You are on page 1of 93

1

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH


Perkembangan teknologi dewasa ini berkembang semakin cepat. Salah satu
tujuan pengembangan teknologi adalah mengurangi keterbatasan manusia di dalam
meningkatkan kualitas hidup dan kenyamanan kehidupan. Salah satu bukti bahwa
perkembangan teknologi tersebut mampu menunjang kehidupan adalah hasil
teknologi tersebut dapat dipergunakan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas,
ketelitian, dan keamanan kerja terhadap peralatan-peralatan yang digunakan.
Seiring perkembangan industri elektronika yang disertai dengan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), maka dunia elektronika telah mampu
memasuki kemajuan seperti sekarang ini, ketika segala macam produk elektronika
ataupun peralatan industri dikembangkan dengan sistem digital dan dikendalikan
dengan

komputer. Dengan era digital dan komputer tersebut, pengaturan, dan

pengendalian segala macam peralatan elektronika dan industri lainnya menjadi


maksimal, serba otomatis, dan handal.
Untuk mencapai maksud seperti di atas, maka peralatan-peralatan yang
digunakan harus mempunyai kriteria tertentu, seperti ketelitian, ketahanan,
kemudahan pengoperasian, dan kualitas hasil alat tersebut, sehingga akan dihasilkan
produk yang akurat dan aman.

Sejalan dengan perkembangan teknologi terutama di bidang telekomunikasi,


maka penulis mencoba membuat suatu sistem kendali speaker jarak-jauh melalui jalajala listrik. Penempatan speaker unit pada ruang yang berbeda dengan unit penguat
lazimnya akan membutuhkan kabel yang cukup panjang dan penataan instalasi kabel
yang baik agar kabel yang dipasang terlihat rapi, bahkan tidak terlihat, dan
menghasilkan suara yang baik. Salah satu solusinya adalah menggunakan kabel yang
sudah ada, yaitu kabel instalasi listrik.

2. BATASAN MASALAH
Sistem kendali speaker jarak-jauh melalui jala-jala listrik ini merupakan
sistem pengiriman sinyal audio dari penguat, radio, atau player melalui jala-jala
listrik yang sebelumnya dimodulasi secara FM. Sistem ini cocok digunakan untuk
trasmisi sinyal audio, yang memerlukan kualitas yang baik, seperti musik atau
pembicaraan.
Pada sistem kendali speaker jarak-jauh melalui jala-jala listrik ini akan
dibahas sinyal input, output, jala-jala listrik, transmitter dan receiver FM. Sistem ini
dapat dioperasikan di mana saja sebatas di dalam rumah atau gedung asalkan ada
outlet jala-jala listrik dengan fase sama.

3. TUJUAN PENULISAN
Penulisan tugas akhir ini bertujuan seperti berikut:
1. Memenuhi salah satu persyaratan kelulusan dalam menempuh
pendidikan Program Ekstensi Sarjana Teknik Elektro, Fakultas
Teknik, Universitas Gadjah Mada.
2. Memanfaatkan jala-jala listrik untuk mengontrol speaker secara jarakjauh.
3. Menambah pengetahuan dan pengalaman penulis dalam perancangan
dan

pembuatan

rangkaian

elektronika

khususnya

di

bidang

telekomunikasi dan kontrol.

4. METODOLOGI PENULISAN
Metode penulisan tugas akhir terdiri atas tiga bagian berikut.
a. Studi literatur;
dilakukan untuk mengumpulkan dan mempelajari bahan-bahan
pustaka yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi.
b. Perancangan alat;
dilakukan dengan perancangan dan implementasi perangkat-keras
yang meliputi input, output, transmitter dan receiver FM.
c. Pengujian alat;
dilakukan untuk menguji alat yang telah dibuat apakah telah bekerja
baik dan sempurna.

5. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan Tugas Akhir ini sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Latar belakang masalah, tujuan penulisan, batasan masalah,
metodologi penulisan, sistematika penulisan.

BAB II : TEORI DASAR


BAB III : KOMPONEN DAN PERANCANGAN ALAT
BAB IV : PENGAMATAN DAN ANALISIS
BAB V : PENUTUP

BAB II
TEORI DASAR

1. Modulasi Gelombang Kontinyu (Continuous Wave Modulation)


Tujuan suatu sistem komunikasi adalah mengirim sinyal informasi melalui
suatu channel komunikasi bila posisi transmitter dengan receiver mempunyai tempat
yang terpisah. Sinyal-sinyal informasi dalam ilmu komunikasi dinamakan sinyalsinyal bidang dasar (baseband signals). Sinyal baseband ini mempunyai lebar bidang
frekuensi yang mewakili sinyal-sinyal asli dan merupakan sumber informasi. Tujuan
channel komunikasi adalah untuk menggeser kisar frekuensi baseband ke frekuensi
lain yang digunakan untuk pengiriman informasi, dan pada receiver sinyal yang telah
digeser tersebut dikembalikan dengan cara menggeser kembali ke frekuensi asal
seperti keadaan sebelum digeser. Sebagai contoh, suatu sistem radio bekerja pada
frekuensi 30 kHz dan diatasnya, sedang sinyal baseband berada pada range frekuensi
audio, sehingga sinyal baseband tersebut bergeser pada frekuensi yang berada pada
sistem radio tersebut. Pergeseran frekuensi ini dilakukan dengan suatu proses
modulasi, ketika parameter sinyal carrier berubah-ubah menurut perubahan sinyal
pemodulasi (sinyal informasi). Secara umum bentuk sinyal carrier adalah gelombang
sinusoidal sedangkan sinyal informasi yang berupa suara adalah gelombang kontinyu.
Sinyal baseband ini disebut sebagai gelombang pemodulasi (modulating wave)
sedangkan hasil proses modulasi disebut sebagai gelombang termodulasi (modulated
wave).

Modulasi merupakan proses terakhir dari pengiriman informasi yang


digunakan pada sistem komunikasi. Sedangkan pada receiver proses akhirnya adalah
mendapatkan kembali sinyal baseband (informasi) yang asli untuk diterima oleh user.
Proses penerimaan diketahui sebagai proses demodulasi (demodulation) yang
merupakan kebalikan proses modulasi (modulation).
Gambaran dasar diagram blok pemrosesan sinyal, adalah pemancar pada
sistem komunikasi analog yang berupa modulator dan penerima yang berupa
demodulator seperti Gambar II.1 berikut:

Sinyal
informasi

Modulator

Gelombang carrier
sinusoidal

Gelombang
termodulasi

Output
channel

Demodulator

(a)

Sinyal informasi
yang diterima

(b)

Gambar II.1 Komponen sistem modulasi gelombang kontinyu


(a) Transmitter dan (b) receiver

Bentuk gelombang output pada sistem modulasi gelombang kontinyu yang dikenal
dengan istilah modulasi amplitude (amplitude modulation/AM) dan modulasi sudut
(angle modulation) diperlihatkan pada Gambar II.2.

(a)

(b)

(c)

t
(d)

Gambar II.2 Sinyal AM dan FM (a) sinyal pembawa, (b) sinyal pemodulasi, (c)
sinyal AM, (d) sinyal FM

Pada Gambar II.2 bagian (a) dan (b) menampilkan bentuk sinyal carrier dan
sinyal informasi, sedangkan (c) dan (d) menampilkan perbedaan antara sinyal
termodulasi amplitude (AM) dan sinyal termodulasi frekuensi (FM), sedang sinyal
termodulasi frekuensi merupakan bentuk modulasi sudut (angle modulated).

2. Modulasi Frekuensi (FM)


Didalam modulasi frekuensi (frequency modulation/FM) kombinasi antara
sinyal pemodulasi (informasi) dengan sinyal carrier menyebabkan output dari
modulator FM mempunyai frekuensi yang bermacam-macam menurut amplitude
sinyal pemodulasi. Gambar II.3 menunjukkan diagram blok transmitter FM, tampak
sinyal pemodulasi diberikan pada komponen variable capasitor (varicap) sehingga
nilai resistansnya berubah-ubah. Output dari varicap ini kemudian dihubungkan ke
bagian osilator yang merupakan pembangkit beberapa frekuensi tergantung pada
besarnya output varicap ini. Bila tanpa modulasi rangkaian osilator ini akan
membangkitkan frekuensi center yang stabil. Bila modulasi diterapkan, maka varicap
akan menyebabkan frekuensi dari osilator berubah-ubah sekitar frekuensi center
menurut perubahan amplitude sinyal pemodulasi.
Output osilator ini kemudian masuk ke bagian frequency multiplier (pengali
frekuensi) untuk menambahkan atau mengurangi besarnya frekuensi yang terdapat
pada bagian frequency multiplier ini, dan selanjutnya diberikan ke baian power
amplifier untuk dipancarkan.

Frequency
Multiplier

Power
Amplifier

Sinyal pemodulasi
(informasi)
Osilator

Varicap

Gambar II.3 Diagram blok transmitter FM

2.1. Spektrum FM
Bentuk gelombang hasil modulasi frekuensi berupa sinyal termodulasi
frekuensi, yaitu mempunyai amplitude tetap dengan besar frekuensi yang berubahubah atau mengasilkan banyak frekuensi. Bentuk gelombang termodulasi frekuensi
ini akan mempunyai spektrum frekuensi dengan frekuensi yang cukup banyak atau
mempunyai sinyal sideband hanya satu atau lebih dari satu. Banyaknya frekuensi
pada hasil proses modulasi FM ini menentukan besarnya bandwidth dari suatu
transmitter FM yang menyatakan lebar tempat kedudukan suatu transmitter. Maka
semakin banyak sinyal sideband yang dihasilkan oleh transmitter FM, maka semakin
besar juga range frekuensi yang digunakan oleh transmitter FM tersebut.

10

Pada sistem modulasi FM juga dikenal istilah index modulasi seperti yang
digunakan pada sistem modulasi AM, tetapi fungsi pengaturan index modulasi disini
berbeda dengan yang digunakan pada sistem AM, yaitu pada sistem FM fungsi indeks
modulasi adalah untuk mengatur bandwidth frekuensi, sedangkan pada sistem AM
adalah untuk mengetahui atau mengatur kualitas sinyal termodulasi AM yang akan
dipancarkan. Dalam pengaturan bandwidth untuk modulasi FM dikenal dua istilah,
yaitu NBFM (narrow band FM) dan WBFM (wideband FM). NBFM mempunyai
index modulasi lebih kecil atau sama dengan 0,2 dan sebaliknya untuk WBFM
mempunyai index modulasi lebih besar dari 0,2. Gambar 2.4 menunjukkan pengaruh
perubahan index modulasi yang berupa perubahan bentuk spektrum frekuensi dan
secara pendekatan numeris berdasarkan grafik atau tabel fungsi Bessel seperti
Gambar II.5 atau Tabel II.1

=2

=0.5

=1

Gambar II.4 Tiga spektrum sinyal FM dengan indek modulasi berbeda.

11

1.0
0.8

Jo()

0.6
0.4
Jn()

J1()
J2()
J3()
J4()

0.2
0

10

12

14

16

18

-0.2
-0.4

Gambar II.5 Grafik fungsi bessel

Tabel II.1 Angka-angka fungsi bessel


n\
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

1
0.7652
0.4401
0.1149
0.01956
0.002477

2
0.2239
0.5767
0.3528
0.1289
0.03400
0.007040
0.001202

3
-0.2601
0.3391
0.4861
0.3091
0.1320
0.04303
0.01139
0.002547

4
-0.3971
-0.06604
0.3641
0.4302
0.2811
0.1321
0.04909
0.01518
0.004029

Jn()
5
-0.11776
-0.3276
0.04657
0.3648
0.3912
0.2611
0.1310
0.05338
0.01841
0.005520
0.001458

6
0.1506
-0.2767
-0.2429
0.1148
0.3576
0.3621
0.2458
0.1296
0.05653
0.02117
0.006964
0.002048

7
0.3001
-0.004683
-0.3014
-0.1676
0.1578
0.3479
0.3392
0.2336
0.1280
0.05892
0.02354
0.003335
0.002656

8
0.1717
0.233346
-0.1130
-0.2911
-0.1054
0.1858
0.3376
0.3206
0.2235
0.1263
006077
0.02560
0.009624
0.003275
0.001019

9
-0.09033
0.2453
0.1448
-0.1809
-0.2655
-0.05504
0.2043
0.3275
0.3051
0.2149
0.1247
0.06222
0.02739
0.01083
0.003895
0.001286

10
-0.2459
0.04347
0.2546
0.05838
-0.2196
-0.2341
-0.01446
0.2167
0.3179
0.2919
0.2075
0.1231
0.06337
0.02397
0.01196
0.004508
0.001567

12

Dari bentuk spektrum yang ada dapat diketahui besarnya bandwidth untuk
modulasi FM, yaitu dengan rumus bandwidth (BW)=2fmn, dengan n adalah
banyaknya sinyal sideband yang dihasilkan proses modulasi dan fm adalah frekuensi
informasi. Sedangkan persamaan dari sinyal termodulasi frekuensi adalah:
eFM(t) = A cos[2fct+ sin(2fmt)]

f
fm

menurut aturan Carlson lebarbidang (BW) sinyal termodulasi frekuensi dirumuskan,


BW 2(+1)fm = 2(f+ fm)
dengan :

eFM(t) = bentuk sinyal termodulasi FM


A

= amplitude sinyal carrier

fm

= frekuensi sinyal informasi

fc

= frekuensi sinyal carrier

= index modulasi

2.2. Penerima FM
Penerima FM berfungsi untuk mendapatkan kembali sinyal informasi dari
sinyal termodulasi frekuensi yang telah diterima. Pada sistem ini menggunakan
teknik PLL (phase locked loop) yang merupakan pengunci atau menyamakan phase
suatu sinyal yang diterima, yaitu dengan cara membandingkan sinyal yang diterima
(sinyal termodulasi frekuensi) dengan sinyal hasil proses looping dari rangkaian PLL
itu sendiri. Hasil proses membandingkan ini berupa nilai amplitudo dari sinyal
informasi, yaitu bila sinyal termodulasi frekuensi mempunyai frekuensi yang lebih

13

tinggi dari frekuensi sinyal hasil proses looping, maka amplitude sinyal output PLL
akan naik, dan sebaliknya. Diagram blok dari PLL seperti terlihat pada Gambar II.6.

