You are on page 1of 31

BAB V

KALIMAT EFEKTIF
A. Pengantar
Pentingnya pembelajaran kalimat efektif dilakukan untuk
mengasah kemampuan mahasiswa dalam mengungkapkan gagasan
yang dapat langsung dipahami oleh pembaca/pendengar tanpa
menimbulkan penafsiran ganda. Mahasiswa yang setiap waktu di
hadapkan tugas-tugas kuliah yang dituntut untuk membuat tulisan
baik berupa makalah, essai, artikel ilmiah yang membutuhkan
pengetahuan tentang kalimat efektif. Pemilihan kalimat efektif
membuat komunikasi dalam bentuk tulisan menjadi sangat
komunikatif dan tidak bertele-tele.
Dalam menyampaikan gagasan menggunakan kalimat efektif
ini mahasiswa diharapkan mampu memahami pemakaian kalimat
efektif dalam kalimat dan paragraf. Namun, pada kenyataanya masih
banyak mahasiswa yang belum memahami pemakaian kalaimat
efektif dalam kalimat seperti dalam penyusunan laporan praktikum
yang selalu memaparkan tinjauan teoritis yang cukup panjang namun
tidak memiliki inti kalimat serta ketidaksesuaian penempatan kalimat
efektifnya.
Faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya kemampuan
mahasiswa dalam memyusun kalimat efektif yaitu: kurang
memahami materi ini karena kurang tertarik dan budaya membaca
yang sudah mulai luntur, kebiasaan mahasiswa dalam pengerjaan
tugas ingin instan sehingga kebudayaan copy-paste sudah menjadi
tradisi. Sehingga untuk meningkatkan kamampuan mahasiswa dalam
menulis kalimat efektif dirasa perlu untuk kembali diangkat menjadi
satu topik pembelajaran bahasa indonesia ditingkat universitas. Pada
bab ini akan dibahas (1). Penegertian kalimat efektif, (2). Ciri-ciri
kalimat efektif, (3). Syarat yang mendasari kalimat efektif, (4).
Struktur kalimat efektif
B. Kalimat Efektif
Pengertian Kalimat Efektif
Dalam menulis, penulis seyogyanya menyampaikan pikirannya
dalam rangkaian kalimat efektif. Arifin dan Tasai (1989:111)
mendefinisikan kalimat efektif sebagai kalimat yang memiliki

1

kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran
pembaca atau penulis.
Kalimat efektif dapat didefinisikan sebagai kalimat yang secara
tepat dan akurat dapat menyampaikan gagasan ide seorang penulis
kepada pembaca yang disusun secara jelas, mudah dipahami, dan
singkat. Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat yang
menyampaikan informasi yang sama dengan informasi yang diterima
pembaca.
Cobalah cermati informasi di dalam kalimat-kalimat berikut.
Apakah ada perbedaan?
 Ibu Pino seorang ibu rumah tangga.
 Ibu, Pino seorang ibu rumah tangga.
 Ayah Laila Maya Sari pergi ke Medan.
 Ayah, Laila Maya Sari pergi ke Medan.
Ciri-Ciri Kalimat Efektif
Kalimat dinyatakan dapat memberikan informasi kepada pembaca
secara tepat dan akurat seperti yang diharapkan penulis (efektif),
apabila memiliki ciri-ciri yaitu : kesatuan gagasan, kesepadanan,
keparalelan, kehematan, kelogisan, kecermatan, kebervariasian,
ketegasan, ketepatan, kebenaran struktur, dan keringkasan.
1. Kesatuan gagasan
Kalimat efektif hanya mengandung satu gagasan. Perhatikan
kalimat berikut yang mempunyai lebih dari satu gagasan.
Contoh: Melihat perkembangan penduduk RW 06 Kampung
Sidodadi yang semakin padat namun tidak didukung dengan
perekonomian yang cukup dan tanpa kita sadari bahwa peningkatan
tersebut memerlukan sarana dan prasarana yang memadai.
Kalimat tersebut mempunyai tiga gagasan:
a. Perkembangan penduduk RW 06 Kampung Sidodadi yang
semakin padat.
b. Perkembangan itu tidak didukung dengan perekonomian yang
cukup.
c. Kita tidak menyadari bahwa peningkatan tersebut memerlukan
sarana dan prasarana yang memadai.
Saran perbaikan kalimat tersebut:

2

Perkembangan penduduk RW 06 Kampung Sidodadi semakin padat,
tetapi tidak didukung oleh perekonomian yang cukup dan sarana dan
prasarana yang memadai.
2. Kesepadanan
Kesepadanan adalah keseimbangan antara gagasan atau
pemikiran dengan struktur bahasa yang dipakai dalam kalimat.
Kesepadanan dalam kalimat ini diperlihatkan dengan adanya
kesatuan gagasan dan kesatuan pikiran. Ciri-ciri kalimat yang
memiliki kesepadanan struktur, yaitu:
1) Memiliki subjek dan predikat yang jelas
Contoh:
 Tidak diharapkan oleh bangsa mana pun, tetapi
kenyataannya kita harus dapat menerimanya dengan tabah.
(Tidak efektif)
(Apa atau siapa yang tidak diharapkan oleh bangsa mana
pun?)
 Krisis ekonomi tidak diharapkan oleh bangsa mana pun,
tetapi kenyataannya kita harus dapat menerimanya dengan
tabah. (Efektif)
(Krisis ekonomi memperjelas apa yang tidak diharapkan oleh
bangsa mana pun)
2) Kata depan tidak berada di depan subjek
Contoh:
 Bagi semua siswa kelas 2 harus mengikuti kegiatan study
tour. (Tidak efektif)
(Bagi di depan subjek)
 Semua siswa kelas 2 harus mengikuti kegaiatan study tour.
(Efektif)
3) Konjungsi intrakalimat tidak dipakai di dalam kalimat tunggal.
Contoh:
 Saksi tidak hadir. Sehingga persidangan ditunda minggu
depan.
(Sehingga di awal kalimat)
 Saksi tidak hadir sehingga perseidangan ditunda minggu
depan.

3

(sehingga di tengah kalimat)
4) Predikat tidak didahului konjungsi yang.
Contoh:
 Supporter timnas Indonesia yang mengenakan baju merah
putih.
(yang di depan predikat)
 Supporter timnas Indonesia mengenakan baju merah putih.
5) Subjek tidak ganda.
Contoh:
 Pembangunan jalan itu kami dibantu oleh semua warga
desa.
(Apa subjeknya: pembangunan jalan itu atau kami?)
 Dalam membangun jembatan itu, kami dibantu oleh semua
warga desa. (Subjek: saya)
3. Keparalelan (Kesejajaran)
Keparalelan adalah kesamaan bentuk kata atau makna yang
digunakan di dalam kalimat. Yang dimaksud dengan kesamaan
bentuk kata adalah jika kata pertama berbentuk verba, maka kata
selanjutnya berbentuk verba. Namun, jika kata pertama berbentuk
nomina, maka kata selanjutnya berbentuk nomina.
Contoh:
 Langkah-langkah dalam menulis kalimat efektif adalah
memahami, mengetahui, dan pengaplikasian definisi kalimat
efektif. (Tidak paralel)
 Langkah-langkah dalam menulis kalimat efektif adalah
memahami, mengetahui, dan mengaplikasikan definisi
kalimat efektif. (Paralel)
 Ami menulisi surat. (Tidak paralel makna)
 Ami menulis surat.
(Paralel)
4. Kehematan
Kalimat efektif tidak menggunakan kata-kata atau frasa yang
tidak perlu digunakan. Untuk menghindari pemborosan kata di dalam
kalimat, hal yang harus diperhatikan adalah:
1) Menghindari unsur yang sama pada kalimat majemuk
Contoh:

