You are on page 1of 7

SUBSEQUENT PERIOD

Menurut SA 560, Subsequent Event (Peristiwa Kemudian) merupakan kejadian antara
tanggal laporan keuangan dan tanggal laporan auditor dan fakta yang diketahui oleh auditor
sesudah tanggal laporan auditor
Ada dua tipe peristiwa kemudian
memerlukan evaluasi auditor.

yang

membutuhkan

perhatian

manajemen

dan

Tipe pertama meliputi peristiwa yang memberikan tambahan bukti yang berhubungan
dengan kondisi yang ada pada tanggal neraca dan berdampak terhadap taksiran yang
melekat dalam proses penyusunan laporan keuangan.
Tipe kedua meliputi peristiwa-peristiwa yang menyediakan tambahan bukti yang
berhubungan dengan kondisi yang tidak pada tanggal neraca yang dilaporkan, namun
kondisi tersebut ada sesudah tanggal neraca. Peristiwa-peristiwa ini tidak memerlukan
penyesuaian terhadap laporan keuangan
Atas kasus tersebut maka ada 2 pihak KAP yang bersangkutan dan bertanggung jawab atas
hal tersebut, yaitu junior yang melakukan kelalaian dan juga senior yang bertanggungjawab
atas junior. Berdasarkan SA 220.16, diatur tanggung jawab review sesuai dengan kebijakan
prosedur review pada KAP yang bersangkutan untuk tim penugasan.
Di dalam menjalankan proses audit, auditor harus memperhatikan subsequent event yang
berdampak pada pemberian opini mereka. Seperti yang dikutip pada SA 560 Subsequent
Event, seorang auditor mempunyai tanggung jawab melaksanakan prosedur audit demi
memperoleh bukti yang cukup dan tepat. Selain itu, auditor juga harus merespon dengan
tepat fakta yang mereka ketahui usai tanggal laporan auditor yang kemungkinan
menyebabkan auditor mengubah laporan auditnya. Event ini dimulai dari tanggal pelaporan
keuangan hingga tanggal ketika auditor menyetujui dan menandatangani laporan keuangan
tersebut.
Berikut ini adalah prosedur yang berkaitan dengan subsequent event : 1) Menentukan
luasnya kecukupan prosedur yang dibagun oleh manajemen untuk mengidentifikasi
peristiwa kemudian yang relevan; 2) Memeriksa pencatatan akuntasi sesudah tanggal
pelaporan dan catatan hal-hal yang material dan tidak biasa; 3) Memeriksa informasi
manajemen termasuk notulen rapat dan catatan hal-hal yang material dan tidak biasa; 4)
Mengadakan diskusi dengan manajemen untuk mendiskusikan efek dari transaksi yang
material dan tidak biasa atau kejadian setalah pelaporan keuanga untuk memastikan apakah
mereka berkualifikasi sebagai peristiwa kemudian; 5) Mempertimbangkan apa ada
kebutuhan berkonsultasi dengan penasihat entitas berkaitan dengan kemungkinan klaim dan
kewajiban kontigen yang dapat mempengaruhi posisi laporan keuangan di tanggal
pelaporan; 6) Mengupdate estimasi akuntasi dan mengkonfimasi perlunya pembuatan
penyesuaian (adjustment).
Dari peristiwa kemudian itu, ada dua jenis penyesuaian di laporan keuangan, yaitu adjusting
event dan non-adjusting event. Adjusting event adalah tanggal sesudah kejadian yang
membutuhkan tambahan bukti dari kondisi yang ada di tanggal pelaporan. Sementara itu,
non-adjusting event adalah tanggal sesudah kejadian dimana kondisi yang diperhatikan
tidak muncul di tanggal pelaporan. Karena itulah, fakta-fakta ini mungkin datang sesudah
tanggal laporan auditor tetapi sebelum laporan keuangan diterbit-kan atau setelah laporan
tersebut diterbitkan.

