You are on page 1of 14

CASE REPORT SESSION

ANESTESI UMUM
Disusun oleh:
Marizka Adzani
Octawyana Moestopo
Oldi Caesario

Preseptor:
Osmon Muftilov, dr., Sp.An

BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
RS DR. HASAN SADIKIN
BANDUNG
2015

Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama tidak ada. Riwayat operasi sebelumnya tidak ada. Tidak terdapat benjolan di bagian perut bawah dan tidak ada keputihan. Riwayat alergi tidak ada. sklera tidak ikerik : Mallampati I. CRT < 2 detik : ASA I PEMERIKSAAN PENUNJANG a. III. Riwayat mengkonsumsi obat tidak ada.I. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum : Tampak sakit ringan Kesadaran : Compos mentis Tanda vital TD: 140/90 mmHg Status Generalis Kepala Mata Jalan nafas Gigi Leher Toraks Cor Pulmo Abdomen Ektremitas Status Fisik IV. HPHT 2 April 2015. gallop (-) : Sonor. Siklus haid pasien tidak teratur. Pasien memiliki riwayat pendarahan haid lama ( >20 hari) dan nyeri ketika haid. murmur (-). mobile : Bunyi jantung murni regular. : Ny. Setelah itu pasien mengalami perdarahan kembali dan dirujuk ke RSHS. R : 44 tahun : Perempuan : Wiraswasta : SMA : Bandung : 15 Juni 2015 : Belum Menikah Nadi: 98x/m RR: 18x/m Suhu: afebris : Konjungtiva tidak anemis. IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis kelamin Pekerjaan Pendidikan Alamat Tanggal pemeriksaan Status Pernikahan ANAMNESIS Keluhan utama : Perdarahan dari jalan lahir Anamnesis tambahan : Pasien (P0A0) datang dengan keluhan utama perdarahan dari jalan lahir sejak dua bulan SMRS memenuhi 5 pembalut per harinya.61/4200/298000 . buka mulut >3 jari : komplit : JVP tidak meningkat. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit ginjal.6/ 36/ 4. Riwayat DM dan penyakit jantung tidak ada. II. Pasien pertama kali mengalami haid saat berumur 13 tahun. Sebelumnya pasien pernah mengalami hal yang sama dan berobat ke SpOG di RS Imanuel. Pasien tidak memiliki konsumsi alcohol. BU (+) N : Akral hangat. ronkhi (-/-). wheezing (-/-) : Datar lembut. VBS ki=ka. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan Darah Lengkap : 11.

2 : 0.92 cm . suhu tiap jam.53 mg/dl PT : 13.SGOT/SGPT Ur Na K Cr GDS PT INR APTT : 22/15 : 17 : 143 : 4. Adnexa dan organ lain dalam batas normal V.9 : 1.07 :36.49 x 5.000 /mm3 Ureum : 17 mg/dl Kreatinin : 0.3 detik SGOT : 22 u/L SGPT : 15 u/L . VI.6 g/dl Ht : 36% Leukosit : 4200 /mm3 Trombosit : 298. USG : Uterus : tampak uterus membesar dengan densitas heterogen ukuran 13. tekanan darah. Tampak masa 1 ukuran 5.80 x 2.95 x 2. nadi. neovaskularisasi (-) . masa 2 ukuran 2. DIAGNOSIS KERJA Mioma uteri multiple MANAJEMEN Umum :  Observasi keadaan umum.23 cm .3 b.9 detik aPTT : 36. EKG : SR 88x/menit c. VIII.27 x 10. PROGNOSIS Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : ad bonam RENCANA ANESTESI Metode anestesi : Anestesi Umum Persiapan Prabedah:  Puasa 6 jam sebelum operasi  Premedikasi:  Pemeriksaan Laboratorium Hb : 11. respiratori.53 :86 :13.43 cm .  IVFD RL: 20 gtt/menit Khusus : Histerektomi totalis VII. Rontgen : Kardiomegali tanpa bendungan paru d.23 x 8.

