MENGENAL DASAR-DASAR ILMU SASTRA

Penulis: Wawan Setiawan

Kata Pengantar Sastra merupakan bagian dari kebudayaan. Oleh karena itu, mempelajari sastra merupakan bentuk penghargaan terhadap kebudayaan itu sendiri. Namun sastra seringkali menjadi begitu asing bagi kita. Hal itu terutama disebabkan ketidaktahuan kita terhadap apa sebenarnya sastra. Buku ini mengajak kita sedikit mengetahui sastra yang paling mendasar. Pertanyaan sederhana yang berusaha diurai-jawab pada buku ini adalah apakah sastra itu, apa saja bentuk-bentuk sastra, dan bagaimana sastra pada masa lalu serta masa kini. Secara garis besar buku ini membahas tiga jenis atau genre sastra yang utama, yaitu puisi, prosa, dan drama. Selain itu, buku ini juga mencoba menguraikan perbedaan antara sastra tulis yang biasa kita baca saat ini dan sastra lisan yang sebenarnya masih sering kita saksikan dan kita dengar. Penyusun sadar betul akan keterbatasan dan kekurangan penulisan buku ini. Oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan. Adapun sedikit materi yang terkandung di dalam buku ini semoga menjadi manfaat bagi pembelajaran sastra.

Februari 2010,

Penyusun

BAB 1 PENGERTIAN SASTRA

A. Apa itu Sastra? Sejak dulu definisi sastra selalu menjadi perbincangan yang hamper tidak berkesudahan. Para ahli sastra sendiri tidak memberikan batasan yang jelas mengenai definisi sastra. Namun demikian, berdasarkan fakta-fakta dan kecenderungan yang ada selama ini, dapatlah dirangkum beberapa pengertian tentang apa itu sastra. Secara sempit, sastra dapat diartikan sebagai seni yang berbentu karya tulis. Secara harfiah, kata tersebut berasal dari kata bahasa latin (littera yang kemudian diserap pula menjadi literature, yang artinya sesuatu yang tertulis). Pengertian ini jelas membatasi bahwa sastra adalah karya seni yang berbentuk tulisan. Pengertian tersebut agaknya terlalu sempit, apalagi jika kita mengingat keragaman bangsa Indonesia yang sangat kuat dan kaya akan ragam tradisi lisan. Di antara tradisi lisan itu, terutama ada bentuk-bentuk puisi rakyat, mantra, pantun, dongeng, mitos dan legenda dapat pula dikategorikan sebagai sastra. Sebagai perluasanatas definisi sastra sebagai karya seni yang tertulis muncullah istilah sastra lisan yang seakan-akan menjadi dunia sastra yang terpisah dari budaya literer atau tertulis. Istilah Bahasa Jerman ³Wort kunst´ dapat pula menjadi alternative dalam mendefinisikan sastra. Secara harfiah, kata tersebut dapat diartikan sebagai karya seni yang menggunakan kata-kata atau bahasa. Dengan demikian, pengertian ini dapat mencakup karyakarya yang selama ini dianggap sastra, baik yang tertulis, maupun yang lisan/dilisankan atau dituturkan. Permasalahan yang muncul kemudian adalah bagaimana kita membedakan mana mana saja karya yang termasuk sastra dan mana-mana saja karya yang bukan sastra/nonsastra. Untuk menjawab pertanyaan ini tidak hanya diperlukan dugaan-dugaan yang tepat, akan tetapi diperlukan juga pengalaman dan penghayatan yang memadai terhadap bentuk-bentuk karya yang kita temukan. Sebagai contoh sederhana adalah bagaimana kita bisamembedakan buku novel dengan buku pelajaran sejarah atau geografi? Meskipun kita mengetahui dengan jelas perbedaan kedua ³karya´ tersebut, namun terkadang kita sulit memaparkan berbedaan di antara keduanya. Kita sering kesulitan menjelaskan perbedaan di antara keduanya terutama jika lagi-lagi tersandung dengan batasan atau definisi.

Sebagai sedikit pemarkahan saja, sastra sering juga diartikan sebagai karya rekaan. Artinya sastra adalah karya yang dihasilkan dengan sebuah perenungan/kontemplasi dan diolah dengan diksi, ragam bahasa tertentu sehingga menimbulkan nilai rasa dan subjektivitas. Supaya lebih jelas, perhatikan dua ragam teks di bawah ini.

Teks 1

Puncak Banjir Jakarta Bulan Januari 2010
Kamis, 19 November 2009 | 07:13 WIB JAKARTA, KOMPAS.com ² Wahana Lingkungan Hidup Indonesia memprediksi bencana banjir di Jakarta akan datang lebih cepat, yaitu Januari 2010. Dengan kondisi Proyek Banjir Kanal Timur yang belum selesai, buruknya saluran drainase, masalah kerusakan di 13 aliran sungai, dan musim hujan yang mencapai puncaknya pada bulan itu, banjir diperkirakan lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. ´Banjir diperkirakan makin besar karena berbarengan dengan datangnya banjir air pasang laut atau rob. Banjir terus terjadi karena negara salah urus dalam mengelola sumber daya dan penataan ruang,´ kata Direktur Eksekutif Walhi Jakarta Ubaidillah, Rabu (18/11). Walhi secara spesifik mengkritik kinerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di bawah kepemimpinan Fauzi Bowo, tidak juga ada kebijakan yang mampu mempercepat akselerasi program penanggulangan banjir. Banjir kian menghantui warga Jakarta, setelah Fauzi Bowo sendiri, Selasa, mengingatkan warga yang tinggal di dekat Kali Pesanggrahan agar waspada. Dengan banyak fakta yang mengkhawatirkan itu, Walhi mendesak pemerintah bertindak cepat dan tepat. Walhi juga meminta masyarakat Jakarta kembali bersiap menghadapi banjir. Secara terpisah, Pemerintah Kota Jakarta Timur mengimbau pelaksana Proyek BKT menjaga kebersihan jalan yang dilewati truk-truk proyek yang mengangkut tanah galian. ´Saya sudah menerima banyak keluhan warga tentang tanah yang berceceran di jalan itu,´ ujarnya. (NEL/WIN)

Teks 2

Banjir, Tangis Kotaku
Banjir lagi kotaku Keriput kulitmu dihempas batu-batu Disumbat serakahnya pembangunan

Meluap lagi lautku Tak tertahan mengoyak pilar-pilar gedung tinggi Mengeruk jalan-jalan penghidupan

Luber lagi sungaiku Melibas gubuk-buguk liar Merampas waktu bermain anak-anak jalanan

Bersiaplah rakyatku! Bersiaplah rakyatku! Teriak para penguasa Sedang banjir tak kunjung surut

Bersedia rakyatku! Bersedia rakyatku! Teriak lagi para penguasa Sedang sungai masih tersumbat

Setelah membaca kedua teks tersebut, cobalah membuat jawaban sendiri atas pertanyaanpertanyaan di bawah ini. 1. Apakah ada perbedaan teks 1 dengan teks 2? 2. Apa sajakah perbedaaan teks 1 dengan teks 2? Menjawab pertanyaan nomor satu tentu saja mudah. Hanya ada dua kemungkinan jawaban, yaitu ya, atau tidak. Tetapi kita dituntut untuk menjelaskan jawaban untuk pertanyaan yang kedua.

Untuk menjawab pertanyaan yang kedua itu ada beberapa sudut pandang yang bias kita amati, di antaranya sebagai berikut.
y y y y y y

Ragam bahasanya, Bentuk penulisannya, Alur penyajiannya, Nilai rasanya, Pesan yang disampaikannya, dan Tipografi penulisannya.

Nah, sekarang kamu dapat menyimpulkan sendiri perbedaan teks 1 dengan teks 2. Jadi, cobalah simpulkan sendiri mana teks yang merupakan teks sastra, dan mana yang bukan. Selanjutnya, simpulkan juga apa saja ciri-ciri atau karakterisitik dari teks sastra.

B. Sejak Kapan Sastra Ada? Sejak kapan sastra itu ada? Mengingat bahan-bahan sastra adalah bahasa, maka pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan sederhana; ³sastra itu ada sejak manusia mengenal dan menggunakan bahasa´. Namun, dalam sejarah, kita sering kali dihadapkan pada pemisahan antara karya yang biasa-biasa saja dan mudah dilupakan orang dan karya besar yang fenomenal. Dalam kaitannya dengan sejarah sastra, maka karya yang fenomenal inilah yang sering menjadi patokan dan menjadi catatan sejarah sastra. Salah satu karya sastra yang dikenal adalah Epos Gilgames dari bangsa Sumeria, Homer (dalam Iliad dan Odyssey), dan epos India Ramayana dan Mahabharata yang , berkaitan dengan tema-tema kepahlawanan, persahabatan, kehilangan, dan pencarian hidup yang kekal. Periode sejarah yang berbeda telah menekankan berbagai karakteristik sastra. Karya sastra pada awalnya memiliki muatan ajaran, sejarah, dan pendidikan dan dibuat dengan tujuan didaktik. Pada perkembangan selanjutnya, sastra dianggap lebih bermuatan simbolis atau psikologis yang membentuk wawasan dalam penggambaran dan pengembangan karakter.

