Nama dosen

: Annastasia Sintia Lamonge

Mata kuliah

: Sistem Endokrin

ASUHAN KEPERAWATAN PROLAKTINOMA

Disusun oleh :

Kelompok 8

Ifke Adriana Manuho 14061100
Juliana Ariyani

14061064

Diana Kapoh

14061078

Grasela Lelemboto

14061087

Birgita Sikopong

13061085

Benadikta Tandaju

14061085

Sandi Padang

14061098

Renelli Pangkey

14061178

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE
MANADO
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan kehadirat Tuhan karena atas tuntunan serta
penyertaannya makalah “ASUHAN KEPERAWATAN PROLAKTINOMA” ini
dapat terselesaikan.
Makalah ini kami buat untuk melengkapi tugas sistem endokrin dimana
bertujuan menanbah wawasan mahasiswa mengenai prolaktinoma, serta menjadi
acuan belajar bagi para pembaca.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari, masih terdapat banyak
kekurangan. Untuk itu kami sangat membutuhkan kritik dan saran demi perbaikan
dalam pembuatan makalah kedepannya.
Kami penyusun makalah ini menyampaikan banyak terima kasih bagi semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Manado, Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan
C. Manfaat
BAB II TEORI
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.

Definisi
Etiologi
Anatomi dan fisiologi
Manifestasi klinis
Patofisiologi
Komplikasi
Pemeriksaan penunjang
Penatalaksanaan
Konsep asuhan keperawatan

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

yang timbul dari sel-sel di kelenjar hipofisis yang berperan untuk menghasilkan hormone prolaktin pada kelenjar mammae. Manfaat 1. Prolaktinoma sering kali ditemukan pada usia kurang dari 40thn. nyeri pada payudara. Gejala yang ditunjukan pada pria seperti pembesaran payudara. seperti nyeri saat hubungan seksual karena keringnya vagina. Prolaktinoma adalah kondisi medis yang ditandai dengan pertumbuhan tumor jinak. Latar Belakang Kelenjar pituitari (hipofisis) memproduksi macam-macam hormon yaitu: GH. periode menstruasi yang abnormal dan gangguan penglihatan. Untuk mengetahui asuhan keperawata pada pasien prolaktinoma C. Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan prolaktinoma . Hal ini juga dapat menyebabkan gejala.BAB I PENDAHULUAN A. B. ACTH. LTH. penurunan ketertarikan seksual. Menamba wawasan mahasiswa mengenai penyakit prolaktinoma 2. produksi berlebihan hormon ini oleh kelenjar hipofisis menyebabkan keluarnya air susu meskipun wanita tersebut sedang tidak menyusui. LTH (PRL) merangsang kelenjar mammae untuk menghasilkan air susu serta memacu ovarium untuk menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. dan penurunan pertmbuhan rambut tubuh. Pada penderita prolaktinoma. Untuk mengetahui bagaimana perjalanan penyakit prolaktinoma 2. TSH. Tujuan 1. disfungsi ereksi. Meskipun kondisi ini secara umum berhubungan dengan wanita. FSH & LH. namun tidak meutup kemungkinan pria juga dapat menderita kondisi ini.

yaitu lobus anterior dan lobus posterior. atau master of gland.. Penurunan eliminasi prolaktin dalam tubuh di sebabkan oleh rendahnya bersihan prolaktin dalam sirkuasi sistemik tubuh dn stimulasi prolaktin langsung pada pusat C. Obat-obatan 4. yang terletak didalam struktur bertulang (sela tursika) di dasar otak. kelenjar hipofisis terdiri dari dua lobus. Hipofisis mengendalikan fungsi dari sebagian besar kelenjar endokrin lainnya. Definisi Hipersekresi prolaktin (prolaktinema) adalah abnormalitas endokrin yang sering di temukan dan di sebabkan oleh gangguan hipotalamik – hipofisis.BAB II TEORI A. Gangguan pada hipotalamus (peningkatan hormone TRH) 2. Neurogenik seperti adanya luka pada dinding dada sehingga menstimulasi terjadinya peningkatan prolaktin 5. Anatomi dan Fisiologi Hipofisis merupakan sebuah kelenjar sebesar kacang polong. B. . Gangguan pada hipofisis (seperti adanya tumorpada hipofisis baik berupa mikro ataupun makro) 3. sehingga disebut kelenjar pemimpin. Etiologi 1. Prolaktin (PRL) merupakan hormone yang paling banyak di keluarkan oleh adenoma hipofisis hiprsekresi PRL mengakibatkan galaktorea dan disfungsi gonad.

