SENGKETA PERSOALAN HUKUMAN MATI DENGAN EKSISTENSI HAK

ASASI MANUSIA

NAMA:
NIM:
PRODI:

HABIBI SAIFUDDIN
13/348823/PA/1549
3
FISIKA S1

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
1

..............................................................................................................1 A...................9 BAB III........................1 B..........................................................................................................................................................................................................15 1 ...................................................................................................... Eksistensi Pelaksanaan Hukuman Mati Sebagai Upaya Penegakan Hukum Di Indonesia............................................................................................. Latar Belakang............. Sengketa Antara Pelaksanaan Hukuman Mati Dan Pendirian Hak Asasi Manusia...................4 B...........................................DAFTAR ISI DAFTAR ISI.................................... Rumusan Masalah...........13 A......3 BAB II.......4 A........................................................ii BAB I........................... Saran............................................................................................................................ Kesimpulan....................14 DAFTAR PUSTAKA.....................................................13 B.......................................................................................7 1................................i KATA PENGANTAR.......................................................................... Sejarah Hukuman Mati Indonesia................................... Pelaksanaan Hukuman Mati Di Indonesia................................................7 2........

tetapi beberapa kebebasan inilah barulah syarat perlu belum menjadi syarat yang cukup bagi kemajuan dan perlindungan hak-hak manusia yang menyeluruh. Dan bahkan di dalam konstitusi yang diamandemen di era reformasi inipun demokrasi dirumuskan secara lebih rinci. berkumpul dan berserikat yang disusul dengan terbukanya kebebasan pers. Padahal sejak perjuangan kemerdekaan. Tidak ada jaminan bahwa kebebasan itu dilindungi dengan penuh dan otoriterisme negara tak akan kembali. pembebasan tahanan politik serta pemilihan umum yang demokratis. 2 . bangsa Indonesia telah mengikatkan diri kepada demokrasi sebagai alternatif bagi bentuk dan pemerintahan otoritarianisme. tekad pemerintahan sewenangwenang dituangkan ke dalam konstitusi sebagai blue print negara Indonesia merdeka. Begitu pula didalam konstitusi yang gagal ditetapkan oleh Dewan Konstituante hasil pemilu 1955.KATA PENGANTAR Di awal revolusi kemerdekaan. Kendati beberapa tahun lalu tersedia ruang yang lebih besar bagi kebebasan berpendapat. Di dalam konstitusi alternatif yang ditetapkan di pertengahan dan akhir revolusi pun komitmen demokrasi itupun dipertahankan. Runtuhnya rezim militer Soeharto tidaklah dengan sendirinya membuka jalan bagi demokratisasi dan dinikmatinya kebebasan setiap orang tanpa diganggu atau dipatahkan.

Hak asasi manusia muncul dari orang-orang terdahulu yang mencetuskan kebebasan manusia untuk memperjuangkan jatri diri dan pemenuhan kemartabatannya. dari segi subyeknya itu. apabila diperlukan. Pada periode 1215 kekuatan bangsawan berhasil mendesak raja-raja di inggris untuk segera memberikan Magma Charta Libertatum sebagai wujud realisasi berbagai tuntutan-tuntutan rakyat. karana ia memiliki postulat 1 . Ditinjau darui sudut subyeknya. Peristiwa ini memiliki nilai historis yang sangat menumental dalam “sejarah dunia” umat manusia. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku. Latar Belakang Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalulintas atau hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kekuatatan kolektif kaum bangsawan ini di pedomani oleh volume dan dinamika konflik yang berkepanjangan yang terjadi pada level aristokrasi berhadapan dengan kalangan feodalis (para raja) hampir selama empat puluh tahun kemudian bermuara pada penandatanganan dokumen ini di dekat istana Windsor. aparatur penegak hukum itu diperkenankan untuk menggunakan daya paksa. penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subyek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum itu melibatkan semua subyek hukum dalam setiap hubungan hukum. berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum.BAB I PENDAHULUAN A. penegakan hukum itu hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan tegaknya hukum itu. Dalam arti sempit. Di balik ini termasuk pengakuan paham hitoris HAM.

