14.044.523.680. Meski pada bulan Januari 2009 KPPN Blitar telah menerbitkan SKPP sebanyak 40 buah, baik karena mutasi pindah maupun karena memasuki masa pensiun, namun jumlah pegawai yang ada bukannya menurun tetapi semakin bertambah menjadi 5.182 jiwa dengan pengajuan pencairan dana gaji pegawai sejumlah Rp 13.953.162.602. Kenaikan dan penurunan jumlah selama tahun anggaran 2009 tidak mengalami fluktuasi yang berarti, hanya pada bulan Oktober, Nobember dan Desember 2009 jumlah pegawai mengalami naik turun yang sedikit tajam. Pada bulan Oktober 2009 jumlah pegawai adalah 5.172 jiwa dengan pengajuan pencairan dana gaji sebesar Rp 15.673.102.707 Pada bulan November 2009 terjadi perubahan komposisi

jumlah pegawai dimana banyak terjadi mutasi sehingga jumlah pegawai menjadi 4.391 jiwa dan jumlah pencairan dana sebesar Rp 12.482.579.796 Hingga pada bulan Desember 2009 jumlah pegawai kembali naik menjadi 5.510 jiwa dengan nilai pencairan Rp 16.291.021.206. Dengan memperbandingkan antara jumlah pegawai seluruh satker, jumlah SPM yang terproses menjadi SP2D dan juga nilai pencairan dana yang ada dengan jumlah pelaksana sebanyak 7 orang pada Seksi Perbendaharaan KPPN Blitar yang bertugas di Front Office dan Middle Office dapat kita lihat sebagai berikut : • Jumlah satker yang menjadi tugas pelayanan KPPN Blitar adalah 124 satker, sehingga rata rata satu orang pelaksana melayani 17-18 unit satker • Jumlah pegawai seluruh satker yang pencairan belanja pegawainya lewat KPPN Blitar sebanyak 61.526 jiwa pada 78 satker, perbulannya sebanyak 5.126 sehingga rata rata satu pelaksana pada Seksi Perbendaharaan KPPN Blitar melayani 732 jiwa pegawai satker. • Selama satu tahun anggaran 2009 nilai pencairan dana belanja gaji pegawai sebesar Rp 180.535.967.363 memberikan porsi bagi masing masing pegawai sebanyak Rp 25.790.852.480 • Seringnya terjadi mutasi pindah maupun pensiun di wilayah kerja KPPN Blitar hingga pada akhir bulan Desember 2009 telah menerbitkan SKPP sebanyak 484 buah dan rata rata satu pegawai menerbitkan 69 SKPP • SPM yang diajukan ke KPPN Blitar secara keseluruhan selama satu tahun berjumlah 12.200 buah memberikan kontribusi bagi masing masing pegawai sebanyak 1.743 buah SPM jika dirata rata perbulan sebanyak 145 SPM dan jika dibagi jumlah pegawai seksi Perbendaharaan mendapat 7 buah SPM per pegawai per hari, dari angka tersebut kita dapat per harinya KPPN Blitar menerima SPM sekitar 50 buah SPM (baik belanja pegawai maupun non belanja pegawai) Dengan menerapkan prinsip prinsip KPPN Percontohan, KPPN Blitar telah mampu menyelesaikan satu SPM terproses menjadi SP2D dalam waktu rata rata 30 menit per SPM. Meski secara rentang waktu dari bulan Januari hingga bulan Desember 2009 terdapat fluktuasi waktu proses penyelesaian SPM menjadi SP2D. Pada bulan Januari 2009 dimana jumlah SPM yang masuk masih belum terlalu banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu buah SPM menjadi SP2D selama 51 menit. Seiring bergantinya bulan dan bertambahnya volume SPM yang diajukan satker ke KPPN Blitar, waktu yang diperlukan untuk memproses penyelesaian SPM menjadi SP2D juga semakin singkat. Bahkan pada bulan Mei 2009, dimana jumlah SPM yang diterima petugas di front office sebanyak 860 buah waktu rata rata yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu buah SPM adalah 17 menit, meski pada kenyataannya tidak semua membutuhkan waktu sedemikian singkat, dengan kemungkinan ada SPM yang waktu prosesnya lebih lama dan ada juga SPM yang proses penyelesaiannya menempuh waktu yang lebih singkat dari 17 menit. Namun secara teknis tetap sesuai prosedur yang telah digariskan yakni selama satu jam.

WAKTU PENYELESAIAN SPM-SP2D PER BULAN TAHUN 2009 JUMLAH SPM-SP2D 209 590 779 919 860 969 860 919 1.140 1.293 1.371 2.291 12.200 RATA-RATA WAKTU PENYELESAIAN 51 menit 37 menit 28 menit 27 menit 17 menit 20 menit 32 menit 23 menit 42 menit 25 menit 28 menit 36 menit 30 menit

BULAN JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JUMLAH

Satker selama mengajukan SPM tidak selalu memenuhi persyaratan kebenaran dan kelengkapan dokumennya. Dari 12.200 SPM yang telah terproses menjadi SP2D pada dasarnya ada SPM SPM yang belum memenuhi syarat sehingga mesti dikembalikan kepada satker yang bersangkutan dan tidak dapat diproses lebih lanjut menjadi SP2D. Jumlah SPM yang diajukan satker ke KPPN Blitar namun dikembalikan karena kesalahan dan kekurangan lampiran dan persyaratan sebanyak 148 buah, dengan beragam alasan pengembalian. Jika dirata rata dari 148 SPM sebanyak 12 SPM per bulan yang tidak memenuhi persyaratan. Pengembalian SPM sebanyak 12 buah per bulan bukan merupakan jumlah yang berarti mengingat dalam satu bulan KPPN Blitar secara rata rata mampu menyelesaikan SPM sebanyak 145 buah (0,08%). Dalam rangka mengurangi dan memperkecil tingkat pengembalian SPM pada KPPN Blitar, telah diambil langkah langkah sebagai berikut : • Pelaksanaan sosisalisasi dan update aplikasi di awal tahun anggaran berjalan, dengan harapan semua satker yang telah mengikuti kegiatan ini dapat menerapkannya di kantor masing masing sehingga dapat memperkecil dan meminimalisir kesalahan pada saat pengajuan SPM ke KPPN karena telah mendapatkan pemahaman di awal tahun anggaran • Update data pada laman web, satker yang masih belum faham secara menyeluruh perihal proses dan tata cara pengajuan dan pembuatan SPM dapat mengakses semua kebutuhannya di website KPPN Blitar, sehingga lokasi yang jauh dari KPPN Blitar tidak menjadi kendala bagi semua satker untuk mendapatkan data dan peraturan perundangan undangan terkait proses pengajuan SPM ke KPPN

• Penyampaian aturan dan edaran yang berkaitan dengan proses pembayaran,

KPPN Blitar akan menyampaikan kepada satker setiap ada peraturan dan edaran baru yang terkait dengan satu proses pencairan dana, dengan ini diharapkan satker yang bersangkutan dapat mengetahui perkembangan pengajuan SPM ke KPPN dan tercapai kesepahaman yang sama antara satker dan KPPN Blitar.
DATA PENGEMBALIAN SPM PER BULAN TAHUN 2009 BULAN JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JUMLAH JUMLAH SPM 213 599 791 934 874 971 863 922 1.147 1.312 1.398 2.324 12.348 DIKEMBALIKAN 4 9 12 15 14 2 3 3 7 19 27 33 148 % 1,88% 1,50% 1,52% 1,61% 1,60% 0,21% 0,35% 0,33% 0,61% 1,45% 1,93% 1,42% 1,20%

Ada kalanya pengajuan SPM dari satker meski telah terproses menjadi SP2D, dana yang hendak ditransfer oleh pihak bank ke rekening yang bersangkutan namun terkendala karena adanya kesalahan rekening ataupun nama penerima. Sehingga dana yang seharusnya pada hari itu juga telah diterima yang bersangkutan, tidak dapat segera dicairkan karena kesalahan tersebut. Pada akhirnya dana tersebut harus segera disetorkan ke kas negara. Namun masih ada waktu selama 7 hari untuk memperbaiki ke rekening yang benar. Dari 12.200 SP2D yang telah diproses oleh KPPN Blitar terdapat 55 buah SP2D yang mengalami retur dari pihak bank penerima. Pada bulan Januari 2009 dimana jumlah SPM yang masuk masih terhitung sedikit (209 SP2D) terdapat 6 buah SP2D yang diretur oleh pihak bank penerima. Pada bulan Juli terjadi peningkatan yang tajam atas SP2D yang diretur oleh pihak bank sebanyak 17 dari 860 buah SP2D. Pada bulan bulan berikutnya saat volume penyelesaian SP2D meningkat jumlah SP2D yang mengalami kesalahan rekening semakin menurun dan puncaknya pada bulan Desember 2009, KPPN Blitar telah memproses 2.291 buah SP2D namun 8 diantaranya diretur oleh pihak bank karena kesalahan nama penerima dan no rekening. Kesalahan pencantuman nama penerima dan nomor rekening yang bersangkutan pada (ADK) SPM dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain : • Proses perekaman nama penerima dan no rekening pada aplikasi SPM dilakukan secara manual. Pada aplikasi SPM terdapat menu referensi yang terdiri dari menu perekaman nama satker, KPPN pembayar, nomor SPM, user, bank pos, bendaharawan, pejabat (baik penandatangan SPM maupun petugas perekaman SPM), bank (bank penerima rekening), jenis dokumen (DIPA, SKPA) dan lain lain.

Sebelum melakukan perekaman SPM, semestinya petugas perekam melakukan pengisian referensi secara lengkap dan benar. Untuk perekaman nama penerima dana dan no rekening dilakukan pada menu referensi bendaharawan, sehingga pada saat melakukan perekaman SPM, nama penerima, alamat dan no rekening juga bank penerima tidak perlu dilakukan pengetikan ulang secara manual, cukup dengan memanggil kode bendaharawan yang telah direkam pada proses awal tadi, maka nama penerima serta no rekening secara otomatis akan muncul. Namun perlu dipastikan agar saat melakukan proses perekaman pada menu referensi, nama penerima dan no rekening telah sesuai dengan data yang ada di buku tabungan/giro yang bersangkutan. • Petugas perekaman SPM telah melakukan proses yang benar pada awal pengisian referensi, namun pada saat membuat SPM lain dengan nama penerima dan no rekening yang sama, petugas perekaman SPM melakukan pengisian ulang pada menu referensi, sehingga saat penulisan data penerima dengan memanggil kode bendahara mengalami proses tumpang tindih karena terdapat lebih dari satu nama yang sama.
DATA RETUR SP2D DARI BANK PENERIMA PER BULAN TAHUN 2009 JUMLAH RETUR 6 3 3 4 17 3 7 4 8 55

BULAN JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JUMLAH

JUMLAH SP2D 209 590 779 919 860 969 860 919 1.140 1.293 1.371 2.291 12.200

% 2,87% 0,00% 0,39% 0,33% 0,47% 0,00% 1,98% 0,33% 0,61% 0,31% 0,00% 0,35% 0,45%

Dari 12.200 SP2D yang telah diproses oleh KPPN Blitar, rata rata per bulan terdapat 4-5 SP2D yang diretur oleh pihak bank. Untuk meminimalisir terulangnya kejadian SP2D diretur oleh pihak bank, KPPN Blitar telah menempuh langkah langkah sebagai berikut :

• Membuat daftar yang berisi keterangan nama dan no rekening penerima masing masing bendahara satker lingkup pembayaran KPPN Blitar dan menampilkannya di layar komputer petugas front office, sehingga saat satker mengajukan SPP petugas FO dapat langsung mengecek kebenarannya • Menyosialisasikan kepada semua satker agar dalam merekam data SPM terlebih dahulu mengisi data referensi dengan benar dan tidak mengisinya dengan lebih dari satu data yang sama • Untuk SPM LS non belanja pegawai, petugas KPPN Blitar harus ekstra hati hati sehingga disarankan kepada satker yang mengajukan pencairan dana atas SPM LS non belanja pegawai agar melampirkan copy rekening fihak ketiga yang akan menerima dana atas SP2D LS tersebut.