homon ini berguna untuk  merangasang pertumbuhan tubulus seminiferus. dan mengendalikan tekanan darah padaarteriole. Prolaktin benyak terdapat pada ibu yang sedang menyusui.Hormon prolaktin adalah hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitari atau kelenjar hipofisis bagian anterior (depan). Fungsi hipofisis posterior. Hormon FSH : pada ovarium berguna untuk merangsang perkembangan folikel dan sekresi esterogen.Hormone ini juga diproduksi oleh plasenta.Fungsi hormon prolaktin yaitu : berperan dalam pembesaran alveoli dalm kehamilan. Hormon oksitosin : mengatur kontraksi uterus sewaktu melahirkan bayi dan pengeluaran air susu sewaktu menyusui. pembentukan korpusluteum. Dan pada testis. yaitu :  Hormon pertumbuhan (somatotropin ) : mengendalikan pertumbuhan tubuh  (tulang. otot. untuk ovulasi.yaitu:  Anti-diuretik hormon (ADH): mengatur jumlah air yang melaluiginjal.Fungsi hipofisis anterior ( adenohipofise ) menghasilkan sejumlah hormon yang bekerja sebagai zat pengendali produksi dari semua organ endokrin yang lain. Hormon ini ada pada laki-laki dan perempuan. sehingga pada saat diperlukan siap berfungsi. Hormon ACTH : mengendalikan kelenjar suprarenal dalam menghasilkan  kortisol yang berasal dari kortex suprarenal. menebalkan dinding rahim dan sekresi progesteron. dan organ-organ lain). Pada testis.mempengaruhi inisiasi kelenjar susudan mempertahankan laktasi serta menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI. Hormon TSH : mengendalikan pertumbuhan dan aktivitas sekretorik kelejar  tiroid. karena ia adalah hormon penting yang merangsang kelenjar susu untuk memproduksi susu. Hormon LH : pada ovarium. untuk  sekresi testoteron Hormon Prolaktin : untuk sekresi mamae dan mempertahankan korpus luteum selama hamil.  reabsorbsi air. dan spermatogenesis. .

hormone Prolaktin bekerja untuk produksi susu berikutnya.Oksitosin berfungsi :Mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan. Susu yang disedot/dihisapbayi saat ini. setelah proses menyusui.Hormon oksitosina adalah hormone yang dihasilkan kelenjar hipofisis bagian posterior (belakang). Sebagian besar hormon Prolaktin berada dalam darah selama kurang lebih 30 menit.  Setelah menerima rangsangan dari payudara. Di payudara. Otak kemudian bereaksi mengeluarkan hormon Prolaktin yang masuk ke dalam aliran darah menuju kembali ke payudara. menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI dan hormon ini juga keluar dalam ASI itu sendiri. otak juga mengeluarkan hormon    Oksitosin selain hormon Prolaktin.Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let-down / milk ejectionreflex dan membantu mengembalikan uterus pada ukuran menghentikan pendarahan pasca persalinan. sebelumnya dan membantu . hormon Oksitosin ini merangsang sel-sel otot untuk berkontraksi. keadaan hipoglikemia. barulah sebagian besar hormon Prolaktin sampai dipayudara dan merangsang sel-sel pembuat susu untuk bekerja. rangsangan sensorik itu dikirim ke otak. oksitosin juga mengencangkan otot halus di sekitaral veoli untuk memeras ASI menuju saluran susu.Hormon ini juga mengatur metabolisme pada ibu. Hormon Prolaktin merangsang sel-sel pembuat susu untuk bekerja.Sekresi hormon prolaktin meningkat pada masa hamil. Ketika bayi menyusu. setelah melahirkan. Hormon ini juga masuk ke dalam aliran darah menuju payudara. sudah tersedia dalam payudara. merangsang terjadinya kontraksi yang penting dalam proses pembukaan vagina sebelum melahirkan dan ketika proses melahirkan. Keluarnya hormon prolaktin. memproduksi susu. Sel-sel pembuat susu sesungguhnya tidak langsung bekerja ketika bayi menyusu. di Sinus Laktiferus. Jadi.Kadar normal hormon prolaktin di dalam darah sekitar 5-10 mg/mL. Jadi setelah proses menyusu selesai. sehingga kebutuhan zat oleh tubuh ibu dapat dikurangi dan dialirkan ke janin. Hormon Oksitosin diproduksi lebih cepat daripada Prolaktin. stres fisik dan mental.

