You are on page 1of 28

Akuntansi Syari'ah (Akad Istishna')

PEMBAHASAN
A. Pengertian Istishna
Baial istishna atau disebut dengan akad istishna adalah akad jual beli dalam bentuk
pemesanan pembuatan barang tertentu dengan criteria dan persyaratan tertentu yang disepakati
antara pemesan (pembeli/mustashni) dan pemjual (pembuat/shani)-(Fatwa DSN MUI). Shani
akan menyediakan barang yang dipesan sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati dimana
ia dapat menyiapkan sendiri atau melalui pihak lain (istishna pararel).
Dalam PSAK 104 Per 8 dijelaskan barang pesanan harus memenuhi criteria:
1. Memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati
2. Sesuai dengan spesifikasi pemesan (customized), bukan produk missal; dan
3. Harus diketahui krakteristik secara umum yang meliputi jenis, spesifikasi teknis, kualitas dan
kuantitasnya.
B. Jenis akad istishna
1. Istishna yang akad jual belinya dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan
criteria persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan mustashni dan shani.
2. Istishna pararel adalah suatu bentuk akad istisna antara penjual dan pemesan, dimana untuk
memenuhi kewajibannya kepada pemesan, penjual melakukan akad istishna dengan pihak lain
(subkontraktor) yang dapat memenuhi asset yang dipesan pemesan.
Syarata akad istishnapararel, pertama(antara penjual dan pemesan) tidak tergantung pada
istishna kedua (antara penjual dan pemasok). Selain itu, akad antara pemesan dan penjual dan
akad antara penjual dan pemesan harus terpisah dan penjual tidak boleh mengakui adanya
keuntungan selama kontruksi.

C. Rukun dan Ketentuan Akad Istishna


Adapun rukun-rukun istishna ada tiga, yaitu:
1. Pelaku terdiri atas pemesan (pembeli/mustashni) dan penjual (penjual /shani).
2. Objek akad berupa barang yang akan diserahkan dan modal istishna yang berbentuk harga.
3. Ijab dan qobul/ serah terima[1]
Ketentuan syariah dan (Fatwa No. 06/DSN-MUI/IV/2000)
1. Pelaku, harus cakap hukum dan baligh.
2. Objek akad:
a. Ketentuan tentang pembayaran
1.) Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau mamfaat,
demikian juga dengan cara pembayarannya.
2.) Harga yang telah ditetapkan dalam akad tidak boleh berubah. Akan tetapi apabila setelah akad
ditandatangani pembeli mengubah spesifikasi dalam akad maka penambahan biaya akibat
perubahan ini menjadi tanggung jawab pembeli.
3.) Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan.
4.) Pembayaran tidak boleh berupa pembebasan utang.
b. Ketentuan tentang barang
1.) Barang pesanan harus jelas spesifikasinya (jenis, ukuran, motu) sehingga tidak ada lagi jahalah
dan perselisian dapat dihindari.
2.) Barang pesanan diserahkan kemudian.
3.) Waktu dan penyerahan pesanan harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
4.) Barang pesanan yang belum diterima tidak boleh dijual.
5.) Tidak boleh menukar barang kecuali dengan barang sejenis sesuai dengan kesepakatan.

6.) Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan memiliki hak
khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau mebatalkan akad.
7.) Dalam hal pemesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya mengikat, tidak
boleh dibatalkan sehingga penjual tidak dirugikan karena ia telah menjalankan kewajibannya
sesuai dengan kesepakatan.
3. Ijab kabul
Adanya pernyataan dan espresi saling ridha/rela diantara pihak-pihak akad yang dilakukan secara
verbal, tertulis, melalui korespondensi atau menggunakan cara-cara komonikasi mudern.[2]
D. Fatwa No. 22/DSN-MUI/III/2002. Tentang Jual Beli Istishna Pararel
Ketentuan Umum
1. Jika LKS melakukan transaksi istishna, untuk memenuhi kewajibannya kepada nasabah ia dapat
melakukan istishna lagi dengan pihak lain pada objek yang sama, dengan syarat istishna
pertama tidak tergantung (Muallag) pada istishna kedua.
2. LKS selaku mustashni tidak diperkenankan untuk memungut MDC (Margin During
Construction) dari nasabah (Shani) karena hai ini tidak sesuai dengan prinsip syariah.
Semua rukun dan syarat-syarat yang berlaku dalam akad istishna (Fatwa DSN No. 06/DSNMUI/IV/2000) Berlaku pula dalam istishna pararel.
Ketentuan Lain
1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara para
pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah Tidak tercapai
kesepakatan melalui musyawarah.
2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dengan ketentuan jika dikemudian hari ternyata
dapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagai mestinya.[3]

E. Berakhinya akad Istishna


Kontrak istishna bisa berakhir berdasarkan kondisi-kondisi sebagai berikut:
1. Tidak terpenuhinya kewajiban secara formal oleh kedua belah pihak.
2. Persetujuan kedua belah pihak untuk menhentikan kontrak.
3. Pembatalan hukum kontrak. Ini jika muncul sebab ia masuk untuk mencegah dilaksanakannya
kontrak atau penyelesaiannya, dan masing masing pihak dapat membatalkannya.[4]
F. Landasan Hukum
a.

