You are on page 1of 9

SEJARAH SENI RUPA

PERJALANAN DKV DI INDONESIA

Oleh
Nama

: DENNY AL GHIFARI

NIM

: A14.2014.01981

FAKULTAS ILMU KOMPUTER
DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO
SEMARANG
2014

KEARIFAN LOKAL SUNAT
PERCAYAKAH Anda? Kalau di kampung halamanku, khitan atau yang lebih kerap kita
sebut sunat, tak hanya membuat anak-anak Melayu menjelang akil baliq menangis ketakutan
setiap kali mendengarnya, tetapi juga anak-anak Tionghoa. Ya, kendati mereka mungkin tak
bakal mengalaminya.
Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana ceritanya, sunat bisa menjadi semacam momok
bagi anak-anak Tionghoa. Yang kutahu sejak aku masih kecil, kata itu memang sudah jadi
ancaman yang kerap kali terlontar dari mulut orangtua kami.
“Kalau besok kau masih mancing ke kolong belakang sekolahmu itu, kusuruh Mantri Rusdi
sunat kau!” tukas ibuku dengan mata melotot saat aku telat pulang sekolah dengan seragam
basah kuyup kotor. Mendengar ancaman Ibu yang tampak bersungguh-sungguh, nyaliku—
yang kala itu baru duduk di bangku kelas tiga SD—seketika menciut. Kubayangkan Mantri
Rusdi menyeringai lebar sambil mengeluarkan gunting tajam dari dalam tas hitam yang selalu
dibawanya. Gunting itu digerak-gerakkannya di depan wajahku. Tanpa sadar aku langsung
memegangi pinggang celana pendekku erat-erat…
Namun kata teman sekelasku Amir, kakaknya Fuad waktu disunat menggunakan sebilah
bambu. Tentu saja aku makin kaget. Bayangkan, betapa sakitnya ujung “burung”-mu diiris
dengan bambu tajam!
“Itu kalau nyunatnya dukun kampung, Lie. Kalau yang nyunat mantri, tititmu akan dipotong
pakai pisau bedah!” ujar Paman Choi lalu tertawa terkekeh. Aku terbelalak lebar. Bayangan
gunting tajam mengerikan di tangan Mantri Rusdi seketika lenyap berganti dengan sebilah
pisau lancip berkilat! Kali ini aku hampir menangis. Dan malamnya aku benar-benar
bermimpi dikejar-kejar ribuan pisau terbang. Sementara mantri puskesmas berkumis lebat
seperti Pak Raden yang sering menjahitkan pakaiannya ke toko jahit ayahku itu
mengeluarkan tawa seram di depan pelupuk mataku.
Ah, itu puluhan tahun yang silam. Jauh sebelum aku memutuskan masuk Islam.

“LALU apa yang membuat Mas memilih masuk Islam? Karena teman, ulama, atau… Hmm,
mendapatkan mimpi?” tanya Faturrahman, wartawan tabloid Suluh Hidayah yang

