You are on page 1of 15

UNIVERSITAS INDONESIA

DAMPAK LINGKUNGAN TERHADAP PERKEMBANGAN INDUSTRI
SAWIT INDONESIA
MAKALAH
ENERGI DAN LINGKUNGAN

STIEVEN NETANEL RUMOKOY
1406509542

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO
DEPOK
2015

membuat minyak sawit semakin dibutuhkan terutama untuk minyak pelumas pelbagai jenis mesin-mesin pabrik dan tranportasi. letaknya persis di garis khatulistiwa. 4.000 tahun yang lalu tanaman ini telah diekstraksi untuk mengambil minyaknya untuk bahan memasak makanan oleh manusia. terutama di Indonesia dan Malaysia. Namun di ujung abad 18 akibat dorongan revolusi industri. termasuk cikal-bakal pelabuhan di Belawan dan Jakarta. Selain itu minyak sawit juga digunakan sebagai penghangat tubuh apabila musim dingin tiba dan bahan obatobatan. Pendahuluan Tanaman kelapa sawit (Elais Quineensis Jacg) adalah pohon palma kuno liar berasal dari Afrika Barat. [1] Di Indonesia sendiri. [1] Alasan pembukaan kebun sawit di Indonesia oleh pemerintah kolonial adalah: 1. Saat itu pemerintah kolonial belum mengetahui banyak manfaat lain dari tanaman sawit. Indonesia merupakan koloni Belanda yang memiliki ketersediaan tanah yang luas. Beriklim tropis. Disamping itu tentu saja buruh murah dan tenaga kerja paksa (rodi) bisa dimobilisasi untuk pembukaan. [1] Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. tanaman sawit pertama sekali masuk tahun 1848 dibawa oleh pegawai pemerintah Kolonial Hindia Belanda. . 2. terutama sejak Revolusi Industri di Eropa pada abad ke-19. Semua itu dibuktikan dari penemuan arkeologi berupa guci tanah liat yang mengandung sisa residu minyak sawit pada sebuah makam kuno di Mesir. Jumlahnya sangat sedikit karena hanya dijadikan sebagai tanaman hias di halaman istana gubernur jenderal Belanda di Bogor. Inilah yang menjadi cikal-bakal industri sawit Asia Tengga. yang sangat cocok bagi pertumbuhan tanaman sawit. pemerintah kolonial mulai melirik tanaman sawit untuk dijadikan komoditi andalan. Umumnya para budak diambil dari afrika dan dipaksa bekerja di perkebunan di benua Amerika dan Asia. Menurut sejarah. perawatan dan pemanenan kebun sawit dari daerah dan pulau-pulau lain yang berdekatan dengan Sumatra Timur. mobilisasi orang dalam bentuk perbudakan untuk dijadikan buruh di kebun sawit pun terjadi. Ketersediaan sarana dan prasana transportasi. Hal itu dimulai dengan membangun perkebunan sawit skala besar di beberapa daerah di Hindia Belanda. sejak 5. Demi memenuhi kebutuhan pasar yang semakin meningkat.1.

Patut diduga bahwa kelapa sawit yang ada di Indonesia semuanya berasal dari Afrika tetapi tiba di sini melalui jalan yang berbeda. seperti yang telah dituliskan di atas. Dua pohon sawit tadi berasal dari Hortus Botanicus Amsterdam dan dua lagi dibawa dari Mauritus. [1] 2. Penanamannya dilakukan di Kebun Raya Bogor.Kelapa Sawit sendiri akan tumbuh subur pada ketinggian 10 – 500 meter di atas permukaan air. K. perkebunan hadir sebagai perpanjangan dari perkembangan kapitalisme agraris barat yang diperkenalkan melalui sistem perekonomian kolonial. Kemiringan tanah 16 – 30 derajat. Namun kemajuan teknologi dari hasil revolusi indutri di Eropa membuat pemerintah kolonial memperbanyak menanam sawit karena laku di pasar dunia. pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1848. Pada tahun yang sama. Sejarah Ekspansi Kebun Sawit di Indonesia [1] 2. Schadt menanam .000 – 3. Awalnya hanya empat pohon yang ditanam sebagai penghias istana gubernur jenderal Hindia Belanda. pemerintah kemudian membangun perkebunan kelapa sawit di wilayah Deli (Sumatra Utara). Hidup diantara suhu udara 24 – 28 derajat Celsius. Semua syarat-syarat di atas sesuai dengan iklim Indonesia yang terletak persis di 6 derajat Lintang Utara sampai 11 derajat Lintang Selatan dan sejajar garis khatulistiwa di 96 derajat sampai 141 derajat Bujur Timur. Penanaman sawit dalam jumlah besar pun dilakukan pemerintah di Banyumas dan Palembang pada tahun 1875.L.000 mm. Sistem perkebunan yang dibawa oleh pemerintah kolonial adalah sistem perkebunan Eropa. tidak dapat dipisahkan dari masuknya kolonialisme. yang berbeda dengan sistem kebun (garden system1) yang ada di Negara-negara lain pada masa pra-kolonial”. Memerlukan sinar matahari 5 – 7 jam perhari sepanjang tahun. Merasa berhasil mengembangkannya. Mesti mendapat curah hujan yang merata sepanjang tahun 2.1. kapitalisme dan modernisasi. Di negara-negara berkembang. termasuk Indonesia. Pengembangan usaha perkebunan kelapa sawit skala besar oleh swasta di Indonesia dilakukan pertama kali oleh Adrian Hallet tahun 1911 di Sungai Liput (Pantai Timur Aceh) dan Pulo Raja (Asahan). Untuk perkebunan sawit sendiri. Perkebunan Sawit Masa Pemerintahan Kolonial (1875–1945) Menurut Kartodirdjo & Suryo (1991).T. sejarah perkebunan di negara berkembang.

250 Ha. mesti diakui bahwa pengembang kebun sawitt skala besar memang bersifat eksploitatif dan menindas. perwira-perwira militer aktif banyak menduduki posisi-posisi penting di perusahaan sawit dan mulai bekerja sama dengan pengusaha (lokal maupun asing) memaksa warga yang dulu mengokupasi kebun sawit eks perusahaan asing segera menyerahkan lahan itu kembali kepada pemerintah. banyak rakyat yang tergusur dari lahan kelolanya sejak republik ini merdeka sampai jatuhnya Bung Karno. Merasa diintimidasi dan dipaksa. ditandai dengan kedatangan buruh kontrak yang tidak digaji atau yang dibayar sangat murah.3. Pada masa ini.2. Kebanyakan buruh yang bekerja di perkebunan sawit di Pulau Sumatra itu didatangkan dari pulau Jawa yang memang sudah mulai dilanda ledakan penduduk. termasuk perusahaan perkebunan sawit. Perkebunan Sawit Masa Suharto (1967-1998) Ketika Suharto naik ke tampuk kekuasaan tahun 1966. Sebagian kebun yang diambil . 2. Tapi amat disayangkan agenda land reform belum sempat dilakukan. Puncaknya adalah tahun 1957. Berangkat dari sejarah itu.juga kelapa sawit di Sungai Itam Ulu (Deli). Sejarah ekspansi sawit dalam bentuk perkebunan skala besar itu pantas disebut sebagai Era Baru. Tahun 1914 luasan perkebunan kelapa sawit mencapai 3. ketika Presiden Sukarno menyerukan nasionalisasi seluruh aset perusahaan asing yang ada di Indonesia dan diberikan kepada rakyat. Tak berhenti di situ. kebijakan Pemerintahan Soekarno yang populis dilanjutkan dengan rencana land reform dengan diterbitkannya Undang-Undang Pokok Agraria No 5 tahun 1960. masalah kepemilikan kebun sawit yang sebelumnya dikelola rakyat kembali digugat. Masa ini banyak rakyat Indonesia secara spontan menduduki perkebunan sawit eks Belanda dan asing yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Segala hak pun layak disita meski tanpa pembuktian dari tuduhan yang disematkan tadi. dimana salah satu obyek dari land reform adalah lahan-lahan perkebunan skala besar. Perkebunan Sawit Masa Sukarno (1945-1967) Penghisapan di perkebunan sawit pada masa kolonial tadi. segera terhenti ketika Indonesia merdeka. Apabila rakyat menolak maka stempel pemberontak (baca: antek-antek Partai Komunis Indonesia) akan segera diberikan. 2. Pemerintahan Soekarno sudah langsung jatuh.

3. kelapa sawit menghasilkan dua jenis minyak – minyak kelapa sawit dari daging buah mesocarp dan minyak inti sawit dari biji atau kernel-. margarine. minyak goreng.kembali dari rakyat itu kemudian diberikan pengelolaannya kepada perusahaan perkebunan milik Negara. Secara garis besar. Perkebunan Sawit Era Reformasi (1998-sekarang) Arus investasi swasta nasional maupun asing di sektor perkebunan sawit semakin terbuka lebar. kini memiliki lahan cukup luas di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Langkah ini kemudian diikuti oleh banyak perusahaan asing dengan cara juga membeli kebun sawit perusahaan-perusahaan swasta nasional yang bangkrut serta mengajukan ijin guna pembukaan kebun sawit baru. . Sebut saja misalnya perusahaan asal AS. Juga Wilmar International. pengganti lemak susu dan pengganti mentega coklat/cocoa butter. Produk Minyak Kelapa Sawit [1] Seiring dengan kemajuan zaman. shortening. terdaftar di bursa efek Singapore. 2. sedangkan sebagian lagi dijual kepada pihak asing dengan dasar hukum UndangUndang tentang Penanaman Modal Asing tahun 1967. perasan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kini diolah untuk menghasilkan pelbagai jenis barang yang mencukupi kebutuhan hidup manusia. yang memiliki kebun sawit cukup luas di Sumatra dan Kalimantan. Kalimantan dan Sulawesi seluas 256 ribu ha dengan nilai Rp 3 triliun ke perusahaan sawit Malaysia.4. Cargill. Masuknya modal asing secara besar-besaran diawali dari kebangkrutan perusahaan Salim Grup yang memaksanya mesti menjual 23 anak perusahaan yang bergerak di perkebunan sawit di Sumatra. Minyak inti sawit atau palm kernel oil lebih banyak digunakan dalam industri oleochemical untuk membuat sabun. deterjen. produk perawatan tubuh dan kosmetik. Hal ini disebabkan oleh krisis moneter yang dialami Indonesia cukup akut sehingga membutuhkan suntikan dana segar untuk menggerakkan roda perekonomiannya . Terlebih. Minyak kelapa sawit digunakan terutama untuk produk makanan. Sime Darby. kajian nutrisi telah menemukan bahwa minyak kelapa sawit merupakan salah satu sumber alami terkaya dan terampuh Vitamin E dan sekarang sedang dibuat dalam bentuk kapsul dan dipasarkan sebagai produk suplemen diet.

Selain minyaknya. seperti minyak bunga matahari atau jarak.Selain itu. 4. setiap bagian dari kelapa sawit dapat dipergunakan. Pelepasan emisi dari gas buang motor/ mesin yang menggunakan fossil fuels kebanyakan akan tertahan di atmosfer hingga menjadi selubung gelap yang menjadi gas rumah kaca/GRK (green house gasses). furniture dan bahkan tikar serat untuk melawan erosi dan desertification (proses perubahan menjadi gurun pasir/tandus). Dalam jumlah normal. Penemuan baru berupa biodiesel ini didasari dari fakta semakin langka dan mahalnya BBM akibat pertambahan konsumsi yang sejalan dengan pertumbuhan penduduk bumi. produktifitas tanaman sawit untuk menghasilkan tandan buah segar (fresh fruit bunches) jauh lebih tinggi (bisa mencapai 10 kali) dibandingkan produktifitas vegetables oil yang lain. digunakan sebagai bahan baker dalam banyak pembakar industri dan untuk memproduksi activated charcoal.1. Aspek Ekonomi Perkebunan Kelapa Sawit . sangat berdampak terdapat perubahan iklim dan pemasanan global. Daun palem. GRK berfungsi sebagai penghangat suhu namun bila berlebihan ia akan menyebabkan pemanasan global serta perubahan iklim. Penemuan terbaru manfaat minyak sawit adalah biofuels (bahan bakar nabati/BBN). Penemuan baru baru ini mengakibatkan permintaan yang cukup tinggi terhadap minyak sawit sebagai bahan baku (feed stock) biodiesel. sudah menggunakan bahan bakar nabati (campuran avtur dan crude palm oil) dalam penerbangannya ke pelbagai Negara di dunia. terutama untuk Negara-negara Uni Eropa. setelah dipecahkan dan diambil biji intinya. Kulit atau shell. Hal lain yang patut dicatat dari BBN ini adalah dia digolongkan sebagai bahan bakar terbarukan (renewable energy) dan ramah lingkungan. BBN dari minyak sawit didapat setelah minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) dicampurkan dengan fossil fuels (bahan bakar minyak/ BBM) jenis solar lalu diekstraksi dengan memakai teknologi tertentu untuk menghasilkan biodiesel. KLM Royal Dutch Airlines dan Lufthansa Jerman. Selain itu penggunaan BBM. Bahkan sejak Juli 2011. berdasarkan penemuan ilmiah. Aspek Perkebunan Kelapa sawit 4. Residu biji sawit digunakan dalam pakan ternak. beberapa perusahaan penerbangan.

81 persen dimiliki oleh PBS.32 juta ha dimana 47. 43. sehingga secara terus menerus mampu menjaga stabilitas harga minyak sawit. dan 8. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia sebagian besar berada di Pulau Sumatera diikuti oleh Kalimantan.76 persen dimiliki oleh PR. Disamping itu minyak sawit merupakan bahan baku utama minyak goreng yang banyak dipakai diseluruh dunia. Ekspor Komoditas Perkebunan 2014 [4] Pengembangan kelapa sawit di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup pesat sejak tahun 1970 terutama periode 1980-an.43 persen dimiliki oleh PBN. [2] Gambar 1. komoditas kelapa sawit memegang peran yang cukup strategis karena komoditas ini mempunyai prospek yang cukup cerah sebagai sumber devisa.70 persen dari produksi nasional dengan luas lahan mencapai 8. Semula pelaku perkebunan kelapa sawit hanya terdiri dari perkebunan besar negara (PBN) namun pada tahun yang sama pula dibuka perkebunan besar swasta (PBS) dan perkebunan rakyat (PR) melalui pola PIR (perkebunan inti rakyat) dan selanjutnya berkembang pola swadaya. Berdasarkan provinsi. Riau merupakan provinsi penghasil minyak sawit terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai 24 persen dari produksi nasional pada tahun 2009 sementara Jambi menyumbang minyak sawit sebesar 7.000 ha dan pada tahun 2009 luas areal perkebunan kelapa sawit diperkirakan sudah mencapai 7.82 persen dari luas lahan . Pada tahun 1980 luas areal kelapa sawit adalah 294. Pemerintah Indonesia dewasa ini telah bertekad untuk menjadikan komoditas kelapa sawit sebagai salah satu industri non migas yang handal.Dalam perekonomian Indonesia. Komoditas ini mampu pula menciptakan kesempatan kerja yang luas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

3. Indonesia merupakan negara produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan jumlah produksi tahun 2009 diperkirakan sebesar 20.[3] Saat ini. Aspek Sosial Budaya Perkebunan Kelapa Siwit. dan Belanda 9 persen (Oil World. Paradigma pembangunan pada era otonomi daerah memposisikan masyarakat sebagai subjek pembangunan yang secara dinamik dan kreatif didorong untuk terlibat dalam proses pembangunan. Ekspansi perkebunan kelapa sawit memiliki dampak-dampak besar bagi penduduk Indonesia . 2009). kemudian diikuti oleh Cina sebesar 13 persen. Terhadap kehidupan masyarakat. penyimpan sumberdaya genetik.6 juta ton minyak sawit.Aspek Lingkunan Perkebunan Kelapa Sawit Hutan mempunyai fungsi ekologi yang sangat penting. yaitu 33 persen dari total ekspor kelapa sawit. 2010). Dampak tersebut meliputi perubahan lingkungan yang berpengaruh terhadap ekosistem. [2] 4. kontrol dari masyarakat terhadap kebijakan dan implementasi kebijakan menjadi sangat penting untuk mengendalikan hak pemerintah untuk mengatur kehidupan masyarakat yang cenderung berpihak kepada pengusaha dengan anggapan bahwa kelompok pengusaha memiliki kontribusi yang besar dalam meningkatkan pendapatan daerah dan pendapatan nasional. hidro-orologi. kemudian diikuti dengan Malaysia dengan jumlah produksi 17. yaitu terganggunya keseimbangan lingkungan alam dan kepunahan keanekaragaman hayati (biodiversity).nasional (Ditjenbun. dapat membentuk pengetahuan dan pengalaman yang akan membangkitkan kesadaran bersama bahwa mereka adalah kelompok yang termaginalisasi dari suatu proses pembangunan atau kelompok yang disingkirkan dari akses politik. Sebagian besar hasil produksi minyak sawit di Indonesia merupakan komoditas ekspor. Hutan juga berfungsi sebagai penyimpan keanekaragaman hayati.2. pengatur kesuburan tanah hutan dan iklim serta rosot (penyimpan. sehingga menimbulkan respon dari masyarakat yang dapat dianggap mengganggu jalannya proses pembangunan. Pangsa ekspor kelapa sawit hingga tahun 2008 mencapai 80 persen total produksi. Dalam hal ini. Produksi kedua negara ini mencapai 85 persen dari produksi dunia yang sebesar 45. sink) karbon. 2010).1 juta ton (Oil World.57 juta ton. antara lain. sehingga terjadi perimbangan kekuasaan (power sharing) antara pemerintah dan masyarakat. India adalah negara tujuan utama ekspor kelapa sawit Indonesia. Pembangunan sebagai proses kegiatan yang berkelanjutan memiliki dampak yang luas bagi kehidupan masyarakat. [3] 4.

Isu . dan akhirnya berkontribusi nyata dalam emisi gas rumah kaca. Sedangkan isu keadilan terkait dengan isu sosial.Fakta dan permasalahan Sawit Dalam beberapa tahun terakhir. Isu/permasalahan lingkungan terfokus pada alih fungsi hutan alam dan lahan gambut untuk kelapa sawit. [3] Pandangan terbagi dalam dua kelompok yang bertentangan dengan pihak propengembangan mempertahankan bahwa minyak kelapa sawit merupakan industri yang sangat berkelanjutan yang memberi makan kepada dunia sedangkan pihak pro-konservasi menyalahkan sektor minyak kelapa sawit sebagai sebab utama penebangan hutan serta segala penyakit sosial dan lingkungan lainnya. [2] 5.Umumnya. 2009). Untuk mencapai tujuan ini WWF menggunakan gabungan pendekatan seperti pengembangan pengelolaan terbaik dari para pelaku pasar sepanjang rantai persediaan minyak kelapa sawit dan mempengaruhi kebijakan investasi bagi pembangunan perkebunan (WWF. Perluasan perkebunan kelapa sawit telah mengakibatkan pemindahan lahan dan sumberdaya. khususnya masyarakat Kalimantan Tengah. Permasalahan ini dianggap mempunyai andil besar terhadap terjadinya deforestasi hutan tropis. yaitu terjadinya konflik sosial antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat lokal perihal status dan hak penggunaan lahan. hilangnya habitat satwa liar. Lingkungan menjadi bagian yang sangat rawan terjadi perubahan kearah rusaknya lingkungan biofisik yang terdegredasi serta bertambahnya lahan kritis. dampak dari ekspansi pada kehilangan keanekaragaman nabati serta konflik sosial dan tanah. tanah longsor. apabila dikelola secara tidak bijaksana. banjir dan kemarau akibat adanya perubahan iklim global. sumber utama kebakaran hutan. [3] .Fokus Perhatian adalah kekhawatiran penebangan hutan. Aspek lingkungan mempunyai dimensi yang sangat luas pengaruhnya terhadap kualitas udara dan terjadinya bencana alam seperti kebakaran. [3] Pada umumnya. isu tentang keberlanjutan pengembangan kelapa sawit khususnya terkait dengan perkembangan luas areal dan produksi kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia terus meningkat. Sebagai inisiatif kunci adalah WWF Forest Conversion Initiative (FCI) yang disusun pada tahun 2001 untuk mengurangi pengubahan hutan konservasi bernilai tinggi bagi pembangunan perkebunan kelapa sawit. perluasan besar-besaran dalam industri minyak kelapa sawit menarik perhatian LSM besar. perubahan luar biasa terhadap vegetasi dan ekosistem setempat.

Minyak kelapa sawit paling produktif dari semua minyak nabati berkenaan dengan jumlah ton per hektar yang dihasilkan. perhatian beralih pada kemungkinan dampak produksi minyak kelapa sawit terhadap emisi CO2 dan pemanasan global. minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. 2009a). Minyak kelapa sawit memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dibandingkan minyak nabati lain. dan perubahan iklim. yaitu penebangan hutan. Indonesia. [3] Lebih lanjut. World Growth mengkaji ulang segala tuduhan terhadap industri minyak kelapa sawit tentang keberlanjutan dan pembangunan ekonomi (World Growth. khususnya sesudah terbitnya European Union Directive (EU Directive) tentang energi terbarukan berkenaan dengan kriteria berkelanjutan untuk bahan bakar nabati. kehilangan keanekaragaman hayati. isu pembangunan kelapa sawit berkelanjutan difokuskan oleh LSM-LSM anti-kelapa sawit internasional pada beberapa hal. Hooijer et al. sehingga membutuhkan lahan yang jauh lebih sedikit. dan negara-negara penghasil lainnya. sumber pekerjaan dan pengurangan kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja dan skema pengembangan perkebunan rakyat di Malaysia. Sifat positif dan kontribusi minyak kelapa sawit kepada perekonomian nasional dan kesejahteraan lokal dipromosikan oleh World Growth. Alasan-alasan lainnya yang mendukung industri minyak kelapa sawit meliputi kontribusi industri kepada perekonomian nasional. konflik tanah. Minyak kelapa sawit terbukti satu -satunya minyak nabati yang mampu secara efisien dan berkelanjutan memenuhi bagian terbesar dari kenaikan permintaan untuk bahan pangan dan bahan bakar nabati. Dalam laporannya. Kampanye negatif (black campaign) terhadap kelapa sawit diuraikan sebagai suatu kampanye yang melihat sisi . khususnya minyak kedelai. [3] Sebaliknya. para pendukung minyak kelapa sawit mengatakan bahwa minyak kelapa sawit dapat menjadi tempat penampungan karbon dan menghasilkan karbon dioksida secara efisien. Green Peace (2007) menggunakan istilah “industri minyak kelapa sawit memasak iklim” untuk menunjuk pada pengertian bagaimana persediaan karbon lahan gambut Indonesia sedang dihabiskan melalui pengembangan minyak kelapa sawit.Tumbuhnya permintaan untuk bahan bakar nabati (biodiesel) dari minyak kelapa sawit. (2006) menyimpulkan hutan yang ditebang dan lahan gambut yang dikeringkan di Asia Tenggara adalah sumber utama yang signifikan dari emisi CO2.organisasi pro-pengembangan menyatakan bahwa industri minyak kelapa sawit sudah berkelanjutan untuk waktu lama. industri minyak kelapa sawit dan organisasi. Tentang bekas kaki ekologisnya. “Minyak Kelapa Sawit – Minyak yang Berkelanjutan”.

World Growth (2009a) mengutip data FAO tentang laju penyusutan hutan dari tahun 1999 hingga tahun 2010. Nature Alert mengklaim kawasan hutan di Indonesia hanya tersisa sedikit. FAO memperkirakan bahwa areal hutan di Indonesia menyusut 5 persen. ketika areal hutan menyusut 1. Perkebunan kelapa sawit diklaim sebagai penyebab utama hutan hujan tropis di Indonesia.4 juta hektare. Ini terjadi meskipun sudah ada permintaan untuk penghentian sementara secara global (moratorium) penebangan hutan untuk kelapa sawit. [3] 5.4 juta hektare (Gambar 5). dari 99. Kampanye tersebut perlu ditanggapi dengan kampanye positif dengan menyajikan fakta dan upaya ke depan dalam pengembangan kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia. Klaim LSM terhadap penebangan hutan adalah walaupun prinsip & kriteria RSPO tidak mengizinkan pengembangan High conservation value forests atau hutan bernilai pelestarian tinggi sejak tahun 2005.5 juta hektare menjadi 99. Asumsi yang digunakan LSM adalah semua pertumbuhan areal kelapa sawit dilakukan melalui konversi hutan sehingga disimpulkan perubahan areal kelapa sawit sama dengan tingkat penggundulan hutan pada periode waktu tertentu. Pada uraian berikut disajikan beberapa klaim yang dikembangkan oleh kelompok anti kelapa sawit fakta dan hasil penelitian yang disajikan oleh kelompok pro-kelapa sawit. Tujuan Forest Conversion Initiative atau Inisiatif Pengubahan Hutan dari WWF adalah menghentikan perubahan hutan menjadi lahan pertanian. Fakta menunjukkan bahwa 2/3 penebangan hutan dilakukan oleh penduduk berpendapatan rendah di negara-negara miskin dalam rangka untuk memperoleh lahan bagi kehidupan dan produksi pangan. Penebangan Hutan [3] Perlindungan dan pelestarian hutan tropis yang tersisa merupakan program inti bagi LSM seperti WWF dan Greenpeace. Pemerintah Indonesia . penebangan hutan secara signifikan masih berlanjut. Greenpeace mengklaim 20 persen dari emisi GHG global disebabkan oleh deforestasi. Data spesifik tentang peranan kelapa sawit dalam penggundulan hutan memang terbatas dan beragam.4 juta hektare menjadi 94. Klaim di atas berlebihan.kekurangan dalam penerapan pengembangan kelapa sawit di Indonesia secara berlebihan. setidaknya hal ini disampaikan oleh World Growth (2009b) .1.75 persen per tahun dari 118. Laju penyusutan ini berkurang dari dasawarsa sebelumnya. Dalam 2 dekade belakangan ini. Fakta ini menunjukkan bahwa kunci untuk mereduksi deforestasi adalah motif kesejahteraan bukan motif lain. khususnya di Indonesia. Namun demikian.

Pemerintah Indonesia menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Pemerintah Norwegia untuk memberlakukan penangguhan 2 tahun yang dimaksudkan untuk mengurangi emisi karbon. Pemerintah Indonesia mengumumkan kebijakan untuk mengembangkan kelapa sawit di lahan kritis dan areal penggunaan lain (APL) yang luasannya tidak kurang dari 6 juta ha. bukan hutan primer. Pada Mei 2010. Dalam konteks kawasan hutan. Untuk negara tropis seperti Indonesia. perkiraan laju deforestasi sangat lemah. Kawasan Hutan Indonesia. Analisis menggunakan satelit menunjukkan bahwa perkiraan laju deforestasi 23 persen hingga 54 persen lebih rendah dari laju yang dilaporkan LSM. Sumber dan kehilangan karbon dapat dihitung laju perubahan lahan dan perubahan per hektar persediaan karbon sebagai hasil dari penggunaan dan manajemen lahan.meluncurkan program untuk mengurangi penebangan hutan melalui moratorium penebangan hutan primer dan lahan gambut selama 2 tahun. Gambar 2. Secara ilmiah. Indonesia mempunyai 60 persen total daratan untuk hutan. walaupun sebagian diantaranya untuk hutan produksi. 1990 – 2010 . FAO menemukan bahwa lahan hutan turun 13.1 juta ha sepanjang tahun 2000-2005.4 juta ha. Indonesia menyadari adanya kebutuhan untuk mempertahankan kawasan hutan sebagai komitmen. Perkiraan emisi karbon berdasarkan pembukaan lahan saja tidak cukup. Ilmuwan menyatakan bahwa perkiraan tersebut berlebihan dan didasarkan pada data yang sudah tertinggal. Pada bulan yang sama. perkiraan tersebut mempunyai 50 persen error marjin. lahan dimaksud yang digunakan untuk infrastruktur naik 9. Data penelitian oleh Stern (2006) menunjukkan bahwa hanya 2030 persen dari pembukaan lahan (hutan) untuk kelapa sawit.

perubahan hutan menjadi kebun kelapa sawit dan kebakaran hutan. Friends of the Earth mengklaim bahwa penduduk asli dipaksa menyerahkan tanah mereka untuk memberi jalan bagi pengembangan perkebunan kelapa sawit. Sawit Watch mendokumentasikan lebih dari 500 sengketa tanah sedangkan WALHI mencatat 200 kasus konflik di Kalimantan Barat. organisasi konservasi dan industri kelapa sawit mendukung program perlindungan orang utan. dan harimau. Di Indonesia. habitat orang utan dilestarikan melalui suaka marga satwa yang ditetapkan dan mematuhi sejumlah undang-undang. Di Indonesia. . Diantaranya adalah perburuan dan pertambangan. Lembaga pemerintah. Pengembangan kelapa sawit yang cepat meminggirkan masyarakat lokal menjadi miskin dan tidak mampu membayar hutang. Lebih dari 23 persen hutan Indonesia dicadangkan untuk pelestarian hutan salah satunya sebagai habitat orang utan.2. Keadaan gawat dari orang utan yang terancam punah menjadi titik fokus dari berbagai kampanye dan diberikan ulasan pemberitaan ekstensif melalui media masa. Konflik terjadi antara petani kecil.3. gajah. Kelompok binatang lain yang terkena dampak pembangunan adalah gajah dan harimau. Kehilangan Keanekaragaman Hayati [3] Negara-negara penghasil minyak kelapa sawit utama juga menjadi pusat keanekaragaman nabati yang luas sekali. Fakta menunjukkan bahwa penyusutan habitat orang utan. Masalah terkait adalah fragmentasi daerah pemukiman hutan alami dan gangguan dari pengembangan kelapa sawit yang mengakibatkan konflik manusia – binatang liar yang serius. Konflik Tanah [3] Klaim dari LSM adalah konflik tanah merupakan masalah utama di sektor minyak kelapa sawit. Ancaman terbesar terhadap masa depan orang utan adalah pembalakan liar.5. 5. gajah dan harimau) terancam punah melalui perluasan kebun kelapa sawit. masyarakat setempat dan penduduk asli dan perusahaan perkebunan serta dengan pemerintah. termasuk 42 persen di Aceh dan 40 persen di Kalimantan. gajah. klaim bahwa pengembangan kelapa sawit sebagai penyebab utama berkurangnya populasi orang utan tidak tepat dan menghentikan pengembangan kelapa sawit tidak akan menyelamatkan orang utan. dan harimau tidak semata-mata akibat konversi lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit. Klaim LSM (Friend of the Earth) adalah kelompok binatang tertentu (orang utan. Faktor lain yang mempengaruhi habitat orang utan. Dengan fakta bahwa kelapa sawit bukan penyebab utama konversi lahan.

KMSI bekerja sama dengan bank lokal memfasilitasi akses kredit murah untuk petani dalam rangka peremajaan dan mengurangi beban hutang petani. Diperkirakan bahwa Indonesia sendiri mempunyai 22.4. Dampak pengembangan kelapa sawit terhadap masyarakat lokal dibesar-besarkan dan mengabaikan kontribusi terhadap perekonomian lokal dari introduksi kelapa sawit. LSM anti sawit mengalami kesulitan untuk mengkampanyekan penurunan emisi karbon dari pengurangan konsumsi bahan bakar fosil karena strategi ini lebih mahal dibandingkan . perusahaan inti sebagai pengembang mempunyai komitmen untuk membeli tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan petani dengan formula harga yang ditetapkan Menteri Pertanian. 5. Konflikkonflik lahan yang terjadi tidak representatif dan tidak akurat.5 juta hektar lahan gambut atau sekitar 12 persen dari seluruh lahan. Bukti empiris menunjukkan fakta sebaliknya. Pengeringan dari persediaan karbon yang sangat banyak ini dan perubahan menjadi lahan kelapa sawit memberikan kontribusi kepada emisi yang sangat luas dari gas rumah kaca dan memberikan kontribusi kepada masalah mutu udara musiman. Dan. Di bawah skema PIR. Tidak ada bukti kuat untuk mendukung klaim LSM di atas.Fakta menunjukkan bahwa ketertinggalan masyarakat lokal terkait isu hak dan manfaat hanya merupakan kekhawatiran saja terkait dengan friksi yang tak terhindarkan diantara kelompok-kelompok berkepentingan. Perubahan Iklim Klaim LSM adalah karena lahan diatas tanah mineral semakin menipis maka ekspansi kelapa sawit meningkat dalam lahan gambut. Alasan yang mendasari adalah kelapa sawit merupakan tanaman yang produktif dan mempunyai kapasitas untuk menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menjamin kehidupan pemilik lahan kecil yang mau bekerja di kelapa sawit. Hal ini biasa terjadi di negara berkembang karena hak milik lahan masih belum tegas pendefinisiannya. Biodiesel dari kelapa sawit telah terbukti secara nyata lebih efisien untuk mereduksi emisi GHG dibandingkan biofuel lainnya. Nature Alert mengklaim bahwa dengan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan industri kelapa sawit adalah industri yang paling merusak lingkungan di dunia. Komisi Minyak Sawit Indonesia (KMSI) dan Pemerintah Indonesia membantu dan mendukung petani (plasma) dalam mengembangkan kebun kelapa sawitnya. LSM (Greenpeace) memperkirakan 20 persen efek gas rumah kaca (GHG) disebabkan oleh deforestasi. Klaim LSM di atas berlebihan bahkan dogmatis. kemiskinan sangat jarang terjadi dalam kasus pengembangan kelapa sawit.

Jefri Gideon. Pengelolaan Sawit Berkelanjutan. Jika pelaksanaan ekspansi sawit dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada dampak terhadap lingkungan bisa dicegah. Fakta menunjukkan kelapa sawit yang ditanam di lahan gambut paling banyak hanya menghasilkan 1/8 dari produksi. R. Bambang. Pengetahuan tentang dampak nyata penanaman kelapa sawit di lahan gambut masih diperdebatkan.Cap Buruk Perkebunan Sawit Berawal dan Berakhir di Penataan Ruang. Upaya Mengatasi Black Campaign Kelapa Sawit dan Langkah Strategis Kedepan. Lembaga Riset Perkebunan Nusantara: Bogor [4] http://ditjenbun. 2008.go.Sawit Watch [2] Usup. 6.pertanian.id/ . Berbagai permasalahan yang timbul sebenarnya kembali lagi pada pelaku dilapangan. Pemprov Kalteng:Palangkarya [3] Drajat. Referensi [1] Saragih.2011. Peran masyarakat sangat dibutuhkan dalam hal ini. Kesimpulan Industri sawit sebenarnya sangat baik untuk Indonesia.dengan strategi menekan penebangan hutan.Sidik. Industri kelapa sawit senantiasa melakukan inovasi dan mengembangkan teknik untuk meminimumkan emisi karbon jika kelapa sawit dikembangkan di lahan gambut.