Output PLL (sinyal informasi)

Sinyal
termodulasi
frekuensi

Phase
comparato
r

Loop Filter

Voltage controlled
oscillator (VCO)

fo

Gambar II.6 Diagram blok PLL

Pada Gambar II.6, phase comparator berfungsi sebagai pembanding antara


sinyal termodulasi frekuensi dengan sinyal fo, kemudian diberikan ke bagian loop

filter untuk diperoleh tegangan dc yang merupakan output dari PLL. Sedangkan
bagian VCO (voltage controlled oscillator) berfungsi sebagai pengubah tegangan dc
yang merupakan output loop filter menjadi suatu sinyal yang mempunyai frekuensi
tertentu.

3. Penguat Diferensial
Komponen-komponen praktis pada IC monolitik hanya transistor, diode, dan
hambatan. Kapasitor telah dibuat di atas serpihan, tetapi biasanya kurang dari 50 pF.

14

Jadi perancang IC tak dapat menggunakan kapasitor penggandeng dan pintas seperti
yang dapat dilakukan perancang sistem diskret. Sebagai gantinya tahapan-tahapan
pada IC monolitik harus digandeng langsung, yang paling baik adalah penguat
diferensial (differential amplifier). Penguat ini banyak digunakan sebagai tahapan
masuk dari penguat operasional (op-amp). Rangkaian penguat diferensial ini sangat
penting karena dapat menentukan karakteristik masukan dari penguat operasinal yang
lazim.
Fungsi suatu penguat diferensial pada umumnya adalah untuk memperkuat
selisih antara dua sinyal. Kebutuhan akan penguat diferensial timbul dalam banyak
proses pengukuran fisis yang memerlukan tanggapan dari dc sampai ukuran
megahertz. Sistem ini juga merupakan tahapan dasar dari suatu penguat operasional
terpadu dengan masukan diferensial.

3.1. Masukan dan Keluaran Berujung Ganda


Rangkaian penguat diferensial dasar dan simbulnya diperliahatkan pada
Gambar II.7, yang memperlihatkan bentuk penguat diferensial yang paling umum.
Rangkaian ini mempunyai dua masukan, Vin1 dan Vin2. Karena digandeng langsung,
sinyal masukannya dapat mempunyai frekuensi sampai nol, artinya sama dengan dc.
Tegangan keluaran Vout adalah tegangan diantara kolektor-kolektornya. Idealnya
rangkaian ini bersifat simetris, dengan transistor dan tahanan yang sama. Akibatnya
tegangan keluaran berharga nol bila masukannya bernilai sama dan sefase.

15

1
input
2

(a) rangkaian

+
-

1
output
2

(b) simbol

Gambar II.7 Penguat diferensial dasar

3.2. Operasi Dasar


Meskipun penguat operasional secara khusus tersusun lebih dari satu tingkat
penguat diferensial, namun kita akan menggunakan satu tingkat penguat diferensial
untuk mengilustrasikan dasar pengoperasiannya.
Kondisi pertama, ketika kedua input (Vin1 dan Vin2) dihubungkan ke tanah (0
V) maka tegangan-tegangan emiternya adalah 0,7 V. seperti terlihat pada Gambar
II.8(a). Hal ini diasumsikan bahwa kedua transistor secara identik match, sehingga
arus-arus emiter dc-nya sama ketika tidak ada input.
IE1 = IE2
Karena kedua arus merupakan kombinasi atas RE
IE1 = IE2 =
dengan

IRE
2

16

IRE =

VE VEE
RE

Berdasarkan pendekatan IC = IE, maka dapat dinyatakan bahwa


IC1 = IC2 =

IRE
2

karena kedua arus kolektor dan kedua resistornya adalah sama (ketika tegangan input
sama dengan nol)
VC1 = VC2 = VCC - IC1RC1
kondisi ini diilustrasikan pada Gambar II.8(a).
Kondisi kedua, jika input 2 dihubungkan ke tanah dan tegangan bias positif
dimasukkan ke input 1, seperti Gambar II.8(b). Teganngan positif pada basis
transistor 1 (Q1) akan menaikkan arus kolektor 1 (IC1) dan menaikkan tegangan
emiter. Hal ini akan mengurangi bias maju (VBE) dari Q2 karena basisnya
dihubungkan ke tanah, sehingga menyebabkan arus kolektor 2 (IC2) menurun.
Kenaikan arus kolektor 1 (IC1) menyebabkan penurunan tegangan kolektor 1 (VC1)
dan penurunan arus kolektor 2 (IC2) menyebabkan menaiknya tegangan pada kolektor
2 (VC2).
Kondisi ketiga, jika input 1 dihubungkan ke tanah dan tegangan bias positif
dimasukkan ke input 2, seperti terlihat pada Gambar II.8(c). Tegangan bias positif
akan menyebabkan transistor 2 (Q2) untuk terhubung sehingga menyebabkan arus
kolektor 2 (IC2) naik, begitu juga dengan tegangan emiternya. Hal ini mengurangi bias
maju Q1 karena basisnya dihubungkan ke tanah dan menyebabkan arus kolektor 1

17

(IC1) untuk turun. Jadi membuat Vin1 = 0 dan Vin2 = +V pada penguat difernsial
akan menghasikan kanaikan pada IC2 yang menghasilkan turunnya tegangan pada VC2
dan turunnya IC1 menyebabkan naiknya VC1.

(a)

(b)

(c)
Gambar II.8 Pengoperasian penguat diferensial (a) kedua Vin = 0V, (b) Vin1 = +V,
Vin2 = 0V, (c) Vin1 = 0V, Vin2 = +V

18

3.3. Mode-Mode Pengoperasian Sinyal


3.3.1. Masukan berujung tunggal
Ketika penguat diferensial dioperasikan dalam mode ini, salah satu
masukannya dihubungkan ke tanah dan masukan yang lain diberi sinyal tegangan,
seperti terlihat pada Gambar II.9. Untuk kasus dimana masukan 1 diberi sinyal
tegangan, seperti pada bagian (a) maka pada keluaran 1 terlihat bahwa sinyal
tegangan dikuatkan dengan fase terbalik terhadap masukan (inverted). Pada emiter
transistor 1 juga terlihat sinyal tegangan yang sefase dengan sinyal input. Karena
emiter transistor 1 dan 2 terhubung bersama maka sinyal emiter ini menjadi masukan
bagi transistor 2, yang berfungsi sebagai penguat common-base. Sinyal masukan
transistor 2 ini akan menghasilkan sinyal keluaran 2 yang dikuatkan dengan fase yang
sama dengan sinyal masukan (noninverted). Prinsip keja ini terlihat pada Gambar
II.9(a).
Pada kasus dengan masukan 2 diberi sinyal tegangan dan masukan 1
dihubungkan ke tanah, seperti terlihat pada Gambar II.9(b), maka pada keluaran 2
akantampak sinyal tegangan yang telah dikuatkan dan berlawanan fase dengan
masukan 2 (inverted). Pada kondisi ini transistor 1 berfungsi sebagai penguat

common-base,

akibatnya sinyal keluaran 1 akan dikuatkan dan sefase dengan

masukannya (noninverted).

19

(a)

(b)
Gambar II.9 Penguat diferensial dengan input berujung tunggal

3.3.2. Masukan berbeda


Pada kasus ini dua sinyal yang berlawanan polaritas dimasukkan ke inputinputnya, seperti yang terlihat pada Gambar II.10(a). Tipe operasi ini sering disebut

20

dengan berujung ganda. Setiap input memberi efek terhadap output-outpunya, seperti
yang terlihat pada penjelasan berikut ini.
Gambar II.10(b) memperlihatkan sinyal-sinyal output pada saat input 1
bekerja sendiri seperti mode berujung tunggal. Sedangkan pada Gambar II.10(c)
memperlihatkan sinyal-sinyal output pada saat input 2 bekerja sendiri seperti mode
berujung tunggal. Terlihat pada bagian (b) dan (c) bahwa sinyal-sinyal pada output 1
mempunyai polaritas yang sama, begitu juga pada output 2. Dengan menggunakan
sistem superposisi maka antara sinyal-sinyal output 1 dan 2 diperoleh total operasi
diferensial seperti yang terlihat pada Gambar II.10(d).

(a) input yang berbeda


1

(c) output dari Vin2

(b) output dari Vin1


1

1
2

(d) output total dari input


yang berbeda

Gambar II.10 Operasi penguat diferensial

21

3.3.3. Masukan mode bersama


Salah satu aspek terpenting dari operasi penguat diferensial dapat dilihat pada
kondisi mode bersama, dimana dua tegangan sinyal dengan fase, frekuensi, dan
amplitude yang sama diaplikasikan pada kedua masukannya, seperti terlihat pada
Gambar II.11(a). Dengan memperhatikan hasilnya setiap sinyal masukan seperti
bekerja sendiri-sendiri.
Gambar II.11(b) memperlihatkan sinyal-sinyal keluaran yang hanya mendapat
sinyal input pada terminal 1, dan pada bagian (c) memperlihatkan sinyal-sinyal
keluaran yang mendapat masukan pada terminal 2. Terlihat pada bagian (b) dan (c)
sinyal-sinyal pada keluaran 1 mempunyai polaritas yang berkebalikan dan begitu juga
dengan keluaran 2. Ketika sinyal-sinyal masukan diaplikasikan pada kedua
masukannya, maka secara superposisi akan menghasilkan tegangan keluaran yang
mendekati nol seperti yang terlihat pada Gambar II.11(d).
Kondisi seperti ini disebut dengan common-mode rejection. Kepentingan ini
dapat dilihat pada situasi ketika sinyal yang tidak diinginkan muncul secara bersama
pada kedua input penguat diferensial. Common-mode rejection berarti sinyal yang
tidak diinginkan ini tidak akan muncul pada output yang akan mengganggu sinyal
yang diinginkan. Sinyal-sinyal mode bersama (noise) secara umum akibat dari garisgaris yang berdekatan atau sumber lain.

22

(a) masukan mode bersama

(c) keluaran dari Vin2

(b) keluaran dari Vin1

(d) keluaran terhapus ketika sinyal mode


bersama diaplikasikan

Gambar II.11 Operasi mode bersama dari penguat diferensial

3.4. Perbandingan penolakan mode bersama (Common-Mode Rejection Ratio,


CMMR)
Sinyal-sinyal yang diharapkan akan muncul jika hanya satu terminal masukan
yang mendapat sinyal masukan atau dengan cara memberi masukan pada kedua
terminal dengan polaritas yang berlawanan. Sinyal-sinyal yang diharapkan ini
kemudian dikuatkan dan muncul pada keluaran seperti yang telah didiskusikan
sebelumnya. Sinyal-sinyal yang tidak diharapkan (derau) muncul dengan polaritas
yang sama pada kedua terminal masukan dan secara esensial dihapus oleh penguat
diferensial sehingga tidak nampak pada keluaran. Ukuran kemampuan penguatan

23

terhadap penolakan sinyal mode bersama merupakan parameter yang disebut

common-mode rejection ratio (CMMR).


