You are on page 1of 35

CASE SELECTION &

TREATMENT PLANNING
(Seleksi kasus dan penyusunan
rencana perawatan)
Hesti Witasari JE, drg, SpKG

• The process of case
selection and treatment
planning begins after a
clinician has
diagnosed an
endodontic problem.
• The clinician must
determine whether the
patient’s oral health
needs are best met by
providing

endodontic
treatment and
maintaining the tooth
by advising

extraction.

or

• Questions concerning tooth retention
and possible referral can be answered only
after a complete patient evaluation.
• The evaluation must include assessment

of medical, psychosocial, and
dental factors as well as consideration
of the relative complexity of the endodontic
procedure.

• A number of valuable texts are available that review the subject of dental care for the medically compromised patient. .• Although most medical conditions do not contraindicate endodontic treatment. some can influence the course of treatment and require specific modifications.

IL) Physical Status Classification system is commonly used to express medical risk. Park Ridge. .• The American Society of Anesthesiologists (ASA.

asahq. healthy patient.American Society of Anesthesiologists Physical Status Classification System • P1: Normal. smoking.org/clinical/physicalstatus. alcohol abuse. gross obesity) • P3: Patient with moderate to severe systemic disease that is not incapacitating but may alter daily activity • P4: Patient with severe systemic disease that is incapacitating and a constant threat to life • From: http://www. no dental management alterations required • P2: Patient with mild systemic disease that does not interfere with daily activity or who has a significant health risk factor (e..g.htm .

pacemakers. stents. and so on • Antibiotics required (prophylactic or therapeutic) . adverse effects • Anxiety (past experiences and management strategy) • Presence of prosthetic valves.An alternative means of considering risk assessment is to review the following issues: • History of allergies • History of drug interactions. joints.

ultrasonics. preparedness) . modification to treatment) • Patient position in chair • Infiltration or block anesthesia with or without vasoconstrictor • Significant equipment concerns (radiographs.• Hemostasis (normal expected. • electrosurgery) • Emergencies (potential for occurrence.

COMMON MEDICAL FINDINGS THAT MAY INFLUENCE ENDODONTIC TREATMENT PLANNING • Cardiovascular Disease • Diabetes • Pregnancy • Malignancy • Bisphosphonate Therapy • Human Immunodeficienc y Virus and • Immunodeficiency Syndrome • End-Stage Renal Disease and Dialysis • Prosthetic Implants • Behavioral and Psychiatric Disorders • Psychosocial Evaluation .

DENTAL EVALUATION AND DEVELOPMENT OF THE ENDODONTIC TREATMENT PLAN • • • • • • • • • • • Periodontal Considerations Surgical Considerations Restorative Considerations Endodontic Therapy or Dental Implant Vital Case Nonvital Case Single-Visit versus MultipleVisit Treatment Retreatment Case Immature teeth Other Factors That May Influence Endodontic Case Selection .

Other Factors That May Influence Endodontic • • • • • Calcifications Dilacerations Resorptive defects The inability to isolate a tooth Extra roots and canals pose a particular anatomic challenge that radiographs do not always reveal • Retreatment cases Referred to a .

Completion of initial endodontic therapy. which was not apparent during the initial procedure. C.Extra Root Canal Many years after endodontic treatment of tooth #19. A. . Note the unusual distal root anatomy. the patient returned with a chief complaint of pain and an inability to chew with the tooth. Retreatment. the tooth was retreated and the patient’s pain disappeared. Initial radiograph. B. Despite the radiographic appearance of excellent endodontic treatment.

Dilacerati on teeth .

Contoh status perawatan .

PEMBAHASAN KASUS A. Data Pribadi • Nama : Robi • Usia : 17 tahun • Jenis kelamin : Pria • Pekerjaan : Pelajar SLTA .

B. Anamnesis • Keluhan Utama : gigi depan patah setelah alat ortho dilepas. . • Keluhan Tambahan : Gigi belakang bawah kiri sakit tajam bila makan dan minum. Gigi tersebut berlubang besar dan pernah sakit sekali 2 tahun yang lalu pada saat Robi masih dalam perawatan Orthodonti. Gigi ini sakit semenjak tambalannya lepas.

