Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

PERCOBAAN I
SIMULASI INVITRO MODEL FARMAKOKINETIKA (INTRAVASKULER)
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Farmakokinetika dapat didefenisikan sebagai setiap proses yang
dilakukan tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan
ekskresi. Dalam arti sempit farmakokinetika khususnya mempelajari
perubahan-perubahan konsentrasi dari obat dan metabolitnya di dalam darah
dan jaringan sebagai fungsi dari waktu. Tubuh kita dapat dianggap sebagai
suatu ruangan besar, yang terdiri dari beberapa kompartemen yang terpisah
oleh membran-membran sel. Sedangkan proses absorpsi, distribusi dan
ekskresi obat dari dalam tubuh pada hakekatnya berlangsung dengan
mekanisme yang sama, karena proses ini tergantung pada lintasan obat
melalui membran tersebut (Tjay dan Rahardja, 2002).
Konsep dasar dari farmakokinetika adalah salah satunya memahami
parameter-parameter farmakokinetika, yaitu parameter farmakokinetika
primer meliputi volume distribusi (Vd), klirens (Cl), dan kecepatan absorbsi
(Ka), sekunder meliputi kecepatan eliminasi (Ke) dan T1/2 dan turunan
meliputi AUC dan Css. Dengan konsep-konsep tersebut dilakukan simulasi in
vitro dengan menggunakan suatu model farmakokinetika untuk mengukur
parameter-parameter farmakokinetika dan lebih memahami setiap
parameternya. Setelah dibuat suatu model farmakokinetik dalam praktikum ini
dapat digunakan untuk karakteristirisasi suatu obat dengan meniru suatu
perilaku dan nasib obat dalam sistem biologis jika diberikan dengan suatu
pemberian rute utama dan bentuk dosis tertentu.
2. Dasar Teori
Jalur pemberian obat ada 2 yaitu intravaskular dan ekstravaskular.
Pada pemberian secara intravaskular, obat akan langsung berada di sirkulasi
sistemik tanpa mengalami absorpsi, sedangkan pada pemberian secara
ekstravaskular umumnya obat mengalami absorpsi (Zunilda, dkk, 1995).
Suatu model dalam farmakokinetik adalah struktur hipotesis yang
dapat digunakan untuk karakteristik suatu obat dengan meniru suatu perilaku
dan nasib obat dalam sistem biologik jika diberikan dengan suatu pemberin
rute utama dan bentuk dosis tertentu (Hargel, Leon, 2005).
Kompartemen adalah suatu kesatuan yang dapat digambakan dengan
suatu volume tertentu dan suatu konsentrasi. Perilaku obat dalam sistem
biologi dapat digambarkan dengan kompartemen satu atau kompartemen dua.
Kadang-kadang perlu untuk menggunakan multi kompartemen, dimulai

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

dengan determinasi apakah data eksperimen cocok atau pas untuk model
kompartemen satu dan jika tidak pas dapat mencoba model yang memuaskan.
Sebenarnya tubuh manusia adalah model kompartemen multimilion,
mengingat konsentrasi obat dalam organel yang berbeda, sel atau jaringan.
Dalam tubuh kita memiliki jalan masuk untuk dua jenis cairan tubuh, darah
dan urin (Hargel, Leon, 2005).
Cairan mengisis kembali
secara otomatis untuk
menjaga volume yang
tetap

Cairan keluar

Model kompartemen yang
sering digunakan adalah model
kompartemen satu terbuka, model ini menganggap bahwa berbagai perubahan
kadar obat dalam plasma mencerminkan perubahan yang sebanding dengan
kadar obat dalam jaringan. Tetapi model ini tidak menganggap bahwa
konsentrasi obat dalam tiap jaringan tersebut adalah sama dengan berbagai
waktu. Di samping itu, obat di dalam tubuh juga tidak ditentukan secara
langsung, tetapi dapat ditentukan konsentrasi obatnya dengan menggunakan
cuplikan cairan tubuh (Shargel, 1988).
Model Farmakokinetika untuk obat yang diberikan dengan injeksi IV
cepat. DB : obat dalam tubuh ; Vd : Volume distribusi ; K : tetapan laju
eliminasi. Setelah ditentukan nilai Cp dan k, berbagai parameter
farmakokinetik obat yang berkaitan dengan cara pemberian obat secara bolus
intravaskuler dapat dihitung, seperti:

volume distribusi (Vd): volume dalam tubuh di mana obat terlarut,

klirens (Cl),

waktu paruh eliminasi (t ½)

