You are on page 1of 2

Contoh Kasus Dugaan Pelanggaran Profesi

Pada tanggal 11 November 2015, Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan
pejabat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jakarta ke Majelis Kode Etik BPK atas dugaan
pelanggaran kode etik dan potensi konflik kepentingan. Hal tersebut berdasarkan laporan
masyarakan terkait dugaan pelanggaran kode etik oleh EDN yang saat ini menjabat sebagai
pejabat di lingkungan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan DKI Jakarta. EDN
diduga telah telah mencampuradukkan kepentingan pribadi dengan kewenangannya selaku
pejabat BPK Perwakilan Jakarta berkaitan dengan Pemeriksaan BPK Jakarta atas Belanja
Daerah pada Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta.
Kasus bermula pada tanggal 30 Desember 2014, ketika BPK Perwakilan DKI
Jakarta mengeluarkan LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan) atas Belanja Daerah pada Dinas
Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta. Dalam laporan tersebut diungkap temuan
terkait ganti rugi pembebasan lahan seluas 9.618 m2 ditengah areal TPU Pondok Kelapa
Jakarta Timur.
Berdasarkan Dokumen yang dimiliki oleh ICW, Tanah tersebut diklaim sebagai
milik -seseorang yang bernama – EDN yang dibeli pada tahun 2005. Sebelumnya EDN telah
mengirim enam kali surat kepada gubernur dan pejabat Pemprov DKI Jakarta agar membeli
tanah tersebut. Pada intinya dalam surat tersebut, EDN menyatakan bahwa tanah yang
dikuasainya telah clean and clear dan menjamin menanggung seluruh masalah hukum atas
pembebasan. Namun pihak Pemprov DKI Jakarta menolak karena menilai bahwa tanah
tersebut telah dibebaskan pada tahun 1979 sampai tahun 1985.
EDN merespon penolakan Pemprov DKI Jakarta dengan menyurati Kepala BPK
Perwakilan untuk melakukan pemeriksaan status tanah sengketa tersebut. Surat dikirim pada
tahun 2013, namun sampai Agustus 2014, BPK tidak kunjung mengeluarkan LHP (Laporan
Hasil Pemeriksaan). LHP baru keluar ketika EDN menjabat sebagai kepala BPK perwakilan
DKI Jakarta. EDN menjabat sebagai pejabat di BPK perwakilan DKI Jakarta pada bulan
Agustus 2014.
Berdasarkan analisis perbandingan substansi antara surat pribadi EDN dan temuan
LHP BPK atas tanah tersebut ditemukan kemiripan substansi. Temuan LHP BPK
membenarkan, menguatkan dan sejalan dengan surat EDN kepada Pemprov DKI Jakarta.
Dengan demikian, patut diduga EDN telah menggunakan kewenangannya selaku pejabat
strategis BPK Perwakilan Jakarta untuk melakukan pemeriksaan atas status tanah pribadinya.
Terkait dengan hal ini, ICW menduga telah terjadi konflik kepentingan EDN dalam
pemeriksaan tanah seluas 9.816 m2 di tengah areal Pondok Kelapa Jakarta Timur oleh BPK
DKI Jakarta. Selain itu, ICW menduga telah terjadi pelanggaran atas pasal 6 ayat (2) point d,
Pasal 9 ayat (2) point b dan point d Peraturan BPK RI No. 2 Tahun 2011 tentang Kode Etik
BPK RI.
Terkait dengan dugaan ini, berdasarkan pasal 13 ayat (1) dan pasal 20 ayat (1) point
a dan Peraturan BPK RI No. 1 Tahun 2011 tentang Majelis Kode Etik BPK RI, ICW
melaporkan EDN kepada Inspektur Utama sebagai Panitera Majelis Kode Etik BPK RI. ICW
mendesak agar BPK membentuk Majelis Kode Etik BPK RI dan melakukan pemeriksaan,
persidangan dan memutuskan atas dugaan pelanggaran etik dan konflik kepentingan dari
EDN.
Berdasarkan uraian kasus di atas, diduga bahwa EDN selaku pejabat BPK RI telah
melakukan pelanggaran Kode Etik BPK RI sesuai Pertaturan BPK RI No.2 Tahun 2011,
sebagai berikut:
1. Pasal 6 ayat (2) point d:” Anggota BPK, Pemeriksa, dan Pelaksana BPK Lainnya
dilarang melakukan kegiatan yang dapat menguntungkan kelompoknya dengan
memanfaatkan status dan kedudukannya baik langsung maupun tidak langsung.”

618 m2 ditengah areal TPU Pondok Kelapa Jakarta Timur yang merupakan miliknya. EDN yang menjabat sebagai Kepala BPK Perwakilan DKI Jakarta diduga menfaatkan kedudukannya untuk menerbitka Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) terkait dengan ganti rugi pembebasan lahan seluas 9. diberhentikan sebagai Pemeriksa. EDN diduga memanfaatkan kedudukan dan memanfaatkan rahasia negara terkait dengan lahan yang digunakan sebagai TPU untuk kepentingannya sendiri dengan menawarkan kepada Pemprov DKI. atau 3. penurunan peran Pemeriksa dan tidak melaksanakan pemeriksaan paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun. Ketika tawaran tersebut ditolak. seseorang. diberhentikan sementara sebagai Pemeriksa paling singkat 1 (satu) tahun. diberhentikan sementara sebagai peran Pemeriksa paling singkat 1(satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun. atau hukuman berat. EDN yang menjabat Kepala BPK Perwakilan DKI menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) yang berisi temuan terkait dengan ganti rugi pembebasan lahan seluas 9. 2. Pasal 9 ayat (2) point b dan point d:” Pemeriksa dan Pelaksana BPK Lainnya selaku Aparatur Negara dilarang: menyalahgunakan dan melampaui wewenangnya baik sengaja atau karena kelalaiannya (point b). . dan Pasal 9 yang berdampak negatif pada unit kerja. hukuman sedang yang terdiri dari: 1. Pasal 7. atau 2. 2. Dalam hal ini. maka bisa dijatuhi hukuman ringan berupa teguran tertulis. c. penangguhan kenaikan peran Pemeriksa dan tidak melaksanakan pemeriksaan paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun. kemungkinan hukuman yang akan dikenakan: Sesuai dengan pasal 12 ayat 1. 2.618 m2 ditengah areal TPU Pondok Kelapa Jakarta Timur. hukuman berat yang terdiri dari: 1. serta memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan atau jabatannya untuk kepentingan pribadi. dan 3. Terkait dengan pelanggaran kode etik oleh pejabat BPK RI tersebut. Tingkat dan jenis hukuman bagi Pemeriksa dan Pelaksana BPK Lainnya (berdasarkan pasal 10 ayat 3 Peraturan BPK RI No. hukuman sedang.Dalam hal ini. Jika Pemeriksa dan Pelaksana BPK Lainnya melakukan pelanggaran terhadap kewajiban dan larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. hukuman ringan berupa teguran tertulis dan dicatat dalam Daftar Induk Pegawai (DIP). paling lama 5 (lima) tahun. dan/atau golongan (point d). 2 Tahun 2011 tentang Kode Etik BPK RI) berupa: a. b.