Al-Quran
Hai orang-orang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang
ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya(QS. Al-Baqoroh:283).

b. Al-Hadist
Amir bin Auf berkata: Perdamaian dapat dilakukan diantara kaum muslim kecuali perdamaian
yang mengharumkan yang halal dan menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat
dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan
yang haram. (HR.Tirmidzi).
Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan : jual beli secara tangguh, muqaradhah
(mudharabah) dan mencampur gandum denga tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk
dijual.(HR. Ibnu Majjah).[5]
Wiroso (2005: 168-187) menjelaskan bahwa sesuai dengan pengertian istishna, maka
mekanisme pembayaran transaksi istishna yang disepakati dapat dalam akad dapat dilakukan
dengan tiga cara; yaitu:
1. Pembayaran Dimuka Secara Keseluruhan

Proses pembayaran ini dilakukan dengan cara keseluruhan harga barang pada saat akad sebelum
aktivita istishna yang dipesan pada pembelian akhir. Cara pembayaran seperti ini sama dengan
pembayaran dalam transaksi salam.
2. Pembayaran Secara Angsuran Selama Proses Pembuatan
Proses pembayaran dilakukan oleh pemesan secara bertahap atau secara angsuran selama proses
pembuatan barang. Cara pembayaran memungkinkan adanya pembayaran dalam beberapa termin
sesuai dengan perkembanga proses pembuatan aktiva istishna.
3. Pembayaran Setelah Penyelesaian Barang

Prosese pembayaran dilakukan oleh pemesan kepada lembaga keuangan syariaah setelah aktiva
istishna yang dipesan diserahkan kepada pembeli akhir, baik pembayaran secara keseluruhan
maupun pembayaran secara angsuran. Cara pembayaran istishna seperti ini sama dengan cara
pembayaran transaksi murabahah.[6]
G. Teknis Penghitungan Transaksi Istishna
1. Transaksi istishna pertama
Untuk mengembangkan klinik Ibu dan Anak nya yang dikelolahnya, dr.Niken berencana
menambah satu unit bangunan seluas 100 M khusus untuk rawat inap disebelah barat bangunan
utama klinik. Untuk kebutuhan itu, dr.Niken memghubungi Bank Berkah Syariah untuk
menyediakan bangunan baru sesuai dengan spesifikasi yang diinginkannya setelah serangkaian
negosiasi beserta kegiatan survey untuk menghasilkan desain bangunan yang akan dijadikan
acuan spesifikasi barang, pada tanggal 10 february ditandatangangilah akad transaksi istishna
pengadaan bangunan untuk rawat inap. Adapun kesepakatan antara dr.Niken dengan Bank
Berkah Syariah adalah sebagai berikut:

Harga Bangunan : Rp 150.000.000

Lama penyelesaiannya : 5 bulan (paling lambat tanggal 10 juli)

Mekanisme penagihan : 5 termin sebesar Rp 30.000.000 pertermin mulai tanggal 10 agustus

Mekanisme pembayaran : setiap 3 hari setelah tanggal penagihan


Penjurnalan Transaksi Istishna

a.

Transaksi biaya pra akad (Bank sebagai penjual)


Misalkan : pada tanggal 5 february, untuk keperluan survey dan pembuatan desain bangunan
yang akan dijadikan acuan spesifikasi barang, Bank Berkah Syariah telah mengeluarkan Kas
Hingga RP 20.000.000. maka jurnal untuk transaksi ini adalah sebagai berikut:
Tanggal
5/2/

Rekening
beban praakad ditangguhkan
Kas

Debet (Rp)
20.000.000

Kredit (Rp)
20.000.000

b. Penandatanganan akad dengan pembeli (Bank sebagai penjual)


Misalkan, kasus dr. Niken dengan Bank Berkah Syariah diatas, transaksi istishna jadi disepakati
pada tanggal 10 february, maka jurnal pengakuan beban perakad menjadi biaya istishna adalah
sebagai berikut
Tanggal
10/2/

Rekening
Biaya istishna

Debit (Rp)
20.000.00

Kredit (Rp)

0
c.

Beban praakad ditangguhkan


Penagihan piutang istishna pembeli

20.000.000

Misalkan pada kasus diatas, penagihan oleh bank kepada pembeli akhir dilakukan dalam 5
termin dalam jumlah yang sama yaitu Rp 30.000.000, setiap tanggal 10 mulai bulan agustus.
Maka jurnal untuk mengakui 5 kali penagihan piutang istishna kepada pembeli dan penerimaan
pembayaran dari pembeli tersebut adalah sebagai berikut:

Tanggal
10/8

Rekening
Piutang istishna
Termin istishna
*150.000.000/5

Debit (Rp)
30.000.000

Kredit (Rp)
30.000.0000

termin=30.000.000/pertermi
n.
d. Penerimaan pembayaran piutang istishna dari pembeli
Pembayaran piutang istishna oleh nasabah dilakukan setelah menerima tagihan istishna dari
bank. Oleh karena termin istishna merupakan pos lawan dari piutang istishna, maka pada waktu
pembayaran piutang bank sebagai penjual perlu menutup termin istishna.
Misalkan, dalam kasus diatas, pembayaran oleh nasabah pembeli dilakukan 3 hari setelah
menerima tagihan dari bank sebagai penjual. Maka jurnal untuk mengakui setiap penerimaan
pembayaran dari pembeli adalah sebagai berikut:
Tanggal

Rekening

Debit (Rp)

13/8

Kas/rekening nasabah

30.000.000

Kredit
(Rp)

pembeli istishna
Piutang istishna
Termin istishna
Asset istishna dalam

30.000.000
30.000.000
30.000.000

penyelesaian
2. Transaksi Istishna kedua
Untuk membuat bangunan sesuai dengan keinginan dr.Niken pada tanggal 12 February , Bank
Berkah Syariah memesan kepada kontraktor PT.Thariq kontruksi dengan kesepakatan adalah
sebagai berikut:

Harga bangunan : Rp 130.000.000

Lama penyelesaianya : 4 bulan 15 hari (paling lambat 27 juni) Mekanisme penagihan kntraktor
tiga termin pada saat penyelesaian 20%,

50% dan 100%.