BAB II PUISI

A. Apa Itu Puisi? Puisi adalah karya yang sejak dulu telah benar-benar dianggap sebagai karya sastra yang sejati. Dibandingkan dengan prosa dan drama, puisi telah lebih dulu ada dan dianggap karya sastra sesungguhnya. Sebagai pendahuluan, bacalah teks berjudul puisi di bawah ini. Puisi Karya Dodong Djiwapradja : 1968 Kun fayakun saat penciptaan kedua adalah puisi tertimba dari kehidupan yang kau tangisi bumi yang kau diami, laut yang kau layari adalah puisi udara yang kauhirupi, air yang kauteguki adalah puisi kebun yang kautanami, bukit yang kaugunduli adalah puisi gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali adalah puisi katakanlah: sajak puisi adalah manisan yang terbuat dari butir-butir kepahitan puisi adalah gedung yang megah yang terbuat dari butir hati yang gelisah. (Laut Biru Langit Biru: 1977) Dilihat dari sifatnya, puisi merupakan karya rekaan yang bersifat monolog. Artinya, dalam puisi pada umumnya tidak ada bentuk-bentuk narasi seperti dialog antar tokoh, pemaparan panjang seperti deskripsi dan narasi. Sementara itu, jika dilihat dari bentuknya, puisi juga dapat dibedakan dengan karya lain terutama prosa. prosa biasanya dibangun oleh paragraf-paragraf dan ujaran tokoh sedangkan puisi berbentuk bait-bait atau ayat.

Puisi sangat mengandalkan pencitraan, pilihan kata yang tepat, dan metafora. Puisi pada umumnya mengungkap suatu ide atau gagasan umum dan luas dengan ungkapan yang singkat dan simbolik. Di sisi lain, prosa biasanya mengungkapkan sebuah ide yang spesifik dengan uraian yang panjang. Ada kalanya puisi diubah bentuknya menjadi prosa. Pengubahan puisi menjadi prosa sering disebut parafrase. Jadi,mengubah bentuk puisi ke dalam paragraf disebut juga memparafrasekan puisi. Perhatikan contoh berikut. teks 1: puisi Situ Gintung Ayat Rohaedi (1967) Di danau ini anak-anak alam beterjunan dan berkejaran sepuas hati di danau ini gerak-gerak alam berkejaran dan bersahutan seindah puisi di danau ini gema suara alam bersahutan dan bersalaman dalam hatiku (Laut Biru Langit Biru: 1977) Perhatikan perbedaan puisi pada teks 1 dengan bentuk prosanya sebagai sebgau parafrase pada teks 2 berikut ini. Tek 2: Parafrase Situ Gintung Di danau ini, anak-anak yang tinggal di sekitarnya sering bermain, bekejaran di pinggir danau. Kadang-kadang mereka terjun ke danau dan berenang bersama-sama. Mereka merasa puas hati saat bermain di sana.

Di sekitar danau yang indah itu angin bertiup sepoi -sepoi. Pohon-pohon bergerak dan daunnya bergerisik seindah puisi. Keindahan alam di sekitar Situ Gintung ini selalu kuingat di dalam hati.

B. Jenis-Jenis Puisi Menurut zamannya dan karakteristiknya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru. 1. Puisi Lama Ciri-ciri puisi lama:
y y y

Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya. Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan. Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.

Yang termasuk puisi lama adalah: a. Mantra Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Mantra tidak memiliki pola yang tetap, tetapi jika dilihat dari penggunaan bahasanya, mantra sangat unik karena sering membawa simbol-simbol, ucapan dalam keagamaan dan ditujukan untuk tujuan tertentu. Ccontoh mantra: Pengasihan Assalammu¶alaikum putri satulung besar Yang beralun berilir simayang Mari kecil, kemari Aku menyanggul rambutmu Aku membawa sadap gading Akan membasuh mukamu

b. Pantun Pantun adalah puisi yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
y

bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris,

y y

tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi.

Contoh pantun: 1) pantun anak, Lurus jalan ke Payakumbuh, Kayu jati bertimbal jalan Di mana hati tak kan rusuh, Ibu mati bapak berjalan

2) muda-mudi, Burung merbuk membuat sarang, Anak enggang meniti di paya; Tembaga buruk di mata orang, Intan berkarang di hati saya.

3) agama/nasihat, Letak bunga di atas dulang, Sisipkan daun hiasan tepinya; Banyak berdoa selepas sembahyang, Mohon diampun dosa di dunia. 4) teka-teki, jenaka. Orang Rengat menanam betik, Betik disiram air berlinang; Hilang semangat penghulu itik, Melihat ayam lomba berenang

c. Karmina Karmina disebt juga pantun kilat. Bentuknya seperti pantun tetapi pendek. Karmina hanya terdiri atas dua baris, baris pertama merupakan sampiran, dan baris kedua merupakan isi. Contoh karmina: Dahulu parang, sekarang besi Dahulu sayang sekarang benci

d. Gurindam Guurindam adalah puisi yang terdiri ata 2 baris dalamsatu bait. Gurindam bersajak a-a dan berisi nasihat. Contoh gurindam: Kurang pikir kurang siasat Tentu dirimu akan tersesat

Barang siapa tinggalkan sembahyang Bagai rumah tiada bertiang

Jika suami tiada berhati lurus Istri pun kelak menjadi kurus

e. Syair Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak aa-a-a, berisi nasihat atau cerita. Syair tidak sama dengan pantun karena semua baris dalam syair adalah isi karena syair tidak memiliki sampiran. Contoh syair: Pada zaman dahulu kala Tersebutlah sebuah cerita Sebuah negeri yang aman sentosa Dipimpin sang raja nan bijaksana

f. Talibun Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris. Ciri-ciri talibun adalah sebagai berikut. Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.
y y y y

Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi. Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi. Apabila enam baris sajaknya a ± b ± c ± a ± b ± c. Jika terdiri dari delapan baris, sajaknya a ± b ± c ± d ± a ± b ± c ± d.

Contoh talibun Kalau anak pergi ke pekan Yu beli belanak pun beli sampiran Ikan panjang beli dahulu Kalau anak pergi berjalan Ibu cari sanak pun cari isi Induk semang cari dahulu

2. Puisi Baru Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas: a. Balada adalah puisi berisi kisah/cerita. Balada Terbunuhnya Atmo Karpo WS. Rendra

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para mengepit kuat-kuat lutut penungang perampok yang diburu surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang

Segenap warga desa mengepung hutan tu dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka

- Nyawamu baran pasar, hai orang-orang bebal!

Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa

Majulah Joko Pandan! Di mana ia? Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang

- Joko Pandan! Di mana ia? Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia! menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala

- Joko Pandan! Di mana ia? Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan segala menyibak bagi derapnya kuda hitam ridla dada bagi derunya dendam yang tiba

Pada langkah pertama keduanya sama baja Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah.

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang Ia telah membunuh bapanya.

b. Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.

Himne Guru Sartono

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku S¶bagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan Engkau patriot pahlawan bangsa Tanpa tanda jasa

c. Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. ODA BAGI SEORANG SUPIR TRUK

Sebuah truk lama Dengan supir bersahaja Telah beruban dan agak bungkuk Di atas stimya tertidur Di tepi jalan yang sepi Di suatu senja musim ini Dalam tidumya ia bermimpi Jalanan telah rata. Ditempuhnya Dengan sebuah truk baru Dengan klakson yang bisa berlagu Dan di sepanjang jalanan Beribu anak-anak demonstran Tersenyum padanya, mengelu-elukan ³Hiduplah bapak supir yang tua Yang dulu berjuang bersama kami Selama demonstrasi!´ Di tepi sebuah jalan di ibukota Ketika udara panas, di suatu senja Seorang supir lusuh dengan truk yang tua

Duduk sendiri terkantuk-kantuk Semakin letih, semakin bungkuk. (Taufik Ismail: 1966) d. Romansa adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Perempuan Yang Mengagumi Angin Tiw_ Saat kau merindukan angin Mungkin dia telah melupakan wajahmu Tapi tunggulah dia di pagi hari Saat kau terbangun dari mimpi Hanya ada dia di sisimu Membisikan lirik-lirik puisi Seakan kau terlahir kembali Di dunia yang berbeda

Dan jika kau cepat-cepat membuka mata Dia segera dapat kaulihat berjalan menuju cahaya lalu membukakan jendela kamarmu ditunjukkannya luas dunia dihidangkannya sepotong pagi untukmu yang telah lama tidur sendiri

Lekas berjalan menuju cahaya Dan kau bisa merengkuhnya Peluk dan jangan kau lepas Jika kau mau memilikinya Dan dia akan menyibak daun-daun Yang lekat di rambutmu (W.Setiawan: 2009)

e. Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.

