LAPORAN KASUS PSIKIATRIK

SKIZOFRENIA PARANOID
(F20.0)
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. A

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 36 tahun ( 12-05-1978)

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Bugis

Status Pernikahan

: Menikah

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Sungai Utara, Kelurahan Matirowale,
Kecamatan Patampanua, Pinrang

Masuk RSKD Provinsi Sulawesi Selatan untuk pertama kalinya pada
tanggal 06 April 2015,diantar oleh ibu dan saudara pasien.
I.

RIWAYAT PENYAKIT :
Diperoleh melalui alloanamnesis pada tanggal 06 April 2015 dari :
Nama
: Ny. H
Pekerjaan
: IRT
Pendidikan
: SD
Alamat
: Pinrang
Hubungan dengan pasien
: Ibu

A. Keluhan Utama
Gelisah dan mengamuk
B. Riwayat Gangguan Sekarang
1

Faktor stress psikososial 12 tahun yang lalu. Saat mendengar suara tersebut. Pasien mau memecahkan televisi. Pasien merasa ketakutan karena takut ditangkap polisi sehingga bersembunyi beberapa waktu padahal pasien tidak terlibat sama sekali. Pasien merasa ketakutan karena takut ditangkap polisi sehingga bersembunyi beberapa waktu padahal pasien tidak terlibat sama sekali. Pasien pertama kali mengamuk dan gelisah ± 12 tahun yang lalu. Pasien biasa kontrol di Pare-Pare sejak 12 tahun yang lalu.Kejang (+) 2 . Pasien pernah mencurigai tetangganya karena curiga tetangganya yang membuat pasien sakit. kakak pasien terlibat kasus kerusuhan. pasien akan mulai gelisah kembali. Pasien beraktivitas cukup baik jika sudah minum obat. 4. Pasien sering mendengar suara yang menyuruhnya untuk mencelakai tetangganya.Trauma (-) . Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat fisik sebelumnya . pasien kadang bicara sendiri dan berteriak tengah malam. Hendaya dan disfungsi  Hendaya sosial (+)  Hendaya pekerjaan (+)  Hendaya penggunaan waktu senggang (+) 3.Infeksi (-) . pasien juga mencurigai om istrinya yang membuatnya sakit sehingga pasien kadang memukul istrinya. sejak saat itu pasien mulai gelisah karena mendengar suara yang sangat mengganggu. Keluhan dan Gejala Seorang Pasien datang ke RSKD diantar oleh ibu dan saudaranya dengan keluhan mengamuk dialami sejak 1 minggu yang lalu dan memberat tadi sore. Pasien rutin mengkonsumsi risperidon dan lodomer. Pasien sulit tidur.1. Pasien sempat berobat di dokter spesialis saraf. 12 tahun yang lalu. kakak pasien terlibat kasus kerusuhan. 2. Makan cukup baik.

Riwayat Kanak Awal (1-3 tahun) Perkembangan motorik dan psikologis baik. Pasien teratur minum obat dan selalu membaik setiap kali minum obat saat mulai gelisah/mengamuk. 3. Riwayat Pekerjaan Pasien adalah petani b. Riwayat kehidupan pribadi 1. e. Aktivitas sosial Pasien dikenal ramah dan mudah bergaul sehinggan memiliki banyak teman. Riwayat Gangguan Sebelumnya Pasien mulai mengamuk dan gelisah sejak ± 12 tahun yang lalu.Pasien telah menikah dan dikaruniai 1 orang anak F. Situasi Sekarang Pasien pernah atau biasa memukul istrinya sehingga sekarang pasien tinggal bersama ayah dan ibunya untuk sementara waktu. Riwayat prenatal dan perinatal (0-1 tahun) Lahir normal pada 12Mei 1978 di Pinrang. 5.♂) . d. D.Hubungan dengan keluarga baik . E.Pasien anak ke-4 dari 4 bersaudara (♂. lahir normal dibantu oleh dukun di rumahnya.- Alkohol (+) Merokok (+) NAPZA (-) C.♂. Riwayat Kanak Pertengahan (3-11 tahun) Pasien pribadi yang ramah dan memiliki banyak teman 4. Riwayat Pelanggaran Hukum Selama ini pasien tidak pernah terlibat dengan masalah hukum. Riwayat Kehidupan Keluarga . Pasien tidak melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah karena perekonomian keluarga. Riwayat Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun) Pasien menyelesaikan pendidikan hingga SMA. Riwayat Agama Pasien memeluk agama Islam dan menjalankan kewajiban agama dengan cukup baik. c. Riwayat Pernikahan Pasien telah menikah dan dikaruniai 1 orang anak. 3 . Riwayat Masa Dewasa a.♂. 2.

