You are on page 1of 8

PATOGENESIS CORONARY ARTERY DISEASE

Penyakit jantung koroner adalah istilah umum untuk penumpukan plak di arteri
jantung yang dapat menyebabkan serangan jantung. Penyakit jantung koroner disebut
juga coronary artery disease (CAD), penyakit jantung iskemik (IHD), atau penyakit
jantung aterosklerotik adalah hasil akhir dari akumulasi plak ateromatosa dalam
dinding-dinding arteri yang memasok darah ke miokardium (Ginanjar, 2014).
Penyakit jantung koroner terjadi ketika zat yang disebut plak menumpuk di
arteri yang memasok darah ke jantung (disebut arteri koroner), penumpukan plak dapat
menyebabkan angina, kondisi ini menyebabkan nyeri dada dan tidak nyaman karena
otot jantung tidak mendapatkan darah yang cukup, seiring waktu, PJK dapat
melemahkan otot jantung, hal ini dapat menyebabkan gagal jantung dan aritmia
(Ginanjar, 2014).
Penyakit jantung koroner adalah penyempitan atau tersumbatnya pembuluh
darah arteri jantung yang disebut pembuluh darah koroner. Sebagaimana halnya organ
tubuh lain, jantung pun memerlukan zat makanan dan oksigen agar dapat memompa
darah ke seluruh tubuh, jantung akan bekerja baik jika terdapat keseimbangan antara
pasokan dan pengeluaran. Jika pembuluh darah koroner tersumbat atau menyempit,
maka pasokan darah

ke

jantung

akan

berkurang,

sehingga

terjadi

ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan zat makanan dan oksigen, makin
besar persentase penyempitan pembuluh koroner makin berkurang aliran darah ke
jantung, akibatnya timbulah nyeri dada (Ginanjar, 2014).
Aterosklerosis adalah kondisi pada arteri besar dan kecil yang ditandai
penimbunan endapan lemak, trombosit, neutrofil, monosit dan makrofag di seluruh
kedalaman tunika intima, dan akhirnya ke tunika media. Arteri yang paling sering
terkena adalah arteri koroner, aorta dan arteri-arteri sereberal (Ginanjar, 2014).
Langkah pertama dalam pembentukan aterosklerosis dimulai dengan disfungsi
lapisan endotel lumen arteri, kondisi ini dapat terjadi setelah cedera pada sel endotel
atau dari stimulus lain, cedera pada sel endotel meningkatkan permeabelitas terhadap
berbagai komponen plasma, termasuk asam lemak dan triglesirida, sehingga zat ini
dapat masuk kedalam arteri, oksidasi asam lemak menghasilkan oksigen radikal bebas

monosit yang matang menjadi makrofag dan bersama neutrofil tetap melepaskan sitokin. Cedera pada sel endotel dapat mencetuskan reaksi inflamasi dan imun. terutama neutrofil dan monosit. mengaktifitas sel T dan B. menarik lebih banyak sel darah putih dan trombosit ke area lesi. agregasi trombosit meningkat dan mulai terbentuk bekuan darahmengaktifkan siklus inflamasi. yang meneruskan siklus inflamasi. serta trombosit ke area cedera. Pada saat ditarik ke area cedera. monosit dan neutrofil mulai berimigrasi di antara sel-sel endotel keruang interstisial. Pada saat ditarik ke area cedera. sel darah putih akan menempel disana oleh aktivasi faktor adhesif endotelial sehingga endotel lengket terutama terhadap sel darah putih. pembekuan dan fibrosis (Ginanjar. agregasi trombosit meningkat dan mulai terbentuk bekuan darah sebagian dinding pembuluh diganti dengan jaringan parut . Sitokin proinflamatori juga merangsan ploriferasi sel otot polos yang mengakibatkan sel otot polos tumbuh di tunika intima. pembekuan dan fibrosis (Ginanjar. monosit dan neutrofil mulai berimigrasi di antara sel-sel endotel ke ruang interstisial. menstimulasi proses pembekuan. Sitokin proinflamatori juga merangsan ploriferasi sel otot polos yang mengakibatkan sel otot polos tumbuh di tunika intima. pada saat menempel di lapisan endotelial. sel darah putih melepaskan sitokin proinflamatori poten yang kemudian memperburuk situasi. termasuk menarik sel darah putih. pada saat menempel di lapisan endotelial. 2014). Di ruang interstisial. Apabila cedera dan inflamasi terus berlanjut. monosit yang matang menjadi makrofag dan bersama neutrofil tetap melepaskan sitokin. dan melepaskan senyawa kimia yang berperan sebagai chemoattractant yang mengaktifkan siklus inflamasi. yang meneruskan siklus inflamasi. sal darah putih akan menempel disana oleh aktivasi faktor adhesif endotelial sehingga endotel lengket terutama terhadap sel darah putih. pada tahap indikasi dini kerusakan teradapat lapisan lemak diarteri. Selain itu kolesterol dan lemak plasma mendapat akses ke tunika intima karena permeabilitas lapisan endotel meningkat.yang selanjutnya dapat merusak pembuluh darah. Apabila cedera dan inflamasi terus berlanjut. Selain itu kolesterol dan lemak plasma mendapat akses ke tunika intima karena permeabilitas lapisan endotel meningkat. pada tahap indikasi dini kerusakan teradapat lapisan lemak diarteri. Di ruang interstisial. 2014).