PENATAUSAHAAN PENERIMAAN NEGARA. Pemerintah pada saat ini masih mengandalkan penerimaan dari sektor perpajakan, mengingat dalam sebuah negara maju pendapatan negara diutamakan dari pajak yang berarti tingkat kemampuan rakyat untuk membayar pajak tinggi dan tingkat pertumbuhan ekonomi juga seiring sejalan. Maka penerimaan pajak yang meningkat mengindikasikan bahwa ekonomi suatu negara sedang tumbuh dan berkembang. Kebijakan perpajakan yang ditempuh oleh pemerintah dalam meningkatkan pendapatan dari sektor perpajakan selama tahun anggaran 2009 antara lain : 1. Program intensifikasi dilakukan melalui beberapa kegiatan : mapping, mendapatkan gambaran umum potensi perpajakan dan keunggulan fiskal di wilayah masing masing kantor/unit kerja yang berguna sebagai petunjuk dan sarana analisis untuk menggali potensi penerimaan, pelayanan dan pengawasan; profiling wajib pajak, menyajikan informasi fiskal Wp secara individu, mengukur tingkat risiko dan kepatuhan WP, mengenal WP, memonitor perkembangan usaha WP, melakukan pengawasan, penggalian potensi dan pelayanan yang lebih baik; benchmarking, proses pembuatan ukuran atau besaran suatu kegiatan yang wajar dan terbaik yang digunakan sebagai ukuran wajar; aktivasi wajib pajak nonfiler; pemantauan kepatuhan WP orang pribadi potensial; pemanfaatan data fihak ketiga; optimalisasi pemanfaatan data perpajakan, uji silang laporan satu wajib pajak dengan seluruh wajib pajak lainnya yang mencakup seluruh jenis pajak yang meliputi data SPT, faktur pajak, bukti potong PPh, daftar pemegang saham, jumlah harta, dan data pembayaran pajak. 2. Program ekstensifikasi dilakukan melalui tiga pendekatan : - pendekatan berbasis pemberi kerja dan bendahara pemerintah dengan sasaran meliputi karyawan, pegawai negeri sipil dan pejabat negara; - pendekatan berbasis properti dengan sasaran orang pribadi yang melakukan usaha di pusat perdagangan; - pendekatan berbasis profesi dengan sasaran dokter, artis, pengacara dan notaris; - Modernisasi kantor pelayanan pajak dan kepabeanan, meliputi : reformasi struktur organisasi berdasarkan fungsi; business process yang berorientasi pada pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi; pembentukan data processing center; pengembangan sumber daya manusia; pelaksanaan good governance; perbaikan kelembagaan yang mengarah pada konsep one stop service. Penerimaan negara yang menjadi pengelolaan KPPN Blitar berasal dari dua sumber, yakni : • Potongan SPM, berasal dari pajak, denda, sewa atas pekerjaan yang dilaksanakan oleh fihak ketiga yang langsung dipotong oleh bendahara lewat potongan SPM yang diajukan ke KPPN Blitar • Setoran langsung masyarakat lewat bank/pos persepsi, merupakan wujud partisipasi, kesadaran dan kehendak masyarakat untuk ikut dalam membiayai pembangunan dan kegiatan kepemerintahan dengan cara menyetorkan langsung ke bank/pos persepsi yang akan menyampaikan laporan harian penerimaan ke KPPN Blitar

A.

PENERIMAAN NEGARA PER BULAN TAHUN 2009 BULAN JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JUMLAH JUMLAH PENERIMAAN 42.616.737.397 47.318.218.563 67.677.240.517 58.206.259.088 64.076.146.367 76.734.254.834 78.572.756.104 86.072.380.646 69.627.003.834 99.589.576.320 63.609.102.445 111.300.315.694 865.399.991.809

Dari data penerimaan per triwulan Tahun Anggaran 2009 dapat kita lihat penerimaan dari cukai menempati peringkat pertama diikuti oleh Pajak Pertambahan Nilai. Hal ini mengindikasikan, bahwa Kota Blitar, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung terdapat sentra sentra industri yang memberikan sumbangan besar terhadap penerimaan yang dikelola oleh kantor Bea dan Cukai, juga besarnya pengadaan barang dan jasa ada di tiga wilayah tersebut, melihat PPN juga menyumbang alokasi penerimaan yang besar.
DAFTAR PENERIMAAN NEGARA PER JENIS PENERIMAAN PADA KPPN BLITAR TA. 2009

BULAN PPH PPN PBB BPHTB CUKAI PAJAK LAINNYA PNBP JUMLAH

TRIWULAN I 25.115.375.1 29 37.793.350.6 41 1.859.791.1 93 3.616.561.1 66 80.268.764.2 25 30.600.0 00 8.927.754.1 23 157.612.196.4 77

TRIWULAN II 30.295.834.3 03 41.786.268.5 12 20.076.531.9 89 3.530.732.6 00 93.894.165.3 35 605.3 00 9.432.522.2 50 199.016.660.2 89

TRIWULAN III 29.039.729.3 30 54.216.690.1 06 42.444.536.4 56 3.398.373.3 17 95.429.425.9 70 19.250.0 00 9.724.135.4 05 234.272.140.5 84

TRIWULAN IV 35.630.984. 303 76.650.938. 007 25.176.399. 367 4.902.199. 368 118.816.875. 200 30.000. 000 13.291.598. 214 274.498.994. 459

JUMLAH 120.081.923. 065 210.447.247. 266 89.557.259. 005 15.447.866. 451 388.409.230. 730 80.455. 300 41.376.009. 992 865.399.991. 809

Penerimaan dari cukai hasil tembakau yang dibuat di Indonesia dibagihasilkan kepada daerah penghasil tembakau sebesar 2 % (UU Nomor 39 Tahun 2007) yang akan digunakan untuk mendanai : • Peningkatan kualitas bahan baku • Pembinaan industri • Pembinaan lingkungan sosial • Sosialisasi ketentuan di bidang cukai • Pemberantasan barang kena cukai ilegal Karena penggunaannya yang telah ditetapkan, maka dana bagi hasil cukai atas tembakau lebih bersifat specific grant. Penerimaan cukai yang merupakan penyumbang terbesar secara pasti mengalami kenaikan yang tajam dari periode ke periode berikutnya, hingga pada triwulan keempat penerimaan dari cukai memberikan angka pasti sebesar Rp 118.816.875.200 dan akumulasi seluruhnya sebesar Rp 388.409.230.730 dimana untuk daerah yang dapat dibilang kota kecil seperti Kota Blitar, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung merupakan jumlah yang sangat besar.

TRE

Sungguhpun demikian sentra sentra industri semacam ini harus dipelihara keberadaan dan keberlangsungan usahanya, sehingga dapat dihindari adanya industri berskala rumah tangga yang telah berjalan dengan baik namun karena tidak adanya bantuan dan perhatian dari pemerintah baik berupa bantuan modal maupun manajemen terjadi kemandegan pada industri industri tersebut. Tentunya akan berdampak sangat tidak baik bagi keberlangsungan perekonomian masyarakat yang pada akhirnya akan membuat masyarakat bertambah apatis dan putus harapan terhadap segala program dan himbauan pemerintah. Peningkatan dari triwulan satu ke triwulan keempat Tahun Anggaran 2009, juga dalam bulan per bulannya memberikan gambaran bahwa semua komponen masyarakat di tiga wilayah memberikan kontribusi sangat besar dalam proses pembangunan yang terus berjalan. Kecuali Pajak Bumi dan Bangunan yang mengalami tingkat kenaikan tertinggi pada triwulan ketiga, penerimaan yang lainnya berpuncak pada triwulan keempat. PBB memberikan sumbangan terbesarnya pada triwulan ketiga yakni Rp 42.444.536.456 dan menurun kembali pada triwulan keempat menjadi sebesar Rp 25.176.399.367 Untuk PPh yang menempati peringkat ketiga dalam data per jenis penerimaan, di dalamnya terdapat PPh pasal 21 dan PPh pasal 25/29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri. Kedua jenis pajak penghasilan tersebut sesuai pasal 13 UU Nomor 33 Tahun 2004 dan pasal 8 PP Nomor 55 Tahun 2006 merupakan komponen dana bagi hasil

Miliar Rp
50 45 40 35

dimana porsi pembagiannya adalah 60 % untuk kabupaten/kota dan 40 % untuk provinsi. Penetapan alokasi dana bagi hasil PPh pasal 21 dan PPh pasal 25/29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri untuk tiap daerah terdiri atas : 1. Alokasi sementara didasarkan atas rencana penerimaan dana bagi hasil yang ditetapkan paling lambat dua bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan 2. Alokasi definitif didasarkan pada prognosis realisasi penerimaan dana bagi hasil PPh dan ditetapkan paling lambat pada bulan pertama triwulan keempat tahun anggaran berjalan Penyalurannya dilaksanakan berdasarkan prognosis realisasi penerimaan PPh Pasal 21 dan Pasal 25/29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri tahun anggaran berjalan secara triwulanan, dengan rincian sebagai berikut : • Penyaluran triwulan pertama sampai dengan triwulan ketiga masing masing sebesar 20% dari alokasi sementara • Penyaluran triwulan keempat didasarkan pada selisih antara pembagian definitif dan jumlah dana yang telah dicairkan selama triwulan pertama sampai dengan triwulan ketiga Apabila penyaluran triwulan pertama sampai dengan triwulan ketiga yang didasarkan atas pembagian sementara lebih besar dari pada pembagian definitif, kelebihan dimaksud diperhitungkan dalam penyaluran tahun anggaran berikutnya. Dari penerimaan PPh sebesar Rp 120.055.723.065 terdiri dari : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis PPh Pendapatan PPh Pasal 21 Pendapatan PPh Pasal 22 Pendapatan PPh Pasal 22 Impor Pendapatan PPh Pasal 23 Pendapatan PPh Pasal 25/29 orang pribadi Pendapatan PPh Pasal 25/29 badan Pendapatan PPh Pasal 26 Pendapatan PPh Final Pendapatan PPh Non Migas Lainnya Jumlah (Rp) 57.001.906.218 8.167.017.694 4.706.468.068 4.617.799.081 6.908.370.225 771.899 38.653.389.880 -

Dari nilai sebesar Rp 57.001.906.218 untuk PPh Pasal 21 dan sebesar Rp 4.617.779.081 untuk PPh Pasal 25/29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri, maka 60% dari jumlah tersebut menjadi hak kabupaten/kota dalam hal ini terbagi menjadi Kota Blitar, Kab.Blitar dan Kab.Tulungagung dan 40% sisanya menjadi bagian provinsi. Sehingga dana bagi hasil untuk daerah kabupaten/kota sebesar Rp 36.971.823.179 Dengan pembagian yang bersifat block grant akan sangat menguntungkan daerah yang menerima porsi besar karena daerah bebas menggunakannya untuk kepentingan masing masing tanpa campur tangan pusat dalam menentukan peruntukan alokasi dana bagi hasil PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 25/29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri. Hal ini akan memberikan dorongan dan semangat bagi tiap tiap daerah untuk lebih meningkatkan dan mengintensifkan peningkatan penerimaan pajak yang berasal dari PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 25/29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun anggaran 2009 meski hanya sebesar Rp 41.376.009.992 namun memiliki peranan yang sungguh besar di dalam struktur penerimaan Negara, sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 1997 PNBP adalah seluruh penerimaan pemerintah yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan yang meliputi :

• Penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana pemerintah • Penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA) • Penerimaan dari hasil hasil pengelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan • Penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan pemerintah • Penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi • Penerimaan hibah yang merupakan hak pemerintah • Penerimaan lainnya yang diatur dalam undang undang tersendiri Pada tahun 2009 kebijakan PNBP secara umum adalah : • Mengupayakan peningkatan penerimaan dari sektor migas melalui peningkatan produksi/lifting minyak bumi dan gas bumi dan penyempurnaan ketentuan cost recovery • Peningkatan produksi pertambangan umum (batubara, timah, nikel, dan tembaga)serta perbaikan peraturan di sektor pertambangan umum • Menggali potensi potensi yang ada di sektor kehutanan dengan tetap memperhatikan aspek rehabilitasi dan konservasi hutan • Peningkatan pengawasan terhadap pelaksanaan PNBP pada kementerian/lembaga • Peningkatan kinerja pada kementerian/lembaga yang menjalankan fungsi pelayanan kepada masyarakat • Penerapan pay ou ratio antara 5-60% terhadap BUMN PNBP lainnya meliputi : • Pendapatan penjualan hasil produksi/sitaan • Pendapatan jasa • Pendapatan bunga • Pendapatan sewa • Pendapatan bukan pajak dari luar negeri • Pendapatan pendidikan • Pendapatan pelunasan piutang • Pendapatan lainnya dari kegiatan hulu migas • Pendapatan lain lain Dari pembagian PNBP lainnya tersebut yang menjadi pengelolaan KPPN Blitar terutama berasal dari : • Pendapatan penjualan dan sewa yang terdiri dari pendapatan penjualan hasil produksi/sitaan dan pendapatan sewa • Pendapatan Jasa terdiri dari pendapatan jasa I, pendapatan jasa II, pendapatan layanan perbankan, pendapatan jasa kepolisian dan pendapatan jasa lainnya • Pendapatan Kejaksaan dan Peradilan dan Hasil Tindak Pidana Korupsi merupakan hasil pendapatan kejaksaan dan peradilan dan hasil tindak pidana korupsi • Pendapatan pendidikan pendapatan yang berasal dari uang pendidikan, uang ujian masuk dll • Pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi yang telah ditetapkan oleh pengadilan • Pendapatan iuran dan denda pendapatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan, pelaksanaan rekening

pengeluaran bersaldo nihil (TSA) dan pendapatan denda atas kekurangan keterlambatan penyetoran penerimaan Negara oleh bank/pos persepsi • Pendapatan lain lain pendapatan dari penerimaan kembali tahun anggaran yang lalu, pendapatan pelunasan piutang (pelunasan piutang non bendahara, pendapatan pelunasan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh Negara (TGR bendahara), dan pendapatan lain lain (penerimaan kembali persekot gaji, pendapatan anggaran lain lain) Dari tujuh komponen PNBP lainnya yang menjadi wewenang pengelolaan pada KPPN Blitar, terdapat pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi sebesar Rp 224.875.473 hal ini menunjukan kesungguhan instansi kejaksaan dan kehakiman dalam memberantas tindak pidana korupsi di daerah daerah. Hal ini patut dapat mendapatkan apresiasi dari semua pihak yang sangat menginginkan terwujudnya clean government secara menyeluruh dan meliputi semua sektor kehidupan. Juga tak ketinggalan bahwa kesungguhan pihak kejaksaan dan kehakiman akan memberikan tekanan kepada pihak lain yang ingin berbuat dan menyelewengkan wewenangnya.
DAFTAR TRANSAKSI PENERIMAAN (STS/NTPN) TAHUN 2009
JUMLAH TRANSAKSI SATUAN 10.186 10.464 13.042 10.631 11.635 12.465 13.147 10.920 11.193 13.252 15.025 28.003 159.963 NOMINAL 49.669.377.816 54.298.510.794 74.332.037.645 68.752.620.063 75.339.583.180 84.431.199.352 87.641.008.348 94.311.504.648 75.824.780.550 106.887.363.149 70.957.552.724 117.728.703.805 960.174.242.074

