You are on page 1of 22

I.

Identitas Pasien

Nama istri : Ny. Siti


Usia

: 29 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan : Ibu rumah tangga


Alamat: jl. Kampung Kembang RT 04, Madura

Nama suami: Tn. Syarif


Usia

: 30 tahun

Agama

: islam

Pekerjaan : wiraswata
Alamat
II.

: jl. Kampong kembang RT 04, Madura


Anamnesis

Keluhan Utama: nyeri kepala


Keluhan Tambahan: kedua tungkai bengkak dan penglihatan terganggu
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien dalam keadaan hamil datang ke IGD RS. Polri dengan keluhan nyeri kepala sejak 1
hari SMRS disertai bengkak pada kedua tungkai sejak 1 minggu SMRS. Nyeri kepala terasa
seperti diikat dan terasa di seluruh bagian kepala. Pada bagian penglihatan pasien juga
merasakan gangguan berupa berbayang- bayang. Adanya mual, muntah, dan nyeri ulu hati
disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu:


-

Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini pada kehamilan sebelumnya
Hipertensi : dimulai sejak 3 bulan SMRS
Diabetes mellitus: disangkal
Asma : disangkal
Alergi obat: disangkal

Riwayat Obsetri:
1. Spontan, cukup bulan, dibantu oleh dukun, laki-laki, 2006, berat lahir 2.400 gram
2. Hamil ini
Pemeriksaan antenatal : rutin setiap bulan di puskesmas

III.
-

Pemeriksaan Fisik
Kesadaran: compos mentis
Laju Nadi: 76x/ menit
Tekanan Darah : 180/110 mmHg
Laju napas : 20x/ menit
Suhu: 36.3

Kepala

o Mata

: konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-

o Telinga

: serumen +/+,

o Mulut

: mukosa oral basah

Thorax
-

Jantung : s1/s2 reguler, gallop -, murmur -

Paru

Mammae: Hiperpigmentasi areola +/+

: Bunyi napas vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/-

Abdomen
2

= tampak cembung, striae gravidarum +, linea nigra +

= supel, nyeri tekan -

A = BU +, 4x/ menit

= timpani

Ekstremitas

IV.

Edema tungkai: +/+

Refleks fisiologis : +

Refleks patologis : -

Pemeriksaan Obsetri
HPHT

: 14 Oktober 2013

Taksiran Persalinan

: 21 Juli 2014

TFU

: 20 cm

DJJ

: 134 x/menit

Leopold 1 : kepala
Leopold 2 : punggung kiri
Leopold 3 : bokong
Leopold 4 : 5/5

Pemeriksaan penunjang (17/6/14)

Hematologi
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit

: 11.9
: 7.500
: 37
: 271.000

Kimia Klinik
SGOT : 50.9
SGPT : 49.5
Ureum
Creatinin
Gula darah sewaktu

Urine lengkap
-

Warna
: kuning
Kejernihan : agak keruh
Reaksi/Ph : 5.0
Berat jenis : 1.025
Protein
: ++
Bilirubin : Leukosit : Sedimen :
*leukosit: 2-4/ LPB
*eritrosit: 1-2 / LPB

CTG

Diagnosis: Pre eklamsia berat disertai impending eklamsia + partial HELLP


Terapi:
-

Infuse D5% + Mg S04 40% 4 gram bolus dilanjutkan 12 gram dengan 14 TPM

Nifedipine 5 mgsub lingual


Dopamet 25 mg

Follow Up (18/6/14)

S:O:
TD: 150/110 mmHg

laju napas : 22x/menit

Laju nadi : 88x/menit

Suhu : 36.5

*Thorax :

DJJ : 125x/menit

- COR : S1/S2 reguler


- Pulmo : vesikuler +/+
* ekstrimitas: akral hangat, crt < 2 detik, edema tungkai -/-, reflex fisiologis (+)
CTG:

A: G2P1A0 Hamil 30 minggu dengan Pre eklamsia berat dengan impending eklamsia + partial
HELLP
P:
-

Nifedipin 3 x 10 mg
Metyldopa 3x 500 mg
MgSo4 drip
Pro USG
USG

Konsul dr. Budi, Sp. PD (pkl 10.00)


-

Dopamet 3x 500 mg
Nifedipin 3 x10 mg

Konsul dr. Adi, sp.OG (pkl 11.45):


-

Inj. Dexa 2x6mg (2 hari)


ACC terapi dr Budi, Sp. PD
Cek LDH dan konsul untuk persiapan operasi

Follow Up (19/6/14)

