You are on page 1of 12

41.

CEKUNGAN CELEBES

41.1 REGIONAL
Nama cekungan polyhistory

: Paleogene Oceanic Fracture - Neogene Remnant Oceanic

Klasifikasi cekungan

: Cekungan Sedimen Belum Di Eksplorasi

41.1.1 Geometri Cekungan
Cekungan Celebes terletak di utara Pulau Sulawesi, Indonesia Timur, luas area mencapai 27.480 km2.
Batuan dasar cekungan berumur Eosen, dengan ketebalan sedimen 1.000-2.000 m pada kedalaman 2.000
m. Tatanan evolusi tektonik dan rekonstruksi cekungan masih sulit untuk dilakukan karena berada pada
daerah yang kompleks. Kerangka tektoniknya dipengaruhi oleh interaksi tumbukan tiga lempeng, yaitu
Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat, Lempeng India-Australia bergerak ke utara dan Lempeng
Eurasia yang ditekan oleh pergerakan dua lempeng diatasnya. Batas cekungan berdasarkan pada anomali
gaya berat yang menunjukkan anomali negatif dan didukung oleh data isopach.
Cekungan dibatasi oleh Busur Sangihe dan Filipina Selatan di bagian timur, pada bagian selatan dibatasi
oleh Lengan Utara Sulawesi, bagian barat oleh Pulau Kalimantan dan bagian utara oleh Kepulauan Sulu
(Gambar 41.1).

41-1

Gambar 41.1 Peta lokasi Cekungan Celebes.

41-2

Gambar 41.2 Peta isopach Cekungan Celebes.

41-3

41.2 TEKTONIK DAN STRUKTUR GEOLOGI REGIONAL

Wilayah Laut Sulawesi, bagian timur Indonesia didominasi oleh tektonik yang kompleks disebabkan
oleh tumbukan tiga lempeng utama (Gambar 41.3). Laut Sulawesi menutupi area sekitar 400.000 km 2
dengan kedalaman laut sekitar 4.800 dan 5.400 m dan ketebalan kerak sekitar 6 – 7 km dengan indikasi
kerak samudera (Murauchi dkk., 1973 dalam Djajadihardja dkk., 2003). Zona subduksi ditemukan
sepanjang Palung Cotabato di bagian timurlaut Laut Sulawesi dan sepanjang Palung Sulawesi Utara di
bagian selatan Laut Sulawesi.
Menurut Kraig (1971 dalam Djajadihardja dkk., 2003), Cekungan Celebes merupakan cekungan busur
belakang. Lee dan McCabe (1986 dalam Djajadihardja dkk., 2003) menafsirkan bahwa cekungan ini
sebagai fragmen dari cekungan laut terdahulu, pada saat Banda, Sulawesi dan Laut Sulu merupakan
suatu kesatuan yang saat ini dipisahkan oleh sabuk tumbukan dan zona subduksi. Weissel (1980 dalam
Djajadihardja dkk., 2003) mengidentifikasikan anomali magnetik M18 – M20 di Laut Sulawesi dan
mengusulkan umur kerak 42 – 47 jtl (Eosen Tengah). Pemboran di Cekungan Celebes oleh ODP pada
Site 767 dan 770, menyatakan bahwa umur batuan dasar berkisar 42 – 43 jtl (Rangin dkk., 1990 dalam
Djajadihardja dkk., 2003).
Awal mula subduksi litosfer Laut Sulawesi di bagian Palung Sulawesi Utara diperkirakan terjadi pada 8
jtl (Rangin dan Silver, 1991 dalam Djajadihardja dkk., 2003) atau 5 jtl (Surmont dkk., 1994 dalam
Djajadihardja dkk., 2003). Meskipun terdapat zona hipocenter gempa pada kedalaman lebih dari 200 km
tetapi tidak terdapat aktifitas volkanik yang berhubungan dengan zona subduksi (Cardwell dkk., 1980
dalam Djajadihardja dkk., 2003). Pada lengan utara Sulawesi, batuan tertua tersingkap di wilayah barat,
terdiri dari batuan metamorf busur volkanik dan batuan sedimen berumur Mesozoikum – Paleogen.
Kehadiran batuan volkanik Kuarter di bagian timur lengan utara berhubungan dengan subduksi
Lempeng Laut Maluku di bawah Busur Sangihe.

