UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA

Bab I: Ketentuan Umum Bab II: Persero Bagian Pertama: Pendirian Bagian Kedua: Maksud dan Tujuan Bagian Ketiga: Organ Bagian Keempat: Kewenangan RUPS Bagian Kelima: Direksi Persero Bagian Keenam: Komisaris Bagian Ketujuh: Persero Terbuka Bab III: Perum Bagian Pertama: Pendirian Bagian Kedua: Maksud dan Tujuan Bagian Ketiga: Organ Bagian Keempat: Kewenangan Menteri Bagian Kelima: Anggaran Dasar Bagian Keenam: Penggunaan Laba Bagian Ketujuh: Direksi Perum Bagian Kedelapan: Dewan Pengawas Bab IV: Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan, dan Pembubaran BUMN Bab V: Satuan Pengawasan Intern, Komite Audit, dan Komite Lain Bagian Pertama: Satuan Pengawasan Intern Bagian Kedua: Komite Audit dan Komite Lain Bab VI: Satuan Pengawasan Intern, Komite Audit, dan Komite Lain Bagian Pertama: Satuan Pengawasan Intern Bagian Kedua: Komite Audit dan Komite Lain Bab VII: Pemeriksaan Eksternal Bab VIII: Restrukturisasi dan Privatisasi Bagian Pertama: Maksud dan Tujuan Restrukturisasi Bagian Kedua: Ruang Lingkup Restrukturisasi Bagian Ketiga: Maksud dan Tujuan Privatisasi Bagian Keempat: Prinsip Privatisasi dan Kriteria Perusahaan Yang Dapat Diprivatisasi Bagian Kelima: Komite Privatisasi Bagian Keenam: Tata Cara Privatisasi Bagian Ketujuh: Kerahasiaan Informasi Bagian Kedelapan: Hasil Privatisasi Bab IX: Ketentuan Lain-Lain Bab X: Ketentuan Peralihan Bab XI: Ketentuan Penutup

LAW OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER 19 OF 2003 CONCERNING STATE-OWNED ENTITIES

Pasal/Article Ch. I: General Provisions 1 Ch. II: State-Owned Limited Liability Companies 10 12 13 14 15 27 34 35 36 37 38 41 42 44 56 63 67 67 70
67 67 70 Part One: Establishment Part Two: Objectives and Purposes Part Three: Organs Part Four: Authority of the GMS Part Five: The Board of Directors of State-Owned Limited Liability Company Part Six: The Board of Commissioner Part Seven: State-Owned Limited Liability Companies Ch. III: Public Enterprises Part One: Establishment Part Two: Objectives and Purposes Part Three: Organs Part Four: Authority of the Minister Part Five: The Articles of Association Part Six: Utilization of Profits Part Seven: The Board of Directors of Public Enterprises Part Eight: The Board of Supervisors Ch. IV: Mergers, Consolidations, Acquisitions, and Dissolution of a State-Owned Entities Ch. V: The Internal Oversight Unit, The Audit Committee, and Other Committees Part One: The Internal Oversight Unit Part Two: The Audit Committee and Other Committees Ch VI: The Internal Oversight Unit, the Audit Committee, and Other Committees Part One: The Internal Oversight Unit Part Two: The Audit Committee and Other Committees Ch. VII: External Audits Ch. VIII: Restructuring and Privatization Part One: Objectives and Purposes of Restructuring Part Two: Scope of Restructuring Part Three: Objectives and Purposes of Privatization Part Four: Privatization Principles and the Criteria of Privatizable Enterprises Part Five: The Privatization Committee Part Six: Procedures for Privatization Part Seven: Confidentiality of Information Part Eight: Privatization Proceeds Ch. IX: Miscellaneuos Provisions Ch. X: Transitional Provisions Ch. XI: Concluding Provisions

71 72 72 73 74 75 79 82 85 86 87 93 94

Translated by: Wishnu Basuki wbasuki@abnrlaw.com

NOTE: WHERE NO ELUCIDATION IS PROVIDED UNDERNEATH A CLAUSE, THE CLAUSE IS SUFFICIENTLY CLEAR.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LAW OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER 19 OF 2003 CONCERNING STATE-OWNED ENTITIES WITH THE GRACE OF GOD ALMIGHTY THE PRESIDENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA,

Menimbang:

Considering:

a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan a. that State-Owned Entities (BUMN) are one salah satu pelaku kegiatan ekonomi dalam of the economic actors in national economy perekonomian nasional berdasarkan that is founded on economic democracy; demokrasi ekonomi; b. bahwa Badan Usaha Milik Negara b. that State-Owned Entities (BUMN) play an mempunyai peranan penting dalam important role in the establishment of penyelenggaraan perekonomian nasional national economy for the realization of the guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat; public welfare; c. bahwa pelaksanaan peran Badan Usaha Milik c. that the role of State-Owned Entities Negara dalam perekonomian nasional untuk (BUMN) to realize the public welfare in mewujudkan kesejahteraan masyarakat belum national economy has not been optimal; optimal; d. bahwa untuk mengoptimalkan peran Badan d. that in order to optimize the role of StateUsaha Milik Negara, pengurusan dan Owned Entities (BUMN), the management pengawasannya harus dilakukan secara and supervision thereof must be made profesional; professionally; e. bahwa peraturan perundang-undangan yang e. that laws and regulations that govern Statemengatur Badan Usaha Milik Negara sudah Owned Entities (BUMN) are no longer in tidak sesuai lagi dengan perkembangan line with more rapid development of perekonomian dan dunia usaha yang semakin economy and business world, both pesat, baik secara nasional maupun nationally and internationally; internasional; f. bahwa berdasarkan pertimbangan f. that on the grounds as intended by point a, sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf point b, point c, point d, and point e, it is b, huruf c, huruf d, dan huruf e, perlu necessary to make a Law concerning Statedibentuk Undang-undang tentang Badan Owned Entities (BUMN); Usaha Milik Negara; Mengingat: Bearing in mind:

1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 23 ayat (4), 1. Article 5 section (1), Article 20, Article 23 dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Tahun section (4), and Article 33 of the 1945
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

2

1945;

Constitution;

2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat 2. Decree of the People's Consultative Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1999 Assembly Number IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara concerning Guidelines of State Policy of Tahun 1999-2004; 1999-2004; 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 3. Law Number 1 of 1995 concerning Limited tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Liability Companies (State Gazette Number Negara Republik Indonesia Tahun 1995 13 of 1995, Supplement to State Gazette Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Number 3587); Nomor 3587); 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 4. Law Number 17 of 2003 concerning State tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Finance (State Gazette Number 47 of 2003, Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Supplement to State Gazette Number 4286). Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286); Dengan Persetujuan Bersama antara DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: With the Joint Consent of THE HOUSE OF REPRESENTATIVES OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE PRESIDENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA HAS DECIDED: STATE-

Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG To enact: LAW CONCERNING BADAN USAHA MILIK OWNED ENTITIES. NEGARA.
PENJELASAN UMUM I. Memajukan kesejahteraan bagi seluruh rakyat sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang selanjutnya lebih rinci diatur dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 merupakan tugas konstitusional bagi seluruh komponen bangsa. Dalam kaitan di atas, dirasa perlu untuk meningkatkan penguasaan seluruh kekuatan ekonomi nasional baik melalui regulasi sektoral maupun melalui kepemilikan negara terhadap unitunit usaha tertentu dengan maksud untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan, merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian nasional, di samping usaha swasta dan koperasi. Dalam menjalankan kegiatan usahanya, BUMN, swasta dan koperasi melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. II. Dalam Sistem perekonomian nasional, BUMN ikut berperan menghasilkan barang dan/atau jasa diperlukan dalam rangka mewujudkan sebesarI. GENERAL ELUCIDATION

Improvement of the welfare of all people as mandated by the Preamble of the 1945 Constitution and as further elaborated by Article 33 of the 1945 Constitution is the constitutional duty of all components of the nation. It is therefore deemed necessary to improve the control of all national economic powers through either sectoral regulation and state ownership of certain business units aiming to give as much benefit as possible in the best prosperity of the public.

A State-Owned Entity (BUMN), of which all or most of capital is derived from the state’s separated assets is one of the economic actors in the national economic system, in addition to private entities and cooperatives. In the performance of their business activities, State-Owned Entities (BUMN), private entities, and cooperatives have the mutual support role under economic democracy. II. In the national economic system, State-Owned Entities (BUMN) also contribute to the production of goods and/or services necessary to realize the best

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

3

besarnya kemakmuran masyarakat. Peran BUMN dirasakan semakin penting sebagai pelopor dan/atau perintis dalam sektor-sektor usaha yang belum diminati usaha swasta. Disamping itu, BUMN juga mempunyai peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik, penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar, dan turut membantu pengembangan usaha kecil/koperasi. BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis pajak, dividen dan hasil privatisasi. Pelaksanaan peran BUMN tersebut diwujudkan dalam kegiatan usaha pada hampir seluruh sektor perekonomian, seperti sektor pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan, manufaktur, pertambangan, keuangan, pos dan telekomunikasi, transportasi, listrik, industri dan perdagangan, serta konstruksi. III. Dalam kenyataannya, walaupun BUMN telah mencapai tujuan awal sebagai agen pembangunan dan pendorong terciptanya korporasi, namun tujuan tersebut dicapai dengan biaya yang relatif tinggi. Kinerja perusahaan dinilai belum memadai, seperti tampak pada rendahnya laba yang diperoleh dibandingkan dengan modal yang ditanamkan. Dikarenakan berbagai kendala, BUMN belum sepenuhnya dapat menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi bagi masyarakat dengan harga yang terjangkau serta belum mampu berkompetisi dalam persaingan bisnis secara global. Selain itu, karena keterbatasan sumber daya, fungsi BUMN baik sebagai pelopor/perintis maupun sebagai penyeimbang kekuatan swasta besar, juga belum sepenuhnya dapat dilaksanakan. Di lain pihak, perkembangan ekonomi dunia berlangsung sangat dinamis terutama berkaitan dengan liberalisasi dan globalisasi perdagangan yang telah disepakati oleh dunia internasional seperti kesepakatan mengenai World Trade Organization (WTO), ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN Framework Agreement on Service, dan kerjasama ekonomi regional Asia Pacific (Asia Pacific Economic Coorperation/APEC). IV. Untuk dapat mengoptimalkan perannya dan mampu mempertahankan keberadaannya dalam perkembangan ekonomi dunia yang semakin terbuka dan kompetitif, BUMN perlu menumbuhkan budaya korporasi dan profesionalisme antara lain melalui pembenahan pengurusan dan pengawasannya. Pengurusan dan pengawasan BUMN harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip tatakelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Peningkatan efisiensi dan produktivitas BUMN harus dilakukan melalui langkah-langkah restrukturisasi dan privatisasi. Restrukturisasi sektoral dilakukan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga tercapai efisiensi dan pelayanan yang optimal. Sedangkan restrukturisasi perusahaan yang meliputi penataan kembali bentuk badan usaha, kegiatan usaha, organisasi, manajemen, dan keuangan. Privatisasi bukan semata-mata dimaknai sebagai
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

prosperity of the people. The role of State-Owned Entities (BUMN) is deemed to be important as leader and/or pioneer in business sectors in which private entities lack interest. In addition, State-Owned Entities (BUMN) also have a strategic role as public service performer, balancer of power of large private entities, and contribute to the development of smallscale business/cooperatives. State-Owned Entities (BUMN) are also one of the significant sources of state revenues through various taxes, dividends, and privatization proceeds. The role of State-Owned Entities (BUMN) is embodied in the business activities of almost all of economic sectors, such as agriculture, fisheries, plantation, forestry, manufacture, mining, finance, post and telecommunications, transportation, electricity, industry and trade as well as construction. III. The fact of the matter is that despite State-Owned Entities’ (BUMN) achievement in an initial objective as agent of development and motivator of the creation of corporations, the objective was achieved at relatively high cost. The corporate performance is deemed to be insufficient as demonstrated by the low profits being earned as compared to the invested capital. Due to various obstructions, State-Owned Entities (BUMN) cannot fully supply high-quality goods and/or services for the public at affordable prices and are less competitive with business globally. In addition, due to lack of resources, the function of State-Owned Entities (BUMN), either as leader/pioneer or as balancer of power of large private entities does not work to the maximum. On the other hand, the world economic development runs very dynamically with respect to in particular trade liberalization and globalization that have been accepted by the international world, such as agreements concerning World Trade Organization (WTO), ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN Framework Agreement on Service, and Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). IV. In order to optimize their role and to enable survival in the world economic development that is more and more open and competitive, State-Owned Entities (BUMN) need to grow corporate culture and professionalism through, inter alia, the reorganization of their management and supervision. The management and supervision of State-Owned Entities (BUMN) must be conducted under the principles of good corporate governance. Improved efficiency and productivity of StateOwned Entities (BUMN) must be undertaken through restructuring and privatization steps. Sectoral restructuring is conducted to create a business climate conducive to achievement of efficiency and optimal service. Meanwhile, corporate restructuring includes reorganization of forms of entities, business activities, organization, management, and finance. Privatization does not 4

penjualan perusahaan, melainkan menjadi alat dan cara pembenahan BUMN untuk mencapai beberapa sasaran sekaligus, termasuk didalamnya adalah peningkatan kinerja dan nilai tambah perusahaan, perbaikan struktur keuangan dan manajemen, penciptaan struktur industri yang sehat dan kompetitif, pemberdayaan BUMN yang mampu bersaing dan berorientasi global, penyebaran kepemilikan oleh publik serta pengembangan pasar modal domestik. Dengan dilakukannya privatisasi BUMN, bukan berarti kendali atau kedaulatan negara atas BUMN yang bersangkutan menjadi berkurang atau hilang karena sebagaimana dinyatakan di atas, negara tetap menjalankan fungsi penguasaan melalui regulasi sektoral dimana BUMN yang diprivatisasi melaksanakan kegiatan usahanya. Pentingnya penataan yang berkelanjutan atas pelaksanaan peran BUMN dalam sistem perekonomian nasional, terutama upaya peningkatan kinerja dan nilai (value) perusahaan, telah diamanatkan pula oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) melalui Ketetapan Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004. Tap MPR tersebut menggariskan bahwa BUMN, terutama yang usahanya berkaitan dengan kepentingan umum, perlu terus ditata dan disehatkan melalui restrukturisasi dan bagi BUMN yang usahanya tidak berkaitan dengan kepentingan umum dan berada dalam sektor yang telah kompetitif didorong untuk privatisasi. V. Penataan sistem pengelolaan dan pengawasan BUMN telah dilakukan Pemerintah pada waktu yang lalu dan kiranya akan terus berlanjut. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah dengan penataan terhadap peraturan perundang-undangan yang mengatur BUMN. Pada tahun 1960, telah dikeluarkan Undangundang Nomor 19 Prp. Tahun 1960 dengan tujuan mengusahakan adanya keseragaman dalam cara mengurus dan menguasai serta bentuk hukum dari badan usaha negara yang ada. Pada tahun 1969, ditetapkan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969. Dalam Undang-undang tersebut, BUMN disederhanakan bentuknya menjadi tiga bentuk usaha negara yaitu Perusahaan Jawatan (Perjan) yang sepenuhnya tunduk pada ketentuan Indonesische Bedrijvenwet (Stbl. 1927 : 419), Perusahaan Umum (Perum) yang sepenuhnya tunduk pada ketentuan Undang-undang Nomor 19 Prp. Tahun 1960 dan Perusahaan Perseroan (Persero) yang sepenuhnya tunduk pada ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Dagang (Stbl. 1847 : 23) khususnya pasal-pasal yang mengatur perseroan terbatas yang saat ini telah diganti dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Sejalan dengan amanat Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969, Pemerintah membuat pedoman pembinaan BUMN yang mengatur secara rinci hal-hal yang berkaitan dengan mekanisme pembinaan, pengelolaan dan pengawasan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1983, kemudian diperbaharui dengan Peraturan
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

solely mean the sale of company, but rather means and method to organize State-Owned Entities (BUMN) for total achievement of several targets, including the improved corporate performance and added value, improved financial and management structure, the making of sound and competitive industrial structure, empowerment of State-Owned Entities (BUMN) that are able to compete and orient globally, disseminate share ownership by the public as well as develop domestic capital markets. Privatization of State-Owned Entities (BUMN) does not mean the state control or sovereignty of StateOwned Entities (BUMN) is tempered or loss accordingly, but the state continues to perform the function of control through sectoral regulation upon which the privatized State-Owned Entities (BUMN) perform their business activities. The importance of sustainable organization of the role of State-Owned Entities (BUMN) in the national economic system, especially efforts to improve corporate performance and value, has been also mandated by the People's Consultative Assembly through Decree Number IV/MPR/1999 concerning Broad Outlines of State Policy of 19992004. The decree underscores that State-Owned Entities (BUMN), particularly those engaged in the public interest, should be continuously organized and made sound through restructuring, meanwhile, State-Owned Entities (BUMN), the business of which is not engaged in the public interest but in competitive sector are encouraged to be privatized. V. Organization of the management and supervision system of State-Owned Entities (BUMN) has been undertaken by the government in the past and is picking up the pace. One step that has been taken is the organization of the laws and regulations that govern State-Owned Entities (BUMN). In 1960 Law Number 19 Prp of 1960 was passed aiming to establish the uniformity of the management and control as well as legal forms of the existing state entities. In 1969 Law Number 9 of 1969 was enacted. The Law simplifies the forms of State-Owned Entities (BUMN) into three forms of state entities, i.e., Service Enterprise (Perjan) that is fully subject to the provisions of Indonesische Bedrijvenwet (State Gazette of 1927 : 419), Public Enterprise (Perum) that is fully subject to the provisions of Law Number 19 Prp of 1960, and State-Owned Limited Liability Company (Persero) that is fully subject to the Commercial Code (State Gazette of 1847 : 23), especially articles that govern limited liability companies that at present has been replaced by Law Number 1 of 1995 concerning Limited Liability Companies. In line with the mandate of Law Number 9 of 1969, the Government makes guidelines to the direction of State-Owned Entities (BUMN) that provide in detail matters in connection with the mechanism of direction, management, and supervision as contained in Government Regulation Number 3 of 1983, as then revised by Government 5

Pemerintah Nomor 12 Tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (Persero), Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1998 tentang Perusahaan Umum (Perum) dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2000 tentang Perusahaan Jawatan (Perjan). Berbagai Peraturan Pemerintah tersebut memberikan arahan yang lebih pasti mengenai sistem yang dipakai dalam upaya peningkatan kinerja BUMN, yaitu berupa pemberlakuan mekanisme korporasi secara jelas dan tegas dalam pengelolaan BUMN. Namun, berbagai peraturan perundang-undangan yang ada tersebut masih belum memberi landasan hukum yang kuat di dalam pengembangan badan usaha negara sejalan dengan perkembangan dunia korporasi seperti halnya upaya-upaya privatisasi dan pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik. VI. Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, dan memperhatikan amanat Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999, maka dipandang perlu untuk menetapkan suatu Undang-undang baru yang mengatur BUMN secara lebih komprehensif dan sesuai dengan perkembangan dunia usaha. Undang-undang tersebut dimaksudkan untuk memenuhi visi pengembangan BUMN di masa yang akan datang dan meletakkan dasar-dasar atau prinsipprinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Penerapan prinsip-prinsip tersebut sangat penting dalam melakukan pengelolaan dan pengawasan BUMN. Pengalaman membuktikan bahwa keterpurukan ekonomi di berbagai negara termasuk Indonesia, antara lain disebabkan perusahaan-perusahaan di negara tersebut tidak menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) secara konsisten. Undang-undang BUMN dirancang untuk menciptakan sistem pengelolaan dan pengawasan berlandaskan pada prinsip efisiensi dan produktivitas guna meningkatkan kinerja dan nilai (value) BUMN, serta menghindarkan BUMN dari tindakan-tindakan pengeksloitasian di luar asas tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Undangundang ini juga dirancang untuk menata dan mempertegas peran lembaga dan posisi wakil pemerintah sebagai pemegang saham/pemilik modal BUMN, serta mempertegas dan memperjelas hubungan BUMN selaku operator usaha dengan lembaga pemerintah sebagai regulator.

Regulation Number 12 of 1998 concerning StateOwned Limited Liability Companies (Persero), Government Regulation Number 13 of 1998 concerning Public Enterprises (Perum), and Government Regulation Number 6 of 2000 concerning Service Enterprises (Perjan). Those Government Regulations provide a more definite direction on the system adopted in an effort to improve the performance of State-Owned Entities (BUMN), namely, through application of corporate mechanism clearly and expressly in the management of State-Owned Entities (BUMN). However, the existing laws and regulations have not laid down strong legal fundamentals in the development of state entities to keep abreast of the development of the corporation world, such as privatization efforts and the service of the principles of good corporate governance. VI. Based on the foregoing facts and with due regard to Decree of the People's Consultative Assembly Number IV/MPR/1999, it is deemed necessary to enact a new Law that governs State-Owned Entities (BUMN) more comprehensively and that reflects the development of business world. The Law aims to conjure up visions of future development of State-Owned Entities (BUMN) and to lay grounds or principles of good corporate governance. Application of those principles does matter with respect to the conduct of the management and supervision of State-Owned Entities (BUMN). Experience proves that the economic downturn in several countries, including Indonesia results from, inter alia, the failure of companies in those countries to serve the principles of good corporate governance in a consistent manner. A Law on State-Owned Entities (BUMN) is designed to create management and supervision system under the principles of efficiency and productivity for improvement of the performance and value of the State-Owned Entities (BUMN) as well as prevention of State-Owned Entities (BUMN) from exploitation measures other than the principles of good corporate governance. This Law is also designed to organize and underscore the role of institution and position of government representatives as shareholders/capital owners in State-Owned Entities (BUMN) as well as to underscore and clarify the relationship between State-Owned Entities (BUMN) as business operators and the government institution as regulator. In addition, this Law also governs provisions on restructuring and privatization as means and methods to organize State-Owned Entities (BUMN) in order to achieve their goals as well as other issues of concerns that are conducive to and constitute grounds on which any efforts to restructure State-Owned Entities (BUMN) are 6

Disamping itu, Undang-undang ini mengatur pula ketentuan mengenai restrukturisasi dan privatisasi sebagai alat dan cara pembenahan BUMN untuk mencapai cita-citanya serta hal-hal penting lainnya yang mendukung dan dapat menjadi landasan bagi upaya-upaya penyehatan BUMN.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

exhausted. Khusus mengenai program privatisasi, Undangundang ini menegaskan bahwa privatisasi hanya dapat dilakukan terhadap BUMN yang berbentuk Persero sepanjang dimungkinkan berdasarkan peraturan perundang-undangan di sektor kegiatan yang dilakukan Persero tersebut. BUMN Persero dapat diprivatisasi karena selain dimungkinkan oleh ketentuan di bidang pasar modal juga karena pada umumnya hanya BUMN Persero yang telah bergerak dalam sektor-sektor yang kompetitif. Privatisasi senantiasa memperhatikan manfaat bagi rakyat. In the special case of a privatization program, this Law affirms that privatization may only be conducted by a State-Owned Entity (BUMN) in the form of a State-Owned Limited Liability Company (Persero) insofar as permitted by laws and regulations on business sector in which the StateOwned Limited Liability Company (Persero) is engaged. A State-Owned Entity (BUMN) in the form of a State-Owned Limited Liability Company (Persero) may be privatized because not only permitted by the provisions of capital markets, bu because the State-Owned Entity (BUMN) in the form of a State-Owned Limited Liability Company (Persero) engages in the competitive sector. Privatization addresses the benefit for the people at all times. VII. With due regard to the nature of business of a StateOwned Entities (BUMN), i.e., with respect to making a profit and realizing public benefit, this Law simplifies the forms of State-Owned Entities (BUMN) into two forms, i.e., State-Owned Limited Liability Companies (Persero), the purpose of which is to make a profit and fully subject to the provisions of Law Number 1 of 1995 concerning Limited Liability Companies as well as Public Enterprises (Perum) that is formed by the government to conduct business as the implementation of the government’s obligation to establish supply of certain goods and services in order to meet the public needs. In terms of the form of a Public Enterprise (Perum), despite their establishment for public benefit, they as entities are sought to remain independent, and therefore, Public Enterprises (Perum) must also be sought to make a profit for survival.

