You are on page 1of 20

Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa

Klinik

Tutorial

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

GANGGUAN MENTAL PERILAKU AKIBAT
STIMULANSIA

oleh:
M. SURYA TIYANTARA 15100290
TRIKORTEA E. C.
15100290
WILANDA AYU E.P.
1510029039

Pembimbing
dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ., M.Kes

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik
1

Pada Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa
Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

Maret 2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat,
hidayah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tutorial klinik
yang berjudul “Depresi” ini.
Penulis menyadari bahwa penyelesaian penulisan tutorial klinik ini tidak
lepas dari bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis
menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :
1. dr. H. Jaya Mualimin., Sp.KJ., M.Kes sebagai dosen pembimbing dalam
penulisan ini.
2. Seluruh pengajar yang telah mengajarkan ilmunya kepada penulis hingga
pendidikan saat ini.
3. Rekan sejawat dokter muda angkatan 2015 yang telah bersama-sama
berdiskusi dan bertukar pikiran selama proses pembelajaran.
4. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.
Akhir kata, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Oleh karena itu,
penulis membuka diri untuk berbagai saran dan kritik yang membangun guna
memperbaiki referat ini. Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi yang
membacanya.
Samarinda, Maret 2016

Penulis

2

3 .

1 Latar Belakang 4 .BAB 1 PENDAHULUAN 1.

B. Shabu digunakan menggunakan bong dengan dosis 1 – 2. saat itu pasien .BAB 2 KASUS 2.1 Riwayat Psikiatrik A. IM Umur : 17 tahun Jenis Kelamin : Laki . lalu terjaring tes urin pada hari senin siang dan dinyatakan positif metamfetamin. Identitas Pasien Nama : Tn. Pasien telah memakai NAPZA selama 4. Riwayat Penyakit Sekarang Autoanamnesa : Pasien memakai shabu pada hari sabtu sampai minggu.5 tahun mulai umur 13 tahun. baru 2 hari belakangan memakai shabu.5 gr/hari. R Jenis Kelamin : Perempuan Status dengan pasien : Ibu Kandung Alamat : Perum Kayu Manis Blok L/4 Samarinda Keluhan Utama Terjaring tes urin di yayasan Sekata. Sebelumnya pasien pernah MRS di RSJD Atma Husada pada 5 bulan November 2015 karena menjalani rehabilitasi NAPZA.laki Agama : Islam Status perkawinan : Belum Menikah Pendidikan terakhir : SMP Pekerjaan : Konselor BNN Suku : Banjar Alamat :Perum Kayu Manis Blok L/4 Samarinda Identitas Keluarga Nama : Ny.

heroin. Saat mengkonsumsi alkohol pasien minum setiap hari minimal 3 botol. dan LSD. B. Pasien mengkonsumsi alkohol selama 1 tahun. namun sekarang pasien sudah berhenti. Pasien mengatakan menggunakan shabu untuk menambah semangat dan untuk mengalihkan pikiran dari masalah keluarga yang dimiliki. Namun pasien paling sering menggunakan shabu. kokain. Terkadang saat putus obat pasien merasa seluruh badannya sakit semua seperti dipukul oleh orang banyak. Pasien merokok sejak usia 13 tahun hingga sekarang. Selain shabu. Saat memakai shabu pasien bisa tidak tidur semalaman.mengalami masalah dengan keluarga yaitu ayahnya yang bersifat mengekang. namun sudah berhenti sejak 2 tahun yang lalu. A. Riwayat Keluarga  Riwayat Keluarga Tidak ditemukannya anggota keluarga lainnya yang memiliki gejala atau gangguan serta keluhan yang sama dengan yang dialami pasien. walaupun tidak jelas apa yang dilakukan. MRS karena rehabilitasi NAPZA  Gangguan Psikosomatik Tidak ditemukan riwayat psikosomatik sebelumnya. Riwayat Medis dan Psikiatrik yang Lain  Gangguan mental dan emosi Pasien tidak pernah mengalami gangguan mental sebelumnya. Pasien memiliki riwayat epilepsi. 3 – 4 bungkus per hari. 6 . Selain shabu pasien juga mengkonsumsi alkohol dari usia 15 tahun. ganja.  Kondisi Medis. saat bercerita dengan sepupu pasien lalu ditawari untuk memakai shabu. pasien juga menggunakan putaw. Pasien juga merokok sejak usia 13 tahun.  Gangguan Neurologi.

