You are on page 1of 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Pada zaman sekarang baik individu maupun organisasi masih banyak yang belum
mampu untuk menerapkan managemen yang baik. Dalam sebuah managemen yang baik
harus memiliki empat fungsi penting dari Planning (perencanaan), Organizing (penempatan),
Actuating (pengarahan/penggerakan), dan Controlling (pengendalian). Salah satu fungsi
tidak berjalan dengan baik dapat mempengaruhi segala aspek managemen.
Banyak individu maupun organisasi yang tidak dapat melakukan pengarahan organisasi
dengan baik. Pengarahan dalam memotivasi tiap anggotanya dan berkomunikasi antar
anggota maupun mengatasi masalah yang ada di dalam organisasi. Pengetahuan tentang
actuating (penggerakan/pengarahan) dikalangan para remaja zaman sekarang harus
ditingkatkan. Pengetahuan tentang actuating pun penting untuk diketahui dan dipelajari.
Dengan dibuatnya makalah ini, diharapkan akan lebih meningkatkan pengetahuan kita
mengenai penjelasan tentang Actuating .
1.2.Rumusan Masalah
a.

Apa definisi dari actuating (pengarahan) ?

b.

Sebutkan fungsi dan perananactuating (pengarahan) ?

c.

Bagaimanakah cara mengaplikasikan actuating (pengarahan) ?

d.

Apa saja faktor yang dapat mempengaruhi actuating (pengarahan) ?

e.

Apa pentingnya actuating (pengarahan) dalam organisai ?

1.3.Tujuan dan manfaat


a.

Mengetahui definisi actuating (pengarahan)

b.

Mengetahui funsi dan peranan actuating (pengarahan)

c.

Mengetahui cara mengaplikasikan actuating (pengarahan)

d.

Mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi actuating (pengarahan)

e.

Mengetahui pentingnya actuating (pengarahan) dalam organisasi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Definisi Actuating (pengarahan)
Actuating (pengarahan) adalah fungsi managemen yang berhubungan dengan kegiatan
mengarahkan semua karyawan agar mau bekerjasama dan bekerja efektif secara efisien, agar
terwujudnya tujuan dari perusahaan, karyawan bahkan masyarakat.Dengan kata lain actuating
adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan berpedoman pada
perencanaan (planning) dan usaha pengorganisasian.(organizing).
Actuating merupakan fungsi yang paling fundamental dalam manajemen, karena
merupakan pengupayaan berbagai jenis tindakan itu sendiri, agar semua anggota kelompok
mulai dari tingkat teratas sampai tingkat terbawah, berusaha mencapai sasaran organisasi
sesuai rencana yang telah ditetapkan semula, dengan cara terbaik dan benar. Memang diakui
bahwa usaha-usaha perencanaan dan pengorganisasian bersifat vital, tetapi tidak akan ada
output konkrit yang akan dihasilkan sampai kita mengimplementasi aktivitas-aktivitas yang
diusahakan dan yang diorganisasikan. Oleh karena itu diperlukan tindakan penggerakan,
pengarahan (actuating) atau usaha untuk menimbulkan action (tindakan).
Actuating adalah kegiatan yang dilakukan oleh pimpinan untuk mengarahkan,
menggerakan, membimbing, mengatur segala kegiatan yang telah diberi tugas dalam
melaksanakan suatu kegiatan usaha.Pengarahan ini dapat dilakukan secara persuasif
(bujukan) dan instrufi.tergantung cara mana yang paling efektif.Pengarahan disebut efektif, jika
dipersiapkan dan dikerjakan dengan baik serta benar olehkaryawan yang ditugasi untuk itu.
George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha
menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan
berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan
tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.

Dari pengertian di atas, pelaksanaan actuating tidak lain merupakan upaya untuk
menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan
pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai
dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya.
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanaan actuating ini adalah bahwa
seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika :

Merasa yakin akan mampu mengerjakan,

Yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya,

Tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting,atau

mendesak,

Tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan

Hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.

2.2. Fungsi dan peranan Actuating (pengarahan) dalam organisasi


Pelaksanaan pekerjaan dan pemanfaatan alat-alat bagaimanapun canggihnya atau
handalnya, baru dapat dilakukan jika karyawan ikut berperan aktif melaksanakannya.Fungsi
pengarahan ini adalah ibarat kunci stater mobil, artinya mobil baru dapat berjalan jika kunci
staternya telah melaksanakan fungsinya.Demikian juga proses manajemen baru terlaksana
setelah fungsi pengarahan diterapkan.
Definisi fungsi pengarahan ini dikemukan para penulis sebagai berikut :
George R Terry
Pengarahan adalah membuat semua anggota kelompok, agar mau bekrjasama dan
bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan
usaha pengorganisasian.
Koonz dan ODonnel
Pengarahan adalah hubungan antara aspek-aspek individual yang ditimbulkan oleh

adanya peraturan terhadap bawahan-bawahan untuk dapat dipahami dan pembagian


pekerjaan yang efektif untuk tujuan perusahaan yang nyata.
Fungsi Actuating merupakan usaha untuk menciptakan kerjasama diantara staf
pelaksana program sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.Fungsi
actuating haruslah dimulai dari diri manager dengan menunjukkan kepada staf bahwa dia
memiliki tekat untuk mencapai kemajuan dan peka terhadap lingkungannya.Ia harus
memiliki kemampuan kerjasama, harus bersikap obyektif.
Berikut ini adalah beberapa elemen pengarahan dalam manajemen :
1.

COORDINATING
Koordinasi adalah fungsi yang harus dilakukan oleh seorang manajer agar terdapat
suatu komunikasi atau kesesuaian dari berbagai kepentingan dan perbedaan kepentingan
sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai .

2.

MOTIVATING
Memberi motivasi kepada karyawan merupakan salah satu elemen penting dalam
manajemen perusahaan, dengan memberikan fasilitas yang bagus dan gaji yang cukup maka
kinerja para karyawan dalam perusahaan pun akan optimal.

3.

COMMUNICATION
Komunikasi antara para pimpinan dan karyawan sangat diperlukan untuk mencapai
tujuan perusahaan. Dengan menjalin komunikasi yang baik maka akan menimbulkan suasana
kerja yang kondusif di perusahaan dan akan menumbuhkan kerjasama (teamwork) yang baik
dalam berbagai kegiatan perusahaan.

