You are on page 1of 27

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Akuntansi
Forensik dan Audit Investigatif”. Makalah ini merupakan salah satu tugas dalam
mata kuliah Auditing 1.
Makalah ini terdiri dari 3 bab yaitu pendahuluan, pembahasan dan
penutup. Dalam bab pendahuluan kami akan memaparkan mengenai latar
belakang berikut contoh kasus, rumusan masalah, serta manfaat dan tujuan. Untuk
bab pembahasan kami akan memaparkan mengenai akuntansi forensik dan audit
investigatif, selanjutnya pada bab penutup berupa kesimpulan dan saran dari hasil
makalah yang kami buat.
Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan
serta memenuhi kewajiban tugas. Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun
sangat kami harapkan.
Bandung, 23 Maret 2016
Penulis

DAFTAR ISI

1

KATA PENGANTAR.............................................................................................1
DAFTAR ISI...........................................................................................................2
PENDAHULUAN..................................................................................................4
1.1

Latar Belakang................................................................................................4

1.2

Rumusan Masalah..........................................................................................6

1.3

Tujuan..............................................................................................................6

BAB II.....................................................................................................................8
PEMBAHASAN.....................................................................................................8
2.1

AKUNTANSI FORENSIK.............................................................................8

2.1.1

Pengertian Akuntansi Forensik.....................................................................8

2.1.2

Disiplin dan Profesi Forensik Lainnya..........................................................9

2.1.3

Akuntan Forensik di Pengadilan...................................................................9

2.1.4

Akuntansi atau Audit Forensik....................................................................11

2.1.5

Praktik Akuntansi Forensik di Indonesia....................................................11

2.1.6

Akuntan Forensik Sektor Publik.................................................................12

2.1.7

Standar Akuntansi Forensik........................................................................13

2.1.8

Kode Etik Akuntansi Forensik....................................................................15

2.1.9

Kualitas Akuntansi Forensik.......................................................................15

2.2

AUDIT INVESTIGATIF..............................................................................16

2.2.1

Pengertian Audit Investigatif......................................................................16

2.2.2

Pendekatan Audit Investigasi......................................................................17

2.2.3

Hal-hal Yang Dilakukan (kompetensi) Seorang Auditor Investigasi...........18

2.2.4

Penyusunan Program Audit Investigasi......................................................19

2.2.5

Pelaksanaan Program Dan Tehnik-tehnik Audit Investigasi........................19

2.2.6

Hasil Investigasi.........................................................................................21

2.2.7

Standar Audit Investigatif...........................................................................23

BAB III..................................................................................................................26
PENUTUP.............................................................................................................26
3.1

Kesimpulan.................................................................................................26

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................27

2

BAB I PENDAHULUAN 3 .

eksekutif bahkan yudikatif. Akuntansi forensik inilah yang nantinya akan menggunakan suatu aplikasi audit lain selain audit biasa yang digunakan para auditor laporan keuangan untuk mengungkapkan kecurangan. Namun sayangnya hasil yang di dapat masih belum sesuai dengan harapan. auditor laporan keuangan ini hanya dapat mendeteksi saja sedangkan untuk pengungkapannya diserahkan pada akuntan forensik yang lebih berwenang. Peran akuntansi forensik dalam mengungkap kecurangan di Indonesia dari waktu ke waktu semakin terus meningkat. dan Kepolisian. di mana Indonesia masih menduduki 10 negara terkorup di dunia. seperti Kejaksaan. maka kita akan disuguhi banyak berita tentang kasus-kasus fraud yang telah melibatkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Untuk tindak lebih lanjut. Bila kita sering membaca surat kabar atau melihat televisi. Oleh karena itu.1 Latar Belakang Tindak kecurangan di pemerintahan di Indonesia sudah mencapai tingkat yang memprihatinkan. auditor laporan keuangan harus mempunyai keahlian untuk mendeteksi kecurangan ini.1. Kecurangan yang dilakukan oleh oknum-oknum pemerintah sulit terdeteksi karena pelaku biasanya merupakan orang-orang yang dipercaya untuk menjalankan suatu proyek. baik dijajaran lembaga legislatif. Apabila dilihat dari peran akuntan publik. fenomena kecurangan ini menjadi masalah yang serius karena menyangkut citra akuntan publik terutama auditornya. Pengadilan. Berbagai usaha telah dilakukan Pemerintah Indonesia baik dengan memberdayakan secara maksimal lembaga-lembaga penegak hukum. Adanya kecurangan berakibat serius dan membawa dampak kerugian. Terjadinya kecurangan tersebut yang tidak dapat terdeteksi oleh suatu pengauditan dapat memberikan efek yang merugikan dan cacat bagi proses pelaporan keuangan. Akuntansi forensik banyak diterapkan ketika Komisi Pemeberantasan Korupsi (KPK) mengumpulkan bukti-bukti hukum 4 . Bahkan dalam dasawarsa terakhir Pemerintah juga telah membentuk dan memberdayakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Hadi Purnomo memaparkan dalam laporan tersebut disimpulkan bahwa terdapat penyimpangan yang dilakukan pihak-pihak terkait dalam pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik sehingga harus dikeluarkan penyertaan modal sementara. Kepada hakim dan hadirin sidang.liputan6. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyerahkan Laporan Hasil Perhitungan (LHP) kerugian negara dari kasus Bank Century ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).394 miliar dari pemberian FPJP ke Bank Century dan merugikan keuangan negara sebesar Rp 6. 5 .com diakses 5 Desember 2015).5 miliar(sumber: www. merugikan keuangan negara sebesar Rp 689. serta Inspektorat Jenderal Kementerian untuk menggali informasi selama proses pelaksanaan audit kecurangan (fraud audit) atau audit investigasi. Kepolisian.Ketua BPK. dan konsultan perencanaan.com diakses 5 Desember 2015). manajemen konstruksi. Andi membeberkan kerugian negara akibat korupsi proyek P3SON Hambalang yang muncul dari kontraktor konstruksi. Yakni sebesar Rp 464. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Terkait penyimpangan tersebut.Contoh kasus pada Bank Century yaitu mengalami gagal bayar. Contoh lainnya yaitu kasus hambalang yang merupakan salah satu kasus terjadinya kecurangan.yang diperlukan untuk menangani kasus-kasus korupsi yang dilaporkan kepada instansi tersebut. Auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Andi Rahmat Zubaidi dihadirkan sebagai saksi ahli. Sidang kasus dugaan korupsi proyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang dengan terdakwa Teuku Bagus Mokhamad Noor selaku mantan Kepala Divisi Konstruksi I PT Adhi Karya digelar.suarapembaruan. Akuntansi forensik juga digunakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Beberapa fenomena yang terjadi di Indonesia mengenai kecurangan yang terjadi hingga dikategorikan sebagai korupsi.742 triliun dari pemberian penyertaan modal sementara ke bank yang kini berganti nama menjadi Bank Mutiara tersebut(sumber: www. lanjut Hadi.