Robi sangat sedih karena semenjak alat ortho dilepas. Robi tidak ingin konsultasi dengan dokter yang merawat dia sebelumnya. . gigi depan atas jadi patah walaupun dia menyadari gigi atas menjadi rapi. Dia ingin mengubah penampilannya. Robi jarang control ke dokter gigi yang memasang alat orthonya.Riwayat Perawatan Gigi : Pasien memakai alat ortho semenjak umur 12 tahun dan baru dilepas saat berumur 17 tahun tetapi hingga saat ini tetap memakai alat ortho pada rahang bawahnya.

25. indeks kalkulus: 0. Pemeriksaan Intra Oral: • Plak dan debri pada semua region. Keadaan Umum : TAK D. dan 45 dicabut untuk keperluan perawatan ortho .9. 35. Pemeriksaan Ekstra Oral : TAK E. Indeks plak: 0.4 • Hiperemia dan edema pada sebagian gingival rahang atas dan bawah • Terdapat alat ortho cekat pada gigi rahang bawah pasien • Fistula (+) pada gingival bukal region 12 • Gigi 15.C.

48 : Erupsi sebagian • 37 : D6 (site 1 size 4) • 34 : D4 (site 1 size 2) • 47 : Restorasi Amalgam Oklusal .Pemeriksaan Gigi Geligi: • 18.21.35.45 : hilang karena perawatan orthodonti • 12 : Fraktur mahkota mencapai pulpa karena karies (site 2 size 4. 28 : Tidak erupsi • 15.22:Resin komposit • 27 : D3 (site 1 size 1) • 38. D6) • 11.25.

D.0-6. cair HIJAU pH 6.6 KUNING Kecepatan aliran / 5 3.5 – 5 ml KUNING KUNING menit Plak Kapasitas buffer 6-9 KUNING pH 6.8 HIJAU pH 6.0 – 6.5 KUNING Aktivitas Merah KUNING KUNING kebiruan Fluor Pasta gigi Ya   Air minum Tidak   Topikal Tidak   Gula > 1x / hr   Asam < 2x / hr   Faktor Obat peningkat aliran saliva Tidak   Modifi Penyakit penyebab mulut kering Tidak   kasi Alat orthodonti Ya   Karies aktif Ya   Sikap Ya   Diet KUNING KUNING MERAH .8 – 7. Pemeriksaan Faktor Resiko Karies: Saliva Tanpa stimulasi Dengan stimulasi Hidrasi 30-60 detik KUNING Viskositas Jernih.

perawatan apa yang telah dilakukan pasien.Hal yang perlu digali dalam anamnesa: • Pada saat gigi sakit 2 tahun yang lalu. apakah pasien pernah melakukan perawatan saluran akar? • Seberapa jarang kontrol ke dokter orthonya? • Apakah karies telah ada sebelum perawatan ortho atau selama? • Mengapa belum dilakukan perawatan pada gigi yang berlubang? Apakah pasien memilik riwayat trauma dalam tindakan penambalan dll? • Apakah dokter sebelumnya tidak menyarankan dilakukan perawatan pada gigi berlubang? • Bagaimana cara pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut? Apakah pasien menggunakan sikat gigi khusus untuk pengguna alat orthodonti? .

Hal ini penting dalam penentuan rencana perawatan pada pasien dan prognosis perawatan baik invasive maupun noninvasive. .Penggalian lebih lanjut terhadap pasien ini diperlukan untuk : • memperoleh gambaran mengenai kesadaran pasien dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut • seberapa besar dokter gigi yang merawat ortho pasien ini berperan dalam menumbuhkan kesadaran akan kesehatan gigi dan mulut pasien.