Deklarasi ini mengemukakan bahwa semua manusia harus mampu untuk dengan bebas dan dapat menentukan kebahagiaan dan juga keselamatan. tetapiada perbedaan. liberty. deklarasi Amerika dan derklarasi Prancis denghan tegas mengumumkan suatu konsepsi khusus tentang manusia dan masyarakat. kedua. tertata dan pada prinsip-prinsipnya menghargai sekaligus melindungi hak-hak individu. Menusia berhak untuk menikmati hidup. Magma Charta Libertatum (1215) dan Bill Of Rights (1689).pokok dan merupakan dokumen pertama Hak Asasi Manusia yang relative konstruktif. milik. la surete et Ia resistence a l’oppression). kebebasan dan kebahagiaan (life. dan perjuangan melawan penjajahan (ces droits sont la liberte. pertama. the of happiness). The Virgina Bill Of Rights (1776) tentang pemberontakan dan perlawanan rakyat Amerika utara terhadap kolonialisme Inggris suatu dokumen mengenai kebebasan pribadi manusia terhadap kekuasaan negara. Dan ketiga. Meskipun dokumen ini sangat dipengaruhi oleh deklarasiu Amerika tadi. deklarasi tentang hak-hak rakyat yang berkarya dan diperas (1918). Keempat. Dokumen Amerika bertolak dari pandangan bahwa para penguasa adalah manusia dan karenanya dapat terbawa hawa nafsu kerananya harus hidup bebas : orang-orang lahir dan tinggal bebas dan sama dihadapan hukum (les homes naissent et demeurent libres et egaux en droits). dan sekaligus merumuskan hak-hak warga Negara . Kesimpulan himpunan bibliografi dokumen-dokumen terpentingakan eksistansi hak-hak manusia itu . yaitu pribadi-pribadi yang bebas yang sama dengan lainya (Liberal). Declaration des droit de I’homme et du citoyen (1789). Hak-hak adalah kebebasan. Hal ini ditegaskan juga dalam deklarasi Massacussets (1780) untuk menikmati hak-hak alami dan nikmat-nikmat hidup mereka dalam ketentraman dan kedamaian. Deklarasi inilah yang akhirnya mengkonstruksi model masyarakat Amerika. keamanan. Deklarasi in berbeda dengan deklarasi lainnya karena yang disebutkan dalam hak2 . la propriete. yang membatasi kekuasaan raja di inggris.

Bagaimanakah sengketa pelaksanaan Hukuman Mati dan pendirian Hak Asasi Manusia? 2. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas maka penulis mengambil topik permasalahan yang ada dalam sebuah rangkaian rumusan masalah. Pengakuan hak asasi manusia secara global.hak dasar hanya hak-hak dasar social. dikumandangkan secara internasional setelah berakhirnya perang dunia kedua. sebagai korbanya. Intinya adalah bahwa manusia berhak untuk hidup menurut martabatnya secara ekonomis. sebagai berikut : 1. Suatu kehidupan ekonomis yang menvukupi harus menjamin suat kehidupan yang bebas. Dampak perang memang sangat dahsyat dengan melibatkan kerusakan hampir sebagian masyarakat internasional. sedangkan jarak-jarak pribadi tidak disebutkan. Bagaimanakah eksistensi pelaksanaan hukuman mati sebagai upaya penegakan hukum di indonesia 3 .

dikenakan pada suatu “keputusan final suatu pengadilan yang berwenang” sesuai dengan undang-undang yang tidak retroaktif. Sengketa Antara Pelaksanaan Hukuman Mati Dan Pendirian Hak Asasi Manusia. Ada beberapa uraian yang menjelaskan perbedaan pendapat antara pelaksanaan hukuman mati dan hak asasi manusia. Hak untuk menjaga status hidup sebuah instrumen tidak dijamin sebagai hak mutlak. Misalnya.BAB II PEMBAHASAN A. Tidak Manusia dan Merendahkan Martabat Manusia/Convention Against Torture and Other Cruel. menurut Konvensi Eropa. Kedua perjanjian ini memberikan hak untuk mencari “pengampunan atau keringanan hukuman” dan melarang pengenaan hukuman mati pada orang dibawah usia delapan belas tahun pada saat melakukan kejahatan. pencabutan nyawa tidak bertentangan dengan hak atas penghidupan. antara lain : 1. Interpretasi ini didasari pada argumen bahwa seorang terpidana mati yang sedang menghadapi eksekusi akan mengalami tekanan 4 . Konvensi Eropa mensyaratkan hukuman mati dikenakan oleh suatu pengadilan. Inhuman or Degrading Treatment or Punishment. apabila pencabutan ini diakibatkan oleh tindakan tertentu yang sudah ditetapkan. Dalam beberapa instrumen. sesudah memperoleh keyakinan mengenai suatu kejahatan yang karena keputusannya ditetapkan oleh undang-undang. larangan hukuman mati dimuat dalam sebuah Protokol tersendiri. dan melarang eksekusinya pada wanita hamil. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan Kejam atau Penghukuman yang Kejam. diadopsi oleh Resolusi Majelis Umum PBB 39/46 tertanggal 10 Desember 1984. Konvenan internasional tentang Hak-Hak Sipil Politik dan Konvensi Amerika keduanya membatasi hukuman mati pada “kejahatan yang paling berat”.

