You are on page 1of 12

Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol.10 No.

4 Januari 2015

TINGKAT PENGETAHUAN SISWA TERHADAP PENERAPAN PERILAKU HIDUP
BERSIH DAN SEHAT(PHBS) DI SDN 197 PALEMBANG
TAHUN 2014
Oleh :
Mulyadi
Program Studi Kebidanan STIK Bina Husada Palembang
Email : mulyadi_rf@yahoo.com

ABSTRAK
Anak sekolah merupakan generasi penerus bangsa yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya.
Penerapan PHBS di sekolah berhubungan erat dengan tingkat pengetahuan siswa. Kuranganya pengetahuan anak tentang
PHBS dapat menimbulkan dampak yang tidak baik pada anak serta dapat menimbulkan beberapa masalah
kesehatan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan siswa terhadap penerapan PHBS di SDN
197 Palembang Tahun 2014.Penelitian ini merupakan penelitian non experimental, jenis penelitian deskriftif kuantitatif
dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 39 orang siswa kelas V SDN 197 Palembang.
Analisa data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan Uji statistic Chi Square. Waktu penelitian
dilaksanakan pada bulan Januari 2014. Hasil penelitian tingkat pengetahuan siswa terhadap penerapan PHBS di SDN 197
Palembang secara bivariat diperoleh nilai P value 0.011 < 0.05, yang artinya Ho ditolak, sehingga dapat dikatakan bahwa
ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan siswa dengan PHBS pada siswa di SD Negeri 197 Palembang.
hasil OR 7.917 yang artinya siswa yang memiliki pengetahuan baik berpeluang 7.9 kali mampu menerapkan PHBS
dibandingkan dengan siswa yang memiliki pengetahuan kurang. Diharapkan guru berperan aktif untuk selalu menerapkan
PHBS pada siswanya dan memfasilitasi kegiatan PHBS serta mengaktifkan kembali program Usaha Kesehatan Sekolah
(UKS).
Kata Kunci
: Pengetahuan, PHBS

ABSTRACT
School children are the future generation that needs to be maintained, enhanced and protected health. The
application of PHBs in school is closely linked to the level of students' knowledge. The lack of knowledge about the child
PHBs can cause bad impact on children and can cause some health problems. The purpose of this study was to determine the
correlation between the level of students’ knowledge to the application of clean and healthy behavior at SD Negeri 197
Palembang in 2014. This study was a non-experimental research, the type of research was quantitative descriptive study with
cross sectional approach. Sample size of this study were 39 students of V grade students of SD Negeri 197 Palembang.
Analysis of the data used univariate and bivariate analysis with statistical test Chi Square. The study was conducted in
January 2014. The results of the application of the knowledge level of students in SD Negeri 197 Palembang, Clean and
Healthy behavior as bivariate values obtained P-value 0.011> 0.05, which meant that Ho was rejected, so that it could be
said that there was a significant correlation between the level of knowledge of students with Clean and Healthy behavior of
the students in SD Negeri 197 Palembang. P value 0.011 <0.05 was the result OR 7,917 which meant students who have a
good knowledge likely to be able to implement Clean and Healthy behavior as 7.9 times in comparing with students who
have less knowledge.Teachers were expected to active role in applicate clean and healthy behavior of students and facilitate
the clean and healthy behavior activities and reactivate the program of School Health Unit (UKS).
Keywords

: students, knowledge, clean and healthy behavior

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
adalah upaya untuk memberikan pengalaman
belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi
perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat
dengan membuka jalur komunikasi, memberikan
informasi dan melakukan edukasi untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku
guna membantu masyarakat mengenali dan
mengatasi masalahnya
sendiri sehingga

masyarakat sadar, mau dan mampu mempraktekkan
PHBS (Purwanto A,2012).
Sekolah sebagai salah satu sasaran PHBS di
tatanan institusi pendidikan perlu mendapatkan
perhatian mengingat usia sekolah, khususnya
tingkat Sekolah Dasar merupakan masa rawan
terserang berbagai penyakit serta munculnya
berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia
sekolah (usia 6-10 tahun), misalnya diare,
kecacingan dan anemia. Dampak lainnya dari
kurang dilaksanakan PHBS diantaranya yaitu

Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang

1

Pengetahuan akan pentingnya PHBS serta penerapanya harus diajarkan atau disosialisasikan secara terus menerus mulai dari tingkat sekolah dasar karena penerapan PHBS sangat dipengaruhi oleh pengetahuan serta sikap. Beberapa kegiatan peserta didik dalam menerapkan PHBS di sekolah antara lain jajan di warung/kantin sekolah karena lebih terjamin kebersihannya. guru. Anak sekolah merupakan generasi penerus bangsa yang perlu dijaga.2007 pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. indera penciuman. mental. spiritual. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah merupakan suatu upaya untuk memberdayakan siswa. 2011).4 Januari 2015 suasana belajar yang tidak mendukung karena lingkungan sekolah yang kotor. mengkonsumsi jajanan sehat dikantin sekolah. Gambaran PHBS di SD Negeri 197 Palembang masih kurang karena masih banyaknya anak-anak yang jajan di luar sekolah. menimbang berta badan mengukur tinggi badan setiap bulan. penyakit diare. sikap. tidak merokok. 2011). olahraga yang teratur dan terukur. dan melindungi kesehatannya baik fisik. Indikator Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di sekolah antara lain dengan mencuci tangan dengan air mengalir dan memakai sabun. 2010). serta berpartisipasi aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan. Penanaman nilai PHBS disekolah adalah kebutuhan mutlak dan dapat dilakukan melalui pendekatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM).10 No. mengikuti kegiatan olah raga dan aktifitas fisik sehingga meningkatkan kebugaran dan kesehatan peserta didik. indera rasa dan raba. Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang 2 . 1. 2008). menggunakaan jamban yang bersih dan sehat. penyalahgunaan narkoba. dan membuang sampah pada tempatnya. 2. DBD dan penyakit ISPA yang kerap kali datang pada musim panca roba (Eurika Indonesia. memberantas jentik nyamuk di sekolah secara rutin. Secara khusus tujuan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah memupuk kebiasaan hidup sehat dan mempertinggi derajat kesehatan peserta didik yang mencakup memiliki pengetahuan. memantau pertumbuhan peserta didik melalui pengukuran BB dan TB. dan masyarakat yang berorientasi sehat. Selain itu juga program perilaku hidup bersih dan sehat bertujuan memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan. Tujuan Penelitian Diketahuinya Tingkat pengetahuan siswa terhadap Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di SDN 197 Palembang tahun 2014. memelihara. Jika sebagian murid SD memahami PHBS bukan tidak mungkin dapat menekan tingginya angka kesakitan seperti. keluarga maupun masyarakat ( Harlan. dan masyarakat dilingkungan sekolah agar tahu.serta memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk. Berdasarkan studi pendahuluan jumlah seluruh siswa di SDN 197 adalah 246 siswa dengan perincinannya laki-laki 118 orang dan perempuan 128 orang. mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. menurunkan citra sekolah di masyarakat umum (Miftah. indera pendengaran. Karena sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. menggunakan jamban di sekolah serta menjaga kebersihan jamban. alkohol dan kebiasaan merokok serta hal-hal yang berkaitan dengan masalah pornografi dan masalah sosial lainnya (Komang. serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat (Rahayu. baik dilingkungan sekolah. ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. mau dan mampu mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan sekolah sehat dan mampu secara mandiri untuk mencegah penyakit. Landasan Teori 2. dengan angka kesakitan yang terjadi pada siswa dalam 1 tahun sekitar 145 orang siswa pertahunnya. penginderaan terjadi melalui panca indera manusia.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah bentuk perwujudan paradigma sehat dalam budaya perorangan. memberantas jentik nyamuk. yaitu : indera pengelihatan. Sehat fisik.2. masih kurangnya tehnik pengajaran cuci tangan yang baik dan benar sebelum dan sesudah makan dan sesudah bermain. tidak merokok disekolah. sosial maupun lingkungan. hal ini disebabkan siswa masih ada yang belum mengetahui pentingnya PHBS. 2010).2004). keluarga. maupun sosial. serta membuang sampah pada tempatnya (Wilkipedia. Jumlah usia sekolah yang cukup besar yaitu 30 % dari jumlah penduduk Indonesia merupakan masa keemasan untuk menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sehingga anak sekolah berpotensi sebagai agen perubahan untuk mempromosikan PHBS. mental. menurunnya semangat dan prestasi belajar dan mengajar di sekolah. Kuranganya pengetahuan anak tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dapat menimbulkan dampak yang tidak baik pada anak serta dapat menimbulkan beberapa masalah kesehatan. Seperti yang dikemukakan oleh Notoadmodjo. bertujuan untuk meningkatkan. meningkatkan kesehatannya. serta kurangnya sarana untuk memcuci tangan seperti kran atau air mengalir.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. dan ketrampilan untuk melaksanakan prinsip hidup sehat.

10 No. sikap. disentri. PHBS Sekolah.4 Januari 2015 kelompok. hepatitis A. PHBS Sarana Kesehatan. Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri terutama pada tatanannya masing-masing (Depkes RI. Pendekatan individu 2. Mengetahui adanya masalah 2. (2008) dikembangkan dalam lima tatanan yaitu di rumah atau tempat tinggal. typus. dan pemberdayaan masyarakat (empowerment). dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat melalui pendekatan pimpinan (advocacy). memberikan informasi dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan. Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang 3 . Sedangkan sasaran PHBS di institusi pendidikan adalah seluruh warga institusi pendidikan yang terbagi dalam: a. Terdapat tiga pendekatan dalam bina suasana antara lain: 1. serta kelompok masyarakat. kolera. petugas kesehatan dan lintas sektor terkait c. kader kesehatan sekolah. Gerakan Pemberdayaan (Empowerment) Merupakan proses pemberian informasi secara terus menerus dan berkesinambungan agar sasaran berubah dari aspek knowledge. Pendekatan kelompok 3. Sasaran sekunder Yaitu sasaran yang mempengaruhi individu dalam institusi pendidikan yang bermasalah misalnya. penyakit kulit. lurah. kepala desa. PHBS Tempat-tempat Umum (Purwanto A. Perilaku cuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun mencegah penularan penyakit seperti diare. 2010 antara lain : a.Pihak-pihak terkait ini dapat berupa tokoh masyarakat formal yang berperan sebagai penentu kebijakan pemerintahan dan penyandang dana pemerintah.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. keluarga. Sasaran advokasi terdapat tahapan-tahapan yaitu: 1. Sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah 5. cacingan. Memutuskan tindak lanjut kesepakatan. PHBS Tempat Kerja. 2002). dan orang tua murid . Selain itu.3 Strategi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Kebijakan Nasional Promosi kesehatan menetapkan tiga strategi dasar promosi kesehatan dan PHBS menurut (Manda 2006 )yaitu : a. camat. mau.4 Indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah Beberapa indikator PHBS di lingkungan sekolah menurut Dinkes SumSel. bina suasana (Sosial Suport) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Pendekatan masyarakat umum c. guru. kepala Puskesmas. kepala sekolah. kebijakan. Diknas. dan perilaku sehingga masyarakat sadar. 2. 2. Peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan alternatif pemecahan masalah 4. kelompok dan masyarakat dengan membuka jalur komunikasi. attitude. Bina Suasana (Social Support) Adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. dan lain sebagainya dapat berperan sebagai penentu kebijakan tidak tertulis dibidangnya atau sebagai penyangah dana non pemerintah. Sasaran tersier Merupakan sasaran yang diharapkan menjadi pembantu dalam mendukung pendanaan. institusi pendidikan. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun Siswa dan guru mencuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir sebelum makan dan sesudah buang air besar. dengan membuka jalur komunikasi. di tempat kerja. bina suasana (social support). sikap dan perilaku guna membantu masyarakat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri sehingga masyarakat sadar. Sasaran Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Sasaran PHBS menurut Depkes RI. tokoh pengusaha. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan. tokoh masyarakat. mau dan mampu mempraktekkan PHBS melalui pendekatan pimpinan (Advokasi). Sasaran primer Yaitu sasaran utama dalam institusi pendidikan yang akan dirubah perilakunya atau murid dan guru yang bermasalah (individu/kelompok dalam institusi pendidikan yang bermasalah). dan kegiatan untuk tercapainya pelaksanaan PHBS di institusi pendidikan seperti. WHO menyarankan cuci tangan dengan air mengalir dan sabun karena dapat meluruhkan semua kotoran dan lemak yang mengandung kuman. b. di tempattempat umum. dan practice. Tertarik untuk ikut menyelesaikan masalah 3. tokoh masyarakat informal seperti tokoh agama. 2. dan lain sebagainya. Terdapat 5 tatanan PHBS yaitu PHBS Rumah Tangga. dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan. orang tua murid. dan di sarana kesehatan. ispa.2012). Sasaran utama dari pemberdayaan adalah individu dan keluarga. guru. b. keluarga.2. tokoh masyarakat. flu burung. informasi. Advokasi (Advocacy) Adalah upaya yang terencana untuk mendapatkan dukungan dari pihak-pihak terkait (stakeholders).

