You are on page 1of 11

1

A.

PENDAHULUAN
Instrumen memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan

mutu suatu penelitian, karena validitas atau kesahihan data yang diperoleh akan
sangat ditentukan oleh kualitas atau validitas instrumen yang digunakan, di samping
prosedur pengumpulan data yang ditempuh. Hal ini mudah dipahami karena
instrumen berfungsi mengungkapkan fakta menjadi data, sehingga jika instrumen
yang digunakan mempunyai kualitas yang memadai dalam arti valid dan reliabel
maka data yang diperoleh akan sesuai dengan fakta atau keadaan sesungguhnya di
lapangan. Sedangkan jika kualitas instrumen yang digunakan tidak baik dalam arti
mempunyai validitas dan reliabilitas yang rendah, maka data yang diperoleh juga
tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga dapat menghasilkan
kesimpulan yang keliru.
Untuk

mengumpulkan

data

dalam

suatu

penelitian,

kita

dapat

menggunakan instrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen
yang dibuat sendiri. Instrumen yang telah tersedia pada umumnya adalah instrumen
yang sudah dianggap baku untuk mengumpulkan data variabel-variabel tertentu.
Dengan demikian, jika instrumen baku telah tersedia untuk mengumpulkan
data variabel penelitian maka kita dapat langsung menggunakan instrumen tersebut,
dengan catatan bahwa teori yang dijadikan landasan penyusunan instrumen tersebut
sesuai dengan teori yang diacu dalam penelitian kita. Selain itu konstruk variabel
yang diukur oleh instrumen tersebut juga sama dengan konstruk variabel yang
hendak kita ukur dalam penelitian. Akan tetapi, jika instrumen yang baku belum
tersedia untuk mengumpulkan data variabel penelitian, maka instrumen untuk
mengumpulkan data variabel tersebut harus dibuat sendiri oleh peneliti.
Dalam rangka memahami pengembangan instrumen penelitian, maka
berikut ini akan dibahas mengenai beberapa hal yang terkait, diantaranya pengertian
instrumen, langkah-langkah pengembangan instrumen, validitas dan reliabilitas.
B.

PENGERTIAN INSTRUMEN
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu

penelitian dan penilaian. Instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk
mendapatkan informasi kuantitatif dan kualitatif tentang variasi karakteristik variabel
penelitian secara objektif.[2] Sedangkan menurut Djaali dan Muljono, instrumen

2

adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, yang dapat dipergunakan
sebagai alat untuk mengukur suatu objek ukur atau mengumpulkan data mengenai
suatu variabel.[3]
Instrumen memegang peranan penting dalam menentukan mutu suatu
penelitian dan penilaian. Fungsi instrumen adalah mengungkapkan fakta menjadi
data.[4] Menurut Arikunto, data merupakan penggambaran variabel yang diteliti dan
berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis, benar tidaknya data tergantung dari baik
tidaknya instrumen pengumpulan data.[5]
Untuk mengumpulkan data penelitian dan penilaian, seseorang dapat
menggunakan instrumen yang telah tersedia atau biasa disebut instrumen baku
(standardized) dan dapat pula dengan instrumen yang dibuat sendiri. Jika instrumen
baku tersedia maka seseorang dapat langsung menggunakan instrumen tersebut
namun jika instrumen tersebut belum tersedia atau belum baku maka seseorang harus
dapat mengembangkan instrumen buatan sendiri untuk dibakukan sehingga menjadi
instrumen yang layak sesuai fungsinya.
C. JENIS-JENIS INSTRUMEN PENELITIAN
Jenis- jenis instrumen dalam penelitian teerbagi menjadi dua, yaitu instrumen tes dan
instrumen non tes.
1.

