You are on page 1of 40

MAKALAH AUDIT, ASSURANCE, DAN PENGENDALIAN INTERNAL

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Audit Pengolahan Data Elektronik
Dosen Pengampu : Ibu Indah Anisykurlillah dan Bapak Kuat Waluyo Jati

Disusun oleh:
Puput Wiji Astuti

7211413003

Uki Indri Puspita

7211413058

Chavia Zagita Aprilani

7211413070

Muhamad Sururudin

7211413148

Asa Septa Nugraha

7211413199

Della Puspita Ardian

7211413221

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016
i

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang Jenis dan Bentuk Laporan Keuangan ini dengan berbagai macam
kekurangan didalamnya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Akuntansi Pemerintahan dengan dosen pembimbing Bapak Amir Mahmud, S.Pd,
M.Si dan Ibu Niswah Baroroh, SE, M.Si
Kami berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita dalam memahami seperti apakah struktur dan
bentuk laporan keuangan serta bagaimana penyusunannya yang sesuai dengan
ketentuan-ketentuan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan serta
keterkaitan antar laporan keuangan.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa dalam pembuatan makalah ini
masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu.
Kami berharap kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami
buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semarang, 28 Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Judul.............................................................................................

i
ii

Kata Pengantar.............................................................................................

ii

Daftar Isi ......................................................................................................

iii

Daftar Tabel..................................................................................................

iv

Daftar Gambar.............................................................................................

iv

Bab I Pendahuluan....................................................................................

1

1.1.Latar Belakang...........................................................................
1.2.Rumusan Masalah......................................................................
1.3.Tujuan Penulisan........................................................................
1.4.Manfaat Penulisan......................................................................

1
3
3
3

BAB II Pembahasan....................................................................................

4

2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.

Pengertian Akad Murabahah.....................................................
Jenis Akad Murabahah..............................................................
Dasar Syariah............................................................................
Perlakuan Akuntansi PSAK No 102..........................................
Ilustrasi Kasus Akad Murabahah...............................................

4
8
14
17
18

BAB III Penuutup........................................................................................

35

3.1. Simpulan...................................................................................
3.2. Saran.........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

36

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2-1. Hubungan antara Jasa Atestasi dengan Jasa Assurance............

9

Gambar 2-2. Tahapan dalam Audit TI............................................................

20

Gambar 2-3. Kerangka Kerja untuk Melihat Risiko TI.................................

33

iii

DAFTAR TABEL
Tabel 2-1. Standar Audit yang Berterima Umum...........................................

10

Tabel 2-2. Tujuan Audit dan Prosedur Audit Berdasarkan Pernyataan
Manajemen...................................................................................

iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Suatu perekonomian negara yang dikatakan sehat dan stabil jika dilihat
dari tiga unsur sistem keuangan negara yaitu sistem moneter, sistem perbankan
dan sistem keuangan lembaga buka bank. Salah satu faktor yang mendorong
untuk penumbuhan ekonomi suatu negara, maka ketiga sistem tersebut harus
berjalan dengan baik. Oleh karena itu peranan perbankan menjadi sangat penting.
Berdasarkan pengaruh dari krisis keuangan global yang terjadi kemarin bank
syariah mampu bertahan dibanding bank konvensional yang mengalami dampak
dari krisis global tersebut, sehingga pada saat ini banyak ilmuan yang melirik
untuk menggunakan sistem ekonomi syariah yang di pakai di bank syariah. Salah
satu pembiayaan yang ada di bank syariah adalah pembiayaan murabahah, yaitu
prinsip jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang telah
disepakai bersama. Murabahah merupakan salah satu bentuk jual beli barang yang
di kembangkan oleh perbankan syariah. Dalam perbankan syariah, murabahah
mendominasi pendapatan bank dari produk-produk yang ada di semua bank Islam.
Adapun peraturan yang mengatur tentang tata cara melakukan akad murabahah
terdapat dalam PSAK No.102 Tentang Pembiayaan Murabahah Pada Bank
Syariah. Sebagai seorang muslim, kita harus mengetahui jual beli yang di
perbolehkan dalam syariah islam agar harta yang dimiliki halal dan baik. Seperti
yang kita ketahui, jual beli adalah salah satu aspek dalam muamalah, dengan
kaidah dasar semua boleh kecuali yang di larang. Oleh karena itu, dalam makalah
ini penulis akan membahas salah satu produk yang ada dalam lembaga keuangan
syariah, yaitu pembiayaan murabahah.
1.2. Rumusan Masalah
Agar pembahasan terkait materi pembiayaan murabahah dalam makalah
ini tidak melebar, maka penulis menyusun beberapa rumusan masalah, sebagai
berikut:
1.2.1. Apa pengertian akad murabahah?
1.2.2. Apa saja jenis-jenis akad murabahah?
1.2.3. Apa dasar syariah yang melandaasi pelaksanaan akad murabahah?
1.2.4. Bagaimana implementasi dari PSAK No 102 Tentang Pembiayaan
Murabahah Pada Bank Syariah?

5

1.2.5. Bagaimana contoh ilustrasi kasus akad muarabahah?
1.3. Tujuan Penulisan
Adapun pencapaian tujuan yang diharapkan dari penulisan makalah ini
sesuai dengan rumusan masalah yang telah dijabarkan sebelumnya, yaitu:
1.1. Untuk mengetahui pengertian dari akad murabahah.
1.2. Untuk mengetahui jenis-jenis akad murabahah.
1.3. Untuk mengetahui dasar syariah yang melandaasi pelaksanaan akad
1.4.

murabah.
Untuk mengetahui implementasi dari PSAK No 102 Tentang Pembiayaan

1.5.

Murabahah Pada Bank Syariah.
Untuk mengetahui bagaimana contoh ilustrasi dari kasus akad murabahah.

1.1. Manfaat Penulisan
1.1. Bagi Akademisi
Hal ini dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan mahasiswa terkait
dengan pelaksanaan salah satu produk pembiayaan yang dikembangkan lembaga
keuangan syariah yaitu pembiayaan murabahah dan bagaimana tata cara
pelaksanaan akad jual beli tersebut yang sesuai dengan dasar syariah.
1.2. Bagi Praktisi
Bagi para praktisi terutama berbagai lembaga keuangan syariah, hal ini
dapat memberikan informasi tambahan terkait

tata cara pelakanaan akad

murabahah yang sesuai dasar syariah dan berbagai manfaat yang diperoleh dari
pembiayaan murabahah tersebut sehingga mereka senantiasa megembangkan dan
meningkatkan pelaksansaan pembiayaan tersebut yang tidak hanya memberikan
keuntungan bagi lembaga keuangan itu sendiri, kepada pihak kedua sebagai
pembeli, akan tetapi juga kepada negara karena dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Akad Murabahah
Secara luas, jual beli dapat diartikan sebagai pertukaran harta atas dasar
saling rela. Menurut (Sabiq,2008) jual beli adalah memindahkan milik dengan
ganti (iwad) yang dapat dibenarkan (sesuai syariah). Pertukaran dapat dilakukan
antara uang dengan barang, barang dengan barang yang biasa kita kenal dengan
barter dan uang dengan uang misalnya pertukaran nilai mata uang rupiah dengan
yen.
Muslim harus mengetahui jual beli yang diperbolehkan dalam syariah,