BULAN

JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JUMLAH

Dalam hal jumlah transaksi penerimaan juga menggambarkan grafik yang terus naik tajam pada akhir tahun anggaran 2009 terutama pada bulan Oktober November dan Desember 2009, yang puncaknya pada bulan Desember 2009 dengan 28.003 STS, sebesar Rp 117,728,703,805 dari total penerimaan sebesar Rp 960.174.242.074.

TREND
Kesadaran akan pelunasan dan pembayaran pajak semakin merata di masyarakat, sehingga ketika pihak Kantor Pelayanan Pajak mengumumkan batas waktu penyetoran pajak, para wajib pajak berbondong bondong melunasi hutang pajaknya. Sehingga pada akhir tahun anggaran 2009 tingkat pembayaran dan pelunasan pajak naik dengan tajam dan memberikan alokasi penerimaan yang menggembirakan.
DAFTAR PENERIMAAN NEGARA PER BANK PERSEPSI PADA KPPN BLITAR TA. 2009 BULAN MANDIRI CAB. TULUNGAGUNG BNI CAB. TULUNGAGUNG BRI CAB. TULUNGAGUNG MANDIRI CAB. BLITAR BNI CAB. BLITAR BRI CAB. BLITAR BANK MEGA CAB. TULUNGAGUNG BANK JATIM CAB. TULUNGAGUNG BANK JATIM CAB. BLITAR BANK MEGA CAB. BLITAR BCA CAB. BLITAR BCA CAB. TULUNGAGUNG JUMLAH TRIWULAN I 42.639.986.72 7 13.256.839.12 4 25.584.615.08 9 32.708.809.95 2 13.510.007.13 4 7.034.765.79 7 2.963.015.49 7 20.871.922.47 1 17.305.764.75 2 2.424.199.71 2 TRIWULAN II 53.872.979.8 44 20.639.071.8 25 13.423.472.7 58 36.041.807.0 79 14.798.706.8 89 15.395.922.2 46 2.967.799.6 89 32.022.724.8 52 36.358.549.9 92 3.002.367.4 21 TRIWULAN III 35.408.508.24 9 26.923.147.25 0 36.598.199.53 1 46.116.738.42 6 12.635.902.33 9 20.826.435.29 2 1.953.477.56 2 35.928.346.10 4 36.900.176.89 1 4.373.761.90 2 112.600.00 0 TRIWULAN IV 47.445.099.25 4 32.799.781.93 7 28.070.270.56 1 52.926.087.88 8 18.280.101.27 5 22.234.679.99 8 1.319.920.47 0 41.651.812.84 8 41.998.811.40 4 8.184.340.15 6 162.807.61 6 499.906.27 1 295.573.619.67 8 JUMLAH 179.366.574. 074 93.618.840. 136 103.676.557. 939 167.793.443. 345 59.224.717. 637 65.491.803. 333 9.204.213. 218 130.474.806. 275 132.563.303. 039 17.984.669. 191 275.407. 616 499.906. 271 960.174.242. 074

30.000 25.000 20.000
228.523.402.5 95

178.299.926.25 5

257.777.293.54 6

Penerimaan negara di wilayah KPPN Blitar penyetorannya dilakukan di Bank Persepsi. Bank Persepsi untuk KPPN Blitar terdiri dari : 1. Bank Mandiri Cabang Blitar; 2. Bank Mandiri Cabang Tulungagung; 3. Bank BRI Cabang Blitar; 4. Bank BRI Cabang Tulungagung; 5. Bank BNI Cabang Blitar; 6. Bank BNI Cabang Tulungagung; 7. Bank Jatim Cabang Blitar; 8. Bank Jatim Cabang Tulungagung; 9. Bank Mega Cabang Blitar; 10. Bank Mega Cabang Tulungagung; 11. Bank BCA Cabang Blitar; 12. Bank BCA Cabang Tulungagung. Dari 12 bank persepsi yang menjadi mitra kerja KPPN Blitar, Bank Mandiri baik Bank Mandiri Cabang Blitar maupun Bank Mandiri Cabang Tulungagung memberikan kontribusi yang paling besar, hal ini mengingat Bank Mandiri sebagai bank yang paling banyak menerima setoran penerimaan cukai dari pabrik rokok.

B.

PENERIMAAN DAN PENATAUSAHAAN DANA PERHITUNGAN FIHAK KETIGA Tugas KPPN dalam penatausahaan kas diantaranya juga melakukan penatausahaan dan penyetoran dana Perhitungan Fihak Ketiga, dalam hal ini untuk PT Taspen (Persero) dan PT Askes (Persero). Setoran PFK untuk PNS Pusat dilakukan melalui potongan terhadap SP2D Belanja Pegawai satker yang bersangkutan. Sedangkan untuk setoran PNS Daerah dilakukan melalui penatausahaan SSBP bulanan dari Bank Persepsi.

Miliar Rp

180

Data penerimaan PFK, baik PT Taspen maupun PT Askes, dilakukan rekonsiliasi tiap triwulan. Hasil rekonsiliasi merupakan dasar bagi PT Taspen dan PT Askes untuk mengajukan klaim kepada Pemerintah c.q Departemen Keuangan.
DAFTAR PENERIMAAN PFK TAHUN 2009 PENERIMAAN PFK NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 BULAN JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JUMLAH PT. TASPEN (4,75%) 3.229.394.809 3.323.798.049 3.306.084.366 4.496.248.091 4.685.375.649 3.880.287.294 3.841.484.485 3.866.215.557 3.820.886.030 3.814.060.018 3.842.306.690 3.834.161.091 45.940.302.129 PT. ASKES (2%) 1.359.860.685 1.399.661.214 1.392.229.535 1.893.242.830 1.972.990.383 1.633.993.137 1.617.523.689 1.628.668.958 1.609.638.471 1.606.872.946 1.618.778.586 1.615.403.139 19.348.863.574

Data diatas menunjukan penerimaan dari potongan fihak ketiga (sebesar 10% dari gaji setiap PNS, baik pusat maupun daerah) memberikan kontribusi yang sangat besar di dalam akun penerimaan. Pada bulan Januari 2009 potongan 10% dari gaji PNS telah mencapai diatas ½ milyar yakni sebesar Rp 549.261.585 sedangkan dari PNS daerah hampir sepuluh kali lipatnya yakni sebesar Rp 6.249.454.329. dari bulan ke bulan semakin terlihat penerimaan PFK mengalami kenaikan yang signifikan. Bila dilihat dari pengelolanya antara PT Askes dan PT Taspen, keduanya masih memiliki semangat yang sama. PT Taspen yang mengelola dana potongan sebesar 4,75% telah menerima jumlah dana yang besar, demikian juga dengan PT Askes. Hal ini memberikan tugas yang berat bagi PT Askes dan PT Taspen dalam mengelola kedua dana tersebut. Mengingat dana potongan fihak ketiga pada akhirnya harus dikembalikan lagi kepada pegawai negeri sipil yang bersangkutan pada saat memasuki masa pensiun, juga ketika ada anggota maupun pribadi pegawai terkena sakit dan membutuhkan perawatan serius di rumah sakit. Pengelolaan yang baik akan memberikan bukti bahwa PT Askes dan PT Taspen telah melaksanakan tugasnya dengan profesional. Peningkatan penerimaan PFK yang menjadi bagian pengelolaan oleh PT Taspen dan juga PT Askes mengalami peningkatan yang menggembirakan pada bulan April dan Mei, sedangkan pada bulan bulan sebelum dan selanjutnya secara grafik terlihat datar datar saja, namun selalu ada kenaikan dan penurunan meski tidak terlalu signifikan, tidak sampai 1-2% kenaikan dan penurunannya.

P NE IMAANP KT UN 2 0 E R F AH 09
5,00

s n o l i B

4,50 4,00 3,50 3,00 2,50 2,00 1,50 1,00 0,50 0,00

PT. TASPEN (4,75% )

PT. ASKES (2% )

Meski pada saat ketika PT Taspen harus membayar uang pensiun pegawai masih memerlukan subsidi dari pemerintah pusat, namun penerimaan dari PFK tersebut juga sangat membantu dalam peningkatan jumlah penerimaan potongan yang dikelola oleh PT Taspen. Demikian juga dengan PT Askes, pada rumah sakit umum daerah untuk kelas kelas tertentu pasien yang menggunakan kartu Askes memang dibebaskan dari segala biaya, namun jika pasien menginginkan nilai lebih dari pelayanan rumah sakit tersebut, mereka diwajibkan untuk membayar kekurangan atas selisih biaya yang ditanggung oleh PT Askes dan nilai lebih yang diinginkan pasien. Pada dasarnya untuk program pensiun PNS berasal dari sharing pembayaran pensiun antara APBN dan PT Taspen, yang jumlahnya semakin meningkat setiap tahunnya. Penetapan sharing sebesar 91 : 9 antara APBN dan PT Taspen tentu saja sangat membebani APBN, untuk itu pemerintah mulai memperbaiki sharing APBN dalam pembayaran pensiun pada tahun anggaran 2009, sesuai dengan rencana pengembalian pola pendanaan pensiun secara bertahap menjadi 100 % beban APBN. Dengan UU Nomor 11 tahun 1969 tentang pensiun pegawai dan pensiun janda/duda pegawai, pemerintah perlu membentuk suatu Dana Pensiun dan menerapkan sistem fully funded dalam program pensiun PNS. Pemerintah sebagai pemberi kerja bersama sama PNS memupuk dana untuk dikelola oleh suatu Dana Pensiun, sehingga pembayaran pensiun di kemudian hari tidak akan membebani APBN dengan akibat pemerintah mesti menyediakan dana awal yang besar untuk menunjang pelaksanaan sistem fully funded.

C.

PENATAUSAHAAN DAN PEMBAGIAN PBB/BPHTB

Dalam rangka pelaksanaan program desentralisasi pemerintah pusat mengalokasikan dana yang bersumber dari pendapatan APBN kepada daerah berdasarkan persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah masing masing yang disebut dana bagi hasil.