Pelaksanaan program dan teknik-teknik audit investigasi. Kualitas akuntansi forensic. Bagaimana akuntansi forensic sector public? 7. Standar audit investigasi. 5. Bagaimana disiplin dan profesi forensic lainnya? 3. 4. 16. Bagaimana kualitas akuntansi forensic? 10. Apa pengertian dari akuntansi forensic? 2. 15. Apakah akuntansi atau audit forensic? 5. Akuntansi forensic di pengadilan. Penyusunan program audit investigasi. 8. 7. Pengertian auditinvestigatif. Bagaimana akuntansi forensic di pengadilan? 4. Kode etk akuntansi forensic. Apa standar akuntansi forensic? 8. Hal-hal yang dilakukan seorang auditor investigasi. Hasil investigasi. Akuntansi atau audit forensic.1. Apa kode etik akuntansi forensic? 9. Apa standar audit investigasi ? 1. 14.2 Rumusan Masalah Penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pendekatan audit investigative? 12. Bagaimana hasil investigasi? 16.3 Tujuan Sejalan dengan rumusan masalah diatas. 13. Pendekatan audit investigatif. 9. 3. 10. Bagaimana pelaksanaan program dan teknik-teknik audit investigasi? 15. 6 . 11. Bagaimana penyusunan program audit investigasi? 14. Bagaimana praktik akuntansi forensic di Indonesia? 6. 12. Apa pengertian audit investigative? 11. Pengertian akuntansi forensic. Praktik akuntansi forensic di Indonesia. Disiplin dan profesi forensic lainnya. 2. Hal-hal apa saja yang dilakukan seorang auditor investigasi? 13. makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: 1. Standar akuntansi forensic. 6. Akuntansi forensic sector public.

1.1 AKUNTANSI FORENSIK 2. pada masalah hukum untuk penyelesaian hukum di dalam atau luar pengadilan. seperti: 1. termasuk auditing. 7 .1 Pengertian Akuntansi Forensik Akuntansi forensik adalah penerapan disiplin akuntansi dalam arti luas. Akuntansi forensik dipraktikkan dalam bidang yang luas.BAB II PEMBAHASAN 2. Dalam penyelesaian sengketa antarinividu.

1. harus ada akuntansi yang akurat untuk proses hukum yang bersifat adversarial. mahkamah (seperti Mahkamah Konstitusi dann Mahkamah Yudisial).DPR/DPRD. Badan Layanan Umum. Istilah akuntan forensik dan akuntan forensik dikenal. pemerintah pusat dan daerah. joint venture. Definisi Crumbley menekankan bahwa akuntansi forensik tidak identik. MPR. Dalam praktiknya. komisi-komisi (seperti KPU dan KPPU). dan lembaga-lembaga negara lainnya. Di negara-negara yang berbahasa inggris. kelompok ahli lainnya juga terdiri atas para akuntan atau pelaksana audit investigatif yang memberi keterangan ahli demi keadilan. Di perusahaan swasta dengan berbagai bentuk hukum. Di departemen/kementrian. bahkan tidak berurusan dengan akuntansi yang sesuai dengan generally accepted accounting principles (GAAP). melainkan apa yang menurut hukum atau ketentuan perundang-undangan adalah akurat.2 Disiplin dan Profesi Forensik Lainnya Dalam sidang pengadilan ahli-ahli forensik dari disiplin yang berbeda. Di perusahaan yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki negara. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHP) menggunakan istilah “ahli”. Badan Hukum Milik Negara. mereka disebut expert wit'ness (saksi ahli). 8 . koperasi. 4. Demi keadilan. 2. dapat dihadirkan untuk memberikan keterangan ahli. dan seterusnya. atau proses hukum yang mengandung perseteruan. perusahaan tertutup maupun yang memperdagangkan saham atau obligasi di bursa. Crumbley dengan tepat melihat potensi untuk perseteruan di antara pihak-pihak yang berseberangan kepentingan. baik di pusat maupun di daerah (BUMN/BUMD). 3. termasuk akuntan forensik. Ukurannya bukan GAAP.2. special purpose companies. meskipun dalam percakapan sehari-hari dan oleh pers digunakan istilah “saksi ahli”. yayasan.