6

agar harta yang dimiliki halal dan baik. Seperti kita ketahui, jual beli adalah salah
satu aspek dalam muamalah (hubungan manusia dengan manusia), dengan kaidah
berdasarkan semua boleh kecuali dilarang. Kalau belum tahu mana yang
dibolehkan dalam syariah, atau belum mengetahui suatu ilmu tertentu, kita wajib
mencari tahu sebagaimana sabda Rasulullah.
“Menurut ilmu itu diwajibkan bagi setiap umat muslim”. (HR Ibnu
Majah) Pertukaran uang dengan barang yang biasa kita kenal dengan jual beli
dapat dilakukan secara tunai atau dengan cara pembelian tangguh. Pertukaran
barang dengan barang, terlebih dahulu harus memperhatikan apakah barang
tersebut merupakan barang ribawi (secara kasat mata tidak dapat dibedakan) atau
bukan. Pertukaran barang ribawi seperti emas dengan emas, perak dengan perak,
gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, anggur
kering dengan anggur kering, dan garam dengan garam maka pertukarannya agar
sesuai syariah harus dengan jumlah yang sama dan harus dari tangan ke tangan
atau tunai, karena kelebihannya adalah riba. Untuk pertukaran mata uang yang
berbeda harus dilakukan secara tunai.
Murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar biaya
perolehan

ditambah

keuntungan

yang

disepakati

dan

penjual

harus

mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli (PSAK 102
Paragraf 5). Definisi ini menunjukkan bahwa transaksi murabahah tidak harus
dalam bentuk pembayaran tangguh (kredit), melainkan dapat juga dalam bentuk
tunai setelah menerima barang, ditangguhkan dengan mencicil setelah menerima
barang ataupun ditangguhkan dengan membayar sekaligus di kemudian hari
(PSAK 102 paragraf 8).
Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga
perolehan dan keuntungan ( margin ) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.
Hal yang membedakan murabahah dengan penjualan yang biasa kita kenal adalah
penjualan secara jelas memberitahu kepada pembeli berapa harga pokok barang
tersebut dan berapa besar keuntungan yang diinginkannya. Pembeli dan penjual
dapat melakukan tawar-menawar atas kebesaran margin keuntungan sehingga
akhirnya diperoleh kesepakatan.
Kemudian timbul perdebatan berkenaan dengan harga perolehan, apakah
hanya sebesar harga beli atau boleh dengan biaya lain. Secara umum, keempat
ulama mazhab membolehkan pembebanan biaya langsung yang harus dibayarkan
7

kepada pihak ketiga. Mereka tidak memperbolehkan pembebanan biaya langsung
yang berhubungan dengan pekerjaan yang memang seharusnya dilakukan oleh
penjual, demikian juga biaya yang tidak bernilai tambah pada barang ( Karim,
2003).
Harga beli merupakan harga pokok yaitu harga beli dikurangi dengan
diskon pembelian. Apabila diskon diberikan setelah akad, maka diskon yang
didapatkan akan menjadi hak pembeli atau hak penjual sesuai dengan kesepakatan
mereka diawal akad. Dalam PSAK 102 dijelaskan lebih lanjut, jika akad tidak
mengatur, maka diskon tersebut menjadi hak penjual. Namun pada hakikatnya,
diskon pembelian adalah hak pembeli. Sehingga akan lebih baik jika prosedur
operasional perusahaan menyatakan bahwa diskon setiap akad murabahah adalah
hak pembeli. Diskon yang terkait dengan pembelian barang, antara lain meliputi
(PSAK No.102 par 11):
a) Diskon dalam bentuk apa pun dari pemasok atas pembelian barang
b) Diskon biaya asuransi dari perusahaan asuransi dalam bentuk rangka
pembelian barang
c) Komisi dalam bentuk apa pun yang diterima terkait dengan pembelian barang.
Keuntungan yang diinginkan bisa dinyatakan dalam jumlah tertentu (lump
sum) atau berdasarkan presentase tertentu. Pembeli dimungkinkan untuk
melakukan tawar-menawar dengan penjual atas besarnya keuntungan yang
diinginkannya sehingga diperoleh besarnya keuntungan yang disepakati pembeli
dan penjual. Besarnya keuntungan harus jelas. Harga barang yang telah disepakati
tidak dapat dirubah.
Penjual dapat meminta pembeli untuk mewakilinya membeli barang yang
dibutuhkan pembeli sehingga barang yang dibeli sesuai dengan keinginannya.
Dan akad murabahah dapat terjadi setelah barang tersebut menjadi milik si penjual
karena akad tidak sah kalau penjual tidak memiliki barang yang dijualnya,
misalnya Hanum ingin membeli rumah dari Asri tapi Asri tidak memiliki rumah
sesuai yang diinginkan Hanum, kemudian Asri meminta Hanum untuk
mewakilinya mencari rumah sesuai dengan yang diinginkannya. Dalam hal ini
harus ada 2 transaksi yang terpisah, pertama adalah transakti jual beli antara Asri
dengan penjual pertama dimana terjadi peralihan kepemilian dari penjual pada
Asri, yang kedua adalah transaksi antara Asri dengan Hanum dimana terjadi
peralihan kepemilikan dari Asri kepada Hanum. Tidak boleh transaksi tunggal

8

yaitu antara penjual pertama dan Hanum karena kalau seperti ini sama saja Asri
meminjamkan uang kepada Hanum. Kalau pinjam-meminjam, tidak boleh ada
unsur keuntungan atau kelebihan didalamnya.
Penjual dapat dilakukan secara tunai atau kredit (pembayaran tangguh).
Dalam akad murabahah, diperkenankan harga berbeda untuk cara pembayaran
yang berbeda. Misalnya, harga tunai, harga tangguh dengan periode 1 tahun atau 2
tahun berbeda. Namun penjual dan pembeli harus memilih harga mana yang
disepakati dalam akad tersebut dan begitu disepakati maka hanya ada satu harga
(harga dalam akad) yang digunakan dan harga ini tidak dapat berubah. Apakah
pembeli melunasi lebih cepat dari jangka waktu kredit yang ditentukan atau
pembeli menunda pembayarannya, harga tidak boleh berubah.
Penjualan dapat meminta uang muka pembelian kepada pembeli sebagai
bukti keseriusannya ingin membeli barang tersebut. Uang muka menjadi bagian
pelunasan piutang murabahah jika akad murabahah disepakati. Namun apabila
penjual telah membeli barang dan pembeli membatalkannya, uang muka ini dapat
digunakan untuk menutup kerugian si penjual akibat dibatalkannya pesanan
tersebut. Bila jumlah uang muka lebih kecil dibandingkan jumlah jumlah kerugian
yang harus ditanggung oleh penjual, penjual dapat meminta kekurangan kepada
pembeli. Sebaiknya, bila lebih besar pembeli berhak untuk mengambil atau
menerima kembali sebagian uang mukanya. Apabila akad penjualan secara
tangguh dan pembeli dapat melunasinya secara tepat waktu atau bahkan ia
melakukan pelunasan lebih cepat dari periode yang telah ditetapkan, maka penjual
memberikan potongan. Namun demikian, besarnya potongan ini tidak boleh
diperjanjikan di awal akad (untuk menghindari adanya unsur riba). Penjual boleh
memberikan potongan pada saat pelunasan piutang murabahah jika pembeli:
 Melakukan pelunasan pembelian tepat waktu
 Melakukan pelunasan pembelian lebih cepat dari waktu yang telah disepakati.
Penjual boleh memberikan potongan dari total piutang murabahah yang belum
dilunasi jika pembeli:
 Melakukan pembayaran cicilan tepat waktu
 Mengalami penuruanan kemampuan pembayaran
 Meminta potongan dengan alasan yang dapat diterima penjual
Apabila pembeli tidak dapat membayar utangnya sesuai dengan tepat
waktu yang ditetapkan, penjual tidak memperbolehkan mengenakan denda atas
keterlambatan pada pembeli karena kelebihan pembayarannya atas suatu utang

9

sama dengan riba. Pengecualian berlaku, apabila pembeli tersebut tidak membayar
bukan karena mengalami kesulitan keuangan tapi karena lalai. Dalam kasus
seperti ini, pengenaan denda diperbolehkan. Namun, denda ini pun tidak boleh
diakui sebagai pendapatan penjualan tapi harus digunakan untuk dana
kebajikan/social

(dana

qard)

yang

akan

disalurkan

pada

orang

yang

membutuhkan. Tujuan dikenakannya denda adalah sebagai hukuman/sanksi bagi
orang yang lalai agar ia lebih disiplin dalam menunaikan kewajiban membayar
hutangnya. Apabila pelunasan piutang tertunda dikarenakan pembeli mengalami
kesulitan keuangan, maka penjual hendaknya memberi keringanan. Keringanan
dapat berupa menghapus sisa tagihan, membantu menjualkan objek murabahah
pada pihak lain untuk melakukan restrukturisasi piutang.
Restrukturisasi piutang dilakukan terhadap debitur yang mengalami
penurunan

kemampuan

pembayaran

piutang

yang

bersifat

permanen.

