You are on page 1of 13

1

Berinteraksi dengan al-Qur`an
Dr. Nashruddin Syarief

A

l-Qur`an adalah kitab suci yang diturunkan Allah swt untuk kemashlahatan
umat manusia. Al-Qur`an merupakan rujukan utama dalam memecahkan
setiap persoalan kehidupan manusia. Ia menjadi sumber pertama dan utama
ajaran Islam, termasuk dalam hal penentuan hukum. Semua umat Islam sepakat
bahwa al-Qur`an memiliki posisi yang sentral dalam keberagamaan. Siapa saja yang
tidak merujuk pada al-Qur`an dalam mengatasi persoalan kehidupannya, bisa
dipastikan orang atau aliran yang dimaksud “sesat” dan “menyimpang”.
Meskipun demikian, semua aliran keagamaan yang sudah terang-terangan sesat
pun ternyata menjadikan al-Qur`an sebagai rujukan utamanya. Sebut misalnya:
Syi’ah, Khawarij (Neo-Khawarij), Ahmadiyah, Inkarsunnah, Lia Eden, LDII, Islam
Liberal/Progresif dan semacamnya. Mereka semua merasa berkepentingan untuk
merujukkan ajaran dan pemikirannya pada al-Qur`an guna memperoleh pembenaran
atas ajaran dan pemikirannya tersebut. Sebagian orang awam tentu akan mudah
terkecoh oleh aliran-aliran sempalan tersebut sebab dikiranya mereka sudah benar
dengan merujukkannya pada al-Qur`an. Padahal cara merujuk dan memahami alQur`an mereka benar-benar menyimpang dari yang sudah digariskan oleh Nabi
Muhammad saw.
Tulisan di bawah ini akan mencoba mengulas bagaimana beritneraksi dengan
al-Qur`an secara benar sebagaimana diajarkan Nabi saw, agar kemudian tidak
menyimpang dalam memahami dan mengamalkannya. Dalam tulisan ini akan dikaji
ulang seputar hakikat al-Qur`an, cara belajar al-Qur`an, memahami (tafsir) al-Qur`an,
dan mewaspadai para peragu al-Qur`an.
Memahami Hakikat al-Qur`an

Al-Qur`an berasal dari kata qara`a-yaqra`u-qira`atan/qur`anan ( – ‫ أ‬-‫أ‬ 
‫ءا‬/‫ )اءة‬yang bermakna asal ‘mengumpulkan dan menghimpun’. Makna yang
kemudian umum digunakan adalah ‘membaca’, sebab membaca adalah
mengumpulkan huruf dan kalimat untuk diucapkan. Secara istilah, al-Qur`an adalah
kalam (firman) Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dimulai dari
surat al-Fatihah sampai surat an-Nas. Menurut Manna’ Khalil al-Qaththan, tidak perlu
definisi khusus untuk al-Qur`an ini, sebab al-Qur`an lebih jelas untuk tidak
didefinisikan.1
Al-Qur`an bermakna membaca dan bacaan sekaligus. Baik itu keseluruhan
ayatnya atau hanya ayat-ayat tertentu saja, tetap disebut al-Qur`an.2 Sebagian ulama
berpendapat bahwa penamaan al-Qur`an itu merujuk pada kandungan al-Qur`an yang
mencakup semua persoalan, termasuk semua kandungan yang ada dalam kitab-kitab
1

Manna’ Khalil al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulumil-Qur`an, Kairo: Maktabah Wahbah, 2000, cet.
XI, hlm. 15.
2
Lihat QS. Al-Qiyamah [75] : 17-18 dan al-A’raf [7] : 204.

At-Thur [52] : 33-34. siapa saja yang berkeyakinan seperti itu berarti ia sudah musyrik dan harus dihukum. as-Syu’ara` [26] : 210-212. Akan tetapi terbukti sampai hari ini tidak ada seorang manusia pun yang bisa membuat kitab yang serupa dengan al-Qur`an apalagi menandinginya. Menurut Mu'tazilah. Yunus [10] : 38.d 847 M . Al-Isra` [17] : 88. 4 Bisa dirujuk pada buku penulis.3 Sementara jika dilihat dari sejarah panjang al-Qur`an. Bandung: Persispers. 2011.4 Dalam pengamatan Dr. 10 surat. Hud [11] : 13. Itu artinya pula bahwa keyakinan tersebut sudah tidak tauhîd (meng-Esakan Allah). 15. al-Qur`an memiliki tiga karakteristik khusus yang tidak dimiliki kitab/buku lainnya di dunia. jilid 1. jika al-Qur`an dikatakan sebagai kalâm (firman) Allah. 1986. duaduanya bersumber dari Allah swt. melainkan tulisan yang harus merujuk pada “bacaan” yang diriwayatkan secara mutawatir dari sejak zaman Nabi Muhammad saw sampai sekarang. yang memerintah pada tahun 827 M s. As-Syura [42] : 51. Oleh karena itu. semua perbuatan (af'âl) Allah juga makhluk. sebagaimana dituangkannya dalam kitab Ushulul-Fiqhil-Islami. merujuk pada QS.8 menguji aqidah para ulama di seputar alQur`an dengan standar pengujian khalqul-Qur`an (al-Qur`an adalah makhluk). Tuhan oleh Kristen diyakini sebagai Tuhan Bapak. dan firman-Nya diyakini 3 Manna’ al-Qaththan. dimana yang tidak lulus mendapatkan hukuman cambuk dan penjara. Bukan “bacaan” yang harus merujuk pada tulisan. berarti al-Qur`an ini qadîm. Al-Qur`an ini beda dengan hadits yang maknanya dari Allah swt. baik makna ataupun lafazh.5 Cukup banyak ayat al-Qur`an yang menyatakan bahwa al-Qur`an adalah firman Allah swt. Menurut Kristen antara Tuhan sebagai zat yang khusus dengan firman-Nya adalah dua hal yang berbeda. tidak boleh dikatakan sebagai sifat Allah yang qadîm (seperti al-Qur`an yang diyakini sebagai kalâm Allah). dukun. 421-422 6 Lihat QS. Saat itu. yaitu: Pertama. Mabahits fi ‘Ulumil-Qur`an. Menangkal Virus Islam Liberal. apalagi perkataan setan. sementara lafazhnya dari Nabi saw. Ushulul-Fiqhil-Islami. An-Nahl [16] : 89 dan al-An’am [6] : 38. Al-Baqarah [2] : 23-24. 8 Khalifah al-Ma`mun. Wahbah az-Zuhaili. Dalilnya adalah i’jaz al-Qur`an (kemukjizatan al-Qur`an) yang terbukti dengan ketidakmampuan manusia dan jin untuk menyamai atau menandingi gaya bahasa al-Qur`an. tidak pula dimiliki oleh khabar lainnya yang bersumber dari Nabi saw. baik secara utuh 30 juz. bab Konsep Wahyu dan Kenabian subbab Kodifikasi al-Qur`an. 5 Wahbah az-Zuhaili.2 sebelumnya. al-Mu'tashim dan al-Watsiq. al-Qur`an menantang mereka untuk membuat yang semisal al-Qur`an. Paham Mu'tazilah dalam hal sifat dan terkhusus lagi "kemakhlukan alQur`an" ini terpengaruh oleh paham Kristen tentang "firman Allah". hlm. Damaskus: Darul-Fikr. 7 QS.6 Jika ada yang meragukannya sebagai bukan kalam Allah swt. al-Qur`an adalah kalam (firman) Allah swt secara verbatim (lafazh dan makna). atau bahkan 1 surat saja. Allah dan al-Qur`an.7 Kedudukan al-Qur`an sebagai kalam Allah swt sempat memancing perdebatan teologis yang berujung pada dikeluarkannya kebijakan mihnah (pengujian aqidah) terhadap para ulama oleh penguasa Dinasti ‘Abbasiyyah. bahwa ia bukan perkataan Muhammad saw. Mu'tazilah menegaskan bahwa alQur`an itu makhluk. bisa diketahui bahwa penamaan al-Qur`an itu bisa juga disebabkan standar pokok al-Qur`an adalah “bacaan” bukan tulisan. penguasa ‘Abbasiyyah yang terpengaruh oleh pemikiran Mu’tazilah. al-Haqqah [69] : 43-47. al-Qur`an. demikian juga bukan perkataan ahli sya’ir. hlm. menurut Mu'tazilah. Itu artinya berkeyakinan adanya dua zat yang qadîm.