Fentanyl 100 µg Obat tambahan : Dexamethasone 10mg.20 SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR Tekanan Darah (mmHg) 138/82 143/86 112/63 100/60 100/65 114/64 117/62 120/64 120/66 122/75 122/78 121/76 118/76 124/68 Asupan Cairan selama operasi Jumlah Keluaran Cairan Pendarahan Nadi (x / menit) 71 76 79 76 76 78 78 80 84 81 78 76 76 78 : RL 2000 mL : 1800 mL SpO2 (%) 99 99 99 99 99 99 99 99 99 99 99 99 99 99 .15 8.25 8.35 8. Tramadol 100mg.00 9.50 8.10 9.EKG Foto Toraks : Sinus Rythm : kardiomegali tanpa bendungan paru Durante Operasi  Metode anestesi : Anestesi umum  Obat : Propofol 100mg. Kalnex 100mg  Terapi cairan M = Normal maintenance cairan (Ringer Laktat) = 50 cc 1cc x 50 kg = 50 cc/jam P = Ditambah puasa prebedah 6 jam = 6x50 = 300 cc (M x lama puasa) IWL (insensible water loss) = 4 x 50= 200 cc Pemberian cairan : 1 jam I.15 9. ( ½ x 300 cc ) + 50 + 200 = 400 cc/jam 1 jam II/III.20 8.40 8. (1/4 x 300 cc) + 50 + 200 = 325 cc/jam Jam IV dan seterusnya = 250 cc        EBV (Estimated Blood Volume)= BB x average blood volume = 50 x 65 cc = 3250 cc ABL (Allowable Blood Loss) = Letak penderita : supine Airway : terpasang ETT (endotracheal tube) Respirasi : terkontrol Monitoring selama operasi Jam EKG 8.05 9.30 8.55 9. atracurium 25mg.45 8.

mL Post operasi  Masuk ruang pemulihan jam 11.Diuresis selama operasi : .35 o Kesadaran : Somnolent o Tekanan Darah : 120/75 mmHg o Nadi : 69 x/menit o Respirasi : 16 x/menit o Suhu : afebris Kriteria Points 30’ Aktivitas Gerak 4 ekstremitas 2 Gerak 2 ekstremitas 1 2 Ekstremitas tidak gerak 0 Pernapasan Dapat napas dan batuk bebas Dyspnea/nafas terbatas Apnea 2 1 0 60’ 2 2 2 1 2 Sirkulasi Tensi 20% awal Tensi 21-49% awal Tensi 50% awal 2 1 0 Kesadaran Kesadaran penuh Respon terhadap suara Tidak respon terhadap suara 2 1 0 1 2 SpO2 >92% udara kamar Perlu oksigen agar 90% <90% dengan oksigen 2 1 0 2 2  Instruksi Pasca Operasi: o Observasi kesadaran. o Pemberian Oksigen dengan nasal kanula 3L/m o Pengelolaan nyeri : Ketorolac 30 mg o Penanganan mual muntah dengan Metoclorpamid 10 mg . respirasi setiap 15 menit o Posisi pasien supinasi dengan kepala lebih tinggi 30º. nadi. tensi.

VBS ki=ka. wheezing (-/-) : Datar lembut. dan kejang.9 detik : 36. dan penyakit ginjal. sklera tidak ikerik : Mallampati I. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit gastritis. ronkhi (-/-). angina. Keadaan umum : Tampak sakit ringan Kesadaran : Compos mentis Tanda vital TD: 110/80 mmHg Nadi: 82x/m RR: 18x/m Suhu: afebris BB : 50 kg Status Generalis Kepala Mata Jalan nafas Gigi Leher Toraks Cor Pulmo Abdomen Ektremitas : Konjungtiva tidak anemis. mobile : Bunyi jantung murni regular. penyakit darah tinggi. murmur (-).6 g/dl : 36% : 4200 /mm3 : 298. buka mulut >3 jari : komplit : JVP tidak meningkat.53 mg/dl : 13.3 detik : 22 u/L : 15 u/L . Preoperatif Assessment pada pasien Pasien tidak memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus. Pasien tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol. CRT < 2 detik Pemeriksaan Laboratorium Hb Ht Leukosit Trombosit Ureum Kreatinin PT aPTT SGOT SGPT : 11.000 /mm3 : 17 mg/dl : 0. penyakit jantung.PEMBAHASAN 1. BU (+) N : Akral hangat. gallop (-) : Sonor.

