You are on page 1of 8

RENCANA PEMBERIAN LAYANAN

(RPL)

A. Topik Layanan

: Konseling Pasca Trauma

B. Bidang Bimbingan

: Bimbingan Pribadi

C. Jenis Layanan

: Informasi

D. Fungsi Layanan

: Pemahaman dan Pengentasan

E. Sasaran Layanan

: Peseta Didik Kelas …

F. Tugas Perkembangan

: Tekun, Tanggung Jawab, Disiplin

G. Tujuan

:

1. Peserta didik dapat mengetahui seperti apa arti pasca trauma
2. Peserta didik dapat menghindari rasa trauma jika melanda diri peserta didik
3. Peserta didik dapat menghilangkan rasa trauma apabila peserta didik tersebut
pernah merasakan trauma
H. Materi

: Terlampir (konseling pasca trauma)

I.

Metode Pembelajaran

: Diskusi, Tanya Jawab

J.

Uraian Kegiatan

:

Awal
 Memberikan salam
 Memeriksa situasi kelas dan kondisi kelas
 Memeriksa kehadiran peserta didik
 Guru BK menyampaikan topik konseling pasca trauma
 Guru BK menjelaskan materi pengertian trauma
 Guru BK menberikan materi factor penyebab Post Traumatic Stress Disorder
 Guru BK menberikan materi gejala Post Traumatic Stress Disorder
 Guru BK menberikan materi konseling Post Traumatic Stress Disorder
 Guru BK menberikan materi tujuan, tahapan dan tehnik Post Traumatic Stress
Disorder
Akhir
 Guru BK mengakhiri mata pelajaran dengan berdoa

K. Waktu

: 1 X 45 Menit

L. Hari/Tanggal

: sabtu, 09 april 2016

M. Penelenggara Layanan

:

N. Pihak yang Dilibatkan

: Peserta Didik

O. Alat dan Perlengkapan

: Laptop, LCD

P. Biaya

:-

Q. Sumber

:

R. Evaluasi dan Tindak Lanjut

:

Aspek yang di observasi
Antusias peserta didik
Partispasi peserta didik
Aktivitas peserta didik
Respon peserta didik
Kelancaran peserta didik
Suasana peserta didik

Baik

Cukup

Rencana Penilaian

Kurang

:

 Laiseg

:

1. Guru BK menanyakan kepada peserta didik pengertian trauma
2. Guru BK menanyakan kepada peserta didik tentang gambar factor yang
mempengaruhi Post Traumatic Stress Disorder
 Laijapen

:

 Laijapang

:

S. Tindak Lanjut

:

Apabila ada peserta didik dalam keseharian disekolah yang masih bimbang untuk
menentukan bakat dan minat maka akan diberikan pemahaman lewat bantuan
konseling individu
T. Catatan Khusus
Mengetahui,

:
Pontianak, 07 april 2016

Guru Pembimbing

Guru BK

Materi Satuan Layanan Informasi
A. Pengertian Trauma
Trauma berarti “ suatu luka, baik yang bersifat fisik atau jasmani maupun
psikis”. Luka itu terjadi akibat suatu peristiwa yang sangat mengguncangkan dan
terjadi secara tiba-tiba. Peristiwa traumatis ( traumatic experience )adalah
peristiwa yang menyakitkan yang menimbulkan efek psikologis dan fisiologis

yang berat. Peristiwa traumatis mencakup tragedi personal, dan dapat terjadi
dalam skala yang besar dan dengan segera dapat mempengaruhi seseorang.
Dikatakan trauma disebabkan oleh berbagai macam hal, namun ada aspek
umum yang menjadikan orang trauma yaitu benturan pemahaman seseorang
terhadap dunia maupun manusia sehingga dia mearasa berada dalam suatu situasi
yang kacau, tidak aman akhirnya dia menjadi shock.
Efek aftershock ini baru terjadi setelah beberapa jam, hari, atau bahkan
berminggu-minggu. Respon individual yang terjadi umumnya adalah perasaan
takut, tidak berdaya, atau merasa ngeri. Kondisi tersebut disebut juga dengan
stres pasca traumatik atau Post Traumatic Stress Disorder/ PTSD
Gangguan stres pascatrauma (Postraumatic stress disorder/PTSD) adalah
suatu keadaan dimana terjadi gangguan cemas setelah terjadinya suatu peristiwa
yang menyebabkan trauma psikologis. kejadian traumatik dimana saat itu orang
merasa ketakutan, ketakberdayaan, atau kengerian.
B. Faktor Penyebab PTSD
Ada tiga faktor utama yang menjadi penyebab terjadinya PTSD, yaitu :
1. Faktor kesengajaan manusia, diantaranya :
a. Pertempuran, perang sipil.
b. Pelecehan termasuk pelecehan seksual, pelecehan fisikal, pelecehan
emosional.
c. Penyiksaan.
d. Perbuatan kriminal seperti mutilasi, perampokan, kekerasan terhadap
keluarga.
e. Terorisme, Peristiwa ledakan bom, menyaksikan pembunuhan, ancaman.
f. Bunuh diri atau bentuk lain dari kematian mendadak.
g. Kerusakan atau kehilangan bagian tubuh.
2. Faktor ketidaksengajaan manusia, diantaranya :
a. Kebakaran, Ledakan kendaraan bermotor, kapal karam.
b. Bencana nuklir, runtuhnya bangunan, dan kerusakan akibat operasi pada
tubuh atau kehilangan bagian tubuh.
3. Faktor bencana alam.
a. Gempa bumi, tsunami, banjir.