4. European Convention of Human Rights/Convention for The Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms pada pasal 2-nya menegaskan larangan hukuman mati. atau perlakuan kejam yang lain. Pasal 37 (a) yang menyatakan “Tidak seorang anak pun dapat dijadikan sasaran penganiayaan. 5 . symbolyzing his ultimate rejection by the members of his community” (Jonathan Glover). Statuta Tribunal HAM Internasional ad hoc untuk Negara-Negara Bekas Yugoslavia (Statute of Internasional Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia/ICTY) dan Rwanda (Statute of Internasional Criminal Tribunal for Rwanda/ICTR) 5. Dan hal itu merupakan suatu ”additional horror” bagi terhukum. hukuman mati itu dirasakan sebagai “a horrible business of a long premeditated killing”. tidak manusia atau hukuman yang menghinakan. Baik hukuman mati atau pemenjaraan seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan. Sebelumnya pada tahun 1950 Konvensi HAM Eropa. Ketentuan ini juga sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak/Convension on the Rights of the Child. Komite HAM juga melarang penggunaan hukuman mati sebagai suatu hukuman wajib/mandatory punishment.” 3. Konvensi regional Eropa ini merupakan treaty HAM tertua dan ide penghapusan hukuman mati berangkat dari Konvensi ini. Pada 11 desember tahun 1977 Deklarasi Stokholm. Ketentuan hukuman mati kemudian juga dihapuskan di berbagai mekanisme pengadilan HAM internasional meskipun juridiksinya mengcakup kejahatan paling berat dan serius di bawah hukum internasional. Karena itu. Terhukum mengetahui bahwa “his death will be in a ritualized killing by other people.mental/psikis yang luar biasa yang menjadi cakupan Konvensi Anti Penyiksaan ini. bagi banyak orang pada saat sekarang. tidak dapat dikenakan untuk pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang di bawah umur delapan belas tahun. Amnesti Internasional telah menyerukan penghapusan pidana mati diseluruh dunia. 2.

pembunuhan massal. ketimbang hak asasi korban-korban kejahatan itu sendiri? Menurutnya sampai kapanpun pidana mati ini tetap diperlukan terhadap pelaku-pelaku kejahatan berat seperti pembunuhan berencana yang dilakukan secara medis. misalnya dengan menggunakan suntikan yang tidak menyakitkan. Dilaksanakannya sepanjang tidak digunakan untuk memberantas lawan politiknya dan dilakukan dengan manusiawi. Hanya saja menurutnya eksekusi pidana mati itu yang perlu dirivisi.” Sangat tepat bahwa pidana mati justru menujukan rasa simpati teradap korban-korban kejahatan berat.Sebaliknya dalam menetapkan pidana mati ini terdapat juga golongan kedua yaitu mereka yang setuju (pro) mengenai pelaksanakannya pidana mati tersebut. serta melalui proses peradilan yang adil dan jujur. L. Alasannya lain juga dikemukakan oleh pakar lainnya yaitu Ririn di Swedia yang menjelaskan bahwa pidana mati perlu dipertahankan dengan alasan sepanjang hukuman mati tersebut merupakan senjata efektif untuk terpidana dan untuk masyarakat. seorang pakar yang berasal dari kalangan Kristiani. sehingga 6 . yang menurutnya “kita harus mengerti kententuan dari hukuman mati atas dasar bahwa suatu hukuman yang bersifat kewarganegaraan adalah kejahatan yang dibenarkan dimata Allah. mengapa kita harus mendahulukan dan mengutamakan hak asasi para criminal. Bahnsen dalam bukunya menjelaskan alasan mengapa ia setuju dengan pidana mati ini tetap diterapkan. oleh karena di dalam Islam dikenal Talio. Seorang bernama Greg.” Begitu juga dengan David Anderson. Didalam hukum Islam hampir tidak diketemukan pro-kontra pidana mati. yang sangat setuju (pro) dengan pidana mati pernah menulis bahwa “in order to rightly value the death penalty it is necessary to have emphaty and understanding for all the victims and their relatives. koruptor kelas kakap dan teroris. sehingga mengurangi mengurangi rasa sakit pidana. yang berarti membuat sebanding dengan perbuatannya terhadap orang lain.