4

Saya tidak suka buah apel dan saya tidak suka duren. (Tidak
hemat)
 Saya tidak suka buah apel dan duren. (Hemat)
2) Menghindari kesinoniman dalam kalimat
Contoh:
 Saya hanya memiliki 3 buah buku saja. (Tidak hemat)
 Saya hanya memiliki 3 buah buku. (Hemat)
3) Menghindari penjamakan kata pada kata jamak
Contoh:
 Para mahasiswa-mahasiswa berunjuk rasa di depan gedung
rektorat.
(Tidak hemat)
 Para mahasiswa berunjuk rasa di depan gedung rektorat.
(Hemat)
5. Kelogisan
Ide kalimat dalam kaliamat efektif dapat diterima atau
dimengerti oleh akal dan sesuai dengan kaidah EYD.
Contoh:
 Waktu dan tempat kami persilahkan! (Tidak logis)
 Bapak kepala sekolah, kami persilahkan maju ke mimbar!
(Logis)
6. Kecermatan
Kalimat efektif ditulis secara cermat, tepat dalam diksi
sehingga tidak menimbulkan tafsir ganda dan kerancuan dalam
kalimat.
Contoh:
 Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menjadi Putri
Indonesia tahun ini. (Tidak cermat)
 Mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi yang terkenal
itu menjadi Putri Indonesia tahun ini. (Cermat)
 Bayi yang mendapat ASI lebih sedikit mengandung virus
dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu botol. (Tidak
cermat)
 Bayi yang mendapat ASI akan lebih sedikit mengandung
virus dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu botol.
(Cermat)

5

Kecermatan juga diperlihatkan dengan tidak mengulang kata-kata
yang sama yang bukan bertujuan penekanan seperti contoh berikut.
Contoh:
 Pengumuman itu akan diumumkan kepada umum 2 minggu
lagi. (Kurang cermat)
 Pengumuman itu akan diumumkan kepada publik 2 minggu
lagi. (Cermat)
 Diharapkan proposal beserta keseluruhan kelengkapannya
dapat melengkapi persyaratan administrasi proyek. (Kurang
cermat)
 Diharapkan proposal beserta seluruh kelengkapannya dapat
memenuhi persyaratan administrasi proyek. (Cermat)
7. Kebervariasian
Kalimat yang efektif menunjukkan penggunaan kalimat yang
tidak monoton. Kalimat yang digunakan sebaiknya bervariasi dengan
memanfaatkan jenis-jenis kalimat yang ada dalam bahasa Indonesia.
Selain itu, variasi dalam panjang-pendek kalimat dan penggantian
unsur di awal kalimat juga menandakan kefektifan kalimat.
Contoh:
 Anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tua.
 Dibutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua
kepada anaknya.
 Perhatian dan kasih sayang orang tua dibutuhkan anak.
8. Ketegasan
Kalimat efektif memberikan penegasan kepada ide pokoknya
sehingga ide pokoknya menonjol di dalam kalimat tersebut. Berikut
cara memberikan penegasan pada kalimat efektif.
a) Meletakan kata yang ditonjolkan di awal kalimat
Contoh:
 Sudah saya baca buku itu. (penekanan pada baca buku)
 Buku itu sudah saya baca. (penekanan pada Buku itu)
b) Mengurutkan kata secara bertahap.
Contoh:
 Pertemuan itu dihadiri oleh menteri pendidikan, gubernur
dan presiden. (Tidak efektif)

6

Pertemuan itu dihadiri oleh presiden, menteri pendidikan dan
gubernur. (Efektif)
c) Mempertentangkan ide yang ditonjolkan
Contoh:
 Perusahaan itu tidak bangkrut, tetapi berkembang dengan
pesat.
 Surti kurus, tetapi jago makan.
d) Menggunakan partikel penekanan
Contoh:
 Buanglah semua sampah itu!
 Jangankan emas uang pun aku tak punya.
e) Mengulang kata
Contoh:
 Suroto ayah yang baik, ayah yang rela berkorban demi anakanaknya.
 Sudah merupakan kewajiban bagi mahasiswa untuk belajar,
belajar, dan belajar.
9. Ketepatan
Setiap kata yang digunakan perlu dipilih secara tepat dan cermat
sehingga dapat mewakili tujuan, maksud, atau pesan penulis.
Contoh:
 Posisi ketujuh korban saat ditemukan warga dan aparat
kepolisian berada dalam satu ruangan. (Tidak tepat)
 Ketujuh korban, saat ditemukan warga dan aparat kepolisian,
berada dalam satu ruangan. (Tepat)
 Posisi ketujuh korban saat ditemukan warga dan aparat
kepolisian di dalam satu ruangan (Tepat)
10. Kebenaran struktur
Kalimat efektif mengandung kebenaran struktur bahasa
Indonesia, artinya unsur-unsur yang digunakan dalam kalimat tidak
memakai unsur-unsur asing, atau daerah. Sebagai contoh, pemakaian
unsur bahasa Inggris which, where tidak benar jika disepadankan
dengan konjungsi dimana, di mana, atau yang mana dalam bahasa
Indonesia. Penggunaan kata tersebut perlu dihindari. Begitu pula
unsur bahasa daerah sebaiknya tidak dipakai dalam tulisan.
Contoh:

7

Kota dimana dia lahir kini hancur karena gempa. (Tidak
benar)
 Kota tempat dia lajir kini hancur karena gempa. (Benar)
 Pemerintah akan membangun sebuah sekolah yang mana
sekolah itu adalah satu-satunya sekolah yang ada di Desa
Sipiongot. (Tidak benar)
 Pemerintah akan membangun sebuah sekolah yang
merupakan satu-satunya sekolah yang ada di Desa Sipiongot.
(Benar)
 Dengan kita punya kemampuan menggunakan teknologi
baru, segala pekerjaan akan lancar. (Tidak benar)
 Dengan kemampuan kita menggunakan teknologi baru,
segala pekerjaan akan lancar. (Benar)
11. Keringkasan
Dalam menulis ditemukan pemakaian kata dan kelompok
kata yang sebenarnya memiliki makna yang sama. Dalam hal ini
kelompok kata merupakan bentuk panjang, sedangkan kata
merupakan bentuk ringkas atau pendek.
Contoh:
 Kami mengadakan penelitian anak jalanan di Jakarta.
(Bentuk panjang)
 Kami meneliti anak jalanan di Jakarta. (Bentuk ringkas)
 Pak Sanusi selalu memberi nasihat kepada anak-anaknya.
(Bentuk panjang)
 Pak Sanusi selalu menasihati anak-anaknya. (Bentuk
ringkas)
 Mahasiswa mengadakan diskusi mengerjakan tugas dari
dosen. (Bentuk panjang)
 Mahasiswa berdiskusi mengerjakan tugas dari dosen.
(Bentuk ringkas)
Pemilihan Kata
Diksi atau pilihan kata memegang peranan penting dalam
menciptakan nuansa makna yang dikehendaki penulis. Pemilihan
kata yang kurang tepat akan menghasilkan nuansa makna yang