Restrukturisasi piutang dapat dilakukan dalam bentuk (PSAK ED 108):
a) Member potongan sisa tagihan, sehingga jumlah ansuran menjadi kecil
b) Melakukan penjadwalan ulang (rescheduling), dimana jumlah tagihan yang
tersisa tetap (tidak boleh ditambah) dan perpanjang masa pembayaran
disesuaikan dengan kesepakatan kedua pihak sehingga besarnya ansuran
menjadi lebih kecil
c) Mengonversi akad murabahah, dengan cara menjual objek murabahah kepada
penjual sesuai dengan harga pasar, kemudian dari uang yang ada digunakan
untuk melunasi sisa tagihan. Kelebihannya (bila ada) digunakan sebagai uang
muka akad ijarah atau sebagai bagian modal dari akad murabahah musyarakah
atau musyarakah dalam rangka perolehan suatu barang. Hal ini dapat
dilakukan terhadap debitur yang mengalami penurunan kemampuan
pembayaran namun debitur tersebut masih prospektif. Sebaliknya, apabila
terjadi kekurangan tetap menjadi utang pembeli yang cara pembayarannya
disepakati bersama.
Akad murabahah sesuai dengan syariah karena merupakan transaksi jual
beli di mana kelebihan dari harga pokoknya merupakan keuntungan dari
penjualan barang. Sangat berbeda dengan praktik riba dimana nasabah meminjam
uang sejumlah tertentu untuk membeli suatu barang kemudian atas pinjaman
tersebut nasabah harus membayar kelebihannya dan ini adalah riba. Menurut
ketentuan syariah, pinjaman uang harus dilunasi sebesar pokok pinjamannya dan

10

kelebihannya adalah riba. Nilainya tetap atau tidak tetap sepanjang waktu
pinjaman.
2.2. Jenis-Jenis Akad Murabahah
Ada 2 (dua) jenis murabahah, yaitu sebagai berikut:
2.2.1. Murabahah dengan pesanan (murabaha to the purchase order)
Dalam murabahah jenis ini, penjual melakukan pembelian barang setelah
ada pemesanan dari pembeli. Murabahah berdasarkan pesanan dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu:
a.

Bersifat mengikat, yaitu apabila barang telah dipesan maka harus dibeli
dan tidak dapat membatalkan pesanannya. Jika asset murabahah yang telah
dibeli oleh penjual, dalam murabahah pesanan mengikat, mengalami
penurunan nilai sebelum diserahkan kepada pembeli maka penurunan nilai

tersebut menjadi beban penjual dan akan mengurangi nilai akad.
b.
Bersifat tidak mengikat, yaitu walaupun nasabah telah memesan barang,
tetapi nasabah tidak terikat,

sehingga nasabah dapat menerima atau

mengembalikan barang tersebut.

Gambar 2.1. Skema Murabahah dengan Pesanan
Keterangan :
1. Nasabah bernegosiasi kepada bank untuk melakukan pembiayaan
murabahah
2. Karena bank tidak memiliki stok barang yang dibutuhkan nasabah, maka
bank selanjutnya melakukan pembelian barang kepada supplier/pemasok .
3. A. Nasabah dan bank melakukan akad murabahah.
11

B. Bank melaksanakan serah terima barang.
C. barang yang diinginkan pembeli (nasabah) selanjutnya diantar oleh
pemasok (supplier) kepada nasabah (pembeli).
4. Setelah menerima barang, nasabah (pembeli)selanjutnya membayar
kepada bank. Pembayaran kepada bank biasanya dilakukan dengan cara
mencicil sejumlah uang tertentu selama jangka waktu yang disepakati.

2.2.2. Murabahah tanpa pesanan
Murabahah jenis ini bersifat tidak mengikat. penyediaan barang tidak
terpengaruh terkait langsung dengan ada tidaknya pembeli.
Gambar 2.2. Skema Tanpa Pesanan

Keterangan :
1. Kedua belah pihak melakukan akad yaitu pihak penjual (ba’i) dan pembeli
(musytari) melaksanakan akad murabahah.
2. A. bank (penjual) menyerahkan barang kepada pembeli (musytari) karena
telah memilikinya terlebih dahulu
B. membayar atas barang.
2.3. Dasar Syariah
2.3.1. Sumber Hukum Akad Murabahah
2.3.1.1.Al-Quran
“….Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS
1:275) “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan
(mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang tidak batil (tidak benar), kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu…” (QS
4:29) “Hai orang-orang beriman penuhilah akad-akad itu…” (QS 5:1)
“Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” (QS 2:275)
12

“…dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh
sampai ia berkelapangan.” (QS 2:280)
“…dan tolong menolong dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…” (QS 5:2)
“Hai orang yang beriman! Jika kamu melakukan transaksi utang piutang untuk
jangka waktu yang ditentukan, tuliskanlah…” (QS 2:282)
2.3.1.2. Al-Hadis
Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah

SAW

bersabda:

“sesungguhnya jual beli itu harus dilakuaan suka sama suka.” (HR Al-Baihaqi,
Ibnu Majah, dan shahih menurut Ibnu Hibban)
Rasulullah SAW bersabda: “ada tiga hal yang mengandung keberkahan: jual beli
secara tangguh, muqaradhah (mudharabah) dan mencampur gandum dengan
jewawut untuk keperluan rumah tangga bukan untuk jual beli.” (HR Ibnu Majah
dari Shuhaib)
“Allah mengasihi orang yang memberikan kemudahan bila ia menjual dan
membeli serta di dalam menagih haknya.” (Dari Abu Hurairah)
“Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya didunia, Allah akan
melepaskan kesulitannya di hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba
Nya selama ia (suka) menolong saudaranya.” (HR Muslim)
“Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh

orang

mampu

menghalalkan harga sendiri dan pemberian sangsi kepadanya.” (HR Abu Dawud,
Ibnu Majah, dan Ahmad)
“Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu
kezaliman.” (HR Bukhari & Muslim)
“Sumpah itu melariskan barang

dagangan,

akan

tetapi

menghapus

keberkahannya.” (HR Al-Bukhari)
2.3.1.3. Ketentuan hukum dalam FATWA DSN MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000
tentang MURABAHAH ini adalah sebagai berikut :
Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah:
1.) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.
2.) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam.
3.) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah
disepakati kualifikasinya.
4.) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri,
dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
5.) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian,
misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
6.) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan)
dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini

13

Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah
berikut biaya yang diperlukan.
7.) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada
jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
8.) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut,
pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.
9.) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari
pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang,
secara prinsip, menjadi milik bank.
Kedua : Ketentuan Murabahah kepada Nasabah:
1.) Nasabah mengajukan permohonan dan janji pembelian suatu barang atau
aset kepada bank.
2.) Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih
dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang.
3.) Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah
harus

menerima (membeli)-nya

sesuai dengan janji yang telah

disepakatinya, karena secara hukum janji tersebut mengikat; kemudian
kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli.
4.) Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar
uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan.
5.) Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank
harus dibayar dari uang muka tersebut.
6.) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh
bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.
7.) Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang
muka, maka :
a. Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal
membayar sisa harga.
b. Jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank maksimal
sebesar

kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan

tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi
kekurangannya.
Ketiga : Jaminan dalam Murabahah
1.) Jaminan dalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius dengan
pesanannya.
2.) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat
dipegang.
Keempat : Utang dalam Murabahah:

14

1.) Secara prinsip, penyelesaian utang nasabah dalam transaksi murabahah
tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan
pihak ketiga atas barang tersebut. Jika nasabah menjual kembali barang
tersebut dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk
menyelesaikan utangnya kepada bank.
2.) Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia
tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya.
3.) Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus
menyelesaikan utangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh
memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu
diperhitungkan.
Kelima : Penundaan Pembayaran dalam Murabahah:
1.) Nasabah yang memiliki kemampuan tidak

dibenarkan

menunda

penyelesaian utangnya.
2.) Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah
satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, maka penyelesaiannya
dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai
kesepakatan melalui musyawarah.
Keenam : Bangkrut dalam Murabahah:
Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan utangnya,
bank harus menunda tagihan utang sampai ia menjadi sanggup kembali, atau
berdasarkan kesepakatan.
2.3.2. Rukun dan Ketentuan Akad Murabahah
Rukun dan ketentuan murabahah, yaitu sebagai berikut:
2.3.2.1. Pelaku
Pelaku cakap hukum dan baligh (berakal dan dapat membedakan),
sehingga jual beli dengan orang gila menjadi tidak sah sedangkan dengan anak
kecil dianggap sah, apabila seizing walinya.
1.1.1. Objek Jual Beli, harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
a. Barang diperjualbelikan adalah barang halal
Maka semua barang yang diharamkan oleh Allah, tidak dapat dijadikan
sebagai objek jual beli, karena barang tersebut dapat menyebabkan manusia
bermaksiat/melanggar larangan Allah. Hal ini sesuai dengan hadis berikut ini.
“Sesungguhnya Allah mengharamkan menjualbelikan khamar, bangkai, babi,
patung-patung.” (HR Bukhari Muslim)
“Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan sesuatu juga mengharamkan
harganya.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

