You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mola hidatidosa merupakan proses degenarasi pada vili korionik
plasenta yang meneyebabkan perkembangan vesikel jernih mirip kista
berbentuk seperti seikat anggur (Varney, 2002).
Angka kejadian Mola hidatidosa di dunia menunjukkan angka yang
tinggi terutama di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika latin. Di negaranegara barat dilaporkan insidensi 1:200 atau 2000 kehamilan, di negaranegara berkembang 1:100 atau 600 kehamilan (M. Rusda, 2015).
Dikutip dari M. Rusda, 2015 insidensi GTD konstan sekitar 1 sampai
2 per 1.000 kelahiran di Amerika Serikat dan Eropa. Frekuensi yang sama
dijumpai di Afrika Selatan dan Turki. Tingkat insidensi yang lebih tinggi telah
dilaporkan di Asia. Berdasarkan populasi, penelitian di Korea Selatan
mencatat penurunan insidensi dari 40/1.000 kelahiran menjadi 2/1.000
kelahiran. Demikian pula, rumah sakit berbasis studi di Jepang dan Singapura
telah menunjukkan penurunan kejadian mendekati angka di Amerika Serikat
dan Eropa. Beberapa kelompok etnis, lebih berisiko mengalami penyakit
trofoblas gestasional yaitu hispanik, penduduk asli Amerika dan kelompok
populasi tertentu yang hidup di Asia Tenggara. Insidensi molahidatidosa
dengan janin hidup terjadi pada 1/20.000 – 1/100.000 kehamilan.
Sedangkan di Indonesia menunjukkan angka kematian ibu yang tinggi
yaitu sekitar 373 per 100.000 kelahiran hidup. Salah satu faktor dari tingginya
angka kematian ibu di Indonesia adalah karena mola hidatidosa, akibat dari
perdarahan yang terjadi pada penderita mola hidatidosa. Menurut beberapa
laporan kejadian Mola hidatidosa di Indonesia berkisar antara 1:51 sampai
1:141 kehamilan (Windapuspi, 2015).
Menurut WHO (World Health Organization) Insidensi penyakit
trofoblas di Indonesia maupun negara berkembang masih cukup tinggi
apabila dibandingkan dengan negara yang maju. Angka kejadian mola
hidatidosa berkisar antara 1:1.450 hingga 1:2.000 kehamilan dan angka
kejadian koriokarsinoma 1:14.000 sampai dengan 1:40.000 kehamilan,

1

sedangkan di Indonesia kejadian mola 1:51 sampai 141 kehamilan, di Jawa
Barat 1:28 sampai 1:105 kehamilan ( Yudi, 2014).
Belum banyak diketahui angka kejadian mola hidatidosa di Provinsi
Kepulauan Riau terutama di Tanjungpinang. Maka dari itu kelompok tertarik
membahas mola hidatidosa sebagai pembahasan dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang menunjukkan tingginya tingkat
penderita Molahidatidosa.Maka kelompok merumuskan masalah pada makalah
ini yaitu “Bagaimana Asuhan keperawatan MolaHidatidosa”
C. Tujuan
1. Tujuan Umum :
Agar mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan pada Mola
Hidatidosa
2. Tujuan Khusus :
a.
b.

Agar mahasiswa mampu mengetahui defenisi mola hidatidosa
Agar mahasiwa mampu mengetahui anatomi dan fisiologi sistem

c.
d.

reproduksi
Agar mahasiswa mampu mengetahui etiologi mola hidatidosa
Agar mahasiswa mampu mengetahui manifestasi klinis mola

e.
f.
g.

hidatidosa
Agar mahasiswa mampu mengetahui patofisiologi mola hidatidosa
Agar mahasiwa mampu mengetahui Pathway mola hidatidosa
Agar mahasiwa mampu mengetahui komplikasi mola hidatidosa

h.

Agar mahasiswa mampu mengetahui pemeriksaan diagnostik mola
hidatidosa

i.