protein. Ketidak tahuan anak dalam mencuci tangan dengan baik dan benar atau tidak mencuci tangan sama sekali. setelah menyentuh hewan.10 No. Dalam rangka meningkatkan kesegaran jasmani. f.Mencuci tangan adalah cara mudah untuk mencegah infeksi. mengurangi risiko terkena penyakit jantung koroner. serta penggunaan air matang untuk kebutuhan minum. setelah beraktivitas diluar sekolah. tidak mengandung bahan berbahaya. Memberantas jentik nyamuk Kegiatan ini dilakukan dilakukan untuk memberantas penyakit yang disebabkan oleh penularan nyamuk seperti penyakit demam berdarah. Jamban yang sehat adalah yang tidak mencemari sumber air minum. Hal ini dilakukan untuk deteksi dini gizi buruk maupun gizi lebih pada anak usia sekolah 2. memperbaiki bentuk tubuh. ban bekas.5 Usaha Kesehatan Sekolah Tujuan usaha kesehatan sekolah secara umum (Suluha. mengurangi lemak atau mengurangi kelebihan berat badan. Di sekolah siswa dan guru membeli atau konsumsi makanan/jajanan yang bersih dan tertutup di warung sekolah sehat. Memberantas jentik nyamuk dilingkungan sekolah dilakukan dengan gerakan 3 M (menguras. Membuang sampah pada tempatnya Sampah adalah suatu bahan yang tebuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun alam. Untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik sedini mungkin 2. Tidak merokok di sekolah Siswa dan guru tidak ada yang merokok di lingkungan sekolah. Dengan melakukan olahraga secara teratur akan dapat memberikan manfaat antara lain: meningkatkan kemampuan jantung dan paru. Makanan yang ada di kantin sekolah harus makanan yang bersih. Serta menciptakan lingkungan sekolah yang sehat sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan anak yang harmonis dan optimal Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang 4 . Mendidik anak untuk selalu membuang sampah pada tempatnya dapat menekan angka penyakit yang dapat muncul di lingkungan sekolah . drum. tidak berbau kotoran. mudah dibersihkan dan aman digunakan. perlu dilakukan latihan fisik yang benar dan teratur agar tubuh tetap sehat dan segar. dan lain-lain) minimal seminggu sekali. guru. g. Kegiatan olah raga disekolah bertujuan untuk memelihara kesehatan fisik dan mental anak agar tidak mudah sakit. Usaha pencegahan dan penang-gulangan ini disosialisasikan di lingkungan sekolah untuk melatih hidup sehat sejak usia dini. Makanan yang sehat mengandung karbohidrat. h. tidak dijamah oleh hewan. Sampah ditampung dan dibuang setiap hari ditempat pembuangan yang memenuhi syarat karena membuang sampah tidak pada tempatnya akan dapat mengakibatkan penyakit dan akan mencemari udara disekitarnya. mineral dan vitamin. tidak mencemari tanah disekitarnya. setelah bersin atau batuk. pilek dan penyakit lainnya. d. dan mengubur) tempat-tempat penampungan air (bak mandi. Mengukur tinggi badan dan berat badan Siswa menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan.4 Januari 2015 Cuci tangan ini dapat dilakukan pada saat sebelum makan. Makanan yang seimbang akan menjamin tubuh menjadi sehat. tempat air minum. Merupakan salah satu jalan yang cepat bagi kuman untuk memasuki tubuhnya. Banyak anak-anak menganggap bahwa dengan merokok akan menjadi lebih dewasa. Hasil yang didapat dari pemberantasan jentik nyamuk ini kemudian di sosialisasikan kepada seluruh warga sekolah. Timbulnya kebiasaan merokok diawali dari melihat orang sekitarnya merokok. memperkuat sendi dan otot. tempayan. 2002) adalah: 1. Di sekolah siswa dapat melakukan hal ini mencontoh dari teman. Merokok di lingkungan sekolah sangat tidak dianjurkan karena rokok mengandung banyak zat berbahaya yang dapat membahayakan kesehatan anak sekolah. Akibatnya anak akan mudah terkena beberapa penyakit seperti diare. bersalaman dengan orang lain. lemak. b.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. maupun masyarakat sekitar sekolah. Olah raga yang teratur dan terukur Aktivitas fisik adalah salah satu wujud dari perilaku hidup sehat terkait dengan pemeliharaan dan penigkatan kesehatan. dan sehabis dari toilet. menutup. c. Kegiatan penimbangan berat badan di sekolah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak serta status gizi anak sekolah. serta memperlancar peredaran darah. cemplung tertutup) dan terjaga kebersihannya. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat Jamban yang digunakan oleh siswa dan guru adalah jamban yang memenuhi syarat kesehatan (leher angsa dengan septictank. e. Anak sekolah menjadi sasaran yang sangat penting karena diharapkan dapat menyampaikan informasi kesehatan pada keluarga dan masyarakat. Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah. Memahami kapan harus mencuci tangan. cara benar menggunakan pembersih tangan dan bagaimana untuk mendapatkan anak-anak Anda ke dalam kebiasaan.

