You are on page 1of 7

BAB II

Tinjauan Pustaka

1. Penyakit dekompresi
1.1.

Definisi

Penyakit Dekompresi (PD) adalah suatu sindrom yang disebabkan oleh
pengurangan secara cepat tekanan lingkungan yang menyebabkan
pembentukan gelembung dari gas – gas di dalam tubuh.
1.2.

Faktor resiko

Penyakit dekompresi dapat terjadi pada ornag yang :
-

Obesitas
Wanita
Sensitivitas pada komplemen
Serum kolestrol yang tinggi
Lamanya berada di laut.

1.3.

Patofisiologi

Rata – rara tubuh seseorang di permukaan air laut mengandung 1 liter oksigen.
Semua jaringan tubuh terlarut dengan nitrogen pada tekanan parsial yang sama
dengan tekanan parsial alveoli , sekitar 0,97 ATA. Tekanan parsial nitrogen dapat
berubah akibat perubahan tekanan total campuan gas. Perubahan tekanan
nitrogen ini akan menyebabkan berubahnya kelaruan nitrogen di tubuh sesuai
dengan perubahan tekanan tersebut. Hal ini sesuai dengan penjelasan Hukum
Henry , Jumlah gas yang terlarut sama dengan proporsi tekanan parsial gas
tersebut.
Jumlah gas inert dapat bertambah dan berkurang sesuai tekanannya. Proses
untuk menambah jumlah gas inert disebut absorbs atau saturasi. Sebaliknya ,
proses untuk mengurangi jumlah gas inert disebut eliminasi atau desaturasi.
Proses ini dapat dijelaskan dengan langkah :
1. Ketika orang di permukaan laut tekanan parsial nitrogen di permukaan adalah
0,8 ATA
2. Ketika orang tersebut menyelam dengan kedalaman 100 ftw , maka tekanan
parsial nitrogennya berubah menjadi 3,2 ATA
3. Perubahan tekanan ini menimbulkan gradien tekanan , sehingga
menyebabkan banyak nitrogen berdifusi melalui alveolus ke kapiler
4. Setelah terjadi pertukaran nitrogen , tekanan parsial nitrogen di kapiler
berubah sama dengan tekanan parsial nitrogen di alveolus. Ketika darah

molekul nitrogen berpindah dari kapiler ke jaringan hingga tekanannya sama. 14. Ketika tekanan parsial nitrogen jaringan bertambah . 12. maka terjadi gradient tekanan antara kapiler dan jaringan tersebut. tekanan parsial nitrogen di vena sama dengan tekanan parsial nitrogen di jaringan . Jaringan dengan suplai darah yang banyakr lebih cepat mencapai ekuaisasi tekanan dari pada jaringan yang mendapat suplai darah yang sedikit. Volume darah di jaringan relative kecil dibandingkan volume jaringan itu sendiri. Ketika darah kembali ke paru . 5. Gelembung gas yang terbentuk dalam tubuh akan memiliki efek kepada tubuh penyelam tersebut. pada vena .Jaringan – jaringan tersebut terus menerus mengabsorbi nitrogen samapai tekanan parsialnya mencapai 3.2 ATA maka tubuh penyelam tersebut mengandung 4 kai nitrogen lebih banyak daripada di permukaan. 15.mencapai jaringan . Efek langsung gelembung gas Efek langsung gelembung gas tubuh dapat menyebabkan kerusakan jaringan akibat efek mekanik dari gas tersebut. Selain itu .Ketika tekanan parsial nitrogen di alveolus menurun . ia kembali mencapai tekanan parsial nitrogen 3. gelembung tersebut dapat . 8. dari darah ke paru . Hal ini dapat menyebabkan pembentukan gelembung – gelembung gas. Efek pada endotel Gelembung gas pada endotel akan berinteraksi dengan tunika intima . Sehingga. 11. 9. gradient tekanan yang baru mengakibatkan difusi gas nitrogen dari jaringan ke darah. ia kehilangan kembali nitrogennya sampai mencapai kadar yang sama. 6.Ketika suatu jaringan memiliki kapasitas nitrogen yang besar . Akibat dari disfungsi endotel dapat terjadi kebocoran plasma. 13.Beberapa bagian tubuh yang memiliki supali darah sedikit dan kapasitas nitrogen yang banyak mengeliminasi nitrogen secara lambat. 10. Ketika darah kembali ke jaringan . Efek yang terjadi seperti : 1.Ketika telah mencapai tekanan 3. Hal ini menyebabkan darah melepas banyak nitrogen tanpa peningkatan tekanan jaringan yang sidnifikan. maka jaringan tersebut memakan waktu saturasi yang lebih lama dari jaringan lain.2 ATA 7. dan keluar melalui ekspirasi. gradient kapiler – jaringan menurun . perlambatan pertukaran nitrogen terjadi.Ketika penyelam naik ke perukaan secara cepat .2 ATA. Gelembung pada ujung ujung neuron dapat menekan neurin tersebut sehingga menimbulkan disfungsi neuron. maka gradient tekanan parsial nitrogen yang terbentuk akan besar. 2. Ketika darah meninggalkan jaringan . Jaringan lemak memiliki kandukan oksigen lebih banyak daripada jaringan lain. Pada jaringan ikat dapat menyebabkan distraksi jaringan ikat yang menyebabkan nyeri. Hal ini terjadi pada jaringan lemak. yang dapat menyebabkan disfungsi endotel.