dan Inspektorat Jendral dari Departemen yang bersangkutan. kebanyakan ahli ini sebelumnya berpraktik di BPKP. bukan kompetensi pribadi.1 Ahli Selaku Pribadi dan Lembaga (BPK) N O 1 Ahli Selaku Pribadi Kompetensi Ahli Ahli Ahli Selaku Lembaga memberikan Ahli (BPK) memberikan keterangan yang diminta keterangan instansi yang berwenang. Tabel 2. memberikan Ahli memberi keterangan 9 . Di lain pihak. Akan tetapi. terdakwa dan tim pembelanya menggunakan ahli dari kantor-kantor akuntan publik.3 Akuntan Forensik di Pengadilan Di Indonesia. Disektor publik. tentang negara ahli merupakan yang kompetensi pada BPK. kerugian sesuai kompetensi yang melekat pribadinya. para penuntut umum (dari kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi) menggunakan ahli dari BPK dan BPKP. punggunaan akuntan forensik di sektor publik lebih menonjol dari pada sektor privat karena jumlah perkara yang lebih banyak di sektor publik. melekat sehingga pada tidak pribadi pemegang jabatan anggota 2 Substansi keterangan ahli Ahli BPK atau pemeriksa BPK. ada juga alasan lain.1.2. yakni kecenderungan untuk menyelesaikan sengketa sektor privat di luar pengadilan.

penguasaan kontitusional BPK. Ia senantiasa diterangkannya harus adalah pemikiarannya. sebelumnya. memberikan Ahli milik merupakan milik BPK sebagai lembaga negara. Pendapat yang diberikannya merupakan 3 Pengolahan Informasi pendapat pribadi. memberikan berkoordinasi hasil dengan pimpinan karena yang diterangkannya adalah hasil pemeriksaan BPK. atas Keterangan yang diberikan Keterangan yang diberikan Kepemilikan keterangan ahli 5 Kebebasan pendapat melalui ahli merupakan pribadinya. sehingga diperoleh 4 pemeriksaan investigatif. dan diberikannya pengembangan merupaka pendapat BPK. Ia tidak memberikan yang berkaitan keahliannya. pengetahuannya.keterangan substansi tentang tentang yang kerugian/daerah menjadi karena pelaksanan tugas kepakarannya. pengetahuannya yang secara Pendapat pribadi. Informasi yang dipaparkan Informasi tentang kerugian ahli dihadapan penyidik negara yang dipaparkan di maupun sidang pengadilan hadapan penyidik maupun diolahnya secara pribadi sidang pengadilan diolah dengan pengetahuan dan secara pengalaman kelembagaan. yang Informasi ini tidak dimiliki dimilikinya secara pribadi. yang pendapat memiliki keebasan pribadi dengan dalam Pendapat keterangan. mempunyai Ahli merupakan kebebasan pribadi dalam personifikasi BPK. 10 .

2. Kasus Bank BNI. Misalnya. Ada yang menggunakan istilah audit forensik untuk kegiatan investigatif. 3. misalnya dalam perhitungan ganti rugi baik dalam konteks keuangan negara. maka istilah yang dipakai adalah akuntansi (dan bukan audit) forensik. maupun di antara pihak-pihak dalam sengketa perdata. Komisi Pemilihan Umum. Tahun 2005 merupakan suksesnya akuntansi forensik dan sekaligus sistem pengadilan. melainkan PPATK.1. Sekarang pun kadar akuntansinya masih terlihat. Bermula dari penerapan akutansi akuntansi untuk memecahkan persoalan hukum. 2. Ia hanya dibatasi oleh kedalaman pengetahuan dan pengalamannnya. Bentuk diagramnya seperti cahaya yang mencuat dari sang surya (Sunburst). Akuntansi forensiknya bukan dilakukan oleh lembaga pemeriksa atau kantor akuntan.5 Praktik Akuntansi Forensik di Indonesia 1. Akuntannya adalah PriceWaterhouseCoopers (PwC) berhasil menunjukkan arus dana yang rumit.1.6 Batas Ahli memberikan Ahli memberikan keterangan sesuai dengan keterangan sesuai dengan kepakaran yang hasil pemeriksaan BPK dimilikinya. 2. Dua ahli 11 .4 Akuntansi atau Audit Forensik Di Amerika Serikat pada mulanya akuntansi forensic digunakan untuk menentukan pembagian warisan atau mengungkapkan motif pembunuhan. pembunuhan istri oleh suami untuk mendapatkan hak waris atau klaim asuransi. terlihat suksesnya akuntansi forensik. dimana akuntan forensiknya adalah Badan Pemeriksa Keuangan. Pada kasus Bank Bali. Komisi Pemberantasan Korupsi berhasil menyelesaikannya di pengadilan. atau pembunuhan oleh mitra dagang untuk menguasai perusahaan.

