Pengertian Berzina

Pengertian zina adalah persetubuhan antara pria dan wanita yang tidak memiliki ikatan
perkawinan yang sah menurut agama. Islam memandang perzinaan sebagai dosa besar yang dapat
menghancurkan tatanan kehidupan keluarga dan masyarakat. Berzina dapat diibaratkan seperti
memakai barang yang bukan menjadi hak miliknya.
Perbuatan zina sangat dicela oleh agama dan dilaknat oleh Allah. Pelaku perzinaan dikenakan
sanksi hukuman berat berupa rajam. Mengenai larangan berzina, Allah SWT berfirman dalam QS.
Al-Isra’ ayat 32 yang artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, itu (zina) sungguh suatu
perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk”.
Yang dimaksud perbuatan mendekati zina yang dilarang adalah berpacaran yang mengakibatkan
pelakunya ingin melakukan Zina Mendekati sesuatu yang dapat merangsang nafsu sehingga
mendorong diri kepada perbuatan zina juga termasuk perbuatan mendekati zina.
Begitu pula dengan perbuatan yang berpotensi mendorong nafsu seperti menonton aurat dan
mengkhayalkannya adalah mendekati perzinaan. Menurut Al-Ghazali, perbuatan keji (dosa besar)
yang tampak adalah zina, sedangkan dosa besar yang tersembunyi adalah mencium, menyentuh
kulit, dan memandang dengan syahwat.
2. 2. Macam-Macam Zina
a. Zina al-lamam
Zina ain (zina mata) yaitu memandang lawan jenis dengan perasaan senang.
Zina qolbi (zina hati) yaitu memikirkan atau menghayalkan lawan jenis dengan perasaan senang
kepadanya.
Zina lisan (zina ucapan) yaitu membincangkan lawan jenis dengan perasaan senang kepadanya
Zina yadin (zina tangan) yaitu memegang tubuh lawan jenis dengan perasaan senang kepadanya
b. Zina Luar atau Zina Al-Lamam (Zina Yang Sebenarnya)
Zina muhsan yaitu zina yang dilakukan oleh orang yang telah bersuami istri, hukumannya adalah
dirajam sampai mati.
Zina gairu muhsan yaitu zina yang dilakukan oleh orang yang belum bersuami istri, hukumannya
adalah didera sebanyak 100X dengan menggunakan rotan.
Perbuatan zina adalah perbuatan dosa besar yang berakibat akan mendapatkan sangsi yang berat
bagi pelaku, oleh karena itu untuk menentukan bahwa seseorang telah berbuat zina dapat
dilakukan dengan 4 cara sbagaimana telah digariskan oleh rasulullah saw, yaitu : ada 4 orang saksi
yang adil, laki-laki, memberikan yang sama mengenai: tempat, waktu, pelaku, dan cara
melakukannya.
Pengakuan dari pelaku dengan syarat pelaku sudah baligh dan berakal. Menurut imam syafi’i
dan imam malik pengakuan cukup diucapkan oleh pelaku satu kali, namun menurut imam abu
hanifah dan imam ahmad pengakuan harus diulang-ulang sampai empat kali, setelah itu baru
dijatuhi hukuman.
“Takutlah pada zina, karena sesungguhnya dalam zina ada enam perkara (azab), tiga di dunia dan
tiga di alhirat. tiga perkara di dunia: hilangnya wibawa,pendeknya umur, dan menjadi miskin
selamanya. tiga perkara di akhirat, adalah, murka Allah’ jeleknya hisaban dan siksa neraka,”
(HR Baihaqi).
2.3. Hukum Zina
Hukuman yang ditetapkan atas diri seseorang yang berzina dapat dilaksanakan dengan syaratsyarat sebagai berikut:

- Orang yang berzina itu berakal/waras.
- Orang yang berzina sudah cukup umur (baligh).
- Zina dilakukan dalam keadaan tidak terpaksa, tetapi atas kemauannya sendiri.
- Orang yang berzina tahu bahwa zina itu diharamkan.