Klasifikasi ASA pada pasien ini c Berdasarkan klasifikasi ASA. status fisik pasien termasuk dalam ASA I karena pasien tidak memiliki penyakit sistemik dan tidak emergensi.2. .

intramuskular. oral dan rektal.3. maka pasien harus diberikan premedikasi. Anestesi umum biasanya mewujudkan keadaan balanced anestesi yaitu :    Hypnotik Analgesik Relaksan Indikasi anestesi umum        Dewasa yang menginginkan general anestesi Prosedur bedah yang rumit Waktu bedah yang lama Pasien dengan kelainan mental Pasien dengan alergi atau reaksi terhadap anestasi lokal Pasien dengan terapi anti koagulan Bayi dan anak Sebelum pasien diberi obat anestesi. Ia menyebabkan depresi CNS yang reversible. intravena. Anestesi umum adalah suatu keadaan tidak sadar yang reversible oleh obat anestesi dengan kehilangan sensasi nyeri pada seluruh tubuh. Apa jenis anestesia yang dipilih ? Akan dilaksanakan teknik anestesi umum. Premedikasi adalah pemberian obat sebelum induksi anestesi yang . Administrasi obat anestesi umum biasanya melalui inhalasi.

pada orang tua dan pasien lemah dosisnya 0.025-0. rumatan dan bangun dari anestesi diantaranya : 1. induksi. mengurangi sekresi kelenjar ludah.10 mg/kgBB. umumnya hanya sedikit c. intramuscular atau intravena dengan dosis 0. midazolam bekerja lebih cepat karena transformasi metabolitnya cepat dan lama kerjanya singkat. Diberikan secara suntikan subkutis.015 mg/kgBB untuk anak-anak. denyut nadi dan pernapasan. Dibandingkan dengan diazepam.07-0. b. dosis harus ditentukan secara hati-hati. Menimimalkan induksi anestesi 8. Atropin tersedia dalam bentuk atropine sulfat 0. Memperlancar induksi anestesi 7. Pada pasien orang tua dengan perubahan organic otak atau gangguan fungsi jantung dan pernapasan. disesuaikan dengan umur dan keadaan pasien. Meredakan kecemasan dan ketakutan 2. Mengurangi sekresi kelenjar lidah dan bronkus 3.5-1 mg untuk dewasa dan 0.diberikan dengan tujuan untuk melancarkan induksi. Setelah penggunaan obat ini (golongan baladona) dalam dosis teurapetik ada perasaan kering dirongga mulut dan penglihatan kabur . Pemeberiannya harus hati-hati pada penderita dengan suhu diatas normal dan pada penderita dengan penyakit jantung khususnya fibrilasi aurikuler. mengurangi mual muntah paska bedah. Mengurangi refleks yang membahayakan Obat Premedikasi Pramedikasi adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi dengan tujuan untuk mengurangi kecemasan pasien. Efek samping perubahan tekanan darah arteri.25 mg dan 0. mengurangi isi cairan lambung. Karena itu sebaiknya obat ini tidak digunakan pada anestesi local. meminimalkan jumlah obat anestesi.25 mg : Antikolinergik Atropin dapat mengurangi sekresi dan merupakan obat pilihan utama untuk mengurangi efek bronchial dan kardial yang berasal dari perangsangan parasimpatis. Dosis premedikasi dewasa 0. Efek obat timbul dalam 2 menit penyuntikan. Disamping itu efek lainnya adalah melemaskan tonus otot polos organ-organ dan menurunkan spasme gastrointestinal. memperlancar induksi. dan pemeliharaan. Membuat amnesia 6. Hipnoz 2 mg (Midazolam) : Obat penenang Midazolam adalah obat induksi tidur jangka pendek untuk premedikasi. a. baik akibat obat atau anestesi maupun tindakan lain dalam operasi.5 mg. Sulfas Atropin 0. Dosis lazim adalah 5 mg. Mengurangi isi cairan lambung 5.05 mg/kgBB. dan mengurangi reflex yang membahayakan. Mengurangi mual dan muntah pasca bedah 4. Cedantron 4 mg (Ondansetron) .

