SATUAN ACARA PENYULUHAN

MANAJEMEN DIARE PADA BAYI DAN BALITA DI BR. KARANG INDAH
TANGGAL 11 APRIL 2016

OLEH : KELOMPOK SGD VII
Komang Noviantari

(1302105006)

Putu Rian Pradnyani

(1302105031)

Komang Eva Trijayanti

(1302105047)

Ni Luh Eka Putri Ulandari

(1302105049)

Ni Putu Suarminingsih

(1302105058)

Harista Miranda Salam

(1302105059)

Ni Wayan Ari Satriyani

(1302105061)

Made Gede Brata Aditya

(1302105072)

Kadek Adriyanti Lesmana Dewi

(1302105077)

Ni Luh Putu Mira Santana Sari

(1302105087)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2016

29% meningkat menjadi 2. angka insiden diare terbanyak berdasarkan kelompok umur terjadi pada balita yakni sebesar 10.5% (Riskesdas. Penyakit saluran pencernaan seperti diare masih cukup tinggi ditemukan di Provinsi Bali.06% di tahun 2012 lalu mengalami penurunan di tahun 2013 menjadi 1. Diare akut adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 14 hari.SATUAN ACARA PENYULUHAN PENDIDIKAN KESEHATAN MANAJEMEN DIARE PADA BAYI DAN BALITA DI BR.2%. Di Indonesia.00 – 09. prevalensi diare mencapai 7% sementara itu. Menurut WHO dan UNICEF. KARANG INDAH Topik : Manajemen Diare pada Balita Hari/tanggal : Senin.08%. Dari semua kematian anak akibat diare. Diare dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu diare akut dan diare kronis. Diare adalah gangguan buang air besar/BAB (defekasi) ditandai dengan BAB lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi feses cair. Jumlah ini merupakan 18% dari seluruh kematian anak dibawah usia lima tahun yang berarti bahwa 5000 anak meninggal setiap hari akibat diare. Karang Indah A. 78% diantaranya terjadi di wilayah Afrika dan Asia Tenggara (WGO. 2013).9 juta anak-anak di bawah lima tahun meninggal setiap tahunnya yang sebagian besar terjadi di negara berkembang. sedangkan diare kronis yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 . dapat disertai dengan darah dan atau lendir (Riskesdas. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013.845 meningkat dibandingkan dengan tahun 2013 diperkirakan jumlah kasus diare sekitar 86. di Bali prevalensinya mencapai 5. 2012).45 WITA Penyaji : Novi dan Rian Tempat: Balai Desa Br. CFR (case fatality rate) Kejadian Luar Biasa (KLB) diare di Indonesia pada tahun 2011 adalah 0.493 kasus.817 kasus (79. Latar Belakang Diare pada anak masih merupakan masalah kesehatan dengan angka kematian yang masih tinggi terutama pada anak umur 1 sampai 4 tahun.5%). 11 Maret 2016 Waktu : 09. Pada tahun 2014 diperkirakan jumlah kasus diare sekitar 87. Sementara kasus diare yang tertangani sebanyak 69. 2013). ada sekitar dua miliar kasus diare di seluruh dunia setiap tahun dan 1. dan angka kesakitan diare 214 per 1000 penduduk.

Sasaran Seluruh orang tua bayi dan balita warga Br. Berdasarkan data tersebut di atas. menimbang balita setiap sebulan sekali ke posyandu secara rutin (6 bulan berturut-turut) 18%. Tanda dan gejala diare e. B. sikap positif 56%. Tujuan 1. Masalah diare dapat ditangani secara preventif dan rehabilitatif. Karang Indah. 2013). Perilaku Ibu dalam melakukan perawatan dan pencegahan penyakit ISPA dan Diare pada bayi dan Balita (Pengetahuan baik 68%. Karang Indah. sesudah BAK/BAB dengan menggunakan air dan sabun 42%. air dan sanitasi (WHO. 2003). Jenis-jenis diare . Karang Indah.hari (Lung E. 2012). 2. didapatkan bahwa diare menempati urutan kedua kejadian penyakit paling banyak pada bayi dan balita dengan angka kejadian sebesar 38% setelah ISPA. Karang Indah memahami tentang manajemen diare pada balita. Klasifikasi diare d. maka dirasa perlu dilakukan pendidikan kesehatan berkaitan dengan pencegahan dan penanganan diare pada bayi dan balita di Br. mencuci botol susu dan menyiram dengan air panas 15%. Penanganan Diare f. Pencegahan Diare C. konsumsi jajan sembarangan 34%. memasak. Upaya preventif yang dilakukan menjaga kualitas makanan. pemberian suplemen zink dan antibiotik (WGO. mencuci tangan sebelum makan. Penyebab dan cara penularan diare c. Hasil pengkajian keperawatan komunitas yang dilakukan di Br. Tujuan khusus : Setelah diberikan penyuluhan selama 1×45 menit diharapkan warga/orang tua anak dapat menjelaskan tentang : a. Tujuan umum : Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan orang tua balita di Br. Garis Besar Materi a. Pengertian diare b. D. Penanganan rehabilitatif salah satunya dengan rehidrasi oral. Penyebab dan cara penularan diare c. Pengertian diare b. Perilaku keluarga melakukan PHBS seperti memberikan ASI Eksklusif 20%. kebiasaan melakukan perawatan dan pencegahan ISPA dan diare dengan baik 35%).

