You are on page 1of 35

MAKALAH PENILAIAN HASIL BELAJAR

“Konsep evaluasi kurikulum berdasarkan komponen-komponen kurikulum dan
konsep evaluasi progranm pendidikan dan program pembelajaran”

Disusun oleh :
Hosti Nuriza ( RSA1C31301)
Ulya Aini (RSA1C313011)

Dosen Pengampu :
1. Dwi Agus Kurniawan, S.Pd, Mpd
2. Drs. Menza Hendri, M, Pd

PENDIDIKAN FISIKA PGMIPA-U 2013
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016

1

DAFTAR PUSTAKA
BAB I....................................................................................................................................................
PENDAHULUAN.................................................................................................................................
1.

Latar Belakang...........................................................................................................................

2.

Tujuan Penulisan makalah.........................................................................................................

BAB II...................................................................................................................................................
PEMBAHASAN...................................................................................................................................
1.

Kajian Pustaka...........................................................................................................................
A. KONSEP EVALUASI KURIKULUM BERDASARKAN KOMPONENKOMPONEN KURIKULUM.......................................................................................................
B. KONSEP EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN DAN PROGRAM
PEMBELAJARAN......................................................................................................................

2.

Hasil diskusi............................................................................................................................

BAB III................................................................................................................................................
PENUTUP...........................................................................................................................................
Kesimpulan :....................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................
LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN DISKUSI MATA KULIAH PENILAIAN HASIL
BELAJAR...........................................................................................................................................

2

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pada era kompetitif, semua negara berusaha untuk meningkatkan kualitas
pendidikannya, karena kualitas pendidikan merupakan salah satu indikator tingkat
kesejahteraan masyarakat pada suatu negara. Melalui pendidikan yang berkualitas
akan menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas yang mampu
mengelola sumber daya alam secara efektif dan efisien. Dengan memiliki sumber
daya manusia yang berkualitas, produtivitas negara akan meningkat, dan pada
akhirnya diharapkan akan mampu meningkatkan daya saing dan kesejahteraan
masyarakat.
Kurikulum merupakan rancangan pedidikan yang merangkum semua
pengalaman belajar yang disediakan bagi peserta didik di sekolah. Setelah
berjalannya kurikulum di sekolah maka adanya evaluasi kurikulum pada akhirnya.
Evaluasi

kurikulum

memegang

perenan

penting

baik

dalam

penetuan

kebijaksanaan pedidikan pada umumnya, maupun pada pengambilan keputusan
dalam kurikulum. Evaluasi kurikulum sukar dirumuskan secara tegas, hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor:
a. Evaluasi kurikulum berkenaan dengan fenomena-fenomena yang terus
berubah.
b. Objek evaluasi kurikulum adalah sesuatu yang berubah-ubah sesuai dengan
konsep kurikulum yang digunakan.
c. Evaluasi kurikulum merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh manusia
yang sifatnya juga berubah.
Perubahan dalam kurikulum berpengaruh pada evaluasi kurikulum,
sebaliknya perubahan evaluasi akan memberi warna pada pelaksanaan kurikulum.
Hubungan antara evaluasi dengan kurikulum bersifat organis, dan prosesnya
berlangsung secara evolusioner. Evaluasi juga meliputi rentangan yang cukup
luas, mulai dari yang bersifat sangat informal sampai dengan yang sangat formal.
Pada tingkat yang sangat informal evaluasi kurikulum berbentuk perkiraan,
dugaan atau pendapat tentang perubahan-perubahan yang telah dicapai oleh
3

program sekolah. Sedangkan pada tingkat yang sangat formal berbentuk
pengukuran berbagai bentuk kemajuan ke arah tujuan yang telah ditentukan.
sistem evaluasi kurikulum bukan hanya mengevaluasi hasil belajar peserta didik
dan proses pembelajarannya, tetapi juga desain dan implementasi kurikulum dan
kemampuan pendidik, kemampuan dan kemajuan peserta didik, fasilitas dan
sumber-sumber belajar dan lain-lain.
Evaluasi program pembelajaran merupakan suatu proses untuk mendapatkan
informasi tentang hasil pembelajaran. Dengan demikian fokus evaluasi
pembelajaran adalah pada hasil, baik hasil yang berupa proses maupun produk.
Informasi hasil pembelajaran ini kemudian dibandingkan dengan hasil
pembelajaran yang telah ditetapkan. Jika hasil nyata pembelajaran sesuai dengan
hasil yang ditetapkan, maka pembelajaran dapat dikatakan efektif. Sebaliknya,
jika hasil nyata pembelajaran tidak sesuai dengan hasil pembelajaran yang
ditetapkan, maka pembelajaran dikatakan kurang efektif. Pendidik menggunakan
berbagai alat evaluasi sesuai karakteristik kompetensi yang harus dicapai oleh
siswa.

2. Tujuan Penulisan makalah

Untuk mengkaji dan mengetahui konsep evaluasi kurikulum berdasarkan
komponen-komponen kurikulum dan konsep evaluasiprogram pendidikan
dan program pembelajaran

4

BAB II
PEMBAHASAN
1. Kajian Pustaka
A. KONSEP EVALUASI KURIKULUM BERDASARKAN KOMPONENKOMPONEN KURIKULUM.
1. Pengertian evaluasi

Pophan (1987:9) berpendapat evaluasi sebagai informasi yang digunakan
untuk mempertimbangkan keputusan dalam penilaian prestasi. Sedangkan Amri,
(2013:217) menjelaskan evaluasi dapat juga diartikan sebagai suatu proses
merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan
untuk membuat alternatif-aiternatif keputusan. Evaluasi dapat digunakan untuk
memeriksa tingkat keberhasilan program berkaitan dengan lingkungan program
dan suatu judgement, apakah kegiatan diteruskan, ditunda, ditingkatkan,
dilembagakan, diterima, atau ditolak. Keputusan-keputusan yang diambil
dijadikan sebagai indikator-indikator asasmen kinerja pada setiap tahapan evaluasi
dalam tiga katagori, yaitu: rendah, moderat, dan tinggi.
2. Pengertian kurikulum

Dalam bahasa Latin kurikulum diartikan sebagai ”lapangan pertandingan”
(race course) yaitu, arena tempat peserta didik berlari untuk mencapai tujuan
akhir. Pada tahun 1955 istilah kurikulum baru dipakai dalam bidang pendidikan.
Bila ditelusuri ternyata kurikulum memiliki berbagai macam arti, di
antaranya ialah: (a) sebagai rencana pelajaran pengalaman belajar yang diperoleh
murid dari sekolah, rencana belajar murid, (b) merupakan seperangkat rencana
dan peraturan, mengenai isi dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakannya
dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (Puskur, 2007:6)
pendapat mengenai arti kurikulum, namun inti kurikulum sebenarnya adalah
pengalaman belajar yang banyak kaitannya dengan melakukan berbagai kegiatan,
interaksi sosial, di lingkungan sekolah, proses kerja sama dengan kelompok,
bahkan interaksi dengan lingkungan fisik seperti gedung sekolah dan ruang
sekolah. Dengan demikian, pengalaman itu bukan sekedar mempelajari mata
5

pelajaran, melainkan yang terpenting adalah pengalaman kehidupan. Secara
sederhana, kurikulum dapat diartikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu.
3. Komponen-komponen kurikulum

a.
b.
c.
d.
e.

Tujuan
Materi
Metode
Organisasi kurikulum dan
Evaluasi.

