You are on page 1of 35

Referat Hipertensi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi masalah pada hampir semua
golongan masyarakat baik di Indonesia maupun diseluruh dunia. Hipertensi didefinisikan
sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan
tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg (Rani, et all, 2009).
Di seluruh dunia , peningkatan tekanan darah diperkirakan menyebabkan 7,5 juta
kematian, sekitar 12,8% dari total kematian di seluruh dunia. Data epidemiologi
menunjukkan bahwa dengan makin meningkatnya populasi usia lanjut, maka jumlah
pasien dengan hipertensi kemungkinan besar bertambah, dimana baik hipertensi sistolik
maupun kombinasi hipertensi sitolik dan diastolik sering muncul pada lebih dari separuh
orang yang berusia > 65 tahun. Di Indonesia, prevalensi masyarakat yang terkena
hipertensi berkisar antara 6-15% dari total penduduk.
Hipertensi merupakan suatu penyakit sistemik yang dapat mempengaruhi kinerja
berbagai organ. Hipertensi juga menjadi suatu faktor resiko penting terhadap terjadinya
penyakit seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung dan stroke. Apabila tidak
ditanggulangi secara tepat, akan terjadi banyak kerusakan organ tubuh. Hipertensi disebut
sebagai silent killer karena dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ tanpa gejala
yang khas. Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang paling sering
diderita olah lansia dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah stroke dan
tuberculosis (Kemenkes RI, 2010).
Penderita hipertensi yang tidak terkontrol sewaktu-waktu bisa jatuh ke dalam keadaan
gawat darurat. Diperkirakan sekitar 1-8% penderita hipertensi berlanjut menjadi “krisis
hipertensi” dan banyak terjadi pada usia sekitar 30-70 tahun. Namun, krisis hipertensi
jarang ditemukan pada penderita dengan tekanan darah normal tanpa penyebab
sebelumnya. Pengobatan yang baik dan teratur dapat mencegah insiden krisis hipertensi
maupun komplikasi lainnya menjadi kurang dari 1%.(WHO, 2010)

Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Panti Werdha Kristen Hana, Ciputat
Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015

1

Referat Hipertensi

Pentingnya teknik pemeriksaan tekanan darah sangat berperan dalam penegakan
diagnosis hipertensi. Pengukuran tekanan darah hendaknya tidak hanya dilakukan 1 kali
kunjungan saja dalam menilai hipertensi, dan terlebih dikarenakan tekanan darah juga
dipengaruhi oleh beberapa keadaan seperti aktivitas fisik, adanya penyakit comorbid yang
juga dapat menimbulkan hipertensi sekunder, dan untuk menyingkirkan adanya
kemungkinan white coat hypertension maka teknik pemeriksaan tekanan darah sangatlah
penting dilakukan secara tepat. Sedangkan untuk mendapatkan hasil pengendalian
tekanan darah yang optimal, maka evaluasi penderita hipertensi tak kalah pentingnya
dilakukan dengan tepat pula.

Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Panti Werdha Kristen Hana, Ciputat
Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015

2

Referat Hipertensi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Hipertensi
Hipertensi atau lebih dikenal dengan penyakit darah tinggi adalah suatu keadaan
dimana seseorang mengalami peningkatan darah diatas normal yaitu lebih dari 140/ 90
mmHg (Yogiantoro, 2014). Pada waktu pembacaan tekanan darah, bagian atas adalah
tekanan darah adalah tekanan sistolik, sedangkan bagian bawah adalah tekanan diastolik.
Tekanan sistolik (bagian atas) adalah tekanan puncak yang tercapai pada waktu jantung
berkontraksi dan memompakan darah melalui arteri, sedangkan tekanan diastolik adalah
tekanan pada waktu jantung beristirahat di antara pemompaan. Tekanan darah yang
ideal adalah 120/80 mmHg.

2.2 Epidemiologi
Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan makin meningkatnya populasi usia
lanjut, maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar bertambah, dimana
baik hipertensi sistolik maupun kombinasi hipertensi sitolik dan diastolik sering muncul
pada lebih dari separuh orang yang berusia > 65 tahun. Di Indonesia berdasarkan survey
RISKESDAS tahun 2007, pada penduduk usia diatas 50 tahun, penderita hipertensi
ditemukan lebih banyak pada wanita yaitu 37% bila dibanding dengan pria yaitu 28%.
Pada usia diatas 25 tahun, ditemukan 29% pada wanita dan 27% pada pria. Hipertensi
primer merupakan 95% dari seluruh kasus hipertensi(Mohani, 2014).

2.3 Klasifikasi
I.

Berdasarkan etiologi
 Hipertensi Primer / esensial
Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Merupakan kasus hipertensi
terbanyak. 90% dari semua penyakit hipertensi merupakan hipertensi

esensial (Tanto-Liwang et al., 2014).
Hipertensi Sekunder

Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Panti Werdha Kristen Hana, Ciputat
Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015

3

Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC-7.2003 Tabel 2. Berdasarkan derajat hipertensi  Joint National Commitee on Prevention. panyakit parenkim ginjal. 2003) Tabel 1.1999 Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. II.Referat Hipertensi Diakibatkan suatu penyakit atau kelainan mendasari. Klasifikasi Derajat Hipertensi berdasarkan JNC-7 Klasifikasi Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah (mmHg) (mmHg) Normal <120 Dan <80 Prehipertensi 120 – 139 Atau 80 – 89 Hipertensi derajat 1 140 – 159 Atau 90 – 99 Hipertensi derajat 2 ≥160 Atau ≥ 100 Diastolik Sumber: JNC-7. 2014). feokromositoma. Klasifikasi Derajat Hipertensi berdasarkan WHO-ISH 1999 Klasifikasi Tekanan Darah Sistolik (mmHg) Tekanan Darah Diastol (mmHg) Grade 1 140 – 159 90 – 99 Grade 2 160 – 179 100 – 109 Grade 3 ≥ 180 ≥ 110 Sumber: WHO-ISH.. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 4 . seperti stenosis arteri renalis. hiperaldosteronisme. dan sebagainya (Tanto-Liwang et al. Detection.

Faktor resiko yang irreversibel adalah usia. Faktor genetik Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. 2008). konsumsi makanan yang mengandung natrium tinggi. Tekanan sistolik meningkat sesuai dengan usia.Referat Hipertensi 2. ras dan riwayat keluarga.4 Faktor Resiko Faktor resiko hipertensi dapat dibagi menjadi dua. Sedangkan faktor resiko yang bersifat reversibel adalah obesitas. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 5 . Hipertensi sistolik isolasi merupakan jenis hipertensi yang paling sering ditemukan pada orangtua (Habermann dan Ghosh.  2008). sedangkan tekanan diastolik tidak berubah mulai dekade ke-5. kurang aktivitas. yaitu faktor resiko reversibel dan irreversibel.  Usia Tekanan darah menigkat seiring dengan berjalannya usia. merokok dan sindroma metabolik (Habermann dan Ghosh.