Teknik audit Investigatif bersangkutan Sangat bervariasi karena Relatif kewenangan relatif besar lebih dibandingkan publik.1. administratif. dan aparat pengawasan internal pemerintah yang dalam APIP. Dapat melibatkan instansi Bukti intern. 2. sedikit di kreativitas sektor dalam pendekatan Akuntansi Tekanan pada lebih menentukan.PPATK dalam persidangan di pengadilan berhasil meyakinkan mengenai peran Adrian Waworuntu. kerugian Penilaian bisnis negara dan keuangan negara 12 . Secara terinci dan dengan data statistik. Ukuran Keberhasilan Pembuktian dan arbitrase. Di Indonesia terlihat peran-peran penting para akuntan forensik dari BPKP. Perdata. hukum administrasi negara. penulis membahas peran mereka di buku “ Menghitung Kerugian Keuangan Negara dalam Tindak Pidana Korupsi”. aturan intern perusahaan perkara Memulihkan kerugian Memenangkan pidana Sektor Swasta Penugasan tertulis secara memulihkan kerugian. BPK. dengan bukti lain di luar lembaga yang ekstern yang terbatas.6 Akuntan Forensik Sektor Publik Akuntansi forensik sektor publik di Indonesia lebih menonjol daripada akuntansi forensik sektor privat. Tabel 2.2 Perbandingan Akuntansi Sektor Publik dan Sektor Swasta DIMENSI Landasan penugasan Sektor Publik Amanat undang-undang Imbalan Hukum spesifik Lazimnya tanpa imbalan Fee dan biaya Pidana umum dan khusus.

Ia bertanggung langsung ke Dewan Komisaris kalau penugasan diberikan oleh lembaganya. Pengalaman. Sumber Daya Manusia Semua sumber daya manusia yang menjalani akuntansi forensic harus mempunyai kemahiran teknis. akuntansi forensik harus cukup independen dalam melaksanakan tugasnya. dan pengalaman 220. alternatifnya ialah akuntan forensik menyampaikan laporannya kepada dewan komisaris.1. Dalam hal akuntan forensic tersebut independen dan penugasan diterimanya dan lembaga penegak hokum atau pengadilan. pihak yang menerima laporannya atau counterpart-nya harus ditegaskan dalam kontrak. 120 Objektivitas : Akuntan forensik harus objektif (tidak berpihak) dalam melaksanakan telaah akuntansi forensiknya 200 Kemahiran professional : akuntansi forensic harus dilaksanakan dengan kemahiran dan kehati – hatian professional 210. atau kepada penegak hokum dan/ atau regulator. Untuk kegiatan internal lembaganya. Keahlian dan Disiplin 13 . pendidikan.7 Standar Akuntansi Forensik Ringkasan Standar Umum dan Khusus Akuntansi Forensik 100 Indepedensi :Akuntan Forensik Harus Independen Dalam Melaksanakan Tugas 100 Garis pertanggung jawaban : 1. yang memadai sesuai dengan tugas yang diserahkan kepadanya Pengetahuan.2. 3. Dalam hal akuntan forensik tersebut independen ia menyampaikan laporan kepada seorang eksekutif senior yang kedudukannya lebih tinggi dari orang yang diduga melakukan fraud. jika penugasannya datang dari luar lembaganya 2.

Supervisi Dalam hal lada lebih dari satu akuntan forensic dalam satu penugasan. Kepatuhan terhadap Standar Prilaku Akuntan forensic harus mematuhi standar prilaku professional terbaik yang diharapkan dari akuntan.1. Hubungan Manusia Akuntan forensic harus memiliki kemampuan berinteraksi dengan 260. 240. rasa hormat dan kehormatan (respect dan honour). keahlian. rekan dari profesi hokum baik tim pembela maupun jaksa umum dan regulator. dan nilai – nilai 14 . pengalaman.8 sesame manusia (interpersonal skills) Komunikasi Pendidikan Berkelanjutan Kehati-hatian Profesional Lingkup Penugasan Pelaksanaan Tugas Telaahan Kode Etik Akuntansi Forensik Kode etik mengatur hubungan antara anggota profesi dengan sesamanya.Akuntansi forensic harus memiliki atau menggunakan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan. 250. dan disiplin untuk melaksanakan tugasnya dengan baik 230. dan dengan masyarakat luas. dengan pemakai jasa dan stakeholder lainnya. 280. 300 400 2. 270. auditor. Profesi bisa eksis karena ada integritas (sikap jujur walaupun tidak diketahui orang lain). salah seorang diantara mereka berfungsi sebagai incharge yang bertanggung jawab dalam mengarahkan penugasan dan memastikan bahwa rencana kerja dilaksanakan sebagai mana seharusnya dan dikomuntesaikan dengan baik. Kode etik berisi nilai – nilai luhur (virtues) yang amat penting bagi eksistensi profesi.