Solusi dalam masalah moral (zina)
Dalam masalah ini nikah adalah solusi jitu yang ditawarkan oleh Rasulullah saw sejak 14 abad
yang lampau bagi gadis/perjaka. Selain itu, penerapan syariat Islam merupakan solusi terhadap
berbagai problematika moral ini dan penyakit sosial lainnya. Karena seandainya syariat ini
diterapkan secara kaffah (menyeluruh dalam segala aspek kehidupan manusia) dan sungguhsungguh, maka sudah dapat dipastikan tingkat maksiat khalwat, zina, pemerkosaan dan kriminal
lainnya akan berkurang drastic.
Orang tua pun sangat berperan dalam pembentukan moral anaknya dengan memberi pemahaman
dan pendidikan islami terhadap mereka. Orang tua hendaknya menutup peluang dan ruang gerak
untuk maksiat ini dengan menyuruh anak gadisnya untuk berpakaian syar’i (tidak ketat, tipis,
nampak aurat dan menyerupai lawan jenis). Memberi pemahaman akan bahaya pacaran dan
pergaulan bebas. Dalam konteks kehidupan masyarakat, tokoh masyarakat dapat memberikan
sanksi tegas terhadap pelaku zina sebagai preventif (pencegahan). Jangan terlalu cepat menempuh
jalur damai “nikah”,
2.4. Dampak Zina
Inilah sepenggal kisah yang sangat mengerikan, kisah yang tak pernah kita sangka-sangka akan
terjadi, kisah yang mungkin tak pernah kita dengar karena saking langkanya, kisah yang membuat
bulu kuduk berdiri, membuat mata terpejam, membuat hati bergemetar, kisah yang termasuk
seburuk-buruk kisah tentang perzinaan, dan kisah yang sekiranya akan membuat kita membenci
serta jijik terhadap perzinaan. Sebuah kisah yang dibawakan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitabnya
yang berjudul “Dzammul Hawa” (Celaan terhadap hawa nafsu).
Sampai-sampai ketika menulisnya, yaitu sekitar jam 10 malam, dalam keadaan hening dan sunyi,
bulu kudukku seolah-olah menghalangi jari-jemariku untuk menyentuh keyboard laptopku karena
hatiku benar-benar dipenuhi rasa takut. Seolah rasa takutku itu memenuhi kos-anku. Setiap kali
menulisnya sebaris, hatiku benar-benar bergemetar, seolah-olah di belakangku ada makhluk halus
yang hendak memergokiku. Sungguh, benar-benar mengerikan.
Bahwa, seseorang pemuda, anggaplah namanya Mahmud, dihadapkan oleh sebuah perkara yang
menuangkan rasa penasaran yang begitu besar di bejana hatinya. Selama tiga malam berturutturut, dia bermimpi dengan mimpi yang sama, yaitu setiap kali dia tidur, kuburan yang berada di
sebelah rumahnya seolah-olah terbongkar, kemudian penghuni kuburan itu bangkit dengan
pakaian mereka masing-masing dan menghampiri dirinya. Selama tiga kali bermimpi, penghuni
kuburan itu hanya memintanya agar tidak menguburkan orang yang baru saja mati yang katanya
akan dikuburkan di kuburan itu. Sebab, mereka (penghuni kuburan) tidak kuat mencium bau
busuk orang yang akan dikubur itu. Mahmud pun terheran, kebingungan dan sangat penasaran,
ada apa sebenarnya? Sehingga, ia pun menghampiri kuburan itu dan mencari sang penggali
kuburan, lalu bertanya kepadanya,
“Adakah orang yang akan dikubur di sini dalam waktu dekat ini?”
“Benar, akan ada seorang wanita kaya raya yang baru meninggal, akan dikubur di sini. Dia telah
membeli tempat ini dengan harga yang sangat mahal karena tidak ada kuburan yang mau
menerimanya untuk dikuburkan di situ.” Jawab penggali kubur itu. Lalu, Mahmud pun

menceritakan mimpinya. Maka, penggali kubur itu pun enggan menguburkannya di sana, “Kalau
begitu, okelah, kami tidak akan menguburkannya di sini.” Walau demikian, karena dia sangat
kaya, maka keluarganya pun mampu membeli tempat lain untuk menguburnya.
