You are on page 1of 16

MAKALAH ANALISIS

STARTA NORMA DAN SEMIOTIK DALAM PUISI

Oleh

Utsmanul Fatih ( 121411131002)

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2015

Perbedaan itu muncul pula pada pemahaman seseorang. Dalam hal ini setiap penulis memiliki cara dalam menemukan gagasan dan gambarannya untuk menghasilkan efek-efek tertentu bagi pembacanya.BAB I PENDAHULUAN 1. mengingat puisi itu adalah struktur yang tersusun dari berbagai macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Dibandingkan dengan prosa yang memiliki ciri khas pada cerita (plot) sedangkan ciri khas drama pada dialog. dapat dikaji dari berbagai aspek yang terdapat di dalamnya. Seperti yang dikatakan A. Karya sastra sebagai kajian dari semiotik yang menggunakan gaya bahasa sastra sebagai media untuk menemukan nilai estetisnya. Sepanjang zaman. prosa maupun drama. Karya sastra diciptakan untuk dinikmati dan diapresiasi. Puisi dapat dikaji melalui struktur dan unsur-unsur pembentuknya.1 Latar Belakang Karya sastra merupakan wujud dari hasil pemikiran manusia. puisi selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Berdasarkan hal tersebut menurut Ratna (2009:19) dari ketiga jenis sastra modern dan sastra lama. Puisi memiliki ciri khas yaitu kepadatan pemakaian bahasa sehingga paling besar kemungkinannya untuk menampilkan ciri-ciri stilistika. Sastra terbagi atas dua jenis yaitu sastra lama dan modern. Sastra ini menjadi objek yang diamati dalam penelitian sastra. Teeuw (1980:12). stilistika akan muncul dengan kekhasan bahasa yang digunakan dan akan sangat berbeda dengan penggunaan bahasa sehari-hari. Setiap orang tentunya pada umumnya memiliki pendapat dan penafsiran terhadap suatu puisi. Misalnya puisi sebagai objek kajian yang dianalisis. puisilah yang paling sering digunakan dalam penelitian stilistika. Dalam hal ini perbedaan karakteristik karya sastra mengakibatkan perbedaan dalam tahapan pemaknaan dan penafsiran ciri dan penggambarannya. sastra modern dapat meliputi puisi. Pengarang memiliki kreativitas masing-masing dan setiap karya yang dihasilkan memperhatikan kebaharuan dan perkembangan sosial budaya. Aminuddin (1997—67) mengemukakan terdapat jenis karya sastra yaitu puisi dan prosa fiksi. Hal ini mengingat hakikatnya sebagai karya seni . puisi sebagai sebuah karya seni.

perasa. Puisi bersifat inspiratif dan mewakili makna yang tersirat dari ungkapan batin seorang penyair. Setiap kata atau kalimat dalam puisi secara tidak langsung memiliki makna yang abstrak dan memberikan imaji kepada pembaca. Puisi merupakan karya sastra yang kompleks. peraba. Oleh karena itu. pendengaran. Norma itu harus dipahamai secara implisit untuk menarik setiap pengalaman individu karya sastra dan bersama-sama merupakan karya sastra yang murni sebagai keseluruhan. perlu diketahui wujud sebenarnya dari puisi tersebut. maka untuk memahaminya diperlukan analisis agar dapat diketahui bagianbagian serta jalinannya secara nyata. lapis bunyi menjadi dasar timbulnya lapis kedua yaitu lapis arti. puisi harus dimengerti sebagai struktur norma-norma. puisi adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman. Citraan itu termasuk citraan penglihatan. agak panjang. objek-objek yang dikemukakan. bertolak dari teori-teori yang yang dikemukan oleh Roman Ingarden. bab. suku kata. yaitu berupa latar. disusun begitu rupa hingga menimbulkan arti. Norma-norma itu bersusun sebagai berikut: Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound Stratum). dan penciuman. dan panjang. frase. Tiap-tiap norma menimbulkan lapis norma di bawahnya. pelaku. dan kalimat yang merupakan satuan-satuan arti. Mengingat bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang menggunakan medium bahasa. yang menganalisis puisi berdasarkan norma-normanya. Arti atau pemaknaan tersebut dapat diidentifikasi ataupun diapresiasi melalui citraan dan teori. dan keseluruhan cerita ataupun keseluruhan sajak. seorang filsuf Polandia. Karya sastra merupakan struktur yang bermakna. Maka.yang di dalamnya selalu terjadi ketegangan antara konvensi dan pembaruan (inovasi). Dalam membaca puisi akan terdengar rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek. Rangkaian satuansatuan arti ini menimbulkan lapis ketiga. Menurut Rene Wellek (1968:150). Selain itu. Lapis arti (units of meaning) berupa rangkaian fonem. Suara disesuaikan dengan konvensi bahasa. Hal tersebut membuat makna puisi begitu kompleks. dan dunia pengarang yang berupa . tanda-tanda tersebut memiliki arti. Bahasa dalam puisi memiliki tanda. serta memberi bentuk suatu bayangan khayalan bagi pembaca. Rangkaian kalimat menjadi alinea. Untuk menganalisis puisi dengan tepat.