41-4

Gambar 41.3 Tektonik umum dan Peta penyebaran batuan wilayah Sulawesi (modifikasi dari Silver
dkk., 1983 dalam Djajadihardja dkk., 2003).
41-5

Berdasarkan profil seismik SO98 di Laut Sulawesi, batuan dasar bawah laut dicirikan oleh topografi
kasar seperti yang ditunjukan oleh peta batuan dasar bawah laut (Gambar 41.3) dan profil seismik
SO98-37 (Gambar 41.5). Di beberapa daerah, batuan dasar ini muncul ke permukaan sebagai gunung
api bawah laut. Umumnya tersebar di timur Cekungan Sulawesi dan kemungkinan besar berhubungan
dengan Palung Sangihe. Topografi ini diperkirakan akibat kompresi pergerakan Lempeng IndiaAustralia ke utara dan Lempeng Pasifik ke barat.

Gambar 41.4 Peta batuan dasar bawah laut Cekungan Celebes (Djajadihardja dkk., 2003)

41-6

41.3 STRATIGRAFI REGIONAL

Stratigrafi didapatkan dari analisis seismik menggunakan multichannel seismic, lima sikuen seismik
utama dapat dikenali (Gambar 41.6). Akustik batuan dasar dan lima sikuen sedimen bagian tengah dan
selatan Cekungan Celebes telah terpetakan. Bagian paling atas batuan dasar merupakan bagian paling
dalam dan menerus pada penampang seismik. Sikuen 1 dicirikan oleh refleksi seismik dengan amplitudo
kuat dan kemenerusan lateral. Sikuen ini berhubungan dengan sedimen Unit 1, Unit IIA, dan IIB. Sikuen
2 dicirikan oleh refleksi amplitudo kuat dan kadang mencerminkan horizon tunggal, yang berhubungan
dengan sedimen Unit IIC. Bagian bawahnya terdapat Sikuen 3 yang memiliki refleksi kuat dan
rangkaian lapisan sub-paralel dengan amplitudo lemah hingga sedang, yang berhubungan dengan
sedimen Unit 3. Sikuen 4 memiliki refleksi kuat, terdiri dari empat hingga lima refleksi yang ditafsirkan
sebagai endapan darat Unit IIIB Miosen Awal hingga Miosen Tengah. Sikuen 5 di atas batuan dasar
memperlihatkan hubungan refleksi lemah dengan amplitudo lemah, berhubungan dengan sedimen Unit
IIIC dan Unit IV.

Gambar 41.5 Penampang seismik SO98-23 bagian timurlaut berdekatan dengan ODP Leg 124 Site 767
(Djajadihardja dkk., 2003).
41-7

Beberapa penampang seismik telah diketahui secara umum memiliki profil yang sama. Salah satunya
pada profil cekungan (Gambar 41.5), lima sikuen seismik sedimen utama diketahui:
1. Sikuen 1 berkorelasi dengan lempung dan lanau hemipelagic volcanogenic, berselingan dengan
abu volkanik serta batuan karbonat Unit I, Unit IIA dan Unit IIB. Lapisan ini dicirikan oleh jarak
refleksi dengan amplitudo kuat dan kemenerusan mendatar.
2. Sikuen 2 berisi refleksi kuat batuan sedimen dengan ketebalan 0,2 – 0,3 s (TWT) berhubungan
dengan batulanau lempungan dan karbonat turbidit dari IIC. Kemungkinan endapan ini berumur
Miosen Akhir – Pliosen.
3. Sikuen 3 memiliki refleksi kuat dan beberapa rangkaian lapisan yang berhubungan dengan Unit
IIIA berumur Miosen Awal - Miosen Tengah.
4. Sikuen 4 terdiri dari empat sampai lima reflektor yang diinterpretasikan sebagai endapan darat
dari Unit IIIB berumur Miosen Awal – Miosen Tengah. Sikuen 3 dan 4 seperti mengalami
deformasi, di potong oleh beberapa sesar normal. Permukaan kerak samudra cenderung lebih
datar dan dipotong oleh beberapa kubah intrusi.
5. Sikuen 5 merupakan batuan dasar, hanya terdapat pada struktur cekungan kerak samudera.
Sikuen ini diperkirakan berumur Eosen – Miosen.
Di antara SP 1700 dan 1850 terdapat gunung api bawah laut dengan ketinggian 800 m. Gunung api ini
sebagai batas bagian utara dan selatan Laut Sulawesi. Bagian utara gunung api puncak kerak samudra
hadir pada kedalaman 7,5 – 8,3 s (TWT), endapan sedimen menutupi batuan dasar pada kedalaman yang
berbeda dari 0,5 – 1,6 s (TWT).

