You are on page 1of 9

Alur Tatalaksana Preeklampsia berat(Sibai 2003

)
Diagnostik
Lab:
Rutin

Opsional (Bila terdapat trombositopeni dan
kecenderungan terjadi HELLP Syndrome)
Bilirubin, LDH, Apus darah tepi, Hemostase

Hb, Trombosit, Creatinin, AST, ALT

Rawat di kamar bersalin
Evaluasi ibu dan janin selama 24 jam
Pemberian magnesium sulfat selama 24 jam
Antihipertensi bila sistolik > 160 mmHg; distolik > 111 mmHg; MAP> 125 mmHg

Perburukan ibu (satu atau lebih):

Tekanan darah tidak terkontrol
(TD menetap ≥ 160mmHg sistolik atau ≥ 110mmHg
diastolikdengan dosis maksimum dua jenis obat
antihipertensi)

Eklampsia
ya

Trombositopeni (<100.000)

AST atau ALT> 2x dengan nyeri epigastrium atau
kuadran kanan atas

Edema paru

Fungsi ginjal menurun (Pe↑ creatinin 1 mg/dl dari baseline)
Janin tidak reaktif
Ketuban pecah/inpartu
>34 minggu
Solusio plasenta
Sakit kepala menetap atau penglihatan kabur
tidak

Pertumbuhan janin
terhambat

ya

Pemberian
MgSO4 dan
Terminasi

Steroid

tidak

<24 minggu

24-32 minggu

33-34 minggu

Terminasi

Steroid 24-32 mg
Antihipertensi
Lab DPL, Cr, As urat, LDH
Urin tampung 24 jam utk protein & CCT
Evaluasi ibu dan janin
Terminasi pada 34 minggu

1

Bila memenuhi untuk ekspektatif (lihat alur tatalaksana ekspektatif) Tatalaksana PEB Ekspektatif(Friedman 1999) Bila terpenuhi kriteria untuk ekspektatif (1 atau lebih): Tekanan darah terkontrol Protein urin berapapun kadarnya Oligouri (< 0. diastolik 80-100 mmHg Steroid diulang tiap minggu Evaluasi janin: NST tiap hari.5 cc/kg/jam) yang membaik dengan pemberian cairan/makanan AST atau ALT meningkat > 2 kali tanpa nyeri epigastrium atau nyeri kuadran kanan atas Stop MgSO4 setelah 24 jam Pasien dapat ke ruangan Ukur TD tiap 4-6 jam Cek trombosit tiap hari. FDJP tiap 3 hari USG tiap 2 minggu utk evaluasi berat janin Amniosintesis pada pasien yang datang usia 32-34 minggu Bila timbul kontraindikasi untuk ekspektatif selama perawatan: TERMINASI 2 . target sistolik 130-150 mmHg. AST dan kreatinin tiap 2 hari. Antihipertensi oral.

Lain KY 2002) Monitor tekanan darah Monitor intake cairan. makanan dan urin Pemberian profilaksis kejang 12-48 jam postpartum (fase resolusi) Pemberian antihipertensi diteruskan bila sistolik > 155 mmHg dan diastolik > 105mmHg Bila tekanan darah terkontrol dan tidak didapatkan tanda atau gejala perburukan pasien dapat pulang 3 .Tatalaksana Post Partum Preeklampsia Berat(Sibai 2003.

konsultasikan dengan dokter Gambar 2. umbilikal  CTG ulang jika: Jika hasilnya o Perubahan pada pergerakan janin yang normal tidak perlu di ulang dirasakan ibu setelah 34 minggu o Perdarahan pervaginam Jika aktifitas janin o Nyeri abdomen abnormal lakukan : o Perburukan kondisi ibu Ulangi 1 minggu.Algoritma manajemen monitoring janin dan perawatan intrapartum pada hipertensi gestasional Dikutip dari : National Institute for Health and Clinical Excellence.Fetal monitoring Hipertensi Ringan Hipertensi Berat (TD ≥ 160/100 mmHg) atau Sedang (TD 140/90Jika dibuat diagnosis Saat diagnosis : sebelum 34  Lakukan pemeriksaan USG untuk menilai minggu : pertumbuhan janin dan  Lakukan pemeriksaan USG volume air ketuban + untuk menilai doppler velositi arteri pertumbuhan janin dan umbilikal (jika volume air ketuban direncanakan manajemen  Doppler velositi arteri konservatif). 2010 4 . Rencanakan perawatan yang meliputi :  Waktu dan monitor janin selanjutnya  Indikasi janin untuk dilahirkan  Apakah kortikosteroid perlu diberikan  Diskusikan dengan perinatologist dan anastesiologist obstetri untuk mengambil keputusan jika hasilnya normal Jika hasil monitoring janin abnormal.