dapat memperlihatkan aspek “luar” atau “dalam” watak. yaitu: Lapis “dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tidak perlu dinyatakan. mengerikan atau menakutkan. berupa sifat-sifat metafisis (yang sublim. Karya sastra yang bagus juga memiliki tanda-tanda (semiotik). tetapi terkandung di dalamnya (implied).3 Tujuan Masalah Mengetahui strata norma dan semiotik puisi Cintaku jauh di pulau karya Chairil Anwar dan Pina karya Kuntowijoyo .cerita atau lukisan. sehingga sastra memiliki nilai lebih ketika dibaca. Sebuah peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan “terdengar” atau “terlihat”.2 Rumusan Masalah Menganalisis strata norma dan semiotik puisi Cintaku jauh di pulau karya Chairil Anwar dan Pina karya Kuntowijoyo 1. dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca. dan yang suci). Akan tetapi. Roman Ingarden masih menambahkan dua lapis norma lagi yang menurut Wellek merupakan lapis keempat dan kelima. tidak semua karya sastra terdapat lapis metafisis tersebut. misalnya suara jederan pintu. yang tragis. bahkan peristiwa yang sama.Lapis metafisis. 1.

tapi terasa Aku tidak ’kan sampai padanya. laut terang. Di air yang terang.BAB II ANALISIS PUISI 2. sekarang iseng sendiri Perahu melancar. di angin mendayu.1 Analisis Stata Norma cintaku jauh di pulau Karya Chairil Anwar Cintaku jauh di pulau Gadis manis. bulan memancar Di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar Angin membantu. .

maka yang terdengar itu ialah rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek. dan barangkali merupakan seluruh bunyi (suara) sajak itu: suara frase. 2003:66). lapis bunyi dalam sajak itu adalah semua satuan bunyi yang berdasarkan konvensi bahasa tertentu. di sini bahasa Indonesia. Bila orang membaca puisi. Jadi. dan suara kalimat. Hanya saja dalam puisi pembicaraan lapis bunyi haruslah ditujukan pada bunyi-bunyi atau pola bunyi yang bersifat ”istimewa” atau khusus.1 Lapis Suara Lapis norma pertama adalah lapis bunyi. yaitu yang dipergunakan untuk mendapat efek puitis atau nilai seni. Suara itu sesuai dengan konvensi bahasa. Sajak tersebut berupa satuan-satuan suara: suara suku kata. Tetapi suara itu bukan hanya suara yang tak berarti. sambil berkata : ”tujukan perahu ke pangkuanku saja” Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh! Perahu yang bersama ’kan merapuh! Mengapa ajal memanggil dulu Sebelum dapat berpeluk dengan cintaku?! Manisku jauh di pulau Kalau ’ku mati. dia mati iseng sendiri 2.Di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertakhta. agak panjang. kata. terutama di sini bunyi-bunyi . disusun begitu rupa hingga menimbulkan arti (Pradopo. dan panjang.1.