pembentukan deposit jaringan parut. pembentukan bekuan yang berasal dari trombosit dan proliferasi sel otot polos sehingga pembuluh mengalami kekakuan dan menyempit. 2014). dan kemudian terjadi iskemia (kekurangan suplai darah) miokardium dan sel-sel miokardium sehingga menggunakan glikolisis anerob untuk memenuhi kebutuhan energinya (Ginanjar. Apabila kekakuan ini dialami oleh arteri-arteri koroner akibat aterosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan oksigen. 2014). Proses pembentukan energi ini sangat tidak efisien dan menyebabkan terbentuknya asam laktat sehinga menurunkan pH miokardium dan menyebabkan nyeri yang berkaitan dengan angina pectoris. Ketika kekurangan oksigen pada jantung dan sel-sel otot jantung berkepanjangan dan iskemia miokard yang tidak tertasi maka terjadilah kematian otot jantung yang di kenal sebagai miokard infark (Ginanjar. . hasil akhir adalah penimbunan kolesterol dan lemak.sehingga mengubah struktur dinding pembuluh darah.

Metabolit aktif desmetil biasanya bersifat anxiolitas. Obat-obat ini jarang menghasilkan efek sisa karena tidak terakumulasi pada penggunaan berulang. flurazepam (Setiawati. Ikatan dengan reseptor ini . estazolam (Setiawati. semakin lama juga waktu kerjanya. 2012) Mekanisme kerja Mekanisme kerja diazepam bertindak dengan meningkatkan aksi GABA (GammaAminobutyric Acid) yang merupakan neurotransmitter inhibisi utama dalam sistem saraf pusat. 2012) 2. Contohnya lorazepam. Cotohnya midazolam. Long acting. Hanya kurang dari 5. Sehingga waktu kerjanya tidak diperpanjang. 2012) 3. semakin lama waktu kerjanya (Setiawati.5 jam. Obat-obat ini dirombak dengan jalan demetiasi dan hidroksilasi menjadi metabolit aktif (sehingga memperpanjang waktu kerja) yang kemudian dirombak kembali menjadi oksazepam yang dikonjugasi menjadi glukoroida tak aktif. Benzodiazepin berikatan dengan reseptor tertentu pada kompleks reseptor GABA dan demikian memfasilitasi pengikatan GABA ke situs reseptor spesifik. Semakin kuat zat berikatan pada reseptornya. Sehingga biasanya. Short acting Obat-obat ini dimetabolisme tanpa menghasilkan zat aktif. zat long acting lebih banyak digunakan sebagai obat tidur walaupun efek induknya yang paling menonjol adalah sedative-hipnotik. afinitas terhadap reseptor juga sangat menentukan lamanya efek yang terjadi saat penggunaan. 2012) Selain sisa metabolit aktif menentukan untuk perpanjangan waktu kerja. Contohnya diazepam. Semakin kuat zat berikatan pada reseptornya. afinitas terhadap reseptor juga sangat menentukan lamanya efek yang terjadi saat penggunaan. triazolam (Setiawati. Efek abstinensia lebih besar terjadi pada obat-obatan jenis ini.GOLONGAN BENZODIADEPIN Klasifikasi Berdasarkan lama kerjanya Benzodiazepin dapat digolongkan ke dalam 3 kelompok 1. Ultra short acting Lama kerjanya sangat kurang dari short acting. Selain sisa metabolit aktif menentukan untuk perpanjangan waktu kerja.