Kepergianmu Karya Ida at DeKalb Air matamu mengiris hatiku halus kuusapkan telapak tanganku ke wajahmu yang pucat terlihat ketakutan kehilangan akan nafasmu nafasmu yang mengalir dalam nafasku

Kubelai rambutmu dengan kelembutan angin malam terasa getaran menyatu diujung jari-jari tak kuasa menahan gejolak kasih limpahan nuansa kejora malam yang tak bertepi

Tak akan kutinggalkan hatimu yang manangis pilu telah terpatri janji pada kedalaman nurani akan ikut menyatu kegalauan kasih dalam derita meski kekuatan malam hendak meragas http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Puisi

f. Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik. KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS, LALU KALIAN PAKSA KAMI MASUK MASA PENJAJAHAN BARU, Kata Si Toni

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami Sejak lahir sampai dewasa ini Jadi sangat tepergantung pada budaya Meminjam uang ke mancanegara Sudah satu keturunan jangka waktunya Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi

Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia Kita gadaikan sikap bersahaja kita Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri Sambil kepala kita dimakan begini Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama Menggigit dan mengunyah teratur berirama Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini Bagai ikan kekurangan air dan zat asam Beratus juta kita menggelepar menggelinjang Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya Meminjam kepeng ke mancanegara Dari membuat peniti dua senti Sampai membangun kilang gas bumi Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa

Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami Kalian lah yang membuat kami jadi begini Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini

(Taufik Ismail: 1998)

C. Unsur-Unsur Intrinsik Puisi 1. Tema ide atau gagasan yang menduduki tempat utama di dalam puisi. 2. Rasa : arti emosional (sedih, atau merasa heran dsb). 3. Nada : Intonasi puisi (suara keras atau lembut) ; penyair dapat menggurui, mencaci, merayu, merengek, menyindir, mengajak dsb terhadap pembaca atau pendengar. 4. Amanat 5. Diksi 6. Imajinasi a. Imajeri pandang b. Imajeri dengar c. Imajeri rasa d. Imajeri kecap 7. Kata-kata kongkret 8. Gaya bahasa 9. Ritme 10. Rima

BAB III PROSA

1. Apa itu Prosa? Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang". Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya. Prosa biasanya dibagi menjadi empat jenis: prosa naratif, prosa deskriptif, prosa eksposisi, dan prosa argumentatif. Dalam kaitannya dengan karya sastra, prosa yang lebih tepat adalah prosa naratif. Prosa naratif yang umum kita temui adalah cerpen dan novel. Dilihat dari beberapa aspek seperti unsure-unsur dan bentuknya, cerpen dan novel memiliki kesamaan. Namun deikian kita juga dapat membedakan cerpen dan novel tersebut dari intensitas dan hal-hal lainnya. Tabel berikut ini menjelaskan perbedaan antara cerpen dan novel. No 1 2 Unsur Alur Konflik Cerpen Sederhana Tidak selalu terjadi konflik batin, dan tidak selalu mengubah nasib tokoh 3 Panjang cerita Menceritakan kehidupan tokoh yang dianggap penting 4 5 Tokoh Penokohan Lebih Sedikit Karakter tokoh tidak mendetail. 6 Alur Lebih sederhana, lebih sedikit Novel Kompleks Terjadinya konflik batin hingga menimbulkan perubahan nasib Menceritakan sebagian besar kehidupan tokoh Lebih banyak, kompleks Karakter tokoh disampaikan secara mendetail. Lebih panjang dan rumit, terjadi beberapa insiden yang mempengaruhi jalan cerita

7 8

Ketebalan teks Waktu pembacaan

Biasanya 2-30 halaman 5-30 menit, biasanya dapat diselesaikan dibaca dengan sekali duduk saja.

Kurang lebih 80-900 halaman Minimal 30 menit sampai berhari-hari pada pembacaan kontinyu

2. Unsur-Unsur Intrinsik Prosa Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik dalam sebuah karya prosa adalah unsur-unsur pembangun karya sastra yang dapat ditemukan di dalam teks karya itu sendiri. Untuk karya sastra dalam bentuk prosa, unsur-unsur intrinsiknya ada tujuh: 1) tema, 2) amanat, 3) tokoh, 4) alur (plot), 5) latar (setting), 6) sudut pandang, dan 7) gaya bahasa.

a.

Tema

Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sesuatu yang menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita. Tema merupakan jiwa dari seluruh bagian cerita. Karena itu, tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita. Tema dalam banyak hal bersifat ´mengikat´ kehadiran atau ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu, termasuk pula berbagai unsur intrinsik yang lain. Tema ada yang dinyatakan secara eksplisit (disebutkan) dan ada pula yang dinyatakan secara implisit (tanpa disebutkan tetapi dipahami). Dalam menentukan tema, pengarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: minat pribadi, selera pembaca, dan keinginan penerbit atau penguasa. Dalam sebuah karya sastra, disamping ada tema sentral, seringkali ada pula tema sampingan. Tema sentral adalah tema yang menjadi pusat seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita. Adapun tema sampingan adalah tema-tema lain yang mengiringi tema sentral.

b.

Amanat

Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Sebagaimana tema, amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara

memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku atau peristiwa yang terjadi pada tokoh menjelang cerita berakhir, dan dapat pula disampaikan secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, atau larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.

c. Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita, sedangkan penokohan adalah cara menampilkan tokoh atau pelaku dalam cerita (Aminuddin, 1995:79). Mengenai penokohan, menurut Wellek dan Warren (diterjemahkan oleh Melani Budianta, 1990: 288), ada penokohan statis dan ada penokohan dinamis atau penokohan berkembang. Tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral atau sering disebut juga tokoh utama adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Sedangkan tokoh bawahan atau disebut juga tikoh pembantu atau figuran memiliki porsi pencreitaan yang lebih sedikit. Tokoh juga dapat dibedakan berdasarkan karakter atau pennokohannya dalam cerita. Berdasarkan karakternya, tokoh dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
y

Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif.

y

Tokoh antagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.

Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Ada dua metode penyajian watak tokoh, yaitu:
y

Metode analitis/langsung/diskursif, yaitu penyajian watak tokoh dengan cara memaparkan watak tokoh secara langsung.

y

Metode dramatik/tak langsung/ragaan, yaitu penyajian watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat pula dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh.

Adapun menurut Jakob Sumardjo dan Saini KM, ada lima cara menyajikan watak tokoh, yaitu:
y

Melalui apa yang diperbuatnya, tindakan-tindakannya, terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis.

y

Melalui ucapana-ucapannya. Dari ucapan kita dapat mengetahui apakah tokoh tersebut orang tua, orang berpendidikan, wanita atau pria, kasar atau halus.

y y y

Melalui penggambaran fisik tokoh. Melalui pikiran-pikirannya Melalui penerangan langsung

d.

Alur (Plot)

Alur atau plot merupakan urutan yang temporal dan logis sebagai implikasi atau biasa disebut kausalitas (Todorov, 1985: 41). Menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2000: 113), alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat. Peristiwa yang satu menyebabkan atau disebabkan peristiwa yang lain. Sedangkan pengaluran merupakan kegiatan pengembangan alur supaya indah dan menarik. Adapun struktur alur adalah sebagai berikut:
y

Bagian awal, terdiri atas: 1) paparan (exposition), 2) rangsangan (inciting moment), dan 3) gawatan (rising action).

y

Bagian tengah, terdiri atas: 4) tikaian (conflict), 5) rumitan (complication), dan 6) klimaks.

y

Bagian akhir, terdiri atas: 7) leraian (falling action), dan 8- selesaian (denouement).

e.

Latar (setting) Latar menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial

tempat peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2000: 216). Oleh karena itu, unsur latar terdiri atas unsur tempat atau lokasi, waktu, dan latar sosial.

y

Latar tempat, mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.

y

Latar waktu, berhubungan dengan masalah µkapan¶ terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.

y

Latar sosial, mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial bisa mencakup kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta status sosial.

f.

Sudut pandang (point of view)

Sudut pandang adalah cara memandang dan menghadirkan tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Dalam hal ini, ada dua macam sudut pandang yang bisa dipakai: 1) Sudut pandang orang pertama (first person point of view) Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang orang pertama, µaku¶, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si µaku¶ tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar, dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si µaku¶ tersebut. 2) Sudut pandang orang ketiga (third person point of view) Dalam cerita yang menpergunakan sudut pandang orang ketiga, µdia¶, narator adalah seorang yang berada di luar cerita, yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti.

g.

Gaya bahasa Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya

menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Pengolahan bahasa harus didukung oleh

diksi (pemilihan kata) yang tepat. Namun, diksi bukanlah satu-satunya hal yang membentuk gaya bahasa. Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas bagi setiap pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama apabila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya, karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitamya. Gaya bahasa dapat menciptakan suasana yang berbeda-beda: berterus terang, satiris, simpatik, menjengkelkan, emosional, dan sebagainya. Bahasa dapat menciptakan suasana yang tepat bagi adegan seram, adegan cinta, adegan peperangan dan lain-lain.

3. Analisis Unsur Intrinsik Prosa (Cerpen) Sebenarnya, menganalisis Unsur intrinsic prosa, baik cerpen maupun novel pada prinsipnya sama saja. Yang membedakannya adalah tingkat kerumitan ataupin kompleksitasnya. Menganalisis Novel tentu lebih rumit daripada menganalisis cerpen. Oleh karena itu, dalam analisis karya sastra berbentuk prosa berikut ini disajikan sebuah cerpen saja. Bacalah contoh di bawah ini.

MAKAM DI BAWAH KEMBANG KERTAS
Oleh: W.Setiawan Dulu, aku sering bermain ke bukit di balakang rumah, menyusuri deretan pohon cemara, menghirup uap embun yang menggeliat dari pucuk -pucuk daunan teh. Dari puncak bukit itu dapat kulihat lekuk-lekuk lembah dan punggung perbukitan memantulkan hijau perkebunan teh. Aku juga suka mengamati lekuk-lekuk pokok teh yang entah berapa puluh atau ratus tahun usianya. Kakekku pernah bercerita, pokok pokok teh itu telah ada sejak zaman Belanda. Memang, tanah kelahiranku dulunya afdelling sebuah perkebunan yang mutunya bagus. Kakek juga pernah bercerita tentang segala hal peninggalan Belanda yang dulunya ada di sini. Di tegalan yang kini ditanami singkong dan ubi oleh orang-orang dulunya lapangan tenis, pilar-pilar yang berserakan itu adalah bekas gedung seorang Belanda petinggi perkebunan, dan di atas tanah berbatu yang tak jelas milik siapa itu