Obesitas Asupan Garam Ion natrium mengakibatkan retensi air.Referat Hipertensi Hipertensi merupakan suatu kondisi yang bersifat menurun dalam suatu keluarga. hipertensi dapat disebabkan Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Hipertensi adalah salah satu faktor risiko terpenting pada penyakit jantung koroner dan cerebrovascular accidents. Kelompok individu yang mengkonsumsi garam dalam jumlah banyak lebih rentan terkena resiko mengalam hipertensi dibandingkan dengan individu yang hanya mengkonsumsi  sedikit garam (Habermann dan Ghosh. atau lebih jarang penyempitan arteria renalis. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 6 . Pada pria sering kali dipicu oleh perilaku tidak sehat seperti    merokok. dan kelebihan berat badan (Habermann dan Ghosh. peningkatan ini mempengaruhi meningkatnya tekanan darah secara bertahap. 2008). 2008). biasanya oleh sebuah plak ateromatosa (hipertensi renovaskular). Rokok Zat – zat kimia pada rokok dapat menyebabkan kerusakan pada dinding arteri yang menyebabkan penyempitan arteri sehingga dapat meningkatkan  tekanan darah. dan juga memperkuat efek vasokonstriksi noradrenalin. 2008). Walaupun jarang. Sebagian besar sisa hipertensi essensial ini disebabkan oleh penyakit ginjal. (Habermann dan Ghosh. Jenis Kelamin Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi dari pada wanita. Anak dengan orang tua hipertensi memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada anak dengan orang tua  yang tekanan darahnya normal (Habermann dan Ghosh. 2. 2008). Stres psikis Stres meningkatkan aktivitas saraf simpatis. dan secara keseluruhan semakin banyak alkohol yang diminum semakin tinggi tekanan darah (Habermann dan Ghosh. 2008).5 Etiologi Sembilan puluh sampai 95% hipertensi bersifat idiopatik (hipertensi esensial). Alkohol Alkohol memiliki pengaruh terhadap tekanan darah. sehingga volume darah bertambah dan menyebabkan daya tahan pembuluh meningkat.

tetapi lebih sering pada orang pengidap hipertensi jinak. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 7 . hiperplasia adrenal kongenital). menyebabkan kematian dalam 1 – 2 tahun. yang ditandai dengan hipertensi berat (dengan tekanan diastol > 120 mmHg). seperti aldosteronisme primer. makanan yang mengandung tiramin seperti keju. baik esensial maupun sekunder. aldosteronisme primer. Hormon eksogen (glukokortikoid . atau penyakit lain.Referat Hipertensi oleh penyakit kelenjar adrenal. dan simpatomimetik. sindrom Cushing. Keadaan ini dapat timbul pada orang yang sebelumnya normotensi. inhibitor monoamin oksidase) Feokromositoma Akromegali Hipotiroidisme (miksedema) Hipertiroidisme (tirotoksikosis) Akibat kehamilan Kardiovaskular Koarktasio aorta Poliarteritis nodosa Peningkatan volume intravaskular Peningkatan curah jantung Rigiditas aorta Neurologik Psikogenik Peningkatan tekanan intrakranium Apnea tidur Stress akut. dengan atau tanpa papil edema. gagal ginjal. feokromositoma. yoghurt. yang disebut hipertensi maligna atau hipertensi dipercepat (accelerated hypertension). Sindrom klinis ini. tuak/ alkohol . estrogen [termasuk akibat kehamilan dan kontrasepsi oral]. Sekitar 5% pengidap hipertensi memperlihatkan peningkatan cepat tekanan darah yang apabila tidak diterapi. serta perdarahan dan eksudat retina. Tabel 3 Jenis dan Penyebab Hipertensi (Sistolik dan Diastolik) Hipertensi esensial (90 %– 95% kasus) Hipertensi sekunder Ginjal Glomerulonefritis akut Penyakit ginjal kronis Penyakit ginjal polikistik Stenosis arteria renalis Vaskulitis ginjal Tumor penghasil renin Endokrin Hiperfungsi adrenokorteks (sindrom Cushing. termasuk pembedahan Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana.

seperti penggunaan estrogen.6 Patofisiologi A. hipertensi vaskular Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Penyebab spesifik diketahui. B. kondisi dan kebiasaan. Hipertensi primer Beberapa teori patogénesis hipertensi primer meliputi :  Aktivitas yang berlebihan dari sistem saraf simpatik  Aktivitas yang berlebihan dari sistem RAA  Retensi Na dan air oleh ginjal  Inhibisi hormonal pada transport Na dan K melewati dinding sel pada ginjal dan pembuluh darah  Interaksi kompleks yang melibatkan resistensi insulin dan fungsi endotel Sebab-sebab yang mendasari hipertensi esensial masih belum diketahui. bertambahnya usia. Hipertensi Sekunder Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang terjadi sebagai akibat suatu penyakit. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 8 . dan lain – lain. kurang olahraga. Patofisiologi hipertensi sekunder Hipertensi sekunder atau hipertensi renal terdapat sekitar 5 % kasus. Umumnya penyebab Hipertensi sekunder dapat disembuhkan dengan pengobatan kuratif. sehingga penderita dapat terhindar dari pengobatan seumur hidup yang seringkali tidak nyaman dan membutuhkan biaya yang mahal (Cotran . Yakni mereka memiliki resistensi yang semakin tinggi (kekakuan atau kekurangan elastisitas) pada arteri-arteri yang kecil yang paling jauh dari jantung (arteri periferal atau arterioles).Referat Hipertensi Sumber : Cotran et all. obesitas. Namun sebagian besar disebabkan oleh ketidaknormalan tertentu pada arteri. 2007). penyakit ginjal. asupan garam berlebih. 2007 2. Terdapat 10% orang menderita apa yang dinamakan hipertensi sekunder. hal ini seringkali berkaitan dengan faktor-faktor genetik. Karena itu umumnya hipertensi ini sudah diketahui penyebabnya.

hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan. terutama pada penyakit ginjal menahun. 2) Penyakit vaskuler Pada keadaan ini terjadi iskemi yang kemudian merangsang sistem renin angiotensin aldosteron. Retensi natrium terjadi karena adanya peningkatan reabsorbsi natrium di duktus koligentes. a. 3) Gagal ginjal kronik Hipertensi yang terjadi karena adanya retensi natrium. feokromositoma. Secara klinis sulit untuk membedakan dua keadaan tersebut. Hipertensi pada penyakit ginjal dapat terjadi pada penyakit ginjal akut maupun penyakit ginjal kronik.Referat Hipertensi renal. peningkatan sistem Renin Angiotensinogen Aldosteron akibat iskemi relatif karena kerusakan regional. Hipertensi pada penyakit ginjal Penyakit ginjal dapat meningkatkan tekanan darah dan sebaliknya hipertensi dalam jangka waktu yang lama dapat mengganggu ginjal. Makin tinggi tekanan darah dalam waktu lama makin berat komplikasi yang mungkin ditimbulkan. aktifitas saraf simpatik Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Hipertensi pada penyakit ginjal dapat adanya retensi natrium yang dikelompokkan dalam : 1) Penyakit glumerolus akut Hipertensi terjadi karena menyebabkan hipervolemik. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 9 . dan lain – lain. Beratnya pengaruh hipertensi terhadap ginjal tergantung dari tingginya tekanan darah dan lamanya menderita hipertensi. koarktasio aorta. dan sindrom cushing. Peningkatan ini dimungkankan abibat adanya retensi relatif terhadap Hormon Natriuretik Peptida dan peningkatan aktivitas pompa Na – K – ATPase di duktus koligentes. hiperaldosteronisme primer. baik pada kelainan glumerolus maupun pada kelainan vaskular.