Itu membuat Mahmud benar-benar penasaran, siapa sebenarnya wanita itu yang sampai-sampai
penghuni kuburan mengunjunginya ke taman mimpinya untuk mewanti-wanti agar wanita tersebut
tidak dikuburkan di sana. Maka, dia pun datang ke rumah wanita itu untuk bertakziah. Begitu
sampai di sana, dia terkejut melihat orang-orang yang datang melayatnya sangatlah banyak. Lalu,
dia melihat keranda wanita itu telah siap untuk di bawa ke kuburan. Dari sekian banyak orang
yang hadir itu, dia melihat dua orang laki-laki, yang satunya lumayan tua, dan yang satunya lagi
masih agak muda. Yang tua itu ialah suami sang mayat. Adapun, yang muda itu ialah anaknya,
anggaplah namanya Riyan. Dengan langkah malu, Mahmud pun menghampirinya, lalu
menanyanya.
2.5. Hukuman bagi Penzina
Hukuman buat orang yang berzina adalah rajam, yaitu hukuman mati dengan cara dilempari batu
bagi yang sudah menikah. Namun walaupun demikian, perlu diketahui bahwa rajam bukan satusatunya hukuman. Selain rajam, juga ada hukuman cambuk 100 kali buat pezina. Bahkan hukum
cambuk malah didasari langsung dengan ayat Al-Quran :
Wanita dan laki-laki yang berzina maka jilidlah masing-masing mereka 100 kali. Dan janganlah
belas kasihan kepada mereka mencegah kamu dari menjalankan agama Allah, jika kamu beriman
kepada Allah dan hari Akhir. Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh
sekumpulan dari orang-orang beriman . (QS. An-Nuur : 2).
Orang yang terlanjur berzina, dia harus menjalani hukuman sesuai dengan ketentuan dari Allah
SWT, yaitu dihukum rajam atau cambuk. Namun untuk menjalankan hukum rajam dan cambuk
itu, Allah SWT. juga telah mengatur dan membuat syarat serta ketetapan yang wajib dilaksanakan.
Salah satunya adalah mengharuskan hakim untuk menghindari keduanya, selama masih ada
syubuhat. Rasulullah SAW bersabda :
Ada beberapa syarat untuk dapat menerapkan hukum rajam dan hukum-hukum hudud lainnya,
antara lain :
1. Wilayah Hukum Resmi
Hukum rajam dan hukum-hukum syariah lainnya harus diberlakukan secara resmi terlebih dahulu
sebuah wilayah hukum yang resmi menjalankan hukum Islam.
Di dalam wilayah hukum itu harus ada masyarakat yang melek hukum syariah, sadar, paham,
mengerti dan tahu persis segala ketentuan dan jenis hukuman yang berlaku. Ditambahkan lagi
mereka setuju dan ridha atas keberlakuan hukum itu.
2. Adanya Mahkamah Syar'iyah
Pelaksanaan hukum rajam itu hanya boleh dijalankan oleh perangkat mahkamah syar'iyah yang
resmi dan sah. Mahkamah ini hanya boleh dipimpin oleh qadhi yang ahli di bidang syariah Islam.
Qadhi ini harus ditunjuk dan diangkat secara sah dan resmi oleh negara, bukan sekedar pemimpin
non formal.
3. Peristiwa Terjadi di Dalam Wilayah Hukum
Kasus zina dan kasus-kasus jarimah lainnya hanya bisa diproses hukumnya bila kejadiannya
terjadi di dalam wilayah hukum yang sudah menerapkan syariah Islam di atas.
Sebagai ilustrasi, bila ada orang Saudi berzina di Indonesia, tidak bisa diproses hukumnya di
wilayah hukum Kerajaan Saudi Arabia. Dan sebaliknya, meski berkebangsaan Indonesia, tetapi

kalau berzina di wilayah hukum Kerajaan Saudi Arabia, harus dijatuhi hukum rajam.
4. Terpenuhi Semua Syarat Bagi Pelaku Zina
Tidak semua pelaku zina bisa dijatuhi hukum rajam. Setidaknya-tidaknya dia harus seorang
muhshan yang memenuhi syarat-syarat berikut, yaitu beragama Islam, usianya sudah mencapai
usia baligh, sehat akalnya alias berakal, berstatus orang merdeka dan bukan budak, iffah dan sudah
menikah (tazwij).
Bila salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka hukum rajam batal demi hukum, tidak bisa
dilaksanakan, malah hukumnya terlarang berdasarkan syariat Islam.
5. Kesaksian 4 Orang Atau Pengakuan Sendiri
Untuk bisa diproses di dalam mahkamah syar'iyah, kasus zina itu harus diajukan ke meja hijau.
Hanya ada dua pintu, yaitu lewat kesaksian dan pengakuan diri sendiri pelaku zina.
Bila lewat kesaksian, syaratnya para saksi itu harus minimal berjumlah 4 orang, semuanya lakilaki, akil, baligh, beragama Islam, dan semuanya melihat langsung peristiwa masuknya kemaluan
laki-laki ke dalam kemaluan perempuan yang berzina, secara langsung dan bukan dengan
rekaman, di waktu yang bersamaan. Saking susahnya syarat kesaksian ini, maka dalam
kenyataannya Rasulullah SAW sendiri belum pernah menjatuhkan hukum rajam pada kasus-kasus
zina yang didasarkan pada kesaksian orang lain. Selama tiga kali kasus pezina dijatuhi hukuman
rajam, semuanya didasarkan hanya pada pengakuan yang bersangkutan.
Maka kalau kita simpulkan, betapa sulitnya penerapan hukum rajam ini, bahkan Rasulullah SAW
tidak bisa menerapkan hukuman ini seenaknya saja. Beliau pernah menolak wanita yang
menyerahkan dirinya untuk dirajam, lantaran masih banyak syarat yang tidak terpenuhi.
Apakah Rajam Menjadi Syarat Diterimanya Taubat?
Maka kalau rajam ini dijadikan syarat diterimanya taubat, rasanya agak berlebihan. Agak kurang
tepat kalau dikatakan bahwa dilaksanakannya hukuman ini menjadi syarat diampuninya dosa.
Masalahnya meski yang berzina rela dirajam, belum tentu hukum rajamnya bisa diterapkan.
Lantas apakah pelaku zina itu jadi tidak bisa diterima taubatnya, cuma gara-gara secara prosedur
tidak dimungkinkan pelaksanaan hukuman rajam?
Jawabannya tentu tidak. Urusan ampunan itu tidak ada kaitannya langsung dengan pelaksanaan
hukum rajam. Urusan ampunan itu ditentukan dari apakah pelakunya bertaubat atau tidak.
Jadi walaupun seorang pezina dijatuhi hukum rajam, tetapi bila di dalam dirinya sendiri dia tidak
bertaubat, maka tidak akan diampuni. Sebaliknya, meski tidak diterapkan hukum rajam dengan
berbagai problematikanya, asalkan seorang pezina sudah bertaubat, tentu Allah SWT. Maha
Pengampun. Kita tidak bilang pasti diterima taubatnya, namun kita tahu Allah SWT. Maha
Penerima taubat.
Tentu kita tetap wajib menegakkan hukum syariat, termasuk di dalamnya hukum rajam. Namun
langkahnya harus runtut, yaitu mulai dari pendidikan hukum Islam di semua lini kehidupan. Kalau
bangsa ini bisa kita cerdaskan, sehingga melek hukum syariah, amatlah mudah mendirikan
wilayah hukum yang secara resmi menerapkan hukum Islam.
2.6. Hikmah Pengharaman Perilaku Zina
Zina merupakan sumber kejahatan dan penyebab pokok kerusakan dan termasuk dosa besar.