VII. Memperhatikan sifat usaha BUMN, yaitu untuk memupuk keuntungan dan melaksanakan kemanfaatan umum, dalam Undang-undang ini BUMN disederhanakan menjadi dua bentuk yaitu Perusahaan Perseroan (Persero) yang bertujuan memupuk keuntungan dan sepenuhnya tunduk pada ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas serta Perusahaan Umum (Perum) yang dibentuk oleh pemerintah untuk melaksanakan usaha sebagai implementasi kewajiban pemerintah guna menyediakan barang dan jasa tertentu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk bentuk usaha Perum, walaupun keberadaannya untuk melaksanakan kemanfaatan umum, namun demikian sebagai badan usaha diupayakan untuk tetap mandiri dan untuk itu Perum harus diupayakan juga untuk mendapat laba agar bisa hidup berkelanjutan.

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

CHAPTER I GENERAL PROVISIONS Article 1

Dalam Undang-undang ini, yang dimaksud In this Law: dengan: 1. “Badan Usaha Milik Negara,” yang 1. “State-Owned Entity,” hereinafter called selanjutnya disebut BUMN, adalah badan "State-Owned Entity (BUMN)," means an usaha yang seluruh atau sebagian besar entity, the capital of which is in part or in modalnya dimiliki oleh negara melalui whole owned by the state through direct penyertaan secara langsung yang berasal dari participation that is derived from the state’s kekayaan negara yang dipisahkan. separated assets. 2. “Perusahaan Perseroan,” yang selanjutnya 2. “State-Owned Limited Liability Company,” disebut Persero, adalah BUMN yang hereinafter called "State-Owned Limited berbentuk perseroan terbatas yang modalnya Liability Company (Persero)," means a terbagi dalam saham yang seluruh atau paling State-Owned Entity (BUMN) in the form of sedikitnya 51% (lima puluh satu persen) a limited liability company, the capital of sahamnya dimiliki oleh Negara Republik which is divided into shares in which all or Indonesia yang tujuan utamanya mengejar at least 51% (fifty-one percent) of its shares

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

7

keuntungan.

are owned by the State of the Republic of Indonesia aiming mainly to make a profit.

3. “Perusahaan Perseroan Terbuka,” yang 3. “Publicly-Held State-Owned Limited selanjutnya disebut Persero Terbuka, adalah Liability Company,” hereinafter called Persero yang modal dan jumlah pemegang "Publicly-Held State-Owned Limited sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau Liability Company (Persero Terbuka)," Persero yang melakukan penawaran umum means a State-Owned Limited Liability sesuai dengan peraturan perundang-undangan Company (Persero), of which the capital and di bidang pasar modal. the number of shareholders meet the specified criteria, or a State-Owned Limited Liability Company (Persero) that makes a public offer under laws and regulations concerning capital markets. 4. “Perusahaan Umum,” yang selanjutnya 4. “Public Enterprise,” hereinafter called disebut Perum, adalah BUMN yang seluruh "Public Enterprise (Perum)," means a Statemodalnya dimiliki Negara dan tidak terbagi Owned Entity (BUMN), the entire capital of atas saham, yang bertujuan untuk which is state owned and is not divided into kemanfaatan umum berupa penyediaan shares, for the public benefit purposes barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan through the supply of high quality goods sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan and/or services, and also in the pursuit of prinsip pengelolaan perusahaan. profits under the principles of corporate management. 5. “Menteri” adalah menteri yang ditunjuk 5. “Minister” means a minister who is dan/atau diberi kuasa untuk mewakili appointed and/or authorized to represent the pemerintah selaku pemegang saham negara government as state shareholder in Statepada Persero dan pemilik modal pada Perum Owned Limited Liability Companies dengan memperhatikan peraturan perundang(Persero) and as the owner of capital in undangan. Public Enterprises (Perum) with due regard to laws and regulations. 6. “Menteri Teknis” adalah menteri yang 6. “Technical Minister” means a minister who mempunyai kewenangan mengatur kebijakan has the authority to make policy on sector in sektor tempat BUMN melakukan kegiatan which a State-Owned Entity (BUMN) is usaha. engaged. 7. “Komisaris” adalah organ Persero yang 7. “Board of Commissioners” means an organ bertugas melakukan pengawasan dan of a State-Owned Limited Liability memberikan nasihat kepada Direksi dalam Company (Persero) with duties to supervise menjalankan kegiatan pengurusan Persero. and give recommendations to the Board of Directors in the performance of the management activities of the State-Owned Limited Liability Company (Persero). 8. “Dewan Pengawas” adalah organ Perum yang 8. “Board of Supervisors” means an organ of a bertugas melakukan pengawasan dan Public Enterprise (Perum) with duties to memberikan nasihat kepada Direksi dalam supervise and give recommendations to the menjalankan kegiatan pengurusan Perum. Board of Directors in the performance of the management activities of the Public Enterprise (Perum). 9. “Direksi” adalah organ BUMN yang 9. “Board of Directors” means an organ of a bertanggung jawab atas pengurusan BUMN State-Owned Entity (BUMN) that is untuk kepentingan dan tujuan BUMN, serta responsible for the management of a StateAli Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

8

mewakili BUMN baik di dalam maupun di luar pengadilan.

Owned Entity (BUMN) in the interest and for the benefit of the State-Owned Entity (BUMN), and that represents the StateOwned Entity (BUMN) both within and outside the court.

10. “Kekayaan Negara yang dipisahkan” adalah 10. “State’s separated Assets” means the state kekayaan negara yang berasal dari Anggaran assets that are derived from the State Budget Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) for use as the state’s capital participation in a untuk dijadikan penyertaan modal negara State-Owned Limited Liability Company pada Persero dan/atau Perum serta perseroan (Persero) and/or Public Enterprise (Perum) terbatas lainnya. as well as other limited liability companies. 11. “Restrukturisasi” adalah upaya yang 11. “Restructuring” means an effort to dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN restructure a State-Owned Entity (BUMN) yang merupakan salah satu langkah strategis that represents any of the strategic steps to untuk memperbaiki kondisi internal recover the internal condition of company perusahaan guna memperbaiki kinerja dan for improvement of the performance and meningkatkan nilai perusahaan. increase the corporate value. 12. “Privatisasi” adalah penjualan saham Persero, 12. “Privatization” means sale of shares of a baik sebagian maupun seluruhnya, kepada State-Owned Limited Liability Company pihak lain dalam rangka meningkatkan (Persero), whether in part or in whole, to kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar other parties to improve the corporate manfaat bagi negara dan masyarakat, serta performance and value, increase benefit for memperluas pemilikan saham oleh the state and the public, and expand the masyarakat. ownership of shares by the public. 13. “Rapat Umum Pemegang Saham,” yang 13. “General Meeting of Shareholders,” selanjutnya disebut RUPS, adalah organ hereinafter called "GMS," means an organ of Persero yang memegang kekuasaan tertinggi a State-Owned Limited Liability Company dalam Persero dan memegang segala (Persero) that holds the highest authority in wewenang yang tidak diserahkan kepada the State-Owned Limited Liability Company Direksi atau Komisaris. (Persero) and holds any authority not delegated to the Board of Directors and the Board of Commissioners. Pasal 2 (1) Maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah: Article 2 (1) The objectives and purposes of establishment of a State-Owned Entity (BUMN) shall be to: a. make contributions to national economic development in general and state revenues in particular;
Elucidation of Article 2 Section (1) (a): State-Owned Entities (BUMN) are expected to improve the quality service for the public and also make contributions to the growth of national economy and enhance the state revenues.

a. memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya;
Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) (a): BUMN diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat sekaligus memberikan kontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan membantu penerimaan keuangan negara.

b. mengejar keuntungan;
Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) (b): Meskipun maksud dan tujuan Persero adalah untuk
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

b. make a profit;
Elucidation of Article 2 Section (1) (b): Notwithstanding that the objectives and purposes of 9

mengejar keuntungan, namun dalam hal-hal tertentu untuk melakukan pelayanan umum, Persero dapat diberikan tugas khusus dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan yang sehat. Dengan demikian, penugasan pemerintah harus disertai dengan pembiayaannya (kompensasi) berdasarkan perhitungan bisnis atau komersial, sedangkan untuk Perum yang tujuannya menyediakan barang dan jasa untuk kepentingan umum, dalam pelaksanaannya harus memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat.

the State-Owned Limited Liability Company (Persero) are to make a profit, however, in certain cases with respect to public service, a State-Owned Limited Liability Company (Persero) may be assigned with specific duties with due regard to the principles of sound management. Assignment by the government must be provided with financing (compensation) on a business or commercial calculation basis, meanwhile a Public Enterprise (Perum) with the aim of supply of goods and services in the public interest, in the implementation thereof, must have due regard to the principles of sound corporate management.

c. menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak;
Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) (c): Dengan maksud dan tujuan seperti ini, setiap hasil usaha dari BUMN, baik barang maupun jasa, dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

c. establish public benefit through supply of high quality and affordable goods and/or services for the life of many people;
Elucidation of Article 2 Section (1) (c): Under these objectives and purposes, any proceeds of State-Owned Entities (BUMN), either goods or services, should meet the public needs.

d. menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi;
Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) (d): Kegiatan perintisan merupakan suatu kegiatan usaha untuk menyediakan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat, namun kegiatan tersebut belum dapat dilakukan oleh swasta dan koperasi karena secara komersial tidak menguntungkan. Oleh karena itu, tugas tersebut dapat dilakukan melalui penugasan kepada BUMN. Dalam hal adanya kebutuhan masyarakat luas yang mendesak, pemerintah dapat pula menugasi suatu BUMN yang mempunyai fungsi pelayanan kemanfaatan umum untuk melaksanakan program kemitraan dengan pengusaha golongan ekonomi lemah.

d. become the pioneer of business activities that cannot be performed by private sector and cooperatives;
Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) (d): Pioneering activities shall be business activities to supply goods and/or services that are needed by the public, but such activities cannot be performed by private sector and cooperatives because, commercially speaking, they are not profitable. Therefore, such activities may be performed through assigning State-Owned Entities (BUMN). Where there is an urgent need of the general public, the government may also assign a State-Owned Entity (BUMN) with service function of public benefit to implement a partnership program with entrepreneurs of weak economic group.

(2) Kegiatan BUMN harus sesuai dengan maksud (2) Activities of a State-Owned Entity (BUMN) dan tujuannya serta tidak bertentangan must be consistent with its objectives and dengan peraturan perundang-undangan, purposes and shall not be against the laws ketertiban umum, dan/atau kesusilaan. and regulations, public order, and/or propriety. Pasal 3 Article 3

Terhadap BUMN berlaku Undang-undang ini, This Law, the articles of association, and other anggaran dasar, dan ketentuan peraturan laws and regulations shall apply to State-Owned perundang-undangan lainnya. Entities (BUMN).
Penjelasan Pasal 3: Yang dimaksud dengan peraturan perundangundangan lainnya adalah ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 termasuk perubahannya jika ada dan peraturan pelaksanaannya serta peraturan perundang-undangan sektoral yang mengatur bidang Elucidation of Article 3: “Other laws and regulations” means Law Number 1 of 1995, including its amendments, if any, and its ancillary regulations as well as sectoral laws and regulations that govern the line of business of StateOwned Entities (BUMN) and private entities issued

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

10

usaha BUMN dan swasta yang dikeluarkan oleh departemen/lembaga nondepartemen.

by departments/non-department institutions.

Pasal 4

Article 4

(1) Modal BUMN merupakan dan berasal dari (1) The capital of a State-Owned Entity kekayaan negara yang dipisahkan. (BUMN) constitutes and is derived from the state’s separated assets.
Penjelasan Pasal 4 Ayat (1): Yang dimaksud dengan dipisahkan adalah pemisahan kekayaan negara dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk dijadikan penyertaan modal negara pada BUMN untuk selanjutnya pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, namun pembinaan dan pengelolaannya didasarkan pada prinsip-prinsip perusahaan yang sehat. Elucidation of Article 4 Section (1): "Separated" means separation of the state assets from the State Budget to be used for state’s capital participation in a State-Owned Entity (BUMN), and further, the direction and management thereof are no longer based on the State Budget system, but on the principles of sound corporate governance.

(2) Penyertaan modal negara dalam rangka (2) The state’s capital participation to establish pendirian atau penyertaan pada BUMN or participate in a State-Owned Entity bersumber dari: (BUMN) shall source from: a. Anggaran Negara; Pendapatan dan Belanja a. the State Budget;
Elucidation of Article 4 Section (2) (a): The State Budget also includes State Budget-funded projects that are managed by the State-Owned Entity (BUMN) and/or state receivables in the StateOwned Entity (BUMN) that are used as the state’s capital participation.

Penjelasan Pasal 4 Ayat (2) (a): Termasuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yaitu meliputi pula proyek-proyek Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dikelola oleh BUMN dan/atau piutang negara pada BUMN yang dijadikan sebagai penyertaan modal negara.

b. kapitalisasi cadangan;
Penjelasan Pasal 4 Ayat (2) (b): Yang dimaksud dengan kapitalisasi cadangan adalah penambahan modal disetor yang berasal dari cadangan.

b. capitalization of reserve;
Elucidation of Article 4 Section (2) (b): “Capitalization of reserve" means addition to the paid-up capital that is derived from reserve.

c. sumber lainnya.
Penjelasan Pasal 4 Ayat (2) (c): Yang dimaksud dengan sumber lainnya tersebut, antara lain, adalah keuntungan revaluasi aset.

c. other sources.
Elucidation of Article 4 Section (2) (c): "Other sources" includes, inter alia, revaluation profits. asset

(3) Setiap penyertaan modal negara dalam rangka (3) Any state’s capital participation to establish pendirian BUMN atau perseroan terbatas a State-Owned Entity (BUMN) or a limited yang dananya berasal dari Anggaran liability company with the fund being Pendapatan dan Belanja Negara ditetapkan derived from the State Budget shall be dengan Peraturan Pemerintah. governed by Government Regulation.
Penjelasan Pasal 4 Ayat (3): Pemisahan kekayaan negara untuk dijadikan penyertaan modal negara ke dalam modal BUMN hanya dapat dilakukan dengan cara penyertaan langsung negara ke dalam modal BUMN tersebut, sehingga setiap penyertaan tersebut perlu ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Elucidation of Article 4 Section (3): Separation of the state assets to be used for the state’s capital participation in a State-Owned Entity (BUMN) may be conducted only by state’s direct participation in the capital of said State-Owned Entity (BUMN), therefore each participation requires determination through Government Regulation.

(4) Setiap perubahan penyertaan modal negara (4) Any change in the state’s capital sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), baik participation as intended by section (2), berupa penambahan maupun pengurangan, either in the form of addition or reduction
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

11

termasuk perubahan struktur kepemilikan negara atas saham Persero atau perseroan terbatas, ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

thereof, including change in the composition of ownership by the state in shares of a State-Owned Limited Liability Company (Persero) or limited liability company, shall be governed by Government Regulation.
Elucidation of Article 4 Section (4): A Government Regulation is required to monitor and administer the state assets that are invested in State-Owned Entities (BUMN) and limited liability companies, including addition and reduction of those state assets as well as the change in the structure of state ownership as a result of transfer of state-owned shares or issuance of new shares that are not subscribed by the state..

Penjelasan Pasal 4 Ayat (4): Untuk memonitor dan penatausahaan kekayaan negara yang tertanam pada BUMN dan perseroan terbatas, termasuk penambahan dan pengurangan dari kekayaan negara tersebut serta perubahan struktur kepemilikan negara sebagai akibat adanya pengalihan saham milik negara atau penerbitan saham baru yang tidak diambil bagian oleh negara, perlu ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

(5) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana (5) Addition to the state’s capital participation dimaksud dalam ayat (4) bagi penambahan that is derived from capitalization of reserve penyertaan modal negara yang berasal dari and other sources shall be exempt from the kapitalisasi cadangan dan sumber lainnya. provision as intended by section (4).
Penjelasan Pasal 4 Ayat (5): Penambahan penyertaan dari kapitalisasi cadangan dan sumber lainnya cukup dengan Keputusan RUPS/Menteri dan dilaporkan kepada Menteri Keuangan karena pada prinsipnya kekayaan negara tersebut telah terpisah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Elucidation of Article 4 Section (5): Addition to the participation derived from capitalization of reserve and other sources shall be issued only by a Resolution of the GMS/Decision of the Minister and shall be reported to the Minister of Finance because those state assets have in principle been separated from the State Budget.

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara (6) Further provisions on the procedures for penyertaan dan penatausahaan modal negara participation and administration of the state dalam rangka pendirian atau penyertaan ke capital to establish or participate in a Statedalam BUMN dan/atau perseroan terbatas Owned Entity (BUMN) and/or a limited yang sebagian sahamnya dimiliki oleh liability company, of which the portion of negara, diatur dengan Peraturan Pemerintah. shares is state owned shall be governed by Government Regulation.
Penjelasan Pasal 4 Ayat (6): Peraturan Pemerintah tersebut di antaranya mengatur mekanisme hubungan antara Menteri dengan Menteri Keuangan serta Menteri Teknis sesuai dengan kedudukan dan fungsinya masing-masing, yaitu Menteri Keuangan selaku pengelola keuangan negara, Menteri yang ditunjuk untuk mewakili pemerintah selaku pemegang saham, dan Menteri Teknis selaku regulator. Elucidation of Article 4 Section (6): The Government Regulation shall govern, inter alia, the mechanism of relationship between the Minister and the Minister of Finance as well as the Technical Minister pursuant to their respective positions and functions, i.e., the Minister of Finance as manager of the state finance, the Minister who is designated to represent the government as shareholder, and the Technical Minister as regulator.

Pasal 5 (1) Pengurusan BUMN dilakukan oleh Direksi.

Article 5 (1) The management of a State-Owned Entity (BUMN) shall be conducted by the Board of Directors.

(2) Direksi bertanggung jawab penuh atas (2) The Board of Directors shall be fully pengurusan BUMN untuk kepentingan dan responsible for the management of a Statetujuan BUMN serta mewakili BUMN, baik di Owned Entity (BUMN) in the interest and dalam maupun di luar pengadilan. for the benefit of the State-Owned Entity (BUMN) and shall represent the StateOwned Entity (BUMN) both within and
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

12

outside the court. (3) Dalam melaksanakan tugasnya, anggota (3) In the performance of their duties, the Direksi harus mematuhi anggaran dasar Board of Directors must abide by the BUMN dan peraturan perundang-undangan articles of association of the State-Owned serta wajib melaksanakan prinsip-prinsip Entity (BUMN) and laws and regulations profesionalisme, efisiensi, transparansi, and must serve the principles of kemandirian, akuntabilitas, professionalism, efficiency, transparency, pertanggungjawab, serta kewajaran. independence, accountability, responsibility, and fairness.
Penjelasan Pasal 5 Ayat (3): Direksi selaku organ BUMN yang ditugasi melakukan pengurusan tunduk pada semua peraturan yang berlaku terhadap BUMN dan tetap berpegang pada penerapan prinsip-prinsip good corporate governance yang meliputi: a) transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan; b) kemandirian, yaitu keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat; c) akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban Organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif; Elucidation of Article 5 Section (3): The Board of Directors in their capacity as an organ of a State-Owned Entity (BUMN) that is assigned to perform the management shall be subject to regulations applicable to State-Owned Entities (BUMN) and constantly refer to the principles of good corporate governance that include: a) transparency, i.e., the openness in decisionmaking process and openness in the disclosure of material and relevant information about the company; b) independence, i.e., a condition in which a company is managed professionally without any conflict of interest and influences/pressures from any party wheresoever other than in accordance with the laws and regulations and the principles of sound corporation; c) accountability, i.e., the explanation of functions, implementation and responsibility of the Organs with respect to the effective management of the company;

d) pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat; e) kewajaran, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundangundangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

d) responsibility, i.e., the consistency of the corporate management with laws and regulations and the principles of sound corporation; e) fairness, i.e., the consistency of the corporate management with laws and regulations and the principles of sound corporation.

Pasal 6 (1) Pengawasan BUMN dilakukan Komisaris dan Dewan Pengawas.

Article 6 oleh (1) Supervision of a State-Owned Entity (BUMN) shall be made by the Board of Commissioners and the Board of Supervisors.

(2) Komisaris dan Dewan Pengawas bertanggung (2) The Board of Commissioners and the Board jawab penuh atas pengawasan BUMN untuk of Supervisors shall be fully responsible for kepentingan dan tujuan BUMN. the supervision of a State-Owned Entity (BUMN) in the interest and for the benefit of the State-Owned Entity (BUMN). (3) Dalam melaksanakan tugasnya, Komisaris (3) In the performance of their duties, the Board dan Dewan Pengawas harus mematuhi of Commissioners and the Board of Anggaran Dasar BUMN dan ketentuan Supervisors must abide by the Articles of
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

13

peraturan perundang-undangan serta wajib melaksanakan prinsip-prinsip profesionalisme, efisiensi, transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban, serta kewajaran.
Penjelasan Pasal 6 Ayat (3): Lihat penjelasan Pasal 5 Ayat (3).

Association of the State-Owned Entity (BUMN) and the provisions of laws and regulations and must serve the principles of professionalism, efficiency, transparency, independence, accountability, responsibility, and fairness.
Elucidation of Article 6 Section (3): See elucidation of Article 5 Section (3)

Pasal 7 Para anggota Direksi, Komisaris dan Dewan Pengawas dilarang mengambil keuntungan pribadi baik secara langsung maupun tidak langsung dari kegiatan BUMN selain penghasilan yang sah.
Penjelasan Pasal 7: Mengambil keuntungan pribadi artinya menyalahgunakan wewenangnya sebagai anggota Direksi atau Komisaris atau Dewan Pengawas BUMN untuk kepentingan sendiri, kelompok, atau golongan.