hlm. Bahkan bahasa Arab yang merupakan sinonim atau penjelasan terhadap al-Qur`an juga tidak bisa dikategorikan al-Qur`an. Masuk dalam kategori mutawatir ini qira`at sab’ah (tujuh ragam bacaan)12 yang secara mutawatir diriwayatkan dari Nabi saw. 259-262. sebab Allah swt sendiri yang menyatakan dengan tegas bahwa kitab-Nya tersebut semua ayatnya berbahasa Arab yang jelas (mengutip QS. Cet. Zaimul Am. tidak masuk dalam bagian al-Qur`an. yang dikutip dari kitab arRisalah hlm. 2002. terj. Sementara tiga qira`at lainnya—sehingga ada yang juga mengategorikannya qira`at ‘asyrah (sepuluh ragam bacaan)13—tidak termasuk. yaitu: iqra` (bacalah)15. ‘Ashim. iddikar 9 Ahmad Mahmud Shubhi. hlm. Wahbah az-Zuhaili dalam hal ini mengutip bantahan Imam as-Syafi’i kepada orang-orang yang berpendapat bahwa dalam al-Qur`an ada bahasa non-Arab. Muhammad [47] : 24. sebagaimana telah dijanjikan oleh Allah swt dalam QS. Sejarah Filsafat Islam. Abu Ja’far dan Khalf. az-Zumar [39] : 28. As-Syu’ara [26] : 192-195. 15-14 dan 72 10 Majid Fakhry. bahasa al-Qur`an adalah bahasa Arab sepenuhnya. Senada dengan paham Kristen ini maka Mu'tazilah beranggapan bahwa yang meyakini al-Qur`an sebagai kalâm Allah sama halnya dengan Kristen yang meyakini Yesus sebagai firman Tuhan dan menjadikan kedudukannya sederajat dengan Tuhan walau lebih rendah. 41. 11 Wahbah az-Zuhaili. Demikian juga qira`ah-qira`ah syadzdzah (bacaan salah dan diriwayatkan oleh jalur periwayatan yang lemah) yang tidak diriwayatkan secara mutawatir. baik secara lisan atau tulisan. Nafi’. Al-‘Alaq [96] : 1-3. 16 QS. an-Nahl [16] : 103). 23-24.th.3 sebagai Yesus. jilid 1.14 Cara Belajar al-Qur`an Terdapat banyak istilah yang digunakan al-Qur`an untuk menggambarkan amal berinteraksi dengan al-Qur`an yang kesemuanya merupakan perintah dan menjadi wajib untuk diamalkan. tadabbur (menggali makna)16. al-Qur`an diriwayatkan dari generasi ke generasi secara mutawatir. sebab tidak mutawatir. 424-426. Ushulul-Fiqhil-Islami. II. Ushulul-Fiqhil-Islami. Makna iqra` adalah membaca melalui teks atau membaca lewat hafalan (‘an zhahri qalbin). t. Jumlah yang sangat banyak dan melibatkan setiap generasi di setiap penjuru negeri dalam membaca dan menjaga tulisan al-Qur`an ini menjadikan al-Qur`an sangat terpelihara dan otentik. 1 : 422-423 12 Abu ‘Amr.10 Kedua. Makna tadabbur menurut az-Zuhaili . Maka dari itu. Tadabbur asal katanya adalah dubur. A Short Introduction to Islamic Philosophy. Fî 'Ilm al-Kalâm: Dirâsah Falsafiyyah li Ârâ` al-Firaq alIslâmiyyah fî Ushûl al-Dîn. 15 QS. 14 Wahbah az-Zuhaili. QS. sehingga kemudian menjadikan Mu’tazilah divonis sebagai aliran sesat yang menyimpang dari Islam. Theology and Mysticism. Imam as-Syafi’i dengan tegas menyatakan bahwa al-Qur`an tidak ada satu pun kata dan kalimatnya yang merupakan bahasa non-Arab. Maksud dari mutawatir itu sendiri adalah berturut-turut dan melibatkan orang banyak dari setiap generasinya. Atau dengan kata lain telah musyrik dan tidak bertauhid. sebab jelas tidak berbahasa Arab. hlm. Dar an-Nahdlah al-Islamiyyah. Majid Fakhry. Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis. 13 Ya’qub. An-Nisa` [4] : 82. Al-Hijr [15] : 9.9 Akan tetapi paham khalqul-Qur`an (kemakhlukan al-Qur`an) ini ditentang oleh para ulama dan umat Islam mayoritas. ujung sesuatu. Pada zaman Nabi saw iqra` dipraktikkan dengan cara membaca lewat hafalan.. Hamzah. menurut al-Biqa’i adalah “merenungkan akibatnya dan kesudahan perkaranya” (Nazhmud-Durar fi Tanasubil-Ayat was-Suwar. 4 : 82). hlm. Ibn Katsir. Maksudnya. al-Kisa`i.11 Ketiga. Bandung: Mizan. dan Ibn ‘Amir. terjemahan al-Qur`an tidak bisa dikategorikan al-Qur`an.