budak dengan budak. yang dalam surat Al Baqarah ayat 178 dinyatakan “Hai orang-orang yang beriman : sesungguhynya diwajibkan kamu qishash untuk soal pembunuhan. Sejarah Hukuman Mati Indonesia Dalam sejarahnya pidana mati ini merupakan suatu jenis hukuman (pidana) yang tidak diketahui sejak kapan mulai diberlakukannya. dengan memandang dari sisi pendegahannya (general deterent).disini sama dengan apa yang dianut dengan agama Yahudi dalam kitab Pentatuech mereka yang menyatakan bahwa mata balas mata. gigi ganti gigi. orang merdeka dengan orang merdeka.” Kemudian dalam pandangan penulis (jika seandainya pro pidana mati) akan menyatakan setuju masih diatur dan diterapkannya pidana mati tersebut dalam KUHP. Eksistensi Pelaksanaan Hukuman Mati Sebagai Upaya Penegakan Hukum Di Indonesia. ancaman pidana mati terhadap delik tertentu akan membawa secara langsung tak langsung jiwa (pikiran. bahkan menurut Codex Hammurabbi tersebut dikatakan. bahkan menurut Codex Hammurabbi yang diperkirakan yang diperkirakan telah ada sekitar 2000 tahun sebelum masehi. wanita dengan wanita. karena itu adalah suatu keringanan dari Tuhan Yang Maha Pengasih. B. tetapi sejarah mencatat bahwa jenis hukuman yang saat ini merupakan jenis hukuman yang terberat dan tertua yang pernah ada. perasaan dan kehendak) seseorang “ditekan” untuk tidak melakukan bahkan berusaha menjauhkan diri untuk melakukan delik yang diancam pidana mati tersebut dan dengan demikian akan berhasil membuat suatu efek pencegahan pada masyarakat luas terhadap delik-delik tertentu. 1. Menurut penulis berhubungan dengan efek pencegahan ini. tetapi kalau seorang kamu dimaafkan oleh sanak saudaranya hendaklah kamu membalas kebaikan mereka itu. Bahkan didalam Islam diwajibkan qishash. “kalau ada 7 . pidana mati ini telah digunakan’ pada orang yang telah melakukan kejahatan tertentu.

” Pidana mati ini mengalami perkembangan yang luar biasa dalam bentuk pelaksanaannya pada zaman pemerintahan kerajaan Romawi. pidana mati ini kemudian telah menjadi sati “alat” yang paling efisien dan dipandang paling kuat gereja maupun raja-raja untuk menyingkirkan lawan-lawannya. Strafrecht Nederland 1881”. sehingga mendapat tempat dalam Wetboek v. Penjajahan perancis oleh Napoleon (1801) kemudian membawa bukan saja pengaruh budaya. maka binatang berikut pemiliknya juga akan dibunuh juga. Yang kemudian sejarah mencatat oleh kerena itu penjajahan belanda di indonesia. strafrecht itu mulai diberlakukan secara nasional (menyeluruh) di indonesia pada tahun 1918. pidana mati ini tidak lagi harus dilakukkan dengan cara yang sama yang telah diatur pada peraturan yang ada.tetapi juga sampai dengan pemahaman dan perkembangan hukum yang ada di negeri Belanda (Nederlannd). Seperti dinyatakan bahwa “dari sini asas itu dikenal oleh Nenderland karena penjajahan Napoleon.” Pada abad-abad selanjutnya. digergaji. Seperti dijabarkan oleh seorang ahli sejarah yang menyatakan. yang 8 . disalibkan. ditenggelamkam. dibuang kesalah satu pulau yang sangat jauh. timur asing maupun golongan penduduk eropa. dibakar hidup-hidup ataupun diterkam binatang buas didalam gelanggan arena ditonton oleh beribu-ribu orang.binatang pemeliharaan yang membunuh orang. sehingga ada yang sampai digantung hidup-hidup dipinggir jalan dan kemudian dibakar sebagai penerangan jalan. depekerjakan selaku budak. mulai dengan cara dipenggal. bahkan pada sekitar abad ke-4 disemua daerah jajahan Roimawi. “kita ketahui jalannya acara-acara peradilan itu. bahaya dan guncangan terhadap perekonomian. hukuman itu adalah di pancung kepalanya. secara perlahan-lahan hukum pidana mulai diperlihatkan dan mulai menggeser kekuatan hukum adat yang telah ada dan kemudian berhasil mencapai puncaknya yakni ada saat Wetboek v. ataupun untuk terus menerus membuat rakyat tetap tunduk pada para menguasa yang ada. baik bagi golongan Bumiputera.