15

b. Barang yang diperjualbelikan harus dapat diambil manfaatnya atau memiliki
nilai,
dan bukan merupakan barang-barang yang dilarang diperjualbelikan, misalnya:
jual beli barang yang kadaluarsa.
c. Barang tersebut dimiliki oleh penjual
Jual beli atas barang yang tidak dimiliki oleh penjual adalah tidak sah
karena bagaimana mungkin ia dapat menyerahkan kepemilikan barang kepada
orang lain atas barang yang bukan miliknya. Jual beli oleh bukan pemilik barang
seperti ini, baru akan sah apabila mendapat izin dari pemilik barang. Misalnya:
seorang suami menjual harta milik istrinya, sepanjang si istri mengizinkan maka
sah akadnya. Contoh lain, jual beli barang curian adalah tidak sah karena status
kepemilikan barang tersebut tetap menjadi si pemilik harta.
“ Barangsiapa membeli barang curian sedangkan dia tahu bahwa itu hasil
curian, maka sesungguhnya dia telah bersekutu didalam dosa dan aibnya.” (HR
Al Baihaqi)
Contoh lainnya, jika si penjual telah menjual barang pada pembeli tertentu
kemudian menjual kembali barang yang telah di jualnya pada pembeli lain yang
mau membayar lebih tinggi, hal ini pun tidak dibolehkan karena barang tersebut
bukan lagi miliknya.
“Janganlah seorang menjual barang yang telah dijual…” (HR Bukhari Muslim)
“Bahwasanya orang telah membeli dari dua orang, maka ia harus mengambil
dari orang pertama.” (HR Ahmad, An Nasa’I, Abu Dawud dan At Tirmizi)
d. Barang tersebut dapat diserahkan tanpa tergantung dengan kejadian tertentu
di masa depan barang yang tidak jelas waktu penyerahannya adalah tidak sah,
karena dapat menimbulkan ketidakpastian (gharar), yang pada gilirannya dapat
merugikan salah satu pihak yang bertransaksi dan dapat menimbulkan
persengketaan. Misalnya, saya jual mobil avanza saya yang hilang dengan harga
Rp. 40.000.000;

si pembeli berharap mobil itu akan ditemukan. Demikian juga

jual beli atas barang yang sedang digadaikan atau telah diwakafkan.
e. Barang tersebut harus diketahui secara spesifik dan dapat diidentifikasi oleh
pembeli sehingga tidak ada gharar (ketidakpastian). Misalnya, saya menjual salah
satu tanaman hias yang saya miliki, tidak jelas tanaman hias mana yang akan
diijual, atau saya jual salah satu dari lima mobil yang saya miliki dengan harga
Rp.100.000.000, tidak jelas mobil yang mana dan kondisinya bagaimana.
f. Barang tersebut dapat di ketahui kuantitas dan kualitasnya dengan jelas,
sehingga

tidak

ada

gharar.

Apabila

suatu

barang

dapat
16

dikuantifisir/ditakar/ditimbang maka atas barang Yang diperjual belikan harus di
kuantifisir terlebih dahulu agar tidak timbul ketidakpastian (gharar)
Sesuai dengan hadis berikut ini:
“Bagaimana jika Allah mengecahnya berbuah, dengan imbalan apakah salah
seorang kamu mengambil harta saudaranya?” (HR Al Bukhari dari Anas)
Bersadarkan hadis ini, dapat disimpulkan jual beli secara ijon dilarang. Contoh
lainnya: Menjual anak kuda yang masih dalam kandungan, karena anak kuda yang
dilahirkan belum tentu selamat, cacat atau tidak, serta belum tentu seunggul induk
biologisnya.
g. Harga barang tersebut jelas
Harga atas barang yang diperjualbelikan diketahui oleh pembeli dan
penjual berikut cara pembayarannya tunai atau tangguh sehingga jelas dan tidak
ada gharar. Contoh: penjual berkata kepada pembeli, jika kamu membaya 1 bulan
harganya Rp.700.000. tapi jika kamu membayar 2 bulan, maka harganya menjadi
Rp.750.000. pembeli pun setuju, tanpa menyatakan harga yang mana dia setujui
sehingga harga tidak menentu, kecuali dinyatakan harga yang mana yang
disepakati. Begitu harga itu disepakati maka harga tersebut tidak boleh berubah.
h. Barang yang diakadkan ada di tangan penjual
Barang dagangan yang tidak berada di tangan penjual akan menimbulkan
ketidakpastian (gharar). Hakim bin Hizam berkata:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku membeli barang dagangan, apakah yang
halal dan apa pula yang haram daripadanya untukku?” Rasulullah bersabda:
“jika kamu telah membeli sesuatu , maka janganlah kau jual sebelum ada di
tanganmu”.
Berdasarkan hadis ini dapat diqiyaskan future trading dilarang. Pembeli yang
menjual kembali barang yang dia beli sebelumnya serah terima, dapat diartikan ia
menyerahkan uang pada pihak lain dengan harapan memperoleh uang lebih
banyak dan hal ini dapat disamakan dengan riba. Contoh: A membeli buku dari B.
B belum mengirimkan kepada A atau kepada agennya, A tidak bisa menjual buku
kepada C. jika A menjualnya sebelum menerima pengiriman dari B, maka
penjualan yang dilakukan oleh A menjadi tidak sah.
Contoh diatas berbeda dengan jual beli

dimana

barang

yang

diperjualbelikan tidak ada di tempat akad, namun barang tersebut ada dan di
miliki penjual. Hal ini dibolehkan asakan spesifikasinya jelas, dan apabila ternyata
barangnya tidak sesuai dengan yang telah disepakati maka para pihak boleh
melakukan khiar (memilih melanjutkan transaksi atau membatalkan).
17

“Siapa yang membeli sesuatu barang yang ia tidak melihatnya, maka dia boleh
memilih jika telah menyaksikannya.” (HR Abu Hurairah)
Misalkan penjual dan pembeli bersepakat dalam transaksi jual beli beras tipe IR
65, dengan harga Rp5000/kg sebanyak 1 ton, dan ketika akad berasnya masih ada
di Cianjur. Hal ini dibolehkan dengan syarat apabila ternyata beras yang dikirim
kualitasnya tidak sesuai, pembeli boleh memilih apakah akan tetap melakukan
transaksi atau membatalkannya.
1.1.2. Ijab Kabul
Pernyataan dan ekspresi saling rida/rela diantara pihak-pihak pelaku akad
yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korespondensi atau menggunakan
cara-cara komunikasi modern. Apabila jual beli telah dilakukan sesuai dengan
ketentuan syariah maka kepemilikannya, pembayarannya dan pemanfaatan atas
barang yang diperjualbelikan menjadi halal. Demikian sebaliknya. Kalau kita
perhatikan, semua ketentuan syariah di atas tidak ada yang memberatkan.
Semuanya masuk akal, memiliki nilai moral yang tinggi, menghargai hak
pemilikan harta, meniadakan persengketaan yang dapat berakibat pada
permusuhan. Dengan kata lain, semua itu adalah untuk kebaikan manusia itu
sendiri.
2.4. Perlakuan Akuntansi (PSAK 102)
2.4.1. Akuntansi murabahah (PSAK 102 Revisi 2013)
Ruang lingkup PSAK ini adalah untuk lembaga keuangan syariah dan
koperasi syariah yang melakuakn transaksi murabahah baik sebagai penjual
maupun pmbeli serta pihak lain yang melakukan transaksi murabahah dengan
entitas-entitas tersebut.
2.4.1.1. Akuntansi Untuk Penjual
1. Pada saat perolehan, asset murabahah diakui sebagai persediaan sebesar
biaya perolehan
Dr. Aset Murabahah
Kr.Kas

xxx
xxx

2. Untuk murabahah pesanan mengikat, pengukuran asset murabahah setelah
perolehan adalah diniliai sebesar biaya perolehan dan jika terjadi
penurunan nilai asset karena usang, rusak atau kondisi lainnya sebelum
diserahkan ke nasabah, penurunan nilai tersebut diakui sebagai beban dan
mengurangi nilai asset.