Agar mahasiwa dapat mengetahui penatalaksanaan medik mola

j.

hidatidosa
Agar mahasiwa dapat mengetahui asuhan keperawatan pada mola
hidatidosa

D. Metode Penulisan
1. Metode Kepustakaan

2

manfaat penulisan. 3 . intervensi keperawatan . Obstetri williams. Sistematika Penulisan Berdasarkan dari hasil penyusunan makalah ini. BAB II: TINJAUAN TEORI Yang terdiri dari defenisi. 2. manifestasi klinik. BagiPembaca Sebagai referensi dan sarana penambah pengetahuan bagi pembaca terutama berkaitan dengan asuhan keperawatan mola hidatidosa. etiologi.sehingga dapat dijadikan sebagai penambah wawasan bagi mahasiswa dengan meletakkan diperpustakaan. pemeriksaan diagnostik. F.Yaitu dengan mengumpulkan referensi dari beberapa buku seperti buku Saku Bidan. Media Internet Yaitu bersumber dari karya tulis ilmiah di internet yang relevan dengan asuhan keperawatan pada mola hidatidosa. 2. dan sistematika penulisan. tujuan penulisan. BAB IV: PENUTUP Yang terdiri dari kesimpulan dan saran. patofisiologi. rumusan masalah.implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan. Seri Askeb kehamilan. E. disini kelompok membuat sistematika penulisan yang dimulai dari: A. sehingga menambah wawasan dalam pengembangan ilmu keperawatan. BAB I : PENDAHULUAN Yang terdiridari latarbelakang masalah. 3. C. BAB III: TINJAUAN KASUS Yang terdiri dari pengkajian. anatomi fisiologi. dan asuhan keperawatanpada pertusis. klasifikasi. D. Bagi Pengembangan ilmu keperawatan Diharapkan makalah ini dapat mendeskripsikan tentang Asuhan keperawatan mola hidatidosa. pathway. Bagi Institusi pendidikan Diharapkan makalah ini dapat menambah informasi mengenai. pengantar kuliah obstetri dan nanda nic-noc. B. komplikasi. Manfaat Penulisan 1. penatalaksanaan medik. asuhan keperawatan mola hidatidosa. diagnosa keperawatan.

atau mata ikan karena itu 4 .BAB II TEORITIS A. Pengertian Mola Hidatidosa adalah jonjot-jonjot korion (chorionic villi) yang tumbuh bergandang berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur.

juga gerakan janin serta tidak terdengar bunyi denyut jantung janin.disebut juga hamil anggur atau mata ikan. Molahidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana hamper seluruh vili korialisnya mengalami perubahan hirofik (Mansjoer. d. D. 1999). Komplikasi Pada penderita mola yang lanjut dapat terjadi beberapa komplikasi sebagai berikut: 5 . Imunoselektif dari trofoblas 2. Keadaan sosio ekonomi yang rendah 3. Etiologi Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui. Terdapat gejala . Faktor ovum : Ovum memang sudah patologik sehingga mati. tidak teratur. c. 1999).gejala hamil muda yang kadang . warna tungguli tua atau kecoklatan seperti bumbu rujak. 2000). Tidak teraba bagian . Pembesaran uterus tidak sesuai ( lebih besar ) dengan tua kehamilan seharusnya.bagian janin dan balotemen.kadang lebih nyata dari kehamilan biasa dan amenore b. Paritas tinggi 4. Molahidatidosa ialah kehamilan abnormal dengan ciri-ciri Stroma villus korialis langka vaskularisasi dan edematous (Prawirohardjo. Infeksi virus dan kromosom yang belum jelas C. Terdapat perdarahan per vagina yang sedikit atau banyak. Manifestasi Klinis Pada penderita mola dapat ditemukan beberapa gejala-gejala sebagai berikut: a. faktor-faktor yang menyebabkannya antara lain: 1. 1. tapi terlambat dikeluarkan. Kekurangan protein 5. Kelainan ini merupakan neoplasma trofoblas yang jinak (benigna) (Mochtar. B.

mulai dari yang kecil sampai berdiameter lebih dari 1 cm. Secara mikroskopik terlihat trias : 1. akan menjadi mola destruens atau koriokarsinoma. Preeklampsi atau Eklampsia 4. Biasanya di dalamnya tidak berisi embrio. 7. Patofisiologi Jonjot-jonjot korion tumbuh berganda dan mengandung cairan merupakan kista-kista kecil seperti anggur. E. Anemia 2. Tirotoksikosis 5. Infeksi sekunder.kira 18-20% kasus. Menjadi ganas ( PTG ) pada kira . Bisa juga terjadi kehamilan ganda mola adalah : satu janin tumbuh dan yang satu menjadi mola hidatidosa. Perforasi karena keganasan dan karena tindakan. Syok 3. Terlambat atau hilangnya pembuluh darah dan stroma 6 . 6.gelembung mola. Secara histo patologic kadang-kadang ditemukan jaringan mola pada plasenta dengan bayi normal. Degenerasi hidropik dari stroma villi dan kesembaban 3. mola parsialis adalah bila dijumpai janin dan gelembung . Gelembung mola besarnya bervariasi. Proliferasi dari trofoblas 2.1.

