You are on page 1of 32

Laboratorium Ilmu Kesehatan Jiwa

Refleksi Kasus

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

SKIZOFRENIA PARANOID

Oleh

Wilanda Ayu Evanadaya Putri
1510029039
Pembimbing

dr. Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes

LAB / SMF KESEHATAN JIWA
Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
RSJD Atma Husada Mahakam
2016

I.

RIWAYAT PSIKIATRI
A. Identitas
Nama

: Tn. E

Jenis Kelamin

: Laki - laki

Usia

: 35 Tahun

Agama

: Islam

Suku

: Berau

Pekerjaan

: Tidak Bekerja

Alamat

: Jln. Yos Sudarso RT.04 Kel. Bugis, Tj.

Redeb
Idenitas Keluarga
Nama

: Tn. DP

Jenis Kelamin

: Laki – laki

Usia

: 23 tahun

Hubungan

: Adik kandung

Pasien datang diantar Dinsos beserta adik pasien ke IGD Husada
Samarinda pada 1 April 2016 pukul 12.30 WITA.
B. Keluhan Utama
Mengamuk
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Heteroanamnesis
Pasien mengamuk di rumah sudah 2 minggu terakhir.
Pasien mengamuk jika disuruh minum obat, dan pasien menolak
untuk meminum obatnya. Sudah 2 minggu pasien putus obat.
Selain itu pasien setiap malam keluyuran, jika dilarang keluar akan
marah – marah. Pasien tidak tidur. Pasien juga sering berbicara
sendiri, tertawa sendiri, dan berteriak. Tidak jelas apa isi
pembicaraanya. Kadang mengobrol sendiri sambil marah. Pasien
sering keluyuran dan mengganggu tetangga sekitar. Keluarga
pasien kerap mendengar keluhan tetangga karena pasien sering
membuka celana di depan umum, sehingga orang sekitar yang
lewat terutama perempuan akan ketakutan. Pasien dengan sengaja
2

membuka celana di depan orang banyak, namun tidak sampai
telanjang. Pasien juga sering tidur – tiduran di jalanan, apabila adik
pasien bertemu dan menegur maka pasien akan marah dan
memukul. Pasien pernah memukul adik pasien saat adik pasien
meminta pasien untuk meminum obatnya, terkadang pasien
menurut jika disuruh minum obat, namun jika sedang tidak ingin
minum obat akan marah kepada adiknya. Orangtua pasien juga
pernah dipukul oleh pasien. Bahkan pasien pernah mencoba untuk
menusuk adik pasien menggunakan pisau, namun hanya tergores di
bagian pinggang kiri. Setelah itu adik pasien melaporkan ke kantor
polisi karena percobaan pembunuhan tersebut, dan akhirnya pasien
ditangkap, selanjutnya dibawa Dinsos ke RSJD Atma Husada
Mahakam.
D. Riwayat Medis dan Psikiatrik yang lain
1. Gangguan Mental dan Emosi
Penderita pernah dirawat di RSJD Atma Husada Mahakam
sebanyak 3 kali. Pertama kali pasien dirawat dengan
keluhan yang sama yaitu mengamuk. Terakhir dirawat
pada tahun 2014, dengan keluhan yang sama pula yaitu
mengamuk. Pasien rajin kontrol ke rumah sakit di Berau,
sebelum kejadian mengamuk 2 minggu terakhir, pasien
sudah mulai jarang meminum obatnya, bahkan terkadang
dalam seminggu hanya sekali pasien mau meminum obat.
2. Gangguan psikosomatik
Pasien hanya mengeluh sakit pada bagian puting
3. Kondisi medis
Pasien merokok dari remaja sampai sekarang. Pasien
pernah

mengkonsumsi

alkohol

dahulu,

dan

juga

menggunakan obat – obatan terlarang saat remaja, namun
sekarang

sudah

tidak

lagi.

Pasien

berehenti

mengkonsumsi obat – obatan dan alkohol semenjak sakit.
4. Gangguan neurologi

3

laki. pasien dan adik – adik pasien sangat dekat dengan ibunya. Peran ibu lebih dominan mengurus anak-anaknya. Penderita memiliki 3 orang kakak. kehilangan kesadaran. namun saudara pertama dan kedua sudah meninggal. Ayah bekerja sebagai pelaut dan jarang sekali pulang. Saat Sekarang Nama Hamidah Novita Ediansyah Deni Jekel P P L L Umur 50 26 35 23 Ibu Kandung Kakak Kandung Pasien Sifat Tegas Pendiam Penyayan Adik Kandung g Senang bergaul 4 . dan adik laki . Tidak ada hubungan darah antara ayah dan ibu. kejang. Ayah dan ibu penderita masih hidup hingga sekarang. adik pasien serta pasien biasanya tidur di ruang TV. dan ibu bekerja sebagai buruh cuci baju di sekitar wilayah tempat tinggal pasien. Ayah bersifat tegas dan jarang marah kecuali jika ada anaknya yang salah. Merupakan anak ke-4 dari delapan bersaudara. Saat ini penderita tinggal berempat bersama ibu. dan 3 adik perempuan serta 1 adik laki laki Tidak ada penyakit keturunan dan gangguan jiwa pada keluarga. E. Sosial ekonomi saat ini kurang. ibu bersifat tegas dan suka menasehati anak – anaknya. dalam rumah sewaan yang memiliki 1 kamar yang ditempati ibu dan saudara perempuan pasien. Saudara yang hidup saat ini adalah 1 kakak perempuan pasien. dan juga tumor. jika ada masalah selalu bercerita. adik perempuan pasien dan adik laki – laki (pengantar) pasien.Pasien tidak pernah mengalami trauma otak. adik perempuan pasien. dan beragama Islam sejak lahir. pasien tinggal serumah dengan ibu. tidak tentu kapan pulang. Riwayat Keluarga Penderita dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan Berau dan Banjar.