18

a. Jika terjadi penurunan nilai untuk murabahah pesanan mengikat, maka
jurnalnya :
Dr. Beban Penurunan Nilai
xxx
Kr. Aset Murabahah
xxx
Untuk murabahah tanpa pesanan atau murabahah pesanan tidak
mengikat maka asset dinilai berdasarkan biaya perolehan atau nilai bersih
yang dapat direalisasi, dan dipilih mana yang lebih rendah. Apabila nilai
bersih yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka
selisihnya diakui sebagai kerugian.
b. Jika terjadi penurunan nilai untuk murabahah pesanan tidak mengikat,
maka jurnal:
Dr. Kerugian Penurunan Nilai
Kr. Aset Murabahah

xxx
xxx

3. Apabila terdapat diskon pada saat pembelian asset murabahah, maka
perlakuannya adalah sebagai berikut:
a. Jika terjadi sebelum akad muraahah akan menjadi pengurang biaya
perolehan asset murabahah, jurnal:
Dr. Aset Murabahah

xxx

(harga

perolehan

diskon)
Kr. Kas

xxx

b. Jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang disepakati
menjadi hak pembeli, menjadi kewajiban kepada pembeli, jurnal:
Dr. Kas
Kr. Utang

xxx
xxx

c. Jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang disepakati
menjadi hak penjual, menjadi tambahan keuntungan murabahah,
jurnal:
Dr. Kas
Kr. Keuntungan Murabahah

xxx
xxx

d. Jika terjadi setelah akad murabahah dan tidak diperjanjikan dalam
akad, maka akad menjadi hak penjual dan diakui sebagai pendapatan
operasional lain, jurnal:
Dr. Kas
Kr. Pendapatan Operasional Lain

xxx
xxx

4. Kewajiban penjual kepada pembeli atas pengembalian diskon tersebut
akan tereliminasi pada saat:
19

a. Dilakukan pembayaran kepada pembeli, sehingga jurnal:
Dr. Utang
Kr. Kas
atau

xxx
xxx

b. Akan dipindahkan sebagai dana kebajikan ika pembeli sudah tidak
dapat dijangkau oleh penjual, sehingga jurnal:
Dr. Dana Kebajikan-Kas
xxx
Kr. Dana Kebajikan-Potongan Pembelian

xxx

5. Pengakuan keuntungan murabahah
a. Jika penjualan dilakukan secara tunai atau secara tangguh sepanjang
masa angsuran murabahah tidak melebihi satu perioede laporan
keuangan, maka keuntungan murabahah diakui pada saat terjadinya
akad murabahah:
Dr. Kas
Dr. Piutang Murabahah
Kr. Aset Murabahah
Kr. Keuntungan

xxx
xxx
xxx
xxx

b. Namun apabila angsuran lebih dari satu periode maka perlakuannya
adalah sebagai berikut:
1) Keuntungan diakui saat enyerahan asset murabahah dengan syarat
apabila resiko penagihannya kecil, maka dicatat dengan cara yang
sama pada butir a.
2) Keuntungan diakui secara proporsional dengan besaran kas yang
berhasilditagih dari piutang murabahah, metode ini digunakan
untuk transaksimurabahah tangguh di mana ada resiko piutang
tidak tertagih relatif besardan/ atau beban untuk mengelola dan
menagih piutang yang relatif besar,maka jurnal:
Pada saat penjualan kredit dilakukan:
Dr. Piutang Murabahah
xxx
Kr. Aset Murabahah
xxx
Kr. Keuntungan Tangguhan
xxx
Margin Murabahah Tangguhan disajikan sebagai akun kontra dari
Piutang Murabahah.
Pada saat penerimaan angsuran:
Dr. Kas
Kr. Piutang Murabahah
Dr. Keuntungan Tangguhan
Kr. Keuntungan

xxx
xxx
xxx
xxx

20

3) Keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah berhasil
ditagih, metodeini digunakan untuk transaksi murabahah tangguh
dimana resiko piutang tidaktertagih dan beban pengelolaan piutang
serta penagihannya cukup besar.Pencatatannya sama dengan poin
(2), hanya saja jurnal pengakuan keuntungandibuat saat seluruh
piutang telah selesai ditagih.
6. Pada saat akad murabahah piutang diakui sebesar biaya perolehan
ditambah dengankeuntungan yang disapakati. Pada akhir periode laporan
keuangan, piutangmurabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat
direalisasi sama dengan akuntansikonvensional, yaitu saldo piutang
dikurangi penyisihan kerugian piutang. Jurnal untukpenyisihan piutang tak
tertagih:
Dr. Beban Piutang Tak Tertagih
xxx
Kr. Penyisihan Piutang Tak Tertagih

xxx

7. Potongan pelunasan piutang murabahah yang diberikan kepada pembeli
yang melunasi tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang disepakati
diakui sebagaipengurang keuntungan murabahah.
a. Jika potongan diberikan pada saat pelunasan, maka dianggap sebagai
pengurangkeuntungan murabahah, dan jurnal:
Dr. Kas
xxx
Dr. Keuntungan Ditangguhkan
xxx
Kr. Piutang Murabahah
xxx
Kr. Keuntungan Murabahah
xxx
(Nilai Pendapatan Margin Murabahah sebesar Saldo Margin
Murabahah Tangguhan – Potongan)
b. Jika potongan diberikan setelah pelunasan yaitu penjual menerima
pelunasanpiutang dari pembeli dan kemudian membayarkan potongan
perlunasannyakepada pembeli. Maka jurnal:
Pada saat penerimaan piutang dari pembeli
Dr. Kas
xxx
Dr. Keuntungan Ditangguhkan
xxx
Kr. Piutang Murabahah
xxx
Kr. Keuntungan Murabahah
xxx
(Nilai Pendapatan Margin Murabahah sebesar Saldo Margin
Murabahah Tangguhan – Potongan)
Pada saat pengembalian kepada pembeli
Dr. Keuntungan Murabahah
xxx

21

Kr. Kas

xxx

8. Denda dikenakan jika pembeli lalai dalam melakukan kewajibannya sesuai
denganakad, dan denda yang diterima diakui sebagai dana kebajikan.
Dr. Dana Kebajikan-Kas
Kr. Dana Kebajikan-Denda

xxx
xxx

9. Pengakuan dan pengukuran penerimaan uang muka adalah sebagai
berikut:
a. Uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang
diterima
b. Pada saat barang jadi dibeli oleh pembeli maka uang muka diakui
sebagaipembayaran piutang (merupakan bagian pokok)
c. Jika barang batal dibeli oleh pembeli maka uang muka dikembalikan
kepadapembeli setelah diperhitungkan dengan biaya-biaya yang telah
dikeluarkan olehpenjual.
Jurnal yang terkait dengan penerimaan uang muka:
a. Penerimaan uang muka dari pembeli
Dr. Kas
xxx
Kr. Utang Lain-Uang Muka Murabahah

xxx

b. Apabila murabahah jadi dilaksanakan
Dr. Utang Lain-Uang Muka Murabahah xxx
Kr. Piutang Murabahah
xxx
Sehingga untuk penentuan margin keuntungan didasarkan atas nilai
piutang (harga jual kepada pembeli setelah dikurangi uang muka).
c. Pesanan dibatalkan, jika uang muka yang dibayarkan oleh calon
pembeli lebihbesar daripada biaya yang telah dikeluarkan oleh penjual
dalam rangkamemenuhi permintaan calon pembeli maka selisihnya
dikembalikan oleh pembeli.
Dr. Utang Lain-Utang Muka Murabahah xxx
Kr. Pendapatan Operasional
Kr. Kas