Kista lutein akan berangsur . Arteriogram khusus pelvis 6. maka suspek mola hidatidosa.tulang janin ( pada kehamilan 3-4 bulan). Pemeriksaan dalam Pastikan besarnya rahim. 7 . uji biologik atau imunologik cairan serebrospinal dapat menjadi positif. terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina. Pada kasus mola banyak kita jumpai ovarium dengan kista lutein ganda berdiameter 10 cm atau iebih ( 25-60%).angsur mengecil dan kemudian hilang setelah mola hidatidosa sembuh. tidak ada bagian-bagian janin. serta evaluasi keadaan servik.Sison).Sel . Galli mainini 1/200 (+). rahim terasa lembek. 2. Uji sonde : Sonde ( penduga rahim ) dimasukkan pelan . Pemeriksaan penunjang Untuk mengetahui secara pasti adanya molahidatidosa. Galli mainini 1/300 (+). b. maka kemungkinan mola hidatidosa atau hamil kembar.sel Langhans tampak seperti sel polidral dengan inti terang dengan adanya sel sinsisial giantik ( Syncytial Giant Cells). Ultrasonografi : pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat janin. 4. sonde diputar setelah ditarik sedikit. bila tetap tidak ada tahanan kemungkinan mola ( cara Acosta. F. Reaksi kehamilan : karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologik dan uji imunologik ( galli mainini dan planotest ) akan positif setelah pengenceran (titrasi): a. Bila tidak ada tahanan. maka pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu : 1.pelan dan hati hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. 3. Foto rongent abdomen : tidak terlihat tulang . Bahkan pada mola atau koriokarsinoma. 5.

Setelah pasang infus Dectrosa 5 % yang berisi 50 satuan oksitosin ( pitosin atau sintosinon ).hati. 8 melakukan histerotomia untuk . berikan tranfusi darah dan lakukan tampon utero . e. uterustonika dan perbaikan keadaan umum penderita. 2). Porsi 1 : yang dikeluarkan dengan cunam ovum. antibiotika. c. Jika pembukaan kanalis servikalis masih kecil: 1). Kalau perdarahan banyak dan keluar jaringan mola. barulah dengan tenang dan hati . 3). f. Kalau perdarahan banyak.bagian lainnya pada kavum uteri. b. ada beberapa institut yang mengeluarkan isi rahim ( mola). cabut laminaria. d.patologik dalam 2 porsi: 1). 2).vaginal selama 24 jam. Tindakan pertama adalah melakukan manual digital untuk pengeluaran sebanyak mungkin jaringan dan bekuan darah. dilakukan kerokan ke 2 untuk membersihkan sisa-sisa jaringan. Pada kuretase pertama ini keluarkanlah jaringan sebanyak mungkin. tak usah terlalu bersih. Terapi a. atasi syok dan perbaiki keadaan umum penderita dengan pemberian cairan dan transfusi darah.G. Penatalaksanaan 1.hati evaluasi sisanya dengan kuretase. Pasang beberapa gagang laminaria untuk memperlebar pembukaan selama 12 jam. Pakailah cunam ovum yang agak besar atau kuret besar : ambillah dulu bagian tengah baru bagian . Porsi 2 : dikeluarkan dengan kuretase. 7-10 hari sesudah kerokan pertama. kemudian setelah itu lakukan evakuasi isi kavum uteri dengan hati . Berikan obat . Kalau mola terlalu besar dan takut perforasi bila dilakukan kerokan. Bahan jaringan dikirim untuk pemeriksaan histo . dan kirim lagi hasilnya untuk pemeriksaan laboratorium.obatan.

