You are on page 1of 4

Interpretasi Hasil Deskriptor

Berdasarkan nilai dari HOMO (Highest Occupied Molecular Orbital) dan LUMO (
Low Unoccupied Molecular Orbital) didapatkan secara keseluruhan bahwa LUMO
memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai HOMO. Nilai LUMO yang
lebih tinggi dari HOMO mengindikasikan bahwa senyawa tersebut memiliki kemampuan
yang lebih rendah untuk menerima ataupun memberikan elektron (dalam kondisi yang
stabil) dan berada pada kondisi Ground state. Pada senyawa ke 1-19 memilikii nilai
LUMO-HOMO (LUMO dikurang HOMO) bernilai positif yang mengindikasikan bahwa
senyawa ke-1 sampai ke-19 memiliki kestabilan yang cukup baik. Kestabilan senyawa ini
dapat diurutkan dari yang paling stabil adalah sebagai berikut senyawa ke-10 > 11 > 4 > 1 >
12 > 19 > 5 > 2 > 8 >13 > 17 > 7 > 15 > 16 > 6 > 3 > 18 > 9 > 14. Nilai LUMO yang lebih
rendah akan memberikan afinitas elektron yang lebih besar dan memberikan kemampuan
yang lebih kuat untuk menerima elektron. Nilai HOMO yang lebih tinggi akan akan
menghasilkan menghasilkan energi ionisasi yang kecil sehingga kemampuan untuk
memberikan elektron menjadi lebih kuat. Berdasarkan kemampuan yang ebih kuat untuk
menerima elektron dari suatu senyawa maka dapat diurutkan menjadi 14 > 6 > 17 > 18 > 3
> 4 > 1 > 5 > 2 > 16 > 7 > 15 > 9 > 19 > 13 > 8 > 11 > 12 > 10 . Berdasarkan kemampuan
dari suatu senyawa untuk memberikan suatu elektron maka dapat diurutkan sebagai berikut
senyawa ke-14 > 4 > 1 > 10 > 5 > 11 > 19 > 2 > 17 > 8 > 13 > 6 > 7 > 12 > 16 > 15 > 3 >
18 > 9.
Deskriptor polarisabilitas berhubungan dengan kemudahan molekul untuk
membentuk dipol sesaat atau mengimbas. Dipol sesaat terjadi karena adanya perpindahan
elektron yang menyebabkan molekul nonpolar menjadi polar sesaat (sementara).
Sedangkan dipol terimbas terjadi karena dipol sesaat yang mengimbas molekul di
sekitarnya, sehingga terjadi gaya tarik antarmolekul yang lemah. Pada polarisabilitas,
terdapat aturan dimana Mr senyawa tinggi = suhu tinggi = polarisabilitas tinggi. Selain itu,
rantai senyawa panjang dan lurus berarti memiliki polarisabilitas tinggi. Polarisabilitas
tertinggi terdapat pada struktur 9 dan polarisabilitas terendah terdapat pada struktur 10.

partikel-partikel ini harus independen mempertahankan muatan baik positif maupun negatif dan bereaksi yang sesuai satu sama lain. Semakin besar indeks konektivitas atom maka makin besar kemungkinan interaksi antar molekul atom. hal ini dikarenakan senyawa ke-19 memiliki banyak atom atau electron bebas sepeti oksigen maunpun nitrogen. Inter ELE Energy (E_ELEinteract) merupakan energi interaksi elektrostatik dari ikatan antar molekul dengan reseptor. Deskriptor tersebut diperoleh dengan menganalisis 2D molekul. . Suatu senyawa yang memiliki atom atau memiliki elektron bebas yang banyak seperti oksigen maupun nitrogen dapat menyebabkan nilai energi inter ELE yang semakin besar. Polarisabilitas adalah kemudahan suatu molekul untuk membentuk dipol sesaat atau untuk mengimbas suatu molekul. Refractory molar merupakan suatu nilai total polarisabilitas dari molekul obat yang sangat bergantung pada suhu.Chi0 (Atomic Connectivity Index) digunakan untuk menghitung tepi ikatan dan untuk mencapai ikatan contohnya mencapai ikatan interaksi antar molekul atom. hal ini disebabkan semakin kecil nilai MR (Molar Refractivity) maka semakin mudah senyawa tersebut masuk kedalam sel dan penyerangan terhadap basa DNA yang dikarenakan semakin berkurangnya halangan sterik. Pada deskriptor MR (Molar Refractivity) ini menyatakan bahwa semakin kecil nilainya semakin toksik. indeks bias dan tekanan. seperti elektron dan proton. Gaya elektrostatik adalah reaksi fisik yang memegang bersama medan elektromagnetik yang diciptakan oleh partikel-partikel subatomik. Interprestasinya adalah pada kemungkinan dari pertemuan bimolekuler diantara molekul. Maka dapat disimpulkan senyawa ke-19 memiliki E_ele tertinggi yaitu sebesar 65. sedangkan semakin besar nilai molar refractivity maka semakin sulit terjadinya ikatan antara kontaminan dengan basa DNA dan masuknya senyawa kedalam sel atau inti sel.6037. sebagai timbal balik dari derajat Vertex di fraksi dari total kontribusi elekton sigma non bonding. Pada struktur suatu molekul umumnya memiliki pasangan elektron semu.2145. Nilai MR terkecil terdapat pada senyawa ke10. energi dari elektron semu inilah yang diukur pada inter ELE energy. Agar gaya elektrostatik untuk tetap kohesif. Atomic Connectivity Index terbesar terdapat pada senyawa 9 dengan nilai 28.

antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Maka semakin kecil nilai MR (Molar Refractivity) berarti semakin besar densitas. Semakin lipofil suatu obat akan semakin mudah obat tersebut untuk menembus lipid bilayer. Selain itu deskriptor ini menunjukkkan lipofilitas suatu senyawa/molekul.0070. deskriptor ini berfungsi untuk menghitung log dari koefisien partisi oktanol/air. Densitas berkaitan dengan MR (Molar Refractivity). hal ini sekaligus memperlihatkan jenis atom dan bagaimana susunannya dalam molekul. Log P (O/W). yaitu rasio berat molekul terhadap volume molekul. Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Sedangkan nilai E_VDW interact terbesar terdapat pada senyawa 1 yaitu sebesar 1293.5151 hal ini memungkinkan bahwa senyawa tersebut kemungkinan memiliki ikatan hidrogen atau ikatan kovalen ( senyawa akan dapat memberikan efek yang panjang karena berikatan dengan kuat pada reseptor) sehingga senyawa seperti ini lebih dipilih karena sifatnya yang lebih stabil dan sulit terganggu oleh faktor lingkungan. Nilai densitas terbesar terdapat pada senyawa ke 9 yaitu sebesar 13. Jika nilai log P lebih besar dari 1 maka senyawa tersebut bersifat lipofil. Selain itu pada deskriptor Log P menyatakan semakin . Lipofolitas suatu obat menunjukan seberapa besar kemampuan obat untuk dapat menembus lipid bilayer.2570. sebaliknya jika log P bernilai kurang dari 1 maka senyawa tersebut bersifat hidrofil. Gaya Van Der Waals terjadi akibat interaksi antara molekulmolekul non polar (Gaya London). Nilai E_VDW interact terkecil terdapat pada molekul 10 yaitu sebesar 5. dimana mengikuti persamaan Lorenzt-Lorentz .Deskriptor density berkaitan dengan kerapatan suatu molekul. Inter VDW Energy (E_VDW interact) Merupakan suatu energi tanpa ikatan reseptor dan molekul Van der Walls. Sedangkan molekul dengan sifat hidrofil tertinggi adalah molekul 14 dengan nilai log P sebesar -4. Dari analisis yang dilakukan molekul dengan sifat lipofil tertinggi yakni molekul 9 dengan nilai log P sebesar 4. makin berat suatu molekul maka makin besar densitas molekul. Selain itu.8280 hal ini dikarenakan sifat dari ikatan atau gaya van der walls memiliki sifat yang lemah (berikatan lemah).9605.

Nilai log P berkaitan dengan lipofilitas atau hidrofobisitas yaitu kemampuan suatu senyawa kimia untuk larut dalam lemak. Berdasarkan hasil perhitungan yang didapat diketahui bahwa 19 senyawa tersebut memiliki kapasitas penetrasi yang rendah pada membrane sel atau dengan kata lain sulit diserap. dan hidrogen) di dalam sebuah molekul. Dalam konteks farmakokinetik. Mudah masuknya pada sel akan lebih mempermudah untuk senyawa turunan benzimidazole ini mengganggu rangkaian DNA dalam inti sel. Molekul dengan nilai PSA lebih dari 140 Å2 diyakini akan memiliki kapasitas penetrasi yang buruk pada membran sel. terutama absorpsi pada usus dan penetrasi pada sawar darah otak. obat harus cukup hidrofobik untuk menembus ke dalam lipid bilayer. Agar system transport efisien. Topological polar surface area digunakan untuk menggambarkan jumlah dari luas permukaan atom-atom polar (seperti nitrogen. . tidak dapat menembus keluar lagi yang akan menyebabkan obat tersebut toksik karena bertahan lebih lama di dalam tubuh.besar log P maka lebih toksik. seperti membran biologis karena membran yang tersusun atas membran bilayer yang merupakan lipid dan bersifat hidrofob. Hidrofobisitas juga berperan dalam menentukan kemana obat akan didistribusikan di dalam tubuh setelah absorpsi dan seberapa cepat obat akan mengalami metabolisme dan di ekskresikan oleh tubuh. lipid dan pelarut non polar. oksigen. Sehingga jika molekul akan berpenetrasi akan sulit karena sifat kepolaran yang jauh berbeda. minyak. secara normal harus melewati lipid bilayer dalam epithelium intestinal. Topological polar surface area (TPSA) ini merupakan parameter yang sangat berguna untuk memprediksi transport molekul sehingga dapat mengestimasi sifat pengangkutan obat. tetapi tidak boleh terlalu hidrofobik karena jika obat sudah masuk ke dalam bilayer. dengan semakin tingginya kelarutan pada lemak akan lebih mudah diabsorpsi pada saluran pencernaan untuk masuk ke sistemik dan masuk pada sel. hal ini dikarenakan apabila Log P semakin besar maka akan mempertinggi kelarutannya dalam lemak. dan diman jika nilai PSA lebih kecil dari 60 Å 2 diyakini akan memiliki kapasitas penetrasi yang tinggi pada membran sel atau dengan kata lain akan mudah untuk diserap. Jika nilai TPSA yang tinggi maka tingkat penetrasi molekul tersebut akan buruk dalam lingkungan yang bersifat hidrofobik. untuk obat yang diabsorpsi melalui oral.