anxiolysis dan antikonvulsan. relaksasi otot lurik. Berdasarkan lama kerja. Stimulasi reseptor GABA sistem saraf tepi dapat menyebabkan penurunan ke jantung dan vasodilatasi.01 microgram/ml. Diazepam diabsorbsi dengan baik di saluran cerna. konsentrasi plasma rata-rata 76% dan 81% Bioavailibilitas lebih rendah pada pemberian suppositoria (Setiawati. 2012) b) Distribusi Transpor sedative-hipnotika di dalam darah merupakan proses dinamis dimana molekul-molekul obat masuk dan keluar jaringan pada kecepatan yang bergantung pada aliran darah. Kelarutan dalam lipid memegang peranan penting dalam menentukan sedative-hipnotika tertentu.02-1. Kecepatan absorbsi oral diazepam lebih cepat dibanding benzodiazepin pada umumnya.menyebabkan peningkatan frekuensi pembukaan saluran klorida menyebab hiperpolarisasi membrane. diazepam termasuk golongan benzodiazepin dengan cara kerja waktu paruh lebih lama dari 24 jam. dengan waktu puncak 1-2 jam dan durasi 2-3 jam. Diazepam dan sebagian besar sedativehipnotika lainnya berikatan kuat dengan protein plasma. Pada pemberian oral atau per rectal. 2012) c) Metabolisme . sedativehipnotik biasanya diberikan secara oral. Secara oral onsetnya 30 menit. Kekuatan ikatannya berhubungan erat dengan sifat lipofiliknya. yang menghambat eksitasi seluler Peningkatan neurotransmisi GABA menyebabkan efek sedasi. waktu puncaknya 30-90 menit dengan durasi yang sama 30-90 menit. pada diazepam adalah 99% Kadarnya pada cairan serebrospinal kira-kira sama dengan kadar obat bebas di dalam plasma. Pada pemberian intramuskular onsetnya 15 menit. Secara intravena onsetnya l-5 menit. Diazepam akan mengalami akumulasi pada penggunaan dosis berulang (Setiawati. 2012) Farmakokinetik a) Absorbsi Apabila digunakan untuk mengobati kecemasan atau gangguan tidur. dan permeabilitas.Perubahan ini memiliki potensi untuk mengubah perfusi jaringan (Setiawati. perbedaan konsentrasi. Plasma konsentrasi dari diazepam adalah 0. waktu puncaknya 15 menit dan durasi 15-60 menit. Kecepatan transformasi metabolis dan eliminasi diazepam sangat lambat.

Transformasi metabolis menjadi metabolit yang lebih mudah larut di dalam air diperlukan untuk klirens obat dalam tubuh. Indikasi Secara umum penggunaan terapi benzodiazepine bergantung kepada waktu paruhnya. metabolit selanjutnya dikonjugasi (reaksi fase II) oleh glucuronosyltransferase membentuk glucoronide yang diekskresi urine (Setiawati.Obat golongan benzodiazepin dimetabolisme secara ekstensif oleh kelompok enzim sitokrom P450 di hati. baik dalam bentuk bebas maupun terkonjugasi. pengurangan terhadap rangsangan emosi/ ansietas. Benzodiazepine meningkatkan efek GABA dengan berikatan ke tempat yang spesifik dan afinitas tinggi. suatu protein heteroligometrik transmembran yang berfungsi sebagai kanal ion klorida. 2012). meningkatkan ambang kejang. dan spastisitas dari gangguan degenerative. d) Eksresi Diazepam diekskresi melalui urine. relaksasi otot. Diazepam merupakan obat pilihan dalam mengatasi kejang epilepsi tipe . 2012). dan ᵧ dimana berkombinasi dengan lima atau lebih dari membrane postsinaptik. Reseptor ini terdiri dari subunit α. β. yang diaktivasi oleh neurotransmitter GABA inhibitorik (Setiawati. Diazepam di eksresi dalam urine sebagai glucoronides a oxidized metabolit. Diazepam juga digunakan untuk terapi spasme musculoskeletal seperti strain. Diazepam digunakan untuk pengobatan jangka panjang pada anxietas. terutama CYP3A4 dan CYP2C19 Beberapa benzodiazepin seperti oksazepam dikonjugasi langsung dan tidak dimetabolisme oleh enzim tersebut. dan tidak selalu sesuai dengan indikasi yang dipasarkan. Hanya dua efek saja yang merupakan kerja golongan ini pada jaringan perifer vasodilatasi koroner setelah pemberian dosis terapi secara IV dan blockade neuromuscular yang hanya terjadi pada pemberian dosis tinggi. Reseptor ionotropik ini. dan anti konvulsi. Waktu eliminasi plasma akan memanjang pada neonatus. Pada sebagian besar kasus. hypnosis. Target dari kerja benzodiazepine adalah reseptor GABA. 2012). geriatrik. dan pasien dengan gangguan liver. Efek terapeutik diazepam digunkan untuk menghasilkan efek anxiolytic. Diazepam mengalami oksidasi mikrosomal (reaksi fase I). menghasilkan relaksasi musculoskeletal. perubahan fungsi ginjal tidak memiliki efek yang kuat terhadap eliminasi obat induk (Setiawati. Farmakodinamik Hampir semua efek benzodiazepine merupakan hasil kerja golongan ini pada SSP dengan efek utama: sedasi.