Genogram Perempuan Laki Meninggal Pasien 5 .

sejak saat itu pasien mulai jarang ada dirumah dan sering mabuk – mabukan. Hubungan dengan Teman Sebaya Pasien adalah figur yang penyayang terhadap adik – adiknya. kehamilan ibu dan kelahiran Penderita dikandung 9 bulan. Namun mulai kelas 3 SMP pasien mulai berteman dengan anak – anak yang tidak jelas. 3. 2. Persalinan ditolong oleh bidan. Masa anak-anak awal (0-3 tahun) 1. Riwayat pribadi 1. dan juga menggunakan obat – obatan seperti double L. Pasien juga mulai ngelem. Masa kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun) Pasien menjalani masa SD dengan baik. Pasien dinilai memiliki prestasi yang cukup bagus. 3. Kepribadian dan temperamen sebagai anak Pasien dikenal sebagai anak yang menyayangi adik . sering membuatkan mainan rumah – rumahan untuk adiknya. Masa kakak-kanak akhir (pubertas sampai remaja) 1. Mimpi-mimpi awal dan fantasi Tidak diketahui 2. 6 . Riwayat prenatal. Perkembangan awal Penderita memiliki pertumbuhan dan perkembangan normal. merokok. dan sangat perhatian. dan memiliki hubungan baik dengan teman sebaya. tidak ada masalah selama masa kehamilan penderita.adiknya 6.F. selalu naik kelas. Gejala-gejala dari masalah perilaku Tidak ada 5. Kebiasaan Makan dan Minum Tidak diketahui. 4.

Semenjak pasien mulai menggunakan obat – obatan. Dahulu rajin sholat. lupa diri. Dahulu nenek pasien ketika masih hidup berjualan di warung. Setelah 2 kali berpacaran. pasien tidak pernah lagi membina hubungan sampai sekarang. Riwayat sekolah Pasien hanya sekolah sampai tingkat SMP. 3. Masalah-masalah fisik dan emosi remaja yang utama Penderita sering berkelahi dengan orang di sekitar rumah saat remaja. 4. dan suka menceburkan diri ke air setelah menggunakan obat – obatan karena merasa kepanasan. sejak itu pasien mulai sering berkumpul dengan teman – teman yang tidak jelas. 2. Masa dewasa 7 . pasien sering meminta uang kepada neneknya dan apabila tidak diberi akan marah – marah dan melempar barang. 4.cukup lama. dan menjadi kasar. Pasien tidak melanjutkan ke SMA karena setelah lulus pasien tidak mau melanjutkan dan mulai memiliki gejala seperti marah – marah. tidak jelas bagaimana hubungan tersebut karena saat itu pasien mulai jarang dirumah. semenjak memiliki pergaulan yang tidak benar sudah tidak taat beribadah lagi hingga sekarang. Pasien pernah menjalin hubungan dengan teman sebaya saat usia 16 tahun sebanyak 2 kali. pasien mulai stress. 5. Riwayat psikoseksual Saat ini pasien belum menikah. Latar belakang agama Penderita beragama Islam sejak lahir.

1. Jika ada teman yang datang pun. 2. Seksualitas Dewasa Pasien belum menikah hingga saat ini. terkadang keluyuran dan mengganggu masyarakat sekitar. teman kerja pasien menilai pasien orang yang baik dan kerja dengan baik pula. Semenjak sakit teman – teman pasien yang dulunya seringnya berkumpul mulai menjauh. Penampilan 1. memakai baju lengkap berupa kaus dan celana jeans 3/4. Namun setelah itu pasien berhenti bekerja karena mulai sakit. Pasien hanya di rumah saja. STATUS MENTAL A. Riwayat Militer Pasien pernah ditangkap polisi karena ngelem pada saat SMP dan ditahan selama 1 hari 5. Gambaran umum Sakit ringan 8 . Sistem Penghargaan/Nilai Pasien menganggap keluarga itu penting. dandanan tidak mencolok. 3. Perilaku dan aktifitas psikomotor Penderita terlihat gelisah diatas tempat tidur 3. Saat lulus SMP sempat bekerja membantu membuat rumah selama 3 bulan. Aktifitas social Tidak ada kegiatan sosial saat ini. pasien akan mengamuk. Pasien dahulu membantu secara perekonomian. Riwayat pekerjaan Saat ini pasien tidak bekerja. 4. Sikap cukup kooperatif 2. Identifikasi pribadi Penderita terlihat rapi. II.

spontan. Mood (subyektif) Penderita merasa baik – baik saja. Fikiran dan Persepsi 1. 2. Afek (obyektif) Afek menyempit. Waktu : baik 9 . 3. Waham disangkal. Orientasi 1. 3. Bentuk fikiran 1. C. Sensori 1. 2. Mood eutimik 2. isi pembicaraan sedikit. Produktifitas Ide cukup. Kesadaran : Komposmentis 2. tema pembicaraan hanya seputar jawaban yang diutarakan pasien. setiap satu pertanyaan dijawab langsung pada intinya. Pasien menggunakan bahasa Indonesia. Bicara Bicara normal. tidak ada flight of idea 4. Gangguan bahasa Tidak ada gangguan bahasa. Tidak ada kesan logorea. Kelancaran berfikir/ide Jawaban penderita langsung pada tujuan. E. Mimpi dan Fantasi Tidak ada. D. Gangguan Persepsi halusinasi visual maupun halusinas auditorik disangkal dan ilusi tidak ada. Gangguan berpikir Tidak ada gangguan dalam berpikir.B. Mood dan Afek 1. Isi Pikiran Berisi tentang pikiran pasien yang tidak merasa sakit. 5.

