You are on page 1of 15

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Pelayanan


Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urusan kegiatan yang terjadi
dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin
secara fisik, dan menyediakan kepuasan pelanggan. Sedangkan melayani
adalah

membantu

menyiapkan

(mengurus)

apa

yang

diperlukan

seseorang.
Dalam buku yang berjudul, Manajemen Pelayanan Umum di
Indonesia, H.A.S. Moenir (2008), Pelayanan adalah proses kebutuhan
melalui aktivitas orang lain yang langsung dinamakan sebagai pelayanan.
Dan aktivitas itu sendiri merupakan suatu proses penggunaan akal,
pikiran, panca indera dan anggota badan dengan atau tanpa alat bantu
yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang
diinginkan, baik dalam bentuk barang maupun jasa pelayanan.
Hak terhadap pelayanan sifatnya universal, karena berlaku
terhadap siapa saja yang berkepentingan terhadap pelayanan tersebut.
Sebagai pihak yang ingin memperoleh pelayanan yang baik dan
memuaskan terhadap pelayanan yang didambakan adalah sebagai
berikut:
1.

Adanya kemudahan dalam pengurusan kepentingan

2.

Memperoleh pelayanan secara wajar

3.

Mendapatkan perlakuan yang sama tanpa pilih kasih

4.

Mendapatkan pelayanan yang efektif dan efisien tanpa harus

menunggu terlau lama.

Suatu perusahaan yang telah menerapkan prinsip pelayanan


pelanggan dalam perusahannya sendiri (internal), biasanya dapat
memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan pelanggannya
(eksternal).
Pelayanan diberikan sebagai tindakan atau perbuatan seseorang
atau organisasi untuk memberikan kepuasan kepada konsumen. Tindakan
tersebut dapat dilakukan melalui cara langsung melayani konsumen.
Artinya

karyawan

langsung

berhadapan

dengan

konsumen

atau

menempatkan sesuatu di mana konsumen sudah tahu tempatnya atau


pelayanan melalui telepon. Tindakan yang dilakukan guna memenuhi
keinginan konsumen akan sesuatu produk atau jasa yang mereka
butuhkan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir semua jenis produk yang
ditawarkan memerlukan pelayanan dari karyawan perusahaan. Hanya
saja pelayanan yang diberikan terkadang berbentuk langsung dan tidak
langsung. Untuk produk supermarket ada yang memerlukan pelayanan
langsung seperti penyetoran uang tunai, kartu kredit atau pembelian
produk lainnya. Dalam pelayanan tersebut ada yang memerlukan
penjelasan, baik sekedarnya atau secara rinci. Namun, ada juga produk
supermarket yang tidak memerlukan pelayanan karyawan misalnya
pelayanan yang diberikan oleh kartu kredit.
Kenyataannya, pelayanan yang baik pada akhirnya akan mampu
memberikan kepuasan kepada konsumen, di samping akan mampu
mempertahankan konsumen yang ada (lama) untuk terus mengkonsumsi
atau membeli produk yang kita tawarkan, serta akan mampu pula untuk
menarik calon konsumen baru untuk mencobanya. Pelayanan yang
optimal

pada

akhirnya

juga

akan

mampu

meningkatkan

image

perusahaan sehingga citra perusahaan di mata konsumennya terus

meningkat pula. Dengan memiliki citra yang baik, segala yang dilakukan
perusahaan akan dianggap baik pula. (Kasmir, 2006,)

2.2 Syahbandar
Syahbandar adalah pejabat pemerintah di pelabuhan yang
diangkat oleh menteri dan memiliki kewenangan tertinggi untuk
menjalankan dan melakukan pengawasan terhadap dipenuhinya
ketentuan
keselamatan

peraturan
dan

perundang-undangan
keamanan

untuk

menjamin

pelayaran

Sesuai dengan fungsinya tugas Syahbandar mengawasi kelaiklautan


kapal yang meliputi keselamatan, keamanan, dan ketertitaban di
pelabuhan seorang syahbandar akan dimintai pertanggungjawaban
atas terjadinya kecelakaan kapal di laut ( human error / act of God ),
Keselamatan kapal dalam kamus transportasi laut adalah keadaan
kapal yang memenuhi persyaratan material, konstruksi, bangunan,
permesinan dan pelistrikan, stabilitas tata susunan serta perlengkapan
termasuk radio dan elektronika kapal. Secara terus menerus,
keselamatan kapal harus diperiksa oleh Syahbandar sebelum boleh
berlayar. Tugas-tugas profesi Syahbandar seperti yang termaktub
dalam UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, serta PP No. 61
Tahun
Lemahnya

2009
pelaksanaan

tentang
aturan

keselamatan

Kepelabuhanan.
pelayaran

pada

prakteknya karena belum dilaksanakan secara optimal. hal ini


disebabkan oleh beberapa faktor yakni: pihak syahbandar yang belum
memenuhi kualifikasi dalam arti belum menguasai secara penuh
peraturan tertib Bandar, Penegakan hukum yang tidak sungguhsungguh, Selain itu seorang Syahbandar haruslah mampu bersikap
tegas, Brain memiliki pengetahuan luas serta memahami setiap
peraturan pelayaran sehingga dalam setiap langkah yang diambil
berdasarkan peraturan yang ada.Hal yang harus menjadi acuan bagi

seorang Syahbandar adalah tidak semata-mata hanya mengecek


kelengkapan dokumen kapal tanda tangan lalu selesai, akan tetapi
melakukan pemeriksaan dengan teliti mengenai kelengkapan kapal
terutama alat navigasi, alat keselamatan yang ada dikapal, apalagi
untuk

kapal

penumpang.

Sangat dipahami apabila hal ini membutuhkan waktu yang lama, akan
tetapi keselamatan dalam pelayaran adalah hal yang utama.

2.3 Pengertian Bongkar Muat


Menurut Herry Gianto dan Arso Martopo (2004:30) dalam bukunya
yang berjudul Pengoperasian Pelabuhan Laut, proses bongkar muat
adalah kegiatan mengangkat, mengangkut, serta memindahkan muatan
dari kapal ke dermaga pelabuhan atau sebaliknya.

Menurut Engkos Kosasih, 2007, adalah kedudukan perusahaan


bongkar muat pada order kerja dari pelayaran tidak hanya sebagai
pelaksana bongkar muat barang tetapi juga mewakili pelayaran menjaga
(custody) muatan sampai dengan diserahkannya kepada pemilik barang
atau sebaliknya. (Engkos Kosasih, 2007)
Kegiatan bongkar muat atau disebut juga ship operation atau
stevedoring adalah kegiatan pemuatan
pembongkaran muatan

( loading cargo ) dan

(unloading cargo) ke atau dari kapal di

pelabuhan. Dalam peraturan pemerintah pelabuhan adalah : Tempat


yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan batas batas
tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi dan
dipergunakan sebagaitempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun

penumpang dan/atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan


fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta
sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.
Pelabuhan memang menjadi tempat paling penting bagi kelancaran arus
barang yang mengunakan sarana pengangkutan melalui kapal laut,
adapun pengertian lain dari pelabuhan atau port adalah : Daerah perairan
yang terlindung terhadap gelombang, yang dilengkapi dengan fasilitas
terminal laut untuk bongkar muat barang, gudang laut (transito) dan
tempat-tempat penyimpanan dimana kapal membongkar muatannya, dan
gudang-gudang dimana barang dapat disimpan dalam waktu yang lama
selama menunggu pengiriman kedaerah tujuan. (Bambang Triatmodjo,
2007) 2.3.3. Fasilitas Pelabuhan
Untuk menunjang kelancaran aktivitas di pelabuhan, dalam pelabuhan
tersedia berbagai fasilitas. Kelengkapan fasilitas ini juga bisa menjadi
ukuran baik buruknya suatu pelabuhan. Berikut ini adalah beberapa
fasilitas utama yang ada dalam pelabuhan.
1. Penahan Gelombang (vreakwater)
Adalah konstruksi dari batu-batuan yang kuat dan dibuat melingkar
memanjang kearah laut dari pelabuhan utamanya yang dimaksudkan
sebagai pelindung pelabuhan itu. Gunanya adalah untuk menahan ombak
dan gelombang, karena di dalam pelabuhan terdapat dermaga-dermaga
tempat kapal-kapal sandar. Dengan demikian, dalam pelabuhan cuacanya
lebih tenang dari luar karena terlindungi.

Dipenahan gelombang dibuat beberapa pintu masuk untuk kapal-kapal


yang hendak masuk ke pelabuhan itu. Sebelum masuk, kapal harus
berlabuh dahulu untuk menunggu izin masuk ke dalam pelabuhan oleh

pandu Bandar, dan kapal akan sandar biasanya dengan pertolongan kapal
tunda dan banyaknya kapal tunda tergantung dari bersarnya kapal.

2. Jembatan (Jetty)
Jembatan atau jetty adalah bangunan berbentuk jembatan yang dibuat
menjorok keluar ke arah laut dari pantai atau daratan. Biasanya dibuat
dari beton, baja, atau kayu dan dibuat untuk menampung sementara
barang yang akan dimuat/ bongkar dari/ke kapal yang sandar di jembatan
itu. Karena menjorok keluar dari daratan, air di pinggir jembata jetty lebih
dalam dari di pinggir sehingga kapal mudah sandar. Bila menjorok jauh
keluar dari pantai biasanya berbentuk T.
3. Dolphin
Dolphin adalah kumpulan dari tonggak-tonggak dari besi, kayu atau beton
agar

kapal

dapat

bersandar

disitu

untuk

melakukan

kegiatan

bongkar/muat ke tongkang (lighter). Biasanya terdiri dari konstruksi dua


tonggak yang menahan kapal di bagian muka dan belakangnya.
4. Mooring Buoys (Pelampung Pengikat)
Pelampungan dimana kapal ditambatkan untuk melakukan suatu kegiatan.
Seperti di Hongkong, kapal diikat dengan ujung rantai jangkanya, dimana
jangkarnya dicopot dahulu untuk melakukan kegiatan bongkar muat. Di
Tanjung Priok, kapal diikat dengan tali kapal kegiatan muka dan belakang
diantara dua buah pelampung pengikat. Kemudian kapal melakukan
kegiatan bongkar/muat dengan bantuan tongkang. Keuntungannya adalah
bahwa kapal dapat melakukan kegiatan bongkar muat pada kedua
sisinya.

5. Tempat Labuh
Tempat labuh adalah tempat perairan di mana kapal melego jangkarnya
untuk melakukan kegiatan. Tempat labuh juga berfungsi sebagai tempat
menunggu untuk masuk ke suatu pelabuhan.
6. Single Buoy Mooring (SBM)
SBM adalah pelampung pengikat dimana kapal tanker dapat muat
bongkar

muatannya

melalui

pipa

di

pelampungan

itu

yang

dipergunakan

untuk

menghubungkan ke daratan atau sumber pasokan.


7. Tongkang (Lighter)
Tongkang

adalah

perahu-perahu

kecil

yang

mengangkut muatan dan barang dari atau ke kapal yang dimuat/bongkar,


yang biasanya ditarik oleh kapal tunda.
8. Alur pelayaran dan kolam pelabuhan
Alur kapal adalah bagian dari perairan di pelabuhan tempat masuk
keluarnya kapal. Alur pelayaran kapal memiliki kedalaman tertentu agar
kapal bisa masuk/keluar kolam pelabuhan atau sandar di dermaga. Alur
kapal harus dikeruk secara teratur agar kapal dengan sarat tertentu bisa
masuk. Sarat kapal adalah kedalaman bagian kapal yang terendam air.

Kolam pelabuhan juga selalu harus disiapkan oleh pelabuhan, agar


tersedia tempat cukup sesuai dengan jenis kapal dan muatannya. Bila
kapalnya adalah adlaah kapal petikemas maka tentunya akan diusahakan
agar dapat sandar di pelabuhan petikemas lengkap dengan gantry crane
nya. Dan kapal dengan muatan umum (general cargo) diusahakan agar
dapat sandar di dermaga yang ada gudangnya. Juga untuk kapal ferry

atau penyebrangan harus ada dermaga ferry, kapal tanker minyak di


dermaga khusus untuk tanker.
9. Rambu Kapal
Rambu kapal adalah tanda-tanda yang dipasang di perairan menuju
pelabuhan untuk meandu kapal berlabuh. Bila letak rambu-rambu kurang
jelas maka dapat mengakibatkan kapal kandas, juga bila kapal berlabuh,
jangkarnya dapat menggaruk kabel komunikasi atau kabel listri di bawah
ari, atau terjadi kapal berlabuh di daerah yang terlarang.
10. Gudang
Gudang adalah tempat penampungan barang yang tertutup agar
terlindungi dari cuaca. Namun ada juga gudang terbuka untuk barang
tertentu atau petikemas. Gudang merupakan bagian yang penting dari
suatu pelabuhan, karena dalam gedung inilah barang yang akan dimuat
atau setelah dibongkar dari kapal untuk sementara disimpan, kecuali bila
muatan dimuat dalam petikemas (container).
Jenis gudang bisa dibagi menurut masuk wilayah kepabeanan atau tidak,
jenis barang yang disimpan dan lamanya penyimpanan barang.
Sedangkan fungsi gudang mencakup penyeimbangkan volume barang
yang diangkut oleh kapal dan yang akan atau telah diangkut oleh
angkutan darat. Selain itu gudang juga berfungsi untuk memperlancar
formalitas administrasi dan kepabeanan, mencegah kerusakan barang,
serta sebagai penampungan sementara untuk barang yang akan diangkut
kembali.
11. Dermaga
Untuk melayani kapal-kapal yang masuk, pelabuhan menyediakan
dermaga, yaitu tempat dimana kapal dapat berlabuh atau sandar guna

melakukan kegiatannya, baik bongkar/muat atau kegiatan lainnya. Untuk


bongkar/muat

general

cargo,

pelabuhan

menyediakan

dermaga

konvensional. Sedangkan untuk bongkar/muat kapal-kapal petikemas


pelabuhan menyediakan dermaga khusus petikemas.
a. Dermafga konvensional adalah dermaga yang digunakan untuk
melakukan aktivitas bongkar muat kapal kargo. Dermaga konvensional
terdiri dari pelataran dermaga, gudang-gudang, lapangan terbuka dan
perlengkapan

dengan

kran-kran

(portal

crane)

untuk

membantu

pembongkaran/ pemuatan kapal. Dermaga konvensional dipakai untuk


kapal-kapal kargo biasa, yaitu kapal-kapal yang dilengkapi dengan
peralatan bongkar muat dan membawa berbagai jenis muatan yang
memerlukan pemadatan khusus bila disimpan dalam palkanya (karung,
peti). Petikemas juga ada yang dibongkar di dermaga konvensional
namun karena pelataran antara dermaga dan gudang sempit akan
menimbulkan kesukaran dalam angkutan maupun pergerakannya.
Didermaga konvensional terdapat lebih banyak tenaga manusia (buruh).
Buruh didermaga ini dipergunakan untuk mengangkat barang dari/ke
gudang, baik itu masih dilakukan dengan dipanggul, dengan kereta
dorong maupun dengan forklift dari/ke kapal. Buruh juga dipergunakan
untuk membantu menumpuk atau membongkar muatan di kapal, untuk
menyusun muatan di gudang maupun membongkarnya dan juga
dipergunakan untuk meletakkan atau membongkar dari alat angkut atau
truk.
b. Dermaga

petikemas

adalah

dermaga

yang

digunakan

untuk

melakukan bongkar muat kapal-kapal petikemas. Dermaga petikemas


terdiri dari lapangan yang terbuka dan dilengkapi dengan keran-keran
untuk membongkar/memuat petikemas. Keran-keran tersebut dinamakan
gantry crane. Dermaga ini juga dilengkapi dengan alat-alat angkat khusus

petikemas dan juga alat untuk memindahkan dan menumpukkan secara


mekanis.