5 mg dalam 2 kali hari anak : 0.3 mg/kg/dosis tiap 15-30 menit.4 kali hari jika perlu IV IM: dewasa. sendiri mengoprasikan mesin. Dosis dan sediaan a) Pada penggunaan untuk anti ansietas.grandma. geriatric : 10 mg 3-4 kali selama 24 jam pertama.12-0. geriatri : mulanya 10 mg. nyeri yang tidak terkontrol akut pulmonary insufisiensi.04-0.05-0. depresi SSP. maksimum 5 mg dosis . relaksasi otot nuskusekletal PO: dewasa : 2-10 mg terbagi 2-4 kali hari geriatri : 2. Efek sedasi yang muncul pada atau awal penggunaan perlu diperhatikan. tiap 6-8 jam IV dan IM : dewasa : 2-10 mg diulang 3-4 jam anak : 0. myasthenia gravis atau sleep apnue.2-0. atau pasien yang dalam keadaan lemah karena cenderung lebih mudah terkena efek samping. maksimum: 0. geriatri : 5-15 mg dalam 5-10 menit sebelum dimulai anak : 0. Pasien dengan riwayat kecanduan alcohol dan obat. 2012). berhubungan dengan obat ini dapat menembus barrier plasenta.3 mg/kg/dosis tiap 15-30 menit.3 mg/kg/ dosis tiap 2-4 jam. maksimum 10 mg/dosis anak ˂5 tahun : 0.5 mg/kg dalam 8 jam b) Untuk Preanastesia IV: dewasa. Penggunaan obat ini juga perlu perhatian khusus pada pasien dengan kelemahan otot.8 mg/KgBB/ hari terabgi dalam beberapa dosis. sehingga pasien tidak berkendara. 2012). Pada ibu menyusui dapat diberikan dengan dosis rendah apabila terpaksa dan tidak dapat dihindari penggunaannya (Setiawati. Obat ini tidak bissa diberikan pada ibu hamil dan menyusui. lalu diturunkan 5-10 mg 3. sakit berat. dan gangguan hepar. status epileptikus bermanfaat untuk digunakan dalam penanganan akut dari gejala putus obat alcohol (Setiawati. gangguan ginjal. diikuti 5-10 mg tiap 3-4 jam d) Status Epileptikus IV: dewasa. geriatri : 5-10 mg tiap 10-15 menit hingga 30 mg/ 8 jam anak 5 tahun ≥ : 0.2 mg/kg maksimum 10 mg c) Gejala withdrawal PO: dewasa.obatan harus di perhatikan. dpresi nafas. koma. yang biasanya membutuhkan adanya penurunan dosis.05-0. Pada penggunaan sedasi dalam perlu perhatian pada fungsi kardiorespirasi Obat diazepam juga perlu diperhatikan pada penggunaannya pada pasien gangguan daerah otak slah satunya arteriosklerosis. Perlu diperhatikan pada penggunaan terhadap geriatri. Kontraindikasi dan perhatian khusus Tidak boleh digunakan pada pasien dengan angleclosure glaucoma.

Ikatan plasma diazepam dan desmethyldiazepam menurun dan konsentrasi bebas meningkat dan segera mengikuti heparin ke di dalam aliran darah Antidepresan dapat mengganggu metabolisme obat-obat golongan benzodiazepine. Efek samping juga dapat muncul dengan penggunaan obat yang dapat mengganggu metabolism diazepam. sedangkan rifampisin 1 menurunkan t 2 1 dari diazepam. gastrointestinal drugs. 2012). Digoxin mengganggu efek farmaokinetik diazepam. bingung. Oral kontrasepsi. disulfiram. kelemahan otot. . Efek samping yang jarang timbul vertigo. termasuk alkohol. Obat lain yang berinteraksi dengan diazepam. antipsikotik. general anastesi. Propanolol dan metoprolol menghambat metabolism diazepam. tembakau. retnsi urin atau inkontinensia urin. Obat golongan benzodiazepine tidak boleh di berikan bersama obat anti viral terutama HIV-protease inhibitors. anti depresan sedative antihistamin. gangguan visual. sakit kepala. dan xantin (Setiawati. tremor. 2012). perubahan salvias dan amnesia (Setiawati. dan isoniazid meningkatkan waktu t 2 diazepam pada dosis tunggal. general anstesi. dan depresi nafas dan depresi kardiovaskular dapat terjadi pada penggunaan diazepam bersama obat lain yang mendepresi SSP. dan ataxia. obat hipnotik-sedatif lainnya dan analgesik opiat. Muscle relaksan. perubahan libido. depresi. disartria. Analgesik dan diazepam dapat menyebabkan terjadi depresi nafas 1 Ciprofloxacin menurunkan klerens diazepam dan memanjangkan t 2 .Interaksi obat Peningkatan efek sedasi. Efek Samping Efek samping yang sering dapat muncul pada penggunaan diazepam adalah sedasi.