dan obat berbahaya lainnya. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga. e) meningkatkan daya tangkal dan daya hayat terhadap pengaruh buruk narkotika. sikap. Siswa mengerti tentang perilaku hidup bersih sehat dari keluarga maupun lingkungan sekolah dari apa yang diajarkan dan apa yang dilihat melalui contoh perilaku ataupun membaca pesan-pesan kesehatan di media cetak. 3.10 No. b. Dalam rangka pembentukkan manusia Indonesia yang berkualitas.6. d) meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan terhadap anak sekolah. poster. 4. Sosial budaya dan ekonomi Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan anak didalam keluarga maupu masyarakat akan mengembangkan pola kognitif anak dan akan membentuk sebuah perilaku. akan menumbuhkan sikap makin positif terhadap obyek tersebut. Untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik. 2. dilakukan upaya menanamkan prinsip hidup sehat sedini mungkin melalui pendidikan kesehatan. 5. ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Evaluasi (evaluation) Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Dengan demikian dengan adanya fasilitas Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) akan sangat menunjang terwujudnya perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah. dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. leaflet dan sebagainya (Notoadmodjo. 2010). pelayanan kesehatan(School Health Service). c. Pengetahuan anak tentang sesuatu obyek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif. b) meningkatkan kesehatan peserta didik baik fisik. Sintesis (synthesis) Merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Memahami (comprehension) Yaitu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Termasuk mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh rangsangan yang telah diterima.4 Januari 2015 3. 2. Informasi media massa Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. rasional. Semakin banyak aspek positif dari obyek yang diketahui. pelayanan kesehatan. 6. Dalam pengetahuan ada 6 tingkatan yaitu: 1. (Notoatmodjo. Daya pikir anak usia sekolah berkembang kearah pikir konkrit. dan obyektif. rokok. Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan perestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia indonesia seutuhnya. 2. Status ekonomi juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang 5 . Pengetahuan pada anak usia sekolah merupakan perubahan yang terjadi pada aspek kognitifnya. Analisis (analysis) Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau obyek kedalam komponenkomponen tapi masih dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.1 Pengertian Pengetahuan Merupakan hasil dari tahu. elektronik. Tahu (know) Diartikan sebagai mengingat materi yang telah diberikan sebelumnya.6 Pengetahuan 2.2 Faktor yang mempengaruhi Pengetahuan faktor – faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoadmodjo 2007 yaitu : a. Penginderaan terjadi melalui panca indera. dan pembinaan lingkungan sekolah sehat yang dikenal dengan istilah tiga program pokok (trias) UKS yakni: pendidikan kesehatan (Health Education in School). Pendidikan Pendidikan mempengaruhi proses belajar. makin tinggi pendidikan makin mudah untuk menerima informasi. Usaha Kesehatan Sekolah juga bertujuan untuk memupuk kebiasaan hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan peserta didik yang mencakup: a) menurunkan angka kesakitan anak sekolah.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip-prinsip hidup sehat serta berpartisipasi aktif dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah. Aplikasi (application) Merupakan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. c) agar peserta didik mempunyai pengetahuan.6.2007). maupun sosial. Kedua aspek inilah yang akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap obyek tertentu. alkohol. mental.

Jenis Kelamin 3. jaringan tubuh.7. 2. mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan atau suatu indikasi dari sikap. 1999.sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Kerangka Konsep Pengetahuan Siswa Tentang PHBS Penerapan PHBS Di Sekolah Karakteristik Siswa SD 1. f.1. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam anak yang berada dalam lingkungan tersebut.2 Komponen sikap 1) Kepercayaan (keyakinan). keyakinan. 2. 4. New Comb salah seorang ahli psikologi social menyatakan bahwa sikap itu merupakan suatu kesiapan / kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya.2. 2. Pertambahan usia juga di iringi bertambahnya ukuran fisik (anatomi) dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyaknya) selsel tubuh dan juga karena bertambahnya sel. d. pengetahuan. Menghargai Mengajak orang lain untuk mengerjakan mendiskusikan suatu masalah/ suatu indikasi sikap tingkat. dan emosi memegang peranan penting. biologis. Dari berbagai batasan tentang sikap dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku tertutup. Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.7. Umur 2. maupun sosial. Menerima ( Receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan ( obyek ). terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah. 3.10 No. Desain Penelitian Desain penelitian yang di gunakan adalah penelitian non experimental jenis penelitian ini deskriftif . organorgan dan sistemnya yang terorganisasi (Nursalam. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap anak. e. rancangan menggunakan metode survey Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang 6 .Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. ide dan konsep terhadap suatu objek. Usia Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir anak.7 Sikap 2. 2.2003) Sedangkan menurut Widayatun. Merespon (Responding) Memberi jawaban bila ditanya. dapat diperkirakan dan diramalkan sebagai hasil dari proses diferensiasi sel. Dalam penentuan sikap ini. sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan. Pengetahuan akan merangsang seseorang untuk berfikir dan berusaha untuk mencari penyelesaian sehingga sikap seseorang terhadap obyek menjadi baik. 3 Metodologi Penelitian 3. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. 2008). Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dan struktur fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur.3 Tingkatan sikap Menurut Notoatmodjo (2003). Sikap yang didasari dengan pengetahuan akan bertahan lebih lama daripada sikap yang tidak didasari oleh pengetahuan. berfikir. berarti bahwa orang menerima ide itu.1 Pengertian Sikap Sikap merupakan reaksi / respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau obyek. baik lingkungan fisik.7. tingkatan sikap terbagi menjadi 4 yaitu: 1. sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik / terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannya. sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. 3) Kecenderungan untuk bertinda Ketiga komponen ini secara bersama . Pengalaman Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. 2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek. Lingkungan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar anak. (Notoatmodjo. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu.4 Januari 2015 tertentu.