Tempat: baik 3. Masa kini : baik 3. Masa dahulu : baik 2. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum : baik Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 110 x/menit RR : 20 x/menit Keadaan gizi : cukup Kulit : turgor cukup Kepala : tidak ada deformitas Mata : konjungtiva : tak anemis sklera : tak ikterik Hidung : rhinorea (-). Kemampuan berpikir abstrak : baik 7. Konsentrasi dan berhitung Kesan baik 4. deviasi septum (-) Telinga: tak ada kelainan Mulut & tenggorokan : tidak ada kelainan Leher : KGB tak membesar Toraks : bentuk dan gerak simetris Jantung : bunyi jantung normal. reguler Paru-paru : dalam batas normal Abdomen : distensi (-) Hepar / Lien : tak teraba 10 . Pengetahuan Sesuai dengan tingkat pendidikan 6. Segera : baik 5. Tilikan diri : buruk III.2. Ingatan 1. Orang : baik 3. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT A.

Saya dokter muda Wilanda. kenapa bapak mukul? Hmm? Kenapa pak? P : (pasien diam) DM : Bapak tau ga ini dimana ? P : Rumah sakikt jiwa DM : Tadi yang antar siapa? P : adek DM : ngantarnya kapan? P : barusan DM : bapak tinggalnya dimana? P : Di berau DM : Waktu kecil tinggal nya dimana? P : Di berau DM : kenapa pak? Gelisah kah? P : iya 11 . Pemeriksaan Neurologi Saraf otak. tetangga dan pekerja social Tidak ada E.Ruang Traube : kosong Bising usus : (+) normal Ekstremitas : edema -/- B. Kenapa pak dibawa kesini? P : mukul DM : Kenapa mukul. Wawancara diagnostik psikiatrik tambahan Tidak ada D. Wawancara dengan anggota keluarga. 1 April 2016) DM : siang. sensibilitas tidak ada kelainan C. Autoanamnesis (cuplikan autoanamnesis tgl. pak ? P : ga tau DM : ada yang nyuruh mukul kah? P : ga ada DM : kalau ga ada. teman.

sekarang gimana? Ga mau ngamuk P : ga DM : Ada yang suka bisikin kah pak? P : ga ada DM : kalau ngeliat bayangan? P : ga DM : bapak ingat pernah dirawat disini? P : Ingat DM : kenapa waktu itu? P : karena jalan – jalan terus DM : kenapa pak jalan terus? P : ga tau DM : jadi bapak kenapa disini? Bapak ngerasa sakit ga? P : ga DM : kalau dikasih obat mau minum ga? P : mau DM : Kok merem – merempak? Ngantuk? P : ga DM : kenapa merem? Coba liat saya.marah? P : Ga DM : tadi kan katanya masuk karena ngamuk. Sekarang gimana perasaannya P : baik DM : ga pengen marah . Bisa? P : (menyipitkan mata) DM : ada ngerasa dikejar kejar? P : ga ada DM : ngerasa ada yang mau nyakitin bapak? P : Ga ada 12 .DM : Kenapa gelisah ? P : (menunjuk bekas ambil darah di tangan) DM : Ga apa – apa ya itu pak. kan itu buat diperiksa darahnya.

RINGKASAN PENEMUAN Pemeriksaan Fisik dalam batas normal Pemeriksaan Psikis Keadaan Umum Kesadaran : composmentis Sikap : kooperatif Tingkah Laku : Agitasi Perhatian : Menurun Inisiatif : Baik Ekspresi Wajah : Afek menyempit Verbalisasi : (+) lancar Keadaan Spesifik Keadaan Afek   Afek Arus Emosi : : menyempit : Stabil Keadaan dan fungsi Intelek 13 . terimakasih F. saya tinggal dulu ya. Pemeriksaan Psikologi. Neurologi dan Laboratorium (sebagai penunjang) Tidak ada pemeriksaan penunjang IV.DM : kalau ngerasa ada yang ngomongin bapak? P : Ga ada DM : kalau ngerasa punya kekuatan khusus gitu? P : Ga ada DM : bapak dulu katanya ngelem ya? P : iya DM : udah berenti? Kapan berentinya? P : udah lama DM : dirumah ngapain pak? P : nonton DM : baik kalau begitu pak.

    Daya Ingat Konsentrasi Orientasi Insight : Baik : Baik : Baik : Buruk Keadaan Proses Berpikir    Bentuk Pikiran Arus Isi : Linier.2) Aksis III : Tidak ada diagnosis Aksis IV : Tidak ada diagnosis Aksis V : GAF scale 60 -51 USULAN DIAGNOSIS DOKTER MUDA Aksis I : Skizofrenia Paranoid Aksis II : Ciri kepribadian emosional tak stabil Aksis III : Tidak ada diagnosis Aksis IV : Masalah dengan lingkungan sosial Aksis V : GAF scale 60 -51 14 . koheren : Cepat : Waham (-) Keadaan Sensasi dan Persepsi   Halusinasi Ilusi : (-) visual dan auditori : (-) Keadaan Intelektual dan Perbuatan   V. Kegaduhan umum Deviasi Seksual : (-) : (-) Psikomotor : Agitasi Kemauan : Baik DIAGNOSIS DIAGNOSIS IGD Aksis I : Skizofrenia Aksis II : Tidak ada diagnosis (Z03.

membuka celana di depan umum. PROGNOSIS Quo ad vitam : dubia Quo ad functionam : dubia FORMULASI DIAGNOSIS  Seorang Pria. kooperatif. isi pikir tidak ada waham. atensi menurun. halusinasi dan ilusi disangkal. pernah menggunakan obat – obatan. tinggal di Berau datang berobat IGD RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda diantar oleh Dinsos dan adik pasien pada hari Jumat 1 April 2016 Pukul 12. emosi stabil. VII. bentuk pikir koheren arus pikir cepat. status belum menikah. terdapat hendaya pada pekerjaan. mengancam orangtua dan adik pasien. beragama Islam. berbicara sendiri dan marah – marah.  Pada pemeriksaan psikiatri didapatkan penampilan rapi. dan mengganggu tetangga sekitar. orientasi tempat. penderita sudah 2 minggu ini mengamuk di rumah. RENCANA TERAPI MENYELURUH Psikofarmaka : Risperidone 2 x 2 mg Clozapine 25 mg 0-0-1 15 . tidak tidur.  Riwayat rmerokok mulai remaja. usia 35 tahun. sebelum putus obat. terdapat usaha kekerasan mencoba menusuk adik pasien. intelegensi sesuai pendidikan dan usia. tenang. tidak bekerja. orang dan waktu baik. keluyuran. dan ngelem. VIII. obat mulai tidak teratur diminum. psikomotor agitasi.VI. Faktor pencetus karena putus obat sudah 2 minggu.30 WITA  Pada proses heteroanamnesis. serta alkohol.