Mekanisme pembayaran oleh Bank : dibayar tunai sebesar tagihan oleh kontraktor.
Penjurnalan Transaksi Istishna
Pembuatan akad istishna pararel dengan pembuat barang (Bank Sebagai pembeli)
Berdasarkan PSAK No 104 paragraf 29 disebutkan bahwa biaya perolehan istishna pararel
terdiri dari

Biaya perolehan barang pemesan sebesar tagihan produsen atau kontraktor kepada entitas.
Biaya tidak langsung yaitu biaya overhead termasuk biaya akad dan praakad.
Semua biaya akibat produsen atau kontraktor tidak dapat memenuhi kewajibannya, jika ada.
a.

Penerimaan dan pembayaran tagihan kepada penjual (pembuat) barang istishna


Dalam kasus diatas, disebutkan bahwa mekanisme pembayaran dilakukan dalam tiga termin
yaitu pada saat penyelesaian 20%, 50% dan 100%. Misalkan dalam perjalanannya, realisasi
tagihan ketiga termin tersebut ditunjukan dalam table berikut:

No

Tingkat

Tanggal

Jumlah

Tanggal

Jumlah

termin

penyelesaia

penagihan

Penagiha

pembayar

pembayar

n
20%

kontraktor
1 April

n
26.000.0

an
8 April

an
26.000.00

15 Mei

00
39.000.0

22 Mei

0
39.000.00

25 Juni

00
65.000.0

2 Juni

0
65.000.00

II
III

30%
50%

00

b. Lanjutan transaks diatas


Missal pada tanggal 1 april, PT.Thariq kontruksi melesaiakan 20% pembangunan dan menagih
pembayaran termin pertama sebesar Rp 26.000.000 (20%X Rp 130.000.000) kepada Bank
Berkah Syariah. Jurnal penagihan pembayaran oleh pembuat barang adalah sebagai berikut:
Tanggal

Rekening
Asset istishna dalam

Debit (Rp)
26.000.000

Kredit (Rp)

penyelesaian
Hutang istishna
c.

26.000.000

Lanjutan transaksi diatas


Misalkan tagihan kedua diterima pada tanggal 15 mei dan diikuti dengan pembayaran oleh bank
pada tanggal 22 mei. Jurnal untuk transaksi berikut adalah sebagai berikut:

Tanggal
15/5/

Rekening
Asset istishna dalam

Debit (Rp)
39.000.00

penyelesaian
Hutang istishna

Kredit (Rp)

39.000.000
*

*(50%-20%) X Rp
22/5/XA

130.000.000 = 39.000.000
Hutang istishna- pembuat

39.000.00

barang
Kas/rekening nasabah

0
39.000.000

pemasok
d. Lanjutan transaksi diatas
Missalkan, tagihan ketiga tanggal 25 juni dan dibayarkan pada tanggal 2 juni . Jurnar untuk
transaksi adalah:
tangga

Rekening

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

l
Asset istishna dalam

65.000.000

penyelesaian
25/6
Hutang istishna
*(100%-50%) X Rp
2/7

130.000.000=65.000.000
Hutang istishna-

65.000.0000*

65.000.000

pembuat barang
Kas/rekening nasabah

65.000.000

pemasok
Kesimpulan
Dari latar belakang dan isi makalah diatas, dapat lah saya ambil kesimpulan bahwah akad
istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pesanan pembuatan barang tertentu dengan criteria
dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli/mustashni) dan penjual
(pembuat /shani).
Walaupun istishna adalah akad jual beli, tetapi memiliki perbedaan dengan salam maupun
morabahah. Istishna lebih kekontrak pengadaan barang yang ditangguhkan dan dapat dibayar
secara tangguh pula.
DAFTAR REFRENSI
Muhammad,Rifqi, Akuntansi Keuangan Syariah Konsep dan Implementasi PSAK Syariah.
Edisi 1, Yokyakarta : P3EI Press, 2008.
Nurhayati, Sri, Wasilah. Akuntansi Syariah di Indonesia Edisi 2 Revisi, Jakarta : Salemba
Empat, 2011.
Rizal Yaya, Aji Eerlangga Matawireja, Ahim Abdurahim. Akuntansi Perbankan Syariah : Teori
dan Praktek Kontemporer. Jakarta : Salemba Empat, 2009.

Pengertian akad istishna

1.
2.
3.
1.
2.