maka pidana mati dilakukan kembali dengan cara pidana gantung seperti yang ada dalam pasal 11 KUHP.kemudian dikenal dengan nama Kitab Undang-Undang Pidana (KUPH). pidana mati ini juga menurut ketetapan tersebut mengharuskan agar dilaksanakan ditempat tertentu dan tidak dimuka umum kecuali ditetapkan lain oleh Presiden RI. 2. hukuman mati dijalankan oleh algojo di tempat penggantungan. Tetapi dalam prakteknya setelah tahun 1918 tersebut mengalami perubahan pada saat Jepang menjajah Indonesia. yaitu peratuan pasal 11 KUHP dan satu lagi praturan baru yang di undangkan olrh pemerintah Jepang yang menghendaki pidana mati dilaksanakan dengan tembak mati (artikel 6 dari Ozamu Gunrei No.2 tahun 1964 diatur bahwa pelaksanaan pidana ini tidak lagi dengan cara digantung oleh sorang algojo. melainkan dengan cara ditembak mati oleh suatu regu tembak. dirubah menjadi undang-undang No. terjadi perubahan kembali dalam pelaksanaan pidana mati ini melalui penetapan Presiden No. Disini terlihat bahwa efek penjeraan atau untuk mencoba membuat takut orang banyak agar suatu 9 . Pada tahun 1964. dengan menggunakan sebuah jerat dileher terhukum dan dan mengikatkan jerat itu pada tiang penggantungan dan menjatuhkan papan tempat orang itu berdiri. Pelaksanaan Hukuman Mati Di Indonesia Hukuman Mati sudah memiliki sediri dalam pasal 11 KUHP yang menyatakan. yaitu kode kriminal dari pemerintah pendudukan Jepang). Kemudian setelah kesatuan RI tercapai dimulai dengan proklamasi kemerdekaan indinesia. 1 pada tanggal 2 maret dan artikel 5 dari Gunrei Keizirei.2 tahun 1964 ini juga melalui lembaran negara tahun 1964 nomor 38.2 tahun 1964. “pada waktu itu ada 2 peraturan dijalankan. Melaui UU No. Dalam KUPH inilah pidana mati (death penalty) dicantumkan dan dan mendapat pengaturanya yang sah (legal act) bagi pemerintah / negara Indonesia hingga saat ini dalam melakukan pemidanaan terhadap orang yang melakukan detik tertentu.

melainkan talah mendapat tempat sebagai pidana yang bersifat khusus. akan tetapi pelaksanaannya diharapkan hanyalah sebagai suatu alternatif yang bersifat khusus dan bukan lagi merupakan pidana pokok seperti yang masih dianut hingga sekarang berdasakan KUHP lam (Wetboek van strafrecht). Berikut adalah beberapa uraian yang dapat menjelaskan tentang eksistensi hukuman mati di Indonesia : 1. Kajian PBB tentang hubungan hukuman mati (capital punishment) dan angka pembunuhan antara 10 . Bobroknya sistem peradilan bisa memperbesar peluang hukuman mati lahir dari sebuah proses yang slah. Karakter reformasi hukum positif indonesia masih belum menunjukkan sistem peradian yang independen. (pasal 61 konsep KUHP 1999-2000). dapat dilihat disana bahwa pidana mati tersebut tidak lagi dimasukan memjadi pidana pokok beriringan dengan pidana penjara dsb. hal tersebut terlihat kerana pidana mati itu sendiri sekarang dilakukan tidak di tempat umum untuk dilihat oleh khayalan ramai. yang dalam hal ini dijadikan suatu ancaman pidana sacara alternatife. Kasus hukuman mati sengkon dan karta pada tahun 1980 lalu di indonesia bisa menjadi pelajaran pahit buat kita. dan aparaturnya yang bersih. Hukum sebagai institusi buatan manusia tentu tidak selalu benar dan selalu bisa salah.pekerjaan tidak dilakukan. Saat ini. imparsial. Jadi disini dapat disimpulkan bahwa pidana mati masih dianggap sebagai suatu jenis pidana yang masih diperlukan dan dapat diterapakan. disini terlihat bagaimana dalam rancangan KUHP yang masih dalam tahap penyusunan. pelaksanaan pidana mati di indonesia juga diharapakan mendapat perubahan dalam pandangan para pakar. yang adalah tujuan dari pidana mati dilakukan didepan umum pada masa yang lalu tidak lagi dijadikan alasan untuk mencapai tujuan pidana (mati). 2. dibandingkan dengan jenis hukuman lainya. Tidak ada pembuktian limiah bahwa hukuman mati akan mengurangi tindak pidana tertentu. Artinya hukuman mati telah gagal menjadi faktor determinan untuk menimbulkan efek jera.