4.

COMMANDING
Dalam memberi perintah pun seorang atasan tidak bisa seenaknya, tetapi harus
memperhitungkan langkah langkah dan resiko dari setiap langkah yang para atasan itu

ambil karena setiap keputusan dan langkah akan memberi pengaruh bagi perusahaan.
Penggerakan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan
menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap
karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan
tanggung jawabnya.
Dengan pengarahan yang baik dari para atasan dan tujuan , visi dan misi yang jelas dari
suatu manajer perusahaan dapat menimbulkan efek yang positif untuk perusahaan itu sendiri,
antara lain team work yang baik dan dapat memunculkan decision maker yang bagus. Karena
decision maker dan teamwork dalam suatu perusahaan adalah kunci kesuksesan suatu
perusahaan untuk mencapai goal atau tujuan perusahaan seefektif dan seefisien mungkin.
Fungsi pundamental ketiga dari fungsi manajerial adalah menggerakan orang untuk
melaksanakan aktifitas organisasi sesuai dengan tujuan yang diharapkan.Menggerakan jelas
membutuhkan adanya kematangan pribadi dan pemahaman terhadap karakter manusia yang
memiliki kecenderungan berbeda dan dinamis, sehingga membutuhkan adanya sinkronisasi.
Sehingga bisa dikatakan fungsi actuating jauh lebih rumit oleh karena harus berhadapan
langsung sehingga fungsi leadershif begitu kentara sekali dibutuhkan sekalipun semuanya
melalui proses planning dan pengorganisasian terlebih dulu.
Premis yang begitu fenomenal diungkapkan Doghlas McGregor bahwa seorang
karyawan selalu diasumsikan negatif dan positif :
1.

Teori X yang menganggap :


Kebanyakan karyawan yang bekerja pada suatu perusahaan bekerja sesedikit mungkin dan
mereka umumnya menentang perubahan, Kebanyakan karyawan harus dibujuk.dipersuasi,
diberikan penghargaan, diuhkum dan diawasi untuk mengubah kelakuan mereka agar sesuai
dengan kebutuhan-kebutuhan organisasi. Kebanyakan karyawan ingin diberikan pengarahan
oleh seorang menejer formal dan dimana ada kesempatan mereka berusaha untuk
menghindari tanggungjawab

2.

Teori Y menyatakan :
Kebanyakan karyawan memiliki kapasitas untuk menerima tanggungjawab dan potensi untuk
pengembangan tetapi manajemen melalui tindakan-tindakannya harus membuat mereka
sadar tentang sifat-sifat tersebut. Kebanyakan karyawan ingin memenuhi kebutuhankebutuhan sosial, kebutuhan akan pengahrgaan dan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri
sendiri
Tujuan fungsi actuating ( penggerakan ) adalah :

Menciptakan kerjasama yang lebih efisien

Mengembangkan kemampuan dan keterampilan staf

Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan

Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang dapat meningkatkan motivasi dan

prestasi kerja staf


Membuat organisasi berkembang lebih dinamis
2.3. Cara mengaplikasikan actuating (pengarahan)
Pada umumnya, pimpinan menginginkan pengarahan kepada bawahan dengan maksud
agar mereka bersedia bekerja dengan sebaik mungkin, dan diharapkan tidak menyimpang
dari prinsip-prinsip di muka. Adapun cara-ara pengarahan yang dilakukan dapat berupa:
1.

Orientasi merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu agar
supaya kegiatan dapat dilakukan dengan baik. Biasanya, orientasi ini diberikan kepada
pegawai baru dengan tujuan untuk mengadakan pengenalan dan memberikan pengerian atas
berbagai masalah yang dihadapinya. Pegawai lama yang pernah menjalani masa orientasi
tidak selalu ingat atau paham tentang masalah-masalah yang pernah dihadapinya. Suatu
ketika mereka bisa lupa, lalai, atau sebab-sebab lain yang membuat mereka kurang mengerti
lagi. Dengan demikian orientasi ini perlu diberikan kepada pegawai-pegawai lama agar
mereka tetap memahami akan perananya. Informasi yang diberikan dalam orientasi dapat
berupa diantara lain, :

a.

Tugas itu sendiri

b.

Tugas lain yang ada hubungannya

c.

Ruang lingkup tugas

d.

Tujuan dari tugas

e.

Delegasi wewenang

f.

Cara melaporkan dan cara mengukur prestasi kerja

g.

Hubungan antara masing-masing tenaga kerja, Dst.

h.

Perintah

Perintah merupakan permintaan dari pimpinan kepada orang-orang yang berada


dibawahnya untuk melakukan atau mengulang suatu kegiatan tertentu pada keadaan
tertentu.Jadi, perintah itu berasal dari atasan, dan ditujukan kepada para bawahan atau dapat
dikatakan bahwa arus perintah ini mengalir dari atas ke bawah. Perintah tidak dapat
diberikan kepada orang lain yang memiliki kedudukan sejajar atau orang lain yang berada di
bagian lain. Adapun perintah yang dapat berupa :
Perintah umum dan khusus
Penggunaan perintah ini sangat bergantung pada preferensi manajer, kemampuan untuk
meramalkan keadaan serta tanggapan yang diberikan oleh bawahan.Perintah umum memiliki
sifat yang luas, serta perintah khusus bersifat lebih mendetail.
Perintah lisan dan tertulis
Kemampuan bawahan untuk menerima perintah sangata mempengaruhi apakan
perintah harus diberikan secara tertulis atau lisan saja.Perintah tertulis memberikan
kemungkinan waktu yang lebih lama untuk memahaminya, sehingga dapat menghindari
adanya salah tafsir. Sebaliknya, perintah lisan akan lebih cepat diberikan walaupun

mengandung resiko lebih besar. Biasanya perintah lisan ini hanya diberikan untuk tugastugas yang relatif mudah.
Perintah formal dan informal
Perintah formal merupakan perintah yang diberikan kepada bawahan sesuai dengan
tugas/aktivitas yang telah ditetapkan dalam organisasi.Sedangkan perintah informal lebih
banyak mengandung saran atau dapat pula berupa bujukan dan ajakan.
Contoh perintah informal antara lain dapat berupa kata-kata:
apakah tidak lebih baik bilamana saudara menggunakan cara lain.
marilah kita mulai mengerjakan pekerjaan ini lebih dulu, dan sebagainya.
Perintah formal yang banyak dipakai dibidang militer bersifat kurang fleksibel
dibandingkan dengan perintah informal.
2.4.Faktor yang dapat mempengaruhi actuating (pengarahan)
1.