Untuk daerah Kota Blitar, Kab. Blitar dan Kab. Tulungagung, PBB sebagai salah satu komponen dana bagi hasil memberikan porsi penerimaan daerah yang tidak sedikit pada tahun anggaran 2009. Bagian daerah atas PBB ditetapkan sebesar 90% dari penerimaan PBB (termasuk biaya pemungutan 9%) sedangkan sisanya sebesar 10% merupakan bagian pemerintah pusat (pasal 12 ayat (1) (2) dan (3) UU Nomor 33 Tahun 2004 dan pasal 5 dan 6 PP nomor 55 Tahun 2006). Penyaluran dana bagi hasil PBB dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan lewat tiga mekanisme yaitu : • Bagian daerah penyalurannya dilaksanakan secara mingguan • Bagian pemerintah pusat yang dibagikan merata kepada Kabupaten/Kota dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu bulan April, Agustus dan bulan November tahun anggaran berjalan • Bagian pemerintah pusat sebagai insentif kepada kabupaten/kota dilaksanakan dalam bulan November tahun anggaran berjalan

P ERB DENG A
Di Kota Blitar, Kab. Blitar dan Kab. Tulungagung puncak penerimaan PBB tidak terjadi pada bulan bulan di akhir tahun anggaran berjalan, namun justru pada pertengahan tahun, penerimaan Negara dari pajak bumi dan bangunan menunjukan jumlah yang besar. Ini terjadi kemungkinan karena pada awal tahun pihak kantor pajak sebagai instansi pengelola penerimaan Negara dari sector pajak, sedang gencar gencarnya bersosialisasi agar masyarakat dalam membayar PBB tempat tinggalnya tidak mengalami keterlambatan, dan pada tengah tahun masyarakat beramai ramai mulai melunasinya. Sehingga kenaikan penerimaan Negara yang berasal dari PBB terjadi pada pertengahan tahun. BPHTB yang juga merupakan komponen penerimaan Negara dari dana bagi hasil, ditetapkan sebesar 80% untuk daerah, sedangkan sisanya 20% merupakan bagian pemerintah pusat yang akan dikembalikan kepada pemerintah daerah (pasal 12 ayat (4) dan (5) UU Nomor 33 Tahun 2004 serta pasal 7 PP Nomo r 55 Tahun 2006).

M i l i a r R p3 8 , 6 5

Penyaluran dana bagi hasil BPHTB dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan BPHTB tahun anggaran berjalan yang dilakukan melalui dua mekanisme yakni : • Bagian daerah penyalurannya dilaksanakan secara mingguan • Bagian pemerintah pusat yang dibagikan merata kepada kabupaten/kota dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu bulan April, Agustus dan bulan November tahun anggaran berjalan

PEMBAGIAN PBB TAHUN 2009
8.000.000.000 7.000.000.000

6.000.000.000 5.000.000.000
PEMERINTAH PUSAT

4.000.000.000

PROVINSI J AWA TIMUR KAB. TULUNGAGUNG

3.000.000.000 2.000.000.000 1.000.000.000

KAB. BLITAR KOTA BLITAR BIAY A PUNGUT

U AR I JU NI M EI M AR ET JU LI AR I IL TU S R O BE R EM BE BE R PE M PE BR AG US JA N O KT EM BE AP R U R

SE PT

Sedangkan penerimaan BPHTB meningkat tajam saat bulan Desember 2009. Dibandingkan perolehan yang diterima oleh dua daerah lainnya yakni Kota Blitar dan Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung mendapat pembagian yang lebih besar. Sedangkan Kota Blitar baik penerimaan PBB maupun BPHTB memperoleh pembagian yang paling sedikit. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat pada saat pemungutan PBB dan BPHTB ditentukan oleh tingkat luas tanah dan bangunan yang ada. Sehingga dengan luas tanah dan bangunan yang lebih besar daripada kedua daerah tersebut, Kabupaten Tulungagung memperoleh pembagian yang juga lebih besar. D. NEGARA. PERBANDINGAN PENGELUARAN DAN PENERIMAAN

Selanjutnya dari informasi transaksi penerimaan dan pengeluaran kas negara pada KPPN Blitar, secara sederhana dapat diketahui cashflow periodik pemerintah dalam lingkup wilayah kerja KPPN Blitar. Variabel cashflow meliputi arus kas masuk (cash inflow) dan arus kas keluar (cash outflow). Cash inflow terdiri dari penerimaan perpajakan, penerimaan PNBP, dan penerimaan dari pengembalian belanja. Sedangkan cash outflow meliputi pengembalian perpajakan, belanja pemerintah, dan transfer dana perimbangan. Penerimaan dan pengeluaran non anggaran dalam hal ini tidak termasuk dari cash inflow maupun cash outflow.

NO

DE S

PR EB
Perbandingan arus kas masuk dengan arus kas keluar menunjukkan bahwa tiap bulan nilai penerimaan dari STS Bank Persepsi lebih besar dari pengeluaran agregat SP2D yang diterbitkan KPPN, kecuali untuk bulan Nopember 2009. Pada saat pengeluaran dan penerimaan terendah pada bulan Januari 2009, arus kas masih menunjukkan surplus Rp 27,432 Miliar. Demikian pula ternyata bulan Desember 2009 tidak hanya menjadi nilai pengeluaran tertinggi (Rp 31,338 Miliar), namun juga merupakan rekor penerimaan terbesar (Rp 79,961 Miliar).
BULAN JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JUMLAH CASH INFLOW 42.616.737.397 47.318.218.563 67.677.240.517 58.206.259.088 64.076.146.367 76.734.254.834 78.572.756.104 86.072.380.646 69.627.003.834 99.589.576.320 63.609.102.445 111.300.315.694 865.399.991.809 CASH OUTFLOW 15.184.267.256 20.960.127.581 35.003.472.730 44.468.688.037 34.311.052.478 51.544.041.358 39.036.877.270 39.409.040.426 52.534.874.712 64.098.851.550 64.468.392.046 79.961.347.529 540.981.032.973 CASH MISMATCH 27.432.470.141 26.358.090.982 32.673.767.787 13.737.571.051 29.765.093.889 25.190.213.476 39.535.878.834 46.663.340.220 17.092.129.122 35.490.724.770 (859.289.601) 31.338.968.165 324.418.958.836

M rR ilia p 120

Pada periode bulan Januari sampai dengan Desember 2009, dapat diketahui bahwa KPPN Blitar memiliki selisih surplus penerimaan sebesar Rp 324,418 Miliar. Hal ini berarti, secara lokal regional, wilayah kerja KPPN Blitar memberikan kontribusi

100

penerimaan negara yang lebih besar dibandingkan pengeluaran belanja pada daerah Blitar dan Tulungagung. Pendalaman atas data transaksi pada Seksi Bendahara Umum, yang berasal dari Laporan Kas Posisi, ternyata memberikan informasi yang bermanfaat untuk memahami pengelolaan kas pemerintah dalam fungsi treasury, maupun manajemen fiskal secara umum. Dalam manajemen fiskal, informasi dari data penerimaan dapat menjelaskan karakteristik kontribusi penerimaan negara pada suatu daerah dan pengaruhnya apabila sumber penerimaan tersebut terganggu. Contohnya adalah, jika sumber penerimaan negara pada wilayah kerja KPPN Blitar adalah penerimaan cukai, maka dapat dibayangkan pengaruhnya terhadap APBN, apabila terdapat kondisi yang menyebabkan pabrik rokok di wilayah Tulungagung tutup atau bangkrut. PENERAPAN TREASURY SINGLE ACCOUNT Sesuai Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan No PER-59/PB/2007 tanggal 12 September 2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Rekening Pengeluaran KPPN Bersaldo Nihil dalam rangka Treasury Single Account (TSA) tidak diperkenankan lagi ada sisa dana yang mengendap di rekening KPPN pada Bank Opersional. Untuk itu kebutuhan dana yang dimintakan oleh KPPN harus dengan cermat diajukan ke Kantor Pusat Ditjen PBN (Dit PKN). Dalam rangka menjamin ketersediaan dana KPPN dapat mengajukan kebutuhan dana dalam tiga tahap : • Permintaan kebutuhan dana awal, permintaan kebutuhan dana yang disampaikan KPPN ke Dit PKN sehari sebelumnya dan diterima sampai dengan pukul 16.30 WIB • Permintaan tambahan kebutuhan dana tahap I, disampaikan oleh KPPN ke Dit PKN sampai dengan pukul 10.30 WIB hari berkenaan • Permintaan tambahan kebutuhan dana tahap II, permintaan disampaikan sampai pukul 13.45 WIB hari berkenaan. Untuk mengantisipasi permintaan dana pencairan SP2D pada keesokan harinya sesuai perdirjen diatas, KPPN Blitar menempuh langkah sebagai berikut : • SMS Center, semua satker yang akan mengajukan SPM pencairan dana pada esok hari, lewat sms diharapkan telah menyampaikan perkiraan permintaan dananya ke KPPN Blitar dan ditunggu hingga pukul 16.30 WIB sebagai dasar permintaan kebutuhan dana awal ke Dit PKN • Untuk satker yang tidak mengirimkan permintaan rencana penarikan lewat SMS center, dapat langsung mengajukan SPM ke KPPN Blitar • Menyampaikan rencana pencairan dana lewat faksimile Selama Tahun Anggaran 2009, KPPN Blitar telah menerima kiriman uang dari Dit PKN berdasarkan permintaan droping dana harian sebesar Rp 514.549.994.748. Pada bulan Januari 2009 saat pengajuan SPM masih terhitung sedikit yakni 209 buah SPM, jumlah droping dana dari Dit PKN sebesar Rp 15.254.981.451, 3% dari seluruh nilai droping selama tahun anggaran 2009. Selanjutnya pada bulan Februari 2009, dimana peningkatan jumlah penerimaan SPM hampir dua kali lipat dari bulan Januari 2009. Nilai droping dana dari Dit PKN sebesar 22.230.223.432 untuk pengajuan SPM sejumlah 590. Bulan Maret 2009, SPM yang diajukan ke KPPN Blitar meningkat hampir 50% dari jumlah SPM bulan sebelumnya yakni 779 buah, dan KPPN Blitar mengajukan droping dana ke Dit PKN sebesar Rp 34.955.528.651 Pada periode triwulan I masih belum terjadi kenaikan yang signifikan antar jumlah SPM yang diproses dan jumlah droping dana yang diajukan ke Dit PKN.

E.

LAPORAN REKAPITULASI BULANAN TRANSAKSI KIRIMAN UANG DARI DIREKTORAT PKN KPPN BLITAR BULAN JANUARI S.D. DESEMBER 2009 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 BULAN JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER ASAL KIRIMAN UANG DIT PKN DIT PKN DIT PKN DIT PKN DIT PKN DIT PKN DIT PKN DIT PKN DIT PKN DIT PKN DIT PKN DIT PKN JUMLAH JUMLAH 15.254.981.451 22.230.223.432 34.955.528.651 42.078.186.682 32.198.079.842 49.773.514.110 37.216.695.820 37.174.643.134 49.358.589.690 61.257.286.271 62.106.074.712 70.946.190.953 514.549.994.748

Periode triwulan II, dimulai bulan April 2009 SPM yang diterima oleh KPPN Blitar meningkat 20% dari bulan Maret 2009, yakni 919 buah SPM dengan permintaan Droping dana ke Dit PKN sebesar Rp 42.078.186.682. Bulan kedua triwulan II, Mei 2009 SPM yang diajukan ke KPPN Blitar turun hingga 860 buah SPM, memberikan penurunan terhadap permintaan droping ke Dit PKN sebesar Rp 32.198.079.842. Bulan Juni 2009 saat periode berakhirnya semester I jumlah SPM naik sebesar 969 buah SPM, dan droping ke Dit PKN naik hampir 50% dari bulan Mei 2009 sebesar Rp 49.773.514.110 Selama periode triwulan III tidak terjadi kenaikan dan penurunan yang terlalu tajam meski pada bulan September 2009 jumlah SPM yang diterima KPPN Blitar telah tembus melampaui angka ribuan (1.140 buah SPM) Sedangkan nilai permintaan droping juga masih di angka 50-an milyar (Rp 49.358.589.690) Kenaikan yang tajam terjadi pada periode triwulan IV saat tahun anggaran 2009 mendekati akhir. Bulan Oktober 2009 dengan 1.293 buah SPM diproses KPPN Blitar, jumlah droping yang dimintakan ke Dit PKN sebesar Rp 61.257.286.271 meningkat hampir 25 % dari bulan September 2009. Di Bulan November 2009 jumlah SPM yang diterima dan diproses menjadi SP2D adalah 1.371 buah dan permintaan droping dana Rp 62.106.074.712, peningkatan 100 buah SPM memberikan dampak peningkatan droping

hampir sebesar 1 milyar. Puncaknya terjadi pada akhir Desember 2009, merupakan rangkaian puncak semester II 2009. Jumlah SPM yang diajukan oleh satker 2.291 buah SPM dan permintaan droping dana sebesar Rp 70.946.190.953

A.

