You are on page 1of 47

REFERAT MATA

CENTRAL RETINAL VEIN
OCCLUSION

PEMBIMBING : DR. M. SULAIMAN, SPM
OLEH : MELYSSA SINDARTIANI

PENDAHULUAN

Retinal Vein Occlusion (RVO) atau oklusi vena retina 
obstruksi pada sistem vena retina yang disebabkan
karena adanya thrombus dan mungkin dapat mengenai
bagian sentral, hemi-central, atau cabang vena retina.

Central Retinal Vein Occlusion ( CRVO ) atau Oklusi vena
retina sentralis hasil dari adanya thrombosis pada
central retinal vein saat melewati lamina cribosa.2

Retinal Vein Occlusion (RVO) salah satu penyebab
kebutaan terbanyak di Inggris dan merupakan penyebab
kebutaan kedua setelah diabetic retinopaty.



Dengan frekuensi Branch Retinal Vein Occlusion
(BRVO)>> sering 2-6x daripada Central Retinal Vein
Occlusion (CRVO).
CRVO di Amerika tercatat data pada tahun 2008 dengan
insidensi 500 kasus barunya dalam 100.000 populasi.2
Lebih dari 90% kasus CRVO terjadi pada pasien di atas
umur 50 tahun.
CRVO terjadi pada pria > wanita4

• RVO disebabkan karena adanya thrombosis pada vena
retina (bisa terdapat pada central, hemi, atau branch).
• CRVO diklasifikasikan menjadi 2 yaitu iskemik CRVO dan
non-iskemik CRVO.
• Penyebab terjadinya CRVO masih belum jelas tetapi
dipercaya karena adanya oklusi trombotik pada vena retina
sentral sehingga menghambat aliran darah pada retina. 4
• Anamnesis
ditemukan
adanya
keluhan
seperti
menurunnya penglihatan, Hilangnya penglihatan yang
terjadi secara progresif atau mendadak dalam beberapa
hari sampai minggu, photophobia, nyeri pada bola mata,
dan mata merah.4

pemberian kortikosteroid. Injeksi intravitreal bevacizumab. radiologi. Injeksi intravitreal ranibizumab. ginioscopy. fluorescein angiography.4 • Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium. fotokoagulasi.• Pemeriksaan fisik seperti pemeriksaan visus. dan electroretinography.4 . pemeriksaan mata menggunakan slit lamp pada anterior dan posterior segment. reaksi pupil. 4 • Tatalaksananya adalah dengan mencari penyebab dan mengobatinya. Injeksi intravitreal triamsinolon. dan vitrectomy. pemberian antikoagulansia bila diketahui penyebabnya. dan kontak lens fundus. undilated examination of iris. pemeriksaan fundus dengan indirek optalmoskop. radial Optik Neurotomi.

ANATOMI .

.

.

.

2 . hemi-central. atau cabang vena retina. 2 • Central Retinal Vein Occlusion ( CRVO ) hasil dari adanya thrombosis pada central retinal vein saat melewati lamina cribosa.DEFINISI • Retinal Vein Occlusion (RVO) obstruksi pada sistem vena retina yang disebabkan karena adanya thrombus dan mungkin dapat mengenai bagian sentral.

EPIDIEMOLOGI • Retinal Vein Occlusion (RVO) • Salah satu penyebab kebutaan terbanyak di Inggris • Penyebab kebutaan ke-2 setelah diabetic retinopathy. . • Branch Retinal Vein Occlusion (BRVO) >> sering (2-6x) daripada Central Retinal Vein Occlusion (CRVO).

2 .1% pada umur 70-79 tahun meningkat sekitar 4. Di bawah 10% CRVO terjadi bilateral. 2 lebih dari 90% kasus CRVO terjadi pada pasien di atas umur 50 tahun.7% pada umur kurang dari 60 tahun 1.6% pada umur di atas 80 tahun. • Australia • • • • • 0.000 populasi.2% pada umur 60-69 tahun 2. 2 • Insidensi dan prevalensinya meningkat dengan bertambahnya umur. • pria > wanita4 • Kebanyakan pasien yang terkena RVO terkena secara unilateral.• CRVO (Amerika) tercatat data pada tahun 2008 dengan insidensi 500 kasus barunya dalam 100.