dulunya berderet gedung-gedung yang isinya nona-nona berambut pirang. Ceritanya, di halaman gedung itu biasa berlalu-lalang binatang hutan seperti rusa, menjangan dan kelinci. Tuan-tuan Belanda itu memberi mereka makan setiap hari. Singkatnya, tanah ini dulu begitu asri, indah, dan damai. Tapi itu semua dulu, zaman Belanda. Sekarang suasananya telah berganti menjadi wajah perkampungan yang tak teratur. Tidak ada lagi pohon cemara yang berderet di pinggir jalan. Perkebunan pun tampak kusam, banyak pokok teh yang sengaja ditebang untuk kayu bakar, tanahnya ditanami palawija. Demikian juga gedung-gedung yang megah berdiri, kini tinggal tanah berpasir dan batu dengan beberapa sisa pilar yang berserakan. Apalagi binatang-binatang yang dulu sering berlalu-lalang di halaman, kini entah di mana, karena di hutan pun tak mudah ditemui. Perkebunan telah bangkrut sejak enam tahun lalu. Sejak itu masyarakat mengambil alih perkebunan yang terlantar. Sementara gedung-gedung yang berdiri kokoh itu akhirnya rubuh setelah bagian demi bagian dipreteli oleh warga. Sebenarnya masih ada dua sisa kejayaan perkebunan Belanda yang masih berdiri. Satu jembatan di pinggir desa, dan satunya lagi sebentuk makam yang dinaungi pohon kembang kertas merah muda. Bila gedung-gedung dirubuhkan dengan alasan dianggap menjadi rumah hantu karena terpencil dan tidak berpenghuni, maka jembatan itu sengaja dibiarkan karena memang masih dibutuhkan untuk transportasi warga. Sedangkan makam di bawah kembang kertas itu tidak pernah diganggu karena dianggap terlalu angker sehingga tidak ada warga yang berani mengganggu. Tentang makam itu kakek juga pernah bercerita. Katanya yang dikuburkan di sana sebenarnya adalah dua orang gadis Belanda yang meningal sekitar tahun 20-an. Di atasnya dipajang dua patung anak perempuan dari marmer kira -kira setinggi 50 cm. Kemudian di sisinya ditanamkan sebatang kembang kertas yang kini sulursulurnya telah menjalar ke segala arah. Jadilah makam itu teduh dan lembab, sehingga makam jadi berlumut, tidak bertuan, dan tidak terawat. *** Tidak biasa orang itu bertandang ke rumah kakek. Bewok namanya. Ia dikenal sebagai orang pintar. Selain tubuhnya yang tinggi besar, ia juga tampak seram dengan kumis dan jenggot tebal serta jambang yang dibiarkan berjuntai di pipinya. Selain penampilannya yang sesuai dengan namanya, ia juga dianggap memiliki kekuatan supranatural, yaitu bisa berkomunikasi dengan mahluk gaib. Sebagian orang

memercayai kekuatan yang dimilikinya, namun banyak pula yang menganggapnya sebagai pembohong belaka. ³Ada apa Jang? tak biasanya Ujang Bewok datang ke sini.´ Tanya kakek setelah beberapa saat berbasa-basi. ³Begini Kek, saya ingin tahu cerita tentang makam di kembang kertas itu, Kek. Singkatnya, saya mau membandingkan temuan saya tentang makam itu denga Kakek yang tahu sejarah zaman dulu.´ Katanya. ³Ah, saya tidak tahu apa-apa, lagi pula sudah tua begini mah sudah banyak lupa. Memangnya, Ujang Bewok teh punya temuan apa?´ Kakek merendah. ³Begini, saya sudah tiga kali didatangi penunggu makam itu dalam mimpi. Terakhir dia menunjukkan pada saya bahwa di sana dikuburkan harta. Harta karun, Kek. yang saya lihat adalah sebuah peti yang penuh dengan perhiasan dan uang emas. Nah, saya ke sini untuk meyakinkan, apakah benar dulu di sana ada peti yang dikuburkan?´ Bewok menjelaskan. ³Setahu kakek tidak ada apa-apa. Hanya dua mayat gadis kembar yang dimakamkan di sana. Kakek yakin, karena kakek ikut menggali tanah dan memakamkannya.´ Kakek meyakinkan. ³Mengenai patungnya? Itu marmer, bukan?´ Bewok semakin mendesak dengan pertanyaan. ³Itu juga kakek kurang tahu, kakek tidak bisa membedakan yang mana marmer, dan mana batu biasa, memangnya kenapa juga dengan patung itu?´ Kakek mulai curiga. ³Tidak, Kek. Tidak ada apa-apa.´ Begitulah pertemuan Kakek dengan Bewok. Aku mendengarkan dengan seksama obrolan mereka. Sebenarnya, aku curiga ada rencana yang disembunyikan oleh Bewok tentang makam itu. Namun setelah kecurigaan itu kuungkapkan pada kakek, ia justru menasehatiku, ³tak baik berprasangka buruk pada orang lain´, katanya. *** Malam itu sepi, benar-benar sepi. Tak ada riuh orang lewat meronda. Ronda hanya ada setelah ada beberapa kali rumah warga dibobol maling. Tak ada juga suara

orang yang mengaji di surau, pengajian hanya ada malam Jum¶at. Tak ada suara anak-anak muda bermain gitar dalam tongkrongan di warung Bi Yati. Warung itu sudah tutup sejak dua bulan yang lalu. Tak ada modal. Sedangkan warga yang lain mungkin sudah terlelap dalam kelelahan setelah seharian kerja di ladang orang. Ya, mereka bekerja untuk orang lain, pendatang yang punya modal. Sementara orang desa yang asli sejak dulu hanya menjadi kuli. Bedanya, zaman belanda mereka bekerja dengan menghasilkan sedikit gaji bulanan dan rumah bedeng. Gaji itu mereka gunakan untuk makan sehari-hari, dan kalau sedikit menabung dapat beli baju setahun sekali. Di bedeng mereka sekeluarga lengkap berteduh sepanjang usia. Sementara sekarang mereka mendapat sedikit upah yang tak pasti. Rumah mereka pun tak jauh beda dengan bedeng zaman perkebunan. Di rumahnya sekarang mereka berteduh, namun tidak utuh. Anak-anak mereka pergi ke kota. Anak-anak perempuan menjadi pembantu rumah tangga, dan anak-anak laki-lakinya menjadi kuli bangunan. Jadi, apa yang beda? Dalam lindap sunyi tengah malam aku masih terjaga. Pikiranku gelisah tak menentu, mata terpejam tapi hati benakku terus meracau tentang sesuatu yang tak jelas apa isinya. Tapi aku terlalu malas untuk mengenyahkan badan dari tempat tidur, lagipula malam terlalu sunyi untuk dinikmati. Tiba-tiba kudengar lamat-lamat suara mobil yang lewat. Rumahku hanya sekira 40 meter dari jalan desa yang tak beraspal itu, jadi meski ada mobil yang berjalan pelan, aku masih bisa mendengarnya. Siapa malam-malam begini lewat desaku? Tapi pikirku hanya sampai di situ. Tak ada prasangka apa-apa. Lagipula terlalu banyak kemungkinan positif tentang mobil yang lewat di malam hari. Ah sudahlah. Yang pasti perjuanganku untuk memetik bunga tidur hampir kesampaian. Kantuk sudah datang. Berkas-berkas sinar matahari baru muncul di balik perbukitan. Awan putih masih menguning pada pagi yang ranum. Masih sedikit malas aku terbangun, buka jendela, lemparkan selimut ke sudut kasur, lalu aku beranjak ke pancuran di belakang rumah. Empang belakang rumah tampak menguapkan udara dingin. Aku ragu -ragu menyentuh air yang jatuh dari sebatang bambu tua. Namun sebelum tanganku menyentuh dinginnya air, aku dikejutkan oleh suara derap langkah yang tergesa. Beberapa orang desa setengah berlari menuju sesuatu. ³Wooi, ada apa? Kenapa terburu-buru seperti itu?´ aku berteriak pada Usman, Amran, Agus dan Dade yang kulihat ikut dalam derap mereka. ´Ada mobil terperosok di jembatan tua?´ Amran yang menjawab.

Kuurungkan niatku mencuci muka. Aku langsung mengikuti mereka menuju jembatan tua peninggalan Belanda di batas desa. Riuh sekali orang -orang mengerubungi jembatan itu. Aku menyelusup kerumunan untuk memastikan apa yang terjadi. Astaga, jembatan itu rubuh, tembok tuanya bergelimpangan di atas kali. Namun bukan itu yang membuatku merasa ngeri, sebuah colt bak terbuka tersungkur ke dasar kali. Darah mulai mengering pada kaca dan pintu mobil. Bewok dan seorang anak buahnya, Agun mati tak berdaya dengan nafasnya yang begitu berat. Selain mereka tampak seseorang yang tak kukenal juga tak bergerak di belakang kemudi. Tampaknya yang satu ini orang kota, pakaiannya terlihat mahal dan perlente, meski kini dipenuhi bercak darah. Mereka semua luka-luka sangat parah. Colt itu mengangkut beberapa barang. Di bak belakangnya ada sebatang tunggul pohon dengan akarnya. Tak jelas pohon apa, sudah tak ada daunnya, tapi tunggul itu unik bentuknya seperti batang bonsai yang besar. Selain tunggul itu, tersungkur sebuah karung yang tampaknya berisi benda padat. Seseorang membukanya perlahan-lahan. Pecahan batuan berwarna putih kecoklatan sedikit gemerincing saat karung itu digerakkan. ³patung euy! Ini, kepalanya ada dua´ kata lelaki yang membuka karung sambil mengangkat dua kepala patung perempuan. Segera aku teringat pada makam di bawah kembang kertas. Pikiranku juga terkait dengan pembicaraan Bewok dengan Kakek waktu itu. Jangan-jangan? Ah, aku tak menunggu waktu lagi, aku berlari menuju makam kembang kertas, dari tempat itu sekitar dua ratus meter jauhnya. Dalam nafas yang masih terengah-engah, aku mendapati rimbun ranting kembang kertas sudah layu menindih makam. Bunga dan guguran daunnya berserakan di atas rumput dan tanah merah. Aku singkapkan ranting dan dedaunan itu. Di bawahnya kulihat makam telah hancur. Bekas temboknya bergelimpangan, kedua patungnya hilang, tanahnya berlobang bekas galian. Melihat kehancuran itu aku hanya termenung. Hanya inikah yang bisa dilakukan orang untuk desanya? Memperkaya diri, mencari keuntungan pribadi tanpa peduli pada kerusakan yang diakibatkan oleh usaha serakahnya itu.