Pada pasien usia leboh dari 55 tahun dosis untuk induksi maupun maintenece lebih kecil. b. Pada pasien ASA III-IV dosisnya lebih rendah dan kecepatan tetesannya lebih lamabat. Ranitidin Ranitidin merupakan obat golongan H2 Antagonis. Baik untuk pencegahan dan pengobatan mual.02 mg/kgBB atau glikopirolat 0.2 mg/kg.04-0. Penawar pelumpuh otot atau antikolinesterase bekerja pada sambungan saraf otot mencegah asetilkolin-esterase bekerja. c. muntah pasca bedah. bronkospasme.6 mg/kgBB. konstipasi dan sesak napas. Setelah suntikan intravena ambilan dan distribusinya secara kualitatif hampir sama . Obat Induksi a. Dosis awal 0. Antikolinesterase yang paling sering adalah neostigmin dengan dosis (0. hanya mengahasilkan asetilkolin menempatinya. Propofol menghambat transmisi neuron yang dihantarkan oleh GABA. Dosis dewasa 2-4 mg. keringatan. Penawar pelumpuh otot bersifat nuskarinik menyebabkan hipersalivasi. Fentanil Fentanil ialah zat sintetik seperti petidin dengan kekuatan 100 kali morfin. kejang bronkus. dosis rumatan 0. durasinya selama 2045 menit dan dapat meningkat menjadi 2 kali lipat pada suhu 250 C. kecepatan efek kerjanya adalah 1-2 menit. Dosis induksi 1-2 mg/kgBB. d.Suatu antagonis receptor 5-HT 3 selektif. Propofol Propofol adalah obat anestesi intravena yang bekerja cepat dengan karakter recovery estesi yang cepat tanpa rasa pusing dan mual-mual. Propofol merupakan cairan emulsi minyak-air yang berwarna putih dan besifat isotonik dengan kepekatan 1%(1ml=10mg) dan mudah larut dalam lemak. Tracurium 20 mg (Atracurium) : non depolarisasi Pelumpuh otot non depolarisasi (inhibitor kompetitif. Efek samping berupa impotensi. Propofol adalah obat anestesi umum yang bekerja cepat yang efek kerjanya dicapai dalam waktu 30 detik.01-0.takikurare) berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik.5-0.1 mg/kgBB. Obat ini dapat mengurangi sekresi asam lambung didalam perut sehingga akan mengurangi mual dan muntak pada saat anestesi berlangsung. hipermotility usus dan pandangan kabur.08 mg/kgBB) atau obat antikolinergik lainnya. Cara pemakaian bisa secara suntikan bolus intravena atau secara kontinu melalui infus.005-0.01/mgkgBB. Dosis rumatan total adalah 4-12 mg/kgBB dan dosis sedasi untuk perawatan intensif adalah 0. sehingga asetilkolin tidak dapat bekerja. sehingga asetilkolin dapat bekerja. tetapi tidak menyebabkan depolarisasi. namun kecepatan pemberian harus lebih lambat dari dibawah 55 tahun. Lebih larut dalam lemak dibandingkan petidin dan menembus sawar jaringan dengan mudah. sehingga pemberiannya harus disertai obat vagolitik seperti atropine dosin 0. bradikardi.

