You are on page 1of 8

Pergeseran Konsep

Pasal 1 UU No. 20 Tahun 1982. Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan. Pertahanan
Keamanan Negara adalah pertahanan keamanan negara RI sebagai salah satu fungsi
pemerintahan negara, yang mencakup upaya dalam bidang pertahanan yang ditujukan
terhadap segala ancaman dari luar negeri dan upaya dalam bidang keamanan yang ditujukan
terhadap ancaman di dalam negeri.
Menjadi
Pasal 1 UU Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara.
Pertahanan Negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman
dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.
(Temukan pergeseran konsep yang dimaksud)

TUGAS MATA KULIAH
ASPEK HUKUM BIDANG PERTAHANAN & SISTEM
HUKUM MILITER
PERGESERAN KONSEP ANTARA UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 1982
DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2002

DISUSUN OLEH :
HILDA ADINTA W

PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI MAGISTER HUKUM
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2016

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

LATAR BELAKANG
Dalam menyelenggarakan Hankamnas, setiap warga negara mempunyai hak dan
kewajiban yang ditetapkan dan dijamin oleh UUD 1945 dilaksanakan dengan penuh
kesadaran, tanggung jawab, dan rela berkorban dalam pengabdiaannya kepada bangsa dan
negara.
Salah satu bentuk keikutsertaan rakyat dalam upaya Hankamneg diselenggarakan
melalui Pendidikan Pendahuluan BelanegR (PPBN) sebagai bagian tidak terpisahkan dari
Sistem Pendidikan Nasional. Dengan Pendidikan Pendaluan Bela Negara yang dilaksanakan
melalui pendidikan disekolah maupun pendidikan diluar sekolah akan dihasilkan warga
negara yang cinta tanah air, rela berkorban bagi negara dan bangsa, yakin akan kesaktian
Pancasila dan UUD 1945 serta mempunyai kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga
negara yang bertanggung jawab. PPBN merupakan proses menuju kepada kualitas manusia
yang lebih baik, yakni manusia yang mampu menghadapi tantangan-tantangan dimasa depan
yang dapat menjamin tetap tegaknya identitas dan integritas bangsa dan negara Republik
Indonesia.

A. UNDANG-UNDANG
KETENTUAN

NOMOR

POKOK

20

TAHUN

PERTAHANAN

1982

TENTANG

KEAMANAN

KETENTUAN-

NEGARA REPUBLIK

INDONESIA
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 menyatakan bahwa “Pertahanan
Keamanan Negara ada pertahanan keamanan negara Republik Indonesia sebagai salah satu
fungsi pemerintahan negara, yang mencakup upaya dalam bidang pertahanan yang
ditujukan terhadap segala ancaman dari luar negeri dan upaya dalam bidang keamanan
yang ditujukan terhadap ancaman dari dalam negeri”.
Pengertian mengenai pasal yang diatas bahwa dalam kehidupan suatu negara, aspek
pertahanan keamanan merupakan faktor yang sangat hakiki dalam menjamin kelangsungan
hidup negara tersebut, tanpa mampu mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar negeri
serta tanpa mampu menjamin keamanan terhadap ancaman dari dalam negeri, sesuatu negara
tidak akan dapat mempertahankan hidupnya. Bangsa Indonesia yang memproklamasikan
kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 bertekad bulat untuk membela serta
mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan serta kedaulatan negara dan bangsanya
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pandangan hidup bangsa Indonesia
tentang pertahanan keamanan negara sebagaimana ditentukan dalam Pembukaan dan batang
tubuh Undang-Undang Dasar 1945, yaitu :
a. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia
harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
b. Pemerintah negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial.
c. Menjadi hak dan kewajiban setiap warga negara untuk ikut serta dalam usaha
pembelaan negara.
d. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

B.UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2002 TENTANG PERTAHANAN
NEGARA
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara menyatakan
bahwa :
1.

“Pertahanan Negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan
negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan keselamatan
segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan

negara”.
2. Sistem pertahanan negara adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta yang
melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta
dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu,
terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan
keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.
3. Penyelenggaraan pertahanan negara adalah segala kegiatan untuk melaksanakan
kebijakan pertahanan negara.
4. Pengelolaan pertahanan negara adalah segala kegiatan pada tingkat strategis dan
kebijakan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pengendalian
pertahanan negara.
5. Komponen utama adalah Tentara Nasional Indonesia yang siap digunakan untuk
melaksanakan tugas-tugas pertahanan.
6. Komponen cadangan adalah sumber daya nasional yang telah disiapkan untuk
dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan
kemampuan komponen utama.
7. Komponen pendukung adalah sumber daya nasional yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kekuatan dan kemampuan komponen utama dan komponen cadangan.
8. Sumber daya nasional adalah sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber
daya buatan.
9. Sumber daya alam adalah potensi yang terkandung dalam bumi, air, dan dirgantara
yang dalam wujud asalnya dapat didayagunakan untuk kepentingan pertahanan
negara.
10. Sumber daya buatan adalah sumber daya alam yang telah ditingkatkan daya
gunanya
untuk kepentingan pertahanan negara.
11. Sarana dan prasarana nasional adalah hasil budi daya manusia yang dapat
digunakan sebagai alat penunjang untuk kepentingan pertahanan negara dalam
rangka mendukung kepentingan nasional.
12. Warga negara adalah warga negara Republik Indonesia.
13. Dewan Perwakilan Rakyat adalah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia

14. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang pertahanan.
15. Panglima adalah Panglima Tentara Nasional Indonesia.
16. Kepala Staf Angkatan adalah Kepala Staf Angkatan Darat, Kepala Staf Angkatan
Laut, dan Kepala Staf Angkatan Udara.
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara menetapkan
bahwa pertahanan negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara,
keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa
dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.
Sistem pertahanan negara yang mengaturnya ada di Pasal 1 angka 2.yakni sistem
pertahanan yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan
sumberdaya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan
diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan
negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.
Selanjutnya subsistem pertahanan negara yang dibangun dituangkan dalam Pasal 7 ayat
(2) dan ayat (3). Ayat (2) mengatur bahwa sistem pertahanan negara dalam menghadapi
ancaman militer menempatkan Tentara Nasional Indonesia sebagai komponen utama dengan
didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung, sedangkan ayat (3)nya
mengatur bahwa sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman nonmiliter
menempatkan lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai
dengan bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh unsur-unsur lain dari
kekuatan bangsa.
Mencermati sistem pertahanan dimaksud nampak terlihat dua subsistem pertahanan
negara bersifat semesta, yakni subsistem pertahanan negara menghadapi ancaman militer dan
subsistem pertahanan negara menghadapi ancaman nonmiliter. Dengan dua subsistem
itu dimanakah

letak pertahanan

sipil (civil

defence) dalam

sistem

pertahanan

semesta? Tulisan ini hendak memberikan telaah kritis konteks pertahanan sipil dalam sistem
pertahanan semesta.