***

Setelah membaca sebuah cerpen di atas, Apakah kamu dapat mengapresiasi atau menjelaskan unsure-unsur intrinsiknya? Jika belum, coba baca sekali lagi dengan sedikit penghayatan. Setelah itu, Perhatikanlah uraian di bawah ini. Unsur-unsur intrinsik cerpen Makam di Bawah Kembang Kertas:

a.

Tema

Cerpen Makam di Bawah Kembang Kertas berfokus kepada masalah sosial dan kemanusiaan. Cerpen ini menitikberatkan pembahasannya kepada sikap sosial seorang tokoh terhadap situasi kerusakan, baik lingkungan maupun moral beberapa orang di desanya. Dari sisi kemanusiaan, Cerpen ini menyiratkan pembahasan tentang keserakahan seseorang yang berakibat celaka pada dirinya sendiri.

b.

Amanat

Amanat cerpen ini adalah: 1) Kita harus melestarikan lingkungan kita, menjaganya dari tangan-tangan yang suka membuat kerusakan 2) Kita tidak boleh bersifat serakah, mengorbankan sesuatu yang menjadi milik masyarakat untuk kepentingan sendiri. 3) Kita harus menghargai sejarah, termasuk sejarah lokal yang ada di sekitar desa kita. c. Tokoh dan Penokohan Karakter Tidak dijelaskan secara lugas, namun tokoh ini memiliki kepedulian terhadap sejarah dan kelestarian lingkungan desanya. Orang tua yang bijaksana, mengetahui dan terlibat langsung pada peristiwa sejarah masa lalu Orang pintar, perpenampilan seram berkumis dan berjenggot, serakah, suka mencari-cari harta karun Sahabat-sahabat tokoh aku, tidak diceritakan peran dan karakteristiknya.

No. Nama Tokoh 1 Aku (Pencerita)

2. 3. 4.

Kakek Bewok
Usman, Amran, Agus dan Dade

d.

Alur (Plot)

Cerita ini sejatinya bermula sejak kematian dua putri Belanda di sebuah desa pada zaman penjajahan. Berpuluh-puluh tahun kemudian, ada seorang warga desa yang mengira ada harta yang dipendam bersama pemakaman putri Belanda tersebut. Kemudian dengan sepengatahuan tokoh ³Aku Bewok, yang mencari harta karun menanyakan harta tersebut kepada kakek. Meskipun tidak mendapatkan keterangan yang memuaskan dari kakek, bewok tetap saja membongkar makam putrid belanda dan mencuri patung marmernya. Namun di perjalanan melarikan barang tersebut, Bewok dan beberapa kawannya mengalami kecelakaan karena jembatan tua yang juga peninggalan Belanda yang mereka lewati ambruk. Atas kejadian tersebut, tokoh aku semakin sadar, bahwa keserakahan hanya mengakibatkan malapetaka.

e.

Latar (setting)

Latar tempat cerpen Makam di Bawah Kembang kertas adalah sebuah desa yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Desa tersebut pernah menjadi pusat perkebunan Belanda, sampai sekarang perkebunannya pun masih tersisa meskipun kebanyakan bangunan telah rusak. Rangkaian peristiwa yang terjadi tidak dijelaskan secara spesifik yang meliputi tanggal, bulan dan tahun. Akan tetapi, dapat dipastikan bahwa cerita berlangsung di masa kini, jauh setelah Indonesia merdeka. Latar sosial yang paling menonjol adalah kemasyarakatan desa di daerah perkebunan peninggalan Belanda. Latar sosial pada cerpen tersebut dengan jelas diuraikan pada sebuah paragraph dalam kutipan berikut.
«.Ya, mereka bekerja untuk orang lain, pendatang yang punya modal. Sementara orang desa yang asli sejak dulu hanya menjadi kuli. Bedanya, zaman belanda mereka bekerja dengan menghasilkan sedikit gaji bulanan dan rumah bedeng. Gaji itu mereka gunakan untuk makan sehari-hari, dan kalau sedikit menabung dapat beli baju setahun sekali. Di bedeng mereka sekeluarga lengkap berteduh sepanjang usia. Sementara sekarang mereka mendapat sedikit upah yang tak pasti. Rumah mereka pun tak jauh beda dengan bedeng zaman perkebunan. Di rumahnya sekarang mereka berteduh, namun tidak utuh. Anak-anak mereka pergi ke kota. Anak-anak perempuan menjadi pembantu rumah tangga, dan anak-anak lakilakinya menjadi kuli bangunan. Jadi, apa yang beda?

f.

Sudut pandang (point of view)

Pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama. Orang pertama dalam cerpen ini berfungsi sebagai tokoh utama sekaligus narrator cerita. g. Gaya bahasa Pengarang menggunakan bahasa yang formal, Bahasanya relatif sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Namun demikian unsure lokal Sunda juga tampak pada penggunaan beberapa istilah, mislanya penggunaan sapaan ³Jang´ atau Ujang´ terhadap lelaki yang lebih muda dari pembicara, dan kata ³Euy´ yang juga lekat dengan tuturan orang Sunda.

BAB IV DRAMA

A. Apa Itu Drama? Drama adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani yang berarti "aksi", "perbuatan". Drama bisa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera. Di Indonesia, pertunjukan sejenis drama mempunyai istilah yang bermacam-macam. Seperti: Wayang orang, ketoprak, ludruk (di Jawa Tengah dan Jawa Timur), lenong (Betawi), randai (minang), reog (Jawa Barat), rangda (Bali) dan sebagainya. Sebuah karya sastra yang bercerita terbagi atas dua; tutur dan tulis. Jika cerita-cerita prosa seperti legenda dan dongeng lahir dari sastra tutur kemudian dituliskan, drama adalah kebalikannya, yakni dituliskan dahulu, beru kemudian dituturkan/diperankan. Drama dipertontonkan guna mencapai estetik implementasi. Artinya, ia harus diawali dari tulisan, kemudian diceritakan melalui penggunaan medium seni yang disebut dengan panggung. Cerita drama yang sudah dipanggungkan disebut dengan teater. Oleh karena itu, pembicaraan drama kerap dikaitkan dengan teater. Tak ayal, terkadang orang menyebut drama sebagai teater dan sebaliknya, teater dikatakan dengan drama. Sejatinya, kedua hal ini tetap berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari tabel di bawah ini. Drama naskah penokohan teks Penulis Pertunjukan tokoh/ actor Interteks/Pementasan dari teks sutradara Teater

Dari tabel di atas jelas bahwa dikatakan dia sebagai drama karena masih berupa naskah (di atas kertas). Artinya, drama adalah naskah yang akan dilakonkan. Secara sederhana, drama dapat dibagi menjadi beberapa bentuk. Pembagian secara umum di bawah ini ditinjau dari cerita dan gaya berceritanya.

y

Tragedi, yaitu drama yang melukiskan kisah duka atau kejadian pahit, sedih yang amat dalam. Tujuan naskah ini biasanya agar penonton dapat memandang hidup dan kehidupan secara optimis.

y

Komedi, yaitu drama ringan, biasanya bercerita tentang yang lucu-lucu. Tujuannya lebih kepada menghibur penonton.

y

Melodrama (tragikomedi), yaitu drama yang berupa gabungan dari tragedi dan komedi. Dalam naskah ini ada cerita serius, ada juga hanya cerita ringan dan lucu.

y

Dagelan (farce), yaitu jenis drama murahan atau dikatakan juga dengan komedi picisan. Biasanya naskah ini diiringi musik riang.

y

Opera atau operet, yaitu dialog diiringi dengan musik yang di dalamnya juga dimasukkan nyanyian/lagu.

B. Unsur Intrinsik dan Unsur Ekstrinsik Drama Unsur intrinsik atau disebut juga unsur dalam adalah unsur yang tidak tampak. Ini yang kita sebut di atas tadi sebagai kajian interteks. Dalam intrinsik ada: 1. tema; yaitu ide pokok yang ingin disampaikan dari sebuah cerita. Tema sering pula dikatakan dengan nada dasar drama. Sebuah tema tidak terlepas dari manusia dan kehidupan, misalkan cinta, maut, dan sebagainya. Jika ada yang menyebutkan temanya romantis, itu adalah bias pengertian. Romantis bukan tema, tetapi gaya yang digunakan oleh penulis. Dalam kasus dimaksud sebenarnya temanya adalah cinta/ percintaan. Jalan ceritanya yang dibuat menjadi romantis. Ini hanya perkara gaya/style (di lain waktu akan kita bicarakan masalah gaya atau style penulis tersebut). 2. alur/ plot; yaitu jalan cerita. Dalam alur sebuah naskah drama bukan permasalahan maju-mundurnya sebuah cerita seperti yang dimaksudkan dalam karangan prosa, tetapi alur yang membimbing cerita dari awal hingga tuntas. Dimulai dengan pemaparan (perkenalan awal tokoh dan penokohan), adanya masalah (konflik), konflikasi (masalah baru), krisis (pertentangan mencapai titik puncak±klimak s.d. antiklimaks), resolusi (pemecahan masalah), dan ditutup dengan ending (keputusan). Ada pula yang menggambarkan alur dalam sebah naskah drama itu pemaparan² masalah²pemecahan masalah/resolusi²keputusan. 3. penokohan; karakter yang dibentuk oleh setiap dialog tokoh.