3. maka pengolahan data dilakukan dengan tahapan – tahapan sebagai berikut : a.4. maka hasil perhitungan statistik bermakna yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara satu variabel dengan variabel yang lain.3. 2) Data Sekunder Data yang didapatkan dari catatan di SDN 197 palembang meliputi : 1. Bila dari hasil perhitungan statistik nilai p<0. Rumus chi square yang digunakan X2 = ∑ (f0 – fe)2 fe Keterangan: 3. Populasi Dan Sampel 3. b. 7 . apakah jawaban yang ada di kuesioner sudah lengakap.1 Populasi Populasi pada penelitian ini adalah semua siswa di SDN 197 Palembang yang duduk di kelas V (lima) dengan jumlah populasi 39 orang. 3. Penerapan PHBS.3 Instrumen Pengumpulan Data Instrument pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dari peneliti sebelumnya yang berisi daftar pertanyaan mengenai PHBS yang harus dijawab oleh responden dalam hal ini adalah siswa sekolah dasar kelas V yang dijadikan responden. Fo = Frekuensi yang diselidiki (diobservasi) Fe = Frekuensi yang diharapkan Hasil perhitungan statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti yaitu dengan melihat nilai p.2 Sampel Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tehnik total sampling. d. Cleaning Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di masukkan (entry) apakah ada kesalahan atau tidak. Estimased Confidence Interval (ECI) untuk Ratio Prevalence (RP) ditetapkan pada tingkat kepercayaan 95%.5. Umur dan jenis kelamin siswa 2. Coding (Pengkodean) Merupakan kegiatan mengubah data yang berbentuk huruf menjadi data yang berbentuk angka/bilangan.3.05. tingkat pengetahuan dan penerapan PHBS dimana hasil penelitian dilakukan interpretasi data dari item pertanyaan dengan cara menghitung persentase jawaban. dan konsisten. relevan. Untuk mempermudah pada saat Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang X2 = Harga Chi kuadrat yang dihitung dan dibandingkan dengan chi kuadrat table. Pengumpulan Data 3. Tingkat pengetahuan 2. Profil SDN 197 palembang 3. umur. selanjutnya untuk setiap item yang dijawab diberi nilai sesuai kategori yang telah ditentukan. 3. 3. Teknis Analisis Data 3.6. 3.4 Januari 2015 dengan pendekatan Cross Sectional (Notoadmodjo.4. 2010). Alasan mengambil total sampling karena menurut Sugiyono (2007) jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian semuanya. 3.2007). c. Total sampling adalah tehnik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi (Sugiyono. menganalisa data dan juga mempercepat pada saat pengentrian data.1 Analisis Univariat Analisa data yang digunakan adalah analisis secara univariat yaitu distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin.4.6.10 No. jelas.6.2 Teknik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan Data yang digunakan adalah wawancara dan check list . Editing (Pengeditan) Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian kuesioner. Processing Merupakan kegiatan memproses data agar dapat di analisis setelah semua biisian kuesioner terisi penuh dan benar dan juga sudah melewati pengkodean.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol.4.1 Sumber Data 1) Data Primer Data yang dikumpulkan oleh peneliti sendiri meliputi: 1.2 Analisis Bivariat Analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga behubungan sehingga diketahui uji hubungan satu persatu variabel independent (Pengetahuan) dengan variabel dependent (penerapan PHBS) melalui tes X² (chi square) pada tingkat kemaknaan 95%.3. Pengolahan Data Agar penelitian ini menghasilkan informasi yang akurat.

0 % 1. 4.1 % 100 % Sumber : Data Primer 2014 Berdasarkan tabel 4.2 % 3.9 % 4.4 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Siswa Kelas V di SDN 197 Palembang tahun 2014 No Tingkat Pengetahuan 1. Hasil Penelitian Dan Pembahasan 4. 4.5 didapatkan bahwa lebih banyak siswa yang Kurang menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yaitu 24 orang ( 59.1.9 %).7 % 2. dan siswa yang mempunyai pengetahuan kurang dengan penerapan PHBS yang kurang sebanyak 6 siswa (24. Baik Kurang Total Jumla h Persentas e 14 25 39 35.1 Karakteristik Responden Karakteristik responden dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu berdasarkan umur dan berdasarkan jenis kelamin.3.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol.1 % 39 100 % 2.917 yang artinya siswa yang memiliki pengetahuan baik berpeluang 7.1.2%) dan umur terendah yaitu 12 tahun (12. 4.1.1.8 % 39 orang 100 % Total Sumber : Data Sekunder 2014 Berdasarkan tabel 4.1.5 diatas maka didapatkan hasil analisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat diperoleh bahwa siswa yang mempunyai pengetahuan baik dengan penerapan PHBS yang baik sebanyak 10 siswa (71.2 Distribusi Frekuensi Umur Siswa Kelas V SDN 197 Palembang tahun 2014 1.7%).3%) sedangkan siswa perempuan sebanyak 19 orang (48.2.1 Hasil Penelitian 4. 9 Tahun 9 23.0%). Laki-laki 20 51.8%).1. Total 16 41.5 Distribusi Frekuensi Penerapan PHBS Siswa Kelas V di SDN 197 Palembang tahun 2014 No Penerapan PHBS Jumlah Persentase Tabel 4.2 diatas didapatkan umur tertinggi siswa yang dijadikan responden yaitu 10 tahun sebanyak 18 orang (46.1.6 14 100 % % Kurang 6 24 % 19 76 % 25 100 % 23 59.0 % No Umur Jumlah Persentase 2.1. 10 Tahun 18 46. 12 Tahun 5 12.9 % 64.1. Perempuan 19 48.0 %) dari siswa yang menerapkan PHBS 15 orang (41.0 %).1. PHBS Tabel 4.4 diatas dapatkan bahwa lebih banyak siswa yang mempunyai Pengetahuan tentang PHBS dengan kategori Berdasarkan tabel 4. 2.10 No. 11 Tahun 7 17.3 diatas didapatkan bahwa lebih banyak siswa kategori laki – laki 20 orang (51.1.0 % % Sumber : Data Primer Tahun 2014 4.0 39 100 % % Berdasarkan tabel 4.2.4 4 28.1 Umur kurang sebanyak 25 orang (64.1 Univariat 4. Kurang 24 59.1.2 Bivariat Tabel 4. Jenis Kelamin Total Sumber : Data Primer 2014 Berdasarkan tabel 4.4 %).1.6 Distribusi Proporsi Penerapan PHBS Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Siswa Kelas V di SDN 196 Palembang Tahun 2014 Penerapan PHBS Tabel 4.3 % Total 39 100 % Sumber : Data Sekunder 2014 Total Pengetah Baik uan Baik Kurang n % n % n % 10 71.1. 4. Tingkat Pengetahuan Tabel 4.1%) dari pada siswa yang berpengetahuan baik 14 orang ( 35. Baik 15 41.4 Januari 2015 4. Dengan hasil OR 7.9 kali mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dibandingkan dengan siswa yang Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang 8 .3 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Siswa Kelas V di SDN 197 Palembang tahun 2014 No Jenis kelamin Jumlah Persentase 1.