mewawancaraiku untuk rubrik ‘Mualaf’. Aku tersenyum kecil. Lagi-lagi aku harus
menghadapi pertanyaan yang tak mudah dijawab itu. Pertanyaan sama yang entah sudah
berapa puluh kali diajukan orang kepadaku.
Inilah pertama kalinya aku meladeni wawancara wartawan seputar keislamanku.
Sebelumnya, bulan Ramadhan beberapa tahun lalu, seorang temanku yang bekerja di surat
kabar lokal juga pernah menelepon, memintaku menuliskan pengalamanku sebagai mualaf.
“Kalian berani bayar berapa?” tanyaku berkelakar waktu itu.
“Maksud Abang?” terdengar suara Dani temanku di seberang.
“Kalau ceritanya biasa-biasa saja, honornya standar. Tapi kalau sampai diusir dari rumah atau
dikejar-kejar dengan parang, honornya dua kali lipat,” kataku sambil tertawa geli karena
teringat beberapa kisah kesaksian para mualaf yang pernah kubaca.
“Ai, Abang ini! Aku kan tidak meminta Abang menulis cerpen,” gerutu Dani sebelum
menutup telepon. Sejak itu, ia tak pernah menghubungiku meminta tulisan lagi.
Fatur tampak menatapku dengan wajah setengah melongo melihatku tertawa sendiri. Sekali
lagi, aku merasa kesulitan menjawab pertanyaannya yang terkesan mudah itu. Jika aku
menjawab secara teologis, tentu perlu energi berlebih untuk menjelaskannya dan belum tentu
dipahami oleh semua pembaca. Namun jika aku menjawab karena teman atau sesosok ulama
kharismatik, itu sama saja dengan berbohong. Karena mimpi? Kalau mimpi disunat sih iya!
Hahaha!
Ai, percayakah Anda, kalau sampai sekarang—walaupun sudah pernah merasakan bagaimana
disunat—aku masih sering bermimpi dikejar-kejar oleh Mantri Rusdi dengan pisau bedah?
Kata ibuku saat aku pulang terakhir kali, Pak Mantri itu sudah sakit-sakitan. Kutaksir
usianya kini telah hampir 80. “Anak bungsunya sekarang jadi dokter,” tambah Ibu. Aku
kembali menerawang, mengenang masa-masa ketika aku lari ketakutan dan bersembunyi di
dapur setiapkali ia datang ke toko ayahku untuk menjahitkan atau memperbaiki pakaian.
Padahal sebenarnya Mantri Rusdi orang yang ramah dan murah senyum; tak segalak
tampangnya. Ia kerap memberi permen pada adik perempuanku, A Ling. Di saku celananya
memang selalu tersedia banyak permen untuk membujuk anak-anak kecil yang takut disuntik.
Dan ibu-ibu—Melayu maupun Tionghoa (termasuk ibuku)—lebih mempercayainya daripada

para dokter. Setiapkali kami jatuh sakit, ibuku pasti membawa kami ke tempat praktek Mantri
Rusdi.
Tapi alangkah panjang jarum suntiknya, Mak! Alat suntik bertabung kaca itu jauh lebih
menyeramkan dari film Sundel Bolong yang dibintangi Suzanna. Apakah pisau sunatnya juga
berukuran besar? Pikirku waktu itu dengan tubuh gemetaran.
Tentu saja ketika itu aku tidak menyangka kalau suatu hari diriku bakal disunat. Mungkin
demikian pula halnya dengan tetanggaku, Chao Men Fui… Meskipun ia pasti takkan sesulit
diriku menjawab ketika ditanya orang kenapa masuk Islam. Sebab alasannya jelas dan tak
perlu direnungkan: “Aku mau nikah!” katanya dengan sumringah.
YA, mendadak aku teringat lagi pada tetangga lamaku itu, ingat cerita menggelikan saat ia
disunat. Kejadiannya sekitar empat tahun silam. Tak lama setelah aku kembali ke Jogja usai
cuti kuliah dua semester.
Adik A Fui (begitulah sehari-hari kami memanggilnya), A Kiun adalah teman akrabku sejak
kecil. Rumah orangtua mereka pun hanya terpisah empat rumah dari rumahku. Usia A Fui
dua puluh satu tahun di atasku. Kalau aku tidak salah hitung, umurnya saat itu sudah 47
tahun. Bujang tua. Tapi jika diolok, ia bakal dengan cueknya (atau pura-pura cuek) berkilah
dengan mengutip ujar-ujar anglo-saxon: “Hidup itu dimulai pada umur empat puluh, Bung!”
Aku tidak tahu bagaimana ia bertemu dengan gadis Melayu yang kabarnya baru dua tahun
tamat SMA itu (sampai sekarang ia tak sempat cerita). Kira-kira tiga minggu sebelum
pernikahannya, tiba-tiba saja ia meneleponku dengan nada gembira.
“Lie, bulan depan aku mau lamaran.”
“Ha? Yang benar? Orang mana? Janda ya?”
“Sialan! Kau tahulah seleraku, mana mau aku sama janda! Perawan dong. Baru 20 tahun.”
Kaget juga aku mendengarnya. Gila! Ternyata benar-benar ada gadis yang mau dengan dia.
Pakai guna-guna dari dukun sakti mana dia? Pikirku gemas.
“Nah…,” lanjutnya di telepon, “Aku mau tanya sama kau.”

