Disampaikan oleh

M. HUSNI MUBAROK, SE., M.Si., Ak., CA.










Dasar Hukum
Pemotongan PPh Pasal 21
Penerima Penghasilan (Subyek Pajak)
Pemotong Pajak
Pengertian PPh Pasal 21/26
Obyek Pemotongan PPh Pasal 21/26
Bukan Obyek PPh Pasal 21/26
Pengurangan Yang Diperbolehkan
Perubahan Tarif Pasal 17
Latihan Soal


UU No. 36 tahun 2008 pasal 21 tentang Pajak Penghasilan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007 tentang Penentuan Tanggal
Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Penentuan Tempat Pembayaran
Pajak, dan Tata Cara Pembayaran, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara
Pengangsuran dan Penundaan Pembayaran Pajak yang telah diubah dengan
Peraturan Menteri Keuangan No 80/PMK.03/2010;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 250/PMK.03/2008 tentang Besarnya Biaya
Jabatan atau Biaya Pensiun yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto Pegawai
Tetap atau Pensiunan;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.03/2010 tentang Tata cara pemotongan
PPh pasal 21 atas penghasilan berupa uang pesangon, uang manfaat pensiun,
tunjangan hari tua, dan jaminan hari tua yang dibayarkan sekaligus
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 122/PMK.010/2015 Penyesuaian Besarnya
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
PER Dirjen Pajak No.32 Tahun 2015 tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan,
Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan atau Pajak Penghasilan
Pasal 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Oran Pribadi.

BACK

BACK PEMOTONGAN PPh PASAL 21 Pihak Pertama Jasa/Kepesertaan (2) 1.Lapor SPT (1) Orang Pribadi Dalam Negeri Imbalan setelah Dipotong Pajak (3) Bayar Pajak Melalui Pemotong Wajib Pajak .Setor .Potong . Bukan Pegawai 3. Peserta kegiatan Pihak Kedua Ikatan Kerja/Kegiatan Pemberi Kerja Pemotong: .Hitung . Pegawai/Pensiunan 2.

1. sidang. pertunjukan. 2. 3. Penyelenggara Kegiatan adalah Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan sebagai penyelenggara kegiatan tertentu yang melakukan pembayaran imbalan dengan nama dan dalam bentuk apapun kepada orang pribadi sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. berdasarkan jumlah hari bekerja. BACK . Pegawai tidak tetap/tenaga kerja lepas adalah pegawai yang hanya menerima penghasilan apabila pegawai yang bersangkutan bekerja. termasuk mengikuti rapat. 5. olahraga. lokakarya (workshop). serta pegawai yang bekerja berdasarkan kontrak untuk suatu jangka waktu tertentu yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam jumlah tertentu secara teratur. Penerima Penghasilan Bukan Pegawai adalah orang pribadi selain pegawai tetap dan pegawai tidak tetap/tenaga kerja lepas yang memperoleh penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun dari Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 sebagai imbalan atas pekerjaan. sepanjang pegawai yang bersangkutan bekerja penuh (full time) dalam pekerjaan tersebut. atau kegiatan lainnya dan menerima atau memperoleh imbalan sehubungan dengan keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut. pendidikan. jasa atau kegiatan tertentu yang dilakukan berdasarkan perintah atau permintaan dari pemberi penghasilan. seminar. 4. jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan atau penyelesaian suatu jenis pekerjaan yang diminta oleh pemberi kerja. Peserta kegiatan adalah orang pribadi yang terlibat dalam suatu kegiatan tertentu. Pegawai tetap adalahpegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam jumlah tertentusecara teratur. termasuk anggota dewan komisaris dan anggota dewan pengawas.

Tunjangan Hari Raya (THR). jasa produksi.       Penerima pensiun adalah orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima atau memperoleh imbalan untuk pekerjaan yang dilakukan di masa lalu. antara lain berupa bonus. yang diterima sekali dalam satu tahun atau periode lainnya. segala macam tunjangan. termasuk uang lembur. Penghasilan Pegawai Tetap yang Bersifat Tidak Teratur adalah penghasilan bagi pegawai tetap selain penghasilan yang bersifat teratur. Upah mingguan adalah upah atau imbalan yang diterima atau diperoleh pegawai yang terutang atau dibayarkan secara mingguan. Upah borongan adalah upah atau imbalan yang diterima atau diperoleh pegawai yang terutang atau dibayarkan berdasarkan penyelesaian suatu jenis pekerjaan tertentu. Penghasilan Pegawai Tetap yang Bersifat Teratur adalah penghasilan bagi pegawai tetap berupa gaji atau upah. dan imbalan dengan nama apapun yang diberikan secara periodik berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh pemberi kerja. tantiem. termasuk orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima tunjangan hari tua atau jaminan hari tua. Upah harian adalah upah atau imbalan yang diterima atau diperoleh pegawai yang terutang atau dibayarkan secara harian.  BACK . atau imbalan sejenis lainnya dengan nama apapun. Upah satuan adalah upah atau imbalan yang diterima atau diperoleh pegawai yang terutang atau dibayarkan berdasarkan jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan. gratifikasi.