Instrumen Tes
Tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan
seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respon seseorang terhadap
stimulus atau pertanyaan. Tes juga dapat diartikan sebagai sejumlah pernyataan
yang harus diberikan tanggapan dengan tujuan untuk mengukur tingkat
kemampuan seseorang atau mengungkap aspek tertentu dari orang yang dikenai

tes.
Bentuk-Bentuk Tes
Berdasarkan segi penskorannya, tes dapat dikategorikan menjadi dua,
yaitu :
1) Tes objektif adalah tes yang penskorannya dapat dilakukan dengan tingkat
objektifitas yang tinggi. Skor yang dihasilkan pada akhir penskoran terhadap
pekerjaan seseorang peserta tes objektif, pada dasarnya tidak berbeda dan
akan sama seandainya penskoran dilakukan oleh dua atau lebih korektor,
atau oleh seorang korektor yang sama yang melakukan penskoran dua kali

3

atau lebih pada waktu yang berlainan. Tes objektif dapat dituangkan dalam
bentuk (a) tes menjodohkan, (b) tes benar salah,
2) tes pilihan ganda.
2. Instrumen Non Tes
Insrtumen non tes meliputi:
a) Instrumen Wawancara/ interview
Wawancara merupakan suatu proses tanya jawab atu dialog secara
lisan antara pewancara dengan responden dengan tujuan untuk memperoleh
informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Wawancara digunakan sebagai
teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan
untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti
ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah
respondennya sedikit atau kecil.
Langkah-langkah penyusunan pedoman wawancara antara lain:
a)
Merumuskan tujuan wawancara
b)
Membuat kisi-kisi atau layout dan pedoman wawancara
c) Meyusun pertanyaan sesuai dengan data yang diperlukan dan bentuk pertanyaan
yang diinginkan . untuk itu perlu diperhatikan kata-kata yang digunakan, cara
d)

bertanya, dan jangan membuat peserta didik bersifat defensif
Melaksanakan ujicoba untuk melihat kelemahan-kelemahan pertanyaan yang

e)

disusun, sehingga dapat diperbaiki lagi.
Melaksanakan wawancara dalam situasi yang sebenarnya
b) Instrumen Angket (kuesioner)
Adalah seperangkan pertanyaan atau pernyataan tertulis yang
diberikan kepada responden untuk diberikan respon sesuai dengan
permintaan pengguna.
 Jenis-jenis angket
Angket dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, tergantung pada sudut
pandangnya.
Dipandang dari cara menjawab, angket dibedakan menjadi dua, yaitu
angket terbuka dan angket tertutup.
1. Angket terbuka merupakan angket yang bisa dijawab atau direspon
secara bebas oleh responden. Peneliti tidak menyediakan alternatif
jawaban bagi responden.
Contoh: sejauh mana penguasaan anda terhadap materi nahwu dan
shorof?

4

2. Angket tertutup merupakan angket yang jumlah item dan alternatif
jawaban maupun responnya sudah ditentukan, responden tinggal
memilihnya sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.
c) Instrumen Observasi
Adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsurunsir yang manpak dalam suatu gejala pada objek penelitian. Dapat dipahami
bahwa observasi merupakan salah satu metode pengumpulan data dimana
pengumpul data mengamati secara visual gejala yang diamati, serta
menginterpretasikan hasil pengamatan tersebut dalam bentuk catatan.
Observasi dapat di kelompokkan berdasarkan pada dua hal, yaitu
berdasarkan pada proses pengumpulan data dan berdasarkan instrumen yang
digunakan.
Berdasarkan proses pengumpulan data, observasi dapat dibagi menjadi
dua, yaitu observasi partisipan dan observasi non partisipan. Suatu observasi
dapat disebut sebagai observasi partisipan jika orang yang melakukan
observasi turut ambil bagian dalam kegiatan atau terlibat secara langsung
dalam aktifitas orang-orang yang sedang diobservasi. Sedangkan observasi
non partisipan adalah suatu observasi yang mana observer tidak turut ambil
bagian dalam kegiatan atau tidak terlibat secara langsung dalam aktifitas
orang-orang yang sedang diobservasi.
Instrumen observasi adalah pedoman observasi. Untuk menyusun
pedoman observasi, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a) Merumuskan tujuan observasi
b)
Membuat layout atau kisi-kisi observasi
c) Menyusun pedoman obsevasi
d)
Menyusun aspek-aspek yang akan diobservasi, baik yang berkenaan
e)
f)
g)
h)
D.