“Soal apa?” aku masih sulit percaya ia akan menikahi gadis sebelia itu.
“Cewek yang mau aku lamar ini orang Melayu…,” ia berhenti sesaat, seperti mengambil
nafas. “Aku sudah mengucap syahadat. Dan besok lusa aku mau disunat…”
Sekali lagi aku terkejut, tapi kemudian terbahak.
“Hei, hei! Kau jangan tertawa!” ia berteriak di seberang.
“Iya, iya. Apa yang mau kau tanyakan?” aku setengah mati menahan geli.
“Kau kan sudah disunat. Nah, bagaimana rasanya itu? Maksudku setelah obat penghilang
sakitnya reda… Apakah sakit kalau kencing?”
Mendengar suaranya yang kini berubah cemas, aku benar-benar tak bisa menahan tawa lagi.
Itu tiga minggu sebelum aku mendengar kabar dari A Kiun, kalau sang kakak melabrak
dokter yang menyunatinya.
“Lho, memangnya kenapa?” tanyaku heran dalam pembicaraan telepon. Belum apa-apa A
Kiun sudah tertawa bergelak. Mau tahu apa yang terjadi? Ternyata, menurut A Fui, setelah
disunat—maaf—burungnya sulit bangun! Termasuk di pagi hari yang dingin. Masya Allah!
Benar atau tidak apa yang diceritakan adiknya itu, mungkin hanya Tuhan dan A Fui sendiri
yang tahu. Aku tak berani menanyakan hal itu kepadanya setiapkali pulang dan bertemu
dengannya. Tampaknya ia juga tak ingin menyinggung-nyinggung lagi apa yang menimpa
dirinya itu. Yang jelas, setahun setelah pernikahannya yang sempat bikin heboh para tetangga
itu, A Fui bercerai dengan istrinya…. Aah!
“SEHABIS bersunat, jangan sampai melangkahi tahi ayam. Kau bisa ketimpa sial!” Atau,
“Jangan sesekali melewati bawah jemuran pakaian wanita. Bisa-bisa kau impoten!” Ada lagi
yang lebih menggelikan, “Kalau mau cepat sembuh, kau harus tiduri janda.”
Begitulah pantangan yang beredar di kampungku semasa kanak-kanak. Konyol tapi
tampaknya cukup dipercayai oleh teman-teman Melayuku seperti Amir, Panjul, Mustafa, dan
lain-lainnya. Karena itu, kami pun kerap melemparkan kelakar untuk menakut-nakuti ketika
salah satu dari mereka baru habis disunat.

“Hei, kalau jalan lihat-lihat, Jul. Tadi kau baru saja langkahi tahi ayam!” celetuk Mustafa
dengan mimik serius. Seketika pucatlah wajah Panjul yang baru seminggu disunat.
“Mana? Mana? Tidak ada tahi ayamnya?”
Kami semua terbahak-bahak melihat bagaimana anak gendut itu kalang-kabut mencari-cari
onggokan tahi ayam di seputar halaman sekolah.
“Mungkin A Fui, tetanggamu itu, juga langkahi tahi ayam atau lewati bawah jemuran Lie,”
kata istriku tertawa, “Kau dulu tidak tiduri janda kan?”
Aku ikut tertawa membayangkan A Fui yang brewokan dengan sarung kedodoran menginjak
tahi ayam di pekarangan rumahnya.
Tetapi lain padang lain belalang, lain orang lain pula kasusnya. Puluhan tahun silam,
mendiang kakekku pernah bercerita tentang seorang Tionghoa—anggota perkumpulan Lo
Kung Huii—yang bersunat dan selamat dari pembantaian pasca 65. Aku ingat ketika itu
Kakek mengisahkannya sambil berbisik-bisik: “Kalian tahu, mendiang bapaknya Haji Amran
itu orang Tionghoa. Namanya Chin Hon. Haji Amran itu anak dari istri keduanya. Setelah
resmi masuk Islam, ia tinggal di kampung Melayu dan menikah lagi.”
“Pantas Pak Haji itu tampangnya mirip orang kita,” ujar ibuku mengangguk-angguk. “Lalu
istri pertama dan anak-anaknya ke mana?”
Kakek menggeleng. “Ada yang bilang pindah ke Palembang. Ada yang bilang ke Medan.
Tidak ada yang tahu pasti.”
Aku membayangkan wajah Haji Amran yang salah satu putrinya adalah kakak kelasku. Anak
itu cantik dan putih seperti amoy. Tapi wajah Haji Amran, kalau aku mau jujur, seperti Cu
Pak Kai!
“Sssstt! Jangan katain orang!” hardik Ayah mendelik mendengar celetukanku. A Ling
cekikikan.
“Hm, percaya tidak?” tanya Kakek kemudian dengan mata berbinar-binar, “kalau si Chin Hon
itu bersunat setelah mendapatkan petunjuk dari Dewa Kwan Kong dalam mimpinya…”