– Pemeriksaan Intraoral : D6 (site 1 size 4). perkusi (-). Gigi ini sakit semenjak tambalannya lepas.Diagnosis: • Gingivitis kronis • Gigi 12 : abses periapikalis kronis – Alasan: – Riwayatnya gigi pernah sakit spontan sekali 2 tahun yang lalu – Pemeriksaan intra oral : kavitas D6 fraktur mahkota mencapai pulpa hingga 1/3 servikal mahkota. palpasi (-). lamina dura terputus • Gigi 37 : Abses periapikalis kronis – Alasan: – Pemeriksaan Subjektif : Gigi belakang bawah kiri sakit tajam bila makan dan minum. terdapat fistula di gingival bukal region 12 – Pemeriksaan radiografis : terdapat lesi radiolusen berbatas tidak jelas di apical gigi 12. lamina dura terputus. palpasi (-) – Pemeriksaan radiografik : Terdapat radiolusensi berbatas tidak jelas pada apical gigi 37. tes vitalitas (-). tes vitalitas (-). perkusi (-). • Gigi 34 : D4 (site 1 size 2) – Pemeriksaan subjektif : tidak ada keluhan – Pemeriksaan intraoral : Kavitas oklusal D4 • Gigi 27 : D3 (site 1 size 1) – Pemeriksaan subjektif : tidak ada keluhan – Pemeriksaan intraoral : Kavitas oklusal D3 .

.PERAWATAN • Tujuan perawatan: • Mengatasi keluhan utama pasien. perawatan dapat dilanjutkan ke tahap perawatan invasive untuk merestorasi karies ireversibel dan melakukan perawatan saluran akar pada gigi yang mengalami kelainan periapikal. apabila factor-faktor resiko karies dapat dihilangkan atau dimodifikasi dan mulut pasien berada pada kondisi yang menguntungkan. • Setelah dilakukan evaluasi. serta evaluasi keberhasilan perawatan invasive. yakni melakukan perawatan pada gigi 12 • Menyembuhkan penyakit karies yakni menghentikan proses karies yang telah terjadi pada pasien dan mencegah terbentuknya lesi karies baru dengan cara mengidentifikasi faktor resiko karies pada pasien dan merencanakan perawatan yang efektif untuk menghilangkan factor penyebab pada pasien tersebut. • Pasien difollow-up secara periodic. selain untuk evaluasi keberhasilan perawatan non-invasif juga untuk mengobservasi apakah karies dini yang terdapat pada pasien terhenti/berlanjut.

• Anjuran untuk: – menyikat gigi dengan pasta gigi berfluoride 2x/hari dan menggunakan sikat gigi khusus untuk pemakai alat orthodonti – Diet mengurangi: • Gula dan cemilan di antara waktu makan utama • Minuman asam tinggi • Minuman berkafein – Penggunaan obat kumur klorheksidin – Meningkatkan asupan air – Kumur NaF 0. Pada tahap ini perawatan invasif pada pasien dapat dimulai. Bila telah berubah menjadi status hijau.2% 2-3 kali seminggu • Scaling • Evaluasi dilakukan secara berkala pada pasien untuk memeriksa apakah faktor resiko karies pasien telah berubah dari status merah dan kuning menjadi status hijau.Rencana perawatan: Perawatan non invasif • Menginformasikan kepada pasien mengenai penyebab giginya berlubang berdasarkan data yang diperoleh dari hasil identifikasi factor resiko karies dan menumbuhkan motivasi pasien untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulutnya. . pasien diminta untuk tetap mempertahankan kondisi tersebut.

• Restorasi dowel crown digunakan karena kurangnya retensi di mahkota .Perawatan invasif • Gigi 12 : Perawatan saluran akar + Restorasi Dowel Crown – Alasan: • Gigi telah nonvital dan telah mengalami kelaianan periapikal sehingga perlu dilakukan pembuangan jaringan nekrotik terinfeksi di saluran akar dan dilakukan pengisisan saluran akar secara hermetis untuk menyembuhkan abses di apikal dan mencegah infeksi ulang.

• Gigi 37 : Perawatan saluran akar + Restorasi onlay – Alasan: • Gigi telah nonvital dan telah mengalami kelaianan periapikal sehingga perlu dilakukan pembuangan jaringan nekrotik terinfeksi di saluran akar dan dilakukan pengisisan saluran akar secara hermetis untuk menyembuhkan abses di apikal dan mencegah infeksi ulang. . • Restorasi onlay digunakan sebagai restorasi pascaendodontik untuk memperkuat gigi dengan menyatukan dinding bukal dan lingual gigi yang telah rapuh akibat kehilangan struktur gigi yang luas dan atap pulpa.