4. Makna evaluasi kurikulum

Dari konsep evaluasi seperti yang telah dijelaskan di muka, maka evaluasi
kurikulum dimaksudkan sebagai suatu proses mempertimbangkan untuk memberi
nilai dan arti terhadap suatu kurikulum tertentu. Hal yang dimaksud dengan
kurikulum di sini adalah rencana yang mengatur tentang isi dan tujuan pendidikan
serta cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dengan
kata lain dalam konteks ini adalah kurikulum sebagai sebuah dokumen atau
kurikulum tertulis.
Konsep nilai dan arti, dalam konteks penilaian terhadap suatu kurikulum
memiliki makna yang berbeda. Pertimbangan nilai adalahpertimbangan yang ada
dalam kurikulum itu sendiri. Contohnya berdasarkan proses pertimbangan
tertentu, evaluator memberikan nilai: apakah kurikulum yang dinilai itu dapat
dimengerti oleh guru sebagai pelaksana kurikulum; apakah setiap komponen yang
terdapat dalam kurikulum itu memiliki hubungan yang serasi; apakah kurikulum
yang dinilai itu dianggap sederhana dan mudah dilaksanakan oleh guru; danlain
sebagainya.
Berbeda dengan nilai, arti berhubungan dengan kebermaknaan suatu
kurikulum. Misalkan, apakah kurikulum yang dinilai memberikan arti untuk
meningkatkan kemampuan berpikir siswa; apakah kurikulum itu dapat mengubah
cara belajar siswa kepada yang lebih baik; apakah kurikulum itu dapat lebih
meningkatkan pemahaman siswa terhadap lingkungan sekitar; dan lain

6

sebagainya. Dari hasil evaluasi kurikulum, dan hubungannya dengan konsep nilai
dan arti itu mungkin evaluator menyimpulkan bahwa kurikulum yang dievaluasi
itu cukup sederhana dan dimengerti guru akan tetapi tidak memiliki arti untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran siswa. Sebaliknya, kurikulum yang
dievaluasi itu memang sedikit rumit untuk diterapkan oleh guru akan tetapi
memiliki nilai yang berarti untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pengembangan kurikulum merupakan proses yang tidak pernah berakhir
(Oliva, 1988). Proses tersebut meliputi orientasi, perencanaan, implementasi 'dan
evaluasi. Merujuk pada pendapat tersebut maka, dalam konteks pengembangan
kurikulum, evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari
pengembangan kurikulum itu sendiri. Melalui evaluasi, dapat ditentukan nilai dan
arti suatu kurikulum, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan apakah suatu
kurikulum perlu dipertahankan atau tidak; bagian-bagian mana yang harus
disempurnakan.Sejalan dengan pendapat itu Cronbach memandang bahwa
evaluasi kurikulum merupakan komponen dalam proses membuat keputusan.
curriculum evaluation as component in the decision making process. .. Evaluation
broadly as the collection and use information to make decisions about an
educational program (Dalam Miller dan Seller 1985:302). Bagi Cronbach,
evaluasi kurikulum pada dasarnya adalah sebagai suatu proses mengumpulkan
berbagai informasi dalam rangka membuat suatu keputusan tentang program
pendidikan. Artinya, melalui evaluasi apakah sutu program pendidikan perlu
ditambahkan, dikurangi atau mungkin diganti.
5. Ruang Lingkup Evaluasi Kurikulum

Kurikulum dapat dipandang dari dua sisi. Sisi pertama kurikulum sebagai
suatu program pendidikan atau kurikulum sebagai suatu dokumen; dan sisi kedua
kurikulum sebagai suatu proses atau kegiatan. Dalam proses pendidikan kedua sisi
ini sama pentingnya, seperti dua sisi dari satu mata uang logam. Apa artinya
sebuah program tanpa diimplementasikan; dan apa artinya implementasi tanpa
program yang menjadi acuan. Evaluasi kurikulum haruslah mencakup kedua sisi
tersebut, baik kurikulum sebagai suatu dokumen yang dijadikan pedoman,
maupun kurikulum sebagai suatu proses, yakni implementasi dokumen rencana
tersebut.

7

a. Evaluasi Kurikulum sebagai Suatu Program atau Dokumen

1) Suatu program atau dokumen, kurikulum memiliki beberapa komponen pokok,
yaitu tujuan yang ingin dicapai, isi atau materi kurikulum itu sendiri, strategi
pembelajaran yang direncanakan, serta rencana evaluasi keberhasilan. Evaluasi
Tujuan Pendidikan
Rumusan tujuan merupakan salah satu komponen yang ada dalam dokumen
kurikulum. Evaluasi kurikulum sebagai dokumen adalah evaluasi terhadap tujuan.
setiap mata pelajaran terdapat sejumlah kriteria untuk menilai tujuan ini.
a) Apakah tujuan setiap mata pelajaran itu berhubungan dan diarahkanuntuk
mencapai tujuan lembaga sekolah yang bersangkutan? Setiap sekolah
memiliki visi dan misi yang berbeda. Sekolah menengah umum berbeda
dengan sekolah kejuruan, walaupun sama merupakan sekolah lanjutan.
Demikian juga, antara sekolah kejuruan rumpun yang satu berbeda dengan
rumpun yang lain. Oleh karena perbedaan itulah, maka setiap mata pelajaran
atau bidang studi yang diberikan di setiap sekolah harus dapat mendukung
pencapaian tujuan sekolah. Misalkan, walaupun mata pelajaran matematika
dipelajari oleh setiap siswa SMU dan Kejuruan, akan tetapi tujuan mata
pelajaran di kedua sekolah itu mestilah berbeda.
b) Apakah tujuan itu mudah dipahami oleh setiap guru? Sebagai suatu
dokumen,

kurikulum

tidak

akan

memiliki

makna

apa-apa

tanpa

diimplementasikan oleh guru. Oleh karena itulah, guru perlu memahami
setiap tujuan mata pelajaran yang dibinanya. Dengan demikian, maka
sebaiknya tujuan dirumuskan dalam bahasa yang sederhana dan mudah
dipahami.
c) Apakah tujuan yang dirumuskan dalam dokumen itu sesuai dengan tingkat
perkembangan

siswa?

Kurikulum

disusun

pada

dasarnya

untuk

mengembangkan setiap potensi yang dimiliki siswa. Siswa bukanlah orang
dewasa dalam bentuk mini, namun mereka adalah organisme yang sedang
tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Dengan
demikian, tujuan dalam kurikulum harus sesuai dengan taraf perkembangan
siswa itu sendiri.
2) Evaluasi terhadap Isi/Materi Kurikulum

8

Bahwa yang dimaksud dengan isi atau materi kurikulum adalah seluruh
pokok bahasan yang diberikan dalam setiap mata pelajaran. Sejumlah pertanyaan
yang dapat dijadikan kriteria untuk menguji isi atau materi kurikulum di
antaranya:
Apakah isi kurikulum sesuai atau dapat mendukung pencapaian tujuan
seperti yang telah ditetapkan? Isi pelajaran bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri,
akan tetapi materi atau isi pelajaran disusun untuk mencapai tujuan tertentu.
Dengandemikian, isi pelajaran harus memiliki keterkaitan dengan tujaunyang
ingin dicapai.
Apakah isi atau materi kurikulum sesuai dengan pandangan-pandangan atau
penemuan-penemuan yang mutakhir? Muatan kurikulum pada dasarnya berisikan
tentang berbagai disiplin ilmu. Setiap ilmu itu tidaklah bersifat statis, akan tetapi
bersifat dinamis, artinya ilmu itu sendiri terus-menerus berkembang. Suatu teori
dalam disiplin ilmu bisa terjadi tidak berlaku lagi manakala ditemukan teori baru.
Oleh karena itulah, setiap materi pelajaran harus sesuai denganpandanganpandangan baru.
Apakah isi kurikulum sesuai dengan pengalaman dan karakteristik
lingkungan di mana anak tinggal? Pendidikan berfungsi untuk mempersiapkan
anak didik agar merekadapat “hidup” di masyarakatnya sendiri. Oleh karena itu,
kurikulum sebagai alat pendidikan harus berisikan dan memberi pengalaman
kepada peserta didik sesuai dengan karakteristik lingkungan di manamereka
tinggal. Apalagi dalam masyarakat yang majemuk, pendidikan harus sesuai
dengan kemajemukan masyarakat, Isi kurikulum yang tidak sesuai dengan
karakteristik masyarakat di mana siswa berasal dan tempat mereka kembali, akan
tidak bermakna.
Apakah urutan isi kurikulum sesuai karakteristik isi atau materi kurikulum?
Setiap mata pelajaran memiliki sistem berpikir yang berbeda, yang ditunjukan
oleh urutan isi (sequence). Ada mata pelajaran yang memiliki urutan yang
sistematis dan logis artinya, urutan bahan pelajarantersusun sedemikian rupa
sesuai dengan karakteristik bahan itu sendiri. Misalnya, materi pelajaran
matematika, fisika dan kimia. Dalam menyusun materi pelajaran tersebut, harus
sesuai dengan urutan yang teratur dan terstruktur. Misalnya, tidak mungkin

9

pengembang kurikulum menyajikan materi tentang penjumlahan tanpa terlebih
dahulu disajikan tentang lambang-lambang bilangan. Berbeda dengan pelajaran
sejarah, pengembang kurikulum bisamemulai dari mana saja apakah dari
pendekatan geografis, atau dari urutan peristiwa atau dari manasaja. Penyajian
bahan pelajaran bisa dari mana saja sesuai dengan tujuan dan kebutuhan.
3)