Keganasan masih dapat timbul setelah 3 tahun pasca terkenanya mola hidatidosa. dimana reaksi kehamilan menjadi positif akan menyulitkan observasi. Setiap minggu pada triwulan pertama b. keadaan umum dll 2). uterus cepat bertambah kecil atau tidak. Setiap bulan pada 6 bulan berikutnya d. 3). Para ahli lain tidak setuju pemberian ini. Sitostatika profilaksis pada mola hidatidosa Beberapa institut telah memberikan methotrexate ( MTX) pada penderita mola dengan tujuan sebagai profilaksis terhadap keganasan. Setiap 2 minggu pada triwulan kedua.4% dalam 24 minggu serta 97.1% dalam 12 minggu dan 79. Satu kali 3 bulan selama tahun berikutnya Kalau reaksi titer tetap (+). Kehamilan. karena disatu pihak obat ini tentu 9 . Satu kali sebulan dalam 6 bulan selanjutnya d). maka harus dicurigai adanya keganasan. Lakukan pemeriksaan dalam dan pemeriksaan in spekulo : tentang keadaan servik. Satu kali 2 minggu selama triwulan selanjutnya c). dan selanjutnya setiap 3 bulan. Periksa ulang ( follow-up ) Ibu dianjurkan jangan hamil dulu dan dianjurkan memakai kontrasepsi pil.. Reaksi biologis atau imonologis air seni : a). paritas 4 atau lebih. Histerektomi total dilakukan pada mola resiko tinggi ( high risk mola) : usia lebih dari 30 tahun. Satu kali seminggu sampai hasil negatif b). 3. Menurut Harahap (1970) tumor timbul 34.5 % dalam 6 minggu. dan uterus yang sangat besar (mola besar) yaitu setinggi pusat atau lebih. 2. Gejala klinis : perdarahan. c. Setiap 2 bula pada tahun berikutnya. kista lutein bertambah kecil atau tidak dll.2 % dalam 1 tahun setelah mola keluar.g. Setiap perikas ulang penting diperhatikan : 1). : 62. Juga dinasehatkan untuk mematuhi jadwal periksa ulang selama 2-3 tahun: a.

Pengamatan lanjutan sukar dilakukan b. Beberapa penulis menganjurkan pemberian MTX bila : a. dan dipihak lain obat ini tidak luput dari efek samping dan penyulit yang berta.mencegah keganasan. 10 . Apabila 4 minggu setelah evakuasi mola. uji kehamilan biasa tetap positif c. Pada high risk mola.

Pathway Faktor ovum Mengalami keterlambatan dalam pengeluaran Kematian ovum di dalam tubuh Mengalami degenerasi Jangot-jangot korion yang tumbuh berganda dan mengandung cairan Kista-kista kecil seperti anggur Molahidatidosa Tindakan invasif Kuretase Perdarahan Jaringan terdapat ulkus Kurang informasi tentang prosedur Bakteri mudah masuk Kurang pengetahuan Resiko jaringan ulkus Cemas Hipovolemik Resiko tinggi kekurangan volume cairan Resiko tinggi infeksi Menstimulasi reseptor nyeri Gangguan rasa nyaman nyeri 11 .H.

• Penurunan haluan urine.BAB III Konsep Asuhan Keperawatan 1. turgor kulit buruk. b. d. Sirkulasi • Takikardia. distensi abdomen. bising usus kasar (obstruksi). abses retroperitoneal. haus. infeksi pascamelahirkan. • Diare (kadang-kadang). kaku. • Muntah proyektil. aabdomen diam. Distensi. Pengkajian a. Aktivitas • Kelemahan. • Cegukan. hipotensi (tanda syok). c. warna gelap. • Kesulitan ambulasi. kekakuan abdomen. takipnea. e. lidah bengkak. 12 . mual/muntah. • Edema jaringan. Keamanan • Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis). berkeringat. bunyi keras hilang timbul. Hiperesonan/timpani (ileus). Pernapasan • Pernapasan dangkal. ELIMINASI • Ketidakmampuan defekasi dan flatus. g. hilang suara pekak diatas hati (udara bebas dalam abdomen). f. Cairan • Anoreksia. nyeri tekan. • Penurunan/tak ada bising usus (ileus). nyeri tekan. • Membran mukosa kering. Kenyamanan/Nyeri • Nyeri abdomen. pucat.

kondisi vulva lembab 13 . nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan intrauteri c. Gangguan rasa nyaman . Diagnosa Keperawatan a.2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perdarahan. Devisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan b.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. Y Umur : 53 tahun Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia Agama : Islam Pendidikan :- Pekerjaan : Ibu rumah tangga Alamat : Banyu Ringin RT 01 / IV Singorejo. Identitas Nama pasien : Ny. Y DENGAN MOLA HIDATIDOSA DI RUANG BOUGENVIL RSUD – TUGUREJO SEMARANG Tanggal masuk : 19 Juli 2007 Jam masuk : 11. Semarang Nama suami : Tn.46 WIB Ruang : Bougenvil No. M Umur : 56 tahun Suku/bangsa : Jawa / Indonesia Agama : Islam Pendidikan :- Pekerjaan : Wiraswasta 14 . Reg Med : 146245 Pengkajian : 20 Juli 2007 A.

