You are on page 1of 10

LAPORAN INDIVIDU

Ruang Persalinan Resiko Tinggi Rumah Sakit Islam
“UNISMA” Malang
Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu Kepaniteraan Klinik
Departemen Maternitas

Oleh:
Brian Tegar Widigdo

150070300113007

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

7% pada semua penderita ginekologi.39-11. Yang ada pada serviks uteri hanya di temukan dalam 3% sedangkan pada korpus uteri 97% mioma uteri banyak terdapat pada wanita usia reproduksi terutama pada usia 35 tahun keatas dan belum pernah dilaporkan bahwa mioma uteri terjadi sebelum menarche (prawirohardjo. KONSEP DASAR PENYAKIT A. Pengertian Mioma Uteri Mioma uteri adalah neoplasma jinak. Epidemiologi - Diperkirakan bahwa antara 20% sampai dengan 25% mioma uteri terjadi pada wanita berumur diatas 35 tahun. - Mioma uteri jarang terjadi pada wanita sebelum masa menarche - Mioma uteri juga jarang terjadi pada wanita sebelum masa menopause. Sarwono 1994 . 282 ). namun dari hasil penelitian Meyer dan Lipschultz. - Mioma uteri sering terjadi pada masa reproduksi - Di Indonesia mioma uteri ditemukan 2. . sarwono 1994 . (Prawirohardjo.LAPORAN PENDAHULUAN MIOMA UTERI I. Etiologi Walaupun mioma uteri terjadi banyak tanpa penyebab. C. yang berasal dari otot uterus yang disebut juga leiomioma uteri atau uterine fibroid. yang mengutarakan bahwa terjadinya mioma uteri tergantung pada sel-sel imatur pada “Cell nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen. Dikenal dua tempat asal mioma uteri yaitu serviks uteri dan korpus uteri. 281). B.

faktor keturunan juga berperan. Mioma Intramural Yaitu mioma yang berada di dinding uterus di antara serabut miometrium 3. Mioma uteri terdiri dari otot polos dan jaringan yang tersusun seperti konde diliputi pseudokapsul. F. Mioma submukosum dapat tumbuh bertangkai dan menjadi polip. kemudian dapat dilahirkan melalui saluran serviks ( Myoma geburt). 2. intramular dan subserosum. E. Mioma uteri lebih sering ditemukan pada nulipara. Gejala dan tanda Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan .D. Jarang sekali ditemukan hanya satu macam mioma saja dalam uterus. Perubahan sekunder pada mioma uteri sebagian besar bersifaf degeneratif karena berkurangnya aliran darah ke mioma uteri. Mioma subserosum dapat pula tumbuh menempel pada jaringan lain misalnya ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari urerussehingga sering disebut sebagai mioma wondering/Parasitic Fibroid. Mioma yang tumbuh pada serveks uteri dapat menonjol ke dalam saluran serviks sehingga ostium uteri nampak berbentuk bulan sabit. Patofisiologi/pathways Mioma memiliki reseptor estrogen yang lebih banyak dibanding miometrium normal. Mioma Submukosum Mioma ini berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. mioma terdiri dari mioma submukosum. Teori cell nest atau teori genitoblat membuktikan dengan pemberian estrogen ternyata menimbulkan tumor fibromatosa yang berasal dari sel imatur. Mioma Subserosum Mioma jenis ini tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus dan diliputi oleh serosa. Menurut letaknya. Jenis Mioma Uteri Berdasarkan posisi mioma terhadap lapisan-lapisan uterus dapat di bagi menjadi tiga jenis yaitu : 1.

sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya. Didapatkan benjolan di daerah perut bagian perut bagian bawah dengan konsistensi padat. 3. 3. kenyal dan berbatas jelas. Perdarahan abnormal Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore.pada pemeriksaan ginekolog karena tumor ini tidak menganggu. didapatkan benjolan menyatu dengan rahim. besarnya tumor. antara lain :  Permukaan endometrium yang lebih luas dari pada biasanya  Pengaruh ovarium sehingga terjadi hiperplasia endometrium   sampai adenokarsinoma emdometrium Atrofi endometrium di atas mioma submukosum Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma diantara serabut miometrium. Penekanan pada uretra daoat menyebabkan retensio urine dan pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis. Palpasi abdomen. Rasa nyeri dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma yang disertai nekrosis jaringan setempat dan peradangan. intramural. Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada (serviks. Pada mioma submukosum yang akan dilahirkan biasanya menimbulkan dismenore karena penyempitan kanalis servikalis akibat mioma. menoragia atau dapat terjadi metroragi. Pemeriksaan dan Diagnosis 1. Penekanan pada kandung kemih akan menyebabkan poliuri. Rasa Nyeri Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas pada mioma walaupun sering terjadi. G. perubahan dan komplikasi yang terjadi. Faktor yang menyebabkan terjadi perdarahan . 2. Penekanan pada rectum menyebabkan obstipasi dan tenesmia. Pemeriksaan bimanual . Gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut : 1. submukus. Dan penekanan pada pembuluh darah dan pembuluh limfe mengakibatkan edema tungkai dan nyeri panggul. Anamnesa tentang riwayat penyakit 2. subserosa). Gejala dan tanda penekanan Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. sulit dilakukan untuk pasien yang gemuk .