S:O:
TD: 140/110 mmHg

laju napas : 20x/menit

Laju nadi : 82x/menit

Suhu : 36.5

*Thorax :

DJJ : 130x/menit

- COR : S1/S2 reguler


- Pulmo : vesikuler +/+
* ekstrimitas: akral hangat, crt < 2 detik, edema tungkai -/-, reflex fisiologis (+)

Hasil laboratorium:
-

LDH : 586
Hematologi
Hemoglobin
: 12 g/dl
Leukosit
: 9.500 u/l
Hematokrit
: 35%
Trombosit
: 326.000 /ul
Asam urat : 8.3 mg/dl
Masa perdarahan : 3 menit
Masa pembekuan : 12 menit

A: G2P1A0 Hamil 30 minggu dengan Pre eklamsia berat dengan impending eklamsia + partial
HELLP syndrome
P:
-

Nifedipin 3 x 10 mg
Metyldopa 3x 500 mg
MgSo4 drip

Konsul dr. Fredico di Poli (pkl 11.00)


6

Flumucyl 3x 600 mg
Dexa 2x 10 mg
Vitamin C 2x1
Asam folat 1 x 1
Cek asam urat dan H2TL ulang

Konsul dr. Ismugi, sp.JP (pkl 13.00)


-

EKG dalam batas normal


Diagnosis : hipertensi grade I
Terapi: adalat 3 x1, dopamet 3 x 250 mg, bisoprolol 1 x tab

Lapor dr. Rheino (pkl 16.00)


-

Acc terapi

Follow Up (20/6/14)
S:O:
TD: 140/100 mmHg

laju napas : 20x/menit

Laju nadi : 80x/menit

Suhu : 36.5

*Thorax :

DJJ : 120x/menit

- COR : S1/S2 reguler


- Pulmo : vesikuler +/+
* ekstrimitas: akral hangat, crt < 2 detik, edema tungkai -/-, reflex fisiologis (+)
A: G2P1A0 Hamil 30 minggu dengan Pre eklamsia berat dengan impending eklamsia + partial
HELLP syndrome
P:

Dexa 2x 5 mg
Vitamin C 2x1
Asam folat 1 x 1
Nifedipin 3 x 10 mg
Metyldopa 3x 500 mg

USG dengan dr. Rheino (09.00)

Aff infus pulang paksa (pkl 10.00)

BAB I
PENDAHULUAN
Hingga saat ini, hipertensi dalam kehamilan masih merupakan masalah kesehatan serius di
bidang obstetri di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan di dunia
setiap menit perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan
persalinan. Dari jumlah kematian maternal, prevalensi paling besar adalah pre-eklampsia dan
eklampsia sebesar 12,9% dari keseluruhan kematian ibu. Insidensi pre eklamsia di Indonesia
sekitar 3 10%, menyebabkan mortalitas maternal sebanyak 39.5% pada tahun 2001, dan
sebanyak 55.56% pada tahun 2002 (Roeshadi, 2004).
Hipertensi gestasional diartikan sebagai setiap onset baru hipertensi tanpa komplikasi selama
kehamilan bila tidak ada bukti jelas dari sindrom preeklampsia. Sedangkan pre eklamsia sendiri
merupakan hipertensi pada kehamilan yang disertai dengan proteinuria (Cunningham, 2005).
Hipertensi dalam kehamilan terjadi pada wanita yang sebelumnya memiliki penyakit hipertensi
primer atau dapat juga pada wanita dengan hipertensi sekunder kronik, dan pada wanita tanpa
riwayat hipertensi dengan onset terjadinya hipertensi yang baru muncul setelah setengah masa
kehamilan.

Hipertensi pada kehamilan memiliki resiko baik terhadap ibu dan juga janinnya. Pada ibu,
hipertensi dapat menjadi pre eklamsia atau eklamsia yang mengancam jiwa. Sedangkan pada
bayi akan menyebabkan kematian perinatal, 5% bayi lahir dengan kelainan congenital. Biasanya
pada kehamilan pertama, 8 10% bayi akan lahir premature (kurang dari 34 minggu) sebagai
konsekuensi dari pre eklamsia, tapi pada wanita dengan pre eklamsia berat, 50%nya mengalami
kelahiran preterm.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hipertensi dalam kehamilan memiliki terminology tersendiri. Disadur dari Report on the
National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in
Pregnancy (AJOG Vol 183 : S1, July 2000), hipertensi dalam kehamilan meliputi:

1. Hipertensi Gestasional
Didapatkan tekanan darah 140/90 mmHg untuk pertama kalinya pada kehamilan, tidak disertai
dengan proteinuria dan tekanan darah kembali normal < 12 minggu pasca persalinan.
Hipertensi gestasional terjadi sekitar 6% dari total kehamilan dan separuhnya berkembang
menjadi preeklamsia dengan ditemukannya proteinuri. Diagnosis pasti sering dibuat di belakang,
Jika tes laboratorium tetap normal dan tekanan darah menurun pasca melahirkan, maka
diagnosisnya adalah hipertensi gestational (sebelumnya disebut transcient hypertension). Wanita
dengan hipertensi gestational harus dianggap beresiko terjadinya preeklamsia, yang dapat
berkembangkan setiap saat, termasuk minggu pertama pasca melahirkan. Sekitar 15% hingga
45% perempuan awalnya didiagnosis dengan hipertensi gestational akan mengembangkan
preeklamsia, dan kemungkinan lebih besar pada pasien yang memiliki riwayat preeklamsia
sebelumnya, miscarriage, dan riwayat hipertensi kehamilan sebelumnya (Davis et.al, 2007).
9

2. Preeklamsi
Preeclampsia adalah sindrom yang memiliki manifestasi klinis seperti new-onset hypertension
pada saat kehamilan (setelah usia kehamilan 20 minggu, tetapi biasanya mendekati hari
perkiraan lahir), berhubungan dengan proteinuria: 1+ dipstick atau 300 mg dalam 24 jam urin
tampung. Sindrom ini terjadi pada 5 - 8 % dari seluruh kehamilan. Pengobatan antihipertensi
pada pasien ini bukan ditujukkan untuk menyembuhkan atau memulihkan preeklamsia.
Preeklamsia dapat berkembangkan secara tiba-tiba pada wanita muda, pada wanita yang
sebelumnya normotensive, sehingga perlu pencegahan gangguan kardiovaskular dan
serebrovaskular sebagai konsekuensi dari berat dan cepat peningkatan tekanan darah, hal ini
adalah tujuan utama manajemen klinis yang membutuhkan kebijaksanaan penggunaan obat
antihipertensi (Levine et.al, 2004).

3. Eklamsi
Serangan konvulsi pada wanita dengan preeklampsia yang tidak dapat dihubungkan dengan
sebab lainnya disebut eklamsi. Konvulsi terjadi secara general dan dapat terlihat sebelum,
selama, atau setelah melahirkan. Pada studi terdahulu, sekitar 10% wanita eklamsi, terutama
nulipara, serangan tidak muncul hingga 48 jam setelah postpartum. Setelah perawatan prenatal
bertambah baik, banyak kasus antepartum dan intrapartum sekarang dapat dicegah, dan studi
yang lebih baru melaporkan bahwa seperempat serangan eklampsia terjadi di luar 48 jam
postpartum (Cunningham, 2005).
4. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsi
Timbulnya proteinuria 300 mg/ 24 jam pada wanita hamil yang sudah mengalami hipertensi
sebelumnya. Proteinuria hanya timbul setelah kehamilan 20 minggu.
5. Hipertensi kronik (preexisting hypertention)
Ditemukannya tekanan darah 140/ 90 mmHg, sebelum kehamilan atau sebelum kehamilan 20
minggu dan tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan. Wanita usia subur dengan
hipertensi esensial stage I yang tidak memiliki kerusakan organ target dan dalam kondisi
kesehatan yang baik memiliki prognosis yang baik dalam kehamilan. Walaupun terdapat
10

peningkatan resiko terjadi superimposed preeclampsia, akan tetapi secara fisiologi akan terjadi
penurunan tekanan darah selama kehamilan dan penurunan kebutuhan terhadap agen
antihipertensi. Capaian tatalaksananya adalah mempertahankan tekanan darah pada level yang
memiliki resiko gangguan kardiovaskular dan serebrovaskular pada ibu yang minimal (Abalos
et.al, 2007).
Kadang-kadang, wanita dengan hypertensi kehamilan akan tetap hipertensi setelah melahirkan.
Pada pasien ini kemungkinan besar memiliki hipertensi kronis yang sudah ada sebelumnya, yang
tertutup/tak tampak di awal kehamilan oleh karena respon fisiologis dari kehamilan yakni
vasodilasi. Kejadian hipertensi pada periode pasca melahirkan dan waktu maksimum untuk
normalisasi tekanan darah belum diketahui. Pada umumnya, hipertensi > 140/90 mm Hg
menetap lebih dari 3 bulan pasca melahirkan didignosis sebagai hipertensi kronis.