Tidak ada riwayat keguguran pada anggota keluarga lainnya. tanggal 19 Juli 2007 terjadi perdarahan kembali. Klien tidak mengalami dismenorchea. klien menjalankan akti vitas seperti biasanya dan tidak menambah waktu istirahat karena klien tidak merasa bahwa dirinya hamil. siklus teratur (28 hari) dengan jumlah relatif sedikit selama 6-7 hari. Riwayat Kehamilan / nifas sebelumnya Klien sebelumnya belum pernah mengalami. Pola Aktivitas dan latihan Sebagai ibu rumah tangga. b. Klien sudah memiliki 5 anak. b. Riwayat Menstruasi Menarche umur 14 tahun. Hari pertama haid terakhir tanggal 20 Juni 2007. paru. Riwayat Kesehatan Klien menyatakan tidak menderita penyakit jantung. Riwayat KB - Jenis : Suntik 3 bulan - Lama : 20 tahun 4. Riwayat Keperawatan 2. manis. Riwayat Obstetri a. Saat ini klien merasa nyeri pada perut bagian bawah dan perdarahan walaupun tidak terlalu mengganggu 15 . klien tidak berpantang makan. kencing. klien tidak mengalami gangguan nafsu makan. gondok dan penyakit keturunan lainnya. tanggal 14 Juli terjadi perdarahan.i. 5. 3. di bawah ke bidan tanggal 15 Juli 2007. Pola Nutrisi Klien makan 3 kali sehari. dan baru di bawa ke RSUD Tugurejo Semarang pada tanggal 19 Juli 2007. Kebutuhan Dasar Khusus a. dengan cukup lauk dan sayuran.

Nyeri yang timbul terasa lebih berat saat merubah posisi tubuh dengan cepat dan tiba-tiba. Palpasi Leopold I : Tinggi Fundus Uteri : 2 Jari diatas pusat. Pembukaan 1 Cm - Cavum Uteri : TFU 2 jari di atas pusat. nyeri goyang (-). Inspeksi: Pembesaran relatif abdomen Linea alba tidak ada Striae pada perut sedikit b. Periksa Dalam (Vaginal Toucher) : - Vaginal Toucher : tidak ditemukan fluks - Portio: Lunak. Pemeriksaan Fisik Kesadaran Umum : Composmentis Tekanan Darah : 120/70 mmHg Pernafasan : 20 X/menit Nadi : 80 X/menit Konjungtiva : Anemis Sclera : Anikteric Turgor kulit : elastis Warna kulit : agak pucat a. Auskultasi Doppler tidak dilakukan 16 .kegiatan sehari-hari. 6. - Adnexia Parametrium ka/ki : Nyeri tekan (-) Massa (-) c.

Data Penunjang HCG Test : Positif Hemoglobin : 8.9 mg % Ultra Sonografi : Diagnosa Medik : Mola Hidatidosa 17 .7.

ANALISIS DATA 18 .

beresiko .Mengeluh nyeri kerusakan jaringan intra cairan 09.Kulit agak pucat DS: Akibat perdarahan Resiko tinggi 2007 .9 g/dl 20 Juli .40 perut bagian bawah . DO : . badan penurunan volume lemah cairan.Hb 8.Kadang meringis menahan nyeri 19 .Mengeluh mengakibatkan kondisi untuk infeksi 09.Perdarahan pervaginal bergumpal .Menyatakan nyeri terjadi dapat nyaman (nyeri) 9.Perdarahan terhadap terjadinya pervaginal infeksi bergumpal .Mengeluh perdarahan sudah 6 mengakibatkan nyeri dan mengganggu kondisi fisik dan psikologis klien.Vulva kotor dan 20 Juli lembab DS : Kerusakan jaringan yang Gangguan rasa 2007 .Masalah Tgl/Jam Data Etiologi 20 Juli DS : Perdarahan akibat Keperawatan Devisit volume 2007 . hari DO : .00 perut bagian bawah uterus menimbulkan dan perdarahan perdarahan dan sudah 6 hari.15 perdarahan sudah 6 vulva hygiene menjadi hari berkurang dan selalu DO : lemabab.