Kami semua saling pandang lalu melongo. Melihat wajah kami yang tampak bloon, Kakek
terkekeh. “Ya, setelah tiga malam berturut-turut Kwan Ti mendatanginya lewat mimpi,”
katanya usai menghirup kopi dalam cangkirnya dua teguk.
MENURUT kakekku, kejadian itu tak lama selepas peristiwa penampakan golok suci sang
dewa perang di langit timur yang menggemparkan seluruh kota kecil kami. Di mana orangorang kemudian mulai mengaitkannya dengan bencana besar yang akan datang. Apalagi saat
itu situasi politik di Jakarta memang mulai panas.
“Kwan Ti menampakkan diri kepadanya dalam mimpi pada suatu malam sepulangnya dari
rapat di kantor Lo Kung Hui [1] yang sekarang jadi rumah dinas Koramil itu,” tukas Kakek
melanjutkan.
“Potong! Potong ujung kemaluanmu!” perintah sang dewa dengan mata melotot galak dan
wajah memerah sangar. Sosok tinggi besar berseragam militer Tiongkok kuno dan memegang
sebilah golok bercula dengan tangkai panjang itu persis lukisan di altar ruang tengah
rumahnya yang sudah lama tak terurus.
Chin Hon tersentak bangun dari tidurnya dengan pakaian basah kuyup. Dan ketika melewati
ruang tengah hendak ke dapur mengambil air minum, sekonyong-konyong ia mencium aroma
dupa yang santer dari arah altar peninggalan mendiang ayahnya yang sudah bertahun-tahun
tak pernah digubrisnya itu—bahkan sekedar membersihkan dan menyalakan sebatang dupa
pada hari-hari besar. Kala itu Chin Hon hanya menggeleng-geleng dan menganggap dirinya
masih setengah sadar. Lantaran rasa lelah usai rapat seharian, akhirnya ia pun kembali ke
tempat tidur dan terlelap.
Ya, awalnya ia memang mengacuhkan penampakan Kwan Kong dalam mimpinya itu dan
menduganya bunga tidur semata. Sebagai lulusan Tiong Hoa Hwee Koanii [2], ia sudah
terbiasa berpikir rasional dan menganggap dewa-dewi hanyalah takhyul belaka. Namun
keesokan malamnya, mimpi yang sama kembali terulang. Puncaknya pada malam ketiga,
Dewa Kwan Kong tampak marah sekali.
“Kalau kau tak mau potong, biar aku yang potong dengan golokku!” bentak pahlawan bangsa
Han dalam roman Sam Kokiii [3] itu sambil mengayunkan golok bercula ke arah
selangkangannya. Chin Hon menjerit keras dan terguling ke bawah ranjang. Ia mengadu