kemudian bisa . bagian A1 yang berbunyi bahwa respons keseluruhan untuk menanggapi risiko salah saji material yang telah dinilai pada tingkat laporan keuangan dapat mencakup: • Penekanan kepada tim audit atas perlunya mempertahankan skeptisisme professional. • Penugasan staf berpengalaman atau personil yang mempunyai kemampuan khusus atau penggunaan pakar. • Perubahan umum atas sifat. auditor dapat menemukan kemungkinan adanya salah saji melalui fluktuasi persediaan yang tidak biasa antara data keuangan tahun berjalan yang belum diaudit dengan data keuangan tahun lalu yang sudah diaudit. misalnya: pelaksanaan prosedur substansif pada akhir periode bukan pada saat tanggal interim.PRO: Carolina Verani. INVENTORY CASE Berdasarkan ISA No. pengujian dan penyelesaian audit. bertugas untuk mengarahkan dan me-review pekerjaan auditor junior. 520 menyatakan prosedur analitis adalah “The evaluation of financial information through analysis of plausible relationships among both financial and nonfinancial data. Menurut SA Seksi 230 nomor 01 yang berbunyi “Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya. KONTRA: SPAP 220 “Pengendalian Mutu untuk Audit Atas Laporan Keuangan” pada bagian Tanggung Jawab Kepemimpinan atas Mutu Audit yang berbunyi “rekan perikatan harus bertanggung jawab atas keseluruhan mutu setiap perikatan audit yang ditugaskan kepada rekan yang bersangkutan”. Auditor senior biasanya akan menetap di kantor klien sepanjang prosedur audit dilaksanakan. Prosedur analitis dapat dilakukan dalam tiga tahap yaitu saat perencanaan." Definisi ini menekankan pada ekspektasi yang dikembangkan oleh auditor sehingga dalam hal ini boleh saja Santoso berargumen bahwa sisa bahan baku nilainya tidak material sesuai dengan kebijakan yang diambil oleh perusahaan. Umunya auditor senior melakukan audit terhadap satu objek pada saat tertentu. atau modifikasi sifat prosedur audit untuk memperoleh bukti audit yang lebih meyakinkan. et al (2011) menyatakan bahwa auditor senior bertugas untuk melaksanakan audit. Santoso dapat melakukan pengujian selanjutnya berupa pengujian terinci atas saldo. Jika memang ditemukan fluktuasi yang tidak wajar maka untuk mendapatkan bukti yang lebih akurat. • Pemasukan tambahan prosedur audit yang tidak dapat diprediksi dalam pemilihan prosedur lebih lanjut. sehingga ketika auditor junior melakukan kesalahan pengklasifian CoA. SPAP 330 “Respon Auditor Terhadap Risiko yang Telah Dinilai” pada bagian materi penerapan dan penjelasan lainnya. auditor senior tidak perlu mendampingi auditor junior dalam menyelesaikan tersebut namun tetap memberikan arahan. saat.” Seorang auditor baik junior maupun senior wajib melaksanakan penugasan audit dengan cermat dan seksama. auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. • Penyediaan pengawasan tambahan. bertanggung jawab untuk mengusahan biaya audit dan waktu audit sesuai dengan rencana. atau luas prosedur audit. Pada tahap perencanaan.