Article 7 At no time shall a member of the Board of Directors, the Board of Commissioners, and the Board of Supervisors make a personal profit either directly or indirectly from the activities of the State-Owned Entity (BUMN), except for legitimate earnings.
Elucidation of Article 7: "Make a personal profit" means to abuse his/her authority as member of the Board of Directors or the Board of Commissioners or the Board of Supervisors of a State-Owned Entity (BUMN) in the interest of own, group, or class.

Pasal 8

Article 8

(1) Anggota Direksi, Komisaris, dan Dewan (1) Members of the Board of Directors, the Pengawas tidak berwenang mewakili BUMN, Board of Commissioners, and the Board of apabila: Supervisors shall not be authorized to represent a State-Owned Entity (BUMN) if: a. terjadi perkara di depan pengadilan antara BUMN dan anggota Direksi atau Komisaris atau Dewan Pengawas yang bersangkutan; atau b. anggota Direksi atau Komisaris atau Dewan Pengawas yang bersangkutan mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan BUMN.
Penjelasan Pasal 8 Ayat (1): Maksud dari ketentuan ini adalah untuk menghindari benturan kepentingan antara anggota Direksi atau Komisaris atau Dewan Pengawas dan BUMN yang diurus/diawasi.

a. a dispute occurs before a court between the State-Owned Entity (BUMN) and the members of the Board of Directors or Board of Commissioners or Board of Supervisors concerned; or b. the relevant members of the Board of Directors or Board of Commissioners or Board of Supervisors have a conflict of interest with the State-Owned Entity (BUMN).
Elucidation of Article 8 Section (1): This provision is intended to prevent a conflict of interest from arising among members of the Board of Directors or the Board of Commissioners or the Board of Supervisors of the State-Owned Entity (BUMN) they manage/supervise.

(2) Dalam anggaran dasar ditetapkan yang (2) The articles of association shall provide a berhak mewakili BUMN apabila terdapat person who is entitled to represent a Statekeadaan sebagaimana dimaksud dalam ayat Owned Entity (BUMN) if circumstances as (1). intended by section (1) should arise. (3) Dalam hal anggaran dasar tidak menetapkan (3) Where the articles of association fail to

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

14

ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), RUPS mengangkat 1 (satu) orang atau lebih pemegang saham untuk mewakili Persero, dan Menteri mengangkat 1 (satu) orang atau lebih untuk mewakili Perum.

provide the provision as intended by section (2), the GMS shall appoint 1 (one) shareholder or more to represent a StateOwned Limited Liability Company (Persero) and the Minister shall appoint 1 (one) person or more to represent a Public Enterprise (Perum). Article 9 State-Owned Entities (BUMN) shall consist of State-Owned Limited Liability Companies (Persero) and Public Enterprises (Perum). CHAPTER II STATE-OWNED LIMITED LIABILITY COMPANIES (PERSERO) Part One Establishment Article 10

Pasal 9 BUMN terdiri dari Persero dan Perum.

BAB II PERSERO Bagian Pertama Pendirian Pasal 10

(1) Pendirian Persero diusulkan oleh Menteri (1) Establishment of a State-Owned Limited kepada Presiden disertai dengan dasar Liability Company (Persero) shall be pertimbangan setelah dikaji bersama dengan proposed by the Minister to the President Menteri Teknis dan Menteri Keuangan. accompanied by considerations upon study made together by the Technical Minister and the Minister of Finance.
Penjelasan Pasal 10 Ayat (1): Pengkajian yang dimaksud dalam ayat ini untuk menentukan layak tidaknya Persero tersebut didirikan melalui kajian atas perencanaan bisnis dan kemampuan untuk mandiri serta mengembangkan usaha dimasa mendatang. Pengkajian dalam hal ini, melibatkan Menteri Teknis sepanjang yang menyangkut kebijakan sektoral. Elucidation of Article 10 Section (1): "Study" in this section means to determine whether or not a State-Owned Limited Liability Company (Persero) is feasible for establishment through a study on the business plan and ability of independence as well as future business development. "Study" in this case shall involve the Technical Minister to the extent sectoral policy is concerned.

(2) Pelaksanaan pendirian Persero dilakukan oleh (2) Establishment of a State-Owned Limited Menteri dengan memperhatikan ketentuan Liability Company (Persero) shall be peraturan perundangan-undangan. conducted by the Minister with due regard to the provisions of laws and regulations.
Penjelasan Pasal 10 Ayat (2): Pelaksanaan pendirian Persero dilakukan oleh Menteri mengingat Menteri merupakan wakil negara selaku pemegang saham pada Persero dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Elucidation of Article 10 Section (2): Implementation of establishment of a State-Owned Limited Liability Company (Persero) shall be conducted by the Minister because the Minister is the representative of the state as shareholder of State-Owned Limited Liability Companies (Persero) by reference to laws and regulations.

Pasal 11 Terhadap Persero berlaku segala ketentuan dan prinsip-prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Article 11 Any provisions and principles that apply to limited liability companies as governed by Law Number 1 of 1995 concerning Limited Liability Companies (Persero) shall apply to State15

Terbatas.
Penjelasan Pasal 11: Mengingat Persero pada dasarnya merupakan perseroan terbatas, semua ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, termasuk pula segala peraturan pelaksanaannya, berlaku juga bagi Persero.

Owned Limited Liability Companies (Persero).
Elucidation of Article 11: Given State-Owned Limited Liability Companies (Persero) are basically limited liability companies, all the provisions of Law Number 1 of 1995 concerning Limited Liability Companies, including the ancillary regulations thereof shall also apply to State-Owned Limited Liability Companies (Persero).

Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 12 Maksud dan tujuan pendirian Persero adalah:

Part Two Objectives and Purposes Article 12 The objectives and purposes of establishment of a State-Owned Limited Liability Company (Persero) shall be to:

a. menyediakan barang dan/atau jasa yang a. supply high quality and highly-competitive bermutu tinggi dan berdaya saing kuat; goods and/or services; b. mengejar keuntungan guna meningkatkan b. make a profit in order to increase the nilai perusahaan. corporate value.
Penjelasan Pasal 12: Persero sebagai salah satu pelaku ekonomi nasional dituntut untuk dapat memenuhi permintaan pasar melalui penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat baik di pasar dalam negeri maupun internasional. Dengan demikian dapat meningkatkan keuntungan dan nilai Persero yang bersangkutan sehingga akan memberikan manfaat yang optimal bagi pihak-pihak yang terkait. Elucidation of Article 12: A State-Owned Limited Liability Company (Persero) as one of the national economic actors is called for to meet the market demands through the supply of high-quality and highly competitive goods and/or services in both domestic and international markets. This way, it may increase the profits and value of the State-Owned Limited Liability Company (Persero) concerned, giving optimal benefits to the relevant parties.

Bagian Ketiga Organ Pasal 13

Part Three Organs Article 13

Organ Persero adalah RUPS, Direksi, dan Organs of a State-Owned Limited Liability Komisaris. Company (Persero) shall be the GMS, the Board of Directors, and the Board of Commissioners. Bagian Keempat Kewenangan RUPS Pasal 14 Part Four Authority of the GMS Article 14

(1) Menteri bertindak selaku RUPS dalam hal (1) The Minister shall act in his/her capacity as seluruh saham Persero dimiliki oleh negara a GMS where all shares of the State-Owned dan bertindak selaku pemegang saham pada Limited Liability Company (Persero) are Persero dan perseroan terbatas dalam hal state owned, and act in his/her capacity as a tidak seluruh sahamnya dimiliki oleh negara. shareholder of the State-Owned Limited Liability Company (Persero) and a limited liability company where not all of the shares are state owned.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

16

Penjelasan Pasal 14 Ayat (1): Bagi Persero yang seluruh modalnya (100%) dimiliki oleh negara, Menteri yang ditunjuk mewakili negara selaku pemegang saham dalam setiap keputusan tertulis yang berhubungan dengan Persero adalah merupakan keputusan RUPS. Bagi Persero dan perseroan terbatas yang sahamnya dimiliki negara kurang dari 100% (seratus persen), Menteri berkedudukan selaku pemegang saham dan keputusannya diambil bersama-sama dengan pemegang saham lainnya dalam RUPS.

Elucidation of Article 14 Section (1): In the case a State-Owned Limited Liability Company (Persero) with the entire capital (100%) being state owned, the Minister designated to represent the state as shareholder in any written resolution concerning the State-Owned Limited Liability Companies (Persero) shall be a resolution of the GMS. In the case a State-Owned Limited Liability Company (Persero) and a limited liability company with the state-owned shares being less than 100% (one hundred percent), the Minister shall have the capacity as shareholder and his/her resolution shall be made together with other shareholders in the GMS.

(2) Menteri dapat memberikan kuasa dengan hak (2) The Minister may authorize an individual or substitusi kepada perorangan atau badan a legal entity with the right of substitution hukum untuk mewakilinya dalam RUPS. to represent him/her in the GMS.
Penjelasan Pasal 14 Ayat (2): Yang dimaksud dengan perorangan adalah seseorang yang menduduki jabatan di bawah Menteri yang secara teknis bertugas membantu Menteri selaku pemegang saham pada Persero yang bersangkutan. Namun demikian, dalam hal dipandang perlu, tidak tertutup kemungkinan kuasa juga dapat diberikan kepada badan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Elucidation of Article 14 Section (2): "Individual" means a person who holds office ranked below the Minister who technically has the duty to assist the Minister as shareholder of the relevant State-Owned Limited Liability Company (Persero). However, if deemed necessary, this does not preclude from authorizing a legal entity under laws and regulations.

(3) Pihak yang menerima kuasa sebagaimana (3) To make a resolution in the GMS on the dimaksud dalam ayat (2), wajib terlebih following matters, the authorized party dahulu mendapat persetujuan Menteri untuk must as intended by section (2) first obtain mengambil keputusan dalam RUPS approval of the Minister with respect to: mengenai: a. perubahan jumlah modal; b. perubahan anggaran dasar; c. rencana penggunaan laba; d. penggabungan, peleburan, pengambilalihan, pemisahan, serta pembubaran Persero; e. investasi dan pembiayaan jangka panjang; f. kerja sama Persero; g. pembentukan penyertaan; anak perusahaan atau a. a change in the amount of capital; b. amendments association; to the articles of

c. planned utilization of profits; d. a merger, consolidation, acquisition, division, and dissolution of the StateOwned Limited Liability Company (Persero); e. long-term investment and financing; f. cooperation of the State-Owned Limited Liability Company (Persero); g. formation of participation; h. transfer of assets.
Elucidation of Article 14 Section (3): Despite the position of the Minister as government representative having been delegated to an individual or legal entity to represent him/her in a GMS, in certain cases, the authorized party must first obtain approval of the Minister before such matters are resolved in the GMS. This requires approval of the Minister first because of its strategic characteristics 17

subsidiaries

or

h. pengalihan aktiva.
Penjelasan Pasal 14 Ayat (3): Meskipun kedudukan Menteri selaku wakil pemerintahan telah dikuasakan kepada perorangan atau badan hukum untuk mewakilinya dalam RUPS, untuk hal-hal tertentu penerima kuasa wajib terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari Menteri sebelum hal-hal dimaksud diputuskan dalam RUPS. Hal ini perlu mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Menteri mengingat sifatnya yang sangat strategis bagi kelangsungan Persero.

for the State-Owned Limited Liability Company (Persero) to survive.

Bagian Kelima Direksi Persero Pasal 15

Part Five The Board of Directors of a State-Owned Limited Liability Company (Persero) Article 15

(1) Pengangkatan dan pemberhentian Direksi (1) Appointment and dismissal of the Board of dilakukan oleh RUPS. Directors shall be effected by the GMS. (2) Dalam hal Menteri bertindak selaku RUPS, (2) Where the Minister acts in his/her capacity pengangkatan dan pemberhentian Direksi as a GMS, appointment and dismissal of the ditetapkan oleh Menteri Board of Directors shall be determined by the Minister.
Penjelasan Pasal 15 Ayat (2): Dalam kedudukannya selaku RUPS, pengangkatan dan pemberhentian cukup dilakukan dengan keputusan Menteri. Keputusan Menteri tersebut mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan keputusan yang diambil secara sah dalam RUPS. Elucidation of Article 15 Section (2): In his/her position as a GMS, his/her appointment and dismissal by Decision of the Minister would suffice. Such a Decision of the Minister shall have the same force and effect of law as the resolution validly made by the GMS.

Pasal 16

Article 16

(1) Anggota Direksi diangkat berdasarkan (1) A member of the Board of Directors shall pertimbangan keahlian, integritas, be appointed in consideration of his/her kepemimpinan, pengalaman, jujur, perilaku expertise, integrity, leadership, experience, yang baik, serta dedikasi yang tinggi untuk honesty, good behavior, and high dedication memajukan dan mengembangkan Persero. to advance and develop the State-Owned Limited Liability Company (Persero). (2) Pengangkatan anggota Direksi dilakukan (2) Appointment of a member of the Board of melalui mekanisme uji kelayakan dan Directors shall be made through the kepatutan. mechanism of a fit and proper test.
Penjelasan Pasal 16 Ayat (2): Mengingat kedudukan Direksi sebagai organ Persero strategis dalam mengurus perusahaan guna mencapai maksud dan tujuan perusahaan untuk mengisi jabatan tersebut diperlukan calon-calon anggota Direksi yang mempunyai keahlian, integritas, kejujuran, kepemimpinan, pengalaman, perilaku yang baik, dan dedikasi yang tinggi, serta mempunyai visi pengembangan perusahaan. Untuk memperoleh calon-calon anggota Direksi yang terbaik, diperlukan seleksi melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang dilakukan secara transparan, profesional, mandiri dan dapat dipertanggungjawabkan. Uji kelayakan dan kepatutan tersebut dilakukan oleh suatu tim yang ditunjuk oleh Menteri selaku RUPS dalam hal seluruh sahamnya dimiliki oleh negara, dan ditunjuk oleh Menteri selaku pemegang saham dalam hal sebagian sahamnya dimiliki oleh negara, khusus bagi Direksi yang mewakili unsur pemerintah. Elucidation of Article 16 Section (2): Given the position of the Board of Directors as a organ of a State-Owned Limited Liability Company (Persero) is strategic in the management of the company for achievement of the objectives and purposes of the company, to fill that office requires a nominee for a member of the Board of Directors with expertise, integrity, honesty, leadership, experience, good behavior, and high dedication as well as vision of the company development. To hire the best nominee for a member of the Board of Directors requires a selection through a fit and proper test that is administered transparently, professionally, independently, and accountably. In the special case of the Board of Directors representing the elements of the government, a fit and proper test shall be administered by a team appointed by the Minister in his/her capacity as a GMS where all of the shares are state owned, and appointed by the Minister in his/her capacity as shareholder where part of the shares are state owned.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

18

Anggota-anggota tim yang ditunjuk oleh Menteri harus memenuhi kriteria antara lain profesionalitas, pemahaman bidang manajemen dan usaha BUMN yang bersangkutan, tidak memiliki benturan kepentingan (conflict of interest) dengan calon anggota Direksi yang bersangkutan dan memiliki integritas serta dedikasi yang tinggi. Menteri dapat pula menunjuk lembaga profesional yang independen untuk melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon-calon anggota Direksi Persero.

A member of the team that is appointed by the Minister must meet the criteria of, inter alia, be professional, aware of the management and business of State-Owned Entities (BUMN) concerned, lack a conflict of interest with the nominee for a member of the Board of Directors concerned; and have high integrity and dedication. The Minister may also appoint an independent professional institution to administer a fit and proper test to the nominee for a member of the Board of Directors of the StateOwned Limited Liability Company (Persero).

(3) Calon anggota Direksi yang telah dinyatakan (3) A member nominee of the Board of lulus uji kelayakan dan kepatutan wajib Directors that has been declared to have menandatangani kontrak manajemen sebelum passed a fit and proper test must sign a ditetapkan pengangkatannya sebagai anggota management contract prior to his/her Direksi. appointment as a member of the Board of Directors being determined.
Penjelasan Pasal 16 Ayat (3): Yang dimaksud dengan kontrak manajeman adalah statement of corporate intent (SCI) yang, antara lain, berisikan janji-janji atau pernyataan Direksi untuk memenuhi segala target-target yang ditetapkan oleh pemegang saham. Kontrak manajeman tersebut diperbaharui setiap tahun untuk disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan perusahaan. Elucidation of Article 16 Section (3): "Management contract" means a statement of corporate intent (SCI) that contains, inter alia, undertaking or statements of the Board of Directors to meet all targets determined by the shareholders. The management contract shall be subject to renewal every year to reflect the condition and development of the company.

(4) Masa jabatan anggota Direksi ditetapkan 5 (4) The term of office of a member of the (lima) tahun dan dapat diangkat kembali Board of Directors shall be for 5 (five) untuk 1 (satu) kali masa jabatan. years, and he/she may be re-appointed for 1 (one) term of office.
Penjelasan Pasal 16 Ayat (4): Anggota Direksi yang telah menyelesaikan masa jabatannya dapat dipertimbangkan untuk diangkat kembali berdasarkan penilaian kinerja pada periode sebelumnya. Elucidation of Article 16 Section (4): A member of the Board of Directors who has completed his/her term of office may be taken into consideration for re-appointment under the performance assessment of the previous term.

(5) Dalam hal Direksi terdiri atas lebih dari (5) Where the Board of Directors consists of seorang anggota, salah seorang anggota more than one member, any of the members Direksi diangkat sebagai direktur utama. of the Board of Directors shall be appointed as president director. Pasal 17 Anggota Direksi sewaktu-waktu diberhentikan berdasarkan keputusan dengan menyebutkan alasannya. Article 17 dapat A member of the Board of Directors may at any RUPS time be dismissed under a resolution of the GMS by reference to the reasons therefor.
Elucidation of Article 17: "At any time be dismissed" means the dismissal before his/her term of office expires. The at-anytime dismissal shall be effected if the Board of Directors, inter alia, fails to meet their obligations that have been agreed in the management contract; fails to perform their duties properly; violates the provisions of the articles of association and/or laws and regulations; is declared guilty by a court decision that has become final and binding, dies, and resigns.

Penjelasan Pasal 17: Yang dimaksud dengan pemberhentian sewaktu-waktu adalah pemberhentian sebelum masa jabatannya berakhir. Pemberhentian sewaktu-waktu tersebut dilakukan apabila Direksi antara lain tidak dapat memenuhi kewajibannya yang telah disepakati dalam kontrak manajemen, tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, melanggar ketentuan anggaran dasar dan/atau peraturan perundang-undangan, dinyatakan bersalah dengan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap,

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

19

meninggal dunia, dan mengundurkan diri.

Pasal 18 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian anggota Direksi diatur dengan Keputusan Menteri. Pasal 19 Dalam melaksanakan tugasnya, anggota Direksi wajib mencurahkan tenaga, pikiran dan perhatian secara penuh pada tugas, kewajiban, dan pencapaian tujuan Persero.

Article 18 Further provisions on the requirements and procedures for appointment and dismissal of members of the Board of Directors shall be governed by Decision of the Minister. Article 19 In the performance of his/her duties, a member of the Board of Directors must exhaust most of his/her energy, thought and attention to the duties, obligations, and achievement of the purpose of the State-Owned Limited Liability Company (Persero). Article 20

Pasal 20

Dengan memperhatikan sifat khusus masing- The Board of Directors may appoint a masing Persero, Direksi dapat mengangkat corporate secretary with due regard to the seorang sekretaris perusahaan. unique characteristics of the individual StateOwned Limited Liability Companies (Persero).
Penjelasan Pasal 20: Sekretaris perusahaan (corporate secretary) berfungsi untuk memastikan bahwa Persero mematuhi peraturan tentang persyaratan keterbukaan sejalan dengan penerapan prinsip-prinsip good corporate governance, memberikan informasi untuk Direksi dan Komisaris secara berkala apabila diminta. Sekretaris perusahaan harus memenuhi kualifikasi profesionalisme yang memadai. Elucidation of Article 20: A corporate secretary shall have the functions to ensure that the State-Owned Limited Liability Company (Persero) is in compliance with the regulations on requirements for disclosure as in line with the application of the principles of good corporate governance, to give information to the Board of Directors and the Board of Commissioners periodically, if requested. A corporate secretary must meet the qualifications of professionalism adequately. A corporate secretary shall be appointed and dismissed by the Board of Directors and responsible to the Board of Directors.

Sekretaris perusahaan diangkat dan diberhentikan oleh Direksi serta bertanggung jawab kepada Direksi.

Pasal 21

Article 21

(1) Direksi wajib menyiapkan rancangan rencana (1) The Board of Directors must prepare a draft jangka panjang yang merupakan rencana long-term plan that reflects a strategic plan strategis yang memuat sasaran dan tujuan that contains targets and purposes of the Persero yang hendak dicapai dalam jangka State-Owned Limited Liability Company waktu 5 (lima) tahun. (Persero) to be achieved within 5 (five) years.
Penjelasan Pasal 21 Ayat (1): Rancangan rencana jangka panjang memuat, antara lain: a. b. c. evaluasi pelaksanaan rencana jangka panjang sebelumnya; posisi perusahaan saat ini; asumsi-asumsi yang dipakai dalam penyusunan Elucidation of Article 21 Section (1): A draft long-term plan shall contain, inter alia: a. b. c. evaluation of the implementation of the previous long-term plan; current position of the company; assumptions that are made in the arrangement 20

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

rencana jangka panjang; d. penetapan misi, sasaran, strategi, kebijakan, dan program kerja rencana jangka panjang. d.

of the long-term plan; determination of mission, targets, strategy, policy, and work program of the long-term plan.

(2) Rancangan rencana jangka panjang yang (2) A draft long-term plan that has been cotelah ditandatangani bersama dengan signed by the Board of Commissioners shall Komisaris disampaikan kepada RUPS untuk be delivered to the GMS for ratification. mendapatkan pengesahan.
Penjelasan Pasal 21 Ayat (2): Komisaris sebelum menandatangani rancangan rencana jangka panjang yang disampaikan oleh Direksi, wajib membahas secara bersama-sama dengan Direksi. Dengan ditandatangani bersama, semua anggota Direksi dan Komisaris bertanggung jawab atas isi rancangan rencana jangka panjang yang dimaksud. Elucidation of Article 21 Section (2): Before signing a draft long-term plan delivered by the Board of Directors, the Board of Commissioners must discuss it with the Board of Directors. Upon the joint signing, all members of the Board of Directors and the Board of Commissioners shall be responsible for the contents of the draft long-term plan concerned.

Pasal 22

Article 22

(1) Direksi wajib menyiapkan rancangan rencana (1) The Board of Directors must prepare a draft kerja dan anggaran perusahaan yang work and budget plan of the company that merupakan penjabaran tahunan dari rencana reflects an annual breakdown of the longjangka panjang. term plan.
Penjelasan Pasal 22 Ayat (1): Rancangan rencana kerja dan anggaran perusahaan memuat antara lain: a. misi Persero, sasaran usaha, strategi usaha, kebijakan perusahaan, dan program kerja/kegiatan; anggaran perusahaan yang dirinci atas setiap anggaran program kerja/kegiatan; proyeksi keuangan perusahaannya; Persero dan anak Elucidation of Article 22 Section (1): A draft work and budget plan of the company shall contain, inter alia: a. the mission of the State-Owned Limited Liability Company (Persero), business targets, business strategy, policy of the company, and work/activity programs; the budget of the company that is broken down in detail into every budget for work/activity programs; the financial projections of the State-Owned Limited Liability Company (Persero) and its subsidiaries; other matters that require a resolution of the GMS.

b.

b.

c.

c.

d.

hal-hal lain yang memerlukan keputusan RUPS.

d.