kesakitan saat kepalanya terantuk ke lantai semen. Saat itulah ia mencium bau asap pekat dan
langsung terbatuk-batuk.
Bergegas bangkit dari lantai, Chin Hon berlari keluar kamar. Dan alangkah terkejutnya ia
ketika melihat altar tua sang dewa di ruang tengah itu sedang terbakar…
“Ia langsung masuk Fui Kau [4] setelah itu?” tanya Ibu tidak sabaran.
“AKU tidak tahu di mana Chin Hon bersunat. Apakah pada dukun Melayu atau seorang
mantri,” kata Kakek kemudian, kali ini sambil menyalakan sebatang rokok kretek. “Tapi itu
menyelamatkannya. Kalian tahu, tak lama sesudah itu terjadi peristiwa Gestapu…”
Kakek merendahkan suaranya sedemikian rupa, sehingga adikku A Ling yang baru duduk di
bangku kelas satu SMP buru-buru merapatkan diri pada Ibu. Asap rokoknya yang putih
kebiru-biruan meliuk-liuk tertiup angin yang masuk dari jendela yang separuh terbuka.
Ketika hal itu akhirnya ketahuan oleh para anggota perkumpulan Lo Kung Hui lainnya—
lanjut Kakek lagi—Chin Hon menjadi bahan tertawaan. Bahkan sebagian temannya
mengecamnya habis-habisan; menuduhnya irasional dan kontra-revolusioner! Sampai kirakira setengah tahun kemudian…. Kakek menarik nafas ketika hendak meneruskan.
”Apa yang terjadi?” lagi-lagi Ibu tidak sabaran. Kakek tersenyum getir.
“Kalian tahu Ming Suk kan?” tanyanya dengan mata tertuju kepada ayahku. “Seorang
putranya juga anggota Lo Kung Hui… Kecuali Chin Hon, semua anggota dibawa, entah ke
mana. Rumah mereka dikedor malam-malam. Itu sebulan sebelum sekolahmu diambil alih
oleh tentara. Kau ingat? Ai, kau kelas dua waktu itu.”
Aku tidak lagi ingat dengan detail semua yang diceritakan Kakek saat itu. Namun aku
mencoba membayangkan rumah Chin Hon yang tak luput dikedor oleh segerombolan orang.
Mungkin istrinya yang membukakan pintu, atau barangkali anak tertuanya. Kubayangkan
istrinya itu menjerit-jerit ketika orang-orang menyerbu masuk ke dalam rumah dengan
beringas. Chin Hon yang mengenakan piyama tidur, pucat pasi dan gemetaran di tepi ranjang
saat pintu kamarnya didobrak.
“Ikut kami komunis!”

“A-aku bukan komunis…”
“Kau anggota Lo Kung Hui! Namamu ada dalam daftar!”
“Aku sudah keluaar…”
“Seret dia!!”
“T-tunggu! Tunggu… Aku ini Muslim…”
Dalam kepalaku terdengar umpatan-umpatan rasis yang agaknya tak pantas kuutarakan di
sini, mungkin disertai dengan caci maki yang membawa-bawa ‘babi’ dan ‘anjing’.
Kubayangkan pula, tak ada seorang pun dari gerombolan itu yang percaya dengan pengakuan
Chin Hon yang ketakutan. Istri dan anak-anaknya menangis meraung-raung. Namun salah
seorang dari gerombolan itu tiba-tiba membentak: “Buka celananya! Kita periksa!”
APAKAH Anda percaya kisah yang dituturkan mendiang kakekku saat aku kelas dua SMA
ini?
Ah, sebagaimana halnya cerita burung Chao Men Fui yang sulit bangun sehabis disunat, tentu
saja aku tidak tahu sejauh mana kebenarannya. Barangkali setengahnya sudah dibumbui oleh
Kakek sendiri atau orang lain yang menyampaikan kisah ini kepadanya. Siapa tahu? Hanya
saja, setiapkali mengingat cerita ini, aku selalu terkenang pada Laksamana Muslim, Cheng
Ho, yang dipuja oleh orang-orang Tionghoa dengan khitmad di klenteng Sam Po Kong,
Semarang…
“Mas?”
“Ya… Oh, maaf,” aku tersadar oleh panggilan Fatur. Hampir saja aku lupa kalau ia masih
menunggu jawabanku.