Faktor faktor penghambat fungsi penggerakan


Kegagalan manajer dalam menumbuhkan motivasi stafnya, hal ini terjadi karena
manajer kurang memahami hakekat perilaku dan hubungan antar manusia. Seperti konsep
perilaku manusia yang dikemukakan oleh Maslow, dinegara berkembang yang menjadi
prioritas adalah kebutuhan fisik, rasa aman, dan diterima oleh lingkungan sedangkan
dinegara maju kebutuhan yang menonjol adalah aktualisasi diri dan self esteem. Perbedaan
tersebut juga akan mempengaruhi etos kerja dan produktifitas kerja.

2.

Faktor faktor pendukung fungsi penggerakan


Faktor-faktor yang diperlukan dalam penggerakan diantaranya :
a.

Kepemimpinan (Leadership)

Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar berusaha


dengan ikhlas untuk mencapai tujuan bersama. Seorang manajer yang tidak memiliki
kepemimpinan tidak akan mampu untuk mempengaruhi bawahannya untuk bekerja, sehingga
manajer yang demikian akan gagal dalam usahanya. Sifat-sifat kepemimpinan menurut
Harold koontz, diantaranya sebagai berikut :
(a). Memiliki kecerdasan orang-orang yang dipimpin
(b). Mempunyai perhatian terhadap kepentingan yang menyeluruh
(c). Memiliki kelancaran dalam berbicara
(d). Matang dalam berpikir dan emosi
(e). Memiliki dorongan yang kuat dari dalam untuk memimpin
(f). Memahami/menghayati kepentingan kerja sama.
b.

Sikap dan Moril (Attitude and Morale)

Sikap ialah suatu cara memandang hidup, suatu cara berpikir, berperasaan dan
bertindak. Oleh karena itu sikap manajer akan berbeda-beda sesuai dengan pola hidupnya.
Beberpa sikap manajer diantaranya yaitu :
(a). Sikap feudal (feudal attitude)
Manajer yang mempunyai sikap cara berpikir, berperasaan dan bertindak sesuai dengan
pola-pola kehidupan feodalisme, yaitu suka terikat oleh aturan-aturan tertentu yang telah
teradat dan selalu ingin penghormatan yang serba lebih. Dengan demikian dalam masyarakat
feudal dimana sikap anggota masyarakat sesuai dengan pola hidup feodalisme akan sukar
lahir kepemimpinan demokratis dariad para manajer, mengingat manajer tersebut hidup dari
masyarakat feudal.
(b). Sikap Kediktatoran (Dictatorial attitude).

Manajer yang bersikap kediktatoran akan berpikir berperasaan dan bertindak sebagai
dictator yang mempunyai kekuasaan mutlak, sehingga bawahan, pekerja akan menjadi
sasaran daripada kekuasaannya.
c.

Tatahubungan (Communication)

Komunikasi membantu perencanaan managerial dilaksanakan dengan efektif,


pengorganisasian managerial dilakukan dengan effektif, penggerakan managerial diikuti
dengan efektif dan pengawasan diterapkan dengan efektif. Dalam melakukan komunikasi
dalam manajemen ada beberapa macam diantaranya :
a)

Komunikasi intern
yaitu komunikasi yang dilakukan dalam organisasi itu sendiri baik antara atasan
dengan atasan atau bawahan dengan bawahan atau antara atasan dengan bawahan atau
sebaliknya.

b)

Komunikasi Ekstern
yaitu komunikasi yang dilakukan keluar organisasi.

c)

Komunikasi Horizontal
yaitu komunikasi yang dilakukan baik intern maupun ekstern antar jabatan yang sama.

d)

Komunikasi Vertikal
yaitu komunikasi yang dilakukan dalam intern organisasi antara atasan dan bawahan
atau sebaliknya dalam suasana formil.

d.

Perangsang (Incentive)

insentif ialah sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan seseorang bertindak.

e.

Supervisi (Supervision)

Supervisi dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan pengawasan, sehingga suka
timbul kekacauan pengertian dengan kata pengawasan sebagai terjemah dari kata control.
Menurut Terry Supervsi ialah kegiatan pengurusan dalam tingkatan organisasi dimana
anggota manajemen dan bukan anggota manajemen saling berhubungan secara
langsung.Dengan demkian tugas supervisor cukup berat karena ia harus dapat menemukan
kesalahan-kesalahan dan memperbaikinya, serta memberi petunjuk untuk menyelesaikan
sesuatu pekerjaan dan memberi nasehat-nasehat kepada pegawai yang mengalami kesulitan.
f.

Disiplin (Discipline)
Disiplin ialah latihan pikiran, perasaan, kehendak dan watak untuk melahirkan ketaatan

dan tingkah laku yang teratur. Jenis disiplin ada dua :


1.

Self Imposed discipline (disiplin yang timbul dengan sendirinya).

2.

Command Discipline (Disiplin berdasarkan perintah).


Hal - hal yang perlu diperhatikan manajer dalam fungsi penggerakan :

1.