4. latar/ setting; yaitu tempat kejadian. Latar atau setting berbicara masalah tempat, suasana, dan waktu. 5. amanat; yaitu pesan yang hendak disampaikan penulis dari sebuah cerita. Jika tema bersifat lugas, objektif, dan khusus, amanat lebih umum, kias, dan subjektif. Sementara itu, unsur-unsur ekstrinsik atau unsure luar adalah unsur yang tampak, seperti adanya dialog/ percakapan. Namun, unsur-unsur ini bisa bertambah ketika naskah sudah dipentaskan. Dalam hal inilah muncul unsur-unsur yang harus diperhatikan seperti:
y y y y y y y y

Sutradara, Kostum, Panggung, Properti, Tata lampu/pencahayaan Tata suara/sound sistem, Tata wajah/make up Dan organisasi pementasan.

C. Contoh Drama Bentuk-bentuk penulisan drama sudah mengalami banyak perkembangan. Mulai dari konsep dialog yang terformat rata kiri, kemudian titik dua dan diikuti obrolan, ada juga bentuk modern yang lebih bebas. Salah satu bentuk naskah drama yang cukup unik disajikan di bawah ini. Perhatikanlah penulisan serta bagian-bagian naskah drama di bawah ini. LENA TAK PULANG Karya : Muram Batubara SATU

LAMPU MENYALA. DALAM SEBUAH RUMAH. SOFA BESAR MENGHADAP TV. MEJA MAKAN. KULKAS. PINTU KAMAR MANDI. PINTU DAPUR. PINTU KAMAR TIDUR. PINTU KELUAR MASUK RUMAH. PAK LENA DUDUK MEMANDANG TV. BU LENA KELUAR DARI KAMAR MANDI.

Bu Lena Lena sudah pulang, Pak? Pak Lena Belum Bu Lena (Duduk di kursi meja makan) Bagaimana ini? Sudah tiga hari ia tidak pulang. Pak Lena Nanti juga pulang Bu Lena Sudah tiga hari Pak Lena Nanti juga pulang Bu Lena Ya, tapi belum juga pulang, padahal sudah tiga hari. Dia itu kan perempuan.

Pak Lena (Tetap memandang tv) Anak kita Bu Lena Iya, anak kita, tapi ia perempuan dan belum pulang tiga hari. Pak Lena Nanti juga pulang sendiri ketika bekalnya lari telah habis. Bu Lena Tidak segampang itu, Pak, ia itu perempuan! Pak Lena Jika memang ia perempuan, ia akan pulang. Bu Lena Tapi belum«(Menghentikan kalimat, memperhatikan pintu keluar rumah) Ada yang datang, sepertinya itu Lena, anak kita, pulang juga ia setelah tiga hari tidak pulang. Pak Lena Bukan, pasti temannya datang mencari. Bu Lena Pasti Lena Pak Lena

Berani taruhan Bu Lena Taruhan apa? Pak Lena Jika bukan Lena, lebaran tahun ini kita pulang ke rumah orang tuaku. Bu Lena Tapi tahun kemarin sudah Pak Lena Itu karena kau kalah taruhan Bu Lena Ya tidak bisa, bayangkan dalam lima tahun ini kita tidak pernah pulang ke rumah orang tuaku. Pak Lena Berani taruhan tidak? Bu Lena (Bingung) Ehm« Pak Lena Dengar langkah itu sudah semakin dekat. Bu Lena Baik

TERDENGAR KETUKAN PINTU. BU LENA MEMBUKA PINTU. KECEWA.

Tamu I Permisi Tante, Lenanya ada? Bu Lena Oh tidak ada, dia belum pulang. Tamu I Belum pulang? Pergi ke mana ya Tante? Bu Lena Tante juga tidak tahu tuh, kamu tahu tidak? Tamu I Ya, kalau tahu saya tidak datang Tante. Bu Lena

Iya juga ya. Hm, kamu teman sekolahnya ya? Tamu I Bukan Tante, saya teman« Pak Lena (Memotong) Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu. Tamu I Terima kasih Om, saya harus kembali pulang. Pak Lena Kenapa buru-buru? Tamu I Ada yang harus buru-buru saya lakukan Bu Lena Jika buru-buru, kenapa mencari Lena? Tamu I Ya itu dia, Tante. Karena Lenalah saya harus buru-buru? Pak Lena Masuk dulu jangan buru-buru Bu Lena Iya masuk dulu Tamu I Maaf tidak bisa, saya permisi dulu.

BU LENA MENUTUP PINTU. DUDUK DI RUANG TV.

Pak Lena Siapa namanya? Bu Lena Siapa? Pak Lena Yang tadi? Bu Lena Teman Lena Pak Lena Iya, teman Lena tadi namanya siapa?

Bu Lena Berarti tahun ini kita pulang ke rumah orang tuamu lagi? Pak Lena Jelas! Siapa nama teman Lena tadi! Bu Lena Sudahlah ke rumah orang tuaku saja. Kasihan ibu sudah semakin tua, dia ingin melihat kita sekeluarga kan?

Pak Lena Tidak bisa! Kesepakatan telah tercipta, tidak bisa dirubah. Jika terus dirubah, bagaimana menjalankan kesepakatan itu dan untuk apa membuat kesepakatan jika tidak ada kepastian untuk dilakukan. Siapa nama teman Lena tadi? Bu Lena Nggak tahu. Pak Lena Loh Bu Lena Kok loh Pak Lena Ya, loh, bagaimana mungkin kamu tidak menanyakannya? Bu Lena Kenapa bukan kamu? Pak Lena Aku kan sedang nonton tv dan aku tidak sedang berhadapan langsung dengannya.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Pak Lena Ada yang ketuk pintu, bukahlah. Bu Lena Bagaimana jika Lena? Pak Lena Ya tetap dibuka pintu kan?

TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Bu Lena Bukan itu, jika bukan Lena, perjanjian tadi batal.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Pak Lena Bukalah pintu itu, kasihan tamunya. Bu Lena Buat satu kesepakatan baru dulu.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Bu Lena (Teriak ke arah pintu) sebentar ya, lagi menunggu kesepakan nih, sabar ya. Pak Lena Ya sudah, buka sana. Bu Lena Kesepakatan? Pak Lena Yah!

PINTU TERBUKA. BU LENA PUAS. PERBINCANGAN DI DEPAN PINTU MASUK RUMAH.

Tamu II Kesepakatan apa Tante? Bu Lena Ah, tidak. Kamu siapa dan ada apa? Tamu II Saya temannya Lena, Tante, kebetulan saya sedang main di daerah sini. Bu Lena Terus

Tamu II Ya, terus saya mampir. Karena kebetulan saya sedang main di daerah sini, jadi saya mampir ke sini, Tante. Bu Lena Terus Tamu II Ya, karena itu Tante, hm, Lenanya ada? Bu Lena Jadi karena kebetulan main di daerah sini, kamu mampir dan mencari Lena? Tamu II Benar itu Tante. Bu Lena Karena kebetulan? Tamu II Sebenarnya tidak Tante. Bu Lena Yang benar yang mana? Tamu II Saya memang mencari Lena, Tante. Bu Lena Karena main di daerah sini? Tamu II Tidak Tante, saya memang sengaja kemari untuk mencari Lena. Sumpah, Tante. Pak Lena (Memotong) Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.

TAMU II MASUK DAN DUDUK DI RUANG TV. BU LENA MASUK DAPUR.

Tamu II Nonton berita ya, Om? Pak Lena

Tidak, cuma sedang melihat tanggapan wakil rakyat tentang bencana yang tidak berkesudahan. Tamu II Itukan berita namanya, Om. Pak Lena Itu bukan berita, itu opini. Opini itu pendapat, kebenarannya masih belum bisa diandalkan. Namanya berita harus mengutamakan kebenaran, kenyataan. Tamu II Tapi itukan acara berita, Om. Pak Lena Memang, beritanya, wakil rakyat sedang memberikan opini. Tamu II Berarti sedang nonton berita, Om. Pak Lena Tidak, saya sedang melihat opini. Ingat, opini! Tamu II Bedanya apa, Om? Pak Lena Opini itu tidak murni kenyataan, namanya juga pendapat, sedang berita itu nyata, kenyataan tadi. Begini, kucing ditabrak mobil, itu berita. Tamu II Kalau opini? Pak Lena Mengapa kucing itu mau ditabrak? Tamu II Mungkin saja ia tidak melihat mobil yang laju, tiba-tiba saja ia sudah bersimbah darah. Pak Lena Itu dia opini. Tamu II Opini?

Pak Lena Ya, opini kamu. Lihat omongan wakil rakyat itu, semuanya serba mungkin kan? Tamu II

Jadi yang serba mungkin itu bukan berita? Pak Lena Mungkin kok berita. Mungkin itu kan belum jelas sedang berita adalah yang jelas dan pasti. Tamu II Tapi apa yang pasti di jaman sekarang, Om? Pak Lena Ya, opini.

BU LENA KELUAR DAPUR MEMBAWA TEH DALAM GELAS MENUJU KULKAS. MEMBUKANYA.

Tamu II Tidak usah yang dingin, Tante, lagi batuk. Bu Lena Mau puding? Tamu II Boleh, Tante. Bu Lena Tapi dingin? Tamu II Tidak apa-apa, Tante, kan cuma puding.