Asal katanya ratl. makna asalnya adalah ‘kembali’. peringatan. 19 QS.20 Sementara ta`wil. Tafsir asal katanya fasrun. tafsir atau penjelasan sesuatu. Yusuf [12] : 36 22 Musnad Ahmad no. As-Syams [91] : 2). menurut al-Hafizh Ibn Katsir. kasyf (menyingkap). dan izhharul-ma’na (memperlihatkan makna). tidak mengubah-ubah firman dari tempatnya. 316. Tilawah biasa diartikan membaca sebab membaca adalah mengikuti huruf per huruf untuk dilantunkan. dengan kata lain mengambil pelajaran dan menjadikannya ibrah. Ketiga amal ini harus sama-sama diperhatikan. dan tilawah (membaca dan mengikuti kandungannya). Berdasarkan QS. QS. 17 QS. sesungguhnya tilawah yang sebenarnya itu adalah menghalalkan yang halalnya. Al-Muzammil [73] : 1-4. Dalam istilah al-Qur`an dan hadits. Makna kedua. Al-Baqarah [2] : 121. hlm. tilawah itu bermakna juga mengikuti dengan tubuh. dimana Dia menyatakan bahwa adalah ta`ammul ma’anihi wat-tabasshur bi ma fihi. Memahami (Tafsir) al-Qur`an Memahami al-Qur`an adalah dengan cara menyimak penjelasan al-Qur`an. Akan tetapi menurut ‘Allamah ar-Raghib. Berdasarkan kaidah sharaf. pernyataan para penghuni penjara kepada Nabi Yusuf: Beritahukanlah kepada kami ta`wil mimpinya. menghafal dan memahami isinya. sebab sama-sama diwajibkan.4 (mengambil pelajaran)17. tartil (membaca dengan perlahan sambil dihayati)18. sikap. menghafal (tahfizh. seperti terlalu fokus pada tajwid/tahsin sehingga abai dari tafsir. jadilah iddikar. dan memahami kandungan (tafsir) al-Qur`an. Al-Muzzammil [73] : 4. Dalam hal ini ada dua istilah yang biasa digunakan oleh para ulama. atau terlalu fokus pada tafsir sehingga abai dari tahsin dan tahfizh.22 yang dimaksud kemampuan menjelaskan al-Qur`an. pahamkanlah ia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya ta`wil. 32. Asal katanya tala. bermakna ibanah (menjelaskan). ada dua: Pertama. amal tartil ini mencakup: membaca. Demikian juga do’a Nabi saw kepada Ibn ‘Abbas: Ya Allah. Maksud dari tartil al-Qur`an adalah mengeluarkan kalimat dari mulut dengan ringan dan benar (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur`an. ta`wil dalam arti mengetahui hakikat sesuatu. yaitu: tafsir dan ta`wil. tartil dipraktikkan pada waktu shalat malam dengan penuh penghayatan. 20 Manna’ al-Qaththan. Mabahits fi ‘Ulumil-Qur`an. Menurut Ibn Manzhur dalam kitabnya Lisanul-‘Arab. makna ta`wil ini. Ibn Mas'ud menjelaskan: “Demi Allah. 4 : 82). membacanya sebagaimana yang diturunkan Allah. Al-Baqarah [2] : 121). merenungkan peringatan dan pengajaran al-Qur`an. Ali ‘Imran [3] : 7. entri ratala). 22. Al-Qamar [54] : 17. Contohnya yang disebutkan Allah swt dalam QS.19 Dari kelima istilah yang digunakan di atas. dapat diambil satu kesimpulan bahwa belajar al-Qur`an itu dimulai dari membaca (tajwid/tahsin). Asal katanya idztikar. Jangan sampai ada yang “terperkosa” salah satunya. atau hukum. plus mendengarkan/tasmi’). 21 QS. Dalam level yang lebih tinggi adalah dengan cara menafsirkan alQur`an secara langsung. dan tidak mena`wilkannya sedikit pun dengan pena`wilan yang tidak benar” (Tafsir Ibn Katsir QS. Dalam hal ini. dari dzikr. atau tafsir al-Qur`an.21 yang dimaksud adalah penjelasannya. tafsir adalah kasyful-murad ‘anil-lafzhil-musykil. 40. Maknanya. merenungkan maknanya dan menghayati kandungannya (Tafsir al-Munir. Sehingga dengan sendirinya. huruf dza dan ta diidghamkan menjadi dal. berarti mengikuti (lihat QS. 18 QS. Contohnya. 2397 . mengungkap maksud sebuah lafazh yang tidak jelas. bermakana menyusun dan merangkai sesuatu dengan baik. mengharamkan yang haramnya.