Demonstrasi pembuatan cairan oralite dan cara 3 15 menit cuci tangan. Penanganan diare f. Jenis-jenis diare d. Mendemonstrasikan berurutan dan teratur tentang : a. Memperhatikan 3. Pelaksanaan Kegiatan No 1 Waktu 5 menit Kegiatan Penyuluh Pendahuluan 1. Pencegahan diare 2. Menyimpulkan isi penyuluhan 2. Menjawab pertanyaan dari penyuluh/pembicara . Penyebab dan cara penularan diare c. Mendengarkan dan memperhatikan penyuluhan 3. Evaluasi 1. Penanganan diare f. Meyimak 2. Menjawab salam 2. Menyebutkan materi atau pokok bahasan 2 20 menit yang disampaikan Pelaksanan 1. Memberi salam dan perkenalan 2. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya 3. Bertanya 2. Menjelaskan materi penyuluhan secara 1. Pengertian diare b. Tanda dan gejala diare e. Menjelaskan tujuan Kegiatan Peserta 1. Tanda dan gejala diare e.d. Menjawab pertanyaan dari peserta lain yang bertanya 3. Menjawab pertanyaan 1. Memberikan kesempatan kepada peserta lain untuk menjawab pertanyaan peserta yang bertanya 4. Pencegahan diare E.

Memberikan pertanyaan kepada peserta terkait materi yang diberikan untuk mengetahui sejauh mana peserta memahami materinya. Menjawab salam . Mengucapkan salam Setting Tempat : Keterangan : Penyaji Fasilitator Peserta Observer F.dari peserta 5. Meminta peserta mendemonstrasikan cara membuat oralite dan cuci tangan dengan 4 5 menit sabun dan air mengalir. Metode Penyuluhan 1. Mengucapkan terimakasih 2. Terminasi 1. 6.

2.1. Ari Satriani Observer : Suarminingsih I. Selama kegiatan warga aktif bertanya tentang hal-hal yang belum jelas. Mendemonstrasikan cara membuat larutan oralit dan mencuci tangan. Evaluasi proses a. Menyebutkan penanganan diare f. 3. Mira. Karang Indah dapat : a. . H. Evaluasi struktur a. Media sudah disiapkan dan tersedia. b. Ceramah Diskusi Demonstrasi Tanya jawab Media Penyuluhan Lembar balik Leaflet Pengorganisasian Kelompok Moderator : Harista Miranda Salam Penyaji : Noviantari dan Rian Pradnyani Fasilitator : Brata. Evaluasi hasil Setelah pemberian materi penyuluhan diharapkan orang tua bayi dan balita warga Br. 2. Selama kegiatan orang tua bayi dan balita warga Br. Karang Indah mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Kontrak telah diingatkan oleh petugas dan warga/orang tua bayi dan balita. Menyebutkan 4 tanda dan gejala diare. d. Menyebutkan secara singkat pengertian. 3. Karang Indah sudah dilakukan. Dewi. 2. Kontrak dengan orang tua bayi dan balita warga Br. Menyebutkan jenis-jenis diare c. 1. Evaluasi 1. b. c. 4. c. b. Laporan pendahuluan dan SAP sudah dibuat. Menyebutkan pencegahan diare g. G. e. Menyebutkan penyebab dan cara penularan diare.