siku . Nyeri muskuloskeletal Gejala yang sering timbul adalah nyeri sendi. Penyakit dekompresi jarang terjadi pada orang yang terpapar tekanan kurang dari 2 ATA. Gelembung tersebut dapat berjalan ke sirkulasi dan dapat menyebabkan emboli. lutut dan pergelangan kaki. jari . Diagnosis Diagnosis penyakit dekompresi didapat melalui anamnesa dan pemeriksaan fisik. sehingga dapat menyebabkan hipoksia jaringan.1. Nyeri yang timbul biasanya ringan ke berat dan sulit dilokalisasi. Nyeri . 3. Berikut ini gejala dan tanda yang timbul pada penyakit dekompresi. Nyeri sendi sering timbul di bahu .menghambat aliran vena .Gejala dan tanda penyakit dekompresi dibagi beberapa tipe : 1. Penyakit dekompresi TIpe I Dekompresi tipe I memiliki gejala gangguan 1. Efek pada platelet Gelembung gas intravaskuler akan mengaktifkan platelet. pergelangan tangan .4. 1.

2. paralisis. vertigo . Nyeri tidak boleh dihilangkan dengan obat karena dapat menghilangkan masalah dan mengganggu monitoring perkembangan terapi.2. Gangguan sensori dapat timbul sebagai parastesia . Gejala Neurologi Gejalaneurologi dapat timbul pada semuabagian system neurologi . Penyakit dekompresi tipe II Pada penyakit dekompresi tipe II pasien dapat merasakan lelah akibat kondisi latihan yang berlebihan. Ruam dapat timbul dan membentuk cutis marmorata. kemerahan . 1. 2.Hipoksia cerebral . Gejala ini dapat timbul sebahai : batuk yang pada inspirasi . tremor. Gejala kutaneus Gejala yang sering timbul pada kulit adalah gatal. penurunan sensai sentuh . dan adanya perubahan warna kulit biru gelap dan kulit terasa tebal. peningkatan frekuensi nafas. Gejala telinga dalam (stagger) Gejala telinga dalam dapat timbul sebahai tinnitus . hilangnya pendengaran . mual dan muntah.Aritmia cordis . telinga dalam dan kardio pulmoner. Cutis marmorata ditandai dengan gatal . Gelaja pada Kelenjar Getah Bening Gejala pada kelenjar getah bening dapat timbul karena sumbatan .2.Edema paru . 1.5. gangguan motori . yang menyebabkan nyeri dan pembengkakan pada kelenjar getah bening. mati rasa . 1.Gangguan telinga dalam . gangguan kepribadian . 2. Apabila timbul gatal maka tidak di butuhkan rekompresi. gangguan status mental.3. Selain itu gejala dapat berupa lemah otot .1. Komplikasi Komplikasi pada penyakit dekompresi yang dapat timbul adalah : . 2. Setelah itu diikuti timbulnya gangguan neurologi . amnesia .3. Apabila timbul cutis marmorata maka pasien dimasukkan ke dalam penyakit dekompresi tipe II. Gejala kardiopulmonar (chokes) Gejala kardiopulmonar atau chokes disebaban oleh gelembung intravascular karena kongesti vaskuler.bersifat tumpul dan dalam.