BU LENA KE RUANG TV DAN MELETAKKAN SAJIAN KEMUDIAN KEMBALI MENUJU DAPUR. Pak Lena Kamu temannya Lena? Tamu II Benar itu, Om. Pak Lena Teman dari mana? Tamu II Ya teman saja, Om, tidak dari mana-mana. Pak Lena Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, atau malah dari kelas mengaji?

Tamu II Untuk yang terakhir tampaknya bukan, Om. Pak Lena Mengapa? Apa karena sudah pintar mengaji? Tamu II Tidak Om, saya non muslim. Pak Lena Oh begitu, terus dari mana? Tamu II Saya teman Lena dari tempat nongkrong, Om. Pak Lena Seingat saya Lena tidak mengambil les nongkrong. Tamu II Om, lucu juga. Tempat nongkrong itu tempat kita kumpul-kumpul, ya, istilah kerennya berbincang atau berdiskusi. Pak Lena Oh begitu, tapi yang nongkrong itu kan tentunya berasal dari tempat tertentu. Nah, kamu itu selain teman nongkrong Lena, teman di mana? Tamu II Ya tidak ada, Om. Saya cuma teman Lena di tempat nongkrong. Pak Lena Terlalu tipis, pertemanan itu belum begitu kuat. Hm, lalu maksud kamu mencari Lena? Tamu II Ya itu dia Om, saya ingin tahu tentang apa yang terjadi dengan Lena. Sudah tiga hari ia tidak muncul, Om. Pak Lena Memangnya kenapa kalau ia tidak muncul dalam tiga hari? Tamu II Ya itu dia, Om. Pak Lena Apa? Tamu II Ehm, dia bawa sesuatu yang penting, Om. Sesuatu yang sangat saya banggakan. Pak Lena

Oh begitu. Penting sekali? Tamu II Sangat penting malah, Om. Pak Lena Lena mengambilnya dari kamu? Tamu II Begitulah Om, saya malah tidak tahu bagaimana bersikap jika tidak ada kabar dari Lena. Pak Lena Banyakkah? Tamu II Ya kalau besar itu dianggap banyak, ya, banyak Om. Pak Lena Begini saja, kamu pulang dulu, besok kamu kembali lagi. Yang kamu punya itu pasti akan kembali. Tamu II Tapi Lenanya bagaimana Om? Pak Lena Itu urusan saya. Tamu II Kalau memang begitu, tentunya dengan ada kepastian dari Om, saya menjadi yakin untuk datang besok.

Pak Lena Ya, ya, pulanglah.

TAMU II PERGI, BU LENA MASUK.

Pak Lena Anakmu membawa lari uang temannya? Bu Lena Bagaimana bisa? Pak Lena Temannya yang datang tadi, yang terlalu banyak bicara itu, melaporkan apa yang telah dilakukan anakmu.

Bu Lena Anak kita Pak Lena Ya, anak kita. Pencuri. Bu Lena Belum tentu benar, jangan terlalu banyak percaya dengan orang yang terlalu banyak bicara. Pak Lena Tapi bagaimana bisa kita percaya dengan orang yang sedikit bicara, dari mana kita tahu isi kepalanya jika tidak dikeluarkannya. Bu Lena Terlalu banyak bicara malah menghilangkan kata-kata kunci, kata yang seharusnya bisa menjadi andalan. Pak Lena Tanpa bicara, kata kunci itu malah tidak keluar, bagaimana bisa ia tampak? Bu Lena Tetapi mengapa kau begitu percaya dengan anak ingusan yang terlalu banyak bicara itu? Pak Lena Karena tampaknya benar, sudah tiga hari Lena pun tidak muncul di tempat biasa mereka bertemu. Bu Lena Bagaimana jika benar? Pak Lena Kita harus menggantinya, tidak bisa tidak, Lena kan anak kita. Bu Lena Jika tidak benar? Pak Lena Mau taruhan?

LAMPU PADAM

BAB V SASTRA LISAN

A. Apa Itu Sastra Lisan? Sastra lisan atau dalam bahasa Inggris oral literature diartikan sebagai unwritten literature, yaitu bentuk-bentuk sastra yang hidup dan tersebar secara tidak tertulis (Finnegan, 1992: 9; Rusyana, 1978:1; Teeuw, 1984: 279). Banyak ahli sastra yang menghindari penggunaan kata literature yang dalam bahasa Indonesia diartikan sastra. Kata literature mengacu pada literary/literacy yang selalu berarti tertulis. Jadi istilah oral literature atau sastra lisan dianggap rancu karena sekaligus memuat dua unsur yang bertentangan, yaitu lisan dan tertulis. Sebenarnya kerancuan tersebut tidak perlu terjadi bila sastra atau literature diterjemahkan secara luas. Maksudnya, sastra tidak selalu berarti tertulis atau dengan kata lain, sastra tidak identik dengan bahasa tulis. Lagipula, dalam perkembangannya, istilah literature sendiri pada saat ini tidak selalu mengacu kepada karya-karya sastra tertulis (Teeuw, 1988: 38). Sedangkan menurut Finnegan, sastra lisan akan dapat diterima dan berguna tergantung kapada materi yang dianalisis serta permasalahan yang diajukan dalam analisis (Finnegan, 1992: 9). Sebagai akibat dari anggapan kerancuan istilah, sastra lisan sering dipertukarkan dengan istilah tradisi lisan. Tradisi merupakan budaya yang berguna, cara untuk melakukan suatu hal, unik, berproses dalam hal pekerjaan, ide, atau nilai, dan kadang-kadang berkonotasi kuno serta muncul secara alami. Jadi, tradisi lisan adalah tradisi yang bersifat verbal atau tidak tertulis, milik masyarakat (folk), dan memiliki nilai (Finnegan, 1992: 7). Sementara itu, Danandjaya justru menyamakan tradisi lisan dengan folklor lisan (Danandjaya dalam Pudentia, 1998: 54). Memang ada karakteristik yang menyamakan sastra lisan dengan tradisi lisan atau folklor lisan yaitu bahwa penyebaran dan pewarisannya terjadi secara lisan. Untuk lebih jelasnya, Hutomo (1991: 11) memberikan cakupan tradisi lisan sebagai berikut:
y y y y y

kesusastraan lisan, teknologi tradisional, pengetahuan folk di luar pusat-pusat istana dan kota metropolitan, unsur-unsur religi dan kepercayaan folk di luar batas formal agama-agama besar, kesenian folk di luar pusat-pusat istana dan kota metropolitan, dan

y

hukum adat.

Dari uraian di atas, jelas bahwa sastra lisan merupakan salah satu bagian dari tradisi lisan ataupun folklor lisan. jadi, sastra lisan adalah sastra yang mencakup ekspresi sastra suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturunkan secara lisan (Hutomo, 1991: 60). Adapun sastra lisan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yaitu sastra lisan murni dan sastra lisan yang setengah lisan. Sastra lisan murni merupakan ragam sastra lisan yang penyampaiannya benar-benar secara lisan tanpa alat bantu lain. Sastra lisan murni pada umumnya berbentuk prosa rakyat, prosa liris dan bentuk-bentuk puisi rakyat. Sedangkan sastra lisan yang setengah lisan merupakan sastra lisan yang disampaikan dengan bantuan tingkah laku serta bentuk-bentuk seni yang lain. Sastra lisan jenis ini misalnya drama panggung dan drama arena, serta sastra lisan murni yang disampaikan dengan alat musik. Seperti kita ketahui, carita pantun (Sunda), kaba (Minangkabau), dan kentrung (Jawa) biasanya dipertunjukkan dengan alat musik tradisional (Hutomo, 1991: 62-64). Sastra lisan biasanya bersifat lokal, artinya sastra lisan tersebut hanya tumbuh dan berkembang di sebagian wilayah budaya saja. Oleh karena itu, sastra lisan di Indonesia sering juga disebut sebagai sastra Nusantara.

B. Jenis-Jenis Sastra Lisan Seperti halnya satra tertulis, sastra lisan juga dapat dikategorikan menjadi beberapa bagian. Berdasarkan sifatnya, sastra lisan dapat dibagi menjadi sastra lisan yang berbentuk puisi, prosa, dan seni pertunjukkan. 1. Sastra lisan yang berbentuk puisi (puisi lama) Salah satu jenis sastra lisan berbentuk puisi yang paling umum adalah pantun. Jenis-jenis pantun ini banyak ragamnya dan hampir ada hampir di semua kebudayaan, misalnya Sunda, Minangkabau, Melayu, Batak, dan Betawi. Pantun tidak hanya berbentuk empat bait dengan berdiri sendiri, tetapi juga pantun yang berbentuk panjang dan menuturkan sebuah kisah yang sangat panjang. Perhatikan salah satu contoh pantun di bawah ini. LANTUN MAHAKAM Orang kaya banyak berharta

Ke Sumatra setiap tahun Bismillah saya membuka kata Berseni sastra membuat pantun

Daun ilalang pucuknya mati Buah pisang berwarna hitam Pantun dikarang penghibur hati Turut kembangkan budaya Etam

Daun ilalang taruh di topi Daun Kurma ditambah lagi Pantun kukarang di malam sepi Kala purnama telah meninggi

Ambil paku di Kota Raja Di Kota Raja mendapat intan Wahai saudaraku di mana saja Pantun kukarang untuk kalian

2. Sastra lisan yang berbentuk prosa Sastra lisan yang berbentuk prosa atau cerita narasi banyak ragamnya. namun dari beberapa bentuk yang ada tersebut dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok besar menjadi mite (mitos), legenda, dongeng, dan fabel. a. Mite Mite adalah prosa naratif yang dalam masyarakat pemiliknya diyakini sebagai kejadian yang sungguh-sungguh terjadi di masa lampau, dianggap memiliki kekuatan untuk menjawab ketidaktahuan, keragu-raguan, atau ketidakpercayaan, sering diasosiasikan dengan kepercayaan dan ritual, mite biasanya dianggap suci, tokohnya bukan manusia, melainkan binatang, dewa, atau pahlawan kebudayaan yang terjadi di dunia yang belum seperti yang kita kenal sekarang (Sutarto,1997: 12-13).