Efek depresi napasya lebih lama dibandingkan dengan efek analgesia. Maintainance a. Sebelum dilakukan induksi sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu peralatan dan obat-obatan yang diperlukan. Gas ini bersifat anestesi lemah. Dosis 13µg/kgBB digunakan untuk induksi anesthesia dan pemeliharaan anesthesia dengan kombinasi bensodiazepin dan anestetik dosis rendah. ADH. inhalasi. tidak iritasi. Pada napas spontan rumatan anestesi sekitar 1-2 vol% dan pada napas kendali sekitar 0. renin. Paska pemberian halothane sering menyebabkan pasien menggigil. Untuk mencegah terjadinya hipoksia difusi maka harus diberikan oksigen 100% selama 5-10 menit. depresi vasomotor. katekolamin plasma. Laringoscope yang blade nya sesuai dengan usia pasien. maka N2O akan cepat keluar alveoli. depresi miokard dan inhibisi reflex baroreseptor.5 kali berat udara. Dimetabolisme oleh hati dengan N-dealkilasi dan hidrosilasidan sisa metabolismenya dikeluarkan lewat urin. terjadi hipotensi. hal ini dapat dicegah dengan pelumpuh otot. dan kortisol. untuk persiapan induksi perlu diingat STATICS : Scopes Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Dosis besar mencegah peningkatan kadar gula.dengan morfin namun fraksi terbesar dirusak paru ketika pertaama melewatinya. b. Kelebihan dosis menyebabkan depresi pernapasan. vasodilator perifer. Induksi dapat dilakukan secara intravena. Pemberian N2O harus disertai dengan O2 minimal 25%. sehingga terjadi pengenceran O 2 dan terjadilah hipoksia difusi. maka memungkinkan dimulainya anesthesia dan pembedahan. tetapi dikombinasi dengan salah satu anestesi lainnya seperti halotan dan sebagainya. N2O Nama lain dari gas N2O adalah gas gelak yang diperoleh dari ammonium nitrat yang dipanaskan sampai 2400 C. Efek tak disukai adalah kekakuan otot punggung yang sebenarnya. Halothane Halothane adalah obat anestesi inhalasi berbentuk cairan bening tidak berwarna yang mudah menguap dan berbau harum. Intubasi Setelah dilakukan induksi anestesi yang menyebabkan pasien dari sadar menjadi tidak sadar. sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang persalinan. Pilih yang sesuai dengan usia. Pada akhir anestesi setelah N2O dihentikan. tetapi analgesia nya kuat. bau manis. N2O dalam ruangan merupakan gas yang tidak berwarna.5-1% yang tentunya disesuaikan dengan respon klinis pasien. Pada anestesi inhalasi jarnag diguankan sendirian. dan rectal. . bradikardi. aldosteron. tak terbakar dan beratnya 1. pada bedah jantung. Tubes Pipa trakea. menurunnya tonus simpatis. intramuscular. Pemberian halothane sebaiknya bersamaan dengan oksigen atau nitrous okside 70%-oksigen dan sebaiknya menggunakan vaporizer yang khusus dikalibrasi untuk halothan agar konsentrasi uap yang dihasilkan itu akurat dan mudah dikendalikan.

