You are on page 1of 7

TATA LETAK PERWAJAHAN

DALAM DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
1. Pendahuluan
Produk-produk yang ada masa sekarang ini banyak yang sudah ada pada
jaman dulunya, hal sama juga terjadi pada desain dan layout di masa sekarang yang
merupakan hasil suatu proses perjalanan eksplorasi dan kreativitas manusia yang
dimulai dari masa lalu (tombaksada.webs.com).
Dalam bukunya “layout dasar & penerapannya”, Surianto Rustan
menerangkan tentang sejarah layout yang dimulai dari 25.000 tahun S.M saat para
manusia yang hidup dengan berburu dan berpindah-pindah (nomaden) pada jaman
Paleolitikum sampai Neolitikum dengan melukis dinding gua dengan objek-objek
binatang, peristiwa perburuan, dan bentuk-bentuk lain. Peninggalan yang bisa dilihat
adalah pada lukisan gua di Lascaux, Prancis.Kurang lebih 1.500 tahun S.M bangsa
Mesir mulai mengenal tulisan hieroglyph dan sebagai media kertasnya
mempergunakan papirus.
Sejalan dengan apa yang dikemukakan di atas, bahwa desain dan layout
sudah ada sejak jaman dahulu dengan ditandai adanya lukisan-ukisan di dinding
gua.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan sebagai berikut yaitu apa yang dimaksud dengan tata letak
perwajahan, apa saja jenis tata letak perwajahan, bagaimana perkembangan tata
letak perwajahan dan pengaruhnya pada desain komunikasi visual, dan apa sajakah
tips & trik layout yang baik.
Tujuan makalah ini adalah ingin memberikan penjelasan tentang pengertian
desain mebel, jenis-jenis tata letak perwajahan, perkembangan tata letak
perwajahan dan pengaruh pada desain komunikasi visaul, dan tips & trik layout yang
baik.
Sedangkan manfaat hasil penulisan ini diharapkan dapat menambah
wawasan dan menjadi bahan masukan untuk pembuatan makalah selanjutnya.

2. Pembahasan
2.1. Pengertian Tata Letak Perwajahan
Tata letak perwajahan/ layout menurut Graphic Art Encyclopedia (1992:296)
“Layout is arrangement of a book, magazine, or other publication so that and
illustration follow a desired format”. Layout adalah merupakan pengaturan yang
dilakukan pada buku, majalah, atau bentuk publikasi lainnya, sehingga teks dan
ilustrasi sesuai dengan bentuk yang diharapkan.

Menurut Smith (1985) dalam Sutopo (2002:174) mengatakan bahwa proses
mengatur hal atau pembuatan layout adalah merangkaikan unsur tertentu menjadi
susunan yang baik, sehingga mencapai tujuan.
Tata letak (lay out) berkaitan dengan penyusunan atau perancangan
fasilitas/elemen grafis (tergambar, terwujud) tertentu ke dalam ruang yang tersedia
dan terbatas. Dengan maksud membentuk suatu susunan yang menarik. Sementara
perwajahan merupakan pengarahan visual bentuk “jadi” penyajian media cetak
secara menyeluruh dalam perspektif fungsional, keteraturan, hubungan, proporsi,
dsb yang menjiwai tata letak (delektika.wordpress.com).
Perwajahan adalah penyusunan unsur-unsur desain berupa garis, bidang,
warna ke dalam suatu halaman yang disebarkan melalui media cetak secara
kasatmata (visual). Lebih sederhana lagi bahwa perwajahan adalah proses rancang,
olah grafis dan tata letak (lay out) halaman surat kabar. Dua pengertian tersebut
merupakan pengertian yang sangat sederhana. Kehadiran perwajahan sebenarnya
bukan sekadar tindakan kreatif penggabungan antara kecendikiaan dan
keterampilan artistik dan tidak hanya dimaksudkan untuk memasukkan berita, foto,
ilustrasi, dan iklan, tetapi ada tugas yang lebih berat, yaitu bagaimana perwajahan
dapat
menambah
daya
serap
penerimaan
pesan
di
dalamnya
(andreyuris.wordpress.com).
Sejalan dengan apa yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa tata
letak perwajahan/ layout adalah perancangan atau penyusunan unsur-unsur desain
berupa garis, bidang, warna yang dilakukan pada buku, majalah, atau bentuk media
cetak lainnya dengan baik, sehinggan mencapai tujuan.
2.2. Jeni-jenis Tata Letak Perwajahan
Jenis-jenis tata letak perwajahan yaitu:
a. Symitrical layout
Symitrical layout disebut juga foundry/vertical lay-out, karena seperti jemuran,
letak berita-beritanya seimbang. Tentu saja kelihatan stasis dan kolot, karena dari
hard ke hard bentangannya tetap saja. Lay out seperti ini digunakan oleh The New
York Time (Turnbull, 1980).
b. Informal Balance Lay-out
Informal balance lay-out banyak dipakai oleh banyak suratkabar, karena
mengarah kepada kesempurnaan suatu keseimbangan. Foto yang hitam akan lebih
baik jika diletakkan di kanan atas halaman, dan akan kelihatan berat, kalau
diletakkan di bagian bawah halaman (Turnbull, 1980).
c. Quadrat Lay-out
Quadrat lay-out atau tata-rias segi empat: sangat baik untuk suratkabar yang
akan dijual di pinggir jalan secara eceran, karena koran akan berlipat empat, dan
pada seperempat bagian yang tampak itu akan diperlihatkan berita-berita penting
dan menarik (Turnbull, 1980).