yakni bahwa itu tidak perlu merupakan suatu situasi bisnis yang normal.9 Kualitas Akuntansi Forensik 1. Akal sehat. dan ucapan pimpinan KPK 2. kemampuan untuk maju terus pantang mundur walaupun fakta (seolah – olah) tidak mendukung. Pimpinan KPK wajib menjaga kewenangan luar biasa yang dimilikinyademi martabat KPK dan martabat pimpinan KPK dengan prilaku. dan mengandung sanksi tegas bagi mereka yang melanggarnya 4.luhur lainnya yang menciptakan rasa percaya (trust) dari pengguna stakeholder lainnya. 3. kode etik KPK dapat di pakai karena perumusannya sangat relevan untuk mengatur prilaku akuntansi forensic . prilaku. Perubahan atas kode etik pimpinan KPK menurut keputusan ini akan segera dilakukan berdasarkan tanggapan dan masukan dari masyarakat dan ditetapkan oleh pimpinan KPK\ 2. Nilai – nilai dasar pribadi sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 dilaksanakan dalam bentuk sikap. dan ucapan sebagaimana dirumuskan dalam kode etik 3. Tak menyerah. kemampuan untuk melihat sesuatu yang orang lain menganggap situasi bisnis yang normal dan mempertimbangkan interpretasi lain. Kode etik KPK : 1. dan ketika dokumen atau informasi sulit di peroleh. 4. Rasa ingin tahu. dan bukan sekedar memahami bagaimana transaksi dicatat. Kreatif. 2. sikap. tindakan. 15 .1. Business sense. tindakan. keinginan untuk menemukan apa yang sesungguhnya terjadi dalam rangkaian peristiwa dan situasi. kemampuan untuk memahami bagaimana bisnis sesungguhnya berjalan. Kode etik diterapkan tanpa toleransi sedikitpun atas penyimpangannya. kemampuan untuk mempertahankan perspektif dunia nyata 5. Dalam contoh kasus.

16 .6. Audit Investigasi Hambatan Kelancaran Pembagunan (AIHKP ) adalah proses pengumpulan dan pengujian bukti-bukti terkait dengan permasalahan hambatan kelancaran pembangunan untuk memperoleh kesimpulan yang mendukung tindakan mediasi dalam penyelesaian masalah.2 Pendekatan Audit Investigasi Sebagaimana halnya penyelidikan dan penyidikan. untuk memperoleh kesimpulan yang mendukung tindakan litigasi dan/atau tidakan korektif manajemen. 2. Percaya diri. Audit Investigasi dapat dilaksanakan atas permintaan Kepala Daerah dan Aparat Penegak Hukum. audit hambatan kelancaran pembagunan. 1.2 AUDIT INVESTIGATIF 2. Audit Investigasi termasuk didalamnya audit dalam rangka menghitung kerugian keuangan Negara.2. audit eskalasi audit klaim. Audit Eskalasi adalah proses pengumpulan dan pengujian bukti-bukti terkait adanya penyesuaian harga satuan dalam kontrak pengadaan barang/jasa yang disebabkan oleh adanya inflasi atau kenaikan harga yang disebabkan oleh kebiajakan pemerintah.2. audit investigatif bisa dilaksanakan secara REAKTIF atau PROAKTIF. 3. Audit Klaim adalah proses pengumpulan dan pengujian bukti-bukti terkait klaim/tuntutan pihak ketiga untuk memperoleh simpulan sebagai bahan pertimbangan bagi objek penugasan untuk mengambil keputusan penyelesaian klaim/tuntutan.1 Pengertian Audit Investigatif Audit Investigasi adalah proses pengumpulan dan pengujian bukti-bukti terkait kasus penyimpangan yang berindikasi merugikan keuangan Negara dan / atau perekonomian Negara. 2. 2. kemampuan untuk mempercayai diri dan temuan kita sehingga kita dapat bertahan dibawah cross examination.

PROAKTIF Audit investigatif dikatakan bersifat proaktif apabila auditor secara aktif mengumpulkan informasi dan menganalisis informasi tersebut untuk menemukan kemungkinan adanya tindak kecurangan dan kejahatan sebelum melaksanakan audit investigatif. Audit yang bersifat proaktif dapat menemukan kemungkinan adanya kecurangan dan kejahatan secara lebih dini sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi kecurangan atau kejahatan yang lebih besar. baik yang bersifat reaktif maupun proaktif dapat digunakan sebagai dasar penyelidikan dan penyidikan kejahatan oleh aparat penegak hukum. atau karena adanya permintaan dari aparat penegak hukum. aparat penegak hukum akan mengumpulkan bukti-bukti yang relevan sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku untuk kepentingan penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan. penyidikan dan penuntutan kejahatan tersebut lebih mudah dilaksanakan. 2. Karena sifatnya yang reaktif maka auditor tidak akan melaksanakan audit jika tidak tersedia informasi tentang adanya dugaan atau indikasi kecurangan dan kejahatan. Audit investigatif yang bersifat reaktif umumnya dilaksanakan setelah auditor menerima atau mendapatkan informasi dari berbagai sumber informasi misalnya dari auditor lain yang melaksanakan audit reguler. REAKTIF Audit investigatif dikatakan bersifat reaktif apabila auditor melaksanakan audit setelah menerima atau mendapatkan informasi dari pihak lain mengenai kemungkinan adanya tindak kecurangan dan kejahatan. 17 . Audit investigatif yang bersifat proaktif perlu dilakukan pada area atau bidangbidang yang memiliki potensi kecurangan atau kejahatan yang tinggi. Auditor secara aktif mencari. mengumpulkan informasi dan menganalisis informasi-informasi yang diperoleh untuk menemukan kemungkinan adanya kecurangan dan kejahatan. Berdasarkan hasil audit tersebut.1. dari pengaduan masyarakat. Selain itu Audit investigatif yang bersifat proaktif juga dapat menemukan kejahatan yang sedang atau masih berlangsung sehingga pengumpulan bukti untuk penyelidikan. Hasil dari suatu audit investigatif.