Evaluasi terhadap Strategi pembelajaran
Sebagai suatu pedoman bagi guru, kurikulum juga seharusnya memuat
petunjuk-petunjuk

bagaimana

cara

pelaksanaan

pembelajaran

atau

cara

mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Salah satu aspek yang
berhubungan dengan implementasi kurikulum adalah aspek pedoman perumusan
strategi pembelajaran. Sejumlah kriteria yang dapat diajukan untuk menilai
pedoman strategi belajar mengajar di antaranya:
a) Apakah

strategi

pembelajaran

yang

dirumuskan

sesuai

dan

dapatmendukung untuk keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan?
Bagaimanapun idealnya suatu dokumen kurikulum yang memuat tujuantujuan yang ingin dicapai, maka efektivitas pencapaiannya sangat
ditentukan oleh strategi yang diterapkan. Strategi pencapaian tujuan
bidang kognitif akan berbeda dengan strategi pencapaian tujuan bidang
afektif dan psikomotor. Masing-masing tujuan berdampak pada strategi
yang harus digunakan.
b) Apakah strategi pembelajaran yang diusulkan dapat mendorong aktivitas
dan minat siswa untuk belajar? Suatu strategi yang digunakan harus
dapat mendorong siswa untuk beraktivitas. Belajar tidak sama dengan
duduk, mencatat dan menghafal materi pelajaran. Belajar adalah suatu
proses perubahan perilaku berkat adanya pengalaman. Dengan demikian,
proses pembelajaran pada dasarnya adalah memberikan pengalaman pada
siswa. Oleh sebab itu, strategi pembelajaran harus dirancang untuk
memberi pengalaman belajar yakni mendorong siswa untuk melakukan
ber- bagai aktivitas sesuai dengan tujuan yang harus dicapai.
c) Bagaimana keterbacaan guru terhadap pedoman pelaksanaan strategi
pembelajaran yang direncanakan? Rancangan strategi pembelajaran
bukan berisi tentang uraian-uraian teoretis, akan tetapi berisi tentang

10

uraian praktis, sehingga dapat dicerna dengan mudah oleh guru.
Keterbacaan rancangan strategi ini sangat perlu, sebab pada praktiknya
gurulah yang akan menjabarkan kurikulum menjadi praktik pembelajaran
secara langsung di lapangan. Berkaitan dengan keterbacaan juga
menyangkut pemahaman guru tentang strategi yang direncanakan baik
mengenai

hakikat

strategi

maupun

mengenai

langkah-langkah

perkembangan strategi. Strategi yang tidak dipahami, hanya akan
menjadikan pedoman kurikulum sebagai sesuatu yang ideal tanpa dapat
diaplikasikan.
Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan dapat mendorong
kreativitas guru? Salah satu prinsip pengembangan kurikulum sebagai suatu
pedoman adalah prinsip fleksibilitas, artinya bahwa kurikulum itu bersifat lentur
yakni dapat digunakan dalam berbagai kondisi dan situasi. Dengan demikian,
kurikulum harus dapat diterjemahkan oleh setiap guru sesuai dengan kondisi yang
ada. Kurikulum harus dapat mendorong guru agar berimprovisasi secara kreatif
dalam pengimplementasiannya.
Apakah strategi pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan siswa?
Siswa adalah organisme yang sedang berkembang, yang dalam setiaptahap
perkembangannya memiliki karakteristik dan sifat-sifat ter-tentu. Strategi
pembelajaran yang dirancang haruslah sesuai dengan tahap perkembangan
tersebut. Misalnya, untuk merancang strategi pembelajaran di SD mestilah
berbeda dengan strategi pembelajaran yang dikembangkan di SMP atau SMA.
Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan sesuai dengan alokasi
waktu yang tersedia?Alokasi waktu merupakan aspek yang cukup penting dalam
membuat keputusan tentang strategi yang diusulkan. Mengapa demikian? Sebab
bagaimanapun idealnya suatu strategi, tanpa kesesuaian dengan waktu yang
dialokasikan, maka tidak mungkin strategi itu dapat diterapkan. Dengan demikian,
sebelum merancang suatu strategi semestinya guru menganalisis terlebih dahulu
tentang alokasi waktu yang tersedia.
4)

Evaluasi terhadap program Penilaian

11

Komponen yang keempat, yang harus dijadikan sasaran penilai terhadap
kurikulum sebagai suatu program adalah evaluasi terhadap program penilaian.
Beberapa kriteria yang dapat dijadikan acuan adalah:
Apakah program eva.luasi relevan dengan tujuan yang ingin dicapai?
Tujuan merupakan inti dari suatu program kurikulum. Keberhasilan kurikulum
pada dasarnya adalah keberhasilan mencapai tujuan kurikulum itu sendiri. Oleh
sebab itu, maka program evaluasi perlu diuji kerelavannya dengan tujuan yang
ingin dicapai.
Apakah evaluasi diprogramkan untuk mencapai fungsi evaluasi baik sebagai
formatif maupun fungsi sumatif? Evaluasi yang dirumuskan bukanlah evaluasi
yang hanya sekadar untuk melihat keberhasilan siswa saja yang kemudian
dinamakan evaluasi hasil belajar, akan tetapi juga perlu diuji evaluasi yang dapat
menguji kerhasilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, Kedua fungsi
evaluasi ini sangat penting. Evaluasi hasil belajar dapat mengukur sejauh mana
siswa dapat mencapai target kurikulum yang kemudian memiliki arti untuk
melihat kedudukan siswa dalam kelompoknya; sedangkan melalui evaluasi proses
dapat dijadikan umpan balik bagi guru dalam menentukan keberhasilan kinerjanya
sehingga guru dapat memperbaiki kelemahan dalam mengajar.
Apakah program evaluasi yang direncanakan mudah dibaca dan dipahami
oleh guru?Alat evaluasi beserta pedoman pengolahannya harus dapat dibaca oleh
guru, sehingga memungkinkan guru menjadikannya sebagai pedoman. Pedoman
evaluasi dapat memberikan petunjuk bagi guru untuk menentukan tingkat
penguasaan dan pencapaian kompetensi yang pada akhimya dapat menentukan
kriteria kelulusan untuk setiap siswa.
Apakah program evaluasi mencakup semua aspek perubahan perilaku?
Evaluasi yang baik bukan hanya mengukur kemampuan siswa dalam aspek
tertentu saja, akan tetapi harus mengukur semua aspek baik kognitif, afektif
maupun psikomotorik. Program evaluasi yang hanya mengukur salah satu aspek
dapat menyebabkan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tidak optimal.
b. Evaluasi Pembelajaran sebagai Implementasi Kurikulum

Telah dijelaskan di muka, bahwa kurikulum sebagai suatu dokumen
memiliki keterkaitan yang tidak terpisahan dengan implementasi dokumen

12

tersebut dalam kegiatan pembelajaran. Kurikulum dan pembelajaran bagai dua sisi
dari satu mata uang logam yang masing-masing sama pentingnya. Alexander
menyebutnya sebagai Romeo danjuliet, artinya Romeo tidak akan berarti
tanpajuliet dan sebaliknyajuliet tak akan ada artinya tanpa Romeo. Walaupun
keduanya memiliki posisi yang berbeda, akan tetapi sama pentingnya. Dengan
demikian, sisi kedua dari kurikulum adalah pelaksanaan atau implementasi
kurikulum itu sendiri. Beberapa kriteria yang dapat diajukan untuk menilai
implementasi tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Apakah implementasi kurikulum yang dilaksanakan oleh guru sesuai
dengan program yang direncanakan? Kurikulum berfungsi sebagai pedoman
dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kurikulum disusun dan
dikembangkan bukan hanya berfungsi sebagai alat administrasi saja. Oleh
sebab itu, dalam proses pembelajaran guru harus sesuai dengan program
perencanaan yang telah disusun.
2. Sejauh mana siswa dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai? Kurikulum disusun pada
hakikatnya untuk proses pembelajaran siswa dalam upaya pencapaian tujuan
yang telah ditentukan. Dengan demikian, implementasi kurikulum harus
melibatkan siswa secara penuh. Siswa memiliki gaya belajar serta
kemampuan yang berbeda, oleh sebab itu guru harus menempatkan siswa
sebagai subjek belajar, bukan sebagai objek yang dapat diatur dan
ditentukan

oleh

kehendak

guru.

Pembelajaran

yang

baik

adalah

pembelajaran yang berorintasi pada aktivitas siswa.
3.

