You are on page 1of 5

TRANSPLANTASI GINJAL


Transplantasi ginjal merupakan salah satu terapi pengganti pada gagal ginjal stadium
akhir selain hemodialisis dan dialysis peritoneal.
Semua pasien gagal ginjal tahap akhir dipertimbangkan sebagai calon resipien
transplantasi ginjal (kecuali jika mengidap penyakit keganasan sistemik, infeksi kronik,
penyakit kardiovaskular berat, atau gangguan neuropsikiatrik yang akan mengganggu
kepatuhan minum obat).
Transplantasi ginjal terbukti lebih baik daripada dialysis (terutama dalam hal perbaikan
kualitas hidup), karena dialysis hanya menangani sebagian jenis penurunan fungsi ginjal
sedangkan transplantasi ginjal jika berhasil mampu mengembalikan fungsi ginjal menjadi
normal seperti sedia kala.

Prosedur
Kualitas hidup (jika berhasil)
Ketergantungan pada fasilitas
medik
Jika gagal

Transplantasi Ginjal
Biasanya 1x
Baik sekali
Minimal

Hemodialisis Kronis
Seumur hidup
Cukup baik
Besar

Dapat hemodialisis kembali
Meninggal
atau transplantasi lagi
Angka kematian
4-8%
20-25%
Tabel Perbedaan Transplantasi Ginjal dengan Hemodialisis Kronis

Orang yang berpengaruh terhadap transplantasi ginjal:
1. Donor
- Donor hidup
o Harus ikhlas, sehat, mampu menjalani operasi nefroktomi, dan mampu
hidup normal dengan satu ginjal setelah melakukan donasi. Dikatakan
hidup normal jika ia masih mampu bekerja seperti biasa, tidak
membutuhkan diet atau obat-obatan khusus, tidak mengalami perubahan
pada kehidupan seksual, dan tetap subur.
o Jangan memilih donor yang berusia terlalu tua karena menghasilkan
fungsi ginjal transplant yang lebih rendah.
o Jangan memilih donor yang berusia terlalu muda karena rentan terhadap
waktu iskemik dingin dan cenderung menghasilkan kegagalan imunologik
yang lebih tinggi.
o Kriteria eksklusi calon donor hidup:
a. Usia <18 tahun/>65 tahun
b. Hipertensi (>140/90 mmHg)
c. Diabetes (Tes Toleransi Glukosa/HbA1c abnormal)
d. Proteinuria (>250 mg/hari)
e. Riwayat batu ginjal

f.
g.
h.
i.

LFG abnormal (klirens kreatinin <80 ml/menit)
Hematuria
Kelainan urologic ginjal donor
Masalah medic yang bermakna (penyakit kardiovaskular, paru, hepar,
dll.)
j. Obesitas (30% di atas BB ideal)
k. Riwayat thrombosis/tromboembolisme)
l. KI psikiatrik
- Donor jenazah
o Memanfaatkan organ tubuh pasien yang akan meninggal (umumnya
korban trauma kepala/penyakit pembuluh darah otak) setelah terdiagnosis
mati batang otak
- Donor xerogenik
o Donor berasal dari hewan
2. Resipien
- Harus ditekankan bahwa transplantasi ginjal merupakan pilihan terakhir.
- Pastikan bahwa pasien memang sudah mengalami gagal ginjal tingkat akhir.
- Perhatikan juga etiologi dari gagal ginjal pasien tersebut, karena 90% kasus gagal
ginjal akibat glomerulonefritis yang telah ditangani dengan tarnsplantasi ginjal
ternyata masih menimbulkan kekambuhan sehingga menyebabkan gagal ginjal
transplan.
- Kontraindikasi:
o Masalah psikiatrik
o Riwayat ketidakpatuhan yang berulang
o Usia sangat lanjut (>70 tahun)
o Keganasan baru atau dnegan metastasis
o Penyakit di luar ginjal yang berat
o Infeksi kronik (TB aktif)

Tahapan transplantasi ginjal

Nefroktomi

ISKEMIK
PANAS
PERTAMA

Perfusi
cairan
pembilas

Perfusi
dihentikan
ISKEMIK
DINGIN

Anastomo
sis
ISKEMIK
PANAS
KEDUA

Catatan:
- Jika waktu iskemik panas pertama berlangsung lebih dari 60 menit maka saat itu
juga ketahanan hidup ginjal transplant akan sangat menurun.

-

-

Pada donor jenazah, jika waktu iskemik dingin berlangsung terlalu lama sampai
lebih dari 24 jam, maka dapat memperlambat fungsi ginjal transplant pasca
transplantasi.
Cairan pembilas berfungsi untuk menurunkan aktivitas metabolic dan kebutuhan
oksigen ginjal transplant dengan cara mempertahankan lingkungan intraselular
dalam keadaan tanpa adanya pompa Na+/K-. Perfusi dilakukan dengan cairan
pembilas bersuhu 2-4°C melalui arteri renalis. Cairan yang biasa digunakan
adalah histidine-tryptophone-ketoglutarat.