Hikmah diharamkannya adalah :
1.
Memelihara dan menjaga keturunan dengan baik. Karena adanya anak dari hasil zina,
umumnya tidak dikehendaki dan kurang disenangi.
2.
Menjaga dari jatuhnya harga diri dan juga kehormatan keluarga.

3.
Menjaga tertib dan terjaganya urusan rumah tangga.
4. Timbulnya rasa kasih sayang dari anak hasil perkawinan yang sah.
5.
Terjaganya akhlak islamiyah yang akan mengangkat harkat martabat manusia dihadapan
sesama dan dihadapan sang kholik.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :
Zina adalah segala persetubuhan diluar nikah. Asal persetubuhan itu belum atau tidak disahkan
dengan nikah, atau tidak dapat disahkan dengan kedua belah pihak atau tidak suka misal pihak
yang seorang memaksa atau memperkosa atas pihak lain.
Perempuan dan laki-laki yang tidak muhshan, misalnya perempuan yang tidak atau belum
bersuami dan laki-laki yang belum beristri dilakukan hukuman sebagai tersebut dalam ayat, yaitu
dipukul cambuk, atau dengan rotan 100 kali, dihadapan khayalak ramai kaum muslim, dan orang
atau laki dan perempuan yang terbentang. Orang-orang yang tidak patut berzina, karena hidupnya
berbenteng oleh pandangan masyarakat, sehingga pandangan umum sudah menganggap dia tidak
patut berbuat demikian. Yaitu keduanya baligh, berakal, lagi merdeka dan laki-lakinya beristri dan
perempuannya ada bersuami dihubungkan keberatan dari suaminya atau istrinya yang sah itu.
Hukumannya ialah dirajam, yaitu diikat dan dibawa ketengah kumpulan orang ramai, lalu
dilempari dengan batu sampai mati.
2.7. Cara Menghindari Perzinahan
Berdasarkan dalil-dalil kuat yang relevan, akhirnya Abu Syuqqah menyimpulkan, “adanya
pertemuan antara laki-laki dan wanita mungkin menyebabkan timbulnya sikap saling memandang
antara mereka. [Namun] kejadian seperti itu tidak menjadi masalah, sepanjang pandangmemandang di antara mereka tidak didasarkan pada syahwat serta keduanya sama-sama berniat
dan melaksanakan menahan pandangan.”
a. Fokuskan pada Penampilan Non-Seksual
Kondisi yang membolehkan kita memandang lawan-jenis adalah ketika tidak terkagum-kagum
pada pesona seksual dan tidak memandangi aurat. Selama berada dalam kondisi ini, kita tidak
dituntut untuk memalingkan muka (seperti Fadhal) atau pun diperintahkan untuk tidak
melanjutkan pandangan (seperti Ali). Bahkan, bisa saja kita justru diberi kesempatan luas untuk
bisa memandang lawan jenis.
Belum percaya? Liat aja hadits shahih berikut ini, yang mengisyaratkan bolehnya memandang
lawan-jenis seraya mengagumi keahliannya atau sekurang-kurangnya menyaksikan penampilan
non-seksualnya.
Dari ‘Aisyah r.a. dikatakan: Ketika itu adalah hari raya, dan pada waktu itu orang Habsyah
sedang bermain tameng dan tombak. Entah aku yang meminta atau Nabi sendiri yang berkata
kepadaku: ‘Apakah kamu ingin melihatnya?’ Aku jawab: ‘Ya.’ Maka aku disuruhnya
berdiri di belakangnya [sehingga aku melihatnya]. (HR Bukhari)
Tuuuh… Nabi memberi kesempatan luas kepada Aisyah nyaksiin keterampilan orang Habsyah
bermain senjata. Ternyata, tidak seperti kemolekan, daya tarik non-seksual lawan-jenis boleh
dilihat dengan cukup leluasa.
Sekarang, berdasarkan dalil di atas, bisa kita petik sebuah hikmah: Supaya tidak terkagum-kagum
pada dayatarik seksualnya, fokuskan pengamatan kita pada penampilan non-seksualnya apabila
kita memandang lawan-jenis.
Penampilan non-seksual lawan-jenis yang dapat kita saksikan itu meliputi: kegesitan berolah-raga,
kelogisan berargumentasi, kesopanan berbusana, keanggunan bersikap, keramah-tamahan

berperilaku, keindahan berekspresi artistik, kelihaian berkomunikasi, … dan masih banyak lagi
yang lainnya.
b. Berpaling Bila Terpana oleh Kemolekan
Walau sudah berusaha fokuskan perhatian pada dayatarik non-seksual, bisa saja kita tiba2
terpesona pada kemolekan si lawan-jenis. Kalau terjadi begini, atau setiap kali terpikat pada
dayatarik seksualnya, kita diminta segera alihkan pandangan. Dalil yang melandasi seruan
“alihkan pandangan” ini adalah sebagai berikut:
Dari Jarir bin Abdullah r.a. dikatakan: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang
memandang [lawan-jenis] yang [membangkitkan syahwat] tanpa disengaja. Lalu beliau
memerintahkan aku mengalihkan pandanganku.” (HR Muslim)
Makanya, kalau kau lelaki nyaksiin penampilan Siti Nurhaliza (atau penyanyi cantik lainnya),
fokuskan pengamatan pada kehebatannya dalam bernyanyi dan bersopan-santun di
pementasannya. Bila terpana pada kecantikan atau pun dayatarik seksualnya lainnya, lekas2lah
alihkan pandangan ke arah lain. Jika gejolak birahi sudah reda, boleh nonton kembali. Tapi, andai
terpesona lagi pada dayatarik seksualnya, segeralah alihkan lagi pandangan ke arah lain…
Selama tidak terpana pada ketampanan atau pun dayatarik seksualnya lainnya, perempuan juga
boleh memandang wajah ustad Jefri Al-Buchori (atau mubalig pria lainnya) di majelis taklim.
Fokuskan pengamatan pada kemampuannya dalam berdakwah. Setiap kali terpesona pada
dayatarik seksualnya, cepat2lah alihkan pandangan ke arah lain…
Kau pun harus siap-sedia sering2 alihkan pandangan sewaktu bercakap-cakap ‘si dia’ seraya
mengagumi pesona ‘kecantikan batiniah’ (inner beauty)-nya. Boleh2 aja sih kau menatap dia
saat menyimak tutur-katanya, namun setiap kali terpikat pada dayatarik seksualnya, lekas2lah
alihkan pandangan ke arah lain sampai gejolak birahimu reda.
Malu ketahuan alihkan pandangan? Nevermind. Ingat, gejolak birahi itu manusiawi, sedangkan
mengalihkan pandangan itu islami. Ngapain malu berperilaku islami?
c. Bagaimana Menjaga Pintu Perzinaan
Kau nggak malu berperilaku islami, kan? Bagus… Trus, seperti Aisyah dalam hadits Bukhari tadi,
apakah kau ingin menyaksikan keahlian si lawan-jenis? Boleeeh… asalkan, sekali lagi kami
ingatkan, alihkan pandangan setiap kali terpikat pada dayatarik seksualnya. Begitulah jurus
“tundukkan pandangan” yang bisa kita maklumi sebagai upaya menjaga ‘pintu perzinaan’
dari terjadinya ‘zina mata’. Jika kita membiarkan terjadinya ‘zina mata’ sewaktu
memandang lawan-jenis, maka mungkin kita tergolong mendekati zina.
Dari Ibnu Abbas r.a. dikatakan: Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosadosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya
mata adalah melihat [dengan syahwat], zinanya lidah adalah mengucapkan [dengan syahwat],
zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat]. …” (HR Bukhari
& Muslim)
Rupanya, yang bisa kita anggap mendekati zina itu nggak cuman ‘zina mata’. ‘Zina lidah’
dan ‘zina hati’ pun dapat digolongkan mendekati zina.
Bahkan, di luar tiga macam ‘zina’ yang kami garisbawahi itu, masih ada ‘zina tangan’,
‘zina kaki’, dan ‘zina-zina bagian tubuh lainnya’ yang mungkin tergolong mendekati zina
pula. Namun, penyebutan tiga saja —di antara itu semua— kami pandang sudah memadai untuk
menggambarkan bagaimana menjaga ‘pintu perzinaan’.

Kalau untuk menjaga ‘pintu perzinaan’ dari terjadinya ‘zina mata’, kita gunakan jurus
“tundukkan pandangan”, apa jurus kita untuk mengatasi ‘zina lidah’ dan ‘zina hati’ (atau
pun ‘zina-zina bagian tubuh lainnya’)? Kau bisa nebak, kan?
Yup. Untuk menjaga ‘pintu perzinaan’ dari terjadinya ‘zina lidah’, kita gunakan jurus
“tundukkan tutur-kata”.
Maksudnya, ketika lawan-jenis yang menyimak tutur-katamu terpesona pada ke-sexy-an suaramu,
keraskan suaramu atau hentikan sajalah tutur-katamu. “Janganlah kau terlalu lembut bicara
supaya [lawan-jenis] yang lemah hatinya tidak bangkit nafsu [syahwat]-nya.” (QS al-Ahzab [33]:
32) “Katakanlah yang baik-baik atau diam sajalah.” (al-hadits)
Dalam pengamatan kami, banyak muda-mudi (terutama wanita) yang kurang menyadari ke-sexyan suaranya di telinga lawan-jenis. Karena itu, kami sarankan, mintalah penilaian dari beberapa
sahabat lain-jenis mengenai suaramu. Kalau nggak sedikit orang menilai suaramu sexy, ubahlah
gaya bicaramu. Kalau sulit mengubah, berlatihlah secara serius sampai berhasil. Bagaimanapun,
gaya bicara bisa diubah. (Kami saksikan, banyak aktris Hollywood mampu menampilkan aneka
gaya bicara. Di satu film terdengar sexy banget, di film lain kurang sexy, sesuai karakter di film2
itu.)
Adapun untuk menjaga ‘pintu perzinaan’ dari terjadinya ‘zina hati’, kita gunakan jurus
“tundukkan keinginan”. Maksudnya, ketika kau terpikat oleh dayatarik seksual lawan-jenis
yang menarik perhatianmu, janganlah kau mengharap-harap kesenangan seksual dari dia.
Selanjutnya, sebesar apa pun gairahmu, janganlah kau turuti keinginan nafsu syahwatmu ini.
Kalau kau umbar nafsu ini, maka rusaklah kehormatan dirimu sendiri, sehingga kau “tergolong
orang yang bodoh” (QS Yusuf [12]: 33).
Ketika kau kewalahan meredam nafsu syahwat, segera “alihkan perhatian” ke hal-hal lain yang
bersifat non-seksual. Seandainya sinetron remaja Indonesia atau film musikal India di televisi
sering membuat birahimu bergejolak, alihkan saluran ke tayangan lain. Umpamanya: sepakbola,
berita politik, dialog bisnis, eksplorasi flora dan fauna, dan sebagainya. (Lebih baik lagi, matikan
televisi lalu baca buku2 islami atau lakukan kegiatan lain yang lebih bermanfaat.)
Dengan mengerahkan jurus2 penjagaan ‘pintu perzinaan’ sedemikian itu, insya’ Allah
‘pintu perzinaan’ kita selalu terjaga. Dengan kata lain, kita tidak mendekati zina.
Dengan jurus2 tadi, ‘darah-muda’ kita senantiasa terkendali ketika kita saling bergaul dan
bertatap-muka dengan lawan-jenis, secara akrab sekalipun. Apalagi bila terawasi oleh orang lain
yang cenderung mencegah perzinaan kita. (Ingat makna ‘bila terawasi’, kan? Kalo lupa,
silakan baca lagi Bab 4.)