8

berbeda, disamping pesan yang ingin disampaikan belum tentu tepat.
Pilihan kata yang terbaik memenuhi syarat (1) tepat
(mengungkapkan gagasan secara cermat), (2) benar (sesuai dengan
kaidah kebahasaan), dan (3) lazim pemakaianny. Ada kalanya nilai
rasa (konotasi) kata juga perlu diperhatikan.
Sebagai contoh cermatilah penggunaan tiap-tiap, masingmasing; penggunaan bentuk idiomatis; penggunaan ragam lisan dan
ragam tulis.
Tiap-tiap dan Masing-masing
Pemakaian tiap-tiap dapat diganti setiap (bukan tiap). Tiaptiap berbeda pemakaiannya dengan masing-masing. Tiap-tiap diikuti
nomina, sedangkan masing-masing tidak diikuti nomina dan dapat
berada di akhir kalimat.
Contoh:
a. Tiap penduduk berhak dan wajib menjunjung tinggi
kehormatan bangsa. (tidak baku)
b. Tiap-tiap penduduk berhak dan wajib menjunjung tinggi
kehormaan bangsa. (baku)
c. Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan hukum secara
penuh. (baku)
d. Masing-masing peserta seminar membayar tiket Rp
100.000,00 (tidak baku)
e. Peserta seminar masingg-massing membayar Rp 100.000,00.
(baku)
Pasangan Idiomatis
Dalam bahasa Indonesia terdapat pilihan kata yang merupakan
kata berpasangan tetap atau ungkapan idiomatis. Kata tersebut selalu
muncul bersamaan, tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.
Contoh:
sesuai dengan
terdiri atas
terbuat dari
terjadi dari
sehubungan dengan
berbicara tentang
Ragam Lisan dan Ragam Tulis
Ragam bahasa Indonesia terdiri atas ragam lisan dan ragam tulis.
Masing-masing terbagi lagi atas ragam formal dan tidak formal.

9

Dalam menulis akademik, tentu ragam tulis formal yang digunakan.
Kesadaran akan jenis ragam yang sesuai dengan sasaran pembaca
dan tujuan penulisan sangat ditekankan sehingga tidak ada
kekacauan atau kedekatan dengan pembaca. Akan tetapi, kenyataan
penulis secara sengaja atau tidak sengaja (karena pengaruh dialek
misalnya) menggunakan ragam lisan dalam menulis.
Berikut beberapa kosa kata lisan dan tulis ragam formal.
Lisan Nonformal
Tulis Formal
kayak
seperti
kalau
bahwa
kebesaran
terlalu besar
kenapa
mengapa
kongkalingkong
bersekongkol
lagi
sedang
lantaran
karena
lantas
kemudian
Perangkaian Kalimat
Dalam menulis, selain dibutuhkan pengetahuan berbagai
jenis kalimat, yang lebih penting lagi penulis dapat menerapkan
berbagai jenis kalimat itu secara bervariasi. Dengan demikian, tulisan
yang dihasilkan tidak monoton dibaca. Di bawah ini diperlihatkan
sebuah kalimat yang dapat ditata dalam berbagai bentuk/gaya yang
bervariasi. Bentuk mana yang dipilih bergantung pada kedudukan
kalimat itu di antara kalimat-kalimat yang lain atau konteks kalimat
tersebut berada.
Contoh:
Sesuai dengan etika berdagang, dengan alasan apa pun pemodal
besar tidak boleh menggusur pedagang kecil.
Kalimat tersebut dapat dibagi menjadi tiga bagian:
 Sesuai dengan etika berdagang
 dengan alasan apa pun
 pemodal besar tidak boleh menggusur pedagang kecil
Kemungkinan variasi kalimat:
a. Dengan alasan apa pun, pemodal besar tidak boleh menggusur
pedagang kecil sesuai dengan etika berdagang. (pola BCA)

10

b. Dengan alasan apa pun, sesuai dengan etika berdagang, pemodal
besar tidak boleh menggusur pedagang kecil. (pola BAC)
c. Pemodal besar tidak boleh menggusur pedagang kecil, sesuai
dengan etika berdagang, dengan alasan apa pun. (pola CAB)
d. Pemodal besar tidak boleh menggusur pedagang kecil dengan
alasan apa pun sesuai dengan etika berdagang. (pola CBA)
e. Sesuai dengan etika berdagang, pemodal besar tidak boleh
menggusur pedagang kecil dengan alasan apa pun. (pola ACB)
Penataan Kalimat di Dalam Paragraf
1. Fokus dan Latar Belakang
Gagasan yang dimaksudkan sebagai fokus diungkapkan dalam
klausa induk, sedangkan gagasan yang merupakan latar belakang
diungkapkan dalam klausa anak. Jika dua klausa digabungkan
dengan konjungsi koordinatif, kedua klausa sama-sama memuat
gagasan yang ditonjolkan. Akan tetapi, jika keduanya digabungkan
dengan konjungsi subordinatif, klausa induk memuat gagasan yang
difokuskan, sedangkan klausa anak memuat gagasan yang
dilatarbelakangkan.
Contoh :
a. Saya mempunyai adik. Ia bernama Bimoli. Saya pulang siangsiang kemarin. Adik saya sedang di kebun. Saya berteriak
memanggilnya, tetapi ia tidak menjawab.
b. Ketika pulang siang-siang kemarin dan melihat adik saya, Bimoli,
sedang di kebun, saya berteriak memanggilnya. Ia tidak
menjawab.
Seperti dijelaskan oleh Kaswanti (1994), penataan cara a bergaya
“kekanak-kanakan”. Semua gagasan ditampilkan sama
pentingnya. Semua kalimat menonjol karena dikemukakan
dengan klausa induk. Berbeda dengan kalimat b yang di antara
dua gagasan yang ditampilkan, dipilih gagasan yang menjadi
fokus dan latar belakang. Gagasan yang merupakan fokus
dituangkan dalam klausa induk, sedangkan gagasan yang
merupakan latar belakang diungkapkan dalam klausa anak.
Dalam kalimat-kalimat di atas: Ketika pulang siang-siang
kemarin dan melihat adik saya, Bimoli, sedang di kebun adalah latar
belakang; saya berteriak memanggilnya adalah fokus.