Secara ideal penguat diferensial menyediakan penguatan yang sangat tinggi
untuk sinyal-sinyal yang diharapkan (berujung tunggal atau masukan yang berbeda)
dan pengutan nol untuk sinyal-sinyal mode bersama. Namun secara praktis penguat
diferensial melakukan penguatan yang sangat kecil terhadap sinyal mode bersama
(biasanya kurang dari satu), akan tetapi menyediakan penguatan yang sangat tinggi
untuk sinyal yang diharapkan (biasanya beberapa ribu). Penguatan diferensial yang
lebih tinggi dengan merespek pada penguatan mode bersama merupakan unjukkerja
penguat diferensial yang lebih baik dalam rangka menolak sinyal mode bersama. Ini
memberi kesan bahwa ukuran baik dari penguat diferensial dalam penolakan sinyal
mode bersama yang tidak diharapkan merupakan perbandingan atas penguatan
diferensial, Av(d), terhadap penguatan mode bersama, Acm. Perbandingan ini disebut

common-mode rejection ratio,CMMR.


CMMR =

A v(d)
A cm

Semakin besar CMMR semakin baik, nilai CMMR yang tinggi berarti
penguatan diferensial, Av(d), tinggi dan penguatan mode bersama, Acm, kecil.

CMMR sering diekpresikan dalam bentuk desibel (dB),


CMMR = 20 log (

A v(d)
A cm

24

4. Pemicu Schmitt (Schmitt Trigger)

Schmitt trigger merupakan untai pembanding dengan umpanbalik positif,


untai ini sangat berguna pada saat masukan pembanding mengandung derau. Bila
masukan komparator mengandung derau maka keluarannya menjadi tidak teratur
pada saat Vin mendekati titik perpindahan. Misalnya, dengan detektor melitas nol
keluarannya tinggi bila Vin positif dan rendah bila Vin negatif. Bila masukan
mengadung tegangan derau dengan puncak 1 mV atau lebih maka pembanding akan
mendeteksi perlintasan nol yang disebabkan oleh derau. Hal yang sama terjadi bila
masukannya mendekati titik perpindahan dari detektor batas, derau menyebabkan
keluaran melompat-lompat diantara keadaan rendah dan tingginya. Pemicuan derau
ini dapat dihindari dengan menggunakan pemicu Schmitt, yaitu pembanding dengan
umpan balik positif.
Pemicu Schmitt mempunyai sifat yang istimewa, yaitu:
tegangan masukan yang mengakibatkan pensaklaran atau perubahan
tegangan keluar dari VOH menjadi VOL dan tegangan masukan yang
mengakibatkan perubahan tegangan keluaran dari VOL menjadi VOH tidak
sama, kedua tegangan tersebut dinamakan:

tegangan peralihan tinggi (upper trip voltage) = VUT

tegangan peralihan rendah (lower trip voltage) = VUL

4.1. Rangkaian dasar

25

Gambar II.12(a) memperlihatkan sebuah pemicu schmitt op-amp. Karena


adanya pembagian tegangan, maka kita memperoleh umpan balik tegangan positif.
Bila tegangan keluar mengalami kejenuhan positif, tegangan positif diumpankan
kembali ke masukan tak membalik, masukan positif ini akan menjaga keluaran pada
keadaan tinggi. Sebaliknya bila tegangan masuk mengalami kejenuhan negatif,
tegangan negatif diumpankan kembali ke masukan tak membalik, masukan negatif ini
akan menjaga keluaran pada keadaan rendah. Pada kedua kasus ini umpan balik
positif memperkuat keadaan keluaran yang ada.
Bagian umpanbalik adalah
B=

R2
R1 + R2

Bila keluaran mengalami kejenuhan positif, tegangan acuan yang diterapkan


pada masukan tak membalik adalah
Vacu = +BVjen
Bila keluarannya mengalami kejenuhan negatif, tegangan acuannya adalah
Vacu = -BVjen
Seperti yang ditunjukkan, tegangan-tegangan ini sama dengan titik-titik
perpindahan rangkaian UTP = +BVjen dan LTP = -BVjen.

26

Vout

+Vjen

-BVjen

BVjen

Vin

-Vjen

(a)

(b)

Gambar II.12 (a) Pemicu Schmitt membalik (b) Histeresis pada karakteristik transfer
(c) Pemicu schmitt tak membalik

Pada Vut dan Vlt pemicu Schmitt membalik tegangan peralihan terjadi pada
Vin = VA dengan perhitungan sebagai berikut.
VA =

R2
R1
Vout +
Vref
R1 + R2
R1 + R2

karena VUT terjadi pada keadaan awal dengan Vout = VOH maka
VUT =

R2
R1
VOH +
Vref
R1 + R2
R1 + R2

27

dan karena VLT terjadi pada keadaan awal dengan Vout = VOL maka

VLT =

R2
R1
VOL +
Vref
R1 + R2
R1 + R2

Keluarannya akan tetap pada keadaan yang diberikan sampai masukannya


melebihi tegangan acuan untuk keadaan itu. Misalnya bila keluarannya mengalami
kejenuhan positif, tegangan acuannya adalah +BVjen. Tegangan masuk Vin harus
dinaikkan sampai lebih sedikit dari +BVjen. Dengan demikian tegangan
kesalahannya berbalik polaritasnya dan tegangan keluarnya beralih ke keadaan
rendah, seperti yang diperlihatkan pada Gambar II.12(b). bila keluarannya berada
pada keadaan negatif ia akan tetap negatif sampai tegangan masuknya lebih negatif
dari BVjen. Pada saat itu keluarannya beralih dari negatif ke positif.

4.2. Histeresis
Umpan balik positif mengakibatkan efek yang tidak wajar pada rangkaian. Ia
menguatkan tegangan acuan agar mempunyai polaritas yang sama dengan tegangan
keluaran, tegangan acuan menjadi positif bila keluarannya tinggi dan negatif bila
keluaranya rendah. Itulah sebabnya mengapa terdapat titik perpindahan atas dan
bawah. Pada pemicu Schmitt perbedaan antara dua titik perpindahan disebut
histeresis. Karena adanya umpanbalik positif, karakteristik transfer mempunyai
histeresis yang terlihat pada Gambar II.12(b). Jika tidak ada umpan balik positif B
akan sama dengan nol dan histeresis akan hilang, karena kedua titik perpindahan akan

28

sama dengan nol. Namun disisni ada umpanbalik positif, dan menyebabkan titik-titik
itu tersebar seperti yang terlihat pada Gambar II.12(b).
Kadang-kadang histeresis dibutuhkan karena dapat mencegah kesalahan
pemicuan yang disebabkan oleh derau. Misalkan ada sebuah pemicu Schmitt tanpa
histeresis maka derau yang muncul pada masukan akan menyebabkan pemicu
Schmitt itu melompat-lompat secara acak dari keadaan rendah ke keadaan tinggi, dan
sebaliknya. Sekarang misalkan pemicu schmitt itu mempunyai histeresis, bila
tegangan derau puncak ke puncak lebih rendah daripada histeresis, derau itu tidak
akan pernah mampu menimbulkan pemicuan yang salah. Rangkaian dengan histeresis
yang cukup akan kebal terhadap pemicuan derau. Misalnya, bila UTP sama dengan
+1 V dan LTP sama dengan 1 V, derau pncak ke puncak yang kurang dari 2 V tak
dapat memicu rangkaian.

5. Lingkar Fase Terkunci (Phase-Locked Loop, PLL)


Lingkar fase terkunci (Phase-locked loop, PLL) merupakan suatu rangkaian
yang memberi kemungkinan sinyal acuan luar mengendalikan frekuensi dan fase
suatu osilator dalam suatu lingkar. Frekuensi osilator lingkar dapat sama besar atau
sebagai kelipatan frekuensi acuan. Kalau sinyal acuan datang dari osilator kristal,
frekuensi yang lain dapat dijabarkan dan mempunyai stabilitas yang sama dengan
frekuensi kristal, ini merupakan dasar pesintesis (synthesizer) frekuensi. Kalau sinyal
acuan mempunyai frekuensi yang berubahubah (seperti dalam gelombang
termodulasi frekuensi), frekuensi osilator lingkar akan mengikuti jejak frekuensi

29

masukan, prinsip ini digunakan dalam demodulator FM dan FSK, filter penjejak
(tracking), dan instrumentasi RF.

5.1. Penjelasan sederhana dari operasi PLL


Gambar II.13 menunjukkan komponen-komponen khas lingkar fase terkunci
(PLL). Dengan perumpamaan bahwa lingkar dalam keadaan terkunci, frekuensi
sinyal masuk dan osilator terkendali tegangan (VCO) identik (fs = fo) dan beda fase
realtif, d = s o, ditentukan oleh karakteristik detektor fase dan penyimpangan fs
dari frekuensi gerak bebas ff (yang didefinisikan dengan tegangan kendali Vd = 0)
dari VCO. Kalau sinyal masukan mempunyai fs = ff, tegangan kendali ke VCO tidak
diperlukan sehingga keluaran detektor fase yang diperlukan sama dengan nol. Fase o
pada VCO mengatur sendiri untuk menghasilkan beda fase d = s o, yang akan
menghasilkan keluaran nol pada detektor fase. Sudut d mungkin 90o atau 180o,
tergantung pada jenis rangkaian detektor fase.
Kalau frekuensi masuk berubah-ubah sehingga fs ff, beda fase d harus cukup
berubah untuk menghasilkan tegangan kendali Vd yang akan menggeserkan frekuensi
VCO fo = fs. Daerah frekuensi yang dimungkinkan untuk pengendalian tersebut
merupakan fungsi komponen-komponen lingkar.
Suatu pembagi frekuensi yang dapat dipilih dapat diselipkan dalam lingkar
antara titik a dan b dalam Gambar II.13. Kalau perbandingan pembagi sama dengan
n, frekuensi VCO fo = nfs, tetapi tegangan yang diumpan-balikkan ke detektor fase

30

mempunyai frekuensi fs. Dengan ini berarti VCO dapat membangkitkan kelipatan
frekuensi masuk dengan hubungan fase yang teliti antara dua tegangan.

Sinyal
Masuk
(Vs, fs, s)

Penguat dan
filter lewat
bawah

Detektor
Fase

Vo
a

Osilatro
terkendali
tegangan (VCO)

Vd

Keluaran VCO
(Vs, fs, d)
Gambar II.13 Komponen-komponen dasar lingkar fase terkunci (PLL)

5.2. Analisis linear lingkar fase terkunci


Penjelasan matematika tentang PLL berikut hanya berlaku kalau lingkarnya
terkunci, tetapi hal ini akan mengidentifikasi karakteristik tiap komponen lingkar dan
menunjukkan bagaimana mereka digabungkan untuk menghasilkan fungsi pindah
lingkar. Simbol-simbol yang digunakan ditunjukkan dalam Gambar II.14.

31

Sinyal
Masuk
(Vs, fs, s)

Detektor
Fase

Ve,fs fo

filter lewat
bawah
F(s)

(Vo, fo, o)

fs-fo

Penguat

Osilatro terkendali
tegangan (VCO)

Vd

Sinyal Keluar

Gambar II.14 Diagram lingkar fase terkunci yang digunakan untuk menunjukkan
simbol-simbol yang digunakan dalam analisis

5.3. Detektor fase


Dengan lingkar terkunci, keluaran frekuensi selisih dari detektor fase adalah
tegangan langsung Ve yang merupakan fungsi dari perbedaan fase d = s o. Kalau
frekuensi masuk fs sama dengan frekuensi gerak bebas dari VCO ff, tegangan kendali
Vd ke VCO harus nol, sehingga Ve harus nol. Dalam detektor fase yang sering
digunakan adalah Ve sinusoidal, segitiga, atau fungsi gigi-gergaji atas d dengan Ve
sama dengan nol kalau d sama dengan 90o untuk jenis sinusoidal dan segitiga, dan
180o untuk jenis gigi-gergaji. Untuk dapat membandingkan tiga jenis detektor
tersebut, lebih mudah menggambarkan Ve terhadap sudut tergeser e, sehingga Ve
akan sama dengan nol untuk e = 0 seperti dalam Gambar II.15. Dalam gambar ini e
= d 90o pada jenis sinusoidal dan segitiga, e = d 180o pada gigi-gergaji. Dengan
lingkar terkunci, sudut e tetap dalam batas 90o untuk lengkung sinusoidal dan

32

segitiga, dan 180o untuk lengkung gigi-gergaji. Kalau ayunan lebih besar dari nilai
ini, lingkar akan melompat ke siklus berikutnya atau tidak terkunci. Akibatnya
lingkar harus direncanakan untuk bekerja dengan ayunan fase yang kecil
dibandingkan nilai-nilai batas tersebut.