Imbalan kepada bukan pegawai yang bersifat berkesinambungan adalah imbalan kepada bukan pegawai yang dibayar atau terutang lebih dari satu kali dalam satu tahun kalender sehubungan dengan pekerjaan. antara lain berupa honorarium. uang representasi. antara lain berupa uang saku. BACK . hadiah atau penghargaan. jasa. honorarium. dan penghasilan sejenis lainnya. atau kegiatan. uang rapat. komisi. fee. atau kegiatan yang dilakukan.    Imbalan kepada bukan pegawai adalah penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang terutang atau diberikan kepada bukan pegawai sehubungan dengan pekerjaan. Masa Pajak terakhir adalah masa Desember atau masa pajak tertentu di mana pegawai tetap berhenti bekerja. Imbalan kepada peserta kegiatan adalah penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang terutang atau diberikan kepada peserta kegiatan tertentu. dan penghasilan sejenis lainnya. jasa.

dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak orang pribadi Berupa gaji. dan kegiatan WP OP SUBYEK PAJAK DALAM NEGERI PPh Pasal 21 WP OP SUBYEK PAJAK LUAR NEGERI PPh Pasal 26 BACK . jasa. upah. tunjangan. jasa. honorarium.DEFINISI PPh PASAL 21/26 (Pasal 1 ayat 2 & 3 Per Dirjen Pajak 32/PJ/ 2015) Pajak Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan. dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan.

dan imbalan sejenisnya dengan nama dan bentuk apapun sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan.teratur penghasilan yang diterima atau diperoleh Penerima pensiun secara berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya. c. dan pembayaran sejenis. penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan c. e. baik a. upah satuan. fee. upah borongan atau upah harian. upah mingguan. berupa penghasilan yang atau bersifat teraturPenerima maupun tidak teratur. e. hari tua atau jaminan haritetap tua.dalam jasa.PASAL penghasilan yang atau diperoleh Pegawai tetap. penghasilan yang diterima diperoleh pensiun secara b. dan kegiatan dilakukan. upah mingguan. dan sejenis. dalam bentuk komisi.penghasilan penghasilansehubungan sehubungandengan denganpensiun pemutusan hubungan kerja dan yang diterima secara penghasilan sehubungan denganuang pensiun yang pensiun. manfaat sekaligus berupa uang pesangon. kegiatan yang dilakukan. berupa d. d. dan apapun yang sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan. upahatau satuan.komisi. teratur berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya. penghasilan pegawai tidak ataupembayaran tenaga kerjalain lepas. b. imbalan kepada bukan pegawai. upah yang dibayarkan secara bulanan.upah penghasilan pegawai tidak tetap tenaga kerja lepas. dan imbalan sejenisnya dengan danhonorarium. upah borongan atau upah yang dibayarkan secara bulanan. . tunjangan hari tua atau jaminan hari tua.OBYEK PEMOTONGANG PPh PASAL 21/26 OBYEK PEMOTONGANG PPh PASAL 21/26 PASAL 5 AYAT 1 PER DIRJEN PAJAK 32/P J/ 2015 5 AYAT 1 PER diterima DIRJEN PAJAK 32/P J/ 2015 a. berupa harian. imbalan kepada bukan pegawai. antara lain berupa honorarium. baik penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur. jasa.berupa penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai tetap. diterima tunjangan secara sekaligus berupa uang pesangon. uang manfaatlain pensiun. antara lainnama berupa fee.

atau penghargaan denganuang nama dan dalam bentukhadiah apapun. penghasilan berupaatau penarikan dana pensiun oleh peserta program i. dari dana pensiun pensiun yang masih berstatus sebagai pegawai. dari dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. sejenis dengan nama apapun. gratifikasi. i.imbalan penghasilan berupa jasa produksi. dengan Deemed Profit. diterima atau diperoleh imbalan lain yang bersifat tidak teratur yang diterima atau diperoleh mantan pegawai.BACK OBYEK PEMOTONGANG PPh PASAL 21/26 OBYEK PEMOTONGANG PPh PASAL 21/26 PASAL 5 AYAT 1 PER DIRJEN PAJAK 32/P J/ 2015 5 AYAT 1 PER DIRJENkegiatan.lain hadiah atau uang representasi. representasi. dan imbalan penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun. PAJAK 32/P J/ 2015 f. antara berupa uang saku. rapat. honorarium. tantiem.teratur penghasilan berupa honorarium atau imbalan yang komisaris bersifat tidak yang diterima atau diperoleh anggota dewan atau teratur yang diterima atau diperoleh anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang tidak merangkap sebagai Pegawai Tetap pada dewan pengawas yang tidak merangkap sebagai Pegawai Tetap pada perusahaan yang sama. honorarium. bonus atau lain yang bersifat tidak teratur yang gratifikasi. pensiun penghasilan berupa penarikan dana pensiun oleh peserta program yang masih berstatus sebagai pegawai. tantiem. dan WP Imbalan Natura/kenikmatan yang diberikan oleh WP Final. uang rapat. penghasilan jasa produksi. PASAL Imbalan kepada peserta antara lain berupa uang saku. atau imbalan yang bersifat tidak g. uang Imbalan kepada peserta kegiatan. atau mantan pegawai. PASAL 5 AYAT 2 PER DIRJEN PAJAK 31/ PJ/ 2012 PASAL 5Natura/kenikmatan AYAT 2 PER DIRJEN yang PAJAKdiberikan 31/ PJ/ 2012 Imbalan oleh WP Final. bonus atau h. perusahaanberupa yang sama. dan WP dengan Deemed Profit. h. penghasilan berupa honorarium g. dan imbalan sejenis dengan nama apapun. . f. yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.