2 Pembahasan 4.dan factor Lingkungan juga berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam anak yang berada dalam lingkungan tersebut.4 Januari 2015 memiliki pengetahuan kurang sebagai upaya mengurangi kejadian diare di SDN 197 Palembang. dan 39.8%). sehingga dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan siswa dengan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa di SD Negeri 197 Palembang. Pada usia sekolah dasar (SD) anak perlu mendapat pengawasan kesehatan.1. nilainilai tradisi. untuk menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat baik laki. Hal ini juga sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2007). Menurut teori Erikson. 40.5% anak yang mempunyai pengetahuan PHBS cukup. Anak juga akan mengidentifikasikan figur atau perilaku orang tua sehingga mempunyai kecenderungan untuk meniru tingkah laku orang dewasa disekitarnya (Nursalam. Apabila orang tua mematikan inisiatif anak.1 %). antara lain pengetahuan.2. pengetahuan merupakan domain yang penting yang akan membentuk perilaku seseorang. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin di dapatkan bahwa siswa laki-laki berjumlah 20 orang (51. dan sebagainya. Pengetahuan yang diberikan kepada siswa tentang perilaku hidup bersih sehat di lingkungan sekolah menjadi faktor penting untuk dapat menerapkan perilaku tersebut. Dalam teori Green juga menjelaskan bahwa faktor perilaku ditentukan faktor-faktor predisposisi (predisposing factors) yaitu faktorfaktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang. Pada masa ini.10 No.1%) dan umur tertua 12 tahun sebanyak 5 orang (12.Anak pada usia ini 5-6 hari dalam seminggu akan pulang dan pergi ke sekolah dengan melewati berbagai macam kondisi lalu lintas dan lingkungan yang mengalami polusi.2 Tingkat Pengetahuan Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa sebagian besar siswa kelas V SDN 197 Palembang memiliki pengetahuan kurang tentang penerapan PHBS dengan jumlah 25 orang (64. anak berkembang rasa ingin tahu (caurius) dan daya imaginasinya. Hasil penelitian Maulani.05.2. Dari hasil uji statistic diperoleh nilai P value 0. Hasil penelitian yang dilakukan oleh riska dengan judul faktor – faktor yang berhubungan dengan perilkau hidup bersih dan sehat di SDN 01 Kelurahan Duri Kepa. 4. sikap. dan hanya 14 orang (35.8% anak yang mempunyai pengetahuan PHBS baik.7%). 4.hari melalui berperilaku hidup bersih dan sehat sedangkan menurut oktapiana. 2008).1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin Dari hasil penelitian didapatkan dari 39 responden dalam hal ini siswa SDN 196 yang duduk di kelas V memiliki rata-rata umur 10 tahun dengan umur termuda 9 tahun sebanyak 9 orang (23. 2008:39). sehingga masalah – masalah kesehatan yang ada pada dirinya teratasi. dan obyektif.2. yang artinya Ho ditolak. Pada masa ini. keyakinan.P (2012) dari 237 responden yang telah mengisi kuisioner. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap anak.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. Menurut teori Erikson. pengetahuan adalah bentuk tahu manusia yang diperoleh dari akal. Maka hal tersebut akan membuat anak merasa bersalah.R(2009) dalam utami juga mengatakan dalam penelitian yang dilakukan di SDN 013 Sunter Agung Jakarta Utara yang menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan praktik Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).1 Univariat 4. bergaul dengan teman yang semuanya rawan tertular berbagai penyakit (Zaviera.laki maupun perempuan mempunyai hak yang sama karena kesehatan diperlukan tidak hanya perempuan atau laki-laki saja. sehingga anak banyak bertanya mengenai segala sesuatu di sekelilingnya yang tidak diketahuinya. melalui pengetahuan akan membentuk sikap yang akan diterapkan menjadi kebiasaan berperilaku hidup bersih sehat di lingkungan sekolah. Hasil penelitian Utami (2009) menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai andil yang sama dalam upaya meningkatkan kesehatannya yang mana dapat diterapkan dalam kehidupan sehari.2%) Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang 9 . Pengetahuan pada anak usia sekolah merupakan perubahan yang terjadi pada aspek kognitifnya. Kecamatan Kebon Jeruk tahun 2011 didapatkan hasil dari 106 responden terdapat 19. kepercayaan. Daya pikir anak usia sekolah berkembang kearah pikir konkrit.011 < 0.3%) lebih banyak dari siswa perempuan 19 orang (48. usia anak pra sekolah tersebut anak berada pada fase inisiatif dan rasa bersalah (initiative VS Guilty). sehingga anak banyak bertanya mengenai segala sesuatu di sekelilingnya yang tidak diketahuinya. pada kuisioner pengetahuan sebanyak 157 (66.9 %) yang memiliki pengetahuan baik . sumber penyakit. 2008:39). anak berkembang rasa ingin tahu (caurius) dan daya imaginasinya.karena pada tahap ini merupakan proses tumbuh kembang yang teratur. Anak juga akan mengidentifikasikan figur atau perilaku orang tua sehingga mempunyai kecenderungan untuk meniru tingkah laku orang dewasa disekitarnya (Nursalam.6% anak yang mempunyai pengetahuan PHBS kurang.R. rasional.1.

Sedangkan dari 14 siswa yang mempunyai pengetahuan baik menunjukan perilaku hidup bersih sehat kurang sebanyak 4 siswa (28.4%).2 Bivariat Analisa bivariat digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. sehingga tujuan akhir dari pendidikan kesehatan adalah agar siswa (masyarakat) dapat memprak-tekan hidup sehat bagi dirinya sendiri. 2003) 4.10 No. Agar siswa dapat melatih apa yang sudah dipelajari dan dilihat. Romi L (2012) Pada dasarnya sikap muncul terhadap diri sendiri.8% anak yang mempunyai PHBS baik.2.0 %) dari 39 responden. Meskipun hasil penelitian banyak siswa yang memiliki pengetahuan kurang peneliti berpendapat bahwa pengetahuan siswa tentang PHBS masih kurang karena informasi yang diberikan oleh pihak sekolah ataupun petugas kesehatan masih belum efektif sehingga kurang dipahami oleh siswa.0%).011 yang berarti P value lebih kecil dari α (0. Hasil analisis hubungan antara Pengetahuan dengan perilaku hidup bersih dan sehat responden di peroleh bahwa dari 25 siswa yang mempunyai pengetahuan kurang menunjukan perilaku hidup bersih dan sehat kurang baik sebanyak 19 siswa (76%) dan menunjukan perilaku hidup bersih dan sehat baik sebanyak 6 siswa (24.5% Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang 10 .917 yang artinya siswa yang memiliki pengetahuan baik berpeluang 7. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Riska (2011) dengan judul “ Faktor – factor yang berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa di SD Negeri 01 Jakarta didaptkan hasil dari 106 responden terdapat 19. 2003).1. dan 34 (14. kelompok. diantaranya adalah faktor dari pihak lain. hal ini diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan terwujudnya suatu tindakan. Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu. Menurut Notoadmodjo (2010). disertai dengan mencotohkan dalam bentuk perilaku (tindakan nyata) diharapkan siswa lebih cepat dapat membentuk pembiasaan PHBS.dan dikatakan pula bahwa perilaku yang didasarai oleh pengetahuan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. mampu mempraktikkan PHBS serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.9 kali mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dibandingkan dengan siswa yang memiliki pengetahuan kurang dalam penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Sedangkan pendidikan kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan di dalam bidang kesehatan (Notoatmodjo. afektif dan psikomotorik atau konatif. mau.4%) responden kurang. mumnya ada tiga jenis sikap manusia yaitu kognetif. 40. Menurut Desak (2009) Secara teoretis faktor perilaku memiliki andil 30-35% terhadap derajat kesehatan. diperlukan sarana pendukung PHBS. Dengan adanya informasi secara terus menerus atau dengan pendidikan kesehatan secara khusus akan menambah pengetahuan tentang perilaku hidup bersih dan sehat sehingga siswa dengan sendirinya akan menyadari pentingnya PHBS. Sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang / keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Dilihat dari hasil uji statistik ( Chi Square) didapatkan P value sebesar α 0. maka diperlukan berbagai upaya un-tuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat.4%) responden cukup. atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Untuk itu. Untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu.4 Januari 2015 responden baik.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. Pengetahuan atau kognif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.05) maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku hidup bersih dan sehat responden siswa kelas V di SDN 197 Palembang tahun 2013 Dengan hasil OR 7. Oleh karena dampak dari perilaku terhadap derajat kesehatan cukup besar.6 %) dan menunjukan perilaku hidup bersih sehat baik sebanyak 10 siswa (71. Paradigma sehat dijabarkan dan dioperasio-nalkan antara lain dalam bentuk Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).3 Penerapan PHBS Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa sebagian besar siswa kelas V SDN 197 Palembang kurang dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sebanyak 24 orang ( 59. Suatu sikap belum tentu otomatis terwujud dalam suatu tindakan (over behavior). Sebagai variabel indevenden adalah Pengetahuan sedangkan variabel Dependen adalah perilaku hidup bersih dan sehat. sedangkan sebanyak 15 orang (41.2. dengan memberikan informasi tentang hidup sehat dan bersih. 46 (19.0 %) baik dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. sebagai berikut . 4. Hasil penelitian ini sesuai dengan green (1980) yang dikutip dari Notoadmodjo (2010) bahwa pengetahuan merupakan salah satu factor predisposisi untuk terjadinya perilaku (tindakan). aspek-aspek sosial dan respon terhadap suatu stimulus atau objek. dan nantinya siswa sebagai anggota masyarakat dapat berperi-laku hidup sehat (healthy life style) (Notoatmojo.