11

2. Informasi
Informasi lama (IL) adalah gagasan yang (menurut penulis) sudah
diketahui oleh pembaca. Informasi baru (IB) adalah gagasan yang
(menurut penulis) belum diketahui oleh pembaca. IB inilah yang
hendak disampaikan oleh penulis kepada pembaca melalui rangkaian
kalimat. Sebelum menyampaikan IB, penulis perlu bertolak dari IL,
yaitu apa yang sudah diketahui pembaca. Urutan yang terbalik (IB
terlebih dahulu baru IL) mengakibatkan keterkejutan bagi pembaca.
Dalam sebuah kalimat, IL biasanya diletakkan dalam konstituen
di sebelah paling kiri, sedangkan IB di paling kanan kalimat.
Contoh :
a. Sebuah rumah tua//ada di sudut jalan itu.
IB
b. Di sudut jalan itu//ada sebuah rumah tua.
IL
Kalimat (a) dan (b) bersinonim (sama isi pesannya), tetapi jika
masing-masing menjadi bagian di dalam paragraf, (a) dan (b) tidak
dapat saling menggantikan. Masing-masing berbeda dalam hal
perlakuan kadar informasinya: lama atau baru bagi pembaca.
Contoh :
(a) Mengajar keterampilan menulis merupakan pekerjaan yang
dirasakan oleh para guru bahasa indonesia sebagai hal yang
memberatkan. (b) Beratnya beban ini, antara lain, disebabkan
oleh besarnya jumlah siswa setiap kelasnya. Penataan IL dan IB
kalimat tersebut diperlihatkan di bawah ini.
(a) ...memberatkan (b) Beratnya...
IL
IL
C. Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk
Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari unsur
Subjek dan Predikat saja. Namun kalimat tunggal bisa juga diikuti
dengan objek dan keterangan. Berdasarkan jenis predikatnya, kalimat
tunggal terdiri dari beberapa jenis yaitu:
 Kalimat Nominal
Kalimat tunggal nominal adalah kalimat yang predikatnya berupa
kata benda.

12

Contoh:
Ayahnya guru di SMA.
S
p
K
 Kalimat Verbal
Kalimat tunggal verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa
kata kerja.
Contoh:
Budi tidur di kelas.
S
P
K
 Kalimat Adjektival
Kalimat ini memiliki Predikat yang berupa kata sifat.
Contoh:
Ayahnya baik
S
P
 Kalimat Numeral
Kalimat tunggal numeral memiliki predikat berupa kata bilangan.
Contoh:
Yang datang 10 orang
S
P
 Kalimat Preposisional
Kalimat ini predikatnya berupa kata depan atau preposisioanal.
Contoh:
Ibunya dari Jawa Barat
S
P
Perluasan Kalimat Tunggal
Perluasan kalimat tunggal bisa dilakukan dengan cara-cara
sebagai berikut.
1. Menambahkan unsur baru seperti keterangan atau pelengkap.
Contoh:
Pemburu membakar hutan kemarin malam
S
P
O
K
Kalimat tersebut mengalami perluasan dengan ditambahkan
keterangan waktu kemarin malam.
2. Memperluas unsur-unsur yang ada seperti subjek dan predikat.
Contoh:
Paman yang tinggal di Bandung akan datang
S
P

13

Kalimat tersebut mengalami perluasan pada unsur subjek.
Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki 2 klausa atau
lebih yang digabungkan kedalam satu kalimat dengan menggunakan
Konjungsi atau kata penghubung. Kalimat majemuk digolongkan
menjadi 3 jenis kalimat yaitu kalimat majemuk setara, bertingkat,
dan campuran.
 Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang memiliki 2 klausa
yang sejajar atau sederajat. Kalimat ini biasanya dihubungkan
dengan konjungsi berupa dan, lalu, kemudian, tetapi, atau, bahkan.
Contoh kalimat majemuk setara :
Ayah membaca Koran dan ibu menonton televisi.
Klausa 1 = Ayah membaca ; Klausa 2 = Ibu menonton televisi
 Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk ini memiliki 2 klausa yang hubungannya tidak
sejajar. Di dalam kaliamat ini terdapat klausa yang berkedudukan
sebagai induk kalimat dan anak kalimat. konjungsi penghubung
kalimat ini adalah jika, ketika, walaupun, bahwa, bagaikan, sebab,
sehingga dan dengan.
Contoh kalimat majemuk bertingkat :
Para petani pergi ke sawah sebelum matahari terbit.
Induk kalimat = Para petani pergi ke sawah ; anak kalimat = matahari
terbit
 Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat
majemuk
campuran
adalah
kalimat
yang
menghubungkan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk
bertingkat. Biasanya kalimat majemuk campuran memiliki klausa
lebih dari 2.
Contoh kalimat majemuk campuran :
Pekerjaan itu telah selesai ketika ayahku datang dan ibu sudah
menyiapkan makan malam.
Induk kalimat = Pekerjaan itu telah selesai.
Anak kalimat = Ayah datang.
Anak kalimat = Ibu sudah menyiapkan makan malam.
D. Kalimat Aktif dan Pasif

14

Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah sebuah kalimat yang subjek (S) berperan
sebagai pelaku yang secara aktif melakukan suatu tindakan yang
dikemukakan dalam predikat (P) kepada objek (O)
Contoh :
Ani menyirami bunga.
Ayah membeilkanku sebuah sepeda.
John merusak bukunya Andi.
Ciri-ciri kalimat aktif
1. Pada kalimat aktif subjek melakukan suatu tindakan yang
langsung mengenai objeknya.
2. Predikat kalimat aktif selalu diawali dengan imbuhan Me- atau
Ber3. Ada kalimat aktif yang memerlukan objek
4. Ada kalimat aktif yang tidak memerlukan objek. Setelah
mendapat predikat subjek ditambah pelengkap atau keterangan.
5. Kalimat Aktif memiliki pola S-P-O-K atau S-P-K
Jenis-jenis kalimat aktif
1. Kalimat aktif Transitive
Kalimat aktif intransitive adalah kalimat aktif yang memerlukan
sebuah objek yang mendapatkan tindakan dari subjeknya.
Contoh:
Ayahku memberi Andi uang saku sebesar Rp. 10.000,Ayahku = Subjek
Memberiku = Predikat
Objek = Andi
Pada kalimat diatas, “Ayah” yang merupakan subjek melakukan
tindakan kepada “Andi” yang merupakan objek.
2. Kalimat aktif ekatransitive
Kalimat ini memerlukan objek namun tidak memiliki
pelengkap. Dengan kata lain, Kalimat ini hanya memiliki 3 unsur
yaitu Subjek, Predikat dan Objek.
Contoh :
Andi membaca sebuah majalah
Ayah memperbaiki motor
Ibu menanak nasi.
3. Kalimat aktif Intransitive

15

Kalimat ini objeknya tidak dimunculkan sebagai penerima
perbuatan subjek. Namun biasanya kalimat ini diikuti oleh pelengkap
dan keterngan. Kalimat ini biasanya memiliki Pola S-P atau S-P-K
Contoh :
Iwan sedang menulis di dalam kamar.
Nenek sedang menjahit dengan sangat hati-hati.
Ani belajar dengan giat.
4. Kalimat aktif dwitransitif
Kalimat ini memiliki satu predikat dan mengharuskan kehadiran
objek dan pelengkap. kalimat aktif dwitransitif mempunyai empat
unsur Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), dan Pelengkap (Pel). Jika
salah satu dari ke empat unsur ini tidak terenuhi, maka kalimat
menjadi rancu atau kehilangan makna.
Contoh :
Ayah mengirimi uang kepada neneak setiap bulan.
Budi selalau mengunjungi ibunya yang ada di luar negeri.
Kakakku menguras bak air seminggu sekali.
Merubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif
1. Subjek pada kalimat aktif berubah menjadi objek pada kalimat
pasif.
Andi Menabrak Budi di depan ruang kelas.(Aktif)
Budi ditabrak oleh Andi di depan ruang kelas. (Pasif)
2. Predikat yang berawalan me- berubah menjadi berawalan di-/terAni mengabaikan kebun bunga yang cantik itu.(Aktif)
Kebun bunga yang cantik itu terabaikan oleh Ani. (Pasif)
3. Kalimat aktif tidak berobjek tidak bisa diubah menjadi kalimat
pasif.
Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya mendapat/dikenai
suatu tindakan yang berupa predikat oleh objek.
Contoh :
Tanaman disirami oleh ibu.
Kakak dibelikan sebuah jam tangan oleh ayah
Bajuku dicuci oleh ibu.
Ciri-ciri kalimat pasif
1. Subjek pada kalimat aktif menjadi objek pada kalimat pasif.
2. Predikat menggunakan awalan di-, ke-an atau ter-