dengan gejala amenorea atau oligomenorea dan infertilitas. 2. dapat ditemukan galaktorea. atau yang terkait disfungsi sekresi hormon hipofisis anterior. efek langsung dari prolaktin yang berlebihan. Pasien biasanya datang dengan keluhan gangguan menstruasi amenorea atau oligomenorea atau siklus regular tetapi dengan infertilitas. diikuti dengan penekanan areola untuk mengosongkan sinus laktaris. Kadang. Namun galaktorea bukan hormon khas dari hiperprolaktinemia karena ia dapat terjadi tanpa adanya hiperprolaktinemia. Manifestasi klinis 1. Biasanya penderita mengalami oligomenorea. Pada pemeriksaan. didapatkan payudara dan areola terbentuk sempurna dengan tuberkel Montgomery yang hiperplastik. namun dapat juga mengalami menstruasi teratur. seperti induksi galaktorea atau hipogonadisme. Wanita amenore karena hiperprolaktinemia tidak mengalami atrofi payudara seperti pada wanita postmenopause lainnya. gangguan lapang pandang. Pada fase lanjut dapat timbul gejala akibat perluasan tumor (misalnya nyeri kepala. Hal ini akan berakibat pada anovulasi. yang menyebabkan gejala nyeri kepala. Manifestasi klinis hiperprolaktinemia umumnya berasal diari efek prolaktin pada payudara dan fungsi gonad. spontan atau dirangsang.dan oftalmoplegi eksterna) atau gejala-gejala akibat kegagalan kelenjar adrenal atau gangguan tiroid sekunder. Kurang lebih 90% penderita wanita dengan hiperprolaktinemia mengalami galaktorea. efek dari lesi struktural (sepertitumor hipofisis). Galaktorea dapat terjadi unilateral ataubilateral. Efek prolaktin terhadap gonad kemungkinan disebabkan oleh gangguan pulsatilitas normal dari gonadotrophin-releasing hormone (GnRH) dan perubahan sekresi luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH). dan dapat bersifat encer atau kental. Galaktorea jarang terjadi pada wanita postmenopause akibat kurangnya estrogen. klinis atau sub-klinis. pasien dapat mengeluh menoragia atau galaktorea. Gejala tersering pada wanita premenopause adalah amenorea daninfertilitas. gangguan visus.D. Bila dilakukan pemijatan dari arahperifer menuju areola untuk mengosongkan duktus laktaris. .

Penurunan kadar estrogen dan hormone essa yang cepat pada periode pasca persalinan akan menyebabkan terjadinya laktasi.laktasi dihambat oleh kadar estrogen dan hormone essa yang tinggi saat kehamilan. prolaktin diregulasi oleh hormone hipotalamus lewat sirkulasi portal hipotalamus-hipofisis. transpordopamin ke kelenjar hipofisis. Manifestasi klinis akibat peningkatan kadar prolaktin dapat dibagi dalam 2 kelompok. E. Sedangkan sinyal stimulatorik dimediasi oleh hormonhipotalamus. Pada umumnya. yakni yang diakibatkan secara langsung oleh kadar prolaktin yang berlebihan dan manifestasi klinis akibat hipogonadisme. yang bekerja pada reseptor tipe-D2 yang terdapat pada sel laktotrof. terutama saat kehamilan. ovulasi dapat ditekan akibat supresi gonadotropin oleh prolaktin.Seperti kebanyakan hormone hipofisis anterior lainnya. sinyal dominan adalah bersifat inhibitorik tonik. Proses yang dapat mengganggu sintesis HormoneH.yang menghalangi pelepasan prolaktin. Keseimbangan antara kedua sinyal tersebutmenentukan jumlah prolaktin yang dilepaskan dari kelenjar hipofisisanterior. dan meningkatkan kuantititas sel ini pada wanita usia premenopause. Hal ini dimediasi oleh neurotransmitter hormone. Jumlah yang dikeluarkan melalui ginjal turut menentukan konsentrasi prolaktin di dalam darah. Menurunnya kadar HormoneH dapat menyebabkan sekresi prolaktin yang berlebihan. densitas tulang dapat meningkat kembali tetapi tidak mencapai nilai normal. Hiperprolaktinemia juga akan mengakibatkan osteoporosis sekunder yaitu penurunan densitas mineral tulang pada tulang punggung. yaitu TRH ( thyrotropinreleasing hormone ) danVIP (vasoactive intestinal peptide ).3. Saat laktasi dan menyusui. Namun. . Setelah nilaiprolaktin kembali ke nilai normal. Patofisiologi Fungsi primer prolaktin adalah untuk menstimulasi sel epitel payudara untuk berproliferasi dan merangsang produksi air susu. Estrogen menstimulasi proliferasisel laktotrof hipofisis. VIP meningkatkan kadar prolaktin sebagai respons dari menyusui dengan meningkatkan kadar adenosine cyclic phosphate. Maka pada hipotiroidisme (keadaan dimana kadar TRHnya tinggi) dapat terjadi hiperprolaktinemia.

F.Secara praktis. dapat diingat 3P yaitu Physiological. Penyebab patologik antara lain adalah penyakit hipotalamo-hipofisis. pendarahan 3. dan infertilitas. Agen farmakologik yang dapat menyebabkan hiperprolaktinemia antara lain adalah neuroleptik. Pharmacological dan Pathological. dapat mengakibatkan hiperprolaktinemia. osteoporosis 4. Secara fisiologis. gagal ginjal kronis dan sirosis hati. komplikasi hiperprolaktinemia antara lain adalah 1. HormoneHessant.atau efeknya terhadap sel laktotrof. peningkatan prolaktin dapat merupakan akibat dari kehamilan dan stress. yaitu hormon reproduksi dan jaringan payudara dari kedua jeniskelamin. kebutaan 2. . dopablockers. Komplikasi Komplikasi tergantung dari ukuran tumor dan efek fisiologik dari kondisitersebut. danestrogen. Manifestasiklinis pada hiperprolaktinemia adalah akibat pengaruh hormone terhadap jaringan targetprolaktin. cedera tungkai hipofisis. hipotiroidisme.

Operasi indikasi untuk suatu operasi hipofisis antara lain adalah pasien dengan intoleransi obat. Penatalaksanaan antara lain: 1. Bromocriptine dapat menurunkan kadar prolaktin sebanyak 70-100%. Pemeriksaan hormone prolaktin 2. tumor yang resisten terhadap terapimedikamentosa. Bromocriptine juga dapat digunakan untuk mengecilkan ukuran makroadenoma. CT scan H. 2. atau pada pasien dengan gangguan lapang pandang . Pemeriksaan MRI 3. Medikamentosa dopamine agonist . Memperhatikan penyebab terjadinya hiperprolaktinemia. Pengukuran kadar ureum kreatinin 5. bromocriptine mesylate merupakan obat pilihan utama. Terapi diberikan selama 12-24 bulan dan dihentikan jika kadar prolaktin telah kembali ke nilai normal. Pengukuran hormone TSH 4. Pada pasien dengan intoleransi bromocriptine atau resisten terhadap obat tersebut. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang yang dilakukan antara lain : 1. maka indikasi untuk dilakukan operasi. dan memulihkan proses ovulasi pada wanita usia premenopause.G. seperti dengan menghentikan obat-obatan yang mengakibatkan hiperprolaktinemia dan pada penderita dengan hipotiroidisme dengan memberikan terapi hormone replacement. Jika pengobatan medikamentosa gagal. Penatalaksanaan Tujuan terapi adalah untuk meredakan gejala hiperprolaktinemia atau mengurangi ukuran tumor. dapat diberikan cabergoline.

atau dengan pendekatan transfenoidal. Pemeriksaan fisik . Riwayat penyakit sekarang e. Identitas a. perasaan mati rasa pada wajah. I. kehilangan samping (perifer) visi. d. Keluhan Utama c. perasaan mengantuk. demensia. 3.yang persisten meskipun telah diberikan terapi medikamentosa (manifestasi akibat penekanan tumor). Pengkajian sekunder 1. Terjadi pada wanita dan pada laki-laki dengan pefalensi seimbang dan mempunyai insiden puncak antara usia 20 dan 30 tahun. ptosis yang disebabkan oleh tekanan pada saraf yang menuju ke mata. B. Kaji apakah keluarga pernah menderita penyakit tumor hipofisis. Riwayat penyakit keluarga 4. Klien mengeluhkan sakit kepala pada satu atau keduanya. 3. makan berlebih atau berkurang. Kaji apakah klien pernah mengalami cedera kepala berat ataupun ringan. atau di tengah dahi kabur atau penglihatan ganda. Pasien dengan hiperprolaktinemia dan tumor hipofisis kecil dapat diobati dengan operasi Samada. Konsep Asuhan Keperawatan A. Klien mengatakan kepalanya sering mengalami sakit pada kepalanya. Riwayat penyakit dahulu 2. b. PENGKAJIAN 1. kepala membesar. Kaji apakah sebelumnya klien pernah mengalami tumor pada bagian tubuh. f. dan pandangan kabur.

Pengkajian data dasar 1.a. Integritas ego o Ketidakberdayaan/putus asa sehubungan dengan perubahan penampilan fisik. Sirkulasi o Edema pada ekstermitas kaki dan tangan. tangan. hidung. 2. Inspeksi : o Klien tampak mengalami pembesaran yang abnormal pada seluruh bagian tubuh (jika timbul saat usia dini) o Klien tampak mengalami akromegali atau pembesaran yang abnormal pada ujung-ujung tubuh seperti kaki. Palpasi : o Terdapat nyeri kepala o Terdapat kelemahan otot tonus otot 3. bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala. o Kelemahan otot. Aktifitas /istirahat : o Insomnia. o Takikardi. . o Sakit kepala yang hebat saat aktivitas. o Perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan. dagu (timbul pada saat usia dewasa) o Klien tampak mengalami diplopia (pandangan ganda) o Tampak atropi pada pupil Klien tampak susah membedakan warna o Klien tampak susah menggerakkan organ-organ tubuh karena kelemahan otot b. 3.

DIAGNOSA KEPERAWATAN o Nyeri akut berhubungan dengan penekanan korteks serebri di hipotalamus o Hipertermi berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat tumor hipofisis o GSP. o Perubahan pola berkemih. menetap. sering sekali membuat pasien terbangun. disorientasi (selama sakit kepala). o Pening. o Perubahan pada kelembababn/turgor kulit. tidak mampu berkonsentrasi. o Perubahan warna urin contoh kuning pekat. Mungkin terlokalisasi.950 C atau lebih) o menggigil B. berkurangnya massa otot. o Gangguan penglihatan (kabur/tak jelas) 7.4. Eliminasi. edema. Makanan/cairan : o Nafsu makan menurun o Malnutrisi o Penurunan berat badan. Keamanan o Demam o Suhu meningkat (37. Neurosensori. 6. Nyeri/kenyamanan o Nyeri hebat. 5. menyeluruh atau intermiten. 8. pada posisi tertentu. Penglihatan berhubungan dengan penekanan pada ciasma optikum .

2. perhatiakan lokasi.o Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan metabolic ( hipermetabolik) o Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi air akibat peningkatan sekresi ADH o Kelemahan berhubungan dengan ketidakmampuan menyokong tubuh o Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik C. Tujuan o Nyeri dapat dihilangkan/ditangani Kriteria hasil o Melaporkan nyeri berkurang. Rasional : Meningkatkan vasokontriksi. Intervensi Mandiri 1. Rasional : Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda- tanda perkembangan komplikasi. dan waktu nyeri. itensitas. o Klien tampak tenang o Skala nyeri bahkan hilang. penumpulkan resepsi sensori yang selanjutnya akan menurunkan nyeri atau sakit kepala. RENCANA KEPERAWATAN I. Kaji keluhan nyeri. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan korteks serebri di hipotalamus. Letakan kantung es pada kepala klien. .

.3. Rasional : Meningkatkan relaksasi dan menurunkan ketegangan otot. Berikan analgesik/antipiretik. kulit tampak kemerahan. Rasional:Demam biasanya terjadi karena proses inflamasi tetapi mungkin merupakan komplikasi darikerusakan pada hipotalamus. klien mengeluhkan badannya panas Tujuan o Perubahan suhu tubuh yang normal.50C). Dorong pengungkapan perasaan klien. Intervensi Mandiri 1. Rasional : Dapat mengurangi ansietas. Lakukan tindakan paliatif. Rasional:Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhumendekati normal. 2. kriteria hasil : o Suhu tubuh klien dalam rentang normal (36. Misalnaya pengubahan posisi.Hipertermi berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat tumor hipofisis ditandai dengan suhu tubuh diatas normal (diatas 36-37. II. 4. Batasi penggunaan selimut. sehingga mengurangi persepsi akan intensitas rasa nyeri. Kolaborasi 1.50 – 37. analgesic narkotik sesuai dengan indikasi.5). Pantau suhu lingkungan. Rasional : Memberikan penurunan nyeri/tidak nyaman. Pantau suhu tubuh pasien (derajat dan pola) perhatikan adanya menggigil.

5. Rasional:Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus. berguna juga untuk membatasi pertumbuhan organismdan meningkatkan autodestruktif dari sel-sel yang terinfeksi. Rasional : Kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi. Pantau masukan dan haluaran. terutama jika tingkat kesadaran menurun /munculnya mual menurunkan pemasukan melalui oral. Berikan kompres hangat jika ada demam. catat satu atau kedua mata terlibat. 4. turgor kulit. Kriteria hasil o Penurunan tajam dan lapang pandang klien semakin membaik. Intervensi 1. Ganguan Penglihatan berhubungan dengan penekanan pada ciasma optikum Tujuan o Penglihatan klien dipertahankan pada tingkat sebaik mungkin. dan membrane mukosa. sebab kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif. Kolaborasi. Rasional:Hipertermia meningkatkan kehilangan air tak kasat mata dan meningkatkan resiko dehidrasi. misalnya ASA (aspirin). Berikan antipiretik.3. Catat karakteristik urine. Tentukan ketajaman penglihatan. . asetaminofen (Tylenol). Rasional:Kompres air hangat menyebabkan tubuh dingin melalui proses konduksi. o Klien mangatakan pandangan kabur dan ganda mulai berkurang bahkan hilang. III.

Rasional : Membantu dalam identifikasi malnutrisi protein kalori. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan metabolic ( hipermetabolik) Tujuan o Nutrisi klien adekuat Kriteria hasil o Mendemonstrasikan berat badan yang stabil o Bebas tanda dari malnutrisi. Intervensi Mandiri 1. Pantau masukan makanan setiap hari. Lakukan tindakan untuk membantu pasien menangani keterbatasan penglihatan. Rasional : Memberikan lubrikan danmelindungi mata. IV. khususnya bila berat badan kurang dari normal. dengan masukan cairan adekuat. 3. Rasional : Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan. Staf. Ukur tinggi. Orientasikan pasien terhadap lingkungan. Rasional : Mengidentifikasi kekuatan/defisiensi nutrisi 2. orang lain di areanya. 4. Rasional : Menurunkan bahaya keamanan sehubungan dengan perubahan lapang pandang. Gunakan obat tetes mata dan pelindung. . berat badan. Timbang berat badan setiap hari atu sesuai indikasi. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient. 3.2.

dan menurunkan masalah berkenaan dengan malnutrisi protein/kalori dan defisiensi mikronutrien. Rujuk pada ahli diet/tim pendukung nutrisi. Rasional : Memberikan rencana diet khusus untuk memenuhi kebutuhan individu. o Menunjukan haluaran urin tepat dengan berat jenis/hasil laboratorium mendekati normal. Kriteria hasil. D. Vitamin khususnya A. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi air akibat peningkatan sekresi ADH. Berikan obat sesuai indikasi. Tujuan o Membuat/mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit klien. Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi. Kolaborasi 1. 3. Rasional: Membantu mengidentifikasi derajat ketidakseimbangan biokimia/malnutrisi dan mempe garuhi pilihan intervensi diet. 2.Rasional : Kebutuhan jaringan metabolic ditingkatkan. Awasi denyut jantung dan tekanan darah. Intevensi Mandiri 1. dan B6 Rasional : Mencegah kekurangan karena penurunan absorpsi vitamin larut dalam lemak. Rasional: Takikardi terjadi kegagalan ginjal untuk mengeluarkan urin. V. 6. . E.

area tergantung untuk edema. 4. Rasional: Mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pilihan intervensi. Perhatikan kemampuan istrahat/tidur dengan tepat.2. Rasional: Perlu untuk menentukan fungsi ginjal. kebutuhan penggantian cairan. . Batasi pemasukan natrium sesuai indikasi. Rasional : Kadar natrium tinggi berhubungan dengan kelebihan cairan. Contoh tangan dan kaki. Awasi kadar natrium serum. Kelemahan berhubungan dengan penurunan produksi energy metabolik. dan penurunan resiko kelebihan cairan. Kriteria hasil o Melaporkan perbaikan rasa berenergi. Catat pemasukan dan pengeluaran akurat. kesulitan menyelesaikan tugas. wajah. o Berpatisipasi pada aktivitas yang diinginkan. malnutrisi. Rasiona : Menentukan derajat dari efek ketidakmampuan. VI. Intervensi 1. Kaji kulit. Kaji kemampuan untuk berpatisipasi pada aktivitas yang dibutuhkan/diinginkan. 3. Tujuan o Menunjukan perbaikan kemampuan klien untuk beraktivitas. Evaluasi laporan kelemahan. 2. Rasional: Edema terjadi terutama pada jaringan yang tergantung pada tubuh.

Rasional : Memberikan keamanan pada pasien. Susun batasan pada prilaku maladaptive. Penerimaan perubahan tak dapat dipaksakan. depresi. marah. bantu pasien untuk . VII. Rasional: Pasien dapat depresi cepat setelah perubahan penampilan fisik. Kriteria hasil o Menunjukan adaptasi awal pada terhadap perubahan tubuh. Rasional: Mengidentifikasi/mengartikan masalah untuk memfokuskan perhatian dan intervensi secara konstruktif. Diskusikan arti perubahan dengan pasien. 4. Catat reaksi emosi. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik. Identifikasi persepsi situasi/harapan yang akan dating. contoh kehilangan. Intervensi Mandiri 1. 3. Berikan bantuan dalam aktivitas sehari-hari dan ambulansi.3. Rasional: Mencegah kelelahan berlebihan dan menyimpan energy untuk penyembuhan. Tujuan o Harga diri klien ditingkatkan. o Mulai mengembangkan rencana untuk perubahan pola hidup. 2. Rencanakan priode istrahat adekuat. mengidentifikasi prilaku positif yang akan membaik.

Rujuk pasien kesumber pendukung. Kolaborasi 1. diperlukan untuk membantu pasien . Dorong orang terdekat untuk mengobati pasien secara normal dan tidak sebagai orang cacat.Rasional: Penolakan dapat mengakibatkan penurunan harga diri dan mempengaruhi gambaran penerimaan diri yang baru. Rasional : Penyimpangan harga diri dapat disadari penguatanya. Rasional : Pendekatan menyeluruh menghadapi rehabilitasi dan kesehatan. ahli terapi psikologis. Contoh. 4.