(2) Direksi wajib menyampaikan rancangan (2) The Board of Directors must deliver a draft rencana kerja dan anggaran perusahaan work and budget plan to the GMS for kepada RUPS untuk memperoleh ratification. pengesahan.
Penjelasan Pasal 22 Ayat (2): Mengingat rencana kerja dan anggaran perusahaan disahkan oleh RUPS, setiap perubahannya juga harus disetujui oleh RUPS, kecuali ditentukan lain dalam keputusan RUPS mengenai pengesahan rencana kerja dan anggaran perusahaan dimaksud. Elucidation of Article 22 Section (2): As a work and budget plan is ratified by the GMS, any amendments thereof must also be ratified by the GMS, except provided otherwise by a resolution of the GMS concerning ratification of the work and budget plan of the company.

Pasal 23

Article 23

(1) Dalam waktu 5 (lima) bulan setelah tahun (1) Within 5 (five) months after the financial buku Persero ditutup, Direksi wajib year of the State-Owned Limited Liability menyampaikan laporan tahunan kepada Company (Persero) has ended, the Board of
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

21

RUPS untuk memperoleh pengesahan.
Penjelasan Pasal 23 Ayat (1): Laporan tahunan memuat antara lain: a. Perhitungan tahunan yang terdiri dari neraca akhir tahun buku yang baru lampau dan perhitungan laba rugi dari tahun buku yang bersangkutan serta penjelasan atas dokumen tersebut; Neraca gabungan dari perseroan yang tergabung dalam satu group, disamping neraca dari masingmasing perseroan tersebut; Laporan mengenai keadaan dan jalannya perseroan, serta hasil yang telah tercapai; Kegiatan utama perseroan dan perubahan selama tahun buku; Rincian masalah yang timbul selama tahun buku yang mempengaruhi kegiatan perseroan; Nama anggota Direksi dan Komisaris; dan Gaji dan tunjangan lain bagi anggota Direksi dan honorarium serta tunjangan lain bagi anggota Komisaris.

Directors must submit an annual report to the GMS for ratification.
Elucidation of Article 23 Section (1): An annual report shall contain, inter alia: a. The annual statements that consist of a year-end balance sheet of the proceeding year and profit/loss statement of the same proceeding year as well as the explanations of those documents; The consolidated balance sheet of the company of the same group, in addition to the respective balance sheet of each company of the same group; The report on the condition and operation of the company and the results that have been achieved; The main line of business of the company and changes during the relevant financial year; The details of the problems arising during the financial year that affected the activities of the company; The names of members of the Board of Directors and the Board of Commissioners; and The salaries and other benefits of the members of the Board of Directors and honoraria as well as other benefits of the members of the Board of Commissioners.

b.

b.

c.

c.

d. e.

d. e.

f. g.

f. g.

(2) Laporan tahunan sebagaimana dimaksud (2) An annual report as intended by section (1) dalam ayat (1) ditandatangani oleh semua shall be signed by all members of the Board anggota Direksi dan Komisaris. of Directors and the Board of Commissioners.
Penjelasan Pasal 23 Ayat (2): Komisaris sebelum menandatangani laporan tahunan yang disampaikan oleh Direksi, wajib membahas secara bersama-sama dengan Direksi. Dengan ditandatangani bersama, semua anggota Direksi dan Komisaris bertanggung jawab atas isi laporan tahunan dimaksud. Elucidation of Article 23 Section (2): Before signing the annual report submitted by the Board of Directors, the Board of Commissioners must discuss it with the Board of Directors. Upon the joint signing, all members of the Board of Directors and the Board of Commissioners shall be responsible for the contents of the annual report.

(3) Dalam hal ada anggota Direksi atau (3) Where there is a member of the Board of Komisaris tidak menandatangani laporan Directors or the Board of Commissioners tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat not signing an annual report as intended by (2), harus disebutkan alasannya secara section (2), he/she must refer to the reasons tertulis. therefor in writing.
Penjelasan Pasal 23 Ayat (3): Alasan anggota Direksi tidak menandatangani perlu dijelaskan secara tertulis kepada RUPS agar RUPS dapat menggunakannya sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam memberikan penilaian terhadap laporan tersebut. Elucidation of Article 23 Section (3): The reasons for failure of the members of the Board of Directors to sign it should be explained in writing to the GMS, allowing the GMS to use it as any of the considerations in making assessment of the report.

Pasal 24

Article 24

Ketentuan lebih lanjut mengenai rencana jangka Further provisions on a long-term plan, work
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

22

panjang, rencana kerja dan anggaran perusahaan, and budget plan of company, annual report and laporan tahunan dan perhitungan tahunan Persero annual calculation of a State-Owned Limited diatur dengan Keputusan Menteri. Liability Company (Persero) shall be governed by Decision of the Minister.
Penjelasan Pasal 24: Selain mengatur rencana jangka panjang, rencana kerja dan anggaran perseroan, laporan tahunan dan perhitungan tahunan, dalam keputusan Menteri tersebut, diatur pula antara lain mengenai tingkat kesehatan Persero. Elucidation of Article 24: In addition to organizing a long-term plan, work and budget plan, annual report, and annual statements, the Decision of the Minister shall also govern, inter alia, the solvency level of the State-Owned Limited Liability Company (Persero).

Pasal 25

Article 25

Anggota Direksi dilarang memangku jabatan At no time shall a member of the Board of rangkap sebagai: Directors hold concurrent office as: a. anggota Direksi pada BUMN, badan usaha a. member of the Board of Directors of a milik daerah, badan usaha milik swasta, dan State-Owned Entity (BUMN), regionjabatan lain yang dapat menimbulkan owned entity, private-owned entity, and benturan kepentingan; other office that may result in a conflict of interest; b. jabatan struktural dan fungsional lainnya pada b. other structural and functional office in instansi/lembaga pemerintah pusat dan agency/central and regional government; daerah; dan/atau and/or c. jabatan lainnya sesuai dengan ketentuan c. other office pursuant to the provisions of peraturan perundang-undangan. laws and regulations.
Penjelasan Pasal 25: Larangan perangkapan jabatan tersebut dimaksudkan agar anggota Direksi benar-benar mencurahkan segala tenaga dan pikirannya dan/atau perhatian secara penuh pada tugas, kewajiban dan pencapaian tujuan Persero serta menghindari timbulnya benturan kepentingan. Elucidation of Article 25: Prohibition from holding concurrent office is intended to allow the members of the Board of Directors to fully exhaust their energy and thought and/or attention on the duties, obligations and achievement of the purposes of the State-Owned Limited Liability Company (Persero) and prevent a conflict of interest from arising.

Pasal 26

Article 26

Direksi wajib memelihara risalah rapat dan The Board of Directors must maintain the menyelenggarakan pembukuan Persero. minutes of meetings and establish bookkeeping of a State-Owned Limited Liability Company (Persero).
Penjelasan Pasal 26: Yang dimaksud dengan risalah rapat dalam pasal ini adalah risalah rapat Direksi, Komisaris, dan risalah RUPS. Direksi perlu memelihara risalah rapat tersebut karena merupakan dokumen resmi yang memuat hal-hal yang dibicarakan dan diputuskan dalam rapat, serta merupakan bukti yang melatarbelakangi diambilnya suatu tindakan, baik oleh Direksi, Komisaris, maupun pemegang saham dalam pengelolaan perusahaan. Pembukuan Persero dibuat sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku. Elucidation of Article 26: "Minutes of meeting" in this article means the minutes of meeting of the Board of Directors, the Board of Commissioners, and the GMS. The Board of Directors shall maintain the minutes of meetings because they are formal documents that contain matters discussed and resolved in the meeting and are proof upon which acts are performed, either by the Board of Directors, the Board of Commissioners, or shareholders in the management of the company. Bookkeeping of the State-Owned Limited Liability Company (Persero) shall be prepared pursuant to the financial accounting standards that reflect the prevailing accounting principles. 23

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Setiap perubahan baik yang diakibatkan oleh transaksi maupun oleh kejadian lain dalam Persero yang mempengaruhi aktiva, hutang, modal, biaya, dan pendapatan harus dibukukan atas dasar sistem akuntansi yang dipertanggungjawabkan dan diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip pengendalian intern, terutama pemisahan fungsi pengurusan, pencatatan, penyimpanan, dan pengawasan.

Any change resulting from transactions or other events that occur in the State-Owned Limited Liability Company (Persero) and affecting the asset, liabilities, capital, expenses, and income must be booked under an accountable accounting system and performed under the principles of internal control, especially separation of functions in the management, recording, storage, and supervision.

Bagian Keenam Komisaris Pasal 27

Part Six The Board of Commissioners Article 27

(1) Pengangkatan dan pemberhentian Komisaris (1) Appointment and dismissal of the Board of dilakukan oleh RUPS. Commissioners shall be effected by the GMS. (2) Dalam hal Menteri bertindak selaku RUPS, (2) Where the Minister acts in his/her capacity pengangkatan dan pemberhentian Komisaris as a GMS, appointment and dismissal of the ditetapkan oleh Menteri. Board of Commissioners shall be determined by the Minister.
Penjelasan Pasal 27 Ayat (2): Lihat penjelasan Pasal 15 ayat (2). Elucidation of Article 27 Section (2): See elucidation of Article 15 section (2).

Pasal 28

Article 28

(1) Anggota Komisaris diangkat berdasarkan (1) A member of the Board of Commissioners pertimbangan integritas, dedikasi, memahami shall be appointed in consideration of masalah-masalah manajemen perusahaan his/her integrity, dedication, awareness of yang berkaitan dengan salah satu fungsi management problems with respect to any manajemen, memiliki pengetahuan yang of the managerial functions, adequate memadai di bidang usaha Persero tersebut, knowledge in the line of business of that serta dapat menyediakan waktu yang cukup State-Owned Limited Liability Company untuk melaksanakan tugasnya. (Persero), and ability to allow sufficient time to perform his/her duties. (2) Komposisi Komisaris harus ditetapkan (2) The composition of the Board of sedemikian rupa sehingga memungkinkan Commissioners must be determined in such pengambilan keputusan dapat dilakukan manner that allows any decision to be made secara efektif, tepat dan cepat, serta dapat effectively, accurately and quickly, and bertindak secara independen. allows them to act independently.
Penjelasan Pasal 28 Ayat (2): Yang dimaksud dengan bertindak secara independen adalah bahwa Komisaris tidak boleh mempunyai kepentingan yang dapat mengganggu kemampuannya untuk melaksanakan tugasnya secara mandiri dan kritis dalam hubungan satu sama lain dan terhadap Direksi. Elucidation of Article 28 Section (2): "To act independently" means the Board of Commissioners may not have an interest that may affect their ability in the performance of their duties independently and should be critical of relationship with one another and the Board of Directors.

(3) Masa jabatan anggota Komisaris ditetapkan 5 (3) The term of office of a member of the (lima) tahun dan dapat diangkat kembali Board of Commissioners shall be for 5 untuk 1 (satu) kali masa jabatan. (five) years and she/he may be re-appointed for 1 (one) term of office.
Penjelasan Pasal 28 Ayat (3): Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (4).
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Elucidation of Article 28 Section (3): See elucidation of Article 16 section (4). 24

(4) Dalam hal Komisaris terdiri atas lebih dari (4) Where the Board of Commissioners seorang anggota, salah seorang anggota consists of more than one member, any of Komisaris diangkat sebagai komisaris utama. the members of the Board of Commissioners shall be appointed as president commissioner. (5) Pengangkatan anggota Komisaris tidak (5) No appointment of a member of the Board bersamaan waktunya dengan pengangkatan of Commissioners shall be made anggota Direksi, kecuali pengangkatan untuk concurrently with the appointment of a pertama kalinya pada waktu pendirian. member of the Board of Directors, except for initial appointment at the time of establishment.
Penjelasan Pasal 28 Ayat (5): Pengangkatan anggota Komisaris yang tidak bersamaan dengan anggota Direksi dimaksudkan agar tidak terjadi kekosongan jabatan apabila anggota Komisaris atau anggota Direksi telah berakhir masa jabatannya kecuali pengangkatan yang pertama kali untuk pendirian Persero. Elucidation of Article 28 Section (5): Appointment of a member of the Board of Commissioners made concurrently with a member of the Board of Directors aims to prevent a vacant office if the term of office of the members of the Board of Commissioners and the Board of Directors has expired, except for initial appointment at the time of establishment of a State-Owned Limited Liability Company (Persero).

Pasal 29 Anggota Komisaris sewaktu-waktu diberhentikan berdasarkan keputusan dengan menyebutkan alasannya.
Penjelasan Pasal 29: Lihat penjelasan Pasal 17.

Article 29 dapat A member of the Board of Commissioners may RUPS at any time be dismissed under a resolution of the GMS by reference to the reasons therefor.
Elucidation of Article 29: See elucidation of Article 17.

Pasal 30

Article 30

Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan Further provisions on the requirements and tata cara pengangkatan dan pemberhentian procedures for appointment and dismissal of Komisaris diatur dengan Keputusan Menteri. the Board of Commissioners shall be governed by Decision of the Minister. Pasal 31 Article 31

Komisaris bertugas mengawasi Direksi dalam The Board of Commissioners shall have the menjalankan kepengurusan Persero serta duty to supervise the Board of Directors in the memberikan nasihat kepada Direksi. performance of the management of the StateOwned Limited Liability Company (Persero) and to give recommendations to the Board of Directors.
Penjelasan Pasal 31: Komisaris dalam melakukan tugasnya berkewajiban: a. memberikan pendapat dan saran kepada RUPS mengenai rencana kerja dan anggaran perusahaan yang diusulkan Direksi; mengikuti perkembangan kegiatan Persero, memberikan pendapat dan saran kepada RUPS mengenai setiap masalah yang dianggap penting Elucidation of Article 31: In the performance of its duties, the Board of Commissioners must: a. give opinions and recommendations to the GMS on work and budget plan of the company as proposed by the Board of Directors; follow the development of company's business, to give opinions and recommendations to the GMS concerning any issues deemed important

b.

b.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

25

bagi pengurusan Persero; c. melaporkan dengan segera kepada pemegang saham apabila terjadi gejala menurunnya kinerja Persero; memberikan nasihat kepada Direksi melaksanakan pengurusan Persero; dalam c.

for the management of the State-Owned Limited Liability Company (Persero); promptly report to the shareholders if it shows some degradation of performance of the StateOwned Limited Liability Company (Persero); give advice to the Board of Directors in the performance of the management of the StateOwned Limited Liability Company (Persero); perform other supervisory duties as determined by the articles of association of the StateOwned Limited Liability Company (Persero) and/or by the resolution of the GMS.

d.

d.

e.

melakukan tugas pengawasan lain yang ditetapkan anggaran dasar Persero dan/atau berdasarkan keputusan RUPS.

e.

Selain itu, agar Komisaris dapat melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan tugas dan fungsinya, Komisaris mempunyai wewenang sebagai berikut: a. melihat buku-buku, surat-surat, serta dokumendokumen lainnya, memeriksa kas untuk keperluan verifikasi dan memeriksa kekayaan Persero; memasuki pekarangan, gedung, dan kantor yang dipergunakan oleh Persero; meminta penjelasan dari Direksi dan/atau pejabat lainnya mengenai segala persoalan yang menyangkut pengelolaan Persero;

Additionally, to enable the Board of Commissioners to perform their duties properly consistent with their duties and functions, the Board of Commissioners shall have the following authority: a. inspect books, letters, and other documents; audit cash for verification purpose; and audit the assets of the State-Owned Limited Liability Company (Persero); enter into the premises, buildings, and offices that are used by the State-Owned Limited Liability Company (Persero); make a request for explanations from the Board of Directors and/or other officials with regard to all matters related to the management of the State-Owned Limited Liability Company (Persero); request the Board of Directors and/or other officials, to the knowledge of the Board of Directors, to attend the meetings of the Board of Commissioners; attend the meetings of the Board of Directors and give opinions on matters in question; suspend the Board of Directors with reference to the reasons therefor; other authority deemed necessary as governed by the articles of association of the State-Owned Limited Liability Company (Persero).

b.

b.

c.

c.

d.

meminta Direksi dan/atau pejabat lainnya dengan sepengetahuan Direksi untuk menghadiri rapat Komisaris; menghadiri rapat Direksi dan memberikan pandangan-pandangan terhadap hal-hal yang dibicarakan; memberhentikan sementara menyebutkan alasannya; Direksi, dengan

d.

e.

e.

f. g.

f. g.

wewenang lain yang dianggap perlu sebagaimana diatur dalam anggaran dasar Persero.

Pasal 32

Article 32

(1) Dalam anggaran dasar dapat ditetapkan (1) The articles of association may provide the pemberian wewenang kepada Komisaris authorization to the Board of untuk memberikan persetujuan kepada Commissioners to give approval to the Direksi dalam melakukan perbuatan hukum Board of Directors to perform certain legal tertentu. acts. (2) Berdasarkan anggaran dasar atau keputusan (2) Under the articles of association or RUPS, Komisaris dapat melakukan tindakan resolution of the GMS, the Board of pengurusan Persero dalam keadaan tertentu Commissioners may perform the untuk jangka waktu tertentu. management of the State-Owned Limited Liability Company (Persero) in certain circumstances for a definite period of time.
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

26

Penjelasan Pasal 32 Ayat (2): Ketentuan ini memberi wewenang kepada Komisaris untuk melakukan pengurusan Persero yang sebenarnya hanya dapat dilakukan oleh Direksi dalam hal Direksi tidak ada. Apabila ada Direksi, Komisaris hanya dapat melakukan tindakan tertentu yang ditentukan oleh RUPS dalam anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan.

Elucidation of Article 32 Section (2): This provision authorizes the Board of Commissioners to perform the management of a State-Owned Limited Liability Company (Persero) that actually may only be performed by the Board of Directors where the Board of Directors is unavailable. If the Board of Directors is available, the Board of Commissioners may only perform certain acts determined by the GMS in the articles of association and laws and regulations.

Pasal 33

Article 33

Anggota Komisaris dilarang memangku jabatan At no time shall a member of the Board of rangkap sebagai: Commissioners hold concurrent office as: a. anggota Direksi pada BUMN, badan usaha a. member of the Board of Directors of a milik daerah, badan usaha milik swasta, dan State-Owned Entity (BUMN), regionjabatan lain yang dapat menimbulkan owned entity, private-owned entity, and benturan kepentingan; atau/atau other office that may result in a conflict of interest; and/or b. jabatan lainnya sesuai dengan ketentuan b. other office pursuant to the provisions of peraturan perundang-undangan. laws and regulations.
Penjelasan Pasal 33: Larangan perangkapan jabatan tersebut dimaksudkan agar anggota Komisaris benar-benar mencurahkan segala tenaga dan pikirannya dan/atau perhatian secara penuh pada tugas, kewajiban dan pencapaian tujuan Persero serta menghindari timbulnya benturan kepentingan. Elucidation of Article 33: Prohibition from holding concurrent office is intended to allow the members of the Board of Commissioners to fully exhaust his/her energy and thought and/or attention on duties, obligations, and achievement of the purpose of the State-Owned Limited Liability Company (Persero) as well as prevent a conflict of interest from arising.

Bagian Ketujuh Persero Terbuka Pasal 34 Bagi Persero Terbuka berlaku ketentuan Undangundang ini dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 sepanjang tidak diatur lain dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal

Part Seven Publicly-Held State-Owned Limited Liability Companies Article 34 The provisions of this Law and Law Number 1 of 1995 shall be applicable to Publicly-Held State-Owned Limited Liability Companies (Persero Terbuka) to te extent they are not governed otherwise by laws and regulations concerning capital markets. CHAPTER III PUBLIC ENTERPRISES (PERUM) Part One Establishment Article 35

BAB III PERUM Bagian Pertama Pendirian Pasal 35

(1) Pendirian Perum diusulkan oleh Menteri (1) Establishment of a Public Enterprise kepada Presiden disertai dengan dasar (Perum) shall be proposed by the Minister pertimbangan setelah dikaji bersama dengan to the President accompanied by Menteri Teknis dan Menteri Keuangan. considerations upon joint study made by the Technical Minister and the Minister of
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

27

Finance.
Penjelasan Pasal 35 Ayat (1): Pendirian Perum harus memenuhi kriteria antara lain sebagai berikut: a. b. c. bidang usaha atau kegiatannya berkaitan dengan kepentingan orang banyak; didirikan tidak semata-mata untuk mengejar keuntungan (cost effectiveness/cost recovery); berdasarkan pengkajian memenuhi persyaratan ekonomis yang diperlukan bagi berdirinya suatu badan usaha (mandiri). Elucidation of Article 35 Section (1): Establishment of a Public Enterprise (Perum) must meet the following criteria, inter alia: a. b. c. its line of business or activities is associated with the interest of many people; it is established not solely to make a profit (cost effectiveness/cost recovery); based on a study, it meets the economical condition that is necessary for the establishment of an entity (that is independent).

Pengusulan pendirian Perum kepada Presiden oleh Menteri, dapat dilakukan atas inisiatif Menteri dan dapat pula atas inisiatif dari Menteri Teknis dan/atau dari Menteri Keuangan sepanjang memenuhi kriteria tersebut diatas. Selanjutnya lihat pula penjelasan Pasal 10 ayat (1).

Proposal for establishment of a Public Enterprise (Perum) by the Minister to the President may be made upon the initiative of the Minister or upon the initiative of the Technical Minister and/or the Minister of Finance to the extent meeting the aforesaid criteria. See also elucidation of Article 10 section (1).

(2) Perum yang didirikan sebagaimana dimaksud (2) An established Public Enterprise (Perum) as dalam ayat (1) memperoleh status badan intended by section (1) shall obtain the status hukum sejak diundangkannya Peraturan of a legal entity as from the promulgation of Pemerintah tentang pendiriannya. Government Regulation concerning the establishment thereof.
Penjelasan Pasal 35 Ayat (2): Peraturan Pemerintah ini memuat antara lain: a. b. c. d. penetapan pendirian Perum; penetapan besarnya kekeyaan Negara yang dipisahkan; anggaran dasar; penunjukan Menteri selaku wakil pemerintah sebagai pemilik modal. Elucidation of Article 35 Section (2): This Government Regulation shall contain, inter alia: a. b. c. d. determination of establishment of a Public Enterprise (Perum); determination of the amount of the separated state assets; the articles of association; appointment of the Minister acting in his/her capacity as the government representative who is the capital owner.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendirian, (3) Further provisions on establishment, pembinaan, pengurusan, dan pengawasan direction, management, and supervision of Perum diatur dengan Peraturan Pemerintah. Public Enterprises (Perum) shall be governed by Government Regulation.
Penjelasan Pasal 35 Ayat (3): Peraturan Pemerintah ini, antara lain, mengatur mengenai hubungan antara Menteri, Menteri Keuangan dan Menteri Teknis dalam hal pendirian, pembinaan, pengurusan dan pengawasan Perum. Elucidation of Article 35 Section (3): This Government Regulation shall govern, inter alia, the relationship among the Minister, the Minister of Finance, and the Technical Minister with respect to the establishment, direction, management, and supervision of Public Enterprises (Perum).

Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 36

Part Two Objectives and Purposes Article 36

(1) Maksud dan tujuan Perum adalah (1) The objectives and purposes of Public menyelenggarakan usaha yang bertujuan Enterprises (Perum) shall be to conduct
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

28

untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang berkualitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat.
Penjelasan Pasal 36 Ayat (1): Perum dibedakan dengan Perusahaan Perseroan karena sifat usahanya. Perum dalam usahanya lebih berat pada pelayanan demi kemanfaatan umum, baik pelayanan maupun penyediaan barang dan jasa. Namun demikian, sebagai badan usaha diupayakan untuk tetap mandiri dan untuk itu Perum perlu mendapat laba agar dapat hidup berkelanjutan.

business for the public benefit through the supply of quality goods and/or services at a price affordable to the public under the principle of sound corporate management.
Elucidation of Article 36 Section (1): A Public Enterprise (Perum) is different from a State-Owned Limited Liability Company (Persero) because of their nature of business. In the conduct of its business, a Public Enterprise (Perum) emphasizes service for public benefit through either service or supply of goods and services. However, as an entity, it is sought to remain independent, and therefore, a Public Enterprise (Perum) needs to earn a profit for survival.

(2) Untuk mendukung kegiatan dalam rangka (2) In support of activities in order to achieve mencapai maksud dan tujuan sebagaimana the objectives and purposes as intended by dimaksud dalam ayat (1), dengan persetujuan section (1), upon approval of the Minister, a Menteri, Perum dapat melakukan penyertaan Public Enterprise (Perum) may have capital modal dalam badan usaha lain. participation in other entities.
Penjelasan Pasal 36 Ayat (2): Yang dimaksud dengan penyertaan modal dalam ayat ini adalah penyertaan langsung Perum dalam kepemilikan saham pada badan usaha yang berbentuk perseroan terbatas, baik yang sudah berdiri maupun yang akan didirikan. Elucidation of Article 36 Section (2): "Capital participation" in this section means direct participation of a Public Enterprise (Perum) in the share ownership in an entity in the form of a limited liability company, whether already established or to be established.

Bagian Ketiga Organ Pasal 37

Part Three Organs Article 37

Organ Perum adalah Menteri, Direktur, dan The organs of a Public Enterprise (Perum) shall Dewan Pengawas. be the Minister, the Board of Directors, and the Board of Supervisors.
Penjelasan Pasal 37: Kedudukan Menteri adalah sebagai organ yang memegang kekuasaan tertinggi dalam Perum yang mempunyai segala wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Pengawas dalam batas yang ditentukan dalam Undang-undang ini dan/atau Peraturan Pemerintah tentang Pendiriannya. Elucidation of Article 37: The Minister has the position as an organ with the highest authority in a Public Enterprise (Perum) and with full authority not being delegated to the Board of Directors or the Board of Supervisors within limits determined by this Law and/or Government Regulation concerning its establishment.

Bagian Keempat Kewenangan Menteri Pasal 38

Part Four Authority of the Minister Article 38

(1) Menteri memberikan persetujuan atas (1) The Minister shall give approval for business kebijakan pengembangan usaha Perum yang development policy of a Public Enterprise diusulkan oleh Direksi. (Perum) that has been proposed by the Board of Directors. (2) Kebijakan pengembangan usaha sebagaimana (2) Business development policy as intended by dimaksud dalam ayat (1) diusulkan oleh section (1) shall be proposed by the Board of Direksi kepada Menteri setelah mendapat Directors to the Minister upon approval of
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

29

persetujuan dari Dewan Pengawas.

the Board of Supervisors.

(3) Kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Policy as intended by section (1) shall be (1) ditetapkan sesuai dengan maksud dan determined consistent with the objectives tujuan Perum yang bersangkutan. and purposes of the relevant Public Enterprise (Perum).
Penjelasan Pasal 38: Menteri selaku wakil pemerintah sebagai pemilik modal Perum menetapkan kebijakan pengembangan Perum yang bertujuan menetapkan arah dalam mencapai tujuan perusahaan baik menyangkut kebijakan investasi, pembiayaan usaha, sumber pembiayaannya, penggunaan hasil usaha perusahaan, dan kebijakan pengembangan lainnya. Mengingat Dewan Pengawas akan mengawasi pelaksanaan kebijakan tersebut, usulan Direksi kepada Menteri harus didahului dengan persetujuan dari Dewan Pengawas. Menteri sangat berkepentingan dengan modal Negara yang tertanam dalam Perum untuk dapat dikembangkan. Untuk itu masalah investasi, pembiayaan serta pemanfaatan hasil usaha Perum perlu diarahkan dengan jelas dalam suatu kebijakan pengembangan perusahaan. Dalam rangka memberikan persetujuan atas usul Direksi tersebut, Menteri dapat mengadakan pembicaraan sewaktu-waktu dengan Menteri Teknis untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan sektoral. Elucidation of Article 38: The Minister acting as the government representative and as the capital owner in Public Enterprises (Perum) shall determine development policy of Public Enterprises (Perum) aiming to set directions to achieve the purposes of the company that involves the policy on investment, finance, sources of funds, use of proceeds of the company, and other development policy. With the Board of Supervisors supervising the implementation of that policy, proposal of the Board of Directors to the Minister must be first approved by the Board of Supervisors. The Minister has special interest in the state capital invested in Public Enterprises (Perum) to develop. Accordingly, issues on investment, financing and use of business proceeds of Public Enterprises (Perum) should be clearly directed through the development policy of the company. To give approval of the proposal of the Board of Directors, the Minister may engage in discussions at any time with the Technical Minister to discuss matters with respect to sectoral policy.

Pasal 39 Menteri tidak bertanggung jawab atas segala akibat perbuatan hukum yang dibuat Perum dan tidak bertanggung jawab atas kerugian Perum melebihi nilai kekayaan negara yang telah dipisahkan ke dalam Perum, kecuali apabila Menteri:

Article 39 The Minister shall not be responsible for any consequences arising from legal acts performed by a Public Enterprise (Perum) and shall not be responsible for any losses of a Public Enterprise (Perum) that extend beyond the amount of the state assets that have been separated for the Public Enterprise (Perum), except if the Minister:

a. baik langsung maupun tidak langsung dengan a. either directly or indirectly, in bad faith, uses itikad buruk memanfaatkan Perum sematathe benefit of a Public Enterprise (Perum) mata untuk kepentingan pribadi; solely for personal interest; b. terlibat dalam perbuatan melawan hukum b. has been involved in unlawfull acts yang dilakukan oleh Perum; atau committed by the Public Enterprise (Perum); or c. langsung maupun tidak langsung secara c. either directly or indirectly, uses the assets melawan hukum menggunakan kekayaan of the Public Enterprise (Perum) illegally. Perum.
Penjelasan Pasal 39: Mengingat modal Perum pada dasarnya merupakan kekayaan negara yang telah dipisahkan, pemilik modal hanya bertanggung jawab sebesar nilai penyertaan Elucidation of Article 39: Given the capital of a Public Enterprise (Perum) is basically the separated state asset, the capital owner shall only be responsible up to the value of

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

30

yang disetorkan dan tidak meliputi harta kekayaan negara di luar modal tersebut. Jika terjadi tindakan di luar mekanisme korporasi sebagaimana diatur dalam pasal ini, tanggung jawab secara terbatas tersebut menjadi hilang.

participation paid up and does not include the state assets other than that capital. If an act other than the corporation’s mechanism occurs as governed by this article, such limited responsibility shall cease.

Pasal 40 Ketentuan mengenai tata cara pemindahtanganan, pembebanan atas aktiva tetap Perum, serta penerimaan pinjaman jangka menengah/panjang dan pemberian pinjaman dalam bentuk dan cara apapun, serta tidak menagih lagi dan menghapuskan dari pembukuan piutang dan persediaan barang oleh Perum diatur dengan Keputusan Menteri.
Penjelasan Pasal 40: Keputusan Menteri tersebut mengatur, antara lain, tindakan-tindakan Direksi yang perlu mendapat persetujuan Dewan Pengawas dan/atau perlu mendapat persetujuan Menteri, yang meliputi, antara lain, persetujuan untuk: a. b. c. d. penarikan pinjaman; pemberian pinjaman; pelepasan aktiva; penghapusan piutang macet dan persediaan barang.

Article 40 The provisions on the procedures for transfer, imposition of fixed assets of a Public Enterprise (Perum) as well as revenues from medium/longterm loans and the granting of loans in any form and method, and no debt claim and write-off of receivables, and supply of goods by a Public Enterprise (Perum) shall be governed by Decision of the Minister.
Elucidation of Article 40: The Decision of the Minister shall govern, inter alia, acts of the Board of Directors that require approval of the Board of Supervisors and/or approval of the Minister, which includes approval for, inter alia: a. b. c. d. loan withdrawal; granting of loans; release of assets; write-offs of bad debts and supply of goods.

Bagian Kelima Anggaran Dasar Pasal 41

Part Five The Articles of Association Article 41

(1) Anggaran dasar Perum ditetapkan dalam (1) The articles of association of a Public Peraturan Pemerintah tentang pendiriannya. Enterprise (Perum) shall be stated by Government Regulation with respect to its establishment.
Penjelasan Pasal 41 Ayat (1): Peraturan Pemerintah tentang Pendirian Perum, selain menetapkan pendirian Perum, juga sekaligus menetapkan keputusan untuk melakukan penyertaan modal negara ke dalam Perum dan anggaran dasar Perum yang bersangkutan. Elucidation of Article 41 Section (1): Government Regulation concerning Establishment of Public Enterprises (Perum), in addition to determination of establishment of Public Enterprises (Perum), shall also provide a decision to have the state capital participation in Public Enterprises (Perum) and the articles of association of the relevant Public Enterprises (Perum). The articles of association of a Public Enterprise (Perum) shall contain, inter alia: a. b. c. d. the name and domicile of the Public Enterprise (Perum); the objectives and purposes as well as the line of business of the Public Enterprise (Perum); the duration of the establishment of the Public Enterprise (Perum); the composition and the number of members of 31

Anggaran dasar Perum memuat antara lain: a. b. c. d. nama dan tempat kedudukan Perum; maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perum; jangka waktu berdirinya Perum; susunan dan jumlah anggota Direksi dan jumlah

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

anggota Dewan Pengawas; dan e. penetapan tata cara penyelenggaraan rapat Direksi, rapat Dewan Pengawas, rapat Direksi dan/atau Dewan Pengawas dengan Menteri dan Menteri Teknis. e.

the Board of Directors and the number of the Board of Supervisors; and the determination of the procedures for holding a meeting of the Board of Directors, meeting of the Board of Supervisors, meeting of the Board of Directors and/or the Board of Supervisors with the Minister and the Technical Minister.

(2) Perubahan anggaran dasar Perum ditetapkan (2) Amendments to the articles of association of dengan Peraturan Pemerintah. a Public Enterprise (Perum) shall be stated by Government Regulation.
Penjelasan Pasal 41 Ayat (2): Karena Peraturan Pemerintah tentang Pendirian Perum sekaligus memuat anggaran dasar Perum, setiap perubahan anggaran dasar Perum ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Elucidation of Article 41 Section (2): Given Government Regulation concerning establishment of Public Enterprises (Perum) also contains the articles of association of the Public Enterprise (Perum), any amendments to the articles of association of the Public Enterprise (Perum) shall be governed by Government Regulation.

(3) Perubahan anggaran dasar sebagaimana (3)Amendments to the articles of association as dimaksud dalam ayat (2) mulai berlaku sejak intended by section (2) shall be effective tanggal diundangkannya Peraturan Pemerintah from the date the Government Regulation tentang perubahan anggaran dasar Perum. concerning amendments to the articles of association of a Public Enterprise (Perum) is promulgated. Bagian Keenam Penggunaan Laba Pasal 42 Part Six Utilization of Profits Article 42

(1) Setiap tahun buku Perum wajib menyisihkan (1) Public Enterprises (Perum) must in each jumlah tertentu dari laba bersih untuk financial year appropriate a certain amount cadangan. of their net profits for reserve. (2) Penyisihan laba bersih sebagaimana (2) The appropriation of net profits as intended dimaksud dalam ayat (1) dilakukan sampai by section (1) shall be made until the reserve cadangan mencapai sekurang-kurangnya 20% reaches at least 20% (twenty percent) of the (dua puluh persen) dari modal Perum. capital of the Public Enterprise (Perum). (3) Cadangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Reserve that, as intended by section (1), has (1), yang belum mencapai jumlah not reached an amount as intended by sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), hanya section (2), may be used only to cover losses dapat dipergunakan untuk menutup kerugian that are unrecoverable by other reserve. yang tidak dapat dipenuhi oleh cadangan lain. Pasal 43 Penggunaan laba bersih Perum termasuk penentuan jumlah penyisihan untuk cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ditetapkan oleh Menteri.
Penjelasan Pasal 43: Berdasarkan ketentuan ini, Menteri dapat menetapkan bahwa sebagian atau seluruh laba bersih akan digunakan untuk pembagian dividen kepada pemilik modal, atau pembagian lain seperti tansiem (tantiem)

Article 43 Utilization of net profits of a Public Enterprise (Perum), including determination of an amount to be appropriated for reserve as intended by Article 42, shall be stated by the Minister.
Elucidation of Article 43: Under this provision, the Minister may determine that part or all of the net profits will be used for distribution of dividends to the capital owners, or other distribution, such as bonuses (tantiem) for the

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

32

untuk Direksi dan Dewan Pengawas, bonus untuk karyawan, cadangan dana sosial dan lain-lain, atau penempatan laba bersih tersebut dalam cadangan Perum yang antara lain diperuntukkan bagi perluasan usaha Perum.

Board of Directors and the Board of Supervisors, bonuses for employees, social reserve funds, etc. or determine that the net profit will be saved as reserve of the Public Enterprise (Perum) that may be used for, inter alia, business expansion of the Public Enterprise (Perum).

Bagian Ketujuh Direksi Perum Pasal 44 Pengangkatan dan pemberhentian Direksi ditetapkan oleh Menteri sesuai dengan mekanisme dan ketentuan peraturan perundangundangan.
Penjelasan Pasal 44: Dalam rangka pengangkatan Direksi, Menteri dapat meminta masukan dari Menteri Teknis apabila dipandang perlu.

Part Seven The Board of Directors of a Public Enterprise (Perum) Article 44 Appointment and dismissal of the Board of Directors shall be determined by the Minister pursuant to the mechanisms and provisions of laws and regulations.
Elucidation of Article 44: To appoint the Board of Directors, the Minister may solicit input from the Technical Minister, if deemed necessary.

Pasal 45

Article 45

(1) Yang dapat diangkat sebagai anggota Direksi (1) Those eligible for appointment as members adalah orang perseorangan yang mampu of the Board of Directors shall be individuals melaksanakan perbuatan hukum dan tidak who are able to perform legal acts and have pernah dinyatakan pailit atau menjadi anggota never been declared bankrupt or never been Direksi atau Komisaris atau Dewan Pengawas members of the Board of Directors or Board yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu of Commissioners or Board of Supervisors perseroan atau Perum dinyatakan pailit atau who were declared guilty of causing a orang yang tidak pernah dihukum karena company or Public Enterprise (Perum) to be melakukan tindak pidana yang merugikan declared bankrupt, or those who have never keuangan negara. been convicted for a criminal offense detrimental to the state finance. (2) Selain kriteria sebagaimana dimaksud dalam (2) In addition to the criteria as intended by ayat (1) anggota Direksi diangkat berdasarkan section (1), members of the Board of pertimbangan keahlian, integritas, Directors shall be appointed in consideration kepemimpinan, pengalaman, jujur, perilaku of their expertise, integrity, leadership, yang baik, serta dedikasi yang tinggi untuk experience, honesty, good behavior, and memajukan dan mengembangkan Perum. high dedication to advance and develop a Public Enterprise (Perum). (3) Pengangkatan anggota Direksi dilakukan (3) Appointment of members of the Board of melalui mekanisme uji kelayakan dan Directors shall be made through the kepatutan. mechanism of a fit and proper test.
Penjelasan Pasal 45 Ayat (3): Mengingat kedudukan Direksi sebagai organ Perum strategis dalam mengurus perusahaan guna mencapai maksud dan tujuan perusahaan untuk mengisi jabatan tersebut diperlukan calon-calon anggota Direksi yang mempunyai keahlian, integritas, kejujuran, kepemimpinan, pengalaman, perilaku yang baik, dan dedikasi yang tinggi, serta mempunyai visi pengembangan perusahaan. Elucidation of Article 45 Section (3): Given the position of the Board of Directors as an organ of Public Enterprise (Perum) is strategic in the management of company to achieve the objectives and purposes of the company, to fill that office requires that the nominee for a member of the Board of Directors has expertise, integrity, honesty, leadership, experience, good behavior, and high dedication as well as vision for the development of the company. 33

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Untuk memperoleh calon-calon anggota Direksi yang terbaik, diperlukan seleksi melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang dilakukan secara transparan, profesional, mandiri dan dapat dipertanggungjawabkan. Uji kelayakan dan kepatutan tersebut dilakukan oleh suatu tim yang ditunjuk oleh Menteri. Anggota-anggota tim yang ditunjuk oleh Menteri harus memenuhi kriteria antara lain profesionalitas, pemahaman bidang manajemen dan usaha BUMN yang bersangkutan, tidak memiliki benturan kepentingan (conflict of interest) dengan calon anggota Direksi yang bersangkutan, dan memiliki integritas, serta dedikasi yang tinggi. Menteri dapat pula menunjuk lembaga profesional yang independen untuk melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon-calon anggota direksi Perum.

To hire the best nominee for a member of the Board of Directors, a selection through a fit and proper test is necessary, which is administered transparently, professionally, independently, and accountably. A fit and proper test shall be administered by a team appointed by the Minister. A member of the team appointed by the Minister must meet the criteria, inter alia, be professional, aware of the management and business of the relevant StateOwned Entity (BUMN), lack a conflict of interest with another nominee for a member of the Board of Directors concerned, and have integrity as well as high dedication. The Minister may also appoint an independent, professional institution to administer a fit and proper test to the nominee for a member of the Board of Directors of the Public Enterprise (Perum).

(4) Calon anggota Direksi yang telah dinyatakan (4) A nominee for a member of the Board of lulus uji kelayakan dan kepatutan wajib Directors who has been declared passed a fit menandatangani kontrak manajemen sebelum and proper test must sign a management ditetapkan pengangkatannya sebagai anggota contract before his/her appointment as Direksi. member of the Board of Directors is determined.
Penjelasan Pasal 45 Ayat (4): Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (3). Elucidation of Article 45 Section (4): See elucidation of Article 16 section (3).

(5) Masa jabatan anggota Direksi ditetapkan 5 (5) The term of office of a member of the Board (lima) tahun dan dapat diangkat kembali of Directors shall be for 5 (five) years, and untuk 1 (satu) kali masa jabatan. he/she may be re-appointed for one term of office.
Penjelasan Pasal 45 Ayat (5): Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (4). Elucidation of Article 45 Section (5): See elucidation of Article 16 section (4).

(6) Dalam hal Direksi terdiri atas lebih dari (6) Where the Board of Directors consists of seorang anggota, salah seorang anggota more than one member, any of the members Direksi diangkat sebagai direktur utama. of the Board of Directors shall be appointed as president director. Pasal 46 Article 46

Anggota Direksi sewaktu-waktu dapat A member of the Board of Directors may at any diberhentikan berdasarkan Keputusan Menteri time be dismissed under a Decision of the dengan menyebutkan alasannya. Minister by reference to the reasons therefor.
Penjelasan Pasal 46: Yang dimaksud dengan pemberhentian sewaktu-waktu adalah pemberhentian sebelum masa jabatannya berakhir. Pemberhentian sewaktu-waktu tersebut dilakukan apabila Direksi antara lain tidak dapat memenuhi kewajibannya yang telah disepakati dalam kontrak manajeman, tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, melanggar ketentuan anggaran dasar dan/atau peraturan perundang-undangan, dinyatakan bersalah dengan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, meninggal dunia, dan mengundurkan diri. Elucidation of Article 46: "At any time be dismissed" means dismissal before his/her term of office expires. The at-any-time dismissal shall be effected if the Board of Directors, inter alia, fails to meet their obligations that have been agreed in the management contract; fails to perform their duties properly; violates the provisions of the articles of association and/or laws and regulations; is declared guilty by a court decision that has become final and binding, dies, and resigns.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

34

Pasal 47 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian anggota Direksi diatur dengan Keputusan Menteri. Pasal 48 Dalam melaksanakan tugasnya, Direksi wajib mencurahkan tenaga, pikiran, dan perhatian secara penuh pada tugas, kewajiban, dan pencapaian tujuan Perum.

Article 47 Further provisions on the requirements and procedures for appointment and dismissal of members of the Board of Directors shall be governed by Decision of the Minister. Article 48 In the performance of their duties, the Board of Directors must exhaust most of his/her energy, thought, and attention to the duties, obligations, and achievement of the purpose of the Public Enterprise (Perum). Article 49

Pasal 49

(1) Direksi wajib menyiapkan rancangan rencana (1) The Board of Directors must prepare a draft jangka panjang yang merupakan rencana long-term plan that reflects a strategic plan strategis yang memuat sasaran dan tujuan that contains targets and purposes of the Perum yang hendak dicapai dalam jangka Public Enterprise (Perum) to be achieved waktu 5 (lima) tahun. within 5 (five) years. (2) Rancangan rencana jangka panjang yang (2) A draft long-term plan that has been cotelah ditandatangani bersama dengan Dewan signed by the Board of Supervisors shall be Pengawas disampaikan kepada Menteri untuk delivered to the Minister for validation. mendapatkan pengesahan.
Penjelasan Pasal 49 Ayat (2): Dewan Pengawas sebelum menandatangani rancangan rencana jangka panjang yang disampaikan oleh Direksi, wajib membahas secara bersama-sama dengan Direksi. Dengan ditandatangani bersama, semua anggota Direksi dan Dewan Pengawas bertanggung jawab atas isi rancangan rencana jangka panjang yang dimaksud. Elucidation of Article 49 Section (2): Before signing a draft long-term plan delivered by the Board of Directors, the Board of Supervisors must discuss it with the Board of Directors. Upon the joint signing, all members of the Board of Directors and the Board of Supervisors shall be responsible for the contents of the relevant draft long-term plan.