Diving Manual. Kecepatan turun – 20 kaki / menit Kecepatan naik – tidak lebih dari 1 kaki permenit Oksigen hiperbarik diberikan pada kedalaman 60 kaki Ketika oksigen harus dihentikan karena toksisitas oksigen . Protokol untuk pengobatan penyakit dekompresi sesuai dengan yang tertera pada U. Peranan Terapi Oksigen Hiperbarik pada penyakit dekompresi - Tujuan dari terapi oksigen hiperbarik pada penyakit dekompresi adalah : Kompresi pada gelembung gas sehingga larut kembali Memberikan waktu untuk gelembung tersebut larut Memberikan oksigen pada jaringan iskemia dan cedera Terapi oksigen hiperbarik merupakan terapi yang direkomendasikan untuk penyakit dekompresi. Table terdapat 2 periode nafas oksigen hiperbarik secara langsung tanpa fase nafas dengan udara biasa. 4. Terapi untuk penyakit dekompresi tipe I menggunakan table 5 Ketentuan : 1. berikan waktu 15 menit setelah gejala hilang .S.2. lalu lanjutkan pada titik terakhir sebelum gangguan muncul 5. 2. 3. Terapi untuk penyakit deompresi tipe II menggunakan table 6A .

4. 3. . Faktor – faktor tersering dari kasus tersebut adalah : 1. Graham dan Bayne (1978) menekankan pentingnya pengobatan sedini mungkin. berikan waktu 15 menit setelah gejala hilang . lalu lanjutkan pada titik terakhir sebelum gangguan muncul Terapi biasanya dilakukan dengan mutiplace chamber . Kerugian yang ditimbulkan berupa keracunan oksigen. dan hasilnya tidak diteukan mortalitas dan morbiditas. Penggunaan oksigen murni memilliki kerugian pada tekanan lebih dari 3 ATA.Ketentuan : 1. Pada terapi oksigen hiperbarik digunakan oksigen murni. 2. 5. Skreening medical harus tepat Dokter dan penyelam tahu tanda dan gejalanya Waktu timbul gejala sampai terapi sesingkat mungkin Diagnosis yang tepat Penggunaan cairan intravena dan deksametason. 2. Ada beberapa kontroversi tentang penggunaan chamber monoplace untuk penyakit dekompresi. Lima puluh kasus penyakit dekompresi diteliti setelah terapi . 4. Penghetian oksigen selama beberapa saat pada saat terapi dapat digunakan untuk mengurangi kerugian tersebut. Kecepatan turun – 20 kaki / menit Kecepatan naik – tidak lebih dari 1 kaki permenit Oksigen hiperbarik diberikan pada kedalaman 60 kaki Ketika oksigen harus dihentikan karena toksisitas oksigen . Kebanyakan chamber monoplace untuk penyakit dekompresi karena kebanyakan monoplace chamber tidak dapat dikompresi hingga 6 ATA. 3.

Physiology and Mecine of Hyperbaric Oxygen Therapy : Decompression Sickness. Kedokteran Hiperbarik : Penyakit dekompresi. Moon. U.S.S. Decompresion sickness. Government Printing Office.DF. Philadelphia. Saunders. Washington. Mintohardjo.U.Gorman. 2000.Referensi . Soejono S. Senter Kesehatan Hiperbarik RSAL Dr. .2008.RE. Navy Diving manual 2008. Jakarta.