Meskipun demikian. 4 : aa-bb yang saling dipertentangkan. ’Gadis manis. Dapat juga berarti bahwa si gadis sangat menatikan si aku. 2003:67). Akan tetapi. laut terang tapi terasa. Dalam bait kedua. frase. Pada bait pertama baris pertama sajak ”Cintaku jauh di pulau” ada asonansi a dan u. seperti kelihatan dalam bait ketiga dan keempat yang dipergunakan sebagai lambang rasa (klanksymboliek) (pradopo. yang adanya memang disengaja oleh penyair untuk mengekspresikan pengalaman jiwanya. 2002:17).1. dan keseluruhan cerita ataupun keseluruhan sajak (Pradopo. Kalimatkalimat berangkai menjadi alinea. Memncar-si pacar dipertentangkan dengan terasa-padanya. suku kata. bab. Bulan memancar. sekarang iseng sendiri. Aliterasi l dan r : perahu melancar. di baris kedua ada aliterasi s yang berturutturut : gadis manis. si aku merasa tidak akan sampai pada pacarnya. kutempuh-merapuh dipertentangkan dengan dulucintaku. 2. sekarang iseng sendiri’. dalam karya sastra yang merupakan satuan minimum arti adalah kata. kekasih si aku masih gadis dan manis. . untuk menuju kekasihnya itu si aku naik perahu dengan lancar pada waktu terang bulan. 3. Kata dirangkai menjadi kelompok kata dan kalimat. tidak berkabut. ” Cintaku jauh di pulau” berarti : kekasiku berada di pulau yang jauh.2 Lapis Arti Lapis arti berupa rangkaian fonem. Begitu juga dalam bait kedua ada asonansi a : melancar-memancar-si pacar-terasapadanya. kata. Semuanya itu merupakan satuan-satuan arti. ia berbuat iseng menghabiskan waktu sendirian. Karena si aku tidak ada.yang mengandung ekspresi kuat. Pada umumnya dalam sajak itu bunyi-bunyi yang dominan adalah vokal bersuara berat a dan u. dan kalimat. Pola sajak akhir bait ke-2. Dalam bait pertama.

lukisan. bahkan menentang maut. 2. angin.3 Lapis Ketiga Rangkaian satuan-satuan arti itu menimbulkan lapis yang ketiga. ataupun pernyataan. akan sia-sia menanti si aku dan mati menghabiskan waktu sendiri. pelaku. sebelum si aku mencapai cita-citanya ia telah meninggal (Pradopo. yang merupakan dunia yang diciptakan oleh pengarang. Latar waktu : waktu malam terang bulan. serta struktur ceritanya (alur). dan semuanya itu berangkai menjadi dunia pengarang berupa cerita. namun ajal (kematian) telah memberi isyarat akan mengakhiri hidup si aku. gadis manis. perahu. seperti berikut : Gadis manis. laju tanpa halangan. ia naik perahu dengan laju pada waktu malam terang bulan. si aku yang berada di pulau yang jauh itu. kekasih si aku berada sendirian di sebuah pulau yang jauh. Sesungguhnya sajak itu berupa kiasan. laut. adalah cita-cita si aku yang menarik. Ini merupakan gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan. angin meniup . Pelaku atau tokoh : si aku.1. tetapi sukar dicapai. Dunia pengarang adalah ceritanya. latar. 2002:18). Si aku ingin menemaninya. harus melalui laut yang melambangkan perjuangan yang penuh rintangan. pulau. pelaku. Pacar si aku. latar. Karena itu. Bait kelima : karena itu. gadis manis itu. Laut tak berkabut. air laut dan ajal. objek-objek yang dikemukakan : cintaku. Latar tempat : laut yang terang (tidak berkabut).Bait ketiga : di air laut yang terang dan di angin yang bertiup kencang itu menurut perasaan sepenuhnya (di perasaan penghabisan) semuanya serba cepat. yaitu objek-objek yang dikemukakan.

pintu membuka bersuara halus dapat memberi sugesti yang membuka atau yang menutup seorang wanita atau orang yang berwatak hati-hati. 2002:17). perahunya berlayar dengan laju dan baris ke-3. Bait keempat dan kelima menyatakan kegagalan si aku untuk mencapai gadisnya (cita-citanya) meskipun segala daya upaya telah dilakukan.4 menyatakan si aku telah dihadang kematiannya. Sebelum mencapai cita-citanya si aku mati (Pradopo.4 Lapis Keempat Lapis norma keempat adalah lapis ”dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tidak perlu dinyatakan secara eksplisit karena sudah terkandung di dalamnya (implisit). Di pandang dari sudut pandang tertentu kekasih si aku itu menarik. misalnya jederan pintu. Kaena itu. Bait keempat menyatakan kegelisahan si aku yang merasa bahwa usahanya sia-sia. maka gadis itu akan sia-sia menghabiskan waktu sendirian (pradopo. hingga perahu yang dinaiki akan merapuh (rusak). kalau si aku tidak akan sampai ke tempat kekasihnya. Misalnya. Bait kedua menyatakan sesuatu yang menyenangkan dan si aku penuh kegembiraan berlayar di laut yang terang. dapat menyiratkan atau memperlihatkan aspek watak ”luar” atau ”dalam”. Bait ketiga menyatakan segalanya berjalan dengan baik. . bahkan peristiwa yang sama. si aku merasa ia tidak akan sampai pada kekasihnya karena maut yang lebih dulu menghalang. Keadaan yang telihat dapat memberikan sugesti atau menyiratkan orang yang ada di dalamnya. 2002:19). 2. kelihatan dari kata-kata : gadis manis. Akan tetapi dalam keadaan serba lancar itu. Bahkan setelah bertahun-tahun berlayar.kencang.1. Sebuah peristiwa dapat dikemukakan atau dinyatakan ”terdengar” atau ”terlihat”.