d. Brace Lay-out
Brace lay-out menonjolkan suatu berita besar. Lay out seperti ini sering
menggunakan “Banner Headline”, judul panjang. Berita penting ditempatkan di
sebelah kanan surat kabar, sehingga mengikat pandangan pembaca ke sana.
Kemudian judul lain di sebelah kiri, dan sebelah kanan lagi (Turnbull, 1980).

e. Circus Lay-out
Circus lay-out adalah tata-rias karnaval, karena ramainya halaman depan.
Semua judul berita dipamerkan di halaman pertama, isinya di halaman lain. Contoh
seperti ini adalah Pos Kota (Jakarta), atau koran-koran mingguan (Turnbull, 1980).
f.

Horizontal Lay-out
Horizontal lay-out adalah tata-rias mendatar. judul berita dibuat mendatar,
dengan berita yang tidak terlalu panjang (Turnbull, 1980).

g. Function Lay-out
Function Lay-out adalah tata-rias yang setiap hard berubah, bergantung
kepada perkembangan dan isi berita hard itu. Bila terjadi hal-hal luar biasa, sering
dipakai apa yang disebut “skyline heads”. Jadi ada gejala pemindahan nama tempat
nama suratkabar itu sendiri. Lay out seperti ini sering juga dipakai oleh koran-koran
Mingguan terbitan Jakarta (Turnbull, 1980).
Dari pembagian jenis-jenis tata letak perwajahan di atas dapat
disimpulkan bahwa lay out memiliki tujuh jenis antara lain: Symitrical layout,
Informal Balance Lay-out, Quadrat Lay-out, Brace Lay-out, Circus Lay-out,
Horizontal Lay-out, dan Function Lay-out.
2.3.

Perkembangan Tata Letak Perwajahan dan Pengaruhnya terhadap Desain
Komunikasi Visual
Produk-produk yang ada masa sekarang ini banyak yang sudah ada pada
jaman dulunya, hal sama juga terjadi pada desain dan layout di masa sekarang yang
merupakan hasil suatu proses perjalanan eksplorasi dan kreativitas manusia yang
dimulai dari masa lalu. Dalam bukunya “layout dasar & penerapannya”, Surianto
Rustan menerangkan tentang sejarah layout yang dimulai dari 25.000 tahun S.M
saat para manusia yang hidup dengan berburu dan berpindah-pindah (nomaden)
pada jaman Paleolitikum sampai Neolitikum dengan melukis dinding gua dengan
objek-objek binatang, peristiwa perburuan, dan bentuk-bentuk lain. Peninggalan
yang bisa dilihat adalah pada lukisan gua di Lascaux, Prancis.Kurang lebih 1.500
tahun S.M bangsa Mesir mulai mengenal tulisan hieroglyph dan sebagai media