Gangguan Persepsi 1. Bakat kreatif : Tidak ada 7. Taraf pendidikan : Pengetahuan sesuai dengan taraf pendidikan pasien 2. Kemampuan menolong diri sendiri : Kurang D. Perilaku dan aktivitas psikomotor Tenang 4. wajah sesuai umur. B. Fungsi Intelektual : 1. perawakan gemuk. intonasi cukup. Penampilan Seorang laki-laki menggunakan baju warna coklat kotak-kotak. lancar. perawatan diri kurang.G. Empati : Dapat dirabarasakan C. Deskripsi Umum : 1. Daya ingat  Jangka panjang : Baik  Jangka pendek : Baik  Jangka segera : Baik 4. II. STATUS MENTAL A. 5. Mood : Sulit dinilai 2. 3. empati : 1. Daya Konsentrasi : Baik 5. Sikap terhadap pemeriksa Kooperatif. Keadaan afektif. Afek : Tumpul 3. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya Pasien merasa sadar bahwa dirinya sakit dan butuh pengobatan namun menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya. dan orang)  Waktu : Baik  Tempat : Baik  Orang : Baik 3. Verbalisasi Pasien menjawab pertanyaan dengan spontan. tempat. celana panjang training warna hitam. 2. Orientasi (waktu. mood. Pikiran abstrak : Terganggu 6. Halusinasi : 4 . Kesadaran Berubah.

atau faktor organik.Halusinasi auditorik (+). N= 70x/menit. : Dapat dipercaya PEMERIKSAAN FISIK DAN NEUROLOGI 1. Arus pikir  Produktivitas  Kontinuitas  Hendaya bahasa 2. Uji daya nilai 3. Pengendalian Impuls : Tidak Terganggu G. refleks cahaya (+) (+). Proses berpikir 1. Tilikan (Insight) : Derajat 3. fungsi kortikal luhur dalam batas normal. I. 2. pupil bulat isokor. S= 37°C. Derealisasi : Tidak ada E. Status Neurologi GCS : E4M6V5. P= 24x/menit 2. Koheren : Tidak ada : Tidak ada : Waham curiga (pasien mencurigai tetangganya dan juga mertuanya yang menyebabkan dirinya sakit) F. faktor eksternal. Taraf dapat dipercaya III. Isi pikiran  Pre okupasi  Gangguan isi pikir : Cukup : Relevan. fungsi motorik dan sensorik ke empat ekstrimitas dalam batas normal dan refleks patologis (-) IV. Penilaian realitas : Terganggu : Terganggu : Terganggu H. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA 5 . tetapi melemparkan kesalahan pada orang lain. Daya nilai 1. Status Internus T = 130/80 mmHg. pasien mendengar suara yang menyuruhnya untuk membunuh tetangganya. Norma sosial 2. Depersonalisasi : Tidak ada 4. Ilusi : Tidak ada 3. (Sadar bahwa dirinya sakit tapi.

perawatan diri kurang. Pasien sering mendengar suara yang menyuruhnya untuk mencelakai tetangganya. Pengendalian impuls tidak terganggu. Pada pemeriksaan status internus dan neurologis tidak di temukan adanya kelainan sehingga pasien dapat dikatakan gangguan mental non organik. Dari status mental didapatkan. Pasien teratur minum obat dan selalu membaik setiap kali minum obat saat mulai gelisah/mengamuk. Kesadaran berubah. wajah sesuai umur. Taraf dapat dipercaya. afekk tumpul. Pasien mencurigai tetangga dan om dari istrinya yang menyebabkan pasien sakit. perawakan gemuk. Pasien mulai mengamuk dan gelisah sejak ± 12 tahun yang lalu. Aksis I Berdasarkan alloanamnesis dan autoanamnesis ditemukan gejala klinis berupa gelisah. Sikap terhadap pemeriksa kooperatif. pekerjaan dan penggunaan waktu senggang sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien menderita gangguan jiwa.Pasien mengamuk sejak 1 minggu yang lalu. EVALUASI MULTI AKSIAL 1. Tilikan derajat 3. Perilaku dan aktivitas psikomotor tenang. Kemampuan menolong diri sendiri kurang. penampilan pasien seorang laki-laki menggunakan baju warna coklat kotak-kotak. Pasien susah tidur. Dialami sudah lebih dari 6 . Mood sulit dinilai. Gangguan persepsi didapatkan halusinasi auditorik dimana pasien mendengar suara yang menyuruhnya untuk membunuh tetangganya. empati dapat dirabarasakan. celana panjang training warna hitam. Pasien kadang bicara sendiri dan berteriak tengah malam. Verbalisasi spontan. Gangguan isi pikir didapatkan waham curiga (pasien mencurigai tetangganya dan juga mertuanya yang menyebabkan dirinya sakit). V. intonasi cukup. Berdasarkan status mental ditemukan adanya hendaya berat dalam menilai realita ditandai dengan adanya halusinasi auditorik. Keadaan ini menimbulkan penderitaan (distress) dan hendaya (disability) bagi pasien pada fungsi sosial. pasien sering berbicara sendiri dan. Pasien mau memecahkan televisi. lancar.