 Genogram Keterangan : Laki – laki tanpa gangguan jiwa : perempuan tanpa gangguan jiwa : pasien/klien : tinggal 1 rumah : Meninggal dunia Struktur keluarga sampai usia 10 tahun Nama Iriansyah Rosmalawati Rosinah Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan Perempuan 7 Struktur Keluarga Saat ini Hubungan Ayah Ibu Nenek Sifat Pengekang Penyabar Pengekang .

tidak ada gangguan bahasa  Isi pikiran Isi pikir mengenai keinginan pasien untuk sembuh  Gangguan berpikir Waham (-). flight of ideas (-)  Gangguan persepsi Halusinasi auditorik (-)visual (-) Depersonalisasi dan derealisasi (-)  Mimpi dan fantasi Tidak ada 8 E. afek sesuai D. Mood dan Afek Mood eutimik. Bicara Bicara lancar. setiap pertanyaan dijawab langsung pada intinya.Nama Iriansyah Rosmalawati Rosinah Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan Perempuan Hubungan Ayah Ibu Nenek Sifat Pengekang Penyabar Pengekang 2. C. sangat kooperatif  Perilaku dan aktifitas psikomotor Dalam batas normal  Gambaran Umum Kondisi fisik terlihat sakit ringan B. Penampilan  Identifikasi pribadi Rapi. Pikiran dan Persepsi  Bentuk pikiran Koheren.2 STATUS MENTAL A. Sensori .

Tilikan diri : Baik J. Konsentrasi dan berhitung Baik G. Kesadaran : Atensi (+). orang dan tempat baik F. pupil isokor diameter 3 mm  Hidung : tidak ada sekret berlebih  Telinga : tidak ada kelainan. Rapi.). ikterik ( -/. Penilaian : Baik 2. Pengetahuan baik I. Ingatan Masa dahulu : baik Masa kini : baik Segera : baik H.). tidak ada cairan atau sekret yang keluar  Mulut & tenggorokan : mukosa bibir kering  Leher : normal  Thoraks : dalam batas normal  Abdomen : dalam batas normal  Ekstremitas : dalam batas normal .  Tekanan darah : 120/80 mmHg  Nadi : 64x/menit  Respirasi : 20 x/menit  Keadaan gizi : cukup  Kulit : normal  Kepala : normal  Mata : anemis ( -/.3 PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT A. Pemeriksaan Fisik 9  Keadaan umum : Baik. composmentis  Orientasi : Waktu.

halusinasi visual (-) Ingatan : Baik Intelegensia : sesuai dengan tingkat pendidikannya Pikiran : cepat. pekerjaan.2)  Aksis III : tidak ada diagnose untuk aksis ini (Z03. Pemeriksaan psikis Roman muka : sedih Kontak : verbal (+). . Pemeriksaan fisik dalam batas normal B.4 RINGKASAN PENEMUAN A. gejala sementara dan dapat diatasi. Pemeriksaan Neurologi Tidak dilakukan 2. waktu. dan sekolah Pemeriksaan penunjang 10 2. disabilitas ringan dalam sosial. koheren.B. visual (+) Orientasi : Orientasi ruang. waham (-) Emosi : stabil Tingkah laku/bicara : banyak bicara Penilaian: baik 2.6 Penatalaksanaan Farmakoterapi .2)  Aksis IV : Masalah Keluarga  Aksis V : GAF 80-71 (PPDGJ –III). dan personal baik Perhatian : Baik Persepsi : halusinasi auditorik (-).5 DIAGNOSIS  Aksis I : Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia lain termasuk kafein  Aksis II : Tidak ada diagnosis untuk aksis ini (Z03.