Akad istishna adalah akad jualbeli dalam bentuk pesanan pembuatan barang tertentu dengan
criteria dan persyaratan tertentu yang disepakatai antara si pemesan atau pembeli/mustasni dan
penjual atau pembuat/shani . Dalam hal ini si pejual dapat mempersiapkan sendiri barang yang
akan di jualnya dan bisa juga dari pihak lain yang membuat baran untuk di jual si penjual
Dalam PSAK 104 dijelaskan barang pesanan harus memenuhi kriteria :
Memrlukan proses pembuatan setelah akad di sepakati
Sesuai dengan spesifikasi si pemesan
Harus di ketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis ,kualitas,dan kuantitasnya
Setelah si penjual dan si pembeli melakuakan akad jual beli istishna dan disepakati maka akan
mengikat para pihak yang bersepakat dan pada dasarnya tidak dapat di batalkan kecuali :
Kedua belah pihak setuju dan menhentikanya
Akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum yang dapat mengahalangi pelaksanaan
atau penyelesaian akad ( PSAK 104)
Akad berakhir apabila kewajiban kedua belah pihak telah terpenuhi atau kedua belah pihak
bersepakat untuk menghentikan akad

2.skema akad istishna


skema akda isthisna dan skema paralel

Kata istishna berasal dari kata ( shanaa) yang artinya membuat kemudian ditambah huruf
alif, sin dan ta menjadi ( istashnaa) yang berarti meminta dibuatkan sesuatu. Istishna
atau pemesanan secara bahasa artinya: meminta di buatkan. Menurut terminologi ilmu fiqih
artinya: perjanjian terhadap barang jualan yang berada dalam kepemilikan penjual dengan syarat
di buatkan oleh penjual, atau meminta di buatkan secara khusus sementara bahan bakunya dari
pihak penjual. Syarat sahnya perjanjian pemesananan ini adalah bahwa bahan baku harus berasal
dari si tukang. Kalau berasal dari pihak pemesan atau pihak lain, tidak disebut pemesanan, tetapi
menyewa tukang.
Akad Istishna menurut Fatwa DSN-MUI no: 06/DSN-MUI/IV/2000 adalah akad jual beli
dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu
yang disepakati antara pemesan (Pembeli/Mustashni') dan penjual (Pembuat/Penjual/Shani').
Pembuat barang bisa menyiapkan sendiri atau juga berusaha melalui orang lain untuk membuat
atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah di sepakati dan menjualnya kepada pembeli
akhir. Kedua belah pihak bersepakat atas harga serta sistem pembayaran di lakukan di muka,
melalui cicilan atau di tangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang.
Dalam PSAK 104 dijelaskan barang pesanan harus memenuhi kriteria :
1. Memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati
2. Barang pesanan harus sesuai dengan spesifikasi pemesan
3. Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum yang
meliputi jenis ,kualitas,dan kuantitasnya

1. 2.

Pengakuan, Pengukuran, dan Penyajian Istishna

2.1.Akuntansi untuk Penjual


Penyatuan dan Segmentasi Akad
1)
Bila suatu akad istishna mencakup sejumlah aset pengakuan dari setiap aset diperlakukan
sebagai suatu akad yang terpisah jika:
1. Proposal terpisah telah diajukan untuk setiap asset
2. Setiap aset telah dinegosiasikan secara terpisah dimana penjual dan pembeli
dapat menerima atau menolak bagian akad yang berhubungan dengan
masing-masing aset tersebut, dan biaya dan pendapatan masing-masing aset
dapat diidentifikasikan

2)
Suatu kelompok akad istishna, dengan satu atau beberapa pembeli harus diperlakukan
sebagai satu akad istishna jika:
1. Kelompok akad tersebut dinegosiasikan sebagai satu paket
2. Akad tersebut berhubungan erat sekali, sebetulnya akad tersebut merupakan
bagian dari akad tunggal dengan suatu margin keuntungan dan akad
tersebut dilakukan secara serentak atau secara berkesinambungan

3)
Jika ada pemesanan aset tambahan dengan akad istishna terpisah, tambahan aset tersebut
diperlakukan sebagai akad yang terpisah jika :
1. Aset tambahan berbeda secara signifikan dengan aset dalam akad istishna
awal dalam desain,teknologi atau fungsi ; atau
2. Harga aset tambahan dinegosiasikan tanpa terkait harga akad istishna awal

Pendapatan istishna dan istishna paralel


1. Pendapatan istishna diakui dengan menggunakan metode presentase
penyelesaian atau metode akad selesai. Akad dikatakan selesai jika proses
pembuatan barang pesanan selesai dan diserahkan kepada pembeli

Jika metode persentase penyelesaian digunakan, maka :


1. Bagian nilai akad yang sebanding dengan pekerjaan yang telah diselesaikan
dalam periode tersebut diakui sebagai pendapatan istishna pada periode
yang bersangkutan
2. Bagian margin keuntungan istishna yang diakui selama periode pelaporan
ditambahkan pada aset istishna dalam penyelesaian; dan
3. Pada akhir periode harga pokok istishna diakui sebesar biaya istishna yang
telah dikeluarkan sampai dengan periode tersebut.
4. jika estimasi persentase penyelesaian akad dan biaya untuk penyelesaiannya
tidak dengan ditentukan secara rasional pada akhir periode laporan
keuangan maka digunakan metode akad selesai dengan ketentuan sebagai
berikut :
1. Tidak ada pendapatan istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan
tersebut selesai
2. Tidak ada harga pokok istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan
tersebut selesai

3. Tidak ada bagian keuntungan yang diakui dalam istishna dalam


penyelesaian sampai dengan pekerjaan tersebut selesai; dan
4. Pengakuan pendapatan istishna, harga pokok istishna, dan keuntungan
dilakukan hanya pada akhir penyelesaian pekerjaan.