Mencegah kemungkinan terjaidnya aspirasi isi lambung (pada keadaan tidak sadar. Mempermudah pengisapan secret trakheobronkial. Ada beberapa kontra indikasi bagi dilakukannya intubasi endotrakheal antara lain: . f. serta mempermudah ventilasi dan oksigenasisasi bagi pasien operasi. g. Obat. ludah dan lain-lainnya. tujuan intubasi adalah : a. pipa ini berfungsi untuk menahan lidah pada saat pasien tidak sadar untuuk menjaga lidah supaya tidak menyumbat jalan napas. Menyelenggarakan proteksi terhadap pasien dengan keadaan yang gawat atau pasien dengan reflex akibat sumbatan. Tape Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut. Mempertahankan jalan napas agar tetap bebas serta mempertahankan kelancaran pernapasan c. Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anesthesia Suction Penyedot lendir. Keadaan oksigenasi yang tidak adekuat (karena menurunya tekanan oksigen arteri dan lain-lain) yang tidak dapat dikoreksi dengan pemberian suplai oksigen melalui masker nasal. mencegah aspirasi. d. Kebutuhan untuk mengontrol dan mengeluarkan secret pulmonal atau sebagai bronchial toilet. lambung penuh dan tidak ada reflex batuk). Introducer Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastik yang mudah dibengkokkan untuk pemandu suapaya pipa trakea mudah untuk dimasukan. Mempermudah pemberian anesthesia b.Airway Pipa mulut faring (Oropharyngeal airway). e. Tujuan dilakukannya tindakan intubasi endotrakhea adalah untuk membersihkan saluran trakheobronkial. Indikasi bagi pelaksanaan intubasi menurut Gisele tahun 2002 antara lain : a. d. c. Pada dasarnya. Keadaan ventilasi yang tidak adekuat karena meningkatnya tekanan karbondioksida di arteri. b. Mengatasi obstruksi laring akut. Pemakaian ventilasi mekanis yang lama. mempertahankan jalan napas agat tetap paten.

. seperti multiple arthritis yang menyerang sendi temporo mandibular. Idealnya pasien baru boleh dikeluarkan bila jumlah skor total adalah 10. Tindakan yang harus dilakukan adalah cricothyroidtomy pada beberapa kasus.a. Pasien dipindahkan ke ruangan Kriteria yang digunakan dan umumnya dinilai adalah kesadaran. Kontraktur jaringan leher sebagai akibat combusio yang menyebabkan fleksi leher. Beberapa keadaan trauma jalan napas atau obstruksi yang tidak memungkinkan untuk dilakukan intubasi. c. Kesukaran membuka rahang. Gigi incisum atas yang menonjol. Mulut yang panjang dan sempit dengan arcus palatum yang tinggi. Recoding lower jaw dengan angulus mandibula yang tumpul. Trauma servikal yang memerlukan keadaan imobilisasi tulang vertebra servical sehingga sangat sulit untuk dilakukan intubasi. spondilitis servical spine. 4. dan aktivitas motorik seperti skor Aldrete (Aldrete and Kroulik Index). Kesukaran yang sering dijumpai dalam intubasi endotrakheal biasanya dijumpai pada pasien-pasien : a. pasien dapat keluar dari ruang pemulihan. Abnormalitas pada servical spine termasuk achondroplasia karena fleksi kepala pada leher di sendi atlantoocipital. Otot-otot leher yang pendek dengan gigi geligi yang lengkap. b. d. e. Namun bila skor total sudah di atas 8. f. sirkulasi pernafasan. b. Jarak antara mental dengan symphipis dengan lowe alveolar margin yang melebar memerlukan depresi rahang bawah yang lebih lebar selama intubasi.

Kriteria Aktivitas Gerak 4 ekstremitas Gerak 2 ekstremitas Ekstremitas tidak gerak Pernapasan Dapat napas dan batuk bebas Dyspnea/nafas terbatas Apnea Points 30’ 60’ 2 1 0 2 2 2 2 1 2 2 1 0 Sirkulasi Tensi 20% awal Tensi 21-49% awal Tensi 50% awal 2 1 0 Kesadaran Kesadaran penuh Respon terhadap suara Tidak respon terhadap suara 2 1 0 1 2 SpO2 >92% udara kamar Perlu oksigen agar 90% <90% dengan oksigen 2 1 0 2 2 Skor pada pasien ini pasca operasi pada 30 menit pertama adalah 8 dan pada 60 menit kemudian adalah 10 yang menandakan diperbolehkan pindah dari ruang pemulihan. .