You are on page 1of 61

Referat Abses Leher

Dalam
Andrew Lukman
07120110067

Pendahuluan
• terbentuk di dalam ruang potensial di
antara fasia leher dalam
• akibat penjalaran infeksi dari berbagai
sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok,
sinus paranasal, telinga tengah dan leher
• nyeri dan pembengkakan di ruang leher
dalam
• Nyeri tenggorok dan demam disertai
dengan terbatasnya gerakan membuka
mulut dan leher

• Streptococcus, Staphylococcus,
kuman anaerob Bacteroides atau
kuman campuran

Abses leher dalam dapat berupa:
• Abses Peritonsil
• Abses Retrofaring
• Abses Parafaring
• Abses Submandibula
• Angina Ludovici (Ludwig’s Angina)

palatofaring • m.palatoglosus • m.Anatomy • Faring .tensor veli palatini • m.lima pasang otot yaitu • m.levator veli palatini • m.azigos uvula .kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong • mulai dari dasar tengkorak terus menyambung ke esofagus setinggi vertebra servikal ke-6 • Panjang dinding posterior faring dewasa ~14 cm • Palatum.

IX) .glososfaring dan serabut simpatis • Cabang faring dari n.cabang faring dari n.• Persarafan • Persarafan motorik dan sensorik .stilofaring yang dipersarafi langsung oleh cabang n.vagus berisi serabut motorik • Dari pleksus faring yang ekstensif ini keluar cabang-cabang untuk otot-otot faring kecuali m.pleksus daring yang ekstensif • Plesksus .glosofaring (n. cabang dari n.vagus.

• Pendarahan • utama berasal dari cabang a. media.karotis eksterna (cabang faring asendens dan cabang fausial) • cabang a. dan inferior • Saluran limfa superior mengalir ke kelenjar getah bening retrofaring dan kelenjar getah bening servikal dalam atas • Saluran limfa media mengalir ke kelenjar getah bening jugulo-digastrik dan kelenjar servikal dalam atas • saluran limfa inferior mengalir ke kelenjar getah bening dalam bawah .maksila interna yakni cabang palatina superior • Kelenjar getah bening • Aliran limfa dari dinding faring dapat melalui 3 saluran: superior.

Pembagian faring .

bagian atas adalah tengkorak.• Nasofaring • Batas nasofaring. di bagian bawah adalah palatum mole. ke depan adalah rongga hidung sedangkan ke belakang adalah verrtebra servikal • berhubungan dengan adenoid. kantong Rathke . jaringan limfoid pada dinding lateral faring dengan resesus faring yang disebut fosa Rosenmuller.

tonsil lingual. uvula.• Orofaring (mesofaring) • batas atas adalah palatum mole. batas bawah adalah tepi atas epiglotis. tonsil palatina. sedangkan ke belakang adalah vertebra servikal • Struktur yang terdapat di rongga orofaring adalah dinding posterio faring. dan foramen sekum . fosa tonsil serta arkus faring anterior dan posterior. ke depan adalah rongga mulut.

pada saat bolus tersebut menuju ke sinus piriformis dan ke esofagus . • Epiglotis berfungsi untuk melindungi glotis ketika menelan minuman atau bolus makanan. sebab pada beberapa orang. batas inferior ialah esofagus. batas anterior ialah laring. • Di bawah valekula terdapat epiglotis.• Laringofaring (hipofaring) • superior adalah tepi atas epiglotis. serta batas posterior adalah vertebra servikal. kadang-kadang bila menelan pil akan tersangkut disitu. • struktur pertama yang tampak di bawah dasar lidah adalah valekula (pada pemeriksaan laringgoskop) – dua buah cekungan yang dibentuk oleh ligamentum glosoepiglotika medial dan ligamentum glosoepiglotika lateral pada tiap sisi – “kantong pil” (pill’s pocket).

palatina asendens. tonsil faringeal (adenoid) 2. limfosit. • Perdarahan dari a. cabang tonsil a. a. tonsil lingual • Permukaan medial tonsil bentuknya beraneka ragam dan mempunyai celah (kriptus) – biasanya ditemukan leukosit. tonsil palatina 3.palatina minor. dan a. .Tonsil • Terdapat 3 macam tonsil: (lingkaran yang disebut cincin Waldeyer) 1.maksila eksterna. epitel yang terlepas. bakteri.lingualis dorsal.faring asendens. a. dan sisa makanan.