Istishna dengan Pembayaran Penuh


Jika menggunakan metode persentase penyelesaian dan proses pelunasan dilakukan dalam
periode lebih dari satu tahun dari penyerahan barang pesanan, maka pengakuan pendapatan
dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. margin keuntungan pendapatan barang pesanan yang dihitung apabila
istishna dilakukan secara tunai diakui sesuai persentase penyelesaian
2. Selisih antara nilai akad dengan nilai tunai pada saat penyerahan diakui
selama periode pelunasan secara proporsional sesuai dengan jumlah
pembayaran. Proporsional yang dimaksud sesuai dengan paragraf 24-25
PSAK 102 : Akuntansi Murabahah

Meskipun istishna dilakukan dengan pembayaran tangguh, penjual harus menentukan nilai tukar
istishna pada saat penyerahan barang pesanan sebagai dasar untuk mengakui margin keuntungan
terkait dengan proses pembuatan barang pesanan. Margin ini menunjukkan nilai tambah yang
dihasilkan pada proses pembuatan barang pesanan. Sedangkan yang dimaksud dengan nilai akad
dalam istishna dengan pembayaran langsung adalah harga yang disepakati antara penjual dan
pembeli akhir. Hubungan antara biaya perolehan, nilai tunai, dan nilai akad diuraikan dalam
contoh sebagai berikut:
Biaya perolehan (biaya produksi)

Rp 1.000

Margin keuntungan pembuatan barang pesanan

Rp

Nilai tunai pada saat penyerahan barang pesanan

Rp 1.200

Nilai akad untuk pembayaran secara angsuran selama tiga tahun

Rp 1.600

Selisih nilai akad dan nilai tunai yang diakui selama tiga tahun

Rp

200

400

Jika menggunakan metode akad selesai dan proses pelunasan dilakukan dalam periode lebih dari
satu tahun dari penyerahan barang pesanan maka pengakuan pendapatan dibagi menjadi dua
bagian, yaitu:
1. Margin keuntungan pembuatan barang pesanan yang dihitung apabila
istishna dilakukan secara tunai, diakui pada saat penyerahan barang pesanan

2. Selisih antara nilai akad dan nilai tunai pada saat penyerahan diakui selama
periode pelunasan secara proporsional sesuai dengan jumlah pembayaran
3. Tagihan setiap termin kepada pembeli diakui sebagai piutang istishna dan
termin istishna (istishna billing) pada pos lawannya.

Penagihan termin yang dilakukan oleh penjual dalam transaksi istishna dilakukan sesuai dengan
kesepakatan dalam akad dan tidak selalu sesuai dengan persentase penyelesaian pembuatan
barang pesanan.
Biaya Perolehan Istishna
Biaya perolehan istishna terdiri dari:
1. Biaya langsung yaitu bahan baku dan tenaga kerja langsung untuk membuat
barang pesanan
2. b.
Biaya tidak langsung adalah biaya overhead, termasuk biaya akad dan
pra-akad
3. c.
Biaya pra-akad diakui sebagai beban tangguhan dan diperhitungkan
sebagai biaya istishna jika akad disepakati. Namun jika akad tidak disepakati,
maka biaya tersebut dibebankan pada periode berjalan.
4. d.
Biaya perolehan istishna yang terjadi selama periode laporan
keuangan, diakui sebagai aset istishna dalam penyelesaian pada saat
terjadinya.
5. e.
Beban umum dan administrasi, beban penjualan, serta biaya riset dan
pengembangan tidak termasuk dalam biaya istishna

Biaya Perolehan Istishna Paralel


Biaya istishna paralel terdiri dari:
1. Biaya perolehan barang pesanan sebesar tagihan produsen atau kontraktor
kepada entitas;
2. b.
Biaya tidak langsung adalah biaya overhead, termasuk biaya akad dan
pra-akad
3. c.
Semua biaya akibat produsen atau kontraktor tidak dapat memenuhi
kewajibannya, jika ada

4. d.
Biaya perolehan istishna paralel diakui sebagai aset istishna dalam
penyelesaian pada saat diterimanya tagihan dari produsen atau kontraktor
sebesar jumlah tagihan.

Penyelesaian Awal
Jika pembeli melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo dan penjual memberikan
potongan, maka potongan tersebut sebagai pengurang pendapatan istishna. Pengurangan
pendapatan istishna akibat penyelesaian awal piutang istishna dapat diperlakukan sebagai :
1. Potongan secara langsung dan dikurangkan dari piutang istishna pada saat
pembayaran; atau
2. b.
Penggantian (reimbursed) kepada pembeli sebesar jumlah keuntungan
yang dihapuskan tersebut setelah menerima pembayaran piutang istishna
secara keseluruhan

Perubahan Pesanan dan Tagihan Tambahan


Pengaturan pengakuan dan pengukuran atas pendapatan dan biaya istishna akibat perubahan
pesanan dan tagihan tambahan adalah sebagai berikut :
1. Nilai dan biaya akibat perubahan pesanan yang disepakati oleh penjual dan
pembeli ditambahkan kepada pendapatan istishna dan biaya istishna;
2. b.
Jika kondisi pengenaan setiap tagihan tambahan yang dipersyaratkan
dipenuhi, maka jumlah biaya setiap tagihan tambahan yang diakibatkan oleh
setiap tagihan akan menambah biaya istishna; sehingga pendapatan istishna
akan berkurang sebesar jumlah penambahan biaya akibat klaim tambahan
3. c.
Perlakuan akuntansi (a) dan (b) juga berlaku pada istishna paralel,
akan tetapi biaya perubahan pesanan dan tagihan tambahan ditentukan oleh
produsen atau kontraktor dan disetujui penjual berdasarkan akad istishna
paralel.