pangaturan keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit. revaskularisasi dengan tindakan bedah ataupun angioplasti. Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. hiperparatiroidis sekunder. Istilah nefropati iskemik menggambarkan suatu keadaan terjadinya penurunan fungsi ginjal akibat adanya stenosis arteri renalis. Sedangkan hipertensi renovaskular adalah hipertensi yang terjadi akibat fisiologis adanya stenosis arteri renalis. dan pemberian eritropoetin. Hiperaldosteronisme primer adalah sindrom yang disebabkan oleh hipersekresi aldesteron yang tidak terkendali yang umumnya berasal dari kelenjar korteks adrenal. adenoma atau karsinoma adrenal. Sindrom ini disebabkan oleh hiperplasi kelenjar korteks adrenal. Hipertensi renovaskular merupakan penyebab tersering dari hipertensi sekunder. 4) Penyakit glumerolus kronik Sistem Renin-Angiotensinogen-Aldoteron (RAA) merupakansatu sistem hormonal enzimatik yang bersifat multikompleks dan berperan dalm naiknya tekanan darah. Jika terjadi gangguan fungsi ginjal. dan alkalosis metabolik. Hiperaldosteronisme primer secara klinis dikenal dengan triad terdiri dari hipertensi. c.Referat Hipertensi yang meningkat akibat kerusakan ginjal. kelainan ini akan menetap walaupun tekanan darahnya dapat dikendalikan dengan pengobatan yang meliputi medikamentosa antihipertensi. b. hipokalemi. Hipertensi pada kelainan endokrin Salah satu penyakit yang disebabkan oleh kerusakan endokrin adalah aldosteronisme primer (Sindrom Conn). Stenosis arteri renalis adalah suatu keadaan terdapatnya lesi obstruktif secara anatomik pada arteri renalis. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 10 . Diagnosa hipertensi renovaskular penting karena kelainan ini potensial untuk disembuhkan dengan menghilangkan penyebabnya yaitu stenosis arteri renalis. Hipertensi pada penyakit renovaskular.

dengan denyut nadi arteri femoralis lemah atau tidak ada. berkeringat atau edema paru karena gagal jantung. Sebagian besar berasal dari kelenjar adrenal. dan hanya 10 % terjadi di tempat lain dalam rantai simpatis. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 11 . Tanda – tanda yang mencurigai adanya feokromositoma yaitu hipertensi. Feokromositomia dicurigai jika tekanan darah berfluktuasi tinggi. sakit kepala. g. Hipertensi ini dapat menetap bahkan setelah reseksi bedah yang berhasil. hipermetabolisme. Koartasio aorta Koarktasi aorta paling sering mempengaruhi aorta pada distal dari arteri subklavia kiri dan menimbulkan hipertensi pada lengan dan menurunkan tekanan pada kaki. Feokromositoma Feokromositoma adalah salah satu hipertensi endokrin yang patut dicurigai apabila terdapat riwayat dalam keluarga.Kedaruratan hipertensi dapat menjadi komplikasi dari preeklampsia sebagaimana yang Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. dan hiperglikemia. terutama jika hipertensi terjadi lama sebelum operasi. disertai takikardi. janin dan neonatus. e. hiperhidrosis.Referat Hipertensi d. Hipertensi adrenal kongenital Hipertensi adrenal kongenital merupakan penyabab terjadinya hipertensi pada anak (jarang terjadi). Hipertensi pada kehamilan Hipertensi pada kehamilan merupakan penyebab utama peningkatan morbiditas dan mortalitas maternal. 10 % dari tumor ini ganas dan 10 % adenoma adrenal adalah bilateral. h. Sindrom Cushing Sindrom cushing disebabkan oleh hiperplasi adrenal bilateral yang disebabkan oleh adenoma hipofisis yang menghasilkan Adenocorticotropin Hormone (ACTH). Feokromositomia disebabkan oleh tumor sel kromatin asal neural yang mensekresikan katekolamin. f.

retinopati. Penggunaan estrogen pascamenopause bersifat kardioproteksi dan tidak meningkatkan tekanan darah.7 Patogenesis Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Obat lain yang terkait dengan hipertensi termasuk siklosporin. Penelitian observasi pasien hipertensi kronik yang ringan didapatkan risiko kehamilan preaklampsia 10 – 25 %. Penggunaan obat yang paling banyak berkaitan dengan hipertensi adalah pil kontrasepsi oral (OCP). eritopoietin. Risiko bertambah pada hipertensi kronik yang berat pada trimester pertama dengan didapatnya preaklampsia sampai 50 %. gagal organ.5 %. kehamilan prematur kurang dari 37 minggu 12 – 34 %. 5% perempuan mengalami hipertensi sejak mulai penggunaan. dan gagal ginjal akut dapat terjadi. Hipertensi akibat dari penggunaan obat – obatan.7 – 1. Selain itu risiko hipertensi seperti gagal jantung. penyakit serebrovaskuler. prematuritas dan kematian intrauterin. perdarahan serebral. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 12 . Pada 50 % tekanan darah akan kembali normal dalam 3 – 6 sesudah penghentian pil.Perempuan hamil dengan hipertensi mempunyai risiko yang tinggi untuk terjadinya komplikasi yang berat seperti abruptio plasenta. ensepalopati. dan hambatan pertumbuhan janin 8 – 16 %. abruptio 0. koagulasi intravaskular. Sampai sekarang yang belum jelas apakah tekanan darah yang terkontrol secara agresif dapat menurunkan terjadinya eklampsia. begitupula dengan perempuan yang pernah mengalami hipertensi selama kehamilan. dan kokain. Terhadap janin. Perempuan usia lebih tua (> 35 tahun)lebih mudah terkena.Referat Hipertensi terjadi pada hipertensi kronik. i. 2. mengakibatkan risiko retardasi perkembangan intrauterin.

Tetapi tubuh dapat mengkompensasi agar cardiac output tidak meningkat yaitu dengan meningkatkan resistensi perifer. Cardiac output berhubungan dnegan hipertensi. 2014). yaitu baik melalui peningkatan cairan (preload) atau peningkatan kontraktilitas dari efek stimulasi saraf simpatis. Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Hipertensi terjadi karena kelainan dari salah satu faktor tersebut (Kaplan. 2006). Gambar 1. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 13 .Referat Hipertensi Tekanan darah dibutuhkan untuk mengalirkan darah dalam pembuluh darah yang dilakukan oleh aktivitas memompa jantung (cardiac output) dan tonus arteri (peripheral resistent). 2006). Banyak sekali faktor yang mempengaruhi cardiac output dan resistensi perifer. Selain itu konsumsi natrium berlebih dapat menyebabkan hipertensi karena peningkatan volume cairan dalam pembuluh darah dan preload sehingga meningkatkan cardiac ouput (Kaplan. Faktor – faktor yang berpengaruh pada tekanan darah (Mohani. peningkatan cardiac output secara logis timbul dari dua jalur. Faktor – faktor ini menentukan besarnya tekanan darah.