kertasnya mempergunakan papirus. Peninggalannya di Abydos (Mesir dinasti ke 18), Mesir bagian tengah berupa Book of the Dead yang ditulis di atas papirus, abad
ke 15 S.M. Sementara itu di Cina, masyarakatnya mengembangkan sistem tulisan
dengan menggunakan lebih dari 40.000 karakter, dan peninggalannya berupa
manuskrip yang ditulis di atas kertas mulberry coklat (tombaksada.webs.com).
Gambar 1: Lukisan gua di Lascaux, Prancis
Sumber: tombaksada.webs.com

Gambar 2: Manuskrip di kertas mulberry
coklat
Sumber: tombaksada.webs.com

Pertengahan abad ke-12, 600 tahun setelah invasi, migrasi dan hubungan
dagang dengan Cina, orang-orang Eropa mulai mengenal cara pembuatan kertas
yang lebih murah. Pabrik kertas pertama didirikan di Fabriano, Italia tahun 1276
kemudian di Troyes, Prancis tahun 1348. Di Inggris, pada abad ke-13 sebuah buku
dengan ketebalan 200 halaman membutuhkan waktu pengerjaan hingga lima bulan.
Hal
ini
ditemukan
oleh
para
ilmuwan
di
universitas
Cambride
(tombaksada.webs.com).

Gambar 3: Tulisan hieroglyph di papyrus

Sumber:tombaksada.webs.com
Tahun 1450 adalah tahun yang paling bersejarah, karena seorang penemu bernama
Johann Gensfleisch Zum Gutenberg yang berkebangsaan Jerman, mengembangkan suatu
sistem cetak yaitu moveable type, yang dapat memproduksi ribuan hasil cetakan di atas
kertas dalam waktu yang sangat singkat. Teknologi percetakan itu kemudian menyebar ke
seluruh Eropa dalam kurun waktu 13 tahun setelahnya, muncullah Broadsides, selembar
kertas yang dicetak pada salah satu sisinya menjadi surat kabar yang pertama. Tehnologi
percetakan yang berkembang juga turut mendorong perkembangan eksplorasi ide-ide
desain, bahkan hingga sekarang (tombaksada.webs.com).
Jenis huruf Bodoni sangat populer pada awal abad ke-20 sehingga banyak yang
membuat versi baru dari huruf tersebut dan untuk membedakannya dituliskan nama
pembuatnya di depan nama Bodoni, misalnya Berthold Bodoni, Bauer Bodoni, Monotype
Bodoni, FF Bodoni, ITC Bodoni (tombaksada.webs.com).

Gambar 4: Tulisan cuneiform di atas batu marmer putih di Sumeria
Sumber: tombaksada.webs.com

Pada tahun 50-an, muncul kesadaran akan pentingnya kurikulum desain di
universitas dan sekolah-sekolah seni. Grid sebagai alat bantu untuk layout mulai
terkenal sejak hadirnya karya Josef Muller-Brockmann berupa poster untuk
Kunstgewerbe Museum, Zurich tahun 1960 (tombaksada.webs.com).

Gambar 5: karya Josef Muller-Brockmann
Sumber: tombaksada.webs.com
Begitulah sejarah tata letak perwajahan, setelah ditemukannya alat
percetakan, desain lay out semakin tambah berkembang. Hal ini yang menjadikan
desain lay out menjadi gemar dipelajari oleh kalangan masyarakat. Bahkan tata letak
perwajahan dipelajari di setiap universitas maupun lembaga pendidikan yang
berbasis desain grafis.
Hal ini yang mempengaruhi dunia desain komunikasi visual karena media
cetak apapun sangat membutuhkan yang namanya desain lay out supaya lebih