4. Adapun yang perlu dikaji pada rasa nyeri tersebut adalah :  Lokasi nyeri  Intensitas nyeri  Waktu dan durasi  Kwalitas nyeri. Keluhan Utama Keluhan yang timbul pada hampir tiap jenis operasi adalah rasa nyeri karena terjadi torehant tarikan. Pemeriksaan Penunjang 1. untuk menentukan jenis. H. Penatalaksanaan Rawat inap darurat diindikasikan apabila perdarahan mengancam jiwa atau nyeri akut abdomen. Umur dan paritas klien.Rasa nyeri setelah bedah biasanya berlangsung 24-48 jam. Pemeriksaan USG. untuk memastikan diagnosa akan kemungkinan kehamilan dengan adanya pembesaran uterus. dimana mioma uteri tumbuh cepat pada masa hamil ini dihubungkan dengan hormon estrogen. Biopsi endometrium. sebab mioma uteri tidak pernah ditemukan sebelum menarche dan mengalami atrofi pada masa menopause  Hamil dan Persalinan  Kehamilan mempengaruhi pertubuhan mioma. Ada tidaknya keluhan dan komplikasi 3. 5. USG abdominal dan transvaginal 2. manipulasi jaringan organ. Adapun perencanaan tata laksana yang spesifik harus meliputi berbagai pertimbangan diantaranya : 1. PENGKAJIAN 1. Riwayat Reproduksi  Haid Dikaji tentang riwayat menarche dan haid terakhir. 2. pada masa ii dihasilkan dalam jumlah yang . Laparaskopi I. Besar kecilnya tumor 2. Test kehamilan. lokasi dan penyebaran mioma uteri 6. II. untuk mendeteksi ada tidaknya keganasan. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN A.

7. Organ reproduksi merupakan komponen kewanitaan.  Jumlah kehamilan dan anak yang hidup mempengaruhi psikologi klien dan keluarga terhadap hilangnya oirgan kewanitaan. harus diobservasi dan penurunan tingkat kesadaran merupakan gejala syok. Bunyi pernafasan akibat lidah jatuh kebelakang atau akibat terdapat secret. Perasaan seksualitas dalam arti hubungan seksual perlu ditangani . Status Gastrointestinal Fungsi gastrointestinal biasanya pulih pada 24-74 jam setelah pembedahan. Pengangkatan organ reproduksi dapat sangat berpengaruh terhadap emosional klien dan diperlukan waktu untuk memulai perubahan yang terjadi. Usaha batuk dan bernafas dalam dilaksalanakan segera pada klien yang memakai anaestesi general. Tingkat Kesadaran Tingkat kesadaran dibuktikan melalui pertanyaan sederhana yang harus dijawab oleh klien atau di suruh untuk melakukan perintah. wanita melihat fungsi menstruasi sebagai lambang feminitas. Variasi tingkat kesadaran dimulai dari siuman sampai ngantuk. 6. sehingga berhentinya menstruasi bias dirasakan sebgai hilangnya perasaan kewanitaan. Beberapa wanita merasa cemas bahwa hubungan seksualitas terhalangi atau hilangnya kepuasan.besar. Ambulatori dan kompres hangat perlu diberikan untuk menghilangkan gas dalam usus. klien yang hidrasinya baik biasanya baik biasanya kencing setelah 6 sampai 8 jam setelah pembedahan. . Data Psikologi. tergantung pada kekuatan efek narkose pada penekanan intestinal. 3. Suara paru yang kasar merupakan gejala terdapat secret pada saluran nafas. Status Urinari Retensi urine paling umum terjadi setelah pembedahan ginekologi. 4. Status Respiratori Respirasi bias meningkat atau menurun. Pernafasan yang ribut dapat terdengar tanpa stetoskop. muntah akibat anestesi. Pengetahuan klien tentang dampak yang akan terjadi sangat perlu persiapan psikologi klien. Jumlah autput urine yang sedikit akibat kehilangan cairan tubuh saat operasi. 5.