Pada kondisi ini. amalgam lebih menjadi pilihan karena keunggulannya dalam kekuatan menahan tekanan kunyah dan kebocoran tepi yang lebih rendah dibandingkan resin komposit. Hal ini dimungkinkan oleh bentuk kavitas yang telah cukup retentif untuk amalgam sehingga preparasi juga dapat minimal. • Cukup kuat menahan tekanan kunyah normal dan ketahanan aus cukup baik • Estetis baik . Bila pada gigi 34 setelah pembuangan restorasi karies bentuk kavitas telah menggaung dan kedalaman kavitas lebih dari 2 mm maka dapat dilakukan penumpatan dengan restorasi amalgam.• Gigi 34 : Resin komposit site 1 size 2 – Alasan: • Bersifat adhesif melalui micromechanical retention sehingga preparasi minimal  mempertahankan struktur jaringan sehat semaksimal mungkin (sesuai dengan prinsip preparasi minimal).

1. Setelah penumpatan dengan GIC autocure pada kavitas.• Gigi 27 : GIC site 1 size 1 • Lesi minimal pada pit dan fisur: (midentistry) • Dapat dilakukan dengan menggunakan GIC High Strength. Terdapat kavitas kecil pada fisur lingual yang dipreparasi dengan menggunakan very fine tapered diamond dengan kecepatan tinggi di bawah water spray. Preparasi yang dilakukan sangat konservatif. Glass Ionomer restorative estetis. Salah satu contoh pada gambar dibawah (kavitas site 1 size 1). seluruh pit dan fisur kemudian dilapisi dengan resin sealant. . yang merupakan salah satu GIC tipe II.

1 auto cure glass-ionomer has been syringed into the fissure and placed with positive figure3 finger pressure. Note there is an figure1 amalgam placed on the mesial of this tooth placed when the deciduous molar had just been shed. Immediately it was set it was sealed with a resin sealant.The occlusal surface at diagnosis. A relatively low strength Type II. The fissures have been very conservatively explored with a figure2 very fine diamond and the cavity is now being conditioned for 10 seconds with 10% PAA. . The same glass-ionomer restoration at 12 months after figure4 figure5 placement The restoration has been monitored for over 12 years now and this photograph was taken at 8 years.

. pasien perlu lebih teliti dalam pembersihan gigi dan mulut. tidak ada faktor sistemik yang dapat mempengaruhi hasil perawatan (ASA I) – Bila factor-faktor resiko karies pada pasien dapat diatasi  prognosis penyembuhan karies baik. – Pasien masih menggunakan alat ortho cekat pada gigi geligi rahang bawah sehingga meningkatkan retensi plak dan menyulitkan pembersihan.PROGNOSIS Prognosis Perawatan • Prognosis umum : SEDANG – Keadaan umum pasien baik. Oleh karena itu.

. saluran akar lurus dan besar. tidak terlihat resorpsi maupun perforasi akar) – Jaringan penyangga gigi normal – Struktur mahkota yang tersisa masih memungkinkan dilakukan restorasi dowel crown sehingga gigi dapat dipertahankan dan fungsi pengunyahan dan estetis pasien dapat dikembalikan.Prognosis gigi-geligi: • Gigi 12 • Prognosis: baik – Gigi masih dapat dirawat saluran akar dan direstorasi dimana factor penyulit minimal (lesi radiolusen kecil. tidak terlihat adanya obliterasi atau pulp stone (kalsifikasi di dalam saluran akar).

tidak terlihat resorpsi maupun perforasi akar) – Jaringan penyangga gigi normal – Struktur mahkota yang tersisa masih memungkinkan dilakukan restorasi onlay .• Gigi 37 • Prognosis: baik – Gigi masih dapat dirawat saluran akar dan direstorasi dimana factor penyulit minimal (lesi radiolusen kecil. hanya terdapat 1 saluran akar lurus dan besar. tidak terlihat adanya obliterasi atau pulp stone (kalsifikasi di dalam saluran akar).

• Gigi 34 dan 27 • Prognosis: Baik – Kavitas kecil sehingga struktur gigi yang tersisa masih cukup untuk mendukung restorasi  gigi dapat kembali berfungsi normal .

Penatalaksaan kasus Meliputi: • Promotif • Preventif • Kuratif • Rehabilitatif .