Pengakuan Taksiran Rugi


Jika besar kemungkinan terjadi bahwa total biaya perolehan istishna akan melebihi pendapatan
istishna, taksiran kerugian harus segera diakui. Jumlah kerugian semacam itu ditentukan tanpa
memperhatikan:

1. Apakah pekerjaan istishna telah dilakukan atau belum;


2. b.

Tahap penyelesaian pembuatan barang pesanan; atau

3. c.
Jumlah laba yang diharapkan dari akad yang tidak diperlakukan
sebagai suatu akad tunggal sesuai paragraf.

2.2. Akuntansi untuk Pembeli


Akuntansi transaksi istishna dari sudut pandang pembeli antara lain sebagai berikut:
1. Pembeli mengakui aset istishna dalam penyelesaian sebesar jumlah termin
yang ditagih oleh penjual dan sekaligus mengakui hutang istishna kepada
penjual.
2. Aset istishna yang diperoleh melalui transaksi istishna dengan pembayaran
tangguh lebih dari satu tahun diakui sebesar biaya perolehan tunai. Selisih
antara harga beli yang disepakati dalam akad istishna tangguh dan biaya
perolehan tunai diakui sebagai beban istishna tangguhan.
3. Beban istishna tangguhan diamortisasi secara proporsional sesuai dengan
porsi pelunasan hutang istishna.
4. Jika barang pesanan terlambat diserahkan karena kelalaian atau kesalahan
penjual dan mengakibatkan kerugian pembeli, maka kerugian itu dikurangkan
dari garansi penyelesaian proyek yang telah diserahkan penjual. Jika kerugian
tersebut melebihi garansi penyelesaian proyek, maka selisihnya akan diakui
sebagai piutang jatuh tempo kepada penjual dan jika diperlukan dibentuk
penyisihan kerugian piutang.
5. Jika pembeli menolak menerima barang pesanan karena tidak sesuai dengan
spesifikasi dan tidak memperoleh kembali seluruh jumlah uang yang telah
dibayarkan kepada penjual, maka jumlah yang belum diperoleh kembali
diakui sebagai piutang jatuh tempo kepada penjual dan jika diperlukan
dibentuk pentisihan kerugian piutang.
6. Jika pembeli menerima barang pesanan yang tidak sesuai dengan spesifikasi,
maka barang pesanan tersebut diukur dengan nilai yang lebih rendah antara
nilai wajar dan biaya perolehan. Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian
pada periode berjalan
7. Dalam istishna paralel, jika pembeli menolak menerima barang pesanan
karena tidak sesuai dengan spesifikasi yang disepakati, maka barang
pesanan diukur dengan nilai yang lebih rendah antara nilai wajar dan harga
pokok istishna. Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian pada periode
berjalan.

1. 3.

AKUNTANSI TRANSAKSI ISTISHNA

3.1 Jurnal Standar Istishna Biasa-Akuntansi Penjual

1. Saat pengeluaran biaya sebelum akad

(Dr) Beban Istishna yang ditangguhkan

XX

(Cr) Kas

XX

1. Jika akad tidak ditandatangani

(Dr) Beban pra-akad

XX

(Cr) Beban Istishna yang ditangguhkan

XX

1. Saat pengeluaran biaya istishna setelah akad ditandatangani

(Dr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

(Dr) Beban Istishna yang ditangguhkan

XX

(Cr) Kas

XX

1. Pada saat penagihan kepada pembeli

(Dr) Piutang Istishna

XX

(Cr) Termin Istishna

XX

1. Pada saat penerimaan pembayaran dari pembeli

(Dr) Kas
(Cr) Piutang Istishna

XX
XX

1. Pengakuan keuntungan pada akhir periode dengan menggunakan metode


persentase

(Dr) Beban pendapatan Istishna

XX

(Dr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

(Cr) Pendapatan Istishna

XX

(sesuai porsi penyelesaian)

1. Pengakuan kerugian pada akhir periode dengan menggunakan metode


persentase

(Dr) Beban pendapatan Istishna

XX

(Cr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

(Cr) Pendapatan Istishna

XX

(sesuai porsi penyelesaian)

1. Pengakuan keuntungan/kerugian pada akhir periode dengan menggunakan


metode akad selesai.

Maka,tidak ada jurnal, karena metode ini mengakui pendapatan istishna hanya pada akhir masa
kontrak.
1. Pengakuan keuntungan pada akhir masa kontrak dengan menggunakan
metode persentase.