Dalam khazanah sastra nusantara, Yus Rusyana menjelaskan bahwa mite menggambarkan peristiwa yang dibayangkan pada masa lalu yang sudah tidak diketahui lagi kapan terjadinya, ditokohi oleh manusia atas atau manusia suci yang mempunyai kekuatan supranatural, atau manusia yang berasal dari atau yang mempunyai hubungan dengan dunia atas, yaitu kedewaan atau kayangan. Mite dapat diklasifikasikan menjadi mite penciptaan dan mite yang menceritakan asal-usul terbentuknya sesuatu (Rusyana, 2000: 5-7). Contoh cerita mite Kisah Kanjeng Ratu Kidul (sebuah versi: Dewi Srengenge) Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkawinan tersebut. Maka, bahagialah sang raja. Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. "Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku", kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu. Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. "Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya." Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa. Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit

putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. "Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri," kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu. Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan.. Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.

b. Legenda Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Berbeda dengan mite, legenda bersifat sekuler (keduniawian), terjadinya pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia yang seperti kita kenal sekarang (Danandjaya, 2002: 66). Dalam khasanah sastra Nusantara, legenda pun dapat diklasifikasikan sebagai 1) legenda penyebaran agama Islam, dan 2) legenda pembangun masyarakat dan budaya. Kelompok legenda penyebar agama Islam mengandung unsur penyebaran agama Islam di tempat tertentu di Indonesia oleh para pelaku yang memerankan tokoh ulama. Sementara itu, tokoh legenda pembangun masyarakat dan budaya misalnya melakukan berbagai kegiatan kemasyarakatan dan kebudayaan seperti membangun rumah, melakukan upacara tertentu, membuat senjata, menjadi raja dan sebagainya (Rusyana, 2000: 41-42).

Legenda merupakan jenis prosa rakyat yang paling mempunyai nilai sejarah, terutama sebagai sumber penyusunan sejarah lokal desa-desa di Indonesia dari masa yang belum begitu lampau. Namun demikian, untuk menggunakannya sebagai sumber sejarah, legenda harus dibersihkan dari unsur-unsur folklor yang pralogis dan memiliki formula sastra lisan, serta perlu juga mempelajari sejarah penyatuan desa-desa tersebut dan bentuk-bentuk folklor lain yang ada di masyarakat (Danandjaya dalam Sutrisno, 1991: 472-474). Contoh legenda: Asal Mula Nama Kota Banyuwangi Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. ³Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,´ kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya. ³Kemana seekor kijang tadi?´, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. ³Akan ku cari terus sampai dapat,´ tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. ³Hem, segar nian air sungai ini,´ Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita. ³Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan -jangan setan penunggu hutan,´ gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. ³Kau manusia atau penunggu hutan?´ sapa Raden Banterang. ³Saya manusia,´ jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. ³Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung´. ³Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,´ Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden

Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia. Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. ³Surati! Surati!´, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. ³Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,´ pesan Rupaksa. Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. ³Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,´ kata lelaki itu. ³Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,´ jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. ³Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!´ tuduh Raden Banterang kepada istrinya. ´ Begitukah balasanmu padaku?´ tandas Raden Banterang.´Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!´ jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.

Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. ³Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,´ Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. ³Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,´ ucap Surati mengingatkan. ³Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!´. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. ³Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!´ seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang. Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. ³Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!´ Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat. Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi. (dari: http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara) c. Dongeng

Dongeng adalah prosa naratif yang bersifat fiksi, tidak dipercayai sebagai dogma atau sejarah, mungkin terjadi ataupun tidak, tidak dianggap serius, dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, dan biasanya merupakan pengalaman perjalanan binatang, kadang-kadang peri, atau tokoh manusia (Bascom dalam Finnegan, 1992: 148-149). Dongeng juga merupakan

cerita pendek kolektif kesusastraan lisan. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun ada juga yang melukiskan kebenaran, pelajaran (moral) atau bahkan sindiran (Danandjaya, 2002: 83). Contoh dongeng: TIMUN MAS Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun. Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun. ³Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,´ kata Raksasa. ³Terima kasih, Raksasa,´ kata suami istri itu. ³Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,´ sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju. Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan. Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas. Tahun demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun Mas. Petani itu mencoba tenang. ³Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya,´ katanya. Petani itu segera menemui anaknya. ³Anakkku,

ambillah ini,´ katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. ³Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,´ katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri. Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan. Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat. Timun Mas segera mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lalu garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah. Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir berhasil menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai. Cabai itu dilemparnya ke arah raksasa. Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa. Raksasa berteriak kesakitan. Sementara Timun Mas berlari menyelamatkan diri. Tapi Raksasa sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa tertidur. Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagilagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam. Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka

menyambutnya. ³Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,´ kata mereka gembira. Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi. (Diceritakan kembali oleh Renny Yanuar: http://dongeng.org) d. Fabel fabel adalah dongeng atau cerita fiki yang tokoh-tokohnya adalah binatang yang dapat berbicaradan bertingkah laku seperti manusia. Fabel biasanya ditujukan bagi anak-anak supaya dapat memperoleh pesanmoral dari cerita tersebut. Contoh fabel: Pada jaman dahulu di sebuah hutan di kepulauan Aru, hiduplah sekelompok rusa. Mereka sangat bangga akan kemampuan larinya. Pekerjaan mereka selain merumput, adalah menantang binatang lainnya untuk adu lari. Apabila mereka itu dapat mengalahkannya, rusa itu akan mengambil tempat tinggal mereka. Ditepian hutan tersebut terdapatlah sebuah pantai yang sangat indah. Disana hiduplah siput laut yang bernama Kulomang. Siput laut terkenal sebagai binatang yang cerdik dan sangat setia kawan. Pada suatu hari, si Rusa mendatangi si Kulomang. Ditantangnya siput laut itu untuk adu lari hingga sampai di tanjung ke sebelas. Taruhannya adalah pantai tempat tinggal sang siput laut. Dalam hatinya si Rusa itu merasa yakin akan dapat mengalahkan si Kulomang. Bukan saja jalannya sangat lambat, si Kulomang juga memanggul cangkang. Cangkang itu biasanya lebih besar dari badannya. Ukuran yang demikian itu disebabkan oleh karena cangkang itu adalah rumah dari siput laut. Rumah itu berguna untuk menahan agar tidak hanyut di waktu air pasang. Dan ia berguna untuk melindungi siput laut dari terik matahari. Pada hari yang ditentukan si Rusa sudah mengundang kawan-kawannya untuk menyaksikan pertandingan itu. Sedangkan si Kulomang sudah menyiapkan sepuluh teman-temannya. Setiap ekor dari temannya ditempatkan mulai dari tanjung ke dua

hingga tanjung ke sebelas. Dia sendiri akan berada ditempat mulainya pertandingan. Diperintahkannya agar teman-temanya menjawab setiap pertanyaan si Rusa. Begitu pertandingan dimulai, si Rusa langsung berlari secepat-cepatnya mendahului si Kulomang. Selang beberapa jam si rusa sudah sampai di tanjung kedua. Nafasnya terengah-engah. Dalam hati ia yakin bahwa si Kulomang mungkin hanya mencapai jarak beberapa meter saja. Dengan sombongnya ia berteriak-teriak, ³Kulomang, sekarang kau ada di mana?´ Temannya si Kulomang pun menjawab, ³aku ada tepat di belakangmu.´ Betapa terkejutnya si Rusa, ia tidak jadi beristirahat melainkan lari tunggang langgang. Hal yang sama terjadi berulang kali hingga ke tanjung ke sepuluh. Memasuki tanjung ke sebelas, si Rusa sudah kehabisan napas. Ia jatuh tersungkur dan mati. Dengan demikian si Kulomang dapat bukan saja mengalahkan tetapi juga memperdayai si Rusa yang congkak itu. (Aneke Sumarauw, ³Si Rusa dan Si Kulomang,´ Cerita Rakyat dari Maluku)

3. Sastra Lisan yang Berbentuk Pertunjukan Sastra lisan yang berbentuk pertunjukkan sangat beragam. Setiap daerah sepertinya mempunyai bentuk sastra pertunjukkan ini. Berikut adalah jenis-jenis sastra lisan yang berbentuk pertunjukkan.
y Berbagai jenis wayang (wayang golek, wayang orang, wayang kulit, dsb) y kentrung, ludruk, lenong, dan sejenisnya y calung, dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1995. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: PT Sinar Baru Algensindo Danandjaya, James. 2002. Folklor Indonesia ilmu gosip dongeng dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Garafiti Danandjaya, James. ³Pendekatan Folklor dalam Penelitian Bahan-bahan Tradisi Lisan´ dalam Pudentia. Ed. 1998. Metodologi Kajian Sastra Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Finnegan, Ruth. 1992. Oral Tradition and The Verbal Art. A Guide ro Research and Practices. London: Routledge. Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yagyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Rusyana, Yus. 1981. Cerita Rakyat Nusantara Kumpulan Makalah tentang Cerita Rakyat. Bandung: Fakultas keguruan sastra dan seni IKIP Bandung ________ dkk. 2000. Prosa Tradisional: Pengertian, Klasifikasi dan Teks. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Teeuw, A. 1988. Sastra Dan Ilmu Sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra (diterjemahkan oleh Okke K.S Zaimar, dkk). Jakarta: Djambatan Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan (diterjemahkan oleh Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful