You are on page 1of 20

Handelia Phinari (20110710042

)
Universitas Pelita Harapan
HIERARKI DARI KEBUTUHAN MANUSIA MENURUT MASLOW
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya
bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya. Salah satu hal menarik
di awal karirnya adalah ketika melihat beberapa kebutuhan lebih didahulukan dibanding
yang lainnya. Sebagai contohnya, ketika haus dan lapar, maka Anda akan terlebih dahulu
mengatasi haus dibandingkan lapar. Karena tanpa makanan kita dapat bertahan selama
beberapa minggu, tetapi tanpa minuman hanya beberapa hari saja. Sehingga dapat
dikatakan bahwa kebutuhan akan minuman lebih kuat dibandingkan dengan makanan.
Maslow mengambil ide ini dan menciptakan apa yang saat ini dikenal dengan Hierarchy
of Needs.

Maslow menggunakan piramida (gambar 1) sebagai peraga untuk memvisualisasikan
gagasannya mengenai teori hierarki kebutuhan. Menurut Maslow, manusia termotivasi

Handelia Phinari (20110710042)
Universitas Pelita Harapan
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut
memiliki tingkatan atau hierarki, mulai yang paling rendah (bersifat dasar) sampai yang
paling tinggi.
Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi lima tingkatan, antara lain sebagai
berikut:
1. The Physiological Needs
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendasar dan sangat penting
untuk bertahan hidup. Diantaranya adalah kebutuhan udara, air, makanan, tidur, dll.
Maslow percaya bahwa kebutuhan fisiologis sangat penting dan naluriah di dalam
hierarki kebutuhan karena kebutuhan yang lain menjadi sekunder sampai kebutuhan ini
terpenuhi. Kebutuhan ini dinamakan juga basic needs yang jika tidak terpenuhi dalam
keadaan yang sangat ekstrim maka manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas
perilakunya sendiri karena seluruh kapasitas manusia tersebut dikerahkan dan dipusatkan
hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu.
2. The Safety and Security Needs
Ketika kebutuhan fisiologis telah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan akan
keamanan. Diantaranya :






physical security (aman dari kejahatan dan agresi)
security of employment (keselamatan kerja)
security of revenues and resources (keamanan sumberdaya)
moral and physiological security (keamanan fisiologis)
familial security (keamanan keluarga)
security of health (keamanan kesehatan)
security of personal property against crime (keamanan kekayaan pribadi dari
kejahatan)

Karena adanya kebutuhan inilah maka dibuat aturan, undang-undang, mengembangkan
kepercayaan, membuat sistem asuransi, pensiun, dan sebagainya. Sama halnya dengan
basic needs, kalau safety needs ini terlalu lama dan banyak tidak terpenuhi maka
pandangan seseorang tentang dunianya bisa terpengaruh dan pada gilirannya pun
perilakunya akan cenderung ke arah negatif.

jika Anda tidak memiliki cukup sesuatu (defisit) maka akan merasa perlu. organisasi profesional. Hal ini tergantung orang lain atau seseorang membutuhkan diyakinkan karena harga diri yang lebih rendah. semua manusia membutuhkan penghargaan. apakah datang dari kelompok sosial yang luas (kelompok. dll. 4. kompetensi. Yaitu. mentor. teman kuliah. dan prestasi. Terdapat dua tingkatan kebutuhan penghargaan/penghormatan. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini maka orang akan menjadi rentan merasa sendirian. pasangan. kantor. The Esteem Needs Menurut Maslow. Tingkatan yang lebih rendah umumnya dianggap miskin. keyakinan. baik di dalam pekerjaan ataupun hobi. Semua empat tingkatan sebelumnya disebut deficit needs.) atau koneksi sosial yang kecil (anggota keluarga. dan prestasi hanya membutuhkan satu orang dan orang lain tidaklah penting untuk kesuksesan sendiri. gelisah.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan 3. Maslow menggambarkan . Namun. Seperti halnya. Kekurangan rasa cinta dan dimiliki juga berhubungan dengan penyakit fisik seperti penyakit hati. rasa hormat dan kemuliaan. Tingkatan yang lebih rendah terkait dengan unsur-unsur ketenaran.“You don’t miss your water till your well runs dry!” 5. tim olahraga. perkumpulan keagamaan. sahabat karib). dan depresi. kompetensi. Orang perlu melibatkan diri untuk mendapatkan pengakuan dan mempunyai kegiatan atau kontribusi kepada orang lain dan juga nilai diri. Tetapi jika Anda mendapatkan semua yang dibutuhkan maka tidak akan merasakan apa-apa. geng . menghargai diri sendiri. dan juga menghargai orang lain. Orang dengan harga diri yang rendah membutuhkan penghargaan dari orang lain. atau D-needs. The Love and Belonging Needs Manusia biasanya membutuhkan rasa dimiliki dan diterima. Self Actualization Needs Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah manusia untuk memanfaatkan kemampuan mereka yang unik dan berusaha menjadi yang terbaik. Tingkatan yang lebih tinggi mengikat pada konsep kepercayaan diri. Mereka membutuhkan untuk mencintai dan dicintai oleh yang lainnya.

 Autonomy and Solitude Karakteristik lain dari aktualisasi diri seseorang adalah kebutuhan akan kebebasan dan privasi. 1949) Selain menggambarkan apa yang dimaksud dengan aktualisasi diri dalam teorinya. Untuk tingkatan yang terakhir (kelima) ini sedikit berbeda. Mereka dapat menyesuaikan diri dengan aturan dan harapan sosial. atau saat suka cita. termasuk membantu orang lain dan mencari solusi terhadap permasalahan di lingkungan luar mereka. of what the organism is. kekaguman yang berlangsung terus menerus. Setelah semua pengalaman ini orang merasa terinspirasi. Orang-orang seperti ini sering termotivasi oleh tangggung jawab pribadi dan etika.  Spontaneity Spontan dalam pikiran internal dan perilaku mereka keluar.  Continued Freshness of Appreciation Melihat dunia dengan penghargaan. or more accurately. Dia menyebutnya growth motivation . Maslow juga mengidentifikasi beberapa karakteristik kunci dari aktualisasi diri seseorang. (Psychological Review. pengalaman sederhana terus menjadi sumber inspirasi dan kesenangan. cenderung terbuka dan tidak konvensional. diperbaharui atau ditransformasikan.  Problem-centering Prihatin dengan pemecahan masalah di luar diri mereka. orang lain dan lingkungan di sekitar mereka. antara lain:  Acceptance and Realism Mempunyai persepsi realistis dari diri mereka sendiri.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan aktualisasi diri sebagai berikut: Self Actualization is the intrinsic growth of what is already in the organism. Bahkan. Maslow telah menggunakan berbagai istilah untuk merujuk ke tingkat ini. diperkuat.  Peak Experiences Individu yang mencapai aktualisasi diri sering memiliki apa yang dimaksud pengalaman puncak Maslow.

Mengajarkan untuk menjadi pemilih yang baik. kita potensi apa yang   membangun. Kita harus mengajar orang untuk mengatasi pengkondisian budaya mereka dan  menjadi warga negara dunia. untuk menyadari diri batin  mereka dan mendengar perasaan mereka. rasa sakit. bahwa ada sukacita yang harus dialami dalam kehidupan. Mengajarkan orang untuk menghargai keindahan dan hal-hal baik lainnya di  alam dan dalam hidup. Sepuluh poin yang harusnya menjadi acuan bagi pendidik adalah sebagai berikut :  Kita harus mengajar orang untuk menjadi otentik. Kita harus melihat kebutuhan dasar orang dipenuhi. dan jika orang yang terbuka untuk melihat  yang baik dan gembira dalam semua jenis situasi. Dibutuhkan  kontrol untuk meningkatkan kualitas hidup di semua daerah. being needs (atau B-needs. nasib atau takdir. dan meninggalkan yang buruk. itu membuat hidup layak. . Mengajarkan kontrol yang baik. Kita harus mengajarkan orang bahwa hidup ini berharga. Kita harus menerima orang seperti dia dan membantu orang belajar sifat batin mereka. Maslow percaya bahwa satu-satunya alasan bahwa orang tidak akan bergerak dengan baik dari arah aktualisasi diri adalah karena kendala di masyarakat. Mengajarkan untuk mengatasi masalah sederhana dan bergulat dengan masalah serius dalam kehidupan. dan kematian. berbeda dengan D-needs).  penderitaan. Hal ini terutama difokuskan pada menemukan karir dan pasangan  yang tepat. Maslow menyatakan bahwa pendidik harus menanggapi potensi individu telah untuk tumbuh menjadi orang yang mengaktualisasi dirinya sendiri. Ini termasuk masalah ketidakadilan. dan self-actualization itu sendiri.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan (berbeda dengan motivasi defisit). Mereka harus diberi latihan dalam membuat pilihan yang baik. Kita harus membantu orang menemukan panggilan mereka dalam hidup. Dari pengetahuan bakat dan keterbatasan.

Coping yang dimaksud terdiri dari pikiran-pikiran khusus dan perilaku yang digunakan individu untuk mengatur tuntutan dan tekanan yang timbul dari hubungan individu dengan lingkungan. Strategi coping didefinisikan secara terperinci oleh Folkman (1984) sebagai bentuk usaha kognitif dan perilaku yang dilakukan seseorang untuk mengatur tuntutan internal dan eksternal yang timbul dari hubungan individu dengan lingkungan. Coyne. baik disadari maupun tidak oleh individu tersebut. menyesuaikan dengan peristiwa-peristiwa atau kenyataan-kenyataan yang negatif. 1984) menambahkan tujuan perilaku coping adalah untuk mengurangi kondisi lingkungan yang menyakitkan. Berdasarkan sejumlah pendapat dari para ahli tersebut. 2004). mempertahankan keseimbangan emosi. yang bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman-ancaman yang ditimbulkan oleh . dkk (1981) menyatakan bahwa coping merupakan usaha-usaha baik kognitif maupun perilaku yang bertujuan untuk mengelola tuntutan lingkungan dan internal. Selain itu Cohen dan Lazarus (Folkman. serta mengelola konflikkonflik yang mempengaruhi individu melampaui kapasitas individu. mempertahankan self image yang positif. Tingkah laku coping merupakan suatu proses dinamis dari suatu pola tingkah laku maupun pikiran-pikiran yang secara sadar digunakan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan dalam situasi yang menekan dan menegangkan. yang dianggap menganggu batas-batas yang dimiliki oleh individu tersebut. dapat disimpulkan bahwa strategi coping merupakan aktivitas-aktivitas spesifik yang dilakukan oleh individu dalam bentuk kognitif dan perilaku.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan COPING MECHANISM Perilaku coping merupakan suatu tingkah laku dimana individu melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya dengan tujuan menyelesaikan tugas atau masalah (Chaplin. khususnya yang berhubungan dengan kesejahteraan. serta untuk meneruskan hubungan yang memuaskan dengan orang lain.

serta meneruskan hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Prilaku yang ditampilkan dapat merupakan tindakan konstruktif maupun destruktif. artinya dalam menghadapi stressor. mempertahankan keseimbangan emosi dan self image positif. 2. b. 2. Macam-macam koping a. Koping psiko-sosial Yang biasa dilakukan individu dalam koping psiko-sosial adalah. Sedangkan sikap bermusuhan yang ditampilkan adalah berupa rasa benci. jadi secara fisik dan psikologis individu secara sadar meninggalkan . Prilaku menarik diri Menarik diri adalah prilaku yang menunjukkan pengasingan diri dari lingkungan dan orang lain. Prilaku menyerang Individu menggunakan energinya untuk melakukan perlawanan dalam rangka mempertahan integritas pribadinya. 1. menarik diri dan kompromi. Sedangkan tindakan konstruktif adalah upaya individu dalam menyelesaikan masalah secara asertif. Yaitu mengungkapkan dengan kata-kata terhadap rasa ketidak senangannya. tetapi jika sebaliknya dapat mengakibatkan gangguan kesehatan fisik maupun psikologis. barang atau orang atau bahkan terhadap dirinya sendiri. jika strategi yang digunakan efektif maka menghasilkan adaptasi yang baik dan menjadi suatu pola baru dalam kehidupan. Keefektifan strategi koping yang digunakan oleh individu. menyerang.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan masalah internal maupun eksternal dan menyesuaikan dengan kenyataan kenyataan negatif. dendam dan marah yang memanjang. Destruktif yaitu tindakan agresif (menyerang) terhadap sasaran atau objek dapat berupa benda. artinya seberapa berat ancaman yang dirasakan oleh individu tersebut terhadap stressor yang diterimanya. Koping psikologis Pada umumnya gejala yang ditimbulkan akibat stress psikologis tergantung pada dua faktor yaitu: 1. Bagaimana persepsi atau penerimaan individu terhadap stressor.

Problem focused coping (PFC) Problem focused coping (PFC) merupakan strategi coping untuk menghadapi masalah secara langsung melalui tindakan yang ditujukan untuk menghilangkan atau mengubah sumber-sumber stres. dan sumber infeksi. Emotion focused coping memungkinkan . tanpa berusaha untuk mengubah suatu situasi yang menjadi sumber stres secara langsung. Kompromi Kompromi adalah merupakan tindakan konstruktif yang dilakukan oleh individu untuk menyelesaikan masalah.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan lingkungan yang menjadi sumber stressor misalnya . secara umum kompromi dapat mengurangi ketegangan dan masalah dapat diselesaikan. pendam dan munculnya perasaan tidak berminat yang menetap pada individu. Sedangkan reaksi psikologis individu menampilkan diri seperti apatis. 1984). Emotion focused coping (EFC) Emotion focused coping merupakan strategi untuk meredakan emosi individu yang ditimbulkan oleh stressor (sumber stres). individu melarikan diri dari sumber stress. individu akan berpikir logis dan berusaha memecahkan permasalahan dengan positif. ada ahli yang melihat defense mechanism sebagai salah satu jenis koping (Lazarus. Pada strategi coping berbentuk PFC dalam mengatasi masalahnya. Bentuk-bentuk strategi coping Lazarus & Folkman (Aldwin & Revenson. 1987) mengklasifikasikan strategi coping yang digunakan menjadi dua yaitu: a. 3. menjauhi sumber beracun. berusaha menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi untuk memperoleh apa yang telah direncanakan dan diinginkan sebelumnya. lazimnya kompromi dilakukan dengan cara bermusyawarah atau negosiasi untuk menyelesaikan masalah yang sedang sihadapi. Ahli lain melihat antara koping dan mekanisme pertahanan diri sebagai dua hal yang berbeda. (Harber dan Runyon. b. 1976). Problem focused coping memungkinkan individu membuat rencana dan tindakan lebih lanjut. Kaitan antara koping dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). polusi.

memikirkan tentang langkah upaya yang perlu diambil dalam menangani suatu masalah. suatu tindakan untuk mencoba menghilangkan atau mengelabuhi penyebab stres atau memperbaiki akibatnya dengan cara langsung. Koping juga sering dimaknai sebagai cara untuk memecahkan masalah (problem solving). sikap individu menenangkan dan menyelesaikan masalah secara keagamaan. sesuatu yang penuh dengan stres dan keadaan yang memaksanya untuk mengatasi masalah tersebut. menanggulangi). individu membatasi keterlibatannya dalam aktifitas kompetisi atau persaingan dan tidak bertindak terburu-buru.  Penerimaan. Koping termasuk konsep sentral dalam memahami kesehatan mental. atau mencoba melupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal yang telah menekan emosinya. .  Perencanaan. Koping sering disamakan dengan adjustment (penyesuaian diri). maka penggunaan istilah tersebut di pertahankan dan langsung di serap ke dalam bahasa Indonesia untuk membantu memahami bahwa coping (koping) tidak sederhana makna harafiahnya saja.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan individu melihat sisi kebaikan (hikmah) dari suatu kejadian.  Mencari dukungan sosial yang bersifat emosional.  Religiusitas.  Kontrol diri. simpati atau pengertian. yaitu sebagai nasihat. memikirkan tentang bagaimana mengatasi penyebab stres antara lain dengan membuat strategi untuk bertindak. namun hanya bersifat sementara (Folkman & Lazarus. 1985). Koping berasal dari kata coping yang bermakna harfiah pengatasan/penanggulangan (to cope with = mengatasi. namun sebenarnya agak berbeda. yaitu melalui dukungan moral. Namun karena istilah coping merupakan istilah yang sudah jamak dalam psikologi serta memiliki makna yang kaya. mengharap simpati dan pengertian orang lain. bantuan atau informasi. Pengertian koping memang dekat dengan kedua istilah di atas.  Mencari dukungan sosial yang bersifat instrumental. Aspek-aspek strategi coping Carver (1989) menyebutkan aspek-aspek strategi coping antara lain:  Keaktifan diri.

Lazarus membagi koping menjadi dua jenis. dalam rangka menghadapi ujian. Imunisasi merupakan tindakan yang dilakukan oleh orang tua supaya anak mereka menjadi lebih kebal terhadap kemungkinan mengalami penyakit tertentu. Jadi koping lebih mengarah pada yang orang lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan yang penuh tekanan atau yang membangkitkan emosi. koping adalah bagaimana reaksi orang ketika menghadapi stress/tekanan. Ada 4 macam koping jenis tindakan langsung: a.Ahli lain melihat antara koping dan mekanisme pertahanan diri sebagai dua hal yang berbeda. Contoh dari koping jenis ini lainnya adalah imunisasi. Misalnya. Agresi dilakukan bila individu merasa/menilai .Kaitan antara koping dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Individu menjalankan koping jenis direct action atau tindakan langsung bila dia melakukan perubahan posisi terhadap masalah yang dialami. yaitu: 1. Mempersiapkan diri untuk menghadapi luka Individu melakukan langkah aktif dan antisipatif (beraksi) untuk menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan cara menempatkan diri secara langsung pada keadaan yang mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut. karena dia hanya mempersiapkan diri menjelang ujian saja.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan Pemahaman adjustment biasanya merujuk pada penyesuaian diri dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. b. Tindakan langsung (Direct Action) Koping jenis ini adalah setiap setiap usaha tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk mengatasi kesakitan atau luka. Pemecahan masalah lebih mengarah pada proses kognitif dan persoalan yang juga bersifat kognitif. Tono lalu mempersiapkan diri dengan mulai belajar sedikit demi sedikit tiap-tiap mata kuliah yang diambilnya. Ini dia lakukan supaya prestasinya lebih baik dibanding dengan semester sebelumnya. sebulan sebelum ujian dimulai. Koping itu sendiri dimaknai sebagai apa yang di lakukan oleh individu untuk menguasai situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan/luka/kehilangan/ ancaman. ada ahli yang melihat defense mechanism sebagai salah satu jenis koping. ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan yang bermasalah dengan lingkungan. Agresi Agresi adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan menyerang agen yang dinilai mengancam atau akan melukai. Atau dengan kata lain.

Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan dirinya lebih kuat/berkuasa terhadap agen yang mengancam tersebut. pada kerusuhan Mei. Tindakan tersebut tergolong ke dalam agresi. tidak melawan dan berlaku pasrah terhadap kejadian biadab yang menimpa mereka. Apati Jenis koping ini merupakan pola orang yang putus asa. kemudian individu melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang berhubungan dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman tersebut. Misalnya. Misalnya. c. Peredaan atau peringanan (Palliation) Jenis koping ini mengacu pada mengurangi/menghilangkan/ menoleransi tekanantekanan kebutuhan/fisik. penduduk yang melarikan diri dari rumahrumah mereka karena takut akan menjadi korban pada daerah-daerah konflik seperti Aceh. 2. Orang-orang China yang menjadi korban umumnya tutup mulut.Ada 2 macam koping jenis peredaran/palliation : a. tindakan penggusuran yang dilakukan oleh pemerintah Jakarta terhadap penduduk yang berada dipemukiman kumuh. motorik atau gambaran afeksi dari tekanan emosi yang dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Diarahkan Pada Gejala (Sympton Directed Modes) Macam koping ini digunakan bila gangguan gejala-gejala gangguan muncul dari diri individu. d. Cara Intrapsikis (Intrapsychic Modes) Koping jenis peredaran dengan cara intrapsikis adalah dengan cara-cara yang . Penghindaran (avoidance) Tindakan ini terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih berkuasa dan berbahaya sehingga individu memilih cara menghindari atau menghindari atau melarikan diri dari situasi yang mengancam tersebut. Apati dilakukan dengan cara individu yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu saja agen yang melukai dan tidak ada usaha apa-apa untuk melawan ataupun melarikan diri dari situasi yang mengancam tersebut. dan tindakan tersebut bisa dilakukan karena pemerintah memiliki kekuasaan yang lebih besar dibanding dengan penduduk setempat yang digusur. Misalnya. b.

yang biasa dikenal dengan istilah Defense mechanism (mekanisme pertahanan diri). Toleransi terhadap Kedwiartian atau Ambiguitas Yaitu kemampuan untuk memahami bahwa banyak hal dalam kehidupan yang bersifat tidak jelas dan oleh karenanya perlu memberikan ruang bagi ketidak jelasan tersebut. 6. 5. terang dan tidak dirasa sebagai menekan lagi ketika dihadapi dengan humor. Empati juga . Konsentrasi memungkinkan individu untuk terhindar dari pikiran-pikiran yang mengganggu ketika berusaha untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. 2. Objektifitas Yaitu kemampuan untuk membedakan antara komponen-komponen emosional dan logis dalam pemikiran. 3. Supresi Yaitu kemampuan untuk menekan reaksi yang mendadak terhadap situasi yang ada sehingga memberikan cukup waktu untuk lebih menyadari dan memberikan reaksi yang lebih konstruktif. Humor Yaitu kemampuan untuk melihat segi yang lucu dari persoalan yang sedang dihadapi. sehingga perspektif persoalan tersebut menjadi lebih luas. Konsentrasi Yaitu kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang dihadapi. penalaran maupun tingkah laku. 4. Empati Yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu dari pandangan orang lain.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan menggunakan perlengkapan psikologis kita. JENIS-JENIS KOPING YANG KONSTRUKTIF/SEHAT  KOPING KONSTRUKTIF/MERUSAK : 1.Penalaran (Reasoning) Yaitu penggunaan kemampuan kognitif untuk mengeksplorasi berbagai macam alternatif pemecahan masalah dan kemudian memilih salah satu alternatif yang dianggap paling menguntungkan. 7. Kemampuan ini juga meliputi kemampuan untuk membedakan antara pikiran-pikiran yang berhubungan dengan persoalan yang tidak berkaitan.

dia mampu mengantisipasi akibat-akibat dari konflik atau stres tersebut dengan cara menyediakan alternatif respon atau solusi yang paling sesuai. 2. yaitu individu melakukan pengujian secara objektif proses-proses kesadaran diri atau mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku.  KOPING POSITIF ( SEHAT) 1. PERKEMBANGAN PSIKOLOGI MANUSIA Setiap mahluk hidup akan selalu mengalami perubahan. Ketika individu berhadap dengan konflik-konflik emosional atau pemicu stres baik dari dalam maupun dari luar. Altruisme Altruisme merupakan salah satu bentuk koping dengan cara mementingkan kepentingan orang lain. ciri. Antisipasi Antisipasi berkaitan dengan kesiapan mental individu untuk menerima suatu perangsang. motif. Afiliasi Afiliasi berhubungan dengan kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang lain dan bersahabat dengan mereka.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan mencakup kemampuan untuk menghayati dan merasakan apa yang dihayati dan dirasakan oleh orang lain. sifat sendiri. 4. 5. Penegasan diri (self assertion) Individu berhadapan dengan konflik emosional yang menjadi pemicu stres dengan cara mengekspresikan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya secara lengsung tetapi dengan cara yang tidak memaksa atau memanipulasi orang lain. Afiliasi membantu individu pada saat menghadapi konflik baik dari dalam dan luar. Konflik-konflik yang memicu timbulnya stres baik dari dalam maupun dari luar diri dialihkan dengan melakukan pengabdian pada kebutuhan orang lain.sumber dari orang lain untuk mendapatkan dukungan dan pertolongan. Pengamatan diri (Self observation) Pengamatan diri sejajar dengan introspeksi. Perubahan pada manusia meliputi perubahan fisik maupun perubahan psikologis. dia mampu mencari sumber. Maka Perkembangan adalah . 3. dan seterusnya untuk mendapatkan pemahaman mengenai diri sendiri yang semakin mendalam.

 penciuman dan pengecapan. Sedangkan perkembangan psikologis antara lain :  Perkembangan perceptual. berat badan dan kemempuan motorik tertentu. Perkembangan emosi seperti. Dengan demikian perubahan yang terjadi secara berurutan. perkembangan konsep diri dan identitas diri. pendengaran. 5 Dalam perkembangannya manusia melalui tahapan-tahapan perkembangan. Perkembangan kognitif antaralain : perubahan proses berfikir. contohnya : pada awalnya bayi menggaruk dengan menggunakan seluruh jari tangannya. dengan berkembangnya usiamaka ia cukup menggerakan jari-jari tertentu saja. kemampuan angka Perkembangan social seperti. perkembangan mengenali orang lain. berhubungan denga orang lain. Perkembangan kepribadian seperti.  kemempuan bahasa. 2 Bersifat progress artinya perubahan itu berjalan maju kearah kesempurnaan. tidak hanya bagian-bagian 4 Bersifat umum ke khusus. 6 Pola perkembangan dapat diramalkan. daya ingat. 3 Bersifat totalitas. cotiniu dan dinamis. misalnya perubahan dalam pengliahatan.m perlu belajar dalam waktu yang panjang serta memerlukan bimbingan dan perlindungan. akan terus berlangsung sampai usia tertentu dan kemudian berhenti. benci.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan serangkaian perubahan progresif baik fisik maupun psikologis untuk mencapai kedewasaan sebagai akibat dari kematangan dan pengalaman. Seperti : tinggi badan. meliputi keseluruhan dalam diri individu. takut. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan . Perkembangan fisik sering disebut pertumbuhan. Artinya pada usia tertentu maka tahapan tertentu terjadi perkembangan yang khas dalam aspek tertentu. berkelanjutan (terus-menerus) serta berkesinambungan. 7 Setiap individu memiliki keunikannya masing-masing ( tiap individu bersifat unik). Oleh Karena itu untuk mencapai tujuan perkembangan ada cirri-ciri umum didalam perkembangan antara lain: 1 Perkembangan bersifat teratur. artinya kita dapat memperkirakan perkembangan apa yang akan terjadi pada usia tertentu atau stadium tertentu. perkembangan rasa senang. Begitu lahir manusia memerlukan penyesuaian diri dalam waktu yang lama. perkembangan dalam mengenali lingkungan dan penyesuaian   diri dengan lingkungan. marah dll. Tahapan dalam perkembangan psikologi sering juga disebut stadium.

Sehingga dapat disimpulkan factor-faktor tersebut antara lain: • Perkembangan manusia dipengaruhi kuat oleh factor lingkungan (teori Behavioristik). Perkembangan Kognitif 3. Tokohnya John Locke dengan teorinya “tabularasa” yang mempunyai pengertian bahwa bayi lahir seperti kertas kosong yang siap ditulisi dengan apapun. Perkembangan biologis 2. Oleh karena itu menurut pandangan ini manipulasi apapun yang dilakukan untuk mengubah seseorang sangat dibatasi oleh factor bawaan dari orang yang bersangkutan. Perkembangan psikososial 4. (teori nativistik) tokohnya Charles Darwin (1985) menegaskan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh bawaan individu tersebut yang diwariskan dari kedua orang tuanya. Menitikberatkan pada aktivitas motorik dengan persepsinya. Dengan demikian perkembangan manusia ditentukan oleh factor “nurture” factor pengasuhan / lingkungan. Ia meyakini bahwa perkembangan kognitif dipengaruhi oleh factor bawaan dan factor lingkungan dan anak aktif merespon kedua pengaruh tersebut sehingga ia mempunyai pengalamanbagi dirinya sendiri yang sering disebut “skema” (schemata) dan memunculkan istilah asimilasi dan akomodasi. Aspek-aspek Perkembangan Manusia Para ahli psikologi perkembangan meninjau perkembangan manusia dari berbagai aspek. Aspek-aspek yang berkembang tersebut meliputi : 1. Perkembangan pertimbangan moral 5. • Factor bawaan dari individu yang bersangkutan. Yang memberikan tulisan adalah lingkungan dimana anak dibesarkan. • Tahap sensori motorik (2 tahun pertama kehidupan). melakukan representasi mental seperti kepermanenan . baik fisik maupun Psikologisnya. Perbedaan tersebut dilatarbelakangi adanya perbedaan sudut pandang beberapa para ahli. Perkembangan psikoseksual Perkembangan kognitif Tokohnya yang terkenal adalah Piaget.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan Ada berbagai perbedaan pendapat mengenai factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia. menemukan hubungan antara tindakan mereka dengan konsekuensi tindakan tersebut.