xxx
xxx

d. Pesanan dibatalkan, jika uang muka yang dibayarkan oleh calon
pembeli lebihkecil daripada biaya yang telah dikeluarkan oleh penjual
dalam rangkamemenuhi permintaan calon pembeli, maka penjual
dapat meminta pembeliuntuk membayarkan kekurangannya dan
pembeli membayar kekurangannya.
Dr. Kas/Piutang

xxx
22

Dr. Utang Lain-Uang Muka Murabahah

xxx

Kr. Pendapatan Operasional

xxx

e. Jika perusahaan menanggung kekurangannya atau uang muka sama
denganbeban yang dikeluarkan.
Dr. Utang Lain-Uang Muka Murabahah xxx
Kr. Pendapatan Operasional

xxx

10. Acuan Alternatif
Sesuai dengan Fatwa DSN MUI 84 Tahun 2012 tentang metode
pengakuan keuntungan pembiayaan Murabahah, maka pada PSAK 102
(Revisi 2013) khusus untuk penjual memberikan alternatif perlakuan untuk
menggunakan metode anuitas pada pengakuan pendapatan. Dalam kondisi ini
penjual harus mengikuti PSAK 50 tentang laporan keuangan, PSAK 55
instrumen Keuangan tentang penyajian dan pengungkapan.
Acuan alternatif ini dapat digunakan oleh penjual jika memang mereka
tidak memiliki risiko yang signifikan terkait dengan kepemilikan persediaan
untuk transaksi murabahah, seperti: risiko perubahan harga persediaan,
keusangan atau kerusakan persediaan, biaya pemeliharaan dan penyimpanan,
serta risiko pembatalan pesanan pembelian secara sepihak. Penjual seperti ini
lebih terpapar risiko akibat pembiayaan berbasis jual beli.
Untuk menentukan apakah penjual menggunakan metode proporsional
atau anuitas, maka penjual harus melakukan penilaian satu per satu transaksi
dengan mempertimbangkan risiko terkait kepemilikan persediaan. Untuk itu
seluruh pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan terkait dengan
pembiayaan murabahah berbasis jual beli akan mengacu pada PSAK 50, 55,
dan 60.
a. Pada saat disepakati pembiayaan murabahah:
Dr. Piutang Murabahah
xxx
Cr. Aset Murabahah
xxx
Cr. Margin Murabahah Tanggungan
xxx
Dimana piutang Murabahah diakui sejumlah harga jual disepakati
ditambah

atau

dikurangi

dengan

pendapatan/beban

yang

dapat

diatribusikan langsung pada pembiayaan murabahah tersebut, aset
murabahah sesuai perolehan penjual dan margin murabahah tangguh
sebesar margin yang disepakati.
Jika terdapat pendapatan dan beban lainnya terkait langsung dengan
pembiayaan maka akan dicatat sebagai piutang murabahah. Pendapatan
23

dan beban ini nantinya akan diamortisasi sesuai dengan imbal hasil efektif
selama masa akad. Perlakuan amortisasi inilah yang membedakan dengan
metode proporsional.
b. Pada saat pembiayaan angsuran murabahah:
Dr. Kas
xxx
Cr. Piutang murabahah
xxx
Dr. Margin Murabahah tanggungan xxx
Dr/Cr. Piutang Murabahah
xxx
Cr. Pendapatan Murabahah
xxx
Piutang murabahah pada jurnal pertama akan berkurang sebesar
angsuran, sedangkan margin murabahah tangguhan akan diakui sebesar
amortisasi anuitas berdasarkan tingkat imbal hasil efektif. Pendapatan
murabahah akan diakui sebesar saldo efektif dikalikan imbal hasil efektif
dan tidak boleh diakui melebihi piutang murabahah yang diakui dalam
akad. Piutang murabahah pada jurnal kedua akan tergantung dari
perhitungan amortisasi.
Untuk diperhatikan bahwa penetapan harga jual murabahah adalah
sesuai dengan kesepakatan antara pembeli dan penjual dan harga tidak
boleh berubah hingga akad selesai. Perhitungan tingkat imbalan hasil
efektif hanya digunakan untuk melakukan perhitungan anuitas selama
masa akad, sesuai dengan harga yang telah disepakati. Hal ini ditegaskan
pada PAPSI 2013 bahwa pendapatan margin murabahah yang diakui tidak
boleh melampaui margin murabahah yang telah disepakati pada akad.
11. Penyajian
Piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang dapat
direalisasikan, yaitusaldo piutang murabahah dikurangi penyisihan
kerugian piutang. Keuntunganmurabahah tangguhan disajikan sebagai
pengurang (contra account) piutang murabahah.
12. Pengungkapan
Penjual mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi
murabahah, tetapi tidakterbatas pada:
a. Harga perolehan asset murabahah
b. Janji pemesanan dalam murabahah berdasarkan pesanan sebagai
kewajiban ataubukan; dan
c. Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang
Penyajian LaporanKeuangan Syariah.
2.4.1.2. Akuntansi Untuk Pembeli
24

1. Aset yang diperoleh melalui transaksi murabahah diakui sebesar biaya
perolehan tunai.
Utang yang timbul dari transaksi murabahah tangguh diakui sebagai
utang murabahah sebesar harga beli yang disepakati (jumlah yang wajib
dibayarkan). Selisih antara harga beli yang disepakati dengan biaya
peolehan tunai sebagai beban murabahah tangguhan.
Jurnal (apabila tidak ada uang muka)
Dr. Aset
xxx
Dr. Beban Murabahah Tangguhan
xxx
Cr. Utang Murabahah
xxx
2. Beban murabahah tangguhan diamortisasi secara proposional dengan porsi
utang murabahah yang dilunasi. Jurnal :
Dr. Utang Murabahah
xxx
Cr. Kas
xxx
Dr. Beban Murabah
xxx
Cr. Beban Murabahah tangguhan
xxx
3. Diskon pembelian yang diterima setelah akad murabahah, potongan
pelunasan dan potongan utangmurabahah diakui sebagai pengurang beban
murabahah tangguhan.
Jurnal untuk diskon pembelian yang diterima setelah akad murabahah :
Dr. Kas
xxx
Cr. Beban murabahah tangguhan
xxx
Jurnal untuk potongan pelunasan dan potongan utang murabahah :
Dr. Utang murabahah
xxx
Dr. Beban murabahah
xxx
Cr. Kas
xxx
Cr. Beban murabahah tangguhan
xxx
4. Denda yang diakibatkan kelalaian dalam melakukan kewajiban sesauai
dengan akad diakui sebagai kerugian.
Jurnal :
Dr. Kerugian-denda
xxx
Cr. Kas/Utang
xxx
5. Uang Muka
Pembeli membayarkan uang muka, jurnal :
Dr. Kerugian-denda
xxx
Cr. Kas/utang
xxx
Jika sudah memberikan uang muka, maka ketika pnyerahan barang,
jurnalnya :
Dr. Aset
xxx
Dr. Beban murabahah tangguhan
xxx
Cr. Uang muka
xxx
Cr. Utang murabahah
xxx
Jika pembeli membatalkan transaksi dan dikenakan biaya, maka diakui

25

sebagai kerugian. Apabila biaya yang dikenakan ebih kecil dari uang
muka, maka jurnalnya :
Dr. Kas
xxx
Dr. Kerugian denda
xxx
Cr. Uang muka
xxx
Sedangkan apabila biaya yang dikenakan lebih besar dari uang muka,
jurnalnya :
Dr. Kerugian
xxx
Cr. Uang muka
xxx
Cr. Kas/utang
xxx
6. Penyajian
Beban murabahah tangguhan disajikan sebagai pngurang (contra account)
uang murabahah.
7. Pengungkapan
Pembeli mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi-transaksi
murbahah, tetapi tidak terbatas pada :
a. Nilai tunai aset yang diperoleh dari transaksi murabahah
b. Jangka waku murabahah tangguh
c. Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang
penyajian laporan keuangan syariah.