Gejala seperti sakit kepala.8 Manifestasi Klinis Seperti penyakit degeneratif pada lanjut usia lainnya. nyeri tengkuk. gangguan penglihatan. 2014). pusing. Gejala lain yang mungkin timbul antara lain mual muntah.Referat Hipertensi 2. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 14 . komplikasi atau penyakit yang menyertai. Seringkali yang terlihat adalah gejala akibat penyakit. hipertensi sering tidak memberikan gejala apapun atau gejala yang timbul tersamar (insidious) atau tersembunyi (occult). sesak nafas. dan perasaan lelah seringkali ditemukan pada pasien dengan hipertensi. Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. bahkan sampai penurunan kesadaran(Mohani.

hematuri  Riwayat pengobatan antihipertensi sebelumnya (Yogiantoro.9 Diagnosis  Anamnesis Anamnesis yang perlu ditanyakn kepada penderita hipertensi meliputi :  Lama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah  Indikasi adanya hipertensi sekunder  Faktor – faktor resiko  Gejala kerusakan organ o Otak dan mata : sakit kepala. gangguan penglihatan. sesak. hematokrit. vertigo.10 Tatalaksana Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah : o Target tekanan darah untuk populasi umum (tanpa diabetes atau gagal ginjal kronik) pada lansia (umur ≥60 tahun) <150/90 mmHg. leukosit. Evaluasi penyakit penyerta kerusakan organ target serta kemungkinan hipertensi sekunder Umumnya untuk penegakkan diagnosis hipertensi diperlukan pengukuran tekanan darah minimal 2 kali dengan jarak 1 minggu bilan tekanan darah <160 / 100 mmHg (Yogiantoro.  Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang pasien hipertensi terdiri dari : o o o o o o o Tes darah rutin (hemoglobin. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 15 . asam urat. 2014). kalium Urinalisis Elektrokardiogram (Yogiantoro. 2.2014). 2014). bengkak di kaki o Ginjal : poliuri. defisit neurologis o Jantung : palpitasi. trombosit) Glukosa darah Kolestrol total serum Kolestrol LDL dan HDL serum Trigliserida serum. untuk pasien < 60 tahun <140/90 Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. 2014).Referat Hipertensi 2. TIA.  Pemeriksaan Fisik  Pemeriksaan tekanan darah o Pengukuran rutin di kamar pemeriksa o Pengukuran 24 jam ( Ambulatory Blood Pressure Monitoring ABPM (Yogiantoro. kreatinin. nyeri dada.

maka langkah selanjutnya adalah meningkatakan dosis obat tersebut. terapi dimulai secara bertahap dan target tekanan darah tercapai secara progresif dalam beberapa minggu. Dianjurkan untuk menggunakan obat antihipertensi dengan masa kerja panjang atau yang memberikan efikasi 24 jam dengan pemberian sekali sehari. atau berpindah ke antihipertensi lain dengan dosis rendah. Terpai nonfarmakologis harus dillaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan tujuan menurunkan tekanan darah dan mengendalikan faktor – faktor resiko serta penyakit penyerta lainnya. Pilihan apakah memulai terapi dengan satu jenis obat antihipertensi atau dengan kombinasi tergantung pada tekanan darah awal dan ada tidaknya komplikasi. Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfarmakologis dan farmakologis. a) Angiotensin Converting Enzyme Inhibitors (ACEi) Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Untuk individu beresiko tinggi ( diabetes dan atau gagal ginjal) <140/90 mmHg. Jika terapi dimulai dengan satu jenis obat dan dalam dosis rendah.Referat Hipertensi mmHg. tetapi terapi kombinasi dapat meningkatkan biaya pengobatan dan menurunkan kepatuhan pasien karena jumlah obat yang harus diminum bertambah. A. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 16 . Sebagian besar pasien memerlukan kombinasi obat antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah. dan kemudian tekanan darah belum mencapai target. Terapi farmakologis Jenis – jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi antara lain : o o o o o o o o o ACE inhibitors Angiotensin receptor blocker (ARB) Beta-blockers Calcium channel blockers (CCBs) Diuretics Alpha-blockers Alpha-beta blockers Clonidine Minoxidil Untuk sebagian besar pasien hipertensi. pengobatan terhadap faktor resiko atau kondisi penyerta lainnya seperti diabetes melitus atau dislipidemia juga harus dilaksanakan hingga mencapai target terapi maisng – masing kondisi. 2014) Selain pengobatan hipertensi. o Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular o Menghambat laju penyakit ginjal proteinuri (Mohani.

Benazepril. Fosinopril. Valsartan. Candesartan. mengurangi tekanan darah dengan melebarkan pembuluh-pembuluh darah. Propranolol. Contoh-contoh dari obat-obat ARB termasuk:  Losartan. c) Beta-blockers Beta blockers adalah obat-obat yang menghalangi norepinephrine dan epinephrine (adrenaline) mengikat pada reseptor-reseptor beta pada saraf-saraf. dan mungkin menyempitkan saluran-saluran udara dengan menstimulasi otot-otot yang mengelilingi saluran-saluran udara untuk berkontraksi. pembuluh-pembuluh darah membesar (melebar) dan tekanan darah berkurang. pembuluh-pembuluh membesar atau melebar.Referat Hipertensi ACE inhibitors adalah obat-obat yang memperlambat aktivitas dari enzim ACE. beta blockers mengurangi denyut jantung. Metoprolol. Captopril. dan tekanan darah berkurang. Acebutolol. Beta blockers terutama menghalangi reseptor-reseptor beta 1 dan beta 2. Contoh-contoh dari beta-blockers termasuk:  Atenolol. b) Angiotensin receptor blocker (ARB) Angiotensin II receptor blockers (ARBs) adalah obat-obat yang menghalangi aksi dari Angiotensin II dengan mencegah Angiotensin II mengikat pada reseptorreseptor Angiotensin II pada pembuluh-pembuluh darah. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 17 . Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Sebagai akibatnya. dan Bisoprolol . jadi menyempitkan pembuluh-pembuluh). Betaxolol. Dengan menghalangi efek-efek dari norepinephrine dan epinephrine. dan lain – lain. Quinapril. Nadolol. Sebagai akibatnya. Perindopril. Ramipril. Lisinopril. dan Moexipril. Trandolapril. yang mengurangi produksi dari Angiotensin II (kimia yng sangat kuat yang menyebabkan otot-otot yang mengelilingi pembuluh-pembuluh darah untuk berkontraksi. Contoh-contoh dari ACE inhibitors termasuk:  Enalapril. Irbesartan.