Orientasi pada hadiah (menyesuaikan diri untuk mendapatkan hadiah. Stadium 2. piaget juga mengembangkan perkembangan berdasarkan atas pertimbangan moral. Lawrance Kohlberg melanjutkan penelitian Piaget tentang penalaran moral. Orientasi anak baik ( menyesuaikan diri untuk menghindari celaan dari orang lain) . Ø Tingkat II Stadium 3. dengan memasukan masa remaja dan masa dewasa (Kohlberg.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan objek. Orientasi pada hukuman (mematuhi peraturan untuk menghindari hukuman). Kohlberg yakin bahwa penalaran moral berkembang menurut usia sesuai dengan tingkatan dan stadium-stadium tersebut : Ø Tingkat I : Stadium 1. mentransformasikan informasi secara mental dan logis). • Pra operasional (2-7 tahun): belum memahami aturan dan operasi tertentu (memisahkan. Dalam mengembangkan teori kognitifnya. Ia menentukan apakah terdapat stadium universal dalam perkembangan penilaian moral dengan merepresentasikan dilemma moral dalam bentuk kisah. untuk mendapatkan penghaergaan/ pujian dari orang lain. 1969. dunia social selalu mengandung aturan-aturan moral. • Operasional kongkrit (7-11 tahun) : menggunakan istilah abstrak tetapi melakukannya berkaitan dengan objek kongkrit (melibatkan aspek sensorik) • Operasional formal. mampu melihat berbagai kemungkinanmampu membuat antisipasi dan perencanaan secara sistematis. mengkombinasikan. Teori penalaran moral Kohlberg Seorang alhi psikologi amerika. Hal tersebut dikarenakan perkembangan kognitif mempengaruhi dunia fisik dan social anak. 1976). Semakin bertambah usia individu maka semakin mampu ia menggunakan pertimbangan moralnya. (11-12 thun) : mampu membuat penalaran yang bersifat simbolis.

Orientasi kontrak social ( tiindakan ditentukan oleh prinsip yang secara umum seperti hal penting bagi kesejahteraan masyarakat :prinsip dipertahankan untuk mendapatkan penghargaan dari sebayanya dan. Bayi akan tersenyum pada orang tuanya (orang-orang yang dekat dengan dirinya). . Selain itu ia menyatakan bahwa pada setiap stadium individu akan mengahadapi masalah atau krisis.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan Stadium 4. Perilaku social ini telah mulai pada awal usian 2 bulan. Dan sebaliknya jika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak diperoleh maka timbulah rasa ketidakpercayaan. dan kesederajatan . 1976. yang biasanya menghargai keadilan. Bowlby. Orientasi otoritas ( mematuhi hokum dan peraturan social untuk menghindari kecaman dari otoritas dan perasaan bersalah karena tidak memenuhi kewajiban) Ø Tingkat III Stadium 5. memberikan kenyamanan. Para ahli psikologi yakin bahwa pada tahun pertama bayi akan belajar bahwa orang tua mereka mengasuh. Ø Attachment (pada tahun pertama usia anak). Kemampuan untuk menyelesaikan krisis hubungan social tersebut akan mempengaruhi perkembangan social pada stadium selanjutnya. Dasar rasa aman dan kepercayaan pada tahun pertama kepada orang tua tersebut merupakan dasar kepercayaan kepada orang lain (Eriksson. martabat. prinsip dipertahankan untuk menhindari penghukuman diri) Teori psikososial (Erik H Erikson) Erikson yakin bahwa perkembangan individu tergantung pada hubungan social yang terjadi pada sejak awal kehidupan mereka. memenuhi kebutuhan mereka. dengan demikian menghormati diri sendiri) Stadium 6. Perkembangan psikososial dimulai dengan adanya Attachment (perlekatan) yaitu kecenderungan bayi untuk mencari kedekatan tertentu dan merasa aman dengan kehadiran orang-orang yang dekat dengan dirinya. keamanan. Prinsip Etika ( tindakan ditentukan oleh prinsip etika yang dipilih oleh diri sendiri. 1973).