Luas di bawah kurva dalam plasma (AUC)

Bioavalaibilitas (ketersediaan hayati)
Vd = D/Cp
Cl = Vd.Ke
t ½ = 0,693/K
AUC= (C1+C0) x (t1-t0)

(Hakim, L, 2011).

3. Tujuan Percobaan
a. Tujuan Umum : Memahami konsep farmakokinetika suatu obat.
b. Tujuan Khusus:

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

 Mempelajari konsep farmakokinetika suatu obat dengan menggunakan
simulasi invitro.
 Membedakan profil farmakokinetika suatu obat dengan dosis, rute
pemakaian, klirens, dan volume distribusi yang berbeda.
 Menerapkan analisis farmakokinetika dalam perhitungan parameter
farmakokinetika.
B. BAHAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN
1. BAHAN
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah metilen merah dan air
suling.
2. ALAT
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah spektrofotometer, magnetic
stirrer, tabung reaksi, pipet ukur, gelas beaker 1L/2L, dan pipet volume 25
ml/30 ml.
C. CARA KERJA
1. Macam Percobaan
Simulasi
 Dilakukan satu macam percobaan secara intravaskuler
I : Dosis 20 mg, klirens 200ml/15 menit, Vd 0,5 L
II : Dosis 10 mg, klirens 100ml/15 menit, Vd 0,5 L
III : Dosis 20 mg, klirens 200ml/15 menit, Vd 1 L
IV : Dosis 10 mg, klirens 100ml/15 menit, Vd 1 L
Hasil
2. Tahapan Percobaan
a. Pembuatan Larutan Baku Kerja Metilen Merah
Metilen Merah
 Ditimbang 10 mg
 Dilarutkan dalam 100 ml air suling
Larutan baku Induk 100 mcg/ml
 Diencerkan dengan air suling sampai didapat
kadar 0,25;0,5;1;2;3;5 mcg/ml
Larutan Baku Kerja Metilen Merah
b. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Larutan Baku
Kerja 2panjang
dan 5 mcg/ml
 Diukur
gelombang maksimum pada
spektrofotometer
 Diamati nilai serapan pada  530-570 nm
 Dibuat kurva serapan
 Ditentukan  maksimal

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

Hasil
c. Pembuatan Kurva Baku
Larutan Baku Kerja
 Dilakukan pengamatan serapan pada semua larutan baku kerja
pada  maksimalyang telah didapat
 Dibuat table pengamatan dari kurva kadar larutan baku kerja
terhadap serapan
 Dihitung koefisien korelasinya dan dibuat persamaan garisnya
Hasil
d. Simulasi Model Farmakokinetika Invitro
Rute Intravaskuler, kompartemen satu terbuka
Gelas beaker



Diisi air suling secara kuantitatif , sesuai dengan nilai Vd
Dijalankan alat stirrernya
Ditambah metilen merah sesuai dosis yang ditentukan
Diambil sampel larutan metilen merah berkali – kali sebesar nilai
Cl dan segera digantikan volume yang diambil dengan air suling
 Diukur serapan sampel pada  maksimalyang telah diperoleh
 Digunakan air suling sebagai blanko
 Dihitung parameter farmakokinetika
Hasil
D. HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN
1. Pembuatan kurva baku
10 mg ad 50 ml = 10 mg/ 50 ml
= 0,2 mg/ ml
= 200 μg/ ml
2. Pengenceran
 100 μg/ml -> M1.V1=M2.V2
200 μg/ml. V1=100 μg/ml. 10 ml