oleh pemberi kerja. asuransi iiwa. asuransi iiwa. Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. kecuali penghasilan sebagaimana dimaksudalam Pasal 5 ayat (2) Per Dirjen Pajak 31/2012. Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi kerja. Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang c. asuransi dwiguna. c. merupakan bentuk kenikmatan dimaksud pada penerimaan Pasal 8 ayat dalam (1) huruf b kenikmatan sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 ayat (1) huruf b . iuran tunjangan hari tua atau iuran jaminan hari tua kepada tunjangan hari tua atau iuran jaminan hari tua kepada badan penyelenggara tunjangan hari tua atau badan badan penyelenggara tunjangan hari tua atau badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja yang dibayar penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja yang dibayar oleh pemberi kerja. asuransi kesehatan. Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan b. asuransi kecelakaan. merupakan penerimaan dalam bentuk ditanggung sebagaimana oleh Pemerintah. dan asuransi bea siswa: dwiguna. Pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari a. dan asuransi bea siswa: b. asuransi kecelakaan. iuran pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. termasuk yang ditanggung oleh Pemerintah.BUKAN OBYEK PAJAK PASAL 21 BUKAN OBYEK PAJAK PASAL 21 Pasal 8 ayat 1 Pasal 8 ayat 1 a. Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dalam bentuk apapun yang diberikan oleh Wajib Pajak atau dalam bentuk apapun yang diberikan oleh Wajib Pajak atau pemerintah. Pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari perusahaan asuransi sehubungan dengan asuransi perusahaan asuransi sehubungan dengan asuransi kesehatan. kecuali penghasilan sebagaimana pemerintah. dimaksudalam Pasal 5 ayat (2) Per Dirjen Pajak 31/2012. termasuk yang Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi kerja.

e. atau sumbangan keagamaan disahkan oleh pemerintah. kepemilikan. atau penguasaan di antara pjhak-pihak yang bersangkutan. pekerjaan. beasiswa sebagaimana dimaksudalam Pasal 4 ayat (3) e. atau penguasaan di antara usaha. kepemilikan. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari d. pjhak-pihak yang bersangkutan. pekerjaan. beasiswa sebagaimana dimaksudalam Pasal 4 ayat (3) huruf I Undang-Undang Pajak Penghasilan huruf I Undang-Undang Pajak Penghasilan . Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah. atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia yang diterima oleh orang pribadi yang berhak Indonesia yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan dari lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah sepanjang tidak ada hubungan dengan oleh Pemerintah sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha.BACK BUKAN OBYEK PAJAK PASAL 21 BUKAN OBYEK PAJAK PASAL 21 Pasal 8 ayat 1 Pasal 8 ayat 1 d.

Pelatihan dan Subyek Pajak luar Negeri. termasuk bentuk usaha Wajibyang Pajakmempunyai orang pribadi atau Wajib Pajakmelakukan badan. 1. maupun OP yang menyelenggarakan kegiatan.Bendaharawan Bendaharawan Pemerintah 3. Undang-Undang Pajak Penghasilan.termasuk Orang Pribadi atau Yang Pajak Membayar Honorarium Kepada dan Tenaga AhliBadan OP Subyek Dalam Negeri. 5. Pemberi kerja Pemberi kerja Pemerintah 2. Peserta Pendidikan. Pelatihan dan Magang Magang 5. organisasi.Dana Pensiun Dana Pensiun 4. dan Kegiatan atas Penghasilan Sehubungan dengandalam Pekerjaan. perkumpulan maupun OP yang menyelenggarakan kegiatan.3. OP Subyek Pajak luar Negeri. OP termasuk Kepada Tenaga Ahli OP Subyek Pajak Dalam Negeri. Jasa.PEMOTONG PPh Pasal 21/26 PEMOTONG PPh Pasal 21/26 (Pasal 2 Per Dirjen Pajak 32/PJ/ 2015) (Pasal 2 Per Dirjen Pajak 32/PJ/ 2015) Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan. BACK .1. danPasal Kegiatan Orang Pribadi sebagaimana dimaksud Pasal Jasa. Peserta Pendidikan. kewajiban untuk pemotongan tetap. organisasi. termasuk bentukpajak usaha tetap. 21 dan 26 Orang Pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 26 Undang-Undang Pajak Penghasilan. yang mempunyai kewajiban untuk melakukan pemotongan pajak atas Penghasilan Sehubungan dengan Pekerjaan.Orang Pribadi dan atau Badan Yang Membayar Honorarium 4.2.perkumpulan Penyelenggara kegiatan baik badan pemerintah. Penyelenggara kegiatan baik badan pemerintah.