Calcium channel blocker menurunkan tekanan darah dengan mengurangi kekuatan dari aksi memompa jantung (kontraksi jantung) dan mengendurkan sel-sel otot pada dinding-dinding dari arteri-arteri. Dua tipe lain dari calcium channel blockers dirujuk sebagai agen-agen nondihydropyridine. Nisoldipine. serta Metolazone. Contoh-contoh dari obat ini termasuk:  Verapamil dan Diltiazem. dll. Diuretics yang paling umum digunakan untuk merawat hipertensi termasuk:  Hydrochlorothiazide. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 18 . yang tidak memperlambat denyut jantung atau menyebabkan denyut-denyut atau irama-irama jantung lain yang abnormal (cardiac arrhythmias). Tiga tipe utama dari calcium channel blockers digunakan. dosisdosis yang kecil dari diuretics digunakan dalam kombinasi dengan obat-obat antihipertensi lain untuk meningkatkan efek dari obat-obat lain. Felodipine. Sustained release Nifedipine. Kombinasi dari triamterene dan hydrochlorothiazide. Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Mereka bekerja pada tabung-tabung kecil (tubules) dari ginjal-ginjal untuk mengeluarkan garam dari tubuh. Lebih seringkali. Air (cairan) juga mungkin dikeluarkan bersama dengan garam. Calcium diperlukan oleh otot-otot ini untuk berkontraksi. Satu tipe adalah dihydropyridines. e) Diuretics Diuretics adalah diantara obat-obat paling tua yang dikenal untuk merawat hipertensi. bagaimanapun.Referat Hipertensi d) Calcium channel blockers (CCBs) Calcium channel blockers menghalangi gerakan dari calcium kedalam sel-sel otot dari jantung dan arteri-arteri. Loop diuretics furosemide dan torsemide. Contoh-contoh dari obat-obat ini termasuk:  Amlodipine . Diuretics mungkin digunakan sebagi perawatan obat tunggal (monotherapy) untuk hipertensi.

seperti yang dilakukan beta-blockers. Contoh-contoh dari alpha-blockers termasuk:  Terazosin dan Doxazosin g) Alpha-beta blockers Alpha-beta-blockers bekerja dengan cara yang sama seperti alpha-blockers namun juga memperlambat denyut jantung.Referat Hipertensi Untuk individu-individu yang alergi pada obat-obat sulfa. h) Clonidine Clonidine (Catapres) adalah penghalang sistim saraf. adalah opsi yang baik. Contoh-contoh dari alpha-beta blockers termasuk:  Carvedilol dan labetalol. loop diuretic. denyut jantung melambat dan tekanan darah berkurang. Penghalang-penghalang sistim saraf bekerja dengan menstimulasi reseptor-reseptor pada saraf-saraf di otak yang mengurangi traNnimisi dari pesan-pesan dari saraf-saraf dalam otak ke sarafsaraf pada area-area lain dari tubuh. Sebagai akibatnya. Catat bahwa diuretics kemungkinan harus tidak digunakan pada wanita-wanita hamil. Sebagai akibatnya. ethacrynic acid. f) Alpha-blockers Alpha-blockers menurunkan tekanan darah dengan menghalangi reseptor-reseptor alpha pada otot halus dari arteri-arteri peripheral diseluruh jaringan-jaringan tubuh. lebih sedikit darah yang dipompa melalui pembuluh-pembuluh dan tekanan darah menurun. Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 19 .

Referat Hipertensi i) Minoxidil Minoxidil adalah vasodilator. Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 20 . Arteri-arteri peripheral kemudian melebar dan tekanan darah berkurang. Vasodilators adalah pengendur-pengendur (relaxants) otot yang bekerja secara langsung pada otot halus dari arteri-arteri periferal diseluruh tubuh.

Obat inisial dipilih berdasarkan1 o HT tanpa compelling indication  Pada HT stage I dapat diberikan diuretic. Pada hipertensi stage II. penyakit reseptor beta.(Longo. atau  kombinasi. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 21 . et all : 2012) Pemilihan rencana terapi farmakologis untuk pasien Hipertensi 1. biasanya golongan diuretic.Referat Hipertensi Gambar 2. et all : 2009) Kondisi risiko tinggi dengan Obat-obat yang direkomendasikan Diuretik compelling Beta ACE-I bloker Antagonis CCB Antagonis reseptor A II Aldosteron V V indication Gagal jantung Pasca infark V V V V V V myocard Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. dapat diberikan kombinasi 2 obat. tiazid dan penghambat ACE atau antagonis reseptor A II atau penyekat reseptor beta atau penghambat kalsium. Tabel 4. Golongan terapi farmakologis Hipertensi. Pertimbangkan pemberian penghambat ACE. penghambat kalsium. Terapi hipertensi tanpa compelling indication (Rani.

trigliserida tinggi ≥150 mg/dL. Kondisi khusus lain: o Obesitas dan sindrom metabolic (terdapat 3 atau lebih keadaan berikut: lingkar pinggang laki-laki >102cm atau perempuan >89 cm. kolesterol HDL rendah <40 mg/dL pada laki-laki atau <50 mg/dL pada perempuan) modifikasi gaya hidup yang inteNniif dengan pilihan terapi utama golongan ACE-I. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 22 . dan pemberian aspirin Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana.Referat Hipertensi Risiko tinggi V V V V V V V V V V penyakit coroner DM Penyakit ginjal V kronik Pencegahan stroke V V berulang o HT dengan compelling indication Bila target tidak tercapai maka dilakukan optimalisasi dosis atau ditambahkan obat lain sampai target tekanan darah tercapai. darah yang agresif termasuk penurunan BB. restriksi asupan natrium. Pada penggunaan ACE-I atau antagonis reseptor A II: evaluasi kreatinin dan kalium serum. 2. bila terdapat peningkatan kreatinin >35% atau rimbul hiperkalemi harus dihentikan 3. toleraNnii glukosa terganggu dengan gula darah puasa ≥110 mg/dL. tatalaksana factor risiko lain. hidralazin dan minoksidil. dan terapi dengan semua kelas antihipertensi kecuali vasodilator langsung. Pilihan lain: antagonis reseptor A II. CCB. tekanan darah minimal 130/85 mmHg. o Penyakit arteri perifer semua kelas antihipertensi. Pertimbangkan untuk koNniultasi ke spesialis hipertensi. dan penghambat A o Hipertrofi ventrikel kiri tatalaksana tek.

Gambar 3. dan vasodilator. Penghambat ACE dan antagonis reseptor A tidak boleh digunakan selama kehamilan. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 23 . et all : 2010) Kombinasi obat yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien adalah : o o o o Diuretika dengan ACEI atau ARB CCB dan BB CCB dan ACEI atau ARB CCB dan diuretika Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Penggunaan obat antihipertensi lain dengan mempertimbangkan penyakit penyerta o Kehamilan  pilihan terapi adalah golongan metildopa. dimulai dengan dosis rendah 12. beta bloker. CCB. termasuk penderita hipertensi sistolik terisolasi  diuretika (tiazid) sebagai lini pertama.Referat Hipertensi o Lanjut usia.5 mg/hari. Bagan alur pilihan terapi farmakologis untuk Hipertensi (Aru.