Pasal 50

Article 50

(1) Direksi wajib menyiapkan rancangan kerja (1) The Board of Directors must prepare a draft dan anggaran perusahaan yang merupakan work and budget plan of the company that penjabaran tahunan dari rencana jangka reflects an annual breakdown of the longpanjang. term plan. (2) Direksi wajib menyampaikan rancangan (2) The Board of Directors shall submit a draft rencana kerja dan anggaran perusahaan work and budget plan to the Minister for kepada Menteri untuk memperoleh validation. pengesahan.
Penjelasan Pasal 50: Lihat penjelasan Pasal 22 ayat (1) dan ayat (2). Elucidation of Article 50: See elucidation of Article 22 section (1) and section (2).

Pasal 51

Article 51

(1) Dalam waktu 5 (lima) bulan setelah tahun (1) Within 5 (five) years after financial year of a buku Perum ditutup, Direksi wajib Public Enterprise (Perum) has ended, the menyampaikan laporan tahunan kepada Board of Directors must submit an annual
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

35

Menteri untuk memperoleh pengesahan.
Penjelasan Pasal 51 Ayat (1): Lihat penjelasan Pasal 23 ayat (1).

report to the Minister for validation.
Elucidation of Article 51 Section (1): See elucidation of Article 23 section (1).

(2) Laporan tahunan sebagaimana dimaksud (2) An annual report as intended by section (1) dalam ayat (1) ditandatangani oleh semua shall be signed by all members of the Board anggota Direksi dan Dewan Pengawas. of Directors and the Board of Supervisors.
Penjelasan Pasal 51 Ayat (2): Lihat penjelasan Pasal 23 ayat (2). Elucidation of Article 51 Section (2): See elucidation of Article 23 section (2).

(3) Dalam hal ada anggota Direksi atau Dewan (3) Where any of the members of the Board of Pengawas tidak menandatangani laporan Directors or the Board of Supervisors fails to tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat sign an annual report as intended by section (2) harus disebutkan alasannya secara tertulis. (2), the reasons therefor must be stated in writing.
Penjelasan Pasal 51 Ayat (3): Lihat penjelasan Pasal 23 ayat (3). Elucidation of Article 51 Section (3): See elucidation of Article 23 section (3).

Pasal 52 Ketentuan lebih lanjut mengenai rencana jangka panjang, rencana kerja dan anggaran perusahaan, laporan tahunan dan perhitungan tahunan Perum diatur dengan Keputusan Menteri.
Penjelasan Pasal 52: Lihat penjelasan Pasal 24.

Article 52 Further provisions on a long-term plan, work and budget plan, annual report and annual calculation of a Public Enterprise (Perum) shall be governed by Decision of the Minister.
Elucidation of Article 52: See elucidation of Article 24.

Pasal 53

Article 53

Anggota Direksi dilarang memangku jabatan At not time shall a member of the Board of rangkap sebagai: Directors hold concurrent office as: a. anggota Direksi pada BUMN, badan usaha a. member of the Board of Directors of a Statemilik daerah, badan usaha milik swasta, dan Owned Entity (BUMN), region-owned jabatan lain yang dapat menimbulkan entity, private-owned entity, and other office benturan kepentingan; that may result in a conflict of interest; b. jabatan struktural dan fungsional lainnya pada b. other structural and functional office in instansi/lembaga pemerintah pusat dan agency/central and regional government daerah; dan/atau institution; and/or c. jabatan lainnya sesuai dengan ketentuan c. other office pursuant to the provisions of dalam peraturan pendirian Perum dan regulation on establishment of a Public ketentuan peraturan perundang-undangan. Enterprise (Perum) and the provisions of laws and regulations.
Penjelasan Pasal 53: Lihat penjelasan Pasal 25. Elucidation of Article 53: See elucidation of Article 25.

Pasal 54

Article 54

Direksi wajib memelihara risalah rapat dan The Board of Directors must maintain the menyelenggarakan pembukuan Perum. minutes of meetings and establish book-keeping of the Public Enterprise (Perum).
Penjelasan Pasal 54: Lihat penjelasan Pasal 26.
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Elucidation of Article 54: See elucidation of Article 26. 36

Pasal 55

Article 55

(1) Direksi hanya dapat mengajukan permohonan (1) The Board of Directors may, upon approval ke pengadilan negeri agar Perum dinyatakan of the Minister, only file an application with pailit berdasarkan persetujuan Menteri. the district court to declare a Public Enterprise (Perum) bankrupt. (2) Dalam hal kepailitan terjadi karena kesalahan (2) Where bankruptcy occurs through fault or atau kelalaian Direksi dan kekayaan Perum negligence of the Board of Directors and the tidak cukup untuk menutup kerugian akibat assets of the Public Enterprise (Perum) are kepailitan tersebut, setiap anggota Direksi insufficient to cover losses as a result of the secara tanggung renteng bertanggung jawab said bankruptcy, each member of the Board atas kerugian tersebut. of Directors shall jointly and severally be responsible for such losses.
Penjelasan Pasal 54 Ayat (2): Kesalahan atau kelalaian Direksi yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesalahan atau kelalaian yang dilakukan misalnya karena melanggar ketentuan anggaran dasar Perum atau ketentuan yang telah digariskan oleh Dewan Pengawas dan Menteri serta telah terbukti secara sah. Dalam hal ini proses pembuktiannya dilakukan oleh Menteri beserta aparatnya. Namun bersalah atau tidaknya anggota Direksi yang bersangkutan ditetapkan berdasarkan keputusan pengadilan yang berwenang. Elucidation of Article 54 Section (2): Fault or negligence of the Board of Directors as intended by this section is fault or negligence that is committed, for example, through violation of the terms of the articles of association of the Public Enterprise (Perum) or the provisions that have been outlined by the Board of Supervisors and the Minister and have been proven legally. In this case, the burden of proof shall rest with the Minister together with his/her apparatus. However, whether or not the relevant member of the Board of Directors is guilty shall be held by a decision of the competent court.

(3) Anggota Direksi yang dapat membuktikan (3) A member of the Board of Directors who bahwa kepailitan bukan karena kesalahan can prove that the bankruptcy is not through atau kelalaiannya tidak bertanggung jawab his/her fault or negligence shall not jointly secara tanggung renteng atas kerugian and severally be responsible for such losses. tersebut. (4) Dalam hal tindakan Direksi menimbulkan (4) Where any acts performed by the Board of kerugian bagi Perum sebagaimana dimaksud Directors have resulted in losses to the dalam ayat (2), Menteri mewakili Perum Public Enterprise (Perum) as intended by untuk melakukan tuntutan atau gugatan section (2), the Minister shall represent the terhadap Direksi melalui pengadilan. Public Enterprise (Perum) to file a claim or suit with the court against the Board of Directors. Bagian Kedelapan Dewan Pengawas Pasal 56 Pengangkatan dan pemberhentian anggota Dewan Pengawas ditetapkan oleh Menteri sesuai dengan mekanisme dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan Pasal 56: Anggota Dewan Pengawas dapat terdiri dari unsurunsur pejabat Menteri Teknis, Menteri Keuangan, Menteri dan pejabat departemen/lembaga non departemen yang kegiatannya berhubungan langsung dengan Perum.

Part Eight The Board of Supervisors Article 56 Appointment and dismissal of members of the Board of Supervisors shall be determined by the Minister in accordance with the mechanism and provisions of laws and regulations.
Elucidation of Article 56: Members of the Board of Supervisors may include the elements of officials of the Technical Minister, the Minister of Finance, the Minister, and officials of departments/non-department institutions, the activities of which are immediately associated with Public Enterprises (Perum). 37

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Lihat pula penjelasan Pasal 44.

See also elucidation of Article 44.

Pasal 57

Article 57

(1) Yang dapat diangkat menjadi anggota Dewan (1) Those eligible for appointment as members Pengawas adalah orang perseorangan yang of the Board of Supervisors shall be mampu melaksanakan perbuatan hukum dan individuals who are capable to perform tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi legal acts and have never been declared anggota Direksi atau Komisaris atau Dewan bankrupt or have never become members of Pengawas yang dinyatakan bersalah the Board of Directors or Board of menyebabkan suatu perseroan atau Perum Commissioners or Board of Supervisors dinyatakan pailit atau orang yang tidak who were declared guilty of causing a pernah dihukum karena melakukan tindak company or a Public Enterprise (Perum) to pidana yang merugikan keuangan negara. be declared bankrupt, or those who have never been punished for a crime detrimental to the state finance. (2) Selain kriteria sebagaimana dimaksud dalam (2) In addition to the criteria as intended by ayat (1), anggota Dewan Pengawas diangkat section (1), a member of the Board of berdasarkan pertimbangan integritas, Supervisors shall be appointed in dedikasi, memahami masalah-masalah consideration of his/her integrity, manajemen perusahaan yang berkaitan dedication, understanding of corporate dengan salah satu fungsi manajemen, management problems related to one of the memiliki pengetahuan yang memadai di management functions, adequate knowledge bidang usaha Perum tersebut, serta dapat in the line of business of that Public menyediakan waktu yang cukup untuk Enterprise (Perum), and ability to allow melaksanakan tugasnya. sufficient time to perform his/her duties. (3) Komposisi Dewan Pengawas harus (3) The composition of members of the Board ditetapkan sedemikian rupa sehingga of Supervisors must be determined in such a memungkinkan pengambilan keputusan dapat manner that allows any decision to be made dilakukan secara efektif, tepat dan cepat, serta effectively, accurately and quickly, as well dapat bertindak secara independen. as allows to act independently.
Penjelasan Pasal 57 Ayat (3): Lihat penjelasan Pasal 28 ayat (2). Elucidation of Article 57 Section (3): See elucidation of Article 28 section (2).

(4) Masa jabatan anggota Dewan Pengawas (4) The term of office of a member of the ditetapkan 5 (lima) tahun dan dapat diangkat Board of Supervisors shall be for 5 (five) kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. years, and he/she may be re-appointed for 1 (one) term of office.
Penjelasan Pasal 57 Ayat (4): Lihat Pasal 16 ayat (4). Elucidation of Article 57 Section (4): See elucidation of Article 16 section (4).

(5) Dalam hal Dewan Pengawas terdiri atas lebih (5) Where the Board of Supervisors consists of dari seorang anggota, salah seorang Dewan more than one member, any of the members Pengawas diangkat sebagai ketua Dewan of the Board of Supervisors shall be Pengawas. appointed as chairperson of the Board of Supervisors. (6) Pengangkatan anggota Dewan Pengawas (6) No appointment of a member of the Board tidak bersamaan waktunya dengan of Supervisors shall be made concurrently pengangkatan anggota Direksi, kecuali with the appointment of a member of the pengangkatan untuk pertama kalinya pada Board of Directors, except for initial waktu pendirian. appointment with respect to establishment.
Penjelasan Pasal 57 Ayat (6):
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Elucidation of Article 57 Section (6): 38

Lihat penjelasan Pasal 28 ayat (5).

See elucidation of Article 28 section (5).

Pasal 58

Article 58

Anggota Dewan Pengawas sewaktu-waktu dapat A member of the Board of Supervisors may at diberhentikan berdasarkan Keputusan Menteri any time be dismissed under a Decision of the dengan menyebutkan alasannya. Minister by reference to the reasons therefor.
Penjelasan Pasal 58: Yang dimaksud dengan pemberhentian sewaktu-waktu adalah pemberhentian sebelum masa jabatannya berakhir. Pemberhentian sewaktu-waktu tersebut dilakukan apabila Dewan Pengawas antara lain tidak dapat memenuhi kewajibannya yang telah disepakati dalam kontrak manajeman, tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, melanggar ketentuan anggaran dasar dan/atau peraturan perundang-undangan, dinyatakan bersalah dengan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, meninggal dunia, dan mengundurkan diri. Elucidation of Article 58: "At any time be dismissed" means the dismissal before his/her term of office expires. The at-any-time dismissal shall be effected if the Board of Supervisors, inter alia, fails to meet their obligations that have been agreed upon in the management contract; fails to perform their duties properly; violates the provisions of the articles of association and/or laws and regulations; is declared guilty by a court decision that has become final and binding, dies, and resigns.

Pasal 59 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian Dewan Pengawas diatur dengan Keputusan Menteri. Pasal 60

Article 59 Further provisions on the requirements and procedures for appointment and dismissal of a member of the Board of Supervisors shall be governed by Decision of the Minister. Article 60

Dewan Pengawas bertugas mengawasi Direksi The Board of Supervisors shall have the duty to dalam menjalankan kepengurusan Perum serta supervise the Board of Directors in the memberikan nasihat kepada Direksi. performance of the management of the Public Enterprise (Perum) and give recommendations to the Board of Directors.
Penjelasan Pasal 60: Lihat penjelasan Pasal 31. Elucidation of Article 60: See elucidation of Article 31.

Pasal 61

Article 61

(1) Dalam anggaran dasar dapat ditetapkan (1) The articles of association may provide pemberian wewenang kepada Dewan authorization to the Board of Supervisors to Pengawas untuk memberikan persetujuan give approval to the Board of Directors to kepada Direksi dalam melakukan perbuatan perform certain legal acts. hukum tertentu. (2) Berdasarkan anggaran dasar atau Keputusan (2) Under the articles of association or a Menteri, Dewan Pengawas dapat melakukan Decision of the Minister, the Board of tindakan pengurusan Perum dalam keadaan Supervisors may perform the management of tertentu untuk jangka waktu tertentu. a Public Enterprise (Perum) in certain circumstances for a definite period.
Penjelasan Pasal 61 Ayat (2): Lihat penjelasan Pasal 32 ayat (2). Elucidation of Article 61 Section (2): See elucidation of Article 32 section (2).

Pasal 62
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Article 62
39

Anggota Dewan Pengawas dilarang memangku At no time shall a member of the Board of jabatan rangkap sebagai: Supervisors hold concurrent office as: a. anggota Direksi pada BUMN, badan usaha a. member of Board of Directors of a Statemilik daerah, badan usaha milik swasta, dan Owned Entity (BUMN), region-owned jabatan lain yang dapat menimbulkan entity, private-owned entity, and other office benturan kepentingan; dan/atau that may result in a conflict of interest; b. jabatan lainnya sesuai dengan ketentuan b. other office pursuant to the provisions of peraturan perundang-undangan. laws and regulations.
Penjelasan Pasal 62: Lihat penjelasan Pasal 33. Elucidation of Article 62: See elucidation of Article 33.

BAB IV PENGGABUNGAN, PELEBURAN, PENGAMBILALIHAN, DAN PEMBUBARAN BUMN Pasal 63

CHAPTER IV MERGERS, CONSOLIDATIONS, ACQUISITIONS, AND DISSOLUTION OF STATE-OWNED ENTITIES (BUMN) Article 63

(1) Penggabungan atau peleburan suatu BUMN (1) A State-Owned Entity (BUMN) may merge dapat dilakukan dengan BUMN lain yang or consolidate with other existing Statetelah ada. Owned Entities (BUMN).
Penjelasan Pasal 63 Ayat (1): Suatu Persero dapat melakukan penggabungan atau peleburan diri dengan Persero lainnya atau Perum yang telah ada atau sebaliknya. Penggabungan dan peleburan BUMN dapat dilakukan tanpa diadakan likuidasi terlebih dahulu. Dengan adanya penggabungan tersebut Persero atau Perum yang menggabungkan diri menjadi bubar. Sedangkan dengan adanya peleburan BUMN yang saling meleburkan diri menjadi bubar dan membentuk satu BUMN baru. Elucidation of Article 63 Section (1): A State-Owned Limited Liability Company (Persero) may merge or consolidate with another existing State-Owned Limited Liability Company (Persero) or Public Enterprise (Perum), and vice versa. A merger and consolidation of a State-Owned Entity (BUMN) may be conducted without going into liquidation first. Upon consummation of such merger, the merging State-Owned Limited Liability Company (Persero) or the merging Public Enterprise (Perum) shall become dissolved. Upon consummation of such consolidation, the consolidating State-Owned Entities (BUMN) shall become dissolved and form a new State-Owned Entity (BUMN).

(2) Suatu BUMN dapat mengambil alih BUMN (2) A State-Owned Entity (BUMN) may acquire dan/atau perseroan terbatas lainnya. other State-Owned Entities (BUMN) and/or limited liability companies.
Penjelasan Pasal 63 Ayat (2): Perbuatan hukum yang dilakukan oleh BUMN untuk mengambil alih BUMN lainnya atau Perseroan Terbatas, baik seluruh atau sebagian besar saham/modal yang dapat mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap BUMN atau Perseroan Terbatas tersebut. Elucidation of Article 63 Section (2): A legal act performed by a State-Owned Entity (BUMN) to acquire another State-Owned Entity (BUMN) or limited liability company, whether all or most of shares/capital may result in a transfer of control of the State-Owned Entity (BUMN) or the limited liability company.

Pasal 64 (1) Pembubaran BUMN Peraturan Pemerintah. ditetapkan

Article 64 dengan (1) Dissolution of a State-Owned Entity (BUMN) shall be determined by Government Regulation.
Elucidation of Article 64 Section (1): Given the establishment of a State-Owned Entity

Penjelasan Pasal 64 Ayat (1): Karena pendirian BUMN dilakukan dengan Peraturan

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

40

Pemerintah yang menyebutkan besarnya penyertaan modal negara dalam pendirian BUMN dimaksud, pembubaran BUMN tersebut harus dilakukan pula dengan Peraturan Pemerintah.

(BUMN) is stated by Government Regulation that determines the amount of state capital participation in the establishment of that State-Owned Entity (BUMN), the dissolution of the State-Owned Entity (BUMN) must be also stated by Government Regulation.

(2) Apabila tidak ditetapkan lain dalam Peraturan (2) Unless determined otherwise by Government Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Regulation as intended by section (1), the ayat (1), sisa hasil likuidasi atau pembubaran remaining proceeds from liquidation or BUMN disetorkan langsung ke Kas Negara. dissolution of a State-Owned Entity (BUMN) shall be deposited into the State Treasury.
Penjelasan Pasal 64 Ayat (2): Dalam Peraturan Pemerintah tentang pembubaran BUMN, dapat pula ditetapkan agar sisa hasil likuidasi dijadikan penyertaan modal negara pada BUMN lain yang telah ada atau dijadikan penyertaan dalam rangka pendirian BUMN baru. Jika tidak ditetapkan demikian sisa hasil likuidasi disetorkan langsung ke Kas Negara, karena merupakan hak negara sebagai pemegang saham atau pemilik modal BUMN. Elucidation of Article 64 Section (2): Government Regulation concerning dissolution of State-Owned Entities (BUMN) may also state that the remaining proceeds from liquidation shall be used for the state’s capital participation in another existing State-Owned Entity (BUMN) or used for participation to establish a new State-Owned Entity (BUMN). Unless so provided, the remaining proceeds from liquidation shall be deposited into the State Treasury because the state is the shareholder or capital owner of the State-Owned Entity (BUMN) as of right.

Pasal 65

Article 65

(1) Ketentuan lebih lanjut mengenai (1) Further provisions on mergers, penggabungan, peleburan, pengambilalihan, consolidations, acquisitions, and dissolution dan pembubaran BUMN, diatur dengan of a State-Owned Entity (BUMN) shall be Peraturan Pemerintah. governed by Government Regulation.
Penjelasan Pasal 65 Ayat (1): Karena setiap pendirian BUMN dilakukan dengan Peraturan Pemerintah, apabila ada perubahan terhadap keberadaan BUMN dimaksud, baik karena penggabungan, peleburan, pengambilalihan maupun pembubaran, harus dilakukan pula dengan Peraturan Pemerintah. Elucidation of Article 65 Section (1): As establishment of a State-Owned Entity (BUMN) is stated by Government Regulation, any changes in the State-Owned Entity (BUMN) as a result of a merger, consolidation, acquisition, or dissolution must also be stated by Government Regulation.

(2) Dalam melakukan tindakan-tindakan (2) In the performance of acts as intended by sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), section (1), the interest of the State-Owned kepentingan BUMN, pemegang Entity (BUMN), shareholders/capital saham/pemilik modal, pihak ketiga, dan owners, third parties, and employees of the karyawan BUMN harus tetap mendapat State-Owned Entity (BUMN) must continue perhatian. to receive attention.
Penjelasan Pasal 65 Ayat (2): Tindakan untuk melakukan penggabungan, peleburan, pengambilalihan dan pembubaran BUMN akan berakibat langsung kepada kepentingan BUMN, pemegang saham, pihak ketiga, dan karyawan BUMN. Pada dasarnya dengan melakukan tindakan-tindakan tersebut, diharapkan BUMN yang dipertahankan dan yang baru dibentuk akan menjadi lebih baik. Kepentingan pemegang saham tidak bisa dirugikan, demikian juga halnya pihak ketiga, perlu diberitahu sebelumnya sehingga hak-hak mereka dapat diselesaikan secara memadai. Adapun mengenai
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Elucidation of Article 65 Section (2): Acts to conduct a merger, consolidation, acquisition, and dissolution of a State-Owned Entity (BUMN) may have immediate impacts on the interest of the State-Owned Entity (BUMN), its shareholders, third parties, and employees of the State-Owned Entity (BUMN). Basically, by performing those acts, it is expected that the surviving and newly-formed State-Owned Entity (BUMN) will be better. The interest of the shareholders may not be harmed, so are the third parties that should be first notified that their rights

41

karyawan yang merupakan aset BUMN itu sendiri diupayakan agar mereka tidak akan dikenakan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau apabila harus terjadi PHK, PHK adalah pilihan yang terakhir dan harus diselesaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, sebelum tindakan-tindakan tersebut diatas dilakukan, Direksi BUMN yang akan melakukan penggabungan, peleburan, pengambilalihan, dan pembubaran tersebut perlu mensosialisasikannya terlebih dahulu kepada karyawannya masing-masing.

are settled properly. Employees that represent assets of the State-Owned Entity (BUMN) itself are sought not to be subject to termination of employment; or if initiated, the termination of employment is the last alternative and must be settled pursuant to laws and regulations. Therefore, before the aforesaid acts are performed, the Board of Directors of a State-Owned Entity (BUMN) to conduct a merger, consolidation, acquisition, and dissolution should socialize it first with their respective employees.

BAB V KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM Pasal 66

CHAPTER V PUBLIC SERVICE OBLIGATION Article 66

(1) Pemerintah dapat memberikan penugasan (1) The government may give special khusus kepada BUMN untuk assignments to a State-Owned Entity menyelenggarakan fungsi kemanfaatan umum (BUMN) to perform functions of public dengan tetap memperhatikan maksud dan benefit with due regard to the objectives tujuan kegiatan BUMN. and purposes of the activities of the StateOwned Entity (BUMN).
Penjelasan Pasal 66 Ayat (1): Meskipun BUMN didirikan dengan maksud dan tujuan untuk mengejar keuntungan, tidak tertutup kemungkinan untuk hal-hal yang mendesak, BUMN diberikan penugasan khusus oleh pemerintah. Apabila penugasan tersebut menurut kajian secara finansial tidak fisibel, pemerintah harus memberikan kompensasi atas semua biaya yang telah dikeluarkan oleh BUMN tersebut termasuk margin yang diharapkan. Elucidation of Article 66 Section (1): Notwithstanding that a State-Owned Entity (BUMN) is established with the objectives and purposes to make a profit, in case of urgency, this does not preclude the State-Owned Entity (BUMN) to be assigned a special duty by the government. If upon a study that the assignment is financially unfeasible, the government must give compensation for all costs incurred by the State-Owned Entity (BUMN), including the expected margin.