jasa. termasuk ahli warisnya. atauatau memperoleh penghasilan dengan pekerjaan. 2. atau jaminan hariatau tua.sehubungan Bukan pegawai yang menerimajasa.tunjangan Penerimahari uang pesangon.Penerima pesangon.sehubungan Peserta kegiatan yang menerima ataudalam memperoleh penghasilan dengan keikutsertaannya suatu kegiatan sehubungan dengan keikutsertaannya dalam suatu kegiatan . 3. Manta Pegawai Manta kegiatan Pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan 6.Peserta 6. Pegawai : Tetap dan Tidak Tetap Pegawai uang : Tetap dan Tidakpensiun Tetap atau uang manfaat pensiun. tunjangan hari tua.5. Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan 3. pensiun manfaat tua.uang termasuk ahli pensiun.1. Anggota Dekom dan Dewan Pengawasa yang tidak merangkap 4. atau jaminan hari tua. atau kegiatan (lihat Rincian) 4. kegiatan (lihat Rincian) sehubungan dengan pekerjaan. warisnya.sebagai Anggota Dekomtetap dan Dewan Pengawasa yang tidak merangkap pegawai diperusahaan yg sama sebagai pegawai tetap diperusahaan yg sama 5.BACK PENERIMA PENGHASILAN DIPOTONG PPh Pasal PENERIMA PENGHASILAN DIPOTONG PPh Pasal 21/26 21/26 (Pasal 3 Per Dirjen Pajak 32/PJ/ 2015) (Pasal 3 Per Dirjen Pajak 32/PJ/ 2015) 1. 2.

NO. Golongan Penerima Penghasilan 1 Pegawai Tetap 2 Penerima Pensiun Berkala 3 Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas 4 Distributor MLM 5 Petugas Dinas Luar Asuransi 6 Penjaja Barang Dagangan 7 Tenaga Ahli .

Golongan Penerima (Lanjutan) 8 Anggota Dewan Komisaris atau Dewan Pengawas yang tidak Merangkap sebagai Pegawai Tetap Mantan Pegawai yang Menerima Jasa Produksi. Tantiem. Bonus atau Imbalan Lain 9 10 Pegawai yang Melakukan Penarikan Dana Pensiun 11 Peserta Kegiatan 12 Bukan Pegawai yang Menerima Penghasilan yang Bersifat Berkesinambungan Bukan Pegawai yang Menerima Penghasilan yang Tidak Bersifat Berkesinambungan 13 14 Pegawai atau Pemberi Jasa sebagai Wajib Pajak Luar Negeri .No.

dengan syarat bukan negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh warga negara Indonesia dan di Indonesia menerimatersebut. dimaksud yang telahdalam Pasal 3 ayat (1)Menteri huruf cKeuangan.asing. serta negara yang bersangkutan timbal balik. Undang-Undang Penghasilan. Pejabat diplomatik dan konsulatkepada atau pejabat lain daribekerja negara danperwakilan orang-orang yang diperbantukan mereka yang asing. Pejabat perwakilan organisasi internasional 2. dengan bukan negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau syarat kegiatan atauwarga pekerjaan lain Indonesia dan tidak menjalankan atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dariusaha Indonesia.TIDAK TERMASUK PENERIMA PENGHASILAN YANG TIDAK TERMASUK PENERIMA PENGHASILAN YANG DIPOTONG PPh Pasal 21/26 DIPOTONG PPh Pasal 21/26 (Pasal 4 Per Dirjen Pajak 32/PJ/ 2015) (Pasal 4 Per Dirjen Pajak 32/PJ/ 2015) 1. atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatan atautidak pekerjaannya serta negara penghasilan lain dimemberikan luar jabatanperlakuan atau pekerjaannya tersebut. untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.kepada denganmereka syarat bukan warga pada dan bertempat tinggal bersama mereka. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari negara 1. yang bersangkutan memberikan perlakuansebagaimana timbal balik. dan orang-orang yang diperbantukan yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka. . dimaksud dalam 2.Pasal Pejabat perwakilan internasional 3 ayat (1) huruforganisasi c Undang-Undang Pajaksebagaimana Penghasilan. yang telah ditetapkan oleh denganPajak syarat bukan warga negara ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