Jakarta :Kementrian RI Departemen Kesehatan RI. Diarrhea and Constipation. E. Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare Balita. Riset Kesehatan Dasar 2013. D.L. Jhonathan.A. M.USA : McGraw-Hill. SC. Fauci. (2003). S. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. International Journal of Enviromental Health Research. Jameson. A. 2005.. At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. J. Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. eds. Sanitation and hygiene : a situation analysis paper for Lao PDR. Buku Pedoman Pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit Diare.. Braunwald. (2013). Buku Pedoman pengendalian Penyakit Diare. and Camilleri. Jakarta: Depkes RI Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-UI. D. (2014). Longo. Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta : Depkes RI Departemen Kesehatan RI.S.DAFTAR PUSTAKA Ahlquist. Departemen Kesehatan RI... (2003).(2010). Alatas H. 16th ed. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes RI.L. (2010). Jakarta Kemenkes RI.. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 1985.L. Jakarta: Ditjen PP&PL Gleadle. (2008).. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit. In : Kasper.. D. (2011). Pedoman Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Hauser. Ditjen PPM & PLP.13(6):107 . (2000). Jakarta. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Lahiri. Jakarta: Erlangga Hasan R.L. (2007). Harrison’s Principles of Internal Medicine.

Metriani. (2014). (2012).27(1):24 Simatupang M. Metriani Nesa pada tanggal 11 Juni 2014 Ogunsola.. Program Pascasarjana. Comparison of four methods of hand washing in situations inadequate water supply.Nesa. West African Journal of Medicine. Bayi dan Anak (Gastroenteritis) oleh dr... Diarrhoeal Disease. USA: World Gastroenterology Organisation World Health Organization. World Gastroenterology Organisation Global Guidelines. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare pada Balita di Kota Sibolga Tahun 2003. Sanjaya. 2004. (2008). http://www. (2013).int/mediacentre/factsheets/fs330/en/ LAMPIRAN MATERI . Medan : Universitas Sumatera Utara.who. Lecture Gangguan Sistem Pencernaan pada Neonatus. Acute Diarrhea in Adults and Children: a Global Perspective. Karnaya. FT.

Penyebab dan Penularan Diare Lebih dari 90% kasus diare akut adalah disebabkan oleh agen infeksius (Ahlquist dan Camilleri. E.Coli. 2004). infeksi bakteri seperti Vibrio. Giardia lamblia. diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Strongyloides). Sementara itu apabila ditemukan adanya lendir dan darah pada feses (tinja) anak maka disebut disentri. Astrovirus dan lainlain. 10% lagi disebabkan oleh pengobatan. intoksikasi. . penyakit diare adalah suatu penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang lembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasa. dimana seorang anak bisa mengalami 1-3 episode diare berat (Simatupang. Menurut Ahlquist dan Camilleri (2005). Jenis-jenis Diare Menurut WHO (2005) diare dapat diklasifikasikan kepada: 1. jamur (Candida albicans) (Kliegman. 3. Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI. yaitu 3 kali atau lebih dalam sehari yang mungkin dapat disertai dengan muntah atau tinja yang berdarah. C. yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. yaitu diare yang disertai dengan darah. Coxsackie. Aeromonas dan sebagainya. Yersinia. Protozoa (Entamoeba histolytica. infeksi parasit seperti cacing (Ascaris. 2004). diare dibagi menjadi akut apabila kurang dari 2 minggu. 4. iskemia dan kondisi lain. yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali. dan kronik jika berlangsung lebih dari 4 minggu. 2004). Diare yang disertai dengan malnutrisi berat (Simatupang. Disentri. Poliomyelitis). Rotavirus. Lebih dari 90% penyebab diare akut adalah agen penyebab infeksi dan akan disertai dengan muntah. demam dan nyeri pada abdomen. Campylobacter. B. Penyakit ini paling sering dijumpai pada anak balita. terutama pada 3 tahun pertama kehidupan. 2005). Diare akut. frekuensinya lebih dari 3 kali (Simatupang. Trichomonas hominis). 2. Pengertian dan Jenis-Jenis Diare Menurut World Health Organization (WHO). Trichiuris.A. penyebab diare yang kronik lazim disebabkan oleh penyebab non infeksi seperti allergi dan lain-lain. 2006). Diare persisten. sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak. Berbeda dengan diare akut. Salmonella. Diare dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti Enterovirus (Virus ECHO. Adenovirus. persisten jika berlangsung selama 2-4 minggu. Shigella.