dengan proses belajar peserta didik aupun kepribadiaanya.
Melakukan uji coba pedoman observasi untuk melihat kelemahankelemahan.
Merevisi dari kelemahan-kelemahan yang ada
Melaksanakan observasi saat kegiatan berlangsung
Mengolah dan menfsirkan hasil observasi

LANGKAH-LANGKAH

PENYUSUNAN

DAN

PENGEMBANGAN

INSTRUMEN
Menurut Hadjar, dalam suatu penelitian tertentu, peneliti harus
mengikuti

langkah-langkah

pengembangan

instrumen,

yaitu:

1).

Mendefinisikan variabel; 2). Menjabarkan variabel ke dalam indikator yang
lebih rinci; 3). Menyusun butir-butir; 4). Melakukan uji coba; 5). Menganalisis

5

kesahihan (validity) dan keterandalan (reliability).[6] Suryabrata berpendapat
bahwa langkah-langkah pengembangan alat ukur khususnya atribut nonkognitif adalah: 1). Pengembangan spesifikasi alat ukur; 2). Penulisan
pernyataan atau pertanyaan; 3). Penelaahan pernyataan atau pertanyaan; 4).
Perakitan instrumen (untuk keperluan uji-coba); 5). Uji-coba; 6). Analisis hasil
uji-coba; 7). Seleksi dan perakitan instrumen; 8). Administrasi instrumen; 9).
Penyusunan skala dan norma.
Secara lebih rinci, Djaali dan Muljono menjelaskan langkah-langkah
penyusunan dan pengembangan instrumen yaitu:
1)

Sintesa teori-teori yang sesuai dengan konsep variabel yang akan diukur
dan buat konstruk variabel

2)

Kembangkan dimensi dan indikator variabel sesuai dengan rumusan
konstruk variabel

3)

Buat kisi-kisi instrumen dalam bentuk tabel spesifikasi yang memuat
dimensi, indikator, nomor butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi
dan indikator

4)

Tetapkan besaran atau parameter yang bergerak dalam suatu rentangan
kontinum dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan

5)

Tulis butir-butir instrumen baik dalam bentuk pertanyaan maupun
pernyataan. Biasanya butir instrumen digolongkan menjadi dua
kelompok yaitu kelompok pernyataan atau pertanyaan positif dan
kelompok pernyataan atau pertanyaan negatif

6)

Butir yang ditulis divalidasi secara teoritik dan empirik

7)

Validasi pertama yaitu validasi teoritik ditempuh melalui pemeriksaan
pakar atau panelis yang menilai seberapa jauh ketepatan dimensi sebagai
jabaran dari konstruk, indikator sebagai jabaran dimensi dan butir
sebagai jabaran indikator

8)

Revisi instrumen berdasarkan saran pakar atau penilaian panelis

9)

Setelah konsep instrumen dianggap valid secara teoritik dilanjutkan
penggandaan instrumen secara terbatas untuk keperluan uji coba

10) Ujicoba instrumen di lapangan merupakan bagian dari proses validasi
empirik. Melalui ujicoba tersebut, instrumen diberikan kepada sejumlah

6

responden sebagai sampel uji-coba yang mempunyai karakteristik sama
atau ekivalen dengan karakteristik populasi penelitian. Jawaban atau
respon dari sampel ujicoba merupakan data empiris yang akan dianalisis
untuk menguji validitas empiris atau validitas kriteria dari instrumen
yang dikembangkan.
11) Validasi kedua adalah uji coba instrumen di lapangan yang merupakan
bagian dari proses validasi empirik. Instrumen diberikan kepada
sejumlah responden sebagai sampel yang mempunyai karakteritik sama
dengan populasi yang ingin diukur. Jawaban responden adalah data
empiris yang kemudian dianalisis untuk menguji validitas empiris atau
validitas kriteria dari instrumen yang dikembangkan
12) Pengujian validitas krtieria atau validitas empiris dapat dilakukan dengan
menggunakan kriteria internal maupun kriteria eksternal
13) Berdasarakn kriteria tersebut dapat diperoleh butir mana yang valid
dan