Macular oedema (MO) merupakan penyebab terjadinya gangguan visual. 2 .• • • Gangguan visual gangguan yang lebih sering ditemukan pada CRVO dibandingkan BRVO. Secara estimasi ditemukan sekitar 11.600 orang dengan BRVO dan 5700 orang dengan CRVO menderita gangguan visual karena macular oedema pada setiap tahunnya di Inggris.

hemi. .ETIOLOGI • RVO disebabkan karena adanya thrombosis pada vena retina (bisa terdapat pada central. atau branch).

factor V Leiden. Wegener’s Granulomatosis and Goodpasture’s Syndrome) • Glaucoma • Retrobulbar external compression. polyarteritis nodosa. • Systemic inflammatory disorders (Behçets disease. . myeloma. myelofibrosis. sarcoidoisis.• • • • • Hipertensi Diabetes mellitus hyperlipidaemia hyperhomocysteinaemia gangguan koagulasi : peningkatan viskositas plasma seperti pada leukemia. perubahan pada protein C pathway. Waldenstrom’s macroglubulinaemia.

• Gejala-gejalanya mungkin dengan penglihatan yang baik. sedikit perdarahan retinal dan cotton-wool spots. jeleknya perfusi retina. pasien mungkin akan berakhir dengan glaucoma neovaskular dan nyeri pada mata. .KLASIFIKASI ISKEMIK • bentuk yang berat dari penyakit ini. NON-ISKEMIK • lebih ringan dari penyakit ini. tidak ditemukan defek pupil aferen relative. perdarahan retina yang luas dan cotton-wool spots. • gejala seperti hilangnya penglihatan visual yang berat. dan adanya perubahan severe electroretinographic. • Selain itu. adanya relative afferent pupillary defect. dan perfusi yang baik pada retina. • Non-iskemik CRVO dapat sembuh sepenuhnya dengan hasil visual yang baik atau dapat berkembang menjadi tipe yang iskemik.

Pasien dengan non-iskemik central retinal vein occlusion ditemukan adanya dilatasi. tortous veins. dan perdarahan superficial .

menunjukan adanya resolved hemorrhages dan perubahan pigmentary pada macula pada beberapa bulan setelahnya. .Pemeriksaan fundus pada pasien yang sama seperti gambar sebelumnya.

antara lain lambatnya aliran darah. dan perubahan dalam darah.PATOFISIOLOGI • Patogenesis yang tepat dari oklusi trombotik vena retina sentral tidak diketahui. . • posisi anatomi ini predisposisi pembentukan trombus di pembuluh darah retina pusat oleh berbagai faktor. perubahan pada dinding pembuluh. • Pusat arteri dan vena retina berjalan bersama-sama saat mereka keluar dari kepala saraf optik dan melewati lubang sempit di lamina cribrosa. pembuluh ini berada dalam kompartemen ketat dengan ruang terbatas. • Karena sempitnya cribrosa lamina.

dan pembentukan trombus. sehingga menyebabkan gangguan hemodinamik.• Perubahan arteriosclerotic di arteri retina sentral mengubah arteri menjadi struktur yang kaku dan menimpa vena retina pusat. • Namun. • Mekanisme ini menjelaskan bahwa akan ada penyakit arteri terkait dengan CRVO. kerusakan endotel. asosiasi ini belum terbukti secara konsisten. dan berbagai penulis tidak setuju pada fakta ini. .

gangguan orbital). • gangguan hemodinamik (terkait dengan sirkulasi hiperdinamik). . vaskulitis). • antara lain kompresi vena (tekanan mekanik karena perubahan struktural dalam lamina cribrosa.• Oklusi trombotik pada vena retina sentral dapat terjadi karena adanya kelainan patologis. • perubahan dinding pembuluh (misalnya. inflamasi pada saraf optik. cupping glaukoma. dan perubahan dalam darah (misalnya. defisiensi faktor trombolitik. misalnya. meningkatnya faktor pembekuan).