VERIFIKASI DAN REKONSILIASI TRANSAKSI KEUANGAN

Pelaksanaan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan yang dilakukan oleh KPPN Blitar pada tahun 2009 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini ditandai dengan semakin baiknya penilaian LKPP tahun 2009 oleh Kanwil DJPBN Propinsi Jawa Timur. Dalam mewujudkan laporan keuangan yang baik, transparan, dan akuntabel tersebut, tahapan yang telah dilakukan antara lain: mekanisme posting dan validasi data, ketaatan pada prinsip-prinsip rekonsiliasi, proses rekonsiliasi, dan pengukuran kinerja laporan keuangan satker. Posting Data. Posting merupakan proses pembentukan buku besar dari data transaksi yang berupa belanja, pendapatan, kiriman uang, transito, dan lain-lain pada waktu tertentu dari sistem aplikasi Verifikasi dan Akuntasi (VERA) yang dijalankan dengan user administrator. Pada Aplikasi VERA digunakan tiga user dengan tingkatan yang berbeda yang dibuat oleh supervisor dan tentunya hanya oleh petugas yang bersangkutan dengan fungsi sebagai berikut : • User I (tingkat administrator) untuk fasilitas: Utility dan Pembentukan Buku Besar (Posting) • User II (tingkat operator) untuk fasilitas: Tabel Master, Transaksi, Validasi (I,II,III), Buku Besar (mengevaluasi jurnal yang terbentuk), Proses Rekonsiliasi, Monitoring Rekonsiliasi, dan Laporan (untuk mencetak laporan). • User III (tingkat supervisor) untuk fasilitas: Monitoring Pengiriman, Pencocokan Buku Besar, dan Pengiriman Data. Mekanisme Posting merupakan kegiatan awal dalam pengoperasian aplikasi VERA. Posting yang dilakukan antara lain: • Posting tanggal tertentu untuk mengambil data Harian • Posting satu bulan tertentu untuk mengambil data bulanan Validasi Data. Setelah proses posting lalu dilakukan proses validasi data. Validasi data dilakukan untuk mengecek kesalahan menggunaan kode akun, unit oraganisasi, kesesuaian transaksi pusat dan daerah, kesesuaian tabel referensi dan transaksi dan lain-lain. Terdapat 3(tiga) bagian validasi data yaitu Validasi I, Validasi II, dan Validasi III. Penjelasan masing-masing validasi tersebut sebagai berikut: Hasil dari setiap validasi harus dianalisa, apakah data tersebut sesuai penggunaan kodefikasi akun, unit organisasi, dan nilai rupiahnya. Setiap ada perbaikan data, seksi VERA membuat nota dinas kepada seksi Perbendaharaan dan Bendum. Jika terdapat perbaikan data hasil validasi tersebut maka proses posting diulang untuk perbaikan jurnal buku besar. Rekonsiliasi. Bahwa sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor : PER-36/PB/2009 tanggal 28 Juli 2009 serta mempedomani Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 171/PMK.05/2007 Pasal 6,7,8,9,10, dan 21 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat, perlu mengatur lebih lanjut

mengenai tata cara rekonsiliasi dan pedoman penyusunan Laporan Keuangan Kuasa Bendahara Umum Negara (BUN). Adapun prinsip-prinsip Rekonsiliasi adalah sebagai berikut : 1. Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) dilaksanakan secara berjenjang oleh unit-unit Ditjen Perbendaharaan dimulai dari tingkat KPPN, Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan yang terdiri dari SAKUN dan SAU yang menghasilkan Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca SAU 2. Sistem Akuntansi Instansi (SAI) dilaksanakan secara berjenjang oleh Kementrian Negara/Lembaga dengan membentuk unit akuntansi keuangan dari tingkat UAKPA, UAPPA-W, UAPPA-E1, UAPA dan unit Akuntansi barang (UAPB, UAPPB-E1, UAPPB-W dan UAKPB) menghasilkan LRA, Neraca, dan Catatan Atas Laporan Keuangan. 3. Rekonsiliasi tingkat UAKPA dengan KPPN dilaksanakan selambat-lambatnya 7(tujuh) hari kerja bulan berikutnya. Sedangkan rekonsiliasi tingkat UAPPA-W dengan Kanwil DJPBN dilakukan tiap triwulan. 4. Rekonsiliasi UAKPA dengan KPPN setiap bulannya tetap dilakukan mulai dari data bulan Januari sampai dengan data bulan yang berkenaan, untuk menjaga validasi data terhadap perbaikan atau penyesuaian data-data bulan sebelumnya. 5. Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA) melakukan rekonsiliasi atas Laporan Keuangan dengan Ditjen Perbendaharaan Cq. Dit APK setiap semester. 6. Pelaksanaan SiAP dan SAI yang terpisah akan menghasilkan data yang skurat dan andal, jika kedua subsistem tersebut melakukan internal chek dan rekonsiliasi secara berkala. 7. Untuk menghasilkan LKPP yang lebih andal, perlu memperkecil/ menghilangkan suspen* realisasi belanja saat melakukan rekonsiliasi dengan seluruh kementrian negara/lembaga (*suspen : selisih realisasi belanja yang tidak dapat dijelaskan antara data realisasi belanja yang ada pada SAU dan SAI). Sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER51/PB/2008 satker wajib melakukan rekonsiliasi dengan KPPN. Proses Rekonsiliasi antara Satker (Aplikasi SAKPA) dengan KPPN (Aplikasi Vera) dilaksanakan selambatlambatnya 7(tujuh) hari kerja bulan berikutnya. Pelaksanaan rekonsiliasi tujuannya untuk meminimalisir data suspen dari temuan audit BPK terkait kualitas data dan SOP dalam penyusunan LKPP dalam rangka mencapai target opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Jika dalam jangka waktu 7(tujuh) hari kerja tersebut satker yang memiliki transaksi tidak melakukan rekonsiliasi maka KPPN menerbitkan SP2LK (Surat Peringatan Penyampaian Laporan Keuangan) yang ditujukan kepada Satker yang terlambat untuk Rekonsiliasi. Jika dalam waktu 5(lima) hari kerja setelah diterbitkannya SP2LK satker tersebut tetap melaksanakan rekonsiliasi, KPPN dapat menjatuhkan sanksi berupa penundaan penebitan SP2D terhadap pengajuan SPM-GU dan SPM-LS (selain gaji dan rekanan pihak ketiga). Untuk itu diperlukan peran serta yang aktif dari Satker dalam wilayah kerja masing-masing KPPN. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bahan-bahan yang harus dibawa oleh Satker saat Rekonsiliasi : Neraca SAKPA Neraca SIMAK BMN Neraca Percobaan LRA Belanja LRA Pengembalian Belanja LRA Pendapatan

7. LRA Pengembalian Pendapatan 8. LRA Format DKKA 9. ADK Bulan Sebelumnya 10. ADK Bulan Sekarang 11. Rekening Koran 12. LPJ Bendahara Sebelum melakukan Rekonsiliasi Satker diharuskan menganalisa dahulu data yang akan direkonsiliasi antara lain : mencocokkan Neraca SAKPA vs Neraca SIMAK BMN, Saldo UP/TUP vs Kas di Bendahara Pengeluaran, dll. Data-data yang direkonsiliasi melalui Seksi Verifikasi dan Akuntansi, adalah : 1. Rekonsiliasi Pagu Belanja 2. Rekonsiliasi Realisasi Belanja 3. Rekonsiliasi Pengembalian Belanja 4. Rekonsiliasi Estimasi Pendapatan 5. Rekonsiliasi Realisasi Pendapatan Non Pajak 6. Rekonsiliasi Realisasi Pendapatan Pajak 7. Rekonsiliasi Pengembalian Pendapatan Non Pajak 8. Rekonsiliasi Pengembalian Pendapatan Pajak 9. Rekonsiliasi Mutasi Uang Persediaan Setelah data-data dari ADK ini direkon dan ditayangkan pada Monitoring Rekonsiliasi sudah cocok, terus dicetak dalam rangkap dua, lembar 1 diberikan ke Satker, lembar 2 sebagai pertinggal KPPN. Hasil rekonsiliasi dituangkan dalam BAR (Berita Acara Rekonsiliasi) yang ditandatangani Kepala Kantor sebagai KPA dan Kepala KPPN sebagai Kuasa BUN. BAR dibuat dua rangkap, satu lembar sebagai arsip KPPN dan satu lembar lainnya dikembalikan ke Satker. Selain rekonsiliasi dengan satker, KPPN juga melakukan rekonsiliasi intern antara Seksi Perbendaharaan, Seksi Bendahara Umum, dan Seksi Vera dengan melakukan proses pencocokan data dan jumlah saldo rupiah antara LKP dan LAK Harian. Hasil Rekonsiliasi Intern tersebut juga dituangkan dalam BAR yang ditandatangani kepala seksi Vera, kepala seksi Perbendaharaan, Kepala seksi Bendum, dan diketahui Kepala KPPN. Kecocokkan data dalam jumlah rupiah dalam Berita Acara Rekonsiliasi ini menjadi dasar dilakukannya pengiriman ADK LKP dan ADK Buku Besar Vera, selanjutnya ketidakcocokkan data dan jumlah rupiah dalam Berita Acara Rekonsiliasi ini menjadi dasar dilakukannya perbaikan sesuai dengan ketentuan. Adanya batasan waktu yang sangat pendek dalam hal satker mengajukan aplikasi rekon ke seksi Vera, terkadang membuat satker terlambat untuk menyampaikan adk rekonnya. Sehingga saat laporan dibuat banyak satker yang belum mengajukan rekon. Hal ini bukan berarti satker tidak melakukan rekon, hanya mengalami keterlambatan dalam menyampaikan data. Namun ketika telah melewati batas waktu yang ditentukan satker akan dengan segera mengajukan bahan untuk rekonsiliasi, terutama saat satker akan mengajukan SPM GUP, dimana syarat untuk dibayar SPM GUP-nya adalah satker telah melakukan rekon dengan seksi vera yakni melampirkan berita acara rekonsiliasi sebagai bukti untuk seksi perbendaharaan agar SPM GUP dapat segera diproses. Tingkat partisipasi rekonsiliasi antara satker dengan KPPN selama tahun 2009 adalah sebagai berikut:

PARTISIPASI REKONSILIASI TINGKAT UAKPA PADA KPPN BLITAR PER 31 JANUARI S.D. 31 DESEMBER 2009 NO. 1. URAIAN JUMLAH SATKER SELURUHNYA JUMLAH SATKER YANG MELAKUKAN REKONSILIASI JUMLAH SATKER YANG BELUM REKONSILIASI JUMLAH SATKER YANG TIDAK MELAKUKAN REKONSILIASI : JUMLAH JAN 112 PEB 112 MAR 118 APR 118 MEI 118 JUN 118 JUL 121 AGS 121 SEPT 121 OKT 121 NOV 124 DES 124

2.

:

83

89

102

113

112

110

117

116

117

119

117

122

3.

:

26

20

13

5

6

8

4

5

4

2

7

1

4.

:

3

3

3

0

0

0

0

0

0

0

0

1

Pada bulan bulan di awal tahun anggaran 2009 ada 3 satker yang belum melakukan rekon, ini dapat berarti di bulan bulan tersebut satker yang bersangkutan belum melakukan realisasi yang berarti hanya mengajukan SPM belanja pegawai. Pada bulan April dan bulan bulan selanjutnya semua satker (100%) telah melaksanakan kewajiban untuk rekon dengan seksi Vera, namun pada bulan Desember 2009 terdapat satu satker yang belum melaksanakan rekon. Kemungkinan besar hal ini disebabkan satker tersebut telah menihilkan SPM UP-nya pada bulan November 2009, sehingga pada bulan Desember 2009 satker yang bersangkutan tidak melaksanakan rekon dengan KPPN Blitar B. PELAPORAN KEUANGAN

Pelaporan Keuangan terdiri dari tiga komponen yakni LAK (Laporan Arus Kas) LRA (Laporan Realisasi Anggaran) dan Neraca. Laporan Arus Kas adalah laporan yang menyajikan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama periode Tahunan Tahun Anggaran 2009. Neraca yang disajikan adalah hasil dari proses Sistem Akuntansi Kas Umum Negara, sebagaimana yang diwajibkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171 tahun 2007, tentang Sistem Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Sedangkan Laporan Realisasi Anggaran sampai dengan bulan Desember Tahun Anggaran 2009 yang berakhir 31 Desember 2009, menggambarkan realisasi Anggaran pendapatan dan Belanja selama tahun anggaran 2009.