Apakah secara keseluruhan implementasi kurikulum dianggap efektif dan
efisien? Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat
mencapai tujuan secara optimal sesuai dengan program perencanaan yang
telah disusun. Dengan demikian, maka efektivitas implementasi kurikulum
dapat diukur dari pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Berbagai cara untuk melakukan evaluasi kurikulum, terutama berkaitan
dengan aspek yang dievaluasi, alat pengumpul data dan prosedur yang digunakan,
kriteria yang dipertimbangkan, serta penggunaan pemahaman untuk mengambil
keputusan. Sehubungan derigan itu, terdapat dua pendekatan evaluasi kurikulum,

13

yakni pendekatan mainstream, dan pendekatan transformatif. Pendekatan yang
digunakan dalam evaluasi kurikulum bergantung pada bagaimana guru menjawab
lima pertanyaan penting berikut ini:
1. siapakah yang membuat keputusan evaluasi?;
2. pertanyaan

apakah

yang

hams

dijawab

dalam

pengembangan

kurikulum?;
3. bagaimanakah data dikumpulkan dan dianalisis?;
4. kriteria

apakah

yang

digunakan

untuk

menafsirkan

dan

mempertimbangkan data?;
5. siapakah yang menganalisis data, membuat keputusan dan menggunakan
keputusan?
jawaban mainstream guru terhadap pertanyaan diatas adalah
1. yang membuat keputusan evaluasi adalah ahli evaluasi dan ahli mated,
baik pada level nasional maupun lokal; dalam hal ini guru merupakan
pembuat keputusan yang paling utama;
2. pertanyaan yang harus-dijawab berkaitan dengan pendekatan mainstream
terhadap

kurikulum;

mungkin

menghasilkan

pengembangan

pembelajaran independen, demokratik dan menyenangkan;
3. data dikumpulkan dan dianalisis berdasarkan tujuan dan standar test
sebagai bentuk dominan dari pengumpulan data sejak diterapkan pada
seting silang, dan adanya seperangkat indikator belajar yang standar;
4. kriteria dominan yang digunakan untuk menafsirkan dan memutuskan
data adalah keefektifan, yang diperluas dengan standar yang ditemukan.
Hal tersebut diperlukan, karena akhir-akhir ini perhatian lebih diberikan
terhadap isu persamaan terhadap akses dan keberhasilan, misalnya
masalah Ujian Akhir Nasional (UAN);
5. pengolah data, pembuat keputusan, dan pengguna keputusan adalah guruguru yang menggunakan data untuk mengidentifikasi standar atau tujuantujuan yang sulit dicapai oleh peserta didik, dan mengidentifikasi peserta
didik yang bermasalah.

14

Sedangkan jawaban guru transformatif adalah
1. keputusan evaluasi dibuat oleh peserta didik, guru, administrator, orang
tua, dan anggota masyarakat yang berpartisipasi aktif dalam menentukan
standar nasional, dan standar lokal yang harus diprioritaskan, standar
lain yang harus dimasukkan, bentuk inquiri yang digunakan, dan siapa
yang harus dilibatkan dalam penafsiran data;
2. pertanyaan yang dijawab berkaitan dengan; (a) kualitas perencanaan dan
praktek kurikulum; (b) kualitas kehidupan atau lingkungan sekolah
peserta didik, dan (c) kualitas belajar. Penilai transformatif memandang
kurikulum sebagai sesuatu yang kompleks dari praktek, proses dan
keluaran (basil) pembelajaran;
3. data dikumpulkan dan dianalisis oleh evaluator dengan menggunakan
pendekatan Kualitatif dan kuantitatif terhadap data tentang kurikulum
dan pembelajaran;
4. kriteria yang digunakan untuk menafsirkan dan memutuskan data
mencakup; (a) indikator teknis, seperti keseimbangan, kenyamanan,
efisiensi, dan efektifitas; (b) kriteria pedagogis, seperti pengembangan
kesempatan, isi, keterlibatan dalam berfikir kompleks, kreatif, dan
kesempatan untuk belajar bersama; serta (c) indikator kritis, seperti
kesempatan untuk seluruh peserta didik, tidak diskriminasi, bentuk
alternatif dari penafsiran, kapasitas emansipasi dari isi, dan kegiatan
kurikulum;
5. pengolahan data, pembuat keputusan, dan pengguna keputusan adalah
setiap orang yang terlibat dalam perencanaan dan perancangan
kurikulum.
Beberapa hal yang hams dijadikan .bahan pertimbangan adalah bahwa
evaluasi kurikulum transormatif mencakup tiga hal berikut:
1. penelitian tindakan; evaluasi tranformatif mempromosikan pemahaman
ke, dalam perencanaan kurikulum yang kompleks;
2. dialog; dialog merupakan sesuatu yang penting untuk menilai kurikulum
transformatif;
3. proses yang berkesinambungan; selama penilaian transformatif, guru,
15

kepala sekolah, anggota masyarakat, dan orang tua, secara terus menerus
menumbuhkan
kepercayaan

bentuk
dan

mengembangkan

ganda

pandangan

dari

penemuan,

mereka

refleksi

sendiri,

terhadap

secara

aktif

yang demokratis. Penilain transformatif merupakan

sesuatu yang berkesinambungan yang mempengaruhi perencanaan dan
pengambilan kebijakan.
Dengan menggunakan lima pertanyaan dasar tentang evaluasi kurikulum di
atas, marilah, kita mempertimbangkan bagaimanakah pendekatan transformatif
terhadap perancangan kurikulum, dan pengembangan kurikulum di kelas.
Menilai rancangan Kurikulum
Rancangan kurikulum harus diarahkan dan diprioritaskan terhadap program
pembelajaran, dan layanan sebagai kerangka kerja untuk perencanaan kelas.
Ketika membangun suatu rancangan kurkulum, guru harus dilibatkan secara
langsung dalam proses dialog. Inilah garis besar yang menjadi poin-poin referensi
di masa depan, yang dapat dibandingkan kemajuannya dengan kriteria dari
kurikulum yang paling baik.
a. Keputusan evaluasi seharunya dibuat oleh setiap orang yang terlibat dalam
perencanaan. Dalam hal ini anggota sekolah, orang tua, administi lator,
anggota masyarakat, dan barangkali orang-orang dari perguruan tinggi
setempat dapat membentuk tim evaluasi kurikulum. Jika dalam kelompok
tersebut tidak ada yang terlatih dalam hal evaluasi, maka langkah pertama
adalah mengadakan pelatihan.
b. Beberapa pertanyaan berikut perlu dijawab dalam kaitannya dengan evaluasi
kurikulum:
1. siapa yang harus dan tidak harus dilibatkan dalam perancangan
kurikulum?;
2. masalah dan isu apa yang perlu dijadikan - sasaran? (standar, tujuan,
asumsi, organisasi kunci, ilustrasi skenario);
3. bagaimanakah kelompok membagi tugas dengan anggota sekolah dan
anggota masyarakat dalam menganalisis rancangan-rancangan alternatif,
standar kompetensi nasional dan lokal, serta kaitannya dengan pemuda

16

sekarang dan masa depan?;
4. bagaimanakah rancangan draft dipadukan dengan anggota sekolah lain,
dan dengan masyarakat?;
5. apakah asumsi, konsep dan kesan tentang peserta didik, belajar,
pengetahuan,

pembelajaran,

kurikulum

dan

persekolahan

dipertimbangkan dalam analisis rancangan dan praktek kurikulum,
proposal dan pernyataan rancangan kurikulum akhir?;
6. apakah asurhsi dan prinsip yang berkaitan dengan kesimpulan dari peserta
didik tertentu yang dipertimbangkan dan digunakapt?
7. dalam cara apakah peserta didik dan guru berhubungan?
8. dalam cara dan untuk apa persamaan, keadilan, dan pelayanan terhadap
seluruh peserta didik dipertimbangkan?
9. bagaimanakah pandangan alternatif yang menyenangkan, bagaimanakah
konflik dipecahkan, untuk apakah partisipan merasakan bahwa mereka
diperlakukan secara adil dan bijaksana? Serta
10. kapankan perhatian direfresentasikan?
c. Pengumpulan data dilaktikan untuk mendeskripsikan sebuah rancangan
kelompok termasuk observasi dan rekanam dan setiap pertemuan. Menganalisis data mentah, termasuk mengidentifikasi isu-isu rancangan khusus
mencakup hal-hal berikut ini:
a. platform: standar kompetensi, tujuan, asumsi tentang belajar, peserta
didik, materi; kriteria seperti persamaan, inklusi, kenyamanan,
kekuasaati, rasa percaya din peserta didik, dan civik agensi;
b. pengorganisasian kurikulum: jenis pengorganisasian, kapasitas untuk
peserta didik, kemenarikan, kapasitas materi, dan sebagainya:
c. isi: persfektif materi kurikulum yang dikembangkan;
d. penjabaran organisasi terhadap kegiatan yang berlebihan: cakapan dan
urutan:
e. bahan-bahan: peralatan seperti komputer dan program komputer, atau
peralatan labolatorium untuk matematika dan sain, misalnya.
Kriteria yang digunakan untuk menafsirkan dan memutuskan data merupakan pernyataan yang mendeskripsikan tentang kualitas. Kriteria untuk menaf17