.

Fisiologi Faring • Fungsi faring yang utama ialah untuk respirasi. . dan untuk artikulasi. resonansi suara.bolus makanan dari mulut menuju ke faring. Gerakan disini disengaja (voluntary) • Fase faringeal. • Fungsi menelan • Fase oral. pada waktu menelan. Gerakan disini tidak disengaja (involuntary) • Fase esofagal.bolus makanan bergerak secara peristaltik di esofagus menuju lambung.transpor bolus makanan melalui faring.

dan kadang-kadang dasar dari lidah . yang disebut sebagai kelenjar Weber • akumulasi pus terletak antara kapsul tonsil palatina dan muskulus konstiktor faringeus • Pilar anterior dan posterior. torus tubarius (superior). dinding lateral faring.ABSES PERITONSIL (QUINSY) • Definisi • akumulasi pus terlokalisir di jaringan peritonsil yang terbentuk akibat dari tonsilitis supuratif • abses peritonsil merupakan abses yang terbentuk di kelompok kelenjar air liur di fosa supratonsil. dan sinus piriformis (inferior) membentuk batas ruang peritonsil potensial • Inflamasi dan supurasi progresif bisa menyebar langsung melibatkan palatum mole.

• Epidemiologi • Amerika Serikat. sekitar 30 kasus per 100.000 orang per tahun. hanya sepertiga kasus abses peritonsil ditemukan di kelompok umur ini • Umur pasien dengan abses peritonsil bervariasi. mewakili sekitar 45.000 kasus per tahun Tidak ada data akurat secara internasional • Meskipun tonsilitis penyakit anak. dengan insidensi tertinggi pada pasien dengan usia 15-35 tahun • Tidak ada predileksi jenis kelamin ataupun ras . dengan jarak 1-76 tahun.

Neisseria sp. Actinomyces sp. • Biasanya kuman penyebab sama dengan penyebab tonsilitis.• Etiologi • komplikasi tonsilitis akut atau infeksi yang bersumber dari kelenjar mukus Weber di kutub atas tonsil. Pneumococcus. Gram positif aerob dan anaerob diidentifikasi melalui kultur • Streptococcus beta hemolyticus yang paling sering • Staphlococcus. dan Bacteroides sp . Micrococcus. Haemophilus. Lactobacillus. diphteroid...

sehingga terjadilah abses peritonsil .• Patofisiologi • Patofisiologi abses peritonsil tidak diketahui • Teori yang paling banyak diterima adalah kelanjutan dari episode tonsilitis eksudatif yang menjadi peritonsilitis terlebih dahulu dan lalu membentuk abses • Abses peritonsil juga ditemukan tanpa riwayat tonsilitis rekuren atau kronis. nekrosis jaringan dan pembentukan abses terjadi. Abses peritonsil juga bisa merupakan manifestasi dari infeksi Epstein Barr Virus (misalnya mononucleosis) • Teori lain menunjukkan asal abses peritonsil ada di kelenjar Weber – Kelenjar air liur kecil ini ditemukan di ruang peritonsil dan disebutkan membantu membersihkan debris dari tonsil – Saat obstruksi terjadi sebagai hasil dari jaringan parut karena infeksi.

Gejala dan tanda • Anamnesis • Selain gejala dan tanda tonsilitis akut. dan sakit kepala • diagnosis abses peritonsil pada pasien dengan gejala faring persisten meskipun sudah diberikan rejimen antibiotik yang adekuat . serta pembengkakan kelenjar submandibula dengan nyeri tekan • memiliki riwayat faringitis akut ditemani dengan tonsilitis dan rasa faring tidak nyaman unilateral dan makin memburuk • malaise. odinofagia (nyeri menelan) yang hebat. suara gumam (hot potato voice) dan kadang-kadang sukar membuka mulut (trismus). kelelahan. biasanya pada sisi yang sama juga terjadi nyeri telinga (otalgia). mungkin terdapat muntah (regurgitasi). banyak ludah (hipersalivasi). mulut berbau (foetor ex ore).