tetapi sering kali manusia tidak dapat mencapai apa yang diidam-idamkan (yang dicita-citakannya) karena maut telah lebih dulu menghadang. bahkan segalanya berjalan dengan lancar. menggairahkan. mengerikan atau menakutkan.1. 2002:19 2. dan yang suci). Dalam sajak ini lapis itu berupa ketragisan hidup manusia : yaitu meskipun segala usaha telah dilakukan.2 Analisis Puisi Pina Karya Kuntowijoyo PINA (KUNTOWIJOYO) Di atas pohon pina surya mempersembahkan sinarnya pada semesta Seseorang tertidur sangat lelap di bawahnya tidak tahu bahwa Waktu sudah berjalan .2. Dengan demikian. yang tragis. Dengan sifat-sifat ini karya sastra dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca.5 Lapis Kelima Lapis norma kelima adalah lapis metafisis. berupa sifat-sifat metafisik (yang sublim. disertai sarana yang cukup. akan siasia saja (pradopo. cita-cita yang hebat.

· Pada baris pertama sampai baris keempat terdapat pengulangan bunyi vokal a (pina. · surya surya=fajar=matahari=mentari Merupakan bintang yang mempunyai energi panas terbesar di dunia yang berguna bagi kelangsungan hidup makhluk hidup (tumbuh-tumbuhan.1 Analisis Strata Norma Analisis lapis pertama (bunyi atau sound stratum) · Pada baris pertama puisi tersebut ada pengulangan bunyi vokal pada sebuah baris yang sama(asonansi) yaitu i dan a.surya. Tanpa sinar surya tumbuh-tumbuhan . tinggi. Analisis lapis kedua (arti atau units of meaning) · Di atas pohon pina Pohon pina adalah jenis pohon yang tumbuh liar ditepi sungai dan ditempat-tempat lain. pohon ini berbatang langsing.sampai di tikungan 2.sinarnya. Biasanya disawah pohon pina dijadikan tempat bersandar karena batang pohonnya yang tegak. biantang dan manusia) melalaui cahaya/sinar yang dipancarkannya kebumi.semesta) · Pada baris ke-10 (terakhir) ada Pengulangan bunyi vokal dari kata-kata yang berurutan atau rima awal(aliterasi) yaitu a (pada semesta) · Pada baris ke-6 dan ke-7 terdapat pengulangan bunyi konsonan ng (Seseorang-sangat) · Pada baris ke-9 dan ke-10 (terakhir) terdapat pengulangan bunyi konsonan n (berjalan-tikungan) · Pada baris ke-10 (terakhir) ada Pengulangan bunyi vokal dari kata-kata yang berurutan atau rima awal(aliterasi) yaitu i (sampai di tikungan). tegak dan tidak bercabang (mirip pohon kelapa).2.

tidak mampu dihitun berapa luasnya dan dialamnya ada berjuta-juta bintang. · pada semesta alam yang begitu teramat luas . · sampai di tikungan . Dan pada semesta ini hidup berjuta-juta kehidupan pula. tidak mampu dihitun berapa luasnya. · Seseorang tertidur Seseorang=satu orang Tertidur=dengan tidak sengaja tidur Seseorang yang dengan tidak sadar tidur atau tiba-tiba tidur sehingga tidak menyadarkan diri · sangat lelap keadaan yang benar-benar tidak menyadarkan diri. Meski ia adalah sebuah benda mati dengan pancaran sinarnya yang menyinari dunia ini merupakan sebuah jasa yang teramat besar. sangat tidak dalam keadaan sadar · di bawahnya dari tempatnya yang lebih rendah · tidak tahu tidak tahu menahu tentang suatu hal · bahwa Waktu sudah berjalan waktu adalah suatu hal yang terus-menerus berjalan bergerak maju dan dengan cepat berubah dari satu titik ke titik didepannya.tidak dapat berfotosintesis dan tanpa sinar surya juga alam akan menjadi gelap gulita. · mempersembahkan sinarnya Sinar surya/matahari yang dipancarkan kebumi terus menerus tanpa henti untuk membantu kelangsungan hidup makhluk hidup adalah sebuah rasa kasih sayangnya yang tanpa lelah ia pancarkan. planet yang merupakan benda-benda langit yang ada dalam semesta ini.