sirkan dan memutuskan data mencakup : kejelasan bahasa dan pikiran, cakupan
yang komprehensif, kelayakan, koherensi, efesiensi, kenyamanan, keaslian,
keterlibatan efektifitas, keinklusifan, dan kesamaan. Sehubungan dengan itu,
pengolah data, pembuat keputusan, dan pengguna keputusan tentang evaluasi
sebuah rancangan kurikulum memerlukan beberapa orang yang hams dilibatkan
dalam menganalisa data.
Tujuan utama pelibatan anggota sekolah dalam perancangan kurikulum
adalah untuk menciptakan kondisi umum terhadap perencanaan kurikulum.
Karena perbedaan antara perancangan dengan perencanaan tidak terlalu mencolok
dalam pengembangan kurikulum, banyak pertimbangan dalam perancangan
kurikulum juga digunakan untuk mengevaluasi perencanaan kurikulum.
Tantangannya disini adalah bahwa pemecahan masalah dan pemikiran guru
sering merupakan kegiatan pribadi, padahal semua itu akan mempengaruhi
dalam pengembangan kurikulum; mengapa mereka menekankan pada suatu
informasi atau bahan tertentu, atau bagaimana mereka memandang peserta
didiknya dalam kaitannya dengan penafsiran terhadap rancangan kurikulum.
Beberapa hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam menilai
rancangan kurikulum adalah sebagai berikut:
a. Pemain utama dalam evaluasi adalah guru; tetapi kepala sekolah, supervisor
dan konsultan juga memiliki kepentingan dalam proses evaluasi, karena itu
mereka perlu memahami hubungan antara perancangan, perencanaan guru,
dan kondisi kelas secara khusus.
b. Pertimbangkanlah beberapa pertanyaan berikut ini; (1) bagaimanakah
terhadap guru menafsirkan tujuan, rasional dan konsep kunci terhadap
rancangan kurikulum, (2) bagaimanakah guru menafsirkan minat dan
kesiapan peserta didik dalam memahami materi dan membentuk kompetensi?
(3) apakah guru merasa nyaman dengan kompetensi dasar dan materi standar,
dan strategi belajar yang digunakan?
c. Analisis dan pengumpulan data dapat dilakukan dengan (1) melakukan
analisis isi terhadap jurnal untuk mengidentifikasi ide-ide yang dipertimbangkan, dan kriteria yang digunakan, serta (2) mewawancarai guru tentang
alasan mereka memilih menjadi guru, dan apa yang mereka lakukan daiam
18

kegiatan pembelajaran.
d. Kriteria yang digunakan untuk menilai kualitas guru dalam perencanaan
kurikulum sama dengan kriteria yang disarankan dalam perancangan kurikulum sama dengan kriteria yang disarankan dalam perancangan kurikulum
e. Pengolah data, pembuat keputusan, dan pengguna keputusan bertugas
mengumpulkan data. Dalam melaksanakan tugasnya mereka hams melibatkan
guru, karena informasi yang dihasilkan adalah untuk guru daiam menilai
pembelajaran yang dilakukannya.
2.

Menilai Pengembangan Kurikulum di Kelas
Setiap guru memiliki kepercayaan, dan pandangan terhadap kurikulum,

serta menguji dan merefleksikan kurikulum yang mencakup perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi. Terdapat beberapa alasan untuk mengevaluasi
pengembangan kurikulum di kelas dalam kaitannya dengan guru dan kurikulum
alasan tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, kerja kurikulum transformatif adalah membangun kelompok
anggota sekolah, oleh anggota sekolah, kepala sekolah, dan masyarakat sekitar.
Kedua, peserta didik mengalami kurikulum transformatif sebagai kluster isi,
kegiatan, bahan, lingkungan, dan iklim. Ketiga, kurikulum transformatif
diekspresikan melalui budaya sekolah.
Pertanyaan berikut dapat membimbing evaluator terhadap pengembangan
kurikulum: (a) apakah yang dikerjakan peserta didik, (b) jenis dan pola berpikir
apakah yang digunakan: ingatan, pemahaman, analisis, kreatif dan kritikal? (c)
apakah bentuk materi yang dipelajari peserta didik dan guru: fakta, konsep,
prosedur, analisis, teori dan seterusnya? (d) tipe pengorganisasian apakah yang
digunakan, (e) bagaimanakah guru dan peserta didik mendeskripsikan iklim dan
norma kelas, dan (f) dalam hal apa peserta didik secara khusus dilibatkan.
Evaluator mengumpulkan dan menganalisis data melalui observasi, dan
penafsiran merupakan bentuk utama dari pengumpulan dan analisis data dalam
pengembangan kurikulum kriteria yang digunakan dalam menilai pengembangan
kurikulum adalah koherensi, kemampuan berpikir dan memecahkan masalah,
masukan dari berbagai pihak, kemenarikan, persamaan, keaslian, dan kekuasaan.

19

Sedangkan yang harus diperhatikan dalam menilai hasil belajar peserta
didik adalah sebagai berikut. Pertama, apakah tes ini telah mengukur seluruh isi
kurikulum. Kedua, apakah evaluasi dilakukan secara rasional dan efisien. Ketiga,
apakah evaluasi yang dilaksanakan telah mengukur standar nasional dan loka
yang kompleks dalam berbagai cara. Guru, anggota sekolah, orang tua, dan
seluruh anggota masyarakat perlu dilibatkan dalam menilai hasil belajar peserta
didik dan keluaran kurikulum lain.orang tua dan anggota masyarakat yang
berpartisipasi dalam perencanaan dan penilaian basil belajar peserta didik akan
lebih menyadari tingkat kesulitan alami dari evaluasi pendidikan di sekolah.
Beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan dalam menilai hasi I
belajar peserta didik dan keluaran lain adalah sebagai berikut: (a) bagaimanakah
penguasaan peserta didik terhadap ide, keterampilan, nilai dan cara berpikir
sebagaimana yang dirumuskan dalam tujuan dan rancangan kurikulum, b) apakah
yang

telah

dipelajari

peserta

didik,

(c)

bagaimanakah

peserta

didik

menghubungkan ide, ketrampilan dan nilai dalam kurikulum, (d) bagaimanakah
aktifitas belajar peserta didik, (e) bagaimanakah peserta didik menjelaskan
bagaimana mereka belajar, (f) bagaimanakah peserta didik menjelaskan ketika
mereka mengetahui sesuatu, (g) bagaimanakah peserta didik lebih paham, terbuka
dan sadar terhadap nilai-nilai dalam kurikulum, (h) bagaimanakah peserta didik
menghubungkan apa yang telah dipelajari dengan kehidupan.
Terdapat berbagai cara pengumpulan data tentang pemahaman pribadi
peserta didik terhadap ide-ide, serta cara berpikir dan berbuat. Hal tersebut antara
lain dapat dilakukan dengan melakukan tes, baik tes lisan, tulisan, maupun tes
perbuatan atau dengan cara non tes seperti penilaian, portofolio, wawancara, dan
ceklist. Kriteria yang digunakan untuk menafsirkan dan mempertimbangkan data
terutama berkaitan dengan tes yang telah distandarisasikan, yang memiliki norma
validitas dan reliabilitas yang tinggi untuk menafsirkan dan mempertimbangkan
data. Meskipun demikian, banyak alternatif yang dapat digunakan untuk
menafsirkan dan mempertimbangan dab.
Pengolahan data, pembuat keputusan dan pengguna keputusan yang pertama
adalah peserta didik yang hams aktif dalam menganalisis dan mempertimbangkan
kegiatan belajarnya. Di samping itu, orang tua dan anggota masyarakat sebaiknya
20

dilibatkan dalam pengolahan data, pembuatan keputusan dan penggunaan
keputusan hasil evaluasi.
B. KONSEP EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN DAN PROGRAM
PEMBELAJARAN
1. Pengertian Program pendidikan

Suatu rumusan nasional tentang istilah “pendidikan” adalah sebagai berikut:
“pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi peranannya bagi masa yang akan
datang” (UUR.I. No. 2 Tahun 1989, Bab I, pasal 1.
a. Tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan adalah seperangkat hasil pendidikan yang tercapai oleh
peserta didik setelah diselenggarakan kegiatan pendidikan. Seluruh kegiatan
pendidikan yakni bimbingan pengajaran, dan/ atau latihan diarahkan untuk
mencapai tujuan pendidikan. Dalam konteks ini tujuan pendidikan merupakan
suatu komponen sistem pendidikan yang menempati kedudukan dan fungsi
sentral. Itu sebabnya, setiap tenaga kependidikan perlu memahami dengan baik
tujuan pendidikan, supaya berupaya melaksanakan tugas dan fungsinya untuk
mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
b. Tingkat-tingkat tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan disusun secara betingkat, mulai dari tujuan pendidikan
yang sangat luas dan umum sampai ketujuan pendidikan yang spesifik dan
operasional. Tingkat-tingkat tujuan pendidikan itu meliputi:
1)
2)
3)
4)

Tujuan pendidikan nasional
Tujuan institusional
Tujuan kurikuler
Tujuan pembelajaran (instruksional)

c. Pengukuran dan evaluasi

Pengukuran

dan

evaluasi

ditunjukkan

untuk

mengetahui

tingkat

perkembangan dan diarahkan terhadap semua aspek pribadi peserta didik , bukan
hanya aspek penguasan pengetahuan belaka. Instrumen penilaian yang digunakan
disesuaikan dengan tujuan dan aspek yang hendak dinilai dengan menggunakan
tes bentuk essai dan tes bentuk objektif, serta instrumen nontes yang relevan.