Ve

(a)

-/2
/2

(b)

-/2

/2

(c)
e

Gambar II.15 Karakteristik detektor fase, (a) sinusoidal, (b) segitiga, (c) gigi-gergaji

5.4. Filter lingkar


Filter lewat bawah (lowpass) dalam lingkar umumnya menggunakan salah
satu yang ditunjukkan pada Gambar II.16. Dengan filter pasif, Gambar II.16a dan b,

33

biasanya diperlukan suatu penguat dengan perolehan. Filter aktif Gambar II.16(c)
memasukkan elemen peroleh.
Untuk filter sederhana Gambar II.16(a), konstanta waktu 1 dan fungsi pindah
F(s) = Vo(s)/Vi(s) diberikan persamaan,

1 = R1C
F(s) =

1
1 + 1s

Filter lag-lead Gambar II.16(b), mempunyai hubungan seperti berikut,


1 = R1C
2 = R2C
F(s) =

1+ 2s
1 + ( 1 + 2 )s

Untuk filter aktif Gambar II.16(c), dengan catatan bahwa faktor perolehan
menunjukkan suatu penguat pembalik
1 = R1C
2 = R2C
F(s) =

Ka (1 + 2 s )
1 + [ 1 (1 Ka ) + 2 ]s

34

Gambar II.16 Tiga jenis filter lingkar lewat bawah

5.5. Osilator terkendali tegangan (VCO)

Osilator terkendali tegangan (voltage-controlled oscillator, VCO) merupakan


rangkaian yang menyediakan variasi sinyal keluaran (khususnya bentuk gelombang
kotak dan sigitiga) yang frekuensinya dapat diatur melalui variasi tegangan dc.
Contoh VCO adalah IC LM566 atau LM565, pada LM566 berisi rangkaian untuk
membangkitkan gelombang kotak dan segitiga yang frekuensinya diset oleh
hambatan dan kapasitor luar. Pada Gambar II.17 memperlihatkan bahwa LM566
terdiri atas sumber arus yang berfungsi untuk mengisi dan mengosongkan kapasitor
luar C1 yang kecepatannya diset dengan tehanan luar R1 dan memodulasi tegangan dc.
Rangkaian Schmitt trigger digunakan untuk mensaklar sumber arus antara pengisisan

35

dan pengosongan kapasitor dan tegangan segitiga dibentuk melalui kapasitor,


sedangkan gelombang kotak berasal dari schmitt trigger yang disediakan oleh
keluaran penguat penyangga (buffer amplifier).
Osilator dapat diprogam dari 1 sampai 10 jangka frekuensi dengan cara
memilih hambatan dan kapasitor luar secara tepat, yang kemudian memodulasi 1
sampai 10 jangka frekuensi tersebut dengan mengontrol tegangan, Vc. Frekuensi
bebas atau frekuensi tengah, fo, dapat dihitung dengan cara,

fo =

2 V + VC
(
)
R1C1
V+

dengan batasan nilai praktek sebagai berikut:


1. R1 dalam jangka 2 k R1 20 k
2. Vc dalam jangka V+ Vc V+
3. fo dibawah 1 MHz
4. V+ antara 10 sampai 24 V

V+

6
Masukan
modulasi,Vc 5

Sumber
arus

8
Schmitt
trigger

Sinyal
Kotak

36

Gambar II.17 Diagram blok LM566

VCO dimisalkan mempunyai frekuensi gerak bebas ff , dan pergeseran


frekuensi f yang sebanding dengan tegangan kendali masuk Vd ditunjukkan dalam
Gambar II.18. Frekuensi keluaran dapat dinyatakan oleh
fo = ff + k Vd Hz
atau
o = f + K Vd rad/det
dimana satuan untuk k dan K berturut-turut adalah hertz tiap volt (Hz/V) dan radian
tiap detik tiap volt (rad/det/V).

37

fo

ff

Vd

Gambar II.18 Grafik frekuensi terhadap tegangan kendali VCO

38

BAB III
KOMPONEN DAN PERANCANGAN ALAT

1. Pemancar FM

Pada bagian pemancar, sinyal dari sumber audio ini dimodulasikan dengan
modulasi frekuensi, kemudian dicampur dengan tegangan jala-jala listrik dengan
menggunakan couple transformer. Pemodulasian frekuensi (FM) dilakukan dengan
menggunakan IC LM566 seperti terlihat pada Gambar III.1 yang dalam hal ini
berfungsi sebagai voltage controlled oscilator, karena keluaran frekuensinya dapat
berubah-ubah sesuai dengan tegangan amplitude dari sinyal audio yang masuk pin
masukan (pin 5).
Pada sistem ini frekuensi sinyal pembawa yang dapat digunakan adalah 250
kHz

atau

350 kHz, sehingga jika hanya menginginkan keluaran mono maka

masukan sinyal bagian kiri dan masukan sinyal bagian kanan dicampur dan hanya
menggunakan sebuah frekuensi pembawa saja. Tetapi jika diingikan keluaran
spikernya tetap stereo maka diperlukan dua set transmitter-receiver dengan frekuensi
pembawa yang berbeda.
Frekuensi pembawa yang digunakan harus lebih tinggi dari 100 kHz dan
kelipatannya agar tidak terjadi interferens antara sinyal pembawa yang satu dengan
yang lainnya.

39

SCHMITT
TRIGGER

GND

8 Vcc
7 Tcap

Square wave
output

Square wave
output

CURRENT
SOURCE

6 Tres

Gambar III.1 Dimensi LM566

Pada sistem ini, pemancar menggunakan satu frekuensi sinyal pembawa, oleh
sebab itu hanya dibutuhkan satu set transmitter-receiver. Pada sistem yang
menggunakan satu set transmitter-receiver keluaran audio masih bersuara mono.
Pada pemancar FM ini frekuensi sinyal pembawa yang digunakan adalah 200 kHz.
Frekuensi pembawa ini dapat diset dengan cara mengatur besarnya nilai hambatan
(R1) dan kapasitor (C1) luar, seperti terlihat pada Gambar III.2.
Seperti yang terlihat pada Gambar III.2 bahwa pada sistem transmitter FM ini
menggunakan

VCO dengan frekuensi pembawa sebesar 350 kHz. Besar nilai

frekuensi pembawa ini dapat dirancang dengan rumusan sebagai berikut,

fc =

2 V + Vc
R4 C 4 V +

40

dengan perhitungan nilai Vc sebagai berikut,


Vc =

R2
V+
R2 + R3

pada rangkaian pemancar digunakan nilai R2, R3, R4, C4 berturut-turut sebagai berikut
150 k, 22 k, 8,943 k, 82 pF maka secara perhitungan diperoleh,
Vc =

150
12
22 + 150

Vc = 10,46 Volt
dengan rumusan diatas maka diperoleh frekuensi pembawa,
fc =

(12 10,46)
2
3
12
12
8,943.10 82.10

fc = 350 kHz

V+ (12 V)

R4

R3

50 k

22 k

8
3

C3
Vc

R2

150 k

C4
82 p

Gambar III.2. Rancangan untai VCO

41

Inti untai pemancar FM ini adalah LM566 yang merupakan unit voltage
controlled oscilator (VCO). VCO ini mempunyai beberapa fungsi, salah satunya

adalah untuk modulasi frekuensi (FM). Sinyal audio yang berasal dari sumber (tape,
radio atau lainnya) merupakan sinyal pemodulasi yang akan memodulasi sinyal
pembawa dengan frekuensi yang telah diatur. Sinyal pemodulasi ini akan membuat
sinyal pembawa berubah-ubah frekuensinya sesuai dengan besar tagangan sinyal
pemodulasi yang masuk. Pengaturan frekuensi pembawa dapat dilakukan dengan
mudah karena hanya sedikit bagian yamg memerlukan pengaturan. Frekuensi
pembawa yang dihasilkan oleh unit pemancar ini berada pada sekitar 350 kHz yang
ditentukan oleh nilai R4 dan C4. Sensitivitas dari voltage controlled oscilator (VCO)
pada bias 12 volt ini sekitar 0,66 fc/V. agar distorsi yang terjadi menjadi minimum
maka deviasi frekuensi harus dibatasi sampai 10% pada saat level tegangan
masukan modulasi maksimal 0,15 Vpeak. Dan untuk mengatur level sinyal
masukan ini digunakan sebuah potensiometer 10k yang berfungsi sebagai pembagi
tegangan. Keluaran dari LM566 ini dapat berupa gelombang kotak (pin 3) dan
segitiga (pin 4). Pada pemancar ini keluaran diambil dari pin 3, yaitu pin gelombang
kotak termodulasi.
Sebelum di-couple-kan ke jala-jala listrik dengan menggunakan trafo MF,
sinyal termodulasi ini (berupa sinyal kotak) dikuatkan terlebih dahulu dengan
menggunakan sebuah transistor D1061. Sedangkan kapasitor C8 akan mengisolasi
transformator MF dari sinus tegangan jala-jala listrik 60 Hz. Rangkaian unit
pemancar secara lengkap dapat dilihat pada Gambar III.3.

42

C2L
1uF

GND

C8
1000uF

R7 10k

12
VAC

IN

OUT

C7
1000uF

R8 10k
R3
22k

R4
50k
R6
1,2

C2R
1uF

C1
2,2uF

6
TRES
C3
1uF

R1
10k
R2
150k

5
MOD

TRWOUT
4

SQWOUT

VCC
TCAP
GND

Trafo
MF

C5
2,2uF

8
1

VCC
D1
iN914

R5
4k7

C6
0,1uF
630V

JALA-JALA LISTRIK

SUMBER AUDIO

LM7812

C4
82p

Gambar III.3. Rangkaian pemancar

2. Penerima FM

Pada bagian penerima, Gambar III.4, sinyal termodulasi dipisahkan dari jalajala listrik dengan menggunakan trafo MF, dikuatkan, dibatasi, dan didemodulasi
agar kembali menjadi sinyal audio seperti yang diterima oleh bagian pemancar. Pada
Gambar III.5 terlihat sinyal termodulasi di-couple secara kapasitif dari jalur jala-jala
listrik kemudian masuk ke trafo MF yang sudah di-tune. Agar impedansi lilitan

43

sekunder trafo MF sesuai dengan impedansi basis transistor pada rangkaian penguat
diferensial maka trafo MF dapat diputar-putar agar tepat impedansnya.
Sinyal keluaran dari trafo MF ini masih terlalu lemah, sehingga perlu
rangkaian penguat untuk memperbesar sinyal. Pada rangkaian penerima FM ini
digunakan penguat diferensial dengan dua tingkat, rangkaian ini dibentuk dengan
menggunakan C 829, penggunaan penguat diferensial dua tingkat ini dimaksudkan
untuk lebih mengahasilkan penguatan yang lebih besar. Disamping memperkuat
sinyal masukan, penguat diferensial ini mempunyai sifat dapat meredam atau bahkan
menghilangkan sinyal-sinyal derau yang masuk bersama sinyal masukan. Dengan
sifat yang dimilki oleh penguat diferensial ini diharapkan keluaran terbebas dari
sinyal derau.
Setelah mengalami penguatan oleh rangkaian penguat diferensial, maka sinyal
termodulasi frekuensi ini masuk ke rangkaian demodulator. Rangkaian demodulator
ini berfungsi untuk mengubah sinyal masukan yang masih termodulasi frekuensi
menjadi sinyal audio seperti sumbernya. Rangakain demodulator ini dibentuk dengan
menggunakan IC LM565 yang prisip kejanya menggunakan sistem PLL. Sistem PLL
ini tersusun atas beberapa bagian diantaranya,
1)

detektor fase,

2)

tapis lolos bawah,

3)

penguat, dan

4)

osilator terkendali tegangan (VCO)

44

Pada sistem PLL antara satu bagian dengan bagian yang lainnya saling
terhubung membentuk lingkar, prinsip kerja sistem PLL ini dapat dijelaskan pada
sub bab berikutnya.
Keluaran demodulator berupa sinyal audio yang masih mengandung frekuensi
tinggi, maka untuk menghilangkan frekuensi tinggi ini perlu ditambahkan rangkaian
tapis lolos bawah. Tapis ini berupa tapis aktif yang menggunakan IC TL082, tujuan
penggunaan tapis aktif ini dimaksudkan agar tidak membebani rangkaian
sebelumnya. Untuk dapat mencakup semua frekuensi audio maka digunakan
frekuensi resonansi sekitar 15 kHz, perancangan tapis aktif ini berdasarkan aturan
Sallen-Key low-pass filter.

