Learning Issue

1. Fisiologi Tonsil
Tonsila palatina adalah suatu jaringan limfoid yang terletak

di fossa tonsilaris

dikedua sudut orofaring dan merupakan salah satu bagian dari cincin Waldeyer. Tonsila
palatina lebih padat dibandingkan jaringan limfoid lain. Permukaan lateralnya ditutupi oleh
kapsul tipis dan di permukaan medial terdapat kripta (Amaruddin T, 2007). Tonsila palatina
merupakan jaringan limfoepitel yang berperan penting sebagai sistem pertahanan tubuh
terutama terhadap protein asing yang masuk ke saluran makanan atau masuk ke saluran
nafas. Mekanisme pertahanan dapat bersifat spesifik atau non spesifik. Apabila patogen
menembus lapisan epitel maka sel – sel fagositik mononuklear pertama – tama akan
mengenal dan mengeliminasi antigen (Farokah, 2005).
Tonsil mempunyai dua fungsi utama yaitu menangkap dan mengumpulkan bahan
asing dengan efektif dan sebagai organ produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T
dengan antigen spesifik (Kartika H, 2008).
Tonsil merupakan jaringan kelenjar limfa yang berbentuk oval yang terletak pada
kedua sisi belakang tenggorokan. Dalam keadaan normal tonsil membantu mencegah
terjadinya infeksi. Tonsil bertindak seperti filter untuk memperangkap bakteri dan virus yang
masuk ke tubuh melalui mulut dan sinus. Tonsil juga menstimulasi sistem imun untuk
memproduksi antibodi untuk melawan infeksi. Lokasi tonsil sangat memungkinkan terpapar
benda asing dan patogen, selanjutnya membawanya ke sel limfoid. Jika tonsil tidak mampu
melindungi tubuh, maka akan timbul inflamasi dan akhirnya terjadi infeksi yaitu tonsilitis
(tonsillolith). Aktivitas imunologi terbesar tonsil ditemukan pada usia 3 – 10 tahun
(Amarudin T, 2007).

2. Tonsilitasi Kronis
a. Definisi
Tonsilitis kronis secara umum diartikan sebagai infeksi atau inflamasi pada tonsila
palatina yang menetap. Tonsilitis Kronis disebabkan oleh serangan ulangan dari tonsilitis akut

Klebsiella dan E. Faktor Predisposisi Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis Kronis. Pada pendería tonsilitis kronis jenis kuman yang sering adalah Streptokokus beta hemolitikus grup A (SBHGA). Selain itu terdapat Streptokokus pyogenes. Pseudomonas aeruginosa. bahkan virus Herpes. sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti oleh jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripta melebar. Etiologi Etiologi penyakit ini dapat disebabkan oleh serangan ulangan dari tonsilitis akut yang mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil. Proses berjalan terus sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan dengan jaringan disekitar fossa tonsilaris.coli dan Klebsiela. suhu yang berubah. higiene mulut yang buruk. Karena proses radang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa juga jaringan limfoid terkikis. Adenovirus. Streptokokus grup B. yaitu rangsangan kronis (rokok. atau kerusakan ini dapat terjadi bila fase resolusi tidak sempurna. Pada keadaan inilah fungsi pertahanan tubuh dari tonsil berubah menjadi sarang infeksi (fokal infeksi) dan satu saat kuman dan toksin dapat menyebar ke seluruh tubuh misalnya pada saat keadaan umum tubuh menurun.ubah). Penelitian Abdulrahman AS. b. C. Stafilokokus epidermidis dan kuman gram negatif berupa Enterobakter. Pada anak proses ini disertai dengan .yang mengakibatkan kerusakan yang permanen pada tonsil. c. makanan). Patogenesis Adanya infeksi berulang pada tonsil maka pada suatu waktu tonsil tidak dapat membunuh semua kuman sehingga kuman kemudian bersarang di tonsil. Streptokokus beta hemolitikus grup A. Streptokokus beta hemolitikus grup A. kelelahan fisik). Organisme patogen dapat menetap untuk sementara waktu ataupun untuk waktu yang lama dan mengakibatkan gejala-gejala akut kembali ketika daya tahan tubuh penderita mengalami penurunan. Kholeif LA. E. Coli. pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat. lembab. d. Dari hasil penelitian Suyitno dan Sadeli (1995) kultur apusan tenggorok didapatkan bakteri gram positif sebagai penyebab tersering tonsilofaringitis kronis yaitu Streptokokus alfa kemudian diikuti Stafilokokus aureus. alergi (iritasi kronis dari allergen). pengaruh cuaca (udara dingin. Epstein Barr. Secara klinik kripta ini tampak diisi oleh detritus. keadaan umum (kurang gizi. dan Beltagy di mesir tahun 2008 mendapatkan kuman patogen terbanyak di tonsil adalah Staphilokokus aureus.

3. Tonsilitis Kronis terjadi akibat pengobatan yang tidak tepat sehingga penyakit pasien menjadi Kronis. dan jenis kuman yag tidak sama antara permukaan tonsil dan jaringan tonsil. Dapat terlihat butiran pus kekuningan pada permukaan medial tonsil.pembesaran kelenjar limfa submandibula. minimal ada kripta yang melebar dan pembesaran kelenjar limfe . pembesaran kelenjar limfe submandibula dan tonsil yang mengalami perlengketan. e. Pemeriksaan Fisik 1. Faktor-faktor yang menyebabkan kronisitas antara lain: terapi antibiotika yang tidak tepat dan adekuat. Bila dilakukan penekanan pada plika anterior dapat keluar pus atau material menyerupai keju. gizi atau daya tahan tubuh yang rendah sehingga terapi medikamentosa kurang optimal. terasa kering dan pernafasan berbau. Gambar 5. Warna kemerahan pada plika anterior bila dibanding dengan mukosa faring. 2. f. nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan bila menelan. Tanda klinis tidak harus ada seluruhnya. Tonsilitis Tanda klinis pada tonsilitis kronis yang sering muncul adalah kripta yang melebar. merupakan tanda penting untuk menegakkan infeksi kronis pada tonsil. adanya rasa sakit (nyeri) yang terus-menerus pada tenggorokan (odinofagi). Manifestasi Klinis Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut yang berulang ulang.

Kuman terbayak yang ditemukan yaitu Streptokokus beta hemolitikus diukuti Staflokokus aureus. kurangnya nafsu makan. Pemberian antibiotika yang bermanfaat pada penderita Tonsilitis Kronis Cephaleksin ditambah metronidazole. maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi : T0 : Tonsil masuk di dalam fossa T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring. Pemberian antibiotika sesuai kultur. Gold standard pemeriksaan tonsil adalah kultur dari dalam tonsil. Bila keluhan-keluhan ini disertai dengan adanya hiperemi pada plika anterior. Disebutkan dalam penelitian lain bahwa adanya keluhan rasa tidak nyaman di tenggorokan. Pemeriksaan penunjang .submandibula. g. klindamisin ( terutama . palpitasi mungkin dapat muncul. dengan mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil. pelebaran kripta tonsil dengan atau tanpa debris dan pembesaran kelenjar limfe jugulodigastrik maka diagnosa tonsilitis kronis dapat ditegakkan. Berdasarkan penelitian Kurien di India terhadap 40 penderita tonsilitis kronis yang dilakukan tonsilektomi. h. Penatalaksanaan 1. didapatkan kesimpulan bahwa kultur yang dilakukan dengan swab permukaan tonsil untuk menentukan diagnosis yang akurat terhadap flora bakteri tonsilitis kronis tidak dapat dipercaya dan juga valid. Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring. Kegagalan mengeradikasi organisme patogen disebabkan ketidaksesuaian pemberian antibiotika atau penetrasi antibiotika yang inadekuat.Mikrobiologi Penatalaksanaan dengan antimikroba sering gagal untuk mengeradikasi kuman patogen dan mencegah kekambuhan infeksi pada tonsil. berat badan yang menurun.

2. Faringitis kronik a. b. 3. gejala sumbatan serta kecurigaan neoplasma. Hipertropi tonsil yang dicurigai adanya keganasan. 3. gejala sumbatan. Sumbatan jalan napas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan napas. Tonsiliitis berulang yang disebabkan oleh bakteri grup A streptococus β hemolitikus. 6. serta kecenderungan neoplasma. Napas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan. abses peritonsil yang tidak berhasil 5. peritonsilitis. hilang dengan pengobatan. Beberapa pasien juga mengeluhkan batuk kering dan sensasi adanya benda asing di faring. gas iritan dan lainnya. amoksisilin dengan asam klavulanat ( jika bukan disebabkan mononukleosis). 4. dan cor pulmonale. alkohol. Serangan tonsilitis lebih dari tiga kali pertahun walaupun telah mendapatkan terapi yang adekuat. gangguan menelan. 7. Gejala Gejala utama adalah adanya sensasi tenggorokan yang kering dan adanya viscous mucus. The American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun 1995 menetapkan indikasi tonsilektomi adalah sebagai berikut : 1. Selain itu. bisa juga terjadi akibat seringya bernafas melalui mulut pada keadaan terjadinya obstruksi jalan nafas (contohnya pada deviasi septum) atau pada keadaan yang bersamaan dengan sinusitis kronik. gangguan bicara. Rinitis dan sinusitis yang kronis. Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan orofasial. Etiologi Adanya paparan dari zat-zat tertentu seperti nikotin. Tonsilektomi dilakukan bila terjadi infeksi yang berulang atau kronik. Terapi dengan tonsilektomi terjadi infeksi yang berulang atau kronik. sleep apnea. .jika disebabkan mononukleosis atau abses). 2. Otitis media efusi / otitis media supuratif . 8.

d. Diagnosis Pada pemeriksaan tampak mukosa faring merah dan tidak rata akibat adanya hiperplasia dari jaringan limfatik pada dinding posterior faring (hipertrofi).s edangkan pada faringitis atrofi pengobatan ditujukan pada rhinitis atrofinya dan untuk faringitis kronik atrofinya dengan obat kumur dan menjaga kebersihan mulut . Jika di perlikan dapat diberikan obat batuk antitusif atau ekspetoran. Faringitis Kronik c. Melalui pemeriksaan hidung harus dipastikan tidak adanya obstruksi jalan nafas di hidung yang dapat menjadi penyebab faringitis kronis. Pengobatan simtomatis diberikan obat kumur atau tablet hisap. Penatalaksanaan Pada faringitis kronik hiperplastik dilakukan terapi local dengan melakukan kaustik faring dengan zat kimia larutan nitrat argenti atau dengan listrik (electro cauter). ataupun adanya kelainan-kelainan lain seperti deviasi septum atau hiperplasi konka.Gambar 5. dan mengkilat pada beberapa kasus (atrofi). Mukosa faring juga bisa tampak halus.