21

Tanggung jawab melakukan penilaian terletak pada kelompok guru, bukan
pada satu orang guru saja, bahkan siswa mendapatkan kesempatan untuk
melakukan penilaian diri sendiri, penilaian baik terhadap hasil belajar siswa
maupun terhadap sistem pembelajaran itu sendiri.
2. Pengertian program pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur
manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling
mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Howard Gardner (2003:55) mengemukakan tentang kebutuhan
besar sebuah penilaian dalam pendidikan yakni karena penilaian mempunyai
peran sentral dalam pendidikan.
Evaluasi belajar pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan untuk mengukur
perubahan perilaku yang telah terjadi. Pada umumnya hasil belajar akan memberikan
pengaruh dalam dua bentuk;
a. peserta akan mempunyai persfektif terhadap kekuatan dan kelemahannya
atas perilaku yang diinginkan.
b. mereka mendapatkan bahwa perilaku yang diinginkan itu telah meningkat
baik setahap atau dua tahap, sehingga sekarang akan timbul lagi kesenjangan
antara penampilan perilaku yang sekarang dengan tingkah laku yang
diinginkan.
Kesinambungan tersebut merupakan dinamika proses belajar sepanjang hayat,
dan pendidikan yang berkesinambungan. Dikatakan demikian karena kesenjangan
itu akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan dan 'perkembangan zaman, dan
hal tersebut perlu dievaluasi secra terus menerus untuk mengetahui kebutuhan
berikutnya.
Dalam kaitannya dengan evaluasi pembelajaran, Moekijat (1992:69)
mengemukakan teknik evaluasi belajar pengetahuan, keterampilan dan sikap
sebagai berikut.
a. Evaluasi belajar pengetahuan .dapat dilakukan dengan ujian tulis, lisan
dan daftar isian pertanyaan.
b. evaluasi belajar keterampilan, dapat dilakukan dengan ujian praktek,

22

analisis keterampilan dan analisis tugas, serta evaluasi oleh peserta didik
sendiri;
c. evaluasi belajar sikap, dapat dilakukan dengan daftar isian sikap dari diri
sendiri, daftar isian sikap yang disesuaikan dengan tujuan program, dan
Skala deferensial sematik (SDS).
Evaluasi

pembelajaran

adalah

evaluasi

terhadap

proses

belajar

mengajar.secara sistematik,evalusi pembelajaran diarahkan pada komponen –
komponen sistem pembelajaran,yang mencakup komponen input,pada komponen
input terdiri dari perilaku awal(entry behavior)siswa, komponen input
instrumental yakni profesional guru/tenaga kependidikan,komponen kuirkulum
(program studi metode,media),koponen Administratif(alat,waktu,dana),komponen
proses ialah prosedur pelaksanaan pembelajaran,komponen output ialah hasil
pembelajaran yang menandai ketercapaian tujuan pembelajaran.
consistently have been found in a number of studies to be useful and
acceptable for judging evaluations outside the field of U.S. education (Burkett &
Denson, 1985; Nevo, 1982; Ridings, 1980; Rodrigues de Oliveira, Barros, &
Santos, 1981; Orris, 1989; Stockdill, 1984; Straton, 1982). Nevertheless, it is
appropriate that I disclose that I am using the Standards in a way that exceeds
their intended uses.
a. Fungsi dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi Pembelajaran berfungsi dan bertujuan :
1.) Untuk pengembangan
Untuk mengembangkan suatu program pendidikan,yang meliputi program studi,
kurikulum, program pembelajaran,desain belajar mengajar.Pada hakikatnya adalah
pengembangan dalam bidang perencanaan.Perencanaan mengandung nilai strategis
,karena merupakan acuan dalam rangka operasionalisasi pendidikan/pembelajaran.
2.) Untuk Akreditasi
Berbeda dengan fungsi yang pertama,evaluai juga berfungsi dan bertujuan untuk
menetapkan kedudukan suatu program pembelajaran berdasarkan ukuran/kriteria
tertentu,sehingga suatu program dapat dipercaya, diyakini, dan dapat dilaksanakan terus,

23

atau sebaliknya program itu harus diperbaikin/disempurnakan.Suatu program yang
diyakini kehenadalannya berarti telah diakreditasikan.Untuk menetapkan program
diperlukan data/informasi pendukung, berdasarkan penilaiandengan tolok ukuran tertentu.
b. Sasaran Evaluasi Hail Pembelajaran
Sasaran evaluasi pembelajaran adalah unruk menjawab pertanyaan tentang apa
yang dinilai dalam sistem pembelajaran. Jawaba atau petanyaan tersebut berkenaan
dengan hal-hal, objek atau aspek-aspek penilaian pembelajaran. Sehubungan dengan
jawaban atau pertanyaan itu, ada 4 hal pokok yang dijadikan sebagai sasaran evaluasi
pembelajaran, yakni tujuan pembelajaran, unsur dinamis pembelajaran, pelaksanaan
pembelajaran, dan pelaksanaan kurikulum.Keempat sasaran itu tampaknya berbeda satu
dengan yang lainnya,namun sangat erat kaitannya, dalam arti evaluasi terhadap suatu
sasaran sering kali tidak dapat dipisahkan secara tegas dari evaluasi terhadap sasaran
lainnya.
1.) Evaluasi Tujuan pembelajaran
Setelah berlangsung proses pembelajaran, maka dipandang perlu dilakukan
evaluasi tentang tujuan dari pembelajaran tersebut berdasarkan hasil belajar yang
telah dicapai oleh siswa. Hal ini penting , karena dengan cara ini, dapat ditetapkan
apakah

tujuan

pembelajaran

yang

telah

dirumuskan

sebelumnya

perlu

dipertahankan atau perlu diperbaikin.
2.) Evaluasi Unsur Dinamis Pembelajaran
Unsur-unsur pembelajaran pada hakikatnya merupakan unsur penunjang dalam
proses pembelajaran. Besarnya dan kuatnya dukungan unsur-unsur yang ad turut
menentukan tingkat efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
a. Evaluasi terhadap motivasi belajar.
b. Evaluasi terhadap bahan pelajaran.
c. Evaluasi terhadap alat bantu belajar.
d. Evaluasi terhadap suasana belajar.
e. Evaluasi terhadap keadaan subjek didik.
3.) Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran
Sasaran ini perlu dinilai untuk mengetahui derajat keterlaksanaan daripada
pembelajaran itu. Aspek-aspek yang perlu dinilai terdiri dari:
a. Tahap permulaan pembelajaran, yang menilai aspek-aspek, sebagai berikut
1.) Metode permulaan digunakan (ketetapan, sistematika)
2.) Penyampaian materi pelajaran
3.) Kegiatan siswa
4.) Kegiatan guru
5.) Penggunaan unsur penunjang
b. Tahap inti pembelajaran, meliputi:
1.) Metode permulaan digunakan (ketetapan, sistematika)
2.)Materi yang disampaikan
3.) Kegiatan siswa

24

4.) Kegiatan guru
5.) Penggunaan unsur penunjang
c. Tahap akhir pembelajaran, meliputi:
1.) Keimpulan yang dibuat mengenai materi
2.) Kegiatan siswa
3.) Kegiatan guru
4.) Prsedur/teknik penilaian
d. Tahap tingkat lanjut, meliputi:
1.) Kegiatan siswa
2.) Kegiatan guru
3.) Produk yang dihasilkan

4.)Evaluasi kurikulum/GBPP
Sasaran ini perlu dilakukan terutama yang berkenaan dengan pelaksanaan
kurikulum. Dalam hubungan ini, evaluasi berpijak pada pertanyaan-pertanyaan,sebagai
berikut:
a.) Berapa bnayak dan berapa luas mengenai tingkat ketercapaian tujuan yang
telah ditentukan dalam GBPP?
b.) Sejauh mana ruang lingkup atau urutan pokok bahasan yang telah
disampaikan dan diserapkan oleh siswa?
c.) Bagaimana tingkat pelaksanaan/penggunaan strategi pembelajaran yang telah
digariskan dalam GBPP ini?
d.) Hingga mana ketercapaian hasil beljar siswa?
c. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dalam evaluasi pembelajaran.