16

Contoh :
Rumahnya terbakar oleh si jago merah.
Ruangan kelas disapu oleh kami. (aktif)
Rumahku kemasukan Maling tadi malam. (pasif)
Kata kerja yang memiliki awalan ter- mengandung unsur
ketidaksengajaan.
3. Pada umumnya kata kerja didahului dengan kata ganti orang kudan kau-.
Contoh : Buku itu telah kurapikan.
4. Kata “oleh” dalam kalimat pasif dapat dihilangkan dan tidak
merubah makna.
Contoh :
Andi ditegur oleh Ibu guru karena ribut. (aktif)
Andi ditegur Ibu guru karena ribut. (pasif)
Merubah kalimat pasif menjadi kalimat aktif
1. Subjek pada kalimat pasif diubah menjadi objek pada kalimat
pasif.
Contoh :
Kejuaraan itu dimenangkan oleh mereka. (aktif)
Mereka memenangkan kejuaraan itu. (pasif)
2. Awalan prediket di-/ter-/ke-an diubah menjadi ber- atau meContoh :
Bunga itu ditanam oleh ibuku. (aktif)
Ibu menanam bunga itu. (pasif)
3. Kata ganti ku- dirubah menjadi Aku.
Contoh :
Buah itu sudah kumakan. (aktif)
Aku sudah memakan buah itu. (pasif)
E. Kalimat Langsung dan Tidak Langsung
Kalimat Langsung
Kalimat langsung adalah sebuah kalimat yang merupakan
hasil kutipan langsung dari pembicaraan seseorang yang sama persis
seperti apa yang dikatakannya.
Ciri-ciri kalimat langsung
1. Pada kalimat langsung kalimat petikan ditandai dengan tanda
petik.

17

2. Huruf pertama pada kalimat yang dipetik menggunakan huruf
kapital.
3. Kalimat petikan dan kalimat pengiring dipisahkan dengan tanda
baca (,) koma.
4. Kalimat langsung yang berupa dialog berurutan, harus
menggunakan tanda baca titik dua (:) di depan kalimat langsung.
5. Pola susunan:
Pengiring, ”kutipan”
“Kutipan,” pengiring
“Kutipan,” pengiring, “kutipan”
6. Cara membaca pada kalimat kutipan intonasinya sedikit ditekan.
Aturan menulis kalimat langsung
Dalam menulis kalimat langsung ada beberapa hal yang harus
diperhatikan terutama penggunaan tanda baca, diantaranya adalah:
1. Bagian kalimat petikan diapit oleh tanda petik 2 (“) bukan petik
1 (‘).
2. Tanda petik penutup ditaruh setelah tanda baca yang
mengakhiri kalimat petikan.
Contoh :
Andi mengatakan, “Aku akan pergi ke sekolah besok.” (Benar)
Andi mengatakan, “Aku akan pergi ke sekolah besok”. (Salah)
“Baju itu bagus,” kata mawar (Benar)
“Baju itu bagus”, kata mawar (Salah)
3. Kalimat pengiring harus diakhiri dengan satu tanda koma,
terkadang tanda titik dua dan satu spasi apabila bagian kalimat
pengiring terletak sebelum kalimat petikan.
Contoh :
Andi bertanya, “Mau kemana kalian hari ini?”
“Mau kemana kalian hari ini?” tanya Andi. (Benar)
“Mau kemana kalian hari ini?”, tanya Andi. (Salah)
4. Jika ada 2 kalimat petikan, huruf awal pada kalimat petikan
pertama menggunakan huruf kapital. Sedangkan pada kalimat
petikan kedua menggunakan huruf kecil kecuali nama orang dan
kata sapaan.
Contoh :
“Coba saja minta sama ayah,” kata ibu, “dia pasti akan
memberikannya.”

18

Budi mengatakan, “Sepatu yang ku pakai sepatu mahal,” padahal
kata Andre, “sepatu Budi murah.”
Contoh kalimat langsung
Ibu menyuruh, “Belikan ibu garam di warung!”
“Jangan bergerak” gertak polisi kepada pencuri.
“Siapakah yang membersihkan ruang kelas ini?” tanya bu guru
sebelum memulai pelajaran.
“Kak, kau dipanggil Ayah” kata ibu, “ kamu disuruh makan
olehnya.”
Budi berkata: “Aku ingin pergi ke Jepang suatu saat nanti.”
Kalimat Tidak Langsung
Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang melaporkan atau
memberitahukan perkataan orang lain dalam bentuk kalimat berita.
Ciri-ciri kalimat tidak langsung
1. Tidak menggunakan tanda petik.
2. Intonasi membacanya datar.
3. Terdapat perubahan kata ganti orang, yaitu:
Kata ganti orang ke-1 berubah menjadi orang ke-3.
“Saya”, “aku” menjadi “Dia” atau “Ia”
Kata ganti orang ke-2 berubah menjadi orang ke-1.
“kamu” “Dia” menjadi “saya”atau nama orang
Kata ganti orang ke-2 dan ke-1 jamak berubah menjadi ”kami”,
“kita” dan “mereka”
“kalian” “kami” menjadi “ “mereka” “kami”
Contoh:
Ibu berkata, “Dia adalah gadis yang baik.”
Ibu berkata bahwa Ani adalah gadis yang baik
Pak guru berkata, “Kalian harus menjadi anak yang rajin.”
Pak guru berkata bahwa kami harus menjadi anak yang rajin
4. Biasanya ditambahkan konjungsi “bahwa”.
Contoh kalimat tidak langsung
Bu Guru bertanya kepada kami apakah kami sudah mengerti apa
yang telah diajarkannya.
Desta mengatakan bahwa dia berjanji akan mengantarkan Anisa
pulang ke rumah.
Hamid menanyakan tentang kapan ayahnya pulang kepada
ibunya.