pekerjaan bukan dalam rangka melakukan usaha atau pekerjaan melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. sebagaimana dimaksudalam Pasal 3 2. kantor perwakilan negara asing.pekerjaan pemberi kerja orang yang tidak melakukan kegiatan usahauntuk atau bebas yang pribadi semata-mata mempekerjakan orang pribadi pekerjaanpekerjaan bebas yang semata-mata mempekerjakan orang pribadi untuk melakukan rumah tangga atau pekerjaan bukan dalam rangka melakukankegiatan pekerjaan rumah tangga atau bebas.1.     Dalam hal organisasi internasional tidak memenuhi ketentuan sebagaimana Dalam halpada organisasi internasional tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf b. organisasi internasional merupakan pemberi kerja yang berkewajiban melakukandimaksud pemotongan merupakan pemberi kerja yang berkewajiban melakukan pemotongan pajak.ayat organisasi-organisasi internasional sebagaimana Pasal 3 (1) huruf c Undang-Undang Pajak Penghasilan. organisasi internasional dimaksud dimaksud pada ayat (2) huruf b. pajak. yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan.TIDAK TERMASUK PEMBERI KERJA TIDAK TERMASUK PEMBERI KERJA Pasal 2 ayat 2 dan 3 Per 32/PJ/2015 Pasal 2 ayat 2 dan 3 Per 32/PJ/2015 1.organisasi-organisasi internasional 2.     .dimaksudalam yang telah ditetapkan ayat (1) huruf c Undang-Undang Pajak Penghasilan. kantor perwakilan negara asing. oleh Menteri Keuangan. 3. pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau 3.

pelawak. pelukis. pengawas atau pengelola proyek. 2. bintang iklan. ekonomi dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan pemberi 7. dan aktuaris. petugas penjaia dagangan. sejenis lainnya. pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik. perantara. seniman lainnya. film. tenaga arsitek. komputer dan system telekomunikasi. penceramah. aplikasinya. 5. pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik. 8. peneliti. dan peragawan/peragawati. 12. dokter. bintang 2. bintang iklan. pelatih. 8. penyuluh. penasihat. olahragawan. petugas dinas luar asuransi.7. fotografi. 11.bintang dan aktuaris. dan penerjemah. sinetron. {oto model. dan seniman lainnya. konsultan. penceramah.5. pemahat. kru penari. 1. pelukis. petugas dinas luarbarang asuransi. pemain drama. pemain bintang musik. 10. dan moderator. penilai. arsitek.3. penari. akuntan. sutradara. agen iklan. pengawas atau pengelola proyek.BACK BUKAN PEGAWAI BUKAN PEGAWAI (Pasal 3 c PER Dirjen Pajak 32/ PJ/2015) (Pasal 3 c PER Dirjen Pajak 32/ PJ/2015) 1. elektronika. dan penerjemah. . peragawan/peragawati.jasa kepada suatu kepanitiaan agen iklan. 11. ekonomi dan sosial serta aplikasinya. {oto model. penyanyi. sinetron. pemain musik. elektronika. pembawa acara. yang terdiri dari pengacara. peneliti. pengarang. film. distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan sejenis lainnya. olahragawan. pengajar. ahli yang melakukan pekerjaan bebas. notaris. 10. petugas penjaia barang dagangan. akuntan. penasihat. pemahat. kru film. konsultan. penilai. 6. pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara. notaris. bintang film. distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan 12. pengajar. pelatih. penyuluh. komputer dan system 6.acara. pembawa penyanyi. drama. telekomunikasi. pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi 9. 4. 4. dan moderator. yang terdiri dari pengacara. 3. dokter. pelawak. fotografi. 9. pengarang.pemain sutradara. tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas.

pesetta rapat.BACK PESERTA KEGIATAN PESERTA KEGIATAN (Pasal 3f Per Dirjen Pajak 32/ PJ/2015) (Pasal 3f Per Dirjen Pajak 32/ PJ/2015) 1. dan magang. peserta pendidikan. sebagai atau kunjungan kerja. seni. pelatihan. pertemuan. 4. teknologi dan olah raga. peserta perlombaan dalam segala bidang. perlombaan 2. antara lain perlombaan 1. lainnya.penyelenggara peserta atau anggota suatu kepanitiaan sebagai kegiatandalam tertentu. dan magang. atau kunjungan kerja. sidang. pertemuan. 2. konferensi. suatu kepanitiaan 3. ilmu pengetahuan. ilmu pengetahuan. . teknologi dan perlombaan lainnya. penyelenggara kegiatan tertentu. pelatihan. 4. antara lain perlombaan raga. konferensi. 5. peserta kegiatan lainnya. 5. 3. pesetta rapat.olah peserta dalam segala bidang. peserta pendidikan. ketangkasan.perlombaan seni. ketangkasan. peserta kegiatan lainnya. peserta atau anggota dalamsidang.