butir yang tidak valid

14) Untuk validitas kriteria internal, berdasarkan hasil analisis butir yang
tidak valid dikeluarkan atau direvisi untuk diujicobakan kembali
sehingga menghasilkan semua butir valid.
15) Dihitung koefisien reliabilitas yang memiliki rentangan 0-1, makin tinggi
koefisien reliabilitas instrumen berarti semakin baik kualitas instrumen
16) Rakit semua butir yang telah dibuat menjadi instrumen yang final [8]
Dari beberapa teori langkah-langkah pengembangan instrumen di atas,
dapat disimpulkan bahwa secara garis besar langkah-langkah pengembangan
instrumen
1) Merumuskan definisi konseptual dan operasional
Langkah yang pertama kali harus dilakukan dalam pengembangan
instrumen adalah merumuskan konstruk variabel yang akan diukur sesuai
dengan landasan teoritik yang dikembangkan secara menyeluruh dan
operasionalkan definisi konseptual tersebut sesuai dengan sifat instrumen yang
akan dikembangkan kemudian rumuskan dan jabarkan indikator dari variabel
yang akan diukur.
2) Pengembangan spesifikasi dan penulisan pernyataan

7

Pengembangan spesifikasi yaitu menempatkan dimensi dan indikator
dalam bentuk tabel spesifikasi pada kisi-kisi instrumen yang kemudian
dilanjutkan dengan penulisan pernyataan. Rumusan pernyataan sangat tergantung
kepada model skala yang digunakan. Dari setiap pernyataan dicantumkan nomor
butir dan jumlah butir sesuai dengan dimensi dan indikator yang akan diukur.
Format yang telah dirumuskan dalam spesifikasi perlu diikuti secara tertib.
3) Penelaahan pernyataan
Butir-butir pernyataan yang telah ditulis merupakan konsep instrumen
yang harus melalui proses validasi, baik validasi teoritik maupun validasi
empirik.Tahap validasi pertama yang ditempuh adalah validasi teoritik, yaitu
melalui pemeriksaan pakar atau melalui panel yang pada dasarnya menelaah
seberapa jauh dimensi merupakan jabaran yang tepat untuk konstruk, seberapa
jauh indikator merupakan jabaran yang tepat dari dimensi, dan seberapa jauh
butir-butir instrumen yang dibuat secara tepat dapat mengukur indikator.
Selanjutnya jika semua butir pernyataan sudah valid secara teoritk atau
konseptual maka dilakukan validasi empirik melaui uji coba.
4) Uji coba
Uji coba di lapangan merupakan bagian dari proses validasi empirik.
Melalui uji coba tersebut, instrumen diberikan kepada sejumlah responden
sebagai sampel uji coba yang mempunyai karakteristik sama atau ekivalen dengan
karakteristik populasi penelitian. Jawaban atau respon dari sampel uji coba
merupakan data empiris yang akan dianalisis untuk menguji validitas empiris atau
validitas kriteria yang dikembangkan.
5) Analisis
Berdasarkan data hasil uji coba selanjutnya dilakukan analisis untuk
mengetahui koefisien validitas butir dan reliabilitas instrumen.
6) Revisi Instrumen
Revisi instrumen dilakukan jika setelah melalui analisis terdapat butirbutir yang tidak valid atau memiliki reliabilitas yang rendah. Butir-butir yang
sudah direvisi dirakit kembali dan dihitung kembali validitas dan reliabilitasnya.
7) Perakitan instrumen menjadi Instrumen final