neurotransmitter namun maka diduga pasien terdapat memerlukan farmakoterapi.bulan (± 12 tahun) sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien menderita Skizofrenia. Psikologi Ditemukan adanya hendaya berat dalam menilai realita berupa halusinasi auditorik dan waham curiga sehingga pasien memerlukan psikoterapi. sehingga tidak dapat diarahkan ke salah satu ciri kepribadian yang khas. PROGNOSIS Prognosis : Dubia et Bonam Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prognosis pasien : A. Sehingga berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III) diagnosis diarahkan pada Skizofrenia paranoid (F20. Sosiologik Ditemukan adanya hendaya dalam bidang pekerjaan sehingga pasien memerlukan sosioterapi. 4. Aksis III Tidak ada diagnosis. VII. Aksis II Pasien merupakan orang yang ramah dan mudah bergaul. 3. Aksis V GAF (Global Assesment Functioning) Scale 50-41 : Gejala berat.0) 2. pasien merasa ketakutan saat ±12 tahun yang lalu kakak pasien terlibat kasus kerusuhan. Faktor pendukung :  Tilikan baik  Stressor jelas  Dukungan keluarga 7 . Pasien juga mengalami gangguan isi pikir berupa waham curiga dimana pasien mencurigai tetangga dan om istrinya yang menyebabkan pasien sakit. disabilitas berat. DAFTAR MASALAH 1. Organobiologik Tidak terdapat kelainan ketidakseimbangan spesifik. 5. 3. 2. VI. Aksis IV Stressor psikososial.

20) jika memenuhi kriteria berikut :  Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas : A.atau Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. C. walaupun isinya sama. atau Thought insertion/withdrawl = isi pikiran yang asing dari luar masuk - ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawl). Berdasarkan PPDGJ III didiagnosis Skizofrenia (F. 8 . namun kualitasnya. Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan..biasanya bersifat mistik atau mukjizat. - Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu - kekuatan tertentu dari luar. atau Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan - pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar Delusional perception : pengalaman inderawi yang tak wajar. Halusinasi auditorik : - Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap - perilaku pasien. PEMBAHASAN Sebelum mendiagnosis Skizofrenia paranoid.atau Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara - berbagai suara yang berbicara). B. atau Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu - kekuatan tertentu dari luar.sebelumnya didiagnosis dulu sebagai Skizofrenia. Keinginan kuat untuk berobat dan sembuh VIII. yang bermakna sangat khas bagi dirinya.dan Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang - lain atau umum mengetahuinya.

D.dan stupor. atau neologisme. 9 . Skizofrenia paranoid dapat ditegakkan apabila memenuhi kriteria : . atau bunyi tawa (laughing).ataupun disertai oleh ideide berlebihan yang menetap.atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa.bermanifestasi sebagai hilangnya minat. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh-gelisah.Memenuhi kriteria umum diagnosis Skizofrenia. atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling).bicara yang jarang dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar. tidak berbuat sesuatu. Gejala-gejala “negatif” seperti sikap sangat apatis. Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan.atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus. .  Adanya gejala-gejala yang khas tersebut diatas telah berlangsung selama  kurun waktu satu bulan atau lebih Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi.tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika. misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu.posisi tubuh tertentu.apabila yang disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas.  Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas : E. sikap larut dalam diri sendiri dan penarikan diri secara sosial. G.Sebagai tambahan : Halusinasi dan atau waham harus menonjol : a) Suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah. yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil.negativism.atau fleksibilitas cerea. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja. waham-waham menetap jenis lainnya . F. mendengung (humming). hidup tak betujuan. H. Berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III). biasanya mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial.mutisme.