menurut ISA 315 no 6b A8 dengan melakukan analytical procedure. sisa bahan bakunya dapat dialokasikan langsung seluruhnya menjadi harga pokok penjualan. et al dalam jurnal yang berjudul “The Effect of the External Auditors’ Ability to Assess Fraud Risk on Their Ability to Detect the Likelihood of Fraud” menyatakan bahwa persediaan bahan sisa bisa tidak dicatat apabila sisa bahan baku tersebut sedikit atau tidak material. kita dapat menganalisis fraud yang mungkin terjadi sebagai akibat dari transaksi maupun peristiwa yang tidak biasa serta dapat menimbulkan masalah di dalam proses audit nantinya. auditor bermaksud untuk mengandalkan operasi efektivitas pengendalian dalam menentukan sifat. Berdasarkan isi tersebut dapat dipahami jika seorang auditor diharuskan merancang dan melakukan Test of Control yang digunakan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dalam prosedur pemeriksaan sebelum melaksanakan prosedur selanjutnya. prosedur substantif saja tidak dapat memberikan cukup dan tepat mengaudit bukti pada tingkat asersi. Misalnya. Sehingga dengan melakukan AP melalui prosedur yang benar maka tidak masalah jika terbukti sisa bahan baku tersebut tidak material. KONTRA Santoso tidak bisa secara langsung berargumen bahwa sisa bahan baku nilainya tidak material dan melakukan uji AP di awal tetapi tetap harus melakukan TOC agar dapat mengevaluasi internal control dari PT ‘Y’ seperti yang dikatakan dalam ISA 330. Perlakuan Santoso ini dapat dikategorikan sebagai peristiwa yang tidak biasa dan dengan demikian menggunakan AP dapat mengurangi resiko fraud yang terjadi. waktu dan luasnya prosedur substantif). penilaian auditor tentang risiko salah saji material pada asersi mencakup harapan bahwa kontrol beroperasi efektif (yaitu.dilanjutkan dengan pengujian internal control dan pengujian saldo akhir perusahaan tersebut. Menurut ISA 315 no 6b dikatakan bahwa salah satu prosedur dalam melakukan risk assessment adalah melakukan analytical procedure (AP) untuk memastikan bahwa laporan keuangan terbebas dari salah saji material. yang bertanggung jawab atas internal control / tata kelola perusahaan adalah internal auditor perusahaan. Menurut SA 330 (paragraf 18: A43) menyatakan bahwa “hanya melaksanakan prosedur analitis subsantif saja sudah cukup untuk menurunkan risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima. atau 2. Selain itu. ketika penentuan risiko auditor didukung oleh bukti audit yang diperoleh dari pegujian pengendalian.” Menurut Nahariah Jaffar.8 bahwa “Auditor harus merancang dan melakukan pengujian pengendalian untuk memperoleh cukup bukti audit yang tepat untuk efektivitas operasi pengendalian yang relevan jika: 1. Uji TOC ini sangat diperlukan untuk mengetahui internal contol dari bisnis klien dan apabila tidak dilakukan di awal proses audit maka akan sulit untuk menganalisa kesalahan-kesalahan yang mungkin akan terjadi di klien. Menurut Grefita (2011) selain manajemen. Selain itu jurnal dengan judul “Peneran Audit Siklus Persediaan dan Pergudangan untuk Mendukung Kewajaran Penyajian Laporan Keuangan pada PT B di Sidoarjo” mengatakan bahwa dalam melaksanakan audit .

Selain itu. Dalam ISA 315. Dan menurut kami. Sehingga auditor dari KAP-KAP yang berafiliasi dengan pihak Big Four pastilah KAP yang akan menghasilkan laporan audit yang lebih baik dan berkualitas 2. maka dilaksanakan pengujian pengendalian terhadap PT “B” sehingga dapat diperoleh informasi mengenai perlakuan akuntansi serta pengendalian internal yang selama ini di jalankan oleh PT “B” (Manopo dan Tan 2013). SA 220 paragraf 7. auditor harus mendapat penjelasan dari pihak manajemen.12 dikatakan bahwa auditor wajib memperoleh pemahaman mengenai pengendalian internal yang relevan bagi auditnya. apabila asumsi yang digunakan auditor berbeda dengan manajemen. Berdasarkan teori tersebut dapat dikatakan KAP yang memiliki afiliasi dengan pihak Big Four pasti sudah terpercaya dan merupakan KAP yang berkualitas di kelasnya karena tentu saja Big Four tidak mungkin secara asal memilih partner afiliasi KAP nya. pada kasus ini pihak manajemen juga memiliki asumsi yang berbeda dengan auditor. Berdasarkan buku Arens 2011 (Halaman 237) dikatakan spesialisasi auditor adalah auditor yang memiliki pemahaman yang dalam dan pengalaman yang panjang dari bisnis dan industri dari klien yang spesifik. termasuk alasan untuk mengubah kebijakan akuntansi. Dalam ISA 315. prosedur analitis (AP) bisa dilakukan di tahap manapun karena prosesnya yang cenderung mudah untuk diimplementasikan. suatu persekutuan atau korporasi. Sementara itu. Seharusnya Santoso harus memberikan klarifikasi kepada perusahaan untuk mengubah pencatatannya tersebut sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia.atas siklus persediaan dan pergudangan untuk menentukan kewajaran penyajian laporan keuangannya. Hal ini menyatakan bahwa begitu pentingnya TOC di lakukan di awal proses audit karena akan mempermudah dalam proses audit selanjutnya. terutama asumsi terkait perhitungan HPP dan Inventory. Dalam ISA 315. sebuah KAP dalam . Hal pertama yang harus mereka perhatikan adalah sistem pengendalian internal. dan akuntansi yang spesifik dan panduan audit yang penting untuk melakukan audit yang berkualitas tinggi. yang terjadi dalam proses konversi bahan menjadi barang jadi. Menurut ISA 540. BIG 4 VS NON BIG 4 PRO 1. KONTRA (Tidak Setuju) Menurut PSAK no 14. prosedur STOT dan TDB yang dilakukan di tahap berikutnya tidak membutuhkan banyak pemeriksaan. mereka bisa menilai resiko salah saji material pada laporan keuangan. Jika auditor telah memastikan sistem internal control perusahaan berjalan dengan baik. atau entitas lain dari akuntan profesional.12 dikatakan bahwa auditor wajib memperoleh pemahaman mengenai pengendalian internal yang relevan bagi auditnya.11 (alinea A28) menyatakan pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi. Hal ini didasari oleh sebuah pemikiran bahwa internal control memegang peranan yang cukup penting untuk menggambarkan resiko dalam penyajian laporan keuangan (inherent risk dan control risk). Dengan begitu. Auditor wajib mengevaluasi apakah kebijakan akuntansi yang diterapkan entitas cocok untuk bisnis itu. memiliki pengetahuan tentang operasi perusahaan.(e) mengatakan KAP : praktisi tunggal. Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang diproduksi dan biaya overhead produksi tetap dan variabel yang dialokasikan secara sistematis.