Biaya jabatan. menagih.000. yaitu biaya untuk mendapatkan.pensiun. kepada dana 2.00 (empat ratus tiga puluh dua ribu rupiah) setahun atau Rp.4juta pensiun dengan jumlahdua maksimum yang diperkenalkan sejumlah Rp 2. menagih. Iuran yang Rp terkait dengan gaji yang dibayar pegawaisebulan.00 sebulan.00 2.00 atau Rpmaksimum 500.000. menagih. yaitu5% biaya untuk mendapatkan.200. dan memelihara uang pensiun.penghasilan Besarnya Penghasilan Kena Pajak dari Penghasilan seorang pegawai berdasar netonya dikurangi dengan Tidak dihitung Kena Pajak (PTKP) penghasilan netonya dengan: Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang jumlahnya adalahdikurangi sebagai berikut yang jumlahnya adalah sebagai berikut : .000.4juta (empat ratus tiga puluh ribu rupiah) setahun atau Rp. sejumlah 6. dengan jumlah dari maksimum yang bruto diperkenankan dimaksud Pasal 5.000. dan memelihara pensiun sebesar 5% (lima persen) dari penghasilan bruto berupa uang uang pensiundengan sebesar 5% (lima persen) yang dari penghasilan bruto berupaRp uang pensiun jumlah maksimum diperkenalkan sejumlah 2.000. dan memelihara sebesar (lima persen) dari penghasilan bruto sebagaimana penghasilan sebesar (lima persen) penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5% 5.penghasilan Biaya jabatan. Besarnya 4.Penghasilan Kena Pajak dari seorang pegawai dihitung berdasar 4. Besarnya penghasilan neto penerima pensiun dikurangi dengan biaya 3.BACK PENGURANGAN YANG DIPERBOLEHKAN PENGURANGAN YANG DIPERBOLEHKAN 1. dan memelihara 1.000. 3. Keuangan. sebulan. Besarnya penghasilan neto penerima pensiun dikurangi dengan biaya yaitu biaya untuk mendapatkan.000.000.pensiun Iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh pegawai kepadaatau dana yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan badan pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan atau badan penyelenggara Tabungan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua yang dipersamakan penyelenggara Tabungan Tua atau Jaminan Hari Tua yang dipersamakan dengan dana pensiun yang Hari pendiriannya telah disahkan oleh Menteri dengan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. yaitu biaya untuk mendapatkan.00 sebulan.200.00 setahun atau Rpoleh 500. setahun dengan jumlah yang diperkenankan sejumlah Rpdalam 6. menagih.

000 Rp.200.2.36.000 Rp.300.011/ 2012 PMK 122/PMK.840.13.840.15.200. 1.000.000 Rp.000 2.000 Rp.000 Rp.010/2 015 Rp.300.000.000 Rp.15.000 Per tahun Keterangan : *Jika suami bekerja istri bekerja maka suami mendapatkan fasilitas PTKP (WP bekerja.PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK BAGI PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK BAGI PEGAWAI PEGAWAI KETERANGAN PER DIRJEN 15/PJ/2006 1.000 PMK 162/PMK. sedangkan istri hanya mendapatkan PTKP WP bekerja.200. Tanggungan ** (maks 3 orang) Rp.24.320.000 Rp. Tambahan bagi Pegawai Menikah Rp.000 Rp.025.000.000 4.36. 1.025.000.24. 1. Diri Pegawai Rp.200.320.000 3.2. menikah dan tanggungan).000 Rp. Istri Bekerja* Rp.13. 1. ** Keluarga sedarah dan semenda dalam satu garis keturunan lurus 1 derajat ke atas dan ke bawah serta anak angkat .3.3.000 UU PPh 36 TAHUN 2008 Rp.000 Rp.

00 maka jumlah yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah sebesar PTKP yang sebenarnya (PTKP setahun/360 untuk jumlah hari kerja yang sebenarnya).00. B.000.000. . Dilakukan pemotongan PPh Pasal 21. Dalam hal pegawai tidak tetap telah memperoleh penghasilan kumulatif dalam I (satu) bulan kalender melebihi Rp8. Bagi Pegawai Tidak Tetap (Upah harian/Borangan/Satuan/Mingguan yang menerima upah secara bulanan: Dilakukan Pemotongan dengan mendapatkan pengurangan sebesar PTKP setahun.000.000. Penghasilan Brutonya disetahunkan.200.000. dalam hal penghasilan sehari atau rata-rata penghasilan sehari melebihi Rp300. Dalam hal pegawai tidak tetap telah memperoleh penghasilan kumulatif dalam I (satu) bulan kalender melebihi Rp3. dan jumlah sebesar Rp300.A.00 maka jumlah yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah sebesar PTKP Setahun.00 (seratus lima puluh ribu rupiah) tersebut merupakan jumlah yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Bagi Pegawai Tidak Tetap (Upah harian/Borongan/Satuan/Mingguan yang tidak menerima upah secara bulanan: 1. 3. 2.

Tarif Pasal 17 secara kumulatif penghasilan kena pajak X 50% x PB-PTKP sebulan *Syarat mendapatkan pengurangan PTKP sebulan:  Apabila punya NPWP/ bagi karyawati NPWP suami  1 Pemberi kerja .