Rangkaian terakhir dari sebuah penerima FM adalah penguat akhir, penguat


ini sering disebut dengan penguat audio karena secara langsung penguat ini terhubung
dengan penyuara. Sinyal termodulasi FM yang telah didemodulasi oleh rangkaian
demodulator, keluarannya menjadi masukan rangkaian penguat audio. Sinyal
keluaran rangkaian demodulator ini masih cukup lemah, sehingga belum dapat
menggerakkan membran penyuara. Oleh sebab itu digunakan penguat audio, penguat
audio ini tersusun atas IC LM380 dan beberapa hambatan dan kapasitor. Rangkaian
ini mempunyai daya penguat sebesar 2,5 watt. Dengan rangkaian penguat audio ini
diharapkan keluarannya mampu menggerakkan membran spiker sehingga timbul
suara.

45

1uF
630V

Trafo
MF

1k2

R4
6k8

R1

R5
6k8

R7
1k

R8

R9
560

560

1uF
TR3

6k8

C1

TR1

R3

+Vcc

TR4

TR2

IN1
C2

C829

27k

C829

+VCC

IN2
R13
680

-VCC

10k
REF

VOUT

R1
R10
390
R6

-6V

VIN

R11

R1

820

R12
680

R1
4

TCAP
VCON
TRES

1k5

330p
C4
C3
-VCC
3,3n
+Vcc

C7

C5

+Vcc
LM380
7

C10
470u

0,1u

R15

16k

16k

TL082
3

0,1u
R17
1M

6
8

1,2n

R16

-Vcc
330p

C6

C9

5
R18
2R7

C8
47u

PENERIMA FM

Gambar III.4 Rangkaian penerima FM

Trafo
MF

0,1 uF
630 V

JALA-JALA LISTRIK

JALA-JALA LISTRIK

+Vcc

Gambar III.5 Untai couple kapasitif

46

3.

Penguat Diferensial

Rangkaian penguat diferensial banyak digunakan sebagai tahapan masuk dari


penguat operasional (op-amp). Rangkaian penguat diferensial ini sangat penting
karena dapat menentukan karakteristik masukan dari penguat operasional yang lazim.
Fungsi dari penguat diferensial pada umumnya adalah untuk memperkuat selisih
antara dua sinyal. Rangkaian ini digunakan pada penerima FM untuk memperkuat
sinyal termodulasi yang diterima dan menghilangkan derau-derau yang masuk
bersama sinyal tersebut. Penguat diferensial dapat dibuat dengan satu tingkat atau
lebih, untuk penguat satu tinggkat seperti ditunjukkan pada Gambar III.6. Pada
rangkaian penerima FM ini digunakan penguat diferensial dengan dua tingkat seperti
terlihat pada Gambar III.7. Penggunaan penguat dua tingkat ini dimaksudkan lebih
memperkuat sinyal audio dan menghilangkan derau yang masuk bersamanya.

Gambar III.6 Penguat diferensial satu tingkat

47

Gambar III.7 Penguat diferensial dua tingkat

Pada Gambar III.8 terlihat rangkaian penguat diferensial yang digunakan


dalam penerima FM. Rangkaian diferensial ini menggunakan 4 buah transistor untuk
membentuk penguat diferensial dua tingkat. Penguat diferensial ini mempunyai dua
masukan yang berasal dari trafo MF, sinyal yang keluar dari trafo MF ini masih
lemah sehingga diperkuat oleh penguat diferensial. Output dari penguat diferensial ini
dihubungkan ke PLL LM565. Untuk membentuk penguat diferensial dua tingkat,
maka dapat dirancancang penguat diferensial tersebut seperti yang terlihat pada
Gambar III.8. Pada perancangan penguat diferensial ini digunakan 4 buah transistor
C829. Transistor-transistor ini mempunyai karakteristik yang sama sehingga lebih
muda untuk memberi perlakuan. Empat buah transistor C829 dihubungkan antara

48

satu dengan yang lainnya untuk membentuk penguat diferensial dua tingkat seperti
terlihat pada Gambar III.3.
Vcc

1k2

R4
6k8

R1

R5
6k8

R7
1k

R8

560

TR3
6k8

TR1

R3

TR2

R9
560
TR4

keluaran

C829
27k

C829

R11

820
R1
R10
390
R6

1k5

Gambar III.8 Untai penguat diferensial dua tingkat

4. Demodulasi Frekuensi

Demodulasi FM berfungsi untuk mendapatkan kembali sinyal informasi


sinyal termodulasi frekuensi yang telah diterima. Pada sistem ini menggunakan
teknik PLL (phase-locked loop) yang merupakan pengunci atau menyamakan fase
sinyal yang diterima (sinyal termodulasi frekuensi) dengan sinyal hasil proses looping
dari rangkaian itu sendiri.
PLL merupakan salah satu rancang bangun yang bertujuan untuk membuat
osilator frekuensi variabel terkunci pada frekuensi dan sudut fase frekuensi masukan
yang digunakan sebagai acuan. Jika frekuensi tengah PLL dipilih atau didesain pada

49

frekuensi pembawa FM maka tegangan keluaran dari rangakaian Gambar III.9


merupakan tegangan demodulasi tegangan yang diinginkan, tegangan ini bervariasi
secara proporsional terhadap variasi frekuensi. Jadi rangkaian PLL ini beroperasi
seperti intermediate-frequency (IF), pembatas dan demodulator pada penerima FM.

Sinyal Vi
masukan fi

Detektor
fase

Vo
fo

Ve
fi+fo

Tapis
Lewat

VCO

Penguat

fi-fo

Sinyal
keluaran

Vd

Gambar III.9 Diagram blok PLL dasar

Salah satu PLL yang populer adalah LM565, seperti yang ditunjukkan pada
Gambar III.10a. LM565 terdiri atas detektor fase, penguat, dan voltage-controlled
oscillator (VCO), yang terhubung secara terpisa dalam satu IC. Hambatan dan

kapasitor luar, R1 dan C1, digunakan untuk mengeset frekuensi bebas atau tengah (fo)
dari VCO. Kapasitor luar yang lain, C2, digunakan untuk mengeset tapis lewat
bawah, dan keluaran VCO harus dihubung balik ke masukan detektor fase untuk
membentuk lingkar PLL tertutup. LM565 secara khusus menggunakan dua catu
daya,V+ dan V-.
Gambar III.10a memperlihatkan PLL yang digunakan sebagai demodulator
FM, hambatan 1 (R1) dan kapasitor 1 (C1) yang digunakan untuk mengeset frekuensi
tengah (fo).

50

Berdasarkan Gambar III.4 maka perancangan frekuensi tengah (fo) VCO


LM565 dapat dilakukan dengan menggunakan rumusan sebagai berikut,
fo =

0,3
R14 C 4

pada rangkaian penerima FM menggunakan kapasitor 4 (C4) sebesar 330 pF, dengan
frekuensi tengah sama dengan frekuensi pembawa FM (350 kHz) maka diperoleh
nilai tahanan sebesar,
R 14 =

0,3
f oC4

R 14 =

0,3
350.10 330.10 12
3

R14 = 2,597 k
pada rangakaian digunakan sebuah potensiometer 10k untuk mengantisipasi
pergeseran nilai yang biasa terjadi pada rangkaian.
Dengan membatasi nilai tahanan sekitar pada 2k R1 20k maka jarak
penguncian PLL dapat dihitung dengan rumusan,
fL =

8 fo
V

Karena rangkaian menggunakan tegangan catu 6 volt dan frekuensi tengah


350 kHz maka diperoleh frekuensi jarak penguncian,
fL =

8.350.10 3
6

f L = 466,67 kHz

51

V+
10
2

Detektor
Fase

masukan
3

Amp

Keluaran
demodulasi
Keluaran
referensi

VCO

keluaran
8

1
C1

V-

R1

(a)

V7

fo

fL
2

fo

fo +

fL
2

fL

(b)
Gambar III.10. (a) Unit PLL 565, (b) grafik frekuensi penguncian
Sinyal keluaran pada pin-4 merupakan sinyal gelombang kotak dengan
frekuensi tengah (350 kHz), sinyal ini diumpankan ke pin-5 sebagai masukan
detektor fase. Sinyal masukan dalam jarak penguncian 466,67 kHz akan
menghasilkan sinyal keluaran pada pin-7 dengan variasi tegangan dc di sekitar

52

frekuensi tengah. Gambar III.11b memperlihatkan sinyal keluaran pin-7 sebagai


fungsi frekuensi sinyal masukan. Tegangan dc pin-7 secara linear berhubungan
dengan frekuensi sinyal masukan dalam jarak frekuensi fL= 466,67 kHz sekitar
frekuensi tengah (fo = 350 kHz). Tegangan keluaran merupakan sinyal terdemodulasi
yang bervariasi dengan frekuensi dalam jarak operasi tertentu.
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa ada tiga bagian utama dalam
rangkaian PLL dengan tugas dan prinsip kerja masing-masing, antara lain sebagai
berikut.
1. Detektor fase
Masukan detektor fase adalah sinyal dari VCO dengan frekuensi fo dan
sinyal masukan dengan frekuensi fi yang digunakan sebagai acuan.
Keluarannya berupa sebuah sinyal eror yang menandakan apakah sudah
sama dengan fi atau masih memiliki beda fase. Detektor bisa memiliki
tegangan keluaran dc dengan polaritas terbalik untuk sudut-sudut fase yang
bersifat leading atau lagging antara kedua sinyal tersebut.
2. Tapis
Rangkaian

RC

ini

akan

menghilangkan

variasi

sinyal

ac

yang

memungkinkan masih terdapat pada tegangan keluaran dc dari detektor fase.


Masukan tapis adalah sinyal eror dc dengan tegangan kerut ac, sedangkan
keluarannya berupa tegangan kendali dc yang telah ditapis dan bersih dari
komponen ac.

53

3. Osilator terkendali tegangan


Pada dasranya, suatu VCO membutuhkan suatu varaktor untuk dapat
melaksanakan tugasnya dan menala frekuensi osilator. Keluaran tapis
menjadi masukan bagi VCO dan menjaga agar VCO tetap terkunci pada
frekuensi yang sama dengan frekuensi acuan.

14

-Vcc

input

input
keluaran
VCO

masukan
VCO

keluaran
referensi

Tegangan
kontrol
VCO

Detektor
fase
VCO

13
12
11
10

AMP

9
8

NC
NC
NC
NC
+Vcc
T-CAP
T-RES

Gambar III.11 Dimensi LM565

5. Tapis Lolos Bawah Aktif

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa keluaran rangkaian demodulator


ini masih mengandung frekuensi tinggi, sehingga perlu penapisan. Tapis yang
digunakan adalah tapis lolos bawah, tapis ini akan meloloskan frekuensi rendah dan
menahan sinyal berfrekuensi tinggi. Untuk menghindari pembebanan rangkaian
sebelumnya maka digunakan tapis lolos bawah aktif yang menggunakan IC TL082.

54

Gambar III.12 di bawah menunjukkan rangkaian tapis lolos bawah aktif. Tapis ini
dirancang pada frekuensi resonansi 15 kHz, hal ini agar dapat mencakup semua
frekuensi audio dengan baik Perancangan tapis ini menggunakan aturan Sallen-Key
low-pass filter dengan rumusan sebagai berikut.
fo =

Qo =

1
2 mn RC
mn
m +1

TL 082
nC

_
R

+
mR
C

Gambar III.12 Rangkaian tapis lolos bawah

6. Penguat audio

Inti dari untai penguat audio ini adalah IC LM380. Rangkaian ini tersusun
atas LM380, beberapa kapasitor dan hambatan. Rangkaian penguat audio ini
mendapat masukan dari rangkaian demodulator, sinyal keluaran demodulator ini
masih lemah sehingga perlu penguatan sebelum dihubungkan ke spiker. Rangkaian
ini merupakan penguat audio dengan kekuatan 2,5 watt. Dimensi LM380 dapat

55

dilihat pada Gambar III.13. Pada prinsipnya penguat audio ini digunakan untuk
memperkuat sinyal audio yang masih lemah sehingga dapat menggerakkan spiker,
rangkaian ini secara lengkap dapat dilihat pada Gambar III.14.

NC

Non-inverting input

Vs

Inverting input

Vout

GND

GND

Bypass

Gambar III.13 Dimensi LM380

Gambar III.14 Untai penguat audio

56

BAB IV
PENGAMATAN DAN ANALISIS

1. Sumber Audio

Sumber audio merupakan data informasi yang akan dikirim melalui


transmitter FM. Data informasi ini berupa sinyal audio yang dapat diambil dari line
out radio, tape, player atau peralatan elektonik lain yang mengeluarkan sinyal audio.
Pengambilan sinyal audio melalui line out ini menyebabkan volume suara di bagian
speaker dikontrol oleh volume pada sumber audio. Berikut adalah diagram blok
kendali speaker.