2008).568 perusahaan di Amerika selama periode waktu 2003 – 2005. kami yakin bahwa KAP second tier yang berafiliasi dengan KAP internasional memiliki kualitas/mutu audit baik. ditemukan bahwa KAP Big Four bisa menyediakan kualitas audit yang lebih tinggi dibanding KAP non Big Four. NINI dan ESTRALITA TRISNAWATI (JURNAL BISNIS DAN AKUNTANSI Vol. Dalam Kasus pemilihan KAP Big Four dan Second Tier. imbalan atau audit fee tidak akan mempengaruhi auditor dalam membatasi praktik pekerjaan audit di lapangan. dapat juga dilakukan dengan melihat hasil audit. Menurut Arens dalam bukunya yang berjudul Auditing(2008) menyatakan bahwa “auditing adalah pengumpulan serta pengevaluasian bukti-bukti atas informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian informasi tersebut dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. terdapat 47 KAP di Indonesia yang mempunyai kerja sama internatisonal. . auditor dan standart yang diterapkan. Francis (2004) mengatakan bahwa untuk mengukur kualitas audit. Desember 2009) berpendapat bahwa independensi auditor pada KAP Big Four sangat tinggi. Salah satu ukuran yang dipercaya publik terkait kualitas audit suatu KAP adalah reputasi/nama besar KAP di pasar (Dopuch dan Simunic. 2. KAP yang tergolong dalam bigfour mempunyai kompetensi yang lebih baik dari pada KAP diluar Bigfour. terutama untuk mengisolasi kasus litigasi (apabila terjadi). KAP second tier mempunyai kualitas audit yang berkualitas. KAP yang terafiliasi dengan Big Four tentu lebih profesional dari segi kemampuan karena pasti telah memenuhi standard untuk dapat tergabung ke dalam KAP afiliasian Big Four dan segi terpercayanya KAP tersebut oleh kliennya. 11. Berdasarkan riset Francis and Yu (2009) yang telah mengobservasi 6. 4. Reginald Wilson. KAP International sangat berhati-hati menyusun jejaringnya. Menurut kami.” Jadi dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa audit yang baik harus dilakukan oleh seseorang yang memiliki kompetensi dalam melakukan proses audit. 5. Hal ini karena. (2015) KAP Big Four lebih bisa menahan/mengatasi tekanan-tekanan yang datang dari kliennya karena KAP Big 4 memiliki lebih banyak auditor yang berpengalaman serta sudah menangani klien yang lebih banyak dibandingkan KAP non-Big Four yang pada umumnya hanya memiliki sedikit klien sehingga tekanan yang ada masih tidak terlalu kuat. Auditing harus dilaksanakan oleh seseorang yang kompeten dan independen. 3. setiap KAP mempunyai auditor yang harus mematuhi SPAP serta Standart ISA dalam penugasan. KAP Big Four lebih mungkin menyediakan / mengeluarkan laporan audit yang going concern. 3. No. 6. dimana auditor bigfour sebelum terjun kelapangan harus lulus berbagai macam test yang diadakan oleh bigfour untuk menguji kompetendi dan pengetahuan dalam proses auditing.penugasannya untuk melakukan audit. Contohnya seperti KAP Tanubrata Susanto dan Fahmi dan Rekan yang merupakan member of BDO selain itu hal ini dibuktikan dengan banyaknya penelitian kualitas audit tidak ditentukan dari ukuran KAP (DARWIN 2012). haruslah profesional. hal ini berpengaruh pada keberlangsungan KAP dan reputasi KAP di mata masyarakat apalagi KAP second tier yang berafiliasi dengan KAP international pasti akan menjaga reputasi KAPnya sehingga laporan audit yang dihasilkan pasti sama kualitasnya dengan KAP yang big four. KONTRA 1. (Berdasarkan Direktori IAPI 2010) ( Institut Akuntan Publik Indonesia). Ada dua hasil audit yang dapat diobservasi yaitu laporan audit dan laporan keuangan.

7 Biaya pembelian persediaan meliputi harga pembelian. 1995 : 523) • Menurut (Triwahyudi 2003) Penaksiran biaya penyelesaian (cost estimation) dengan membandingkan biaya-biaya yang telah dibebankan sampai dengan saat ini. kemudian biaya konversi. rabat dan pos lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian. dengan biayabiaya yang telah dibebankan tersebut ditambah dengan taksiran biaya penyelesaian pekerjaan. 2009) biaya perolehan persediaan adalah keseluruhan dari biaya pembelian. 2009) menerangkan bahwa biaya perolehan persediaan adalah keseluruhan dari biaya pembelian.3. Menurut Louis (2005) KAP Besar dan kecil telah diatur dengan standar yang sama. HPP OR NOT ? PRO • Konsep-konsep dalam Perhitungan Laba-Rugi Penyusunan perhitungan laba rugi harus dilandasi dengan konsep konsep dasar akuntansi: Konsep koservatisme (conservatism concepts. Konsep periode waktu (time period concepts) (Philip E. independensi dan sikap mental yang baik harus dipertahankan oleh auditor. Konsep pengungkapan yang memadai. • Pengukuran persediaan dalam SAK ETAP (IAI. . Kedua. Ketentuan yang dimuat dalam Pernyataan Standar Audit (SA) No. bahan dan jasa. 4. dan biaya pengangkutan. dan alokasi audit effort pada 4 tahap audit yakni planning. 2013) menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya. 04 (SA 220) mengharuskan auditor bersikap independen. • Accounting Standard 7 (AS 7) Ketika outcome dari konstruksi tersebut tidak dapat diestimasi secara handal maka contract cost harus diakui sebagai expense pada periode dimana cost tersebut terjadi. 6. risk assesement. (SA 230 dalam SPAP.). • Pengukuran persediaan dalam SAK ETAP (IAI. dan completion. (2006) dan Fitriany (2011) Perbandingan kualitas audit yang dilakukan oleh KAP Big 4 dan KAP non Big 4 dengan melihat pada audit program. penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi. Konsep penandingan (matching consepts. Dalam SPAP (2013) dinyatakan bahwa segala hal yang berhubungan dengan perikatan. Konsep materialitas (materiality concepts). Diskon dagang (trade discount).. sehingga kualitas auditnya akan menjadi lebih baik. KAP yang lebih kecil dengan standar lokal memiliki pemahaman yang lebih baik akan lingkungan dan resiko bisnis lokal. total jam kerja.. Hasilnya keduanya memiliki effort yang sama. 5. substantive testing. auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalitasnya dengan cermat dan seksama (due professional care). • Menurut PSAK 14 no. Penelitian Blokdjik et al. bea masuk dan pajak lainnya (kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh perusahaan kepada kantor pajak). biaya konversi & biaya lain yang menjadikan persediaan pada keadaan dan tempat sekarang. Fess. sehingga kedua KAP diyakini akan berjalan dalam koridor dari standar.