9 %).begitu juga siswa yang pengetahuannya tentang PHBS kurang ternyata ada yang baik dalam menerapkan PHBS.8 %).011 < 0. 3. usia 11 tahun sebanyak 7 orang (17. DAFTAR PUSTAKA Agus Purwanto(2012) Pengaruh pendidikan kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terhadap praktik gosok gigi pada anak usia sekolah di SDN 1 Sambiroto Semarang.05. Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang 11 . adanya pesan-pesan atau motto kesehatan dalam bentuk tulisan atau gambar di kelas atau lingkungan kelas. Serta mencari alternatif lain dalam meningkatkan pengetahuan dan penerapan PHBS sehingga siswa termotivasi untuk melakukan penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah maupun di rumah. 5. dan usia 12 tahun sebanyak 5 orang (12. Simpulan Dan Saran 5. Berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 20 orang (51.7%).4 Januari 2015 anak yang mempunyai PHBS cukup.10 No.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 39 responden siswa kelas V SDN 197 Palembang mengenai tingkat pengetahuan siswa terhadap Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) peneliti membuat kesimpulan sebagai berikut : 1. 2.8 %).Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. Bagi Petugas Kesehatan Diharapakan petugas kesehatan mampu memberikan dan mengadakan penyuluhan atau pendidikan kesehatan secara rutin terutama mengenai penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di sekolah.dimana tidak semua sekolah menyiapkan sarana dan prasarana untuk mendukung pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat siswa.2 %). 3. sehingga dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan siswa dengan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa di SD Negeri 197 Palembang.1 %). Dan dilihat dari sikapnya baik sebanyak 33 orang (53. Bagi SD Negeri 197 Palembang Diharapkan guru berperan aktif untuk selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat pada siswanya dan memfasilitasi kegiatan PHBS serta mengaktifkan kembali program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).6% anak yang mempunyai PHBS kurang. peneliti berpendapat bahwa gambaran penerapan siswa tentang perilaku Hidup Bersih dan Sehat sebagian besar masih kurang baik. usia 9 tahun sebanyak 9 orang (23. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang.9%) dan kategori kurang sebanyak 25 orang (64. 5.3%) dan siswa perempuan sebanyak 19 orang (48. misalnya: tempat mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. Menurut peneliti pihak sekolah bekerja sama dengan pihak puskesmas secara terus menerus menginformasikan dan mempraktikan mengenai PHBS kepada siswa dan di imbangi dengan penyediaan fasilitas – fasilitas untuk menunjang prilaku hidup bersih dan sehat siswa. lap yang bersih untuk menge-ringkan tangan.1%).917 yang artinya siswa yang memiliki pengetahuan baik berpeluang 7.5 %) .5) sedangkan siswa yang tingkat pengetahuanya kurang sebanyak 27 orang ( 43. 4. Siswa dengan pengetahuan baik ternyata tidak semuanya menerapkan PHBS. tempat sampah dengan jumlah yang memadai. hal ini mungkin disebabkan karena masih kurangnya peran orang tua dan pihak sekolah mengupayakan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat disekolah dan di rumah disamping fasilitas dalam menjalankan PHBS juga menjadi salah satu unsur terwujudnya PHBS di sekolah.dan 39. Pengetahuan siswa kelas V SDN 197 palembang tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan kategori baik sebanyak 14 orang (35.9 kali mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dibandingkan dengan siswa yang memiliki pengetahuan kurang.011 < 0. Penerapan PHBS siswa kelas V SDN 197 Palembang dengan kategori baik sebanyak 15 orang (41. usia 10 tahun sebanyak 18 orang (46. yang artinya Ho ditolak. Berdasarkan hasil penelitian yang yang telah dilakukan.2%) sedangakan siswa yang sikapnya kurang sebanyak 29 orang (46. P value 0. Saran untuk peneliti selanjutnya Kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti tentang pengetahuan siswa dengan penerapan PHBS melalui 8 indikator PHBS di sekolah atau melakukan penelitian yang sama dengan disain yang berbeda dan jumlah responden yang lebih banyak. Serta hasil penelitian Nyayu Uswatu Hasanah (2011) dengan judul “ Pelaksanaan Tuci Tangan Pakai Sabun di Madrasah ibtidaiyah Muhajirin Palembang menunjukan hasil bahwa tingkat pengetahuan baik sebanyak 35 orang (56.05 hasil OR 7. Hubungan pengetahuan dengan penerapan PHBS dari hasil uji statistic diperoleh nilai P value 0. Karaktristik siswa kelas V di SD Negeri 197 Palembang berdasarkan usia.0%) dan kategori kurang sebanyak 24 orang (59. 2.0%).2 Saran 1.

Palembang. EGCNotoatmodjo(2007). Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada (2011). Ni Made Sari. Alfabeta Sumijatun. Jakarta. Penelitian Keperawatan Supartini Y. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Petunjuk Teknis Penulisan Riset Kuantitatif. Nagastiyah (2005)Perawatan anak sakit. Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC. Mardalis (2006) Metdologi penelitian kesehatan. Utami.4 Januari 2015 Alimul Hidayat. hlm. (2010). 2007. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Yogyakarta.Jakarta. (2002). Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/ Kota Sehat. Yogjakarta. Team Riset Kuantitatif Bina Husada. Pustaka Pelajar. Notoatmodjo(2005). Aziz (2007) . STIK Bina Husada Sugiyono. Penerbit Selemba Medika. M. Jilid 42.(2007).10 No. 2009. (2007).Konsep Dasar Komunitas.Panduan Penyusunan Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan. Bandung: Alfabeta -------------. Jakarta.2004. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. 2010.Metodologi Penelitian Kuantitatif. Metodologi Penelitian Kesehatan. dan Perilaku Siswa Terhadap PHBS dan Penyakit Demam Tifoid Di SMP "X" Kota Cimahi Tahun 2011. RinekaCipta. Nomor 3. Bandung. Saifudin. Jakarta .Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D”. Saryona & Meker. Jakarta : EGC. Promosi Kesehatan dan Ilmu Prilaku. -----------. Desak. Nuha Medika. Jakarta. Universitas Kristen Maranatha. (2009) Memahami Kuantitatif. Hidayat. Depkes RI. Bina Husada. 2005.D (2009). A. “Hubungan Pelaksanaan Program UKS dengan PHBS. Jakarta : EGC. Rika Prastiwi ( 0710221 ) (2012) Gambaran Pengetahuan. (1998). Juli 2011. N. penerapan penelitian Tingkat Pengetahuan Siswa Terhadap Penerapan PHBS di SDN 197 Palembang 12 . Dianita Fitriani (2011)Pengaruh Edukasi Sebaya Terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs) Pada Agregat Anak Usia Sekolah Yang Beresiko Kecacingan Di Desa Baru Kecamatan Manggar Belitung Timur Tesis Fakultas Ilmu Keperawatan Program Magister Ilmu Keperawatan Peminatan Keperawatan Komunitas Depok. Oktober 2009. Rineka Cipta ----------------.187 – 195. Maulani. Analisis Kebutuhan Dalam Pengembangan Buklet Edukatif Temati (Bet) Untuk Pendidikan Kesehatan Di SD Universitas Pendidikan Ganesha. Sikap. Other thesis. Jakarta : Rineka Cipta Nursalam (2008) Konsep dan metodologi keperawatan. Azwar.(2003). Jln Udayana Singaraja Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. Metode Penelitian Keperawatan dan teknik Analisa Data Penerbit Salemba medika.Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. A. (2010). Effendy. Jakarta : Salemba Pertiwi. Anak Usia. EGC.