2000). Melalui makanan atau minuman yang dikonsumsi dimana makanan dan minuman tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri atau kuman misalnya E. Menurut Kliegman. turgor kulit berkurang. 1985). dan Entamoeba histolytica (Depkes RI.Diare dapat juga disebabkan oleh intoleransi laktosa. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asambasa dan elektrolit (Kliegman. selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering (Hasan dan Alatas. Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit. 2014). Berat badan turun. diare dapat dibagi menjadi : 1) Diare tanpa dehidrasi Pada tingkat diare ini penderita tidak mengalami dehidrasi karena frekuensi diare masih dalam batas toleransi dan belum ada tanda-tanda dehidrasi. 2006). penyebab utama diare adalah Shigella.coli (Schwartz. Sanjaya. kemudian timbul diare. dinyatakan bahwa berdasarkan banyaknya kehilangan cairan dan elektrolit dari tubuh. Marcdante dan Jenson (2006). E. 2000).Nesa. alergi protein susu sapi namun tetap sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi. Coli. Salmonella. Pada balita terutama disebabkan karena infeksi virus yaitu rotavirus yang biasanya disertai dengan muntah dan demam (Karyana. maka gejala dehidrasi mulai tampak.1996). 2) Diare dengan dehidrasi ringan (3%-5%) . Di Indonesia. Kuman penyebab diare ditularkan melalui fecal-oral antara lain melaui makanan dan minuman yang tercemar tinja dan kontak langsung dengan tinja penderita (Depkes. mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung. Tanda Dan Gejala Diare Tanda-tanda awal dari penyakit diare adalah bayi dan anak menjadi gelisah dan cengeng. Tinja akan menjadi cair dan mungkin disertai dengan lendir ataupun darah. Penularan diare juga dapat melalui 5 F yaitu : 1) Finger (jari): tangan yang terkontaminasi kuman 2) Food ( makanan): makanan yang mengandung kuman 3) Fly (lalat): lalat yang terkontaminasi kuman dan hinggap pada makanan 4) Feces (tinja): penularannya melalui lalat 5) Fomites (alat makan): peralatan makan yang kurang bersih D. Warna tinja bisa lama-kelamaan berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur dengan empedu. Campylobacter. suhu tubuh biasanya meningkat. nafsu makan berkurang atau tidak ada. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat banyaknya asam laktat yang berasal darl laktosa yang tidak dapat diabsorbsi oleh usus selama diare.

Mencuci tangan dengan sabun terutama sesudah buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan telah dibuktikan memiliki dampak dalam kejadian diare dan menjadi sasaran utama pendidikan tentang kebersihan.Pada tingkat diare ini penderita mengalami diare 3 kali atau lebih. menggunakan jamban. b) Jika anak memperoleh ASI eksklusif. menggunakan air bersih yang cukup. Penatalaksanaan Anak Diare 1) Beri cairan tambahan sebanyak yang anak perlukan. a) Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian. air mata berkurang dan masa pengisian kapiler memanjang (≥ 2 detik) dengan kulit yang dingin yang dingin dan pucat. Pencegahan Diare Pencegahan diare dapat dilakukan dengan memberikan ASI. kencing sudah mulai berkurang. nafsu makan menurun. . terasa haus. mencuci tangan. berikan oralit atau air matang sebagai tambahan. 4) Diare dengan dehidrasi berat (10%-15%) Pada keadaan ini. selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. aktifitas sudah mulai menurun. 2000). tidak mampu minum dan keadaannya mulai apatis. kencing yang kurang atau langsung tidak ada. E. Salah satu pencegahan yang direkomendasikan adalah cuci tangan. tidak ada produksi air mata. Kebersihan diri pada ibu dan balita terutama dalam hal perilaku mencuci tangan setiap makan. Dimana sebagian besar kuman infeksi diare ditularkan melalui jalur fecal oral. hipotensi dan tekanan nadi yang menyebar. dengan mengubah kebiasaan tidak mencuci tangan menjadi mencuci tangan dapat memutuskan penularan. mata dan ubun-ubun besar menjadi sangat cekung. kadang-kadang muntah. tidak ada penghasilan urin. F. penderita sudah banyak kehilangan cairan dari tubuh dan biasanya pada keadaan ini penderita mengalami takikardi dengan pulsasi yang melemah. 3) Diare dengan dehidrasi sedang (5%-10%) Pada keadaan ini. merupakan sesuatu yang baik. mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung. turgor kulit berkurang. tekanan nadi masih normal atau takikardia yang minimum dan pemeriksaan fisik dalam batas normal. irritabilitas atau lesu. memperbaiki makanan pendamping ASI. membuang tinja anak pada tempat yang tepat (Depkes. kesadarannya menurun dan juga masa pengisian kapiler sangat memanjang (≥ 3 detik) dengan kulit yang dingin dan pucat. penderita akan mengalami takikardi. Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan adalah bagia penting dalam penularan kuman diare.