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

V1 = 5 ml ad 10 ml

80 μg/ml -> M1.V1=M2.V2
200 μg/ml. V1=80 μg/ml. 25 ml
V1 = 10 ml ad 25 ml

60 μg/ml -> M1.V1=M2.V2
200 μg/ml. V1=60 μg/ml. 10 ml
V1 = 3 ml ad 10 ml

40 μg/ml -> M1.V1=M2.V2
80 μg/ml. V1=40 μg/ml. 10 ml
V1 = 5 ml ad 10 ml

20 μg/ml -> M1.V1=M2.V2
100 μg/ml. V1=20 μg/ml. 10ml

V1 = 2 ml ad 10 ml
10 μg/ml -> M1.V1=M2.V2
100 μg/ml. V1=10 μg/ml. 10ml
V1 = 1 ml ad 10 ml

3. Perhitungan AUC, t1/2 dan K
AUCI

AUCII

AUCIII

= (C1+C0) x (t1-t0)
2
= (0,284+0,435) x 15
2
= 444,75 μg menit/ml
= (C1+C0) x (t1-t0)
2
= (12,8+22,1) x 15
2
= 261,75 μg menit/ml
= (C1+C0) x (t1-t0)
2
= (7,3+12,8) x 15

2
= 150,75 μg menit/ml
AUCtot = AUCI+AUCII+AUCIII
= 444,75 + 261,75 + 150,75
= 857,25 μg menit/ml
Harga K
K = 2,303 x (-b)
= 2,303 x (-(-0,016))
= 0,037
Harga t1/2

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

t1/2 = 18,37 menit
t1/2 =
t1/2 =

0,037

4. Penimbangan Bahan Baku
Berat Wadah

203,5 mg

Berat Metilen Merah

10,4 mg

Berat Wadah + Merilen Merah

213,9 mg

Penimbangan Metilen Merah
Berat Wadah

204,4 mg

Berat Metilen Merah

20 mg

Berat Wadah + Merilen Merah

224,4 mg

5. Pembuatan Kurva Baku
Kadar

Absorbansi (A)

10

0, 169

20

0,279

40

0,497

60

0,717

80

0,936

100

0,140

6. Tabel Nilai Serapan Metilen Merah pada Berbagai Model
Kel

t (s)

Absorbansi
(A)

Kadar
( c)

Log (c)

