Pendekatan Struktural adalah suatu pendekatan yang memfokuskan

pada analisis terhadap struktur karya sastra. Dalam pendekatan ini, karya
sastra dianggap sebagai sebuah struktur. Ia hadir dan dibagun oleh sejumlah
unsur yang berperan penting secara fungsional. Menurut Wellek dan Werren
yang dimaksud dengan struktur adalah isi (content) dan bentuk (form). Isi
berkaitan dengan gagasan yang diekspresikan pengarang sedangkan bentuk
adalah cara pengarang menulis. Masih senada dengan hal tersebut, Pradopo
mengatakan, yang dimaksud dengan struktur karya sastra adalah susunan
unsur-unsur yang bersistem, yang diantara unsur-unsurnya terjadi hubungan
timbal balik, saling menentukan. Lebih lanjut Pradopo mengatakan, unsurunsur dalam karya sastra bukanlah merupakan unsur yang berdiri sendiri,
melainkan saling terikat, saling berkaitan, dan saling bergantung. Jadi, dalam
analisis dengan menggunakan pendekatan struktural, unsur dalam struktur
karya sastra tidak meiliki makna dengan sendirinya, akan tetapi maknanya
ditentukan oleh hubungannya dengan semua unsur lainnya yang terkandung
dalam struktur tersebut.
Menurut Teeuw analisis struktural mencoba menguraikan keterikatan
dan fungsi masing-masing unsur karya sastra tersebut sebagai kesatuan
struktural yang bersama-sama menghasilkan makna yang menyeluruh. Jadi,
unsur karya sastra tersebut haruslah dipahami sebagai bagian dari
keseluruhan karya sastra. Menurut Pradopo, salah satu ciri khas pendekatan
struktural adalah adanya anggapan bahwa didalam dirinya sendiri karya
sastra merupakan suatu struktur yang otonom yang dapat dipahami sebagai
kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur pembangunnya yang saling
berjalinan.
Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang dikaitkan
dengan persepsi dan deskripsi struktur. Adapun asumsi dasar dari kajian ini
adalah bahwa karya sastra merupakan suatu karya yang otonom dan ia,
dapat

dipahami

sebagai

suatu

kesatuan

yang

pembangunnya yang saling berjalinan satu sama lain.

bulat

dengan

unsur

tidak peduli dengan hal lain kecuali yang berkaitan dengan struktur di dalam karya sastra. dan segala sesuatu yang berkaitan dengan unsur tersebut. Unsur-unsur Intrinsik dalam pendekatan struktural ada 4 yaitu : alur (plot). yakni strukturalisme genetik dan strukturalisme dinamik. Pendekatan tersebut meneliti karya sastra sebagai karya yang otonom dan terlepas dari latar belakang sosial. Arti genetik itu sendriri adalah “asal usul karya sastra” yang berarti diri pengarang dan . waktu. strukturalisme genetik. adalah strukturalisme yang paling awal. latar (tempat. ada dua hal yang menjadi kelemahan strukturalisme macam ini: pertama peneliti melepaskan sastra dari latar belakangnya dan kedua. Yang pertama. dan sosial). Akan tetapi perlu dicatat bahwa pemahaman dan pengkajian antar struktur fakta sastra tersebut harus ditopang oleh pengetahuan yang mendalam tentang pengertian. biograf pengarang dan segala hal yang ada di luar karya sastra. dari kelemahan di atas itu. ia dilatar belakangi oleh hal-hal yang berada di luar dirinya. Dalam kajian sastra. Struktulalisme klasik. maka muncullah dua bentuk strukturalisme lain. Ia merupakan strukturalisme paten. dan tokoh. fungsi. Tak ada hal lain yang perlu diteliti kecuali struktur karya sastra. adalah strukturalisme yang tidak hanya melibatkan struktur sastra melainkan juga kehidupan pengarang dan kondisi sosial masyarakat yang mendorong karya itu lahir. strukturalisme genetik dan strukturalisme dinamik. ia mengasingkan sastra dari relevansinya dengan budaya. namun di balik itu. Kajian yang hanya mengkaji struktur semata. peran. Meski tampak mampu menggambarkan karya sastra secara objektif. Bahwa sastra tidak serta lahir begitu saja. Kemudian. struktur macam ini. tema dan amanat. Penerapan strukturalisme klasik dalam karya sastra dilakukan dengan cara memadukan fakta sastra dengan tema sehingga makna sastra dapat dipahami dengan jelas.Ada tiga bentuk strukturalisme yaitu strukturalisme klasik. sejarah.

Maksud “dinamik” di sini mengacu pada dinamika yang diakibatkan pembacaan kreatif dan pembaca yang dibekali konsiliasi yang selalu berubah. Kedua. yang lahir dari akibat ketidakpuasan terhadap kajian strukturalisme klasik adalah strukturalisme dinamik. makhluk yang membaca dan menciptakan tanda. adalah berhasil untuk mengungkap pandangan dunia pengarang tersebut. Artinya. ada dua macam karya sastra. karena. Menurut Goldman. di dalam karya tersebut terdapat apa yang disebut dengan “problematik hero” yaitu permasalahan-permasalahan yang berhadapan dengan kondisi sosial yang dari sana pengarang berusaha mendapatkan/menentukan suatu nilai tertentu yang diimplementasikannya kedalam karyanya. Dan akhir dari kegiatan ini. ia dianggap sebagai homo signifcan. baik secara parsial maupun kajian keseluruhan. Kemudian mengkaji latar belakang kehidupan sosial kelompok pengarang karena ia merupakan bagian dari komunitas masyarakat tertentu. yakni karya sastra yang strukturnya sebangun dengan struktur kelompok atau kelas sosial tertentu.kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat ia diciptakan. Pertama. menurut Goldman. karya sastra pengarang kelas dua. Adapun penerapan terhadap pendekatan strukturalisme genetik ini. Di samping itu tidak luput juga untuk mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat ia diciptakan oleh pengarang. Tokoh strukturalisme genetik adalah Lucien Goldman. Mengetahui nilai tersebut berarti menangkap pandangan dunia sang sastrawan. karya sastra pengarang utama. Yang kedua. Jadi dapat dikatakan bahwa strukturalisme dinamik adalah kajian strukturalisme dalam rangka semiotik. karya sastra dikaitkan . dapat dilakukan dengan dimulai dari kajian unsur-unsur intrinsik sastra. karya sastra yang cocok diteliti dengan kajian strukturalisme genetik adalah karya sastra yang pertama. yakni karya sastra yang sekedar raproduksi segi permukaan realitas sosial dan kesadaran kolektif. Nah.

realitas. perasaan dan gagasan. yakni tidak menunjuk di luar dirinya dan informasional. Tanda mempunyai dua fungsi: otonom. yakni menyampaikan pikiran.dengan sistem tanda. . karya sastra dan pembaca. Kemudian menjelaskan kaitan pengarang. Adapun penerapannya dapat dilakukan dengan pertama-tama menjelaskan struktur karya sastra yang diteliti.