tidak rutin dibatasi lama kala II  Jika TD tidak berespon terhadap dosis initial. mulai terapi antihipertensi jika TD ≥ 150/100 mmHg  Ukur TD : o Tiap hari pada 2 hari pertama postpartum o Setidaknya 1 kali antara hari ke 3 dan 5 postpartum o Jika terapi antihipertensi diganti sesuai indikasi klinik  Jika digunakan metildopa selama kehamilan hentikan setelah 2 hari postparum  Jika TD turun < 130/80 mmHg. jika dipertimbangkan penggunaan anastesi regional Tidak rutin dibatasi lamanya kala II jika  Ukuran TD secara kontinyu  Lanjutkan terapi hipertensi antenatal  Jika TD terkontrol dalam batas target. anjurkan untuk persalinan pervaginam operative Perawatan post partum  Lanjutan terapi antihipertensi antenatal  Jika tidak ada terapi antihipertensi antenatal. pertimbangkan mengurangi terapi antihipertensi Pada wanita yang menyusui  Hindari penggunaan diuretik pada hipertensi  Lakukan pemeriksaan kesejahteraan bayi terutama kecukupan makanan. kurangi terapi antihipertensi  Jika TD turun < 140/90 mmHg. sekurangnya tiap hari pada 2 hari pertama postpartum  Berikan informasi pada ibu tentang keamanan obat untuk bayi yang mendapatkan ASI 5 .Perawatan Intrapartum Hipertensi Ringan atau Sedang (TD 140/90-159/109mmHg)     Hipertensi Berat (TD ≥ 160/100 mmHg) Ukur TD tiap jam Lanjutkan terapi hipertensi antenatal Lakukan monitoring hematologi dan biokimia sesuai kriteria saat periode antenatal.

aspirine + heparin. termasuk tinjauan medis jika diperlukan o Frekuensi pemantauan tekanan darah yang diperlukan o Batas untuk mengurangi atau menghentikan pengobatan o Indikasi merujukan ke pelayanan primer terhadap tinjauan tekanan darah. Pencegahan(Cunningham. 6 . tuliskan rencana perawatan. Modified from Sibai and Cunningham (2010). mengkonsumsi minyak ikan Cardiovaskular Mengkonsumsi obat anti hipertensi Antioksidan Mengkonsumsi vitamin C dan Vitamin E Antitrombotik Mengkonsumsi aspirin low dose. aspirin + ketanserin.Algoritma manajemen perawatan postpartum dan follow up pada hipertensi gestasional Dikutip dari : National Institute for Health and Clinical Excellence. tidak ada yang bermanfaat secara klinis. Gambar 3. Beberapa tercantum dalam Tabel 2. 2010) Berbagai strategi yang digunakan untuk mencegah atau memodifikas ikeparahan preeklampsia telah dilakukan evaluasi. yang meliputi : o Siapa yang akan melakukan follow-up. o Jika terapi antihipertensi dilanjutkan. konsumsi suplemen calcium. anjurkan pemeriksaan ulang 2 minggu setelah di alih rawat ke pelayanan masyarakat o Anjurkan pemeriksaan ulang 6-8 minggu postpartum o Jika terapi antihipertensi masih diperlukan sampai 6-8 minggu postpartum. anjurkan pemeriksaan spesialis terhadap hipertensinya. et al. Metode untuk mencegah preeklampsia dan ekslampsia dari beberapa penelitian Pengaturan Diet Diet rendah garam. 2010 J. Secara umum.Follow up o Alihkan perawatan ke pelayanan kesehatan masyarakat (Puskesmas).