Menelaah dokumen yang meliputi kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. f. prosedur. Program ini disusun dengan tujuan untuk memperoleh alat bukti yang memadai guna memperkuat adanya: a Penyimpangan yang merupakan unsur melawan hukum. Menurut arus dana masuk dan keluar rekening organisasi. d. orang lain atau suatu badan atau korporasi.2. m.3 Hal-hal Yang Dilakukan (kompetensi) Seorang Auditor Investigasi a. g. Memahami kebijakan. j. bisa dilakukan dengan sengaja atau akibat kelalaian dalam menjalankan kewajiban atau tugas b c pokok dan fungsi. Menurut arus dokumen yang mendukung transaksi-transaksi.4 Penyusunan Program Audit Investigasi Disusun berdasarkan hasil telaahan informasi awal dan resume pengembangan informasi yang dirinci dalam beberapa langkah yang bersifat umum dan fleksibel. n. Mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti. Melakukan evaluasi atas system pengendalian intern. Menguji situasi organisasi di bidang motivasi dan etika.2. l.2. perdata atau asuransi. b. Merancang scenario kerugian dari indikasi kecurangan yang telah terjadi berdasarkan kelemahan system pengendalian intern yang telah teridentifikasi. c. Mengidentifikasi situasi yang mencurigakan dan tidak biasa dalam pembukuan/ laporan. Mendapatkan dokumen pendukung yang mendasari transaksi yang mencurigakan. praktek manajemen. 18 . Mengidentifikasi transaksi-transaksi yang mencurigakan dan tidak biasa. Unsur yang merugikan keuangan negara dan perekonomian negara. k. administrasi dan organisasi. Unsur memperkaya diri. e. i. 2. Membedakan antara kesalahan manusia (Human error) biasa dan kelalaian dengan indikasi kecurangan. Mendokumentasikan dan melaporkan suatu kegiatan yang berindikasi kecurangan (korupsi) untuk tuntutan kriminal. h. Menentukan kekuatan dan kelemahan system pengendalian intern.

c Wawancara Tehnik audit dengan tanya jawab ( lisan/tertulis ) untuk memperoleh pembuktian. Cara umum tehnik-tehnik audit investigasi hampir sama dengan audit keuangan maupun audit kinerja yaitu diarahkan untuk mendapatkan bukti-bukti. Kadang observasi dikaitkan dengan melihat dari jarak jauh atau tanpa didasari oleh pihak yang diamati. untuk memperoleh pembuktian atas sesuatu keadaan atau sesuatu masalah. e Analisa Memecahkan atau menguraikan sesuatu keadaan atau masalah ke dalam beberapa bagian atau elemen dan memisahkan bagian tersebut untuk dihubungkan dengan keseluruhan atau dibandingkan dengan yang lain. d Konfirmasi Adalah pembuktian dengan mengusahakan informasi dari sumber lain yang independen.5 Pelaksanaan Program Dan Tehnik-tehnik Audit Investigasi Tehnik audit yang tepat perlu dikembangkan dan dituntut untuk seorang audit investigasi.2. baik secara lisan maupun tertulis. yang dilakukan secara kontinyu selama kurun waktu tertentu untuk memperoleh pembuktian atas sesuatu keadaan atau masalah. karena tergantung kondisi dan hasil pengembangan di lapangan. Tehnik audit yang dapat digunakan diantaranya : a Inspeksi ( peninjauan ) Memeriksa dengan menggunakan panca indera terutama mata. 19 . b Observasi ( pengamatan ) Memeriksa dengan menggunakan panca indera terutama mata. namun karena audit ini lebih ditujukan kepada aspek hukum maka upaya pengungkapan kejadian diharapkan lebih pasti atau dengan lain perkataan tingkat keyakinan bukti yang diperoleh harus diterima oleh aspek hukum.2. Pengembangan kreatifitas ini perlu karena pada kenyataannya kasus yang berindikasi kecurangan sulit dipolakan secara tegas.

penjumlahan. i Penelusuran ( trasir ) Kegiatan yang dilakukan dengan jalan menelusuri proses suatu keadaan atas suatu masalah kepada sumber atau bahan pembuktiannya. h Rekonsiliasi Penyesuaian antara dua golongan data yang berhubungan tetapi masing-masing dibuat oleh pihak-pihak yang independen ( terpisah ). g Perbandingan Usaha untuk mencari kesamaan dan perbedaan antara dua dan lebih gejala/fenomena. pemilikan dan eksistensinya. Verifikasi adalah audit atas ketelitian perkalian. yaitu apakah data tersebut menyimpang secara signifikan dibandingkan dengan data hisoris. l Review analitis Prosedur review analitis dapat digunakan mendeteksi area dengan tingkat resiko yang tinggi untuk terjadi penyimpangan pelaporan keuangan. atau yang tidak lazim atau disangsikan kebenarannya. Misal membaca dengan cepat setiap lembaran catatan perusahaan untuk menemukan hal-hal penting. ratio analitis dan modeling techniques. Ada tiga jenis utama prosedur analitis : trend analitis. Trend analisis digunakan untuk menguji trend saldo akun atau perkiraan berbagai dasar untuk menentukan apakah data periode berjalan secara potential salah buku (misstated). j Perhitungan kembali ( rekomputasi ) Menghitung kembali kalkulasi yang telah ada untuk menetapkan kecermatannya.f Vouching dan verifikasi ( audit bukti tertulis ) Memeriksa ke-autentik-an dan kelengkapan bukti yang mendukung suatu transaksi. 20 . k Penelaahan pintas ( scanning ) Melakukan penelaahan secara umum dan cepat untuk menemukan hal-hal yang memerlukan audit lebih lanjut.