Evaluasi atau penilaian pembelajaran biasanya dilaksanakan dengan cara
menyelenggarakan ulangan harian dan ulangan umum. Guru bukan hams mengetahui
kompetensi peserta didik setelah pembelajaran dan pembentukan kompetensi, tetapi
harus pula mengetahui bagaimana perubahan dan kemajuan perilaku peserta didik
setelah proses pembelajaran. Itulah yang disebut evaluasi hasil belajar peserta didik
yang selanjutnya diberi istilah evaluasi atau penilaian. Hamalik (1995:159)
mengemukakan bahwa evaluasi itu adalah keseluruhan kegiatan pengukuran
(pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran, dan pertimbangan ,untuk
membuat hasil keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai peserta didik
setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan.
Hasil belajar merupakan prestasi belajar peserta didik secara keseluruhan, yang
menjadi indikator kompetensi dan derajat perubahan perilaku yang bersangkutan.
25

Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan implementasi kurikulum 2004 yang
berbasis kompetensi kebiasaan sekolah dalam penentuan nilai mata pembelajaran
pada rapor seorang peserta didik perlu direformasi, karena nilai itu hanya
memperhatikan hasil ulangan tertulis yang nota bene lebih mengamati
`kemajuan' ranah kognitif daripada ranah-ranah lainnya. Ranah afektif dan ranah
ketrampilan atau psikomotorik pun teptu saja hams diamati kemajuannya, karena
kedua ranah tersebut tidak mungkin dapat diketahui hanya dengan tes tertulis pada
ulangan, akan tetapi hams dengan tes perbuatan atau bahkan dalam bentuk notes,
umpamanya dengan mengadakan observasi dan angket.
Dalam melakukan evaluasi pembelajaran, amat dianjurkan agar guru lebih
mengutamakan tes perbuatan daripada tes tertulis. Peserta didik diamati dan
dinilai bagaimana mereka dapat bergaul; bagaimana mereka bersosialisasi di
masyarakat; dan bagaimana mereka menerapakan pembelajaran di kelas dalam
kehidupan sehari-hari. Pertanyaan akan timbul; apakah mungkin menyelenggarakan tes perbuatan pada ulangan umum mengingat waktunya amat terbatas?
Jawabannya: bila tidak mungkin, selenggarakanlah pada ulangan harian atau
bahkan pada kegiatan pembelajaran sendiri. Guru memberi tugas kepada seorang
peserta didik dan memberi penilaian; atau secara klasikal, namun tetap
memperhatikan dan sekaligus memberi nilai perorangan. Apa pun bentuk tes yang
diberikan kepada peserta didik, tetap hams sesuai dengan-persyaratan yang baku,
yakni tes itu hams
a. memiliki validitas (mengukur atau menilai apa yang hendak diukur atau
dinilai, terutama menyangkut kompetensi dasar dan materi standar yang
telah dikaji);
b. mempunyai reliabilitas (keajekan, artinya ketetapan hasil yang diperoleh,
seorang peserta didik, bila dites kembali dengan tes yang sama);
c. menunjukkan objektivitas (dapat mengukur apa yang sedang diukur, di
camping perintah pelaksanaannya jelas dan tegas sehingga tidak
menimbulkan interpretasi yang tidak ada hubungannya dengan maksud tes);
dan
d. pelaksanaan evaluasi hams efisien dan praktis.
Dalam hubungannya dengan tes perbuatan, Leighbody (1996) mengemu26

kakan elemen-elemen ketrampilan yang dapat diukur:
a. kualitas penyelesaian pekerjaan,
b. ketrampilan menggunakan alat-alat;
c. kemampuan menganalisis dan merencanakan prosedur kerja sampai selesai,
d. kemampuan mengambil keputusan berdasarkan aplikasi informasi yang
diberikan dan
e. kemampuan membaca, menggunakan diagram, gambar-gambar, dan simbolsimbol. Dalam pelaksanaannya elemen-elemen dapat dikembangkan ke
dalam format berikut.
Dalam penilaian pembelajaran, tes perbuatan dapat dilakukan secara efektif
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Tetapkan kemampuan yang akan di tes
b. Buat daftar pekerjaan ying diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dari
masing-masing mata pelajaran dan butir-butir yang dipertimbangkan untuk
menentukan apakah pekerjaan itu memenuhi standar yang telah ditetapkan.
c. Tentukan pekerjaan untuk peserta didik yang mencakup semua elemen
ketrampilan yang diukur dan alokasi waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan pekerjaan.
d. Buat semua daftar bahan, alit dan gambar yang diperlukan peserta didik
untuk mengerjakan tes tersebut.
e. Siapkan petunjuk tertulis yang jelas unttik peserta didik
f.Siapkan sistem penyekoran.

,.

Pelaksanaan tes perbuatan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Peserta didik telah memperoleh semua bahan, alat, instrumen, gambargambar, atau semua peralatan penyelsaian tes.
b. Peserta didik telah mengetahui apa yang harus dikerjakan dan berapa lama
waktunya.
c. Peserta didik harus mengetahui butir-butir yang akan dinilai
d. Bahan, mesin-mesin, alat-alat yang digunakan tiap peserta didik memiliki
kondisi yang sama

27

e. Bila waktu yang dinilai, cek dulu dengan teliti
f.Bila kemampuan merencanakan pekerjaan atau keterampilan pemakaian alat
yang diukur, amati peserta didik selama bekerja.
g. Guru jangan memberi pertolongan kepada peserta didik, kecuali
menjelaskan petunjuk-petunjuk yang telah diberikan kepadanya.
Rambu-rambu penilaian diatas hams dianggap sebagai contoh, guru dapat
mengubahkan dengan memperhatikan berbagai situasi dan kondisi sekolah,
karakteristik peserta didik dan kemampuan guru sendiri.
Although learners must construct their own knowledge, a significant portion
of an individuals knowledge is constructed in response to interactions with other
human beings. From a social constructivist perspective, most learning is socially
mediated (Brown, Collins & Duguid, 1989; Cole,1985; Hewson, Kerby & Cook,
1995; Lave, 1988; Vygotsky, 1978).
d. Pelaksanaan evaluasi pembelajaran

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik
dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang-lebih baik.
dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor
internal yang datang dari dalam din individu, maupun faktor eksternal yang
datanga dari lingkungan. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama
adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan
perilaku bagi peserta didik. Evaluasi pembelajaran mencakup pre-tes, evaluasi
proses, dan post-tes. Ketiga hal tersebut dijelaskan berikut ini.
a. Pre-Tes (Tes awal)
Pada umumnya pelaksanaan proses pembelajaran dimulai dengan pre-tes.
Pretes ini memiliki banyak kegunaan dalam menjajagi proses pembelajaran yang
akan dilaksanakan. Oleh karena itu pre-tes memegang peranan yang cukup
penting dalam proses pembelajaran. Fungsi pre-tes ini antara lain dapat
dikemukakan sebagai berikut:
a.

Untuk menyiapakan peserta didik dalam proses belajar, karena dengan pretes
maka pikiran mereka akan terfokur pada soal-soal yang harus mereka
jawab/keijakan

28

b.

Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses
pembelajaran

yang

dilakukan.

Hal

ini

dapat

dilakukan

dengan

membandingkan hasil pre-tes dengan post-tes.
c.

Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik
mengenai bahan ajaran yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran.

d.