Upaya pencegahan perlu ditingkatkan 7 . karena itu dibutuhkan pemahaman tentang preeklampsia. Preeklampsia masih menjadi masalah pokok obstetri.BAB III KESIMPULAN 1. 3. 2. Keterlambatan mendiagnosis akan menyebabkan keterlambatan tatalaksana dan meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu-janin.

Expectant management of severe preeclampsia remote from term. Inc. Obstetric & Gynecologic Emergencies Diagnosis and Management.com/content/obs/obs006. Luthra R. Contemporary concepts of the pathogenesis and management of preeclampsia. The McGraw-Hill Companies. 2004: 494-500. Pertumbuhan Janin Terhambat. Preeclampsia and Hypertensive Disorders in Pregnancy.org/acm/pdf/36.G et al. 10(A). Recent Developments of the Pathophysiology and Management of Pre – eclampsia. 5th ed. Lubarsky SL. The McGraw – Hill Co. Sibai BM. William Obstetrics 23nd Chapter 34. London. 1999.acog.php3 Education Merviel. 2004 Mushambi MC. 2002. Pathophysiology of Preeclampsia: Links with Implantation Disorders. Philadelphia. Pregnancy-related hypertension. Pathophysiology Hypertension During Preeclampsia Linking Placenta Ischemia With Endothelial Disfunction. New York. F. Br J Anaesth 1996 . CME Vol 57 No 9. Management of severe pre-eclampsia/eclampsia. G. Mustafa R et al. Pregnancy Hypertension.womenshealthsection. Himpunan Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. JAMA. 8 .DAFTAR PUSTAKA Cunningham. Hipertensi dalam kehamilan. Makalah Lengkap Kursus Dasar Ultrasonografi & Kardiotokografi. Elsevier. Pridjian. 76 : 133–148. Women’s Health & Center. Lippincott Williams & Wilkins. Malang. Journal of Pregnancy Volume 2012. Ed pertama. Part 1: Clinical and Pathophysiologic Considerations. 96-103 Granger JP. Clin Obstet Gynecol. RCOG Guideline NO. Halligan AW.pdf Friedman SA. Surabaya. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists.Copyrights ACOG 2003 http://www. RSUD Dr. Roberts JM. March 2006. 2002 Lain KY. Saiful Anwar. Saunders. p :859-892 Roeshadi HR. 2004. 287:3183-6. Roberts JM. Dalam : Ilmu kedokteran fetomaternal. 2004. In Maternal-Fetal Medicine Principles ansd Practice. Williamson K. P et al. Karsono B. Schiff E. Preeclampsia. European Journal of Obstetrics & Gynecology Vol 115. A Comprehensive Review of Hypertension in Pregnancy. 42: 470-8.http://www. 2010 Dildy III GA. Pre-eclampsia and Eclampsia. 2002 RCOG.

Kejang dan atau Koma . Ilmu Kebidanan. Jakarta. 2008 9 . Sibai. Tekanan Darah tinggi. et al. Hipertensi Dalam Kehamilan.A. Elsevier.Hasan Sadikin. 2002. Dalam : Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. NEJM Vol 346 No 1. November 1998 Skjaerven. 1996.Hasan Sadikin Bandung. Baha M. Gangguan Penglihatan. July 2003 Sibai. G. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2004 Wijayanegara. Nyeri Kepala. Baha M. Diagnosis and Management of Gestational Hypertension and Preeclampsia. Massachusetts Medical Society. The Interval Between Pregnancies and The Risk of Preeclampsia. Dekker. R et al.. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad/Rs.Saifuddin AB (ED). The American College of Obstetricians and Gynecologists Vol 102 No 1. H. AJOG Vol 179 No 5.M46. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. M31. Mosby Inc. Jakarta. Dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Etiology and Pathogenesis of Preeclampsia: Current Concepts. Wiknjosastro.