Jala-jala listrik
Transmitter

Receiver

FM

FM

Speaker

Sumber
Audio
Gambar IV.1 Diagram blok kendali speaker

Sinyal audio di bawah merupakan sinyal analog yang digunakan untuk


memodulasi sinyal pembawa, karena sistem komunikasi yang digunakan pada Tugas

57

Akhir ini adalah modulasi frekuensi (FM) maka nilai tegangan sinyal audio akan
mengubah-ubah nilai frekuensi pembawa. Berikut adalah gambar sinyal audio.

Gambar IV.2 Sinyal audio

2. Sistem Komunikasi

Sistem komunikasi yang digunakan dalam Tugas Akhir ini adalah transceiver
FM. Sistem ini merupakan salah satu alat komunikasi dengan sistem modulasi
frekuensi (FM). Pemodulasian frekuensi ini dilakukan dengan menggunakan IC

58

LM566 yang berfungsi sebagai osilator terkendali tegangan (VCO), dengan keluaran
frekuensinya dapat berubah-ubah sesuai tegangan amplitudo sinyal audio yang masuk
pin masukan modulasi.
Pada bagian penerima, sinyal audio termodulasi frekuensi dikuatkan dan
didemodulasi dengan menggunakan IC LM565 yang berfungsi sebagai lingkar fase
terkunci (PLL). Keluaran PLL dikuatkan oleh audio power amplifier 2,5 watt yang
menggunakan IC LM380, jika suara yang dihasilkan masih kurang kuat maka dapat
dikuatkan lagi dengan menggunakan audio power amplifier dengan daya lebih besar.

3. Pemancar FM

Pada sistem ini frekuensi sinyal pembawa yang digunakan adalah 350 kHz
sehingga jika hanya menginginkan keluaran mono maka masukan sinyal bagian kiri
dan kanan dicampur dan hanya menggunakan sebuah frekuensi pembawa saja. Tetapi
jika diinginkan keluaran speakernya tetap stereo maka diperlukan dua set transmitterreceiver dengan frekuensi pembawa yang berbeda.
Frekuensi pembawa yang digunakan dapat lebih kecil atau besar dari 350 kHz
dengan kelipatan 100 kHz agar tidak terjadi interferensi antar sinyal pembawa yang
satu dengan yang lainnya. Berikut adalah gambar pemancar FM.

59

C2L
1uF

GND

C8
1000uF

R710k

12
VAC

IN

OUT

C7
1000uF

R810k
R3
22k

R4
50k
R6
1,2

C2R
1uF

C1
2,2uF

TRWOUT
4

6
TRES
C3
1uF

R1
10k
R2
150k

SQWOUT

MOD

VCC
TCAP
GND

C5
2,2uF

Trafo
MF

C6
0,1uF
630V

8
1

VCC

R5
4k7

D1
iN914

JALA-JALA LISTRIK

SUMBER AUDIO

LM7812

C4
82p

Gambar IV.3 Pemancar FM

Level tegangan sinyal masukan diatur oleh (R1) agar tidak terjadi over
modulation yaitu ketika sinyal modulasinya menghasilkan frekuensi diluar jangka
yang

diinginkan.

Inilah

yang

biasanya

menyebabkan

interferensi.

Untuk

meningkatkan frekuensi sampai 20 kHz dapat digunakan rangaian Gambar IV.4,


rangkaian ini tidak harus ditambahkan.

60

SUMBER AUDIO

C2L
1uF

R7
10k
R8
10k

C2R
1uF

R1
10k

Gambar IV.4 Filter audio

Keluaran rangkaian ini masih berupa sinyal audio, akan tetapi nilai
tegangannya sudah berubah disesuaikan dengan lebar jangka frekuensi penguncian
yang digunakan. Agar tidak terjadi over modulation maka level sinyal masukan harus
diatur dengan memutar-mutar potensiometer (R1) yang berfungsi sebagai pembagi
tegangan. Agar level tegangan keluaran potensiometer (R1) tidak menyebabkan over
modulation dapat dilakukan dengan cara memaksimalkan volume sumber audio dan
mengatur potensiometer (R1) pada posisi maksimal sedemikian tegangan keluaran R1
masih di dalam jangka frekuensi penguncian. Keluaran level tegangan R1 yang telah
diatur posisinya terlihat pada Gambar IV.5. Level tegangan R1 cenderung lebih kecil

61

daripada level tegangan sinyal sumber audio, hal ini tidak menjadi masalah asal
masih mampu memberi perubahan frekuensi pada keluaran modulator FM.

Gambar IV.5 Keluaran potensiometer (R1) yang telah diatur

Seperti yang telah diterangkan pada sub bab sebelumnya bahwa proses
pemodulasian frekuensi pada Tugas Akhir ini menggunakan IC LM566 seperti
terlihat pada Gambar IV.6 yang berfungsi sebagai osilator terkendali tegangan
(VCO), karena keluaran frekuensinya dapat berubah-ubah sesuai dengan tegangan

62

amlpitude dari sinyal audio yang masuk pin masukan. Proses pemodulasian frekuensi
dilakukan di dalam IC LM566, sinyal keluaran IC LM566 dapat berupa sinyal
segitiga (pin 4) atau kotak (pin 3).

SCHMITT
TRIGGER

GND 1

8 Vcc

7 Tcap

Square wave
output

Square wave
output

CURRENT
SOURCE

6 Tres

Gambar IV.6 Dimensi LM566

Gambar IV.7 di bawah memperlihatkan rangkaian modulator frekuensi


dengan nilai hambatan dan kapasitor yang telah ditentukan untuk mengeset nilai
frekuensi pembawa yang diinginkan, pada Tugas Akhir ini nilai frekuensi pembawa
yang digunakan adalah 350 kHz. Penentuan free running frequency (fc) pada VCO,
LM566, ditentukan oleh nilai potensiometer (R4) dan kapasitor (C4). Free running
frequency ini akan menjadi frekuensi dasar atau frekuensi pembawa modulasi FM.

63

12 V

R4
50k

R3
22k
C3
1uF

6
TRES

TRW OUT

MOD

SQW OUT

R2
150k

VCC
TCAP
GND

4
3

keluaran
sinyal kotak
VCC
12 V

C4
82p

Gambar IV.7 Rangkaian modulator frekuensi


Untuk mendapatkan nilai free running frequency yang diinginkan dapat
dilakukan dengan cara memutar-mutar R4, pada Tugas Akhir ini digunakan nilai free
ruunning frequency sebesar 350 kHz. Nilai ini ditentukan oleh besar kecilnya nilai
hambatan R4 dan kapasitor C4 dengan perhitungan sebagai berikut.
fc =

2 V + Vc
R4 C 4 V +

dengan perhitungan nilai Vc,


Vc =

R2
V+
R2 + R3

64

pada rangkaian pemancar digunakan nilai fc, R2, R3, dan C4 berturut-turut sebagai
berikut 350kHz, 150k, 22k, dan 82pF maka secara perhitungan diperoleh,
Vc =

150
12
22 + 150

Vc = 10,46 Volt
dengan rumusan diatas maka diperoleh nilai R4 sebesar,
R4 =

(12 10,46)
2
12
12
350.10 82.10
3

R4 = 8,943 k.
Sinyal keluaran potensiometer (R1) merupakan sinyal masukan bagi
rangkaian modulator FM, sebelum masuk pin 5 sinyal ini dilewatkan kapasitor (C1),
hal ini dimaksudkan agar sinyal dc terblokir sehingga hanya sinyal ac (sinyal audio)
saja yang masuk. Keluaran modulator FM diambil dari pin 3, yaitu pin square wave
modulated yang mempunyai level tegangan sekitar 6 Vpp. Sinyal ini berupa sinyal
kotak dengan frekuensi 350 kHz

pada saat tidak ada sinyal masukan (sinyal

pemodulasi) seperti terliahat pada Gambar IV.8. Akan tetapi ketika modulator FM
mendapat sinyal masukan maka frekuensi pembawa akan berubah-ubah sesuai
dengan nilai tegangan yang masuk. Gambar IV.9 menunjukkan bahwa sinyal
pembawa telah termodulasi oleh sinyal masukan.

65

Gambar IV.8 Sinyal pembarwa

Gambar IV.9 Sinyal pembawa termodulasi

66

Pada Gambar IV.9 terlihat bahwa sinyal keluaran modulator masih terlalu
kecil untuk dipancarkan oleh sebab itu sebelum di-couple-kan ke jala-jala listrik
dengan menggunakan trafo MF, sinyal termodulasi ini (berupa sinyal kotak)
dikuatkan dengan menggunakan sebuah transistor D1061. Sebelum dihubungkan ke
jala-jala listrik keluaran trafo MF perlu ditambahkan kapasitor C6 dengan nilai
tegangan lebih besar dari tegangan jala-jala listrik, kapasitor C6 ini dimaksudkan
untuk mengisolasi transformator MF dari sinyal sinus tegangan jala-jala listrik 60 Hz.
Selain itu untai tala LC dapat juga digunakan sebagai penyesuai impedans. Untuk
mendapatkan sinyal keluaran untai LC yang maksimal dapat dilakukan dengan
memutar-mutar trafo MF. Gambar IV.10 menunjukkan rangkaian transformator MF
dengan kapasitor sebagai isolator dari tegangan jala-jala listrik, sedangkan Gambar

Trafo
MF

0,1 uF
630 V

JALA-JALA LISTRIK

IV.11 menunjukkan sinyal keluaran trafo MF pada kondisi maksimal.

Gambar IV.10 Untai tala LC pemancar

67

Gambar IV.11 Sinyal keluaran tala LC pada kondisi maksimal

4. Penerima FM

Rangkaian penerima FM terdiri dari beberapa blok rangkaian yaitu, couple


kapasitif dan transformator MF, penguat diferensial, demodulator FM (menggunakan
PLL), tapis lolos bawah (LPF), dan penguat audio. Rangkaian penerima FM secara
lengkap dapat dilihat pada Gambar IV.12 di bawah.
Pada bagian penerima, sinyal termodulasi FM dipisahkan dari jala-jala listrik
dengan menggunakan trafo MF kemudian dikuatkan, didemodulasi, dibatasi dan
dikuatkan lagi agar dapat menggerakkan speaker.

68

Sinyal termodulasi FM di-couple secara kapasitif dari jala-jala listrik oleh


kapasitor C1, kemudian ke trafo MF sebelum masuk ke penguat diferensial, seperti
halnya pada rangkaian pemancar FM, kapasitor C8 digunakan untuk mengisolasi
trafo MF dari jala-jala listrik. Selain untuk penapisan untai tala LC ini juga digunakan
untuk memperbaiki respon sinyal. Untuk mendapatkan sinyal keluaran untai tala LC
yang maksimal dapat dilakukan dengan memutar-mutar trafo MF sampai didapat
sinyal yang maksimal. Gambar untai tala LC pada penerima sama dengan pemancar,
lihat Gambar IV.12, sedangkan Gambar IV.13 menunjukkan sinyal untai LC pada
penerima FM dalam kondisi maksimal.

JALA-JALA LISTRIK

0,1 uF
630 V

Trafo
MF

Gambar IV.12 Untai tala LC penerima

69

Gambar IV.13 Sinyal keluaran Untai tala LC pada penerima

5. Penguat Diferensial

Setelah mendapat penalaan oleh untai LC, sinyal keluaran untai tala LC ini
masih terlalu lemah, sehingga perlu penguat untuk memperbesar sinyal. Pada
penerima FM ini digunakan penguat diferensial dengan dua tingkat, rangkaian ini
dibentuk dengan menggunakan 4 buah transistor C829, penggunaan penguat
diferensial ini dimaksudkan untuk lebih menghasilkan penguatan yang lebih besar,
disamping memperkuat sinyal masukan, penguat diferensial ini mempunyai sifat

70

dapat meredam atau bahkan menghilangkan sinyal-sinyal derau yang masuk bersama
sinyal masukan. Dengan sifat yang dimilki oleh penguat diferensial ini diharapkan
keluarannya terbebas dari sinyal derau. Gambar IV.14 memperlihatkan rangkaian
penguat diferensial dua tingkat.