MRI : mikroadenoma. 1. kombos kairagi I Pekerjaan : PNS Hubungan dengan klien : suami c. Ia datang dengan keluhan sakit kepala sepeti ditusuk-tusuk sehingga mengganggu aktivitas dan berlangsung dalam 2-5 menit. Kadar prolaktin : 42 nanogram/milliliter. R : 24x/mnt. TB: 160cm. Hasil pemeriksaan TTV menunjukan TD : 140/80 MmHg. meringis dan tidak nyaman. suhu : 36. Identitas klien Nama Tempat/tgl lahir(umur) Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Agama Status perkawinan Pendidikan Warga Negara : Ny. S berusia 30 tahun datang ke RS Lasallian ditemani oleh suami.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN Ny. Keadaan Umum  Tanda –tanda Vital 1.16 maret (30thn) : perempuan : manado. S : manado. Toni Umur : 36thn Alamat : manado.BB : 50Kg. nadi : 76. kombos kairagi I : ibu rumah tangga : Kristen : menikah : SMA : Indonesia b. skala nyeri : 5 (skala 1-10). Klien tampak lemah. Identitas penanggung jawab Nama : Tn. Riwayat Kesehatan  Riwayat Kesehatan Sekarang Hyperprolaktinemia  Riwayat Kesehatan Dahulu Hipertensi   RKK Hipertensi & tumor hipofisis d. Kesadaran . Pengkajian a.7oC. menstruasi tidak teratur serta ia mengelu mengalami kesulitan dalam berhubungan seksual dan mengalami penurunan ketajaman penglihatan dan sulit membedakan warna.

4. Keadaan Sejak sakit pasien mengatakan porsi makan tidak dihabiskan karena nyeri kepala.Kualitatif Skala coma gaslow : compos mentis : . BB 2.Respon membuka mata .Respon motorik :4 :5 :5 + Jumlah : 14 Kesimpulan : (+) 2.gelap  Konjungtiva : anemis . Tekanan darah Suhu Nadi Respirasi Nyeri  Pengukuran 1. 5. TB : 140/80 MmHg : 36. 3. Keadaan sebelum sakit Pasien kurang memperhatikan siklus menstruasi b. Keadaan sebelum sakit Pasien mengatakan tidak terlalu peduli dengan apa yang dimakan atau asupan makanan yang penting makan saja.70C : 76x/mnt : 24x/mnt : skala 6 : 50 kg : 162 cm Pengkajian pola kesehatan A.Respon bicara . Observasi Makanan pasien tidak dihabiskan b. b. Keadaan sejak sakit Pasien mengalami menstruasi abnormal B. Data obyektif a. Kajian persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan Riwayat penyakit yang pernah dialami : hipertensi Data subyektif a. sebelum sakit pasien makan 3x sehari. 6. KAJIAN POLA NUTRISI Data subyektif a. Pemeriksaan fisik  Keadaan rambut : rambut tampak kotor dan sedikit berminyak  Hidrasi kulit : tampak kering  Palpebrae : tampak berwarna hitam.

tidak ada secret Rongga mulut : bersih Gigi : agak kekuningan dan tidak terdapat karies Kesulitan mengunyah makanan yang keras: (+) Lidah : lembab. Keadaan sebelum sakit Pasien mengatakan sebelum sakit BAB 1x/hari. BAK 4-5x/hari b. Keadaan sejak sakit Pasien mengatakan masih sama seperti sebelum sakit 2. Observasi : BAB & BAK lancar b.            Sclera : an ikterik Hidung : bersih. Kajian pola eliminasi 1.lemas dengan bentuk simetris Bayangan vena : (-) Benjolan vena: (-) Hepar :tidak tampak Lien : tidak ampak Asites : tidak tampak  Auskultasi Peristaltic usus : 15x/mnt  Palpasi Tanda nyeri umum : (-) Massa : (-) Nyeri tekan : (-) Hepar : tidak teraba Lien : tidak teraba  Perkusi Spider naevi : (-) Uremic frost : (-) Edema : (-) Ikteric : (-) Tanda radang : (-) Lesi : (-) C. PF Peristaltic : 15x/mnt . ukuran simetris Pharing : kelainan(-) Tonsil : kelainan(-) Kelenjar getah bening leher: pembengkakan(-) Kelenjar parotis : edema(-) Kelenjar tyroid : edema(-) Abdomen  Inspeksi Bentuk : tampak datar. Data subyektif a. Data obyektif a.