Tarif Pasal 17 X 50% x PB .

jumlah penghasilan bruto berupa jasa produksi . 5. 4. bonus atau imbalan lain yang bersifat tidak teratur yang diterima atau diperoleh mantan pegawai. sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan bruto dikurangi PTKP per bulan. . dari dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. yang diterima atau diperoleh Bukan Pegawai Berkesinambungan Yang Memenuhi Pengurangan PTKP Sebulan 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan bruto untuk setiap pembayaran imbalan bagi bukan pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c yang bersifat berkesinambungan yang tidak memenuhi syarat pengurangan PTKP Sebulan. gratifikasi. tantiem.  jumlah penghasilan bruto berupa honorarium atau imbalan yang bersifat tidak teratur yang diterima atau diperoleh anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang tidak merangkap sebagai pegawai tetap pada perusahaan yang sama. 2. 3.atau jumlah penghasilan bruto berupa penarikan dana pensiun oleh peserta program pensiun yang masih berstatus sebagai pegawai. Penghasilan Kena Pajak.1.

50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan bruto untuk setiap pembayaran imbalan kepada bukan pegawai yang tidak bersifat berkesinambungan. 2. . jumlah penghasilan bruto untuk setiap kali pembayaran yang bersifat utuh dan tidak dipecah.1. yang diterima oleh peserta kegiatan.

000.000.000 35% >200.000 sd 200.000.000.000. 50.000 250.000 50.000 30% - >500.000.000.TARIF PASAL 17 OP DALAM NEGERI TARIF PASAL 17 OP DALAM NEGERI TARI F UU PPh 17 TAHUN 2000 UU PPh 36 TAHUN 2008* 5% 0 sd.000.000.000.000.000 sd 100.000 sd 500. 25.000.000 Dihapuskan Keterangan : *Tarif pasal 17 UU No.000 sd.000 10% 25.000 Dihapuskan 15% 50.000 0 sd.000.000 25% 100. 50.000.000 sd 250. 36/ 2008 berlaku untuk WP yang memilkik NPWP ** Bagi WP yang tidak memilkik NPWP dikenai Tarif 20% lebih tinggi dari tarif pasal 17 (lihat contoh) .

CONTOH PERHITUNGAN TARIF PASAL 17 WP OP DN CONTOH PERHITUNGAN TARIF PASAL 17 WP OP DN PEMILIK NPWP Vs TIDAK PEMILIK NPWP Vs TIDAK DIKETAHUI PENGHASILAN KENA PAJAK ANDI TAHUN 2012 Rp.000 PPh Pasal 21terutang = 6.500.000 = 7.000 = 5% X 120% X 50.000.000 = 3.000 Keterangan : *Tarif pasal 17 UU No.250.000 2. 75.000 15% X 25.000.000 3.000 HITUNGLAH PPh PASAL 21 YANG TERUTANG DARI TUAN ANDI MEMILKIK NPWP (TARIF PASAL 17) TIDAK PUNYA NPWP 5% X 50.500.000.500.000 = 4.000.000. 36/ 2008 berlaku untuk WP yang memilkik NPWP ** Bagi WP yang tidak memilkik NPWP dikenai Tarif 20% lebih tinggi dari normal BACK .000 = 15% X 120%X 25.750.000.

Tarif pajak berdasarkan Golongan Pangkat  Gol II = 0% dari penghasilan bruto  Gol III = 5% dari Penghasilan bruto  Gol IV = 15% dari PB.Honor yang diterima oleh PNS/Pejabat Negara. TNI/Polri yang dananya bersumber dari APBN/APBD. .

00 (lima puluh juta rupiah).000.000. Tunjangan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua Tarif PPh Pasal 21 nya ditentukan sebagai berikut:  sebesar 0% (nol persen) atas penghasilan bruto sampai dengan Rp50.000.00 (lima puluh juta rupiah) .  sebesar 5% (lima persen) atas penghasilan bruto di atas Rp50.000.Uang Manfaat Pensiun.

00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 100.000.00 (lima ratus juta rupiah).000.000.000.000.  sebesar 15% (lima belas persen) atas penghasilan bruto di atas Rp100.00 (lima ratus juta rupiah).03/2010.00 (seratus juta rupiah).000.  sebesar 25% (dua puluh lima persen) atas penghasilan bruto di atas Rp500.00 (lima puluh juta rupiah).000. ditetapkan bahwa Tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 atas penghasilan berupa Uang Pesangon ditentukan sebagai berikut:  sebesar 0% (nol persen) atas penghasilan bruto sampai dengan Rp50.000.  sebesar 5% (lima persen) atas penghasiian bruto di atas Rp50.000.Berdasarkan PMK 16 /PMK.00 (seratus juta rupiah) sampai dengan Rp500.000.000.000. .