Rejeksi pada transplantasi ginjal:
1. Rejeksi hiperakut
- Merupakan destruksi imunologi ginjal transplant yang terjadi dalam waktu 24 jam
pasca transplantasi bahkan intraoperatif.
- Disebabkan oleh reaksi antibody resipien yang terbentuk pratransplantasi dengan
antigen sel endotel pembuluh darah ginjal transplan.
- Rejeksi ini dapat menyebabkan koagulasi intravascular sehingga menyebabkan
edema dan hemoragik ginjal transplant.
- Gambaran histopatologi: endapan igG dan C3 di dinding kapiler glomerulus dan
peritubulus serta agregasi trombosit yang menyumbat lumen kapiler.
2. Rejeksi akut cepat (accelerated rejection)
- Merupakan destruksi imunologi ginjal transplant yang terjadi dalam waktu 24-72
jam pasca transplantasi.
- Disebabkan oleh respon imun humoral dan seluler resipien yang sering
irreversible (kadang bisa ditangani dengan terapu antilimfosit).
- Gambaran histopatologi: kerusakan pembuluh darah yang sering disertai
vaskulitis nekrotik.
3. Rejeksi akut
- Merupakan destruksi imunologi ginjal transplant yang terjadi dari akhir minggu
pertama sampai dengan 6 bulan pasca transplantasi.
- Disebabkan oleh respon imun humoral dan selular resipien.
- Gejala: mendadak demam, badan lemas, hipertensi, oligouria, peningkatan
kreatinin serum, penurunan klirens kreatinin.
- Jika ditemukan kadar IL-2 yang tinggi dalam plasma pratransplantasi, maka akan
tinggi resiko terjadi rejeksi akut.
- Ginjal transplant yang mengalami edema dapat mengiritasi peritoneum sehingga
menimbulkan rasa nyeri.
- Gambaran histopatologi: infiltrasi difus sel mononukleus yang disertai edema,
perdarahan di dalam jaringan interstitial.
4. Rejeksi kronik
- Merupakan destruksi imunologi ginjal transplant yang terjadi setelah 6 bulan
pasca transplantasi.
- Disebut juga gagal ginjal cangkok kronik (chronic allograft nephropathy).
- Terjadi penurunan fungsi ginjal perlahan, proteinuria, dan hematuria mikroskopik.

Gambaran histopatologi: fibrosis jaringan interstitial dan pembuluh darah,
proliferasi dan penebalan mesangial, dan glomerulosklerosis.

Obat imunosupresif
1. Kortikosteroid (prednisone)
- Lini pertama
- Lebih efektif jika kombinasi
- Prednisone di hepar akan diubah menjadi prednisolon, yang memiliki efek:
a. Antiinflamasi
b. Menghambat migrasi sel di dalam jaringan ginjal transplant
c. Menghambat IL-1
d. Dalam dosis yang lebih tinggi dapat melisis limfosit T sehingga dapat
digunakan sebagai obat rejeksi akut
- Dosis yang terlalu tinggi dapat menyebabkan nekrosis dan avaskular tulang
- Dosis:
Terapi awal pascatransplantasi: 30-100 mg/hari  dikurangi secara progresif
sampai menjadi 5-10 mg/hari
Terapi rejeksi akut: metilprednisolon 500-1000 mg/hari  selama 3 hari intravena
2. Azatioprin
- Bentuk aktifnya dapat menghambat sintesis DNA dan RNA serta produksi IL-2
- Efek samping utama: mielotoksisitas
- Dosis tunggal: 2-3 mg/kgBB/hari
- Dosis kombinasi: 1-1,5 mg/kgBB/hari
3. Mofetil mikofendat
- Menghambat enzim yang mensintesis purin  menghambat sintesis DNA dalam
sel limfosit
- Sebagai pengganti azatiprin
- Dosis: 2x1 gr/hari
4. Siklosporin (penghambat kalsineurin)
- Diproduksi oleh jamur Tolypocladium inflatum
- Obat ini berikatan dengan siklofilin sehingga menghambat enzim kalsineurin
(enzim yang mengaktifkan nuclear factor of activated T cell  mengaktifkan IL2)
- Dosis: 3-5 mg/kgBB/hari
- Interaksi dengan obat lain dapat mempengaruhi kadar siklosporin.
- Obat yang menurunkan kadar siklosporin: rifampisin, isoniazid, trimetoprim
- Obat yang meningkatkan kadar siklosporin: verapamil, diltiazem, eritromisin,
cimetidin, dll
- Jangan dikombinasikan dengan NSAID atau aminoglikosida karena dapat
meningkatkan efek samping nefrotoksik.
5. Takrolimus
- Hampir sama dengan siklosporin, tetapi:
kelebihan: angka kejadian hipertensi, hiperlipidemia, dan komplikasi kosmetik
lebih rendah
kekurangan: lebih toksik terhadap ginjal, saluran cerna, dan pancreas

- Dosis: 0,15-0,3 mg/kgBB/hari
6. Sirolimus/rapamisin
- Relative baru
- Dosis: 2 mg/hari