hiperkalemia. intoleransi glukosa. Indikasi dan Kontra Indikasi kelas – kelas utama obat antihipertensi Kelas Obat Indikasi Kontraindikasi Mutlak Diuretika Gagal jantung kongestif.2003 Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Kehamilan. nefropati DM tipe 1. aterosklerosis A-V block antagonist karotis. pasca Gagal Ginjal aldosteron) infark miokard Beta blocker Angina pektoris.Referat Hipertensi o AB dan BB (Mohani. infark miokard. batuk karena ACEI renalis bilateral Α. penyakit pembuluh darah perifer. aterosklerosis karotis. pasca hiperkalemia. A-V block (derajat 2 atau 3) Calcium antagonist (dihydropiridine) Tidak Mutlak Kehamilan Penyakit pembuluh darah perifer. kehamilan Calcium Angina pektoris. pasca infark Asma. (verapamil. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 jantung 24 . isolated systolic hypertension. renalis bilateral proteinuri AT1 – blocker Nefopati DM tipe 2. gagal jantung kongestif Usia lanjut. gagal jantung kongestif Diuretika (anti Gagal jantung kongestif.blocker Hiperplasia prostat. proteinuri. isolated systolic hypertension. supraventrikular gagal jantung diltiazem) kongestif ACEI Gagal jantung kongestif. angina pektoris. ras Afrika Diuretika (Loop) Insufisiensi ginjal. usia Gout (Thiazide) lanjut. mikroalbuminuria diabetik. takiaritmia menahun.2014) Tabel 5. penyakit miokard. gagal jantung paru obstruktif kongestif. Hipotensi Gagal hiperlipidemia ortostatik kongestif Sumber: European Society of Hypertension (ESH. atlit atau pasien yang aktif secara fisik Takiaritmia. hipertrofi ventrikel stenosis arteri kiri. non-diabetik stenosis arteri nefripati. takikardi ( derajat 2 / 3 ). kehamilan. disfungsi ventrikel kiri. Kehamilan.

2014). Kekuatan rekomendasi sesuai dengan tabel berikut Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Secara umum. Tatalaksana hipertensi menurut JNC-8 (JNC-8. JNC 8 ini memberikan 9 rekomendasi terbaru terkait dengan target tekanan darah dan golongan obat hipertensi yang direkomendasikan.Referat Hipertensi Gambar 4. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 25 .

Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 26 . Terdapat keyakinan tingkat mengenah berbasis bukti bahwa rekomendasi yang diberikan dapat memberikan manfaat secara moderate. seperti misalnya tekanan darah sistolik <140 mmHg (mengikuti JNC 7). gagal jantung. target tekanan darah pada populasi tersebut lebih tinggi yaitu tekanan darah sistolik kurang dari 150 mmHg serta tekanan darah diastolik kurang dari 90 mmHg. Grade D/Rekomendasi D – Recommendation against. Terdapat tingkat keyakinan yang tinggi berbasis bukti bahwa hal yang direkomendasikan tersebut memberikan manfaat atau keuntungan yang substansial. Terdapat setidaknya keyakinan tingkat moderate berbasis bukti bahwa hal yang direkomendasikan memberikan manfaat meskipun hanya sedikit. selama tidak ada efek samping pada kesehatan pasien atau kualitas hidup . Apabila ternyata pasien sudah mencapai tekanan darah yang lebih rendah. Rekomendasi A menjadi label dari rekomendasi nomor 1 ini. Bukti-bukti belum dianggap cukup atau masih belum jelas atau terdapat konflik (misal karena berbagai perbedaan hasil). Keseimbangan antara manfaat dan bahaya tidak dapat ditentukan karena tidak ada bukti-bukti yang jelas tersebut. terapi tidak perlu diubah. Rekomendasi 1. tetapi direkomendasikan oleh komite karena dirasakan penting untuk dimasukan dalam guideline. Terdapat setidaknya keyakinan tingkat moderate bahwa tidak ada manfaat atau bahkan terdapat risiko atau bahaya yang lebih tinggi dibandingkan manfaat yang bisa didapat.Referat Hipertensi Grade A/Rekomendasi A – Strong recommendation. Grade B/Rekomendasi B – Moderate recommendation. Grade N/Rekomendasi N – no recommendation for or against. Berbeda dengan sebelumnya. Ditambah dengan penemuan bahwa dengan menerapkan target tekanan darah <140 mmHg pada usia tersebut tidak Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Grade E/Rekomendasi E – Expert opinion. Tidak ada manfaat yang jelas terbukti. Rekomendasi ini didasarkan bahwa pada beberapa RCT didapatkan bahwa dengan melakukan terapi dengan tekanan darah sistolik <150/90 mmHg sudah terjadi penurunan kejadian stroke. dan penyakit jantung koroner. Grade C/Rekomendasi C – Weak recommendation. Rekomendasi pertama yang dipublikasikan melalui JNC 8 ini terkait dengan target tekanan darah pada populasi umum usia 60 tahun atau lebih.

RCT terbaru mengenai populasi ini serta target tekanan darahnya dianggap masih kurang memadai. disimpulkan bahwa target untuk populasi tersebut mestinya sama dengan usia 30-59 tahun. sementara untuk usia 18-29 tahun. terdapat beberapa anggota komite JNC yang tepat menyarankan untuk menggunakan target JNC 7 (<140 mmHg) berdasarkan expert opinion terutama pada pasien dengan factor risiko multipel. gagal jantung. serta angka kematian secara umum. target tekanan darah diastolic pada populasi ini tidak berbeda dengan populasi yang lebih tua. Untuk golongan usia 30-59 tahun. Namun. Rekomendasi ini berdasarkan pada expert opinion. Hypertension-Stroke Cooperative. Dengan tekanan darah <90 mmHg. panelist tetap merekomendasikan standar yang sudah dipakai sebelumnya pada JNC 7. terdapat rekomendasi A. ANBP. MRC. terdapat expert opinion. dan VA Cooperative. didapatkan penurunan kejadian serebrovaskular. didapatkan bukti bahwa menatalaksana dengan target 80 mmHg atau lebih rendah tidak memberikan manfaat yang lebih dibandingkan target 90 mmHg. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 27 . terapi farmakologi dimulai untuk menurunkan tekanan darah diastolik <90 mmHg. Juga. Alasan berikutnya terkait dengan penelitian tentang tekanan darah diastolic yang digunakan pada rekomendasi 2 yang mana didapatkan bahwa pasien yang mendapatkan tekanan darah kurang dari 90 mmHg juga mengalami penurunan tekanan darah sistolik kurang dari 140 Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Pada populasi lebih muda dari 30 tahun. pasien dengan penyakit kardiovaskular termasuk stroke serta orang kulit hitam. Selain itu. tidak ada alasan yang dirasakan membuat standar tersebut perlu diganti. Rekomendasi kedua dari JNC 8 adalah pada populasi umum yang lebih muda dari 60 tahun. terapi farmakologi dimulai untuk menurunkan tekanan darah sistolik <140 mmHg.Referat Hipertensi didapatkan manfaat tambahan dibandingkan dengan kelompok dengan target tekanan darah sistolik yang lebih tinggi. Rekomendasi ketiga dari JNC adalah pada populasi umum yang lebih muda dari 60 tahun. Terdapat bukti-bukti yang dianggap berkualitas dan kuat dari 5 percobaan tentang tekanan darah diastolic yang dilakukan oleh HDFP. belum ada RCT yang memadai. Rekomendasi 2. Rekomendasi 3. Oleh karena itu. Secara umum. Namun.

Rekomendasi 4. pada pasien lebih dari 60 tahun kita perlu menentukan status fungsi ginjal. Rekomendasi 6. Populasi usia 18 tahun atau lebih dengan CKD perlu diinisiasi terapi hipertensi untuk mendapatkan target tekanan darah sistolik kurang dari 140 mmHg serta diastolik kurang dari 90 mmHg. Perlu diperhatikan bahwa setelah kita mengetahui data usia pasien. manfaat yang didapatkan seperti pada penelitian tersebut juga diharapkan mampu digapai. terapi antihipertensi inisial sebaiknya menyertakan diuretic thiazid. Target tekanan darah ini lebih tinggi dari guideline sebelumnya. Rekomendasi 5. Rekomendasi ini merupakan expert opinion. targetnya lebih rendah. yaitu 140/90 mmHg.Referat Hipertensi mmHg. Jika tidak ada CKD. inisiasi terapi dimulai untuk menurunkan tekanan darah sistolik kurang dari 140 mmHg dan diastolic kurang dari 90 mmHg. Sulit untuk menentukan bahwa benefit yang terjadi pada penelitian tersebut disebabkan oleh penurunan tekanan darah sistolik.73 m2 dan pada orang dengan albuminuria (lebih dari 30 mg albumin/g kreatinin) pada berbagai level GFR maupun usia. RCT yang digunakan untuk mendukung rekomendasi ini melibatkan populasi usia kurang dari 70 tahun dengan eGFR atau measured GFR kurang dari 60 mL/min/1. Rekomendasi ini merupakan expert opinion. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 28 . Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Pada populasi umum non kulit hitam (negro). Tentunya dengan mengkombinasikan rekomendasi 2 dan 3. target tekanan darah sistolik yang digunakan adalah 150/90 mmHg sementara jika ada CKD. diastolic atau keduanya. Rekomendasi 4 dikhususkan untuk populasi penderita tekanan darah tinggi dengan chronic kidney disease (CKD). yaitu tekanan darah sistolik <130 mmHg serta diastolic <85 mmHg. Pada pasien usia 18 tahun atau lebih dengan diabetes. Angiotensin-converting Enzyme Inhibitor (ACEI) atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB). Rekomendasi ini merupakan rekomendasi B. Calcium channel blocker (CCB). termasuk pasien dengan diabetes.

Rekomendasi 7. Beta blocker tidak direkomendasikan untuk terapi inisial hipertensi karena penggunaan beta blocker memberikan kejadian yang lebih tinggi pada kematian akibat penyakit kardiovaskular. Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Jadi pada kasus selain gagal jantung kita dapat memilih salah satu dari golongan obat tersebut. CCB juga lebih direkomendasikan dibandingkan ACEI karena ternyata didapatkan hasil bahwa pada pasien kulit hitam memiliki 51% kejadian lebih tinggi mengalami stroke pada penggunaan ACEI sebagai terapi inisial dibandingkan dengan penggunaan CCB. infark miokard. Sementara itu. fungsi kardiovaskular. ARB dan ACEI tidak direkomendasikan.Referat Hipertensi Masing-masing kelas obat tersebut direkomendasikan karena memberikan efek yang dapat dibandingkan terkait angka kematian secara umum. dan ACEI lebih efektif dibandingkan CCB dalam meningkatkan outcome pada gagal jantung. gagal jantung dan outcome kardiovaskular yang dikombinasi dibandingkan ACEI. kecuali gagal jantung. Selain itu. Pada populasi ini. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 29 . Pada studi yang digunakan. Rekomendasi untuk populasi kulit hitam adalah rekomendasi B sedangkan populasi kulit hitam dengan diabetes adalah rekomendasi C. alpha blocker tidak direkomendasikan karena justru golongan obat tersebut memberikan kejadian cerebrovaskular. Terapi inisiasi dengan diuretic thiazid lebih efektif dibandingkan CCB atau ACEI. Sementara itu. ACEI juga memberikan efek penurunan tekanan darah yang kurang efektif dibandingkan CCB. Pada populasi kulit hitam. tetapi pada gagal jantung sebaiknya thiazid yang dipilih. terapi inisial hipertensi sebaiknya menggunakan diuretic tipe thiazide atau CCB. pada populasi kulit hitam. serebrovaskular dan outcome ginjal. meski CCB lebih kurang dibandingkan diuretic dalam mencegah gagal jantung. didapatkan bahwa penggunaan diuretic thiazide memberikan perbaikan yang lebih tinggi pada kejadian cerebrovaskular. gagal jantung dan outcome kardiovaskular yang lebih jelek dibandingkan dengan penggunaan diuretic sebagai terapi inisiasi. atau stroke dibandingkan dengan ARB. tetapi outcome lain tidak terlalu berbeda dibandingkan dengan diuretik thiazide. termasuk mereka dengan diabetes.

ACEI atau ARB tetap direkomendasikan karena adanya kemungkinan untuk progresif menjadi ESRD (end stage renal disease). Hal ini berlaku pada semua pasien CKD dalam semua ras maupun status diabetes. terutama yang mengalami proteinuria. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 30 . ARB dan ACEI sebaiknya tidak dikombinasikan. obat tersebut juga bisa digunakan sebagai terapi tambahan atau terapi kombinasi. kita bisa menggunakan antihipertensi golongan lain. Rekomendasi 9. bisa dipilih salah satunya. terutama pada mereka dengan fungsi ginjal yang sudah menurun. Rekomendasi 9 dari JNC 8 mengarahkan kita untuk melakukan penyesuaian apabila terapi inisial yang diberikan belum memberikan target tekanan darah yang diharapkan. Jadi. Penggunaan ACEI dan ARB secara umum dapat meningkatkan kadar kreatinin serum dan mungkin menghasilkan efek metabolic seperti hiperkalemia. Jangka waktu yang menjadi patokan awal adalah satu bulan. pilihan terapi inisial masih belum jelas antara thiazide. Pada populasi berusia 18 tahun atau lebih dengan CKD dan hipertensi. Obat yang digunakan sesuai dengan rekomendasi yaitu thiazide. Peningkatan kadar kreatinin dan potassium tidak selalu membutuhkan penyesuaian terapi. Rekomendasi 9 ini termasuk dalam rekomendasi E atau expert opinion. kita dapat memberikan obat ketiga secara titrasi. termasuk kepatuhan pasien. ACEI.Referat Hipertensi Rekomendasi 8. kita dapat memilih antara meningkatkan dosis obat pertama atau menambahkan obat lain sebagai terapi kombinasi. kita perlu memantau kadar elektrolit dan kreatinin yang mana pada beberapa kasus perlu mendapatkan penurunan dosis atau penghentian obat. Sementara itu. Sementara jika tidak ada proteinuria. pada pasien kulit hitam dengan CKD. Jika dalam satu bulan target tekanan darah belum tercapai. Pada masing-masing tahap kita perlu terus memantai perkembangan tekanan darahnya serta bagaimana terapi dijalankan. dengan atau tanpa proteinuria mendapatkan outcome ginjal yang lebih baik dengan penggunaan ACEI atau ARB. Jika dengan dua obat belum berhasil. ARB atau CCB. ACEI atau CCB. Namun. ACEI atau ARB sebaiknya digunakan dalam terapi inisial atau terapi tambahan untuk meningkatkan outcome pada ginjal. Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. ARB. Jika ACEI atau ARB tidak digunakan dalam terapi inisial. Namun. Jika perlu lebih dari tiga obat atau obat yang direkomendasikan tersebut tidak dapat diberikan. Pasien CKD.

Berhenti merokok Menurunkan berat badan berlebih Menurunkan konsumsi alkohol berlebih Latihan fisik e.buah-buahan. sesuai dengan kondisi penderitanya. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 31 . dan minyak nabati Dalam hal kandungan nutrisi :  Rendah lemak jenuh dan rendah lemak trans  Kaya potassium.dan produk susu bebas atau rendah lemak  Biji-bijian.Referat Hipertensi Menurut European Society of Hypertension 2003. c. B. Prinsip makan dengan DASH (dietary Approach to stop Hypertension) Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) adalah perencanaan makan yang fleksibel dan seimbang. Terapi nonfarmakologis terdiri dari : a.ikan. Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. serat dan protein  Rendah Natrium o Diet rendah garam dibagi menjadi beberapa tingkatan. b. d. kombinasi dua obat untuk hipertensi ini dapat dilihat pada gambar 3 dimana kombinasi obat yang dihubungkan dengan garis tebal adalah kombinasi yang paling efektif. DASH dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan menurunkan kadar lemak darah sehingga mengurangi resiko penyakit jantung . kacang-kacangan.daging unggas. DASH eating plan yaitu dengan mengkonsumsi :  Sayuran.magnesium. yaitu.

11 Komplikasi Kerusakan organ sasaran yang diakibatkan oleh tidak terkendalinya Hipertensi (Aru. riwayat  revaskularisasi coroner. gagal jantung. Garam dapur sama sekali tidak boleh ditambahkan ke dalam makanan yang disajikan. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 32 . – Diet rendah garam tingkat III (1000-1200 mg Na) Diet ini diberikan pada penderita hipertensi ringan. dan Transient Ischemic Attack atau    TIA) Penyakit ginjal kronik Penyakit arteri perifer Retinopati Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. Dalam diet ini. – Diet rendah garam tingkat II (600-800 mg Na) Diet ini diberikan kepada penderita hipertensi sedang.  Jantung: hipertrofi ventrikel kiri.2010). Daily Nutritient Goals used in the DASH studies (for 2000-caloric eating plan) Total Fat Saturated Fat Protein Carbohydrate Cholesterol Sodium Potassium Calcium Magnesium Fiber 27 % of calories 6% of calories 18% of calories 55% of calories 150 mg 2300 mg 4700 mg 1250 mg 500 mg 30 g 2. Pada diet ini penambahan garam hanya 1/2 sdt atau 2gr.Referat Hipertensi – Diet rendah garam tingkat tinggi (200-400 mg Na) Diet ini diberikan kepada penderita hipertensi berat. Tabel 6. angina atau riwayat infark myocard. Otak: Cerebrovascular diseases seperti (Stroke. 1 sdt atau 4gr garam dapur boleh ditambahkan dalam pengolahan makanan.

Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 33 . 2014). Salah satu karakteristik hipertensi pada lanjut usia adalah terdapatnya berbagai penyakit penyerta (komorbid) dan komplikasi organ Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana. infark miokard 20% sampai 25%. 25% semua kematian prematur. Hipertensi yang tidak diobati meningkatkan : 35 % semua kematian kardiovaskular. Meningkatnya tekanan darah sudah terbukti meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada lanjut usia.Referat Hipertensi 2. pemberian obat anti hipertensi akan diikuti penurunan insiden strok 35% sampai 40%. 25% kematian PJK. 50% penyakit jantung kongestif.12 Prognosis Hipertensi merupakan the disease cardiovascular continuum yang akan berlangsung seumur hidup sampai pasien meninggal akibat kerusakan target organ. BAB III KESIMPULAN Dengan meningkatnya populasi lanjut usia di Indonesia. serta menjadi penyebab tersering untuk terjadinya penyakit ginjal kronis dan penyebab gagal ginjal terminal. kejadian hipertensi pada populasi ini meningkat pula. Pada banyak uji klinis. 50 % kematian stroke. dan lebih dari 50% gagal jantung (Yogiantoro.

S. Canada : Mayo Foundation for Medical Education and Research Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana.K.. gangguan pada sistem saraf pusat dan mata.. Selain diagnosis yang sangat teliti. S. A. 7th edition. Dengan menurunkan tekanan darah sampai target 150/90 mmHg dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. T.. dan Ghosh. Marcellus. W. Pathology Basic of Disease. tata laksana hipertensi pada lanjut usia harus juga memperhatikan kedua hal tersebut di atas. seperti kejadian penyakit kardiovaskuler.B. Robbins.K.S. Penatalaksanaan hipertensi pada lanjut usia tidak berbeda dengan penatalaksanaan hipertensi pada umumnya. Edisi I.Referat Hipertensi target. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid III. Dan saat ini berbagai pilihan obat-obat antihipertensi telah beredar di pasaran. S. Kumar. A. DAFTAR PUSTAKA  Aru..M. Idrus. Pemakaian berbagai obat tersebut bisa disesuaikan dengan penyakit komorbid yang menyertai keadaan hipertensi tersebut. 788 – 802. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 34 . (2008) Mayo clinic Internal Medicine Concise Textbook.  Philadelphia: W.S. 5th edition. yaitu merubah pola hidup dan pengobatan antihipertensi. dan Siti. Bambang. V. Jakarta: InternaPublishing  Cotran. Saunders Company. 2007.L. p. S.. ginjal. R. Habermann.(2010).

html dikutip pada 5 februari 2015 WHO.Z. E. 2281 Kepaniteraan Ilmu Geriatri – Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Panti Werdha Kristen Hana.RaisedBloodPressure. Available from: http://www. Mohani.who.. S. Edisi VI.I.A. p.Indonesia: Pusat Komunikasi Publik. A.L. 2289-2290. Edisi VI.pdf dikutip pada 5 Februari 2015) JNC-8. J.dan Loscalzo. C..go.org/mgt/who1999/whomiddle.P.euromise. C. 2010 [cited 2015 Feb 5]. 18th Edition. D. Soegondo. Jakarta :  InternaPublishing. A..2287. Liwang..U. Hauser.L. Jilid II.nhlbi.  http://www.  (2012) Harrison’s principles of internal medicine. WHO – ISH. Wijaya. S.(2009) Panduan  pelayanan medik Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 168-70.gov/files/docs/guidelines/express. Hal : 2284. Jameson. Kasper. S. Hanifati. 2286 . dan Pradipta. J.S.aspx?articleid=1791497 dikutip pada 5 Februari 2015 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.A. (1999)  (http://new. M.com/article. Jilid II.. I.. Jakarta: InternaPublishing.. Rani. 2269-2270.L. dan Nafrialdi.. Kapita Selekta  Kedokteran Edisi IV. Hal : 2259. D. and Treatment of High Blood Pressure (http://www. F.(2014) Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure  in Adult (http://jama.Referat Hipertensi  JNC -7. (2014) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Hypertension Guidelines InternaPublishing. 5th 2015.html Longo.id/article/print/810/hipertensi-penyebabkematian-nomor-tiga. (2014). Tanto. Nasir.int/gho/ncd/risk_factors/blood_pressure_prevalence_text/en/.  Detection. Yogiantoro. United States of America: McGraw-Hill. Ciputat Periode 05 Oktober 2015 – 07 November 2015 35 . Fauci. Hipertensi penyebab kematian nomor  tiga [internet]..jamanetwork.. (2014) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Evaluation..depkes. (2003) The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention.L.A. Accessed February..nih. Jakarta : Media Aesculapius.