4% per 1000 populasi. Teori ini berkembang berdasarkan pengamatan bahwa kemanjuran obat antipsikotik yang bersifat antagonis reseptor dopamin. PEMBAHASAN Definisi : Gangguan mental. GABA dan glutamate. Etiologi :  Biologi Tidak ada gangguan yang bersifat patognomonik pada penderita skizofrenia. noradenalin. dan penurunan volume korteks prefrontal dorsolateral. dan ambivalensi. dan melibatkan beberapa kelompok gangguan yaitu gangguan berpikir. serta obat yang meningkatkan aktivitas dopaminergik seperti amfetamin dapat bersifat sebagai psikotomimetik. Skizofrenia disebabkan oleh overaktivitas pada jaras dopamine mesolimbik.IX. Biokimia o Hipotesis Dopamin Skizofrenia timbul akibat aktivitas dopaminergik yang berlebihan. autisme. disorientasi spasial sel piramid hipokampus. afek. atropi bilateral lobus temporal lebih spesifik lagi yaitu girus parahipokampus. Namun hampir semua penelitian di berbagai macam tempat menyatakan insiden skizofrenia per tahunnya berkisar antara 0. afek. persepsi. atau sekumpulan gangguan yang sampai saat ini belum memiliki penyebab yang diketahui dengan pasti. Lokasinya menentukan gangguan perilaku pada skizofrenia. Genetika 16 . hipokampus dan amigdala. Epidemiologi : Angka insidensi skizofrenia sulit diidentifikasi. Selain dopamine. Bleuler menidentifikasi gejala fundamental yang dirangkum menjadi empat A : asosiasi. Gangguan yang paling banyak dijumpai yaitu pelebaran ventrikel tiga dan lateral yang stabil. neurotransmitter lain seperti serotonin. dan atrofi lobus frontalis  dikaitkan dengan simptom negatif skizofrenia.1% dan 0. dan kemampuan sosial. gangguan hipokampus dikaitkan dengan impermanen memori. turut serta dalam  mempengaruhi kejadian terjadinya skizofren.

schizophrenia nampaknya cenderung berkembang lewat keluarga. fase aktif dan fase residual. undifferentiated. Penelitian terhadap munculnya schizophrenia dalam keluarga biasanya diadakan dengan mengamati penderita schizophrenia yang ada di rumah sakit jiwa dan kemudian meneliti tentang perkembangan kesehatannya serta mencari keterangan dari berbagai pihak untuk menentukan bagaimana schizophrenia dan psikosis lainnya muncul di antara keluarga penderita. skizotipal. pasif. Klasifikasi yang lain menambahkan tipe simpleks. disorganized. tipe takk tergolongkan. depresi pascka skizofrenia dan tipe lainnya (Darmabrata. tertutup. 2003). kemudian diikuti oleh fase penyakit berupa gejala prodromal. dengan ciri-ciri pencuriga. atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Gejala promorbid dapat berupa kepribadian skizoid. Menurut. Kategori Populasi umum Kembar monozigot Kembar dizigot Saudara kandung skizofrenia Orang tua Anak dari salah satu yang menderita Risiko 1% 40 – 50% 10% 10% 5% 15% skizofrenia Anak dari kedua orang skizofrenia 30 – 40% MANIFESTASI KLINIS Skizofrenia dibedakan atas tipe paranoid. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa resiko timbulnya psikosis.paranoid atau ambang. eksentrik. Darmabrata (2003). sekitar empat kali lebih besar pada hubungan keluarga tingkat pertama (saudara kandung. gambaran klinis skizofrenia sering kali didahului oleh gejala dan tanda pramorbid (sebelum sakit). anak kandung) dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. katatonik. banyak diam. dan residual. Gejala prodromal dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa tahun sebelum gejala-gejala tersebut cukup untuk didiagnosis sebagai 17 . orang tua. termasuk schizophrenia.Seperti halnya psikosis lain. mempunyai sedikit sekali atau tidak ada teman akrab.

ide yang aneh. Fase aktif ditandai oleh munculnya sedikitnya dua gejala positif seperti delusi. hendaya dalam higiene diri dan dalam berpakaian. begitu pula halusinasi olfaktori. gangguan perilaku. konsentrasi. Fase residual ditandai oleh meunculnya gejala yang sama dengan fase prodormal namun gejala positifnya sudah berkurang. penderita skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan. Pasien dengan gangguan pikiran dapat mengeluh konsentrasi terganggu atau pikirannya tiba-tiba terasa buntu atau kosong (pikiran terhambat) : seorang pasien yang tiba-tiba berhenti karna bingung ketika sedang berbicara sehingga pewawancara sulit mengikuti arah pembicaraan merupakan tanda yang khas. afek yang tumpul atau tak serasi. Gejalanya dapat berupa kehilangan minat terhadap sekolh atau pekerjaannya.  Halusinasi . mengurutkan peristiwa.Halusinasi merupakan persepsi yang salah pada semua rasa : pasien merasakan suara atau bau. mengerti. tingkah laku yang aneh. taktil dan visual. menarik diri dari kehidupan sosial. inisiatif dan minat untuk hidup yang terjadi selama kurang lebih satu bulan. membentuk ide. serta penghayatan persepsi yang tak lazim (Darmabrata. misalnya. meskipun sebenarnya tidak terjadi. kewaspadaan dan atensi. dan merasa percaya diri. Suara-suara sering (tetapi tidak selalu) diterima pasien sebagai sesuatu yang berasal dari luar kepala pasien dan kadang-kadang pasien dapat mendengar pikiran-pikiran mereka sendiri berbicara keras (sering 18 . Disamping gejala gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas. gangguan dalam berkomunikasi. Tanda & Gejala Positif Tanda dan gejala ini pada dasarnya merupakan versi fungsi otak normal yang terganggu. dan gejala negatif seperti halusinasi kurangnya pembicaraan.psikotik/skizofrenia. Tanda skizofrenia adalah bahwa pasien mendengarkan suara-suara yang membicarakan mereka sebagai “dia” (halusinasi auditorik orang ketiga) tetapi suara “perintah” dari orang kedua juga terjadi. dan hubungan sosial. pembicaraan yang kacau. 2003). yaitu gangguan pada fungsi berpikir.