8 FORMULASI DIAGNOSIS A.  Saat wawancara. Pasien sudah menjalani rehabilitasi pada November 2015. dan sudah bekerja sebagai konselor BNN. kemauan ADL mandiri. Minum obat secara teratur 2. sudah konsumsi selama 4. atensi tidak terganggu.laki. psikomotor dalam batas normal. emosi stabil. arus pikiran koheren. kooperatif.  Pada pemeriksaan psikiatri didapatkan penampilan rapi. Dukungan keluarga untuk sering memperhatikan dan mengawasi pasien 2.  Faktor pencetus pada pasien ini adalah masalah keluarga . ide bunuh diri (-) halusinasi visual dan auditori (-). status belum menikah pendidikan terakhir SMA. beragama islam. Saat ini pasien tinggal di Perum Kayu Manis Blok L/4 Samarinda.B6 2x1 2. waham (-).7 Prognosis Dubia ad bonam. bentuk pikiran cepat. insight baik. lalu kembali mengkonsumsi shabu 2 hari sebelum dibawa ke RSJ Atma Husada Mahakam Samarinda karena memiliki masalah dengan keluarga. intelegensi sesuai dengan tingkat pendidikannya.5 tahun. 11  Pada pemeriksaan fisik : tidak didapatkan keainan berarti. jika : 1. usia 17 tahun. Depakote 1R 2x500 mg  Vit. orientasi tidak terganggu. pasien mengatakan memiliki riwayat ketergantungan napza jenis shabu. Datang berobat ke IGD RSJ Atma Husada Mahakam Samarinda diantar oleh Yayasan pada hari Selasa 29 Maret 2016. Diagnosis Formulasi Diagnosis  Seorang laki .

namun sebagian lagi meningkat pada tahap yang lebih berat Pemakaian Situasional (situasional use) : Yaitu pemakaian pada saat mengalami keadaan tertentu seperti ketegangan. dan hati 2. 12 Keadaan ini akan menimbulkan gangguanfungsional atauokupasional yang ditandai oleh : tugas dan relasi dalam keluarga tak terpenuhi dengan baik.perilaku agresif dan tak wajar. Psikotropika.1.untuk memenuhi rasa ingin tahu. baik ditelan melalui mulut. paru-paru. Penyalahgunaan (abuse): Yaitu pemakaian sebagai suatu pola penggunaan yang bersifat patologik/klinis (menyimpang) yang ditandai oleh intoksikasi sepanjang hari.pada saat rekreasi atau santai. berusaha berulang kali mengendalikan. Sebagian pemakai tetap bertahan pada tahap  ini. hubungan dengan kawan terganggu. Zat adiktif lainnya) adalah zat-zat kimiawi yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia.2. NAPZA(Narkoba. Yaitu pemakaian NAPZA yang tujuannya ingin mencoba. dan perilaku seseorang. Sebagian pemakai berhenti pada tahap ini. NAPZA . Pemakaian terus menerus akan mengakibatkan ketergantungan fisik dan/atau psikologis. kesedihan. dengan maksud  menghilangkan perasaan-perasaan tersebut. dan sebagainnya. . Pemakaian sosial/rekreasi (social/recreational use) : Yaitu pemakaian NAPZA dengan tujuan bersenang-senang. terus menggunakan walaupun sakit fisiknya kambuh. Risiko yang pasti terjadi adalah kerusakan pada sistem syaraf dan organ organ penting lainnya seperti jantung. suasana hati atau perasaan. dan sebagian  lain berlanjut pada tahap lebih berat. tak mapu mengurangi atau menghentikan. dihirup melalui hidung maupun disuntikkan melalui urat darah. Tingkatan Pemakaian NAPZA  Pemakaian coba-coba (experimental use).BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA 2. kekecewaan. Zat-zat kimia itu dapat mengubah pikiran.