B. DIAGNOSIS
Selain pemantauan tekanan darah, diperlukan pemeriksaan laboratorium guna memantau
perubahan dalam hematologi, ginjal, dan hati yang dapat mempengaruhi prognosis pasien dan
janinnya. Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan untuk memantau pasien hipertensi dalam
kehamilan adalah hemoglobin dan hematokrit untuk memantau hemokonsentrasi yang
mendukung diagnosis hipertensi gestasional. Pemeriksaan enzim AST, ALT, dan LDH untuk
mengetahui keterlibatan hati. Urinalisis untuk mengetahui adanya proteinuria atau jumlah
ekskresi protein urin 24 jam. Kreatinin serum diperiksa untuk mengetahui fungsi ginjal, yang
umumnya pada kehamilan kreatinin serum menurun. Asam urat perlu diperiksa karena kenaikan
asam urat biasanya dipakai sebagai tanda beratnya pre eklampsia. Pemeriksaan EKG diperlukan
pada hipertensi kronik. Seperti juga pada kehamilan tanpa hipertensi, perlu pula dilakukan
pemeriksaan gula darah dan kultur urin (Suhardjono, 2007).

1. Hipertensi Gestasional
Kriteria Diagnosis pada hipertensi gestasional yaitu :

TD 140/90 mmHg yang timbul pertama kali selama kehamilan.

11

Tidak ada proteinuria.

TD kembali normal < 12 minggu postpartum.

Diagnosis akhir baru bisa ditegakkan postpartum.

Mungkin ada gejala preeklampsia lain yang timbul, contohnya nyeri epigastrium atau
trombositopenia (Cunningham, 2005).

2. Pre Eklamsia dan Eklamsia


Kriteria diagnosis pada preeklamsi terdiri dari :
Kriteria minimal, yaitu :

TD 140/90 mmHg pada kehamilan > 20 minggu.

Proteinuria 300 mg/24 jam atau 1+ dipstick.

Beratnya preeklamsi dinilai dari frekuensi dan intensitas abnormalitas. Semakin banyak
ditemukan penyimpangan tersebut, semakin besar kemungkinan harus dilakukan terminasi
kehamilan. Perbedaan antara preeklamsi ringan dan berat sulit dibedakan karena preeklamsi yang
tampak ringan dapat berkembang dengan cepat menjadi berat.

Meskipun hipertensi merupakan syarat mutlak dalam mendiagnosis preeklampsia, tetapi tekanan
darah bukan merupakan penentu absolut tingkat keparahan hipertensi dalam kehamilan.
Contohnya, pada wanita dewasa muda mungkin terdapat proteinuria +3 dan kejang dengan
tekanan darah 135/85 mmHg, sedangkan kebanyakan wanita dengan tekanan darah mencapai
180/120 mmHg tidak mengalami kejang. Peningkatan tekanan darah yang cepat dan diikuti
dengan kejang biasanya didahului nyeri kepala berat yang persisten atau gangguan visual.
Pada preeklamsia dapat terjadi komplikasi akibat tekanan darah yang tinggi sehingga terjadi
kejang. Kejang terjadi tanpa adanya riwayat epilepsy dan bukan merupakan proses intracranial.
Keadaan ini dikenal sebagai keadaan eklamsia.

12

Superimposed Preeclampsia
Kriteria diagnosis Superimposed Preeclampsia adalah :

Proteinuria 300 mg/24 jam pada wanita dengan hipertensi yang belum ada sebelum
kehamilan 20 minggu.

Peningkatan

tiba-tiba

proteinuria

atau

tekanan

darah

atau

jumlah

trombosit

<100.000/mm3 pada wanita dengan hipertensi atau proteinuria sebelum kehamilan 20


minggu
4. Hipertensi Kronis
Diagnosis hipertensi kronis yang mendasari dilakukan apabila :

Hipertensi ( 140/90 mmHg) terbukti mendahului kehamilan.

Hipertensi ( 140/90 mmHg) diketahui sebelum 20 minggu, kecuali bila ada penyakit
trofoblastik.

Hipertensi berlangsung lama setelah kelahiran.

Hipertensi kronis dalam kehamilan sulit didiagnosis apalagi wanita hamil tidak mengetahui
tekanan darahnya sebelum kehamilan. Pada beberapa kasus, hipertensi kronis didiagnosis
sebelum kehamilan usia 20 minggu, tetapi pada beberapa wanita hamil, tekanan darah yang
meningkat sebelum usia kehamilan 20 minggu mungkin merupakan tanda awal terjadinya
preeklamsi.
Sebagian dari banyak penyebab hipertensi yang mendasari dan dialami selama kehamilan
Hipertensi esensial merupakan penyebab dari penyakit vaskular pada > 90% wanita hamil. Selain
itu, obesitas dan diabetes adalah sebab umum lainnya. Pada beberapa wanita, hipertensi
berkembang sebagai konsekuensi dari penyakit parenkim ginjal yang mendasari.
Pada beberapa wanita dengan hipertensi kronis, tekanan darah dapat meningkat sampai tingkat
abnormal, khususnya setelah 24 minggu. Jika disertai oleh proteinuria, maka preeklamsi yang
mendasarinya dapat didiagnosis. Preeklamsi yang mendasari hipertensi kronis ini sering
berkembang lebih awal pada kehamilan daripada preeklamsi murni, dan hal ini cenderung akan
menjadi lebih berat dan sering menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan janin. Indikator
13

tentang beratnya hipertensi sudah diperlihatkan pada Tabel 2.1 dan digunakan juga untuk
menggolongkan preeklamsi yang mendasari hipertensi kronis tersebut (Cunningham, 2005).

C. KOMPLIKASI
Preeklampsia dapat menyebabkan kelahiran awal atau komplikasi pada

neonatus berupa

prematuritas. Resiko fetus diakibatkan oleh insufisiensi plasenta baik akut maupun kronis. Pada
kasus berat dapat ditemui fetal distress baik pada saat kelahiran maupun sesudah kelahiran.
Komplikasi yang sering terjadi pada preklampsia berat adalah:
1. Solusio plasenta. Komplikasi ini biasanya terjadi pada ibu hamil yang
menderita hipertensi akut. Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo 15,5 %
solusio plasenta terjadi pada pasien preeklampsia.
2. Hipofibrinogenemia. Pada preeklampsia berat, Zuspan (1978) menemukan
23% hipofibrinogenemia.
3. Hemolisis. Penderita dengan preeklampsia berat kadang-kadang menunjukan
gejala klinik hemolisis yang dikenal karena ikterus. Belum diketahui dengan
pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah
merah. Nekrosis periportal hati yang sering ditemukan pada autopsi penderita
eklampsia dapat menerangkan mekanisme ikterus tersebut.
4. Perdarahan otak. Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian
maternal.
5. Kelainan mata. Kehilangan penglihatan untuk sementara yang berlangsung
selama seminggu dapat terjadi. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina,
hal ini merupakan tanda gawat dan akan terjadi apopleksia serebri.
6. Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada pasien preeklampsia-eklampsia
diakibatkan vasospasmus arteriol umum. Kerusakan sel-sel hati dapat
diketahui dengan pemeriksaan faal hati.
7. Sindroma HELLP, yaitu hemolysis, elevated liver enzymes dan low platelet.
8. Kelainan ginjal. Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus berupa
pembengkakan sitoplasma sel endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur
lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.
9. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intrauterin.
10. Komplikasi lain berupa lidah tergigit, trauma dan fraktur karena terjatuh
akibat kejang, pneumonia aspirasi dan DIC.

D. PENATALAKSANAAN

14

Setiap wanita harus dievaluasi sebelum konsepsi untuk menentukan kondisi tekanan darahnya.
Jika terdapat hipertensi, dapat ditentukan beratnya, sebab sekunder yang mungkin, kerusakan
target organ, dan rencana strategis penatalaksanaannya. Kebanyakan wanita penderita hipertensi
yang merencanakan kehamilan harus menjalani skrining adanya faeokromositoma karena angka
morbiditas dan mortalitasnya yang tinggi apabila keadaan ini tidak terdiagnosa pada ante partum.
Pada umumnya, frekuensi kunjungan antenatal menjadi sering pada akhir trimester untuk
menemukan awal preeklamsi. Wanita hamil dengan tekanan darah yang tinggi (140/90 mmHg)
akan dievaluasi di rumah sakit sekitar 2-3 hari untuk menentukan beratnya hipertensi. Wanita
hamil dengan hipertensi yang berat akan dievaluasi secara ketat bahkan dapat dilakukan
terminasi kehamilan. Wanita hamil dengan penyakit yang ringan dapat menjalani rawat jalan.
Pada wanita penderita hipertensi yang merencanakan kehamilan, penting diketahui mengenai
penggantian medikasi anti hipertensi yang telah diketahui aman digunakan selama kehamilan,
seperti metildopa atau beta bloker. Penghambat ACE dan ARB jangan dilanjutkan sebelum
terjadinya konsepsi atau segera setelah kehamilan terjadi.
Perawatan di rumah sakit dipertimbangkan pada wanita dengan hipertensi berat, terutama apabila
terdapat hipertensi yang persisten atau bertambah berat atau munculnya proteinuria. Evaluasi
secara sistematis meliputi :

Pemeriksaan detil diikuti pemeriksaan harian terhadap gejala klinis seperti sakit kepala,
pandangan kabur, nyeri epigastrium, dan penambahan berat badan secara cepat.

Penimbangan berat badan saat masuk rumah sakit dan setiap hari setelahnya.

Analisis proteinuria saat masuk rumah sakit dan setiap 2 hari.

Pengukuran tekanan darah dengan posisi duduk setiap 4 jam kecuali saat pertengahan
tengah malam dengan pagi hari.

Pengukuran serum kreatinin, hematokrit, trombosit, dan serum enzim hati, frekuensi
pemeriksaan tergantung beratnya penyakit.

15

Evaluasi berkala tentang ukuran janin dan cairan amnion secara klinis dan dengan
menggunakan ultrasonografi

Selain itu, pasien juga dianjurkan mengurangi aktivitas sehari-harinya yang berlebihan. Tirah
baring total tidak diperlukan, begitu pula dengan pemberian sedatif. Diet harus mengandung
protein dan kalori dalam jumlah yang cukup. Pembatasan garam tidak diperlukan asal tidak
berlebihan (Cunningham, 2005).
1. Hipertensi Kronis
Wanita hamil dengan hipertensi kronis harus dievaluasi sebelum kehamilan sehingga
obat-obat yang memiliki efek berbahaya terhadap janin dapat diganti dengan obat lain
seperti metildopa dan labetalol. Metil dopa merupakan obat anti hipertensi yang umum
digunakan dan tetap menjadi obat pilihan karena tingkat keamanan dan efektivitasnya
yang baik. Banyak wanita yang diterapi dengan diuretika, akan tetapi apakah terapi
diuretik dilanjutkan selama kehamilan masih menjadi bahan perdebatan. Terapi diuretik
berguna pada wanita dengan hipertensi sensitif garam atau disfungsi diastolik ventrikel.
Akan tetapi diuretik harus dihentikan apabila terjadi preeklamsi atau tanda-tanda
pertumbuhan janin terhambat. Keputusan untuk memulai terapi anti hipertensi pada
hipertensi kronis tergantung dari beratnya hipertensi, ada tidaknya penyakit
kardiovaskular yang mendasari, dan potensi kerusakan target organ. Obat lini pertama
yang biasanya dipergunakan adalah metil dopa. Bila terdapat kontra indikasi
(menginduksi kerusakan hepar) maka obat lain seperti nifedipin atau labetalol dapat
digunakan (Cunningham, 2005).

16

Obat (resiko FDA)

Dosis

Keterangan

Agen yang umum


diberikan:

0.5- 3.0 gram/hari

Pilihan obat berdasar


NHBEP, tercatat aman
pada trimester awal

Labetalol

200-1200 mg/hari

Dapat dikaitkan
dengan fetal growth
restriction

Nifedipin

30-120 mg/hari
dengan preparat lepas
lambat

Dapat menghambat
persalinan dan
memiliki efek sinergis
dengan MgSO4 untuk
menurunkan tekanan
darah

Hydralazin

20-300 mg/hari dibagi


dalam 2-4 dosis
pemberian

Dapat digunakan
bersama agen
simpatolitik, dapat
menyebabkan
trombositopenia
neonates

-Blocker

Tergantung pada agen


yang dipilih

Menurunkan tekanan
darah uretroplasenta,
menyebabkan stress
hipoksia janin, resiko
growth restriction
pada trimester I-II
(atenolol), dosis
terlalu tinggi
menyebabkan
hipoglikemi neonates

Hidrochlortiazid

12.5 25 mg/hari

Menyebabkan
gangguan elektrolit,
dapat digunakan
sebagai kombinasi
dengan metildopa dan
vasodilator untuk
mengurangi retensi
cairan.

Methyldopa

Lini kedua

Kontraindikasi ACE-inhibitor dan


ARB tipe I

Menyebabkan fetal death,


gangguan jantung, fetophaty,
oligohidramnion, growth
restriction, renal agenesis dan
neonatal anuric renal failure

17

2. Pilihan obat antihipertensi pada Preeklampsia dan Eklamsia


Prinsip pengobatan antihipertensi pada pasien dengan preeklamsia dan eklamsia adalah untuk
mencegah hipertensi meningkat secara progresif, mempertahankan tekanan darah pada level
yang memiliki resiko terendah terhadap gangguan kardiovaskular dan serebrovaskular pada ibu
(Abalos et.al, 2007). Pada keadaan hipertensi yang berat dalam kehamilan, didefinisikan sebagai
tekanan darah > 160/110mmHg, keadaan ini membutuhkan pengobatan karena pada keadaan ini
terjadi peningkatan resiko terjadinya perdarahaan cerebral, terapi pada keadaan ini untuk
mencegah kematian ibu. Target pengobatan terhadap kedaruratan hipertensi berat dalam
kehamilan adalah penurunan tekanan diastolic menjadi 90-100mmHg

Obat (Resiko FDA)

Dosis dan Pemberian

Keterangan

Labetalol

10-20 mg IV, dilanjutkan 20-80


mg setiap 20-30 menit. Maksimal
300mg, dengan infuse kecepatan
1-2mg/menit

Insidensi hipotensi maternal lebih


rendah dan efek samping,
penggunaan labetalol saat ini
menggantikan hydralazin, tidak
diperbolehkan pada wanita
dengan asma dan CHF.

Hydralazine

20-40 menit. Evaluasi tekanan


darah setiap 3 jam. Kecepatan
infuse 0.5-10mg/jam, bila tidak
berhasil diturunkan dengan 20
mg IV atau 30mg IM
Hanya direkomendasi dengan
tablet, diberikan 10-30mg per
oral, diulang setiap 45 menit bila
perlu

Nifedipine

Lebih disarankan preparat yang


long acting, akan tetapi pada
bidang obstetric lebih banyak
disukai preparat short acting

Pada keadaan hipertensi ensefalopati, perdarahan, atau eklamsia membutuhkan


terapi antihipertensi parenteral untuk menurunkan mean arterial pressure.
Wanita dengan preeklamsia,perlu pertimbangan dalam memberikan terapi
hipertensi berat yang akut. Diberikan dosis yang lebih rendah karena pada
pasien ini terjadi deplesi volume intravascular dan meningkatnya resiko terjadi
hipotensi.

18

BAB III
KESIMPULAN
Klasifikasi hipertensi pada kehamilan oleh Working Group of the NHBPEP (2000) dibagi
menjadi 5 tipe, yaitu hipertensi gestasional, preeklamsi, eklamsi, preeklamsi superimposed pada
hipertensi kronis, dan hipertensi kronis.
Faktor risiko pada preeklamsi dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu faktor risiko maternal, faktor
risiko medikal maternal, dan faktor risiko plasental atau fetal.
Sebab potensial yang mungkin menjadi penyebab preeklamsi adalah invasi trofoblastik abnormal
pembuluh darah uterus, intoleransi imunologis antara jaringan plasenta ibu dan janin,
maladaptasi maternal pada perubahan kardiovaskular atau inflamasi dari kehamilan normal,
faktor nutrisi, dan pengaruh genetik.
Anti hipertensi diberikan bila tekanan diastol mencapai 110 mmHg. Tujuan utama pemberian
obat anti hipertensi adalah menurunkan tekanan diastolik menjadi 90-100 mmHg.

Penggunaan antihypertensive agen di kehamilan untuk mengendalikan hipertensi ringan-sedang


atau untuk mengendalikan hipertensi parah diringkas dalam tabel 2 dan 3. Saat ini, ada sedikit
bukti untuk mendukung konsep bahwa BP kontrol pada wanita hamil dengan hipertensi kronis
akan mencegah terjadinya berikutnya Preeklamsia, itu sendiri penyebab untuk hasil yang paling
merugikan pada pasien ini. Seperti BP jatuh di awal kehamilan, mengurangi atau bahkan
menghentikan obat dan pemantauan sering mungkin pada wanita dengan hipertensi ringan atau
sedang. Mengakui keterbatasan dalam terbukti berbasis data dan lainnya masalah yang dibahas
di atas mengenai usia kehamilan, sebaiknya ambang batas untuk pengobatan paling hipertensi
hamil 140-150 mm Hg sistolik, dan/atau 95 hingga 100 mm Hg diastolik untuk mencegah
memburuknya hipertensi ibu. Agen dapat diterima termasuk methyldopa, labetalol, dan
nifedipine dalam dosis stan-dard.