Apabila anak muntah setelah setengah jam pemberian. d) Umur 12 sampai 24 bulan Teruskan pemberian ASI.Umur 1 sampai 5 tahun : 100 sampai 200 ml setiap kali BAB Cara pemberian oralit/cairan lain yaitu dengan meminumkan sedikit sedikit tapi sering. ulangi pemberian dengan memberikan potongan yang lebih kecil yang dilarutkan dalam beberapa kali hingga satu dosis penuh. cairan makanan (kuah sayur. pisang. Kemudian lanjutkan lagi dengan lebih lambat. 2) Berikan tablet Zinc selama 10 hari. Berikan makanan selingan 2 kali sehari seperti buah. kue. c) Umur 9 sampai 12 bulan Teruskan pemberian ASI dan MP-ASI yang lebih padat dan kasar dengan tambahan pemberian makanan yang mengandung protein. jangan memberikan makanan atau minuman selain ASI. (Depkes RI. b) Umur 6 sampai 9 bulan Teruskan pemberian ASI dan mulai memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) seperti bubur susu. Pemberian cairan tambahan diberikan sampai diare berhenti. kemudian berikan segera kepada anak.Sampai umur 1 tahun : 50 sampai 100 ml setiap kali BAB . e) Umur 24 bulan atau lebih Berikan makanan keluarga 3 kali sehari sebanyak 1/3 sampai ½ porsi makanan orang dewasa dan berikan makanan selingan kaya gizi dua kali sehari.2008) . a) Sampai umur 6 bulan Berikan ASI sesuai keinginan anak minimal 8 kali sehari. berikan makanan keluarga secara bertahap sesuai dengan kemampuan anak 3 x 1/3 porsi makanan orang dewasa dalam sehari. air tajin) atau air matang. Ibu harus memberikan tablet Zinc setiap hari selama 10 hari penuh meskipun diare sudah berhenti. Dosis (1 tablet = 20 mg) tunggal yang harus diberikan selama 10 hari yaitu: a) Umur 2 sampai 6 bulan : ½ tablet b) Umur ≥ 6 bulan : 1 tablet Cara pemberian tablet Zinc yaitu dengan melarutkan tablet dengan sedikit air atau ASI dalam sendok teh (tablet akan larut ± 30 detik). biskuit. pepaya lumat halus.c) Jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif. tunggu sampai 10 menit. air jeruk dan air tomat saring. Secara bertahap dsesuai pertambahan umur berikan bubur tim lumat. 3) Lanjutkan pemberian makanan. Jika anak muntah. Banyaknya oralit/cairan lain yang harus diberikan setiap kali anak BAB yaitu : . berikan satu atau lebih cairan berikut ini : oralit. kue). Tablet Zinc diberikan kepada semua anak yang menderita diare kecuali bayi muda. Beri makanan selingan kaya gizi dua kali sehari (biskuit.