4juta setahun atau Rp 200. yg diperkenankan Rp 2. iuran THT/JHT dan/atau iuran pensiun yang dibayar oleh pegawai PTKP Setahun biaya pensiun 5% dari Ph bruto berupa uang pensiun dengan jumlah maks.BJ– PTKP PPh Pasal 21 terutang setahun = Tarif pasal 17 OP UU PPh x PhKP  5% = 0 < PhKP <= Rp 50 juta 15% = > Rp 50 juta < PhKP <= Rp 250 juta 25% = > Rp 250 juta < PhKP <= Rp 500 juta 30% = >Rp 500 juta < PhKP Tarif pasal 17 UU PPh x PhKP  5% = 0 < PhKP <= Rp 25 juta 15% = Rp 50 juta < PhKP <= Rp 250 juta 25% = Rp 250 juta < PhKP <= Rp 500 juta 30% = Rp 500 juta < PhKP .BJ. Penghasilan yang diterima secara teratur oleh Pensiunan   Pengurang yg Diperbolehkan biaya jabatan 5% dari penghasilan bruto dengan jumlah maksimum yang diperkenankan Rp 6juta setahun atau Rp 500.000 sebulan. Penghasilan  yang diterima atau diperoleh secara teratur dan tidak teratur oleh Karyawan Tetap.000 sebulan.   b.IP/JHT/THT)x12 – PTKP) 2) Ditambah Penghasilan Tidak teratur = PhKP = (PB rutin setahun + PB tidak rutin) .PERHITUNGAN DAN TARIF (PER 32/PJ/2015) PERHITUNGAN DAN TARIF (PER 32/PJ/2015) Jenis Penghasilan Bruto a. PTKP setahun Tarif dan Penerapan 1) Teratur = PhKP setahun = ((PB sebulan .

8.000.00 sehari tetapi dalam satu bulan takwim jumlahnya tidak melebihi Rp 3.000) PTKP sehari = PTKP yang sebenarnya dibagi dengan 360 5%x(Ph.000 5% x (Ph bruto – Rp 200. Bruto sehari – PTKP sehari) x jumlah hari kerja PTKP setahun Tarif pasal 17 UU PPh x (Peng. dan upah borongan.000 Pengurang yg Diperbolehkan Tarif dan Penerapan Rp 300. upah mingguan.200.000. 8.000 dalam satu bulan takwim.000. Bruto sebulan disetahunkanPTKP setahun) dibagi 12 .00  Jumlah kumulatif penghasilan melebihi Rp3.000.  Jika Dibayarkan secara bulanan atau Penghasilan kumulatif > Rp.  Besarnya melebihi Rp 300. upah satuan.00 sd Rp.PERHITUNGAN DAN TARIF (2) PERHITUNGAN DAN TARIF (2) Jenis Penghasilan Bruto c. Upah harian.200.000.

Tantiem. Bruto .PERHITUNGAN DAN TARIF (3) PERHITUNGAN DAN TARIF (3) Jenis Penghasilan Bruto Pengurang yg Diperbolehkan e. Gratifikasi. Penarikan Dana Pensiun oleh Peserta yang masih berstatus sebagai Pegawai Tetap Tarif dan Penerapan Tarif Pasal 17 huruf a ditentukan secara Kumulatif x Peng. Bruto Tarif Pasal 17 huruf a ditentukan secara Kumulatif x Peng. Mantan Pegawai yang menerima Jasa Produksi. Bonus dan imbalan lainnya g. Bruto Tarif pasal 17 huruf a ditentukan secara Kumulatif x Peng. Anggota Dewan Pengawas atau Dewan Komisaris yang tidak merangkap sebagai Pegawai f.

1 Pemberi kerja Tarif dan Penerapan Tarif Pasal 17 Huruf a diterapkan secara kumulatif Penghasilan Kena Pajak (50% x Peng. .Punya NPWP/NPWP Suami 2. Bruto-PTKP)  Bukan Pegawai selain tenaga ahli yang memperoleh penghasilan tidak berkesinambungan sebagaimana yg dimaksud dalam pasal 3 huruf C Tarif Pasal 17 Huruf a x 50%x Jumlah Penghasilan Bruto • Peserta Kegiatan Tarif Pasal 17 Huruf a x Jumlah Penghasilan Bruto Untuk setiap pembayaran yang bersifat utuh dan tidak dipecah.PERHITUNGAN DAN TARIF (4) PERHITUNGAN DAN TARIF (4) Jenis Penghasilan Bruto : Honorarium Lainnya  Bukan Pegawai yang memperoleh penghasilan berkesinambunganMemiliki NPWP Pengurang yg Diperbolehkan PTKP sebulan* *Syarat: 1.

PERHITUNGAN DAN TARIF (5) PERHITUNGAN DAN TARIF (5) Jenis Penghasilan Pengurang yg Tarif dan Penerapan Bruto Diperbolehkan PPh Pasal 21 terutang • Pesangon yang dibayarkan sekaligus Tarif:  0% = 0 < PhKP <= Rp 50 juta 5% = > Rp 50 juta < PhKP <= Rp 100 juta 15% = > Rp 100 juta < PhKP <= Rp 500 juta 25% >Rp 500 juta < PhKP • Penerima JHT/THT yang dibayarkan sekaligus Tarif  0% = 0 < PhKP <= Rp 50 juta 5% = >Rp 50 juta • Imbalan yang diterima PNS/Anggota TNI/Polri/ Pejabat bersumber dari APBN/APBD Tarif berdasarkan golongan Gol II = 0% x PB Gol III = 5% x PB Gol IV = 15% x PB .