palatum mole asimetris. juga kelainan pita suara . Tonsil bengkak. mungkin banyak detritus dan terdorong ke arah tengah. dan uvula disposisi kontralateral.• • • • • • • • Pemeriksaan hasil bervariasi dari tonsilitis akut dengan faring asimetris unilateral sampai dehidrasi dan sepsis. pada fosa supratonsil Palpasi pada palatum mole sering menunjukkan fluktuasi Nasofaringoskopi dan laringoskopi fleksibel dianjurkan untuk pasien dengan airway distress Laringoskopi adalah kunci untuk menyingkirkan epiglotitis dan supraglotitis. Kebanyakan pasien memiliki nyeri berat Pemeriksaan rongga mulut menunjukkan tanda-tanda eritem. Abses peritonsil biasanya unilateral dan terletak di kutub superior tonsil yang terkena. depan dan bawah. eksudasi tonsil. hiperemis.

• Tes Monospot – Pada pasien yang menunjukkan tonsilitis dan limfadenopati servikal bilateral. pasien membutuhkan evaluasi hepatosplenomegali • Kultur swab tenggorok: untuk membantu identifikasi organisme infeksius. swab tenggorok dan kultur harus dipertimbangkan. tes Monospot (antibodi heterofil) harus dipertimbangkan Jika hasil tes positif.• Pemeriksaan laboratorium • Darah perifer lengkap. mebatasi resiko resitensi antibiotik. . Hasil dapat membantu seleksi antibiotik yang paling tepat saat organisme teridentifikasi. kultur darah: pasien dengan abses peritonsil sering tampak septik dan dapat menunjukkan derajat bervariasi dehidrasi karena intake oral yang kurang. elektrolit.

• Pemeriksaan radiologi – Foto x-ray jaringan lunak polos – CT scan – Ultrasonografi .

• Aspirasi jarum • dilakukan sebelum drainase • membantu identifikasi lokasi abses di ruang peritonsil • Lokasi aspirasi dianestesi dengan lidocaine dengan epinefrin. dan jarum ukuran 16-18 G dipasang di spuit 10cc • Infiltrasi adalah metode pilihan untuk anestesi lokal untuk aspirasi dan insisi abses peritonsil • Aspirasi material purulen merupakan diagnostik. . dan dapat dikirim untuk kultur.

karena dapat menentukan lokasi akurat ruang abses (Cairan aspirasi dapat dikultur) • Jika pasien terus menerus melaporkan nyeri tenggorok berulang dan/atau kronik setelah insisi dan drainase. deviasi uvula. disposisi inferior kutub superior dari tonsil yang terkena • Pada kasus abses peritonsil. tanda klinis yang berhubungan dengan abses peritonsil antara lain trismus. gejala pasien akan membaik • Aspirasi jarum dapat digunakan untuk diagnostik dan terapeutik. ini dapat menjadi indikasi tonsilektomi . saat insisi dan drainase dilakukan.• Diagnosis • Pada dewasa.

(3) trovafloxacin. (2) klindamisin. Medikamentosa • Antipiretik dan analgetik digunakan untuk meredakan demam dan rasa tidak nyaman • Terapi antibiotik sebaiknya dimulai setelah kultur diperoleh dari abses • Penggunaan penisilin intravena dosis tinggi tetap sebagai pilihan baik untuk terapi empiris untuk abses peritonsil • Cephalexin atau sefalosporin lain (dengan atau tanpa metronidazol) tampaknya merupakan pilihan awal • Pilihan alternatif antara lain (1) cefuroxime or cefpodoxime (dengan atau tanpa metronidazol). dalam 7-10 hari .Terapi • 1. atau (4) amoksisilin/klavulanat (jika mononucleosis sudah disingkirkan).