26

2.5. Ilustrasi Akuntansi Akad Murabahah
2.5.1. Transaksi Tunai
Transaksi Murabahah Tunai Pesanan Mengikat
Transaksi (dalam ribuan rupiah)
1 Januari 2013
Penjual dan pembeli melakukan akad Aset Murabahah
- Kas/Utang
murabahah. Penjual membeli dari

Penjual

Pembeli

100.000
100.000

pihak lain barang yang akan dijual
kepada pembeli.
Penjual membeli persediaan dari pihak
lain dengna harga Rp 100.000,- dan
akan diserahkan pada 1 Juni 2013.
Pesanan mengikat
1 Maret 2013
Jika terjadi penurunan nilai sebelum
barang pesanan diserahkan kepada

Beban Penurunan
Nilai
5.000
- Aset Murabahah

5.000

pembeli sebesar Rp 5.000,1 Juni 2013
Penjual sesuai akad menyerahkan
barang kepada pembeli dengna nilai
Rp 115.000,-

Kas
115.000
- Pendapatan Margin
Murabahah
20.000
- Aset Murabahah
95.000

Aset
- Kas

115.000
115.000

27

2.5.2. Transaksi Non-Tunai
2.5.2.1. Tidak Menggunakan Akun Penjualan dan Harga Pokok Penjualan ketika Barang diserahkan (Biasa Digunakan dalam
Lembaga Keuangan)
Transaksi (dalam ribuan rupiah)
1 Januari 2013
Penjual dan pembeli melakukan akad Aset Murabahah
- Kas/Utang
murabahah pesanan mengikat. Penjual

Penjual

Pembeli

200.000
200.000

membeli dari pihak lain barang yang
akan dijual kepada pembeli.
Penjualan membeli persediaan dari
pihak lain dengan harga Rp 200.000,dan akan diserahkan pada tanggal 1
Juni 2013 akan dibayarkan dalam dua
kali angsuran.
1 Juni 2013
Penjual sesuai akad menyerahkan Piutang Murabahah 250.000
- Margin Murabahah
barang kepada pembeli dengna nilai
Tangguhan
50.000
Rp 250.000,- secara tidak tunai dan
- Aset Murabahah
200.000
akan dibayar selama 2 tahun . Nilai

Aset

200.000

Beban Muarabahh
Tangguahan
- Utang

50.000
250.000

tunai daria asset Rp 200.000,-. Dengan
2 kali angsuran.

(Margin murabahah tangguhan akan

28

diamortisasi sepanjang akad)

(Beban Murabahah tangguhan akan
diamortisasi sepanjang akad)

1 Juni 2014
Pembayaran sebesar Rp 125.000,-

Kas

125.000

Margin Murabahah
Tangguhan

25.000

- Piutang Murabahah
125.000
- Pendapatan Margin
Murabahah
25.000
1 Juni 2015
Pembayaran sebesar Rp 125.000,-

Kas

125.000

Margin Murabahah
Tangguhan

25.000

- Piutang Murabahah
125.000
- Pendapatan Margin
Murabahah
25.000

Utang Murabahah

125.000

Beban Murabahah

25.000

- Beban Murabahah
Tangguhan
- Kas

25.000
125.000

Utang Murabahah

125.000

Beban Murabahah

25.000

- Beban Murabahah
Tangguhan
- Kas

25.000
125.000

2.5.2.2. Transaksi Murabahah Tunai Pesanan Tidak Mengikat
Transaksi (dalam ribuan rupiah)
1 Januari 2013
Jika penjual memperoleh asset
murabahah dengan harga beli sebesar

Penjual
Aset Murabahah
- Kas/Utang

Pembeli

100.000
100.000

Rp 100.000,29

1 Maret 2013
Jika terjadi penurunan nilai sebelum
barang pesanan diserahkan kepada

Kerugian Penurunan
Nilai
5.000
- Aset Murabahah

5.000

pembeli sebesar Rp 5.000,Pesanan tidak mengikat
15 Maret 2013
Penjual sesuai akad menyerahakn
barang kepada pembeli dengan nilai
Rp. 115.000,- secara tunai

Kas
125.000
- Pendapatan Margin
Murabahah
- Aset Murabahah

Aset
- Kas

115.000
115.000

20.000
25.000

1 April 2013
Apabila diskon diberikan oleh pihak
ketiga setelah akad ditandatangani
oleh pembeli dan penjual, sebesar
Rp 5.000,- dan baiya pengembalian
diskon Rp 1.000,-.
 Pada saat menerima diskon dari

pihak ketiga
Jika merupakan hak pembeli:
- Saat diskon diterima
- Saat diskon dibayarkan kepada

Kas
- Utang
Utang
- Kas

4.000
4.000
4.000

Dana Kebijakan-Kas

4.000

Kas
- Aset

4.000
4.000

4.000

30

pembeli

-Dana Kebijakan-Dana

4.000

- Saat diskon tidak dapat
dibayarkan kepada pembeli
karena pembeli tidak diketahui
secara pasti keberadaannya

Jika merupakan hal penjual :
- Saaat diskon diterima dan

Kas
4.000
- Pendapatan Margin
Murabahah
4.000
Kas
4.000
- Pendapatan
Operasional Lainnya
4.000

diperjanjikan dalam akad
- Jika tidak dijanjikan dalam akad

31

2.5.2.3. Transaksi Murabahah jika Penjual adalah Produsen (Menggunakan Akun Harga Pokok Penjualan) Walaupun Kasus ini Tidak
diatur dalam PSAK 102, Penulis menganggap Perlu karena Akad Murabahah seperti ini Mungkin Saja Terjadi.
Transaksi

Penjual

1 Januari 2013
Penjual
menandatangani

akad Aset Murabahah
Kas/Utang
murabahah. Penjualan dilakukan secara
kredit

Rp

250.000

dengan

190.000
190.000

Pembeli
Uang Muka
Kas

10.000
10.000

harga

Kas
10.000
Utang Lain-Lain
sebelum akad Rp 10.000 serta menerima
Murabahah
perolehan Rp 200.000 dan diskon

10.000

uang muka Rp 10.000 dan akan
diserahkan kepada pembeli 1 Juni 2013.
Pembayaran akan dilakukan secara
angsuran 5 kali dalam 3 bulan.
1 Juni 2013
Untuk mencatat penyerahan

Piutang Murabahah 240.000
Utang Lain-Lain 10.000
Jurnal pengakuan laba tangguhan/jurnal
Penjualan
250.000
HPP
190.000
penutup
Aset Murabahah
190.000
Penjualan
250.000
HPP
190.000
Margin Murabahah
Tangguhan
60.000
1 September 2013
Pada saat pelunasan (dengan dicicil 5 Kas
48.000
Piutang Murabahah
48.000

Aset Nonkas
190.000
Beban Murabahah
Tangguhan
60.000
Utang Murabahah
240.000
Uang Muka
10.000

Utang Murabahah
Kas

48.000
48.000
32

kali) dan dilakukan amortisasi atas Margin Murabahah
Tangguhan
12.000
keuntungan dan biaya ditangguhkan
Pendapatan Margin
Murabahah
12.000

Beban Murabahah 12.000
Beban Murabahah
Tangguhan
12.000

33

1 Desember 2013
Jika pembeli tidak membayar karena Dana Kebajikan
1.000
Dana Kebajikankelalaiannya sehingga dikenakan denda
Denda
1.000
Rp 1.000.
Pada saat pelunasan (demnhan dicicil 5 Kas
48.000
Margin Murabahah
kali) dan dilakukan amortisasi atas
Tangguhan
12.000
keuntungan dan biaya ditangguhkan.
Piutang Murabahah
48.000
Pendapatan Margin
Murabahah
12.000
1 Februari 2013
Jika pembeli dapat melunasi lebih cepat
Margin Murabahah
dari yang seharusnya, maka penjual dapat Tangguhan
39.000
Kas
139.000
memberikan potongan. Pada saat
Piutang
pembayaran cicilan ke-3, dilunasi
Murabahah
144.000
Pendapatan Margin
lemudian dengan pemberian potongan
Murabahah
31.000
sebesar Rp 5.000 (31.000= 36.000-5.000)

Kerugian
Kas

1.000
1.000

Utang Murabahah 48.000
Beban Murabahah 12.000
Kas
48.000
Beban Murabahah
Tangguhan
12.000

Utang Murabahah 144.000
Beban Murabahah 31.000
Beban Murabahah
Tangguhan
36.000
Kas
139.000

Penyelesaian Utang Piutang Murabahah BermasalahRestrukturisasi Utang Piutang
Transaksi (dalam Rp 000)
Penjual/Kreditor
13 Mei 2015
Penjual dan pembeli melakukan akad Aset
1.000.000
Kas/Utang
1.000.000
murabahah. Penjual membeli dari pihak

Pembeli/Debitur

lain barang yang akan dijual kepada
pembeli dengan harga Rp 1.000.000.
34

Barang akan diserahkan pembeli tanggal
1 Juni 2015
1 Juni 2015,
Penjual menyerahkan

barang

kepada Piutang
Murabahah 1.250.000
pembeli dengan nilain Rp 1.250.000
Margin Murabahah
secara tidak tunai dan akan dibayar
Tangguhan
250.000
Aset
1.000.000
selama 10 x angsuran.

Aset
1.000.000
Beban Murabahah
Tangguhan
250.000
Utang Murabahah 1.250.000

Margin murabahah tangguhan akan Beban murabahah tangguhan akan
diamortisasi
proporsional

sepanjang
dengan

piutang

dilunasi
Jurnal setiap pembayaran angsuran
Kas
125.000
Margin Murabahah
Tangguhan
25.000
Piutang Murabahah
125.000
Pendapatan Margin
Murabahah
25.000
Sampai dengan angsuran ke-5, pembeli Piutang Murabahah 625.000
Margin Murabahah
dapat membayar angsuran dengan baik.
Tangguhan
(125.000)
Untuk angsuran berikutnya pembeli
500.000

akad diamortisasi

sepanjang

akad

yang proporsional dengan piutang yang
dilunasi
Utang Murabahah 125.000
Beban Murabahah 25.000
Beban Murabahah
Tangguhan
125.000
Kas
25.000
Utang Murabahah
625.000
Beban Murabahah
Tangguhan
(125.000)
500.000

mengalami penurunan kemampuan bayar,
sehingga penjual akan memutuskan akan
melakukan

restrukturisasi

utang

35

murabahahnya.
Posisi terakhir dari akun terkait dengan
utang piutang murabahah adalah:
Jika Restrukturisasi Utang Piutang Murabahah Bermasalah dalam Bentuk Pemberian Potongan Tagihan Murabahah
Penjual/Kreditur
memberi Margin murabahah
tangguhan
75.000
potongan tagihan sebesar Rp75.000,
Piutang murabahah
75.000
sehingga saldo piutang /utang menjadi
Apabila

Transaksi
penjual/kreditur

Rp550.000 (625.000 – 75.000)
Angsuran ke-6 dan seterusnya Rp110.000 Kas
110.000
Margin Murabahah
(550.000/5)
tangguhan
10.000
Piutang Murabahah
110.000
Pendapatan margin
murabahah
10.000
Apabila
penjual/kreditur
memberi Margin murabahah
tangguhan
125.000
potongan tagihan sebesar Rp175.000,
Kerugian
sehingga saldo piutang /utang menjadi restrukturisasi
50.000
Piutang murabahah
175.000
Rp450.000 (625.000 – 175.000)
Angsuran ke-6 dan seterusnya Rp90.000 Kas
90.000
Poutang murabahah
90.000
(450.000/5)
;
saldo
keuntungan

Pembeli/Debitur
Utang murabahah 75.000
Beban murabahah
tangguhan
75.000

Utang Murabahah 110.000
Beban Murabahah
10.000
Beban murabahah
tangguhan
10.000
Kas
110.000
Utang murabahah 175.000
Beban murabahah
tangguhan
125.000
Keuntungan
restrukturisasi
50.000
Utang murabahah
Kas

90.000
90.000

tangguhan dan beban tangguhan sudah 0
Jika Restrukturisasi Utang Piutang Murabahah Bermasalah dalam Bentuk Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah

36

Penjual/Kreditur
memberi Kas
62.500
Margin Murabahah
perpanjangan waktu, dimana seharusnya
tangguhan
12.500
debitur harus melunasi 5 angsuran lagi
Piutang Murabahah
62.500
Pendapatan margin
(angsuran keenam sampai kesepuluh)
murabahah
12.500
menjadi 10 kali angsuran untuk saldo
Apabila

Transaksi
penjual/kreditur

Pembeli/Debitur
Utang Murabahah 62.500
Beban Murabahah 12.500
Beban murabahah
tangguhan
12.500
Kas
62.500

utang/piutang yang ada. Maka besarnya
angsuran menjadi lebih kecil, yaitu
sebesar Rp62.500 (625.000/10) untuk
setiap kali angsuran
Jika Restrukturisasi Utang Piutang Murabahah Bermasalah dalam Bentuk Konversi Akad
Transaksi
Penjual/Kreditur
Apabila aset debitur dijual ke kreditur Aset
800.000
Kas
800.000
dengan nilai pasar yaitu Rp.800.000.
Pelunasan utang piutang
Margin Murabahah
tangguhan
125.000
Kas
625.000
Pendapatan margin
murabahah
125.000
Piutang Murabahah
625.000
Kemudian selisish nilai jual aset dengan Kas
175.000
Dana Syirkah temporer
utang dapat digunakan sebagai uang
atau pendaptan sewa
175.000
muka IMBT, bagian modal mudharabah

Kas
Aset

Pembeli/Debitur
800.000
800.000

Utang Murabahah 625.000
Beban Murabahah 125.000
Beban murabahah
Tangguhan
125.000
Kas
625.000
Investasi Musyarakah
atau beban sewa 175.000
Kas
175.000

37

musyarakah atau musyarakah menurun.
Perlakuan

akuntansi

nya

mengikuti

masing-masing jenis akad tersebut
Apabila aset debitur dijual ke kreditur Aset
550.000
Kas
550.000
dengan nilai pasar yaitu Rp.550.000
Pelunasan piutang
Margin Murabahah
tangguhan
125.000
Kas
550.000
Piutang Lain-lain
75.000
Pendapatan margin
murabahah
125.000
Piutang Murabahah
625.000
Apabila debitur melunasi sisanya
Kas
75.000
Piutang Lain-lain
75.000
Apabila kreditur membebaskan utang Kerugian
restrukturisasi
75.000
debitur
Piutang
75.000

Kas
Aset

550.000
550.000

Utang Murabahah 625.000
Beban Murabahah125.000
Beban murabahah
Tangguhan
125.000
Kas
550.000
Utang lain-lain
75.000
Utang lain-lain
75.000
Kas
75.000
Utang
75.000
Keuntungan
Restrukturisasi
75.000

38

BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Murabahah merupakan salah satu produk pembiayaan yang dikembangkan
oleh lembaga keuangan syariah. Murabahan adalah transaksi penjualan barang
dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati
oleh penjual dan pembeli. Pembayaran atas akad jual beli dapat dilakukan secara
tunai atau tangguh (ba’i muajjal). Hal yang membedahkan murabahah dengan
penjualan yang biasa kita kenal adalah penjual secara jelas memberi tahu kepada
pembeli berapa harga pokok barang tersebut dan berapa besar keuntungan yang
diinginkannya. Harga tidak boleh beruba sepanjang akad, kalau terjadi kesulitan
barang dapat dilakukan restrukturisasi dan kalau tidak membayar karena lalai
tidak dikenakan denda. Denda tersebut akan dianggap sebagai dana kebajikan.
Pembayaran uang muaka juga diperbolehkan.
Ada beberapa jenis akad murabahah seluruhnya halal asalkan memenuhi
rukun dan ketentuan syariah. Untuk biaya yang terkait dengan aset murabahah
boleh diperhitungkan sebagai beban asalkan itu adalah biaya langsung-menurut
jumhur ulama- atau biaya tidak langsung yang memberi nilai tambah pada aset
murabahah. Pelaksanaan akuntansi untuk murabahah diatur dalam PSAK 102.
3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Sri Nurhayati dan Wasilah. 2015. Akuntansi Syariah di Indonesia Edisi 4. Jakarta:
Salemba Empat
Wiyono, Slamet. 2006. Akuntansi Perbankan Syariah. Jakarta : PT. Grasindo
Rivai, Veithzal. 2008. Islamic Financial Management. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Karim, Adiwarman. 2004. Bank Islam (Analisis Fiqih dan Keuangan). Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
Harahap, Sofyan Syafri. 2004. Akuntansi Islam. Jakarta: PT. Bumi Aksara
39

40