atau tafsir tingkatan keempat dalam kategorisasi Ibn ‘Abbas. (2) tafsir yang hanya diketahui oleh orang Arab dari aspek linguistik/ilmu kebahasaannya. Az-Zumar [39]: 23 dan QS. Sebab orang-orang yang rasikh (mendalam) ilmunya pasti mengetahui tafsir dari ayat-ayat mutasyabihat meski tentu tidak sampai hakikat yang sebenarnya (Rujuk Tafsir Ibn Katsir QS. yang dimaksud mutasyabih dalam ayat ini adalah: “Sebagiannya membenarkan/menguatkan yang lainnya. Ali ‘Imran [3] : 7.”25 Ibn Hajar menjelaskan lebih lanjut: “Sebagian ayatnya mirip dengan sebagiannya lagi dalam keindahan susunan bahasanya. Ada dua ayat yang menyebut istilah mutasyabih dalam al-Qur`an. Ali ‘Imran [3] : 7) 24 QS. Al-Qur`an adalah kitab suci yang diwahyukan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw yang Nabi saw sendiri diberi wewenang oleh Allah swt untuk menjelaskan maksud dari wahyu-Nya tersebut. memahami alQur`an haruslah dengan menyandingkannya dengan ayat-ayat lainnya yang semakna. tafsir itu ada empat tingkatan: (1) Tafsir yang tidak susah untuk dipahami oleh siapapun. maka yang dimaksud ta`wil adalah tafsir. Ali ‘Imran [3] : 7. Mutasyabih khash artinya samar/tidak jelas maksudnya. Kedudukan ijma' shahabat ini adalah sebuah indikator yang jelas adanya pengajaran yang sama dari Nabi saw.24 Menurut Mujahid. Ketiga. Dengan sendirinya. Kedua. Kaifiyyah “menjelaskan” itu sendiri adalah sebagaimana dijelaskan pada rambu-rambu selanjutnya. 25 Shahih al-Bukhari kitab tafsir al-Qur`an bab minhu ayat muhkamat.5 tidak mungkin ada yang mengetahui ta`wil ayat mutasyabihat kecuali Allah swt. Maksudnya hakikat yang sebenarnya dari ayat mutasyabihat hanya diketahui oleh Allah swt. Dalam bacaan ini. tanpa mempertanyakan mengapa begini dan kenapa tidak begitu. Ali ‘Imran [3] : 7 tersebut. Keberadaan ijma’ shahabat layak menjadi rujukan juga disebabkan mereka para pelaku sejarah ketika turunnya al-Qur`an. 39 : 23 adalah mutasyabih ‘am. Konsekuensinya.”26 Maka dari itu. 26 Fathul-Bari kitab tafsir al-Qur`an bab minhu ayat muhkamat 27 QS.27 yang kemudian mewujud menjadi hadits-hadits Nabi saw dan ijma' (kesepakatan umum) para shahabat. ada yang membaca waqaf sampai Allah: Tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dalam memahami satu ayat al-Qur`an tidak bisa dilepaskan dari ayat lainnya yang mutasyabih.23 Dalam memahami/menafsirkan al-Qur`an. dan (4) tafsir yang hanya diketahui oleh Allah swt. Dalam hal inilah maka Ibn ‘Abbas menjelaskan. Mutasyabih dalam QS. al-Qur`an adalah kitab yang diturunkan Allah swt dalam keadaan mutasyabih. Di samping itu mereka mendapatkan jaminan kepastian benar dari Nabi saw 23 Tafsir Ibn Katsir QS. Dalam hal ini. Kesaksian mereka tentang maksud ayat-ayat al-Qur`an merupakan kesaksian sejarah yang valid untuk dijadikan rujukan. (3) tafsir yang hanya diketahui oleh orang yang mendalam ilmunya [ar-rasikhun fil-‘ilm]. sementara dalam QS. An-Nahl [16] : 44 . ta`wil yang dimaksud adalah ta`wil dalam arti mengetahui hakikat sesuatu. QS. Az-Zumar [39] : 23. terdapat beberapa rambu-rambu yang harus diperhatikan: Pertama. Dalam konteks QS. Mutasyabih ‘am artinya saling menyerupai/menguatkan. teks al-Qur`an adalah kalam Allah swt yang masih murni dan tidak dialihbahasakan oleh manusia. Akan tetapi ada juga yang membaca waqaf sampai arrasikhun fil-‘ilm: Tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. al-Qur`an punya otoritas penuh untuk diyakini dan diterima sepenuhnya (taken for granted). 3 : 7 adalah mutasyabih khash. Setiap penafsiran dengan sendirinya hanya sebatas “menjelaskan” bukan “mempertanyakan”. sami'na wa atha'na.