1. Tonsilektomi .• Bedah • Rujukan ke spesialis THT atau bedah dengan pengalaman terhadap penanganan penyakit ini • Rujukan segera sebaiknya dipertimbangkan jika diagnosis belum jelas dan diindikasikan pada pasien dengan obstruksi jalan napas. Aspirasi jarum 2. Insisi dan drainase 3.

masuk ke mediastinum sehingga terjadi mediastinitis. dapat mengakibatkan perdarahan. • Penjalaran dapat berlanjut ke ruang submandibular dan sublingual di dasar mulut (Angina Ludovici). meningitis. • Penjalaran infeksi atau abses ke daerah parafaring. • Bila terjadi penjalaran ke daerah intrakranial. dapat mengakibatkan trombus sinus kavernosus.Komplikasi • Abses pecah spontan. • Perdarahan merupakan komplikasi potensial jika arteri karotid eksterna atau cabangnya terluka (intraoperatif atau periode awal pascaoperasi) . aspirasi paru atau piemia. sehingga terjadi abses parafaring • Pada penjalaran selanjutnya. dan abses otak.

• Prognosis • Kebanyakan pasien yang diobati dengan antibiotik dan drainase adekuat sembuh dalam beberapa hari • Sebagian kecil pasien mengalami abses kembali. tonsilektomi diindikasikan . membutuhkan tonsilektomi • Jika pasien berlanjut melaporkan nyeri tenggorok berulang dan/atau kronis setelah insisi dan drainase tepat.

ABSES RETROFARING • Definisi • Abses retrofaring adalah suatu peradangan yang disertai pembentukan pus pada daerah retrofaring. nasofaring dan sinus paranasal. Hal ini terjadi karena pada usia tersebut ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfa. adenoid. masing-masing 2-5 buah pada sisi kanan dan kiri • Pada usia di atas 6 tahun kelenjar limfa akan mengalami atrofi . Keadaan ini merupakan salah satu infeksi pada leher bagian dalam ( deep neck infection ) • sumber infeksi pada ruang retrofaring berasal dari proses infeksi di hidung. yang menyebar ke kelenjar limfe retrofaring • pada anak yang berusia di bawah 5 tahun.

kaku leher. dan stridor • Abses retrofaringeal terjadi lebih sedikit daripada jaman dahulu karena penggunaan antibiotik meluas pada infeksi saluran napas atas supuratif • penyakit ini masih memiliki mortalitas dan morbiditas yang signifikan . demam.• Abses retrofaringeal menghasilkan gejala nyeri tenggorok.

pada data pasien rawat inap anak (Kids’ Inpatient Database) menunjukan 1321 pasien abses retrofaring tanpa kematian .5 kali Mortalitas / Morbiditas Saat mediastinitis terjadi.Epidemiologi • • • • • • • • • Frekuensi Abses retrofaringeal relatif berkurang frekuensinya dibanding dulu karena penggunaan antibiotik di Amerika Serikat. mortalitas mencapai 50%. abses retrofaringeal juga bisa menyebabkan sepsis dan resiko terhadap jalan napas (airway compromise) Tingkat mortalitas keseluruhan adalah 1% penelitian infeksi ruang leher dalam di Taiwan Di Amerika Serikat. perikarditis. erosi arteri karotid. meskipun dengan pengobatan antibiotik Abses retrofaringeal juga dapat menyebabkan trombosis vena jugularis interna. 2003. peningkatan frekuensi dalam 12 tahun sebanyak 4. dan abses epidural Selain invasi ke struktur yang berdekatan.

dan 5% Hispanik • Jenis Kelamin – laki-laki > perempuan.• Ras – Dalam 10 tahun kasus abses retrofaringeal yang ditangani di Kings County Hospital di Brooklyn. 70% pasien adalah dari ras Afrika-Amerika. dengan frekuensi 5067% pada laki-laki dan 33-50% pada perempuan • Umur – penyakit yang biasa terjadi pada anak. 25% Kaukasia. New York. namun sekarang frekuensi pada dewasa meningkat .