mempermalukannya). penyisipan pikiran [thought insertion]. Emosi yang tumpul atau datar 19 . Waham sering ditemui pada gangguan jiwa berat dan beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan pada skizofrenia.  Waham – Waham merupakan keyakinan yang salah dengan kepastian absolut. Suara-suara cukup nyata menurut pasien kecuali pada fase awal psikosis. dan penyiaran pikiran [thought broadcast]).  Waham bingung yang aneh  Waham kejar. Keyakinan yang memuja telepati dan pengendalian pikiran dapat berkaitan dengan bentuk parsial gangguan ini. Semakin akut psikosis semakin sering ditemui waham disorganisasi dan waham tidak sistematis. Pengalaman yang khas adalah pikirannya seperti dihisap dari kepala pasien (pasien bersikeras bahwa ibunya telah “mencuri otaknya”) atau sesuatu dimasukkan kedalam pikiran pasien atau isi pikiran pasien diketahui oleh orang lain (berturut-turut disebut penarikan pikiran [thought withdrawal]. terutama bentuk tidak sistematis  Waham kebesaran  Waham mempengaruhi – pasien yakin bahwa mereka dapat  mengontrol suatu peristiwa melalui telepati Waham rujukan – pasien meyakini ada “arti” dibalik peristiwaperistiwa dan meyakini perbuatan orang lain seolah-olah secara  khusus diarahkan kepada mereka Waham penyiaran pikiran – keyakinan bahwa orang lain dapat  mendengar pikiran mereka Waham penyisipan pikiran – keyakinan bahwa pikiran orang lain dimasukkan kedalam benak pasien Gejala Negatif Gejala tersebut berup hilangnya kemampuan pribadi seperti insisiatif. mendominasi pikiran pasien dan tidak sesuai dengan latar belakang sosial-budaya. minat terhadap hal lain dan perasaan senang (anhedonia).

Pasien tidak  menunjukkan kehangata. apati. tetapi mungkin ada fluktuasi secara periodic. Afek tidak serasi : afeknya mungkin kuat tetapi tidak sesuai dengan  pikiran dan pembicaraan pasien. Mulainya biasanya pada akhir belasan tahun. sedikit berbicara dan banyak waktu yang dihabiskan tanpa melakukan apa-apa merupakan perilaku yang khas. kemurungan. tetapi biasanya wahamnya akan menimbulkan pertentangan dengan masyarakat. Waham bisa ‘’diselubungi’’ dan pasien bisa berperilaku normal. Gejala khasnya waham kejaran primer dan sekunder dengan halusinasi auditorius. nerkabut. Skizofrenia paranoid. Gangguan pemikiran menjadi jelas dan mungkin ada pemikiran konkret atau hambatan pikiran. Seringkali didahului oleh adanya kepribadian paranoid —individu hipersensitif atau sangat berhati-hati walaupun dalam keadaan yang tidak membahayakan atau yang diisolasi oleh alasan deformitas. waham sepintas. Meski perjalanan penyakitnya menahun. Mulainya lebih lambat dibandingkan skizofrenia hebefrenik. biasanya 30-50 tahun. ketulian. Salah interpretasi tindakan orang lain bisa diakibatkan oleh dalam ide kejaran. mimpi siang hari. perasaan inferioritas dan ketidak-adekuatan. Afek labil : dalam jangka waktu pendek terjadi perubahan afek yang jelas. Pasien psikosis akut dapat memperlihatkan berbagai emosi dan dapat berpindah dari satu emosi ke emosi lain dalam jangka waktu yang singkat. sadar akan keadaan dirinya sendiri. konsentrasi buruk. depresi. ide pseudoilmiah dan pseudofilosofi. Gejala awal kebingungan. 20 .(afek datar). KLASIFIKASI Skizofrenia hebefrenik. Perjalanannya menahun sehingga kemunduran personalitas minimum. Ada 3 afek dasar yang sering (tetapi tidak patognomonik) :  Afek tumpul atau datar : ekspresi emosional pasien sangat sedikit bahkan ketika afek tersebut seharusnya diekspresikan. Khas ada keanehan emosi.

kemiskian pikiran dan emosi serta perilaku ekstrenskik soliter. immobilitas. Kegembiraan akut dapat menjadi tanda pertama penyakit. Emosinya sangat dangkal. seperti topeng  Stupor.air ludah tidak ditelan sehingga terkumpul di dalam mulut dan meleleh keluar. Gejala negative mendominasi. beberapa hari. 21 . Mungkin terjadi gaduh-gelisah katatonik atau stupor katatonik. Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun. tanpa dorongan dan inisiatif. Skizofrenia katatonik. biasanya keluarga dekat terlibat dalam folie a deux. Gejala katakonik menjadi semakin jarang dalam 30 tahun terakhir ini: mungkin banyak yang merupakan produk neurosis institusional. Perilaku serotype. bahkan kadang-kadang sampai beberapa bulan  Bila diganti posisinya penderita menentang:negativism  Makanan ditolak. Keadaan ini biasanya merupakan hasil akhir dari gejala-gejala skizofrenia yang sebelumnya telah berkembang penuh. halusinasi bisa juga timbul.air seni dan feses ditahan  Terdapat grimas dan katalepsi Skizofrenia simpleks: gambaran khas skizofrenia kronik dapat terlihat pada banyak pasien baik berada di dalam masyarakat maupun yang sedang menjalani perawatan jangka lama.kesulitan bahasa. tetapi dalam beberapa kasus. neologisme. penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama. Terlihat ‘’disorientasi usia’’ dan bukti ada penumpukan kerusakan serebrum yang dikaitkan dengan derajat gangguan fungsi intelektual. onsetnya sangat pelan. Gejala yang penting adalah gejala psikomotor seperti:  Mutisme. kadang-kadang dengan mata tertutup  Muka tanpa mimik. Kadang wahamnya bisa ‘’menular’’. dan biasanya akut serta sering didahului oleh stres emosional. Hambatan pikiran. pemgambilan sikap. dsb. dan stupor merupkan sifat paling jelas. negativisme. Stupor katatonik:penderita tidak menunjukkan perhatian sama sekali terhadap lingkungannya. sehingga pasien seolah-olah langsung tampil dalam keadaan cacat (skizofrenia simpleks).

Isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawl) c) Thought Broadcasting. Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek. b) Delusi a) Delusion of Control. Dalam melakukan diagnosa schizophrenia pada penderita. a) Isi Pikiran a) Thought Echo. walaupun isinya sama. tetapi mungkin juga timbul serangan lagi. Waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. dan isi pikiran ulangan. Skizofrenia Skizo Afektif: Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psikomanik). Isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya.Episode Skizofrenia akut: Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. 22 . namun kualitasnya berbeda. b) Thought Insertion atau Withdrawl. schizophrenia pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental pada karakteristik pikiran dan persepsi serta afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Skizofrenia Residual: Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler. terdapat beberapa pedoman diagnostik yang harus diikuti. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan Skizofrenia. DIAGNOSIS Menurut PPDGJ. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah. yaitu pertama harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (biasanya 2 gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas). Kesadarannya mungkin berkabut. walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Isi pikiran dirinya sendiri yang berulang dan bergema dalam kepalanya (tidak keras). semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya. Kesadaran yang jernih (clear consciouness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara.

seperti sikap sangat apatis. tindakan. d. yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme. dan stupor. harus jelas 23 . Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja. Arus pikiran yan terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation). biasanya bersifat mistik atau mukjizat. Pengalaman inderawi yang tak wajar. berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain). biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial. Perilaku katatonik. kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca.b) Deluasions of Influence. yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil. c) Delusions of Passivity. Kedua. b. c) Halusinasi Auditorik. d) Delusional Perception. mutisme. c. misalnya perihal keyakinan adama atau politik tertentu. apabila disertai baik oleh waham yang mengembang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas. Tetapi. dalam melakukan diagnosa schizophrenia pada penderita paling sedikit terdapat 2 (dua) gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas. atau fleksibilitas cerea. a. a) Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku penderita. b) Mendiskusikan perihal penderita di antara mereka sendiri (di antara berbagai suara yang berbicara) c) Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. Waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. negativisme. Gejala-gejala "negatif". "Tentang dirinya" artinya secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran. ataupun disertai oleh ide-ide yang berlebihan (overvalued ideas) yang menetap. yang bermakna sangat khas bagi dirinya. atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus. atau penginderaan khusus). Waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar. bicara yang jarang. seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement). posisi tubuh tertentu (posturing). dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar. d) Waham yang menurut budaya dianggap tidak wajar Waham-waham menetap jenis lainnya.

serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol Terapi Terapi Biologik  Penggolongan Antipsikosis Tipikal Phenotiazine Chlorpromazine Perphenazine Trifluoperazine 24 . Ketiga. dipengaruhi. dorongan kehendak dan pembicaraan. Pedoman Diagnosis Skizofrenia Paranoid   Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia Sebagai tambahan : o Halusinasi dan/atau waham harus menonjol  Suara – suara halusinasi. Keempat. harus ada perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior). dan keyakinan dikejar – kejar yang beraneka ragam adalah yang paling khas o Gangguan afektif. yang mengancam pasien atau memberi perintah. tidak berbuat sesuatu. atau bunyi tawa Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa. adanya gejala-gejala khas tersebut di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal. sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude). atau halusinasi auditori tanpa bentuk  verbal berupa suara pluit. dan penarikan diri secara sosial. atau bersifat seksual. hidup tak bertujuan. mendengung. Waham dapat berupa hampir setiap jenis. tetapi waham dikendalikan. halusinasi  mungkun ada tapi jarang menonjol.bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika. atau lain – lain perasaan tubuh. bermanifestasi sebagai hilangnya minat. atau “passivity”.

extrapiramidal syndrome (EPS) dapat terjadi tanpa adanya penambahan efektivitas antipsikotik tipikal. Clozapine memiliki afinitas terhadap D2 yang rendah. Obat antipsikotik tipikal dikaitkan dengan afinitasnya yang kuat terhadap dopamine D2 reseptor. Risperidone merupakan antagonis kuat baik terhadap serotonin (terutama 5-HT2A) dan reseptor D2. sedangkan 10 mg haloperidol menempati D2 reseptor lebih dari 80%. bila 80% D2 di otak dapat dihambat. Antipsikotika tipikal bersifat lebih sedasi sehingga lebih efektif untuk pasien agitatif atau pasien dengan gejala positif. sedangkan terhadap 5-HT2 tinggi. juga terhadap serotonin 5 HT2. Dengan PET terlihat bahwa pemberian clozapine dosis efektif. Aktivitas 25 . Hal ini yang menyebabkan rendahnya efek ekstrapiramidal. sehingga efektif juga untuk gejala negatif. Haloperidol dan klorpromazine dapat meningkatkan metabolisme dopamine pada daerah yang kaya dopamine. o Antipsikotik Atipikal Antipsikotik atipikal disamping berafinitas terhadap D2 dopamine reseptor. Bila hambatan terhadap reseptor D2 lebih besar. D2 reseptor yang ditempati hanya sekitar 40 – 50%. Walaupun dikatakan ia merupakan antagonis D2 kuat. kekuatannya jauh lebih rendah dibanding dengan haloperidol. Risperidone juga memiliki afinitas kuat terhadap a1 dan a2 tetapi afinitas terhadap β-reseptor dan muskarinik rendah. Ia bekerja efektif.Butyrophenone Diphenyl-butyl-piperidine Antipsikosis Atipikal Benzamide Dibenzodiazepine Benzisoxazole  Fluphenazine Haloperidol Pimozide Supiride Clozapine Olanzapine Quetiapine Zotepine Risperidone Aripiprazole Mekanisme Kerja o Antipsikotik Tipikal Obat antipsikotik tipikal memberikan efek antipsikotik dengan jalan menurunkan aktivitas dopamin.