Kajian pola tidur dan istirahat 1. Keadaan sebelum sakit Klien tidur 6-7 jam/hari b. Data Subjektif a. Keadaan sebelum sakit Pasien tidak menggunakan kaca mata dan alat bantu mendengar. Observasi Aktivitas harian : Makan : bantuan keluarga Mandi : bantuan keluarga Berpakaian : banuan keluarga Kerapihan : bantuan keluarga BAB : sendiri BAK : sendiri Morbiditas ditempat tidur : bantuan orang Ambulasi : bantuan keluarga E. Kajian pola persepsi kognitif 1. Data obyektif a. Observasi Ekspresi wajah mengantuk Banyak menguap Palpebrae interior berwara gelap : Positif : Negatif : Positif F. Observasi Klien masih mampu berbicara dengan respon verbal. Data Objektif a. Keadaan sejak saki Pasien mengatakan susah beraktivitas karena nyeri 2. Keadaan sebelum sakit Pasien mengatakan menghabiskan waktu membersihkan rumah b. b. Pasien bisa membaca dengan baik tanpa menggunakan kaca mata. 2. Data obyekif a.Palpasi suprapubica : kosong D. Data subyektif a. b. Keadaan setelah sakit Klien susah tidur karena nyeri 2. Keadaan sejak sakit Pasien mengatakan tidak bisa membaca tanpa menggunakan kaca mata. Data subyektif a. Pemeriksaan fisik  Penglihatan . Kajian pola akivitas & latihan 1.

Keadaan sebelum sakit Klien mengatakan dia menyadari dirinya perempuan normal b. Data Objektif a. b. Kajian pola persepsi dan konsep diri 1. b. Data Subjektif a. I. Data Subjektif a. lemas Kulit Lesi kulit : (-) H. Keadaan sejak sakit Klin mengatakan mampu menyesuaikan diri dengan sesama saat di rumah sakit 2. Pupil : (-) Kornea : (-) Lensa mata : (-) Pendengaran Pina : tidak ada benjolan Membrane timpani : normal Tes pendengaran : normal G. suara pelan Poster tubuh : tegak b. Keadaan sebelum sakit Klien mengatakan mengetahui tentang dirinya dan keluarganya. Kajian pola reproduksi seksualitas 1. Data Objektif a. Observasi Klien tampak bisa menerima pasien lain diruangannya dan menjalani hubungan baik dengan sesamanya. Kajian pola peran dan hubungan dengan sesame 1. Data Subjektif a. klien sangat semangat dalam menjalani kehidupannya di lingkungan keluarga dan masyarakat. Observasi Kontak mata : (-) Rentang perhatian : baik Suara dan cara bicara : suara terdengar lemah. Keadaan sejak sakit Klien mengatakan sekarang mengalami penurunan seksualitas . Pemeriksaan fisik Abdomen Bentuk : datar. Keadaan sebelum sakit Klien mengatakan banyak bersosialisasi dengan masyarakat dan akrab dengan keluarga. Keadaan sejak sakit Klien masih semangat dalam menghadapi penyakitnya. 2.

Keadaan sejak sakit Klien mengatakan klien mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru dan suasana baru dirumah sakit. Data subjektif a. Data objektif a. Kajian pola system nilai kepercayaan 1. 2. b. namun klien tetap mengucap syukur. Data Objektif a.2. 2. Keadaan sebelum sakit Klien mengatakan sebelum sakit klien selalu aktiv dalam mengikuti ibadah dan selalu mengucapsyukur kepada Tuhan. Kajian mekanisme koping dan toleransi terhadap stress 1. Observasi Klien terlihat dirawat oleh keluarganya J. Observasi Ekspresi wajah tenang b. Keadaan sebelum sakit Klien mengatakan dapat mengontrol dirinya apabila dia menghadapi masalah. Data subjektif a. b. Keadaan sejak sakit Klien mengatakan tidak bisa pergi beribadah karena dirawat di rumah sakit. Klien mengatakan keluarganya juga membantunya dalam menghadapi masalah. Observasi Klien tampak merespon dengan rasa syukur . Pemeriksaan fisik TD : 140/80 MmHg K. Data objektif a.

sedangkan pada asuhan keperawatan kasus Dx yang muncul adalah hyperprolaktinemia ditandai dengan mulai adanya mikroadenoma pada kelenjar pituitary. . C. Diagnosa Dx yang kami angkat dalam asuhan keperawatan kasus hanya kami analisis lewat kajian keadaan pasien pasca masuk RS dan memberi hasil pasien masih dalam tahapan pertumbuhan tumor. B.BAB IV PEMBAHASAN A. walaupun tingkatan penyakit berbeda antara konsep asuhan keperawatan dan asuhan keperawatan kasus. Pengkajian Dalam konsep asuhan keperawatan semua yang dikaji dalam BAB II adalah pasien dengan Dx adenoma hipofisis. Intervensi Beberapa hal dapat menjadi bahan ajar kami dalam membuat perencanaan.

Kesimpulan Hyperprolaktinemia adalah kelebihan kadar prolaktin dalam darah yang akan memicu prolaktinoma pada kelenjar pituitary. DAFTAR ISI https://www.scribd.BAB V PENUTUP A.com/2013/12/31/makalah-tumor-hipofisis/ . Saran Diharapkan dalam pembuatan makalah berikutnya dapat disempurnakan dengan penambahan definisi yang lebih luas lagi.com/doc/104041910/Asuhan-Keperawatan-Sistem-Endokrin https://wordpress. B.