Penanggulangan Diare Berdasarkan Tingkat Dehidrasi (WHO. Dosis pemberian cairan untuk umur kurang dari 1 tahun adalah 30ml/kgBB untuk 1 jam yang pertama dan seterusnya diberikan 75ml/kgBB setiap 5 jam. Selain itu dapat juga diberikan zink (10-20mg/hari) sebagai makanan tambahan. Dosis pemberian oralit untuk umur kurang dari 1 tahun. Bila penderita sudah lebih baik keadaannya. setelah mengambil benda kotor dan saat akan mengolah makanan. setelah BAB . Dosis pemberian cairan untuk anak 1-4 tahun adalah 30ml/kgBB untuk ½ jam yang pertama dan seterusnya diberikan 70ml/kgBB setiap 2 ½ jam. Untuk anak umur 1-4 tahun setiap buang air besar diberikan 100200ml. 2005) 1) Tanpa Dehidrasi Pada anak-anak yang berumur bawah dari 2 tahun boleh diberikan larutan oralit 50100ml/kali dan untuk usia lebih dari 2 tahun diberikan larutan yang sama dengan dosis 100-200ml/kali diare. b) Diare lebih dari 14 hari (diare persisten) dengan atau tanpa dehidrasi. 20mEq/L kalium klorida dan 111mEq/L glukosa. untuk 3 jam pertama 600ml. 4) Dehidrasi berat Pada keadaan ini pasien akan diberikan larutan hidrasi secara intravena (intravenous hydration) dengan kadar 100ml/kgBB/3-6 jam. Bagi mengelakkan dehidrasi ibu-ibu harus meningkatkan pemberian minuman dan makanan dari biasa pada anak mereka. 5) Kondisi Diare yang Memerlukan Petugas Kesehatan a) Diare dengan dehidrasi berat dan diare dengan dehidrasi ringan/sedang. . untuk 3 jam pertama 300ml. c) Diare dengan darah dalam tinja (disentri). 6) Upaya Menciptakan Lingkungan Rumah dan Perilaku yang Bersih dan Sehat untuk Mencegah penularan diare a) Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. 2) Dehidrasi Ringan Pada keadaan ini diperlukan oralit secara oral bersama larutan kristaloid Ringer Laktat ataupun Ringer Asetat dengan formula lengkap yang mengandung glukosa dan elektrolit dan diberikan sebanyak mungkin sesuai dengan kemampuan anak serta dianjurkan ibu untuk meneruskan pemberian ASI dan masih dapat ditangani sendiri oleh keluarga di rumah.G. 3) Dehidrasi Sedang Pada keadaan ini memerlukan perhatian yang lebih khusus dan pemberian oralit hendaknya dilakukan oleh petugas di sarana kesehatan dan penderita perlu diawasi selama 3-4 jam. setiap buang air besar diberikan 50-100ml. Berdasarkan WHO. larutan oralit seharusnya mengandung 90mEq/L natrium. penderita dapat dibawa pulang untuk dirawat di rumah dengan pemberian oralit.

d) Menjaga kebersihan rumah. Teknik mencuci tangan yang benar harus menggunakan sabun dan . Perilaku cuci tangan pakai sabun merupakan intervensi kesehatan yang paling murah dan efektif dibandingkan dengan intervensi kesehatan dengan cara lain (Ogunsola.b) Menutup/menyimpan makanan dalam kulkas atau dalam keadaan terbungkus sehingga tidak dihinggapi lalat atau serangga lain. I. baik dengan kontak langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-permukaan lain seperti handuk. H. 2003). c) Menimbun/menutup tempat sampah sehingga tidak dihinggapi lalat. perilaku kebersihan. Perilaku cuci tangan adalah salah satu bentuk kebersihan diri yang penting. baik itu melalui kran air atau disiram dengan gayung. risiko penularan penyakit dapat berkurang dengan adanya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat. gelas) (Kemenkes RI. Mencuci tangan dengan sabun dikenal juga sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena tangan seringkali menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain. setelah itu keringkan dengan handuk bersih atau menggunakan tisu. Mencuci tangan juga dapat diartikan menggosok dengan sabun secara bersama seluruh kulit permukaan tangan dengan kuat dan ringkas yang kemudian dibilas di bawah air yang mengalir (Lahiri. Cuci Tangan Menurut Depkes (2007) mencuci tangan adalah proses yang secara mekanis melepaskan kotoran dan debris dari kulit tangan dengan menggunakan sabun biasa dan air. 2008). Untuk penggunaan jenis sabun dapat menggunakan semua jenis sabun karena semua sabun sebenarnya cukup efektif dalam membunuh kuman penyebab penyakit. seperti cuci tangan pakai sabun. Dalam aturan WHO terdapat dua jenis mencuci tangan yaitu dengan handwash dan dengan handrub. Teknik Cuci Tangan Dengan Sabun Untuk mendapatkan hasil yang optimal. Dari berbagai riset. menggunakan sabun yang standar. maka mencuci tangan haruslah dengan air bersih yang mengalir. Cuci tangan menggunakan air saja tidaklah cukup untuk melindungi seseorang dari kuman penyebab penyakit yang merugikan kesehatan. 2014). Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman.