41-8

Gambar 41.6 Interpretasi line SO98-37 (Djajadihardja dkk., 2003).
Selama Eosen Tengah – Oligosen Akhir, Laut Sulawesi merefleksikan kondisi laut terbuka, hal ini
dikontrol oleh penempatan sedimen di atas batuan dasar yang sebagian besar disusun oleh batulempung
sedimen Sub-Unit IV. Telah dijelaskan bahwa selama kurun waktu tersebut, bagian selatan Laut
Sulawesi dibatasi oleh lengan utara Sulawesi berorientasi timurlaut - baratdaya, di bagian barat dibatasi
oleh Kalimantan. Ke arah timurlaut, Laut Sulawesi merupakan bagian dari Laut Filipina Barat (Hall
dkk., 1996; Lee dkk., 1995 dalam Djajadihardja dkk., 2003). Endapan tipis sedimen turbidit pada bagian
atas Unit IV berasal dari bagian barat lengan utara Sulawesi. Pada Miosen Awal, jumlah sedimentasi
meningkat di Cekungan Celebes. Peristiwa tektonik di sekitar Laut Sulawesi menyediakan suplai
material klastik untuk Cekungan Sulawesi. Komposisinya adalah silisiklastik yang didominasi oleh
batupasir kuarsa turbidit

dengan sejumlah jejak tumbuhan.

Komposisi

batupasir tersebut

memperlihatkan hasil rombakan lingkungan laut dangkal atau darat, kemungkinan terdekat berasal dari
Cekungan Tarakan (Hamilton, 1979 dalam Djajadihardja dkk., 2003).

41-9

Peta ketebalan sedimen turbidit Cekungan Celebes menunjukkan bahwa arah pengendapannya berasal
dari barat ke timur (Gambar 41.2). Pada Miosen Akhir – Holosen, di Cekungan Celebes diendapkan
volcanogenic clayey silt sampai silty clay dan debu volkanik dengan pasir dan lanau karbonat. Debu
volkanik mengalir ke Cekungan Celebes mulai pada 6 jtl atau sebelumnya (Huang dkk., 1991 dalam
Djajadihardja dkk., 2003) dari gunung api di sekitarnya.
Ringkasan peristiwa tektonik dan hubungannya dengan pengendapan sedimen di Cekungan Celebes
dapat dilihat pada Tabel 41.1.
Tabel 41.1 Peristiwa tektonik yang berhubungan dengan pengendapan sedimen di Laut Sulawesi
(Djajadihardja dkk., 2003).

41.4 SISTEM PETROLEUM
41-10

Potensi hidrokarbon Cekungan Celebes memerlukan penelitian lebih lanjut. Masih minimnya data yang
ada membuat cekungan ini belum dapat dinilai sebagai cekungan ekonomis. Namun menurut beberapa
indikasi, masih potensial untuk menghasilkan minyak dan gas bumi.

DAFTAR PUSTAKA
41-11

PERTAMINA dan BEICIP - FRANLAB, 1992, Global Geodynamics, Basin Classification and
Exploration Play-Types in Indonesia, Vol. II, PERTAMINA, hal.192
Djajadihardja, Y. S., Taira, A., Hidekazu T., Aoike, K., Reichert C., Block, M., Schluter, H. U., Neben,
S., 2003, Seismic Stratigraphy of the Celebes Sea, IAGI 32nd and HAGI 28th Annual Convention
and Exhibition, Jakarta.

41-12