(Dr) Beban pendapatan Istishna

XX

(Dr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

(Cr) Pendapatan Istishna

XX

(sesuai porsi penyelesaian)


10. Pengakuan kerugian pada akhir masa kontrak dengan menggunakan metode persentase.

(Dr) Kerugian Istishna

XX

(sebesar selisih antara pendapatan dan beban


Istishna)
(Cr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

11. Pengakuan keuntungan pada akhir masa kontrak dengan menggunakan metode akad selesai.
(Dr) Beban pendapatan Istishna

XX

(Dr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

(Cr) Pendapatan Istishna

XX

12. Pengakuan kerugian pada akhir masa kontrak dengan menggunakan metode akad selesai.
(Dr) Kerugian Istishna

XX

(sebesar selisih antara pendapatan dan beban


Istishna)
(Cr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

13. Pada saat barang pesanan selesai diproduksi.


(Dr) Persediaan Istishna

XX

(Cr) Aktiva Istishna dalam penyelesaian

XX

14. Pada saat penjual menyerahkan barang pesanan kepada pembeli


(Dr) Termin Istishna
(Cr) Persediaan Istishna
15. Pemberian potongan kepada pembeli

XX
XX

a)

Potongan secara langsung

(Dr) Pendapatan Istishna

XX

(Cr) Piutang Istishna


b)

XX

Potongan tidak langsung (reimbursed)

(Dr) Beban potongan (muqasah)

XX

(Cr) Kas

XX

(dibayar setelah pembeli melunasi


piutangnya)

3.2. Jurnal Standar Akuntansi Pembeli

1. 1.

Saat pembeli menerima garansi penyelesaian proyek

Kas

xx

Titipan uang garansi

xx

1. Pembeli menerima tagihan dari penjual

Aktiva istishna dalam penyelesaian

xx

Hutang istishna

xx

1. Pembeli membayar tagihan dari kontraktor

Hutang istishna
Kas
1. Pembeli menerima aktiva istishna

xx
xx

Persediaan

xx

Aktiva istishna dalam penyelesaian

xx

1. Pembeli menolak aktiva istishna dari sub-kontraktor akibat salah spesifikasi

Piutang kontraktor

xx

(sebesar uang yang belum kembali)


Kas

xx

(sebesar uang yang telah kembali)


Aktiva istishna dalam penyelesaian

xx

1. Pembeli menerima aktiva istishna meski salah spesifikasi

Persediaan

xx

(sebesar nilai istishna yang salah spesifikasi)


Kerugian aktiva istishna

xx

(sebesar penurunan nilai karena salah spesifikasi)


Aktiva istishna dalam penyelesaian

xx

1. Bila kontraktor terlambat mengirim barang pesanan sehingga pembeli


merugi

1)

Uang garansi < kerugian

Titipan uang garansi

xx

Piutang kepada kontraktor

xx

Pendapatan ganti rugi istishna

xx

2)

Uang garansi > kerugian

Titipan uang garansi

xx

Hutang kepada kontraktor

xx

Pendapatan ganti rugi istishna

1. 4.

xx

Ilustrasi Akuntansi Transaksi Istishna:

PT Amanah membutuhkan rumah tipe 120/216 dengan spesifikasi khusus untuk kantor. Harga
rumah Rp.200 juta, dana yang dibayarkan PT Amanah untuk uang muka Rp.50 juta. Perusahaan
mengajukan pembiayaan kepada bank syariah. Setelah akad ditandatangani antara PT Amanah
dan Bank Syariah dengan nilai akad Rp. 200 juta, bank syariah memesan kepada pengembang,
dan pengembang akan menyelesaikan pemesanannya selama 9 bulan. Bank membayar biaya pra
akad sebesar Rp.1 juta, dan akad ditandatangani antara bank dan PT Amanah pada 1 juli 2011.
PT Amanah menyerahkan uang muka sbs Rp.50 juta. Di samping itu bank juga menandatangani
akad pembelian/pesanan kepada pengembang pada 1 juli 2011, dengan harga beli Rp.170 juta.
Berikut ini data dan tagihan yang dilakukan oleh pengembang sampai dengan selesai per 1 Maret
2012:

2 Juli 2011:Bank menerima uang muka dari pembeli


1 Agt 2011:pengembang menagih untuk pembangunan aktiva istishna
Rp.30 juta
1 Nov 2011:Pengembang menagih untuk pembangunan aktiva istishna
Rp.50 juta
1 Feb 2011:Pengembang menagih untuk pembangunan aktiva istishna
Rp.90 juta
1 Mar 2011:Pengembang menyerahkan aktiva istishna yg telah selesai kpd
Bank Syariah
1 Mar 2011:Pengembang menyerahkan aktiva istishna yg telah selesai kpd
PT Amanah. PT Amanah mengangsur pembayaran rumah
selama 2 tahun. Bank Syariah mengenakan keuntungan

istishna 10% dari pembiayaan.


Perhitungan:
Pemesan akan melunasi rumah pesanannya pada saat rumah selesai dibangun dan diserahkan
bank syariah kepada PT Amanah, dengan harrga kontrak 200 juta. Harga pokok rumah=Rp.170
juta. Jadi laba bank syariah=Rp200 juta Rp.171 juta=Rp.29 juta. Harga jual bila diangsur 2
tahun= Rp.200 juta + 10% (Rp.200 juta)=Rp.220 juta. Angsuran/bulan= Rp.220
juta/24=Rp.9.166.667;- sedang margin/bulan = Rp. 20 juta/24=Rp.833.333;Jurnal yang dibuat oleh bank syariah:
1. Pada saat bank syariah menerima uang muka dari PT Amanah:1 Juli 2011