Penerapan hukum mati jelas tidak berefek positif untuk kejahatan terorisme semacam ini. dimana hukuman mati tidak pernah menjangkau pelaku dari kelompok elit yang tindak kejahatannya umumnya bisa diketegorikan sabagai kejahatan serius/luar biasa. bukan hukum Allah. Padahal janji 11 . Bahkan untuk kejahatan terorisme hukuman mati umumnya justru menjadi faktor yang menguatkan berulangnya tindakan dimasa depan. namun oleh problem struktral lainya seperti kemiskinan atau aparat hukum/negara yang korup. Meningkatnya kejahatan narkoba. ketika divonis hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 13 November 2005: “saya tidak kaget dengan vonis ini kerena saya sudah menyangka sejak awal saya menjadi terdakwa.1988-2000 berujung pada kesimpulan hukuman mati tidak membawa pengaruh apapun terhadap tindak pidana pembunuhan dan hukuman lainnya seperti hukuman seumur hidup. Kalaupun saya du hukum mati. berarti saya mati syahid”. Sikap ini juga ditunjukan terdakwa kasus bom lainnya yang umumnya menolak meminta grasi atau pengampunan atas perbuatan yang telah dilakukan. Satu pernyatan pelaku kasus pemboman di depan Kedubes Ausralia. Saya menolak vonis ini kerena di jatuhkan oleh pengadilan setan yang berdasrkan hukum setan. 3. terorisme. atau kriminal lainnya tidak semata-mata disebabkan oleh ketiadaan hukuman mati. Terakhir pada 1 Oktober 2005 lalu terjadi lagi kasus bom bunuh didri di Bali. Iwan Dharmawan alias Rois. Hukuman mati di indonesia selama ini masih cenderung disikriminasi. pelaku pelanggaran berat HAM dengan jumlah korban jauh lebih masih dan merugiakan ekonomi orang banyak tidak pernah divonis mati. Hukuman mati justru menjadi amunisi ideologis untuk meningkatkan redikalisme an militansi para pelaku. Para pelaku korupsi. Sampai ssat ini bahkan kejahatan terorisme masih menjadi momok dan negara sama sekali tidak punya jawaban efektif atas persoalan ini. Jakarta (9 september 2004).

12 . dan pelanggaran berat HAM.Presiden SBY hukuman mati diprioritaskan buat kejahatan luar biasa seperti narkoba. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. 5. Tercatat masih terdapat 11 perundang-undangan yang masih mencantumkan hukuman mati. dengan alasan kemanusiaan. Pada hal semenjak era roformasi/transisi politik berjalan telah terjadi berbagai perubahan hukum dan kebijakan negara. hak beragama. Namun hal ini tidak terjadi pada kasus hukuman mati WNA di Sumatra Utara tahun lalu dan kasus-kasus lainnya baru-baru ini. Beberapa waktu lalu pemerintah mengajukan permohonan secara gigih kepada pemerintah Arab Saudi. Pasal 28I ayat (1) UUD ’45 (Amandemen Kedua) menyatakan : “hak untuk hidup. namun reformasi hukum juga menegaskan pentingnya hak untuk hidup. 4. Malaysia.hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan umum. Dieksekusinya delapan terpidana mati karena kasus narkoba pada bulan April 2015 lalu menjadi awal yang baik untuk perkembangan hokum di Indonesia. Meski hukuman mati masih melekat pada beberapa produk hukum nasional. hak untuk tidak disiksa. hak untuk tidak diperbudak. Walaupun satu orang (Mary Jane) tidak jadi dieksekusi mati karena pada akhirnya diketahi bahwa ia telah dijebak leh orang yang juga sudah menyerahkan diri ke pihak yang berwenan di Negara nya (Filipina). dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun” Sayangnya masih banyak sekali peraturan dan perundang-undangan yang bartentangan dengan semangat konstitusi di atas. Sikap politik pemerintah terhadap hukuman mati juga bersifat ambigu. dan Singapura untuk tidak menjalankan hukuman mati kepada warga negara Indonesia. korupsi.