Untuk mengetahi dari mana seharusnya proses pembelajaran dimulai, tujuantujuan mana yang telah dikuasi peserta didik, dan tujuan-tujuan mana yang
perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus.
Untuk mencapai fungsi yang ketiga dan keempat maka hasil pre-tes harus

segera diperiksa, sebelum pelaksanaan proses pembelajaran inti dilaksanakan
(sebelum peserta didik mempelajari modul). Pemeriksaan ini harus dilakukan
secara cepat dan cermat, jangan sampai mengganggu suasana belajar, dan jangan
sampai mengalihkan perhatian peserta didik. Untuk itu, pada waktu memeriksa
pre-tes perlu diberikan kegiatan lain, misalnya membaca hand out, atau text
books. Dalam hal ini pre-tes sebaiknya dilakukan secara tertulis, meskipun bisa
saja dilaksanakan secara lisan atau perbuatan.
b. Evaluasi Proses
Evaluasi proses dimaksudkan untuk menilai kualitas pembelajaran dan
pembentukan kompetensi dasar pada peserta didik, termasuk bagaimana tujuantujuan belajar direalisasikan.
Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari
segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya
atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik
fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan
kegairahan belajar yang tinggi. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran
dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri peserta
didik seluruhnya atau setidaknya sebagian besar (75%). Lebih lanjut proses
pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata
menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan
kebutuhan, perkembangan masyarakat dan pembangunan.
c. Post-Tes

29

Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran diakhiri dengan post-test. Sama
halnya dengan pre-tes, post-tes juga memiliki banyak kegunaan, terutama dalam
melihat keberhasilan pembelajaran. Fungsi post-tes antara lain dapat dikemakakan
sebagai berikut:
a.

Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik tehadap kompetensi yang
telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok. Hal ini dapat
diketahui dengan membandingkan antara hasil pre-tes dan post-tes

b.

Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh
peserta didik, serta kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasainya.
Sehubungan dengan kompetensi dan tujuan yang belum dikuasai ini, apabila
sebagian besar belum menguasainya maka perlu dilakukan pembelajaran
kembali (remedial teaching)

c.

Untuk mengetahui peserta didik-peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan
remedial, dan peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta
untuk mengetahui tingkat kesulitan dalam mengerjakan modul (kesulitan
belajar).

d.

Sebagai bahan acuan untuk melakukan .perbaikan terhadap komponenkomponen modul, dan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, baik
terhadap perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi

Evaluasi pembelajaran dalam kurikulum 2006
Dalam kurikulum 2006 yang berbasis kompetensi, evaluasi pembelajaran
hams ditujukan untuk mengetahui tercapai tidaknya kompetensi dasar yang telah
ditetapkan. Dengan kompetensi dasar ini dapat diketahui tingkat penguasaan
materi standar oleh peserta didik, baik yang menyangkut aspek intelektual, sosial,
emosional, spiritual, kreatifitas, dan moral. Evaluasi dapat dilakukan terhadap
program, proses dan hash belajar. Evaluasi program bertujuan untuk menilai
efektifitas program yang dilaksanakan, evaluasi proses bertujuan untuk
mengetahui aktifitas dan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran, sedang
evaluasi hasil bertujuan untuk mengetahui hasil belajar atau pembentukan
kompetensi peserta didik.
Evaluasi dapat dilakukan dengan tes dan non tes. 'Fes dapat dilakukan
dengan tes lisan, tes tulisan dan tes perbuatan. Sedangkan evaluasi non tes dapat
30

dilakukan dengan observasi, wawancara, jawaban terinci, lembar pendapat, dan
lain-lain sesuai dengan kepentingannya. Dalam menyukseskan implementasi
Kurikulum 2006, evaluasi pembelajaran disarankan melalui tes perbuatan atau
non tes, untuk meningkatkan partisipasi dan keterlibatan peserta didik, serta
melihat kompetensi peserta didik sebagai hasil belajar.
Evaluasi hasil belajar dalam implementasi kurikulum 2006 dapat dilakukan
dengan penilaian berbasis kelas, tes kemampuan dasar, ujian berbasis sekolah,
benchmarking, penilaian program, dan portofolio.

1. Hasil diskusi
Komponen-komponen kurikulumterdiri dari Tujuan, Materi, strategi
pembelajaran, organisasi kurikulum dan evaluasi.
Evaluasi kurikulum dimaksudkan sebagai suatu proses mempertimbangkan
untuk memberi nilai dan arti terhadap suatu kurikulum tertentu.
Ditinjau dari sasaran yang ingin dicapai, evaluasi bidang pendidikan dapat
dibagi menjadi dua, yakni evaluasi yang bersifat makro dan mikro. Evaluasi
makro sasarannya adalah program pendidikan yang direncanakan dan tujuannya
adalah untuk memperbaiki bidang pendidikan. Sedangkan evaluasi mikro sering
digunakan di level kelas. Di sini, sasaran evaluasi mikro adalah program
pembelajaran di kelas dan yang menjadi penanggungjawabnya adalah guru untuk
sekolah atau dosen untuk perguruan tinggi
Guru memiliki tanggung jawab untuk menyusun dan melaksanakan program
pembelajaran, sedangkan sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengevaluasi
program pembelajaran yang dilaksanakan guru.
Guru memiliki tanggung jawab untuk menyusun dan melaksanakan program
pembelajaran, sedangkan sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengevaluasi
program pembelajaran yang dilaksanakan guru.
Setiap program kegiatan, baik program pendidikan maupun non pendidikan,
seharusnya diikuti dengan kegiatan evaluasi. Evaluasi dilakukan bertujuan untuk
menilai apakah suatu program terlaksana sesuai dengan perencanaan dan
mencapai hasil sesuai yang diharapan atau belum.
Berdasarkan hasil evaluasi akan dapat diketahui hal-hal yang telah dicapai,
apakah suatu program dapat memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Setelah itu

31

kemudian diambil keputusan apakah program tersebut diteruskan, direvisi,
dihentikan, atau dirumuskan kembali sehingga dapat ditemukan tujuan, sasaran
dan alternatif baru yang sama sekali berbeda dengan format sebelumnya. Agar
dapat menyusun program yang lebih baik, maka hasil evaluasi program
sebelumnya dapat dijadikan sebagai acuan pokok.

32

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
evaluasi

kurikulum

dimaksudkan

sebagai

suatu

proses

mempertimbangkan untuk memberi nilai dan arti terhadap suatu kurikulum
tertentu. Hal yang dimaksud dengan kurikulum di sini adalah rencana yang
mengatur tentang isi dan tujuan pendidikan serta cara yang digunakan untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dengan kata lain dalam konteks ini adalah
kurikulum sebagai sebuah dokumen atau kurikulum tertulis.
Evaluasi belajar pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan untuk
mengukur perubahan perilaku yang telah terjadi.

33

DAFTAR PUSTAKA
Darmadi, Hamid. 2010. Kemampuan dasar mengajar. Bandung :Alfabeta
Sanjaya, Wuna. 2008. Kurikulum dan pembelajaran, jakarta : Kencana predana
Media Group
Amrik, Oemar. 2001. Kurikulum dan pembelajaran, jakakrta : Bumi aksara
Nasution. 2011. Teknologi pendidikan.jakarta : Bumi Aksara
Ahmad gunandi, Andi. (2014). “Evaluasi Pembelajaran aktif Kreatif Efektif dan
Menyenangkan Dengan Model Context Input Process Product” 2 ( 2). 1-8
Hartono, Budi. (-). “Lima Konsepsi Kurikulum dan Implementasinya dalam
Rancangan Kurikulum” Vol 1. 1-19
Hutahaean, beman. (2014). “pengembangan model evaluasi kurikulum
multimedia untuk kurikulum berbasis kompetensi” XXXIII, No. 2
Widoyoko, eko putro. (-). “evaluasi program pembelajaran”
Dufresne, J Robert.etc. (1996). “Department of Physics & Astronomy Univrsity of
Massachusetts at Amherst Amherst, MA 01003Ð4525 USA” 7, 3-47
Stufflebeam, Daniel L (1994) “Empowerment Evaluation, Objectivist Evaluation,
and Evaluation Standards: Where the Future of Evaluation Should Not Go and
Where It Needs to Go” 15; 321

34

LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN DISKUSI MATA KULIAH
PENILAIAN HASIL BELAJAR
Judul Makalah

:

1. Konsep evaluasi kurikulum berdasarkan komponen-komponen kurikulum.
2. Konsep evaluasi program pendidikan dan program pembelajaran.
Kelompok 3

:

1. Hosti Nuriza (RSA1C313014)
2. Ulya Aini (RSA1C313011)
Penilaian lembar observasi kegiatan diskusi.
NAMA

ASPEK PENILAIAN

Hosti Nuriza

1. Penulisan makalah mengacu pada standar
penulisan dan EYD
2. Penyajian presentasi/pemamparan
makalah
3. Pemahaman materi
4. Keaktifan dalam diskusi
Jumlah skor
Nilai
1. Penulisan makalah mengacu pada standar
penulisan dan EYD
2. Penyajian presentasi/pemamparan
makalah
3. Pemahaman materi
4. Keaktifan dalam diskusi
Jumlah skor
Nilai

1

Ulya aini

SKOR
2
3

35

4