dengan demikian juga pengendalian diri lebih dibentuk. benar-salah. berbagi tanggungjawab dan mampu mengerjakan tugas-tugas secara baik. Ø Masa anak sekolah sampai menjelang remaja.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan Ø Pada tahun kedua. Pada tahap ini anak sudah mulai mempunyai keterampilan-keterampilan tertentu yang diakui lingkungan yang lebih luas. Sebaliknya bila tidak memperoleh secara benar bimbingan dari orang tua timbul rasa bersalah pada diri anak. Identitas diri berkaitan dengan kemampuan menemukan “siapa dirinya dan apa tujuan hidup serta cara mencapai tujuan tersebut”. Ia mulai bekerja dan berkeluarga serta berisolasi secara lebih spesifik. Bila hal ini tidak diperoleh munculah sifat keragu-raguan dalam diri anak. bekerjasama dengan teman sebaya. Ø Pada usia 3-5 yahun (pra sekolah) Pada usia ini aktivitas yang sifatnya lebih mandiri mulai diperluas. Mereka diajar mengendalikan dorongan-dorongan mereka secara bijaksana. Dimulai dari mampu membaca. merasa tidak mampu dan tidak berharga. Bila ini diperoleh maka berkembanglah perasaan kompeten pada dirinya. Ø Pada masa dewasa awal komitmen terhadap diri sendiri telah berkembang lebih mantap. Ø Pada masa dewasa. sehingga anak tidak ketakutan untuk melakukan berbagai aktivitas karena orang tua akan membimbing dan tidak selalu menyalahkan dirinya. didorong untuk melakukan kegiatan-kegiatannya sendiri dengan bimbingan dari orang tua. Penemuan identitas diri ini dipengaruhi oleh kemampuan memperoleh keberhasilan pada masa-masa sebelumnya. karena hati dikembangkan mulai dari hal-hal yang boleh-tidak boleh. menulis. tugas penting yang berat dalam kaitannya dengan hubungan social adalah terbentuknya identitas diri. Sebaliknya bila ia tidak mendapatkan perasaan tersebut muncul rasa inferior pada dirinya. disampaikan orang tua dengan cara yang bijaksana. otonomi akan diperoleh jika anak selain merasa aman mereka juga dicintai. baik dalam . tidak over protected. Dengan demikian terbentuklah keintiman dalam berhubungan dengan orang lain. Munculah inisiatif pada diri anak.

Yang terbagi menjadi tiga tahap / fase . Ø Masa dewasa pertengahan. Saat itulah muncul integritas diri. Perkembangan psikoseksual Perkembangan psikoseksual ini erat kaitannya dengan perkembangan kepriabadian. Jika pada masa dewasa ini individu lebih asyik dengan dirinya sendiri maka disebut sebagai absorbs diri. Yang akan dibahas dalam buku ini adalah perkembangan psikolseksual pada tahap infantile yaitu lima tahun pertama dari kebidupan. mampu mangantar anak-anaknya menjadi individu dewasa dan merasa bahagia dengan apa yang diperuolehnya. minim. Itulah sebabnya bayi yang mendapatkan benda apapun akan dimasukan kedalam mulut. • Fase anal : daerah yang menjadi pemuasan secara seksual adalah daerah dubur yaitu saat . Eriksson menyebutnya sebagai masa generativitas. • Fase oral : terjadi pada tahun pertama. Ia juga melihat kehidupan mas lalu yang telah terjadi.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan wilayah keluarga maupun masyarakat yang lebih luas. Eriksson menyebutnya sebagai masa integritas yang berlawanan dengan masa keputusasaan (kekecewaan). Pada masa middle age ini paraahli juga menyebutkanadanya kemungkinan beberap individu mengalami “Midle life Crisis” krisis tengah baya (dalam istilah awam disebut sebagai masa puber kedua). Kesadaran individu terhadap kemundurankemunduran dalam dirinya memungkinkan untuk melakukan perenungan dan kontemplasi diri. Freud membagi perkembangan psikoseksual ini menjadi tiga tahapan yaitu tahap infantile (0-5 tahun). Pada saat inilah para ahli juga menyebutnya sebagai masa produktivitas (40-65 tahun). Ø Masa lanjut usia. Menghisap. Gnerativitas diartikan sebagai masa untuk membimbing anak dan mengantar generasi selanjutnya pada kehidupan yang lebih mantap. tahap laten (6-12 tahun) dan tahap genital (12 tahun keatas). daerah mulut yang menjadi tempat pemuasan seksual yang dipilih. tiap-tiap fase menjelaskan pada bagian tubuh yang dipilih menjadi pusat kepuasan seksual (Erogenus Zone). Kebalikan dari keintiman adalah isolasi diri. mampu mengatasi masalah-masalahnya. merupakan sumber kenikmatan. makam.

. Dengan cara memainkan alat kelaminnya sendiri. • Fase falik : pada fase ini alat kelamin merupakan daerah erogen dan menimbulkan kenikmatan yang besar bagi anak.Handelia Phinari (20110710042) Universitas Pelita Harapan anak membuang kotoran (fases). Toilet training yang dilatihkan orang tua memaksa anak untuk menunda kepuasan mengeluarkan fasesnya di sembarang tempat dan waktu. Bila masa toilet traning ini orang tua mampu membimbing anak secara benar maka anak akan merasa bahwa mengeluarkan fases adalah penting yang nantinya akan mengembangkan sifat kreatif dan produktif.