(3) tuberkulosis vertebra servikalis bagian atas (abses dingin) • Pasien dengan penyakit immunocompromised atau penyakit kronis seperti diabetes.• Etiologi • (1) infeksi saluran napas atas yang menyebabkan limfadenitis retrofaring. intubasi endotrakea. (2) trauma dinding belakang faring oleh benda asing seperti tulang ikan atau tindakan medis. alkoholisme. dan endoskopi. dan AIDS memiliki resiko yang meningkat terhadap abses retrofaringeal . seperti adenoidektomi. kanker.

sepsis. fasia prevertebral di posterior. dan Organisme Gram negatif. dan erosi arteri karotid . fasiitis nekrotikans. trombosis vena juular. mediastinitis. Organisme anaerob. dan selubung karotid di lateral • Organisme aerob. dengan fasia bukofaringeal di anterior. seperti streptococcus beta hemolitikus dan Staphylococcus aureus. seperti Haemophilus parainfluenzae dan Bartonella henselae • Tingkat mortalitas tinggi dari abses retrofaringeal berhubungan dengan obstruksi jalan napas. abses epidural. pneumonia aspirasi. seperti Bacteroides dan Veillonella.• Patofisiologi • Ruang retrofaringeal adalah posterior dari faring.

faringitis. leher kaku dan nyeri – sesak napas karena sumbatan – peradangan berlanjut sampai mengenai laring dapat timbul stridor • Pada bayi. .• Gejala dan tanda • nyeri dan susah menelan • Pada anak kecil. nyeri tenggorok dan/atau pembengkakan leher dapat menyebabkan asupan gizi yang kurang disertai letargi • gejala dan tanda tonsilitis. rasa nyeri menyebabkan anak menangis terus dan tidak mau makan atau minum – demam. dan juga otitis media.

Pemeriksaan Penunjang • • • • • • Darah perifer lengkap Kultur darah Kultur pus Protein C-reaktif (CRP) Foto x-ray CT scan .

• Diagnosis • riwayat infeksi saluran napas bagian atas atau trauma. Aneurisma aorta. gejala dan tanda klinik • Pada foto Rontgen akan tampak pelebaran ruang retrofaring > 7 mm pada anak dan dewasa • serta pelebaran retrotrakeal >14 mm pada anak dan > 22 mm pada orang dewasa • Diagnosis banding • Adenoiditis. Epiglotitis dan Abses peritonsil .

• Terapi • antibiotika dosis tinggi. . diberikan secara parenteral • pungsi dan insisi abses melalui laringoskopi langsung dalam posisi pasien baring Trendelenburg. untuk kuman aerob dan anaerob.

dapat menyebabkan pneumonia aspirasi dan abses paru. abses epidural.• Komplikasi • penjalaran ke ruang parafaring. ditangani secara agresif. dan komplikasi tidak terjadi • Tingkat kematian bisa setinggi 40-50% jika pasien mengalami komplikasi serius . dislokasi atlantooksipital. obstruksi jalan napas sampai asfiksia • bila pecah spontan. ruang vaskuler visera. kompresi arteri karotid dan vena jugularis interna dan palsi nervus fasialis • Prognosis • baik jika abses retrofaringeal diidentifikasi segera. trombosis septik sekunder dari erosi ke dalam arteri karotid. mediastinitis. sepsis.

ABSES PARAFARING
• Definisi
• Abses parafaring yaitu peradangan
yang disertai pembentukan pus pada
ruang parafaring
• Ruang parafaring dapat mengalami
infeksi secara langsung akibat
tusukan saat tonsilektomi, limfogen
dan hematogen

• Patofisiologi
• Infeksi yang bersumber dari gigi dapat menyebar
ke jaringan sekitar dan membentuk abses
sublingual, submental, submandibula, mastikator
atau parafaring
• Dari gigi anterior sampai M1 bawah biasanya yang
mula-mula terlibat adalah ruang sublingual dan
submental
• Bila infeksi dari M2 dan M3 bawah, ruang yang
terlibat dulu adalah submandibula
• posisi akar gigi M2 dan M3 berada di bawah garis
perlekatan m. milohiod pada mandibula sedang
gigi anterior dan M1 berada diatas garis perlekatan
tersebut

• Gejala dan tanda
• Trismus, demam tinggi dan
pembengkakan diniding lateral faring,
sehingga menonjol ke arah medial




Pemeriksaan Penunjang
kultur
X-Ray leher
foto toraks
CT Scan

sternokleidomastoideus (cara Mosher) • Pasien dirawat inap sampai gejala dan tanda infeksi reda .3.7.• 3. insisi dilanjutkan vertikal dari pertengahan insisi horizontal ke bawah di depan m. Terapi • Untuk terapi diberikan antibiotika dosis tinggi secara parenteral terhadap kuman aerob dan anaerob • Insisi dari luar dilakukan 2 setengah jari di bawah dan sejajar mandibula • Bila pus terdapat di dalam selubung karotis.