Gambar 1. neurotransmitter yang dianggap jaras neurokimiawi utama untuk halusinogen. (Townsend. Ketergantungan (dependence use) : Yaitu telah terjadi toleransi dan gejala putus zat. dari terminal prasinaptik. Jaras ini disebut sebagai jaras sirkuit reward dan aktivasinya mungkin menjadi mekanisme adiktif utama untuk amfetamin. Amfetamin desainer (MDMA. dan DOM) menyebabkan pelepasan katekolamin (dopamine dan norepinefrin) serta serotonin. maka sebaiknya tingkat-tingkat pemakaian tersebutmemerlukan perhatian dan kewaspadaan keluarga dan masyarakat. hilang selera makan. metamfetamin. Efeknya terutama poten untuk neuron dopaminergik yang berjalan dari area tegmental ventral ke korteks serebri dan area limbic.sering bolos sekolah atau kerja. Struktur Kimia Amfetamin 1. Gejala pemakaian Hiperaktivitas. AMFETAMIN Amfetamin klasik (dekstrometorfetamin. Agar tidak berlanjut pada tingkatyang lebih berat (ketergantungan). bila pemakaian NAPZA dihentikan atau dikurangi dosisnya. agitasi.3. 2. 2009) 13 2. euforia. Untuk itu perludilakukan penyuluhan pada keluarga dan masyarakat. MDEA. MMDA. terutama dopamine. Oleh karena itu efek klinis amfetamin desainer merupakan campuran efek amfetamin klasik dan halusinogen. insomnia. melanggar hukum atau kriminal dan tak  mampu berfungsi secara efektif. dan metilfenidat) menimbulkan efek primer dengan menyebabkan pelepasan katekolamin. Gejala intoksikasi . Struktur kimia amfetamin diperlihatkan pada gambar 1.

ide bunuh diri. fungsi sosial yang buruk. gigi gemerutuk. Gejala putus zat Depresi. . pikiran-pikiran yang bizarre. pemakaian amfetamin atau zat yang berhubungan: (1) Takikardia atau bradikardia (2) Dilatasi pupil (3) Peninggian atau penurunan tekanan darah (4) Berkeringat atau menggigil (5) Mual atau muntah (6) Tanda-tanda penurunan berat badan (7) Agitasi atau retardasi psikomotor (8) Kelemahan otot. depresi pernapasan. (KMK No. penggunaan obat-obatan lain. atau segera setelah. dystonia. paranoia. masalah pekerjaan. Penghentian (atau penurunan) pemakaian amfetamin (atau zat yang berhubungan) yang telah lama dan berat. Dua (atau lebih) tanda berikut ini. hipertermi. dyskinesia. 422. Kriteria Diagnostik untuk Putus Amfetamin Menurut DSM-IV A. Pemakaian amfetamin atau zat yang berhubungan yang belum lama terjadi. menghindar dari hubungan sosial dengan sekitarnya. atau aritmia jantung (9) Konfusi. imunitas rendah. kehilangan rasa lelah. Gejala tidak disebabkan oleh kondisi medik umum dan tidak lebih baik dijelaskan dengan gangguan mental lain. nyeri dada. Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis yang berkembang selama. tidak dapat beristirahat. delusi. rahang atas dan bawah beradu. pemakaian amfetamin atau zat yang berhubungan. stroke. penggunaan alcohol. atau koma D. berani mengambil risiko. C. 422. 2010) Perilaku sehubungan dengan kondisi intoksikasi  agresif/ perkelahian. problem hubungan dengan orang lain. 14 a. mood yang datar. kejang. kecelakaan. kejang. (KMK No. yang berkembang selama. atau segera setelah. dehidrasi. Kriteria Diagnostik untuk Intoksikasi Amfetamin Menurut DSM-IV A. B. halusinasi. ketergantungan. tidak dapat tidur. 2010) 3. sex tidak aman.Agitasi. craving. kehilangan berat badan. penggunaan obatobatan. takikardia. masalah kardiovaskular.

