BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jumlah lanjut usia di dunia bertambah sebagai hasil dari peningkatan
angka harapan hidup dan penurunan angka kematian. Sampai sekarang,
penduduk di sebelas negara anggota WHO kawasan Asia Tenggara yang
berusia di atas 60 tahun berjumlah 142 juta orang dan diperkirakan akan terus
meningkat hingga 3 kali lipat di tahun 2050 (Yuliati,dkk,2014). Menurut
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 1998 tentang
kesejahteraan lanjut usia, yang dimaksud dengan lanjut usia (lansia) adalah
seseorang yang telah mencapai usia ≥ 60tahun .
Indonesia tergolong negara dengan struktur penduduk lanjut usia (Aging
Structured Population) karena jumlah penduduk kelompok lanjut usia di
Indonesia pada tahun 2006

±

19.000.000 jiwa, dengan usia harapan hidup

66,2 tahun. Pada tahun 2010 jumlah lansia sebanyak 14.439.967 jiwa (7,18%)
dan pada tahun 2011 jumlah lansia sebesar 20.000.000 jiwa (9,51%),dengan
usia harapan hidup 67,4 tahun, serta pada tahun 2020 diperkirakan sebesar
28.800.000 jiwa (11,34%), dengan usia harapan hidup 71,1 tahun (Irwan,2013).
Dari data USA-Bureau of the Census, bahkan Indonesia diperkirakan akan
mengalami pertambahan jumlah lansia terbesar di seluruh dunia, antara tahun
1990-2025, yaitu sebesar 41,4% (Martono dan Pranaka,2011).

1

Kebutuhan tidur merupakan kebutuhan primer yang menjadi syarat dasar bagi kelangsungan hidup manusia. Lansia seringkali melaporkan mengalami kesulitan untuk dapat tertidur saat berada di tempat tidur dan menyatakan bahwa penundaan waktu tertidur terjadi pada satu dari tiga lansia wanita dan satu dari lima lansia pria (Amir.533 jiwa. (Dinkes Sulawesi Tenggara. oksigenasi.2 Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara. 7 jam pada usia 40 tahun.2013). eliminasi fekal. yaitu higiene. Berdasarkan kelompok umur 55-60 tahun laki-laki sebanyak 77. Prevalensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67%. Tidur adalah keadaan saat terjadinya proses pemulihan bagi tubuh dan otak serta sangat penting terhadap pencapaian kesehatan yang optimal. cairan elektrolit. termasuk lansia yang harus dipenuhi. khususnya pada lansia. Kebutuhan fisiologis dasar manusia. 6 setengah jam pada usia 60 tahun. didapatkan jumlah lansia sebanyak 145.2007) Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha “Minaula” Kendari didapatkan jumlah lansia yaitu sebanyak 95 orang dengan . dan tidur.2002). Proses penuaan membuat lansia lebih mudah mengalami gangguan tidur.427 orang pada tahun 2013 dari seluruh populasi lansia. Pada usia 12 tahun kebutuhan untuk tidur adalah 9 jam. keluhan-keluhan seputar masalah tidur merupakan masalah umum yang terjadi di masyarakat luas. eliminasi urin. kenyamanan. nutrisi. berkurang menjadi 8 jam pada usia 20 tahun.894 jiwa sedangkan perempuan sebanyak 67. dan 6 jam pada usia 80 tahun (Prayitno.

3 jumlah lansia yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 45 orang. sedangkan lansia yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 50 orang. Bila kualitas tidur terganggu secara terus menerus dapat menyebabkan perubahan fisiologis tubuh yaitu peningkatan aktivitas saraf simpatis sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah (Guyton dan Hall. Berdasarkan .2002). Terdapat perubahan tidur secara subjektif dan objektif pada usia lanjut.003. serta terbangun karena merasakan lingkungan kamar yang terlalu panas ataupun terlalu dingin dan merasa kesulitan untuk kembali tidur.(2013) menunjukkan bahwa ada hubungan antara kualitas tidur terhadap peningkatan tekanan darah dengan nilai p 0. Gangguan pola tidur pada kelompok usia lanjut cukup tinggi. mereka yang tinggal di rumah setengahnya diperkirakan mengalami gangguan tidur dan dua pertiga dari mereka yang tinggal di tempat perawatan usia lanjut juga megalami gangguan pola tidur. Pada usia 65 tahun. Peneliti juga melakukan tanya jawab pada lansia didapatkan data bahwa 18 dari 20 lansia mengeluhkan seringkali terbangun di malam hari. Hasil wawancara dari perawat yang bekerja di Panti Sosial Tresna Werdha “Minaula” Kendari menyatakan bahwa lansia sering mengeluh kesulitan untuk tertidur di malam hari. Survei epidemiologik menunjukkan bahwa pada usia lanjut yang tinggal di panti werda menunjukkan bahwa 1575% dari mereka mengalami efisiensi tidur yang kurang sehingga mengakibatkan kualitas tidur yang buruk (Prayitno. terbangun karena ingin buang air kecil.2007). Penelitian yang dilakukan oleh Fitri.

maka peneliti tertarik mengadakan penelitian tentang hubungan kualitas tidur dengan perubahan tekanan darah pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha “Minaula” Kendari. Untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha “Minaula” Kendari tahun 2015. d. sebagai berikut: 1. b. Untuk mengetahui tekanan darah pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha “Minaula” Kendari tahun 2015. Tujuan Khusus a. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah. rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: Apakah terdapat hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha “Minaula” Kendari ? C. c. 2. B. . maka tujuan dari penelitian ini. Untuk mengetahui tujuh komponen kualitas tidur yang berpengaruh terhadap tekanan darah pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha “Minaula” Kendari tahun 2015. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas.4 penjelasan di atas. Untuk menentukan kualitas tidur pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha “Minaula” Kendari tahun 2015. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha “Minaula” Kendari.

. 3. khususnya mengenai kualitas tidur pada lansia yang berhubungan dengan peningkatan tekanan darah. Memberikan sumbangan ilmiah bagi mahasiswa dan institusi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo. Bagi Panti Sosial Tresna Werdha “Minaula” Kendari dapat digunakan sebagai sumber informasi untuk mengetahui kualitas tidur pada lansia di panti dan dapat mengupayakan usaha-usaha untuk mengatasi gangguan tidur pada lansia. 4. Bagi Lanjut Usia Sebagai pedoman bagi lanjut usia agar memperbaiki kualitas tidurnya menjadi lebih baik. c. Bagi Penulis Menjadi pengalaman yang berharga dalam memperkaya wawasan dan pengetahuan penulis dan sebagai salah satu cara untuk mengaplikasikan ilmu dan teori yang diperoleh di bangku perkuliahan. Manfaat ilmiah Sebagai bahan bacaan yang bermanfaat bagi peneliti lain.5 D. khususnya lansia yang mengalami kualitas tidur yang buruk. b. Manfaat institusi a. Sebagai masukan dalam bidang geriatri dan psikiatri dalam memberikan pengobatan dan perawatan pada lanjut usia. Manfaat Penelitian 1. 2.

6 .