(2) Setiap penugasan sebagaimana dimaksud (2) Any assignments as intended by section (1) dalam ayat (1) harus terlebih dahulu must first obtain approval of the GMS/the mendapatkan persetujuan RUPS/Menteri. Minister.
Penjelasan Pasal 66 Ayat (2): Karena penugasan pada prinsipnya mengubah rencana kerja dan anggaran perusahaan yang telah ada, penugasan tersebut harus diketahui dan disetujui pula oleh RUPS/Menteri. Elucidation of Article 66 Section (2): Given the assignment in principle changes the existing work and budget plan of the company, the assignment must be acknowledged and approved by the GMS/the Minister.

BAB VI SATUAN PENGAWASAN INTERN, KOMITE AUDIT, DAN KOMITE LAIN Bagian Pertama Satuan Pengawasan Intern Pasal 67

CHAPTER VI THE INTERNAL OVERSIGHT UNIT, THE AUDIT COMMITTEE, AND OTHER COMMITTEES Part One The Internal Oversight Unit Article 67

(1) Pada setiap BUMN dibentuk satuan (1) Any State-Owned Entity (BUMN) shall pengawasan intern yang merupakan aparat form an internal oversight unit that pengawas intern perusahaan. represents internal oversight apparatus of the company. (2) Satuan pengawasan intern sebagaimana (2) An internal oversight unit as intended by dimaksud dalam ayat (1) dipimpin oleh section (1) shall be led by a head that is
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

42

seorang kepala yang bertanggung jawab kepada direktur utama.
Penjelasan Pasal 67: Satuan pengawasan intern dibentuk untuk membantu direktur utama dalam melaksanakan pemeriksaan intern keuangan dan pemeriksaan operasional BUMN serta menilai pengendalian, pengelolaan dan pelaksanaannya pada BUMN yang bersangkutan serta memberikan saran-saran perbaikannya. Karena satuan pengawasan intern bertugas untuk membantu direktur utama, pertanggungjawabannya diberikan kepada direktur utama.

responsible to the president director.
Elucidation of Article 67 The Internal Oversight Unit shall be created to assist the president director in the conduct of an internal financial audit and operational audits of the StateOwned Entity (BUMN) as well as to assess his/her control, management, and implementation of the relevant State-Owned Entity (BUMN), and to give recommendations for improvements. Given the internal oversight unit is assigned a duty to assist the president director, its accountability shall be reported to the president director.

Pasal 68 Atas permintaan tertulis Komisaris/Dewan Pengawas, Direksi memberikan keterangan hasil pemeriksaan atau hasil pelaksanaan tugas satuan pengawasan intern.

Article 68 At the written request of the Board of Commissioners/Board of Supervisors, the Board of Directors shall brief them on the results of examination or the results of duties of the internal oversight unit. Article 69 The Board of Directors must have due regard to and immediately take necessary steps against anything presented in every report on the results of examination made by the internal oversight unit. Part Two The Audit Committee and Other Committees Article 70

Pasal 69 Direksi wajib memperhatikan dan segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan atas segala sesuatu yang dikemukakan dalam setiap laporan hasil pemeriksaan yang dibuat oleh satuan pengawasan intern. Bagian Kedua Komite Audit dan Komite Lain Pasal 70

(1) Komisaris dan Dewan Pengawas BUMN (1) The Board of Commissioners and the Board wajib membentuk komite audit yang bekerja of Supervisors of a State-Owned Entity secara kolektif dan berfungsi membantu (BUMN) must form an audit committee to Komisaris dan Dewan Pengawas dalam work collectively and has a function to melaksanakan tugasnya. assist the Board of Commissioners and the Board of Supervisors in the performance of their duties.
Penjelasan Pasal 70 Ayat (1): Dalam rangka mewujudkan pengawasan yang efektif dalam pelaksanaan tugasnya, Komisaris dan Dewan Pengawas perlu dibantu oleh Komite Audit yang bertugas menilai pelaksanaan kegiatan serta hasil audit yang dilakukan oleh satuan pengawas intern maupun auditor eksternal, memberikan rekomendasi mengenai penyempurnaan sistem pengendalian manajemen serta pelaksanaannya, memastikan telah terdapat prosedur review yang memuaskan terhadap segala informasi yang dikeluarkan BUMN, mengindentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Komisaris dan Dewan Pengawas serta tugas-tugas Komisaris dan Dewan Pengawas lainnya. Elucidation of Article 70 Section (1): To realize effective supervision in the performance of their duties, the Board of Commissioners and the Board of Supervisors need assistance of an Audit Committee with the duty to assess the implementation of activities and the audit results made by the internal oversight unit or external auditor; to give recommendations on the improvement of the management control system and the implementation thereof; to ensure that satisfactory review procedures for any information released by the State-Owned Entity (BUMN) have been made available; to identify matters that merit attention by the Board of Commissioners and the Board of Supervisors as well

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

43

as other duties of the Board of Commissioners and the Board of Supervisors.

(2) Komite audit sebagaimana dimaksud dalam (2) The audit committee as intended by section ayat (1) dipimpin oleh seorang ketua yang (1) shall be led by a chairperson that is bertanggung jawab kepada Komisaris atau responsible to the Board of Commissioner Dewan Pengawas. or the Board of Supervisors.
Penjelasan Pasal 70 Ayat (2): Ketua komite audit adalah anggota Komisaris independen, yang diangkat oleh Komisaris. Elucidation of Article 70 Section (2): A chairperson of the Audit Committee shall be an independent member of the Board of Commissioners who is appointed by the Board of Commissioners.

(3) Selain komite audit sebagaimana dimaksud (3) In addition to the audit committee as dalam ayat (1) Komisaris atau Dewan intended by section (1), the Board of Pengawas dapat membentuk komite lain yang Commissioners or the Board of Supervisors ditetapkan oleh Menteri. may form such other committees as the Minister may determine.
Penjelasan Pasal 70 Ayat (3): Komite lain yang dimaksud di sini, antara lain, adalah komite remunerasi dan komite nominasi. Elucidation of Article 70 Section (3): "Other committees" herein means, inter alia, a remuneration committee and nomination committee.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai komite audit (4) Further provisions on the audit committee dan komite lain diatur dengan Keputusan and other committees shall be governed by Menteri. Decision of the Minister. BAB VII PEMERIKSAAN EKSTERNAL Pasal 71 CHAPTER VII EXTERNAL AUDITS Article 71

(1) Pemeriksaan laporan keuangan perusahaan (1) An audit of corporate financial statements dilakukan oleh auditor eksternal yang shall be conducted by an external auditor as ditetapkan oleh RUPS untuk Persero dan oleh determined by the GMS for a State-Owned Menteri untuk Perum. Limited Liability Company (Persero) and by the Minister for a Public Enterprise (Perum).
Penjelasan Pasal 71 Ayat (1): Pemeriksaan laporan keuangan (financial audit) perusahaan dimaksudkan untuk memperoleh opini auditor atas kewajaran laporan keuangan dan perhitungan tahunan perusahaan yang bersangkutan. Opini auditor atas laporan keuangan dan perhitungan tahunan dimaksud diperlukan oleh pemegang saham/Menteri antara lain dalam rangka pemberian acquit et decharge Direksi dan Komisaris/Dewan Pengawas perusahaan. Sejalan dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, pemeriksaan laporan keuangan dan perhitungan tahunan Perseroan Terbatas dilakukan oleh akuntan publik. Elucidation of Article 71 Section (1): An audit of financial statements is intended to obtain the auditor’s opinions on the fairness of the financial statements and annual statements of the company concerned. The auditor’s opinions on the relevant financial statements and annual financial statements are necessary for the shareholders/the Minister to, inter alia, give full discharge (acquit et decharge) to the Board of Directors and the Board of Commissioners/the Board of Supervisors of the company. In line with Law Number 1 of 1995 concerning Limited Liability Companies and Law Number 8 of 1995 concerning Capital Markets, an audit of financial statements and annual statements of a Limited Liability Company shall be conducted by a public accountant.

(2) Badan Pemeriksa Keuangan berwenang (2) The Audit Board shall have the authority to melakukan pemeriksaan terhadap BUMN audit State-Owned Entities (BUMN) under sesuai dengan ketentuan peraturan the provisions of laws and regulations. perundang-undangan.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

44

BAB VIII RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI Bagian Pertama Maksud dan Tujuan Rekstrukturisasi Pasal 72

CHAPTER VIII RESTRUCTURING AND PRIVATIZATION Part One Objectives and Purposes of Restructuring Article 72

(1) Restrukturisasi dilakukan dengan maksud (1) Restructuring shall be conducted with the untuk menyehatkan BUMN agar dapat aim of maintaining a State-Owned Entity beroperasi secara efisien, transparan, dan (BUMN) solvent in order to operate profesional. efficiently, transparently, and professionally. (2) Tujuan restukturisasi adalah untuk: a. meningkatkan perusahaan; kinerja dan nilai (2) The purposes of restructuring shall be to: a. improve the corporate performance and value; b. give benefit through dividends and taxes to the state; c. produce products and services competitive prices to consumers; and d. facilitate the privatization. implementation at

b. memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada negara; c. menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen; dan d. memudahkan pelaksanaan privatisasi.

of

(3) Pelaksanaan restrukturisasi sebagaimana (3) The implementation of restructuring as dimaksud dalam ayat (1) tetap intended by section (1) shall constantly have memperhatikan asas biaya dan manfaat yang due regard to the cost and benefit. diperoleh.
Penjelasan Pasal 72: Sebagaimana mandat yang diberikan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, pemerintah berkewajiban untuk menyehatkan badan usaha, terutama yang usahanya berkaitan dengan kepentingan umum. Upaya penyehatan badan usaha ini dapat dilaksanakan melalui restrukturisasi agar perusahaan dapat beroperasi secara lebih efisien, transparan dan profesional sehingga badan usaha dapat memberikan produk/layanan terbaik dengan harga yang kompetitif kepada konsumen, serta memberikan manfaat kepada negara. Sebelum melaksanakan restrukturisasi, pemerintah akan mempertimbangkan asas biaya dan manfaat dari restrukturisasi tersebut. Elucidation of Article 72: As mandated by the People's Consultative Assembly, the government must maintain the entities solvent, especially entities with lines of business involving the public interest. Efforts to maintain these entities solvent may be exhausted through restructuring to enable the companies to operate more efficiently, transparently, and professionally such that the entities can provide consumers with the best product/service at competitive prices as well as give benefit to the state. Before restructuring, the government shall weigh the cost and benefit of the restructuring.

Bagian Kedua Ruang Lingkup Restrukturisasi Pasal 73 Restrukturisasi meliputi:

Part Two Scope of Restructuring Article 73 Restructuring shall include:

a. restrukturisasi sektoral yang pelaksanaannya a. sectoral restructuring, the implementation disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau of which shall be subject to adjustment to ketentuan peraturan perundang-undangan; sectoral policy and/or the provisions of laws and regulations;

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

45

b. restrukturisasi meliputi:

perusahaan/korporasi

yang b. Restructuring of a company or cooperative, including: 1) improvement of intensity of business competition, especially in sectors in which monopoly occurs, both deregulated and natural monopoly; 2) organization of functional relationship between the government as regulator and State-Owned Entities (BUMN) as entities, including application of principles of good corporate governance and direction to perform obligations of public service; 3) internal restructuring that includes finance, organization/management, operation, system, and procedures.
Elucidation of Article 73: Sectoral restructuring is mainly aimed at sectors that in the past enjoyed protection or sectors that have natural monopolies. Sectoral restructuring is intended to create a sound business climate for fair competition, efficiency, and optimal service. Such industrial restructuring involves business regulation. Reorganization and arrangement of regulation shall be conducted together with the relevant Departments.

1) peningkatan instensitas persaingan usaha, terutama di sektor-sektor yang terdapat monopoli, baik yang diregulasi maupun monopoli alamiah; 2) penataan hubungan fungsional antara pemerintah selaku regulator dan BUMN selaku badan usaha, termasuk di dalamnya penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan menetapkan arah dalam rangka pelaksanaan kewajiban pelayanan publik; 3) restrukturisasi internal yang mencakup keuangan, organisasi/manajemen, operasional, sistem, dan prosedur.
Penjelasan Pasal 73: Restrukturisasi sektoral terutama ditujukan kepada sektor-sektor yang mendapat proteksi di masa lalu atau terdapat monopoli alamiah. Restrukturisasi sektoral dimaksudkan untuk menciptakan iklim usaha yang sehat, sehingga terjadi kompetisi yang sehat, efisiensi, dan pelayanan yang optimal. Restrukturisasi industri tersebut berkaitan dengan pengaturan usaha (regulasi). Pembenahan dan penataan regulasi dilaksanakan bersama-sama dengan departemen terkait. Restrukturisasi sektor dapat dilaksanakan melalui cara-cara berikut: memisahkan segmen-segmen dalam sektor untuk mengurangi integrasi vertikal sektor, peningkatan kompetisi, introduksi persaingan dari industri subtitusi, pemasok lain dalam sektor yang sama, dan peningkatan persaingan pasar, serta demonopolisasi melalui regulasi. Untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki kewajiban pelayanan publik, perusahaan-perusahaan ini masih dalam proses restrukturisasi. Dengan tidak mengabaikan kepentingan publik, perusahaan akan menerapkan prinsip-prinsip usaha untuk lebih meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan. Upaya ini untuk memperjelas berapa tingkat subsidi pemerintah terhadap biaya pelayanan masyarakat tersebut.

Sectoral restructuring may be conducted through the following methods: separate sectoral segments to reduce the vertical integration of the sector; increased competition, introduction of competition from substitute industries, other suppliers of the same sector, and increased market competition as well as demonopolization through regulation. Companies with public service obligation are still in the restructuring process. Notwithstanding the public interest, the companies shall serve business principles to better improve the efficiency and productivity of the company. This effort is to clarify the levels of the government subsidies to the cost of public service.

Bagian Ketiga Maksud dan Tujuan Privatisasi Pasal 74 (1) Privatisasi dilakukan dengan maksud untuk: a. memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero; b. meningkatkan efisiensi dan produktivitas
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Part Three Objectives and Purposes of Privatization Article 74 (1) The objectives of privatization shall be to: a. expand the public ownership of a StateOwned Limited Liability Company (Persero); b. improve the efficiency and productivity
46

perusahaan; c. menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat; d. menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif; e. menciptakan Persero yang berdaya saing dan berorientasi global; f. menumbuhkan iklim usaha, ekonomi makro, dan kapasitas pasar.

of company; c. create good/strong financial structure and management; d. create sound and competitive industrial structure; e. create a competitive and global-oriented State-Owned Limited Liability Company (Persero); f. grow a business climate, economy, and market capacity. macro

(2) Privatisasi dilakukan dengan tujuan untuk (2) Privatization shall be conducted with the meningkatkan kinerja dan nilai tambah aim of improvement of corporate perusahaan dan meningkatkan peran serta performance and added value and masyarakat dalam pemilikan saham Persero. improvement of public participation in the share ownership in the State-Owned Limited Liability Company (Persero).
Penjelasan Pasal 74: Dengan dilakukannya privatisasi diharapkan akan terjadi perubahan atas budaya perusahaan sebagai akibat dari masuknya pemegang saham baru, baik melalui penawaran umum (go public) ataupun melalui penyertaan langsung (direct placement). Perusahaan akan dihadapkan pada kewajiban pemenuhan persyaratan-persyaratan keterbukaan yang merupakan persyaratan utama dari suatu proses go public, atau adanya sasaran-sasaran perusahaan yang harus dicapai sebagai akibat masuknya pemegang saham baru. Budaya perusahaan yang berubah tersebut akan dapat mendorong peningkatan kinerja perusahaan yang selanjutnya akan dapat mempertinggi daya saing perusahaan dalam berkompetisi dengan pesaingpesaing, baik nasional, regional, bahkan global sehingga pada akhirnya akan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional dalam bentuk barang dan jasa yang semakin berkualitas dan terjangkau harganya, serta penerimaan negara dalam bentuk pajak yang akan semakin besar pula. Dengan demikian maksud dan tujuan privatisasi pada dasarnya adalah untuk meningkatkan peran Persero dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umum dengan memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero, serta untuk menunjang stabilitas perekonomian nasional. Meskipun privatisasi bertujuan untuk melakukan efisiensi, sedapat mungkin tidak sampai menimbulkan keresahan bagi karyawan. Oleh karena itu dalam melaksanakan privatisasi sejauh mungkin perlu diupayakan agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). PHK hanya dapat dilakukan setelah jangka waktu tertentu setelah pelaksanaan privatisasi, kecuali karyawan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar ketentuan hukum. Selanjutnya apabila PHK terjadi pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Elucidation of Article 74: Through privatization, it is expected that a change in the corporate culture occurs following the entry of new shareholders through either public offers (go public) or direct placement. Companies will face an obligation to meet the requirements of openness that represent the main requirements for a go-public process, or to meet the companies’ targets that must be achieved following the entry of new shareholders. The corporate culture so changed will encourage the improvement of performance of the company that will further increase the competitiveness of the companies in competing with the national, regional, and even with international competitors, this way will make a larger contribution to national economy through more quality and affordable goods and services as well as increase the state tax revenues.

As aforesaid, the objectives and purposes of privatization are basically to improve the role of State-Owned Limited Liability Companies (Persero) in efforts to increase public welfare by expansion of public ownership of the State-Owned Limited Liability Companies (Persero) as well as to uphold the national economic stability. While privatization has the purpose to make efficiency, it is sought that such privatization should not foment unrest among the employees. Therefore, in the conduct of privatization, it is necessary that no termination of employment is effected. Termination of employment may be effected only after a definite period of the privatization, except where the employees have committed acts in violation of the provisions of law. Further, should termination of employment occurs, it shall be effected under laws 47

peraturan perundang-undangan. Sehubungan dengan itu, dalam upaya agar karyawan dan serikat pekerja maupun masyarakat dapat memahami manfaat privatisasi pemerintah perlu melakukan sosialisasi tentang manfaat privatisasi secara terarah dan konsisten.

and regulations. Therefore, for the employees and the worker union or the public to be aware of the benefit of privatization, the government should socialize the benefit of privatization in a guided and consistent manner.

Bagian Keempat Prinsip Privatisasi dan Kriteria Perusahaan yang Dapat Diprivatisasi Pasal 75

Part Four Privatization Principles and the Criteria of Privatizable Enterprises Article 75

Privatisasi dilakukan dengan memperhatikan Privatization shall be conducted with due regard prinsip-prinsip transparansi, kemandirian, to the principles of transparency, independence, akuntabilitas, pertanggungjawaban, dan accountability, responsibility, and fairness. kewajaran.
Penjelasan Pasal 75: Pelaksanaan privatisasi dilakukan secara transparan, baik dalam proses penyiapannya maupun dalam pelaksanaannya. Proses privatisasi dilaksanakan dengan berpedoman pada prosedur privatisasi yang telah ditetapkan tanpa ada intervensi dari pihak lain di luar mekanisme korporasi serta ketentuan perundangundangan yang berlaku. Proses privatisasi juga dilakukan dengan berkonsultasi secara intensif dengan pihak-pihak terkait sehingga proses dan pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Elucidation of Article 75: Privatization shall be conducted transparently, either during its preparation process or its implementation. Privatization process shall be conducted by reference to the determined privatization procedures without intervention of other parties outside the corporation’s mechanism and prevailing laws and regulations. Privatization process shall also be conducted by intensive consultation with the relevant parties in order that its process and implementation can be accounted for to the public.

Pasal 76

Article 76

(1) Persero yang dapat diprivatisasi harus (1) A State-Owned Limited Liability Company sekurang-kurangnya memenuhi kriteria: (Persero) may be privatized if meeting at least the following criteria: a. industri/sektor usahanya kompetitif; atau b. industri/sektor usaha yang teknologinya cepat berubah. unsur a. have competitive sector; or industry/business

b. have industry/business sector with rapidly proliferating elements of technology.
Elucidation of Article 76 Section (1): "Competitive industry/business sector” means industry/business sector that is basically engaged by whomever, either by a State-Owned Entity (BUMN) or private entity. In other words, there are no laws and regulations (sectoral policy) that prohibit private entities from performing activities within that sector, or firmly speaking, that sector is not solely specialized for State-Owned Entities (BUMN). "Industry/business sector with rapidly proliferating elements of technology" means competitive industry/business sector that has the main characteristics of rapidly proliferating technology and requires very large investment to replace the technology.