Buruh disini dimanfaatkan untuk mengisi atau membongkar barang dari


petikemas. Dermaga petikemas juga dilengkapi dengan beberapa gudang
untuk menampung muatan dari petikemas. Baik didermaga petikemas
maupun dermaga konvensional, selain tersedia jalan biasa juga dilengkapi
dengan rel-rel untuk memungkinkan kereta api bisa masuk. Karena
bongkar muat di pelabuhan petikemas menggunakan peralatan-peralatan
besar, maka di pelabuhan petikemas tidak banyak membutuhkan tenaga
manusia.
c. Dermaga khusus, selain kapal petikemas dan general cargo, ada juga
kapal-kapal dengan muatan khusus, seperti kapal ferry dan Ro-Ro.
Biasanya untuk kapal-kapal ini disediakan dermaga khusus. Kapal-kapal
pengangkut minyak atau tanker juga disediakan tempat khusus untuk
aktivitasnya, terpisah dari kapal-kapal lainnya karena tanker biasanya
mengangkut bahan bakar yang bisa membahayakan kapal-kapal lainnya.
d. Perairan, bongkar/muat dapat juga dilakukan di perairan. Disini
muatan diangkut dari dan ke kapal menggunakan tongkang. Kapal
melakukan lego jangkar, diikat di pelampung atau pada tonggak pengikat
(dolphin). Kegiatan bongkar muat ini dinamakan midstream activities.
Namun apabila pengangkutannya lebih mudah menggunakan angkutan
darat, agar kegiatannya bisa dilakukan lebih cepat, maka bongkar
muatnya dilakukan di dermaga.

Gambar 2.1
Batu bara yang telah dimuat kedalam tongkang

2.4 Penambangan Batu Bara


Penambangan batu bara adalah penambangan batu bara dari
bumi. Batu bara digunakan sebagai bahan bakar. Batu bara juga
dapat digunakan untuk membuat coke untuk pembuatan baja,
Tambang batu bara tertua terletak di Tower Colliery di Inggris,
Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh
tekanan, panas dan waktu, batu bara umumnya dibagi dalam lima
kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.kelas batu
bara dapat dibagi menjadi, Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi,
dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, mengandung antara
86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%,
Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air

8-10% dari beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang
di Australia, Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak
air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien
dibandingkan dengan bituminous, Lignit atau batu bara coklat adalah
batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari
beratnya, Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta
nilai kalori yang paling rendah, Proses pembentukan batu bara adalah
perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batu bara
disebut dengan istilah pembatu baraan (coalification). Secara ringkas
ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni, Tahap Diagenetik atau
Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit
terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini
adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat
menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi
material organik serta membentuk gambut, Tahap Malihan atau
Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan
akhirnya antrasit, Batu bara di Indonesia, Di Indonesia, endapan batu
bara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang
terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera
dan Kalimantan), pada umumnya endapan batu bara ekonomis
tersebut dapat dikelompokkan sebagai batu bara berumur Eosen atau
sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen
atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut
Skala waktu geologi, Batu bara ini terbentuk dari endapan gambut
pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip dengan kondisi kini.
Beberapa diantaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk di atas
muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan
kata lain, kubah gambut ini terbentuk pada kondisi di mana mineralmineral anorganik yang terbawa air dapat masuk ke dalam sistem dan
membentuk lapisan batu bara yang berkadar abu dan sulfur rendah
dan menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batu