Vcc

1uF
630V

Trafo
MF

1k2

R4
6k8

R1

R5
6k8

R7
1k

R8

560

TR3
6k8

C1

R3

TR1

TR2

TR4

keluaran

C829
27k

C829

R11

R1

820

R9
560

R1
R10
390
R6

1k5

Gambar IV.14 Rangkaian penguat diferensial 2 tingkat

Keluaran untai tala LC merupakan sinyal masukan bagi penguat diferensial,


sinyal keluaran untai LC mempunyai bentuk yang cukup baik, tetapi dalam kondisi
lemah, penguat diferensial tingkat pertama ini akan menguatkan dan berusaha
menghilangkan sinyal derau yang masuk bersama sinyal masukan, penguat
diferensial tingkat pertama ini dibentuk oleh dua buah transistor C829 dan beberapa
resistor seperti terlihat pada gambar di atas.

Bentuk sinyal keluaran penguat

71

diferensial tingkat 1 ini dapat dilihat pada titik kolektor transistor 2, sinyal ini berupa
sinyal sinus yang masih belum teratur bentuknya. Gambar IV.15 menunjukkan sinyal
keluaran penguat diferensial tingkat 1 (kolektor transistor 2).

Gambar IV.15 Sinyal keluaran penguat diferensial tingkat 1

Seperti yang terlihat pada Gambar IV.15, sinyal keluaran penguat diferensial
tingkat 1 masih mengandung derau, hal ini terlihat dari bentuk sinyal yang masih
bergelombang pada titik balik negatifnya. Oleh sebab itu digunakan penguat
diferensial tingkat 2, penguat ini mempunyai fungsi yang sama dengan penguat
diferensial tingkat 1 yaitu untuk memperkuat sinyal masukan dan berusah
menghilangkan sinyal derau yang masuk bersamanya.

72

Bentuk rangkain penguat diferensial tingkat 2 ini sama seperti tingkat 1, yaitu
tersusun atas 2 buah transistor C829 dengan beberapa resistor, lihat Gambar IV.14,
masukan penguat diferensial tingkat 2 ini berasal dari keluaran penguat diferensial
tingkat 1, sinyal masukan yang lemah dan masih mengandung derau ini akan
dikuatkan oleh penguat diferensial tingkat 2, disamping menguatkan sinyal, penguat
diferensial tingkat 2 ini berusah untuk memperbaiki bentuk sinyal dengan
mengurangi sinyal derau yang masuk. Keluaran penguat diferensial tingkat 2 ini
dapat diambil pada titik kolektor transistor 4, Gambar IV.16 memperlihatkan sinyal
keluaran penguat diferensial tingkat 2.

Gambar IV.16 Sinyal keluaran penguat diferensial tingkat 2

73

6. Demodulasi Frekuensi

Setelah melalui proses penguatan, sinyal termodulasi FM menjadi masukan


untai demodulator, pada Tugas Akhir ini digunakan

IC LM565, PLL, sebagai

demodulator frekuensi. Proses demodulasi frekuensi ini melalui beberapa diagram


blok yang semuanya terintegrasi dalam IC PLL, lihat Gambar IV.17, seperti halnya
pada pemancar, terdapat free running frequency (frekuensi pembawa), pada penerima
juga terdapat frequency center (frekuensi tengah), frekuensi ini merupakan frekuensi
VCO yang pengaturannya sangat sederhana, yaitu dengan mengatur nilai
potensiometer (R14) dan kapasitor (C4) luar.

Sinyal
Masuk
(Vs, fs, s)

Detektor
Fase

Ve,fs fo

filter lewat
bawah
F(s)

(Vo, fo, o)

fs-fo

Penguat

Osilatro terkendali
tegangan (VCO)

Vd

Sinyal Keluar

Gambar IV.17 Diagram blok PLL

6.1. Osilator terkendali tegangan (VCO)

Seperti yang terlihat pada Gambar IV.17 di atas, keluaran osilator terkendali
tegangan (VCO) ini merupakan sinyal masukan bagi detektor fase. Keluaran osilator
ini berupa sinyal kotak dengan amplitude tetap, frekuensi osilator ini berubah-ubah

74

sesuai dengan tegangan dc yang masuk. Pada PLL terdapat 3 istilah yang sangat
penting dalam memahami prinsip kerjanya yaitu:
1) frekuensi tengah (center frequency)
2) jangka penguncian (lock range) dan
3) jangka penangkapan (capture range).
fo
frekuensi tengah

jangka penguncian
V7

fo

fL
Gambar IV.18 Letak frekuensi tengah

Frekuensi tengah merupakan frekuensi yang terletak di tengah-tengah jangka


penguncian, frekuensi ini harus sama dengan frekuensi pembawa pada pemancar,
frekuensi tengah VCO ini diset di tengah-tengah tegangan dc jangka linearnya.
Gambar IV.18 memperlihatkan letak frekuensi tegah. Untuk mendapatkan nilai

75

frekuensi tengah sesuai dengan frekuensi pembawa dapat dilakukan dengan cara
memutar-mutar potensiometer karena kapasitor bernilai tetap. Frekuensi ini harus
sama dengan free running frequency (frekuensi pembawa) pada penerima, untuk
mengecek apakah nilai frekuensi tengah sudah tepat sama dengan frekuensi pembawa
dapat dilakukan dengan mengecek sinyal keluaran VCO (pin 4 atau 5) pada saat PLL
tidak mendapat sinyal masukan. Gambar IV.19 memperlihatkan sinyal keluaran VCO
(pin 4).

Gambar IV.19 Sinyal frekuensi tengah (keluaran VCO)

76

Berdasarkan Gambar IV.20 di bawah, rangkaia demodulator, nilai


potensiometer (R14) dapat ditentukan dengan rumusan sebagai berikut,
fo =

0,3
R14 C 4

karena nilai kapasitor C4 sebesar 330 pF dan diinginkan nilai frekuensi tengah (fo)
350 kHz, maka didapatkan nilai R14
R 14 =

0,3
f oC4

R 14 =

0,3
350.10 330.10 12
3

R14 = 2,597 k
penggunaan potensiometer (R14=10k) pada pengatur frekuensi tengah dimaksudkan
untuk mempermudah mendapatkan nilai frekuensi yang sama dengan frekuensi
pembawa, dalam prakteknya nilai frekuensi pembawa pada penerima tidak selalu
tepat sama dengan nilai yang ada di pemancar, hal ini dipengaruhi oleh kualitas
komponen dan tata letak komponen dan penggunaan PCB lubang pada rangkaian
pemancar dan penerima.

77

1uF
IN

IN1
C2

R12
680

+VCC

+6V

IN2
R13
680

-VCC

-6V

VIN

10k
REF

VOUT

R14
TCAP

VCON
TRES
330p

OUT

C4
C3
-6V
3,3n

Gambar IV.20 Rangkaian demodulasi frekuensi

Jangka penguncian merupakan lebar frekuensi yang masih dapat dikunci,


jangka penguncian ini dimaksudkan untuk membatasi lebar penyimpangan frekuensi
modulasi. Agar sinyal termodulasi frekuensi dapat didemodulasi maka besar
penyimpangan frekuensi harus berada dalam jangka penguncian, akan tetapi jika
penyimpangan frekuensi lebih dari jangka penguncian yang telah ditentukan maka
sinyal termodulasi tidak dapat diuraikan kembali menjadi sinyal audio. Pada saat
penyimpangan frekuensi masih berada dalam jangka penguncian, sinyal keluaran
VCO (pin 4) ikut bergetar mengikuti sinyal termodulasi yang masuk PLL (mengalami
perapatan dan perenggangan), hal ini menunjukkan bahwa sinyal keluaran VCO
berusaha mengikuti frekuensi sinyal masukan, lihat Gambar IV.22. Pada saat nilai
frekuensi keluaran VCO sama dengan nilai frekuensi masukan detektor fase maka
terjadi proses penguncian. Akan tetapi jika penyimpangan frekuensi melebihi jangka

78

penguncian yang telah ditentukan maka sinyal keluaran VCO tidak akan bergetar
mengikuti sinyal masukan, pada kondisi seperti ini sinyal VCO kembali pada
frekuensi tengah dan tidak terjadi penguncian. Secara teori hubungan antara
frenkuensi tengah dengan jangka penguncian dapat dirumuskan sebagai berikut.
fL =

8 fo
V

karena pada rangkaian PLL ini digunakan tegangan catu daya 6V dan
menggunakan frekuensi tengah 350 kHz maka diperoleh jangka penguncian,
fL =

8.350.10 3
6

f L = 466,67 kHz

berdasarkan perhitungan di atas dapat digambarkan grafik hubungan antara frekuensi


tengah dengan jangka penguncian seperti Gambar IV.21.
V7

fo
(350 kHz)

fL
466,67 kHz
fo

fL
2

116,665 kHz

fo +

fL
2

583,335 kHz

Gambar IV.21 Hubungan frekuensi tengah dengan jangka penguncian

79

Gambar IV.22 Sinyal keluaran VCO bergetar mengikuti sinyal termodulasi

Berdasarkan pengambilan data yang ada, nilai frekuensi tengah tidak sama
dengan nilai perhitungan secara teoritis, Gambar IV.19 menunjukkan bahwa nilai
frekuensi tengah berada pada frekuensi 352,7 kHz. Begitu juga dengan jangka
penguncian, berdasar data pengamatan jangka penguncian hanya bisa mengunci pada
frekuensi maksimum (fH) 543,2 kHz dan frekuensi minimum (fL) 115,8 kHz, padahal

80

secara teori jangka penguncian berada pada frekuensi maksimum (fH) 3883,335 kHz
dan frekuensi minimum (fL) 116,665 kHz, nilai ini dapat dihitung dengan rumusan,
f H = fo +

fL
2

fL = fo

fL
2

f H = 350 +

466,67
2

f L = 350

466,67
2

f H = 583,335kHz

f L = 116,665kHz

penyimpangan data ini disebabkan oleh nilai resistor yang digunakan mempunyai
nilai toleransi sebesar 5% dan komponen kapasitor yang kurang begitu baik.
Selain frekuensi tengah dan jangka penguncian, terdapat juga istilah capture

range (jangka penangkapan) pada PLL, istilah ini tidak kalah penting dalam
menentukan terjadinya proses penguncian. Jangka penangkapan adalah perbedaan
maksimum frekuensi awal antar sinyal input dengan sinyal keluaran VCO (frekuensi
tengah) dimana loop masih dapat mengunci. Jangka penangkapan ini merupakan awal
dari proses terjadinya penguncian. Penentuan nilai jangka penangkapan ini harus
berada dalam jangka penguncian, jangka penangkapan ini diharapkan tidak terlalu
besar atau kecil. Untuk jangka penangkapan yang terlalu besar akan mengakibatkan
langkah penangkapan yang besar, akibatnya proses penguncian tidak akan terjadi
karena langkah penangkapan lebih besar dari perubahan sinyal masukan.
Akan tetapi jangka penangkapan yang terkecil juga tidak baik, karena akan
membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengikuti perubahan sinyal masukan.
Hal ini mengakibatkan sinyal masukan tidak akan tertangkap oleh jangka

81

penangkapan akibatnya proses penguncian tidak akan terjadi, sehingga untuk


penentuan nilai jangka penangkapan tidak boleh terlalu besar atau kecil. Nilai ini
dapat ditentukan dengan cara mencoba-coba sehingga didapat nilai yang cukup untuk
menangkap perubahan sinyal masukan. Pada prakteknya penentuan nilai jangka
penangkapan ini dapat dicoba-coba dengan mengganti nilai kapasitor (C3), lihat
Gambar IV.20. Penentuan nilai jangka penangkapan secara teori dapat ditentukan
dengan rumusan sebagai berikut.
fC =

1
2

2f L
RC 3

dari perhitungan sebelumnya diperoleh nilai fL = 466,67 kHz, C3 = 3,3 10-9 dan
R=3,6.103 (terdapat dalam IC PLL) maka
1
2(3,14)(466,67.10 3 )
fC =
2(3,14) (3,6.10 3 )(3,3.10 9 )

fC =

1
2930,6876.10 9
6,28
11,88

f C = 78,089kHz
Gambar IV.23 di bawah ini memperlihatkan letak jangka penangkapan terhadap
frekuensi tengah dan jangka penguncian.

82

fc=78,089 kHz

fo = 350 kHz

fL = 466,67 kHz
Gambar IV.23 Posisi jangka penangkapan terhadap frekuensi tengah dan jangka
penguncian

Pada pratek, untuk mengecek jangka penangkapan PLL dapat digunakan AFG
sebagai masukan, dengan mengubah-ubah frekuensi AFG disekitar frekuensi tengah
PLL maka akan didapat jangka penangkapan atau seberapa jauh simpangan frekuensi
yang masih dapat ditangkap oleh PLL.