Manajer harus bekerja lebih produktif


Manajer perlu memahami ilmu psikologi, komunikasi, kepemimpinan dan sosiologi
Manajer harus mempunyai tekat untuk mencapai kemajuan dan peka terhadap
lingkungan
Manajer harus bersikap obyektif

2.5.Pentingnya actuating (pengarahan) dalam organisasi


Fungsi actuating lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan
orang-orang dalam organisasi.Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti
bila tidak diikuti dengan penggerakan seluruh potensi sumber daya manusia dan nonmanusia
pada pelaksanaan tugas.Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk

mencapai visi, misi dan program kerja organisasi. Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan
tugas, fungsi dan peran, keahlian dan kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi,
misi dan program kerja organisasi yang telah ditetapkan.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Actuating adalah suatu usaha menggerakkan seluruh orang yang terkait dalam suatu
organisasi, untuk secara bersama-sama melaksanakan program kegiatan sesuai dengan
bidang masing-masing dengan cara yang terbaik dan benar. Fungsi dan peranan actuating
yakni pertama, melakukan pengarahan (commanding), bimbingan (directing) dan komunikasi
(communication); kedua, upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan
melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian.Pengaplikasian actuating dalam organisasi
adalah pengarahan dan pemotivasian seluruh personil pada setiap kegiatan organisasi di
wilayah kerjanya untuk selalu dapat meningkatkan kualitas kinerjanya.
Fungsi actuating lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan
orang-orang dalam organisasi.Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti
bila tidak diikuti dengan penggerakan seluruh potensi sumber daya manusia dan nonmanusia
pada pelaksanaan tugas.
Fungsi penggerakan dan pelaksanaan (Aktuasi) merupakan usaha untuk menciptakan
iklim kerja sama di antara staf pelaksana program sehingga tujuan organisasi dapat tercapai
secara efektif dan efisien.

v Tujuan fungsi aktuasi, adalah:


1.

Menciptakan kerja sama yang lebih efisien

2.

Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan staf

3.

Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan

4.

Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang meningkatkan motivasi dan prestasi kerja
staf

5.

Membuat organisasi berkembang secara dinamis


v Prinsip-prinsip dalam penggerakan staf suatu organisasi, yaitu :

1.

Efisien

2.

Komunikasi

3.

Jawaban terhadap pertanyaan 5w + 1H 4.

Daftar Pustaka
http://ratnairmanurakbar.blogspot.co.id/2014/05/pengarahan-actuating.html

2.4 Manajemen Konflik


Organisasi merupakan tempat manusia berinteraksi yang mempunyai kemungkinan
terjadinya suatu kofllik. Konflik daapt diartikan sebagai suatu bentuk perselisian antara
sikap bermusuhan atau kelompok penentang ide-ide (Gillies, 1994).
Dahulu konflik dianggap sebagai sesuatu yang berbau negative sehingga cara
mengelolahnya pun bermula dan yang sederhana, seperti dan membiarkan saja sampai yang
bersifat ekstrem, yaitu berusaha menghilangkan sampai ke akar-akarnya ( Gilles, 1994 ).

Konflik adalah sebuah kemutlakan atau keharusan sehingga seseorang pemimpin


harus belajar secara efektif dalam memfasilitasi penyelesaian konflik ysng terjsdi di antara
anggotanya.
A.

Pengertian konflik
Deutsch (1969) dalam La Monika (1986), Mendefinisikan konflik sebagai suatu

perselisihan atau perjuangan yang timbul akibat trejadinya ancaman keseimbangan antara
perasaan, pikiran, hasrat, dan perilaku seseorang . Douglass dan Bevis (1979) mengartikan
konflik sebagai suatu bentuk perjuangan diantara kekuatan interdependen.
Dan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Deutsch konflik terjadi akibat adanya
pertentangan pada situasi keseimbangan yang terjadi pada diri individu ataupun pada tatanan
yang lebih luas, seperti, antara individu, antar kelompok, atau bahkan antar masyarakat.
B.

Penyebab Konflik
Banyak faktor yang bertanggung jawab terhadap terjadinya konflik terutama dalam

suatu organisasi. Faktor-faktor tersebut dapat berupa perilaku yang menentang, stress,
kondisi ruangan, kewenagan dokter perawat, keyakinan, eksklusifisme, kekaburan tugas,
kekurangan sumber daya, proses perubahan imbalan, dan masalah komunikasih. Terdapat
tiga macam perilaku menentang, yaitu competitive bomber yang dicirikan dengan perilaku
mudah menolak, menggerutudan menggumam, mudah untuk tidak masuk kerja, dan merusak
secara agresif yang disengaja. Tipe perilaku menentang kedua adalah Martyred
Acomodation, yang ditunjukkan dengan penggunaan kepatuha semua atau palsu dan
kemampuan bekerja sama dengan orang lain, namun smbil melakukan ejekan dan hinaan.
Tipe perilaku yang menentang ke tiga adalah Avoider, yang ditunjukkkan dengan
penghindaran kesepakatan yang telah dibuat dan menolak untuk berpartisipasi. Stres juga
dapat mengakibatkan terjadinya konflik dalam suatu organisasi. Kewenangan Dokter perawat
yang berlebihan dan tidak saling mengindalikan usulan-usulan diantara mereka, juga dapat
mengakibatkan munculnya konflik.
Penyebab lain terjadinya konflik dapat diakibatkan oleh adanya perbedaan nilai atau

keyakinan antara satu orang dengan orang lain. Peran ganda yang disandang seseorang
perawat dalam bangsal keperawatan seringkali mengakibatkan konflik. kekurangan sumber
daya insani dalam tatana organisasi dapat dianggap sumber absolute terjadinya konflik.
Beberapa ahli berpendapat bahwa imbalan kadang tidak cukup berpengaruh dengan motivasi
seseorang.
Faktor terakhir yang ikut adil dalm memunculkan suatu konflik adalah komunikasi
C.

Proses konflik
La Monica (1986) mengutif pendapatnya Filley (1980) membagi proses konflik

dalam 6 tahapan, yaitu kondisi yang mendahului, konflik yang dipersepsi, konflik yang
dirasakan, perilaku yang dinyatakan, penyelesaian atau penekanan konflik, dan penyelesain
akibata konflik. Kondisi yang mendahului merupakan penyebab terjadinya konflik seperti
yang sudah didiskusikan sebelumnya. Tahap terakhir dari proses konflik adalah upaya
penyelesaian akibat dari konflik.
D.

Penyelesaian Konflik
Beberapa strategi dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik, seperti penggunaan

disiplin, pertimbangan tahap kehidupan, komunikasi, lingkaran kualitas, dan latihan


kearsetifan.
1.

Penggunaan Disiplin
Dalam menggunakan disiplin untuk mengelola atau mencegah terjadinya konflik,

seorang manajer perawat mengetahui dan memahami peraturan dan ketetapan organisasi
yang berlaku.
2.

Pertimbangan Tahap Kehidupan


Konflik juga dapat disesaikan melalui pemberian dukungan pada anggota untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam tahap perkembangan kehidupan. Ada tiga tahap
perkembangan, Yaitu Tahap dewasa muda, Setengah baya, dan setelah umur 55 tahun.