bara Miosen. Sebaliknya, endapan batu bara Eosen umumnya lebih


tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur endapan batu bara
ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta,
mirip dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di
daerah timur Sumatera dan sebagian besar Kalimantan, Endapan
batu bara terbentuk pada tatanan tektonik ekstensional yang dimulai
sekitar Tersier Bawah atau Paleogen pada cekungan-cekungan
sedimen di Sumatera dan Kalimantan, Ekstensi berumur Eosen ini
terjadi sepanjang tepian Paparan Sunda, dari sebelah barat Sulawesi,
Kalimantan bagian timur, Laut Jawa hingga Sumatera. Dari batuan
sedimen yang pernah ditemukan dapat diketahui bahwa pengendapan
berlangsung mulai terjadi pada Eosen Tengah. Pemekaran Tersier
Bawah yang terjadi pada Paparan Sunda ini ditafsirkan berada pada
tatanan busur dalam, yang disebabkan terutama oleh gerak
penunjaman Lempeng Indo-Australia, Lingkungan pengendapan
mula-mula pada saat Paleogen itu non-marin, terutama fluviatil, kipas
aluvial dan endapan danau yang dangkal, Di Kalimantan bagian
tenggara, pengendapan batu bara terjadi sekitar Eosen Tengah - Atas
namun di Sumatera umurnya lebih muda, yakni Eosen Atas hingga
Oligosen Bawah. Di Sumatera bagian tengah, endapan fluvial yang
terjadi pada fase awal kemudian ditutupi oleh endapan danau (nonmarin).Berbeda dengan yang terjadi di Kalimantan bagian tenggara di
mana endapan fluvial kemudian ditutupi oleh lapisan batu bara yang
terjadi pada dataran pantai yang kemudian ditutupi di atasnya secara
transgresif oleh sedimen marin berumur Eosen Atas, Endapan batu
bara Eosen yang telah umum dikenal terjadi pada cekungan berikut:
Pasir dan Asam-asam (Kalimantan Selatan dan Timur), Barito
(Kalimantan Selatan), Kutai Atas (Kalimantan Tengah dan Timur),
Melawi dan Ketungau (Kalimantan Barat), Tarakan (Kalimantan
Timur), Ombilin (Sumatera Barat) dan Sumatera Tengah (Riau),

Dibawah ini adalah kualitas rata-rata dari beberapa endapan batu


bara Eosen di Indonesia

2.5 Floating crane


Floating Crane merupakan alat untuk mengangkut muatan, Yang
mana floating crane tidak mempunyai mesin induk dan alat kemudi
melainkan pergerakannya di atur oleh Tugboat. Floating crane juga
mampu mengangkat muatan berat sehingga dengan menggunakan
floating crane suatu muatan dapat dengan mudah diangkat, atau di
pindahkan ke mother vessel, Floating crane juga dapat disebut
sebagai kapal terapung yang mempunyai crane untuk mengangkut
muatan

berupa batu bara dari tongkang kemudian diproses dan

diteruskan masuk kedalam palka mother vessel. salah satu contoh


yaitu floating crane parameswara floating crane parameswara ini
berbeda dengan kapal floating yang lain dikarenakan pengoperasian
pemuatannya / pengoperasian pemuatannya (Loading operation)
menggunakan sistem ban berjalan / Conveyor belt sedangkan jenis
floating crane yang lain pengoperasian bermacam macam sesuai
dengan jenisnya, Pemuatan Batu bara dengan menggunakan floating
crane ini

sering

juga

di

sebut dengan

istilah Transhipmen.

Transhipment merupakan suatu proses bongkar muat

dimana

sebagian atau seluruh barang yang diangkut dari tempat asal tidak
langsung dikirim ke tempat tujuan tetapi melalui tempat transit
(transshipment),

Menggunakan

floating

crane

dalam

suatu

transhipmen batu bara terdapat beberapa keuntungan bagi pemilik


barang ( Shipper ) antara lain, Dapat menghemat waktu pemuatan,
Tidak semua jenis kapal besar dapat masuk dalam suatu kawasan
pelabuhan dikarenakan pengaruh pelabuhan muat cukup sempit oleh
kapal yang bermuatan besar dan Draft kapal juga berpengaruh,

Hanya ukuran kapal tertentu yang dapat dimuat seperti capzise atau
panamax, Quantity yang di muat lebih banyak,

Mengurangi

penanganan muatan ganda (doble handling), Mengurangi polusi.


.

Gambar 2.2
Pembongkaran batu bara menggunakan Floating Crane