• peningkatan resistensi ini menyebabkan tersendatnya darah dan kerusakan iskemik pada retina. • Meningkatnya kadar VEGF merangsang terbentuknya neovaskularisasi dari posterior dan anterior segment (yang bertanggung jawab untuk komplikasi sekunder karena CRVO). • Bila sudah terjadi kerusakan iskemik retina akan merangsang peningkatan produksi dari Vascular Endothelial growth factor (VEGF) di rongga vitreous. • VEGF juga menyebabkan kebocoran kapiler sehingga menyebabkan terbentuknya edema makula (yang merupakan penyebab utama kehilangan penglihatan di kedua CRVO iskemik dan non-iskemik CRVO). .• Bila terjadi oklusi vena retina sentral akan menyebabkan peningkatan resistensi terhadap aliran darah vena.

.

DIAGNOSIS • • • Anamnesis Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Penunjang .

ANAMNESIS • Gejala-gejala okular seperti : • Asimtomatik • Menurunnya penglihatan • Hilangnya penglihatan yang terjadi secara progresif atau mendadak dalam beberapa hari sampai minggu. • Photophobia • Nyeri pada bola mata • Mata merah . Gangguan penglihatan dapat terjadi ringan hingga berat.

• Gejala ocular yang terjadi pada stadium akhir seperti : • Penurunan penglihatan • Nyeri pada mata • Mata merah • Mata berair • Riwayat penyakit sistemik .

pemeriksaan mata menggunakan slit lamp pada anterior dan posterior segment. dan kontak lens fundus.4 .PEMERIKSAAN FISIK • Dibutuhkan pemeriksaan fisik mata seperti pemeriksaan visus. reaksi pupil. ginioscopy. pemeriksaan fundus dengan indirek optalmoskop. undilated examination of iris.

.

menunjukkan perdarahan luas pada kutub posterior dan memberikan gambaran “blood and thunder appearance” .

.OPTIK DISC EDEMA CRVO menunjukkan adanya disc edema dengan dilated tortuous veins dan scattered retinal hemorrhages.

FUNDUSKOPI .

• Dilakukan untuk mengetahui adanya gangguan sistemik vascular • Pada pasien dengan usia muda.PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium • tidak dilakukan secara rutin pada pasien CRVO. pemeriksaan laboratorium dilakukan tergantung untuk mengetahui etiologinya seperti : • • • • • Complete blood cell (CBC) Gula darah Profil lipid Hematologic tes Trombophilic screening .

OCT juga berguna untuk memonitoring quantitative adanya pembentukan macular edema dan resolusi dengan terapi. . transpupillary imaging technology yang dapat melihat retinal structures dalam vivo resolusi 10-17 µm. yang tidak jelas dilihat dengan fluorescein angiography karena adanya blockage dari perdarahan. Deteksi dari low venous velocities digunakan untuk menprediksi onset dari iris neovascularisasi. • Optical coherence tomography (OCT) Merupakan metode yang tidak invasif.• Radiologi • Color Doppler imaging Merupakan metode tidak invasif untuk melihat sirkulasi retrobulbar. OCT juga dapat mendeteksi adanya macular edema pada significant hemorrhages. noncontact.

mikroaneurisma. Setelah perdarahan selesai. Area yang memiliki nonperfusi dilihat sebagai hypofluorescence.• Fluorescein angiography • Merupakan tes yang paling berguna untuk mengevaluasi retinal capillary nonperfusion. karena adanya perdarahan yang eksesif fluorescein angiography memberikan sedikit informasi pada status perfusi dalam retina. posterior segment neovascularization. Non-iskemik CRVO menunjukan adanya minimal atau absen retinal capillary nonperfusion sepanjang pewarnaan retinal veins. • Beberapa studi melaporkan kriteria untuk membedakan iskemik dan noniskemik CRVO berdasarkan dari pelebaran kapilari nonperfusi dalam retina. area kapilari nonperfusi dapat dideteksi sebagai hypofluorescence pada fluorescein angiography. • Fluorescein angiography juga digunakan untuk menentukan klasifikasi dari CRVO. tetapi perdarahan akan menutupi fluorescence dan akan memberikan gambaran yang sama. . • Pada tahap awal dari perjalanan penyakit ini. dan macular edema. dan dilatasi syaraf optik.

Gambaran fluorescein angiogram pada pasien dengan non-iskemik CRVO. menunjukkan adanya dilatasi dari tortuous veins dengan kebocoran sampai ke macula dalam cystoid pattern .

fluorescein angiogram pada pasien yang sama seperti gambaran sebelumnya. . menunjukkan adanya perifoveal capillary leakage dalam cystoid pattern.

. • Pada gelombang ERG. • B-to-A ratio ditemukan menurun. Beberapa studi menunjukan bila terdapat b-to-a ratio yang kurang dari 1 menunjukkan adanya iskemik central retinal vein obstruction.• Electroretinography (ERG) • Merupakan tes yang berguna untuk mengevaluasi status fungsi dari retina dan dapat membedakan klasifikasi CRVO. b-wave dan a-wave diproduksi dari inner retina dan outer retina. • Pada CRVO perfusi pada inner retina terganggu sehingga dapat membentuk b-wave yang lebih menurun dibandingkan a-wave.

TATALAKSANA • • Belum diketahui pengobatan yang efektif yang tersedia baik untuk pencegahan ataupun pengobatan pada oklusi vena retina sentral (CRVO). Yang terpenting adalah mengidentifikasi dan mengobati masalah sistemik untuk mengurangi komplikasi lebih lanjut .

PENGOBATAN UTAMA • • • • • • • • • Mencari penyebab dan mengobatinya Pemberian antikoagulasi bila diketahui penyebabnya Fotokoagulasi Injeksi intravitreal ranibizumab Injeksi intravitreal triamsinolon Injeksi intravitreal bevacizumab Pemberian kortikosteroid Radial Optik Neurotomi Vitrectomy .

Suntikan intraokular 0.3 mg atau 0. Ranibizumab disetujui untuk pengobatan edema makula setelah pengobatan oklusi vena retina pada bulan Juni 2010. • Peran ranibizumab dalam pengelolaan CRVO dilaporkan dalam beberapa studi.5 mg ranibizumab menunjukan perbaikan cepat dalam ketajaman penglihatan 6 bulan dan edema makula mengikuti CRVO. • Ranibizumab menunjukkan hasil yang baik pada pengliatan pasien dengan degenerasi neovascular yaitu vaskular yang terkait usia karena aktivitas anti-VEGF nya. Salah satu efek kuat VEGF adalah untuk meningkatkan permeabilitas pembuluh darah di makula menyebabkan edema makula . . • 6 bulan pengobatan bulanan dengan ranibizumab pada pasien dengan makula edema sekunder untuk cabang atau pusat RVO menghasilkan peningkatan yang lebih besar dalam tujuan terkait fungsi.INJEKSI INTRAVITREAL RANIBIZUMAB • Faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF) merupakan ekspresi yang diregulasi akibat hipoksia dan tercatat meningkat pada cairan mata pada pasien dengan CRVO.

• Kelemahan utama suntikan triamcinolone adalah kambuh kembali setelah pengibatan edema makula. • Hal ini menyebabkan penurunan permeabilitas kapiler dan edema makula.1 ml / 4 mg) ke dalam rongga vitreous melalui pars plana telah terbukti efektif tidak hanya dalam menyelesaikan edema. . tetapi juga dalam perbaikan yang sesuai dengan perbaikan penglihatan. perdarahan vitreous. ablasi retina. glaukoma. biasanya setiap 3-6 bulan. • Selain itu.INJEKSI INTRAVITREAL TRIAMSINOLON • Pada pasien dengan edema makula. sehingga membutuhkan penyuntikan triamcinolone ulang. komplikasi yang signifikan dilaporkan karena suntikan triamcinolone adalah katarak. kristal triamsinolon didalam rongga vitreous mungkin dapat mengurangi konsentrasi VEGF yang berada dalam rongga vitreous. suntikan triamcinolone (0. dan endophthalmitis. • Meskipun mekanisme yang tepat belum diketahui dalam tindakan penyuntikan intravitreal kortikosteroid.

Secara keseluruhan. . bahwa implan dextramethasone mengurangi risiko kehilangan penglihatan lebih lanjut dan meningkatkan kemungkinan peningkatan ketajaman penglihatan pada mata pasien dengan CRVO. • Deksametason implan bisa ditoleransi dengan baik.DEKSAMETASON INTRAVITREAL IMPLANT • Deksametason adalah kortikosteroid kuat yang larut dalam air • Sebuah implan dextramethasone terdiri dari kopolimer biodegradable asam laktat dan asam glikolat yang mengandung deksametason micronized. hasil penelitian menunjukkan. studi ini menunjukkan bahwa implan DEX bisa menjadi pilihan pengobatan baru yang berharga untuk mata dengan kehilangan tajam penglihatan karena CRVO. • Sebagai kesimpulan.

• Meskipun mekanisme yang tepat tindakan suntikan intravitreal bevacizumab tidak diketahui. pada pasien dengan glaukoma neovascular. Suntikan bevacizumab diberikan setiap 6 minggu selama 6 bulan meningkatkan ketajaman visual dan secara signifikan mengurangi edema dibandingkan dengan pura-pura. • Bevacizumab tidak tersedia secara komersial sebagai suntikan intravitreal. • Juga. dengan dosis yang sama telah menunjukkan penurunan signifikan neovaskularisasi sudut dan meningkatkan kontrol tekanan intraokular.05 mL/1.25 mg) ke dalam rongga vitreous melalui pars plana telah terbukti efektif tidak hanya dalam menyelesaikan edema.INJEKSI INTRAVITREAL BEVACIZUMAB • Pada pasien dengan edema makula. suntikan bevacizumab (0. . yang membutuhkan suntikan berulang. baik secara medis dan pembedahan. tetapi juga dalam perbaikan visus. bevacizumab mungkin mengurangi konsentrasi VEGF dalam rongga vitreous. • Hal ini menyebabkan penurunan permeabilitas kapiler dan edema makula. Kelemahan utama intravitreal suntikan kambuh perawatan pasca edema makula.

dan endophthalmitis. glaukoma. komplikasi yang signifikan dilaporkan karena injeksi bevacizumab termasuk katarak.• • Selain itu. . Komplikasi signifikan yang dilaporkan dengan dosis tinggi bevacizumab diberikan secara intravena untuk pengobatan kanker. perdarahan vitreous. Belum ada laporan yang signifikan komplikasi ini dalam studi yang tersedia. ablasi retina.

meskipun tren dalam mendukung pengobatan diamati di pasien muda Juga tidak ada bukti yang menunjukkan manfaat dari kombinasi laser makula grid dan intravitreal anti-VEGF atau steroid untuk MO sekunder untuk CRVO. Studi CVOS gagal untuk menunjukkan manfaat dari pengobatan. Tidak ada pengobatan terbukti untuk kondisi ini sampai lima tahun yang lalu.FOTOKOAGULASI LASER • • Edema makula dari CRVO merupakan hasil dari kebocoran kapiler perifoveal ke daerah makula dan biasanya terkait dengan hilangnya penglihatan. .