LAPORAN ARUS KAS.
Saldo Awal Kas per 1 Januari 2009 sebesar Rp 12.966.162.200,- merupakan Kas Pemerintah Pusat yang tersedia di Rekening Bendahara Umum Negara KPPN Blitar. Perubahan / mutasi kas sepanjang Periode Bulan Desember Tahun Anggaran 2009 menginformasikan tentang kenaikan kas dari berbagai aktivitas pemerintah dengan rincian :

Kenaikan Kas Operasi Kenaikan/Penurunan Kas Investasi Non Keuangan Kenaikan/Penurunan Non Keuangan Kenaikan/Kas Pembiayaan Kenaikan/Penurunan Kas Aktivitas Non Anggaran Kenaikan ( Penurunan ) Kas Pemerintah

Rp Rp Rp Rp Rp Rp

267.488.605.943,(28.362.120.359,-) (237.185.124.484,-) 1.941.361.100,0

Saldo Akhir Kas per 31 Desember 2009 sebesar Rp 14.907.523.300,- terdiri dari jumlah saldo awal per 1 Januari 2009 Rp 12.966.162.200 ditambah dengan mutasi/perubahan kenaikan kas pemeritah per per 31 Desember 2009 Rp. 1.941.361.100,-. Aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas untuk kegiatan operasional pemerintah selama satu bulan periode akuntansi tahun berjalan (interim statement), yang menunjukkan saldo sebesar Rp 267.488.605.943,- dengan rincian sebagai berikut:
Arus Kas m asuk (dari Aktivitas Operasional) Rp 864.281.109.592,0 Dikurangi Arus Kas Keluar (dari Aktivitas Operasi) Rp 596.792.503.649,0 A rus K Bersih d A as ari ktivitas Op erasi Rp 267.488.605.943,0 Keadaan tersebut menunjukkan bahwa transaksi penerimaan pada KPPN BLITAR sampai dengan 31 Desember 2009 lebih besar dibandingkan realisasi belanja (Surplus Rp 267.488.605.943,-)

NERACA ( SAKUN ) Posisi keuangan KPPN Blitar sebagai Kuasa Bendahara Umum Negara Bulan Desember 2009 adalah sebagai berikut : - Aset sebesar Rp 375.639.540.352,-; - Kewajiban sebesar Rp 123.381.556.924,-; dan - Ekuitas Dana sebesar Rp 252.257.983.428,Grafik Posisi Keuangan KPPN Blitar
P S I K U N A K P B IT R O IS E A G N P N L A P R3 D S M E 2 0 E 1 E E B R 09
Ju R ta p 400 00 .0 350 00 .0 300 00 .0 250 00 .0 200 00 .0 150 00 .0 100 00 .0 50.000 0 A set K ajiban ew E kuitas D na a 1 23.38 1,56 25 57,98 2.2 37 5.639 ,54

Aset Lancar sebesar Rp 375.639.540.352,- terdiri dari : - Rekening Kas di KPPN Rp 14.907.523.300,- ;

-

Kas dalam Transito Rp 360.720.619.909,-; dan Kas di Bendahara pengeluaran Rp 11.397.143,-

Rekening Kas di KPPN per 31 Desember 2009 sebesar Rp 14.907.523.300,merupakan saldo yang ada pada rekening bank operasional KPPN Blitar. Rekening Kas dalam Transito per 31 Desember 2009 sebesar Rp 360.720.619.909,- Merupakan saldo selisih Pengeluaran Kiriman Uang dikurangi penerimaan kiriman uang. Rekening Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2009 Rp 11.397.143,merupakan total saldo Uang Persediaan yang dibayarkan kepada seluruh satker di wilayah pelayanan KPPN Blitar dikurangi Jumlah Uang persediaan yang telah dipertanggungjawabkan atau disetorkan oleh satker kepada KPPN Blitar. Jumlah kewajiban Jangka Pendek sebesar Rp 123.381.556.924,- merupakan Utang Perhitungan Fihak Ketiga (Penerimaan non Anggaran PFK pada LAK), yang berasal dari potongan SPM/SPPD dan penerimaan tunai yang disetor oleh pihak ketiga melalui rekening BUN. Jumlah Ekuitas Dana Lancar sebesar Rp 252.257.983.428,- terdiri dari : (i) Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan (ii) Sisa Lebih Penerimaan Anggaran (SILPA). Sedangkan jumlah SAL sebesar Rp 13.116.278.782,- merupakan kontra akun dari Rekening Kas di KPPN per 1 Januari 2009 ditambah sisa UP Tahun Anggaran Yang Lalu yang belum disetor/dipertanggungjawabkan oleh Bendahara Pengeluaran satker sampai dengan tutup tahun anggaran 2008. Jumlah SILPA sebesar Rp.239.141.704.646,- merupakan saldo lebih/kurang dari arus kas bersih dari aktivitas operasi dikurangi arus kas bersih dari aktivitas investasi Non Keuangan. LAPORAN REALISASI APBN Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah Kuasa Bendahara Umum Negara (KPPN-Blitar) Per 31 Desember TA 2009 sebesar Rp 864.320.982.392,- yang berasal dari Penerimaan dalam negeri dan hibah. Realisasi Penerimaan Dalam Negeri Per 31 Desember TA 2009 Rp 864.320.982.392 ,- terdiri dari Penerimaan Perpajakan Rp 822.970.622.400,- dan Penerimaan Negara Bukan Pajak Rp 41.350.359.992,-. Realisasi Belanja Pemerintah Pusat per 31 Desember TA 2009 di lingkungan wilayah kerja KPPN Blitar sebesar Rp 540.311.709.137,- Jumlah realisasi belanja tersebut terdiri dari Belanja Pegawai Rp. 235.415.219.474,- Belanja Barang Rp 123.922.528.515,Belanja Modal Rp 28.401.993.159,- Belanja Bantuan Sosial Rp 84.041.070.450,- Belanja Lain-lain Rp. 68.530.897.539,-. Sedangkan Realisasi Belanja Daerah per 31 Desember TA 2009 di lingkungan wilayah kerja KPPN Blitar sebesar Rp 84.882.787.671,- yang terdiri dari Belanja Transfer Dana Bagi Hasil PBB Rp 72.524.494.600,-.dan Belanja Transfer Dana bagi Hasil BPHTB Rp 12.358.293.071,-

REALISASI BELANJA PEMERINTAH PUSAT KPPN BLITAR TAHUN 2009
68.530.897.539 84.041.070.450 235.415.219.474

28.401.993.159 123.922.528.515 Belanja Pegaw ai Belanja Bansos Belanja Barang Belanja Lain-Lain Belanja Modal

C.

INOVASI

Rekonsiliasi secara Online Rekon secara Online dilakukan dengan cara satker mengirim ADK SAKPA melalui E-mail. ADK Rekon tersebut selanjutnya didownload oleh KPPN dan dilakukan rekonsiliasi. Hasil dari rekonsiliasi tersebut direply oleh staf VERA kepada satker tersebut. Apabila hasil rekon sudah benar, satker dimohon segara ke KPPN dengan membawa cetakan – cetakan laporan sebagai lampiran BAR. Apabila hasil rekon ada perbedaan, maka perbedaan hasil rekon tersebut dicetak ke sebuah file dalam bentuk pdf dan direply kepada satker yang bersangkutan untuk segera diperbaiki dan segera mengirim ulang ADK SAKPA yang telah diperbaiki lewat E-mail. Sehingga bisa dilakukan rekonsiliasi ulang hingga diperoleh hasil rekon yang valid. Rekon secara online ini merupakan inovasi pelayanan KPPN Blitar dalam rangka menjalankan SOP KPPN Percontohan yang ditujukan antara lain: 1. Memberikan kemudahan kepada satker dalam melakukan rekonsiliasi ke KPPN Blitar. 2. Memberikan kenyamanan kepada satuan kerja dalam melaksanakan rekonsiliasi dengan KPPN sehingga tidak harus antri lama-lama di KPPN. 3. Memberikan fasilitas yang lebih cepat terutama kepada satuan kerja yang berlokasi sangat jauh dengan KPPN Blitar seperti dari Kab. Tulungagung atau Kecamatan Selorejo Kab. Blitar Bimbingan Teknis Pada awal tahun, KPPN Blitar melaksanakan kegiatan sosialisasi yang bersifat bimbingan teknis kepada semua satker, sekaligus untuk menyosialisasikan aplikasi KPPN yang lain, sehingga pada bulan berikutnya satker telah siap melaksanakan rekonsiliasi dengan Seksi Vera KPPN Blitar dengan membawa data yang valid dan benar. Bimbingan teknis secara teknis dapat dilaksanakan bersamaan penyebaran dan pembagian aplikasi (SPM, Bendahara dan Gaji) kepada semua satker yang biasanya

diadakan setelah KPPN sendiri menerima alplikasi tersebut dari kantor pusat Ditjen Perbendaharaan ataupun donlod langsung dari website resmi perbendaharaan. Sehingga diharapkan dapat terjadi keseragaman dan kesamaan kata antara satker dan KPPN.

A. Alokasi Anggaran DIPA 2010. Pada tahun anggaran 2010, KPPN Blitar mengelola dana dalam DIPA sebesar Rp 556.012.796.000 suatu jumlah yang besar dan terbagi menjadi empat wilayah alokasi. Dari tabel alokasi dana menurut jenis kewenangan, dapat terlihat dengan besarnya kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah dalam mengurus dan menjalankan pemerintahannya sendiri. Dengan kewenangan kantor daerah memperoleh alokasi dana Rp 481.888.130.000 (86.67%) dari seluruh pagu DIPA tahun anggaran 2010. PAGU DIPA PER JENIS KEWENANGAN TAHUN 2010 NO KEWENANGAN 1 2 3 4 KANTOR DAERAH TUGAS PEMBANTUAN URUSAN BERSAMA DESENTRALISASI JUMLAH 13,714,951,000 49,039,715,000 11,370,000,000 % 2.47 8.82 2.04

481,888,130,000 86.67

JUMLAH

556,012,796,000 100.00

Tugas Pembantuan mendapat alokasi dana 13.714.951.000 (2.47%) dan Urusan Bersama dengan alokasi dana sebesar Rp 49.039.715.000 (8.82%) kedua kewenangan ini merupakan bagian dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang berarti instansi yang mendapat bagian alokasi ini melaksanakan tugas-tugas Pusat di Daerah. Sedangkan desentralisasi sebagai wujud komitmen pemerintah pusat untuk melimpahkan kewenangan kepada pemerintah daerah mendapat dana sebesar Rp 11.370.000.000 (2.04%) Apapun itu yang jelas, saat ini pemerintah pusat telah mereformasi diri untuk terus berkomitmen dengan semakin memberikan kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang tentunya akan berpengaruh terhadap pelayanan kepada masyarakat. PAGU DIPA PER JENIS BELANJA TAHUN 2010 NO 1 2 3 4 5 JENIS BELANJA BELANJA PEGAWAI BELANJA BARANG BELANJA MODAL BELANJA BANTUAN SOSIAL BELANJA LAIN-LAIN JUMLAH 282,131,556,000 106,836,674,000 34,478,316,000 132,566,250,000 0 % 50.74 19.21 6.20 23.84 0.00

JUMLAH

556,012,796,000 100.00

Jika dilihat dalam pembagian per jenis belanja, belanja bantuan sosial menduduki peringkat kedua dalam hal jumlah alokasi dana setelah belanja pegawai, dimana belanja bantuan sosial sebesar Rp 132.566.250.000 (23.84%) dan belanja pegawai sebesar Rp 282.131.556.000 (50.74%). Meski hanya setengah dari belanja pegawai, namun belanja bantuan sosial memberikan dampak yang secara langsung dapat dirasakan oleh masyarakat tingkat bawah, yang tentunya sesuai namanya belanja bantuan sosial akan digunakan untuk membiayai dan mendanai kegiatan yang bersifat kemasyarakatan.

B. Analisis dan Evaluasi Pelaksanaan Anggaran.
Seluruh kebijakan dan regulasi yang mengatur mengenai pelaksanaan anggaran, baik sejak penyusunan dan pengesahan DIPA hingga tata cara pembayaran dan pencairan dana, ditujukan agar penggunaan anggaran berjalan lancar. Kelancaran pelaksanaan anggaran dicerminkan dari pelaksanaan kegiatan satuan kerja yang tepat waktu sesuai rencana kerja. Berjalannya kegiatan satuan kerja dibuktikan dengan realisasi atas anggaran pada DIPA. Dalam manajemen keuangan pemerintah modern, realisasi anggaran dari berjalannya kegiatan satuan kerja berpengaruh positif terhadap pelayanan publik dan pergerakan perekonomian. Oleh karena itu, setelah DIPA disahkan, realisasi atas penyerapan anggaran harus senantiasa dievaluasi dan dimonitor. Realisasi anggaran tahun 2009 dapat menjadi pijakan awal dalam evaluasi penyerapan anggaran. Pada tahun 2009, penyerapan anggaran tidak terjadi secara proporsional. Pada triwulan pertama, realisasi rata-rata hanya 5,79%. Semester pertama hanya 17,25%. Dan pada penghujung triwulan ketiga, penyerapan juga hanya mencapai 33,53%. Kondisi ini menyebabkan penarikan dana bertumpuk pada akhir tahun anggaran. Bahkan untuk belanja modal, realisasi pencairan pada bulan Desember 2008 mencapai Rp 25,68 Miliar atau 56,06 % dari pagu belanja modal. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Pelaksanaan Anggaran. Pelaksanaan anggaran yang efektif adalah anggaran yang segera digunakan setelah DIPA disahkan berdasarkan rencana kerja yang telah disusun sejak penyusunan RKA-KL. Efektivitas pelaksanaan anggaran mempengaruhi terlaksananya operasional pemerintahan dan pelayanan publik serta berjalannya fungsi stimulus fiskal APBN dalam perekonomian.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Pelaksanaan Anggaran dan Direktorat Sistem Perbendaharaan pada tahun 2006, faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan anggaran, dalam hal ini adalah pencairan dan penyerapan anggaran pada DIPA, diidentifikasikan ke dalam 4 hal, yaitu : kesiapan satker mencairkan anggaran pada DIPA; proses pengadaan barang/jasa, pembayaran dan pencairan dana; dan, persepsi pejabat pengelola keuangan terhadap situasi dan kondisi dalam pengelolaan anggaran, baik aspek ketentuan maupun lingkungan eksternal.