19

Irwan meminta kepada Ibunya agar dia dibelikan motor baru.
Hamid berkata bahwa dia akan pulang terlambat.
Deni mengatakan bahwa saya harus membatunya menyelesaikan
tugas.
F. Kalimat Deklaratif, Interogatif, Imperatif, Eksklamatif
Kalimat Deklaratif
Kalimat Deklaratif biasa dikenal juga dengan kalimat berita.
Kalimat deklaratif dicirikan dengan suatu pernyataan berisi informasi
atau berita tertentu. Kalimat deklaratif berfungsi untuk
menyampaikan berita atau informasi secara jelas dan lugas. Sehingga
informasi atau berita yang disampaikan tidak perlu ada respon atau
tanggapan. Maka dapat disimpulkan, pengertian kalimat deklaratif
adalah kalimat yang berisi informasi atau berita yang disampaikan
secara lugas dan jelas tanpa perlu tanggapan. Dengan demikian,
informasi atau berita yang disampaikan tidak menimbulkan
perbedaan makna antara penulis dan pembaca.
Ciri – Ciri Kalimat Deklaratif
1. Kalimat hanya terdiri dari satu subjek dan satu predikat.
Pada dasarnya, bentuk kalimat deklaratif adalah sederhana. Hal
ini dimaksudkan agar pembaca dapat langsung menangkap pesan
yang disampaikan. Pesan atau informasi tersebut erat kaitannya
dengan jumlah subjek dan predikat yang terdapat di dalam kalimat.
Maka, kalimat deklaratif hanya terdiri dari satu subjek dan satu
predikat saja.
2. Bentuknya sederhana, lugas, dan jelas.
Bentuk kalimat yang sederhana saja tidak cukup, jika isi
informasi yang terdapat dalam kalimat tersebut terlalu bertele – tele.
Sehingga kelugasan dalam penyampaian juga sangat dibutuhkan.
Selain itu, jelas atau tidaknya berita yang disampaikan juga
berpengaruh. Sebab dengan adanya kalimat deklaratif, harapannya
pembaca dapat menerima informasi tanpa adanya tanggapan/respon.
3. Bukan merupakan kalimat perintah.
Ciri – ciri seperti bentuk kata yang sederhana, lugas, jelas, dan
terdiri dari satu subjek dan predikat saja tidak cukup. Seperti kita
ketahui bahwa ciri – ciri tersebut bisa juga kita temukan dalam
kalimat perintah. Oleh karena itu, kalimat deklaratif biasa disebut

20

dengan kalimat berita. Dengan kata lain, kalimat yang hanya
bertujuan untuk memberi informasi, bukan perintah.
4. Bukan termasuk kalimat tanya.
Kalimat deklaratif biasanya ditandai dengan tanda titik (.) di akhir
kalimat. Hal ini tentu menjadi pembeda yang sangat jelas antara
kalimat berita dengan kalimat tanya.
5. Berisi informasi baik fakta atau opini.
Pada umumnya, jenis informasi yang disampaikan pada kalimat
deklaratif adalah fakta. Namun tidak menutup kemungkinan dengan
pemberitaan opini. Hanya mungkin perbedaannya terletak pada
jenisnya saja. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang jenis kalimat
deklaratif, perhatikan contoh – contoh sebagai berikut:
Contoh Kalimat Deklaratif dalam Bentuk Umum
Saya tidak pergi kemarin sore.
S
P
K
Saya tidak pergi dengan ibu.
S
P
O
Saya tidak pergi dengan ibu kemarin sore.
S
P
O
K
Kemarin sore, saya
tidak pergi dengan ibu.
K
S
P
O
Pembahasan:
Bentuk umum kalimat deklaratif bisa terdiri dari struktur
kalimat S + P + K seperti kalimat (1), S + P + O seperti kalimat (2), S
+ P + O + K seperti kalimat (3), atau K + S + P + O seperti kalimat
(4). Pada dasarnya, struktur kalimat yang berubah tersebut termasuk
kedalam bentuk umum kalimat deklaratif. Namun tetap informatif
dan lugas.
Contoh dan Jenis Kalimat Deklaratif dalam Bentuk Khusus
-Kalimat Deklaratif Aktif
Kalimat deklaratif aktif dicirikan dengan penggunaan kalimat
aktif. Biasanya predikat dalam kalimat menggunakan imbuhan me-,
me-kan, atau me-i.
Contoh :
Aku bisa mengendarai sepeda motor.

21

Pemerintah mencanangkan program swasembada pangan di tahun
ini.
Mereka memakai seragam putih abu – abu.
Rakyat Indonesia menyambut gembira HUT RI ke-70.
Peselancar itu menyelam tanpa pelampung.
-Kalimat Deklaratif Pasif
Kalimat deklaratif pasif dicirikan dengan penggunaan kalimat
pasif. Biasanya predikat dalam kalimat menggunakan imbuhan di-,
di-kan, di-i, ter-, atau ter-an.
Contoh :
Sebuah dompet berwarna hitam ditemukan di dekat pembatas jalan.
Rumah berlantai dua itu dirampok sekawanan maling semalam.
Pengambilan rapor siswa harus dihadiri orang tua murid.
Sebuah mobil tanpa plat diikuti polisi.
Bungkusan yang berwarna coklat itu terdeteksi alat pelacak bom.
-Kalimat Deklaratif Langsung dan Tak Langsung
Kalimat deklaratif langsung dicirikan dengan mengutip perkataan
seseorang tanpa mengurangi atau menambahkan kata. Hal ini agar
pesan atau informasi yang disampaikan tidak berubah.
Contoh :
Ibu berkata, “Andi tidak sekolah hari ini”. (langsung)
Ibu mengatakan bahwa Andi tidak sekolah hari ini. (tak langsung)
“Jangan berbicara sembarangan di sini”, kata Pak
Hamid. (langsung)
Pak Hamid berkata agar jangan berbicara sembarangan di sini. (tak
langsung)
Kalimat Interogatif
Kalimat interogatif adalah kalimat yang di dalamnya berisi
pertanyaan. Berfungsi untuk bertanya / meminta informasi tentang
suatu hal pada orang lain. Kalimat interogatif dapat dibagi menjadi
kalimat interogatif yang membutuhkan jawaban “ya” / “tidak” dan
kalimat interogatif yang menuntut jawaban berupa informasi.
Contoh kalimat interogatif yang membutuhkan jawaban “ya” /
“tidak” :
Apakah kamu berangkat ke sekolah tadi pagi?
Apakah kamu ingin bertukar peran denganku?
Apakah kamu mengenali orang yang berdiri di depanmu itu?

22

Contoh kalimat interogatif yang membutuhkan jawaban berupa
informasi :
Mengapa kamu tidak berangkat ke sekolah tadi pagi?
Siapa orang yang berdiri di depanmu itu?
Dimana kamu menaruh radio yang baru dibeli pamanmu?
Kalimat interogatif, yang juga dikenal dengan nama kalimat
Tanya, secara formal ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa,
siapa, berapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah
sebagai penegas. Kalimat interogatif diakhiri dengan tanda tanya (?)
pada bahasa tulis dan pada bahasa lisan dengan suara naik, terutama
jika tidak ada kata tanya atau suara turun. Bentuk kalimat interogatif
biasanya untuk meminta (1) jawaban “ya” atau “tidak” atau (2)
informasi mengenai seuatu atau seseorang dari lawan bicara atau
pembaca.
Ada empat cara untuk membentuk kalimat interogatif dari kalimat
deklaratif :
1. Dengan menambahkan partikel penanya apayang harus
dibedakan dari kata tanya apa.
2. Dengan membalikan susunan kata
3. Dengan menggunakan kata bukan(kah) atau tidak(kah)
4. Dengan mengubah intonasi menjadi naik.
Kalimat deklaratif dalam bentuk apapun (aktif, pasif, ekatransitif,
dwitransitif dan sebagainya) dapat diubah dengan kalimat tanya
dengan menambahkan partikel apa pada kalimat tersebut. Partikel –
kah dapat ditambahkan pada partikel penanya itu untuk mempertegas
pertanyaan itu. Intonasinya yang dipakai dapat sama dengan intonasi
kalimat berita. Perhatikan contoh berikut:
a. Dia isteri pak bambang.
b. Apa dia isterinya Pak Bambang
c. Apakah suaminya ditangkap minggu lalu?
Kalimat Imperatif
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian
kalimat imperatif adalah kalimat yang bersifat memerintah atau
memberi komando, mempunyai hak memberi komando, dan bersifat
mengharuskan. Dengan kata lain, kalimat imperatif adalah kalimat
yang di dalamnya mengandung perintah. Kalimat ini berfungsi untuk
meminta / melarang seseorang untuk melakukan sesuatu.