Masing- masing tahap perkembang tersebut memiliki karakter yang berbeda.


3.

Komunikasi
Komunikasih yang merupakan bagian mendasar manusia dapat dimanfaatkan dalam

penyelesaian konflik, Komunikasi merupakan suatu seni yang penting digunakan untuk
memelihara suatu lingkungan kondusif-terapeutik.
4.

Lingkaran Kualitas
Cara lain yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya konflik adalah lingkaran

kualitas. Lingkaran kualitas ini dapat digunakan melalui kegiatan manajemen pertisipasi,
keanggotaan dalam panitia, program pengembangan kepemimpinan, latihan-latihan kelas,
penjejangan karier, perluasan kerja, dan rotasi kerja.
5.

Latihan Kearsetifan
Seorang manajer dapat juga melatihi setafnya dalam hal keasertifan untuk mencegah

atau mengelola konflik


E. Strategi dan Keterampilan Manajemen Konflik
Beberapa stategi dapat dipakai untuk menyelesaikan terjadinya konflik. Strategi
tersebut adalah Menghindar, akomodasi, kompetisi, kompromi dan kerjasama.
Bentuk keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk mengelola konflik pada
umumnya berupa kegiatan pencegahan. Keterampilan tersebut berkisar pada kegiatan
tersebut.

Membuat aturan atau pedoman yang jelas dan harus diketahui oleh semua pihak

Menciptakan suasana yang mendukung dengan banyak pilihan.

Mengungkapkan bahwa mereka dihargai. Pujian dan penegasan tentang nilai-nilai adalah
penting untuk setiap orang dalam bekerja

Menekankan pemecahan masalali secara damai, dan mwmbngun suatu jembatan pengertian

Menghadapi konflik dengan tenag dan memberikan pendidkan tentang perilaku

Memainkan peran yang tidak menimbulkan sters dan konflik

Mempertimbangkan waktu terbaik untuk semuanya, dan jangan menunda waktu yang tidak
menentu

Memfokuskan pada masalah dan bukan pada kepribadian

Mempertahankan komunikasi dan arah

Menekankan pada kesamaan kepentingan

Menghindari penolakan berlebihan

Mengetahui hambatan untuk kerjasama

Membedakan perilaku yang menentang dengan perilaku normal dalam kesalahan kerja

Menguatkan dalam menghadapi orang yang marah

Menetapkan siapa yang memiliki masalah

Menetapkan kebutuhan yang terlalaikan

Membangun kepercayaan dengan mendengarkan dan mengklarifikasi

Merundingkan kembali prosedur pemecahan masalah


http://rickyano.blogspot.co.id/2011/03/kuliah-manajemen-dan-kepemimpinan-dalam.html
Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya
titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif.

Istilah Asertif dewasa ini sudah sangat populer mengiang ditelinga kita, terlebih-lebih
istilah itu sering digunakan sebagai materi Assertiveness and social Skills training bagi para
karyawan perusahaan untuk meningkatkan profesionalisme kerja. Banyak Pakar memberikan
definisi yang berbeda tapi sama (satu makna) tentang asertif, berikut diantaranya :
Asertif adalah sikap di mana seseorang mampu bertindak sesuai dengan
keinginannya, membela haknya dan tidak dimanfaatkan oleh orang lain. Selain itu,
bersikap asertif juga berarti mengkomunikasikan apa yang kita inginkan secara jelas
dengan menghormati tanpa menyakiti orang lain.
Sikap asertif adalah kemampuan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, perasaan,
dan kepentingan secara langsung kepada siapapun. Namun sikap asertif ini jangan
disamakan dengan sikap agresif. Sikap asertif bersifat jujur, obyektif, tidak dipengaruhi
oleh judgement, atau hal-hal yang bersifat emosionil.
Asertif merupakan ungkapan perasaan, pendapat, dan kebutuhan kita secara jujur,
wajar dan tidak dibuat-buat.
Asertif adalah sarana untuk menjadikan hubungan kita lebih setara dan menghindari
perasaan direndahkan yang kerap kali datang bilamana gagal mengekspresikan apa yang
sungguh-sungguh kita dambakan.
Asertif adalah Cara Efektif dalam mengekpresikan diri, mempertahankan harga diri,
dan menunjukan rasa hormat kepada orang lain.
Asertif adalah kemampuan mengekspresikan hak, pikiran, perasaan, dan kepercayaan
secara langsung, jujur, terhormat, dan tidak mengganggu hak orang lain. Jadi, berani
untuk secara jujur dan terbuka menyatakan kebutuhan, perasaan, dan pikiran dengan apa
adanya
Asertif adalah membina hubungan tanpa melakukan penolakan terhadap diri sendiri
maupun terhadap orang lain.
Asertif artinya menyadari bahwa andalah penentu perilaku anda sendiri dan anda
dapat memutuskan apa yang anda lakukan atau tidak. Kita juga menyadari kondisi yang
sama yang dihadapi orang lain dan tidak berusaha mengendalikan mereka.
Asertif adalah cara kita mengekspresikan pikiran atau perasaan kita kepada orang
lain tanpa bermaksud melukainya.