Menurut al-Albani hadits ini shahih sanad maqthu’ matan pada Mujahid dan Qatadah [ta’liq Sunan at-Tirmidzi]) . Beirut: Maktabah al-Hayah.30 Sebab alQur`an telah mengharamkan semua perkataan dan sikap yang tidak didasarkan pada ilmu. Keempat. Sebab al-Qur`an dan hadits sendiri sudah memerintahkan agar anugerah pikiran dari Allah swt digunakan untuk merenungkan makna ayat-ayat-Nya. Nabi saw.31 Maka dari itu. 2069. Sunan at-Tirmidzi kitab tafsir al-Qur`an bab alladzi yufassirul-Qur`an bi ra`yihi no. Muhammad [47] : 24. hlm. lalu ternyata tepat benar. jilid 2. 43. 2469. sebab kalau bil-ma`tsur/manqul sedikit sekali memunculkan perbedaan pendapat.29 Akan tetapi. maka tetap saja salah (Sunan at-Tirmidzi kitab tafsir al-Qur`an bab alladzi yufassirul-Qur`an bi ra`yihi no. Tafsir bir-Ra`yi dan Hermeneutika Penjelasan di atas tidak berarti bahwa tafsir harus “kaku” dengan sebatas menukil penjelasan al-Qur`an. Nabi saw sendiri membenarkan ta``wil dengan mendo’akan Ibn ‘Abbas agar diberi pemahaman ta`wil. inilah yang mutlak harus jadi rujukan. mengambil ibrah atau pelajaran dengan menggunakan pikiran dalam QS. dan para pakar bahasa (tafsir bil-ma`tsur/manqul). atau yang disebut dengan tafsir bir-ra`yi. Benar memang ada penafsiran yang berbeda di kalangan salaf. yakni kemampuan menjelaskan alQur`an dengan pikiran (Musnad Ahmad no. 31 Rujuk misalnya QS. Bahasa Arab itu sendiri adalah bahasa yang memiliki aturan linguistik (kebahasaan) dan semantik (imu tentang makna) yang sangat permanen dan tidak berubah-ubah. Al-Qur`an dari sejak awal diturunkannya masih otentik (asli) berbahasa Arab dan terus permanen sampai sekarang. 3652. Demikian juga hadits: 29 ‫ﻨﺎ ﹺﺭ‬‫ﻦ ﺍﻟ‬ ‫ﻣ‬ ‫ﻩ‬ ‫ﺪ‬ ‫ﻌ‬ ‫ﻣ ﹾﻘ‬ ‫ﻮﹾﺃ‬ ‫ﺘﺒ‬‫ﻴ‬‫ﻋ ﹾﻠ ﹴﻢ ﹶﻓ ﹾﻠ‬ ‫ﻴ ﹺﺮ‬‫ﻐ‬ ‫ﻥ ﹺﺑ‬ ‫ﺮﺁ‬ ‫ﻓﻲ ﺍﹾﻟ ﹸﻘ‬ ‫ﻦ ﹶﻗﺎ ﹶﻝ‬ ‫ﻣ‬ Barangsiapa yang mengatakan tentang al-Qur`an tanpa ilmu. Sebab penafsiran salaf adalah sebuah indikator yang jelas seperti itulah pemahaman al-Qur`an yang diajarkan Nabi saw. maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka (Musnad Ahmad bab hadits ‘Abdullah ibn ‘Abbas no. dengan tidak membebasakan nalar (ra`yu) untuk berkreasi. Sunan Abi Dawud kitab al-‘ilmi bab al-kalam fi kitabil-‘Llah bi ghairi ‘imin no. sehingga makna dari suatu kata dapat ditemukan dengan pasti dan tidak spekulatif. An-Nisa` [4] : 82. 1980. 2397). Al-Hasyr [59] : 2 (Arti asal i’tibar adalah menyeberang). Al-Baqarah [2] : 169 dan al-Isra` [17] : 36. 30 Di antara ulama yang tegas menyatakan haram tersebut adalah Ibn Taimiyyah dalam Muqaddimah fi Ushulit-Tafsir.6 melalui sabdanya: “(Berpegang teguhlah pada) apa yang aku dan para shahabatku ada padanya. Atau perintah untuk ber-i’tibar. Dari sejak era salaf terdapat ikhtilaf dalam makna suatu ayat. Jika itu yang ditempuh maka hukumnya haram. Atau pendapat Mujahid dan Qatadah: ‫ﺧ ﹶﻄﹶﺄ‬ ‫ﺪ ﹶﺃ‬ ‫ﺏ ﹶﻓ ﹶﻘ‬  ‫ﺻﺎ‬  ‫ﻪ ﹶﻓﹶﺄ‬ ‫ﺮﹾﺃﹺﻳ‬ ‫ﻥ ﹺﺑ‬ ‫ﺮﺁ‬ ‫ﻓﻲ ﺍﹾﻟ ﹸﻘ‬ ‫ﻦ ﹶﻗﺎ ﹶﻝ‬ ‫ﻣ‬ Barangsiapa yang berkata tentang al-Qur`an dengan ra`yunya. tabi’in. Untuk mengetahui makna suatu kata bisa dirujuk pada para pemakai bahasa tersebut di zaman lampau yang masih terpelihara dalam bentuk sya'ir dan prosa atau pada pola perubahan kata yang permanen (sharaf). tafsir bir-ra`yi ini tidak boleh sebatas ra`yu saja tanpa dasar ilmu (mujarradur-ra`yi). tapi jangan dilupakan pula banyak penafsiran salaf yang seragam. 2565 Lihat misalnya perintah untuk tadabbur dalam QS. 2950. para shahabat. Ini juga menunjukkan adanya aktivitas tafsir bir-ra`yi dari sejak awal Islam. Fahd ar-Rumi memberikan definisi tafsir bir-ra`yi ini dengan: 28 Sunan at-Tirmidzi bab ma ja’a fi iftiraqi hadzihi al-ummah no. Imam atTirmidzi menilainya hasan shahih).”28 Ijma' shahabat ini membawa konsekuensi adanya ijma' tabi'in dan tabi'ut-tabi'in yang mereka semuanya biasa disebut salaf. 2952. 2976.

hermeneutika otomatis menghendaki penolakan terhadap status al-Qur`an sebagai kalamullah. 2557]. 1420 H/2000 M. 159. bahasa Arab. semuanya relatif. Dirasat fi ‘Ulumil-Qur`anil-Karim. Bila diterapkan pada al-Qur`an. Asumsinya bisa karena itu dipaksakan oleh penguasa waktu itu. ilmu tafsir berawal dari keyakinan bahwa al-Qur`an kalam Allah swt dan kebenaran dalam al-Qur`an ada serta dapat ditemukan. melainkan sebuah usaha yang ekstra keras dalam mengistinbath hukum dengan berdasar pada dalil-dalil yang tafshiliyyah (rinci/menyoroti kasus per kasus hukum) dan zhanniyyah (tidak qath’i maknanya). Juga hadits Mu’adz yang diizinkan Nabi saw untuk berijtihad jika tidak ditemukan dalilnya dari al-Qur`an dan hadits. Sebagaimana dijelaskan oleh Syamsuddin Arif. tetapi statusnya shahîh. Artinya ijtihad tidak boleh melebihi al-Qur`an dan hadits (Sunan Abi Dawud kitab al-aqdliyah bab ijtihadir-ra`yi fil-qadla no. mempertanyakan otentisitasnya. Al-Qur`an hadir membawa haqq dan hudan untuk dijadikan pegangan dan diamalkan manusia. al-Qur`an menjadi susah untuk diamalkan karena semuanya menjadi direlatifkan. Hanya tentu bedanya. 35 Syamsuddin. Riyadl: Maktabah atTaubah. praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis. Dalam pembukaan pembahasan definisi ilmu fiqh. 1327. sementara hermeneutika 32 Fahd ibn ‘Abdurrahman ar-Rumi. 2008. dan terus menerus terperangkap dalam apa yang disebut 'lingkaran hermeneutis'. bagi cendekiawan mukmin.35 Konsekuensinya. Sunan at-Tirmidzi kitab al-ahkam bab al-qadli kaifa yaqdli no. Ushulul-Fiqhil-Islami. 33 Wahbah az-Zuhaili. Ushûl al-Fiqh wa Madâris al-Bahts Fîhi. Kedua. tafsir bir-ra`yi ini tidak boleh bertentangan dengan penjelasan al-Qur`an dan hadits Nabi saw yang sharih dan shahih.36 Terlebih pada kenyataannya ilmu tafsir yang dikembangkan oleh para ulama sudah mendahului teori-teori yang dikemukakan dalam hermeneutika. Riwayat ini meski dinilai da’îf oleh para ulama hadits. 181182 36 Ibid. al-Talkhîsh al-Habîr. hlm. semuanya merupakan karya manusia sebagai 'produk sejarah'. dimana yang pokoknya menguasai ‘ulumul-Qur`an/ushulut-tafsir. disebabkan kedla’ifannya tidak parah [Ahmad ibn ‘Ali ibn Hajar. tetapi cenderung diterima oleh para fuqaha. Oleh karena itu. . tegas Syamsuddin Arif. hadits ini memang mursal. Damaskus: Dar al-Maktabi. Yang benar menurut sebagian orang. akibat hegemoni bangsa Arab. 2 : 327. 33 Satu hal lain yang pasti. mungkin salah menurut orang lain. karena rawi-rawinya tsiqât/terpercaya [Wahbah al-Zuhaili. hermeneutika lebih tepat kalau dikategorikan sebagai musibah ketimbang hikmah. 3594. Al-Ahzab [33] : 36. selalu meragukan kebenaran dari mana pun datangnya. ‘ulumul-hadits. dan lain sebagainya. sekaligus menggugat kemutawatiran mushhaf 'Utsmani. 14].34 Masuk dalam tafsir bir-ra`yi yang haram ini adalah hermeneutika. Padahal al-Qur`an dari sejak awal menolak skeptisisme dan relativisme. Para ulama ushul dalam hal ini sudah menjelaskan persyaratan ijtihad. Karena kebenaran sangat bergantung pada konteks zaman dan tempat tertentu.7 menafsirkan al-Qur`an dengan ijtihad. Tidak ada tafsir yang mutlak benar. dan penguasaan terhadap kitab-kitab turats. 1 : 32). hermeneutika pada intinya mengajarkan dua hal: Pertama.32 Ijtihad itu sendiri bukanlah usaha istinbath (mengambil rumusan) hukum tanpa argumentasi dalil. Jakarta: Gema Insani. hlm. hermeneutika menganggap semua teks sama. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa fiqh mengandung pengertian mengkaji dalill-dalil tafshiliyyah untuk membedakannya dari ilmu para muqallidin (Ushulul-Fiqhil-Islami. no. Orientalis dan Diabolisme Intelektual. hlm. Menurut Wahbah al-Zuhaili. 2000. di mana makna senantiasa berubah. 34 Rujuk misalnya QS.

itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. 24256. ada beberapa di . maka mereka itulah adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah." (QS. bisa dirujuk pada buku penulis. 38 Shahih al-Bukhari kitab tafsir al-Qur`an bab minhu ayat muhkamat no. Bandung: Persispers. Mereka melakukan hal seperti itu karena memang motif dalam hatinya sudah tidak lurus dalam mengimani al-Qur`an. padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. ϵÎ/ $¨ΖtΒ#u tβθä9θà)tƒ ÉΟù=Ïèø9$# ’Îû tβθã‚Å™≡§9$#uρ 3 ‫ﻪ‬ ‫ﻰ ﺍﻟﱠﻠ‬‫ﺳﻤ‬ ‫ﻦ‬ ‫ﻳ‬‫ﻚ ﺍﱠﻟﺬ‬  ‫ﺌ‬‫ﻪ ﹶﻓﺄﹸﻭﹶﻟ‬ ‫ﻨ‬‫ﻣ‬ ‫ﻪ‬ ‫ﺑ‬‫ﺎ‬‫ﺗﺸ‬ ‫ﺎ‬‫ﻮ ﹶﻥ ﻣ‬‫ﺘﹺﺒﻌ‬‫ﻳ‬ ‫ﻦ‬ ‫ﻳ‬‫ﺖ ﺍﱠﻟﺬ‬  ‫ﻳ‬‫ﺭﹶﺃ‬ ‫ﻪ  ﹶﻓﹺﺈﺫﹶﺍ‬ ‫ﻮ ﹸﻝ ﺍﻟﱠﻠ‬‫ﺭﺳ‬ ‫ﺖ ﻗﹶﺎ ﹶﻝ‬  ‫ﻗﹶﺎﹶﻟ‬ ‫ﻢ‬ ‫ﻫ‬ ‫ﻭ‬‫ﺣ ﹶﺬﺭ‬ ‫ﻓﹶﺎ‬ Dari 'Aisyah ra. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata. Muhkam ‘am maksudnya ayat-ayat al-Qur`an muhkam secara keseluruhan. Menangkal Virus Islam Liberal. Di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamat. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan muhkam adalah: Sempurna dalam susunan. muhkam ‘am dan muhkam khash.¤‹tƒ $tΒuρ 3 $uΖÎn/u‘ ωΖÏã ôÏiΒ @≅ä. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan. 24973. Muhkam ada dua bagian. maka dari itu mesti diwaspadai: tΑt“Ρr& ü“Ï%©!$# uθèδ} ‫ﻳ ﹶﺔ‬‫ﻩ ﺍﻟﹾﺂ‬ ‫ﺬ‬ ‫ﻫ‬  ‫ﻪ‬ ‫ﻮ ﹸﻝ ﺍﻟﱠﻠ‬‫ﺭﺳ‬ ‫ﺗﻠﹶﺎ‬ ‫ﺖ‬  ‫ﺎ ﻗﹶﺎﹶﻟ‬‫ﻨﻬ‬ ‫ﻋ‬ ‫ﻪ‬ ‫ﻲ ﺍﻟﱠﻠ‬ ‫ﺿ‬  ‫ﺭ‬ ‫ﺸ ﹶﺔ‬  ‫ﺋ‬‫ﺎ‬‫ﻦ ﻋ‬ ‫ﻋ‬ ’Îû tÏ%©!$# $¨Βr'sù ( ×M≈yγÎ7≈t±tFãΒ ãyzé&uρ É=≈tGÅ3ø9$# ‘Πé& £èδ ìM≈yϑs3øt’Χ ×M≈tƒ#u çµ÷ΖÏΒ |=≈tGÅ3ø9$# y7ø‹n=tã ª!$# āωÎ) ÿ…ã&s#ƒÍρù's? ãΝn=÷ètƒ $tΒuρ 3 Ï&Î#ƒÍρù's? u!$tóÏGö/$#uρ ÏπuΖ÷GÏø9$# u!$tóÏGö/$# çµ÷ΖÏΒ tµt7≈t±s? $tΒ tβθãèÎ6®KuŠsù Ô÷ƒy— óΟÎγÎ/θè=è% {É=≈t6ø9F{$# (#θä9'ρé& HωÎ) ㍩. Shahih Muslim kitab al-'ilm bab an-nahy 'anit-tiba'i mutasyabihil-Qur`an no. Sunan Ibn Majah kitab iftitah bab ijtinabil-bida’ wal-jadal no. Ali ‘Imran [3] : 7. Dalam hal ini. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang memiliki akal pikiran. seluruhnya dari Rabb kami. 47. 6946. Artinya tidak semua ayat al-Qur`an muhkam. 25048. Ali 'Imran [3] : 7) Aisyah berkata: Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat. Sementara muhkam khash adalah ayat-ayat yang jelas maknanya dan merupakan kebalikan dari mutasyabih sebagaimana disebutkan QS. Musnad Ahmad bab hadits ‘Aisyah no.37 Mewaspadai Peragu al-Qur`an Sesudah mengetahui bagaimana memahami al-Qur`an dengan benar.8 berawal dari kesangsian al-Qur`an sebagai kalam Allah dan keraguan yang tiada akhir akan ditemukannya kebenaran dalam al-Qur`an. ia berkata: Rasulullah saw membaca ayat ini: "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. bab Konsep Wahyu dan Kenabian. 2011. Kami beriman kepada Al Qur'an. sebagaimana diisyaratkan QS. maka selanjutnya perlu diwaspadai usaha-usaha yang dilancarkan oleh segelintir orang dalam menimbulkan keraguan terhadap al-Qur`an. Nabi saw dari sejak awal sudah mengingatkan umatnya bahwa kelak akan ada orang-orang yang meragukan al-Qur`an dan menyebarkan doktrin-doktrin peraguannya terhadap al-Qur`an. dan bahwasanya semuanya haq dari sisi Allah (Fathul-Bari kitab tafsir al-Qur`an bab minhu ayat muhkamat). 4547. maka waspadalah kalian terhadap mereka!" 38 37 Untuk lebih jelasnya. Hud [11] : 1. 26240. maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya.

Menurut mereka ini menjadi dalil yang kuat bahwa antara ‘Isa (Yesus) dengan Allah satu zat. sebab Allah swt sudah memberitahu cara untuk memahaminya. Ketika menemukan ada ayat yang samar maknanya. Hampir sama dengan seorang ulama yang menulis kitab dengan menyisakan beberapa masalah yang sengaja tidak diulas secara rinci agar muridnya bersemangat belajar langsung darinya (Fathul-Bari kitab tafsir al-Qur`an bab minhu ayat muhkamat). sebab semuanya antaranya yang tidak muhkam yakni mutasyabih. tetapi sudah menjadi hal yang muhkam bahwa Allah swt Esa/Ahad. Sebagaimana halnya muhkam. Tentang ‘Isa. hukum-hukum had dan faraidl. itu bisa dikategorikan mutasyabih. adanya ayat-ayat mutasyabihat sama sekali tidak menjadi masalah untuk al-Qur`an. Sebab mereka memandang ada aspek-aspek tertentu dari ayat-ayat tersebut yang samar dan memungkinkan adanya penafsiran lain. yaitu dengan merujukkannya pada ayat-ayat muhkamat yang merupakan ummul-kitab (pokok al-Qur`an). juga berusaha mengetahui hakikat sebenarnya dari ayat-ayat mutasyabihat. Ali ‘Imran [3] : 7 adalah sebagian ayat-ayat al-Qur`an ada yang mutasyabih. Ali ‘Imran [3] : 7). Mutasyabih ‘am sebagaimana dimaksud QS. Ali ‘Imran [3] 59). Az-Zumar [39] : 23 adalah ayat-ayat al-Qur`an seluruhnya mutasyabih. Dalam konteks ini. QS. Contohnya. menurut Ibn ‘Abbas. matsal. ‘Isa bagian dari Allah dan Allah bagian dari ‘Isa. Adapun mutasyabih khash sebagaimana diisyaratkan QS. para pendeta Kristen Najran pernah mempersoalkan ayat-ayat tentang ‘Isa ibn Maryam yang disebutkan al-Qur`an sebagai kalimah-Nya dan ruh-Nya yang langsung ditiupkan pada Maryam (QS.9 Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani mengutip penjelasan para ulama yang menjelaskan bahwa adanya ayat-ayat yang mutasyabihat di antaranya untuk menunjukkan keterbatasan pengetahuan manusia di hadapan pengetahuan Allah swt. Dalam tulisan ini kajian akan difokuskan pada muhkam dan mutasyabih khash sebagaimana dimaksud oleh QS. Ali ‘Imran [3] : 7 yang menjadi tema pembicaraan Nabi saw dalam hadits di atas. mutasyabih bermakna samar/tidak jelas bagi pendengar (Fathul-Bari kitab tafsir al-Qur`an bab minhu ayat muhkamat). Ini artinya tergantung para pembaca al-Qur`an itu sendiri. dan tentang penciptaannya tidak jauh beda dengan penciptaan Adam. dan lainnya (Tafsir Ibn Katsir QS. meskipun ada beberapa hal yang mutasyabihat dalam al-Qur`an kita tetap harus beriman. mutasyabih ‘am dan mutasyabih khash. Orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang tidak total beriman kepada kitab Allah swt. Ali ‘Imran [3] : 7). Fenomena munculnya sekte liberalisme dalam Islam dengan mempersoalkan ayat-ayat yang sudah qath’i penafsirannya di kalangan para ulama bisa dijadikan salah satu kasus. adalah ayat-ayat yang me-naskh. diciptakan dari tanah lalu diputuskan “kun” maka jadi (QS. Ali ‘Imran [3] : 7). yakni serupa kandungannya dan saling menguatkan. Masuk dalam kategori ayat-ayat muhkam ini. ayat yang diimani tapi tidak diamalkan. Kita jangan sampai terpengaruh oleh mereka. Meskipun tidak pernah ditemukan tafsir langsung dari Nabi saw tentang maksud ‘Isa ibn Maryam kalimah Allah dan ruh-Nya. Az-Zukhruf [43] : 59 dengan jelas menyebutnya sebagai hamba Allah swt bukan anak Allah swt. mutasyabih ada dua pengertian. sehingga manusia sudah semestinya merendah di hadapan keagungan Allah swt. dan huruf-huruf muqaththa’ah (terputus) pembuka surat seperti Alif Lam Mim. Imam Ibn Katsir menjelaskan. Di kalangan para ulama sendiri tidak ada kesepakatan untuk memberikan batasan yang jelas ayat-ayat mana saja yang termasuk mutasyabih. dan ayat-ayat yang diimani juga diamalkan (Tafsir Ibn Katsir QS. sumpah. keraguan dan penyimpangan dari kebenaran. tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. AnNisa` [4] : 171). Kasus ayat-ayat semacam ini bisa dikategorikan ayat-ayat mutasyabih. yang menjelaskan halal dan haram. kerisauan dan kegelisahan) di kalangan umat. Mereka layak diwaspadai karena pasti di dalam hatinya ada zaighun. Nabi saw dalam hadits di atas mengingatkan umatnya untuk mewaspadai orangorang yang mempersoalkan ayat-ayat mutasyabihat dengan niat menimbulkan fitnah (kekacauan. Masuk dalam kategori ini ayat yang di-mansukh. . Demikian semestinya ayat-ayat mutasyabihat dipahami (Rujuk Tafsir Ibn Katsir QS.

Zaimul Am. Nazhmud-Durar fi Tanasubil-Ayat was-Suwar (al-Maktabah as-Syamilah) Fahd ibn ‘Abdurrahman ar-Rumi. Al-An’am [6] : 57. kepemimpinan rumah tangga. Seandainya Ibn Katsir hidup di zaman sekarang. Mereka semua adalah sekte-sekte yang memahami agama tidak memakai panduan Nabi saw dan para shahabat. Kekurangpahaman kita terhadap beberapa ayat yang mutasyabihat tidak boleh menyebabkan kita ragu dengan al-Qur`an. dan lainnya—tetapi juga sudah mempersoalkan otentisitas wahyu/al-Qur`an itu sendiri. 'Imaduddin Abul-Fida` Isma'il ibn Katsir. Di belakang Khawarij kemudian bermunculan Qadariyyah. Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari (alMaktabah as-Syamilah) ______. sebuah aliran keagamaan yang menilai bahwa para shahabat dan kaum muslimin seluruhnya berdosa besar dan halal darahnya disebabkan sudah melanggar hukum Allah swt ketika menyerahkan urusan hukum kepada utusan ‘Ali dan Mu’awiyah. Bandung: Mizan. Ini adalah di antara bentuk penyimpangan dalam memahami ayat Allah swt yang terdapat padanya kesamaran (isytibah/mutasyabih) sedikit. Riyadl: Ibn Taimiyyah. Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis. Orang-orang seperti inilah yang disebut oleh Nabi saw sudah diberi nama/stempel oleh Allah swt: alladzina fi qulubihim zaighun. jangan sampai kita terbawa ragu terhadap al-Qur`an. Fî 'Ilm al-Kalâm: Dirâsah Falsafiyyah li Ârâ` al-Firaq alIslâmiyyah fî Ushûl al-Dîn. II. sebab pokok al-Qur`an ada pada ayat-ayat yang muhkamat. Menurut Khawarij kaum muslimin sudah melanggar firman Allah swt: Hukum hanya milik Allah (QS. ayat yang yang membeda-bedakan manusia berdasar agama. pasti Ibn Katsir akan menyebut juga para orientalis dan pengekornya dari kalangan liberalis sebagai kelompok alladzina fi qulubihim zaighun. 67). 2000. Dirasat Maktabah at-Taubah. fi ‘Ulumil-Qur`anil-Karim. al-Talkhîsh al-Habîr (al-Maktabah as-Syamilah) Ahmad Mahmud Shubhi. Mu’tazilah. Ibn Katsir merinci bahwa di antara mereka yang selalu mengutak-atik ayat-ayat mutasyabihat adalah Khawarij. Cet. t. Mereka sudah bukan lagi mempersoalkan ayat-ayat tertentu yang menurut mereka mutasyabih—seperti ayat waris. Beirut: Maktabah al-Hayah. Jahmiyyah. orang-orang yang hatinya menyimpang. 1980. . 2002. dan kelompok-kelompok ahli bid’ah lainnya yang selalu mengutak-atik ayat-ayat Allah yang sedikit isytibah dan dinilai condong kepada pendapat mereka.10 juga diturunkan dari sisi Allah swt (amanna bihi kullun min ‘indi Rabbina). terj. ___________________ Daftar Pustaka Ahmad ibn 'Ali ibn Hajar al-'Asqalani. A Short Introduction to Islamic Philosophy. Dar an-Nahdlah al-Islamiyyah. Muqaddimah fi Ushulit-Tafsir. dan pakaian yang membedakan laki-laki dan perempuan. Theology and Mysticism. Tafsir al-Qur`an al-'Azhim (al-Maktabah as-Syamilah) Majid Fakhry. Maka dari itu berhatihatilah terhadap mereka. Yusuf [12] : 40.th Al-Biqa’i.

11 Manna’ Khalil al-Qaththan. Jakarta: Gema Insani. 1986. Damaskus: Dar al-Maktabi. XI. Nashruddin Syarief. Ushûl al-Fiqh wa Madâris al-Bahts Fîhi. Damaskus: Darul-Fikr. Orientalis dan Diabolisme Intelektual. _____. Mabahits fi ‘Ulumil-Qur`an. 2000. Menangkal Virus Islam Liberal. Tafsir al-Munir (al-Maktabah as-Syamilah) _____. Kairo: Maktabah Wahbah. 2008. Wahbah az-Zuhaili. Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur`an (al-Maktabah asSyamilah) Syamsuddin. cet. 2011 Ar-Raghib al-Ashfahani. 1420 H/2000 M . Ushulul-Fiqhil-Islami. Bandung: Persispers.

.

9.5) /Creator (D:20111117144035+07’00’) /CreationDate (nashruddin syarief) /Author -mark- .ERROR: syntaxerror OFFENDING COMMAND: --nostringval-STACK: /Title () /Subject (D:20111117144035+07’00’) /ModDate () /Keywords (PDFCreator Version 0.