6.2. Detektor fase

Detektor fase merupakan salah satu bagian penyusun PLL, detektor ini
berfungsi mendeteksi perbedaan fase sinyal masukan dan sinyal keluaran VCO. Pada
saat frekuensi sinyal masukan sama dengan sinyal keluaran VCO, detektor fase akan
mengeluarkan tegangan, Ve, yang menyebabkan VCO terkunci dengan sinyal input.
Pada saat terkunci VCO mengeluarkan sinyal kotak bertegangan tetap dengan
frekuensi sama dengan sinyal masukan, akan tetapi pada saat loop sedang mencoba
mengunci, keluaran detektor fase berisi komponen frekuensi jumlah dan selisih dari
sinyal masukan dan keluaran VCO, ketika frekuensi masukan tidak sama dengan

83

frekuensi keluaran VCO, detektor fase akan menghasilkan tegangan kesalahan, Ve,
yang akan memicu VCO untuk mengeluarkan sinyal dengan freuensi sama dengan
masukan.

6.3. Tapis lolos bawah (LPF)

Tapis lolos bawah pada PLL ini berfungsi meloloskan sinyal keluaran
detektor fase yang berfrekuensi rendah, ketika loop mencoba untuk mengunci,
detektor fase mengeluarkan sinyal dengan komponen frekuensi jumlah dan selisih,
sinyal tersebut menjadi masukan tapis lolos bawah (LPF) dan keluarannya berupa
sinyal dengan frekuensi rendah (sinyal dc), Vd. Tegangan dc inilah yang menjadi
keluaran PLL (pin 7), tegangan ini juga digunakan untuk kendali VCO. Perubahan
tegangan dc, Vd, akan mengakibatkan perubahan frekuensi sinyal keluaran VCO,
semakin besar nilai tegangan dc akan mengakibatkan semakin kecil nilai frekuensi
sinyal keluaran VOC, begitu juga sebaliknya. Hubungan ini ditunjukkan oleh Gambar
IV.21.

6.4. Penguat lingkar

Rangkaian penguat yang ada dalam PLL digunakan untuk menguatkan sinyal
keluaran tapis lolos bawah (LPF), rangkaian ini terintegrasi dalam IC PLL, lihat
diagram blok PLL pada Gambar IV.17. Sebelum mengontrol VCO sinyal keluaran
tapis lolos bawah masuk ke blok penguat untuk dikuatkan. Selain digunakan untuk

84

mengontrol VCO, sinyal keluaran penguat ini juga diambil sebagai keluaran PLL
(pin 7).

7. Tapis Lolos Bawah Aktif (Active Low-Pass Filter)

Setelah proses demodulasi oleh rangkaian PLL, sinyal akan masuk ke


rangkaian tapis lolos bawah aktif, meskipun secara teori sinyal keluaran PLL berupa
sinyal informasi (sinyal audio), tetapi pada prakteknya sinyal ini masih mengandung
frekuensi-frekuensi tinggi, sehingga jika sinyal ini dikuatkan langsung oleh penguat
audio, maka speaker tidak akan mengeluarkan bunyi seperti pada sumber audio
(hanya mendengung). Oleh sebab itu pada rangkaian penerima FM ini masih
digunakan tapis lolos bawah. Pada rangkaian ini digunakan tapis aktif karena tidak
membebani rangkaian sebelumnya (PLL). Penggunaan tapis pasih akan sangat
membebani rangkaian sebelumnya, pada perancangan penerima FM ini penulis telah
mencoba berbagai jenis tapis lolos bawah pasif akan tetapi tidak mengahasilkan
sinyal keluaran, hal ini dikarenakan beban yang ada pada tapis.
Perancangan tapis aktif ini menggunakan IC TL 082 yang berisi 2 buah
penguat operasional (op-amp). Perancangan tapis ini berdasarkan aturan Sallen-Key

Low-Pass Filter dengan rumusan sebagai berikut,

fo =

1
2 mn RC

85

mn
m +1

Qo =

Gambar IV. 24 menunjukkan rangkaian dasar perancangan tapis lolos bawah Sallen-

Key Low-Pass Filter.


TL 082
nC

_
R

+
mR
C

Gambar IV.24 Rangkaian dasar Sallen-Key Low-Pass Filter

Pada rangkaian tapis ini digunakan fo = 15 kHz, dengan tujuan agar dapat
mencakup semua sinyal audio (20 Hz-20 kHz), nilai Q = 1 dan nilai kapasitor (C)
dipilih 330 pF. Dimisalkan m = 1 maka berdasarkan rumusan di atas diperoleh niliai
hambatan,

Qo =

mn
m +1

1=

1n
1+1

1=

n
2

n=4

86

fo =

1
2 mn RC

15.10 3 =

R=

1
2(6,28) 1.4 .R.330.10 12
1

2(6,28). 4 .330.10 12.15.10 3

R = 16,08k
berdasar perhitungan di atas diperoleh nilai nC =1,32 nF, karena dipasaran tidak
tedapat kapasitor dengan nilai 1,32 nF maka dipilih nilai yang mendekati, 1,2 nF.
Gambar IV.25 memperlihatkan rangkaian Sallen-Key Low-Pass Filter berdasar hasil
perhitungan di atas.
TL 082
1,2n

C5

R15

R16

16k

16k

+
C6

330p

Gambar IV.25 Rangkaian Sallen-Key Low-Pass Filter dengan fo =15 kHz

Rangkaian tapis di atas dapat diuji dengan memberi sinyal input dari AFG.
Untuk mengujinya dapat digunakan sinyal kotak dengan tegangan puncak ke puncak
sebesar 2 volt, meskipun masukan tapis berupa sinyal kotak, keluarannya harus
berupa sinyal sinus karena rangkaian LPF hanya meloloskan sinyal frekuensi rendah,

87

dengan mengubah-ubah frekuensi AFG akan didapat sinyal keluaran LPF yang
menggambarkan watak kerja. Tabel IV.1 di bawah ini adalah hasil pengamatan LPF
dengan masukan sinyal kotak. Gambar IV.26 memperlihatkan watak kerja LPF.

Tabel IV.1 Hubungan frekuensi masukan dengan tegangan keluaran LPF


f (kHz) Vip-p(volt) Vop-p(volt)
1
2
2.12
3.04
2
2.12
6.54
2
2.12
8.77
2
2.12
10.29
2
2.12
11.02
2
2.10
11.54
2
2.07
12.04
2
2.02
12.6
2
1.87
13.21
2
1.77
14.21
2
1.48
15.42
2
1.21
16.28
2
0.99
17.41
2
0.89
18.62
2
0.72
19.65
2
0.67
20.9
2
0.57
25.2
2
0.27
30.9
2
0.08

Gain (dB)
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.42
0.30
-0.09
-0.50
-0.60
-2.61
-4.36
-6.11
-7.03
-8.87
-9.50
-10.90
-17.39
-27.95

Secara perancangan nilai frekuensi cutoff dipilih pada frekuensi 15 kHz, akan
tetapi berdasarkan data di atas frekuensi cutoff berubah menjadi 16 kHz. Sinyal kotak
di atas menggunakan tegangan puncak ke puncak 2 volt, sehingga secara perhitungan

88

frekuensi cutoff (-3dB) berada pada tegangan 1,414 volt, sesuai dengan perhitungan
berikut ini.
3dB = 20 log

vo
vi

vo
= 0,707
vi
karena tegangan puncak ke puncak sinyal masukan 2 volt maka diperoleh tegangan

keluaran sebesar,
vo = 0,707 x 2
vo = 1,414 volt
seperti terlihat pada tabel nilai ini terletak pada frekuensi 16 kHz, hal ini tidak sesuai
dengan perancangan. Pergeseran nilai frekuensi cutoff ini dimungkinkan karena nilai
kapasitor 1,32 nF (sesuai perhitungan) diganti dengan 1,2 nF (yang tersedia di
pasaran).
LOW-PASS FILTER (LPF)
5

Gain (dB)

-5
-10
-15
-20
-25
-30
f (kHz)

Gambar IV.26 Grafik watak kerja LPF

31

29

27

25

23

21

19

17

15

13

11

89

Pada penerima FM rangkaian tapis lolos bawah ini digunakan untuk menapis
sinyal keluaran PLL yang masih mengandung frekuensi tinggi. Sinyal keluaran tapis
ini berupa sinyal audio (sama dengan sinyal sumber audio). Gambar IV.27
memperlihat sinyal keluaran tapis ini.

Gambar IV.27 Sinyal keluaran tapis lolos bawah

8. Penguat Audio

Rangkaian terakhir pada penerima FM adalah penguat audio, Rangkaian ini


menggunakan IC LM380 dengan kekuatan 2,5 watt. Penggunaan rangkaian ini

90

dimaksudkan untuk memperkuat sinyal keluaran tapis yang masih rendah. Pada
prakteknya penguat ini belum cukup untuk menggerakkan speaker, sehingga
digunakan penguat tambahan yang berada di luar (spiker aktif). Gambar rangakaian
penguat audio LM 380 ditunjukkan pada gambar IV.28 di bawah.
C7
LM380
7

C10
470u

6
8
0,1u

+
4

C9

5
R18
2R7

C8
47u

Gambar IV.28 Penguat audio LM 380

0,1u
R17
1M

91

BAB V

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Berdasarkan keseluruhan pengamatan dan analisis maka Tugas Akhir yang


berjudul KENDALI SPEAKER JARAK JAUH MELALUI JALA-JALA LISTRIK
ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sistem transmisi sinyal audio pada Tugas Akhir ini menggunakan
modulasi frekuensi (FM) dengan frekuensi pembawa 350 kHz.
2. Nilai amplitudo sinyal pemodulasi harus disesuaikan dengan lebar jangka
penguncian agar tetap terkunci oleh PLL.
3. Nilai jangka penguncian tidak boleh terlalu basar atau kecil agar terjadi
proses penguncian.
4. Nilai frekuensi pembawa pada pemancar harus sama dengan nilai
frekuensi tengah pada penerima.
5. Keluaran PLL harus diberi tapis lolos bawah aktif karena masih
mengandung frekuensi tinggi.
6. Pemilihan nilai frekuensi tengah, jangka penguncian dan jangka
penangkapan harus tepat.

92

2. SARAN

Untuk pengembangan Tugas Akhir dengan judul KENDALI SPEAKER


JARAK JAUH MELALUI JALA-JALA LISTRIK, ada beberapa saran yang
bermanfaat untuk memperbaiki sistem peralatan ini.
1. Untuk menghasilkan sinyal audio stereo, dapat digunakan dua buah
pemancar dan penerima dengan frekuensi pembawa yang berbeda.
2. Sinyal audio dapat diganti dengan sinyal DTMF yang berfungsi untuk
mengontrol peralatan listrik yang ada dalam rumah atau gedung.
3. Penumpangan sinyal DTMF dapat juga digunakan sebagai nada panggil
pada sistem komunikasi simplek atau duplek dalam rumah atau gedung.
4. Untuk pengiriman sinyal digital, misalnya digunakan untuk jaringan
komputer.
5. Pemilihan nilai resistor dan kapasitor yang digunakan untuk mengatur
frekuensi sebaiknya mempunyai nilai toleransi kecil dan berkualitas
tinggi.
6. Penyusunan komponen dan lay-out PCB sebaiknya diperhatikan karena
berpengaruh pada frekuensi.

93

DAFTAR PUSTAKA

Barmawi, M. Ph.D dan M.O. Tjia. Ph.D, 1993, Elektronika Terpadu Jilid I, Jakarta.
Beasley, Jeffrey S, Rico, Guillermo dan Bogart, Theodore F, 2001, Electronics
Devices And Circuits, Fifth Edition, Prentice Hall.
Coughlin, Robert F dan Driscoll, Frederick, 1994, Penguat Operasional dan
Rangkaian Terpadu Linear, Edisi II, Erlangga, Jakarta.
E Fitzgerald, A. SC.D, Higginbotham, David E, S.M dan Grabel, Arvin. SC.D, 1981,
Basic Electrical Engineering, 5th Edition, Mc Graw-Hill.
Floyd, Thomas L, Electronics Fundamentals: Circuit, Device and Applications,
Fifth Edition, Prentice Hall.
Honeycutt, Richard A, 1988, Op- Amp And Linear Integrated Circuits, Delmar
Publisher.
Krauss H, L, dan Bostian C, W, 1990, Teknik Radio Benda Padat, Universitas
Indonesia, Jakarta.
Malvino A, P. Ph.D, 1984, Electronics Principles, 3rd Edition, Mc Graw-Hill.
Wasito, S, Vademekum Elektronika, PT Gramedia, Jakarta.
Wasito, S, 1985, Data Sheet Book 1, PT Elex Media Komputindo, Jakarta.