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa asertif adalah sikap positif bukan sikap
negatif, asertif bukan agresif yang selalu merugikan orang lain, asertif bukan perilaku
permisif/pasif yang selalu merugikan diri sendiri, bahkan menurut penelitian di Amerika,
dikatakan bahwa perilaku agresif dan permisif/pasif adalah animal behavior sedangkan
asertif adalah human behavior. Jelaslah bahwa dengan Bersikap Asertif, kita akan mampu
mempertahankan kredibiltas dan eksistensi diri sebagai pribadi yang berguna bagi
lingkungannya. Sedangkan non asertif adalah sikap yang pasif dan tidak langsung. Sikap ini
membiarkan orang lain mempengaruhi hak-hak kita dan bersikap tidak hormat terhadap
kebutuhan kita. Memecahkan masalah secara lose-win solution.
Asertif mungkin dapat dipahami dengan baik bila membandingkan asertif dengan dua gaya
dalam merespon suatu situasi, yaitu: pasif atau tidak peduli dan agresif atau menyerang.
Teknik-Teknik Bertindak Asertif
Terdapat beberapa teknik komunikasi atau strategi yang berguna dalam menanggapi situasi
yang cenderung menjadi konflik.
Memberikan Umpan Balik
Membiarkan orang lain tahu bagaimana Anda merespon perilaku mereka dapat membantu
menghindari kesalah pahaman dan membantu menyelesaikan konflik yang tidak dapat
dihindari dalam suatu hubungan. Bagaimanapun, memberikan umpan balik yang jujur ketika
Anda mendapat reaksi negatif karena perilaku orang lain memang sulit dilakukan tanpa
menyakiti perasaan. Sering kali, untuk memperbaiki hubungan Anda dalam jangka panjang,
Anda harus menyatakan bahwa Anda kecewa pada apa yang mereka telah lakukan. Ketika
Anda memilih untuk menyampaikan umpan balik negatif kepada orang lain, gunakan teknik
komunikasi yang tidak berkesan mengancam. Kriteria untuk umpan balik yang bermanfaat
termasuk:
Umpan balik difokuskan pada perilaku seseorang bukan kepribadiannya. Dengan
memfokuskan pada perilaku, Anda mengarahkan umpan balik kepada sesuatu yang dapat
diubah oleh seorang individu.

Umpan balik bersifat deskriptif bukan evaluatif. Menjelaskan apa yang telah
dikatakan atau dilakukan berkesan lebih tidak mengancam dibandingkan dengan
menghakimi mengapa sesuatu dilakukan (yang hanya berdasarkan asumsi Anda).
Umpan balik berfokus pada reaksi Anda sendiri bukan maksud orang lain.
Menyalahkan atau menganggap ada maksud buruk dibalik perilaku orang lain bukan
merupakan umpan balik yang konstruktif. Umpan balik menggunakan kata saya
dengan bentuk kalimat Ketika kamu [lakukan atau katakan]___saya merasa___.
Sebagai contoh, Ketika kamu terlambat datang kerja, saya merasa frustasi dan marah
adalah lebih baik daripada Kamu tidak bertanggungjawab. Kamu tidak peduli pada
pasien yang menunggu dan pekerja lain yang menggantikanmu ketika kau telat.
Umpan balik bersifat spesifik bukan umum.Umpan balik fokus pada perilaku yang
baru saja terjadi dan menghindari mengungkit perilaku di masa lalu. Umpan balik juga
tidak boleh menyamaratakan atau terlalu jauh dari peristiwa spesifik yang telah membuat
Anda kesal (misalnya Kamu selalu melakukan___)
Umpan balik difokuskan pada penyelesaian masalah. Bukan bertujuan untuk
melampiaskan kemarahan. Tujuannya adalah untuk menyelesaikan suatu masalah yang
timbul pada suatu hubungan sehingga hubungan tersebut dapat berkembang lebih baik.
Umpan balik disampaikan secara pribadi.
Meminta Umpan Balik Dari Orang Lain
Seperti telah dijelaskan di atas, kita perlu berlatih memberikan umpan balik dengan cara
yang tepat. Pada saat yang bersamaan, kita juga perlu mengundang umpan balik dari orang
lain untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal kita. Sebagai contoh,
sebagai seorang perawat, Anda harus menilai kepuasan pasien secara rutin dan meminta
umpan balik mengenai pelayanan Anda. Sebagai manajer, Anda harus membiarkan para
pekerja

tahu

bahwa Anda

menerima

saran

dari

mereka

mengenai

bagaimana

mengembangkan operasional di rumah sakit (tempat kerja). Kemampuan Anda untuk


mendengar kritik atau saran tanpa sikap defensif atau marah, mengakui ketika Anda berbuat
kesalahan, dan mendorong orang lain untuk memberikan umpan balik (meskipun hal itu
negatif) akan membuat orang lain jujur saat berkomunikasi dengan Anda. Mereka juga
membantu Anda untuk mengidentifikasi bidang-bidang pada praktek profesional Anda yang

mungkin perlu perbaikan dan membantu meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan
orang lain.
Menentukan Batasan
Bagi sebagian dari kita, menentukan bagaimana kita akan menghabiskan waktu pribadi dan
uang kita adalah sumber frustasi. Kita merasa sulit untuk berkata tidak terhadap
permintaan apapun. Dan akibatnya, kita merasa kewalahan dan, sering, marah kepada orang
lain karena telah mengambil keuntungan dari kita. Bertindak asertif dalam menentukan
batasan berarti Anda mengambil tanggung jawab untuk keputusan yang Anda ambil
mengenai bagaimana menghabiskan sumberdaya pribadi Anda tanpa merasa marah kepada
orang lain yang memohon/mengajukan permintaan tertentu kepada Anda. Bertindak asertif
dengan menentukan batasan tidak berarti bahwa Anda berhenti berkata ya terhadap semua
permintaan. Anda akan tetap membantu orang lain, karena adanya nilai-nilai yang Anda
pegang dan keinginan Anda untuk membantu orang lain ketika mereka membutuhkan
bantuan, meskipun ketika melakukannya Anda mungkin merasa tidak nyaman. Ketika
menghadapi sebuah permintaan, langkah pertama adalah menentukan seberapa jauh Anda
mau memenuhi permintaan tersebut. Jika Anda perlu waktu untuk mengambil keputusan,
menunda keputusan adalah tindakan yang tepat asalkan Anda kembali ke orang tersebut
dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Seringkali respon tidak selalu berarti ya atau
tidak tetapi bisa juga berupa tawaran untuk memenuhi sebagian dari permintaan. Berkata
tidak atau menentukan batasan mungkin sulit jika Anda yakin bahwa orang tersebut
harusnya tahu bahwa Anda memiliki alasan yang tepat untuk berkata tidak. Jika persaan
bersalah menjbak anda, anda mungkin tidak ingin menjelaskan alasan khusus mengenai
keputusan anda. Bagaimanapun, apakah Anda memberikan alasan atau tidak, tidak akan
mengubah fakta bahwa anda memiliki hak untuk membuat keputusan mengenai bagaimana
Anda akan menggunakan waktu dan keuangan pribadi Anda.
Membuat Permintaan
Meminta sesuatu yang anda inginkan dari orang lain secara langsung juga diperlukan pada
hubungan yang sehat. Jika anda berada pada posisi manajemen, menyatakan dengan jelas apa