Semua bentuk-bentuk tersebut dilaksanakan dengan alasan dan tujuannya masing-masing tetapi dengan hasil akhir yang sama yakni matinya seseorang. Beberapa berpendapat agar pidana mati harus segera dihapuskan. Dalam bentuknya pidana mati ini juga merupakan suatu jenis pidana yang paling banyak memiliki variasi dalam pelaksanaannya. tetapi sebagian orang lainnya menyatakan bahwa pidana mati ini masih merupakan suatu jenis pidana yang dibutuhkan hingga saat ini. Dalam perkembangannya pidana mati ini sering diselewengkan oleh penguasa yang ada sebagai suatu senjata yang ampuh dalam menyingkirkan lawan-lawan politiknya dan juga sebagai sarana yang paling sering digunakan untuk mempertegas kedudukannya sebagai penguasa dihadapan masyarakat luas. maka harus juga dipikirkan dalam13 . Kesimpulan Hukuman mati merupakan jenis hukuman yang dijatuhkan oleh pemerintahan suatu Negara (kerajaan) yang dianggap merupakan pidana terberat dan tertua dilihat dari sejarahnya. Pemikiran yang dalam dan objektif dalam mengkaji mengenai masih diatur dan dilaksanakannya pidana mati tersebut sangat dibutuhkan dalam kehidupan bernegara.BAB III PENUTUP A. Berbagai bentuk tidak manusiawi dan penerapan akhir yang seringkali dianggap merupakan kesewenangan penguasa inilah yang membawa pro-kontra terhadap pidana mati ini terus berlangsung hingga kini. Dan jika pelaksanaan pidana mati tersebut masih tetap harus dipertahankan. ditembak dengan senjata api dan lain-lain. mulai dengan cara dipenggal.

manusiawi. Sebab sebuah hukuman yang menjadikan jera sangat diperlukan bagi karakter masyarakat Indonesia yang sedikit “kurang” akan pelajaran budi pekerti.dalam bagaimana pelaksanaan pidana mati itu dilakukan sehingga dilakukan dengan cara yang paling tepat. 14 . B. Menurut penulis. Indonesia khusunya untuk lebih menegaskan status hukum pidana mati bagi para terdakwanya. bukanlah antara pro kotra tentang hukuman mati yang harus diperdebatkan. Saran Saran penulis untuk pemerintah umumnya. tetapi yang harus dilakukan adalah penegakan Pasal 7 dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang menjamin atas hak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi di depan hukum. meringankan si terdakwa dan tidak berdampak negatif/buruk terhadap pandangan masyarakat luas.

Fakih Mansour. Pasung Kebebasan. dkk. Yogyakarta. Gaffar Afan. HUKUM. Jakarta. Budiman. Menelisik kelahiran UU Unjuk Ras. Moh. 2002. MD. LP3ES. Bebas Dari Neoliberalisme. Huma. 2001. M Soemantri Sri. UII Press. Naning Mardiniah. Cesda-LP3ES. 2001. UII Press. Memperkuat Posisi Politik Rakyat. 2003. Jakarta. pasang Surut Kemerdekaan Pers di Indonesia. LP3ES. Moerdiono. Mahfud. Paradigma. 1992. Jakarta. Elsam. 2001. Jakarta. Wingjosoebroto. Jakarta. Politik Pengembangan Hukum Nasional. 2004. Politik Hukum di Indonesia. Harahap Krisna. Kanisius. Metode dan Dinamika Masalahnya. Yogyakarta. Insist Yogyakarta. 1999.DAFTAR PUSTAKA Etika Politik Dalam Konteks Indonesia. 15 . Soetandyo. Tanuredjo. Elsam. dkk. Politik Pembangunan Hukum Nasional. 1992. Yogyakarta.