19

Penggunaan Atenolol mungkin harus dihindari dalam kehamilan, karena telah dikaitkan dengan
sedikit lebih rendah beban kelahiran. ACE-adalah dan angiotensin reseptor blocker harus
dihindari di semua trimesters; Ketika diberikan dalam trimesters kedua dan ketiga, mereka
berhubungan dengan karakteristik fetopathy, neonatal gagal ginjal, dan kematian, dan dengan
demikian, kontraindikasi. Data terbaru menunjukkan bahwa mereka seharusnya juga dihindari di
trimester pertama. Akhirnya, mengendalikan hipertensi parah telah belajar di hari meta-anal-ysis,
dan ini menunjukkan bahwa labetalol intravena atau oral nifedipine adalah sebagai efektif
sebagai intravena hydralazine, dengan efek samping yang lebih sedikit.
HELLP
Sindroma hellp adalah pre eklamsia eklamsia disertai timbulnya hemolisis, peningkatan enzim
hepar, disfungsi hepar dan trombositopenia
Diagnosis:
1. Didahului tanda dan gejala yang tidak khas seperti malaise, lemah. Nyeri kepala, mual
dan muntah
2. Adanya tanda-tanda pre eklamsia
3. Kenaikan LDH, AST dan Bilirubin indirek
4. Trombositopenia
Kriteria HELLP Syndrome :
a. Klasifikasi Mississippi :
a. Kelas I : trombosit < 50.000 L.
b. Kelas II : trombosit > 50.000 tapi < 100.000 L.
c. Kelas III : trombosit > 100.000 tapi < 150.000 L.
Disertai hemolisis dan disfungsi hepar : LDH > 600 IU/L,
SGOT dan atau SGPT > 40 IU/L
b. Klasifikasi Tennesse :
a. Komplit
:1) Trombosit < 100.000/L 2)LDH > 600 IU/L 3) SGOT > 70
IU/L.
b. Inkomplit/parsial : Hanya terdapat 1 atau 2 tanda pada komplit.
Kelas I mempunyai resiko mortalitas dan morbiditas perinatal yang paling tinggi.

Diagnosis Banding HELLP:


-

Trombotik angiopati
20

Acute fatty liver in pregnancy


Sepsis
SLE
Penyakit ginjal primer

Terapi medikamentosa:
Pemberian dexamethasone rescue pada antepartum diberikan double dose. Jika didapatkan kadar
trombosit renda (<100.000) disertai tanda-tanda impending eklamsia maka diberikan 10mg iv
dexamethasone tiap 12 jam. Pada postpartum diberikan 10 mg i.v tiap 12 jam kemudian 5 mg
tiap 12 jam. Terapi dexamethasone diberikan jika jumlah trombosit telah lebih dari 100.000.
Sikap terhadap kehamilan pada sindrom HELLP adalah diakhiri tanpa memandang usia
kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA
21

1. Abalos E, Duley L, Steyn D, dan Henderson-Smart D. 2007. Antihypertensive drug


therapy for mild to moderate hypertension during pregnancy. http:
//hyper.ahajournals.org/content/51/4/960. (3 Januari 2013)
2. AJOG. 2000. Working group on high blood pressure in keywords: eclampsia,
hypertension, preeclampsia, pregnancy, treatment. American Journal of Obstetrics and
Gynecology. 183(1)
3. August P. 2009. Management of Hypertension in Pregnancy. http
://www.uptodate.com/patients/content/topic. (29 Desember 2012)
4. Beardmore KS dan Morris JM. 2002. Excretion of antihypertensive medication into
human breast milk: a systematic review. Hypertensi Pregnancy.
5. Brooks M. 2005. Pregnancy and Preeclampsia. http : //www.emedicine.com. (1 Januari
2013).
6. Cunningham FG. 2005. Obstetri William Edisi 21. Jakarta: EGC.
7. Davis GK, Mackenzie C, Brown MA, Homer CS, Holt J, dan McHugh Mangos G. 2007.
Predicting transformation from gestational hypertension preeclampsia in clinical practice:
a possible role for 24 hour ambulat blood pressure monitoring. Hypertens Pregnancy.
8. Gibson P dan Carson M. 2009. Hypertension and Pregnancy. http :
//emedicine.medscape.com/article/261435. (3 Januari 2013)
9. Levine RJ, Maynard SE, Qian C, Lim KH, England LJ, Yu KF, Schisterman EF, Thadhani
R, Sachs BP, Epstein FH, Sibai BM, Sukhatme VP, dan Karumanchi SA. 2004.
Circulating angiogenic factors and the risk of preeclampsia. N Engl J Med. 350.
10. National Heart, Lung, and Blood Institute, Prevention, Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure. 2004. The Seventh Report of the Joint National
Committee. NIH publication.
11. Purwanto B. 2009. Pathogenesis, Etiology, and Management of Hypertension and
Nefrotoxic Agents. Disampaikan pada Half Day Simposium: Renal Disease Induced by
Nefrotoxic Agents. Surakarta

22