perbedaan terutama pada efek sekunder (efek samping : sedasi. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekivalen. dinaikkan setiap 2 – 3 hari sampai mencapai “dosis efektif” (mulai timbul peredaran sindrom psikosis). khususnya pada pasien yang tidak dapat  mentolerir efek samping ekstrapiramidal. Pemilihan Obat o Pada dasarnya semua obat antipsikosis memiliki efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekivalen. o Pemilihan jenis obat antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. 26 .melawan gejala negatif dikaitkan dengan aktivitasnya terhadap 5HT2 yang juga tinggi. o Apabila gejala negatif (afek tumpul penarikan diri. jenis obat antipsikosis tertentu sudah terbukti efektif dan ditolerir dengan baik efek sampingnya. isi pikiran miskin) lebih menonjol dari gejala positif (waham. pilihan obat antipsikosis atipikal perlu dipertimbangkan. ekstrapiramidal). bila dibandingkan dengan clozapine. dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. o Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikotik sebelumnya. perilaku tak terkendali) pada pasien skizofrenia. olanzapine memblok D2 lebih besar sehingga dosis tinggi dapat  meningkatkan kadar prolaktin dan efek samping ekstrapiramidal. dapat diganti dengan antipsikosis lain (sebaiknya dari golongan yang tidak sama) dengan dosis ekivalennya. dimana profil efek samping belum tentu sama. halusinasi. lalu obat dapat dihentikan. Olanzapine secara spesifik memblok 5HT2A dan reseptor D2. lalu tappering off (dosis diturunkan tiap 2 – 4 minggu). Pengaturan Dosis Mulai dengan “dosis awal” sesuai dengan “dosis anjuran”. o Apabila obat anti-psikosis tertentu tidak memberikan respon dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang memadai. diturunkan 2 minggu ke “dosis maintenance” yang dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi “drug holiday” 1 – 2 hari/minggu). dievaluasi setiap 2 minggu dan bila dinaikkan ke “dosis optimal” lalu dipertahankan sekitar 8 – 12 minggu (stabilisasi). hipobulia. otonomik. bicara kacau.

Namun terapi ini tidak membuahkan hasil yang bermanfaat. bukan aliran listriknya. Kerancuan pikiran dan hilang ingatan tidak terjadi. Eq Dosis Sedasi Otonomik Ekstrapiramidal (mg/hari) Chlorpromazin e Trifluoperazine Fluphenazine Haloperidol Clozapine Risperidone Olanzapine Aripiprazole 100 150-1600 +++ +++ ++ 5 5 2 25 2 10 10 5-60 5-60 2-100 25-200 2-9 10-20 10-20 + ++ + ++++ + + + + + + + + + + +++ +++ ++++ + + + Terapi Elektrokonvulsif Terapi Elektrokonvulsif disingkat ECT juga dikenal sebagai terapi elektroshock.Anti psikosis Mg. Sebelum prosedur ECT yang lebih manusiawi dikembangkan. Pasien seringkali tidak bangun lagi setelah aliran listrik dialirkan ke tubuhnya dan mengakibatkan ketidaksadaran sementara. ECT telah menjadi pokok perdebatan dan keprihatinan masyarakat karena beberapa alasan. serta seringkali menderita kerancuan pikiran dan hilangnya ingatan setelah itu. Di masa lalu ECT ini digunakan di berbagai rumah sakit jiwa pada berbagai gangguan jiwa. Penenang otot mencegah terjadinya kekejangan otot tubuh dan kemungkinan luka. Hanya aliran ringan yang dibutuhkan untuk menghasilkan serangan otak yang diberikan. terutama bila aliran listrik hanya diberikan kepada belahan otak yang tidak dominan (nondominan hemisphere). Pasien diberi obat bius ringan dan kemudian disuntik dengan penenang otot. Namun. sekarang ECT sudah tidak begitu menyakitkan. Aliran listrik yang sangat lemahdialirkan ke otak melalui kedua pelipisatau pada pelipis yang mengandung belahan otak yang tidak dominan. ECT merupakan pengalaman yang sangat menakutkan pasien. Pasien bangun beberapa menit dan tidak ingat apa-apa tentang pengobatan yang dilakukan. intensitas kekejangan otot yang menyertai serangan otak mengakibatkan berbagai cacat fisik. Empat 27 . karena serangan itu sendiri yang bersifat terapis. termasuk schizophrenia. Adakalanya.

Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan ketrampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial. khususnya pada penderita yang berperilaku kasar. Dengan demikian. namun lebih efektif untuk penyembuhan penderita depresi tertentu.sampai enam kali pengobatan semacam ini biasanyadilakukan dalam jangka waktu 2 minggu. Akan tetapi. keluraga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Seringkali. Terapi berorintasi-keluarga. yaitu preoses pembedahan pada lobus frontalis penderita schizophrenia. Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk halhal yang diharapkan. khususnya lama dan kecepatannya. anggota keluarga. kemampuan memenuhi diri sendiri. pada tahin 1950 -an cara ini ditinggalkan karena menyebabkan penderita kehilangan kemampuan kognitifnya. Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati. otak tumpul. bahkan meninggal. dan komunikasi interpersonal. Sejumlah penelitian telah menemukan 28 . topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah proses pemulihan. tidak bergairah. didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. frekuensi perilaku maladaptif atau menyimpang seperti berbicara lantang. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofreniadan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya. Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial. Menurut Moniz. berbicara sendirian di masyarakat. Pembedahan bagian otak Pada tahun 1935. latihan praktis. ECT ini tidak cukup berhasil untuk penyembuhan schizophrenia. Setelah periode pemulangan segera. cara ini cukup berhasil dalam proses penyembuhan yang dilakukannya. Akan tetapi. Moniz memperkenalkan prefrontal lobotomy. dan postur tubuh aneh dapat diturunkan. Terapi Psikososial Terapi perilaku. seperti hak istimewa dan pas jalan di rumah sakit.