yang anda harapkan dari orang lain adalah suatu bagian penting untuk mencapai tujuan
organisasi. Pada hubungan yang sederajat, membuat permintaan, termasuk meminta
pertolongan, adalah suatu bagian penting dari komunikasi yang jujur. Kita harus percaya
bahwa orang lain akan dapat merespon permintaan kita secara asertif, termasuk berkata
tidak. Jadi, kita tidak perlu bereaksi berlebihan ketika seseorang menolak permintaan kita
dengan cara yang asertif.
Berlaku Persisten
Salah satu aspek penting dalam perilaku asertif adalah persisten untuk menjamin bahwa hakhak Anda dihargai. Sering ketika kita telah menentukan batasan atau telah berkata tidak,
kemudian orang-orang tersebut akan membujuk untuk mengubah pikiran. Jika kita
mengulangi lagi menyatakan keputusan kita dengan santai, kita telah bertindak asertif tanpa
menjadi agresif dan tanpa menyerah. Respon ini, mengulangi menyatakan keputusan tadi
dengan santai, sering disebut sebagai respon kaset rusak (Smith, 1975). Respon seperti ini
akan menghentikan, bahkan orang yang paling manipulatif, tanpa menimbulkan rasa bersalah
atau meningkatkan konflik.
Membingkai Kembali
Bingkai adalah jalan pintas kognitif yang digunakan orang untuk membuat suatu informasi
yang kompleks menjadi masuk akal (Kaufman et al, 2003). Teknik pembingkaian kembali
(reframing) yang dijelaskan oleh Kaufman dkk termasuk:
Fokus pada membangun komunikasi yang efektif untuk suatu kelompok/set tujuan
yang terbatas.
Menguji validitas/keabsahan perspektif orang lain.
Menentukan

di

mana

kesamaan

pandangan/tujuan.

Mencari

hal-hal

samasamadisetujui dan fokus pada hasil yang diinginkan dengan perspektif

yang
jangka

panjang.
Mengenali kesempatan untuk mencari solusi-solusi yang belum dieksplorasi/
dipikirkan lebih mendalam dan kesempatan-kesempatan yang dapat saling ditawarkan

(trade-off) atau kompromi-kompromi.


Terakhir, mengenali perbedaaan yang tidak bisa dijembatani dan pada saat yang
bersamaan mencari tindakan yang masih bisa diambil untuk mengurangi konflik.
Mengabaikan Provokasi
Konflik interpersonal dapat memunculkan berbagai metode untuk menang dengan cara
menghina atau mengintimidasi orang lain. Sebagai contoh, pasien yang marah atau merasa
putus asa mungkin menyerang dengan serangan personal. Farmasis yang merasa dikritik
secara tidak adil mungkin merespon dengan sikap agresif atau sarkastik. Konflik
interpersonal antara profesional-profesional di bidang kesehatan sering ditandai dengan
perebutan kekuasaan dan otonomi (sering disebut perang kartu kunci/turf battle).
Mengabaikan komentar yang bersifat mencela dari orang lain dan tetap fokus pada
penyelesaian masalah dapat menjaga konflik agar tidak meningkat ke arah yang dapat
merusak hubungan.

Merespon Kritik

Bagi sebagian orang, kritik benar-benar dapat membuat diri hancur karena kita biasanya
memegang dua keyakinan irasional yang umum:
Bahwa kita harus disayangi atau diakui oleh semua orang yang kita kenal,
Bahwa kita harus benarbenar kompeten/mampu dalam segala hal yang kita lakukan
tanpa pernah melakukan kesalahan. Karena standar perfeksionis seperti itu tidak mungkin
dicapai, kita secara terus menerus menghadapi perasaan gagal atau tidak berguna. Pada
beberapa kasus, kita mungkin mempunyai keinginan untuk membalas dendam dengan
melakukan serangan balik terhadap orang yang memberikan kritik. Cara satu-satunya
untuk meniadakan perasaan seperti itu dan untuk mulai mengatasi kritik dengan layak
adalah dengan menantang kepercayaan irasional yang mendasarinya yang mengakibatkan
kita takut tidak diakui oleh orang lain.
C. Unsur-Unsur Asertif

Unsur-unsur dalam komunikasi asertif, antara lain:


a)

Terbuka dan jelas

Upayakan berkomunikasi secara jelas dan spesifik.


Misalnya: saya kurang suka ini, Hm.saya menyukai rencana itu, hanya saja mungkin
ada beberapa bagian yang bisa ditingkatkan (bahasa halus dari diperbaiki), saya punya
pendapat yang berbeda yaitu.
b)

Langsung

Berbicara langsung dengan subyek yang bersangkutan, jangan membawa masalah ke orang
lain yang tidak berhubungan.
c)

Jujur

Berkata jujur agar dapat dipercaya


d)

Tepat dalam bersikap

Pastikan memperhitungkan nilai sosial dalam berbicara.


e)

Tanyakan umpan balik

Menanyakan umpan balik menjadi bukti bahwa anda lebih mengutarakan pendapat daripada
perintah.
Misalnya: Apakah sudah jelas? Atau ada pertanyaan?.
D. Ciri-Ciri Asertif
Komunikasi asertif memiliki cirri-ciri, sebagai berikut:
Terbuka dan jujur terhadap pendapat diri dan orang lain.
Mendengarkan pendapat orang lain dan memahaminya.

Menyatakan pendapat pribadi tanpa mengorbankan perasaan orang lain.


Mencari solusi bersama dan keputusan.
Menghargai diri sendiri dan orang lain dan mampu mengatasi konflik.
Menyatakan perasaan pribadi, jujur tetapi hati-hati.
Mempertahankan hak diri
Sedangkan, Fensterheim dan Baer, (1980) berpendapat sesorang dikatakan mempunyai
sikap asertif apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Bebas mengemukakan pikiran dan pendapat, baik melalui kata-kata maupun tindakan.
2. Dapat berkomunikasi secara langsung dan terbuka.
3. Mampu memulai, melanjutkan dan mengakhiri suatu pembicaraan dengan baik.
4. Mampu menolak dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat orang lain, atau
segala sesuatu yang tidak beralasan dan cenderung bersifat negatif.
5.