b. Tornado, angin topan, dan longsor.
C. Gejala PTSD
Gejala-gejala Stres pasca trauma adalah sebagai berikut:
1) Terdapat stressor yang berat dan jelas (kekerasan, perkosaan, bencana,
perang,dll), yang akan menimbulkan gejala penderitaan yang berarti bagi
hampir setiap orang.
2) Penghayatan yang berulang dari trauma itu yang dibuktikan oleh terdapatnya
paling sedikit satu dari hal berikut:
a. Ingatan berulang dan menonjol tentang peristiwa itu
b. Mimpi-mimpi yang berulang dari peristiwa itu
c. Timbulnya secara tiba-tiba perilaku atau perasaan, seolah-olah
peristiwa traumatic itu sedang timbul kembali, karena berkaitan
dengan suatu gagasan atau stimulus/rangsangan.
3) Pengumpulan respon terhadap, atau berkurangnya hubungan dengan dunia
luar, yang mulai beberapa waktu sesudah trauma, dan dinyatakan paling
sedikit satu dari hal berikut:
a. Berkurangnya secara jelas minat terhadap satu atau lebih aktivitas
yang cukup berarti
b. Persaan terlepas atau terasing dari orang lain
c. Afek

(alam

persaan)

yang

menyempit

atau

afek

depresif

(murumg,sedih, putus asa)
4) Paling sedikit ada dua dari gejala-gejala berikut ini yang tidak ada sebelum
trauma terjadi, yaitu:
a. Kewaspadaan atau reaksi terkejut berlebihan.
b. Gangguan tidur (disertai mimpi-mimpi yang mengelisahkan)
c. Persaan bersalah karena lolos dari bahaya maut, sedangkan orang
laintidak, atau merasa bersalah tentang perbuatan yang dilakukannya
agar tetap hidup.
d. Kesukaran konsentrasi
e. Penghindaraan diri dari aktivitas yang membangkitkan ingatan
tentang peristiwa traumatic itu.

D. Pengertian Konseling ganguan traumatis
Konseling ganguan traumatis adalah proses bantuan yang diberikan kepada
individu/konseli yang mengalami Post Traumatic Stress Disorder/ PTSD.
E. Tujuan konseling Post Trauma Stress Disorder
Adapun tujuan konseling trauma menurut Sutirna (2013: 30) yaitu lebih
menekankan pada pulihnya kembali klien pada keadaan sebelum trauma dan
mampu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang baru. Selain itu,
tujuan konseling trauma adalah:
1. Berpikir realistis, bahwa trauma adalah bagian dari kehidupan
2. Memperoleh pemahaman tentang peristiwa dan situasi yang menimbulkan
trauma
3. Memahami dan menerima perasaan yang berhubungan dengan trauma
4. Belajar keterampilan baru untuk mengatasi trauma
F. Proses dan Tahapan konseling
Adapun tahapan-tahapan dalam konseling adalah sebagai berikut:
1. Pembukaan:
dimana konselor berkenalan dan membangunrapport kepada klien. Pada
fase ini merupakan titik penentu pembangunan kepercayaan klien terhadap
konselornya sehingga skill membangun hubungan yang baik dan mau
menerima dengan tampilan gesture dan bahasa tubuh serta penggunaan
kalimat perlu diperhatikan sesuai dengan penjelasan di atas.
2. Penggalian Masalah:
dimana konselor mengeksplorasi permasalahan trauma klien dengan
1. Meminta klien untuk menggambarkan kejadian traumatik yang
mereka alami, apa yang mereka lihat dan dengar
2. Meminta klien untuk menggambarkan reaksi kognitifnya terhadap
peristiwa traumatik tersebut
3. Menolong klien untuk mengenali emosi-emosi yang menyertai
kejadian tersebut
4. Menanyakan reaksi-reaksi klien setelah kejadian
3. Pencarian Solusi:

pencarian solusi klien terhadap permasalahan traumanya yang diawali
a. Menginformasikan kepada klien bahwa trauma yang telah
diceritakan adalah suatu bentuk dari memori. Trauma cenderung
membuat memori menjadi beku dan membekukan klien sehingga
sering membuat mereka tidak mampu mengambil tindakan lebih
lanjut. Konselor memiliki tugas untuk me-reframe flashback dalam
upaya penyembuhan dari pengalaman traumatik agar mereka dapat
mengembangkan hidupnya lebih lanjut. Membuat klien menyadari
kejadian traumatiknya adalah sangat penting sebagai suatu
transisi kehidupan dan hal itu normal saja. Your responses are
NORMAL reactions to ABNORMAL events
b. Klien diajak untuk berani menghadapi perasaannya yang ditekan
akibat trauma. Hal ini bukan persoalan mudaj karena kebanyakan
mereka tidak mau atau takut untuk merasakan emosi itu kembali.
Tapi yang terpenting bagi klien adalah menghadapi emosi-emosi
negatifnya (marah, cemas, takut,sedih,berduka).
c. Mengajak klien melakukan bentuk coping lain tidak hanya berthan
pada mekanisme pertahanan diri saja. Klien diajak untuk mampu
membicarakan kejadian traumanya dengan orang lain , membaca
tulisan-tulisan atau melihat televisi yang berkaitan dengan kejadian
traumanya. Hal ini akan memberikan pemahaman yang lebih baik
mengenai

kejadian

traumatiknya

dan

mampu

mnegurangi

perasaan-perasaan negatifnya.
d. Menolong klien untuk mengidentifikasi pemicu reaksi-reaksi
traumanya dan mengajari bagaimana mengendalikan. Cara-cara
yang bisa dilakukan adalah dengan mengajari klien relaksasi,
menarik nafas dalam-dalam dengan diikuti self-talk
4. Penutup:
mereview dan memberi dukungan kepada klien untuk mampu
menjalankan kesepakatan di konseling.

Konselor memberikanself monitoring untuk dikerjakan sebelum sesi
kedua.Selanjutnya

konselor

mengevaluasi

hasil

konseling

dan

menentukan langkah selanjutnya untuk penanganan traumatik klien.
G. Tehnik konseling
1. Terapi behavioral lewat proses khusus yang melibatkan pengandaian
mental dari peristiwa yang memicu traumatik atau membayangkan
serangkaian situasi yang semakin menakutkan sementara berada dalam
kondisi

relaksi

mendalam dan

disandingkan

dengan

terapi

relaksasi.Tehnik yang digunakan adalah desentisisasi sistematus yaitu
tehnik relaksasi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang negative
dan menyertakan respon yang berlawanan dengan prilaku yang akan
dihilangkan. Stimulus yang menimbulkan kecemasan dipasangkan dengan
stimulus yang menimbulkan keadaan santai. Dengan teknik ini, penderita
akan menanggulangi rasa takutnya pada pemicu trauma.
2. Terapi kognitif untuk menghadapi efek peristiwa penyebab trauma. Terapi
dengan cara si penderita bercerita bisa membantu penderita mengurangi
kenangan buruk masa silam.
3. Terapi psikoanalisis dengan memaparkan kembali penderita terhadap
peristiwa traumatik namun dengan lingkungan yang lebih mendukung.
Dengan terapi ini, penderita akan memahami perasaan sadar dan tak sadar
terhadap peristiwa yang mempengaruhinya tersebut dan belajar menerima
kondisi.
4. Terapi medis dengan pemberian obat penenang atau obat anti depresann
dapat membantu untuk mengobati gangguan-gangguan kecemasan
lainnya. Namun masalah potensial dengan terapi obat adalah bahwa pasien
kemungkian menganggap perbaikan klinis yang terajadi disebabkan oleh
obat dan bukan karena mereka sendiri. Obat tidak mampe memberikan
efek kesembuhan secara total karena terapi obat hanya mengobati gejal
bukan inti dari masalah trauma itu sendiri.