memberikan kenyamanan pembaca dalam membaca dan memahami isi dari berita
atau informasi.
2.4. Tips & Trik Layout yang Baik
a.
Lay out hendaknya mengikuti kebiasaan arah mata berputar, yakni dari kiri
ke kanan.Iklanhendaknya jangan diletakkan di halaman depan
b.
Gambar yang baik, yang ada aksinya. Hindari memuat pasfoto. Karena dengan foto
aksi (action) seolah-olah pembaca bertatap muka dengan orang bersangkutan
c.
Gambar hendaknya jangan di sebelah kiri halaman
d.
Fungsi foto, sama dengan headline. Foto mempunyai fungsi yang penting dalam lay
out
e.
Gambar jangan bertumpuk. Kalau mau banyak, dapat diletakkan di halaman dalam
atau bersambung ke halaman lain
f.
Kalau suratkabarnya berwarna, jangan terlalu banyak menampilkan warna.
Sebaiknya redaktur mempelajari bahasa warna atau mengangkat seorang seniman
yang mengerti arti warna, dan
g.
Berita ditulis bukan untuk menyenangkan sumber berita, tetapi untuk kepentingan
pembaca
3. Penutup
Berdasarkan hasil pembahasan tersebut, akhirnya dapat dikemukakan
simpulan sebagai berikut:
Pertama, pengertian bahwa tata letak perwajahan/ layout adalah
perancangan atau penyusunan unsur-unsur desain berupa garis, bidang, warna
yang dilakukan pada buku, majalah, atau bentuk media cetak lainnya dengan baik,
sehinggan mencapai tujuan
Kedua, jenis-jenis tata letak perwajahan di atas dapat disimpulkan bahwa lay
out memiliki tujuh jenis antara lain: Symitrical layout, Informal Balance Lay-out,
Quadrat Lay-out, Brace Lay-out, Circus Lay-out, Horizontal Lay-out, dan Function
Lay-out.
Ketiga, begitulah tadi sejarah tata letak perwajahan, setelah ditemukannya
alat percetakan, desain lay out semakin tambah berkembang. Hal ini yang
menjadikan desain lay out menjadi gemar dipelajari oleh kalangan masyarakat.
Bahkan tata letak perwajahan dipelajari di setiap universitas maupun lembaga
pendidikan yang berbasis desain grafis.
Hal ini yang mempengaruhi dunia desain komunikasi visual karena media
cetak apapun sangat membutuhkan yang namanya desain lay out supaya lebih
memberikan kenyamanan pembaca dalam membaca dan memahami isi dari berita
atau informasi.
Keempat, tips & trik lay out yang baik meliputi; Lay out hendaknya mengikuti
kebiasaan arah mata berputar, yakni dari kiri ke kanan.Iklan hendaknya jangan

diletakkan di halaman depan; gambar yang baik, yang ada aksinya. Hindari memuat
pasfoto. Karena dengan foto aksi (action) seolah-olah pembaca bertatap muka
dengan orang bersangkutan, gambar hendaknya jangan di sebelah kiri halaman;
fungsi foto, sama dengan headline. Foto mempunyai fungsi yang penting dalam lay
out; gambar jangan bertumpuk. Kalau mau banyak, dapat diletakkan di halaman
dalam atau bersambung ke halaman lain; kalau suratkabarnya berwarna, jangan
terlalu banyak menampilkan warna. Sebaiknya redaktur mempelajari bahasa warna
atau mengangkat seorang seniman yang mengerti arti warna; dan berita ditulis
bukan untuk menyenangkan sumber berita, tetapi untuk kepentingan pembaca.
.Berdasarkan kesimpulan tersebut, dapat disarankan kepada pembaca
khususnya perusahaan mebel supaya tulisan ini dapat menambah wawasan
mengenai desain mebel yang baik dan berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Turnbull, Arthur T., & Baird, Russel N. 1980. The Graphics of Communication:
typography, layout, design, production. New York: Holt, Rinehart and Winston.
http://andreyuris.wordpress.com/2009/01/03/perwajahan-dalam-perspektifkomunikasi/
http://bayoete.blogspot.com/2011/11/dasar-dasar-tata-letak-danperwajahan.html
http://belajarmultimedia.wordpress.com/2010/09/16/elemen-elemen-desainkomunikasi-visual/
http://delektika.wordpress.com/2013/04/20/jurnalistik-lay-out/
http://rakhmat-dkv.blogspot.com/2008/07/rakhmat-supriyono.html

http://tombaksada.webs.com/tentangtataletak.htm