Mampu mengajukan permintaan dan bantuan kepada orang lain ketika

membutuhkan.
6. Mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak
menyenangkan dengan cara yang tepat.
7. Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan.
8. Menerima keterbatasan yang ada di dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk
mencapai apa yang diinginkannya sebaik mungkin, sehingga baik berhasil maupun gagal
ia akan tetap memiliki harga diri (self esteem) dan kepercayaan diri (self confidence).
1. Memberikan Umpan Balik
Membiarkan orang lain tahu bagaimana kita merespon perilaku mereka dapat membatu
menghindari kesalahpahaman dan membantu menyelesaikan konflik yang tidak dapat

dihindari dalam suatu hubungan. Ketika kita memilih untuk menyampaikan umpan balik
negatif kepada orang lain, gunakan teknik komunikasi yang tidak terkesan mengancam.
Kriteria untuk umpan balik yang bermanfaat adalah sebagai berikut:
Difokuskan pada perilaku seseorang bukan kepribadiannya.
Bersifat deskriptif bukan evaluatif.
Fokus pada reaksi kita sendiri bukan maksud orang lain.
Bersifat spesifik bukan umum.
Difokuskan pada penyelesaian masalah.
Umpan balik disampaikan secara pribadi.
2.

Meminta

Umpan

Balik dari Orang Lain


Kita

perlu

memberikan

berlatih
umpan

balik dengan cara yang


tepat.

Pada

saat

bersamaan kita juga perlu mengundang umpan balik dari orang lain untuk meningkatkan
keterampilan komunikasi interpersonal kita. Kemampuan kita untuk mendengar kritik atau
saran tanpa sikap defensifatau marah, mengakui ketika kita berbuat kesalahan, dan
mendorong orang lain untuk memberikan umpan balik kepada kita.

Mereka juga membantu kita untuk mengidentifikasi bidang-bidang pada praktik profesional
kita yang mungkin perlu perbaikan dan membantu meningkatkan hubungan yang lebih baik
dengan orang lain.

3. Menentukan Batasan

Bertindak asertif dalam menentukan batasan berarti mengambil tanggungjawab untuk


keputusan yang diambil, bagaimana menghabiskan sumber daya pribadi tanpa merasa marah
kepada orang lain yang mengajukan permintaan tersebut.

Ketika menghadapi sebuah permintaan, langkah pertama adalah menentukan seberapa jauh
kita mau memenuhi permintaan tersebut. Jika perlu waktu untuk mengambil keputusan,
menunda keputusan adalah tindakan yang tepat asalkan kita kembali ke orang tersebut dalam
jangka waktu yang telah ditetapkan.

4. Membuat Permintaan
Meminta sesuatu yang diinginkan dari orang lain secara langsung juga diperlukan pada
hubungan yang sehat. Jika kita berada pada posisi manajemen, menyatakan keinginannya
dengan jelas dari orang lain adalah suatu bagian penting untuk mencapai tujuan organisasi.

Pada hubungan yang sederajat, membuat permintaan seperti meminta pertolongan, adalah
suatu bagian penting dari komunikasi yang jujur. Kita harus percaya bahwa orang lain akan
meresponnya secara asertif, termasuk berkata "tidak". Kita tidak perlu bereaksi berlebihan
ketika seseorang menolak permintaan kita dengan cara yang asertif.

5. Berlaku Persisten
Salah satu aspek penting dalam perilaku asertif adalah persisten untuk menjamin bahwa hakhak anda dihargai. Sering ketika kita telah menentukan batasan atau telah berkata "tidak",
lalu orang-orang disekitar kita akan membujuk untuk mengubah pikiran.

Jika kita mengulangi pernyataan keputusan itu dengan santai, kita telah bertindak asertif
tanpa menjadi agresif dan tanpa menyerah. Respon, mengulangi pernyataan keputusan
dengan santai, sering disebut respon "kaset rusak" (Smith, 1975).

6. Membingkai Kembali
Menurut Kaufman,bingkai adalah jalan pintas kognitif yang digunakan orang untuk
membuat suatu informasi yang kompleks menjadi masuk akal. Teknik pembingkaian kembali
juga termasuk:
Fokus membangun komunikasi yang efektif untuk suatu kelompok tujuan yang
terbatas.
menguji validitas/keabsahan perspektif orang lain.
Menentukan kesamaan pandangan/tujuan. Mencari hal-hal yang sama-sama disetujui
dan fokus pada hasil yang diinginkan dengan perspektif jangka panjang.
Mengenali

kesempatan

untuk

mencari

solusi-solusi

yang

belum

dieksplirasi/difikirkan lebih mendalam.


Mengenali perbedaan yang tidak bisa dijembatani dan pada saat yang bersamaan
mencari tindakan yang masih bisa diambil untuk mengurangi konflik.
7. Mengabaikan Provokasi
Konflik interpersonal dapat memunculkan berbagai metode untuk "menang" dengan cara
menghina atau mengintimidasi orang lain. Misalnya, pasien yang marah atau putusa asa
mungkin menyerang dengan serangan personal.

Farmasis yang merasa dikritik secara tidak adil mungkin merespon dengan sikap agresif atau
sarkastik. Konflik interpersonal antara profesional di bidang kesehatan sering ditandai
dengan perebutan kekuasaan dan otonomi.

Abaikan komentar yang bersifat mencela dan tetap fokus pada penyelesaian masalah dapat
menjaga konflik agar tidak meningkat kearah yang dapat merusak hubungan.

8. Merespon Kritik
Bagi sebagian orang, kritik benar-benar dapat membuat diri hancur karena kita biasanya
memegang dua keyakinan irasional yang umumnya sebagai berikut:
Bahwa kita harus disayangi atau diakui oleh semua orang yang kita kenal
Bahwa kita harus benar-benar kompeten melakukan segala hal tanpa kesalahan.
Pada beberapa kasus kita mungkin ingin membalas dendam dengan melakukan serangan
balik terhadap orang yang memberikan kritik. Cara satu-satunya meniadakan perasaan itu
dan untuk memulai mengatasi kritik dengan layak adalah dengan menantang kepercayaan
irasional yang mendasarinya yang mengakibatkan kita takut tidak diakui oleh orang lain.