Dr. Kas

Rp.50.000.000

Cr. Uang Muka Istishna

Rp.50.000.000

1. Pada saat bank syariah mencatat biaya pra akad Rp.1.000.000

Dr. Beban pra-akad yg tangguhan

Rp.1.000.000

Cr. Kas

Rp.1.000.000

1. Pada saat ada kepastian akad istishna dengan nasabah PT Amanah

Dr. Aset istishna dalam penyelesaian

Rp.1.000.000

Cr. Beban pra akad tangguhan

Rp.1.000.000

1. Pada saat bank menerima tagihan dari pengembang dan membayarnya


tanggal 1 Agt 2011 sbs Rp.30 juta

Dr. Aset Istishna dalam penyelesaian

Rp.30.000.000

Cr. Hutang Istishna

Rp.30.000.000

1. Pada saat bank syariah membayar hutang istishna

Dr. Hutang Istishna

Rp.30.000.000

Cr. Kas
1. Tanggal 1 Nov 2011 sbs Rp.50 juta

Rp.30.000.000

Dr. Aset Istishna dalam penyelesaian

Rp.50.000.000

Cr. Hutang Istishna

Rp.50.000.000

1. Pada saat bank syariah membayar hutang istishna

Dr. Hutang Istishna

Rp.50.000.000

Cr.Kas

Rp.50.000.000

1. Tanggal 1 Feb 2012 sbs Rp.90 juta

Dr. Aset Istishna dalam penyelesaian

Rp.90.000.000

Cr. Hutang Istishna

Rp.90.000.000

1. Pada saat bank syariah membayar hutang istishna

Dr. Hutang Istishna

Rp.90.000.000

Cr.Kas

Rp.90.000.000

10. Pada saat bank menerima barang pesanan dari pengembang yang sudah selesai 100%, bank
akan membuat jurnal sbb:
Dr. Aset Istishna
Cr. Aset Istishna dalam penyelesaian

Rp.171.000.000
Rp171.000.000

11. Pada saat bank menyerahkan rumah kpd nasabah PT Amanah


Dr. Piutang Istishna

Rp.220.000.000

Cr. Persediaan barang istishna

Rp171.000.000

Cr. Pendapatan margin istishna

Rp 29.000.000

Cr. Margin istishna tangguhan

Rp 20.000.000

Dr. Uang muka istishna


Cr. Piutang Istishna

Rp.50.000.000
Rp 50.000.000

12. Pada saat bank syariah menerima angsuran per bulan PT Amanah

Dr. Ka/Rek PT Amanah

Rp.9.166.667

Cr. Piutang Istishna

Rp 9.166.667

Mengakui pendapatan margin istishna


Dr. Margin istishna tangguhan

Rp. 833.333

Cr. Pendapatan Margin Istishna

1. 5.

Rp 833.333

CONTOH-CONTOH LAIN AKUNTANSI TRANSAKSI ISTISHNA:

2. Pada tanggal 5 April 2010, Bank Aman Syariah (BAS) menegeluarkan biaya
pra akad yang berhubungan dengan survey dan pembuatan desain bangunan
rumah yang akan dijadikan acuan spesifikasi barang. BAS telah
mengeluarkan uang tunai sebesar Rp. 5.000.000;- Jurnal untuk mengakui
transaksi tsb adalah:

Tanggal

Rekening

Debit (Rp)

05-04-2010

Dr.Biaya Pra akad


ditangguhkan

Rp.5.000.000;-

Cr. Kas

Kredit (Rp)

Rp.5.000.0000;-

Apabila terjadi kesepakatan antara BAS dengan Tuan Agung pada tanggal 10 April 2010, maka
jurnal pengakuan beban pra akad menjadi biaya istishna adalah sebagai berikut:
Tanggal

Rekening

Debit (Rp)

05-04-2010

Dr.Biaya Istishna

Rp.5.000.000;-

Cr. Biaya Pra akad ditangguhkan

Kredit (Rp)

Rp.5.000.0000;-

1. Pada tanggal 1 juni 2010, PT Konstruksi menyelesaikan 20% pembangunan


dan menagih pembayaran termin pertama sebesar Rp.25.000.000;- kepada
BAS. Jurnal pengakuan penagihan pembayaran oleh pembuat barang adalah
sebagai berikut:

Tanggal

Rekening

Debit (Rp)

01-06-2010

Dr.aset istishna dalam


penyelesaian

Rp.25.000.000;-

Cr. Utang Istishna

Kredit (Rp)

Rp.25.000.0000;-

1. BAS melakukan penagihan kepada pembeli akhir dilakukan dalam 5 termin


dalam jumlah yang sama yakni Rp. 30 juta, setiap tanggal 10 mulai bulan juli.
Maka jurnal untuk mengakui setiap kali penagihan piutang istishna kepada
pembeli dan penerimaan pembayaran dari pembeli tersebut adalah sebagai
berikut:

Tanggal

Rekening

Debit (Rp)

10-07-2010

Dr.Piutang Istishna

Rp.30.000.000;-

Cr. Termin Istishna


`

Kredit (Rp)

Rp.30.000.0000;-

Pada saat pembeli melakukan pembayaran atas tagihan dia terima, maka jurnal yang harus dibuat
oleh BAS:
Tanggal

Rekening

Debit (Rp)

10-07-2010

Dr.kas

Rp.30.000.000;Cr. Piutang Istishna

Dr. Termin Istishna


Cr. Aset Istishna dlm
penyelesaian

Kredit (Rp)

Rp.30.000.000
Rp.30.000.000;Rp.30.000.0000;-