11. 3. 2. . lakukan hal yang sama dengan ibu jari tangan kiri. 5. 4. Hal ini dilakukan pada kedua tangan. 9. 7. Hal ini dilakukan pada kedua tangan. Gosokkan sampai ke ujung jari. Pegang pergelangan kanan kanan dengan pergelangan kiri dan lakukan gerakan memutar. Usapkan ibu jari tangan kanan dengan punggung jari lainnya dengan gerakan saling berputar.di bawah air yang mengalir dengan langkah-langkah sebagai berikut (Kemenkes RI. Ambil sabun cair secukupnya untuk seluruh tangan. 8. Gosokkan telapak tangan dengan punggung jari tangan satunya dengan gerakan kedepan. akan lebih baik jika sabun yang mengandung antiseptik. kebelakang. Telapak tangan kanan menggosok punggung tangan kiri (atau sebaliknya) dengan jarijari saling mengunci (berselang-seling) antara tangan kanan dan tangan kiri. tutup kran dengan tisu. 6. 10. Lakukan pula pada tangan kiri. 12. jika menggunakan kran. berputar. 2010): 1. Letakkan punggung jari satu dengan punggung jari lainnya dan saling mengunci. Bersihkan sabun dari kedua tangan dengan air mengalir. gosokkan sela-sela jari tersebut. Gosokkan pada kedua telapak tangan. Basahi tangan dengan air di bawah kran atau air mengalir. Keringkan tangan dengan menggunakan tissue atau handuk.

2010): 1. Langkah Mencuci Tangan dengan Handrub K. Gosok ibu jari kiri berputar kearah bawah dalam genggaman tangan kanan dan sebaliknya. 2. Langkah-langkah Mencuci Tangan Dengan Sabun J. Biarkan tangan mengering. Gosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya. Gambar 2. Gosok kedua telapak tangan dan sela-sela jari. 7. Langkah-Langkah Pembuatan Larutan Oralit 1) Cara Membuat/Mencampur Larutan Oralit . Gosokkan dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknya. 4. Jari-jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci dan saling digosokkan. 5.Gambar 1. suatu emolient dan seringkali antiseptik tambahan (misalnya khlorheksidin glukonat 2-4%) yang memiliki aksi residual. 3. Sebagian besar antiseptik ini mengandung alkohol 60-90%. 8. Teknik mencuci tangan dengan Handrub Antiseptik dalam 20-30 detik dapat dilakukan seperti di bawah ini (Kemenkes RI. Gosok kedua telapak tangan hingga merata. 6. Tuangkan handrub bahan antiseptik berbasis alkohol ke dalam tangan secukupnya. Teknik Cuci Tangan Dengan Handrub Antiseptik Berbasis Alkohol Tanpa Air Antiseptik handrub yang bereaksi cepat menghilangkan sementara atau mengurangi mikroorganisme penghuni tetap tanpa melindungi kulit tanpa menggunakan air.

dihentikan sekitar 10 menit. Cara Memberikan Larutan Oralit Berikan dengan sendok atau gelas. c) Masukkan satu bungkus ORALIT 200 cc. atau hingga anak tidak kelihatan haus.2) a) b) c) a) Cuci tangan dengan air dan sabun. d) Walau diare berlanjut. (Kemenkes. b) Sediakan 1 gelas air minum yang telah dimasak/air teh (200 cc). e) Berikan larutan ORALIT kepada balita. Berikan sedikit-sedikit sampai habis. kemudian lanjutkan dengan sabar sesendok setiap 2 atau 3 menit. d) Aduk sampai larut benar. 2011) . buatkan satu gelas larutan ORALIT berikutnya. Bila muntah. ORALIT tetap diteruskan. e) Bila larutan ORALIT pertama habis.

Langkah-Langkah Pembuatan Larutan Gula dan Garam 1) Bahan dan alat yang diperlukan : a) 1 sendok teh gula pasir b) ¼ sendok teh garam dapur (kalau bisa yang halus agar mudah larut) c) 1 gelas air hangat atau sekitar 200 ml d) Gelas kaca yang berukuran normal dan sendok teh. 2) Cara membuat larutan gula garam : a) Pertama-tama sebelum kita membuat. b) Kedua tuangkan air masak atau air teh tersebut ke dalam gelas sebanyak satu gelas penuh.cucilah tangan sampai bersih agar tidak ada kuman penyakit yang menyebar. . c) Ketiga masukkanlah gula pasir serta garam dapur itu sesuai dengan takaran yang telah ditentukan kedalam gelas tersebut. d) Keempat yaitu gelas tersebut kita aduk sampai gula dan garamnya benar-benar larut dalam air. e) Setelah selesai kita bisa langsung meminumnya.L.