Emang sih, jurus2 tersebut tidak menjamin kita bebas dari godaan setan. Tapi, setiap kali pasukan
iblis hendak masuk untuk menguasai diri kita, mereka bisa kita tendang jauh2 dengan jurus2 tadi.
Dengan demikian, menjauhlah bahaya kerusakan yang mengancam masuk melalui ‘pintu
perzinaan’ yang bernama ‘perbauran’. Hasilnya, selamatlah kita di dunia dan akhirat.
(Begitulah cara yang kami upayakan untuk memupus kekhawatiran Nabi terhadap perilaku kita
dalam bertatap-muka dengan lawan-jenis.)
8. Dalil Tentang Zina
Allah berfirman :
Agama islam sangat melarang zina kita mendekati saja sudah di larang apalagi melakukan nya
karena perbuatan zina merupakan perbuatan yang sanggat keji yang mendatang kan kemudharatan
bagi si pelakuu dan orang lain. Kita sering menemui dalil yang sangat melarang perbuatan

zina,didalam alqur’an maupun Hadits Nabi.
‫ﻭﺳﺇﺒﻼﻴﻼ ﻭﻭﻭﺳ ﺎﻭﺀ ﻭﻓ ﺎﺇﺣﻭﺸﺔﺔ ﻭﻛ ﺎﻭﻥ ﺇﺇﻧﺑﻪ ﺍﻟﺰﺰﻭﻧ ﺎ ﻭﺗ ﻘ ﻭﺮﺑﺑﺍﻮﺍ ﻭﻭﻻ‬
Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan
suatu jalan yang buruk (sumber: Al-Qur’an, QS Al-israa’ ayat 32)
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk
(menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah
(pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Laki-laki
yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik;
dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki
musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin,” (an-Nuur: 2-3)
“ Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh
jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak
berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan)
dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal
dalam azab itu, dalam keadaan terhina,” (al-Furqaan: 68-69)
Pemerintah hendaknya bersungguh menegakkan syariat Islam di Bumi Serambi Mekkah ini,
dengan membuat Qanun-Qanun yang islami, khususnya Qanun Jinayat (hukum pidana) dengan
sanksi yang tegas, demi terciptanya keamanan, kenyamanan dan ketentraman di negeri ini. Di
samping itu, konsep pendidikan Islami mesti segera dirumuskan dan diterapkan. Sebagai solusi
atas kegagalan dan kelemahan sistim pendidikan selama ini yang tidak mendidik moral generasi
bangsa. Tidak ada pilihan lain, pendidikan Islami sudah menjadi pilihan dan priotitas seperti yang
diamanatkan dalam renstra Qanun pendidikan untuk segera diterapkan dan juga merupakan solusi
terhadap permasalahan moral generasi bangsa
BAB III
KESIMPULAN
1. Dalam Agama Islam Allah SWT telah menjanjikan dua hal sebagai balasan atas apapun yang
menjadi tindakan umat manusia. Pahala (balasan baik) adalah bagi mereka yang beramal shalih.
Dan dosa (balasan buruk) akan berbuah siksa bagi mereka yang melakukan tindak kemaksiatan.
2. Di dalam al-qur’an Allah SWT banyak berfirman dan menjelaskan tentang larangan zina.
3. Zina adalah persetubuhan yang dilakukan oleh seorang lelaki dengan seorang perempuan tanpa
nikah yang sah menurut hukum islam. Zina dibagi dua yaitu zina muhsan dan bukan muhsan.
4. Seseorang yang melakukan zina Muhsan, wajib dikenakan keatas mereka hukuman had (rejam)
Yaitu dilempar dengan batu yang sederhana besarnya hingga mati,sedangkan yang bukan muhsan
harus di cambuk sebanyak seratus kali cambukan.
5. Faktor utama maraknya zina adalah lemah iman di Negara kita ini, serta pengaruh kemajuan
teknologi.
6. Cara mencegah zina yang paling utama adalah menyegrakan menikah bagi yang sudah
mampu,serta dengan mengembangkan syariat islam di negeri ini.