t vs log c

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

I

0
15
30
45

0,435
0,284
0,191
0,136

37,2
22,1
12,8
7,3

1,57
1,34
1,11
0,86

a: 1,574
b: - 0,0157
r: -0,999

T1/2 :
18,73
K : 0,037

II

0
15
30
45

0,281
0,233
0,197
0,145

21,8
17
13,4
8,2

1,34
1,23
1,13
0,91

a: 1,361
b: -9,27x10-3
r: -0,98

T1/2 : 33
K : 0,021

III

0
15
30
45

0,259
0,220
0,187
0,161

19,6
15,7
12,4
9,8

1,29
1,19
1,09
0,99

a: 1,29
b: - 0,006
r: -1

IV

0
15
30
45

0,164
0,154
0,143
0,133

10,1
9,1
8
7

1,0043
0,959
0,903
0,845

a: 1,00791
b: - 3,559x10-3
r: -0,998

7. Tabel Nilai AUC
Kelompok

AUC

I

857,25 μg menit/ml

II

681 μg menit/ml

III

842 μg menit/ml

IV

384,75 μg menit/ml

8. Kurva Baku
Kelompok 1

Kelompok 2

T1/2 :
50,218
K:
0,0138

T1/2 : 84,6
K:
8,8X10-3

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

Kelompok 3

Kelompok 4

E. PEMBAHASAN
Percobaan simulasi model in vitro farmakokinetik ini bertujuan untuk
menjelaskan proses farmakokinetik obat dalam tubuh setelah pemberian secara
intravena dan mengetahui profil farmakokinetik obat. Dalam metode ini, suatu
wadah digambarkan sebagai kompertemen tubuh dimana obat mengalami profil
farmakokinetik dari distribusinya hingga eliminasi obat. Sampel untuk percobaan
ini yaitu metilen merah yang akan di uji aktifitas farmakokinetiknya dengan
menggunakan metode model in vitro.
Langkah pertama dari percobaan ini yaitu membuat larutan baku induk
metilen merah 200 ppm dengan cara melarutkan 10 mg metilen merah dalam 50
ml air suling. Dari larutan baku induk dibuat konsentrasi bertingkat
10;20;40;60;80;100 μg/ml. Larutan baku kerja tersebut kemudian di uji dalam
spektrofotometer untuk menentukan nilai absorbansinya hingga didapatkan
persamaan linier.
Langkah kedua yaitu penimbangan sampel metilen merah 20 mg
dilarutkan dengan air suling 500 ml dalam gelas beaker. Metilen merah dianggap
sebagai obat dengan pemberian secara intravena yang langsung terdistribusi
dalam saluran sistemik tanpa melalui absorbsi. Larutan dalam gelas beaker
diilustrasikan sebagai volume distribusi obat dalam tubuh. Volume distribusi (Vd)
merupakan volume hipotesis cairan tubuh yang akan diperlukan untuk melarutkan

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

jumlah total obat pada konsentrasi yang sama seperti yang ditemukan dalam darah
(Ansel, 2006). Volume distribusi yang diperoleh mencerminkan suatu
keseimbangan antara ikatan pada jaringan, yang mengurangi konsentrasi plasma
dan membuat nilai distribusi lebih besar, dengan ikatan pada protein plasma, yang
meningkatkan konsentrasi plasma dan membuat volume distribusi menjadi lebih
kecil. (Holford, 1998). Digunakan satu wadah sebagai ilustrasi model
kompartemen satu terbuka. Model ini menganggap bahwa berbagai perubahan
kadar obat dalam plasma mencerminkan perubahan yang sebanding dengan kadar
obat dalam jaringan (Shargel, 1988).
Setelah metilen merah dimasukkan dalam larutan, dilakukan pengadukan
secara terus menerus yang menggambarkan seperti aliran darah yang mengalir
dalam tubuh dengan kecepatan konstan. Larutan dalam wadah kemudian diambil
sebanyak 200 ml setiap 15 menit dari menit ke 0 hingga 45 yang dianggap
sebagai proses klirens (Cl) atau bersihan obat dari dalam tubuh. Klirens
merupakan parameter farmakokinetika yang menggambarkan eliminasi obat yang
merupakan jumlah volume cairan yang mengandung obat yang dibersihkan dari
kompartemen tubuh setiap waktu tertentu. Secara umum eliminasi obat terjadi
pada ginjal dan hati yang sering dikenal dengan istilah klirens total yang
merupakan jumlah dari klirens ginjal (renalis) dan hati (hepatik) (Mutschler,
1999).
Setiap pengambilan larutan klirens pada wadah ditambahkan kembali air
suling sebanyak 200 ml untuk menggambarkan kondisi sink dalam tubuh. Tahap
selanjutnya yaitu pengukuran konsentrasi setiap larutan dengan menggunakan
spektrofotometer UV-VIS pada  530 nm untuk menentukan kadar metilen merah yang
diekskresikan per satuan waktu. Hasil absorbansi setiap larutan digunakan untuk
menentukan konsentrasinya dengan menggunakan kurva baku metilen merah
yang telah diketahui sebelumnya.
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa konsentrasi metilen merah
mengalami penurunan kadar sebanding dengan selang waktu dari larutan yang
diambil. Pada pemberian waktu ke-0, konsentrasi yang didapatkan mencapai 37,2.
Pada menit ke-15 konsentrasi menurun menjadi 22,1, pada menit ke 30
konsentrasi kembali menurun menjadi 12,8 dan pada menit ke 45 menurun
menjadi 7,3. Sehingga dapat dilihat bahwa laju eliminasi dari larutan metilen
merah semakin menurun seiring dengan perubahan waktu. Hasil yang didapat
merupakan data kompartemen satu terbuka secara intravaskuler. Data
menghasilkan grafik menurun karena pada rute ini obat langsung mencapai
konsentrasi 100% dan didistribusikan tanpa adanya tahapan absorbsi obat.