RENCANA KEPERAWATAN 1. . - Evaluasi/ kontrol pengurangan nyeri - Ciptakan suasana lingkungan tenang dan nyaman. 2. tidak adekuat pertahanan tubuh pengetahuan tentang penyakit. dan kebutuhan pengobatan. nekrosis dan peradangan. gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma akibat 2. prognosis dan kebutuhan pengobatan. Tujuan : Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan. C. - Kolaborasi untuk pemberian analgetik sesuai indikasi. perdarahan 4. - Tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36-37 0C TD : Sistole N : 80-100 x/m : 100-130 mmHg RR : 16-24x/m Diastole : 70-80 mmHg Intervensi : - Kaji riwayat nyeri.d. eksprei wajah rileks. - Bantu pasien mengatur posisi senyaman mungkin. akibat anemia. Resiko tinggi infeksi b.d. pervaginam berlebihan. durasi dan intensitas (kala 0-10) dan tindakan pengurangan yang dilakukan. mendengarkan musik dan sentuhan terapeutik.B. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pengetahuan klien tentang penyakitnya bertambah dan cemas berkurang. Cemas b. Kurangnya 3. mis : lokasi nyeri. tertawa. Cemas b. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh b.d. - Monitor tanda-tanda vital - Ajarkan pasien penggunaan keterampilan manajemen nyeri misalnya dengan teknik relaksasi. gangguan sirkulasi darah pada mioma akibat nekrosis dan peradangan.d kurang pengetahuan tentang penyakit. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri b.d. Kriteria Hasil: - Klien menyatakan nyeri berkurang (skala 3-5) - Klien tampak tenang. prognosis. Nyeri b.d. frekuensi.

: Sistole: 100-130 mmHg. Nadi : 80 – 100 x/m. - Pendarahan berhenti. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi kekurangan volume cairan tubuh. - Monitor tanda-tanda vital. demam.Klien mengatakan rasa cemas berkurang . Diastole : 7080 mmHg Intervensi : - Kaji ulang tingkat pemahaman pasien tentang penyakitnya. keluaran urine 1 cc/kg BB/jam. RR :16-24 x/m. 3. - Berikan informasi tentang penyakitnya. - Berikan kesempatan klien untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas.Klien mengerti tentang penyakitnya.d. Diastole : 70-80 mmHg Intervensi : . Nadi : 80100x/m. perdarahan pervaginam berlebihan. - Tanda-tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36-37 0C.Klien kooperatif terhadap prosedur/ berpartisipasi. Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh b. R: 16-24 x/m TD. . dan pengobatan serta prosedur secara jelas dan akurat. . membran mukosa kering.Tanda-tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36. - Tanyakan tentang pengalaman klien sendiri/ orang lain sebelumnya yang pernah mengalami penyakit yang sama.Klien tampak rileks.Kriteria Hasil : . - Libatkan orang terdekat sesuai indikasi bila memungkinkan. Kriteria Hasil : - Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan cairan seperti turgor kulit kurang. - Minta pasien untuk umpan balik tentang apa yang telah dijelaskan. . - Dorong klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya - Ciptakan lingkungan tenang dan terbuka dimana pasien meraa aman unuk mendiskusikan perasaannya. TD : Sistole : 100-130 mmHg.37 oC. prognosi.

- Kadar haemoglobin dalam batas normal : 11-14 gr% - Pasien tidak demam/ menggigil. Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi. Evaluasi nadi perifer. - Observasi pendarahan - Anjurkan klien untuk minum + 1500-2000 . Kriteria Hasil : - Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti rubor. - Monitor tanda-tanda vital. pemeriksaan laboratorium. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jilid 1. suhu : 36-370 C Intervensi : - Kaji adanya tanda-tanda infeksi. dolor. ureum. kreatinin. - Gunakan teknik aseptik pada prosedur perawatan. tumor dan fungsiolesia. - Pantau masukan dan haluaran/ monitor balance cairan tiap 24 jam. . Resiko tinggi infeksi b. 1999.d. - Kolaborasi dengan medis untuk pemberian antibiotika. - Monitor tanda-tanda vital dan kadar haemoglobin serta leukosit. - Lakukan cuci tangan yang baik sebelum tindakan keperawatan. leko.l/hari - Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral dan kalau perlu transfusi sesuai indikasi. - Batasi pengunjung untuk menghindari pemajanan bakteri. pertahanan tubuh tidak adekuat akibat penurunan haemoglobin (anemia). Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI. trombo.- Kaji tanda-tanda kekurangan cairan. 4. DAFTAR PUSTAKA Mansjoer. Arif dkk. - Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Hb. color.

Carpenitto. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. 1999. Asuhan Keperawatan. Linda Jual. .Wiknjosastro. 2000. Edisi 3. Marillyn E. Doengoes. 1999. Edisi II. Jakarta : EGC. Edisi 2. Cetakan 3. Hanifa dkk. Jakarta : EGC. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Ilmu Kandungan.