Penjelasan Pasal 76 Ayat (1): Yang dimaksud dengan industri/sektor usaha kompetitif adalah industri/sektor usaha yang pada dasarnya dapat diusahakan oleh siapa saja, baik BUMN maupun swasta. Dengan kata lain tidak ada peraturan perundang-undangan (kebijakan sektoral) yang melarang swasta melakukan kegiatan di sektor tersebut, atau tegasnya sektor tersebut tidak sematamata dikhususkan untuk BUMN. Yang dimaksud dengan industri/sektor usaha yang unsur teknologi cepat berubah adalah industri/sektor usaha kompetitif dengan ciri utama terjadinya perubahan teknologi yang sangat cepat dan memerlukan investasi yang sangat besar untuk mengganti teknologinya.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

48

(2) Sebagian aset atau kegiatan dari Persero yang (2) A part of assets or activities of a Statemelaksanakan kewajiban pelayanan umum Owned Limited Liability Company (Persero) dan/atau yang berdasarkan Undang-undang that performs public service obligation kegiatan usahanya harus dilakukan oleh and/or that under a Law its business BUMN, dapat dipisahkan untuk dijadikan activities are required of any State-Owned penyertaan dalam pendirian perusahaan untuk Entity (BUMN), may be separated for use as selanjutnya apabila diperlukan dapat participation to establish a company, and diprivatisasi. further, if required, may be privatized. Pasal 77 Persero yang tidak dapat diprivatisasi adalah: Article 77 State-Owned Limited Liability Companies (Persero) that are unprivatizable shall be:

a. Persero yang bidang usahanya berdasarkan a. a State-Owned Limited Liability Company ketentuan peraturan perundang-undangan (Persero) of which the line of business may hanya boleh dikelola oleh BUMN; under laws and regulation only be managed by a State-Owned Entity (BUMN); b. Persero yang bergerak di sektor usaha yang b. a State-Owned Limited Liability Company berkaitan dengan pertahanan dan keamanan (Persero) that is engaged in business sector negara; associated with the state defense and security; c. Persero yang bergerak di sektor tertentu yang c. a State-Owned Limited Liability Company oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk (Persero) that is engaged in certain sectors melaksanakan kegiatan tertentu yang and given special assignments by the berkaitan dengan kepentingan masyarakat; government to perform certain activities that concern public interest; d. Persero yang bergerak di bidang usaha d. a State-Owned Limited Liability Company sumber daya alam yang secara tegas (Persero) that is engaged in natural resource berdasarkan ketentuan peraturan perundangsector that under the provisions of laws and undangan dilarang untuk diprivatisasi. regulations is expressly prohibited from being privatized. Pasal 78 Privatisasi dilaksanakan dengan cara: Article 78 Privatization shall be conducted by:

a. penjualan saham berdasarkan ketentuan pasar a. sale of shares under the provisions on capital modal; markets;
Penjelasan Pasal 78 Huruf a: Yang dimaksud dengan penjualan saham berdasarkan ketentuan pasal modal antara lain adalah penjualan saham melalui penawaran umum (Initial Public Offering/go public), penerbitan obligasi konversi, dan efek lain yang bersifat ekuitas. Termasuk dalam pengertian ini adalah penjualan saham kepada mitra strategis (direct placement) bagi BUMN yang telah terdaftar di bursa. Elucidation of Article 78 Point a: "Sale of shares under the provisions on capital markets" means, inter alia, sale of shares through a public offer (Initial Public Offering/go public), issuance of convertible bonds and other equity securities. This also means sale of shares to strategic partners (direct placement) by StateOwned Entities (BUMN) that have been listed in the stock exchange.

b. penjualan saham langsung kepada investor;
Penjelasan Pasal 78 Huruf b: Sedangkan yang dimaksud dengan penjualan saham langsung kepada investor adalah penjualan saham kepada mitra strategis (direct placement) atau kepada
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

b. direct sale of shares to investors;
Elucidation of Article 78 Point b: "Direct sale of shares to investors" means sale of shares to strategic partners (direct placement) or other investors, including financial investors. This 49

investor lainnya termasuk financial investor. Cara ini, khusus berlaku bagi penjualan saham BUMN yang belum terdaftar di bursa.

method is especially applicable to sale of shares by State-Owned Entities (BUMN) that have not been listed in the stock exchange.

c. penjualan saham kepada manajemen dan/atau c. sale of shares to the management and/or karyawan yang bersangkutan. employees concerned.
Penjelasan Pasal 78 Huruf c: Yang dimaksud dengan penjualan saham kepada manajeman (Management Buy Out/MBO) dan/atau karyawan (Employee Buy Out/EBO) adalah penjualan sebagian besar atau seluruh saham suatu perusahaan langsung kepada manajemen dan/atau karyawan perusahaan yang bersangkutan. Elucidation of Article 78 Point c: "Sale of shares to the management (Management Buy Out/MBO) and/or the employees (Employee Buy Out/EBO)" means direct sale of major part or all of shares of a company to the management and/or the employees of the relevant company.

Bagian Kelima Komite Privatisasi Pasal 79

Part Five The Privatization Committee Article 79

(1) Untuk membahas dan memutuskan kebijakan (1) In order to have access to discussions and tentang privatisasi sehubungan dengan make decision on policy on privatization kebijakan lintas sektoral, pemerintah with respect to inter-sectoral policy, the membentuk sebuah komite privatisasi sebagai government shall form a privatization wadah koordinasi. committee as coordinating means. (2) Komite privatisasi dipimpin oleh Menteri (2) The privatization committee shall be led by Koordinator yang membidangi perekonomian the Coordinating Minister for economics dengan anggota, yaitu Menteri, Menteri with members, i.e., the Minister, the Keuangan dan Menteri Teknis tempat Persero Minister of Finance, and the Technical melakukan kegiatan usaha. Minister of business sector in which the State-Owned Limited Liability Company (Persero) is engaged.
Penjelasan Pasal 79 Ayat (2): Menteri Teknis sebagai regulator di sektor tempat BUMN melakukan kegiatan usaha, menjadi anggota komite privatisasi hanya dalam privatisasi BUMN di bidangnya. Elucidation of Article 79 Section (2): The Technical Minister as regulator of business sector in which a State-Owned Entity (BUMN) is engaged becomes a member of the privatization committee for privatization of a State-Owned Entity (BUMN) within his/her sector only.

(3) Keanggotaan komite privatisasi sebagaimana (3) Membership of the privatization committee dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan as intended by section (2) shall be governed Keputusan Presiden. by Decision of the President. Pasal 80 (1) Komite privatisasi bertugas untuk: a. merumuskan dan menetapkan kebijakan umum dan persyaratan pelaksanaan Privatisasi; b. menetapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memperlancar proses Privatisasi; c. membahas dan memberikan jalan keluar atas permasalahan strategis yang timbul
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

Article 80 (1) The privatization committee shall have the duties to: a. formalize and determine the general policy and requirements for the implementation of privatization; b. determine steps necessary to smooth the way for Privatization process; c. discuss and provide a solution on the strategic problems arising out of the

50

dalam proses Privatisasi, termasuk yang berhubungan dengan kebijakan sektoral pemerintah.

process of Privatization, including problems with respect to the sectoral policy of the government.

(2) Komite privatisasi dalam melaksanakan (2) In the performance of its duties as intended tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat by section (1), the privatization committee (1) dapat mengundang, meminta masukan, may invite, solicit input and/or assistance dan/atau bantuan instansi pemerintah atau from government agencies or other parties pihak lain yang dipandang perlu. deemed necessary. (3) Ketua komite privatisasi secara berkala (3) A chairperson of the privatization melaporkan perkembangan pelaksanaan committee shall periodically report the tugasnya kepada Presiden. development of the performance of his/her duty to the President. Pasal 81 Dalam melaksanakan bertugas untuk: Privatisasi, Article 81 Menteri In the conduct of Privatization, the Minister shall have the duties to: a. prepare an annual program of Privatization;

a. menyusun program tahunan Privatisasi;

b. mengajukan program tahunan Privatisasi b. submit an annual program of Privatization kepada komite privatisasi untuk memperoleh to the privatization committee for direction; arahan; c. melaksanakan Privatisasi.
Penjelasan Pasal 81: Dalam rangka melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal ini, Menteri mengambil langkah-langkah antara lain sebagai berikut: a. b. c. d. e. menetapkan BUMN yang akan diprivatisasi; menetapkan digunakan; metode privatisasi yang akan

c. implement Privatization.
Elucidation of Article 81: To perform the duties as intended by this article, the Minister shall perform the following measures, inter alia: a. b. c. d. e. determine State-Owned Entities (BUMN) for privatization; determine privatization methods to be used; determine the type and band of the amount of shares to be issued; determine the selling price band of shares; prepare the estimated value that may be realized from the privatization programs of a State-Owned Entity (BUMN).

menetapkan jenis serta rentangan jumlah saham yang akan dilepas; menetapkan rentangan harga jual saham; menyiapkan perkiraan nilai yang dapat diperoleh dari program privatisasi suatu BUMN.

Bagian Keenam Tata Cara Privatisasi Pasal 82

Part Six Procedures for Privatization Article 82

(1) Privatisasi harus didahului dengan tindakan (1) Privatization must be preceded by selection seleksi atas perusahaan-perusahaan dan of companies and refer to the criteria that mendasarkan pada kriteria yang ditetapkan are adopted by Government Regulation. dalam Peraturan Pemerintah. (2) Terhadap perusahaan yang telah diseleksi dan (2) Companies that have been selected and met memenuhi kriteria yang telah ditentukan, the adopted criteria, upon recommendation setelah mendapat rekomendasi dari Menteri of the Minister of Finance, shall be further Keuangan, selanjutnya disosialisasikan socialized to the public and consulted with
Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

51

kepada masyarakat serta dikonsultasikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 83

the House of Representatives.

Article 83

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara Further provisions on the procedures for Privatisasi diatur dengan Peraturan Pemerintah. Privatization shall be governed by Government Regulation.
Penjelasan Pasal 83: Dalam Peraturan Pemerintah diatur antara lain mengenai: a. b. c. penentuan BUMN yang layak untuk dimasukkan dalam program privatisasi; penyampaian program tahunan privatisasi kepada komite privatisasi; konsultasi dengan DPR dan Departemen/Lembaga Non Departemen terkait; pelaksanaan privatisasi. Elucidation of Article 83: The Government Regulation shall govern, inter alia: a. b. c. determination of legible State-Owned Entities (BUMN) for entry into a privatization program; submission of an annual privatization program to the privatization committee; consultation with the House of Representatives and the relevant Departments/Non-Department Institutions; implementation of privatization.

d.

d.

Pasal 84

Article 84

Setiap orang dan/atau badan hukum yang Any person and/or legal entity with potential to mempunyai potensi benturan kepentingan have a conflict of interest is prohibited from dilarang terlibat dalam proses Privatisasi. being involved in the process of Privatization.
Penjelasan Pasal 84: Yang termasuk dalam pengertian orang dan/atau badan hukum yang mempunyai benturan kepentingan adalah meliputi pihak-pihak yang mempunyai hubungan afiliasi sebagai berikut: a. hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai derajat kedua, baik secara horisontal maupun vertikal; hubungan antara pihak dengan karyawan, Direktur, atau Komisaris dari pihak tersebut; hubungan antara 2 (dua) perusahaan di mana terdapat satu atau lebih anggota Direksi atau Komisaris yang sama; hubungan antara perusahaan dan pihak, baik langsung maupun tidak langsung, mengendalikan atau dikendalikan oleh perusahaan tersebut; hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan, baik langsung maupun tidak langsung, oleh pihak yang sama; atau hubungan antara perusahaan dan pemegang saham utama. Elucidation of Article 84: "Person and/or legal entity that has a conflict of interest" shall include parties that have affiliation relationship, as follows: a. family relationship due to marriage and offspring up to the second degree both horizontally and vertically; relationship between a party and employees, Directors or Commissioners of the party; relationship between 2 (two) companies in which there is one or more members of the same Board of Directors or Board of Commissioners; relationship between a company and party that either directly or indirectly controls or is controlled by that company; relationship between 2 (two) companies that are controlled either directly or indirectly by the same party; or relationship between a company and its major shareholders.

b. c.

b. c.

d.

d.

e.

e.

f.

f.

Bagian Ketujuh Kerahasiaan Informasi Pasal 85

Part Seven Confidentiality of Information Article 85

(1) Pihak-pihak yang terkait dalam program dan (1) Parties that involve in the program and

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

52

proses Privatisasi diwajibkan menjaga kerahasiaan atas informasi yang diperoleh sepanjang informasi tersebut belum terbuka.
Penjelasan Pasal 85 Ayat (1): Yang dimaksud dengan informasi adalah fakta material dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga dan/atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut. Atas informasi atau fakta dimaksud, selama belum ditetapkan sebagai informasi atau fakta yang terbuka atau selama belum diumumkan oleh Menteri semua pihak yang terlibat wajib untuk merahasiakan informasi tersebut.

process of privatization must hold confidential any information obtained so long as such information has not been disclosed.
Elucidation of Article 85 Section (1): "Information" means a material and relevant fact on a situation, event, or fact that may affect prices and/or decisions of investors, prospective investors, or any other interested parties that are affected by such information or fact. With respect to such information or fact, as long as the information or fact has not been determined as open information or fact, or as long as the information or fact has not been announced by the Minister, all parties so involved must maintain the information confidential.

(2) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana (2) A breach of the provision as intended by dimaksud dalam ayat (1) dikenakan sanksi section (1) shall be subject to sanctions sesuai dengan ketentuan peraturan under the provisions of laws and regulations. perundang-undangan.
Penjelasan Pasal 85 Ayat (2): Dalam hal pelanggaran ketentuan kerahasiaan ini terjadi pada privatisasi BUMN yang belum terdaftar di bursa dan privatisasinya menggunakan cara selain cara privatisasi melalui penjualan saham di bursa dikenakan sanki sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang hukum pidana umum, sedangkan dalam hal pelanggaran terjadi pada privatisasi BUMN yang telah terdaftar di bursa, dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. Elucidation of Article 85 Section (2): Where a breach of the provisions of this confidentiality is committed in a State-Owned Entity (BUMN) that has not been listed in the stock exchange, and its privatization uses another method other than a privatization method through sale of shares in the stock exchange, such a State-Owned Entity (BUMN) shall be subject to sanctions pursuant to public criminal law; meanwhile, where a breach is committed in the privatization of a State-Owned Entity (BUMN) that has been listed in the stock exchange, such a State-Owned Entity (BUMN) shall be subject to sanctions pursuant to laws and regulations concerning capital markets.

Bagian Kedelapan Hasil Privatisasi Pasal 86

Part Eight Privatization Proceeds Article 86

(1) Hasil Privatisasi dengan cara penjualan (1) Privatization proceeds through sale of statesaham milik negara disetor langsung ke Kas owned shares shall be directly deposited into Negara. the State Treasury.
Penjelasan Pasal 86 Ayat (1): Hasil privatisasi yang disetorkan ke Kas Negara adalah hasil divestasi saham milik negara. Sedangkan bagi penjualan saham baru, hasilnya disetorkan ke kas perusahaan. Bagi hasil privatisasi anak perusahaan BUMN, hasil privatisasinya dapat ditetapkan sebagai dividen interim. Elucidation of Article 86 Section (1): The privatization proceeds deposited into the State Treasury shall be proceeds of divestment of shares owned by the state. Meanwhile, in terms of sale of new shares, the proceeds shall be deposited into the treasury of company. In terms of the privatization proceeds of subsidiaries of the State-Owned Entity (BUMN), their privatization proceeds may be determined as interim dividends. "Privatization proceeds" means net proceeds less the cost of the implementation of privatization. The cost of the privatization must have due regard to the principles of fairness, transparency, and

Yang dimaksud dengan hasil privatisasi adalah hasil bersih setelah dikurangi biaya-biaya pelaksanaan privatisasi. Biaya pelaksanaan privatisasi harus memperhatikan prinsip kewajaran, transparansi dan

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

53

akuntabilitas.

accountability.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara (2) Further provisions on the procedures for penyetoran hasil Privatisasi diatur dengan deposit of Privatization proceeds shall be Peraturan Pemerintah. governed by Government Regulation. BAB IX KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 87 CHAPTER IX MISCELLANEOUS PROVISIONS Article 87

(1) Karyawan BUMN merupakan pekerja (1) Employees of a State-Owned Entity BUMN yang pengangkatan, pemberhentian, (BUMN) shall be workers of a State-Owned kedudukan, hak dan kewajibannya ditetapkan Entity (BUMN), the appointment, dismissal, berdasarkan perjanjian kerja bersama sesuai position, rights and obligations of whom dengan ketentuan peraturan perundangshall be stated under a collective labor undangan di bidang ketenagakerjaan. agreement pursuant to the provisions of labor laws and regulations.
Penjelasan Pasal 87 Ayat (1): Dengan status kepegawaian BUMN seperti ini, bagi BUMN tidak berlaku segala ketentuan eselonisasi jabatan yang berlaku bagi pegawai negeri. Perjanjian kerja bersama dimaksud dibuat antara pekerja BUMN dengan pemberi kerja yaitu manajemen BUMN. Elucidation of Article 87 Section (1): With such status of employees of State-Owned Entities (BUMN), all provisions of echelonment of office applicable to civil servants shall not be applicable to State-Owned Entities (BUMN). A collective labor agreement shall be entered into between the employees of the State-Owned Entity (BUMN) and the employment provider, i.e., the management of the State-Owned Entity (BUMN).

(2) Karyawan BUMN dapat membentuk serikat (2) Employees of a State-Owned Entity pekerja sesuai dengan ketentuan peraturan (BUMN) may form a worker union under the perundang-undangan. provisions of laws and regulations. (3) Serikat pekerja wajib memelihara keamanan (3) A workers union must maintain security and dan ketertiban dalam perusahaan, serta order within the company and improve work meningkatkan disiplin kerja. discipline. Pasal 88 Article 88

(1) BUMN dapat menyisihkan sebagian laba (1) A State-Owned Entity (BUMN) may bersihnya untuk keperluan pembinaan usaha appropriate a part of its net profits for kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat direction of small-scale sekitar BUMN. businesses/cooperatives and direction of the community living around the State-Owned Entity (BUMN). (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyisihan (2) Further provisions on the appropriation and dan penggunaan laba sebagaimana dimaksud utilization of profits as intended by section dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan (1) shall be governed by Decision of the Menteri. Minister.
Penjelasan Pasal 88: Yang dimaksud dengan usaha kecil/koperasi meliputi usaha kecil/koperasi yang memenuhi kriteria sebagai usaha kecil sesuai dengan peraturan perundangundangan. Elucidation of Article 88: "Small-scale businesses/cooperatives" shall include small-scale businesses/cooperatives that meet the criteria as small-scale businesses pursuant to laws and regulations.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

54

Pasal 89 Anggota Komisaris, Dewan Pengawas, Direksi, karyawan BUMN dilarang untuk memberikan atau menawarkan atau menerima, baik langsung maupun tidak langsung, sesuatu yang berharga kepada atau dari pelanggan atau seorang pejabat pemerintah untuk mempengaruhi atau sebagai imbalan atas apa yang telah dilakukannya dan tindakan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 90 BUMN dalam batas kepatutan hanya dapat memberikan donasi untuk amal dan tujuan sosial sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pasal 91

Article 89 At no time shall members of the Board of Commissioners, the Board of Supervisors, the Board of Directors, and employees of the StateOwned Entity (BUMN) give or offer or receive, whether directly or indirectly, anything valuable to or from customers or government officials for inducement or be in return for what they have done and acted in accordance with the provisions of laws and regulations. Article 90 State-Owned Entities (BUMN) may within a reasonable manner give donations for charity and social purposes under the provisions of laws and regulations. Article 91

Selain organ BUMN, pihak lain manapun In addition to the organs of a State-Owned dilarang campur tangan dalam pengurusan Entity (BUMN), at not time shall any other BUMN. parties interfere with the management of the State-Owned Entity (BUMN).
Penjelasan Pasal 91: Agar supaya Direksi dapat melaksanakan tugasnya secara mandiri, pihak-pihak luar manapun, selain organ BUMN tidak diperbolehkan ikut campur tangan terhadap pengurusan BUMN. Termasuk dalam pengertian campur tangan adalah tindakan atau arahan yang secara langsung memberi pengaruh terhadap tindakan pengurusan BUMN atau terhadap pengambilan keputusan oleh Direksi. Ketentuan ini dimaksudkan untuk mempertegas kemandirian BUMN sebagai badan usaha agar dapat dikelola secara profesional sehingga dapat berkembang dengan baik sesuai dengan tujuan usahanya. Hal ini berlaku pula bagi Departemen dan instansi Pemerintah lainnya, karena kebutuhan dana Departemen dan instansi Pemerintah lainnya telah diatur dan ditetapkan secara tersendiri, Departemen dan instansi Pemerintah tidak dibenarkan membebani BUMN dengan segala bentuk pengeluaran dan sebaliknya BUMN tidak dibenarkan membiayai keperluan pengeluaran Departemen dan instansi Pemerintah dalam pembukuan. Elucidation of Article 91: For the Board of Directors to perform their duties independently, any parties other than the organs of the State-Owned Entity (BUMN) shall not interfere with the management of the State-Owned Entity (BUMN). "Interfere" shall include an act or direction that directly affects the management of the State-Owned Entity (BUMN) or on the decision making of the Board of Directors. This provision is intended to underscore the independence of StateOwned Entities (BUMN) as entities for professional management and proper development in accordance with their purposes of business. This also applies to other Departments and government agencies because the need of funds of other Departments and Government agencies has been governed and stated separately. Departments and Government agencies are not warranted to encumber State-Owned Entities (BUMN) with any expenses; similarly, State-Owned Entities (BUMN) are not warranted to defray the expenses of Departments and Government agencies in their books.

Pasal 92

Article 92

Perubahan bentuk badan hukum BUMN diatur A change in the form of a legal entity of a dengan Peraturan Pemerintah. State-Owned Entity (BUMN) shall be governed by Government Regulation.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

55

BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 93

CHAPTER X TRANSITIONAL PROVISIONS Article 93

(1) Dalam waktu 2 (dua) tahun terhitung sejak (1) Within 2 (two) years counted from when Undang-undang ini mulai berlaku, semua this Law comes into effect, all State-Owned BUMN yang berbentuk perusahaan jawatan Entities (BUMN) in the form of Service (Perjan), harus telah diubah bentuknya Enterprise (Perjan) must have been changed menjadi Perum atau Persero. into Public Enterprise (Perum) or StateOwned Limited Liability Company (Persero). (2) Segala ketentuan yang mengatur BUMN (2) All provisions that govern State-Owned dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak Entities (BUMN) shall remain effective to bertentangan atau belum diganti dengan yang the extent not against or not yet replaced by baru berdasarkan Undang-undang ini. new provisions under this Law. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 94 Dengan berlakunya Undang-undang ini, maka: CHAPTER XI CONCLUDING PROVISIONS Article 94 Upon this Law coming into effect:

1. Indonesische Bedrijvenwet (Staatsblad Tahun 1. Indonesische Bedrijvenwet (State Gazette of 1927 Nomor 419) sebagaimana telah 1927 Number 419), as amended and added beberapa kali diubah dan ditambah terakhir several times, most recently by Law dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun Number 12 of 1955 (State Gazette Number 1955 (Lembaran Negara Republik Indonesia 49 of 1955, Supplement to State Gazette Tahun 1955 Nomor 49, Tambahan Lembaran Number 850); Negara Nomor 850); 2. Undang-undang Nomor 19 Prp Tahun 1960 2. Law Number 19 Prp of 1960 concerning tentang Perusahaan Negara (Lembaran State Enterprises (State Gazette Number 59 Negara Republik Indonesia Tahun 1960 of 1960, Supplement to State Gazette Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Number 1989); Nomor 1989); 3. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 3. Law Number 9 of 1969 concerning tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Enactment of Government Regulation in Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun Lieu of Law Number 1 of 1969 (State 1969 (Lembaran Negara Repubik Indonesia Gazette Number 16 of 1969, Supplement to Tahun 1969 Nomor 16, Tambahan Lembaran State Gazette Number 2890) concerning Negara Nomor 2890) tentang Bentuk-Bentuk Forms of State Entities into a Law (State Usaha Negara Menjadi Undang-undang Gazette Number 40 of 1969, Supplement to (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun State Gazette Number 2904); 2969 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2904); dinyatakan tidak berlaku. are declared to no longer in effect.

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

56

Pasal 95 Undang-undang diundangkan. ini berlaku sejak

Article 95 tanggal This Law shall take effect from the date it is promulgated. In order that every person may know of it, the promulgation of this Law is ordered by placement in the State Gazette of the Republic of Indonesia.
Ratified in Jakarta on June 19, 2003 PRESIDENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA sgd MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Promulgated in Jakarta on June 19, 2003 SECRETARY OF STATE OF THE REPUBLIC OF INDONESIA sgd BAMBANG KESOWO

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta pada tanggal 19 Juni 2003 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 19 Juni 2003 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA, ttd BAMBANG KESOWO

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESA TAHUN 2003 NOMOR 70 TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4297

STATE GAZETTE OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER 70 OF 2003 SUPPLEMENT TO STATE GAZETTE OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER 4297

Translated by: Wishnu Basuki wbasuki@abnrlaw.com

Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro

57

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful