TEKNIK PERBANYAKAN JAMUR ENTOMOPATOGEN Beuveria Bassiana

SEBAGAI PENGENDALI SERANGGA HAMA
LAPORAN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengendalian Hayati
yang dibimbing oleh Bapak Fatchur Rohman, M.Si dan Ibu Dra. Hawa Tuarita, M.S

Oleh :
Kelompok 1 / Lingkungan
Abdul Hamid Nashiruddin

(130342603496)

Alifia Yulianita

(130342603487)

Nining Nurnaningsih

(130342603497)

Saiful Anwar

(130342615341)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
S1 BIOLOGI
MARET 2016

koloni jamur B. bassiana yang dibiakkan pada media jagung giling lebih tinggi yakni sebesar 86. Trizelia. Hifa fertil terdapat pada cabang (branchlets ) tersusun melingkar (verticilate ) dan biasanya menggelembung atau menebal. Hal ini sejalan dengan penelitian Hasyim et al.. Konidia menempel pada ujung dan sisi konidiofar atau cabang cabangnya. bassiana. spora yang terbentuk berkecambah lebih cepat dan memiliki virulensi tinggi serta menyebabkan nimfa S. hialin dengan diameter 2-3 um.et al. bahwa daya kecambah isolat B. Pertumbuhannya relatif lambat yaitu baru mencapai diameter kurang lebih 4 cm pada media SDAY dalam waktu 14 hari pada kondisi suhu 28 – 19. merupakan biopestisida ramah terhadap lingkungan yang dapat digunakan sebagai pengganti dari penggunaan pestisida yang berlebih yang berdampak negatif pada hasil panen dan lingkungan. Syahrir (2007) melaporkan bahwa jagung banyak mengandung protein dan karbohidrat. Cendawan entomopatogen penyebab penyakit pada serangga ini pertama kali ditemukan oleh Agostino Bassi di Beauce. Konidiofor berbentuk zig –zag dan berkelompok. B. Tujuan : a. (2005). Topik : Teknik Perbanyakan Jamur Entomopatogen Beuveria bassiana Sebagai Pengendali Serangga Hama B. 2005) dan hama penggerek bonggol pisang (Hasyim et al. furcifera cepat mati. Jagung giling memiliki kandungan nutrisi yang cocok bagi pertumbuhan dan perkembangan jamur B. 2005) hama kubis (Butt et al. misalnya pada SDAY. Protein dan karbohidrat sangat dibutuhkan jamur untuk pertumbuhan vegetatif dan pembentukan spora. 1997). 2005). Penggunaan jamur entomopatogen ini merupakan suatu proses pemanfatan baik yang sudah ada di ekosistem setempat maupun dengan introduksi dari luar melalui teknik inokulasi dan inundasi (Lacey. Dasar Teori Jamur entomopatogen merupakan salah satu agen hayati yang potensial untuk mengendalikan berbagai jenis hama antara lain hama kedelai (Prayogo et al. 1975).47%. Beauveria bassiana merupakan jamur patogen serangga yang memiliki beberapa keunggulan yaitu. dengan diameter 4 um. 1994. dan selanjutnya akan berubah kekuningan dengan bertambahnya umur. slektif terhadap serangga sasaran sehingga tidak membahayakan serangga lain Micelia jamur B.bassiana bersekat dan berwarna putih di dalam tubuh serangga yang terbunuh terdiri dari banyak sel. Mahasiswa dapat mengetahui langkah-langkah pada teknik perbanyakan Beuveria bassiana C. bentuknya oval agak bulat (globose ) sampai dengan bulat telur (obovate ).50C. Konidia bersel satu . Pada biakan cair . sedang di luar tubuh serangga diameternya lebih kecil yaitu 2 um . 2004). sedangkan miselium di bawahnya menggelembung.A. dan timbulnya ketahanan OPT (Setiawati. Perancis (Steinhaus. Beauveria bassiana adalah salah satu jamur entomopatogenik yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen pengendali hayati.bassiana berwarna putih. Bentuk konidiofor yang zig – zag tersebut merupakan ciri spesifik dari genus Beauveria . musnahnya musuh alami. Alat dan Bahan .

kemudian mengukus beras jagung selama 35 menit sampai setengah matang Mengemas dalam botol selai secukunya. Prosedur Kerja Menyiapkan alat dan bahan yang akan diperlukan Melakukan isolasi dan pemurnian terhadap jamur B. Tutup menggunakan kertas coklat dan ikat dengan tali benang dan kemudian disterilkan pada autoclave mempersiapkan kotak inokulasi .Alat           Autoclave/kukusan/dandang Entkas Jet sprayer Jarum oose / inokulasi Kompor Gas elpiji Timba Lampu bunsen / spiritus Botol Selai Tali dan Kertas Coklat Bahan     Alkohol 96 % Isolat Media beras jagung steril Gula C. Gambar Keterangan .alat dan bahan yang telah disterilkan pada autoclave dimasukan ke dalam kotak inokulasi Menginokulasi isolat jamur ke dalam media beras jagung secara aseptis Kemudian menyimpan pada suhu ruang selama 21 hari dan jamur siap untuk digunakan atau diaplikasikan D. Data No. Mencuci bersih beras jagung kemudian merendam beras jagung selama 1x24 jam Tiriskan beras jagung hingga mengering.bassiana pada media PDA di laboratorium.

Oleh karena itu. - Perbanyakan jamur Beauveria bassiana yang telah dilakukan berhasil.5 gr Beauveria bassiana setiap satu botol selai. oksigen. 1999). jagung mem-punyai kandungan nutrisi cukup tinggi. nutrisi dibutuh-kan jamur untuk biosintesa dan pelepasan energi sebagai faktor utama pendukung via-bilitas. Untuk membiakkan jamur di laboratorium diperlukan media yang mengandung seluruh nutrisi esensial yang dibutuhkan jamur (Rani et al. dan keberlanjutan koloninya. Menurut Safavi et al. nitrogen. Pembahasan Beauveria bassiana adalah salah satu jamur entomopatogenik yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen pengendali hayati (Suharto. dan fosfat merupakan komponen utama nutrisi yang dibu-tuhkan oleh jamur. Selain itu. terma-suk bagi jamur- . sulfur.. - Kultur Beauveria bassiana dalam medium jagung E. (2005) mengatakan bahwa sumber nutrisi merupakan faktor penentu pertumbuhan dan virulensi jamur-jamur entomopatogen. 1998). (2007) dalam stu-dinya mengenai pengaruh perbedaan nutrisi terhadap pertumbuhan dan sporulasi bebera-pa agensi hayati menyimpulkan bahwa per-tumbuhan miselium dan produksi spora pada media buatan tergantung karakter isolat dan kandungan nutrisi dalam media. Dari beras jagung sebanyak 2. (2007). 2002).1.5 kg didapatkan biakan sebanyak 19 botol selai Dihasilkan ±2. pertumbuhan. kandungan nutrisi baik media padat mau-pun cair sangat menentukan laju pertumbuh-an dan virulensi jamur (Adour et al. 2007). Gao et al. karena laju perkecam-bahan. Shah et al.. 2002. dan sporulasi adalah indikator tingkat virulensi (Altre et al. makroelemen seperti karbon. Shah dan Tariq. Teknik perbanyakan Beuveria bassiana dapat dilakukan dengan menggunakan media tumbuh berupa jagung yang sudah digiling.. 2005). kemampuan hidup.. Persyaratan tumbuh suatu jamur entomopatogen perlu diketahui sebelum melakukan perbanyakan (Sreeramakumar et al. - Kultur Beauveria bassiana dalam medium PDA di laboratorium mikrobiologi 2.

minyak /lemak (4% ).49 %) sehingga dapat digunakan subagai sumber bahan makanan pertumbuhan mikroorganisme (Anonim .Nitrogen ( 0. juga ditentukan oleh struktur dan susunan gula.2001 ). dan juga enzim yang diproduksi oleh jamur tersebut.Sedangkan komposisi kimia jagung :air (15. Media yang sudah didinginkan kemudian di dibungkus dengan menggunakan botol selai kurang lebih sekitar 100gr.jamur entomopatogen. hal ini disebabkan karena jagung mengandung berbagai unsur yang diperlukan untuk pertumbuhan jamur. Demikian pula hasil penelitian lainnya yang menunjukkan bahwa produksi konidia B. Jagung juga termasuk sumber karbon. sumber karbon. Media tumbuh dengan kandungan nutrisi optimal sangat penting untuk keberlangsungan hidup sebagian besar mikroorganisme. 1991. Penanaman bibit jamur dilakuakan pada kotak inokualasi secara aseptis agar tidak terjadi kontaminasi pada saat penanaman. 2002). 1999). Carlile dan Watkinson (1994) menyatakan bahwa penggunaan karbon pada setiap jamur selain ditentukan oleh ketersediaan gula di dalam media tumbuhnya.8 x 108 koni-dia/ml dan pada jagung 1. Hal ter-sebut menyebabkan jagung menjadi media alternatif perbanyakan jamur B..Abu (4. bassiana dapat tumbuh secara optimal pada media agar+yeast (Knudsen et al.5% ) . 2009). 2008). Menurut Engelkes et al. Selain itu. air. Pemasakan jagung yang tidak terlalu matang bertujuan agar pertumbuhan jamur lebih efektif..K2 O (1. Media jagung giling merupakan suatu media perbayakan yang relatif memberi hasil yang lebih baik dalam kecepatan tumbuh.. dan anorga-nik serta sejumlah mineral untuk pertumbuh-an dan daya infeksi (patogenisitas).05 % ) dan CaO (0..45 x 108 konidia/ml) di-banding pada media jagung (2. (1997).37 % ) .2 x 108 koni-dia/ml) (Jagadeesh-Babu et al. Bex-tine dan Thorvilson.75 % ) .96 x 108 konidia/ml (Hasyim et al. Setelah jagung dimasak maka didinginkan terlebuh dahulu karena jamur tidak dapat tumbuh jika suhu media dalam keadaan panas.64 % ). untuk mencukupi kebutuhan nutrisi setiap jamur diperlukan tambahan karbon yang bersumber dari gula (glukosa). ditutup rapat.Na2O (0. 1989). Jamur akan tumbuh setelah 4-5 hari yang selanjutnya dapat dipanen.. serta meningkatkan virulensi dan patogenisitas pada hama sa-saran (Bormes et al. jika media tumbuh terlalu matang maka dapat terjadi kebusukan karena jamur tidak mampu tumbuh pada media yang lembek. khususnya jamur (Altomare et al. 2002). Oleh karena itu. protein ( 10 %). karbohidrat (70. Kandungan gizi dari jagung antara lain air. nitrogen organik.dan vitamin . dan di autoclave dengan suhu 120oC. Yeast di dalam me-dia tumbuh merupakan sumber nitrogen yang sangat diperlukan oleh sebagian besar jamur entomopatogen untuk mempertinggi laju pertumbuhan konidia dan proses sporulasi. bassiana pada media beras mencapai 2. bassiana dan juga sebagai sumber nitrogen po-tensial dalam meningkatkan daya tumbuh miselium (Mustafa dan Kaur. 2007).. Hasil peneli-tian lain yang juga menggunakan jagung sebagai media tumbuh B. me-ningkatkan viabilitas konidia. sebagi-an besar jamur membutuhkan oksigen. B. jumlah dan viabilitas spora jamur sehingga media jagung giling dapat digunakan sebagai salah satu alternatif Jagung merupakan merupakan media yang bagus untuk pertumbuhan jamur. bassiana me-nunjukkan bahwa produksi konidia lebih tinggi pada media beras (3. PENUTUP A. penggunaan yeast juga terbukti dapat memacu la-ju perkecambahan konidia beberapa isolat B.7 %). Kesimpulan . Bas-siana (Wahyudi et al.