limfogen. atau langsung (per kontinuitatum) ke daerah sekitarnya • Penjalaran ke atas dapat mengakibatkan peradangan intrakranial.• Komplikasi • Proses peradangan dapat menjalar secara hematogen. ke bawah menyusuri selubung karotis mencapai mediastinum • Bila pembuluh karotis mengalami nekrosis. dapat terjadi ruptur sehingga terjadi perdarahan hebat .

faring. kelenjar limfe submandibula • Akhir-akhir ini abses leher bagian dalam termasuk abses submandibula sudah semakin jarang dijumpai . dasar mulut.ABSES SUBMANDIBULA • Definisi • Abses submandibula adalah suatu peradangan yang disertai pembentukan pus pada daerah submandibula • deep neck infection • infeksi pada ruang submandibula berasal dari proses infeksi dari gigi.

dasar mulut. kelenjar liur. Streptococcus Pneumonia. jika apeksnya ditemukan di bawah perlekatan dari musculus mylohyoid • Kuman aerob yang sering ditemukan adalah Stafilokokus. Haemofilus influenza. maupun Fusobacterium .• Etiologi • Infeksi dapat bersumber dari gigi. Streptococcus sp. atau kelenjar limfa submandibula • Infeksi pada ruang ini berasal dari gigi molar kedua dan ketiga dari mandibula. seperti Bacteroides. faring. Prevotella. Neisseria sp • Kuman anaerob yang sering ditemukan pada abses leher dalam adalah kelompok batang gram negatif. Klebsiell sp. Moraxtella catarrhalis.

Pulpitis.• Patofisiologi • melalui gigi. Ganggren pulpa dan Abses. . Hiperemic Pulpa.Iritasi Pulpa.

fluktuatif.• Gejala dan tanda • demam dan nyeri leher disertai pembengkakan di bawah mandibula dan atau di bawah lidah • mengeluhkan air liur yang banyak • trismus akibat keterlibatan muskulus pterigoideus • disfagia dan sesak nafas akibat sumbatan jalan nafas oleh lidah yang terangkat ke atas dan terdorong ke belakang • Pada pemeriksaan fisik . dan nyeri tekan • Pada insisi didapatkan material yang bernanah atau purulent (merupakan tanda khas) .pembengkakan di daerah submandibula.

• • • • Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Foto x-ray CT-scan dengan kontras (gold standard) .

ceftriaxone >70% • Metronidazole dan klindamisin angka sensitifitasnya masih tinggi terutama untuk kuman anaerob gram negatif • Antibiotik biasanya dilakukan selama lebih kurang 10 hari • Pasien dirawat inap sampai 1-2 hari gejala dan tanda infeksi reda • Mengingat adanya kemungkinan sumbatan jalan nafas. maka tindakan trakeostomi perlu dipertimbangkan . moxyfloxacine. ceforazone. kuman aerob memiliki angka sensitifitas tinggi terhadap terhadap ceforazone sulbactam.Terapi • Antibiotik (parenteral) • Berdasarkan uji kepekaaan.

dapat terjadi ruptur. angka mortalitas mencapai 40-50% walaupun dengan pemberian antibiotik • Ruptur arteri karotis mempunyai angka mortalitas 20-40% sedangkan trombosis vena jugularis mempunyai angka mortalitas 60% . sehimgga terjadi perdarahan hebat • Prognosis • baik apabila dapat didiagnosis secara dini dengan penanganan yang tepat dan komplikasi tidak terjadi • Apabila telah terjadi mediastinitis.• Komplikasi • Penjalaran ke atas dapat mengakibatkan peradangan intrakranial • ke bawah menyusuri selubung karotis mencapai mediastinum menyebabkan medistinitis • Bila pembuluh karotis mengalami nekrosis.

tenggorokan. sehingga keras pada perabaan submandibula • penyakit infeksi odontogen. lidah. tidak membentuk abses. gusi. di mana infeksi bakteri berasal dari rongga mulut seperti gigi.ANGINA LUDOVICI (LUDWIG’S ANGINA) • Definisi • infeksi ruang submandibula berupa selulitis (peradangan jaringan ikat) • tanda khas: pembengkakan seluruh ruang submandibula. dan leher • Karakter spesifik yang membedakan angina Ludovici dari infeksi oral lainnya ialah infeksi ini harus melibatkan dasar mulut serta kedua ruang submandibularis (sublingualis dan submaksilaris) pada kedua sisi (bilateral) .

.

Candida. Escherichia coli. Aerobacter aeruginosa. dan spesies Clostridium • Bakteri Gram negatif yang diisolasi antara lain spesies Neisseria. peptostreptococci. spesies Pseudomonas.Fusobacterium nucleatum. Haemophillus influenza dan spesies Klebsiella . Veillonella. Eubacteria.• Etiologi • Sumber infeksi seringkali berasal dari gigi atau dasar mulut. oleh kuman aerob dan anaerob • Streptococcus viridians dan Staphylococcus aureus • Bakteri anaerob yang diisolasi seringkali berupa bacteroides. spirochetes. dan peptococci • Bakteri gram positif.

dan menelan keluarnya air liur terus-menerus serta kesulitan bernapas malaise. takipneu.dasar mulut yang tegang dan keras dispneu. dan stridor atau kesulitan bernapas eritema. lemah.Gejala dan tanda • • • • • • • • • • • nyeri pada area gigi yang terinfeksi Dagu terasa tegang dan nyeri saat menggerakkan lidah kesulitan membuka mulut. hipersalivasi (drooling) kesulitan dalam artikulasi bicara (disarthria) Pemeriksaan fisik . malnutrisi. perabaan yang keras seperti papan (board-like) serta peninggian suhu pada leher dan jaringan ruang submandibula-sublingual yang terinfeksi disfonia (hot potato voice) akibat edema pada organ vokal nyeri menelan (disfagia). lesu. stridor inspirasi dan sianosis menunjukkan adanya hambatan pada jalan napas yang perlu mendapat penanganan segera . pembengkakan. berbicara.

• • • • • • Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium  Foto x-ray USG CT-scan MRI .

sublingual. terapi antibiotik secara progesif. dan submental • Trakeostomi • Pemberian dexamethasone IV selama 48 jam – Diawali dengan dosis 10mg.20 • pemberian Penicillin G dosis tinggi (2-4 juta unit IV terbagi setiap 4 jam) • insisi dan drainase .• Terapi • menjaga patensi jalan napas. lalu diikuti dengan pemberian dosis 4 mg tiap 6 jam selama 48 jam. dibutuhkan untuk mengobati dan membatasi penyebaran infeksi dan dekompresi ruang submandibular.

KESIMPULAN •  Abses leher dalam terbentuk didalam ruang potensial diantara fascia leher yang terdiri dari fascia superfisialis dan profunda • Ruang potensial ini terdiri dari ruang peritonsilar. dan anterior visceral space. danger space. vaskular dalam. submandibularis. karotis. mastikator. diphteroids. parotis. hemolitik stretokokus. prevertebra. • bakteri aerob (Streptococcus viridians. Neisseria. temporal.) • bakteri anaerob (Bacteroides melaninogenicus. parafaring. Klebsiella dan Haemophilus sp. suprasternal. stafilokokus. Bacteroides fragilis)   . retrofaring. Peptostreptococcus.

. USG. • Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan berupa foto polos. CT scan dan MRI. kesulitan dalam menelan (dysphagia) – rasa sakit ketika menelan (odynophagia) – trismus – Demam – malaese.• Manifestasi abses leher dalam: – nyeri tenggorokan.

krikotirotomi atau trakeostomi. obstruksi jalan nafas. gram positif dan negatif • Abses leher dalam ini jika tidak ditangani dengan adekuat akan menimbulkan berbagai macam komplikasi yang tidak jarang merupakan komplikasi yang mengancam nyawa • Komplikasi yang dapat muncul berupa penyebaran abses ke ruang leher lain. mediastinitis.• Tatalaksana abses leher dalam terdiri dari pembebasan jalan nafas yang dapat dilakukan dengan intubasi. pemberian antibiotik dan operasi • Pemberian antibiotik dipilih yang berspektrum luas yang efektif baik untuk bakteri aerob. anaerob. pneumonitis aspirasi dan abses otak .