Prognosis Skizofrenia tidak fatal. Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien non-psikotik. pasien skizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga. Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan. manipulasi. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial. Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana. Psikoterapi individual. dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh pasien. tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia. Di masa 29 . atau suportif. masalah. meninggalkan suatu cacat personalitas yang mungkin tidak menarik perhatian atau nyata. Angka remisi tanap pengobatan sekitar 20%. Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia adalah perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien sebagai aman. dan meningkatkan tes realitas bagi pasien skizofrenia. kecuali jika bunuh diri. Didalam penelitian terkontrol. Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi alah membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 % dan 5 . sekitar dua pertiga penderita dapat mengalami suatu penyembuhan sosial. atau eksploitasi. bukannya dalam cara interpretatif. cemas. Terapi kelompok. penurunan angka relaps adalah dramatik. tetapi proses ini mungkin terhenti pada satu titik. jarak emosional antara ahli terapi dan pasien. dan hubungan dalam kehidupan nyata. terorientasi secara psikodinamika atau tilikan. Kecenderungan umum ke arah disintegrasi personalitas.10 % dengan terapi keluarga. kesabaran. dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia. tetapi dengan pengobatan. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan.bahwa terapi keluarga adalah efektifdalam menurunkan relaps. atau teregresi jika seseorang mendekati. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi. ketulusan hati. bermusuhan. meningkatkan rasa persatuan. perintah sederhana.

saat ini hanya satu dari sepuluh bahkan lebih sedikit kasus yang memerlukan perawatan rumah sakit permanen. bicara jarang afek menyempit. maka prognosis lebih jelek 2) Bila skhizoprenia timbul secara akut. 5) Pengobatan : makin lekas diberi pengobatan. makin jelek prognosisnya. dua per tiga pasien Skizofrenia hasus menghabiskan waktunya di rumah sakit. Terapi awal memberi hasil yang baik. Kemudian menyusul prognosis jenis paranoid. seperti penyakit badaniah atau stres psikologis. maka prognosis lebih baik. pencetusnya yang nyata. tetapi meski diberi fenoziatin dosis pemeliharaan. angka relaps 50% dalam 2 tahun. maka prognosis lebih baik daripada bila penyakit itu mulai secara pelan-pelan 3) Jenis : prognosis jenis katatonik yang paling baik dari semua jenis. Jika diberi obat pemeliharaan mungkin relaps berkurang 3 kali. personalitas normal serta latar belakang keluarga dan catatan keluarga stabil. Banyak dari penderita ini dapat dikembalikan ke masyarakat. Faktor keturunan: prognosis menjadi lebih berat bila di didalam keluarga terdapat seorang atau lebih yang menderita skhizoprenia Fakta Teori Gejala negatif menonjol pada saat Diagnosis Skizofrenia : pemeriksaan. Faktor prognosis yang menguntungkan mencakup tidak adanya riwayat keluarga bagi penyakit ini. Adanya salah satu gejala yang menonjol yaitu : isi pikiran. retensi respon emosi yang normal. retensi doronagn dan inisiatif. Sering penderita dengan skhizoprenia katatonik sembuh dan kembali ke keperibadian prepsikotik. delusi. adanya gejala katatonik. makin baik prognosis. Gambaran penyakit yang mengarah ke prognosis yang baik berupa onset akut. waham 30 . 4) Umur : makin muda umur permulaanya. halusinasi auditorik. 6) Dikatakannya bahwa bila terdapat faktor pencetus. Untuk menetapkan prognosis kita harus mempertimbangkan semua faktor di bawah ini: 1) kepribadian prepsikotik: bila skhizoid dan ada hubungan antarmanusia memang kurang memuaskan. Relaps sering timbul setelah adanya peningkatan ’’peristiwa hidup” dalam tiga minggu terakhir dan terjadi lebih sering bila pasien menjadi sasaran permusuhan dan konflik keluarga.lampau.

tidak ada logorea. dorongan kehendak depresi. bicara yang jarang. dan respon emosional yang  menumpul atau tidak wajar Gejala-gejala khas tersebut di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan Pasien menyangkal adanya Suara halusinasi yang berkomentar halusinasi. Halusinasi  panca indera apa saja Gejala-gejala "negatif".marag Pasien tidak menunjukkan afek Gangguan afektif. serta gejala katatonik gejala katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol 31 . tidak ada dan pembicaraan. yang menetap dari seperti sikap sangat apatis. proses pasien namun dari secara terus menerus terhadap perilaku heteroanamnesis penderita sering berbicara sendiri dan marah .

Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ III dan DSM-5. 4. R. 2004 : 230-5. Edisi 2. Elvira. 2013. Maslim R. Edisi 3. 5. Surabaya. 3. Airlangga University Press. Ilmu Kedokteran Jiwa. G (Ed). 1990. D & Hadisukanto. Kaplan HI. Buku Ajar Psikiatri. 2007: 36-41. Jakarta: Ilmu Kedokteran Jiwa Unika Atmajaya. Maslim. 2013. Sadock BJ. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Jakarta. Jakarta : Badan Penerbit FKUI. 32 . Maramis WF. Buku Ajar Psikiatri Klinis. 1st ed.X. Jakarta : EGC.