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

Berdasarkan percobaan pemberian obat melalui intravena, dapat diketahui
parameter primer yang menunjukan profil farmakokinetiknya yaitu volume
distribusi sebesar 500 ml dan klerens sebesar 200ml/15 menit. Tidak diketahui Ka
(kecepatan absorbs) karena disimulasikan berupa injeksi intravaskuler. Dari
parameter primer didapatkan parameter sekunder berupa t1/2 sebesar 18,73 menit
dan harga K sebesar 0,037/menit kemudian adapula parameter turunan salah
satunya AUC dari sample metilen merah didapatkan nilai sebesar 857,25 mcg.
menit/ml. AUC (Area Under Curve) adalah permukaan di bawah kurva (grafik)
yang menggambarkan naik turunnya kadar plasma sebagai fungsi dari waktu.
AUC dapat dihitung secara matematis dan merupakan ukuran untuk
bioavailabilitas suatu obat. AUC dapat digunakan untuk membandingkan kadar
masing-masing plasma obat bila penentuan kecepatan eliminasinya tidak
mengalami perubahan. Selain itu antara kadar plasma puncak dan bioavailabilitas
terdapat hubungan langsung (Waldon, 2008).
Berdasarkan percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa model in vitro
farmakokinetika digunakan untuk menguji profil farmakokinetika obat dalam
suatu wadah yang digambaran seperti kompartemen darah dalam tubuh sebagai
tempat didistribusikan dan dieliminasikannya obat. Pemberian obat secara
intravaskuler merupakan model rute pemberian obat dimana obat tidak
mengalami absorbs, melainkan langsung didistribusikan sehingga konsentrasinya
dalam plasma pada waktu 0 (Cp0) maksimal dalam darah.
Kurva kalibrasi dibuat berdasarkan t(s) sebagai sumbu x dan log C sebagai
sumbu y, sehingga diperoleh t versus log C. Dari kurva tersebut diperoleh nilai
a=1,574 ; b=-0,016 da R=-0,999. Hal ini dapat disimpulkan bahwa nilai tersebut
memasuki rentang 0-1. Namun, jika dibandingkan dengan hasil kelaompok lain,
maka kelompok 3 yang memiliki nilai regresi yang paling baik yaitu 1 (
F. KESIMPULAN
Simulasi model in vitro farmakokinetika digunakan untuk menguji profil
farmakokinetika obat dalam suatu wadah yang digambaran seperti kompartemen
darah dalam tubuh sebagai tempat didistribusikan dan dieliminasikannya obat.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diketahui profil farmakokinetika
metilen merah dari beberapa parameter yaitu parameter primer berupa Vd sebesar
500ml dan Klerens sebesar 200ml/15 menit. Parameter sekunder yang diketahui
yaitu berupa t1/2 sebesar 18,73 menit dan harga K sebesar 0,037/menit,
sedangkan parameter turunan yaitu AUC dari sample metilen merah didapatkan
nilai sebesar 857,25 μg.menit/ml.

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

G. DAFTAR PUSTAKA
H. LAMPIRAN
1.

Apa yang dimaksud dengan model farmakokinetika dan mengapa diperlukan
model farmakokinetika ? sebutkan macamnya !
Model farmakokinetika merupakan penggambaran sistem biologik yang
kompleks yang dibuat penyederhanaan anggapan mengenai pergerakan obat
(Sriwidodo, 1985). Model Farmakokinetik merupakan suatu hubungan
matematik yang menggambarkan perubahan konsentrasi terhadap waktu dalam
sistem yang diperiksa. Tujuan dibuat model farmakokinetika ialah untuk
menyederhanakan struktur tubuh (hewan atau manusia) yang begitu kompleks
menjadi model matematik yang sederhana, sehingga mempermudah
menerangkan nasib obat (ADME) di dalam tubuh (Hakim, 2012).
Model farmakokinetik berguna untuk (Shargel & Yu, 1988):
Memperkirakan kadar obat dalam plasma, jaringan dan urine pada berbagai

pengaturan dosis
Menghitung pengaturan dosis optimum untuk tiap penderita secara individual