• PSAK 34 A. • Accounting Standard 7 (AS 7) dan PSAK 34. sehingga pendapatan. maka pendapatan kontrak dan biaya kontrak yang berhubungan dengan kontrak konstruksi diakui masing-masing sebagai pendapatan dan beban dengan memerhatikan tahap penyelesaian aktivitas kontrak pada tanggal akhir periode pelaporan. pendapatan kontrak dihubungkan dengan biaya kontrak yang terjadi dalam mencapai tahap penyelesaian tersebut. Metode ini memberikan informasi yang berguna mengenai luas aktivitas kontrak dan kinerja selama suatu periode. biaya konversi dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai (present location and condition). Menurut metode ini. Vol 7 Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah semua biaya yang muncul dalam rangka menghasilkan suatu produk hingga siap dijual atau sampai siap digunakan . didukung pada paragraf 38 yang menyebutkan “Metode persentase penyelesaian diterapkan secara kumulatif dalam setiap periode akuntansi terhadap estimasi pendapatan kontrak dan biaya kontrak”. Paragraf 22 Jika hasil kontrak konstruksi dapat diestimasi secara andal. pendapatan kontrak dan biaya kontrak yang berhubungan dengan kontrak konstruksi yang diakui masing-masing sebagai pendapatan dan beban dengan memperhatikan tahap penyelesaian aktivitas kontrak pada tanggal neraca (percentage of completion). biaya yang dapat diatribusikan pada aktivitas kontrak pada umumnya dan dapat dialokasikan ke kontrak tersebut. • PSAK 34. Penekanan pada keseluruhan biaya pembelian menunjukkan bahwa meskipun barang tersebut belum diproses atau belum digunakan sebagai proses produksi maka hal ini perlu dicatat sebagi harga pokok penjualan KONTRA • PSAK 34 Pengakuan pendapatan dan beban dengan memperhatikan tahap penyelesaian suatu kontrak sering disebut sebagai metode persentase penyelesaian (percentage of completion). Paragraf 22 Jika hasil (outcome) kontrak konstruksi dapat diestimasi secara andal. • Management Accounting. • PSAK 14 no 06 Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian.serta biaya lainnya yang menjadikan persediaan pada keadaan dan tempat sekarang. Taksiran rugi (expected loss) pada kontrak konstruksi tersebut harus segera diakui sebagai biaya. biaya lain yang secara khusus dapat ditagihkan ke pemberi kerja sesuai isi kontrak. 15 Biaya suatu kontrak konstruksi terdiri atas:biaya yang berhubungan langsung dengan kontrak tertentu. beban dan laba yang dilaporkan dapat diatribusikan menurut penyelesaian pekerjaan secara proporsional.