pasien dengan ketergantungan NAPZA tertentu juga dapat menerima farmakoterapi rumatan ataupun simtomatik. Penatalaksanaan Gangguan Penggunaan NAPZA Pada Kondisi Non Gawat Darurat Individu dengan masalah penggunaan NAPZA pada kondisi tidak gawat darurat perlu menerima intervensi singkat ataupun intervensi psikososial. 2010) 1. tergantung dari derajat penggunaan yang dilakukan indivdu tersebut. Bila diperlukan. 422. yang berkembang dalam beberapa jam sampai beberapa hari setelah kriteria A: (1) Kelelahan (2) Mimpi yang gambling dan tidak menyenangkan (3) Insomnia atau hipersomnia (4) Peningkatan nafsu makan (5) Retardasi atau agitasi psikomotor C. Intervensi Singkat a. Gejala dalam kriteria B menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial. b.5 jam. yang dibutuhkan intervensi biasanya antara 10 menit hingga 1. D. atau fungsi penting lainnya. Intervensi singkat ditujukan untuk mencoba penggunaan merubah NAPZA atau setidaknya mengajak pasien berpikir ulang mengenai pola penggunaan Waktu untuk NAPZAnya. Mood distorik dan dua (atau lebih) perubahan fisiologis berikut. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan mental lain.B. pekerjaan. Intervensi singkat khususnya 15 dapat dipergunakan pelayanan dasar untuk di puskesmas dan dapat juga . (KMK No.

help (materi yang membantu pemahaman NAPZA pada pasien. d. dan berbagai kondisi layanan kesehatan lain. Intervensi singkat dapat mengambil berbagai bentuk format tetapi seringkali termasuk: 1) asesmen singkat 2) materi self . bangsal rumah sakit. Intervensi direkomendasikan untuk kondisi dibawah ini: 1) Pasien yang kompleks dengan isu-isu masalah psikologis/psikiatrik 2) Pasien dengan ketergantungan berat 3) Pasien dengan kemampuan membaca yang rendah 4) Pasien dengan kesulitan terkait dengan gangguan fungsi kognitif Pada kondisi ini direkomendasikan untuk melakukan wawancara mendalam.digunakan di ruang emergensi.cara menyuntik yang benar pada program harm reduction) 16 3) informasi tingkat penggunaan yang aman 4) anjuran untuk mengurangi konsumsi 5) pengurangan dampak buruk . contoh: leaflet tentang penanganan overdosis. Intervensi direkomendasikan untuk beberapa kondisi seseorang seperti dibawah ini: 1) Penggunaan alkohol yang membahayakan tetapi belum singkat tidak ketergantungan 2) Ketergantungan alkohol ringan sampai sedang 3) Ketergantungan nikotin/perokok 4) Ketergantungan ringan sampai sedang kanabis c.

Tidak ada satu pendekatan psikososial yang superior. keuangan.6) pencegahan kekambuhan 7) asesmen untuk kesiapan berubah termasuk wawancara memotivasi 8) konseling singkat termasuk pemecahan masalah dan tujuan 9) follow – up 2. Intervensi Psikososial Psikologik merupakan komponen penting dalam pengobatan yang komprehensif. Dapat diberikan konseling baik secara individu maupun dalam kelompok. 4) fokus pada sumberdaya yang positif baik secara internal maupun eksternal dan berhasil mengatasi masalah maupun ketidakmampuan pasien. libatkan dukungan lain untuk mengembangkan kemungkinan perubahan perilaku melalui lingkungan dalam layanan pengobatan maupun lingkungan luar pengobatan. Konseling merupakan pendekatan melalui suatu kolaborasi antara konselor dengan pasien dalam perencanaan pengobatan yang didiskusikan dan disetujui bersama. tempat tinggal. 3) memberikan intervensi yang spesifik berdasarkan fakta. 5) mempertimbangkan secara lebih luas untuk membantu pasien dalam hal lain seperti makanan. 2) mengantisipasi dan mengembangkan strategi bersama pasien untuk menghadapi berbagai kesulitan. a. Penatalaksanaan Medik Kegawatdaruratan Akibat Gangguan Penggunaan NAPZA 17 1. 6) bila sesuai. jender dan komorbiditas yang ada. b. Pedoman Umum: . Konseling secara umum harus meliputi: 1) menghubungkan pasien dengen layanan yang sesuai dengan kebutuhan. program pengobatan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien secara individu dengan mempertimbangkan budaya.