quik ratio. di mana hasil ini biasanya telah diklarifikasi dan dibacakan ulang kepada si auditee.6 Hasil Investigasi Hasil audit investigasi tidak boleh dibocorkan kepada pihak yang tidak berhak mengetahuinya. agar auditee mengerti sejauh mana investigasi dan eksaminasi dilakukan dan hasil yang didapatkan. Analisis ratio. flowchart modus operandi beserta uraiannya. Pemaparan berisikan antara lain : resume dan kasus posisi. Hasil audit investigasi dapat dianggap dan digunakan sebagai bukti awal untuk menunjang suatu pembuatan BAP oleh kepolisian atau kejaksaan atau bukti pendahuluan bagi Komisi Pemberantasan Korupsi bila memang suatu fraud diduga terjadi yang mengarah kepada suatu peristiwa kriminal atau crime acts. Misal current ratio. dalam hal ini adalah korupsi. Hasil atau kesimpulan sementara ini akan disikusikan dengan bos sang auditor sebelum dibuatkan keputusan final dan keputusan final hasil audit yang disebut executive summary akan dibuat oleh kepala audit kepada siapa sang auditor bertanggung jawab. merupakan prosedur analisis secara serentak dua atau lebih akun laporan keuangan.Tehnik analisis kecenderungan bervariasi. m Pemaparan Adalah tindakan untuk menjelaskan temuan audit agar diperoleh gambaran secara jelas dan sistematis. 21 . Disebut keperluan internal karena sang auditor terikat dengan audit metodologi dengan melaporkan apa adanya suatu hasil investigasi dan auditor free to comment kepada atasannya dalam mengemukakan pendapatnya sebagai seorang auditor berdasarkan temuan dan dikategorikan preliminary summary (hasil sementara).2. 2. cash ratio dan debt equity ratio. Dari mulai perbandingan 2 periode sampai dengan time-series model. Analisis ini adalah prosedur analitis yang paling umum digunakan.

seorang fraud auditor harus mempunyai pengetahuan yang cukup. dan selayaknya seorang fraud auditor adalah seorang auditor yang telah diakui kecakapannya dengan mengantongi CFE (Certified Fraud Examiner) yang dikeluarkan Instute of Internal Auditor (IIA) melalui tahapan penguasaan beberapa modul yang telah dipersyaratakan secara internasional. termasuk perlindungan bagi saksi suatu perkara. bila diminta. seperti kejaksaan. inventaris barang. di samping pekerjaannya penuh risiko ancaman dari terperiksa. Kesimpulan akhir dari audit investigasi akan disampaikan kepada lembaga yang berwenang. Untuk itu memang sangat diperlukan undang-undang proteksi bagi seorang fraud auditor. Apabila hal tersebut dilakukannya. 22 . Boleh dikatakan fraud auditor adalah orang suci yang bergeming dengan tawaran yang mungkin diberikan oleh daerah terperiksa. komite anti korupsi. Jika terdapat indikasi positif. Selayaknya imbalan atau gaji seorang fraud auditor harus sepadan dengan risiko pekerjaannya karena sejarah mencatat di mana pun di dunia ini seorang fraud auditor selalu menghadapi risiko terhadap pekerjaannya. Seorang fraud auditor tidak boleh melakukan deal dengan sang auditee menyangkut hasil audit investigasi ataupun dengan orang lain yang berkepentingan dengan hasil audit. kepolisian. Analisis fraud adalah merupakan tanggung jawab internal auditor untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya kecurangan melalui pemeriksaan data laporan keuangan dan terjadinya penyimpangan dalam proses tender. dan dapat juga pada sistem penggajian.Audit investigasi adalah sebuah pekerjaan profesional atau expert works. Oleh karena itu. dengan mengikuti aturan main atau undang-undang yang dibuat untuk itubilamana ada-oleh kepala atau manajer audit setelah sebelumnya dilakukan penjelasan kembali (debriefing) dengan pihak atau atasan dari si auditee. selanjutnya dilakukan pemeriksaan menyeluruh yang akan dilakukan oleh seorang fraud auditor. di mana kegiatan ini disebut dengan audit investigasi. bergantung pada besar kecilnya suatu pemeriksaan yang dilakukannya. dia dapat dikenai sangsi sesuai aturan yang ada untuk itu. sistem perpajakan.