8

Terkait langkah-langkah pengembangan instrumen di atas, terdapat dua hal
yang harus diperhatikan dan dipenuhi untuk memperoleh instrumen yang
berkualitas yaitu instrumen tersebut harus valid dan reliabel. Untuk itu, perlu
pemahaman yang mendalam tentang validitas dan reliabilitas instrumen.
E. PENGUJIAN VALIDITAS DAN RELIABILITAS
Untuk dapat dikatakan instrumen yang baik paling tidak memenuhi dua
kriteria, yaitu :
1. Validitas
Adalah menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur mampu mengukur apa
yang ingin diukur. Dengan kata lain validitas berkaitan dengan ketepatan alat
ukur. Validitas instrumen secara garis besardapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
 Validitas internal
Validitas internal disebut juga dengan validitas logis yang berarti
penalaran atau rasional. Maka, validitas logis untuk sebuah instrumen
menunjukkan pada kondisi sebuah instumen yang memenuhi syarat valid
berdasarkan hasil penalaran atau rasional. Valoditas internal menjadi dua :
a) Validitas Isi
Adalah jika isi atau bahan yang diuji relevan dengan kemampuan,
pengetahuan, pelajaran, pengalaman, atau latar belakang orang yang diuji.
Jika misalnya kita uji bahan yang ada di luar yang dipelajari, maka tes itu
tidak mempunyai validitas isi. Misalnya kita ingin menguji kemampuan
berbahasa Arab maka yang perlu di tes adalah istima’, kalam, qiro’ah dan
kitabah.
b) Validitas Konstruk
Adalah sesuatu yang berkaitan dengan fenomena dan objek yang
abstrak, tetapi gejalanya dapat di amati dan dapat di ukur. Validitas konstruk
mengacu pada sejauh mana suatu instrumen mengukur konsep dari suatu
teori, yaitu yang menjadi dasar penyusunan instrumen. Oleh karena itu
harus ada pembahasan mengenai teori tentang variabel yang akan diukur
yang akan menjadi dasar penentuan konstruk suatu instrumen.
Uji Validitas digunakan rumus korelasi Product Moment sebagai
berikut.
Dimana:

rxy
N
X
Y

=
=
=
=

koefisien korelasi suatu butir/item
jumlah subyek
skor suatu butir/item
skor total

9

Nilai r kemudian dikonsultasikan dengan rtabel (rkritis). Bila rhitung dari rumus di
atas lebih besar dari rtabel maka butir tersebut valid, dan sebaliknya.
 Validitas Eksternal
Validitas eksternal disebut juga validitas empiris yang kriteriaa
validitasnya didasarkan pada kriteria yang ada di luar instrumen yaitu
berdasarkan fakta empiris atau pengalaman.validitas eksternal dibagi menjadi
dua, yaitu :
a) Validitas Kesejajaran
Sebuah instrumen dikatakan memiliki validitas kesejajaran apabila
hasilnya sesuai dengan kriteria yang sudah ada, dalm arti memiliki
kesejajaran denagn kriteria yang sudah ada. Kriteria yang sudah ada berupa
instrumen lain yang mengukur hal sama tetapi sudah diakui validitasnya,
misalnya dengan tes terstandar.
b) Validitas Prediksi
Memprediksi artinya memperkirakan/meramal mengenai hal yang
akan terjadi pada masa yang akan datang. Sebuah instrumn dikatakan
mempunyai validitas apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan
apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang mengenai hal yang sama.
Validitas prediktif ini biasanya digunakan untuk menguji validitas instrumen
bentuk tes.
Misalnya, tes masuk perguruan tinggi adalah sebuah tes yang
diperkirakan mampu meramalkan keberhasilan peserta tes dalam mengikuti
kuliah di masa yang akan datang. Calon yang tersaring berdasarkan hasil tes
diharapkan mencerminkan tinggi rendahnya kemampuan mengikuti kuliah.
Jika nilai tesnya tinggi tentu menjamin keberhasilan kelak, begitupun juga
sebaliknya.
2. Reliabilitas
Instrumen tes dikatakan dapat dipercaya (reliable) jika memberikan hasil
yang tetap atau ajeg (konsisten) apabila diteskan berkali-kali. Jika kepada siswa
diberika tes yang sama yang pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan
tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya. Secara garis
besar ada dua jenis realibilitas, yaitu realibilitas internal dan realibilitas eksternal.
 Reliabilitas Internal