Memperkirakan kemungkinan akumulasi obat dngan aktivitas farmakologi

atau metabolit metabolit
Menghibungakan kemungkinan konsentrasi obat dengan aktivitas

farmakologik atau toksikologik
Menilai perubahan laju atau tingkat availabilitas antar formulasi

Menggambarkan perubahan faal atau penyakit yang mempengaruhi absorbsi,

distribusi dan eliminasi
Menjelaskan interaksi obat

Macam – macam model farmakokinetika
1. Model Mammillary
Model terdiri atas satu atau lebih kompartemen perifer yang dihubungkan ke
suatu kompartemen sentral. Kompartemen sentral mewakili plasma dan
jaringan-jaringan yang perfusinya tinggi dan secara cepat berkesetimbangan
dengan obat. Model mamillary dapat dianggap sebagai suatu sistem yang
berhubungan secara erat, karena jumlah obat dalam setiap kompartemen
dalam setiap sistem tersebut dapat diperkirakan setelah obat dimasukkan ke
dalam suatu kompartemen tertentu. Menurut Mammillary model
kompartemen dibagi menjadi :
a. Kompartemen satu terbuka iv

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

Perfusi terjadi sangat cepat seperti tanpa proses distribusi sebab distribusi
tidak diamati karena terlalu cepatnya. (Hanya ada satu fase yaitu
eliminasi).
b. Kompartemen satu terbuka ev
Sebelum memasuki kompartemen sentral, obat harus mengalami absorbsi.
(Terdiri dari 2 fase yaitu absorbsi dan eliminasi).
c. Kompartemen 2 terbuka intravaskuler
Kompartemen dianggap hanya satu dan ada proses distribusi dari sentral
ke perifer atau sebaliknya. Tidak ada proses absorbsi tetapi ada proses
eliminasi.
d. Kompartemen 2 terbuka ekstravaskuler
Obat mengalami proses absorpsi, distribusi dan eliminasi.
2. Model Caternary
Dalam farmakokinetika model mammilary harus dibedakan dengan macam
model kompartemen yang lain yang disebut model caternary. Model
caternary terdiri atas kompartemen-kompartemen yang bergabung satu
dengan yang lain menjadi satu deretan kompartemen. Sebaliknya, model
mammilary terdiri atas satu atau lebih kompartemen yang mengelilingi suatu
kompartemen sentral.
3. Model Fisiologik (Model Aliran)
Model fisiologik juga dikenal sebagai model aliran darah atau model perfusi,
merupakan model farmakokinetik yang didasarkan atas data anatomik dan
fisiologik yang diketahui. Makna yang nyata dari model fisiologik adalah
dapat digunakannya model ini dalam memprakirakan farmakokinetika pada
manusia dari data hewan. Jadi, parameter-parameter fisiologik dan anatomik
dapat digunakan untuk memprakirakan efek obat pada manusia berdasar efek
obat pada hewan (Shargel dan Yu, 1988)
2.

Apa yang dimaksud dengan volume distribusi dan klirens suatu obat ?
Volume distribusi merupakan parameter yang menerangkan seberapa luas suatu
obat terdistribusi dalam tubuh. Volume ini tidak bermakna faal atau tidak ada
kaitannya dengan faal. Volume distribusi dipengaruhi oleh :
 Perfusi darah Yaitu seberapa cepat dan banyak obat masuk dalam darah.
 Lipofilitas obat
 Seberapa kuat obat terikat oleh protein plasma, protein darah maupun
protein jaringan
Vd = Jumlah obat di dalam tubuh / C

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

Klirens suatu obat adalah faktor yang memprediksi laju eliminasi yang
berhubungan dengan konsentrasi obat :
CL = Laju Eliminasi / C
Klirens dapat dirumuskan berkenaan dengan darah (CLb), plasma (CLp) atau
bebas dalam urin (CLu), bergantung pada konsentrasi yang diukur. Eliminasi
obat dari tubuh dapat meliputi proses-proses yang terjadi dalam ginjal, paru, hati
dan organ lainnya. Dengan membagi laju terjadi pada setiap organ dengan
konsentrasi obat yang menuju pada organ menghasilkan klirens pada masingmasing obat tersebut. Kalau digabungkan klirens-klirens yang terpisah sama
dengan klirens sistemik total (Katzung, 2001).
Klirens obat adalah suatu ukuran eliminasi obat dari tubuh tanpa
mempermasalahkan mekanisme prosesnya. Umumnya, jaringan tubuh atau organ
dianggap sebagai suatu kompartemen cairan dengan volume terbatas (volume
distribusi) dimana obat terlarut didalamnya (Shargel, 2005). Untuk beberapa
obat rute pemakaian mempengaruhi kecepatan metabolismenya. Obat - obat
yang diberikan secara oral diabsorbsi secara normal dalam duodenal dari usus
halus dan ditransport melalui pembuluh mesenterika menuju vena porta hepatik
dan ke hati sebelum ke sirkulasi sistemik. Obat-obat yang dimetabolisme dalam
jumlah besar oleh hati atau sel-sel mukosa usus halus menunjukkan avaibilitas
sistemik yang jelek jika diberikan secara oral. Metabolisme secara oral sebelum
mencapai sirkulasi umum disebut first pass effect atau eliminasi presistemik
(Shargel, 2005).
3.

Parameter farmakokinetika mana yang dikaitkan dengan jumlah obat dalam
tubuh untuk pengukuran kadar obat dalam plasma ?
Parameter farmakokinetik yang berkaitan dengan jumlah obat dalam tubuh untuk
mengukur kadar obat didalam plasma adalah volume ditribusi. Volume distribusi
adalah volume hipotetik dalam tubuh tempat obat terlarut. Vd adalah salah satu
faktor yang harus diperhitungkan dalam memperkirakan jumlah obat dalam
tubuh. Vd merupakan suatu parameter yang berguna untuk menilai jumlah relatif
obat di luar kompartemen sentral atau dalam jaringan. Volume distribusi
menghubungkan jumlah obat dalam tubuh dengan konsentrasi obat (C) dalam
darah atau plasma (Shargel dan Yu, 2005).
Obat–obat yang memiliki volume distribusi yang sangat tinggi mempunyai
konsentrasi yang lebih tinggi di dalam jaringan ekstravaskular daripada obat-obat
yang berada dalam bagian vaskular yang terpisah, yakni obat-obat tersebut tidak
didistribusikan secara homogen. Sebaliknya, obat-obat yang dapat bertahan

Laporan Akhir Praktikum Farmakokinetika Dasar

secara keseluruhan di dalam bagian vaskular yang terpisah, pada dasarnya
mempunyai kemungkinan minimum Vd yang sama dengan komponen darah di
mana komponen-komponen tersebut didistribusi (Angestiarum, 2015).
4.

Jelaskan factor dari timbulnya variabilitas kadar obat dalam plasma setelah dosis
yang sama diberikan pada pasien yang berbeda ?
 Berat badan : obat yang besifat lipofilik ketika terjadi kenaikan berat badan
makan volume distribusinya pun akan mengalami peningkatan sehingga kadar
obat daram darah sedikit sedangkan obat yang bersifat hidrofilik tidak
berpengaruh ketika terjadi kenaikan berat badan.
 Aliran darah : semakin cepat aliran darah, kecepatan absorbsi semakin besar
sehingga obat lebih cepat dimetabolisme atau berada dalam plasma.
 Protein plasma : albumin salah satunya apabila obat banyak yang terikat kuat
pada protein plasma mempunyai Vd yang kecil serta kadar obat dalam darah
tinggi.