kondisi vulva lembab 20 . Devisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan e.Diagnosa Keperawatan d. nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan intrauteri f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perdarahan. Gangguan rasa nyaman .

ditambah dengan jumlah cairan memenuhi kebutuhan cairan karekteristik bervariasi Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian Anjurkan klien . yang hilang pervaginal Motivasi untuk memenuhi kebutuhan cairan lembab 2 . Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri Mengurangi onset terjadinya dialami klien b.Turgor kulit baik Gangguan Setelah dilakukan tindakan rasa nyaman keperawatan Klien dapat : Nyeri beradaptasi dengan nyeri yang berhubungan dialami diderita klien dan dengan Kriteria hasil : penyebabnya Kerusakan - Klien mengungkapkan a.Kriteria Hasil : - Rasional c. Intervensi a.TTV stabil - . .Membran mukosa a. Pengeluaran cairan pervaginal hemodinamika b.No Diagnosa Tujuan 1 Devisit Volume Setelah dilakukan tindakan Cairan keperawatan. maka Tidak berhubungan terjadi devisit volume cairan. Kaji kondisi status . Kolaborasi pemberian 21 c. Terangkan nyeri yang c. dengan seimbang antara intake dan Perdarahan output baik jumlah maupun kualitas. Kaji kondisi nyeri yang a. Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun deskripsi b. sebagai akibat abortus memiliki Ukur pengeluaran harian c. b.

jaringan intrauteri nyeri hilang / berkurang - Tampak rileks - Mampu istirahat dengan analgetika d. tepat 22 nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik Adaptasi terhadap nyeri merupakan teknik . Lakukan pendidikan kesehatan teknik distraksi d.

b. jumlah. Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar. c. dischart keluar. d. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi e yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi. c. Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu. e. gejala infeksi. d. Kaji kondisi a. Berbagai manivestasi klinik tanda inveksi dapat menjadi tanda nonspesifik Anjurkan pada suami infeksi. Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.3 Resiko tinggi Tidak terjadi infeksi selama Infeksi perdarahan berlangsung a. senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus 23 . b. Perubahan yang terjadi pada keluaran/dischart yang dischart dikaji setiap saat berhubungan keluar . demam dan peningkatan untuk tidak rasa nyeri mungkin merupakan melakukan hubungan senggama selama masa perdarahan. Lakukan perawatan vulva. warna. Terangkan pada klien kondisi vulva pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan. Adanya warna dengan dan bau perdarahan.

24 .

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perdarahan. Devisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan b. 2002). Gangguan rasa nyaman . kondisi vulva lembab B. nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan intrauteri c. Kesimpulan Mola hidatidosa merupakan proses degenarasi pada vili korionik plasenta yang meneyebabkan perkembangan vesikel jernih mirip kista berbentuk seperti seikat anggur (Varney. Gangguan rasa nyaman . Saran Dalam makalah ini kami menyarankan bagi pembaca dalam melakukan Asuhan keperawatan pada pasien Mola Hidatidosa pada pengkajian utamakan pemeriksaan fisik pada kulit dan pengkajian 11 pola Gordon terutama pengakajian persepsi kognitif dan nutrisi dan metabolic serta diagnosa yang dapat ditegakkan diantaranya: a. kondisi vulva lembab 25 . Devisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan b. Diagnosa yang kemungkinan muncul pada Nefritis Interstisial ialah : a. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perdarahan. nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan intrauteri c.BAB IV PENUTUP A.

Doenges. Protap Pelayanan Kebidanan RSUD Dr. EGC. Wong. (1981).DAFTAR PUSTAKA Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad. Sarwono Prawirohardjo. Mosby Year Book Co. Obstetri Patologi. Surabaya 26 . Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta.. Jakarta. Sinopsis Obstetri Jilid I. (1992). Jakarta. (1998). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Marilynn E. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. Shanon W. (2000). _____. (2000). JNPKKR-POGI. EGC. Ilmu Kandungan. Bandung. (1999). Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Dona L& Perry. Elstar Offset. Sutomo Surabaya. Maternal Child Nursing Care. Philadelphia. Rustam Mochtar.