Kumpulkan bukti – bukti dengan prinsip kehati – hatian (due care) sehingga bukti – bukti tadi dapat diterima di pengadilan 3. dalam pekerjaan audit. Pastikan bahwa para investigatormengerti hak – hak asasi pegawai dan senantiasa menghormatinya 5. dan pihak – pihak lain dapat mengukur kerja si auditor. dan pada penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut. Pastikan seluruh dokumentasi dalam keadaan aman. pihak yang memakai laporan audit. termasuk perencanaan pengumpulan bukti dan barang bukti. kewajiban hukum. standar adalah ukuran mutu. Beban pembuktian ada pada yang menduga pegawainya melakukan kecurangan. Standar – standar ini akan dijelaskan di bawah dengan konteks Indonesia : Standar 1 Seluruh investigasi harus dilandasi praktik – praktik terbaik yang diakui (accepted best practice). melibatkan / dan atau melapor ke polisi. Oleh karena itu. ikut tata cara atau protokol. Standar tersebut adalah : 1. Konteks yang mereka rajuk adalah investigasi atas fraud yang dilakukan oleh pegawai di perusahaan. baik dalam kasus hukum dan administratif maupun hukum pidana 6.2. kontakdengan pihak ketiga . Dengan standar ini pihak yang diaudit (auditee). para auditor ingin menegaskan adanya standar tersebut. dan persyaratan mengenai pelaporan.H Spencer Picket dan Jennifer Picket merumuskan beberapa standar untuk melakukan investigasi terhadap fraud. Dalam istilah ini tersirat dua hal. Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigasi.2. wawancara.7 Standar Audit Investigatif Secara sederhana. pengamanan mengenai hal – hal yang bersifat rahasia. Pertama. Seluruh investigasi harus dilandasi praktik yang diakui (accepted best practices) 2. K. Cakup seluruh substansi investigasi dan kuasai seluruh target yang sangat kritis ditinjau dari segi waktu 7. dokumentasi dan penyelenggara catatan. adanya upaya 23 . terlindungi dan diindeks dan jejak audit tersedia 4.

kita menghadapi keterbatasan waktu. dan persyaratan mengenai pelaporan. Dalam menghormati asas praduga tidak bersalah. upaya benchmarking dilakukan terus menerus untuk mencari solusi terbaik. Kalau investigasi dilakukan dengan cara yang melanggar hak asasi pegawai yang bersangkutan dapat menuntut perusahaan dan investigatornya. pengamanan mengenai hal – hal yang bersifat rahasia. Standar 2 Kumpulkan bukti – bukti dengan prinsip kehati – hatian (due care) sehingga bukti – bukti tadi dapat diterima di pengadilan. Kedua. baik dalam kasus hukum administrasi maupun kasus pidana. Standar 6 Cakup seluruh substansi investigasi dan kuasai seluruh target yang sangat kritis ditinjau dari segi waktu. terlindungi dan diindeks dan jejak audit tersedia. 24 .membandingkan antara praktik – praktik yang ada dengan merujuk kepada yang terbaik pada saat itu. kontak dengan pihak ketiga. Standar 3 Pastikn bahwa seluruh dokumentasi dalam keadaan aman. Standar 5 Beban pembuktian ada pada perusahaan yang menduga pegawainya melakukan kecurangan. Dokumentasi ini diperlukan sebagai referensi apabila ada penyelidikan di kemudian hari untuk memastikan bahwa investigasi sudah dilakukan dengan benar Standar 4 Pastikan bahwa para investor mengerti hak – hak asasi pegawai dan senantiasa menghormati. kewajiban hokum. dokumentasi dan penyelenggaraan catatan. Standar 7 Liput seluruh kunci dalam proses investigasi. Upaya ini disebut benchmarking. termasuk perencanaan. ikuti tata cara atau protocol.. wawancara. pengumpulan bukti dan barang bukti. Dalam melakukan investigasi. dan pada penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut. hak dan kebebasan seseorang harus dihormati. keterlibatan polisi.

menganalisis.BAB III PENUTUP 3. dan mengevaluasi materi bukti dan menginterpretasi serta mengkomunikasikan hasil dari temuan tersebut. perumusan perhitungan ganti rugi dan upaya menghitung dampak pemutusan / pelanggaran kontrak. dan juga bisa berperan dalam bidang hukum diluar pengadilan (non litigation). keuangan. penelitian. dan keterampilan investigatif dalam mengumpulkan bukti. auditing. metode-metode kuantitatif. bidangbidang tertentu dalam hukum. Meskipun demikian Akuntan forensik juga mempraktekkan keahlian khusus dalam bidang akuntansi. Akuntan forensik bertugas memberikan pendapat hukum dalam pengadilan (litigation). Misalnya dalam membantu merumuskan alternatif penyelesaian perkara dalam sengketa.1 Kesimpulan Akuntan Forensik adalah Akuntan yang menjalankan kegiatan evaluasi dan penyelidikan. 25 . dari hasil tersebut dapat digunakan di dalam pengadilan hukum.

26 . Theodorus M. 2012.DAFTAR PUSTAKA Tuanakotta. Akuntansi Forensik & Audit Investigatif. Jakarta: Salemba Empat.org diakses pada 6 Desember 2015. http://www.antikorupsi.

MAKALAH SEMINAR AKUNTANSI AKUNTANSI FORENSIK DAN AUDIT INVESTIGATIF DISUSUN OLEH : JURUSAN ILMU AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2016 27 .