23

Contoh Kalimat imperatif lengkap
Kalimat imperatif itu mempunyai 2 (dua) bentuk, ditijau dari
fungsinya yaitu :
-Kalimat Imperatif yang berfungsi untuk melarang melakukan
sesuatu
Kalimat Imperatif larangan adalah kalimat Imperatif yang
berfungsi untuk melarang melakukan sesuatu atau mencegah
seseorang melakukan sesuatu. Kalimat perintah larangan ini biasanya
ditandai dengan kata jangan, dilarang, tidak boleh, dsb.
-Berikut adalah contoh dari Kalimat Perintah atau Imperatif
Larangan :
Jangan melanggar peraturan jika tidak ingin berusrusan dengan
pihak berwajib.
Jalu, kamu tidak boleh berkata seperti itu kepada orang yang lebih
tua.
Dilarang memberi makanan hewan dikebun binatang ini!
Dilarang ribut! Selama ujian berlangsung.
Kalimat Imperatif yang berfungsi untuk mengajak melakukan
sesuatu.
Kalimat Imperatif jajakan adalah kalimat imperatif yang
berfungsi unutk mengajak melakukan sesuatu atau bujukan
sesesorang untuk melakukan sesuatu. Kalimat perintah ajakan ini
biasanya ditandai dengan kata ayo, mari, yuk dan bentuknya dapat
juga berupa kalimat interogatif (tanya) atau juga kalimat deklaratif
(berita).
Berikut adalah contoh dari kalimat Perintah atau Imperatif Ajakan :
Yuk, kita pergi nonton di bioskop.
Mari kita membuang sampah pada tempatnya.
Ayo kita dukung timnas Indonesia masuk diajang piala dunia
2022.
Kamu nanti malam bisa tidak ikut dengan kami?
Di Jakarta nanti tanggal 22 Juni ada konser Coldplay, yuk kita
kesana.
Kalimat imperative memiliki ciri formal seperti berikut :
a. Intonasi yang ditandai nada mulai rendah di akhir tuturan
b. Pemakaian partikel penegas, penghalus dan kata tugas ajakan,
harapan, permohonan dan larangan

24

c. Susunan inversi sehingga urutannya menjadi tidak selalu
terungkap predikat-subjek, jika diperlukan
d. Pelaku tindakan tidak selalu terungkap
Kalimat imperative dapat diwujudkan sebagai berikut :
a. Kalimat yang terdiri atas predikat verba dasar atau adjektiva,
ataupun frasa preposisional saja yang sifatnya taktransitif
b. Kalimat lengkap yang berpredikat verba taktransitif atau
transitif, dan
c. Kalimat yang dimarkahi oleh berbagai kata tugas modalitas
kalimat
Jenis-jenis Kalimat Imperatif
-Kalimat Imperatif Taktransitif
Kalimat imperative tak transitif dibentuk dari kalimat dekralatif
(taktransitif) yang dapat berpredikat verba dasar, frasa adjektiva, dan
frasa verba yang berprefiks ber- atau meng- atau pun frasa
preposisional. Perhatikan contoh berikut :
a. Engkau masuk.
b. Masuk!
c. Engkau tenang!
d. Tenang.
Kalimat imperatif (a dan c) dapat dilengkapi dengan kata
panggilan atau vokatif.
a. Masuk, Narko!
b. Tenang, anak-anak!
- Kalimat imperatif Transitif
Kalimat imperatif yang berpredikat verba transitif mirip dengan
konstuksi kalimat deklaratif pasif.Petunjuk bahwa verba kalimat
dapat dianggap berbentuk pasif ialah kenyataan bahwa lawan
bicaranya yang dalam kalimat deklaratif berfungsi sebagai subjek
pelaku menjadi pelengkap pelaku, sedangkan objek sasaran dalam
kalimat deklaratif menjadi subjek sasaran dalam kkalimat imperatif.
Berikut adalah contoh kalimat :
a. Engkau mencari pekerjaan apa saja
b. Carilah pekerjaan apa saja!
c. Kamu membelikan adikmu sepatu baru
d. Belikan adikmu sepatu baru
-Kalimat Imperatif Halus

25

Bahasa Indonesia juga memiliki sejumlah kata yang dipakai
untuk menghaluskan isi kalimat imperatif.Kata seperti tolong, coba,
silahkan, sudilah, dan kiranya sering dipakai untuk maksud itu.
Perhatikan contoh berikut :
a. Tolong kirimkan kontrak ini
b. Tolong kontrak ini dikirim segera
c. Tolong mobil saya dibawa ke bengkel
d. Tolong bawalah mobil saya ke bengkel
e. Coba panggil kepala bagian umum
f. Cobalah panggil kepala bagian umum
g. Coba panggilah kepala bagian umum
h. Sudilah bapak mengunjungi pameran kami
i. Silahkan masuk bu
j. Kiranya anda tidak berkeberatan
Perhatikan letak partikel –lah pada contoh-contoh diatas. Pada
kalimat (c, f, h) partikel itu dapat diletakkan pada kata penghalus
atau pada verbanya (d, g).pada kalimat verba di, partikel –lah hanya
dapat ditempelkan pada kata penghalus saja (c).
- Kalimat Imperatif Permintaan
Kalimat imperative juga digunakan untuk mengungkapkan
permintaan. Kalimat seperti itu ditandai oleh kata minta atau
mohon.Subjek pelaku kalimat imperatif permintaan ialah pembicara
yang sering tidak dimunculkan. Perhatikan contoh berikut :
a. Minta perhatian, saudara-saudara!
b. Minta ampun!
c. Minta maaf, pak!
d. Mohon memperhatikan peraturan ini.
e. Mohon surat ini ditandatangani
f. Mohon diterima dengan baik
- Kalimat Imperatif Ajakan dan Harapan
Di dalam kalimat imperatif ajakan dan harapan tergolong kalimat
yang biasanya didahului kata ayo(lah), mari(lah), harap dan
hendaknya. Perhatikan contoh berikut :
a. Ayolah masuk!
b. Mari kita makan.
c. Harap duduk dengan tenang
d. Hendaknya anda pulang saja

26

- Kalimat Imperatif Larangan
Kalimat imperatif deapat bersifat larangan dengan adanya kata
jangan(lah). Perhatikan contoh berikut :
a. Jangan (kamu) naik
b. Jangan (kamu) marah
c. Janganlah (kamu) ke sana dulu
d. Janganlah kau hiraukan tuduhannya
-Kalimat Imperatif Pembiaran
Yang juga termasuk golongan kalimat imperatif ialah pembiaran
yang dinyatakan dengan kata biar(lah) atau biarkan(lah). Sebetulnya
dapat diartikan bahwa kalimat itu menyuruh membiarkan supaya
sesuatu terjadi atau berlangsung.Dalam perkembangannya kemudian
pembiaran
berarti
minta
izin
agar
sesuatu
jangan
dihalangi.Perhatikan contoh berikut :
a. Biarkan saya pergi dulu, kau tinggal di sini.
b. Biarlah kita bekerja di kebu sekarang.
c. Biarkan saya yang menggoreng ikan.
Kalimat Eksklamatif
Kalimat eksklamatif yang juga dikenal dengan nama kalimat seru,
secara formal ditandai oleh kata alangkah, betapa, atau bukan main
pada kalimat berpredikat adjectival. Kalimat eksklamatif ini, yang
juga dinamakan kalimat interjeksi biasa digunakan untuk
menyatakan perasaan kagum atau heran.
Cara pembentukan kalimat eksklamatif dari kalimat deklaratif
mengikuti langkah berikut :
a. Balikan urutan unsur kalimat dari S-P menjadi P-S
b. Tambahkan partikel –nya pada adjektiva P
c. Tambahkan kata (seru) alangkah, bukan main, atau betapa di
muka P jika dianggap perlu.
Dengan menerapkan kaidah di atas, kita dapat membuat kalimat
eksklamatif dari kalimat deklaratif seperti pada contoh berikut:
a. Pergaulan mereka bebas
b. Bebas pergaulan mereka
c. Bebasnya pergaulan mereka !
d. Alangkah bebasnya pergaulan mereka
RANGKUMAN

27

1. Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran
penulis atau pembicara secara tepat sehingga pndengar/pembaca
dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan
lengkap seperti apa yang dimasud oleh penulis atau
pembicaranya.
2. Unsur-unsur dalam kalimat meliputi : subjek (S), prediket (P),
objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket).
3. Ciri-ciri kalimat efektif yaitu : Kesepadanan, keparalelan,
ketegasan, kehematan, kecermatan, kepaduan, kelogisan.
4. Jenis-jenis kalimat yaitu : Kalimat Tunggal, Kalimat Majemuk,
Kalimat Aktif, Kalimat Pasif, Kalimat Langsung, Kalimat Tidak
Langsung, Kalimat Deklaratif, Kalimat Imperatif, Kalimat
Interogatif dan Kalimat Eksklamatif.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Lukman dkk. 1991. Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta
: Balai Pustaka
Anonim.2016.(http://www.kelasindonesia.com.html).
Diakses
tanggal 10 februari 2016 pukul 18:00 WIB
Badudu, J.S. 1983. Membina Bahasa Indonesia baku. Bandung:
Pustaka Prima.
Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia : Pendekatan
Proses. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Finoza, Lamuddin. 2002.. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta:
Insan Mulia.
Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia.
Ramlan, M. 1981. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta:
CV Karyono.
EVALUASI
Pilihlah Jawaban yang dianggap Benar.
1. Tergolong kemanakah penggunaan kata masing-masing dalam
suatu kalimat ?
a. Kata Benda (nomina)
c. Kata Sifat
b. Kata Kerja
d. Kalimat keterangan

28

2. Perhatikanlah contoh penggunaan kata masing-masing dibawah
ini.
a. Masing-masing calon peserta olimpiade kimia mendaftar ke
meja panitia.
b. Masing-masing negara berkewajiban melindungi warganya.
c. Tiap-tiap calon peserta olimpiade kimia mendaftar ke meja
panitia.
d. Tiap-tiap negara berkewajiban melindungi warganya.
Penggunaan Kata Tiap-tiap dan masing masing yang tepat adalah?
a. (a), (b), (c), (d)
b. (a), (b)
c. (c), (d)
d. (a), (c)
3. Manakah diantara kalimat berikut yang kurang tepat penggunaan
kata masing-masing jika terdapat dalam kalimat?
a. Peserta rapat masing-masing mengemukakan pendapatnya
tentang masalah itu.
b. Para siswa kursus ini masing-masing dianjurkan menempuh
Ujian Keterampilan Bahasa Indonesia
c. Pada saat liburan musim panas, masing-masing kawan saya
pasti berlibur ke Pulau Bali.
d. Negara masing-masing berkewajiban melindungi warganya.
4. Manakah diantara kalimat berikut yang tepat penggunaan kata
masing-masing jika terdapat dalam kalimat?
a. Peserta kontes kecantikan, masing-masing harus mendaftar
pada panitia.
b. Masing-masing calon peserta kontes kecantikan harus
mendaftar pada panitia.
c. Masing-masing negara berkewajiban melindungi warganya.
d. Masing-masing ketua kelas segara melaporkan absen ke
kantor kepala sekolah.
5. Kata tiap-tiap termasuk ke dalam kata?
a. Kata benda
c. Kata bilangan (Numeralia)
b. Kata kerja
d. Kata keterangan

29

6. Di antara kalimat berikut yang tidak tepat penggunaan kata tiaptiap dalam kalimat adalah?
a. Tiap-tiap pemimpin seharusnya memiliki simpati dan
perhatian terhadap bawahannya.
b. Tiap-tiap peraturan harus mengikat setiap pencetus dan
pembuat hukum itu.
c. Tiap liburan musim panas, kawan saya pasti berlibur ke
Pulau Bali.
d. Tiap hari ibu mencuci baju di pinggiran sungai.
7. Para mahasiswa kursus ini ........dianjurkan menempuh Ujian
Keterampilan Bahasa Indonesia.
Kata yang tepat untuk mengisi kalimat titik-titik di atas?
a. Masing-masing
c. Setiap
b. Tiap-tiap
d. Lebih baik
8. ............ warga negara wajib memiliki kartu tanda penduduk
setelah berumur 18 tahun.
Kata yang tepat untuk mengisi kalimat titik-titik di atas?
a. Masing-masing
c. Tiap-tiap
b. Setiap
d. Lebih baik
9. Peserta seminar ...................... mengemukakan pendapatnya
tentang nanoteknologi di Indonesia.
Kata yang tepat untuk mengisi kalimat titik-titik di atas?
a. Lebih baik
c. Tiap-tiap
b. Mungkin
d. Masing-masing
10. ........................... bangsa memiliki sejarah dan kebudayaannya.
Kata yang tepat untuk mengisi kalimat titik-titik di atas?
a. Setiap
c. Masing-masing
b. Setiap / Tiap-tiap
d. Kebanyakan
11. Peserta seminar ........... membayar Rp 100.000,00.
Kata yang tepat untuk mengisi kalimat titik-titik di atas?
a. Setiap
c. Masing-masing
b. Setiap / Tiap-tiap
d. Kebanyakan
12. ..........anak berhak mendapatkan perlindungan hukum secara
penuh.

30

Kata yang tepat untuk mengisi kalimat titik-titik di atas?
a. Setiap
c. Masing-masing
b. Setiap / Tiap-tiap
d. Kebanyakan
13. .......penduduk berhak dan wajib menjunjung tinggi kehormatan
bangsa.
Kata yang tepat untuk mengisi kalimat titik-titik di atas?
a. Setiap
c. Masing-masing
b. Tiap-tiap
d. Kebanyakan
14. Apakah syarat pemilihan kata yang benar dalam kalimat efektif?
a. Tepat
c. Lazim
b. Benar
d. Semua benar
15. Penggunaan kata masing-masing dan tiap-tiap termasuk ke dalam
penggunaan?
a. Pasangan idiomatis
b. Kata ulang sempurna
c. Sinonim
d. Antonim

31