Faktor-Fakto Penyerapan
Berangkat dari faktor-faktor tersebut, setelah dilakukan klasifikasi dan analisa keterkaitan dengan tugas fungsi KPPN, maka untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan anggaran pada satker dirumuskan variabel yang disusun berdasarkan siklus penggunaan anggaran (budget execution cycle). Variabel tersebut adalah sebagai berikut : 1. Kesiapan penggunaan anggaran, yaitu prasyarat awal anggaran pada DIPA dapat digunakan. Kesiapan ini diukur dari waktu DIPA diterima, penetapan surat-surat keputusan sebagai dasar penggunaan anggaran, dan, rencana kerja dan rencana keuangan. 2. Revisi DIPA, yaitu kondisi dimana DIPA tidak dapat digunakan karena memerlukan penyesuaian yang berimplikasi pada penundaan pencairan dana. Kondisi revisi DIPA diukur dari tingkat keperluan revisi DIPA, substansi revisi dan pemahaman terhadap prosedur revisi. 3. Pembuatan komitmen dan pembayaran, yaitu proses penggunaan anggaran di satuan kerja, yang dimulai sejak pembuatan perikatan sampai dengan penerbitan SPM. Hal-hal yang diukur disini adalah penetapan pejabat pengadaan, proses pengadaan barang/jasa, waktu penyelesaian SPP dan SPM, dan sirkulasi penggunaan uang persediaan. 4. Pencairan dana, merupakan variabel yang mengukur kelancaran proses pencairan dana dari sudut pandang satker sebagai kuasa pengguna anggaran. Kelancaran proses pencairan dana ini diukur dari tingkat pengembalian SPM, efektivitas pengujian, transparansi dan bebas pungli. 5. Perencanaan penarikan dana, merupakan alat untuk mengevaluasi tentang kemampuan satker untuk memperkirakan penggunaan anggarannya, yang

6.

berguna bagi satker dalam manajemen keuangan internal dan bagi KPPN untuk perkiraan penarikan kas pemerintah (cash disbursement forecasting). Hal-hal yang diukur meliputi seberapa valid perencanaan penarikan dana yang disusun, dan perkiraan seberapa jauh satker dapat menyusun perkiraan penarikan dana. Sosialisasi dan koordinasi, merupakan variabel untuk mengukur tingkat persepsi satker terhadap mekanisme pengelolaan keuangan dan kebutuhan untuk berkoordinasi. Alat ukur pada variabel ini meliputi persepsi terhadap ketentuan pengelolaan keuangan, dan tingkat koordinasi dalam lingkup satker.

Kesiapan Penggunaan Anggaran. Dalam hal kesiapan penggunaan anggaran, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh KPPN Blitar, diperoleh informasi bahwa : Pertama, DIPA yang diterima oleh satker pada bulan Januari sebesar 92,18 persen, sedangkan sebanyak 25 satker menerima DIPA pada bulan Pebruari dan Maret 2009. Sedangkan SK Pejabat Perbendaharaan telah ditetapkan pada bulan januari pada 73 satker (62,39 persen), dan sisanya ditetapkan pada bulan Pebruari dan Maret 2009.
STATISTIK PENYAMPAIAN SK PEJABAT PERBENDAHARAAN BULAN JANUARI PEBRUARI MARET BELUM MENYAMPAIKAN JUMLAH JUMLAH SATKER 74 10 5 7 96 PROSENTASE 77,08% 10,42% 5,21% 7,29%

Dalam rangka penggunaan anggaran dan pencairan dana, sebagian besar satker (94,87 persen) telah menetapkan SK-SK internal pelaksanaan kegiatan, dan sebagian besar satker juga telah mencairkan UP (84,62 persen). Namun demikian, sebagian besar satker baru dapat membuat kontrak pengadaan barang/jasa pada bulan Maret 2009 (74,36 persen). Sebagai akibat dari kondisi tersebut, sebagian besar satker memperkirakan realisasi DIPA pada triwulan pertama kurang dari 20 persen (87 satker). Revisi DIPA. Dalam variabel revisi DIPA, dari hasil survey diperoleh informasi bahwa sebagian satker ternyata masih memerlukan revisi DIPA dalam rangka pelaksanaan kegiatan dan pencairan dananya (37,61 persen). Oleh karena itu, sebagian satker menganggap revisi DIPA menjadi penyebab tertundanya pencairan dana (33,39 persen). Sedangkan revisi disebabkan oleh kesalahan perencanaan oleh instansi pusat (30,77 persen) dan disebabkan oleh penyesuaian perencanaan dengan pelaksanaan (55,56 persen). Substansi DIPA yang direvisi sebagian menyangkut pergeseran jenis belanja (35,90 persen) namun tidak memerlukan perubahan pagu DIPA (64,10 persen). Dalam penyelesaian revisi DIPA, sebagian besar satker memerlukan persetujuan instansi vertikal di atasnya (61,54 persen), dan masih memerlukan informasi/sosialisasi prosedur penyelesaian revisi DIPA (82,09 persen).

Pembuatan Komitmen dan Pembayaran. Dalam pembuatan komitmen dan pembayaran di tingkat internal satuan kerja diperoleh informasi bahwa dalam pengelolaan keuangan di satker, ternyata sebagian satker melakukan perangkapan jabatan antara Kuasa Pengguna Anggaran dengan Pejabat Pembuat Komitmen. Dalam rangka pembuatan komitmen, khususnya untuk penggunaan anggaran kegiatan yang kontraktual, hanya separuh satker yang telah menetapkan SK Panitia Pengadaan Barang/Jasa, dan terdapat 15 persen satker yang proses pengadaan barang/jasa diperkirakan selesai di atas bulan Juni 2009.

Dalam prosedur penggunaan anggaran di internal satuan kerja, khususnya dalam proses SPP dan SPM diketemukan bahwa dalam proses pengujian tagihan dari pihak ketiga/pengelola kegiatan hingga menjadi SPP pada PPK ternyata 28 persen satker menyatakan memerlukan waktu satu hari, 38,46 persen satker menyatakan lebih dari satu hari, dan sisanya menyatakan bahwa tidak terdapat standar waktu yang jelas. Dalam proses pengujian SPP hingga menjadi SPM di Pejabat Pendatangan SPM, ternyata 65 (55,56 persen) satker dapat menyelesaikan pengujian dan penerbitan SPM dalam satu hari, sedangkan sisanya lebih dari satu hari atau tidak memiliki standar waktu yang jelas.

Dalam proses penyampaian SPM ke KPPN untuk dicairkan dananya, ternyata hampir separuh satker (40,88 persen) memerlukan waktu lebih dari satu hari atau tidak memiliki standar waktu yang jelas. Demikian pula, sebagian besar satker (64,96 persen) ternyata tidak memiliki prosedur tertulis (SOP) internal mengenai pengelolaan keuangan di tingkat KPA. Selanjutnya, dalam penggunaan UP, ternyata hampir seluruh satker mengajukan penggantian UP lebih satu kali tiap atau lebih bulan (111 satker atau 94,87 persen). Sedangkan TUP, hanya sedikit satker yang mengajukan TUP tiap bulan (15 satker atau 12,82 persen). Pencairan Dana. Dalam proses pencairan dana di KPPN, dari hasil survey kepada satker diperoleh informasi bahwa dalam ketertiban kebenaran SPM, masih terdapat 48 satker (41,02 persen) yang dikembalikan SPM-nya oleh KPPN sebanyak 6 kali dalam kurun waktu tiga bulan ini. Dalam proses interaksi pengujian SPM antara petugas penyampai SPM dari satker dan petugas KPPN, terkait dengan pelaksanaan SOP KPPN Percontohan di KPPN Blitar, ditemukan bahwa sebagian besar satker (95,73 persen) menyatakan bahwa petugas yang menyampaikan SPM ke KPPN adalah Bendahara atau staf keuangan. Demikian pula dalam pengujian SPM, sebagian besar satker menyatakan bahwa pengjuian dilakukan saat itu juga (94,87 persen) dan dilakukan oleh petugas front office KPPN (94,02 persen).

Dalam hal sikap pelayanan petugas KPPN pada saat pengujian SPM, ditemukan bahwa 61 satker (52,14) menyatakan memuaskan, 53 satker menyatakan cukup puas (45,30 persen). Dan seluruh satker manyatakan tidak memberikan imbalan kepada petugas KPPN (99,15 persen. Dalam hal penilaian terhadap pemahaman petugas KPPN terhadap peraturan pencairan dana pada saat pengujian SPM, ditemukan bahwa 82 satker (70,09 persen) menyatakan baik, dan 33 satker (28,21 persen) menyatakan cukup. Dalam percepatan waktu penyelesaian SP2D, dijumpai bahwa : pada penyelesaian SPM Non Belanja Gaji, sebagian besar satker (91,79 persen) menyatakan bahwa SP2D selesai dalam hari itu juga. Sedangkan dalam pencairan dana, sebagian

besar satker (81,20 persen) menyatakan bahwa uang pada SP2D masuk ke rekening yang dituju dalam waktu satu sampai dengan tiga hari. Sosialisasi dan Koordinasi. Selanjutnya dari variabel yang mengukur tingkat pemahaman satker dan perlunya sosialisasi/koordinasi untuk kelancaran penggunaan anggaran, dari hasil penelitian kepada satker diperoleh informasi bahwa dalam hal menilai peraturan pembayaran dan pencairan dana saat ini, sebagian satker (55,56 persen)yang menyatakan memadai. Berkenaan dengan pemahaman dan koordinasi internal satker dalam pengelolaan keuangan, diketahui bahwa seluruh satker menganggap kepala satker/KPA harus memahami prosedur pembayaran/pencairan dana. Kepala satker bersedia memimpin rapat evaluasi pelaksanaan anggaran secara berkala. Dalam penggantian pejabat pengelolaan keuangan, sebagian besar kepala satker/KPA mempertimbangkan kompetensi/penguasaan ketentuan pengelolaan keuangan (87,18 persen).

Dalam hal peran KPPN dalam sosialisasi ketentuan pengelolaan keuangan dan koordinasi antara satker dengan KPPN, ditemukan bahwa sebagian besar satker selalu memperoleh informasi mengenai ketentuan pembayaran/pencairan dana terkini dari KPPN (82,05 persen). Hampir seluruh satker menyatakan memerlukan sosialisasi dan koordinasi berkala dengan KPPN (97,44 persen), dan sangat mengaharapkan peran KPPN sebagai pihak yang dapat memfasilitasi koordinasi antar satker dalam rangka penyamaan persepsi (91,45 persen). Untuk itu hampir seluruh satker merasa perlu adanya forum koordinasi antar pejabat pengelola keuangan antar sarker. Untuk mendukung peran KPPN dalam sosialisasi dan koordinasi tersebut, satker yang menganggap tingkat pemahaman pegawai KPPN yang memadai sebesar 55,56 persen, dan sisanya menganggap cukup memadai. C. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI PELAKSANAAN ANGGARAN. PENINGKATAN EFEKTIVITAS