Terdapat pada: http://www.info/Nebo/. Adams. h. Edisi 6. 795-801. Abses Leher Dalam. 849-51.738-49. Terdapat pada: http://atlas. Mouth cavity. Diakses: 2 April 2016. Bashiruddin J.yahoo. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Dalam: Boies. Diakses: 2 April 2016. Restuti RD. Fascia Cervicalis Profunda. Stiernberg CM. Edisi Keenam.php?page=content&method=static&id=116. Hal. 2006. Penyakit-Penyakit Nasofaring Dan Orofaring. Iskandar N. Jakarta: EGC. Rusmarjono.• DAFTAR PUSTAKA – – – – – – – – – – – Fachruddin D. Philadelphia: JB Lippincott Company . 1997. Jakarta : EGC. Abses Retrofaring. Rambe AYM. Dalam: Gray’s Anatomy of The Human Body. Vol 1. 2006.id/handle/ 123456789/ 3464. Ed.com/ health/images/lingual_tonsil-1853. Terdapat pada: http://www. . 2008. Jakarta: EGC. Hal. 2008. eu/index. Snell RS. Dalam: USU Digital Library. Buku Ajar Penyakit THT. Tonsil. Terdapat di: http://education. Diakses: 2 April 2016.graphicshunt. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal. Diakses: 1 April 2016.ac. G. Snell RS. Odinofagia. Iskandar N.likar.L. Yahoo Education.usu. Dalam: Soepardi EA. Dalam: Snell RS. 226-30. Pharynx. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dalam: Snell RS. Hal. 212-6. Deep neck space infections. Diakses: 3 April 2016.earspecialist. Hermani B.333. Head and neck surgery – otolaryngology.htm. Diperbaharui: 2003. Bashiruddin J. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Terdapat pada: http://repository. Edisi Keenam.com/reference/gray/subjects/ subject/ 242. Dalam: Soepardi EA. Hal. Restuti RD. 1993 . Scott BA. Pharynx. Dalam : Bailey BJ. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Zoltan V. The Mouth. Edisi 6.

Yong S.12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Gosselin BJ. J Laryngol Otol. Diakses: 2 April 2016. J Laryngol Otol.130(2):201-7. Peritonsillar Abscess.com/overflow. Jun 2004.com/ article/194863-overview#showall. Feb 2004. Beckenham T. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. Mosto MCD. Rizzo PB. Aygenc E. Diakses: 2 April 2016 Terdapat pada: http://ps. site-. Elliott M. Alwahab Y.13:327-33. Penatalaksanaan Angina Ludwig. Topazian R. 2002. Role of microbiological studies in management of peritonsillar abscess. Getnick GS. and time-specific differences in pediatric deep neck abscesses.Vol. Use of steroids in the treatment of peritonsillar abscess.accessemergencymedicine . Coticchia JM.123(8):877-9. Arnold JE. Januari-Maret 2008. Carotid artery occlusion in association with a retropharyngeal abscess.cnis. Terdapat pada: http://www.21. Selcuk A. Age-. 4th ed.B. Peritonsillar Abscess. Diakses: 2 April 2016.ca/wiki/index.118(6):439-42. Ozdem C. Saunders. Aug 2009.medscape. Raharjo SP. International Journal of Infectious Disease 2009. Geibel J. Submandibular space infection: a potentially lethal infection.70(2):359-63. Int J Pediatr Otorhinolaryngol.php/The_surgery_of_ sepsis. Mukherjee P. Oral and Maxillofacial Infection. Yun RD. Tuna EU. St. The Surgery of Sepsis. .aspx? searchStr=peritonsillar+abscess&hasExactMatch=True&hasDrugMatch=False& searchSource=Images&ftbool=False. Dalam: Access Emergency Medicine from McGraw-Hill. Terdapat pada: http://emedicine. Terakhir diperbaharui: 4 Februari 2010. Ozbek C. Jurnal Dexa Media. Terakhir diperbaharui: 20 April 2010. Louis: W. Repanos C. Feb 2006.