karena dikhawatirkan akan ada interaksi dengan zat yang digunakan pasien. Terakhir.Pasien harus dibedakan sesuai dengan kondisi klinis. 2) Tanda-tanda vital pasien pada dasarnya stabil tetapi ada gejalagejala putu zat yang diperlihatkan pasien maka bila ada gejala18 gejala kebingungan atau psikotik hal itu merupakan bagian dari gejala putus zat. Kondisi Intoksikasi Akut /Overdosis b. Penatalaksanaan Umum Kondisi Kegawatdaruratan Penggunaan NAPZA: a. Bila memungkinkan hindari pemberian obat-obatan. apakah dalam kondisi emergensi. Bila pasien tidak sadar perhatikan alatalat atau barang yang ada pada pasien. Circulation) dan menjaga tanda-tanda vital. Merupakan hal yang selalu penting untuk memperoleh riwayat penggunaan zat sebelumnya baik melalui auto maupun alloanamnesa (terutama dengan pasangannya). Tindakan terfokus pada masalah penyelamatan hidup (life threatening) melalui prosedur ABC (Airway. non ernergensi. penting untuk menentukan atau meninjau kembali besaran masalah penggunaan zat pasien berdasar kategori dibawah ini: 1) Pasien dengan penggunaan zat dalam jumlah banyak dan tandatanda vital yang membahayakan berkaitan dengan kondisi intoksikasi. kebingungan atau psikotik e. . obat dapat diberikan dengan dosis yang adekuat.Apabila zat yang digunakan pasien sudah diketahui. Breathing. Kondisi Putus Zat /Putus zat c. Sikap dan tata cara petugas membawakan diri merupakan hal yang penting khususnya bila berhadapan dengan pasien panik. c. Kemungkinan akan disertai dengan gejala-gejala halusinasi. waham dan kebingungan akan tetapi kondisi ini akan kembali normal setelah gejala-gejala intoksikasi mereda. d. Kondisi Komorbiditas Fisik/Psikiatrik 2. akut atau kronis. Secara rinci kondisi klinis pasien NAPZA dibagi menjadi: a. b.

Simtomatik tergantung kondisi klinis. Antipsikotik . Kontrol temperature dengan selimut dingin atau Chlorpromazine untuk mencegah temperature tubuh meningkat e. Antihipertensi bila perlu. Asamkan urin dengan Amonium Chlorida 2. Aritmia cordis. TD diatas 140/100 mHg d.Dalam perjalanannya mungkin timbul gejala halusinasi atau waham tetapi gejala ini akan menghilang bilamana kondisi klinis delirium atau dementia sudah diterapi dengan adekuat. untuk penggunaan oral . untuk palpitasi diberikan propanolol 20-80 mg/hari (perhatikan kontraindikasinya) f. Haloperidol 2-5 mg per kali pemberian atau Chlorpromazine 1 mg/kg BB Oral setiap 4-6 jam c. lakukan cardiac monitoring. 4) Bilamana tanda-tanda vital pasien stabil dan secara klinis tidak ada gejala gejala kebingungan atau putus zat secara bermakna. Bila ada gejala ansietas berikan ansiolitik golongan Benzodiazepin : diazepam 3x5 mg atau Chlordiazepoxide 3x25 mg g.75 mEq/kg atau Ascorbic Acid 8 mg/hari sampai pH urin < 5 akan mempercepat ekskresi zat 19 Daftar Pustaka . tetapi menunjukkan adanya halusinasi atau waham dan tidak memiliki insight maka pasien menderita psikosis.  Penanganan Intoksikasi Amfetamin atau Zat yang Menyerupai a.3) Pasien dengan tanda-tanda vital yang stabil dan tidak memperlihatkan gejala putus zat yang jelas tetapi secara klinis menunjukkan adanya gejal kebingungan seperti pada kondisi delirium atau demensia.merangsang muntah dengan activated charcoal atau kuras lambung adalah penting b.

Kaplan. Maslim. HI. Maramis. R: Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia. Jilid I. 1980 20 . Catatan Ilmu Kedokteran jiwa. JA Grebb. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. 2010. Universitas Airlangga.American Psychiatric Association. Jakarta. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.F . W. edisi 3. 1994. Washington: American Psychiatric Association. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 422/MENKES/SK/III/2010. BJ Sadock. 2002. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher. Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan RI.