serta gejala katatonik secara relative tidak nyata /tidak menonjol. dan juga berafinitas terhadap “serotonin 5 HT2 Receptor” (Serotonin˗dopamine antagonis). Efek samping pemberian obat risperidon berupa hipotensi ortostatik. tetapi waham dikendalikan. Menilai efektivitas terapi serta kemungkinan terjadinya efek samping yang tidak diinginkan. IX. serta tetap memotivasi pasien agar tetap minum obat secara teratur. X.takikardi.dipengaruhi atau passivity dan keyakinan dikejar-kejar yang - beraneka ragam adalah yang paling khas. Medikasi yang diberikan secara monoterapi dan initial dose berupa obat antipsikotik golongan atipikal yaitu Risperidone 2 mg. 3.insomnia. 10 . Sosioterapi : Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang terdekat pasien tentang gangguan yang dialami oleh pasien. Gangguan afektif.b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa atau bersifat seksual atau lain-lain perasaan tubuh. RENCANA TERAPI 1.dorongan kehendak dan pembicaraan. FOLLOW UP Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya. Psikoterapi suportif : Memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien tentang penyakitnya agar pasien memahami kondisi dirinya dan memahami cara menghadapinya. Risperidone umumnya ditoleransi dengan baik dalam tubuh. khususnya system limbic dan system ekstrapiramidal (dopamine D2 receptor). c) Waham dapat berubah hampir setiap jenis. Psikofarmakoterapi :  Risperidon 2 mg 2 x 1 2. Kejadian EPS sangat rendah pada pemberian dengan dosis rendah. sehingga tercipta dukungan moral dan lingkungan yang kondusif sehingga membantu proses penyembuhan pasien. Mekanisme kerja obat antipsikosis atipikal adalah memblokade Dopamine pada reseptor pasca-sinaptik neuron di otak.halusiansi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.

Nama saya Ahmad. DM : Asal daerah ta dimana pak ? P : Pinrang dok DM : Oiya. sama sama jeki orang bugis. DM : Kita tau di rumah sakit jiwa itu tempat pasien apa ? 11 .nama saya Diaman.AUTOANAMNESIS DM : Assalamualaikum pak. Perkenalkan saya dokter muda yang bertugas disini. Pak tauki dimanaki sekarang ? P : Di rumah sakit jiwa dok. Nama bapak siapa ? P : wa’alaikumsalam dok. saya orang sidrap pak.

itumi biasaka mau teriak dok karena tidak tahan sekali meka. itumi istriku kupukul.P : Pasien gila dok. sudahpa minum obat baru enak lagi. tidak tahan ka kurasa. om nya juga istriku dok yang bikin ka sakit cuma karena terlalu besar badannya dok jadi nda beranika pukul. Kalo kudengar itu suara kulawan dok kubilang tidak mauka. DM : Suara apa pak ? P : Nasuruhka celakai tetanggaku DM : Apa lagi pak ? Kita dengar terus itu suara pak ? apami kita bikin kalo nasuruhki itu suara begitu ? P : Selalu kudengar dok. DM : Nda kasian ki liat istri ta kita pukul begitu ? 12 . DM : Siapa bawaki ke sini pak ? P : Mamaku sama kakak ku dok DM : Kenapa ki dibawa kesini pak ? P : Selalu ka dengar suara suara dok. tidak bisaka celakai anaknya orang. DM : Memangnya tetangga ta betulan ka pak sama om nya istri ta yang bikin ki sakit ? P : Tidak taumi juga dok. DM : suara perempuan atau laki laki pak ? satu orang ? P : tidak tauka perempuan atau laki laki dok tapi sama terusji suaranya kudengar DM : Menurutnya keluargata pernahki mau parangi tetangga ta ? istrita juga pernah bede kita pukul ? P : Iye dok karena kupikir tetanggaku yang bikin ka sakit dok.

pendidikan terakhirnya apa ? P : STM dok. tidak lanjut ka karena tidak ada biaya dok DM : Kalau 100-7 berapa pak ? P : Tidak tauka dok DM : Kalau 93-7 ? P : Aih tidak kutau dok DM : Kalau 4x9 pak ? P : Tidak kutau juga dok DM : Pak tau ki apa maksudnya panjang tangan dok ? 13 .P : Kasian ka juga dok liat kalo sudahmi kupukul. mahal obat ku dok. DM : Kalo tenang tenang perasaanta apa kita bikin pak ? P : Kalo enak lagi kurasa. DM : ibu. selalu ka berobat di pare pare dok DM : ada obat-obat dikasi ki pak ? P : iye dok ada DM : warna apa itu pak ? P : warna orange dok DM : teratur ji kita minum ? P : Iye dok tapi kalo maumi habis tidak kuminum lagi dok karena takutka kalo habis. pergi ma lagi sawah dok DM : ibu sudah berapa kali masuk kesini ? P : baru ini dok.

tidur ku ji agak susah DM : Pak amin makasih pak sudah mau saya tanya-tanya. P : iye dok. P : iye sama sama dok. 14 .P : Panjang tangannya dok DM : Pak bagaimana tidur sama makan ta ? P : Bagusji dok DM : waktu sebelum kesini bagaimana bu’ ? P : bagusji makan ku dok. DM : Istirahat meki lagi pak.