tetapi ia diam tidak melakukan perubahan. ‘dunia pengarang’ dan lain-lain) Baris ke-1 pohon pina Baris ke-2 surya Baris ke-3 sinarnya Baris ke-4 semesta Baris ke-5 Seseorang Baris ke-6 lelap Baris ke-7 di bawahnya Baris ke-8 tidak tahu Baris ke-9 Waktu Baris ke-10 tikungan Analisis lapis keempat (Lapis Implisit) Pohon pina yang tinggi dan tumbuh tegak adalah penggambaran sebuah jalan atau sebuah cara untuk meraih sinar yang terpancar diatasnya. pohon pina memang bukan pohon yang mudah untuk dipanjat karena tidak bercabang seperti pohon yang lain.ketika sesuatu yang beranjak sampai hingga tikungan. adalah orang yang . tetapi orang itu. menggambarkan bahwa ia hanya diam sementara orang bekerja. Analisis lapis ketiga (objek-objek. tapi dengan usaha yang sungguh-sungguh tidak ada hal yang tidak bisa. zaman yang akan terus berubah. namun ada seseorang yang tertidur dibawahnya. latar. tidak melakukan suatu hal yang berguna untuk dirinya atupun orang lain. akan dengan sekejap hilang dari pandangan. sedangkan orang-orang telah melakukan perubahan pada dirinya. menggunakan kesempatan waktu yang ia punya untuk menggapai mimpi mereka masing-masing dengan harapan dan tekad kuat dalam dirinya. ia peka terhadap tuntutan kehidupan ini. karena arahnya yang telah berbelok. pelaku.

Salah satunya adalah teori dari Roman Ingarden yang menyebutnya strata norma. Di antaranya lapis bunyi. dan lapis metafisis. lapis dunia. dengan sendirinya kemudahan terbuka.tidak sigap menuai harapan dalam hidup ini.2. Strata norma terdiri dari empat lapis. Lakukan apa yang ada dihadapan kita. Lapis kelima (metafisis) Jangan menunggu apa-apa lagi untuk memulai mimpi.2 Analisis Semiotik Pina = Pohon pina yang tinggi dan tumbuh tegak adalah penggambaran sebuah jalan. . dan acuh akan kesampatan yang ada. Dan ketika membuat seuatu analisis. secara keseluruhan memberi arti bahwa jangan menyia-nyiakan waktu. karena waktu tak akan menunggu kita. malah terbuai pada gemerlap kehidupan yang hanya menghasilkan kesia-siaan sehingga apa yang diimpikannyapun tak akan ia dapatkan di masa yang akan datang. perlu sebuah teori yang telah teruji dan mampu mengupas semua masalah dalam puisi tersebut. Surya = Tuntunan Sinarnya = harapan Tertidur = Tidak mau berusaha Tikungan = Kesesatan BAB III PENUTUP 3. 2.1 Simpulan Dalam mengapresiasi suatu puisi metode yang dapat dilakukan bermacam-macam. Pada puisi Derai-Derai Cemara karya Chairil Anwar. lapis arti.

(1997). Pengkajian puisi : analisis strata norma dan analisis struktural dan semiotik. Yogyakarta: Rokhmansyah. Banyak yang harus dibekali dalam diri ini untuk menggapai kematian yang tentram dan damai. Rachmad Djoko. Bandung: Angkasa. Yogyakarta: Graha Ilmu. memberi makna bahwa tidak Gunakanlah waktu dalam hidup tidak mengabaikan nasihat dari terpuruk dalam kehidupan dan pernah terduga sebelumnya. Perkenalan Awal terhadap Ilmu Sastra. Pada puisi Datang Dara. secara keseluruhan ada yang sempurna di dunia. Studi dan Pengkajian Sastra. Jika tidak kita akan menunggu kematian yang tidak DAFTRA PUSTAKA Pradopo. Pradopo. Pengkajian Gadjah Mada University Press. . 1993. Puisi. Rachmat Djoko. Henry Guntur. Tarigan. Alfian. 2014. untuk mengejar impian dengan orang lain. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra.Perubahan yang terjadi pada diri haruslah lebih baik dari sebelumnya agar tidak menyesal dikemudian hari. 2002. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hilang Dara.