10

Realibilitas Internal diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu
kali penggumpulana data. Berdasarkan sistem pemberian skor instrumen, ada
dua metode analisis realiblitas internal, yaitu:
a) Instrumen Skor Diskrit atau nominal
adalah instrumen yang skor jawaban/responnya hanya dua, yaitu 1 (satu)
dan 0 (nol. Dengan kata lain hanya dua jawaban yaitu benar dan salah.
Jwaban benar diberi skor 1 (satu) sedangkan jawaban salah beri skor nol
(0)
b) Instrumeen skor non-diskrit
Adalah insterumen pengukuran yang dalam sistem skoringnya bukan satu
(1) dan nol (0), tetapi bersifat gradual, yaitu ada penjejangan skor mulai
dari skor tertinggi sampai skor terendah. Hal ini biasanya terdapat pada
instrumen tes bentuk uraian dan pilihan ganda, dan instrumen non tes
bentuk angket dengan skala likert dan skala lajuan.
 Reliabilitas Eksternal
Ada dua cara untuk menguji reliabilitas eksternal suatu instrumen
yaitu dengan metode bentuk paralel, metode tes berulang dan metode
konsistensi internal atau gabungan.
a) Metode bentuk paralel dilakukan dengan cara menyusun dua instrumen
yang hampir sama kemudian diuji cobakan dengan korelasi product moment
data dari hasil dua kali uji coba, yang satu dianggap sebagai nilai X dan
yang lain sebagai nilai Y. Instrumen paralel adalah dua buah instumen yang
mempunyai kesamaan tujuan, tingkat kesulitan dan susunan, tapi butir-butir
pertanyaan atau pernyataan berbeda.
b) Metode tes berulang
Metode tes ulang dilakukan orang untuk menghindari penyusunan dua seri
tes. Dalam menggunakan teknik atau metode ini pengetes hanya memiliki
satu seri tes tetapi dicobakan dua kali. Oleh karena tesnya hanya satu dan
dicobakan dua kali, maka metode ini dapat disebut dengan single-testdouble-trial method. Kemudian hasil dari kedua tes tersebut dihitung
korelasinya. Untuk tes yang banyak mengungkap pengetahuan (ingatan) dan
pemahaman, cara ini kurang mengena karena responden masih ingat akan
butir-butir soalnya.
c) Metode konsistensi internal atau gabungan.
Adalah reliabilitas yang didapat dengan jalan mengorelasikan dua buah tes
dari kelompok yang sama, tetapi diambil dari butir-butir yang bernomor

11

genap untuk tes yang pertama dan butir-butir bernomor ganjil untuk tes
yang kedua. Untuk menghitung metode ini, menggunakan rumus Spearman
Brown
F. UJI COBA
Tahapan dalam uji coba suatu instrumen meliputi sebagai berikut :
1). Uji Ahli
Expert Judgement atau Pertimbangan Ahli dilakukan melalui:
(a) Diskusi Kelompok (group discussion), dan (b) Teknik Delphi.
2). Uji lapangan (field Testing)
Pengujian dapat dilakukan dengan eksperimen ;
 Ekperimen lapangan : dilakukan dalam lingkungan alami di mana kegiatan
sehari-hari berlangsung
 Kontrol: faktor pencemar harus dikendalikan
 Manipulasi variabel bebas/perlakuan (treatment) Dalam rangka menguji
pengaruh kausal dari variabel bebas terhadap varibel terikat diperlukan
manipulasi tertentu
 Pengacakan (randomization) Setiap unit eksperimen memiliki peluang
yang sama untuk menerima perlakuan
DAFTAR PUSTAKA
Ibnu Hadjar. 1996. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif

dalam

Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif dan
Kualitatif). Jakarta: Gaung Persada Press.
M. Burhan Bungin. 2005.Metodologi Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, ekonomi,
dan kebij akan p ublik serta ilmu-ilmu sosial lainnya. Jakarta: Prenada Media.
Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. 2000. Manaj emen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumadi Suryabrata. 2008.Metodologi Penelitian. Jakarta: RajaGrafindo Persada.