Berdasarkan evaluasi penyerapan anggaran triwulan pertama tahun 2009 dan analisis evaluasi pelaksanaan anggaran pada satuan kerja di wilayah pembayaran KPPN Blitar, kesimpulan yang dapat diambil bahwa Dari kondisi penyerapan tersebut,

belanja modal sulit untuk diharapkan terserap optimal pada awal tahun anggaran karena sebagian besar pejabat pengadaan barang dan jasa ditetapkan bulan Pebruari dan Maret, dan proses lelang sebagian besar baru diselesaikan pada triwulan kedua. Meskipun DIPA telah disahkan sebelum 1 Januari 2009, untuk non belanja pegawai, sebagian besar satker tidak dapat langsung mencairkan dana karena masih harus menyusun rencana kerja, menetapkan pejabat perbendaharaan, menetapkan SK pelaksanaan kegiatan dan tim pengadaan barang/jasa, serta melakukan revisi DIPA. Dalam proses pembayaran dan pencairan dana, percepatan dan efisiensi pelayanan dalam penerbitan SP2D di KPPN perlu diimbangi dengan hal yang sama di tingkat internal satuan kerja. Pada satuan kerja seharusnya terdapat standar yang mengatur kepastian waktu pengujian tagihan, pengujian SPP dan penerbitan SPM. Dalam rangka mengefektifkan rencana penarikan dana, sebagian besar satker memahami pentingnya rencana penarikan bagi manajemen internalnya dan memiliki data yang diperlukan untuk menyusun rencana penarikan tersebut. Namun demikian, satker membutuhkan formulasi dan metode serta bimbingan teknis untuk menyusun rencana penarikan yang mudah dan valid. Dalam rangka meningkatkan pemahaman satker akan ketentuan pelaksanaan anggaran dan pengelolaan keuangan, sosialisasi dan koordinasi internal satker, antar satker dan satker dengan KPPN perlu ditingkatkan. Namun demikian, pertama kali yang penting adalah meningkatkan kompetensi pegawai KPPN untuk memahami ketentuan pengelolaan keuangan secara komprehensif. Berkenaan dengan kesimpulan tersebut di atas, saran dan rekomendasi yang dapat diajukan bahwa dalam rangka meningkatkan kesiapan penggunaan anggaran pada awal tahun anggaran, penetapan pejabat perbendaharaan dilakukan bersamaan dengan penelaahan DIPA dan menjadi syarat pengesahan DIPA. Pejabat yang telah ditetapkan pada DIPA dapat langsung melakukan penggunaan anggaran dan hanya wajib mengirimkan specimen tanda tangan ke KPPN. Dalam rangka efektivitas pelaksanaan APBN, percepatan dan efisiensi pencairan dana di KPPN harus diikuti dengan percepatan dan efisiensi pembayaran pada satuan kerja. Oleh karena itu, Bendahara Umum Negara c.q Ditjen Perbendaharaan perlu menyusun standarisasi prosedur penyelesaian tagihan dan pembayaran dana APBN yang dapat melengkapi Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan No. 66/PB/2005. Dalam rangka mendorong akselerasi dan efektivitas penyerapan anggaran pada satuan kerja, yang dapat dilakukan oleh KPPN adalah : melakukan klasifikasi (mapping) pagu belanja dan mengidentifikasi satker dengan belanja yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan; melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap pencairan dana satker berdasarkan klasifikasi dan identifikasi tersebut; mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab permasalahan keterlambatan pembayaran atau pencairan dana, baik dari internal satker maupun eksternal; merumuskan langkah penyelesaian melalui koordinasi, bimbingan teknis dan usul penyempurnaan regulasi; dan, menyusun laporan dan analisa penyerapan dana, dan menjadi bahan untuk analisa belanja di tingkat Kanwil dan Pusat sebagai bahan pengambilan kebijakan. Dalam rangka meningkatkan peran KPPN dalam kelancaran pembayaran dan penyempurnaan pengelolaan keuangan pada satker, maka sumber daya manusia pada KPPN tidak hanya dituntut memahami tata cara pencairan dana saja, namun juga harus memahami tata cara penyelesaian tagihan dalam SPP dan pengujian pembayaran pada SPM. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan peran Bendahara Umum Negara c.q Ditjen Perbendaharaan sebagai regulator untuk seluruh sistem pelaksanaan anggaran, bukan hanya sebagai eksekutor dalam pencairan dana saja .

Peningkatan peran sebagai regulator pelaksanaan anggaran, dapat dilakukan melalui : mengoperasionalisasikan prinsip-prinsip belanja negara dari UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara ke dalam mekanisme penggunaan anggaran; melakukan evaluasi mekanisme penggunaan anggaran dan menyempurnakannya berdasarkan permasalahan yang terjadi, perkembangan teknologi dan tuntutan modernisasi administrasi keuangan di masa depan, dengan tetap berlandaskan pada prinsip-prinsip belanja negara dari UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; merumuskan mekanisme penggunaan anggaran ke dalam regulasi dan standarisasi pengelolaan keuangan yang komprehensif, dengan tetap mendudukkan peran KPPN sebagai Bendahara Umum Negara yang bertugas melakukan pencairan dana yang cepat, efisien, dan bersih.

A. KELENGKAPAN SARANA DAN PRASARANA Sebuah kantor pelayanan dengan kondisi ideal, selain pegawainya mampu melaksanakan tugas pekerjaan dengan baik, benar dan tepat waktu juga perlu adanya dukungan sarana dan prasarana yang memadai. KPPN Blitar telah merencanakan dan menginginkan kondisi dan suasana ideal tersebut tercipta dengan melengkapi sarana dan prasarana . Langkah pertama adalah satu pegawai satu komputer, ini adalah program pada tahun anggaran 2010, dimana terhitung pada awal bulan Maret 2010 setiap pegawai KPPN Blitar akan memegang satu unit komputer yang semuanya terhubung langsung dengan jaringan internet, sehingga pelaksanaan tugas pekerjaan tidak saling menunggu karena komputer yang satu masih dipergunakan oleh pegawai yang lain, dan jaringan internet tentunya akan memudahkan para pegawai KPPN Blitar mengakses langsung data data yang diperlukan dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Kondisi kantor yang nyaman, pada tahun 2010 KPPN Blitar melanjutkan menyempurnakan pembagian ruangan dan lay out kantor, sehingga setiap orang dan setiap pegawai yang datang ke KPPN Blitar akan merasa seperti di rumah sendiri. Mengingat suasana dan ruangan kantor yang nyaman sangat mendukung keberhasilan tugas sehari hari pegawai, pada 2010 ini KPPN Blitar masih melaksanakan pembenahan dan penataan ruangan kantor, diharapkan pada akhirnya semua pegawai merasa hommy saat berada di kantor. Penyediaan ruang perpustakaan dengan isi buku buku yang memadai untuk menambah wawasan dan pengetahuan pegawai KPPN Blitar. Selain menyimpan buku buku tentang peraturan yang merupakan kiriman dari Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan, di dalamnya juga tersimpan buku buku yang membahas tema tema umum lainnya, seperti buku tentang motivasi, buku agama, novel pembangun jiwa, buku sejarah peradaban, tak ketinggalan buku tentang ekonomi yang tentunya kesemuanya tidak akan disimpan begitu saja, namun juga menjadi bacaan di sela sela senggang waktu kerja di kantor. Penyediaan sarana gudang yang memadai tempat penyimpanan berkas dan arsip, sehingga memudahkan bagi pegawai KPPN Blitar sewaktu waktu membutuhkan kembali, baik untuk mengecek riwayat suatu pekerjaan maupun ketika ada pemeriksaan dan pembinaan dari Kanwil serta Itjen. Kondisi gudang yang nyaman akan mendorong pegawai untuk rajin mengarsipkan berkas berkas pekerjaan, karena selama ini dalam

bayangan semua pegawai yang namanya gudang kita akan selalu dihadapkan pada ruangan yang kotor, penuh debu, sarang laba laba, acak acakan, tidak beraturan dan sumpek serta pengap. KPPN Blitar dengan penataan yang baik telah memiliki gudang yang mana setiap orang yang masuk tidak lagi merasakan sedang berada di dalam gudang. Pembangunan sarana olah raga, sebagai perwujudan memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat, KPPN Blitar menyediakan lapangan Volley Ball dan lapangan futsal. Lapangan Volley Ball disediakan di halaman kantor yang pada kondisi sehari hari dipergunakan sebagai areal tempat parkir yang representative bagi kendaraan tamu. Dan pelaksanaan olah raga bersama ini menjadi rutinitas setiap hari Jumat pagi sebelum jam pelayanan dimulai, hal ini dapat meningkatkan keakraban dan keeratan hubungan antar pegawai, juga menjaga kesehatan jiwa dan raga semua pegawai. Untuk yang memiliki kemampuan dalam berlari dan mengolah bola, KPPN Blitar telah menyediakan lapangan futsal dengan rumput alami di halaman belakang perumahan dinas, dimana untuk event event tertentu disinilah suasana kekeluargaan terjalin. Pemanfaatan mushola sebagai sarana ibadah bagi para pegawai dalam mendekatkan diri kepada Tuhan Semesta Alam, mengingat sebagian besar pegawai memeluk agama Islam, sehingga jika dalam satu hari kerja terdapat dua atau tiga kali kewajiban menghadap Tuhan, mushola yang tersedia dengan sangat baik dapat menunjang kegiatan tersebut, dan ini tentunya akan memberi dampak bagi kondisi kantor secara menyeluruh, dimana berkah dan karunia Tuhan akan selalu melingkupi kehidupan kantor dan para pegawainya. B. MENINGKATKAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA Sifat dasar manusia adalah rasa ingin tahu yang besar terhadap segala sesuatu yang ditemuinya sehari hari. KPPN Blitar merasakan hal ini sebagai satu potensi yang mesti dipelihara dan dikembangkan. Mengingat kemampuan dan kecakapan yang tidak sama antara satu pegawai dengan pegawai lainnya, KPPN Blitar berupaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusianya. Peningkatan kompetensi dilakukan melalui intensifikasi pelaksanaan GKM (Gugus Kendali Mutu) minimal dalam seminggu sekali pimpinan akan mengumpulkan semua pegawai tanpa kecuali untuk mereview tugas-tugas selama seminggu terakhir dan merespon semua usulan, keluhan bahkan sekadar guyonan. Juga sebagai pijakan untuk melangkah seminggu ke depan, sehingga harapannya pada pelaksanaan tugas minggu yang akan datang semua pegawai selalu satu kata bersama melangkah, menyamakan persepsi. Sehingga pada saat melayani satker tak ada lagi yang komplain karena setiap pegawai berbeda dalam memandang dan menyikapi suatu persoalan dan masalah. Meski tidak cukup disebut sebagai GKM, secara intern setiap seksi juga selalu mengadakan perbincangan informal dengan semua pegawai dalam satu ruangan untuk kembali mengingatkan apa apa yang sudah disepakati dan dipelajari demi kemajuan dan kebaikan bersama. Pengusulan pegawai untuk mengikuti Diklat yang dilaksanakan oleh Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan, dengan harapan pegawai yang ikut diklat dapat menularkan dan memberikan ilmu yang diperolehnya kepada pegawai pegawai lainnya. Sehingga pengetahuan yang didapat tersalurkan secara merata ke seluruh pegawai, dan jika pada saatnya nanti terjadi rolling dan pergantian personil setiap pegawai telah siap mengaplikasikan semua pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya di tempat tugas dan bidang yang baru.

Pimpinan KPPN Blitar memberikan kesempatan dan dorongan kepada semua pegawai untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan di jalur resmi dengan memberikan kesempatan seluas luasnya jika ada pegawai yang akan meneruskan sekolah untuk memperoleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini telah menjadi komitmen KPPN Blitar untuk tidak mempersulit dan menghalangi kemauan pegawai dalam meningkatkan kapasitas keilmuannya. Hal ini semakin meningkatkan soliditas, kebersamaan dan kemampuan dalam melayani pengajuan aplikasi pembayaran satker yang menjadi wilayah pembayaran KPPN Blitar. C. MENINGKATKAN KINERJA PELAYANAN Sebagai pelayan di lingkungan Ditjen Perbendaharaan, KPPN Blitar berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi semua satker. Langkah langkah yang terus diupayakan KPPN Blitar dalam meningkatkan kinerja pelayanan agar satker merasa terpuaskan adalah dengan memberikan kemudahan bagi semua satker dalam berhubungan dengan KPPN Blitar, baik saat mengajukan SPM, proses rekonsiliasi maupun pengajuan aplikasi pembayaran lainnya. KPPN Blitar telah bertekad agar satker yang datang tidak merasa dipersulit dan bahkan merasa dipermudah dengan pelayanan yang diberikan oleh pegawai KPPN Blitar, sehingga tingkat kepuasan atas pelayanan yang diberikan KPPN Blitar jika dukur akan semakin meningkat.

Menginformasikan semua peraturan dan perundang undangan yang berhubungan dengan keuangan bagi satker yang masih belum memahami tata cara dan proses alur pengajuan dokumen ke KPPN Blitar, sekaligus untuk menyamakan pemahaman terhadap peraturan yang ada sehingga jika pihak satker telah memiliki pemahaman yang sama dengan pihak KPPN Blitar ke depannya proses pengajuan SPM menjadi lebih lancar dan lebih baik. Membuka akses yang luas kepada satker untuk mengetahui alur setiap rupiah dana yang menjadi tanggung jawabnya secara terbuka dan transparan. Satker dapat

mengetahui apakah pengajuan dananya telah diproses dan selesai ataukah belum. Jika pun belum apa yang menjadi penyebabnya dan bagaimana jalan keluarnya. Dan semua ini dapat diperoleh satker secara terbuka, transparan dan tanpa biaya apapun. Harapan ke depan satker akan merasa terkesan dan terpikat oleh pelayanan yang diberikan KPPN Blitar sehingga model pelayanan seperti yang diterapkan KPPN Blitar dapat menjadi referensi oleh semua kantor kantor dan satker yang menjadi mitra kerja KPPN Blitar bahkan jika memungkinkan dapat menjadi model sebagai kantor pelayanan di semua kantor pemerintah daerah.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.