DAFTAR PUSTAKA Prayogo. (Ed. H. Ibrahim.. Ohio State University Press..B. Harman. B.2:116 -123. Akhund. (Abstrak). Shah. Influence of nu-trition on the production and physiology of sectors produced by the insect pathogenic fungus Metarhizium anisopliae. L. Nutrition influences growth and virulence of the insect-pathogenic fungus Metarhizium ani-sopliae. Optimasi produksi mikoinsektisida dari Beauveria bassiana pribumi dengan substrat tepung beras. Adour. Amrane. dan I.B. TM. Applied Environ-mental Microbiology 65:29262933. 15. 251(2):259 266. Ganjar. 1999. Steinhaus. S.E. P. .A. Abrus sucrose agar a new medium for the growth of fungi. Biocontrol Sci. 250(2):201207. F.. 2005. E. Enzyme Microb. Jurnal Litbang Pertanian. W. Tariq. Sohail. 2007..W. F. Pathogenicity of Entomopathogous Fungi Metarhizium anisopliae and beauveria bassiana against crucifer pests and honey bee. Bot... FEMS Microbiol. and M. L. 39(5):1883 1885.A. Hasyim. New York. No. 24 (1) : 19 – 26.. Norvell. Tariq. 2002.Columbus. Cosmopolites sordidus Germar (Coleoptera: Curculionidae). J. 1975. Solubilization of phosphates and micronutrients by the plant-growth-pro-moting and biocontrol fungus Trichoderma harzianum Rifai 129522. C. 1997. Altomare. and Y..) Insect Pathology an Advanced Teatise. Lett. Ball. Wahyudi. 2005.W.J. and M. T. 2005. S. Teknik perbanyakan jamur Beuveria bassiana yang dilakukan di Laboratorium Ekologi Universitas Negeri Malang merupakan teknik sederhana yang dapat dikembangkan dengan menggunakan media tumbuh berupa jagung . Tengkano.A. Initial Handling and Diagnosis of Diseases Insect. Shah. Technol. A. L. Seleksi Substrat Untuk Perbanyakan Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin dan Infektifitasnya Terhadap Hama Penggerek Bonggol Pisang.1. Cheng. and G. Abro. 233 – 271. Prospek Cendawan Entomopatogen Metarhizium anisopliae Untuk Mengendalikan Ulat Grayak Spodoptera litura Pada Kedelai. I. Disease in a Minor Chord.. C. S. 1994. dan Marwoto. Rani. Micro-biol.A. A. W. 1 hal. M.A.. Ohio. Yasir. Couriol. Growth of Geotrichum candidum and Penicillium camembertii in liquid media in re-lation with the consumption of carbon and ni-trogen sources and the release of ammonia and carbon dioxide. Butt.. 31(4):533542. L. Lacey. Mikrobiologi Indonesia 7(1). dan Azwana. Academic Press. Pakistan. 2002. Prigent. 4: 207 – 214. In Lacey. Byorkman. Jurnal Horti. 2005. Pawiroharsono. FEMS. Technol.A. Y. Lett. S. and Clark. and H.

and Z. C. . 153172. Microbial. I. D. Kajian aspek fisiologis B. Yogyakarta : Fakultas Pertanian UGM. The Fungi. San Diego. Effect of carbon.. Kaur.R. growth. 1994. 1991. and sporulation characteris-tics of Metarhizium anisopliae and Beauveria bassiana isolates. London. Phyto-pathol.G. and G. Sydney.Bormes. Engelkes. Bassiana dan virulensinya terhadap Helicoverpa armigera.C.J. Method to enhance growth and sporulation of pelletized biocontrol fungi. Suharto. Tokyo. 2009.M. M. 191201. 1989. and G. Applied Environ. 77139.. Carlile.L. L. sporulation and bio-control efficacy of Taloromyces flavus. G. 87:5055. Nucio.R. 1998. and carbon to ni-trogen ratio on growth. 57:28642867. p. Boston. Journal of Invertebrate Pathology 18:265287. New York. G. Wang. Mustafa.A. Academic Press. and S.R.. and D.T. Fravel. Growth and sporulation of Metarhizium ani-sopliae and Beauveria bassiana on media con-taining various peptone sources. Knudsen. Criswel.L. Effect of carbon and nitrogen sources and ratio on the germination. African Journal of Agricul-tural Research 3(10):922930. nitrogen. Eschen. Dandurand. 1997. Gentry.J. 976. Watkinson. R. U.

LAMPIRAN No. Proses Menginokulasi isolat kedalam medium jagung jamur 8. 4 Proses Menginokulasi isolat jamur Kultur Beauveria bassiana dalam medium jagung 5. Gambar 3 Proses Menginokulasi isolat jamur Kultur Beauveria bassiana dalam medium PDA 2. No. Gambar 1. Proses Menginokulasi isolat jamur kedalam medium jagung secara aseptis Proses Menginokulasi isolat jamur kedalam medium jagung secara aseptis . Proses Menginokulasi isolat jamur 7. 6.